THE HOSPITAL

ARMAND SANTOSO (PART 1)

Armand menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Seperti biasa, badannya serasa penat sehabis praktek, seperti biasa pula sang istri, Anita belum pulang, dipandanginya bantal istrinya itu, dia menghitung sudah setahun perkawinannya bermasalah. Dia bahkan tidak tahu dimana Anita sekarang, mungkin bersama selingkuhannya. Ya, Anita berselingkuh, dia sudah mengetahui hal itu selama setahun, dan mendiamkannya. Hal itu dia lakukan karena ibunya, Rani Santoso. Anita adalah istri yang dipilihkan Ibunya untuknya. Jika dia tidak menjaga perasaan Ibunya, mungkin saja dia sekarang sudah menduda.

Dia mengingat pertemuannya dengan Lisa tadi pagi. Tak disangka Lisa adalah calon istri Andre. Wanita yang pernah dicintai dulu, kini akan berbahagia dengan pria lain, ya… wanita yang dulu dianggap tidak pantas untuk mendampinginya, hingga dia mengarang cerita  konyol tentang Ibunya yang menginginkan menantu dokter. Dia berpikir, mungkin kondisi perkawinan yang tengah dialaminya ini adalah suatu karma. Karma karena membohongi Lisa.

Dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang kerja, ketika melewati kamar Ibunya dia berhenti, dilihatnya lampu kamar sang Ibu sudah padam, sama halnya dengan lampu-lampu lain di seluruh ruangan. Sesampai di ruang kerja, dia duduk dan terlihat mencari sesuatu di laci meja, terselip diantara lembar buku hariannya. Sebuah surat usang yang sudah berkali-kali dibacanya itu kini diselaminya lagi.

Dear Armand,

Aku menulis surat ini untuk berjaga-jaga, kalau-kalau ku tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanku. Kau lihat dua foto ini? Yang berjilbab adalah fotoku lima tahun yang lalu, sedangkan yang lain adalah fotoku dua bulan yang lalu. Kau bisa bayangkan, jika kedua orang dalam foto ini bertemu, mungkin keduanya akan saling bunuh, yang satu akan bilang kepada yang lain bahwa dia terlalu kolot dan sok alim, sedangkan yang lain akan menceramahinya dengan kata-kata agama. Tapi, Armand, dibalik perubahanku itu, ada satu prinsip yang selama ini aku pegang teguh, bahwa aku akan mencintai pria karena cintaku kepada Allah, dan saat pertama kita bertemu, entahlah… aku tak tahu, tapi yang ku tahu, aku mulai jatuh cinta padamu, aku mencintaimu karena aku melihatmu sebagai sosok yang alim yang bisa membimbingku di jalan Allah, ya,,, aku mencintaimu karena Allah.

Armand, kau pasti akan bilang lebih baik kita berteman, tapi untuk saat ini, sulit bagiku untuk mengubah anggapanku yang menginginkanmu lebih dari sebagai teman, menjadi hanya sebagai teman, karena itu, aku mohon beri aku waktu, jika aku sudah bisa menganggapmu sebagai teman, aku akan menghubungimu.

Salamku

Lisa

“Lisa Febriana Waluyo, kau bahkan tidak menghubungi sejak saat itu, mungkinkah kau belum bisa menganggapku sebagai teman?” Armand bertanya-tanya dalam hati.

“Bagaimana kabar keluargamu?” Armand masih bicara sendiri seolah Lisa ada di depannya.”Sebenarnya itulah yang ingin aku tanyakan padamu pagi tadi. Apakah Ayahmu sudah bercerai dengan Ibu tirimu?”

“Aku pengecut, Lisa. Aku egois, harusnya dulu ku mempertahankanmu.”

Armand tersenyum,”Bayangkan jika saja kita berdua menikah, sudah berapakah anak kita sekarang?”

Akhirnya dia tertidur menekuri kertas usang itu. Sang Ibu yang terbangun segera menuju ruang kerjanya saat melihat lampu di ruangan itu masih menyala. Ibu Armand terkejut melihat anaknya tertidur dengan keadaan seperti itu. Didekatinya Armand hingga dia mampu melihat kertas usang yang berada tepat dibawah kepala Armand. Dengan hati-hati dia menarik kertas itu kemudian membaca isinya.

“Lisa?” pikirnya, “Siapa Lisa?”

Dipandanginya wajah Armand. Dia prihatin dengan keadaan putranya saat ini, dia kecewa dengan perkawinan yang dijalani putranya. Kini semuanya telah jelas, perkawinan itu tidak bahagia karena ada dosa masa lalu yang dilakukan putranya. Dosa Armand pad wanita ini. Pada orang yang dalam surat ini tertulis bernama Lisa.

Dia keluar dari ruangan itu karena tak ingin Armand mendengar isakan lirihnya. “Armand, maafkan Ibu, Nak. Jika saja Ibu tidak terlalu menuntut. Ya…, jika saja Ibu tidak terlalu menuntut.”

Rani segera memasuki kamarnya. Pikirannya masih tertuju pada sosok Lisa. Seperti apakah gadis itu? Kenapa Armand tidak pernah bercerita mengenai gadis itu? Dan pikiran itu dibawanya sampai akhirnya dia terbuai mimpi.

—–BERSAMBUNG—–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s