The Hospital —-

LISA FEBRIANA WALUYO

Angin musim kering bertiup, membawa butrir-butir debu yang terkadang ditumpangi virus,sebuah benda sangat kecil yang membuat manusia, yang katanya makhluk paling sempurna di muka bumi, terkadang terkapar, mengakui kekalahan. Di luar hawa panas tersebar. Namun di sini, di ruang rapat sebuah rumah sakit, semua itu seakan tersembunyi, tertutup pendingin ruangan dan peredam suara. Beberapa orang terlibat pembicaraan serius di dalamnya. Mereka masih sangat berduka atas meninggalnya apoteker mereka. Bukannya belum ada pengganti, bahkan seorang asisten apoteker yang berhasil lulus pun sudah siap menggantikan posisi apoteker yang meninggal. Tapi mereka tidak habis pikir dengan keputusan pemilik rumah sakit yang bersikukuh dengan keinginannya untuk mempekerjakan orang baru. Ya, mereka adalah beberapa orang yang mempunyai kedudukan strategis dalam kepengurusan rumah sakit “Optima Medika”.

“Aku tidak habis pikir dengan keinginan anak muda itu. Viona sudah lulus dari pendidikan profesinya, dan tentu saja dia bisa menggantikan Pak Restu, kenapa tidak pakai dia saja? Toh, Viona juga sudah lama bekerja di sini sebagai AA, pasti dia sudah tahu situasi kerja di sini,” kata Wahyu, dokter sekaligus Wadir Yanmed.

Beberapa orang manggut-manggut. Dr. Sapta, direktur Rumah Sakit menimpali,”Hm… selama ini Rumah Sakit Optima Medika dibawah kepemilikan Almarhum Rahmad Kusumadiharjo, beliau selalu mempercayakan kepengurusan Rumah sakit ini kepada pengurus, tapi tidak begitu dengan putra Pak Rahmad, anak muda itu sepertinya punya visi sendiri.”

“Kita tidak bisa diam saja, Andre memang ahli waris dari Pak Rahmad, tapi dia tidak bisa begitu saja melangkahi pengurus, dia anggap apa kita, patung?” kata dr. Dito, Wadir penunjang medik.

“Bagaimana menurutmu, dr. Arman?” tanya dr. Sapta. Arman adalah seorang dokter sekaligus kepala instalasi ICU-ICCU. Dia adalah orang yang sedari tadi hanya diam. Tidak seperti biasanya, dia memang terkenal vokal.

“Kalau menurut saya, akan lebih baik jika kita memberi kesempatan pada orang baru itu,saya rasa dia pasti punya kemampuan lebih dibandingkan Viona, jika tidak, Andre tidak akan memilihnya, bukan?”

Dito mulai nyinyir, “Andre memilih orang ini, karena orang ini adalah calon istrinya, tidak ada itu hubungannya dengan kemampuan atau apalah kata dia kemarin? Kompetensi ?”

Orang-orang tambah geram, mereka menganggap hal ini adalah nepotisme tingkat tinggi, mereka berlagak seolah-olah mereka masuk rumah sakit ini bukan karena kedekatan mereka dengan Almarhum Rahmad Kusumadiharjo. Kasak-kusuk terdengar memenuhi ruangan,menambah panas suasana, seolah pendingin ruangan itu tiada berarti. Beberapa orang mengusulkan agar dikirimkan note protes kepada pemilik. Dr. Sapta, selaku direktur menenangkan, “Akan sangat sulit merubah keputusan Andre, dia bahkan akan ke sini besok, dan membawa calon istrinya itu.”

“Hah ! kita lihat saja bagaimana rupa wanita itu besok, apakah dia cukup punya keberanian setelah kita tunjukan sikap penolakan,” seloroh Dito.

Mereka seolah tidak sabar menunggu esok. Dan waktu yang dinantikan pun tiba, Andre kini berada di tengah-tengah mereka, namun mereka hanya terdiam. Dr. Sapta memulai pembicaraan,”Maaf, Pak andre, sebagai direktur, saya mewakili rekan-rekan,ingin mengatakan bahwa…

Handphone Andre berbunyi, dengan tangannya, Andre mengisyaratkan supaya dr. Sapta menghentikan pembicaraan dan segera mengangkat handphone. Hanya sebentar saja dia melakukan pembicaraan di telephone. Dia lalu berkata, “Sebentar lagi, orang yang kita tunggu tiba, saya harap kalian bisa bekerja sama dengannya, saya punya tujuan baru untuk rumah sakit ini, sudah lama rumah sakit ini dalam keadaan statis. Hm…, bahkan laporan keuangan kalian negatif.”

“Pak Andre, rumah sakit ini didirikan oleh ayah anda sebagai organisasi nirlaba, anda tidak bisa berkata bahwa kami gagal hanya karena laporan keuangan yang negatif,” jelas Dito. Semua orang menyetujui perkataan Dito. Dito seperti mendapat udara segar dia berusaha menyudutkan Andre, “Lagipula, apa hubungan antara laporan keuangan dengan keputusan penunjukan apoteker yang baru.”

Andre tersenyum, “Jangan ingatkan saya akan berdirinya Rumah Sakit ini, dr. Dito. Tentu saja saya lebih tahu mengenai hal itu daripada Anda, karena sayalah yang menjadi inspirasi ayah dalam pendirian rumah sakit ini.”
Dito ingin mendebat, dengan isyarat wajah, dr. Sapta melarang Dito melakukan hal itu. Situasi tidak memungkinkan, tidak sesuai dengan garis komando.

“Rumah sakit dalam 5 tahun terakhir ini mendapat subsidi silang dari laba bisnis lain PT. Kusumadiharja,tbk. Sebagai ahli waris, saya tidak mengijinkan hal ini terjadi, walaupun bersifat nirlaba, tidak seharusnya rumah sakit merugi seperti ini,” terang Andre,”Dan saya sudah meneliti, bahwa masalah terletak pada manajemen obat. Dalam hal ini saya tidak menyalahkan Almarhum Pak Restu, beliau sudah terlalu tua dengan masalah penyakitnya.”

Arman tunjuk tangan, “Apakah anda yakin bahwa orang yang anda pilih mampu mengatasi keadaan itu?”

“Iya..! kenapa anda tidak memilih Viona?” Wahyu seperti mendapat angin.

“Oh, jadi ini mengenai adik anda, Viona?” Andre tersenyum cerdik. Wahyu tertunduk. Andre melanjutkan argumennya,”Jadi dr. Wahyu menganggap saya memakai Lisa karena dia calon istri saya?”

Dr. Sapta menengahi, “Kami mohon maaf, Pak Andre. Maaf sekali jika kata-kata kami seperti menyudutkan anda, tapi sebenarnya bukan hanya dr. Wahyu saja yang beranggapan demikian.”

Andre tersenyum. Sangat mengherankan dia masih bisa tenang dalam suasana seperti itu.

“Keadaan seperti ini sudah saya duga sebelumnya.” Andre menghela nafas. ‘Baiklah, saya akan menjelaskan, dan mungkin penjelasan saya ini sekaligus sebagai jawaban atas pertanyaan dr. Arman. Saya memakai Lisa karena dia mempunyai latar belakang pendidikan yang sesuai dengan tugas ini. Dia lulusan magister manajemen farmasi rumah sakit. Dan punya pengalaman sebagai apoteker, pengajar maupun asisten apoteker sebelumnya. Jadi dia tidak hanya menguasai teori tapi juga praktek.”

Pintu ruangan diketuk dari luar. Andre mempersilahkan masuk. Seorang wanita dengan setelan blaser hitam memasuki ruangan. Andre menyambut wanita tersebut. Dan dia memperkenalkan wanita itu pada hadirin, “Saudara-saudara sekalian, inilah apoteker kalian yang baru, Lisa Febriana Waluyo”

Sang wanita tersenyum simpul, “Saya adalah apoteker yang baru, semoga kerja sama kita bisa terjalin.”

Andre memperkenalkan satu per satu pengurus rumah sakit kepada Lisa. Beberapa orang masih dengan sikap acuh tak acuh, tapi sebagian mulai menampakkan kerja sama. Saat Andre memperkenalkan antara Armand dan Lisa, keduanya tampak terkejut. Lisa buru-buru menutupi kecanggungan yang terjadi dengan mengulurkan salam, “Senang bertemu anda, dr. Armand.”

Andre mengernyitkan kening. Bukankah seharusnya Lisa berkata, senang berkenalan dengan anda, bukannya senang bertemu dengan anda?

Tampak ragu, Armand membalas jabat tangan Lisa,”Demikian dengan saya, Bu Lisa.”

Kedua tangan itu berjabat erat, sementara masing-masing masih dengan angan yang kembali ke masa silam, bertahun-tahun yang lalu, di sebuah restoran di daerah Manahan, Solo. Saat keduanya bertemu untuk menyelesaikan suatu masalah. Hari itu, tanggal 15 Februari 2008, di saat semua orang berkasih sayang dibawah naungan hari Valentin, di saat setiap pasangan muda-mudi dengan asmara yang meletup-letup, namun tidak demikian dengan sepasang kekasih ini. Bahkan saat Armand menawari Lisa makan, gadis itu sama sekali tidak tertarik. Dia hanya memesan ice lemon tea, ya…hanya itu saja, kemudian dia tertunduk, mendengarkan Armand yang memesan steak hot plate dan jus sehat.

Pembicaraan dimulai saat pelayan mulai meninggalkan mereka. Lisa menatap Armand tajam, akhirnya Armand tertunduk, mata sipit itu terkadang lemah, tapi kadang menusuk juga. Aku tidak boleh lemah, pikir Armand. Ini semua demi ibuku, beliau satu-satunya orang tuaku di dunia ini setelah Ayah meninggal.

“Siapa dulu yang bicara?” tanya Lisa.
“Apakah semua ini harus?” komentar Armand.

“Kita sudah sepakat, dalam pertemuan ini, lima menit pertama, salah satu diantara kita akan bicara, dan tanpa ada interupsi dari pihak lain, dan lima menit berikutnya, pihak lain bicara dan masih tanpa interupsi,” jelas Lisa.

“I think… lady first, Why do you love me?” tanya Armand.
Lisa menghela nafas,”Jadi itu yang ingin kau ketahui dalam lima menit pertama?”
Armand mengangguk.

“Armand Santoso….apakah semuanya belum jelas? Aku jatuh cinta padamu, karena saat pertama kita bertemu, aku merasa kau lah orangnya, kaulah pria yang nantinya aku harapkan mampu membimbingku ke jalan Allah.”

Lisa mengatur nafas,” Jika kau bertemu denganku lima tahun yang lalu, kau tidak akan menjumpai diriku yang sekarang, mungkin kau akan menjumpai seorang gadis dengan gamis dan jilbab lebarnya, gadis yang hanya bisa memendam rapat-rapat perasaannya di depan orang yang dia cintai, sangat bertolak belakang denganku yang sekarang.”

Panas dan pedih menjalar di pelupuk mata Lisa,satu per satu aliran air mata merambat di atas lekuk-lekuk wajahnya,” Tapi diantara perubahanku itu, aku masih menyimpan sebuah prinsip, yang tidak mungkin dan tidak akan pernah aku langgar, aku akan mencintai pria karena Allah, ya, aku mencintaimu, karena aku mencintai Allah, dan aku yakin kau juga mencintai-Nya,ya… aku mencintaimu, karena kau mencintai Allah.”

Tangis Lisa tumpahlah sudah, dia sudah merendahkan harga dirinya sedemikian rupa sebagai wanita, menyatakan semua perasaannya pada pria yang dicintai. Armand terlalu gengsi untuk mengakui bahwa dirinya sangat prihatin. Jika saja situasi tidak seperti ini, mungkin dia sudah memeluk gadis itu, mengatakan bahwa perasaannya sama juga dengan gadis itu. Kalau saja egonya sebagai laki-laki tidak terlalu tinggi, dia ingin menangis bersama Lisa, tapi tidak, ayahnya selalu melarang dia menangis. Anak laki tidak boleh menangis!!!

Lisa membuang nafas, ”And now, its your turn…”

“Dari awal aku sudah bilang, bahwa hubungan ini tidak akan berhasil, ibuku ingin aku beristrikan seorang dokter, dan sebagai anak lelaki satu-satunya, aku ingin memenuhi keinginan beliau.”

Armand menghentikan ucapannya, dia memperhatikan reaksi Lisa. Tampak di depannya Lisa membuang muka. Armand menengguk ludah kering,”Baliau adalah satu-satunya orang tuaku yang masih hidup. Dulu aku pernah jatuh cinta pada seorang bidan, dan saat kuperkenalkan pada ibuku, serta merta beliau menolak, kau bisa bayangkan jika aku memperkenalkanmu. Aku rasa itu alasan logis kenapa hubungan ini tidak berhasil.”

“Semua itu logis bagimu tapi tidak bagiku,” protes Lisa.”Kau selalu bilang kalau kau tidak pernah ingin menyakitiku, tapi pada kenyataannya kau telah melakukannya.”

Lisa memberi penekanan pada kalimatnya yang terakhir. Perasaannya campur aduk, kecewa karena mencintai orang yang salah, pria yang tak berniat memperjuangkannya, membahagiakan seorang ibu? Seorang ibu? Lalu bagaimana dengan perasaannya? Armand anggap apa perasaan Lisa? Lalu kenapa Armand tadi menanyakan kesungguhan cintanya? Hanya untuk bahan olokan? Hanya dianggap sampah yang harus dibuang?

“Lalu bagaimana jika jodohmu bukan seorang dokter?”

Armand diam. Lisa mengulang pertanyaannya. Dia tetap diam….

“Bagaimana jika Allah menghendaki jodohmu bukan seorang dokter?” Lisa mengulangi pertanyaannya untuk ketiga kali.

Armand tampak ragu, tapi dia harus menjawab pertanyaan itu,”Aku tidak tahu.”

Jawaban bodoh! Lisa, kau sungguh cerdas, pertanyaanmu itu memang sulit kujawab, pikirnya.

“Yang aku pikir saat ini adalah aku ingin membahagiakan ibuku, dan mulai saat ini bisakah kita menjadi teman?”

Suasana hening bertahun-tahun yang lalu itu, kini masih terasa saat keduanya berada di dalam lift. Mereka sama-sama terkenang saat itu, walau pun sekarang semuanya telah berubah. Pintu lift terbuka, Lisa keluar dari dalamnya, menuju kantor barunya. Armand terdiam menyaksikan pintu lift yang akhirnya tertutup, menghalangi pandangannya terhadap sosok Lisa, kini yang ada hanyalah besi kosong di depannya, bukan hanya sosoknya, bahkan hati gadis itu pun bukan lagi untuknya

——bersambung—–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s