Jamu (Jaya Suprana, 1990)

Ramuan Jamu tumbuh bukan atas landasan akademis saintifik gaya ilmu farmasi barat tetapi sepenuhnya sekedar atas dasar empiris. Fakta ini tidak perlu kita tutupi atau sisihkan, karena empiris bukanlah suatu aib atau selalu keliru. seperti halnya metodologi ilmiah, laboratorium farmasi barat belum tentu selalu baik dan benar.

Menilai jamu sebagai buruk dan obat barat sebagai baik sama dangkalnya seperti menilai musik gamelan Ki Nartosabdo adalah sumbang sedangkan karya simphoni Beethoven adalah merdu, karena masing-masing memiliki latar belakang dan kaidah tata nilai estetika yang saling berbeda sehingga tidak bisa begitu saja diperbandingkan nilainya.

Maka kurang tepat bila pengembangan jamu dilaksanakan secara mutlak bertumpu pada kaidah akademis barat. Langkah total ‘baratisasi’ seperti itu sama saja dengan memusnahkan obat tradisional Indonesia.

Agar dapat meletakkan korelasi pada proporsi yang wajar, perlu dilakukan pembinaan, pendekatan antara Industri Obat Tradisional Indonesia dengan jalur formal akademis tersebut. Dengan perpaduan harmonis antara dua elemen vital tersebut, diharapkan  dapat terbentuk suatu jalur upaya pelayanan kesehatan secara lengkap dan menyeluruh seperti halnya  telah terbukti dapat dilaksanakan dengan baik di India, Korea dan Republik Rakyat Cina.

(Disampaikan oleh Jaya Suprana pada Seminar Nasional Tumbuhan Obat tahun 1990)

Semoga menjadi pencerahan bagi kita semua

-Sisicia-

OBAT GENERIK & REGULASI OBAT GENERIK

A.    Obat Generik

Obat generik adalah obat dengan nama resmi International Non Propietary Names (INN) yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat berkhasiat yang dikandungnya yang diproduksi dan diedarkan dengan nama resmi yang ditetapkan dalam farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya, sedangkan obat generik bermerk / bernama dagang adalah obat generik dengan nama dagang yang menggunakan nama milik produsen obat yang bersangkutan (Anonim, 2010a).  

Obat esensial adalah obat terpilih yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat mencakup upaya diagnosis, profilaksis, terapi dan tercantum dalam Daftar Obat Esensial yang ditetapkan oleh Menteri (Anonim, 2010a)

Dalam Permenkes No. 085/1989 yang dimaksud dengan obat paten adalah obat dengan nama dagang dan menggunakan nama yang merupakan milik produsen obat yang bersangkutan, obat baru yang masih dipasarkan oleh suatu perusahaan farmasi yang masih dalam perlindungan hak paten atas penemuannya. Perbedaan obat generik dengan obat paten adalah obat generik hanya menggunakan nama sesuai dengan zat berkhasiat yang dikandungnya walaupun diproduksi oleh pabrik yang berlainan. Kemasannya sederhana dan tidak dipromosikan. obat generik umumnya mempunyai harga lebih murah jika dibandingkan dengan obat dengan nama dagang. Ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adalah tidak adanya biaya promosi seperti yang dilakukan untuk obat nama dagang (Siregar, 1990).

Pengujian mutu dilakukan terhadap obat generik berlogo berdasarkan standar farmakope yang berlaku, yaitu analisis fisika, kimiawi dan farmasetik. Uji disolusi invitro dan uji biofarmasi juga perlu dilakukan. Jaminan mutu yang dilakukan oleh produsen adalah pemilihan bahan baku, penerapan Cara Pembuatan Obat yang baik, pengujian terhadap sediaan akhir, dan stabilitas. Pengendalian mutu obat generik berlogo oleh pemerintah dilakukan oleh Direktorat Pengawasan, Pusat Pemeriksaan Obat dan Makanan serta Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan. Untuk obat generik yang bermutu tinggi diberi logo khusus sebagai sarana pengenal. Produksi obat generik berlogo dibatasi pada obat esensial (Siregar, 1990).

Faktor-faktor yang menentukan dalam memasyarakatkan penggunaan obat generik, adalah mutu, ketersediaan, serta penerimaan dokter maupun masyarakat terhadap obat generik. Penggunaan obat generik yang bermutu perlu dimasyarakatkan dengan pemberian informasi yang obyektif tentang mutunya kepada dokter, dokter gigi dan apoteker dengan mengikutsertakan organisasi profesi dan tokoh-tokoh profesi dengan menggunakan hasil-hasil penelitian ilmiah obat generik berlogo. Upaya-upaya khusus untuk memperkenalkan obat generik berlogo dan menanamkan kepercayaan terhadap mutunya kepada masyarakat dilakukan melalui kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi (Siregar, 1990)

B.     Kebijakan Obat Generik

Regulasi obat merupakan tugas yang kompleks yang melibatkan beberapa pemangku kepentingan (stakeholders). Oleh karena itu terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain dasar hukum, sumber daya manusia dan sumber daya keuangan yang memadai, independensi, dan tranparansi. Regulasi hanya dapat berfungsi dengan baik apabila ditunjang oleh sumber daya manusia yang kompeten, serta berintegritas tinggi, anggaran yang memadai dan berkesinambungan, akses terhadap ahli, hubungan internasional, laboratorium pemeriksaan mutu, dan sistem penegakan hukum di pengadilan yang dapat diandalkan.  Untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat, regulasi obat harus dilaksanakan secara independen dan transparan, Pada dasarnya regulasi menyangkut aspek yaitu keamanan, khasiat, mutu, dan informasi obat. Kegagalan pengawasan akan mengakibatkan masuknya obat palsu dan obat yang tidak jelas asal-usulnya ke dalam sistem pelayanan kesehatan (Anonim, 2005).

Pemanfaatan obat generik akan memperluas cakupan obat dan perluasan cakupan pelayanan kesehatan yang juga akan meningkatkan volume penggunaan obat. Kebijakan pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan RI tentang obat generik adalah : a)  mewajibkan penyediaan obat generik untuk kebutuhan pasien rawat jalan dan rawat inap dalam bentuk formularium, b) Dinas kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota wajib menyediakan obat esensial dengan nama generik untuk kebutuhan puskesmas dan unit pelaksana teknis lainnya sesuai kebutuhan, c) dokter yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah wajib menuliskan resep obat generik bagi semua pasien sesuai indikasi medis, d) apoteker dapat mengganti obat merk dagang/ obat paten dengan obat generik yang sama komponen aktifnya atau obat merk dagang lain atas persetujuan dokter dan atau pasien, e) dokter di rumah sakit, puskesmas dan unit pelaksana teknis lainnya dapat menyetujui penggantian resep obat generik dengan resep obat generik bermerk/ bermerk dagang dalam hal obat generik tertentu belum tersedia. Hal ini diberlakukan melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang kewajiban menggunakan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah.

Pedoman pembinaan dan pengawasan penggunaan obat generik juga disyahkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.03.01/MENKES/159/I/2010 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penggunaan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah.  Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk menjadi pedoman bagi petugas pelaksana di Pusat, Propinsi dan Kabupaten/kota. Peraturan tersebut menyebutkan bahwa ketersediaan obat di pelayanan kesehatan pemerintah merupakan tanggungjawab pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/ kota. Fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah, pemerintah daerah wajib menyediakan obat generik untuk pasien rawat jalan dan rawat inap dengan penyediaan oobat generik berdasarkan formularium yang telah disusun oleh fasilitas pelayanan kesehatan yang dimaksud dan formularium tersebut mengacu kepada Daftar Obat Essensial Nasional (DOEN).

Pembinaan pelaksanaan penulisan resep dan penyediaan obat generik dilakukan oleh pemerintah dan organisasi profesi terkait melalui komunikasi, informasi, dan edukasi dengan bimbingan teknis dan pertemuan berkala secara berjenjang. Pemantauan pelaksanaan penulisan resep obat generik dilakukan oleh Instalasi Farmasi Rumah Sakit untuk penulisan resep di rumah sakit dan Instalasi Farmasi Kabupaten/ kota untuk penulisan resep di Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya. Pemantauan pelaksanaan penyediaan obat generik dilakukan oleh satuan pengawas internal untuk penyediaan obat generik di Rumah sakit dan Instalasi Farmasi Kabupaten / Kota untuk Puskesmas dan jaringannya serta pelayanan kesehatan lainnya. (Anonim, 2010c)

C. DAFTAR PUSTAKA

 

Anisa dan Suryawati, 2001, Pengaruh Ketersediaan Dana Kontan terhadap Pengadaan dan Penggunaan Obat Tingkat Puskesmas, Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, 04 (01) hal. 53 – 61.

Anonim, 1998, Guidelines for Developing National Drug Policies, World Health Organization, Genewa.

Anonim, 1999, Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Obat dan Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Kebutuhan Obat untuk Unit Pelayanan Kesehatan Kabupaten / Kota Dati II tahun 1999/2000, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Anonim, 2003, Materi Pelatihan Pengelolaan Obat di Kabupaten/ Kota, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Anonim, 2005, Rancangan 23 September 2005, Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI,  Jakarta,

Anonim,2006a, Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 189/Menkes/SK/III/2006 tentang Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Anonim, 2006b, Pedoman Supervisi dan Evaluasi Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI,  Jakarta.

Anonim,2010a, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. HK. 02. 02/ Menkes/ 068/I / 2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah, Departemen Kesehatan RI,  Jakarta.

Anonim, 2010b, Keputusan Menteri Kesehatan RI No. HK.03.01/Menkes/146/ I/ 2010, tentang Harga Obat Generik, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Anonim, 2010c, Keputusan Menteri Kesehatan RI No HK.03.01/ MENKES /159 /I/2010 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penggunaan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah, Departemen Kesehatan RI,  Jakarta.

Donatus, I. A. dan Trimurtiningsih, N., 2000, Farmakoepidemiologi dan Farmakoekonomi: modul, 11 – 18, Magister Manajemen Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Erna Suyati, 2004, Upaya Peningkatan Penggunaan Obat Generik di rawat inap klas III RSU PKU Muhammadyah Yogyakarta, Tesis Program Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta

 

Firni, 2003, Evaluasi Harga Obat di Apotek kota bengkulu, Tesis Program Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta.

Prawitasari, D., Dwiprahasto, I., Danu, S.S., 2002, Pengaruh Ketersediaan Obat terhadap Pola Penggunaan Obat pada terapi Lima penyakit di Puskesmas Kota Palangkaraya,. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, 05 (02), hal 83-91.

Quick, dkk, 1997, Managing Drug Supply, 2nd Ed, Revised and Expanded, Kumarin Press, West Harford

Sampurno, 2009, Pemasaran Farmasi, Unversitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

Siregar, 1990, Pengawasan Mutu Obat Generik Berlogo, Phyto Medica, 1 (2), hal 142 – 152.

Subarsono, AG., 2006, Analisis Kebijakan Publik : Konsep, teori dan Aplikasi, Pustaka Belajar, Yogyakarta.

Suryani, A, 2008, Kebijakan Obat di Puskesmas, Pelaksanaan Kebijakan Obat Generik di Apotek Kabupaten Palalawan Propinsi Riau, Tesis Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan, Program Pendidikan Pasca Sarjana Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Wahab, SA, 2005, Analisis Kebijakan dari Formulasi ke Implementasi Kebijakan Negara, Bumi Aksara: Jakarta

PILULAE

PILULAE

(Seri I)

Bab ini akan dibagi 3 Seri, di mana seri pertama akan membahas pil secara umum. Seri kedua akan membahas contoh-contoh perhitungan pada pembuatan pil, sedangkan seri ketiga akan membahas tentang pil dengan bahan-bahan khusus.

Pilulae/ Pil adalah suatu sediaan berupa masa bulat mangandung satu atau lebih bahan obat (FI ed II). Pilulae meliputi Pilulae, granulae dan boli. Perbedaan ketiganya terletak pada bobot tiap butirnya. Berat Pil adalah 60 – 300 mg dengan garis tengah 5 – 7 mm. berat gramula kurang dari 60 mg (PH Ned V tidak mengijinkan berat lebih dari 30 mg). sedangkan berat Boli adalah 300 mg.

Pil pada umumnya terdiri dari :

  1. Bahan Obat : bahan yang berkhasiat ( yang dibutuhkan)
  2. Bahan pengisi : bahan yang ditambahkan supaya diperoleh berat dan besar pil yang sesuai misalnya Saccharum Lactis, Saccharum Album, Radix Liquiritae.
  3. Bahan Pengikat : digunakan agar pil menjadi massa pil yang dapat digulung, missal : PGA, PGS, Succus Liquiritae.
  4. Bahan Pembasah : idem, missal : Aqua, Aqua glycerinate, Glycerolum, sirup, madu, campuran bahan tersebut atau bahan lain yang cocok.
  5. Bahan pembalut/penabur: supaya pil tidak melekat satu sama lain, missal : Talcum, Lycopodium.
  6. Bahan Penyalut : Perak, Balsam Tolu, Keratine, Sirlak, Kollodium, Salol, Gelatin, Gula, atau bahan  lain yang cocok.

Pada penyimpanan bentuknya harus tetap, tetapi tidak begitu keras sehingga dapat hancur dalm saluran pencernaan. Pil salut enteric (enteric coated) dapat disalut secara khusus sehingga tidak hancur dalam lambung, tetapi hancur dalam usus halus.

Keseragaman bobot :

Timbang 20 pil satu per satu, hitung bobot rata-rata. Penyimpangan terbesar yang diperbolehkan terhadap bobot rata-rata adalah sbb:

Bobot rata-rata Penyimpangan terbesar terhadap bobt rata-rata yang diperbolehkan
18 pil 2 pil
100 mg sampai 250 mg 10% 20%
251 mg sampai 500 mg 7,5% 15%

Waktu hancur : memenuhi syarat percobaan waktu hancur yang tertera pada compressi (=tablet).

Penyimpanan  : Disesuaikan dengan cara penyimpanan tablet, dengan memperhatikan sifat zat tambahan yang digunakan

A. Granula :

Ketentuan di Pharmacope Belanda Edisi V menyebutkan bahwa,”kalau tidak ditentukan lain, tiap-tiap granula harus mengandung 1mg bahan berkhasiat (obat) dan berat maksimum 30 mg.

Pembuatan granula tentu lebih sukar dari pada pembuatan pil karena pada waktu memotong harus segera diperoleh butir-butir yang bulat yang hanya sedikit saja harus dibulatkan lagi.

Ada beberapa masa granule :

1. Menurut Ph. Bld V :

Tiap granula : Sacch pulv 22 mg

PGS            3 mg

Dibuat massa dengan sirupus simplicis atau Aqua glycerinate (=campuran air dan glycerin sama banyak). Penyalut : Talcum

2. Menurut Ph. Bld V :

Tiap granula : Sacch lact 20 mg

PGA            5 mg

Dibuat massa dengan Aqua glycerinata. Jika di resep ditulis “Granula cum sacch lactis” maka kita kerjakan dengan massa ini.

3. Dapat pula dibuat massa yang baik dari Succus dan Radix

Tiap 60 granula : Succus liq   300 mg

Radix        1,2 g

Dibuat massa yang lembek dengan Aqua glycerinate. Jika tipa granule mengandung 5 mg extr spiss (=extr kental) maka ekstrak kental tersebut sudah berfungsi sebagai pengikat/ pelekat, sehingga dibuat dengan cara ini tapi Succus hanya diambil 100 mg tiap 60 granula.

Jika tiap granule mengandung 10 mg extr spiss maka tidak perlu memakai Succus liquritae.

Jika untuk 60 granule ada 1 gram ekstrak kental maka hanya perlu penambahan Radix liq = (60 x 30 mg) – 1 g = 0,8 g.

Jika dalam hal ini massa terlalu lembek, mortar boleh dipanaskan sebentar diatas water bad dengan catatan bahwa ekstrak kental tersebut tidak rusak oleh pemanasan.

4. Granula dengan  zat-zat oksidator dan garam-garam Pb.

Dibuat dengan : Bolus alba 1,1 g

                           Vas alb     0,5 g

Untuk 60 granule

B. Pilulae :

Peraturan umum pada pembuatan pil :

1.Berat pil

Jika mungkin maka diusahakan supaya berat bahan obat, bahan pengisi, bahan pengikat tiap pil dibuat 100 – 150 mg atau rata-rata 120 mg.

2. Bahan Pengisi

Pada umumnya dipakai Radix. Jika bahan obat sedikit, maka untuk mendapatkan bobot seperti di atas harus diberi bahan pengisi dan bahan pelekat (pengikat). Bila Bahan pengikatnya Succus, maka sebagai bahan pengisi kita ambil Radix sekurang-kurangnya 2 x Succus.

Pil dengan “Pulvis Pro Pilulis” = p.p.p artinya pil dengan Succus dan Radix sama banyak, hasil pil terlalu keras. Pemakaian p.p.p sangat baik apabila jumlah obatnya (bahan berkhasiat) banyak.

3. Bahan Pengikat

Umumnya dipakai Succus liq 2 gram untuk 60 pil. Jumlah ini sudah cukup apabila jumlah obat yang tertulis sedikit tetapi jika jumlah obatnya banyak, mungkin jumlah Succus tersebut tidak cukup. Hal ini tergantung pada sifat bahan-bahan obta tersebut.

Misal : pil dengan Chloramon dibuat menurut resep standar Vadeemecum ( untuk 50 pil pakai 4 g p.p.p)

Bahan pengikat selain Succus liquiritae :

a.Pulvis Gumosus = PGS = Serbuk Gom Majemuk

Dibuat dari campuran sama banyak antara Saccharum pulveratum, PGA dan tragacanth. Digunakan 0,5 g untuk 60 pil. Bila bahan-bahannya volumineus (bervolume besar) 1 – 1,5 g untuk 60 pil. Pembasah biasanya digunakan Sirup Simplek tapi lebih baik digunakan Aqua glycerinate. Bahan pengisi umumnya dipakai Saccharum.

b. Succus dan Saccharum ãã (sama banyak)

Sebagai bahan pengikat dan pengisi. Pembasah dipakai Aq. Glyc (hati-hati harus dikepal betul-betul). Dipakai 75 gram untuk 1000 pil misalnya pada pil Sulfatis chinini dan pil. Acidi arsenicosi.

c. Ekstrak kental (extr spiss)

Bukan ekstrak kental yang merupakan bahan obat/ bekerja keras (misalnya ekstrak Belladon, Hyosciami, Canabis indicae). Ekstrak kental yang boleh dipakai untuk pengikat hanya Ekstrak liquiritae 1 – 2 g untuk 60 pil, tapi hal ini sukar dikerjakan. Lebih banyak dipakai Ekstrak Gentianae 2 – 4 gram untuk 60 pil, tapi ini hanya diperbolehkan atas permintaan dokter.

d. Glycerinum cum Tragacantha

Digunakan jika berat pil sudah terlalu banyak atau berat satu pil sudah melebihi berat normal. Komposisinya adalah 10% Tragacanth dalam glycerin. Sebelum dipakai perlu diaduk dulu tersendiri sampai homogeny, baru ditimbang ± 3 g untuk 10 g campuran serbuk, tapi dipakai q.s (secukupnya). Hanya dipakai pada pil dengan susunan yang tetap misalnya Pil Alceticae ferratae (CMN) dan pil Myrrhae Aloeticae.

e. Adeps lanae dan Vaselinum album

Digunakan bila oleh sesuatu hal dalam pil tersebut tidak boleh digunakan air atau cairan yang mengandung air. Bahan pengisi digunakan Radix liq. Pemakaian Adeps lane sedapat mungkin dihindari karena menghasilkan pil yang sukar hancur dalam lambung. Kita memakai Adeps lanae atau Vaselinum album apabila :

  • Obat-obat di resep bereaksi satu sama lain, misalnya campuran asam dan basa seperti campuran Acetosal dan Natrium Subcarbonat, atau jika kita membuat Meditreen pil (mengandung campuran Iodo Oxyquinolin Sulfonat dan Natrium Subcarbonas yang jika ada air, manghasilkan gas CO2 , yang ditandai pil menggelembung dan akhirnya pecah)
  • Jika obat terurai oleh air, misalnya :

Aspirin, Helmitol

Folia Digitalis karena mengandung ferment dan glucosida yang dengan adanya air dapat terurai menjadi Glukosa dan Aglukon. Pengikat lain untuk pil dengan Folia Digitalis ialah campuran dari Oleum Cacao dan Oleum Amygdalarum, misalnya

R/ Fol. Digitalis    6

    Ol. Cacao           12

   Ol. Amygdal      1,7

ad pil no. LX

  • Bahan obatnya suatu oxydator, garam-garam Pb, AgNO3.  
  • Pil dibuat dari bahan-bahan yang sangat hygroskopis misalnya Acetas kalicus, Chloretum calcicum, Brometum Calcicum. Tapi pemakaian Adeps Lanae dan Radix di sini dapat dihindari sebab pil-pil tersebut dapat juga dibuat dengan menggunakan Succus dan Radix sedngkan Acetas Kalicus dapat dibuat hanya dengan Radix liq saja.

4. Bahan Pembasah untuk massa pil

Untuk ini dapat dipakai air, tetapi lebih baik/tepat bila dipakai Aqua glycerinate sebab kalau airnya menguap, masih tertinggal Glycerinnya sehingga pil tidak terlalu keras. Dapat pula dipakai Sirup simplek, Sirup glukosi tapi ini kurang baik.

5. Penyelesaian massa pil

Setelah massa pil jadi, maka harus digulung, dipotong dan dibulatkan. Untuk mencegah melekatnya massa pil pada alat pembuat pil pada waktu menggulung/membulatkan dan mencegah melekatnya pil pada penyimpanan, massa pil harus dibalut/ditutpi dengan zat penabur. Umumnya dipakai lycopodium, tetapi kadang dipakai pula Talcum.

Setelah dibalut, kadang-kadang pil-pil harus dilapisi dengan bahan-bahan istimewa. Pemberian lapisan istimewa ini gunanya antara lain :

  1. Untuk menutupi rasa yang tidak enak.
  2. Untuk melindungi isinya terhadap pengaruh udara, terutama terhadap oksidai (misalnya pil-pil dengan garam Ferro, vit A, dan vit C, Fosfor)
  3. Untuk mencegah pecahnya pil dalam lambung, jika pil itu harus bekerja di dalam usus.

Jika pil harus dilapisi dengan salah satu dari bahan-bahan istimewa di atas, maka pil harus dibuat tanpa penabur.

Dan untuk mencegah lengketnya pil satu sama lain, boleh dipakai talcum sesedikit mungkin ( lapisan talcum tipis sekali sehingga pil tidak menempel satu sama lain)

Bahan-bahan untuk melapisi pil tersebut antara lain :

  1. Balsamum tolutanum in chloroform 10%

Gunanya untuk menghindari oksidasi dari udara pada pil-pil yang mengandung garam-garam Ferro, Ferro Iodida, Ferro Chlorida, vit A, vit C dan fosfor.

Caranya :

  • Pil-pil dimasukka ke dalam sebuah cawan.
  • Ditambahkan sedikit larutan Tolubalsam dalam Chloroform 10%.
  • Cawan digoyangkan sehingga seluruh permukaan pil terkena larutan Tolu balsam dalam Chloroform tersebut.
  • Pindahkan ke dalam piring yang bersih dan biarkan mengering.

Karena sifat karsinogenik dari chloroform, bisa diganti dengan pelarut lain.

2. Perak

Pil dibasahi / dilembabkan sedikit dengan Sir. Simplek atau mucilage Gummi arabicum. Kocok dengan Argentum foliatum (kertas perak) 2 lembar untuk 60 pil, dilakukan dalam pengocok pil.

Cara ini tidak boleh dipakai untuk pil yang mengandung Belerang, Iodida, Bromida dan Chlorida karena dapat bereaksi dengan Perak. Untuk ini pil harus dilapisi dulu dengan Collodium.

3. Collodium

1 bagian Collodium dalam 2 bagian Ether cum spiritus dikerjakan seperti pada Tolubalsam.

4. Salol

Pemakaian harap hati-hati karena Salol ber DM. Untuk 60 pil dipakai 2 g Salol, caranya :

  • Dalam cawan dilebur 2 g Salol di atas water bad.
  • Masukkan pil-pilnya, kocok-kocok lalu pil-pil dipindahkan ke cawan lain, dimana pil-pil tersebu diputar-putar sampai terjadi penghabluran dari Salol.

Cara ini dipakai untuk melapisi darmpillen (pil yang harus pecah di dalam usus).

5. Keratin

Untuk darmpillen. Cara ini sukar dikerjakan.

Dipakai larutan :      Keratin                             7

Ac. Aceticum conc  50

Spir dil                           50

Atau : Keratin                 7

Ammonia

Spir dil   aa                    50

6.Gelatin

Dipakai larutan Gelatin 20%.

7. Gula

Biasanya dilakukan pada pabrik untuk melapisi pil yang rasanya kurang enak. Caranya :

  • Pil diputar-putar dalam sedikt Sirup Simplek.
  • Lalu dalam campuran :

Sacch pulv 1

Amyk Trit 2

PGA         0,5

Istilah Canderen artinya adalah memberi lapisan gula pada pil.

8. Schlellak

Digunakan untuk darmpillen. Mula-mula pil dilapisi larutan 10% Schellak dalam Ammonium dan spiritus 90% (sama banyak). Setelah kering dilapisi dengan larutan Schellak 5 + Bals Tolu 5 + Ac. Stearinic 2.5 + Aether c Spiritus 50. Kalau pil harus dilapisi Schellak pada resep dapat ditulis sebagai berikut : f. pil non solubilis in Succo-gastrica.

9. Grafiet

Untuk mencegah oksidasi dan agar mengkilat seperti logam

6. Syarat pecahnya pil

Untuk dapat pecahnya pil diadakan syarat sbb :

  1. Bila pil dimasukkan dalam 10 cc HCl 0,04 N pada suhu 370C dan dikocok berulang-ulang selama 10 menit lalu dikocok keras, maka pil harus hancur.
  2. Pada waktu pil disimpan dalam botol, dalam tekanan rendah, tidak boleh berubah bentuknya.

Demikian materi untuk Pilulae, contoh perhitungan dalam pil, bisa dibaca di Seri II.

Analisa Jamu

Menurut Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009, Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

 Beberapa bahan obat tradisional, ada yang sudah dikembangkan menjadi Fitofarmaka. Dalam ilmu pengobatan, fitofarmaka dapat diartikan sebagai sediaan jamu-jamuan yang telah tersentuh oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Dengan demikian khasiat dan penggunaan fitofarmaka dapat lebih dipercaya dan efektif daripada sediaan jamu-jamuan biasa, karena telah memiliki dasar ilmiah yang jelas. Secara definisi, Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah di standarisasi.

Sedangkan jamu, bisa dikategorikan sebagai obat tradisional khas Indonesia. Mutu jamu ditentukan oleh persyaratan pokok  antara lain :

  1. Komposisi yang benar
  2. Tidak mengalami perubahan fisika-kimia.
  3. Tidak tercemar bahan asing. Dalam hal ini tidak ada cemaran mikroba, kotoran, serangga, jamur, zat kimia untuk obat.

Macam-macam jamu :

  1. Jamu gendong : dibuat dengan cara dan ramuan menurut pengalaman keahlian turun temurun.
  2. Jamu godogan/ direbus. Di sini dibagi lagi menjadi jamu rajangan dan jamu cacah.
  3. Jamu serbuk yang penggunaannya bisa dilakukan dengan cara diseduh, dicelup (jamu celup), atau dioleh lagi menjadi bentuk tablet, pil, kapsul.
  4. Jamu ekstrak.

Analisa terhadap jamu bisa dibagi menjadi dua yaitu analisa kualitatif dan analisa kuantitatif. Analisa kualitatif terhadap jamu dapat dilakukan dengan :

  1. Pengujian organoleptis meliputi pemeriksaan terhadap warna, bentuk, bau, rasa dan tekstur
  2. Pengujian makroskopis meliputi pengamatan terhadap morfologi tumbuhan
  3. Pengujian mikroskopis meliputi pengamatan terhadap bentuk sel, stomata, hablur dan rambut penutup.
  4. Pengujian histokimia meliputi pengamatan histology (pewarnaan jaringan) dari tumbuhan
  5. Identifikasi terhadap senyawa kimia yang terkandung di dalamnya meliputi minyak atsiri, saponin, tannin, glikosida, polifenol, alkaloid dan lain-lain.

Sedangkan analisa kuantitatif terhadap jamu dapat dilakukan untuk menentukan kadar zat aktif dimana bisa untuk menentukan mutu dan kemurnian. Analisa kuantitatif pada jamu terdiri dari :

  1. Penentuan bahan organik asing
  2. Penentuan kadar air
  3. Penentuan kadar abu
  4. Penentuan kadar zat kandungan.

The Secret to you!

Say this poultry everyday you wake up and start the day :)

The Secret of Me

Today is the beginning of my new life
I am starting over today
All good things are coming to me
I am grateful to be alive

I see beauty all around me
I live with passion and purpose
I take time to laugh and play every day
I am awake, energized and alive

I focus on all the good things in live
And give thanks for every ones of them
I am at peace and one with everything
I feel the love, the joy and the abundance

I am free to be my self
I am magnificience in human form
I am the perfection of life

I am so grateful
To be ….

ME !!

 

(    :)   )

Hypertension, Jamu and Jamu Scientification.

The prevalence of hypertension in Indonesia is quite high. In addition, its becomes a public health problem. the first step of hypertension treatment is a life style changes. If the life style changes failed, pharmacological treatment is given. Treatment or management of hypertension takes a long time, lifetime, and should continue.

 So, We need medication with good efficacy and safety. A number of Indonesian people consume some traditional herbs medicine or jamu  for  treating  hypertension such  Apium graviolens and Orthosiphon stamineus.  at this time, a combination of those herbal medicine available as phytopharmaca in the market. There  are a lot of research  to evaLuate the effectivity  and side effects of those phytopharmaca.  The result was the phytopharmaca lowered systolic and diastolic blood pressure equivalent with Amlodipine among mild and moderate hypertensive subjects.

Jamu has been a long history as an ancient heritage  and indigenous wisdom for maintaining health of Indonesian people.  But , Jamu still lacks of scientific evidence in term of efficacy and safety. On the other hand, there is a great demand to use jamu in medical services, including the direction of Indonesian President to rise jamu as a therapeutic modality of healthcare. To solve the problem, The Indonesian Ministry of Health has established the Programe of Jamu Scientification, trying to provide scientific evidence through research and development, regarding the efficacy and safety of Jamu.

The evaluation of clinical outcome for Jamu scientification is using holistic approach. The clinical outcome is not only measured by objective parameters (laboratory  results and measurement) but also by subjective parameters (self-responded out come, quality of life and wellness index). By doing Jamu Scientification, it’s hoped that we can accelerate the integration of Jamu into formal health sevices.

PENDEKATAN SISTEMATIK PROBLEM

IDENTIFIKASI MASALAH :

SUMBER INFORMASI :
1.Kartu Obat
2.Catatan Medik
3.Klien/keluarga Klien
4.Team Kesehatan (dokter, perawat)
5.Kartu observasi
6.Data Laboratorium
INTERVENSI DOKUMENTASI
•Merupakan langkah untuk mengatasi problem dalam pelayanan jamu
•Mengidentifikasi masalah penggunaan jamu
•Merencanakan hasil terapi yang diharapkan
•Merencanakan terapi alternatif jika terapi gagal.
•Mendesain rencana pelayanan jamu untuk klien
•Mengidentifikasi parameter-parameter indikator
•Mengkomunikasikan dan mengimplementasikan rencana pelayanan pada klien, keluarga dan tenaga kesehatan lain
•Dapat dilakukan dengan cara:
1.SOAP : Subjective Objective Assessment Plan
2.PAM  : Problem Assesment/ Action Monitoring
3.FARM : Finding Assessment Resolution Monitoring
SOAP
Subjective (S) : data meliputi sejarah pengobatan
Objective (O) : data didapat dari data laboratorium, konsentrasi obat dalam serum/ darah, hasil-hasil tes diagnostik misalnya sinar X, ECG, CT Scan
The Assessment (A) : Hasil dari pemikiran praktisi untuk mengatasi masalah klien berdasarkan informasi S& O
•The Plan :
1.Termasuk tes diagnosa, inisiasi, revisi atau treatment lanjutan.
2.Keputusan untuk mengatasi masalah kontra indikasi, efek samping, interaksi
3.Merokumendasikan terapi non farmakologik, atau terapi alternatif
4.Kerasionalan  terapi harus diperjelas
5.Perencanaan konseling
6.Memonitor parameter indikator
MISAL
•KH seorang laki-laki berumur 52 thn dengan keluhan nafas sesak, dan produksi sputum meningkat
•Gejala :
1.ruam-ruam kulit sejak kemaren
2.Merasa depresi, kurang fit, terbangun di malam hari dan tidak bisa tidur lagi, kurang nafsu makan, tidak perhatian pada lingkungan termasuk pekerjaan, keluarga selama 6 bulan.
•Riwayat penyakit
1.Bronkritis kronis skunder disebabkan merokok, peningkatan sesak nafas dua tahun terakhir
2.Pernah patah kaki kanan karena jatuh 6 bulan yang lalu dan terjadi Deep Vein trombosis
•Sejarah sosial
1.KH  stabil dan bahagia dalam kehidupan perkawinannya, punya 2 putra yang sudah kuliah, keduanya anak yang membanggakan.
2.KH merokok 1 pak/hari.
3.KH pernah mencoba marijuana dengan putranya tetapi tidak menyukainya.
RIWAYAT PENGOBATAN
•Theodur 600 mg 2x sehari selama 2 th
•Terbutaline inhaler 4 semprotan 4 kali sehari selama 2 tahun
•Vibramycin 100 mg 4 x sehari untuk bronkritis selama 10 hari
•Warfarin 3 mg, 4 x sehari mulai 7 bulan yang lalu
•Acetaminophen bila perlu untuk sakit kepala
•Alergi obat tidak diketahui.
PEMERIKSAAN FISIK
•Kondisi Umum : Laki-laki paruh baya dalam kondisi stres yang parah
•Vital sign : BP 120/80, HR 100, Tiga 37,6*C, RR 32, WT 80 kg, HT 5’7”
•HEENT : Normal
•COR : Normal S1 & S2, no S3, S4 / murmurs
•CHEST : Numerolus rales, ronchi & wheezes
•ABD : No. Organomegaly
•GU : WNL
•RECT : WNL
•EXT : NL DTRs, maculopapular rash pada paha dan sekitar tubuh
•NEURO : Oriented x 3, WNL
HASIL LABORATORIUM

Na. 140

HcT 55

Alb 4

K 40

Hgb 17.5

Bili 8

Cl 101

WBC 8.1

Glu 95

HCO3 28

Plts 305k

Uric Acid 7.4

Ca  8.8

BUN 37

Cr 1.2

PO4 2,6

AST 40

ALT 35

Mg 2.0

PT 25 (INR=3)

•WBC differential : Neutrophils 48, bands 0, lymphs 3.0, monos 5, eos 12
•ABGs : PH 7.37, PO2 55, PCO2 49
•PFTs :
1.pre-bronchodilator FEV1 = 2000 ml (50% of FVC)
2.Post-bronchodilator FEV 1 = 2600 ml (65% of FVC)
•Gram stain of sputum sample was unsuitable due to numerous squamous epithelial cells
•Urinalysis : WNL

Chest x-Ray : Clear, no sign of pneumonia

Daftar Masalah kefarmasian

•Bronkritis kronik dengan eksaserbasi akut
•Alergi obat
•Depresi
•DVT
Problem 1. Chronic Bronchitis Exacerbation

S:

KH mengeluh sesak nafas dan produksi sputum meningkat

O :

KH mengalami penurunan FEV1, rales, ronchi, wheezes. Peningkatan RR, pulse, HcT & Hgb, arterial blood gases yang ditunjukkan dengan peningkatan PCo2 dan menurunnya kadar oksigen disebabkan riwayat merokoknya

A

KH mempunyai gejala simptomatis bronkritis kronis yang memburuk. Merokok memperburuk kondisi bronkitis, sedangkan virus di bagian atas saluran pernafasan menyebabkan infeksi dan tanda-tanda eksaserbasi akut dan tidak ada tanda-tanda infeksi bakteri

KH punya hasil WBC normal, tidak demam, hasil sinar X normal. Tidak bisa digunakan antibiotik. Pre dan post – bronchodilator FEV1 menunjukkan obstruksi saluran nafas reversible. Kadar Theophyllin berada di range terapi dan tidak membutuhkan peningkatan dosis.

P.

Memberi menthylprednisolone 40 -125 mg iv dan diteruskan tiap 6 jam selama 72 jam.

Theophyllin oral diteruskan

Oxigen 2 liter/ menit via nasal

Ampicillin 500 mg peroral 4 x sehari

Memonitor gejala sesak nafas, produksi sputum, FEV1, ABGs, chest ausculation, kadar theophyllin dalam darah, nausea, vomiting, kadar glukose dalam darah, kadar potasium serum, tekanan darah dan kondisi tremor

•Tujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dihubungkan dengan bronkritis kronis. Diperdalam lagi kemampuan KH untuk menggunakan inhaler secara benar. Menjelaskan efek samping Theophyllin, steroid dan Ampicillin
•KH harus menghentikan rokok.