THE HOSPITAL

Pharmacist on The Duty (Part 2)

Kesibukan para staf di instalasi farmasi tersebut berakhir jam 12 malam, alhasil semua orang bekerja masing-masing 2 sift pada hari itu. Lisa melihat para stafnya yang kelelahan mulai membuka box makanan yang sengaja dia pesan untuk mereka pada malam itu. Di gudang terlihat mereka bercengkrama, sambil mengangkat gelasnya, Lisa mengumumkan sesuatu,”Saya berterimakasih atas kerjasamanya. Percayalah, semua ini kita lakukan untuk kemajuan instalasi kita. Data inilah yang nantinya dijadikan evaluasi kinerja kita selama ini.”

“Kinerja kita? Bukankah kau seharusnya menyebut itu kinerja kami? Mengingat anda baru satu hari kerja di sini,” salah seorang asisten apoteker protes. Viona yang mendengar hal tersebut mengulum senyum. Dalam hati dia menunggu apa yang akan dikatakan oleh Lisa menanggapi protes Ridwan, asisten apoteker itu.

Lisa menghela nafas,”Ya, kau betul, seharusnya aku menyebut ini sebagai kinerja kalian. Ya, kau betul, aku memang baru sehari kerja di sini, lalu kenapa? Apakah waktu sehari itu tidak begitu berharga untuk dianggap kinerja?”

Ridwan kebingungan dengan ungkapan Lisa. Tapi yang lainnya tidak perduli, mau dianggap kinerja kek, enggak kek, yang penting kesibukan hari ini telah rampung. Mereka pun sangat senang Lisa mau berbaik hati memesankan menu makanan yang enak-enak. Itu menandakan kemurahhatian kepala instalasi farmasi yang baru itu.

Lisa memandang ke arah Viona. Viona yang merasa diperhatikan jadi salah tingkah, lebih-lebih ketika Lisa mendekatinya. Sambil tersenyaum, Lisa mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, mau tak mau viona harus membalas jabat tangan itu.

“Bisa kita bicara di ruanganku sebentar?” pinta Lisa.

Viona terdiam. Dia hanya menurut saat Lisa merangkulnya untuk memasuki ruang kerja Lisa.

“Silahkan duduk,” pinta Lisa pada Viona ketika mereka telah memasuki ruangan kerja Lisa.

Viona menurut, sementara Lisa mulai menduduki kursi kerjanya. Kursi itu, kursi yang selama bertahun-tahun di duduki oleh Pak Restu sebagai kepala instalasi farmasi, dan kini seorang apoteker baru memimpin, berusaha menilai segala hal dalam instalasi ini, apakah ini masuk akal? Seseorang yang benar-benar asing merasa tahu betul akan instalasi ini. Viona sibuk dengan pikiran itu.

Lisa mulai bicara, “Viona, hanya kau dan aku apoteker di instalasi ini, karena itu aku sangat mengharapkan kerja sama darimu.”

Lisa tersenyum,”Aku tidak tahu apa yang dikatakan kakakmu, Wahyu padamu.”

Viona terkejut. Dari mana Lisa tahu tentang kakaknya itu yang menjanjikan kedudukan pak Restu padanya.

“Dan aku juga tidak tahu yang dijanjikan Dito padamu, tapi aku mohon kerja samamu untuk memajukan instalasi ini, bukankah teman sejawat adalah saudara kandung?”

Lisa tersenyum. Viona membalas senyum itu walau sedikit terdapat gurat paksaan di senyumannya.

“Nah, sekarang kau boleh pulang, aku tahu kau lelah,”kata Lisa.

—BERSAMBUNG—

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s