THE HOSPITAL

4. The Strategy (Part 2)

Di kediaman Kusumadiharja sedang berlangsung arisan keluarga, di setiap acara pasti ada bintang pesta, dan sekarang ini yang menjadi bintang pesta adalah Lisa karena Ratih sibuk memperkenalkan calon menantunya itu pada sanak keluarganya. Lisa jadi sangat tidak enak hati pada Ratih, tahu begini dia tadi pulang dulu untuk berganti baju, bukannya datang dengan masih memakai baju kerja berwarna ungu muda yang sempat jadi bahan olokan Bondan tadi siang, tapi hal itu dilakukannya karena kesibukan instalasi farmasi, dia bahkan hampir lupa dengan acara itu.

Arisan, perlu digarisbawahi, arisan atau ditulis dengan huruf capital, ARISAN adalah kegiatan yang sangat dibenci oleh Lisa. Kalau Lisa disuruh memilih antara kerja lembur atau arisan, dia pasti memilih kerja lembur. Dia tidak pernah betah di acara yang satu itu, jadilah dia sekarang cuma bengong-bengong melihat keadaan sekelilingnya dimana ibu-ibu kurang kerjaan saling pamer kekayaan suaminya atau bergosip. Ratih masih saja mengajaknya berkeliling untuk berkenalan dengan para tamunya,”Nah, ini adalah Rani Santoso, dia Ibu dari Armand,” kata Ratih saat memperkenalkan Rani. Lisa pun terkaget.

“Ibu di sini juga?” tanya Lisa pada Rani.

“Jadi kalian sudah saling kenal?” Ratih terkejut dengan tingkah Rani dan Lisa.

Rani mengangguk,”Kami berkenalan tadi pagi, aku menyeberang dengan asal hingga hampir tertabrak mobil Lisa.”

“Ah, Pak Seno keterlaluan sekali, seharusnya dia lebih hati-hati, kau harus menegurnya, Lisa.”

“Ah, sudahlah, Ratih, aku juga yang salah karena tidak hati-hati.”

“Jadi Armand dan Andre bersaudara?” tanya Lisa.

“Ya, kakek Andre adalah kakak  dari nenek Armand,” Ratih menjelaskan.

”Oo..” Lisa manggut-manggut. Seorang ibu-ibu rumpi menghampiri mereka, Lisa mencoba mengingat-ingat nama Ibu gembul itu, bukankah tadi Ratih sudah memperkenalkan mereka, tapi otak Lisa serasa buntu, banyak sekali nama yang harus dia ingat sore ini.

“Kau manis sekali, nak,”puji Ibu gembul itu sambil mengayunkan kipasnya,”Wajahmu pasti lebih cantik jika kau memakai jilbab seperti Nyonya Ratih.”

Sesaat Lisa memperhatikan Ratih, Wajah calon mertuanya itu memang sangat bijaksana dengan balutan jilbabnya, entah mengapa Lisa merasa sangat sedih sekali,”Saya akan mengambil makanan dulu,” Lisa undur diri dan segera menuju meja makan.

Memakai jilbab? Bukankah hal itu sudah pernah dilakukannya waktu SMA? Ya, dia ingat sekali waktu itu, dia sangat berniat sekali waktu itu, sampai akhirnya sesuatu memporak-porandakan niatan itu, membuatnya mempertanyakan kembali niat itu. Sungguh mungkin hal ini dikarenakan imannya kurang kuat atau apa pun itu dia tidak tahu. Saat sebuah keluarga menolaknya sebagai calon menantu hanya karena jilbab yang dia kenakan, belum lagi omongan calon kakak iparnya yang dengan pedas mengatakan pada calon suaminya,”Apakah kau sudah yakin kepalanya itu normal? Bisa saja telinganya cuma ada satu, atau rambutnya gundul!” dan anehnya calon suaminya itu sangat bodoh dengan mengatakan semua keberatan keluarganya itu padanya. Tapi Lisa masih bertahan dan berusaha menenangkan dirinya kalau mungkin ini cobaan atau mungkin ini ladang dakwah baginya, tapi saat peristiwa demi peristiwa terorisme muncul, kepercayaan calon suaminya mulai luntur, hingga dia memutuskan hubungan, dan ironisnya dia memutuskan itu hanya lewat SMS!

Masih lewat SMS, saat Lisa menanyakan apa alasan hingga harus memutuskan hubungan, apakah ada wanita lain? Atau karena jilbab? Lelaki itu masih diam, dan saat Lisa terus mendesak adanya alasan yang terungkap. Pria brengsek itu mengetik,”Dari awal itu sebenarnya aku sudah ilfill sama kamu, kamu bukan tipeku, kamu memakai jilbab, kamu terlalu kurus untukku.”

Cukup! Dasar lelaki brengsek! Seminggu lebih Lisa meratapi dirinya, meratapi fisiknya hingga dia membuka buku anatomi dan fisiologi manusia, dia menghitung berapa berat badan normal untuk wanita dengan tinggi 160 centimeter, ya.. itu adalah tinggi badannya dan mendapati bahwa berat badannya yang waktu itu tergolong ideal untuk wanita setinggi itu. Yang lebih parah adalah saat dia memvonis dirinya sendiri kalau dia menderita Achilles syndrome, sungguh dia harus menjalani terapi untuk keluar dari keterpurukan itu hingga dia mengambil keputusan yang paling bodoh yaitu menanggalkan jilbab. Dia seperti ingin membuktikan bahwa yang dipikirkan oleh lelaki brengsek dan keluarganya itu salah. Kepalanya tidak cacat, rambutnya bagus, otaknya juga masih waras hingga dia tidak mungkin terlibat aksi terorisme. Dan sekarang di sinilah dia, menjadi calon menantu dinasti Kusumadiharja, setelah kegagalan cintanya dengan lelaki brengsek itu dan Armand, dia menemukan Andre, Andre yang memujanya, Andre yang mencintainya dengan tulus tak perduli latar belakang keluarganya yang broken home dan tingkah lakunya yang kadang seenaknya. Andre yang memperlakukannya seperti barang antik yang mudah pecah hingga tak berani bertindak macam-macam yang merusak kesuciannya. Apalagi yang dia harapkan sekarang? Tidak! Dia tidak ingin wanita gembul itu merusak suasana hatinya sekarang. Dia sudah sangat tidak betah dengan suasana arisan, acara yang memang sangat tidak dia sukai sejak kecil.

“Bodoh! Bodoh! Bodoh! Ini bukan saatnya mengenang masa-masa itu,” Lisa berbicara sendiri sambil memukul-mukul kepalanya.

“Onti memang bodoh memukul-mukul kepala seperti itu,” suara itu sangat cempreng dan tidak enak didengar. Lisa membuka mata dan mendapati Sasa sudah berdiri di depannya. Anak berumur enam tahun itu sudah nyegir, sejak kapan dia memperhatikanku? Pikir Lisa.

“Hai, kau di sini juga?” tanya Lisa sadis.

“Ini rumah omaku, apa aku tidak boleh di sini?” ocehan Sasa sambil berusaha meraih potongan brownies di meja makan. Kakinya menjinjit karena meja makan itu terlalu tinggi untuknya lalu dia meloncat-loncat dan Lisa masih cuek saja dengan tingkah anak kecil yang bawel itu.

“Tolong ambilkan dong, Onti,” pinta Sasa

“Ha! Kau ternyata minta tolong juga.”

“Terpaksa.”

“Apa?”

“Ambilkan!” bentak Sasa.

“Ambil sendiri!”

“Hai ternyata kalian di sini?” tanya Yana saat mendapati Lisa dan Sasa di dekat meja makan,”Apa yang kalian lakukan?”

Lisa tersenyum dan mengelus-elus kepala Sasa, dia kelihatan sangat munafik dengan tingkahnya itu, lalu dia mengambil sepotong brownies untuk diberikan pada Sasa,”Oh, enggak, Kak, Sasa Cuma minta tolong diambilkan ini.”

Sasa segera berlari setelah merebut brownies itu dari tangan Lisa.

“Wah, kalian memang benar-benar akrab, ya. Aku jadi semakin tenang menitipkan Sasa padamu.”

Lisa cengar-cengir, sekali lagi dia tidak habis pikir jika saat itu tiba, saat Sasa harus tinggal selama seminggu di rumahnya. Seorang teman lama menyapa Yana, dia akhirnya meninggalkan Lisa yang masih sibuk memilih-milih snack yang ingin dia makan. Sasa memperhatikannya dari seberang kolam renang. Lisa sadar kalau anak bawel itu memperhatikannya, Sasa bahkan mengikutinya dari belakang. Dengan risih Lisa mendelik dan mengacungkan tinjunya ke arah anak itu.

Lisa memang sangat canggung dan terkesan cuek jika di depan anak kecil. Dia masih ingat, teman-teman kuliahnya selalu merasa gemas jika melihat anak kecil yang lucu. Mereka langsung mendekat, menciumi atau menggendong jika ada anak kecil yang lucu di dekat mereka. Bahkan kadang mereka cuma sekedar berujar,”Ih.. lucunya….” Tapi lain dengan Lisa, saat teman-temannya mengerubuti anak kecil yang lucu, dia cuek-cuek saja, pandangan matanya seperti bicara,”Tau, ah.. gelap!” Ternyata ada juga salah satu temannya yang menyadari keanehannya itu, dia bahkan mengkritik Lisa habis-habisan, menjudge kalau rasa keibuannya belum muncul dan harus segera dimunculkan. Lisa tak ambil pusing dengan kritikan temannya itu, “Bodo amat, emang gue pikirin.”

Tiba-tiba Sasa mendekatinya lagi, mau apa lagi, nih anak, pikirnya.

“Kenapa onti mau menjagaku selama Papa Mama pergi?”

“Apa?”

“Bukankah Onti tidak suka padaku?”

Lisa tersenyum, Sasa melengos, “Senyuman yang tidak enak dilihat.”

“Aku memang tidak suka denganmu, tapi aku juga tidak tega kalau kau sendirian di rumah.”

“Aku bisa tinggal bersama Ongkel,” Sasa ngeyel.

“Hah? Bersama Ongkel? Yang benar saja, yang ada kamu hanya dicuekin kalau Ongkelmu itu sibuk.”

“Aku tidak apa-apa tinggal sendiri, aku kan sudah besar!”

Yiah… anak ini benar-benar ngeyel.

“Oh ya? Ambil brownis di meja makan saja musti dibantu, masih bilang sudah besar!”

Kali ini Sasa tidak bisa menjawab, mulutnya megap-megap. Lisa tersenyum puas, merasa menang di depan anak bawel itu lalu meninggalkan Sasa yang perhatiannya mulai tertuju pada mobil-mobilan yang dimainkan oleh anak Dito. “Emang gue pikirin!”

—%END OF PART%—

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s