THE HOSPITAL

LISA FEBRIANA WALUYO (PART 3)

Hari sudah sangat malam saat Andre mengantarkan Lisa ke rumahnya. Dalam perjalanan sesekali dia melirik calon istrinya itu, perasaannya sangat bahagia karena telah berhasil menyatukan dua wanita yang sangat dia cintai, Ratih dan Lisa. Sementara tangan kanannya mengatur kemudi mobil, tangan kanannya tiba-tiba mencubit pipi Lisa. Lisa terkejut.”Andre, kita sudah bukan ABG lagi.”

“Memangnya salah sedikit berekspresi?” Andre membela diri. “Jujur, aku sangat senang malam ini. Aku senang kau akhirnya bertemu Mama. Apa yang kalian bicarakan sewaktu di rumah kaca?”

“Hm… rahasia,” goda Lisa.

Andre tertawa,”Mama sangat melankolis jika menyangkut rumah kaca, dia pasti bercerita perihal Taj Mahal ala Papa.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Dia selalu menceritakan hal itu pada setiap orang yang diajak ke rumah kaca itu.”

Lisa mengkerlingkan mata. “Jadi sudah ada gadis lain yang diajak Mamamu ke rumah kaca itu?”

Andre kelabakan, “Bukan begitu maksudku.”

“Satu sama,” Lisa tertawa,”Aku masih dendam karena kau menceritakan hal-hal yang tidak benar mengenai Bu Ratih.”

Handphone Lisa berbunyi, rupanya Ayahnya yang menelphone. Sesaat dia terlibat pembicaraan serius dengan orang tuanya itu.

“Salam buat Ayahmu,” Andre mengingatkan.

Lisa menutup telephon setelah menyampaikan salam Andre, dia tampak melamun setelah itu.

“Ada apa?” tanya Andre.

“Tidak ada apa-apa.”

“Ayahmu bilang apa?”

“Dia hanya menanyakan keadaanku.”

“Kau sudah menceritakan padanya tentang rumahmu?”

Lisa mengangguk.

“Sebenarnya aku tidak setuju saat kau memilih rumah itu, letaknya jauh dari kota, aku bisa belikan apartemen bagus di tengah kota.”

Lisa menggeleng, “Aku suka pemandangan di rumah itu, jika pagi tiba, aku bisa melihat matahari yang muncul di tengah-tengah deburan ombak. Dan saat malam seperti ini, jika aku tidak bisa tidur, aku bisa jalan-jalan sebentar menikmati semilir angin pantai.”

“Sebenarnya aku berharap kau bisa tinggal dengan Mamaku.”

Lisa menoleh ke arah Andre,”Pada akhirnya nanti kita akan tinggal bersama, kan?”

Mobil Andre telah memasuki komplek rumah Lisa. “Kau tidak mampir?” tanya Lisa.

Andre menggeleng. Saat Lisa akan membuka pintu mobil. Andre menarik tubuh gadis itu, sesaat tubuh Lisa sudah berada dalam pelukan Andre, “Aku sudah tidak sabar menanti saat itu tiba, saat kau dan aku serta Mama tinggal bersama sebagai keluarga.”

“Aku juga, sayang. Aku juga.”

Andre melepaskan pelukannya.”Dan sekarang, tidurlah. Aku tidak mau calon istriku terlihat kurang tidur di hari pertamanya kerja.”

Lisa tersenyum, dia segera keluar dari mobil. Memberikan lambaian tangan saat mobil Andre melaju meninggalkannya dan segera memasuki rumah.

Ternyata malam ini Lisa tidak bisa tidur. Dia berdiri di depan jendela, memandangi suasana pantai di malam hari, dengan nuansa lembut bulan sabit yang tampak bercermin di perairan. Dia memikirkan percakapan dengan Ayahnya di telephone. Ibu tirinya yang selama ini pergi tanpa pamit dan meninggalkan banyak hutang, ternyata telah kembali. Dan Ayahnya dengan tangan terbuka menerima kembali Ibu tirinya itu. Dia tidak habis pikir dengan sikap Ayahnya itu. Bukankah wanita itu sudah banyak menyusahkan keluarga? Masih tampak jelas bagaimana kehidupan keluarganya dulu saat wanita itu pergi, bagaimana ayahnya yang berusaha berhemat untuk melunasi hutang-hutang yang ditinggalkan wanita itu, dan kini wanita itu datang begitu saja tanpa rasa bersalah?

Ah, dia tidak tahu, mungkin Ayahnya merasa sudah cukup tua untuk menyimpan dendam sehingga memilih untuk memaafkan. Sesaat dia berkhayal, apa yang akan dia lakukan jika berhadapan dengan wanita itu kelak, bisakah dia memaafkannya? Ataukah dia akan menampakan wajah pendendam seperti yang dia tampakan pada orang-orang yang pernah menyakitinya?

Apa untungnya mendendam? Lisa tiba-tiba teringat kalimat itu, kalimat yang selalu diucapkan Armand setiap kali dia curhat mengenai kepergian ibu tirinya. Dulu, Armand yang selalu dijadikan tempat berkeluh kesah. Andaikan saja persahabatan itu tidak terhancurkan oleh asmara, mungkin saja malam ini dia sudah berada di hadapan Armand.

“Tidak, kenapa semuanya serba kebetulan, kenapa wanita itu harus datang bersamaan dengan waktu aku bertemu kembali dengan Armand.”

Lisa duduk di depan meja riasnya. Dilihatnya pantulan wajahnya di cermin,”Andre sangat mencintaiku, dan Armand….”

Lisa menghela nafas,” Dia hanyalah masa lalu.”

———-BERSAMBUNG———–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s