DOVE : EVOLUSI MERK

I. RANGKUMAN

Pada tahun 2007, Unilever Dove adalah merek “pembersih” nomor satu di dunia pada sektor kesehatan dan kecantikan, bersaing dengan merek seperti Procter and Gamble’s Gading, Kao Jergens dan Beiersdorf’s Nivea. Dove baru-baru ini meluncurkan “Campaign for real beauty”. Beberapa pemasar mengamati kampanye tersebut tidak sukses. Apakah ada resiko untuk memasukkan cerita “real beauty” pada media seperti Youtube, di mana konsumen bebas untuk berpendapat dan berbeda pendapat?

UNILEVER, Pemimpin manufaktur global dalam produk kemasan, Unilever dibentuk pada tahun. Perusahaan tersebut dioperasikan di setiap benua dan memiliki kekuatan tertentu di India, Afrika, Amerika Latin dan Asia Tenggara. Menggambarkan dirinya sebagai gabungan yang berakar pada lokal dengan negara global. Desentralisasi global membawa kekuatan melalui perbedaan, tetapi juga ada masalah kontrol. Pada Februari 2000 Unilever memulai iniatiative strategis selama lima tahun yang disebut “Path to Growth”. Bagian penting dari iniative ini adalah rencana untuk menampi yang lebih dari 1600 merek ke 400. Di antara merek yang masih hidup, sejumlah kecil akan dipilih sebagai ‘Masterbrands’

DOVE: ERA FUNGSIONAL, Dove adalah sebuah merek dengan asal-usulnya di Amerika Serikat di Post-era Perang Dunia II. Dove produk pertama, disebut beauty bar,  diluncurkan pada tahun 1957 dengan klaim bahwa ia tidak akan mengeringkan, karena secara teknis bukan sabun. Peluncuran kampanye periklanan untuk Dove di Tahun 1957, dengan pesan Pesan  “Dove, tidak membuat kulit anda kering karena seperempatnya adalah  cleansing cream”,diilustrasikan dengan fotografi yang menunjukkan krim yang dituangkan ke dalam sebuah tablet. .Pada waktu itu ada perubahan kecil dalam slogan, untuk contoh istilah ‘pembersihan krim’ diganti dengan ‘pelembap krim’, tapi Dove tetap dengan klaim tidak menyebabkan kulit kering dan menolak menyebut dirinya sabun selama lebih dari 40 tahun. Iklan menginginkan proyek kejujuran dan keaslian, lebih memilih untuk memiliki wanita terlihat alami yang memberi kesaksian manfaat Dove daripada gaya model fashion. Pada 1980-an, the Dove beauty bar secara luas didukung oleh dokter dan dermatologists untuk merawat kulit kering. Sampai tahun 2000, merek klaim tergantung pada keunggulan fungsional yang didukung oleh manfaat pelembab. Sementara banyak iklan untuk pendatang yang berbicara tentang manfaat fungsional, bagi dove perlu melakukan komunikasi yang berbeda, ia harus membangun makna bagi Dove untuk menstabilkan daur hidup produk. Pencarian sudut pandang baru segera dimulai melalui proses eksplorasi riset pasar, konsultasi dengan para pakar, percakapan dengan wanita, dan akhirnya terbentuklah “Campaign for the real beauty” (CFRB).

MEREK DENGAN NILAI POIN TERTENTU, Dibawah ini adalah tahapan-tahapan riset promotional mix yang dilakukan tim Dove:

1.      Riset untk stereotype cantik “Muda, putih, pirang dan tipis”  dengan melibatkan psikolog, sampel adalah 3000 perempuan dari 10 negara untuk menguji  hypothese dihasilkan oleh para psikolog. Di antara temuan adalah kenyataan bahwa hanya 2% dari responden di seluruh dunia memilih untuk menggambarkan dirinya cantik.

2.      Inisiatif untuk meluncukan “Tik-Box kampanye”

3.      Firming Campaign pada 2005, dengan billboard bergambar “6 real woman with white underwear” untuk “mengubah cara pandang masyarakat tentang keindahan” dan memprovokasi diskusi dan perdebatan tentang keindahan yang nyata. Iklan ini adalah transisi mudah dari fungsional.

“Campaign for Real Beauty” banner mempertaruhkan brand(merek) dan untuk memindahkan posisi brand sehingga bertentangan dengan posisi pada awalnya. Ketika Anda berbicara tentang keindahan sejati Anda kehilangan unsur aspiratif? Apakah konsumen akan terinspirasi untuk membeli sebuah merek yang tidak menjanjikan daya tarik?. Anda menetapkan diri untuk menjadi merek biasa “.

4.       Ide iklan dari pemfilman dialog anak-anak mereka tentang kepercayaan diri.munculah iklan “heart the freckle” dan “wishes she is blonded” yang menghasilkan banyak kontroversi meletus atas kenyataan bahwa tidak disebutkan product. Bagaimana hal itu akan memperoleh laba atas investasi di media?

“Ini adalah sebuah merek dalam kategori kesehatan dan kecantikan, menghilangkan prasangka bahwa kecantikan supermodel ada dalam genggaman Anda.”

5.      Sebuah film berdurasi 112 detik untuk mengarahkan pada tema harga diri perempuan. Film digital ini dikenal sebagai “Evolusi”, menunjukkan wajah seorang wanita muda dengan kosmetik, hair styling dan Photoshop yang dapat mengubah dari kepolosan menjadi billboard yang bersifat glamor. Mengingat iklan televisi yang panjang dan tidak biasa bukanlah pilihan, dan pada bulan Oktober 2006, film ini diposting ke Youtube, sebuah situs berbagi video populer. Dalam waktu tiga bulan itu telah dilihat 3 juta kali.

Pernyataan misi berbunyi: Dove mempunyai misi untuk membuat lebih banyak perempuan merasa cantik setiap hari dengan memperluas definisi yang sempit tentang keindahan dan menginspirasi mereka, untuk lebih memperhatikan diri mereka sendiri.

DARI MEREK KE TITIK NILAI KONSUMEN, Pada akhir 2006, Dove pembangun merek di Amerika Utara dengan mengumumkan sebuah kontes, berjudul Real Ads by Real Women,. Kaidah yang termasuk daftar pikir mereka untuk memasuki persaingan:

• Cobalah produk…..Apakah Anda teringat pengalaman yang menyenangkan?

• Lihat kata “mewah” dalam kamus. Apa artinya?

• Jelajahi dunia di sekitar Anda. Apa kemewahan yang Anda temukan dalam dunia Anda?

PERENCANAAN MEDIA, Menggunakan serangan kilat dari media yang dibayar. Ketika agen periklanan membawa membawa ide iklan”Evolution”kepada Unilever, iklan diluncurkan ke YouTube dan tidak pernah ditayangkan di televisi kecuali dalam konteks program berita dan komentar seperti ”Good Morning America”. Ini menghasilkan volume pembahasan di chat room, dengan kontribusi pada topik seperti anoreksia dan curhat antara ayah dan anak perempuan.

PUBLIC RELATION, Strategi PR untuk Unilever merupakan suatu elemen bersama dengan advertising, perencanaan media massa, promosi ke konsumen dan pemasaran ke konsumen secara terintegrasi menuju perencanaan marketing. Agency PR dari Brand Dove saling terhubung diberbagai negara termasuk Amerika Serikat untuk merealisasikan dan memperluas kampanye Real Beauty serta menegakan hubungan emosional dengan para wanita. Tujuannya adalah menciptakan dialog dan debat tentang kecantikan sebagai penetralisir budaya popular. Perencanaan yang berbasis riset menumbangkan hipotesis bahwa definisi kecantikan terbatasi dan tidak mudah dicapai. Unilever dan tim PR nya memutuskan dalam memperjelas kontroversi dan mencairkan debat. Tujuan centralnya adalah dalam pembangunan advokasi dan menyebabkan diskusi diantara elit media. Brand juga mengembangkan strategi partnership dengan organisasi advokasi. Mendirikan yayasan untuk meningkatkan kepercayaan diri pada wanita. Yang paling menarik adalah bahwa kampanye marketing menjadi katalisator untuk debat sosial bahkan melebihi figure politik, berita mayor organisasi atau event suatu film.

PENGORGANISASIAN UNTUK MANAJEMEN BRAND, Di tahun 2000 Unilever mulai membagi tanggung jawab untuk brand menjadi dua group, pertama dengan pelaksanaan brand development dan pelaksanaan lain yaitu brand building ke dalam spesifik market. Brand development di pusatkan ke dalam dan cakupannya global. Brand building di desentralisasikan menurut daerah geografis terbesar tempat unilever beroperasi.

II. PERMASALAHAN

Campaigne for the real beauty tersebut mengkritik dan disinyalir  akan menghilangkan unsure aspiratif public untuk membeli produk , mempertaruhkan brand, menghilangkan atau menggeser stereotype unsure kecantikan. Apakah iklan melalui internet cukup berhasil untuk meperluas misi pesan?.bagaimana mengekspresikan pesan agar sesuai dengan misi yang diemban apakah cukup berhasil pada iklan “evolution”?……. “membawa pembelaan pada realitas sehingga berisiko pada Dove. Ide dasarnya adalah seruan. Kesulitannya adalah pada bagaimana mengekspresikannya.”

III. SUBSTANSI PEMBAHASAN.

Dari kasus permasalahan yang ditangkap substansi pembahasan akan ditekankan pada promotional mix.

IV. PEMBAHASAN

Komunikasi pemasaran adalah sarana yang digunakan perusahaan dalam upaya untuk menginformasikan,membujuk, dan mengingatkan konsumen langsung atau tidak langsung tentang program yang mereka jual. Program komunikasi pemasaran harus berhubungan dengan ekuitas merk. Setiap kontak merk,menyerahkan suatu kesan yang dapat menguatkan atau melemahkan pandangan pelanggan tentang perusahaan.Bauran komunikasi pemasaran atau yang biasa disebut promotional mix, terdiri dari 6 cara komunikasi utama yaitu iklan, promosi penjualan, public relation (PR), personalselling dan pemasaran langsung. Aktivitas komunikasi pemasaran berkontribusi pada ekuitas merk dengan berbagai cara yaitu keadaran merk, citra merk, tanggapan merk dan hubungan merk. Namun aktifiatas komunikasi pemasaran harus terpadu untuk mengirinkan pesan yang konsisten dan pencapaian penentuan posisi strategic. Dilengkapi dengan kajian-kajian tersebut, para pemasar Dove dapat menilai komunikasi pemasaran manakah yang sesuai dengan kemapuan mereka.mereka memilih iklan, PR dan pemasaran langsung yang diharapkan mampu menggugah kesadaran merk.

Dalam kasus pemasaran Dove, pemasar (sender) perlu mengetahui siapakah target audiencenya (dalam konteks dove adalah wanita) dan respon apakah yang  mereka kehendaki,  respon yang mereka kehendaki adalah menyebarluaskan misi “the real beauty” dan “peningkatan kepercayaan diri pada wanita”jadi bukan hanya sekedar menjual atau penawaran produk. Pesan tersebut harus dipastikan telah didekoding dengan benar oleh receiver, dengan makna seperti yang dimaksudkan oleh sender.

Dalam hal pemilihan media, ada tiga media yang dipilih oleh Dove yaitu billboard, TV dan internet. Pemasar Dove telah membangun saluran feedback agar pesan yang disampaikan dapat direspon oleh pasar melalui saluran tersebut. Hal inilah yang dilakukan oleh PR “Dove” dimana mereka merespon setiap dampak kontroversional maupun parody yang muncul dari penayangan iklan. Unilever dan tim PR-nya memutuskan untuk menjawab kontroversi dengan mencairkan debat. Respon final tentu saja adalah pembelian tapi sebelum konsumen mengambil keputusan untuk membeli biasanya ad proses yang lebih panjang.

Tim pemasar Dove merumuskan komunikasi pemasaran untuk mencapai tanggapan yang diinginkan akan menuntut tiga masalah: pertama, strategi pesan: dalam hal daya tarik iklan, Dove memilih tema atau gagasan yang membangun titik perbedaan pendapat tentang stereotype kecantikan pada umumnya. Kedua, efektifitas komunikasi tergantung pada bagaimana pesan diekspresikan dan juga isi pesan itu sendiri. Dalam hal ini, Dove kurang bisa mengekspresikan isi pesan, pesan bisa disalah artikan menjadi ajang mengeksplorasi wanita, sehingga terjadi pergeseran nilai brand yang semula produk kecantikan menjadi produk tanpa keistimewaan. Strategi kreatif yang ditempuh oleh Dove dapat diklasifikasikan dalam daya tarik transformasional.

Penggunaan real women dan bukan model merupakan point plus bagi iklan Dove. Andaikan Dove memakai selebritis, akan terdapat apa yang disebut keadaan kongruen, andaikan seorang konsumen mendengar selebritis yang mereka sukai menawarkan produk yang tidak mereka sukai, akhirnya konsumen tersebut akan mengembangkan prespektif negative tersebut pada selebritis tadi.

Dove memilih jenis TV,billboard dan internet sebagai media, jenis media ini punya kelebihan dan kekurangn, karena itulah pada iklan “Evolution”, Dove memilih internet, walaupun tidak semua public bisa mengaksesnya.

Pengorganisasian manajemen brand yang dibagi menjadi 2 bagian yaitu brand development dan brand building secara tidak langsung membagi tugas brand image ke kedua manajemen tersebut dimana brand development fokus pada ads below the lines, dan brand building pada below the line.

Dalam advertensi Dove, saya rasa kurang memperhatikan konsep Societal marketing. Societal marketing. Societal marketing menegaskan tentang pentingnya keseimbangan antara keuntungan perusahaan, keinginan konsumen dan kepentingan masyarakat. Jadi disini perlu sosial responsibility, hal inilah perlu dibangun Consument  Relationship strategy menjadi salah satu komponen terpenting dari perusahaan melalui Costumer Relationship Manajemen.

V. KESIMPULAN

Taktik pemasaran yang termatup dalam strategy advertensy Dove sebenarnya dari isi pesan sudah benar, tapi cara mengekspresikannya kurang berhasil karena bisa terjadi ambigu maupun noise, hanya terpaku pada konsumen wanita, dan beresiko pada pergeseran citra brand, bahkan kehilangan unsure aspiratif.

VI. SOLUSI

1.      Perlu pengekspresian yang lebih kuat untuk penyebaran misi “realbeauty” sehingga tidak terjadi kesalahan presepsi dan kontroversi di masyarakat,

2.      Perlu dilakukan kegiatan Costumer RelationShip Manajemen untuk lebih menjalankan societal marketing.

3.      Perlu dikembangkan pemakaian media lain selain media yang tersebut diatas (internet) sehingga bisa lebih diakses oleh masyarakat luas.

4.      Perlu peningkatan peran Public relation untuk menjawab kontroversi dan parody-parody yang disebabkan oleh advertensy baik evolution, dan “campaigne for rel beauty”

5. Perlu ekspansi dan inovasi produk untuk pria, untuk memperluas marketshare.

6. Perlu perbaikan pada marketing comunikation mix sehingga dapat menaikan tingkat penjualan produk.

VII. Daftar pustaka

Kottler & Keller,2007, Manajemen Pemasaran farmasi, edisi 12 jilid 2, dicetak di Indonesia oleh PT. Macanan Jaya Cemerlang,

Sampurno, 2009, Manajemen Pemasaran Farmasi, UGM Perss, Jogjakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Evidence Based Medicine

Evidence Based Medicine (EBM) merupakan pemanfaatan bukti ilmiah berdasarkan penelitian klinis mutakhir yang sahih dalam tatalaksana proses penyembuhan penyakit. Langkah EBM adalah mengajukan pertanyaan klinik yang dapat dijawab (asking answerable question); melakukan pelacakan pustaka untuk menjawab pertanyaan klinik; melakukan telaah kritis terhadap bukti ilmiah; melakukan integrasi antara bukti ilmiah yang valid, keahlian klinik, dan nilai serta harapan yang ada pada pasien; melakukan evaluasi hasil guna penerapan bukti ilmiah di dalam praktek. Tujuan utama dari EBM adalah membantu proses pengambilan keputusan klinik, baik untuk kepentingan pencegahan, diagnosis, terapetik, maupun rehabilitatif yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian maka salah satu syarat utama untuk memfasilitasi pengambilan keputusan klinik yang evidence-based, adalah dengan menyediakan bukti-bukti ilmiah yang relevan dengan masalah klinik yang dihadapi serta diutamakan yang berupa hasil meta-analisis, review sistematik, dan randomised controlled trial (RCT). Kalangan medis harus mempunyai kemampuan untuk melakukan kajian kritis (critical appraisal) berdasarkan prinsip-prinsip EBM terhadap hasil-hasil penelitian klinis tersebut dan independen dalam menentukan keputusan klinis (clinical decision). Secara lebih rinci EBM merupakan keterpaduan antara bukti-bukti ilmiah yang berasal dari studi yang terpercaya (best research evidence) dengan keahlian klinis (clinical expertise) dan nilai-nilai yang ada pada masyarakat (patient values).

Banyaknya jenis dan jumlah obat yang beredar serta bertambahnya berbagai obat baru justru menyebabkan kebingungan dan kesukaran bagi dokter dan tenaga kesehatan lain dalam memilih obat untuk pelayanan kesehatan. Sebagian besar sediaan obat yang beredar merupakan duplikasi sediaan yang ada, dengan isi dan dosis yang sama tetapi harga berbeda. Sebagian lagi merupakan obat yang kurang dibutuhkan karena tidak sesuai dengan kondisi penyakit yang ada atau obat tersebut sesuai dengan kondisi yang ada namun risikonya lebih besar daripada manfaatnya. Teknologi diagnostik dan terapetik selalu disempurnakan dari waktu ke waktu, sehingga bisa saja obat atau teknologi kesehatan yang sebelumnya diketahui terbaik di masanya dapat segera digantikan oleh obat atau teknologi kesehatan yang lebih efektif dan aman. Dengan bertambahnya pengalaman klinik seseorang maka kemampuan/ketrampilan untuk mendiagnosis dan menetapkan bentuk terapi juga meningkat. Namun pada saat yang bersamaan, kemampuan ilmiah (akibat terbatasnya informasi yang dapat diakses) serta kinerja klinik (akibat hanya mengandalkan pengalaman, yang sering tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah) menurun secara signifikan. Dengan meningkatnya jumlah pasien, waktu yang diperlukan untuk pelayanan semakin banyak. Akibatnya, waktu yang dimanfaatkan untuk meng-up date ilmu (misalnya membaca journal-journal kedokteran atau menghadiri seminar-seminar ilmiah) sangatlah kurang. Dalam situasi tersebut praktisi medik tidak menyadari bahwa tindakan medik yang dilakukan sebenarnya sudah tidak lagi direkomendasikan pada saat ini. Jika tetap dilakukan, maka secara tidak sadar yang bersangkutan telah melakukan medication error, atau memberikan jenis terapi yang sudah usang atau bahkan tidak lagi dianjurkan. Untuk itu, agar dapat memberikan terapi terbaik untuk pasien, praktisi medik harus menetapkan jenis obat yang benar‑benar diperlukan, paling efektif dan aman bagi pasien. Proses pengambilan keputusan untuk memilih obat ini harus didasarkan pada bukti-bukti ilmiah yang terkini dan valid yaitu menggunakan EBM. Dalam mempraktekkan EBM, praktisi medik dibantu oleh farmasis atau apoteker yang memang tidak secara langsung memberikan pengobatan kepada pasien, namun sebagai bagian dari tim kesehatan, farmasis berhak dan berwenang memberikan saran kepada dokter mengenai pilihan pengobatannya berdasarkan EBM, dan turut serta memonitor perkembangan kesehatan pasien. Sehingga, selain dapat meningkatkan keberhasilan terapi dan memperbaiki kualitas hidup pasien, EBM juga dapat melindungi dokter dari tuntutan malpraktek akibat keputusan terapi yang tidak berdasarkan bukti.

 

 

Daftar Pustaka

 

Amir, D., 2009. Evidence Based Medicine. Bagian Ilmu Penyakit Saraf FK-Unand/RS DR. M. Djamil,  Padang

Kusnanto, H., 2008. Kebijakan Kesehatan Masyarakat Berbasis Bukti. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Program Studi Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta

Straus SE, Richardson WS, Paul Glasziou, Haynes RB., 2005. Evidence-based Medicine: How to Practice and Teach EBM. Churchill Livingstone, Edinburgh.

CERDASNYA STRATEGI PEMASARAN XENICAL MELALUI WEIGHT MANAGEMENT PROGRAM (WMP) ROCHE

Gaya hidup saat ini membuat kita mudah sekali mengalami kelebihan berat badan (overweight) namun untuk menurunkannya pun kini bukan mimpi. Ada beberapa obat yang dapat digunakan salah satunya adalah orlistat. Orlistat yang terkandung dalam Xenical biasanya dapat digunakan dalam jangka waktu lama untuk mengatasi masalah obesitas (kegemukan) yaitu dengan menghambat absorbs lemak dari makanan yang dikonsumsi. Xenical (Orlistat) tidak dapat diperoleh secara bebas, harus dengan resep dokter. Seperti halnya obat ethical lainnya, untuk memasarkan obat Xenical, PT Roche Indonesia mesti berusaha keras guna menjaring masyarakat  luas dan konsumen. Antara lain melalui dokter sebagai ujung tombak. Sejak diluncurkan sekitar tahun 2000, kini Xenical menjadi raja baru di lini obat antiobesitas dang menguasai pangsa pasar 63,6% jika dibandingkan dengan perusahaan multinasional yang berkecimpung di kolam yang sama (Rafick, Nurini, 2005)

Xenical merupakan satu-satunya antiobesitas resep dokter karena memungkinkan interaksi dengan obat lain, seperti obat diabetes. Di beberapa negara lain, obat ini dijual bebas. Lantas apa perlunya Roche mendesainnya menjadi obat ethical? Keberadaan dokter sangat penting karena dokter bisa mempertimbangkan perlu tidaknya pasien mengkonsumsi obat dan menganjurkan pola makan yang baik. Meski demikian Roche juga meluncurkan program penurunan berat badan Xenicare. Peminum Xenical bisa mendaftarkan diri dengan mengisi formulir yang langsung diserahkan ke dokter atau apotek tempat memperoleh Xenical. Formilr ini lalu dikumpulkan oleh medical representative Xenical lalu dimasukkan di database di call center. Selanjutnya pasien akan ditelepon untuk verifikasi data dan memperoleh informasi yang diperlukan termasuk pola makan dan gaya hidup sehat, melalui ahli gizi Xenicare.

Program ini didukung oleh 4 ahli gizi dan 5 lini telephone, juga website dan layanan hotline bebas pulsa. Roche melakukan kampanye kesehatan dengan slogan “Block the fat, Safe your life”. Kampanye edukasi ini telah dilansir secara intensif sejak tahun 2002. Dulu slogannya adalah “Loose Weight, Gain Life” tapi dinilai kurang menggigit sehingga diganti dengan slogan yang sekarang yaitu “Block the fat, Safe your life”. Kegiatan ini dilakukan di 20 cabang dan 32 medical representative Roche di seluruh Indonesia, minimal sekali dalam sebulan. Dengan kampanye tersebut, dilakukan berbagai program mulai dari pengukuran lemak sampai seminar tentang obesitas.

Di sisi lain Roche juga berupaya meyakinkan para dokter di Indonesia tentang kehebatan Xenical dengan memberikan uji klinisnya,menurut dr. Fredy Setiawan, dokter Indonesia mempermasalahkan pola makan orang Indonesia yang berbeda dari orang barat. Orang barat makanannya banyak lemak sedangkan orang Indonesia banyak karbohidrat. Mereka mempertanyakan keefektifan Xenical di Indonesia. Namun melalui Weigt Management Program (WMP) Xenical dan penelitian yang melibatkan para dokter ahli gizi, membuktikan bahwa Xenical juga bermanfaat bagi orang Indonesia.

Keberhasilan uji klinis Xenical tak bisa dikampanyekan lewat media, maklum, obat ethical tidak boleh beriklan maka komunikasi iklannya dirubah yaitu iklan tanpa mencantumkan merk Xenical atau Xenicare. Yang dicantumkan testimoni tokoh dan slogan “Block the fat, Safe your life”, seta nomor telephone bebas pulsa. Nomor telepon tersebut penting bagi mereka yang ingin tahu lebih lanjut tentang obesitas. Roche dalam program ini memiliki list dokter sehingga masyarakat bisa memilih dokter terdekat. (Rafick, Nurini 2005)

Sejak 2007, program serupa dilakukan pada level korporasi dimulai dengan RISTY (Roche Against Obesity Amongst Employees) untuk karyawan Roche dan diikuti serial kampanye pada promosi kesehatan di tempat kerja melalui Corporate Managemen Program (Anonim, 2009)

Roche sebagai salah satu industri farmasi berbasis riset telah mampu memposisikan diri dengan baik sebagai perusahaan bioteknologi terbesar di dunia. Hal ini disebabkan oleh tacyt knowledge dan asset nirwujud yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun sehingga tidak dapat ditiru oleh perusahaan lain, yang merupakan asset stratejik perusahaan sebagai sumber keunggulan kompetitif yang sustainable. Roche telah memantaince asset nirwujud dengan baik yang meliputi pekerjanya yang 75.000 orang di seluruh dunia, memiliki perjanjian riset dan pengembangan serta aliansi strategic dengan sejumlah mitra. Roche juga sangat konsen dan berpegang teguh dengan visi-misinya dalam upaya mengembangkan produk-produk baru secara inovatif dan dengan memperhatikan suplychain yang ada. Selain itu Roche juga mempunyai kemampuan untuk melakukan kegiatan yang mampu menghasilkan added value yaitu marketing dan inovasi.

Faktor-faktor pada konsep pemasaran adalah strategi, loyalitas karyawan, SIM yang baik dan implementasi yang kuat. Intinya adalah bisa  memuaskan kebutuhan konsumen dan menetapkan target pasar secara tepat dan cermat (Sampurno,2009) Hal inilah yang dilakukan pertama kali oleh PT. Roche dalam konteks pemasaran Xenical, setelah dilakukan studi konsumen, dilakukan analisa dan dipilih yang mempunyai potensi tertinggi. Langkah berikutnya adalah positioning dari perusahaan , yang ditetapkan dengan visi-misinya yang mencerminkan tujuan perusahaan. Kemudian dilakukan positioning terhadap produk, dilihat dari faktor keamanan produk Xenical sebagai produk farmasi. Dalam konteks Xenical, Roche cukup berhasil memposisikan Xenical sebagai produk ethical. Walau pun positioning produk ethical tersebut mempunyai kelemahan karena tidak boleh beriklan melalui media masa, namun melalui WMP yang telah dikembangkan oleh Roche, ternyata Xenical cukup mampu menguasai 63,6% pangsa pasar. Strategi pemasaran Roche untuk Xenical memang sangat komprehensif. Dengan strategi ini pula, omzet Xenical tumbuh rata-rata 20% pertahun (Rafick, Nurini, 2005). Strategi yang dimulai dengan pembuatan slogan dari “Loose Weight, Gain Life” berubah menjadi “Block the fat, Safe your life” sangat disesuaikan dengan tujuan dari terapi Xenical. Perubahan slogan ini sangat biasa dalam konteks pemasaran seperti dalam kasus pemasaran lampu Phillip, dimana slogan pemasaran khusus untuk Indonesia berbeda dengan slogan Phillip Internasional yaitu “Terus Terang Phillip Terang Terus”. Dengan kampanye  “Block the fat, Safe your life” jelas makna yang ditonjolkan adalah mendapat kualitas hidup yang lebih baik, bukan mendapat kehidupan yang baik.

Roche dalam usahanya memasarkan Xenical telah mampu mengaplikasikan marketing communication mix atau yang disebut juga promotion mix dengan baik. Roche melakukan advertensi secara baik untuk Xenical dengan tanpa melanggar regulasi obat ethical, yaitu iklan tanpa mencantumkan merk produk tetapi mencantumkan slogan “Block the fat, Safe your life”. dan nomor telephon bebas pulsa dari call center Roche yang akan mendorong konsumen mencari info lebih lanjut tentang obesitas, Xenical mau pun program WMP. Public Relation melalui program-program adaptasi WMP cukup mampu memelihara citra produk dan perusahaan. Program seperti Xenicare, RISTY dan yang terakhir bye-bye big cukup mampu mengedukasi masyarakat terhadap obesitas dan cukup mampu meyakinkan para dokter di Indonesia terhadap keefektifan penggunaan Xenical.

Program WMP yang dilakukan oleh PT. Roche ternyata sangat tepat jika ditinjau dari societal marketing farmasi karena tidak melanggar regulasi iklan obat ethical dan mampu mengedukasi public tentang obesitas.

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2009, Bye-bye big, Membuka Audisi Tawarkan Cara Sehat Turunkan Berat Badan, WWW. Roche.co.id

Antonakis and Achilldelis, 2001, The Dynamic of Technological Innovation : The Case of the Pharmaceutical Industry, Research Policy, 30 : 535-558

Daum,J.H, 2003, Intangible Assets and Value Creation, West Sussex, England, John Wiley & Son.

Edvison & Malone, 1997. Intellectual Capital, Realising Your Campany’s true value by Finding its Hidden Brain Power, New York, NY, Herper Business

Gofton, 2007, Data Baru, Xenical Sangat Turunkan Resiko Penyakit Jantung, Antara News

Lacetyera, 2001, Corporate Governanace and Innovation in the Pharmaceutical Industry : Some Further Evidence, Cespri, Universita Boconi.

Malerbo & Orsinego, 2001, Inovatioan and Market Structure in the Dynamics of the Pharmaceutical Industry and Biotechnology : Toward a History Friendly Model. The DRUID Nelson and Winter Conference, Aalborg.

Matraves, C, 1998, Market Structure, R&D and Advertising in the Pharmaceutical Industry Berlin, WZBI, Social Science Research Center.

Rafick, Nurini, 2005, Gerilya Roche Memasrakan Xenical, Swamagazine

Sampurno, 2009, Manajemen Pemasaran Farmasi, Gadjah Mada University Press, Jogjakarta.

Smith, C Mickey dan EM “Mic”: Kolasa, 2002, Pharmaceutical Marketing. Principle, Environtment and Practice, Pharmaceutical Product Press, New York.

Stewart, 2005, Identifying the Sub Components of Intellectual Capital : a Literature Review and Development of Measure. Woeking Papper Series 2005.05, University of Both. Claverton.

Sutton, 1991, Sunk Cost and Market Structure : Price Competition, Advertising and the Evolution of Concentration, MIT Press, Cambgridge, MA

NB : Postingan ini berasal dari hasil merangkum pemilik blog ini yang bersumber dari tugas akhir semester manajemen pemasaran yang diberikan oleh Dr. Sampurno, di Magister Manajemen Farmasi Rumah Sakit Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta, jadi jika ada yang ngompas buat tugas manajemen pemasaran yang sama, TIDAK BOLEH, coz pasti terjadi duplikasi dan nilai kalian sudah bisa dipastikan JELEK.

INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT

Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah suatu bagian / unit / divisi atau fasilitas di rumah sakit, tempat penyelenggaraan semua kegiatan pekerjaan kefarmasian yang ditujukan untuk keperluan rumah sakit itu sendiri (Siregar dan Amalia, 2004)

Berdasarkan definisi tersebut maka Instalasi Farmasi Rumah Sakit secara umum dapat diartikan sebagai suatu departemen atau unit atau bagian di suatu rumah sakit di bawah pimpinan seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi persyaratan perundang-undangan yang berlaku dan bertanggungjawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian, yang terdiri pelayanan paripurna yang mencakup perencanaan, pengadaan, produksi, penyimpanan perbekalan kesehatan/ sediaan farmasi ; dispensing obat berdasarkan resep bagi penderita saat tinggal dan rawat jalan; pengendalian mutu dan pengendalian mutu dan pengendalian distribusi dan penggunaan seluruh perbekalan kesehatan di rumah sakit. Pelayanan farmasi klinik umum dan spesialis mencakup pelayanan langsung pada penderita dan pelayanan klinik yang merupakan program rumah sakit secara keseluruhan (Siregar dan AMalia, 2004)

Didalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang standar pelayanan rumah sakit, yang menyebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari system pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien (patient oriented). Hal tersebut juga terdapat dalam keputusan Menteri Kesehatan No. 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, disebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu (Anonim, 2006)

Tugas utama Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah pengelolaan mulai dari perencanaan, pengadaan, penyimpanan, penyiapan, peracikan, pelayanan langsung kepada penderita sampai dengan pengendalian semua perbekalan kesehatan yang beredar dan digunakan dalam rumah sakit, baik untuk penderita rawat tinggal, rawat jalan mau pun untuk semua unit termasuk poliklinik rumah sakit (Siregar dan Amalia, 2004)

Berkaitan dengan pengelolaan tersebut, Instalasi Farmasi Rumah Sakit harus menyediakan obat untuk terapi yang optimal bagi semua penderita dan menjamin pelayanan bermutu tinggi dan yang paling bermanfaat dengan biaya minimal. Jadi Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah satu-satunya unit di rumah sakit yang bertugas dan bertanggungjawab sepenuhnya pada pengelolaan semua aspek yang berkaitan dengan obat/perbekalan kesehatan yang beredar dan digunakan di rumah sakit tersebut. Instalasi Farmasi Rumah Sakit bertanggungjawab mengembangkan suatu pelayanan farmasi yang luas dan terkoordinasi dengan baik dan tepat untuk memenuhi kebutuhan berbagai bagian atau unit diagnosis dan terapi, unit pelayanan keperawatan, staf medic, dan rumah sakit keseluruhan untuk kepentingan pelayanan penderita yang lebih baik (Siregar dan AMalia, 2004)

Daftar Pustaka:

Anonim, 2006, Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, 1, 5, 14-17, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Siregar, Ch. J.P., dan Amalia, L., 2004, Farmasi Rumah Sakit, Teori dan Penerapan, 25 – 49, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

FORMULARIUM RUMAH SAKIT

Formularium rumah sakit merupakan penerapan konsep obat esensial di rumah sakit yang berisi daftar obat dan informasi penggunaannya. Obat yang termasuk dalam daftar formularium merupakan obat pilihan utama (drug of choice) dan obat-obat alternatifnya. Dasar-dasar pemilihan obat-obat alternative tetap harus mengindahkan prinsip manajemen dan criteria mayor yaitu berdasarkan pada : pola penyakit yang berkembang didaerah tersebut, efficacy, efektivitas, keamanan, kualitas, biaya, dan dapat dikelola oleh sumber daya dan keuangan rumah sakit (Anonim 2002a)

Seleksi obat yang tepat melalui system formularium rumah sakit, banyak keuntungan yang didapat antara lain meningkatkan mutu terapi obat, dan menurunkan kejadian efek samping obat. Formularium juga meningkatkan efisiensi pengadaan, pengelolaan obat serta meningkatkan efisiensi pengadaan, pengelolaan obat serta meningkatkan efisiensi dalam manajemen persediaan, sehingga pada akhirnya akan menurunkan biaya pelayanan kesehatan secara keseluruhan (Anonim, 2002a)

Formularium harus direvisi secara periodic sehingga dapat merefleksikan penilaian terkini para staf medic. Penerapan formularim harus mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut (Anonim, 2002a):

1.      Obat harus diseleksi atas dasar kebutuhan komunitas dan obat-obatan tersebut harus dapat mengatasi pola penyakit dan kondisi daerah tersebut.

2.      Obat yang dipilih adalah drug of choice

3.      Daftar formularium harus memiliki jumlah oabat yang terbatas. Hanya obat-obatan yang diperlukan yang dapat disediakan di rumah sakit. Duplikasi obat dengan khasiat terapetik sama tidak boleh terjadi.

4.      Penggunaan produk obat kombinasi hanya untuk kasus tertentu, misalnya TB.

5.      Obat-obat yang tidak cukup bukti tentang khasiat, keamanan dan kualitas, serta tidak cost effective perlu dievaluasi dan dihapus bila telah ada alternative obat yang lebih dapat diterima.

Formularium merupakan sarana yang digunakan oleh dokter dalam pola pengobatan, oleh karena itu formularium harus lengkap, ringkas dan mudah digunakan. Formularium sangat diperlukan di rumah sakit karena dapat digunakan sebagai dasar pedoman perencanaan obat bagi manajemen dan sebagai sebagai pedoman perencanaan obat bagi dokter dalam melakukan peresepan di rumah sakit (Anonim, 2002b)

Anonim, 2002a, Drug and Therapeutics Committee Training Course, 60-69, Management Sciences for Health, Arlington.

Anonim, 2002b, Principles of a Sound Drug Formulary System, http//www.ASHP.com, 29 Agustus 2008)

PENCARIAN KEBUTUHAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN YANG KOMPREHENSIF UNTUK MENCAPAI PENGELOLAAN OBAT YANG EFEKTIF DAN EFISIEN

I. PENDAHULUAN

Kita semua menyadari bahwa teknologi informasi dan komunikasi saat ini sudah menjadi bagian yang tidak terelakkan dalam organisasi kesehatan. Mulai dari rumah sakit, puskesmas, dinas kesehatan, organisasi pendidikan pelatihan kesehatan, badan asuransi serta berbagai organisasi kesehatan lainnya pasti memiliki teknologi informasi dan komunikasi dengan jenis dan kapasitas yang bervariasi. Yang juga bervariasi adalah kemampuan pengguna dan organisasi itu sendiri dalam memanfaatkannya. Di sisi yang lain, pengalaman menunjukkan penerapan sistem informasi berbasis komputer banyak berakhir dengan kegagalan. Dowling(1980) mengestimasi bahwa 45% dari pengembangan sistem informasi berbasis komputer gagal karena resistensi pengguna, meskipun secara teknologi cukup meyakinkan.

Sistem informasi berbasis komputer dapat dikaji berdasarkan criteria biaya/manfaat (cost benefit), ketepatan waktu, kelengkapan, tingkat kesalahan, tingkat penggunaan sampai dengan kepuasan pengguna. Dalam sistem manajemen tedapat subsistem dimana semuanya membuat suatu kesatuan sistem yang disebut Sistem Informasi berupa sub sistem Pengumpulan, Pengolahan, Analisis, Penyajian, Informasi membentuk sistem Informasi, suatu aktifitas yang menjamin bahwa sistem manajemen memiliki informasi yang relevan bagi pengambilan keputusan.

Di dalam suatu sistem terdapat elemen-elemen atau bagian-bagian dimana di dalamnya juga membentuk suatu proses dalam suatu kesatuanyang disebut sebagai sub sistem (bagian dari sistem). Sistem terbentuk dari elemen atau bagian yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Apabila salah satu bagian atau sub sistem tidak berjalan dengan baik maka akan mempengaruhi bagian yang lain. Secara garis besar, elemen-elemen dalam sistem itu adalah sebagai berikut:

1.      Masukan (Input) adalah sub-sub elemen yang diperlukan sebagai masukan untuk berfungsinya sistem.

2.       Proses adalah suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah masukan sehingga menghasilkan sesuatu (keluaran) yang direncanakan.

3.      Keluaran (output) ialah hal yang dihasilkan oleh proses.

4.      Dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran setelah beberapa waktu lamanya.

5.      Umpan balik (feedback) ialah juga merupakan hasil dari proses yang sekaligus sebagai masukan untuk sistem tersebut.

6.      Lingkungan (environment) ialah dunia di luar sistem yang mempengaruhi sistem tersebut.

Sistem pelayanan kesehatan mencakup pelayanan kedokteran (medical services) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public health services). Secara umum pelayanan kesehatan masyarakat adalah merupakan sub sistem pelayanan kesehatanyang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran masyarakat. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa pelayanan kesehatan masyarakat tidak melakukan pelayanan kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan)

II. SIK (SISTEM INFORMASI KESEHATAN )

Pengertian : Suatu kombinasi elemen-elemen yang bertujuan menghasilkan data dan penyebaran informasi untuk digunakan oleh pelayanan kesehatan di semua tingkat pelaksanaan dan di sektor-sektor pengembang yang lain. Tujuan : melayani manajemen dengan cara meminimalkan ketidakpastian untuk pengambilan keputusan dengan harapan untuk mencapai tujuan organisasi.

Perangkat SIK : Secara umum masyarakat mengenal produk teknologi informasi dalam bentuk perangkat keras, perangkat lunak dan infrastruktur/jaringan.

1.      Perangkat keras (Hardware): Perangkat Input (keyboard, monitor, touch screen, scanner, mike, camera digital, perekam video, barcode reader, maupun alat digitasi lain dari bentuk analog ke digital). Perangkat Keras Pemroses lebih dikenal sebagai CPU (central procesing unit) dan memori komputer. Perangkat Keras Penyimpan Data baik yang bersifat tetap (hard disk) maupun portabel (removable disk).  Perangkat Output yang menampilkan hasil olahan komputer kepada pengguna melalui monitor, printer, speaker, LCD maupun bentuk respon lainnya.

2.      Perangkat Lunak (Software) : Sistem Operasi (misalnya Windows, Linux atau Mac) yang bertugas untuk mengelola hidup matinya komputer, menhubungkan media input dan output serta mengendalikan berbagai perangkat lunak aplikasi maupun utiliti di komputer. Perangkat Aplikasi adalah program praktis yang digunakan untuk membantu pelaksanaan tugas yang spesifik seperti menulis, membuat lembar kerja, membuat presentasi, mengelola database dan lain sebagainya. Program Utility yang membantu sistem operasi dalam pengelolaan fungsi tertentu seperti manajemen memori, keamanan komputer dan lain-lain.

3.      Infrastruktur dan jaringan: Terbatas, dalam kawasan tertentu (misalnya satu gedung) yang dikenal dengan nama Local Area Network (LAN). Luas, meliputi satu kabupaten atau negara atau yang dikenal sebagai Wide Area Network (WAN).

4.      SDM/ Manusia (brainware): Merupakan faktor utama yang tidak boleh diabaikan. Terdiri dari perencana, manager, pemogram, operator dan pemakai.

Informasi dalam SIK : Informasi manajemen kesehatan, Informasi upaya teknis kesehatan, Informasi kesehatan untuk masyarakat, Informasi iptek kesehatan. Masalah SIK di Indonesia :Kelemahan aspek organisasi & tata kerja, kelemahan pengelolaan data dan informasi, sikap terhadap data/ info (mis : cuek, tidak mengerti arti pentingnya data), kelemahan sumber daya (mis: tidak bisa mengoperasikan komputer, malas belajar, dianggap merepotkan, masih dipengaruhi tata cara manual), ketersinambungan program , dukungan pengambil keputusan (perlu adanya SIKDA (Sistem Informasi Kesehatan Daerah) untuk memayungi SIK)

Elemen dalam SIK (aplikasi) : antara lain (contoh) : SIMPUS (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas) untuk mendukung manajemen klien, (Kegiatan dalam gedung),  SPTP (Sistem Pelaporan Terpadu Puskesmas)  untuk mendukung manajemen unit kesehatan, Kegiatan luar gedung), SIMKA (Sistem Informasi manajemen Kepegawaian), GIS (Geografis Information sistem), SIMO (Sistem Informasi Manajemen Obat), PIN (Pekan Imunisasi Nasional), SIM-KLB (Sistem Informasi Manajemen Kejadian Luar Biasa berbasis SMS).

III. SIMO (Sistem Informasi Manajemen Obat)

SIMO adalah suatu tatanan manusia/peralatan yang menyediakan informasi yang membantu proses manajemen pengelolaan obat. Pengelolaan perbekalan kefarmasian ini biasanya terintegrasi dalam system jaringan teknologi informasi yang didukung oleh piranti lunak atau pemprograman khusus ( soffware ). SIMO dilatarbelakangi oleh perubahan sistem pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan ke arah keterpaduan yang berlandaskan prinsip supply chain management maka diperlukan sistem benchmarking yang berguna dalam menganalisis kinerja berdasarkan indikator – indikator yang ada dan melakukan perbandingan. Benchmarking adalah pola pengukuran dan penilaian kinerja berdasarkan indikator, standar dan perbandingan hasil. Menjamin tersedianya obat yang bermutu dengan jenis dan jumlah yang tepat, tersebar secara merata dan teratur, sehingga akan mempercepat pelayanan kesehatan yang tepat waktu serta memudahkan masyarakat yang membutuhkan.

Informasi yang optimal yang diharapkan dari SIMO terdiri dari informasi dasar berbasis masyarakat (community based information)dan informasi dasar berbasis fasilitas pelayanan (facility based information). Pengembangan penggunaan Sistem Informasi dan Manajemen Obat ( SIMO ) sangat dipengaruhi oleh prioritas program dan kegiatan, administrasi yang valid dan akurat, kemampuan sumber daya manusia ( SDM ) yang ada, ketersediaan alokasi dana yang berkesinambungan, dan perangkat teknologi dan sistem jaringan yang memadai.

Manfaat SIMO adalah cepatnya pelayanan, akuratnya tindakan yang diterima, mudahnya mendapatkan informasi, kemudahan dan kesederhanaan proses-proses administrasi, perencanaan menjadi terorganisir rapi, memudahkan proses monitoring dan evaluasi, mempermudah dalam proses pengambilan keputusan/kebijakan.

IV. sim pada klinik

Berbicara mengenai efisiensi biaya pengobatan rasanya akan turut pula membicarakan tentang obat karena obat merupakan komponen penting dalam upaya pelayanan kesehatan bahkan penggunaan obat dapat mencapai 40 % dari seluruh komponen biaya pelayanan kesehatan. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi harga obat sehingga sering kali pasien kesulitan untuk melakukan efisiensi dalam investasi kesehatannya. Pasien sulit memprediksi biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan pengobatan yang pada akhirnya dapat membuat pasien enggan untuk mengakses layanan kesehatan karena kekhawatiran harus menanggung biaya yang besar. Dalam hal pemilihan jenis obat, penggunaan obat generik memang bisa membantu efisiensi biaya kesehatan, namun sayangnya terkadang tidak semua obat generik tersedia di pasaran karena faktor rendahnya permintaan dari dokter yang meresepkan.

Di bidang kesehatan, Teknologi Informasi( TI) juga bisa sangat membantu. Untuk kebutuhan operasional klinik atau rumah sakit misalnya, banyak urusan dapat dilancarkan dengan kehadiran TI. Sayangnya, penerapan TI secara luas di Indonesia agak terkendala oleh minimnya SDM dan infrastruktur yang ada. Apotek  yang  memiliki dokter praktek inhouse, dengan sendirinya memiliki database dokter spesialis dan umum, serta database pasien. . Pada saat ini apotek dengan layanan kefarmasian dan dokter inhouse dengan praktek kedokterannya seolah berjalan sendiri-sendiri dan hanya bersinggungan pada saat terjadi transaksi resep oleh pasien. Hal ini menyebabkan beberapa kasus dokter keluar dan membuka apotek sendiri hingga apotek yang selalu menerima akibatnya, istilah etimologinya: habis manis sepah dibuang, disamping makin mahalnya biaya kesehatan yang harus ditanggung masyarakat. Guna mengantisipasi kejadian seperti dicontohkan di atas dan mencapai hasil yang lebih optimal dalam hal management store di apotek, maka diperlukan sinergi yang kuat antara apotek dan jaringan praktek dokter

Manajemen Klinik adalah sistem manajemen di tingkat mikro pelayanan, yang merupakan bagian terkecil dari Sistem Kesehatan Masyarakat, yaitu: 1) Klinik, Merupakan unit pelayanan kesehatan. Di masa depan, bentuk klinik semacam ini tidaklah cukup, baik secara intern untuk mengembangkan diri maupun dalam bersinergi dengan apotek lain, 2. Jaringan Klinik, Adalah sebuah Sistem Manajemen Klinik yang mengoptimalkan semua dokter praktek spesialis dan siapapun. Lebih lanjut, Jaringan klinik adalah layanan pemeliharaan kesehatan paripurna yang diperoleh pasien/peserta setelah melakukan kontribusi prabayar. Tujuan utama pembentukan jaringan ini adalah: a. mempermudah pasien/peserta untuk berobat ke dokter  di apotek   sesuai penyakitnya; b. dokter-dokter  yang berpraktek di  apotek  terhubung dalam sebuah sistem informasi; c. setiap dokter spesialis memiliki jaminan adanya jumlah pasien sebagai peserta. Pertama-tama perlu didefinisikan maksud kepesertaan dalam jaringan ini. Kepesertaan di sini adalah: 1. dapat bersifat perseorangan, yakni masyarakat umum yang mendaftarkan diri sebagai member;2. dapat berupa kelompok, yakni karyawan dari suatu perusahaan/instansi

Untuk menjamin terciptanya jaringan klinik yang terintegrasi dan dapat berjalan dangan lancar, diperlukan elemen-elemen yang saling bersinergi satu sama lain. Elemen tersebut adalah:
1. Divisi IT sebagai pembangun dan penyedia sistem informasi yang mencakup: a. Kartu kepesertaan (member card) dan medical report; b. Sistem pelayanan dan controlling;c. Quality Insurance;d. Sistem informasi yang terintegrasi dengan apotek;e. Sistem manajemen keuangan & pembayaran.
2. Konsolidasi yang kuat dari sektor Apotek dan TD, yang akan merupakan cara efektif untuk memperkenalkan PRODUK SUBSTITUSI di Apotek, dan jika digabungkan dengan insentif dana dari sistem ini akan mengakibatkan pengaruh besar terhadap PRODUCT SELECTION dan PRICING

Untuk menginisiasi jaringan klinik yang akan dibentuk, diperlukan suatu sistem informasi yang memuat dan mampu memanage database yang ada dan digunakan oleh klinik tersebut secara terpadu dan up-to-date. Kunci sukses implementasi sistem informasi klinik diantaranya adalah memahami kebutuhan staf klinik dan mengerti strategi pengembangan sehingga mampu menjembatani adopsi dan pemanfaatan suatu teknologi baru (Hobbs, 2000). Penerapan komputerisasi klinik mungkin mudah bagi dokter yang berusia lebih muda. Tetapi bagaimana dengan para dokter senior yang telah terbiasa dan nyaman dengan sistem berbasis kertas. Hal ini tentu memerlukan perhatian tersendiri.

10 hal penting yang harus diperhatikan adalah :

1. Kecepatan adalah segalanya. Tidak peduli indahnya desain, fitur, saran, atau sistem peringatan (alerts) yang ada dalam suatu sistem, yang lebih penting adalah kecepatan (waktu respon). Dengan alasan inilah, tak heran jika masih banyak sistem yang dikembangkan dengan DOS (berbasis teks).
2. Para dokter (lebih sering) mengabaikan sistem peringatan. Padahal sistem peringatan dapat mengurangi medical error, tetapi karena kebutuhan akan kecepatan akses lebih diutamakan, maka sistem peringatan dalam sistem informasi (misalnya peringatan akan adanya interaksi obat) cenderung diabaikan oleh dokter. Padahal sistem peringatan ini masih digunakan oleh kalangan farmasi.
3. Memberikan informasi saat dibutuhkan. Dengan didukung sistem peringatan, informasi benar-benar disampaikan sesuai kebutuhan pengguna berupa pengingat singkat (reminder) tapi tetap menyertakan tautan (link) untuk informasi yang lebih lengkap.
4. Sesuai dengan alur kerja pengguna. Para pengembang sebaiknya menyadari, kadang komputerisasi juga memperlambat proses. Jadi, sesuaikan dengan proses dan alur kerja yang ada. Sistem berbasis web Cedars-Sinai menampilkan data pasien terbaru dengan tautan ke laporan konsultasi, hasil radiologi, dan analisis gas rutin. Informasi dapat dioptimalisasi untuk menghemat waktu akses.
5. Respek terhadap otonomi dokter. Di tengah kesibukannya sehari-hari, para dokter dihadapkan pada suatu sistem informasi klinik yang baru, dan kadang bertentangan dengan otonomi praktiknya. Hal ini sering terjadi pada para dokter senior yang berusia lanjut. Otonomi ini berhubungan dengan adanya sistem peringatan komputer jika terjadi interaksi obat. Hal ini juga dianggap menghambat proses dan membuang waktu. Peresepan manual berbasis kertas dianggap lebih baik. Tetapi semuanya harus dilakukan demi kebaikan pasien dan dokter.
6. Pengawasan implementasi secara nyata dan respon dilakukan dengan segera. Tantangan terberat adalah manajemen perubahan pada manusianya. Implementasi sistem informasi klinik yang baru membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Biaya implementasi/pelatihan kadang lebih mahal dari harga perangkat keras dan lunak itu sendiri. Implementasi sebaiknya dituntaskan pada suatu unit, sambil mencari masukan untuk membentuk sistem baru menjadi lebih baik.
7. Hati-hati dengan konsekuensi yang tidak diharapkan. Prosedural dedikasi yang ditanamkan pada suatu sistem kadang terlalu detil sehingga dapat melelahkan (terutama) para perawat. Konsekuensi ini baiknya disesuaikan dengan prosedur manual yang ada dan dibicarakan dengan tim dokter.
8. Waspada akan kekurangan proses jangka panjang yang belum teratasi. Tidak semuanya dapat tergantikan oleh sistem. Saat proses registrasi memerlukan waktu tertentu sementara pasien harus segera diambil tindakan (masalah proses), dokter akan memesan perlengkapan medikasi dengan menggunakan nama sementara, tentu saja dengan tulisan tangan. Proses ini tidak tergantikan oleh komputer.
9. Jangan mengacaukan magic nursing glue. Sebelum terkomputerisasi, para perawat sering membantu tugas dokter dengan melengkapi status pasien yang belum lengkap, sehingga memudahkan pasien untuk pindah tahap perawatan selanjutnya. Dengan komputerisasi, proses ini menjadi terlalu detil dan spesifik. Sistem informasi klinik dapat mengganggu peran perawat.
10. Kecepatan adalah segalanya. Kembali, kecepatan adalah segalanya bagi pengguna klinik di tengah kesibukan masing-masing

Lepas dari segala kendala dan konsekuensi yang akan ditimbulkan, sistem manajemen klinik dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara umum: 1. Masyarakat terpenuhi kebutuhan kesehatannya dengan biaya ringan; 2.. Perusahaan memiliki karyawan yang terjamin kesehatannya dengan biaya efisien; 3. Dokter spesialis dan apotek dapat mengembangkan mutu dan memperoleh jasa lebih besar dengan makin terpeliharanya kesehatan konsumen; 4. Pemerintah memperoleh masyarakat sehat dengan biaya dari masyarakat sendiri hingga dapat memberi subsidi lebih untuk masyarakat miskin.

V. Memilih SIM

Memilih Sebuah Sistem Informasi Manajemen (SIM) untuk diterapkan pada unit pelayanan farmasi atau apotek ibarat kita memilih atau mencari sebuah pasangan hidup. Hal ini dikarenakan SIM yang kita pilih dan kita pakai akan menjadi sahabat dan pembantu kita dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan sistem informasi. Banyak vendor (jasa pihak ketiga) yang sudah menawarkan berbagai model SIM ada yang sederhana sampai yang komplit sekali, bahkan karena komplitnya ada menu-menu yang kadang tidak dibutuhkan oleh pihak pengguna, kemudian dari yang harga murah sampai dengan yang harganya ratusan juta. Sehingga mungkin kita sebagai konsumen (pengguna) akan kebingungan, mana yang baik dan cocok buat tempat kita bekerja. Memang semuanya tergantung kemampuan kita terutama yang berhubungan dengan anggaran. Kalau bisa SIM yang kita pakai adalah yang murah dan sesuai dengan kebutuhan kita dalam mengelola sebuah sistem informasi.

Untuk itu kami mencoba menyusun fitur atau menu-menu yang wajib ada pada sebuah SIM, yang bisa digunakan sebagai referensi bagi apotek yang akan membeli dan menggunakan SIM. Menu-menu yang akan kami tulis di sini diambil dari beberapa sumber. Selengkapnya menu-menu tersebut adalah sebagai berikut :

1.      Menu Pendaftaran Pasien, yang terdiri dari : Informasi produk dan layanan, Manajemen Pendaftaran Pasien

  1. Pelayanan Rekam Medis, yang terdiri dari : Data base pasien, Pencatatan dan Info Register Penomoran, Info Sensus harian, Info Register, Pengolahan Statistik, Laporan Kinerja, Pengkodean, Master ICD-10.

3.      Menu Billing system, yang terdiri dari : Info Tagihan, Transaksi Pembayaran, Laporan Kas Harian Kasir,  Info Insentif Petugas

  1. Menu Pelayanan Farmasi, yang terdiri dari : transaki obat resep, transaksi obat karyawan, inventori, resep yang keluar per item obat, manajemen obat kedaluwarsa, pemesanan obat, pengaturan stok, distribusi obat, laporan penerimaan dan pengeluaran obat.
  2. Menu Pemeliharaan dan manajemen aset, yang meliputi : Info daftar aset, Pencatatan perhitungan penyusutan aset, Info pemeliharaan aset.
  3. Menu Logistik (obat/alkes/umum), yang meliputi : Info persediaan dan permintaan tiap pelayanan/unit, Info jumlah permintaan per item / per unit, Info harga pokok / harga jual, Inventaris barang (alkes/non medis), Pencatatan penerimaan dan penghapusan, Info penerimaan dan penghapusan, Info distribusi per ruang/unit, Pencatatan permintaan barang, Pencetakan tanda permintaan/penerimaan.
  4. Menu Sistem Keuangan, yang meliputi : Penyusunan anggaran, Laporan realisasi anggaran, Info Hutang – Piutang, Info cashflow.
  5. Menu Kepegawaian, yang meliputi : Data pegawai, Absensi, Laporan kepegawaian, Info kinerja pegawai.
  6. Menu Administrator & User Manager, yang meliputi : Info aplikasi, Manajemen user dan scurity.
  7. Menu Informasi online, yang meliputi : Info pelayanan, info dokter jaga, info konsultasi.

Menu-menu di atas dapat disesuaikan dengan pelayanan  yang ada.

Pelayanan Farmasi merupakan salah satu pelayanan utama yang menunjang kegiatan pelayanan di lingkungan rumah sakit dalam menjalankan fungsinya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Divisi Farmasi bertanggung jawab terhadap pengelolaan barang farmasi berupa obat yang digunakan oleh semua unit di lingkungan rumah sakit baik untuk pelayanan rawat jalan termasuk rawat darurat dan bedah sentral, pelayanan rawat inap termasuk rawat intensif maupun penggunaan obat yang digunakan di lingkungan penunjang medis seperti laboratorium. Pada masa yang akan datang beberapa konsep baru telah disepakati untuk digunakan di lingkungan divisi Farmasi. Hal pertama yang diperkenalkan dan akan dilaksanakan adalah order manajemen yaitu pemanfaatan pelayanan permintaan dan penyampaian hasil pemberian obat dengan memanfaatkan fasilitas komputer secara online. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan oleh semua unit pengguna. Status atau proses permintaan layanan termasuk hasil pemberian obat dapat dipantau / dilihat langsung melalui fasilitas komputer.

Di dalam pengembangan perangkat lunak, suatu framework digambarkan sebagai suatu struktur pendukung dimana perancangan perangkat lunak yang lain dapat terorganisir dan dikembangkan. Suatu framework dapat meliputi program pendukung, kumpulan kode-kode program (libraries), suatu bahasa scripting, atau perangkat lunak lain untuk membantu mengembangkan dan menggabungkan komponen-komponen yang berbeda menjadi satu dari suatu perancangan perangkat lunak. Prado adalah sebuah framework pemrograman berbasis komponen dan event-driven untuk pengembangan aplikasi web pada PHP 5. PRADO merupakan singkatan dari PHP Rapid Application Development Object-oriented. Framework ini dibuat oleh Qiang Xue dan telah menjadi pemenang dalam Zend PHP 5 Coding Contest. Konsep Prado yang component-based dan event-driven memberikan banyak keuntungan bagi programmer web. Berikut keuntungan dengan menggunakan Prado:

a. Reusability, komponen-komponen dalam Prado dapat digunakan ulang.

b. Ease of use, komponen-komponen dalam Prado sangat mudah digunakan. Komponen juga dapat dibuat sendiri dengan menurunkan class yang sudah ada sesuai dengan kebutuhan.

c. Robustness, Prado membebaskan pengembang program (developer) dari kejenuhan dalam menulis kode-kode. Semua kode ditulis dalam format objek, method, dan properti. Tidak seperti pemrograman PHP yang biasa digunakan.

d. Performance, Prado menggunakan teknik cache untuk menjamin performance aplikasi. Dengan adanya cache ini, ia tidak perlu mem-parser ulang kode XML yang dibuat.

e. Team Integration, Prado memisahkan business logic dan presentation logic. Yang dimaksudkan adalah pembuatan layout tampilan (template) dengan kode program (class). Pembuatan keduanya dilakukan pada file yang terpisah. Dengan demikian, aplikasi berbasis Prado dapat dilakukan dalam sebuah tim dengan personal yang berbeda. Untuk melakukan koneksi ke database, Prado memanfaatkan database abstract layer, ADOdb. ADOdb adalah class yang ditulis menggunakan bahasa PHP yang berfungsi sebagai data tier, dan akan membantu mengatasi perbedaan antara penggunaan database. Cukup dengan menuliskan sebuah kode, maka koneksi dapat dilakukan ke berbagai macam database seperti MySQL, SQLLite, SQL Server, Oracle, DB2, Interbase, PostgreSQL, dan sebagainya.

VIII. Kesimpulan

Dari hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa aplikasi SIM Subsistem Farmasi ini harus disesuaikan  dengan fungsi-fungsi dan kebutuhan yang dimiliki oleh manajemen obat pada umumnya

DAFTAR PUSTAKA

Handoyo Eko, dkk, 2007,Aplikasi Sistem Informasi Rumah Sakit berbasis WEB pada Sub-sistem farmasi menggunakan framework Prado, eko@elektro.ft.undip.ac.id

Jati, sp., 2009, Evaluasi Manajemen Obat, http://www.scribd.com/doc/13981595/Evaluasi-Manajemen-Obat-Di-Rumah-Sakit, 8 Februari 2010

Rusmedi, 2008, Peran Sistem Informasi Manajemen Obat dalam Sistem Informasi kesehatan, pelatihan Pengelolaan Obat tahun 2008 se kabupaten Barito Selatan.

Sudjianto, T., 2009, Pengelolaan Obathttp://sites.google.com/site/hisfarma/home/,  8 Februari 2010

PROFIL KOMPETENSI FARMASI

Peran profesional yang mencakup laporan kompetensi, unit, dan elemen yang menggambarkan pengetahuan profesional, atribut, dan diharapkan kinerja farmasi diperluas dan diatur peran profesional. Framing kompetensi ini : profil keselamatan pasien, penyediaan perawatan yang optimal, undang-undang, profesional dan kolaboratif hubungan, berpikir kritis, pengambilan keputusan dan keterampilan pemecahan masalah, dan professional penilaian. Profil ini menggambarkan pengetahuan khusus, keterampilan, kemampuan, dan sikap yang diperlukan untuk performa yang kompeten dan mencerminkan peran farmasi dalam situasi yang beragam dan Pengaturan praktik farmasi.
1.  Kompetensi Pernyataan: Sebuah komponen pekerjaan besar yang membutuhkan aplikasi dan integrasi pengetahuan yang relevan, keterampilan, kemampuan, sikap, dan / atau penilaian.
2.  Kompetensi Unit: Sebuah segmen utama dari suatu kompetensi secara keseluruhan yang menggambarkan kunci kegiatan yang diperlukan untuk melaksanakan kompetensi itu.
3.  Elemen Kompetensi: Sebuah sub-bagian dari unit kompetensi yang menggambarkan atau memerinci indikator kinerja kunci aktivitas yang diharapkan.

Etika, Hukum dan Tanggung Jawab Profesional

Apoteker praktek dalam persyaratan hukum, menunjukkan integritas profesional dan bertindak untuk menegakkan standar profesional praktek dan kode etik.

Elemen Kompetensi: persyaratan Terapkan hukum dan etika, Menegakkan dan bertindak atas prinsip etika yang akuntabilitas utama seorang apoteker adalah pasien, Menunjukkan integritas pribadi dan professional, Menunjukkan pemahaman tentang sistem perawatan kesehatan dan peran apoteker dan profesional kesehatan lain di dalamnya, Menunjukkan pemahaman tentang pentingnya dan proses pengembangan profesional yang berkelanjutan.

Unusuall Learning Profession

Dimensi baru pekerjaan kefarmasian sekarang antara lain : Asuhan Kefarmasian (Pharmaceutical Care), Farmasi Berdasarkan Bukti, Kebutuhan Menemui Pasien, Kepedulian Pada Pasien Kronis, Pengobatan Sendiri, Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan, Farmasi Klinis,  Kewaspadaan Farmasi.

Farmasi ditinjau dari objek materinya, memiliki kerangka dasar dari ilmu-ilmu alam; Kimia, Biologi, Fisika dan Matematika. Sedangkan ilmu farmasi ditinjau dari objek formalnya merupakan ruang lingkup dari ilmu-ilmu kesehatan. Secara historis ilmu farmasi dikembangkan dari medical sciences, yang berdasarkan kebutuhan yang mendesak perlunya pemisahan ilmu farmasi sebagai ilmu pengobatan dari ilmu kedokteran sebagai ilmu tentang diagnosis.

Secara umum farmasi terdiri dari farmasi teoritis dan farmasi praktis. Farmasi secara teoritis dibangun oleh beberapa cabang ilmu pengetahuan, yang secara garis besarnya terdiri dari farmasi fisika, kimia farmasi, farmasetika, dan farmasi sosial. Selanjutnya farmasi praktis terdiri dari dua bagian besar yakni farmasi industri, dan farmasi pelayanan.

Pertama, Farmasi Industri adalah ruang lingkup penerapan ilmu-ilmu farmasi teoritis, dan tempat pengabdian bagi ahli-ahli farmasi (farmasis) yang berorientasi pada produksi bahan baku obat, dan obat jadi, dan perkembangan selanjutnya juga meliputi kosmetika dan makanan-minuman.

Kedua, Farmasi Pelayanan yakni pengabdian disiplin ilmu farmasi (farmasis/apoteker) pada unit-unit pelayanan kesehatan (apotek, rumah sakit, badan pengawasan, dan unit-unit kesehatan lainnya). Peranan farmasis/apoteker di unit-unit pelayanan kesehatan menjadi sangat penting, dan berorientasi pada pemberian obat rasional empirik, yakni pemberian obat yang tepat dosis, tepat pasien, tepat indikasi, dan harga terjangkau

Untuk hal tersebut di atas, sangat dibutuhkan kerjasama antara farmasis/apoteker dengan pihak-pihak terkait (interdisipliner), dan didukung oleh wawasan luas yang berorientasi pada kesehatan yang paripurna dan hedonistik, produktif manusiawi, serta berwawasan lingkungan yang ekologis, bernuansa pada kesejakteraan yang universal.

Farmasis/apoteker yang berdaya intelektual dan berdaya moral haruslah menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan nilai kejujuran dalam menjalankan profesinya. Setiap keputusan yang diambil, pilihan yang ditentukan, penilaian yang dibuat hendaknya selalu mengandung dimensi etika.