THE HOSPITAL

ARMAND SANTOSO (PART 2)

Malam itu hanya ada Armand dan Ibunya, tanpa Anita. Hingga pagi menjelang, seperti biasanya Armand memulai hari tanpa istrinya. Dia jogging di seputar rumah dan berhenti ketika tubuhnya basah oleh keringat.

Ketika menginjakkan kaki di beranda rumah, dia sempat melihat mobil keluarga Kusumadiharjo meninggalkan pekarangan rumahnya. Siapa yang bertamu sepagi ini? Tanyanya dalam hati. Dilihatnya sang Ibu tengah membereskan gelas bekas menjamu tamu tadi.

“Siapa yang datang?” tanya Armand.

“Bu Ratih,” jawab Rani sembari membawa gelas-gelas itu ke dapur untuk di cuci. “Bu Ratih tadi cerita bahwa  Andre telah membawa calon istrinya ke rumah.”

“Begitukah?” komentar Armand. Dia duduk di meja makan dan menuangkan teh ke dalam cangkir.

“Iya, dia sepertinya sangat bahagia. Hm, sepertinya kita harus bersiap untuk resepsi bersejarah.”

Rani duduk di samping Armand setelah aktifitasnya dengan gelas-gelas kotor selesai.

“Bu Ratih juga bilang bahwa gadis itu sangat formal. Terlalu formal malah.”

Armand menghirup tehnya, “Gadis itu adalah apoteker yang menggantikan Pak Restu.”

“Oh ya?”

Armand mengangguk.

“Jadi staff di rumah sakit sudah mengenal gadis itu?”

“Dia baru kerja sehari.”

“Bagaimana dia? Cantik?” tanya Rani.

Armand mulai melamunkan Lisa, “Iya… Dia cantik.”

“Ah, kenapa Ibu menanyakan itu?”

Armand segera meninggalkan ruangan itu untuk melakukan aktifitas selanjutnya. Semalam dia sudah mengatur agendanya untuk hari ini. Hari ini ada pengobatan gratis di panti jompo sampai pukul duabelas, jam satu siang ada rapat dengan pengurus rumah sakit, dan sore hari praktek pribadi, dan jaga di UGD malam harinya.

Pengobatan gratis di panti jompo pun  berjalan dengan lancar, tingkah konyol para kakek-nenek itu sangat menggelikan. Armand hanya tersenyum simpul saat salah satu dari nenek itu ingin menjodohkan salah satu koas bawahannya dengan cucunya. Beberapa sempat protes saat tape recorder memperdengarkan lagu-lagu tempo dulu, semua staff yang dia bawa agak terkejut saat kakek-nenek itu minta diperdengarkan lagu-lagu yang tengah hit. Akhirnya jadilah ajang dansa antara kakek-nenek itu di ruang tunggu pasien.

Saat tiba giliran Mbah Tardi, salah satu penghuni panti yang terkenal mampu membaca pikiran orang lewat mimik wajah, Armand segera memeriksa keadaan lelaki tua itu. Dia agak kikuk ketika Mbah Tardi terus memandang wajahnya lekat-lekat. Armand sempat heran dengan keadaan Mbah Tardi, setiap kali Armand memeriksanya, setiap kali pula Armand melihat keadaan pria tua itu tidak berubah, tensi yang masih saja 130/85, berat badan yang masih 60 kg, dengan tinggi badan 160 cm, sungguh kondisi yang masih begitu fit.

“Kondisi Mbah bagus,” komentar Armand,”Saya bangga dengan Mbah, saya rasa, saya cukup memberi mbah vitamin saja.”

Armand menyerahkan lembar resepnya. Dia terkejut saat tiba-tiba mbah Tardi menarik tangannya dan mengamati telapak tangannya. Sesaat Armand membiarkan lelaki itu berbuat sekendak hati dengan telapak tangannya hingga akhirnya lelaki itu melepaskan tangannya dan mulai beranjak dari tempat duduk.

“Jangan pernah merebut yang sudah bukan milikmu, dok…. , “  kata Mbah Tardi tiba-tiba. Kening Armand berkerut, apa maksudnya? Mbah Tardi hanya tersenyum.

—-BERSAMBUNG—-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s