THE HOSPITAL

PHARMACIST ON THE DUTY (PART 1)

Matahari sudah meninggi saat Armand melangkahkan kakinya di ruang UGD, rapat pengurus rumah sakit ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan, semua orang bertanya-tanya sebab-musabab hal itu terjadi, dan semuanya menunjuk Lisa, apoteker baru itu sebagai biang keladi.

Lisa mengerahkan seluruh petugas  di instalasi farmasi untuk mengecek segala sediaan farmasi di rumah sakit itu. Dia sudah menyusun semua indikator-indikator yang ingin dia ketahui sebagai bahan evaluasi kinerja instalasinya, dan sebelum hal ini selesai, rapat belum bisa berjalan. Semua warga rumah sakit hanya bisa mendengus saat dia memberikan permohonan penundaan rapat pada direktur dan meminta maaf atas kelambanan kerjanya. Kelambanan kerja?  Bukankah dia baru satu hari kerja di rumah sakit?

Seperti yang kini terlihat di depan mata Armand, para perawat berkasak-kusuk saat Lisa mengecek emergency kit di ruang UGD, perawat Rina berbisik pada rekan kerjanya, “Oh, jadi ini yang namanya Lisa?”

Harmi, perawat yang diajak bicara oleh Rina mengangguk, “Cantik juga.”

“Bukan hanya cantik, nasibnya juga baik, mengingat dia bisa menggaet bos.”

Keduanya tertawa.

“Andai saja aku seumuran dia, apa Pak Andre melirikku?”

“Melirik sih iya, tapi kalau tertarik belum tentu, hehehe!’

Harmi mencubit lengan Rina yang mengejeknya hingga rekan kerjanya itu meringis kesakitan. Kuku Harmi yang panjang membuat lengan Rina berwarna merah.

Armand berdehem saat berada di dekat mereka. Mereka jadi salah tingkah lalu berlalu untuk meneruskan tugas masing-masing. Sekarang tinggal Armand di sisi ruang itu hingga dia bisa dengan jelas melihat apa saja yang diperbuat Lisa. Gadis itu membuka satu persatu emergency kit, entah apa yang dilihatnya dari benda itu karena terlihat sesekali dia menulis di buku catatannya.

Armand berjalan menuju Lisa, setelah tubuhnya berjarak lima puluh centimeter dari gadis itu, Armand menyapa.

“Selamat siang, dokter Armand, “ sapa Lisa balik. Armand agak terkejut mendengar sapaan Lisa barusan. Dokter Armand? Sudah dua kali Lisa memanggilnya lengkap dengan title, beda jauh dengan masa kuliah dulu.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Armand.

“Hanya mengecek seluruh persediaan farmasi di ruangan ini?”

Armand mengangguk-angguk, “Kenapa harus kau lakukan sendiri?”

“Apakah ada petugas lain yang bisa membantu?” tanya Lisa.

“Kau bisa menyuruh stafmu.”

“Sebagian staf mengerjakan tugas ini di unit lain, sebagian lagi mengerjakan tugas pelayanan, aku harus pandai-pandai menyiasati tugas, SDM di instalasi farmasi terbatas, aku bahkan menyuruh staf yang sift sore untuk masuk dan menghitungnya sebagai kerja lembur, lalu kepada siapa aku harus menyuruh lagi?”

Lisa menjelaskan panjang lebar. Armand mulai mengerti. Memang seperti itulah keadaan instalasi farmasi. Dulu, beberapa kali pak Restu memohon untuk penambahan personel, tetapi beberapa kali pula usulan ditolak dan akibatnya instalasi farmasi adalah instalasi yang paling lamban perkembangannya. Armand berpikir akankah ada perubahan pada instalasi itu setelah ada Lisa. Apalagi keberadaan Lisa yang menjadi kontroversi di rumah sakit ini.

“Oke, apakah kau akan terus berdiri di situ?” tanya Lisa membuyarkan lamunan Armand.”Aku harus melanjutkan pekerjaanku.”

Armand tersenyum, dia segera berjalan menjauhi Lisa. Dalam hati dia merasa Lisa sudah sangat berubah. Lisa terlihat lebih tegar, lebih kuat, dia bukanlah gadis rapuh itu, gadis yang selalu mendatanginya dengan mata merah untuk berkeluh-kesah akan keadaan orang tuanya. Dia berpikir sejak kapan Lisa berubah, sejak kejadian di restoran itukah? Atau sejak Lisa bertemu Andre? Ah, dia tidak tahu.

Siang itu agenda Armand terbengkalai, dan akhirnya dia memutuskan untuk membantu UGD yang hari itu memang terlihat sangat sibuk.

Lisa masih berkutat dengan aktivitasnya, sesekali dia melirik Armand yang mulai sibuk dengan pasien UGD. Dalam hati dia mengagumi profesionalitas kerja Armand. Dia ingat, Armand dari dulu terlalu perfeksionis, mungkinkah hal itu yang mempengaruhi profesionalitas kerjanya. Lisa tiba-tiba menggelengkan kepalanya.

“Cukup, Lis. Teruskan pekerjaanmu!” perintah hati kecil Lisa. Dan akhirnya tubuh Lisa menurut, ditelitinya kembali deretan obat-obatan emergency kit didepannya, dihitungnya satu per satu jumlah dari tiap item obat, diperiksa tanggal kadaluarsa yang tercantum dalam tiap kemasan obat itu. Obat yang sudah kadaluarsa dia sendirikan, dimasukkan ke dalam plastic dan diberi etiket dari ruangan mana obat itu berasal. Hal itu nantinya digunakan untuk segera mengganti sediaan yang kadaluarsa atau habis. Obat emergency kit tidak boleh kosong, pikirnya dalam hati.

Dia mengkontak bagian gudang untuk membacakan obat-obatan dari UGD yang rusak, ED mau pun habis, bagian gudang menerangkan sediaan obat-obatan yang disebutkan masih ada, tetapi tidak ada orang yang bisa disuruh untuk mengantarkan obat-obatan tersebut karena semua orang sibuk dengan tugas yang Lisa berikan.  Lisa mulai geram,”Suruh tukang sapu untuk segera mengantarkannya kemari!”

Lisa berteriak, semua orang di ruang UGD menoleh ke arahnya, tak terkecuali Armand dan Lisa mulai berbuat seolah tidak terjadi apa-apa. Dia melanjutkan pekerjaannya. Kali ini mengecek tiap-tiap tabung gas di ruangan itu. Semua orang yang pada mulanya menoleh kepadanya sekarang mulai kembali ke aktivitas semula.

Kenapa aku berbuat begitu? Apa tepat keputusanku menyuruh tukang sapu untuk mengantarkan persediaan ke UGD? Bagaimana jika ada obat yang memang memerlukan perlakuan khusus saat penghantaran?Apakah tukang sapu tahu akan hal itu?

Lisa mulai was-was. Akhirnya dia mengalah, dilangkahkan kakinya meninggalkan UGD dan menuju ke gudang.

—BERSAMBUNG—

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s