THE HOSPITAL

3. Pharmacist on the Duty (part 5)

Ibu dan anak itu kini dalam perjalanan pulang. Rani masih saja kepikiran tentang Lisa. Sesekali dia melirik anaknya yang serius mengemudi di sampingnya. Dia tidak enak hati untuk menanyakan tentang Lisa pada Armand, tapi di sisi lain rasa penasaran meluap. “Jadi gadis dalam surat itu adalah dia?” tanya Rani setelah dia mengumpulkan keberanian.

“Apa?” Armand ternyata kurang mendengar ucapan ibunya.

“Aku membaca surat itu, nama Lisa ada di sana,” lanjut Rani.”Apa gadis itu adalah dia?”

Armand menghela nafas. Dia tidak mungkin lagi menanyakan dari Rani tahu tentang surat itu mungkin kecerobohannya yang membuat semua ini terjadi. Dia berpikir apakah harus berbohong tapi melihat kejadian yang menimpa Ibunya pagi ini dia menjadi tidak tega. Dengan lunglai dia menjawab, “Iya.”

Rani tersenyum. “Dia wanita yang baik, kenapa kau menolaknya.”

Armand terkejut dengan pertanyaan Rani. Dia agak malas dengan percakapan ini tapi dia tahu betul siapa Rani. Dia tidak bisa berkelit.”Kami hanya bersahabat.”

Mobil itu masih berjalan mulus. Saat mobil terhenti karena lampu merah, rani bertanya lagi,”Apakah kau tidak pernah tertarik padanya?”

“Dulu aku sempat tertarik padanya tapi saat dia terkesan cuek dan tidak membalasku, aku segera menepis harapan itu.”

“Lalu dengan surat itu?”

“Saat aku sudah bersikukuh dengan kesimpulanku dan diam-diam sudah jalan dengan orang lain, dia menyatakan cintanya. Tentu saja aku menolak, aku tidak mungkin menyakiti pacarku.”

“Bagaimana kau menolaknya?”

Armand memandang ke arah Ibunya, lampu merah itu masih menyala. “Aku mengatakan padanya bahwa Ibu ingin mempunyai menantu seorang dokter.”

“Apa?” Rani menjerit. Lampu hijau menyala. Klakson demi klakson semakin bersahutan. Hiruk pikuk menyambut seiring merambatnya semua kendaraan di situ untuk melanjutkan perjalanan, termasuk mobil Armand.

“Bagaimana bisa? Kau tahu Ibu tidak pernah mengharapkan itu?”

“Maafkan aku, Bu. Hanya itu satu-satunya yang muncul di otakku sebagai alasan menolaknya. Hal itu tidak mungkin menyakitinya.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Ibunya meninggal saat dia berusia delapan belas tahun, saat dia menerima alasan itu, dia bisa mengerti, dia berpikir kalau aku memang akan membahagiakan seorang ibu.”

Rani menyandarkan tubuhnya, kini pandangannya tertuju ke jalanan dan suasana lalu lintas yang semrawut. Pikirannya juga semrawut, dia mengira-ira apa yang akan Lisa pikirkan tentang dirinya, seorang wanita picik yang memaksakan kehendak pada putranya. Baru beberapa jam yang lalu dia mengagumi kesopanan Lisa, baru sebentar saja dia berkhayal andai saja gadis itu adalah menantunya. Tapi sekarang? Dia tidak tahu lagi sekarang, sementara bayang-bayang Anita yang cuek dan selalu menyakiti putranya muncul di benaknya. Itukah yang sepantasnya kuterima? Itukah?

“Surat itu? Kau sama sekali belum menjelaskan surat itu?”

“Saat kami bertemu untuk menjelaskan semuanya. Dia memberikan surat itu.”

Rani teringat kalimat terakhir dalam surat itu, “Dalam surat itu, dia menulis kalau dia akan menghubungimu jika sudah bisa menganggapmu sebagai teman, apakah dia menghubungimu setelah itu?”

“Tidak! Bisa dibilang itu pertemuan kami yang terakhir.”

Rani tersenyum lebar. Itu berarti…. “Dia masih belum bisa menganggapmu sebagai teman, kau harus yakin itu, Armand. Kau harus mendekatinya sekarang, harus!” Rani berteriak kegirangan.

Armand mendadak menghentikan mobil. Tubuh keduanya sontak tertarik ke depan. Untung saja dia melakukan itu saat mobil sudah mulai memasuki komplek perumahan yang sepi. Rani tidak habis pikir dengan ulah Armand, dia sudah cukup syok dengan kejadian hampir tertabrak mobil tadi pagi.

Armand menoleh ke arahnya, “Dengar Ibu, aku tidak mungkin melakukan itu karena dia CALON ISTRI ANDRE!” Armand berteriak dan berusaha menekankan pada kalimat,calon istri Andre.

Rani terperangah. Armand kembali menjalankan mobilnya. “Seharusnya Ibu mengetahui semua itu, bukankah Nyonya Ratih selalu bercerita tentangnya di depan Ibu?”

“Dia tidak pernah bercerita kalau nama calon Andre adalah Lisa,” Rani berbisik. Hancur sudah harapannya. Ah, kenapa aku begitu malang di hari tuaku ini. Anak satu-satunya gagal beerumah tangga, dan sekarang…. . Andai saja Armand dulu….ya, andai saja…

—————————————

Kesibukan di instalasi farmasi berlanjut, Lisa memutuskan untuk membenahi lay out gudang farmasi. Dia memerintahkan petugas gudang menata kembali rak-rak dengan posisi yang sudah dia rancang sebelumnya, dia memutuskan pintu barang masuk dan pintu barang keluar harus berbeda, dan karena ada dua pintu di gudang , dia memutuskan alur barang adalah alur U.

Ridwan sangat semangat dengan kegiatan hari ini, sangat aneh mengingat semalam dia yang paling keras memprotes Lisa. Dia memperhatikan sekali saat Lisa menjelaskan desain rancangan lay out gudang yang baru. “Akan sangat sulit jika kita tetap memasukkan dan mengeluarkan barang pada sisi rak yang sama,”  kata Ridwan.

“Lalu?” tanya Lisa.

“Kita harus membuat agar barang di masukkan di satu sisi rak dan dikeluarkan dari sisinya  yang lain.”

“Bisakah kita melakukannya?”

“Tentu saja bisa, Bu!”

“Ha, untuk hal ini kuserahkan padamu.”

“Beres, aku sudah memikirkannya sejak lama,” tegas Ridwan sambil mengacungkan jempolnya lalu segera bergabung dengan kesibukan itu.

Lisa mengecek ke semua persediaan ruang, rupanya di situ semuanya telah beres, para stafnya sudah membereskan sembari mengeceknya kemarin dan sekarang dia melangkah ke pelayanan. System distribusi terpaksa masih menganut individual prescribing dan ward flourstock, sementara system unit dose dispensing masih belum bisa dilaksanakan karena keterbatasan SDM. Di unit rawat jalan, Lisa dan Viona melakukan konseling, Viona cukup tahu pasien mana yang membutuhkan konseling, tentu saja Karena sekarang dia adalah apoteker, bukan seorang asisten lagi. Mereka melakukan itu dengan sabar, beberapa pasien memerlukan perhatian lebih mengingat penyakit atau obat yang harus diminum, tak heran jika terkadang mereka malah takut saat Lisa menjelaskan panjang lebar, seperti pasien yang berada di depan Lisa saat ini misalnya, seorang lelaki berusia enam puluh tahun dengan tekanan darah dan kolesterol tinggi yang mengharuskan dia control setiap kali obatnya habis,”Nak, apa penyakit saya ini sudah tambah parah sehingga harus masuk ruangan ini lagi,” tanyanya setelah menerima penjelasan dari Lisa tentang obat dan penyakitnya.

Lelaki itu memandang sekeliling, memang dia harus memasuki ruang KIE untuk menerima konsultasi. Lisa tersenyum,”Justru agar keadaan Bapak tetap stabil, Bapak harus  berada di ruangan ini.”

“Bagaimana, Pak. Bisa di ulangi apa yang saya terangkan tadi?”

“Eee…

“Saya akan membimbing satu persatu.”

“Baiklah, Obat yang kecil-kecil ini, Lisinopril,” pasien terlihat mengeja nama obat dalam kemasan.”Diminum dua kali sehari?”

“Ya, pagi dan sore. Sebelum atau sesudah makan, Pak?”

“Sebelum makan?” tanya pasien lagi karena dia tidak yakin.

“Sesudah makan,” kata Lisa membenarkan, “Terus, obat yang kedua bagaimana?”

“Diminum tiap malam 1 tablet?” jawab pasien.

“Yup! Dan apa yang harus bapak hindari waktu mengkonsumsi obat ini?” tanya Lisa lagi.

“Jus grapefruit?” jawab pasien.

Senyum Lisa mengembang, “Bapak betul sekali. Agar bapak tidak lupa, saya telah menuliskan semuanya di kertas ini,” lanjut Lisa sambil menyodorkan kertas itu pada pasien.

“Memang,sih.. di etiket sudah ada aturan pakainya, tapi di kertas ini lebih lengkap,” ujar pasien setelah membaca resep itu,”Jadi saya harus segera kontrol jika obat mulai habis?”

Lisa mengangguk sembari tersenyum.

“Yah, beginilah tubuh tua, Nak,” sang Bapak terkekeh. Mereka tertawa bersama. Pasien segera undur diri. “Kertasnya jangan sampai hilang ya, Pak.”

Lisa menunggu di ruangan itu beberapa saat, setelah diyakini tidak ada lagi pasien yang butuh KIE, dia keluar dari ruangan itu. Terdengar Viona masih melakukan konsultasi di ruang KIE-nya. Sepintas Lisa mencuri dengar.

“Oalah, Mbak. Wong sudah ada tulisan di obatnya kok, masa mbaknya mbacakan lagi, lagian saya harus masuk ruangan ini. Mbok ya sudah saya langsung pulang saja, ntar saya juga bisa mbaca di rumah,” ucap pasien dengan logat medoknya. Lisa menahan senyum saat mendengarnya, dia mengira-ira mungkin pasien ini berasal dari Jawa tengah tapi sepertinya ada yang salah dengan apa yang dilakukan Viona, kalau tidak, pasien tidak mungkin keluar dengan kesal seperti ini. Lisa segera mengejar pasien itu.

“Sugeng siang, Bu,” sapa Lisa setelah di depan pasien itu.

“Sugeng siang,” jawab Pasien itu.

“Pangapunten kulo ngganggu.”

“Ah, mboten nopo-nopo.”

“Monggo lenggahan wonten ruangan kulo,” ajak Lisa sambil menggandeng sang Ibu. Anehnya Ibu itu menurut, tidak marah-marah seperti waktu di depan Viona. Viona yang sudah keluar ruangan terkejut  saat pasien itu kembali memasuki ruang KIE. Lisa memberi  isyarat padanya agar ikut masuk. Kini di ruangan itu ada tiga orang, Lisa, Viona dan sang pasien.

“Nyuwun sewu, saged kulo ngertos obat panjenengan?” pinta Lisa.

“Oh, niki niki,” jawab sang pasien sambil menyodorkan obat di hadapan Lisa. Lisa memeriksa obat itu. Paket Obat TBC yang memang harus diminum sang Ibu dan tidak boleh terlambat.

“Meniko Obat TBC, Ibu kedah rutin ngunjuk obat niki ngantos telas, ampun kesupen,” Lisa menjelaskan. Viona terbengong, bahasa Jawa? Mana bisa, dia? Dia memang orang Jawa, tapi untuk bicara dengan menggunakan Bahasa jawa sehalus itu, dia tidak bisa. Dia hanya bisa mencerna percakapan mereka sedikit-sedikit. Pasien mangguk-mangguk mendengar penjelasan Lisa.

“Sak derengipun obat telas, Ibu kedah kontrol melih, dados ampun ngantos ketelasen obat,” lanjut Lisa.  Viona agak geli mendengar kata-kata Lisa, seperti melihat adegan ketoprak.

“La ono opo to,Nak?”

“Amargi pengobatan TBC meniko kedah tuntas, ampun telat ngunjuk obat, umpami telat, kedah ngulang dosis awal malih, kan malah eman-eman, sejatinipun sampun wantun kok malah kedah ngulang.”

“Oalah, ngono, to?”

“Inggih, mangke umpami obate kinten-kinten kalih dinten malih bade telas, Ibu kedah kontrol maleh kagem njagani obat ampun ngantos telas sak derengipun control,” lanjut Lisa. Sang pasien masih saja manggut-manggut. “Putranipun diaturi ngawasi ngunjuk obat, nggih Bu,” Lisa agak ragu dengan kata kerja dalam kalimat terakhirnya, yang benar diaturi apa didawuhi, ya?

Ibu di depannya itu masih saja manggut-manggut.

Lisa melanjutkan konselingnya,”Mangke sak umpaminipun ketoyan, ampun kaget, amargi wonten obat engkang marakaken ketoyanipun abrit.”

“Hah, ning kan ora popo, to?”

“Mboten nopo-nopo, niku namung efek samping obat mawon,” jawab Lisa. “Obate diteruske mawon, sampun ngertos aturanipun, nggih?”

“Iyo, sedino ping siji kabeh, la iki ono tulisane,” jawab sang pasien.

Percakapan ala ketoprak itu berakhir setelah pasien undur diri. Lisa menghempaskan diri di kursinya. Viona yang masih di ruangan itu memperhatikannya.

“Memang pasti ada kendala bahasa,” ujar Lisa.

“Ibu sangat fasih berbahasa Jawa,” puji Viona.

“Aku tadi ragu-ragu untuk menggunakan bahasa Jawa tapi aku berpikir itulah satu-satunya cara untuk bisa membawanya ke ruang konsultasi lagi.”

“Maafkan saya, Bu. Mungkin kerja saya kurang baik sehingga pasien merasa tidak senang.”

“Bukan begitu, Viona. Konseling memang perlu jam terbang yang tinggi, kau harus bisa memahami perasaan pasien di depan kita, tapi juga harus menyampaikan semua informasi yang perlu diketahui oleh pasien kita, itulah yang sulit, menyampaikan informasi sambil memperhatikan perasaannya.”

“Saya memang harus banyak belajar,” janji Viona pada dirinya sendiri. Lisa tersenyum.

“Oh ya, Viona kau ada acara malam ini?”

“Tidak.”

“Kalau tidak ada acara, kau harus ke rumahku malam ini untuk membicarakan langkah kita selanjutnya.”

“Langkah kita?” tanya Viona.

“Iya, langkah kita bagi instalasi farmasi rumah sakit ini.”

Viona mengangguk. Lisa lega. Dia melihat arlojinya,” Waktunya makan siang. Kau makan siang, Viona?”

“Ibu duluan saja, saya masih ada hal yang musti saya kerjakan.”

“Baiklah,” Lisa berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Viona menghantarkan bosnya itu sampai pintu ruangan. Viona mulai salut pada Lisa. Ternyata Lisa tidak seperti yang dikatakan Dito dan Iwan selama ini. Lisa benar-benar bekerja di rumah sakit ini. Tiba-tiba Viona teringat pak Restu, pria tua itu seakan hadir lagi didepannya. Kau lihat, Pak Restu, sepertinya perubahan besar akan terjadi di instalasi

—–BERSAMBUNG—–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s