THE HOSPITAL

3. Pharmacist on the Duty (Part 3)

Lisa memandang ke arah Viona. Viona yang merasa diperhatikan jadi salah tingkah, lebih-lebih ketika Lisa mendekatinya. Sambil tersenyaum, Lisa mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, mau tak mau viona harus membalas jabat tangan itu.

“Bisa kita bicara di ruanganku sebentar?” pinta Lisa.

Viona terdiam. Dia hanya menurut saat Lisa merangkulnya untuk memasuki ruang kerja Lisa.

“Silahkan duduk,” pinta Lisa pada Viona ketika mereka telah memasuki ruangan kerja Lisa.

Viona menurut, sementara Lisa mulai menduduki kursi kerjanya. Kursi itu, kursi yang selama bertahun-tahun di duduki oleh Pak Restu sebagai kepala instalasi farmasi, dan kini seorang apoteker baru memimpin, berusaha menilai segala hal dalam instalasi ini, apakah ini masuk akal? Seseorang yang benar-benar asing merasa tahu betul akan instalasi ini. Viona sibuk dengan pikiran itu.

Lisa mulai bicara, “Viona, hanya kau dan aku apoteker di instalasi ini, karena itu aku sangat mengharapkan kerja sama darimu.”

Lisa tersenyum,”Aku tidak tahu apa yang dikatakan kakakmu, Wahyu padamu.”

Viona terkejut. Dari mana Lisa tahu tentang kakaknya itu yang menjanjikan kedudukan pak Restu padanya.

“Dan aku juga tidak tahu yang dijanjikan Dito padamu, tapi aku mohon kerja samamu untuk memajukan instalasi ini, bukankah teman sejawat adalah saudara kandung?”

Lisa tersenyum. Viona membalas senyum itu walau sedikit terdapat gurat paksaan di senyumannya.

“Nah, sekarang kau boleh pulang, aku tahu kau lelah,”kata Lisa.

Viona pun meminta diri. Kini tinggal Lisa di ruangan itu menatap bertumpuk kertas hasil kerja seharian tadi. Lisa mulai membuka satu persatu.

Sample counting, ketidaksesuaian jumlah sediaan antara kartu stok dan computer 45%, ketidakcocokan antara kartu stok dan jumlah sediaan fisik 25%. Di sini, Lisa mulai menghela nafas. Dia memijit-mijit tengkuknya yang sedari tadi tegang. Dia melanjutkan lagi. Menelusuri lembar demi lembar kertas di atas mejanya itu. Yang terlihat adalah angka-angka yang menampilkan kekecewaan yang mendalam, angka yang menunjukan tidak bekerjanya system atau memang bekerjanya system yang salah.

Ketersediaan obat 70%, disini Lisa mulai mengkerutkan dahi. Dia terlalu serius menekuri kertas-kertas itu. Dia terkejut saat HPnya tiba-tiba berbunyi dan membuat ruangan yang hening itu berisik sejenak. “My luoy” tertulis di layar HP-nya, ternyata Andre yang menelpon.

“Kau dimana?” tanya Andre di ujung telephone.

“Masih di kantor,” jawab Lisa dengan suara serak.

“Apa? Kok masih di kantor? Kalau begitu aku akan menjemputmu.”

Belum sempat Lisa membalas. Andre sudah menutup telephone. Lisa mendengus, “Kebiasaan yang tidak baik,” umpatnya. Dia meneruskan pekerjaannya.

Seperempat jam kemudian Andre memasuki ruangan itu dan protes karena kesibukan Lisa.

“Kau adalah pegawai di sini, bukannya pekerja rodi,” protes Andre.

“Aku tidak merasa kalau aku kerja rodi,” jawab Lisa.

“Bekerja dari jam delapan pagi sampai jam dua dini hari, kau anggap ini bukan kerja rodi?”

“Bukankah ini rumah sakit keluargamu?”

“Ya.”

“Seharusnya kau senang aku melakukan semua ini.”

Andre mengibaskan tangannya.

“Sudah, tidak usah banyak protes, ayo pulang!” perintah Andre.

Lisa memunguti kertas-kertas di atas mejanya untuk dibawa pulang. Dia menurut saat Andre menggandeng tangannya atau lebih tepat dianggap menarik tangannya untuk segera keluar dari ruang kerja itu.

Sesampainya di pelataran parkir, mereka berpapasan dengan Armand yang kebetulan akan tugas shift malam di UGD. Armand menghentikan langkahnya demi memperhatikan pasangan itu.

“Pagi, Armand,” sapa Andre masih dalam posisi menarik  tangan Lisa.

“Pagi,” jawab Armand.

Rupanya Andre sedang tidak ingin memperlama basa-basi itu. Dia segera menuju mobilnya yang terparkir berdekatan dengan mobil Armand dan Armand masih saja memperhatikan tingkah keduanya.  Andre masuk ke dalam mobil saat Lisa sudah memasuki mobil. Beberapa menit kemudian, mobil itu sudah berlalu dari area parkir. Armand masih saja berdiri mematung. Dia berpikir apa yang terjadi sehingga Andre sepertinya menyeret Lisa seperti itu. Dan akhirnya ditanggalkannya pikiran itu demi memasuki tugas yang sebenarnya telah memanggil 2 jam yang lalu.

————————————————————————–

Waktu sudah menunjukan pukul 02.30 wib, saat Andre menghentikan mobilnya yang telah memasuki pekarangan rumah Lisa. Lisa yang kelelahan tertidur di sampingnya. Sesaat Andre memperhatikan Lisa, ditepuknya pipi Lisa dengan lembut. Lisa  terbangun.

“Sudah sampai,” ujar Andre.

“Sudah sampai, ya?” tanya Lisa. Saat Lisa hendak turun dari mobil, Andre berkata,” Besok pagi aku ke Batam.”  Kalimat Andre membuat Lisa mengurungkan niat membuka pintu mobil. Dia menoleh ke arah Andre

“Ada bisnis di sana,” lanjut Andre. Lisa hanya mempertajam pandangan.

“Kami akan mengakuisisi salah satu perusahaan di sana,” kata Andre kemudian, “Cuma perusahaan kecil yang akan bangkrut.”

Lisa menghela nafas, “Kata akuisisi adalah kata yang paling tidak kusukai.”

Andre terkekeh, “Lalu kata apa yang kau sukai?”

Lisa menjawab cepat, “ Aliansi strategik dan merger.”

Andre terkekeh. Lisa memajukan bibirnya.

“Berapa lama kau di Batam?”

“Cuma dua hari.”

Lisa mengangguk-angguk.

“Ah, sudah sana masuk, wajahmu kelihatan mupeng jika kau kelelahan,” perintah Andre. Lisa tertegun. Mupeng? Masa? Lisa mengelus-elus pipinya sendiri sembari keluar dari mobil. Dia melambaikan tangan saat mobil Andre mulai meninggalkan pekarangan rumahnya.

Di dalam rumah. Lisa tidak langsung tidur, dia masih saja menjereng tumpukan kertas yang dibawanya dari kantor tadi. Dia mencoba menganalisa berdasar Managing Drug Supply. Dia telusuri kegagalan demi kegagalan dari tahap seleksi sampai use dan terkejut betapa banyak kegagalan yang terjadi selama bertahun-tahun. Mulai PFT yang kurang aktif sampai distribusi yang awut-awutan, belum lagi ketika Lisa mulai memasuki managing support. Mata Lisa yang tadinya mengantuk mulai terbelalak, rumah sakit tipe C dengan 250 tempat tidur hanya di cover oleh 2 orang apoteker yaitu dia dan Viona, dia membayangkan bagaimana sibuknya Pak Restu dulu, apalagi waktu itu Viona masih sebagai asisten apoteker, belum lulus pendidikan profesi.

Kepala Lisa jadi semakin berat. Apalagi saat dia membaca laporan keuangan instalasi farmasi, Quick Ratio cuma 0,5. Lisa menghitung lagi, nilai perputaran persediaan cuma empat kali per tahun? Mata Lisa semakin terbelalak, dia menghitung rata-rata distributor mengharapkan pelunasan sebulan sekali, mungkin ini sebabnya instalasi terlalu banyak hutang. Lama-lama kepalanya semakin berat dan akhirnya tertidur dengan menelungkupkan kepalanya di atas kertas-kertas itu.

—–BERSAMBUNG——

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s