INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT

Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah suatu bagian / unit / divisi atau fasilitas di rumah sakit, tempat penyelenggaraan semua kegiatan pekerjaan kefarmasian yang ditujukan untuk keperluan rumah sakit itu sendiri (Siregar dan Amalia, 2004)

Berdasarkan definisi tersebut maka Instalasi Farmasi Rumah Sakit secara umum dapat diartikan sebagai suatu departemen atau unit atau bagian di suatu rumah sakit di bawah pimpinan seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi persyaratan perundang-undangan yang berlaku dan bertanggungjawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian, yang terdiri pelayanan paripurna yang mencakup perencanaan, pengadaan, produksi, penyimpanan perbekalan kesehatan/ sediaan farmasi ; dispensing obat berdasarkan resep bagi penderita saat tinggal dan rawat jalan; pengendalian mutu dan pengendalian mutu dan pengendalian distribusi dan penggunaan seluruh perbekalan kesehatan di rumah sakit. Pelayanan farmasi klinik umum dan spesialis mencakup pelayanan langsung pada penderita dan pelayanan klinik yang merupakan program rumah sakit secara keseluruhan (Siregar dan AMalia, 2004)

Didalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang standar pelayanan rumah sakit, yang menyebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari system pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien (patient oriented). Hal tersebut juga terdapat dalam keputusan Menteri Kesehatan No. 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, disebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu (Anonim, 2006)

Tugas utama Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah pengelolaan mulai dari perencanaan, pengadaan, penyimpanan, penyiapan, peracikan, pelayanan langsung kepada penderita sampai dengan pengendalian semua perbekalan kesehatan yang beredar dan digunakan dalam rumah sakit, baik untuk penderita rawat tinggal, rawat jalan mau pun untuk semua unit termasuk poliklinik rumah sakit (Siregar dan Amalia, 2004)

Berkaitan dengan pengelolaan tersebut, Instalasi Farmasi Rumah Sakit harus menyediakan obat untuk terapi yang optimal bagi semua penderita dan menjamin pelayanan bermutu tinggi dan yang paling bermanfaat dengan biaya minimal. Jadi Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah satu-satunya unit di rumah sakit yang bertugas dan bertanggungjawab sepenuhnya pada pengelolaan semua aspek yang berkaitan dengan obat/perbekalan kesehatan yang beredar dan digunakan di rumah sakit tersebut. Instalasi Farmasi Rumah Sakit bertanggungjawab mengembangkan suatu pelayanan farmasi yang luas dan terkoordinasi dengan baik dan tepat untuk memenuhi kebutuhan berbagai bagian atau unit diagnosis dan terapi, unit pelayanan keperawatan, staf medic, dan rumah sakit keseluruhan untuk kepentingan pelayanan penderita yang lebih baik (Siregar dan AMalia, 2004)

Daftar Pustaka:

Anonim, 2006, Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, 1, 5, 14-17, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Siregar, Ch. J.P., dan Amalia, L., 2004, Farmasi Rumah Sakit, Teori dan Penerapan, 25 – 49, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

FORMULARIUM RUMAH SAKIT

Formularium rumah sakit merupakan penerapan konsep obat esensial di rumah sakit yang berisi daftar obat dan informasi penggunaannya. Obat yang termasuk dalam daftar formularium merupakan obat pilihan utama (drug of choice) dan obat-obat alternatifnya. Dasar-dasar pemilihan obat-obat alternative tetap harus mengindahkan prinsip manajemen dan criteria mayor yaitu berdasarkan pada : pola penyakit yang berkembang didaerah tersebut, efficacy, efektivitas, keamanan, kualitas, biaya, dan dapat dikelola oleh sumber daya dan keuangan rumah sakit (Anonim 2002a)

Seleksi obat yang tepat melalui system formularium rumah sakit, banyak keuntungan yang didapat antara lain meningkatkan mutu terapi obat, dan menurunkan kejadian efek samping obat. Formularium juga meningkatkan efisiensi pengadaan, pengelolaan obat serta meningkatkan efisiensi pengadaan, pengelolaan obat serta meningkatkan efisiensi dalam manajemen persediaan, sehingga pada akhirnya akan menurunkan biaya pelayanan kesehatan secara keseluruhan (Anonim, 2002a)

Formularium harus direvisi secara periodic sehingga dapat merefleksikan penilaian terkini para staf medic. Penerapan formularim harus mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut (Anonim, 2002a):

1.      Obat harus diseleksi atas dasar kebutuhan komunitas dan obat-obatan tersebut harus dapat mengatasi pola penyakit dan kondisi daerah tersebut.

2.      Obat yang dipilih adalah drug of choice

3.      Daftar formularium harus memiliki jumlah oabat yang terbatas. Hanya obat-obatan yang diperlukan yang dapat disediakan di rumah sakit. Duplikasi obat dengan khasiat terapetik sama tidak boleh terjadi.

4.      Penggunaan produk obat kombinasi hanya untuk kasus tertentu, misalnya TB.

5.      Obat-obat yang tidak cukup bukti tentang khasiat, keamanan dan kualitas, serta tidak cost effective perlu dievaluasi dan dihapus bila telah ada alternative obat yang lebih dapat diterima.

Formularium merupakan sarana yang digunakan oleh dokter dalam pola pengobatan, oleh karena itu formularium harus lengkap, ringkas dan mudah digunakan. Formularium sangat diperlukan di rumah sakit karena dapat digunakan sebagai dasar pedoman perencanaan obat bagi manajemen dan sebagai sebagai pedoman perencanaan obat bagi dokter dalam melakukan peresepan di rumah sakit (Anonim, 2002b)

Anonim, 2002a, Drug and Therapeutics Committee Training Course, 60-69, Management Sciences for Health, Arlington.

Anonim, 2002b, Principles of a Sound Drug Formulary System, http//www.ASHP.com, 29 Agustus 2008)

PENCARIAN KEBUTUHAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN YANG KOMPREHENSIF UNTUK MENCAPAI PENGELOLAAN OBAT YANG EFEKTIF DAN EFISIEN

I. PENDAHULUAN

Kita semua menyadari bahwa teknologi informasi dan komunikasi saat ini sudah menjadi bagian yang tidak terelakkan dalam organisasi kesehatan. Mulai dari rumah sakit, puskesmas, dinas kesehatan, organisasi pendidikan pelatihan kesehatan, badan asuransi serta berbagai organisasi kesehatan lainnya pasti memiliki teknologi informasi dan komunikasi dengan jenis dan kapasitas yang bervariasi. Yang juga bervariasi adalah kemampuan pengguna dan organisasi itu sendiri dalam memanfaatkannya. Di sisi yang lain, pengalaman menunjukkan penerapan sistem informasi berbasis komputer banyak berakhir dengan kegagalan. Dowling(1980) mengestimasi bahwa 45% dari pengembangan sistem informasi berbasis komputer gagal karena resistensi pengguna, meskipun secara teknologi cukup meyakinkan.

Sistem informasi berbasis komputer dapat dikaji berdasarkan criteria biaya/manfaat (cost benefit), ketepatan waktu, kelengkapan, tingkat kesalahan, tingkat penggunaan sampai dengan kepuasan pengguna. Dalam sistem manajemen tedapat subsistem dimana semuanya membuat suatu kesatuan sistem yang disebut Sistem Informasi berupa sub sistem Pengumpulan, Pengolahan, Analisis, Penyajian, Informasi membentuk sistem Informasi, suatu aktifitas yang menjamin bahwa sistem manajemen memiliki informasi yang relevan bagi pengambilan keputusan.

Di dalam suatu sistem terdapat elemen-elemen atau bagian-bagian dimana di dalamnya juga membentuk suatu proses dalam suatu kesatuanyang disebut sebagai sub sistem (bagian dari sistem). Sistem terbentuk dari elemen atau bagian yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Apabila salah satu bagian atau sub sistem tidak berjalan dengan baik maka akan mempengaruhi bagian yang lain. Secara garis besar, elemen-elemen dalam sistem itu adalah sebagai berikut:

1.      Masukan (Input) adalah sub-sub elemen yang diperlukan sebagai masukan untuk berfungsinya sistem.

2.       Proses adalah suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah masukan sehingga menghasilkan sesuatu (keluaran) yang direncanakan.

3.      Keluaran (output) ialah hal yang dihasilkan oleh proses.

4.      Dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran setelah beberapa waktu lamanya.

5.      Umpan balik (feedback) ialah juga merupakan hasil dari proses yang sekaligus sebagai masukan untuk sistem tersebut.

6.      Lingkungan (environment) ialah dunia di luar sistem yang mempengaruhi sistem tersebut.

Sistem pelayanan kesehatan mencakup pelayanan kedokteran (medical services) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public health services). Secara umum pelayanan kesehatan masyarakat adalah merupakan sub sistem pelayanan kesehatanyang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran masyarakat. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa pelayanan kesehatan masyarakat tidak melakukan pelayanan kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan)

II. SIK (SISTEM INFORMASI KESEHATAN )

Pengertian : Suatu kombinasi elemen-elemen yang bertujuan menghasilkan data dan penyebaran informasi untuk digunakan oleh pelayanan kesehatan di semua tingkat pelaksanaan dan di sektor-sektor pengembang yang lain. Tujuan : melayani manajemen dengan cara meminimalkan ketidakpastian untuk pengambilan keputusan dengan harapan untuk mencapai tujuan organisasi.

Perangkat SIK : Secara umum masyarakat mengenal produk teknologi informasi dalam bentuk perangkat keras, perangkat lunak dan infrastruktur/jaringan.

1.      Perangkat keras (Hardware): Perangkat Input (keyboard, monitor, touch screen, scanner, mike, camera digital, perekam video, barcode reader, maupun alat digitasi lain dari bentuk analog ke digital). Perangkat Keras Pemroses lebih dikenal sebagai CPU (central procesing unit) dan memori komputer. Perangkat Keras Penyimpan Data baik yang bersifat tetap (hard disk) maupun portabel (removable disk).  Perangkat Output yang menampilkan hasil olahan komputer kepada pengguna melalui monitor, printer, speaker, LCD maupun bentuk respon lainnya.

2.      Perangkat Lunak (Software) : Sistem Operasi (misalnya Windows, Linux atau Mac) yang bertugas untuk mengelola hidup matinya komputer, menhubungkan media input dan output serta mengendalikan berbagai perangkat lunak aplikasi maupun utiliti di komputer. Perangkat Aplikasi adalah program praktis yang digunakan untuk membantu pelaksanaan tugas yang spesifik seperti menulis, membuat lembar kerja, membuat presentasi, mengelola database dan lain sebagainya. Program Utility yang membantu sistem operasi dalam pengelolaan fungsi tertentu seperti manajemen memori, keamanan komputer dan lain-lain.

3.      Infrastruktur dan jaringan: Terbatas, dalam kawasan tertentu (misalnya satu gedung) yang dikenal dengan nama Local Area Network (LAN). Luas, meliputi satu kabupaten atau negara atau yang dikenal sebagai Wide Area Network (WAN).

4.      SDM/ Manusia (brainware): Merupakan faktor utama yang tidak boleh diabaikan. Terdiri dari perencana, manager, pemogram, operator dan pemakai.

Informasi dalam SIK : Informasi manajemen kesehatan, Informasi upaya teknis kesehatan, Informasi kesehatan untuk masyarakat, Informasi iptek kesehatan. Masalah SIK di Indonesia :Kelemahan aspek organisasi & tata kerja, kelemahan pengelolaan data dan informasi, sikap terhadap data/ info (mis : cuek, tidak mengerti arti pentingnya data), kelemahan sumber daya (mis: tidak bisa mengoperasikan komputer, malas belajar, dianggap merepotkan, masih dipengaruhi tata cara manual), ketersinambungan program , dukungan pengambil keputusan (perlu adanya SIKDA (Sistem Informasi Kesehatan Daerah) untuk memayungi SIK)

Elemen dalam SIK (aplikasi) : antara lain (contoh) : SIMPUS (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas) untuk mendukung manajemen klien, (Kegiatan dalam gedung),  SPTP (Sistem Pelaporan Terpadu Puskesmas)  untuk mendukung manajemen unit kesehatan, Kegiatan luar gedung), SIMKA (Sistem Informasi manajemen Kepegawaian), GIS (Geografis Information sistem), SIMO (Sistem Informasi Manajemen Obat), PIN (Pekan Imunisasi Nasional), SIM-KLB (Sistem Informasi Manajemen Kejadian Luar Biasa berbasis SMS).

III. SIMO (Sistem Informasi Manajemen Obat)

SIMO adalah suatu tatanan manusia/peralatan yang menyediakan informasi yang membantu proses manajemen pengelolaan obat. Pengelolaan perbekalan kefarmasian ini biasanya terintegrasi dalam system jaringan teknologi informasi yang didukung oleh piranti lunak atau pemprograman khusus ( soffware ). SIMO dilatarbelakangi oleh perubahan sistem pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan ke arah keterpaduan yang berlandaskan prinsip supply chain management maka diperlukan sistem benchmarking yang berguna dalam menganalisis kinerja berdasarkan indikator – indikator yang ada dan melakukan perbandingan. Benchmarking adalah pola pengukuran dan penilaian kinerja berdasarkan indikator, standar dan perbandingan hasil. Menjamin tersedianya obat yang bermutu dengan jenis dan jumlah yang tepat, tersebar secara merata dan teratur, sehingga akan mempercepat pelayanan kesehatan yang tepat waktu serta memudahkan masyarakat yang membutuhkan.

Informasi yang optimal yang diharapkan dari SIMO terdiri dari informasi dasar berbasis masyarakat (community based information)dan informasi dasar berbasis fasilitas pelayanan (facility based information). Pengembangan penggunaan Sistem Informasi dan Manajemen Obat ( SIMO ) sangat dipengaruhi oleh prioritas program dan kegiatan, administrasi yang valid dan akurat, kemampuan sumber daya manusia ( SDM ) yang ada, ketersediaan alokasi dana yang berkesinambungan, dan perangkat teknologi dan sistem jaringan yang memadai.

Manfaat SIMO adalah cepatnya pelayanan, akuratnya tindakan yang diterima, mudahnya mendapatkan informasi, kemudahan dan kesederhanaan proses-proses administrasi, perencanaan menjadi terorganisir rapi, memudahkan proses monitoring dan evaluasi, mempermudah dalam proses pengambilan keputusan/kebijakan.

IV. sim pada klinik

Berbicara mengenai efisiensi biaya pengobatan rasanya akan turut pula membicarakan tentang obat karena obat merupakan komponen penting dalam upaya pelayanan kesehatan bahkan penggunaan obat dapat mencapai 40 % dari seluruh komponen biaya pelayanan kesehatan. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi harga obat sehingga sering kali pasien kesulitan untuk melakukan efisiensi dalam investasi kesehatannya. Pasien sulit memprediksi biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan pengobatan yang pada akhirnya dapat membuat pasien enggan untuk mengakses layanan kesehatan karena kekhawatiran harus menanggung biaya yang besar. Dalam hal pemilihan jenis obat, penggunaan obat generik memang bisa membantu efisiensi biaya kesehatan, namun sayangnya terkadang tidak semua obat generik tersedia di pasaran karena faktor rendahnya permintaan dari dokter yang meresepkan.

Di bidang kesehatan, Teknologi Informasi( TI) juga bisa sangat membantu. Untuk kebutuhan operasional klinik atau rumah sakit misalnya, banyak urusan dapat dilancarkan dengan kehadiran TI. Sayangnya, penerapan TI secara luas di Indonesia agak terkendala oleh minimnya SDM dan infrastruktur yang ada. Apotek  yang  memiliki dokter praktek inhouse, dengan sendirinya memiliki database dokter spesialis dan umum, serta database pasien. . Pada saat ini apotek dengan layanan kefarmasian dan dokter inhouse dengan praktek kedokterannya seolah berjalan sendiri-sendiri dan hanya bersinggungan pada saat terjadi transaksi resep oleh pasien. Hal ini menyebabkan beberapa kasus dokter keluar dan membuka apotek sendiri hingga apotek yang selalu menerima akibatnya, istilah etimologinya: habis manis sepah dibuang, disamping makin mahalnya biaya kesehatan yang harus ditanggung masyarakat. Guna mengantisipasi kejadian seperti dicontohkan di atas dan mencapai hasil yang lebih optimal dalam hal management store di apotek, maka diperlukan sinergi yang kuat antara apotek dan jaringan praktek dokter

Manajemen Klinik adalah sistem manajemen di tingkat mikro pelayanan, yang merupakan bagian terkecil dari Sistem Kesehatan Masyarakat, yaitu: 1) Klinik, Merupakan unit pelayanan kesehatan. Di masa depan, bentuk klinik semacam ini tidaklah cukup, baik secara intern untuk mengembangkan diri maupun dalam bersinergi dengan apotek lain, 2. Jaringan Klinik, Adalah sebuah Sistem Manajemen Klinik yang mengoptimalkan semua dokter praktek spesialis dan siapapun. Lebih lanjut, Jaringan klinik adalah layanan pemeliharaan kesehatan paripurna yang diperoleh pasien/peserta setelah melakukan kontribusi prabayar. Tujuan utama pembentukan jaringan ini adalah: a. mempermudah pasien/peserta untuk berobat ke dokter  di apotek   sesuai penyakitnya; b. dokter-dokter  yang berpraktek di  apotek  terhubung dalam sebuah sistem informasi; c. setiap dokter spesialis memiliki jaminan adanya jumlah pasien sebagai peserta. Pertama-tama perlu didefinisikan maksud kepesertaan dalam jaringan ini. Kepesertaan di sini adalah: 1. dapat bersifat perseorangan, yakni masyarakat umum yang mendaftarkan diri sebagai member;2. dapat berupa kelompok, yakni karyawan dari suatu perusahaan/instansi

Untuk menjamin terciptanya jaringan klinik yang terintegrasi dan dapat berjalan dangan lancar, diperlukan elemen-elemen yang saling bersinergi satu sama lain. Elemen tersebut adalah:
1. Divisi IT sebagai pembangun dan penyedia sistem informasi yang mencakup: a. Kartu kepesertaan (member card) dan medical report; b. Sistem pelayanan dan controlling;c. Quality Insurance;d. Sistem informasi yang terintegrasi dengan apotek;e. Sistem manajemen keuangan & pembayaran.
2. Konsolidasi yang kuat dari sektor Apotek dan TD, yang akan merupakan cara efektif untuk memperkenalkan PRODUK SUBSTITUSI di Apotek, dan jika digabungkan dengan insentif dana dari sistem ini akan mengakibatkan pengaruh besar terhadap PRODUCT SELECTION dan PRICING

Untuk menginisiasi jaringan klinik yang akan dibentuk, diperlukan suatu sistem informasi yang memuat dan mampu memanage database yang ada dan digunakan oleh klinik tersebut secara terpadu dan up-to-date. Kunci sukses implementasi sistem informasi klinik diantaranya adalah memahami kebutuhan staf klinik dan mengerti strategi pengembangan sehingga mampu menjembatani adopsi dan pemanfaatan suatu teknologi baru (Hobbs, 2000). Penerapan komputerisasi klinik mungkin mudah bagi dokter yang berusia lebih muda. Tetapi bagaimana dengan para dokter senior yang telah terbiasa dan nyaman dengan sistem berbasis kertas. Hal ini tentu memerlukan perhatian tersendiri.

10 hal penting yang harus diperhatikan adalah :

1. Kecepatan adalah segalanya. Tidak peduli indahnya desain, fitur, saran, atau sistem peringatan (alerts) yang ada dalam suatu sistem, yang lebih penting adalah kecepatan (waktu respon). Dengan alasan inilah, tak heran jika masih banyak sistem yang dikembangkan dengan DOS (berbasis teks).
2. Para dokter (lebih sering) mengabaikan sistem peringatan. Padahal sistem peringatan dapat mengurangi medical error, tetapi karena kebutuhan akan kecepatan akses lebih diutamakan, maka sistem peringatan dalam sistem informasi (misalnya peringatan akan adanya interaksi obat) cenderung diabaikan oleh dokter. Padahal sistem peringatan ini masih digunakan oleh kalangan farmasi.
3. Memberikan informasi saat dibutuhkan. Dengan didukung sistem peringatan, informasi benar-benar disampaikan sesuai kebutuhan pengguna berupa pengingat singkat (reminder) tapi tetap menyertakan tautan (link) untuk informasi yang lebih lengkap.
4. Sesuai dengan alur kerja pengguna. Para pengembang sebaiknya menyadari, kadang komputerisasi juga memperlambat proses. Jadi, sesuaikan dengan proses dan alur kerja yang ada. Sistem berbasis web Cedars-Sinai menampilkan data pasien terbaru dengan tautan ke laporan konsultasi, hasil radiologi, dan analisis gas rutin. Informasi dapat dioptimalisasi untuk menghemat waktu akses.
5. Respek terhadap otonomi dokter. Di tengah kesibukannya sehari-hari, para dokter dihadapkan pada suatu sistem informasi klinik yang baru, dan kadang bertentangan dengan otonomi praktiknya. Hal ini sering terjadi pada para dokter senior yang berusia lanjut. Otonomi ini berhubungan dengan adanya sistem peringatan komputer jika terjadi interaksi obat. Hal ini juga dianggap menghambat proses dan membuang waktu. Peresepan manual berbasis kertas dianggap lebih baik. Tetapi semuanya harus dilakukan demi kebaikan pasien dan dokter.
6. Pengawasan implementasi secara nyata dan respon dilakukan dengan segera. Tantangan terberat adalah manajemen perubahan pada manusianya. Implementasi sistem informasi klinik yang baru membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Biaya implementasi/pelatihan kadang lebih mahal dari harga perangkat keras dan lunak itu sendiri. Implementasi sebaiknya dituntaskan pada suatu unit, sambil mencari masukan untuk membentuk sistem baru menjadi lebih baik.
7. Hati-hati dengan konsekuensi yang tidak diharapkan. Prosedural dedikasi yang ditanamkan pada suatu sistem kadang terlalu detil sehingga dapat melelahkan (terutama) para perawat. Konsekuensi ini baiknya disesuaikan dengan prosedur manual yang ada dan dibicarakan dengan tim dokter.
8. Waspada akan kekurangan proses jangka panjang yang belum teratasi. Tidak semuanya dapat tergantikan oleh sistem. Saat proses registrasi memerlukan waktu tertentu sementara pasien harus segera diambil tindakan (masalah proses), dokter akan memesan perlengkapan medikasi dengan menggunakan nama sementara, tentu saja dengan tulisan tangan. Proses ini tidak tergantikan oleh komputer.
9. Jangan mengacaukan magic nursing glue. Sebelum terkomputerisasi, para perawat sering membantu tugas dokter dengan melengkapi status pasien yang belum lengkap, sehingga memudahkan pasien untuk pindah tahap perawatan selanjutnya. Dengan komputerisasi, proses ini menjadi terlalu detil dan spesifik. Sistem informasi klinik dapat mengganggu peran perawat.
10. Kecepatan adalah segalanya. Kembali, kecepatan adalah segalanya bagi pengguna klinik di tengah kesibukan masing-masing

Lepas dari segala kendala dan konsekuensi yang akan ditimbulkan, sistem manajemen klinik dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara umum: 1. Masyarakat terpenuhi kebutuhan kesehatannya dengan biaya ringan; 2.. Perusahaan memiliki karyawan yang terjamin kesehatannya dengan biaya efisien; 3. Dokter spesialis dan apotek dapat mengembangkan mutu dan memperoleh jasa lebih besar dengan makin terpeliharanya kesehatan konsumen; 4. Pemerintah memperoleh masyarakat sehat dengan biaya dari masyarakat sendiri hingga dapat memberi subsidi lebih untuk masyarakat miskin.

V. Memilih SIM

Memilih Sebuah Sistem Informasi Manajemen (SIM) untuk diterapkan pada unit pelayanan farmasi atau apotek ibarat kita memilih atau mencari sebuah pasangan hidup. Hal ini dikarenakan SIM yang kita pilih dan kita pakai akan menjadi sahabat dan pembantu kita dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan sistem informasi. Banyak vendor (jasa pihak ketiga) yang sudah menawarkan berbagai model SIM ada yang sederhana sampai yang komplit sekali, bahkan karena komplitnya ada menu-menu yang kadang tidak dibutuhkan oleh pihak pengguna, kemudian dari yang harga murah sampai dengan yang harganya ratusan juta. Sehingga mungkin kita sebagai konsumen (pengguna) akan kebingungan, mana yang baik dan cocok buat tempat kita bekerja. Memang semuanya tergantung kemampuan kita terutama yang berhubungan dengan anggaran. Kalau bisa SIM yang kita pakai adalah yang murah dan sesuai dengan kebutuhan kita dalam mengelola sebuah sistem informasi.

Untuk itu kami mencoba menyusun fitur atau menu-menu yang wajib ada pada sebuah SIM, yang bisa digunakan sebagai referensi bagi apotek yang akan membeli dan menggunakan SIM. Menu-menu yang akan kami tulis di sini diambil dari beberapa sumber. Selengkapnya menu-menu tersebut adalah sebagai berikut :

1.      Menu Pendaftaran Pasien, yang terdiri dari : Informasi produk dan layanan, Manajemen Pendaftaran Pasien

  1. Pelayanan Rekam Medis, yang terdiri dari : Data base pasien, Pencatatan dan Info Register Penomoran, Info Sensus harian, Info Register, Pengolahan Statistik, Laporan Kinerja, Pengkodean, Master ICD-10.

3.      Menu Billing system, yang terdiri dari : Info Tagihan, Transaksi Pembayaran, Laporan Kas Harian Kasir,  Info Insentif Petugas

  1. Menu Pelayanan Farmasi, yang terdiri dari : transaki obat resep, transaksi obat karyawan, inventori, resep yang keluar per item obat, manajemen obat kedaluwarsa, pemesanan obat, pengaturan stok, distribusi obat, laporan penerimaan dan pengeluaran obat.
  2. Menu Pemeliharaan dan manajemen aset, yang meliputi : Info daftar aset, Pencatatan perhitungan penyusutan aset, Info pemeliharaan aset.
  3. Menu Logistik (obat/alkes/umum), yang meliputi : Info persediaan dan permintaan tiap pelayanan/unit, Info jumlah permintaan per item / per unit, Info harga pokok / harga jual, Inventaris barang (alkes/non medis), Pencatatan penerimaan dan penghapusan, Info penerimaan dan penghapusan, Info distribusi per ruang/unit, Pencatatan permintaan barang, Pencetakan tanda permintaan/penerimaan.
  4. Menu Sistem Keuangan, yang meliputi : Penyusunan anggaran, Laporan realisasi anggaran, Info Hutang – Piutang, Info cashflow.
  5. Menu Kepegawaian, yang meliputi : Data pegawai, Absensi, Laporan kepegawaian, Info kinerja pegawai.
  6. Menu Administrator & User Manager, yang meliputi : Info aplikasi, Manajemen user dan scurity.
  7. Menu Informasi online, yang meliputi : Info pelayanan, info dokter jaga, info konsultasi.

Menu-menu di atas dapat disesuaikan dengan pelayanan  yang ada.

Pelayanan Farmasi merupakan salah satu pelayanan utama yang menunjang kegiatan pelayanan di lingkungan rumah sakit dalam menjalankan fungsinya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Divisi Farmasi bertanggung jawab terhadap pengelolaan barang farmasi berupa obat yang digunakan oleh semua unit di lingkungan rumah sakit baik untuk pelayanan rawat jalan termasuk rawat darurat dan bedah sentral, pelayanan rawat inap termasuk rawat intensif maupun penggunaan obat yang digunakan di lingkungan penunjang medis seperti laboratorium. Pada masa yang akan datang beberapa konsep baru telah disepakati untuk digunakan di lingkungan divisi Farmasi. Hal pertama yang diperkenalkan dan akan dilaksanakan adalah order manajemen yaitu pemanfaatan pelayanan permintaan dan penyampaian hasil pemberian obat dengan memanfaatkan fasilitas komputer secara online. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan oleh semua unit pengguna. Status atau proses permintaan layanan termasuk hasil pemberian obat dapat dipantau / dilihat langsung melalui fasilitas komputer.

Di dalam pengembangan perangkat lunak, suatu framework digambarkan sebagai suatu struktur pendukung dimana perancangan perangkat lunak yang lain dapat terorganisir dan dikembangkan. Suatu framework dapat meliputi program pendukung, kumpulan kode-kode program (libraries), suatu bahasa scripting, atau perangkat lunak lain untuk membantu mengembangkan dan menggabungkan komponen-komponen yang berbeda menjadi satu dari suatu perancangan perangkat lunak. Prado adalah sebuah framework pemrograman berbasis komponen dan event-driven untuk pengembangan aplikasi web pada PHP 5. PRADO merupakan singkatan dari PHP Rapid Application Development Object-oriented. Framework ini dibuat oleh Qiang Xue dan telah menjadi pemenang dalam Zend PHP 5 Coding Contest. Konsep Prado yang component-based dan event-driven memberikan banyak keuntungan bagi programmer web. Berikut keuntungan dengan menggunakan Prado:

a. Reusability, komponen-komponen dalam Prado dapat digunakan ulang.

b. Ease of use, komponen-komponen dalam Prado sangat mudah digunakan. Komponen juga dapat dibuat sendiri dengan menurunkan class yang sudah ada sesuai dengan kebutuhan.

c. Robustness, Prado membebaskan pengembang program (developer) dari kejenuhan dalam menulis kode-kode. Semua kode ditulis dalam format objek, method, dan properti. Tidak seperti pemrograman PHP yang biasa digunakan.

d. Performance, Prado menggunakan teknik cache untuk menjamin performance aplikasi. Dengan adanya cache ini, ia tidak perlu mem-parser ulang kode XML yang dibuat.

e. Team Integration, Prado memisahkan business logic dan presentation logic. Yang dimaksudkan adalah pembuatan layout tampilan (template) dengan kode program (class). Pembuatan keduanya dilakukan pada file yang terpisah. Dengan demikian, aplikasi berbasis Prado dapat dilakukan dalam sebuah tim dengan personal yang berbeda. Untuk melakukan koneksi ke database, Prado memanfaatkan database abstract layer, ADOdb. ADOdb adalah class yang ditulis menggunakan bahasa PHP yang berfungsi sebagai data tier, dan akan membantu mengatasi perbedaan antara penggunaan database. Cukup dengan menuliskan sebuah kode, maka koneksi dapat dilakukan ke berbagai macam database seperti MySQL, SQLLite, SQL Server, Oracle, DB2, Interbase, PostgreSQL, dan sebagainya.

VIII. Kesimpulan

Dari hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa aplikasi SIM Subsistem Farmasi ini harus disesuaikan  dengan fungsi-fungsi dan kebutuhan yang dimiliki oleh manajemen obat pada umumnya

DAFTAR PUSTAKA

Handoyo Eko, dkk, 2007,Aplikasi Sistem Informasi Rumah Sakit berbasis WEB pada Sub-sistem farmasi menggunakan framework Prado, eko@elektro.ft.undip.ac.id

Jati, sp., 2009, Evaluasi Manajemen Obat, http://www.scribd.com/doc/13981595/Evaluasi-Manajemen-Obat-Di-Rumah-Sakit, 8 Februari 2010

Rusmedi, 2008, Peran Sistem Informasi Manajemen Obat dalam Sistem Informasi kesehatan, pelatihan Pengelolaan Obat tahun 2008 se kabupaten Barito Selatan.

Sudjianto, T., 2009, Pengelolaan Obathttp://sites.google.com/site/hisfarma/home/,  8 Februari 2010

PROFIL KOMPETENSI FARMASI

Peran profesional yang mencakup laporan kompetensi, unit, dan elemen yang menggambarkan pengetahuan profesional, atribut, dan diharapkan kinerja farmasi diperluas dan diatur peran profesional. Framing kompetensi ini : profil keselamatan pasien, penyediaan perawatan yang optimal, undang-undang, profesional dan kolaboratif hubungan, berpikir kritis, pengambilan keputusan dan keterampilan pemecahan masalah, dan professional penilaian. Profil ini menggambarkan pengetahuan khusus, keterampilan, kemampuan, dan sikap yang diperlukan untuk performa yang kompeten dan mencerminkan peran farmasi dalam situasi yang beragam dan Pengaturan praktik farmasi.
1.  Kompetensi Pernyataan: Sebuah komponen pekerjaan besar yang membutuhkan aplikasi dan integrasi pengetahuan yang relevan, keterampilan, kemampuan, sikap, dan / atau penilaian.
2.  Kompetensi Unit: Sebuah segmen utama dari suatu kompetensi secara keseluruhan yang menggambarkan kunci kegiatan yang diperlukan untuk melaksanakan kompetensi itu.
3.  Elemen Kompetensi: Sebuah sub-bagian dari unit kompetensi yang menggambarkan atau memerinci indikator kinerja kunci aktivitas yang diharapkan.

Etika, Hukum dan Tanggung Jawab Profesional

Apoteker praktek dalam persyaratan hukum, menunjukkan integritas profesional dan bertindak untuk menegakkan standar profesional praktek dan kode etik.

Elemen Kompetensi: persyaratan Terapkan hukum dan etika, Menegakkan dan bertindak atas prinsip etika yang akuntabilitas utama seorang apoteker adalah pasien, Menunjukkan integritas pribadi dan professional, Menunjukkan pemahaman tentang sistem perawatan kesehatan dan peran apoteker dan profesional kesehatan lain di dalamnya, Menunjukkan pemahaman tentang pentingnya dan proses pengembangan profesional yang berkelanjutan.

Unusuall Learning Profession

Dimensi baru pekerjaan kefarmasian sekarang antara lain : Asuhan Kefarmasian (Pharmaceutical Care), Farmasi Berdasarkan Bukti, Kebutuhan Menemui Pasien, Kepedulian Pada Pasien Kronis, Pengobatan Sendiri, Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan, Farmasi Klinis,  Kewaspadaan Farmasi.

Farmasi ditinjau dari objek materinya, memiliki kerangka dasar dari ilmu-ilmu alam; Kimia, Biologi, Fisika dan Matematika. Sedangkan ilmu farmasi ditinjau dari objek formalnya merupakan ruang lingkup dari ilmu-ilmu kesehatan. Secara historis ilmu farmasi dikembangkan dari medical sciences, yang berdasarkan kebutuhan yang mendesak perlunya pemisahan ilmu farmasi sebagai ilmu pengobatan dari ilmu kedokteran sebagai ilmu tentang diagnosis.

Secara umum farmasi terdiri dari farmasi teoritis dan farmasi praktis. Farmasi secara teoritis dibangun oleh beberapa cabang ilmu pengetahuan, yang secara garis besarnya terdiri dari farmasi fisika, kimia farmasi, farmasetika, dan farmasi sosial. Selanjutnya farmasi praktis terdiri dari dua bagian besar yakni farmasi industri, dan farmasi pelayanan.

Pertama, Farmasi Industri adalah ruang lingkup penerapan ilmu-ilmu farmasi teoritis, dan tempat pengabdian bagi ahli-ahli farmasi (farmasis) yang berorientasi pada produksi bahan baku obat, dan obat jadi, dan perkembangan selanjutnya juga meliputi kosmetika dan makanan-minuman.

Kedua, Farmasi Pelayanan yakni pengabdian disiplin ilmu farmasi (farmasis/apoteker) pada unit-unit pelayanan kesehatan (apotek, rumah sakit, badan pengawasan, dan unit-unit kesehatan lainnya). Peranan farmasis/apoteker di unit-unit pelayanan kesehatan menjadi sangat penting, dan berorientasi pada pemberian obat rasional empirik, yakni pemberian obat yang tepat dosis, tepat pasien, tepat indikasi, dan harga terjangkau

Untuk hal tersebut di atas, sangat dibutuhkan kerjasama antara farmasis/apoteker dengan pihak-pihak terkait (interdisipliner), dan didukung oleh wawasan luas yang berorientasi pada kesehatan yang paripurna dan hedonistik, produktif manusiawi, serta berwawasan lingkungan yang ekologis, bernuansa pada kesejakteraan yang universal.

Farmasis/apoteker yang berdaya intelektual dan berdaya moral haruslah menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan nilai kejujuran dalam menjalankan profesinya. Setiap keputusan yang diambil, pilihan yang ditentukan, penilaian yang dibuat hendaknya selalu mengandung dimensi etika.

Medication Reconciliation

Bukti dari tingginya jumlah kesalahan obat yang diproduksi dalam transfer antara situs perawatan telah diterbitkan dalam karya-karya yang berbeda. Kesalahan obat adalah salah satu penyebab kerusakan yang lebih penting dari pada pasien yang dirawat, sekitar 2% dari rumah sakit mengalami kesalahan pengobatan.

Beberapa faktor yang berkontribusi pada situasi ini:

1. Keterputusan informasi antara masyarakat dan perawatan khusus.

2. Perubahan penanggung jawab pasien.

3. Penyimpangan dalam komunikasi pasien-operator.

4. Concomitants poli-penyakit dan obat-obatan. Harapan hidup yang lebih besar dari orang-orang yang menyebabkan pasien dirawat di rumah sakit minum obat kronis.

5. Registries kesehatan. Salah satu pasien yang sama dapat memiliki beragam spesialis terlibat dalam pengobatannya. Kurangnya pendaftar yang unik di mana daftar lengkap dari pengobatan pasien dicatat, membuat memiliki kepastian tentang perlakuan kebiasaan sulit; ini khususnya penting dalam transisi dalam perawatan kesehatan.

6. Karakteristik tinggal di rumah sakit. Kecenderungan sekarang tetap pendek, menyebabkan bahwa perlakuan kebiasaan pasien mungkin tidak diperhitungkan.

7. Adaptasi ke rumah sakit petunjuk penyebab itu, kadang-kadang, pasien diberi obat yang berbeda dari obat sebelum ia mengambil admisi.

Keselamatan Pasien adalah masalah kesehatan utama bagi organisasi perawatan kesehatan dan masyarakat umum. Pelaksanaan program-program untuk meningkatkan keamanan dalam penggunaan obat-obatan lebih dan lebih umum di rumah sakit. Baru-baru ini, pada bulan Desember 2007, NICE telah menerbitkan panduan solusi bagi rekonsiliasi penerimaan obat di rumah sakit.

Rekonsiliasi Obat memang dirancang untuk mencegah kesalahan pengobatan pada antarmuka perawatan dan terdiri dari mendapatkan daftar kemungkinan paling lengkap pra-penerimaan obat untuk setiap pasien, termasuk wawancara pasien, dan membandingkannya dengan obat resep setelah transfer, perubahan medis penanggung jawab atau diatas perintah debit, mengidentifikasi kesenjangan yang tidak diinginkan dan memastikan kesadaran resep penggunaan obat saat ini dan sebelum memberi keputusan resep.

Layanan Farmasi rumah sakit Arnau de Vilanova (Valencia) berpartisipasi dari April 2006 dalam program CONSULTENOS. Program ini merupakan hasil inisiatif dari Masyarakat Farmasi Rumah Sakit Valencian dan dibiayai oleh Conselleria de Sanitat dari Komunitas Valencian. Tujuan adalah: untuk membuat rekonsiliasi obat saat masuk dan debit, dan untuk menginformasikan pasien aspek yang paling penting dari perawatan baru ditentukan di debit rumah sakit dan dari satu kebiasaan. Pada perubahan debit rumah sakit dalam pengobatan pasien kronis dapat terjadi, karena sering tidak merujuk dalam surat debit regimen obat yang lengkap, termasuk perawatan pra dan pasca-transfer. Misalnya dalam  pelayanan bedah umum ketidakcocokan yang mendominasi adalah  kelalaian obat, resep yang tidak benar, interaksi dan kepalsuan terapeutik. Mengenai evaluasi dari beragam aspek program, para dokter menemukan pengiriman informasi tertulis tentang obat-obatan dan revisi dari pengobatan yang diresepkan di debit ramah sangat penting.

Standarisasi merupakan proses yang sulit dan membutuhkan kerja tim dan komunikasi yang efektif, tetapi hasilnya dalam keselamatan untuk pasien adalah penting. Kegiatan klinis harus dimasukkan dalam portofolio layanan dari farmasi rumah sakit; serta integrasi phamacists dalam tim klinis yang membutuhkan perawatan pasien sehari-hari.

Singkatnya, program rekonsiliasi pengobatan mencegah kesalahan dengan obat-obatan, terutama dalam transisi kesejahteraan pasien. Selain itu, pasien memiliki informasi tambahan yang penting pada penggunaan narkoba dan masalah dengan menggunakan ini. Praktek ini harus dilaksanakan di rumah sakit sebagai layanan, sebagai alat penting untuk meningkatkan keamanan pasien, dalam kerangka sistem pengurangan risiko bagi kesehatan dan peningkatan kualitas kesejahteraan.

DAPUST : Franco, et al, 2010, Medication reconciliation: Improving patient’s safety and quality of care.

PERAN APOTEKER DALAM PENANGANAN PANDEMI FLU BURUNG / FLU BABI

Penyakit flu burung dan flu babi termasuk penyakit yang sangat potensial membawa dampak penyebaran yang cepat dan mengancam jiwa masyarakat Indonesia, kemampuan penyebarannya bisa sangat cepat, kemungkinan penularan antar manusia sangat dikhawatirkan dan oleh karena itu membutuhkan penanganan yang tepat dan segera. Peran serta Apoteker ini didasari dengan pengetahuan yang dimiliki Apoteker tentang patofisiologi penyakit; obat-obatan yang diperlukan atau harus dihindari oleh pasien penyakit flu burung dan flu babi. Hal-hal yang harus dipersiapkan dan dihindari oleh tenaga kesehatan termasuk apoteker dalam melaksanakan tugasnya.

Peran aktif Apoteker di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Memastikan bahwa prosedur pengendalian infeksi berada di tempat di dalam sistem pelayanan kesehatan dan digunakan oleh semua yang terlibat dalam mengelola penyakit hewan maupun manusia serta kasus dugaan.

2.  Melakukan upaya pencegahan penyakit flu burung dan flu babi

Upaya ini diwujudkan melalui:

  • Pemberian penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit flu burung dan flu babi meliputi gejala awal, sumber penyakit, cara pencegahan, penanggulangan penyebaran, dan pertolongan pertama yang harus dilakukan.
  • Pembuatan buletin, leaflet, poster, dan iklan layanan masyarakat seputar penyakit flu burung dan flu babi dalam rangka edukasi masyarakat.
  • Berpartisipasi dalam upaya pengendalian penyebaran infeksi virus di rumah sakit melalui Komite Pengendali Infeksi dengan memberikan saran tentang pemilihan antiseptik dan desinfektan; menyusun prosedur, kebijakan untuk mencegah terkontaminasinya produk obat yang diracik di instalasi farmasi atau apotek; menyusun rekomendasi tentang penggantian, pemilihan alat-alat kesehatan, pemilihan alat pelindung diri, injeksi, infus, alat kesehatan yang digunakan untuk tujuan baik invasive maupun non-invasif, serta alat kesehatan balut yang digunakan di ruang perawatan, ruang tindakan, maupun di unit perawatan intensif (ICU).

3. Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien untuk mempercepat proses penyembuhan, mencegah bertambah parah, atau mencegah kambuhnya penyakit serta mencegah penularan. Hal ini dilakukan dengan cara:

  • Memberikan informasi kepada pasien tentang penyakitnya dan pengendalian diri dan lingkungan dalam upaya mencegah penularan.
  • Menjelaskan obat-obat yang harus digunakan, indikasi, cara penggunaan, dosis, dan waktu penggunaannya.
  • Melakukan konseling kepada pasien untuk melihat perkembangan terapinya dan memonitor kemungkinan terjadinya efek samping obat.

Kompetensi yang diperlukan seorang Apoteker untuk dapat memberikan pelayanan kefarmasian terhadap pasien penyakit flu burung dan flu babi di antaranya adalah:

  • Pemahaman prosedur pengendalian infeksi flu burung dan flu
  • Pemahaman stratifikasi risiko keterpaparan kelompok individu terhadap infeksi flu burung dan flu babi
  • Pemahaman patofisiologi penyakit flu burung dan flu babi
  • Penguasaan farmakoterapi penyakit flu burung dan flu
  • Penguasaan farmakologi obat-obat yang digunakan pada pengobatan penyakit flu burung dan flu babi
  • Memiliki kemampuan komunikasi yang baik dalam pemberian konseling kepada pasien ataupun ketika berdiskusi dengan tenaga kesehatan lain.
  • Memiliki keterampilan dalam mencari sumber literatur untuk Pelayanan Informasi Obat penyakit flu burung dan flu babi
  • Monitoring terapi pengobatan yang telah dilakukan dan kemungkinan terjadinya efek samping obat maupun resistensi.
  • Memiliki kemampuan menginterprestasikan hasil laboratorium.

Tujuan pemberian konseling kepada pasien adalah untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan kemampuan pasien dalam menjalani pengobatannya serta untuk memantau perkembangan terapi yang dijalani pasien. Ada tiga pertanyaan utama umum (Three Prime Questions) yang dapat digunakan oleh Apoteker dalam membuka sesi konseling untuk pertama kalinya. Pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Apa yang telah dokter katakan tentang obat anda?
  2. Apa yang dokter jelaskan tentang harapan setelah minum obat ini?
  3. Bagaimana penjelasan dokter tentang cara minum obat ini?

Pengajuan ketiga pertanyaan di atas dilakukan dengan tujuan agar tidak terjadi pemberian informasi yang tumpang tindih (menghemat waktu); mencegah pemberian informasi yang bertentangan dengan informasi yang telah disampaikan oleh dokter (misalnya menyebutkan indikasi lain dari obat yang diberikan) sehingga pasien tidak akan meragukan kompetensi dokter atau apoteker; dan juga untuk menggali informasi seluas-luasnya (dengan tipe open ended question).

Tiga pertanyaan utama tersebut dapat dikembangkan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut sesuai dengan situasi dan kondisi pasien:

1. Apa yang dikatakan dokter tentang peruntukan/kegunaan pengobatan anda?

Persoalan apa yang harus dibantu?

Apa yang harus dilakukan?

Persoalan apa yang menyebabkan anda ke dokter?

2. Bagaimana yang dikatakan dokter tentang cara pakai obat anda?

Berapa kali menurut dokter anda harus menggunakan obat tersebut?

Berapa banyak anda harus menggunakannya?

Berapa lama anda terus menggunakannya?

Apa yang dikatakan dokter bila anda lupa minum obat?

Bagaimana anda harus menyimpan obatnya?

Apa artinya ‘tiga kali sehari’ bagi anda?

3. Apa yang dikatakan dokter tentang harapan terhadap pengobatan anda?

Pengaruh apa yang anda harapkan tampak?

Bagaimana anda tahu bahwa obatnya bekerja?

Pengaruh buruk apa yang dikatakan dokter kepada anda untuk diwaspadai?

Perhatian apa yang harus anda berikan selama dalam pengobatan ini?

Apa yang dikatakan dokter apabila anda merasa makin parah/buruk?

Bagaimana anda bisa tahu bila obatnya tidak bekerja?

Pada akhir konseling perlu dilakukan verifikasi akhir (tunjukkan dan katakan) untuk lebih memastikan bahwa hal-hal yang dikonselingkan dipahami oleh pasien terutama dalam hal penggunaan obatnya dapat dilakukan dengan menyampaikan pernyataan sebagai berikut:

“ Sekedar untuk meyakinkan saya supaya tidak ada yang kelupaan, silakan diulangi bagaimana Anda menggunakan obat Anda”.

Salah satu ciri khas konseling adalah lebih dari satu kali pertemuan. Pertemuan-pertemuan selanjutnya dalam konseling dapat dimanfaatkan Apoteker dalam memonitoring kondisi pasien. Pemantauan terhadap kondisi pasien dapat dilakukan Apoteker pada saat pertemuan konsultasi rutin atau pada saat pasien menebus obat, atau dengan melakukan komunikasi melalui telepon atau internet. Pemantauan kondisi pasien sangat diperlukan untuk menyesuaikan jenis dan dosis terapi obat yang digunakan. Apoteker harus mendorong pasien untuk melaporkan keluhan ataupun gangguan kesehatan yang dirasakannya sesegera mungkin.

Penyuluhan tentang pencegahan dan penanggulangan penyakit flu burung dan flu babi perlu dilaksanakan secara berkelanjutan mengingat sebagian besar penyebab penyakit flu burung dan flu babi adalah karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam melindungi diri mereka terhadap penyakit-penyakit virus tersebut. Penyuluhan dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. Penyuluhan langsung dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok; sedangkan penyuluhan tidak langsung dapat dilakukan melalui penyampaian pesan-pesan penting dalam bentuk brosur, leaflet atau tulisan dan gambar di dalam media cetak atau elektronik.

Apoteker diharapkan dapat memberikan penyuluhan secara personal dengan pasien penyakit flu burung dan flu babi. Penyuluhan secara personal dapat meningkatkan upaya pencegahan penularan maupun ketertularan serta kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatannya manakala terserang. Hendaknya Apoteker memastikan bahwa pasien tahu tentang penyakit yang dideritanya, pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan yang disarankan serta akibat dari ketidakpatuhan atau kelalaian dalam menjalankan terapi pengobatannya. Keluarga pasien harus diberi pengertian bahwa penyakit flu burung dan flu babi dapat menimbulkan komplikasi lebih lanjut seperti kematian apabila tidak ditangani dengan baik. Keluarga harus segera melapor bila ada dugaan ketertularan atau gejala influenza karena flu burung dan flu babi.

Terima kasih buat Isnenia, Dyah Fani dan M. Sridhotulloh yang telah membantu dalam penyusunan materi ini pada tugas Perilaku penggunaan sediaan Farmasi yang diampu oleh Bp. Riswoko

Intisari dari buku Perilaku Organisasi Prof. Dr. Makmuri Muchlas, Msc

Buku Perilaku Organisasi yang ditulis oleh Prof. Dr. Makmuri Muchlas, Msc adalah tentang 2 hal yaitu manusia dan organisasi. Seperti yang kita tahu bahwa manusia itu unik, beda manusia dengan mesin (dalam buku ini disebutkan sebagai sumber daya organisasi) adalah terletak pada kemampuan merespon sesuatu. Mesin akan memberikan respon yang sama jika diberikan input yang sama, sedangkan manusia tidak, suatu input yang sama akan menghasilkan output yang berbeda jika diberikan pada orang yang berbeda.

Organisasi mempunyai nilai, kultur dan budaya yang dipegang teguh  oleh organisasi dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tentu saja nilai yang terkandung dalam organisasi itu terkadang tidak sesuai dengan nilai yang selama ini dipegang teguh oleh tiap individu dan kelompok dalam organisasi. Hal itu disebabkan oleh karakteristik, sikap mau pun motivasi yang dimiliki oleh individu tersebut yang dalam buku ini sudah dijelaskan secara panjang lebar, ternyata juga mempengaruhi gaya kepimimpinan dan minatnya pada pekerjaan serta terkadang timbul konflik, atau yang paling parah adalah menimbulkan stress.

Sementara organisasi terus bertumbuh, orang-orang didalamnya semakin unik, konflik semakin tak terhindarkan, sehingga disini perlu seni manajemen stress dan konflik, serta seni memanage manusia untuk mengatasinya. Secara keseluruhan buku ini menjelaskan tentang pengertian dan model perilaku organisasi, perilaku dalam konteks global, dasar-dasar perilaku individual, persepsi dalam perilaku organisasi, nilai-sikap dan perilaku organisasi, konsep motivasi,dasar perilaku kelompok, komunikasi dalam organisasi, kekuatan dan politik dalam perilaku organisasi, manajemen perubahan, konflik, budaya organisasi, hingga akhirnya bagaimana mengatasi stress di tempat kerja.

Menurut Robins, perilaku organisasi adalah ilmu yang menyelidiki dampak dari pengaruh individu, kelompok dan struktur dalam organisasi terhadap perilaku orang-orang yang terlibat di dalamnya yang bertujuan untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam meningkatkan efisiensi organisasi. Berdasarkan definisis tersebut, elemen-elemen kunci dalam perilaku organisasi adalah manusia, struktur, teknologi dan lingkungan tempat organisasi tersebut beroperasi. Ketiga elemen pertama selalu berinteraksi satu sama lain dan dipengaruhi oleh dan mempengaruhi lingkungan luarnya.

Ada empat model dalam perilaku organisasi yaitu otokratik, kastodial, suportif dan kolegial. Model-model ini dalam prakteknya adalah sesuatu yang bisa berubah secara evolusioner, sesuatu yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan karyawan, sesuatu yang dapat mengikuti kecenderungan menuju model-model yang lebih baru, dan sesuatu dimana salah satu model dapat diaplikasikan dengan sukses pada situasi-situasi tertentu.

Ekonomi global memberikan tantangan bagi para manajer yang semula hanya beroperasi secara nasional saja. Mereka menghadapi ssstem-sistem hokum dan politik, situasi ekonomi dan kebijaksanaan perpajakan yang berbeda, tetapi mereka juga harus mengerti dan mengikuti berbagai kultur nasional, yaitu nilai-nilai penting yang dipraktekkan, yang memberikan kekhususan pada negara-negara yang bersangkutan. Setiap gerakan manusia dari satu negara ke negara lain akan menimbulkan kebingungan, disorientasi, dan ketegangan emosional yang disebut sebagai cultural shock. Perbedaan kultur lokal pun sering mewarnai para karyawan di perusahaan-perusahaan besar. Oleh karena itu, keberhasilan seorang top manajersangat bergantung pada kejeliannya dan kemampuannya mengatasi masalah-masalah ini dengan seni manajemen yang didasarkan pada perilaku organisasi ini.

Karakteristik biografik, kemampuan, kepribadian dan proses belajar merupakan  dasar-dasar perilaku individual. Mengenai ciri-ciri kepribadian dapat ditarik kesimpulan menurut teori Holland yaitu tentang penyesuaian kepibadian dengan pekerjaan. Dalam perilaku organisasi, proses belajar adalah perubahan perilaku yang relative permanen yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman hidup. Jadi kita tidak melihat proses belajarnya, tetapi melihat perubahan-perubahan yang terjadi akibat dari proses belajar tersebut.

Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana individu mengorganisasikan dan menginterprestasikanimpresi sensorisnya supaya dapat memberikan arti kepada lingkungan sekitarnya (Robins, 1993). Selektivitas persepsi ini dipengaruhi oleh factor perhatian luar seperti intensitas, ukuran, kontras, repetisi, gerakan, keterbaruan, keterbiasaan dan factor perhatian dalam yang terdiri dari proses belajar, motivasi dan kepribadian.

Dalam kultur kita nilai-nilai tertentu telah berkembang selama ini, dan secara berkesinambungan terus dipelihara dan ditingkatkan. Sikap adalah sesuatu yang kompleks yang didefinisikan sebagai pernyataan-pernyataan evaluative,baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan atau penilaian-penilaian mengenai obyek,manusia, atau peristiwa-peristiwa (Robins, 1989). Sikap tidak  mempunyai hubungan sebab akibat dengan perilaku. Kalaupun ada hubungan, disebabkan oleh variable perantara seperti kekhususan sikap seseorang,batsan social terhadap perilaku seseorang dan pengalaman dengan sikap yang dipertanyakan.

Dalam sebuah organisasi motivasi adalah kemauan untuk berjuang/berusaha ketingkat yang lebih tinggi menuju tercapainya tujuan organisasi dengan syarat tidak mengabaikan kemampuannya untuk mencapai kepuasan dan pemenuhan kebutuhan pribadi. Kemampuan, pengetahuan pekerjaan, kepuasan, emosi, suasana hati, perasaan keyakinan dan nilai-nilai adalah factor-faktor yang mempengaruhi motivasi. Orang yang memiliki motivasi tinggi, memiliki pengetahuan dan ketrampilan tentang pekerjaannya, memiliki kebutuhan meningkat dan puas dengan pekerjaannya, dan rekan-rekannya.

Manajemen modern perlu mempelajari perilaku karyawan dalam kelompok. Alasan manusia bergabung dalam kelompok antara lain adalah rasa aman, status, harga diri, afiliasi, kekuatan dan pencapaian tujuan. Dinamika kelompok mengutamakan adanya interaksi dan pertukaran pengaruh diantara sesame anggota kelompok dalam sebuah situasi social. Jika konsep ini diaplikasikan pada studi tentang perilaku organisasi, sebaiknya konsep ini difokuskan pada dinamika para anggota kelompok baik formal mau pun informal dalam organisasi.

Komunikasi adalah pemindahan informasi. Sehingga harus ada pesan, pemberi informasi dan penerima informasi. Komunikasi formal maupun informal dalam organisasi berguna untuk memenej sikap dan perilaku para anggota dalam organisasi tersebut. Umpan balik dapat untuk mengecek apakah informasi sudah diterima dengan baik. Komunikasi organisasi terdiri dari komunikasi keatas, komunikasi ke bawah dan komunikasi horizontal.

Kekuatan adalah kapasitas seseorang untuk mempengaruhi perilaku orang lain sehingga mau melakukan sesuatu yang dia sendiri tidak memiliki pilihan lain untuk tidak melakukannya (Robbins, 1993, Mitchell, 1985). Semakin besar kekuatan semakin besar pula ketergantungan. Jika orang berkumpul dalam suatu kelompok, pencarian kekuatan akan diperjuangkan masing-masing. Mereka yang mempunyai keterampilan politik memiliki kemampuan untuk menggunakan basis kekuatannya secara efektif.

Organisasi bisa bertahan karena kemampuannya mengatasi perubahan. Perubahan bisa bersifat proaktif kalau salah satu kekuatan dari perubahan itu mengarahkan organisasi pada keputusan bahwa perubahan khusus memang diinginkan, bisa juga bersifat reaktif bila salah satu dari kekuatan perubahan itu memang dianggap perlu untuk mengimplementasikan sebuah perubahan. Enam dari tehnik-tehnik yang paling umum digunakan untuk mengatasi pertentangan terhadap perubahan adalah pendidikan dan komunikasi, partisipasi dan keterlibatan,bantuan, intensif, manipulasi dan kooptasi serta ancaman hukuman.

Stres adalah respon yang adaptif, dimediasi oleh perbedaan-perbedaan individual dan atau proses psikologi dan merupakan sebuah konsekuensi dari tindakan atau situasi eksternal yang dapat mempengaruhi kondisi fisik, psikologis dan perilaku individu dalam organisasinya. Manajemen Stres bisa dilakukan secara pendekatan individual, terapi kelompok dan pendekatan organisasi

Perilaku interaktif dapat terjadi pada tingkat individual, interpersonal, kelompok atau organisasi. Hal ini sering menimbulkan konflik pada tingkatan tersebut. Ada lima cara intense mengatasi konflik yaitu kompetisi, kolaborasi, menghindari, akomodasi dan kompromi

Budaya organisasi memiliki beberapa karakteristik umum yaitu: norma,nilai-nilai yang dominan, filosofi, aturan dan iklim organisasi. Meskipun budaya organisasi dapat berkembang, kita perlu memulai budaya organisasi yang tentu saja disesuaikan dengan perubahan organisasi serta terkadang mempertahankan budaya-budaya yang kita anggap masih relevan melalui langkah sosialisasi. Budaya organisasi terdiri dari tipe terbuka dan partisipatif. Perspektif tentang budaya organisasi terdiri dari integrasi, differensiasi dan fragmentasi. Meyerson dan Martin (1987) mempunyai argumentasi yang penting untuk mengerti sepenuhnya budaya organisasi agar bisa menganalisis sebuah situasi dari sebuah perspektif. Penting untuk waspada terhadap hal-hal : proses-proses yang menghasilkan keharmonisan dan konsesus, factor cultural yang berdasarkan perbedaan dan inkonsistensi serta keraguan yang lebih merupakan status natural dari pada stase temporer sebelum sebuah corak yang regular ditempatkan.

1. Hal yang perlu didiskusikan dari buku tersebut:

Informasi yang saya temukan dari buku ini semuanya penting, beberapa kasus yang tertulis juga menarik untuk dikaji lebih lanjut, tapi saya telah mengaris bawahi beberapa point penting yang menurut saya layak didiskusikan yaitu :

  1. Pengembangan organisasi: prinsip-prisip PO mengutamakan pertumbuhan kemanusiaan dan organisasi, proses-proses kolaboratif dan patisipatif, dan spirit untuk selalu bertanya. Di sini dijelaskan bahwa agen perubahan dalm organisasi bisa bersifat direktif tetapi tetap kolaborasi. PO dapat dipikirkan sebagai jalan menuju penguatan motivasi intrinsic (empowerment) apabila disertai intervensi-intervensi yang bisa membantu terciptanya iklim kepercayaan, keterbukaan dan suportivitas yaitu: latihan sensitivitas, penelitian umpan balik,konsultasi proses, pembinaan tim, dan pengembangan antar kelompok.
  2. Konflik : terus terang saya tidak setuju dengan pendapat tradisional yang mengatakan bahwa konflik itu jelek dan harus dihindari, saya lebih setuju dengan pendapat ketiga yaitu pendapat interaksionis dimana dengan penjagaan minimalis konflik bisa membuat organisasi menjadi hidup, kritis dan kreatif. Bagaimana mengatasi konflik juga dijelaskan panjang lebar dalam buku ini.
  3. Stress di tempat kerja: dengan pendekatan organisasi, beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya stress dapat dikontrol oleh manajemen melalui seleksi dan penempatan, penetapan tujuan, pendesainan kembali pekerjaan, pengambilan keputusan secara partisipatif, komunikasi organisasi,program-program kebugaran.

2. Kritis saya tentang buku tersebut:

Buku ini menarik jika dibaca secara serius. Pertama kali saya sebenarnya berniat untuk mengkritisi ketebalan dari buku ini, bahkan saya sempat chating dengan rekan saya sesama mahasiswa MMF tentang ketebalan buku ini, terus terang agak malas juga baca buku tebal, tapi ups… setelah saya baca bagian belakang dari sampul buku ini, saya jadi senyum-senyum sendiri, ternyata kritik tersebut telah dijawab oleh penulis, dan saya juga membuktikan bahwa tebalnya buku ini disebabkan kayanya buku ini akan informasi tentang perilaku organisasi. Dalam buku ini telah disinggung mengenai IQ dan EQ tapi belum disinggung melalui SQ, sementara ketiga hal tersebut tidak bisa dipisahkan.

Dalam buku ini, saya membaca tentang kepribadian, dimana kepribadian ini dipengaruhi oleh faktor keturunan, lingkungan, situasional, dan watak kepribadian dikelompokan sebagai tipe introversi, kontroversi, sementara saya pernah membaca buku karya Florence Littauer, “Personality plus”, dimana disitu disebutkan bahwa Hippocrates telah mengelompokan 4 watak dasar manusia yaitu melankolis, plegmatis, sanguinis, dan koleris, dan sebagai pengayaan pengetahuan saya saja, selama ini 4 watak dasar itulah yang menjadi dasar saya dalam bergaul dengan teman-teman saya, bahkan saya bisa menebak watak satu persatu teman saya berdasarkan kriteria ini, tapi saya agak heran jika buku ini tidak memuat hal tersebut, mungkin hal ini disebabkan ketidaktahuan saya saja, karena mungkin teori 4 watak dasar menurut Hipokrates sudah terlalu tua dan atau mungkin telah ditumbangkan oleh teori baru.

Setelah membaca buku tersebut, saya menemukan beberapa pencerahan, terutama pada beberapa point yang saya sebutkan pada soal nomer 2. Beberapa buku yang saya baca, salah satunya buku “Berdamai dengan diri anda sendiri” yang ditulis oleh Harold H. B, membahas tentang sindrom Achilles, dan beberapa waktu yang lalu saya sempat mengalaminya. Tetapi buku Harold tersebut lebih berbicara mengenai penyembuhan diri sendiri, sebab-sebab timbulnya Achilles syndrome itu sendiri kurang dibahas lebih lanjut, dan ternyata pertanyaan saya terjawab melalui buku perilaku organisasi ini, pada point konflik tentu saja walau pun dalam buku ini tidak disebutkan secara langsung tentang Achilles Syndrome.

3. Pendapat saya tentang buku tersebut:

Menurut pendapat saya, buku ini sangat bermanfaat karena kaya akan informasi mengenai perilaku organisasi, hubungan individu dan organisasi serta manajemen manusia. Buku ini memuat segala dinamika manusia sebagai pelaku organisasi dan pengatasan masalah yang timbul dalam organisasi serta variabel-variabel yang termatup dalam penelitian motivasi dan merupakan referensi yang cocok bagi para eksekutif mau pun para pelaku organisasi lain.

DAFTAR PUSTAKA

Bloomfield HH, 2000, Berdamai Dengan Diri Anda Sendiri, Interaksara, Batam.

Littauer F, 1996, Personality Plus, Binarupa Aksara, Jakarta

Muchlas M, 2008, Perilaku Organisasi, Gadjah Mada University Press, Jogjakarta.

DOKTER DISPENSING

Dispensing masih menjadi pro dan kontra sampai sekarang. Mereka yang kontra mengganggap dispensing menyebabkan keuntungan ekonomi yang tidak wajar bagi dokter. Tidak hanya dari masyarakat, bahkan kalangan apoteker juga menganggap dokter telah “merebut” lahan mereka.

Di samping pihak yang kontra, tentu masih ada pihak yang berpendapat bahwa dispensing ini adalah suatu bentuk solusi terhadap beberapa masalah yang timbul dalam penyediaan obat. Alasan dokter melakukan praktek dispensing antara lain :

  • Tidak adanya apotek di sekitar praktek dokter tersebut
  • Memastikan pasien mendapat obat yang diresepkan
  • Memastikan pasien mendapat informasi yang tepat.
  • One stop service

Sejak tahun 1240, bidang farmasi dipisahkan secara resmi dari bidang kedokteran dengan dikeluarkannya dekrit oleh raja Jerman Frederick II. Dekrit itu antara lain menyatakan, seorang tabib tidak boleh menguasai tempat penyimpanan obat atau melakukan bentuk eksploitasi apa pun terhadap penderita melalui hubungan bisnis penjualan obat. Pemisahan antara dokter dan apoteker merupakan konsep pengobatan modern yang berlaku saat ini sebagaimana berlaku di berbagai negara di dunia, yakni dokter menulis resep dan apoteker menyiapkan obat serta menyerahkannya pada pasien.

Dispensing berasal dari kata dispense yang dapat berarti menyiapkan, menyerahkan, dan mendistribusikan dalam hal ini adalah obat. Fenomena dokter dispensing sebenarnya bukan hal baru di dunia kesehatan Indonesia. Praktek ini telah berlangsung sedemikian lama dan menjadi kebiasaan. Hal yang tidak disadari oleh pasien bahwa sebenarnya praktek tersebut melanggar hukum jika di lingkungan tersebut terdapat apotek yang dapat dijangkau. Pada masa lalu, praktek ini dapat dimaklumi karena jumlah apotek yang sangat terbatas. Saat ini peraturan yang berlaku menyatakan bahwa praktek dispensing hanya boleh dilakukan pada kondisi yang sangat spesifik misalnya di daerah yang sangat terpencil. Hal ini dicantumkan dalam Undang-undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran pasal 35 ayat (1) huruf i dan j (Anonim, 2004). Berdasarkan PP RI No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, yang termasuk pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional (Anonim, 2009). Dengan adanya PP ini, maka dispensing merupakan salah satu pekerjaan kefarmasian.

Praktek dispensing juga dapat membuka celah bagi oknum dokter untuk memberikan obat tertentu tanpa berdasarkan pertimbangan klinis yang benar karena tidak adanya pengawasan dari pihak ketiga. Kondisi ini makin diperburuk oleh industri farmasi yang menjalin hubungan bisnis dengan sebagian oknum dokter untuk meresepkan suatu jenis obat dengan merek tertentu. Praktek ini seharusnya dihentikan karena praktek dispensing dokter adalah ilegal dan dapat merugikan pasien

Adanya dokter dispensing obat ini merugikan pasien dari segi biaya dan pelayanan. Dari segi biaya menyebabkan harga obat lebih mahal. Jadi sebenarnya paradigma yang menyatakan fenomena dokter dispensing dapat mempermurah harga obat itu merupakan hal yang tidak benar.

Adanya fenomena ini juga menyebabkan pasien kehilangan haknya untuk mendapatkan asuhan kefarmasian. Tanpa adanya asuhan kefarmasian, tidak ada sistem yang mengelola dan memonitor dampak obat secara efektif. Pasien juga kehilangan haknya untuk mendapatkan informasi dan mendapatkan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan asuhan kefarmasian yang berperan dalam pencegahan kesalahgunaan obat (drug misuse), penggunaan obat yang berlebih (drug overuse), penyalahgunaan obat (drug abuse), dan efek-efek obat yang tidak diinginkan.

Praktek dokter dispensing secara nyata menyalahi moral atau etika di dunia farmasi maupun kedokteran itu sendiri. Dengan adanya praktek dokter dispensing tersebut, farmasis tidak dapat melaksanakan tugasnya untuk memberikan asuhan kefarmasian.

Untuk mengatasi fenomena dokter dispensing dibutuhkan suatu pembentukan aturan yang baru untuk mengatur secara jelas terkait batasan tugas dan wewenang tiap-tiap tenaga kesehatan dalam suatu aturan yang khusus dan terperinci, sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang keliru dari berbagai pihak.

Perlu profesionalisme dari apoteker, dalam hal ini apoteker juga diharapkan untuk selalu ada di apotek karena ketidakhadiran apoteker akan terus menjadi alasan bagi dokter untuk tetap melaksanakan dispensing akibat kurang berperannya apoteker di apotek dalam memberikan informasi obat pada pasien. Bagi pihak yang melanggar ketentuan, patut diberi sanksi, berupa sanksi administratif yakni sanksi berupa teguran sampai dengan pencabutan ijin praktek atau usaha.

Perlu kerjasama antara apoteker / farmasis dan dokter, dalam hal ini dokter harus memahami betul bahwa dispensing obat adalah pekerjaan kefarmasian dan yang memiliki kewenangan untuk melakukannya adalah apoteker dibantu tenaga teknis kefarmasian. Dokter harus dengan senang hati dan terbuka mau memberikan informasi yang tepat kepada farmasis jika farmasis bertanya tentang penyakit pasien dan informasi apa yang sebaiknya diberikan kepada pasien mengenai penyakit dan khasiat obat karena satu obat dapat mempunyai khasiat yang bermacam-macam. Apoteker/farmasis juga tidak boleh gengsi atau malu untuk bertanya kepada dokter mengenai penyakit pasien sehingga dapat memberikan informasi yang tepat kepada pasien mengenai penyakit dan khasiat obat.

Perlu penegakan Pharmaceutical Care yang merupakan pemberlakuan segitiga hubungan antara dokter, apoteker dan pasien. Dokter mendiagnosa penyakit pasien, memberikan resep, kemudian apoteker/farmasis memberikan asuhan kefarmasian kepada pasien yaitu memberikan informasi yang tepat mengenai khasiat obat, cara penggunaan obat, hal-hal apa saja yang harus dihindari atau dilakukan oleh pasien terkait dengan pengobatan pasien, mengelola dan memonitor dampak obat secara efektif sehingga dapat mencegah kesalahgunaan obat (drug misuse), penggunaan obat yang berlebih (drug overuse), penyalahgunaan obat (drug abuse), dan efek-efek obat yang tidak diinginkan, serta dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.

Terima kasih buat Vivi, Risha, Dyah, dan Erza yang ikut menyusun report ini sehingga menjadi report yang sangat menyeluruh. Maaf tidak bisa hadir saat menyusunan power point.

Praktik e-hospital untuk Meningkatkan Kepatuhan Dokter Terhadap Formularium Rumah Sakit dan Membantu Praktek Farmasi Klinik

Patient safety didefinisikan sebagai bebas dari cedera aksidental atau menghindari cedera pasien akibat tindakan pelayanan. (Zorab, 2002) Farmasi  klinik didefinisikan sebagai segala aktifitas yang dilakukan seorang farmasis  untuk mencapai terapi obat yang rasional (rational drug therapy) yang aman, tepat dan cost effective. Kunci utamanya adalah pemantauan terapi obat yang bertujuan mengoptimalkan terapi dan meminimalkan efek obat yang tidak diinginkan (adverse effect). Dengan paradigma Pharmaceutical care, farmasis juga mendapat tugas tambahan untuk memastiakn bahwa terapi yang diberikan sesuai yang diinginkan penderita. Pharmaceutical care menurut Hepler dan Strand (1990) adalah tanggung jawab pemberian terapi obat yang bertujuan untuk mencapai outcome yang dapat meningkatkan kualitas hidup penderita (Seto,dkk,2004)

Patient safety melibatkan system operational dan proses pelayanan yang meminimalkan kemungkinan adverse event / error dan memaksimalkan langkah-langkah penanganan bila eror terjadi. Upaya untuk meningkatkan patient safety adalah dengan pengembangan system untuk identifikasi dan pelaporan resiko dan penggunaan teknologi informasi serta upaya perbahan kultur organisasi.

Lebih dari 50% dokter di Kanada telah menggunakan aplikasi medis PDA. Aplikasi tersebut sangat mendukung system informasi klinik yang dapat berisi informasi referensi obat, referensi klinis, interaksi obat dan protap rumah sakit. Aplikasi tersebut sangat memudahkan mobilitas tenaga kesehatan karena ada yang berbentuk e-book / e-text (pdf, pdb, doc, html) Aplikasi perangkat lunak PDA: khusus ( kalkulator medis, basis data, info jurnal), dan umum (pembaca e-book, penampil gambar, perambah/ browser). PDA di bidang medis berguna dalam hal pemetaan, GPS (Global Positioning System), e- Prescribing dan mengurangi medication eror.(Iswara, 2007)

Beberapa rumah sakit di Indonesia telah mempergunakan aplikasi e-hospitaly secara menyeluruh, sebagai contoh adalah Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI). RSPI telah mengimplementasikan Vesalius-software yang diproduksi pengembang asal Malaysia, Nova MSC. Adapun untuk aplikasi keuangan menggunakan Oracle finance. Aplikasi vesalius, mempunyai dua modul utama yaitu Hospital Information System (HIS) dan Clinical Information System (CIS) HIS mencakup modul-modul administrasi pasien dan dokter, farmasi, system biling dan kasir purchasing, inventory, medical record tacking, system informasi laboratorium dan radiology serta meal order. Sementara CIS merupakan modul yang mengcover seluruh proses klinis baik inpatient maupun outpatient. Lebih lengkapnya, CIS mencakup modul-modul: Outpatient clinical Management (terdiri dari order management, electronic medical record/EMR, prescription dan Medical alerts) serta Inpatient clinical management. Semua modul tersebut akan bertumpu dan harus terintegrasi dengan EMR. Di luar aplikasi itu RSPI juga mengimplementasikan TB Views yang digunakan untuk melihat dan menganalisa performa rumah sakit dari sisi manajerial dan financial.(BS, Mohammad,2007)

Sedangkan RSIB (RS Internasional Bintaro) menerapkan tiga aplikasi utama yang saling terkait. Pertama, Medtrak, merupakan aplikasi yang diproduksi TrackHealth Pty. Ltd., Australia, dengan modul-modul:outpatient management, inpatiet management, Clinical management, pharmacy management, Stock management, Diet Management, Operating Theatre, Resource Management, Administration Discharge & Transfer, order management dan billing system. Aplikasi kedua adalah Labtrak, aplikasi ini menyediakan fungsi (modul) Laboratory Information System. Aplikasi ketiga Prodogious buatan MTech Private Ltd, India, yang menyediakan funsi (modul) : financial & Acounting System, Purchase order, Good Receiving, Fixed Asset Management dan Doctors Fee. Di luar ketiga aplikasi utama, RSIB juga memiliki aplikasi yang digunakan untuk keperluan internal management antara  lain : Attedance system, Payroll System (ABS), Telephone Management System (terintegrasi dengan Medtrak) Work Order System (Maintenance & TI dan system Dokumentasi ISO) (BS, Mohammad,2007)

RSIB belum mengimplementasikan rekam medis elektronik dan resep elektronik karena masalah hukum dan Change Management. Seperti diketahui Dokument MR dan resep yang diakui secara legal di Indonesia adalah dokumen hardcopy yang berisis tulisan tangan dokter. Selain itu, Medtrak sebenarnya juga memiliki fasilitas Computerized Physician Order entry sebagai pengganti resep dokter. .(BS, Mohammad,2007)

Penerapan e-hospitaly memang bias memberikan manfaat dalam hal peningkatan kinerja karyawan, efisiensi, efektifitas, keselamatan pasien dan peningkatan layanan masyarakat. Lebih lanjut e-hospitaly bisa dikembangkan untuk menambah kepatuhan dokter terhadap formularium rumah sakit, dengan Medtrack, computer akan memberikan warning jika dokter mengetikan obat yang tidak terdapat dalam formularium. Tentu saja hal ini harus diikuti dengan formularium elektronik (BS, Mohammad,2007)

Yang sangat penting adalah tantangan dalam Aplikasi medis PDA dalam hal memilih perangkat PDA yang tepat, dibutuhkan spesialisasi fungsi dan terintegrasi dengan system informasi rumah sakit (Iswara, 2007).Bates dan Gawande mengidentifikasi 3 faktor penghambat utama dalam penerapan teknologi informasi pada praktek farmasi klinik, yaitu hambatan financial, belum adanya standard an hambatan cultural dimana TI belum dipandang penting para tenaga kesehatan. Resep sukses suatu teknologi informasi untuk dapat meningkatkan mutu layanan kesehatan adalah dukungan cultural dan kesiapan semua pihak dalam organisasi pelayanan kesehatan(Bates & Gawande, 2003)

Pelayanan klinik akan selalu menempatkan pasien-pasien dalam resiko akibat tindakan medis. E-hospitaly berperan untuk meningkatkan kewaspadaan, pengelolaan kompleksitas masalah farmasi klinis dan meningkatkan kepatuhan dalam program pengobatan termasuk formularium rumah sakit.