MANUSIA BIASA

Ku lihat dia tetap di sana, berdiri tegak menatap langit seakan menantang mentari hingga terbersit pertanyaan di hatiku, “Adakah cinta menyapa hidup?”

Adakah kasih mengisi hati, menjalar di relung-relung kalbu, memenuhi kisi-kisi tubuhnya. Ataukah hati itu telah membatu hingga tiada satu pun cinta mampu menyentuh. Atau telah hancur. Remuk!

Dingin segala pandangan dan sikapnya, seakan ada suatu dendam, seakan ingin meremukkan keadaan. Kosong, hampa.

Dia tetap di sana, berdiri dengan tangan mengepal hingga kegundahan menyapa. Tak elak kesombongan lari darinya dan tinggallah puing-puing kekalahan.

Saat tersadar, ku lihat mata itu berair. jatuh! tersungkur ke bumi.

Ku helakan nafas, berusaha memahami namun tak jua ku mengerti,”Apakah itu karma baginya atau buah dari tirani?”

Tidak! Ku coba menghempas tuduhan itu. Aku tak berhak menghakimi atau pun memaki.

Belum puas otak berpikir, ku lihat dia berdiri kembali. Tegak menatap langit seakan menantang mentari, berusaha tegar hadapi hari walau keadan tak seperti dulu lagi.

2 thoughts on “MANUSIA BIASA

  1. Sebuah puisi atau renungan yang bagus dan dalem. Betul, tak perlulah kita menghakimi apalagi memaki. Lebih baik lagi kalau kita berdoa untuknya. Oke, salam kenal dan selamat berkarya.

    Akhmad Muhaimin Azzet.

    • iya, benar ni puisi ku buat untuk kakak tingkatku yang sombong banget, tapi akhire dia sadar juga sih, dan sadarnya itu sepele yaitu karena dia sakit demam berdarah, hehehe, makasih ya sarannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s