DOKTER DISPENSING

Dispensing masih menjadi pro dan kontra sampai sekarang. Mereka yang kontra mengganggap dispensing menyebabkan keuntungan ekonomi yang tidak wajar bagi dokter. Tidak hanya dari masyarakat, bahkan kalangan apoteker juga menganggap dokter telah “merebut” lahan mereka.

Di samping pihak yang kontra, tentu masih ada pihak yang berpendapat bahwa dispensing ini adalah suatu bentuk solusi terhadap beberapa masalah yang timbul dalam penyediaan obat. Alasan dokter melakukan praktek dispensing antara lain :

  • Tidak adanya apotek di sekitar praktek dokter tersebut
  • Memastikan pasien mendapat obat yang diresepkan
  • Memastikan pasien mendapat informasi yang tepat.
  • One stop service

Sejak tahun 1240, bidang farmasi dipisahkan secara resmi dari bidang kedokteran dengan dikeluarkannya dekrit oleh raja Jerman Frederick II. Dekrit itu antara lain menyatakan, seorang tabib tidak boleh menguasai tempat penyimpanan obat atau melakukan bentuk eksploitasi apa pun terhadap penderita melalui hubungan bisnis penjualan obat. Pemisahan antara dokter dan apoteker merupakan konsep pengobatan modern yang berlaku saat ini sebagaimana berlaku di berbagai negara di dunia, yakni dokter menulis resep dan apoteker menyiapkan obat serta menyerahkannya pada pasien.

Dispensing berasal dari kata dispense yang dapat berarti menyiapkan, menyerahkan, dan mendistribusikan dalam hal ini adalah obat. Fenomena dokter dispensing sebenarnya bukan hal baru di dunia kesehatan Indonesia. Praktek ini telah berlangsung sedemikian lama dan menjadi kebiasaan. Hal yang tidak disadari oleh pasien bahwa sebenarnya praktek tersebut melanggar hukum jika di lingkungan tersebut terdapat apotek yang dapat dijangkau. Pada masa lalu, praktek ini dapat dimaklumi karena jumlah apotek yang sangat terbatas. Saat ini peraturan yang berlaku menyatakan bahwa praktek dispensing hanya boleh dilakukan pada kondisi yang sangat spesifik misalnya di daerah yang sangat terpencil. Hal ini dicantumkan dalam Undang-undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran pasal 35 ayat (1) huruf i dan j (Anonim, 2004). Berdasarkan PP RI No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, yang termasuk pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional (Anonim, 2009). Dengan adanya PP ini, maka dispensing merupakan salah satu pekerjaan kefarmasian.

Praktek dispensing juga dapat membuka celah bagi oknum dokter untuk memberikan obat tertentu tanpa berdasarkan pertimbangan klinis yang benar karena tidak adanya pengawasan dari pihak ketiga. Kondisi ini makin diperburuk oleh industri farmasi yang menjalin hubungan bisnis dengan sebagian oknum dokter untuk meresepkan suatu jenis obat dengan merek tertentu. Praktek ini seharusnya dihentikan karena praktek dispensing dokter adalah ilegal dan dapat merugikan pasien

Adanya dokter dispensing obat ini merugikan pasien dari segi biaya dan pelayanan. Dari segi biaya menyebabkan harga obat lebih mahal. Jadi sebenarnya paradigma yang menyatakan fenomena dokter dispensing dapat mempermurah harga obat itu merupakan hal yang tidak benar.

Adanya fenomena ini juga menyebabkan pasien kehilangan haknya untuk mendapatkan asuhan kefarmasian. Tanpa adanya asuhan kefarmasian, tidak ada sistem yang mengelola dan memonitor dampak obat secara efektif. Pasien juga kehilangan haknya untuk mendapatkan informasi dan mendapatkan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan asuhan kefarmasian yang berperan dalam pencegahan kesalahgunaan obat (drug misuse), penggunaan obat yang berlebih (drug overuse), penyalahgunaan obat (drug abuse), dan efek-efek obat yang tidak diinginkan.

Praktek dokter dispensing secara nyata menyalahi moral atau etika di dunia farmasi maupun kedokteran itu sendiri. Dengan adanya praktek dokter dispensing tersebut, farmasis tidak dapat melaksanakan tugasnya untuk memberikan asuhan kefarmasian.

Untuk mengatasi fenomena dokter dispensing dibutuhkan suatu pembentukan aturan yang baru untuk mengatur secara jelas terkait batasan tugas dan wewenang tiap-tiap tenaga kesehatan dalam suatu aturan yang khusus dan terperinci, sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang keliru dari berbagai pihak.

Perlu profesionalisme dari apoteker, dalam hal ini apoteker juga diharapkan untuk selalu ada di apotek karena ketidakhadiran apoteker akan terus menjadi alasan bagi dokter untuk tetap melaksanakan dispensing akibat kurang berperannya apoteker di apotek dalam memberikan informasi obat pada pasien. Bagi pihak yang melanggar ketentuan, patut diberi sanksi, berupa sanksi administratif yakni sanksi berupa teguran sampai dengan pencabutan ijin praktek atau usaha.

Perlu kerjasama antara apoteker / farmasis dan dokter, dalam hal ini dokter harus memahami betul bahwa dispensing obat adalah pekerjaan kefarmasian dan yang memiliki kewenangan untuk melakukannya adalah apoteker dibantu tenaga teknis kefarmasian. Dokter harus dengan senang hati dan terbuka mau memberikan informasi yang tepat kepada farmasis jika farmasis bertanya tentang penyakit pasien dan informasi apa yang sebaiknya diberikan kepada pasien mengenai penyakit dan khasiat obat karena satu obat dapat mempunyai khasiat yang bermacam-macam. Apoteker/farmasis juga tidak boleh gengsi atau malu untuk bertanya kepada dokter mengenai penyakit pasien sehingga dapat memberikan informasi yang tepat kepada pasien mengenai penyakit dan khasiat obat.

Perlu penegakan Pharmaceutical Care yang merupakan pemberlakuan segitiga hubungan antara dokter, apoteker dan pasien. Dokter mendiagnosa penyakit pasien, memberikan resep, kemudian apoteker/farmasis memberikan asuhan kefarmasian kepada pasien yaitu memberikan informasi yang tepat mengenai khasiat obat, cara penggunaan obat, hal-hal apa saja yang harus dihindari atau dilakukan oleh pasien terkait dengan pengobatan pasien, mengelola dan memonitor dampak obat secara efektif sehingga dapat mencegah kesalahgunaan obat (drug misuse), penggunaan obat yang berlebih (drug overuse), penyalahgunaan obat (drug abuse), dan efek-efek obat yang tidak diinginkan, serta dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.

Terima kasih buat Vivi, Risha, Dyah, dan Erza yang ikut menyusun report ini sehingga menjadi report yang sangat menyeluruh. Maaf tidak bisa hadir saat menyusunan power point.

12 thoughts on “DOKTER DISPENSING

  1. Saya memberikan beberapa masukan, dng harapan penulis tidak tersinggung.
    1. Apakah peresepan melalui apotik membuat lebih murah keseluruhan biaya pengobatan ?
    Tidak. Trik kerja sama belakang layar ini sudah jauh lebih dalam. Untuk apotik yg “semaunya dewe” dari awal praktek dokter pun sudah dikasih tau, pak-ibu,,, jgn diapotik sana, sering ga cocok obatnya, suka mengganti obat sendiri. Kalau pun disana, saya gak mau tanggung jawab.”

    2. Apakah praktek dispensing membuat biaya pengobatan lebih murah? Tidak juga, TAPI terjangkau. Dimanakah terletak bedanya? Si dokter praktek pribadi ataupun bagian administrasi TIDAK AKAN pernah mau jauh2 menagih hutang dimana belum tentu pasien mampu membayar. Apakah mau mengajak org yang lagi sakit untuk ribut? Tidak mau.

    3. Aspek legalitas obat.

    a. Dalam kasus obat yg mengandung elemen berbahaya, misalkan suatu obat walau masih belum melewati ED (expiry date) namun proses packingnya buruk dan pasien mengalami peradangan, … SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB? apalagi versi pasien?
    Tidak akan mungkin apotekernya. Pasti dijedor dokternya duluan.
    Disitu dokter lebih berpikir, daripada terkena masalah obat dimana dia tidak secara langsung memberikan obat, maka dia yg tetap harus bertanggung-jawab.

    b. Pesan cara pemberian obat, SERINGKALI tidak diberikan penjelasan menyeluruh terhadap pasien. Bisa dibuktikan dng survey berapa banyak pasien masih berpikir untuk menyimpan SEMUA obat di Refrigerator /Lemari Es /Kulkas. Padahal jelas2 packing dari obat menyatakan penyimpanan dalam suhu ruangan 25-30 C.
    Dimanakah peran serta apoteker ? Nol. Sembunyi di ruangan.
    Jika pasien punya trauma dng kejadian alergi obat, adakah apoteker tahu bagaimana memberikan konsultasi terhadap kemungkinan alergi obat?
    Ataukah tepat dosis, tepat sediaan dan tepat jenis? begitu tepat alergennya, tidak ada sedikitpun perlindungan thd pasien.

    c. Peracikan obat.
    Apakah anda menyadari aspek bahaya dari pencampuran obat? Jika 1 jenis obat alergi dan ternyata masuk 1 kantung pulveres, obat manakah yang menyebabkan alergi?
    Maukah pasien mengikuti proses pencarian alergi atau scracth test /prick test? Apakah pasien mau membayar lebih untuk pemeriksaan tersebut?
    Apakah si penulis sendiri menyadari bahwa WHO tidak mengakui proses pencampuran obat layaknya pada anak di Indonesia (negara dng keterbatasan obat dan proses penyimpanannya)?

    4. PELANGGARAN PRAKTEK APOTIK
    Ini yang seru. Berapa sering ada orang masuk ke apotik2 dan langsung bilang, mbak ada obat gatal gak?
    AA (Ass.Apot tapi ga ada sekolahnya) lsng melihat rak dan mencari tulisan “gatal”. Hebat bukan?
    Apakah ini gatal alergi ataupun gatal jamur ataupun scabies,… siapa peduli? Toh ya kortikosteroid di kasih org jamuran pasti tambah gede kadasnya. Atau pernah dngar zalf 3 serangkai ? Benar2 kreatif oknum2 apotik tsb,… mencampur 3 jenis obat (Antibiotik, Kortikosteroid dan Anti-Jamur) buat 3 penyakit dan berharap pasiennya moga2 cocok dng salah satu.
    DISISI TERSEBUT, siapakah yang bertanggung jawab terhadap obat yg dijual langsung oleh apotik ke pasien awam dan menimbulkan alergi?
    Lagi2 dokternya yg ketiban pulung. Sering kedatangan pasien dng “Dok tangan saya jadi jelek begini dan gatal…. saya sudah beli semua obat diapotik, tetapi ga sembuh2” . Jawaban dokter “Lha gimana pak, situ eksperimentasi, tanggung resiko penumpang.”

    5.APOTEKER
    Saya tidak bermaksud mengecilkan hati para apoteker ataupun menginjak2 personalnya. Akan tetapi dng peraturan UU saat ini, apakah fungsi dan kegunaan apoteker sesungguhnya?
    Konsultasi obat? Pernahkan apoteker menangani suatu pengobatan secara holistik?

    • terima kasih masukannya, saya sudah jelaskan panjang lebar ditulisan ini dan tanpa mengejudge siapa pun, dan saya juga tuliskan beberapa solusi yang musti dibenahi di dunia kefarmasian. so… saya berusaha memberikan win win solution, dan masalah harga dan sebagainya itu juga dari riset yang mendalam. oke… take care… hidup farmasis Indonesia!

    • saya tidak bilang apoteker dan dokter harus dipisah, yg dipisah adalah ilmu medis dan ilmu farmasi, karena kedua ilmu itu dipisah, maka apoteker dan dokter harusnya bekerja bersama, seperti yang terjadi di negara maju, dimana setiap dokter selalu didampingi 1 apoteker

  2. Kok yang dipermasalahkan dispensing cuma dokter? Kami berhak dispensing dan ada di undang2. Bagaimana dengan perawat dan bidan yang berpraktek layaknya dokter dan mereka PASTI DISPENSING. Mending berobat ke perawat atau bidan daripada ke dokter cuma dikasih kertas doang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s