THE HOSPITAL

4. The Strategy (Part 1)

Batam yang sibuk, membuat beberapa pengusaha menaruh minat pada kota ini, kota kecil yang menjanjikan. Begitu juga bagi Andre dan keputusannya untuk ikut meramaikan bisnis di kota ini. Kini dia sedang berdiri di dalam ruang rapat,  menghadap ke arah dinding kaca hingga nampak di depannya suasana luas kesibukan kota yang terlihat jelas dari ruangan yang terletak di lantai lima itu. Penandatanganan atau lebih tepat disebut pengambilalihan telah dilakukan tiga puluh menit yang lalu, masih tampak di angan Andre mimik para petinggi perusahaan yang dia ambil alih, tatapan mata para karyawan terhadap dirinya seakan bertanya,”Hai, apa yang akan dilakukan oleh bos baru ini?” atau sekedar rasa memelas,”Tolong, jangan pecat kami.”

Andre menghela nafas. Kini dia mengerti kenapa Lisa sangat tidak menyukai akuisisi, bisa dibilang seperti penjajahan. Dia mulai berpikir apa yang akan dia lakukan terhadap perusahaan barunya ini. Akankah dia bertindak sebagai broker atau tetap menjalankan saja dengan usaha perampingan dan pendanaan yang minim, lalu bagaimana dengan tatapan memelas itu, tatapan yang seakan berkata, “Tolong, jangan pecat kami.”

Di saat pikirannya yang kalut itu, dia mengingat Lisa, kata-kata Lisa yang tidak menyukai akuisisi dan lebih memilih aliansi strategic dan merger lalu dia mengira-ira apa yang tengah dilakukan gadisnya itu sekarang. Ya, itulah satu-satunya hiburan yang selalu menyertainya di jam-jam sibuk, diantara kerja kerasnya mempertahankan dinasti Kusumadiharja, dengan mengingat-ingat segala hal yang akan direncanakannya dengan gadisnya itu, gadis yang sangat dicintainya, sebuah pernikahan! Dan kini Andre tersenyum simpul dalam lamunannya. Andai saja semuanya berbeda, andai saja dia bukan pewaris dari Kusumadiharja, dia lebih ingin menghabiskan banyak waktu dengan Lisa.

Angannya kembali menuju ke masa awal perkenalannya dengan Lisa. Masa ketika dirinya masih berstatus sebagai mahasiswa Magister Manajemen UGM. Gadis itu begitu cuek dan Andre tak habis pikir kalau ternyata ada orang yang lebih cuek dari dirinya. Gadis itu selalu menggunakan pakaian seenaknya, berbicara dengan suara keras dan tertawa lepas. Tapi dia suka dengan tingkahnya itu. Dia suka saat suara Lisa lebih mendominasi dari pada suara teman-temannya, seperti gelas kaca, ya… gelas kaca bening yang begitu jujur menampilkan apa saja yang ada di hatinya tanpa sedikit pun yang ditutupi.

Andre begitu penasaran pada waktu itu hingga menyuruh orang untuk menyelidiki siapa Lisa, dan jawabannya seperti yang telah dia duga. Lisa tidak sedang bersama seseorang dan tidak ada pria yang sedang menunggunya. Andre melonjak kegirangan saat menerima kabar itu dan berjanji dalam hati akan lebih memperhatikan Lisa lagi. Mungkin perhatian Andre begitu berlebihan hari itu, saat dia dan Lisa menghadiri workshop di Fakultas kedokteran. Andre begitu perhatian hingga mengambilkan kotak snack untuk Lisa.

“Tak seperti biasanya?” pikir Lisa dalam hati.

“Kau mau tambah minumnya?” tanya Andre dengan manis. Lisa mengangguk. Andre segera menuju stand minuman dan Lisa melongo begitu mendapati Andre kembali dengan segelas minuman di tangannya.

“Apa kau mau buah?” tanya Andre lagi.

“Kalau tidak merepotkan,” jawab Lisa sambil memakan snack, lagi-lagi Andre segera berlalu dan kembali dengan sepiring buah ditangannya. Lisa pun sukses dibuat keheranan oleh Andre. Dia mulai batuk-batuk, Andre menepuk-nepuk punggungnya sambil menyodorkan minuman.

“Hari ini kau aneh sekali,” protes Lisa setelah berhasil mengatasi tersedaknya.

“Aneh bagaimana?”

“Ya aneh, tidak seperti biasanya,” jawab Lisa seenaknya,”Biasanya kalau orang bertingkah tidak seperti biasanya, biasanya orang itu akan mati.”

Lisa terbahak sambil menutupi mulutnya dan Andre memandangnya dengan muka merah padam, sungguh tidak bisa dimaafkan karena Lisa mendoakan kematiannya. Dengan geram Andre nyelonong pergi dari Lisa yang masih saja tertawa memegangi perutnya. Langkah pertamanya memberikan perhatian pada Lisa gagal total, ternyata gadis itu memang tidak mempunyai sisi romantis sama sekali, benar-benar menjengkelkan.

Begitulah Lisa, sangat tidak berperasaan, terlalu banyak bercanda, tapi akhirnya saat itu datang juga, dan anehnya datang di tempat yang sama sekali tidak terbayangkan oleh mereka yaitu di masjid agung kampus. Andre sangat mengingatnya, pada hari itu dia menghadiri pengajian di masjid itu, tema dari pengajian itu adalah “Pacaran sesudah menikah”. Semua pasti tahu tema itu bercerita tentang taaruf dan pernikahan dan tiba-tiba forum dikejutkan oleh pertanyaan konyol seorang peserta wanita,”Bagaimana dengan fantasi seks sebelum menikah? Apakah itu berdosa?”

Sontak semua orang heboh, arena akhwat dan ikhwan yang terpisah oleh hijab tinggi dan membentang membuat para ikhwan penasaran karena tidak bisa melihat siapa wanita yang dengan polosnya menanyakan hal itu, tapi Andre tahu siapa wanita itu. Siapa lagi kalau bukan cewek bertubuh kecil tapi bersuara keras. Dia heran juga karena Lisa ternyata tertarik dengan acara semacam ini.

Para akhwat memandang Lisa tajam, sangat tidak sopan, kira-kira begitulah arti tatapan mereka. “Kenapa? Alah, gak usah muna,deh…,” protes Lisa. Andre geleng-geleng kepala sambil mengira-ira ekspresi wajah gadis itu di ujung sana.

Ternyata tebakan Andre itu tidak meleset, gadis itu memang benar Lisa. Kini Lisa tengah bermain ayunan di taman bermain yang ada di dekat masjid itu. Acara pengajian sudah selesai sejak tadi. Dengan agak ragu, Andre mendekati gadis itu. Bagaimana tidak? Gadis itu sekarang menggunakan gamis dan jilbab sangat bertolak belakang dengan penampilan yang selalu ditunjukkannya selama ini.

“Oh, berarti benar kalau cewek tadi kamu,” sapa Andre setelah sampai di depan Lisa. Lisa menoleh sebentar, lalu melanjutkan bermain ayunan.

“Pertanyaan macam apa itu tadi? Masa hal itu ditanyakan cewek?” cerca Andre lagi. Lisa hanya senyum-senyum. Lisa masih mengingat kejadian di workshop tempo dulu dimana Andre yang marah karena omongannya ngeloyor pergi begitu saja. Memang Lisa sangat risih dengan perhatian Andre waktu itu, dia tidak biasa diperhatikan semacam itu, Ayahnya selalu melatihnya untuk mandiri setelah Ibunya meninggal, sehingga dia tidak bergantung pada perhatian orang lain. Tapi perhatian yang diberikan oleh Andre memang berbeda, dia mengakui itu, Lisa juga tahu maksud dari perhatian yang Andre berikan, dia bukannya orang yang tidak berperasaan.

Lisa tiba-tiba menghentikan aktifitasnya dengan ayunan. Dia memiringkan wajahnya demi melihat ekspresi wajah Andre yang membelakangi sinar matahari, memang membuat pandangan mata Lisa serasa silau. Saat tubuh Andre menutupi cahaya menyilaukan itu, Lisa bersuara,”Kau mau jadi calon suamiku?”

Serta-merta wajah Andre memerah dibuatnya. Mimpi apa dia semalam? Seharusnya dialah yang menyatakan cinta, melamar atau apalah istilahnya tapi kenyataannya cewek bertubuh mungil ini yang duluan, di tempat yang sungguh jauh dari romantis dan di jam setengah dua siang, saat matahari terik-teriknya tapi bukankah hal ini yang dia inginkan tak peduli siapa yang memulai, dimana dan jam berapa.

“Mau tidak?” ulang Lisa. Kali ini Lisa sudah berdiri di depan Andre. Andre jadi linglung,”E….e…., Aku…aku belum siap untuk menikah.”

“Hei, aku memintamu menjadi calon suamiku, bukan menikahiku besok!” seloroh Lisa sambil berlalu.

“Tunggu!” cegah Andre. Lisa membalikkan badannya dan Andre sekali lagi berjalan mendekat,”Kau tidak mengharapkan ku menjawabnya sekarang, kan? Di film-film biasanya mereka meminta waktu satu atau dua hari untuk menjawab pertanyaan itu.”

Lisa mengibaskan tangannya,”Ah, terserah kaulah, tapi jangan salahkan aku jika besok ku berubah pikiran!”

Berubah pikiran? Bagaimana jika Lisa berubah pikiran? Andre jadi ngeri, dia tergagap waktu gadis itu hendak meninggalkannya lagi, dia berlari dan menghadang langkah Lisa. Kedua tangannya segera memegang pundak Lisa saat gadis itu berada di depannya dan dia mulai mengatur nafas,”Iya, iya, Aku mau jadi calon suamimu.”

Lisa tersenyum menang,”Nah, gitu dong.”

Lisa meneruskan langkahnya lagi.

”Cuma begitu?” tanya Andre.

“Cuma begitu apanya?”

“Kau hanya menanyakan itu?”

“Lalu kau maunya apa?”

Aish, cewek ini bodoh atau apa,sih? pikir Andre. Sepertinya Andre memang harus sabar pada Lisa. Gadis itu memang agak tidak jelas, semenit yang lalu dia memaksa Andre menjadi calon suaminya dan sekarang mau pergi dari Andre begitu saja, sangat tidak romantis, pikir Andre lagi. “Kau mau pergi kemana? Aku bisa mengantarmu?” tanya Andre mengalihkan perhatian.

“Pulang ke kos,” jawab Lisa.

“Oh, aku antar, ya?”

Lisa mengangguk dan itulah awal dari masa-masa Andre bersama Lisa. Andre jadi geli mengingat peristiwa itu, sementara kesibukan Batam masih terpampang di depannya. Seorang laki-laki paruh baya mendekati Andre, rupanya itu adalah Andika, penasehat keuangannya,”Saya tidak tahu kalau anda masih di sini, Pak Andre.”

Andre masih tetap memperhatikan view yang membentang di bawahnya,”Ya, kau sudah meneliti keuangan di perusahaan ini?”

“Iya, banyak kebocoran.”

“Pastikan kau tempatkan orang kepercayaan kita di sini, angkat orang yang benar-benar handal, jika perlu seorang workhaholik yang masih idealis.”

“Baik, Pak Andre.”

Andre menuju notebooknya yang sedari tadi tergeletak di atas meja rapat. Saat dia akan membereskan notebook itu…

“Maaf, Pak Andre, mungkin yang saya tanyakan ini agak lancang.”

Andre menoleh ke arah akuntan itu,”Ada apa?”

“Bagaimana dengan Optima Medika? Bukankah lebih baik jika kita segera melepaskannya selagi bisa?”

Andre terkejut, memang sudah lama Andika mengingatkannya tentang Optima Medika yang hampir bangkrut, dan saran dari akuntan itu agar segera menjual saja rumah sakit itu sebelum terlalu banyak menyusahkan keuangan PT. Kusumadiharja Tbk.”Pak Andika, anda tahu sejarah berdirinya rumah sakit itu, bukan?”

“Tentu, Pak Andre, rumah sakit itu didirikan sebagai pelayanan kesehatan karyawan PT.Kusumadiharja, Tbk tapi kita tidak bisa terus-terusan mempertahankan ‘dog’ itu hanya akan memperlama penderitaannya.”

Andre tersenyum, “Dog? Cow? Star? Lalu Question Mark? Lalu siapa yang Cow? Siapa ?” Dia menggelengkan kepala, “Anda anggap Kusumadiharja, Tbk itu sapi perah, Pak akuntan?”

“Bukan begitu maksud saya, Pak Andre.”

“Kau ingin aku menggunakan strategi apa? Niche?” tantang Andre.”Salah satu tanggungjawab industri adalah moral responsibilities. Anggap saja keputusanku untuk mempertahankan rumah sakit itu adalah bentuk tanggungjawab moral Kusumadiharja, Tbk.”

Andika memahami pendirian bosnya dan Andre pun segera berlalu dari ruangan itu.

—-><#BERSAMBUNG#><—-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s