THE HOSPITAL

3. Pharmacist on the Duty (part 6)

Lisa menghirup nafas panjang, direntangkannya kedua tangannya untuk membantu memenuhi paru-parunya dengan udara, lalu ditelungkupkannya lagi seiring dengan keluarnya udara itu dari hidung mungilnya. Kini dia tengah berada di lantai teratas  dari gedung rumah sakit, atau bisa di bilang atap beton rumah sakit. Andre  yang menunjukkan tempat ini  di hari pertamanya bekerja di rumah sakit. Ya, setelah rapat perkenalannya dengan para petinggi rumah sakit itu.

“Kau tahu, ini adalah tempat favoritku sejak kecil,” kata Andre pada waktu itu.

“Oh ya? Sudah berapa cewek yang kau ajak kemari?”  Lisa yang kini berdiri di sampingnya menanggapi.  Andre menoleh ke arahnya, “Kau sama sekali tidak romantis dengan menanyakan masalah itu sekarang,” omelnya.

Lisa cekikikan,” Oh, jadi kau bermaksud romantis.”

Andre merekuh tubuh Lisa, kini dia memeluk Lisa dari belakang dengan dagu menempel di pundak tunangannya itu. Ya, sama seperti sebelum-sebelumnya, hanya pelukan, ciuman di kening dan di pipi, tak kurang dan tak lebih dari itu.

“Setiap kali aku bercerita tentang masa kecilku, kau harus menganggapnya romantis,”perintah Andre. Kini dia kembali pada kebiasaannya, memutuskan apa yang dianggapnya benar bagi mereka bedua.

“Memangnya kenapa dengan tempat ini? Tempat ini biasa saja.”

“Aku selalu ke tempat ini setiap kali ada masalah, tidak ada yang bisa menemukanku di tempat ini, bahkan orang tuaku sendiri.”

“Hai, Tuan Andre yang terhormat, kau sudah mengajakku ke tempat ini, jadi aku pasti akan bisa menemukanmu jika kau menghilang.”

“Oh ya?” Andre tersenyum, dia mempererat pelukannya. Dia tidak perduli bahwa angin tengah mempermainkan rambut Lisa sehingga menerpa wajahnya yang masih saja menempel di dagu gadis itu. “Mungkin karena kau adalah gadisku, jadi aku menceritakan semua ini padamu.”

“Kau yakin tidak pernah mengajak cewek lain ke tempat ini?” goda Lisa.

“Huh, kenapa kau selalu menanyakan cewek lain?” Andre melepaskan pelukannya. Lisa tersenyum simpul,”Jangan marah, ayo peluk aku lagi.”

Andre berjalan ke depan, saat langkahnya sampai di bagian akhir dari dinding setinggi pusarnya itu, dia merentangkan tangannya sembari menghirup udara dalam-dalam. “Tidak ada gadis lain,” sambungnya saat Lisa telah berdiri di sampingnya.

“Andre, bolehkah jika aku juga menjadikan tempat ini sebagai tempat favorit?”  Andre mengangguk.

Ya, itulah yang terjadi sore itu yang diakhiri karena mereka harus mengunjungi Ratih, dan sekarang, tempat ini sudah dijadikan Lisa sebagai tempat favoritnya, kini dia bisa mengerti kenapa Andre sangat menyukai tempat ini, dari sini dia bisa melihat seluruh pemandangan rumah sakit, bagaikan seorang arsitek yang tengah melihat maket gedungnya, kesibukan rumah sakit terlihat begitu jelas di sini, sirine yang mengaung dari ambulance yang baru tiba di UGD, pasien yang berjalan-jalan sembari memegangi botol infusnya di taman, atau pun anak-anak para pengunjung yang bergurau di dekat taman bermain. Lisa menikmati pemandangan itu sambil memikirkan langkah apa yang selanjutnya dia lakukan untuk instalasi, perombakan besar-besaran, ya, perombakan besar-besaran, pikirnya dalam hati.

Seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Lisa terkejut. Apakah Andre? Tidak tidak, Bukankah Andre sedang di Batam?

“Rupanya ini benar kau?” suara orang itu. Seorang wanita. Lisa mebalikkan tubuhnya. “Kak Yana?”

Wanita itu adalah Yana, kakak Andre.”Kau jahat sekali tidak langsung mengunjungiku sesampainya di Jakarta.”

Lisa menyadari kesalahannya, dia segera minta maaf.

”Ku lihat kau juga menyukai tempat ini?” tanya Yana setelah menerima permintaan Maaf Lisa.

Lisa tersenyum mengiyakan,”Tunggu, bagaimana kakak tahu tentang tempat ini?”

Yana tertawa, dia menggerak-gerakkan telunjuk tangan kanannya di depan Lisa sementara tangan kirinya menutupi mulutnya. “Adikku pasti mengatakan kalau tempat ini adalah favoritnya, kan?”

“Dasar lelaki gombal, sok romantis,” Lisa ngomel-ngomel. Yana menghentikan tertawanya,”Tunggu dulu, dia tak sepenuhnya bohong. Tempat ini memang favoritnya.”

“Tapi dia mengatakan tidak akan ada yang menemukannya bahkan orang tuanya,” protes Lisa.

“Orang lain  memang tidak bisa menemukannya, tapi aku bisa,” seru Yana yakin sambil mengepalkan tinjunya. Lisa memandangnya penuh tanya.

“Sebenarnya aku yang lebih dulu menemukan tempat ini,” Kisah Yana.

Yana mulai bercerita tentang masa kecilnya, dimana keluarga Kusumadiharja yang hanya mempunyai dua orang anak, Yana dan Andre, umur mereka yang terpaut lima tahun membuat mereka dekat dan saling melindungi, tetapi saat Yana memasuki SMP, dia merasa adiknya begitu merepotkan, bagaimana tidak, Yana adalah ABG yang mulai mempunyai rasa suka terhadap lawan jenis, dia ingin bebas  kemana saja dengan siapa saja, sedangkan Andre, adiknya itu selalu membuntutinya ke mana pun dia pergi. Dia tidak terima itu, serasa tidak ada privasi.

Saat pembangunan rumah sakit selesai, dia menemukan tempat itu, ya, tempat yang dianggapnya tepat untuk menyendiri. Di sini dia bisa melakukan apa saja tanpa diganggu oleh rengekan Andre. Dia bisa menulis surat cinta untuk pujaan hatinya, dia bisa membaca surat cinta dari pemuja rahasianya sambil tersenyum-senyum tanpa Andre yang menuduhnya gila karena senyum-senyum sendiri. Hal itu berlangsung cukup lama tapi tidak setelah itu, ya setelah kejadian itu. Kejadian sebelum dia lulus SMA.

Plak! Suara tamparan terdengar, Yana menghambur ke arah laki-laki itu, teman-temannya menahannya untuk tidak berbuat yang lebih jauh, dia meronta, emosi menguasai dirinya. “Sudahlah, Yana. Tidak ada gunanya kau menamparnya,” seru salah satu sahabatnya.

“Iya, nasi sudah menjadi bubur, Dina sudah hamil sekarang, kau tampar Dito seperti apa pun, dia harus bertanggungjawab terhadap Dina,” sahut sahabatnya yang lain.

“Lepaskan aku ! Lepaskan!” Yana masih saja meronta-ronta. Lelaki itu, Dito, Lelaki yang dipacarinya semenjak SMP, dan ternyata dia mendapati lelaki itu menghamili Dina, sahabatnya juga, rupanya mereka diam-diam berhubungan di belakangnya. “Aku bilang lepaskan!”

“Kami akan melepasmu kalau kau tidak emosi lagi!”

Yana meronta lebih keras, kali ini dia berhasil lepas, dia segera menerjang Dito yang sedang mengelus-elus pipinya yang memerah. Yana segera memukuli bahu laki-laki itu dengan tas yang dibawanya, Dito mengangkat kedua tangannya untuk menangkis serangan Yana, Yana benar-benar muntap. Teman-temannya segera melerai, tapi kali ini mereka tidak bisa menangkapnya lagi karena Yana segera lari meninggalkan mereka sambil menangis.

Yana segera mengendarai mobilnya, kemana lagi kalau bukan ke tempat privasinya itu. Saat mobilnya tengah memasuki pelataran rumah sakit, Andre yang habis menjenguk salah satu temannya sekaligus anak karyawan papanya itu, melihatnya berlari dari mobil dalam keadaan yang yang kacau. Diam-diam dia mengikuti kakaknya dan di sanalah Yana berakhir, di atap beton teratas dari rumah sakit itu, dalam keadaan jongkok, menangisi kepedihan hatinya.

Andre mendekati Yana, dia menepuk bahu kakaknya itu. Yana mendongak, air mata masih menggenang kemudian dia memeluk tubuh adiknya itu, tangisnya makin keras, sementara sang adik membiarkan saja dia berlaku demikian, tanpa mengucap sepatah kata pun. Setelah Yana puas menangis, mereka duduk bersila dan mengobrol satu sama lain.

“Pasti karena DIto,” tebak Andre. Yana tersenyum,”Kau benar dan kali ini lebih parah.”

“Memangnya apa yang dilakukan Dito pada kakak?”

“Tepatnya bukan padaku, tapi pada temanku.”

“Lalu kenapa kakak menangis, bukankah dia tidak menyakiti kakak?” tanya Andre. Kali ini Yana tidak mampu menjawab, dia tidak mungkin menjelaskan pada Andre kalau Dito menghamili Dina. Menghamili! Bukanlah kata yang pantas untuk dia ucapkan pada adiknya walau pun adiknya itu sudah berusia tigabelas tahun.

“Ah, kau masih kecil, kau tidak akan mengerti.”

“uh… kenapa semua orang menganggapku masih kecil,” Andre memajukan bibirnya.

“Karena kau memang masih kecil, adik kecil…,” goda Yana sambil mengobrak-abrik rambut Andre yang kala itu masih berponi. Andre semakin memajukan bibir. Yana tertawa melihat ekspresi wajah Andre.

“Kau mau berjanji pada kakak?”

“Janji? Janji apa?”

“Kau sudah tahu tempat ini sekarang, kau harus janji tidak akan memberitahukan tempat ini pada siapa pun bahkan pada Papa dan Mama. Janji?”

Andre mengangguk. “Janji!” serunya sambil mengacungkan kedua jarinya.

Yana tersenyum mengingat peristiwa itu.“Setelah itu dia juga menganggap tempat ini sebagai tempat favoritnya, tapi dia memang anak yang menepati janjinya dengan tidak mengatakan tentang tempat ini pada siapa pun, kecuali denganmu tentu saja.”

“Kakak yakin dia tidak memberitahu orang lain lagi?” Lisa memastikan.

“Tentu saja aku yakin, aku kenal adikku, dia tidak bisa bohong dariku,” pasti Yana. Mereka tertawa bersama, kini mereka melangkah pergi dari tempat itu, dan melanjutkan obrolan mereka di cafeteria rumah sakit, istrirahat makan siang rupanya masih lama, sehingga mereka bebas mengobrol.

“Aku tidak percaya kakak berani menceritakan masalah itu? Apa kakak tidak malu?” tanya Lisa, yang dia maksud adalah peristiwa patah hatinya itu pada Dito. Yana mengibaskan tangannya,”Ah, buat apa malu, toh aku menceritakan semua itu padamu, calon adik iparku.”

Dito terlihat memasuki cafeteria dan duduk di meja paling pojok dari cafeteria sembari membaca buku menu, Yana dan Lisa mengawasi gerak-geriknya, lalu tersenyum berdua. “Dia agak tambun sekarang,”ujar Yana.

Lisa memainkan matanya, dia menggoda Yana, “Tapi cowok tambun itu yang dulu membuat kakak patah hati,kan?”

Yana memonyongkan bibirnya. Ekspresi wajahnya itu sangat mirip dengan Andre. Lisa tambah tertawa. Dia memang sangat menyukai kakak Andre, sejak pertama mereka bertemu, entah kenapa Lisa bisa langsung akrab dengan Yana, mungkin karena nama Yana yang sama dengan nama almarhumah Ibunya dan yang membuat Lisa tambah heran lagi, nama suami Yana adalah Bondan, sama dengan nama pamannya yang mati muda karena kecelakaan lalu-lintas. Lisa berpikir mungkin ini memang sudah takdir. Dia telah mendapatkan kembali orang-orang yang dicintainya.

“Ada kabar kalau dia sekarang terlibat affair dengan Viona,”

“Apa?”

“Ya, Aku dan Andre dari dulu menyebutnya playboy kadaluarsa.”

Mereka berdua terkekeh. “Lalu bagaimana Dito bisa meraih gelar dokter?”

“Karena kejadian itu terjadi  sehari sebelum kami lulus SMA, maka dia bisa melanjutkan kuliah setelah menikah dengan Dina, sedangkan Dina, dia harus rela hanya sebagai ibu rumah tangga, toh dia sudah menjadi seorang nyonya dokter sekarang,” urai Yana.

“Nyonya dokter?” tanya Lisa, sepintas dia teringat Armand dan Ibunya yang sangat ingin mempunyai menantu seorang dokter.

“Iya, Nyonya dokter, kenapa?” tanya Yana.

Lisa menggeleng,”Tidak apa-apa.”

“Lagi pula kalau dilihat-lihat, Dito tidak lebih tampan dari Mas Bondan, apalagi dari Andre,” lanjut Yana sembari melihat lagi ke arah Dito,”Kau tahu, adikku itu mewarisi wajah Ibuku yang elok, banyak gadis yang tergila-gila padanya sejak remaja,” Yana berbisik di telinga Lisa.

“Benarkah?” Lisa tertawa.

“Iya, dan anehnya dia sama sekali tidak merespon mereka, sebenarnya jika Andre mau, dia bisa memanfaatkan mereka, ya.. seperti Dito memanfaatkan wajahnya untuk mendekati aku dan Dina.”

“Kenapa Andre bisa seperti itu?” tiba-tiba saja Lisa jadi ingin tahu tentang masa lalu Andre padahal selama ini dia terkesan cuek bebek dengan masa lalu Andre karena merasa Andre selalu jujur padanya.

“Karena dia menghormati perempuan, karena dia dekat dengan kakaknya,” yakin Yana,”Tapi sebenarnya itu juga kesalahanku.”

“Kesalahan kakak?”

“Iya, kau tahu, Papa meninggal karena kesalahanku, karena aku hamil sebelum Mas Bondan menikahiku, sebenarnya Papa tidak suka kalau Mas Bondan jadi suamiku.”

“Ah, kakak terlalu keras menyimpulkan, bukankah umur seseorang itu Allah yang mengatur?”

“Iya, tapi aku sangat menyesali kejadian itu, kau tahu, aku merasa bersalah karena mengecewakan Papa, dan aku menceritakan semua itu pada Andre,” Yana menceritakan semua itu sambil terbata-bata. “Dan rupanya kesimpulan lain juga berhasil ditarik oleh Andre, Dia menentang keras hubungan seks pra nikah dan menjunjung tinggi virginitas sebelum menikah.”

Lisa melongo, jadi inikah sebabnya? Pelukan, cium pipi dan kening hanya itu, tidak kurang dan tidak lebih!

“Kau sudah melakukan apa saja dengan Andre?” tanya Yana tiba-tiba.

“Maksudnya?”

“Maksudnya, kalian sudah melakukan itu?”

“Itu?”

“Iya! Itu!” Yana membelalakan matanya sambil menekankan kata “itu”. Lisa menggeleng.

“Lalu apa saja yang sudah dilakukan Andre padamu?”

“Terkadang dia memelukku,”

“Hanya itu?”

“Mencium pipi dan kening.”

“Itu saja?”

Lisa mengangguk. Yana mulai mengerti, “Sudah aku duga, adikku itu memang pria paling perjaka di dunia, dan kau.. apakah kau sudah pernah melakukannya dengan pria  lain?”

Lisa menggeleng cepat,”Tentu saja belum, gila apa kalau aku melakukan itu?”

“Hmm, aku tahu sekarang kenapa dia memilihmu,” Yana manggut-manggut,”Tapi kalau cuma pelukan dan ciuman pipi, rasanya kurang seru, Andre juga melakukan itu pada Sasa.”

Sasa, tiba-tiba Yana teringat pada anaknya itu, sementara Bodan yang melakukan checkup kesehatan rutin, belum nampak batang hidungnya.

“Oh iya, Lis, minggu depan aku dan Mas Bondan ada acara di Samarinda, tapi kami tidak bisa mengajak Sasa karena dia harus sekolah. Kamu mau, gak kalau kami minta tolong kamu untuk menjaga Sasa? Dia bisa kok menginap di rumahmu?” pinta Yana.

“Sebenarnya, sih aku inginnya Mama yang mejaga Sasa, tapi Mama kurang telaten dengan Sasa dan lebih memilih mengikuti kontes anggrek di Denpasar. Bagaimana, Lis? Aku lihat kalian akrab waktu bertemu?”

Akrab? Yana bilang akrab? Yang benar saja? Lisa masih ingat waktu pertama kali ketemu Sasa, waktu itu dia masih kuliah di bangku S2. Saat itu sedang masa liburan sekolah sehingga Yana dan Bondan berlibur ke Yogya. Demi memperkenalkan Lisa pada kakaknya, Andre mengajaknya menemui keluarga kecil itu di Taman Pintar. Setelah memperkenalkan Lisa pada Yana dan Bondan, Andre langsung menarik tangan Lisa untuk mencari Sasa, rupanya anak itu sedang asyik bermain-main di tepi kolam renang, sibuk menyiprat-nyipratkan air kolam renang pada teman-temannya yang baru dia kenal.

Andre yang mendapati tingkah laku Sasa segera memeluknya erat, lalu mencium pipi keponakannya itu tanpa perduli kemejanya jadi ikut-ikutan basah karena menempel pada pakaian renang Sasa. “Dengar, Sasa. Ongkel akan mengenalkan seseorang padamu,” ujar Andre. Dia segera mengangkat Sasa dari kolam dan menggandengnya untuk menuju Lisa.

“Nah, wanita ini adalah calon istri Ongkel, namanya Lisa. Kau harus memanggilnya onti,” kata Andre.  Ongkel? Onti? Oh ternyata maksudnya uncle dan aunty, paman dan bibi, pikir Lisa dalam hati. Dan apa yang di lakukan anak kecil itu? Dia memandangi Lisa dari ujung rambut sampai ujung kaki sampai Lisa merasa risih, lalu berkata nyaring,”Onti, kenapa onti bertubuh kecil? Onti cacingan, ya?”

Lisa nyengir kuda tanpa tahu harus berbuat apa, sementara Andre menahan tawa dengan perut yang kaku melihat ekspresi wajahnya.

“Kalau onti cacingan, onti harus minum obat cacing enam bulan sekali. Ingat itu,onti!” tambah Sasa lagi. Kali ini Lisa menelan ludah kering, seorang apoteker diajari aturan pakai obat cacing oleh anak kecil yang cerewet. Andre tidak bisa menahan tawanya lagi.  Dia tertawa tanpa henti dan Lisa mencubit perutnya dengan keras.

“Hai ! Hai! Bagaimana, Lis, kau mau menjaga Sasa selama kami pergi?” tanya Yana membuyarkan lamunan Lisa.  Lisa terkesiap, lalu dia mengangguk.

“Ah, syukurlah,” Yana merasa lega. Tiba-tiba Bondan yang baru selesai check-up sudah ada di antara mereka. “Apa kabar,Lis?”

“Baik!”

“Sayang, Lisa setuju untuk menjaga Sasa selama kita pergi,” Yana mulai bercerita pada suaminya.

“Wah, terima kasih, Lis.” Bondan melirik arlojinya, “Sudah jam satu, kita harus kembali ke kantor sekarang, ayo!” ajak Bondan pada istrinya.

“Baiklah, Oh ya, Lis, aku hampir lupa, nanti sore ada arisan keluarga di rumah Mama, aku harap kau datang agar kami bisa mengenalkanmu pada keluarga yang lain.”

Lisa mengangguk. Yana segera undur diri, tapi Bondan tiba-tiba menyelutuk,”Lain kali kau jangan pakai warna ungu muda, tidak cocok untuk kulitmu yang pucat.”

Lisa terpaku mendengar Bondan mengkritik penampilannya.”Kau harus lebih memperhatikan penampilanmu agar Andre tidak melirik cewek lain.”

Lisa benar-benar menelan ludah kering. Yana tersenyum,”Sudahlah, Mas. Jangan menggoda Lisa terus, kau juga tahu kalau Andre tidak mungkin melakukan itu.”

Suami istri itu  berlalu. Kini Lisa tahu dari mana Sifat Sasa yang ceplas-ceplos itu didapatkan, Sifat itu menurun dari Bondan dan memikirkan bahwa anak kecil itu harus tinggal bersamanya selama orang tuanya pergi. Ah, Lisa tidak habis pikir.

One thought on “THE HOSPITAL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s