BEHIND THE SHINING STAR

Udara malam musim dingin di Seoul membuat semua orang agak menyusut untuk keluar rumah, namun tidak bagi Mino, dia segera melajukan mobilnya, membelah jalan raya demi bertemu dengan kedua sahabatnya, ya… Kim Bum dan Il Woo pasti sudah menunggunya sejak tadi di restoran itu, restoran yang selama ini merupakan langganan mereka untuk berkumpul. Apalagi hari ini, dia resmi lolos casting untuk drama seri action, dia ingin merayakan kemenangannya itu bersama Bum dan Il Woo.

“Maaf terlambat,” Mino segera menghembaskan tubuhnya di sofa restoran. Benar  saja Bum dan Il Woo sudah melahapnya dengan tatapan memprotes,”Kalian mau makan apa? Aku yang akan bayar.” Mino membaca buku menu di hadapannya demi menghindari tatapan mereka.

“Apa saja. Mino-ssi.” Bum akhirnya bersuara. Il Woo bersiul-siul sambil memandang keadaan restoran, restoran yang elegan dan dari tampilan luarnya bisa dibayangkan hanya orang berduit yang bisa memasukinya. Mereka memang selalu nyaman di restoran mahal itu, tidak ada fans norak yang selalu mengganggu mereka untuk minta tanda tangan. Itulah sebabnya mereka selalu bertemu di sini.

“Aku menang casting lagi,” Mino menyeringai lebar, pelayan yang menanyakan pesanan mereka sudah pergi dari tadi. “Oh ya?” Il Woo mulai tertarik.

“Ne…sebuah drama action.” Minho melipat jari-jari tangan kanannya lalu membidik, dia tampak seperti anak kecil yang berlagak James Bonds.

“Sepertinya menarik? Aku jadi ingin tahu bagaimana nanti hasilnya?” Bumie jadi geli melihat tingkah Mino.

“Pasti baguslah, Lee Min Hoo gitu loh…”

“Cihh…” dua sahabatnya itu jadi muak bersamaan melihat tingkah narsisnya.

Tiba-tiba televisi di restoran itu yang sedari tadi menyajikan acara infotainment menayangkan acara press conference Goo Hye Sun di Taiwan, serta merta mereka menoleh ke televisi tersebut. Gambar tentang Hye sun yang memuji lawan mainnya di proyek yang akan datang, Wu Chun tampak jelas oleh mereka. Mino menelan ludah kering.

“Wah. Wah wah, Noona kita yang satu ini makin bersinar saja, ya?” Il Woo berdecak kagum. Bumie mengalihkan pandangan pada Mino,”Aku dengar dia ke New York waktu pengambilan gambar The Musical, apa kalian bertemu?” Bumie tahu betul kalau Mino juga ke New York beberapa waktu yang lalu untuk acara fashion show. Mino tidak menjawab. Dia masih saja memperhatikan tayangan televisi, mendengarkan satu persatu kalimat yang dilontarkan oleh hye sun di acara itu. Panas….hatinya sangat panas saat ini, bagaimana mungkin hye sun membandingkan dirinya dengan Wu chun? Tangannya mengepal di balik saku jasnya. Oh, apa-apaan ini? Sejak kapan Hye Sun menyukai pria berotot, aish….!

Lalu ada gambar itu, gambar saat hye sun menghadiahkan lukisan golden fish untuk ulang tahun Wu Chun. Oh My God! Hati Mino mencelos. Sun-a ! kau bahkan tak datang di hari ulang tahunku! Dan sekarang kau…….. Huh… apa maumu sebenarnya? Mino sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Mino-a, gwencana?” Bumie menggerak-gerakkan tangannya di depan Mino.

“E… Gwencana, sepertinya aku harus ke belakang dulu.”

Mino segera berlalu dari ruangan itu, Bumie menatapnya heran, sementara Il Woo masih saja menatap layar televisi. Di  toilet Mino membasuh wajahnya, dia mencoba menenangkan diri. Matanya terpejam tapi semakin dicoba, gambaran tentang senyuman hye sun saat memberikan lukisan ke Wu Chun makin kentara.  Dia membuka mata, dan segera di dapati bayangan wajahnya di cermin yang begitu menakutkan. Dia merogoh kantong jasnya, saat handphone sudah di tangannya, dengan cepat dia menghubungi sebuah nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala. Siapa lagi kalau bukan nomor orang yang membuat perasaannya campur aduk sekarang ini?  Satu kali panggilan, tidak diangkat, dua kali panggilan? Tiga kali? Dan akhirnya…. Sepuluh kali!!!!! Mino mulai kesal. Dengan emosi meluap di mengetik,

KAU DIMANA?

JIKA TIDAK SEGERA MENJAWAB, HUBUNGAN KITA PUTUS!

Agak ragu Mino mengirim pesan itu, hatinya urung untuk melakukannya, tapi kenapa tangannya malah memencet tombol send !  “Yah… yaH….” Mino berucap dengan ekspresi menyedihkan, ditatapnya layar HP itu melas.

MESSAGE HAS BEEN SENT

Mino menghela nafas, nasi sudah menjadi bubur, apalagi yang tersisa sekarang? Dengan malas dia melangkah menuju Bumie dan il Woo, tapi betapa terkejut dia saat di sana di tempat duduknya telah ada, Son Hye Jin! Ya ampun, lengkap sudah penderitaanku malam ini, putus dengan Sun dan sekarang harus  bertemu dengan tante ganjen itu.

“Anyeong haseyo, dongsaeng.” Sapa Hye Jin.

“Anyeong.” Mino terpaksa duduk di samping Hye Jin karena hanya tempat itu yang tersisa di Sofa melengkung itu, makanan telah tersaji di meja.

“Aku mengundang Hye Jin Noona saat melihatnya memasuki restoran tadi, kau tak keberatankan, Mino?” tanya Il Woo. Mino menjawab, “Tentu saja tidak.”

Sudah pasti bohong!

“Ayo sekarang kita makan!” Seru Bumie. Sebentar saja suara peralatan makan beradu, diselingi dengan candaan dan perbincangan ringan diantara mereka.

Pintu ruang pertemuan di samping mereka terbuka lebar, segeralah muncul dua orang pria dengan tampilan perlente dan dua orang wanita. “Senang berbisnis dengan anda, Hye Sun-ssi. Saya yakin film ini akan sukses, melebihi sekuel Twillight Saga, tentunya.”

“Ah, Tuan terlalu memuji, saya masih perlu banyak belajar.”

“Ah, jangan merendah, artis berbakat seperti andalah yang selalu kami cari untuk diajak kerja sama.”

Pria yang satunya yang merupakan asisten bisnisman yang sedari tadi berbincang dengan Hye Sun membisikkan sesuatu di telinga bosnya.”Maaf, Hye Sun-ssi, sepertinya saya harus pergi sekarang.”

Hye Sun tersenyum, “Terima kasih telah bersedia memperhatikan proposal kami.” Dia menunduk hormat melepas kepergian dua pria tersebut.

Il Woo yang sedari tadi melihat Hye Sun segera meloncat dari kursinya dan menarik Hye Sun mendekati Mino, Bum dan Hye Jin. Nah loh, kenapa Il Woo jadi mengundang banyak orang di situ? Bukannya ini perayaan Mino? Seharusnya Mino yang berhak?

Hye Sun memberi tanda pada manajernya untuk pulang lebih dahulu, entah mengapa dia juga ingin berlama-lama di situ, apalagi sekarang ini, saat didapatinya Mino sedang duduk berdampingan dengan Hye Jin, dan tingkah tante itu…..? Uh, bener-bener bikin kesel, tapi tidak… aku harus tenang…. Harus!

“Ayo duduk, Noona,” Il Woo menarik tangan Hye Sun hingga terduduk di sampingnya. Posisi mereka sekarang berlima mulai dari ujung kanan Mino, Hye Jin, Bumie pas ditengah, sementara Il Woo dan Hye sun di kiri.

“Wah, rupanya ada perayaan, ya?” Hye Sun bertanya dengan suara riang.

“Iya, Noona, Mino lolos casting drama action,” rupanya Il Woo ingin lebih mendominasi pembicaraan.

“Dongsaeng, coba kau makan ini?” Dengan manja Hye Jin menyodorkan kimchi ke mulut Mino.  Terkejut, Mino membuka mulutnya lalu menelan dengan susah saat kimchi itu sudah di suapkan. Mino jadi gelagapan, didapatinya Hye Sun memandang ke arahnya. “Uni juga di sini?”

“Iya, Sun-a. Aku tidak mungkin melewatkan perayaan ini,” seru Hye Jin.

Melewatkan? Huh…., tingkahnya seperti orang yang sengaja diundang saja, kalau saja Il WOO sialan itu tidak mengacaukan semuanya, kau tidak akan di sini, tante jelek! Mino merutuk dalam hati.

Hye Sun tertawa renyah, tentu saja untuk menutupi emosinya. Bumie menangkap luapan perang antara Mino dan Hye Sun, dia menyusut di tempat duduknya, saat dipandanginya Il Woo, ya Tuhan…, kenapa Il Woo masih setenang itu? Apa dia tidak tahu tentang Mino dan Sun? dasar, kenapa harus aku yang selalu ada di antara mereka. Tidak! Aku harus bertindak, suasana sudah tidak nyaman.

“Bagaimana kabar dari Taiwan, Noona?” Oh tidak, Bumie…. Kenapa malah pertanyaan itu yang kau katakan? Takut-takut Bumie melirik Mino yang sudah menatapnya tajam. Usahanya untuk mencairkan suasana gagal total, alih-alih cair, wajah Mino dan Sun makin tegang saja.

“Oh, Taiwan baik-baik saja, dongsaeng,” Hye Sun menjawab dengan menampakkan lesung pipitnya. Il Woo menepuk pundak Sun,”Ah, Noona sangat murah hati, hanya karena berjanji pada Whu Cun untuk kerja sama lagi, Noona segera mengambil proyek itu. Tahu begini, aku akan membuat Noona berjanji untuk kerja sama lagi waktu iklan kosmetik dulu.”

“Wah, sekarang aku minder jika harus kerja sama denganmu, Il Woo, secara kan kau sudah sangat di gandrungi gadis-gadis.”

“Ah, Noona bisa saja! Oh ya, Noona.. kalau ada tawaran iklan lagi, aku akan minta dipasangkan lagi dengan Noona, wajah kita kan sama-sama imut, Noona. Kita pasti jadi pasangan serasi.”

Mino tambah gusar, ingin rasanya menyumpal mulut Il Woo. Kenapa Il Woo jadi cerewet sekali malam ini, manja sekali dia di depan Sun, yang berhak manja di depan Sun itu aku, dan wajah imut? Cih! Imut apaan? Wajahku juga tidak kalah imut. Nah lho, kok malah bahas wajah imut? Dalam hati mino jadi bingung sendiri.

“Dongsaeng, bisa tuang soju itu ke gelasku?” Hye Jin menyodorkan gelas ke arah Mino. Apa-apaan lagi ini, nenek lampir….? Mulutnya menyebut dongsaeng, tapi tingkahnya centil minta ampun! Dengan senyum dipaksakan, Mino menuangkan soju ke gelas yang disodorkan Hye Jin.

“Gomawo, dongsaeng-a.”

“Ne,” Mino menjawab sambil melirik Hye Sun di ujung matanya. Sun juga sekilas meliriknya walau pun masih tertawa karena lelucon Il Woo. Batin Sun sebal dengan tingkah pasangan personality taste itu. Sementara Bumie semakin tidak karuan, pandangannya dialihkan dari Mino ke Sun bergantian, Oh, Tidak!!!!!!! Kalau bisa aku pasti menjatuhkan bom saja di antara mereka biar luluh lantak sekalian dari pada suasana jadi seperti ini. Panas! Panas! Panas! Bumie mengkipas-kipaskan buku menu di dadanya padahal ruangan itu ber-AC.

“Ya ampun..,” Sun tiba-tiba menepuk jidatnya.

“Gwencana, Noona?” tanya Bum dan Il Woo bersamaan. Mino terperanjat.

“Gwencana, saya lupa kalau malam ini ada acara dengan Appa, dia pasti sudah berkali-kali menelpon padahal HP kusilence waktu meeting tadi.” Sun segera mencari HP di tasnya. Saat Mino melihat Sun sudah memegang HP, wajah Mino menjadi tegang, Bumie heran melihat wajah muram Mino. Kenapa segitunya melihat Sun yang menunduk menatap layar ponsel. Mino teringat sms yang dikirimkan waktu di toilet tadi, batin Mino memohon, jangan dibaca, Sun-a… jangan, jangan!

Tentu saja kekawatiran Mino terjadi, saat Sun melihat layar itu, mata bulatnya membelalak mendapati panggilan tak terjawab dari Mino sebanyak sepuluh kali. Mino masih saja memandang nanar, dia tidak bisa menangkap ekspresi Sun karena wajah gadis itu menunduk saat menatap ponsel. Dan saat Sun mulai membaca SMS itu…..

KAU DIMANA?

JIKA TIDAK SEGERA MENJAWAB, HUBUNGAN KITA PUTUS!

Matanya tambah membelalak, tapi segera teduh kembali saat membaca SMS dari Appanya,

SUN-A, APPA & OMMA MENUNGGUMU DI RUMAH, JIKA ACARAMU SUDAH SELESAI, SEGERA PULANG, YA…..

 

“Well. Sepertinya aku harus pergi sekarang?”

“Yah, Noona… kok buru-buru.”

“Miane, dongsaeng, Appa sudah menungguku. Selamat bersenang-senang, semuanya.”

“Noona….”  Il Woo memberikan pelukan perpisahan pada Sun. Mino semakin terbelalak. Bumie hanya mengangkat tangannya pada Sun. Dan Mino…. Kikuk, salah tingkah dan apalah pokoknya… . Tapi Sun mencuekkan pasangan personality taste itu dan segera berlalu.

“Sepertinya aku juga harus segera pergi!” Mino segera angkat kaki dari ruangan itu, tentu saja untuk mengejar Sun.

“Yah, Ya.. Mino-ssi!” teriak Il Woo, Bumie dan Hye Jin kaget.

“Hei, kenapa kau kesal sekali, Woo?” tanya Bumie. Il Woo melengos,”Bukankah dia yang akan membayar semua ini? Lalu sekarang siapa yang bayar?”

“Jangan kawatir, sementara biar aku yang bayar, besok aku akan tunjukkan bonnya ke Mino,”jawab Bum enteng. Dia tahu benar apa yang akan dilakukan Mino. Dalam hati dia juga lega karena akhirnya keluar dari suasana menyeramkan tadi.

Sementara di area parkir, Mino berusaha mengejar Sun. Terlambat, Sun sudah mengendarai mobilnya dan mobil itu mulai bergerak menjauh. Mino segera menuju ke mobilnya, menjalankan mesin dan mencoba mengejar mobil Sun.

Kejar-kejaran terjadi, bahkan saat keduanya sudah memasuki jalan raya, berkali-kali Mino membunyikan klakson sebagai tanda agar Sun segera menepi tapi tidak di hiraukan oleh gadis itu. Saat kedua mobil itu melewati jalan yang agak lengang, Mobil Mino berusaha mendahului Sun, Mino segera banting stir ke kiri dan… . Tepat! Mobil Mino sukses menghalangi laju mobil Sun, saat Sun dengan sigap menginjak rem mendadak supaya tidak menabrak mobil Mino yang melintang di depannya. Nafas Sun memburu, tapi dia berusaha tetap tenang, ekspresinya begitu datar ketika memperhatikan gerak-gerik Mino yang segera keluar dari mobil. Seperti perkiraan, pikirnya waktu Mino berjalan ke arahnya. Sun cepat-cepat memundurkan mobilnya, yakin jarak itu sudah tidak terhalang mobil Mino, Sun membelokkan mobil itu ke kanan, menginjak gas, dan akhirnya mobil itu sukses melaju mulus meninggalkan Mino.

“Sial!” umpat Mino sambil menendang-nendang mobilnya. “Apa yang harus kulakukan sekarang!” Mino berteriak-teriak sendiri. Dengan kesal dia masuk kembali ke dalam mobil. “Sepertinya tidak ada jalan lain, ya… aku harus ke apartemennya sekarang.”

—–=è<=>ç=—–

Sudah dua jam Mobil Mino berada di area parkir apartemen Sun, dan Mino masih saja duduk di balik kemudi, dia memandang ke tempat dimana Sun biasa memarkir mobilnya, tempat itu masih kosong, pertanda Sun memang belum pulang.”Apa benar dia ke rumah orang tuanya?” Mino jadi berpikir ulang,”Tapi sampai semalam ini? Apa dia menginap di sana?”

Wajahnya sumringah saat sebuah mobil akhirnya terparkir mulus di sana, dengan jelas Mino bisa melihat Sun keluar dari mobil itu dan memasuki apartemen. Mino tidak segera keluar dari mobil, tentu saja tidak semudah itu, dia harus memastikan keadaan aman dan tidak ada seorang pun yang melihat kehadirannya di situ. Dia memakai topi dan kaca mata hitam untuk menyamar, lalu turun dari mobil dan berlari menuju apartemen Sun.

Mino memutar ganggang pintu apartemen Sun. Terkunci! Dia merogoh saku celananya, sial! Kunci apartemen Sun ketinggalan di apartemennya. Tidak ada jalan lain, dia memencet bel. Tidak ada jawaban, aneh! Padahal dia yakin kalau Sun sudah memasuki apartemen, apa dia sudah tidur? Mino mencoba menghubungi ponsel Sun, tidak diangkat! Ayolah, angkat, Sun-a…

Seperempat jam berlalu, Mino masih berdiri di depan pintu apartemen Sun. Oke, untuk terakhir kali aku akan memencet bel itu, jika pintu ini tetap tertutup juga, berarti Sun masih marah, Mino memantapkan hatinya. Segera dia memencet bel itu. Entah kenapa perasaannya serasa tentram saat dia mendengar suara langkah kaki mendekat, itu pasti Sun, pikirnya. Benar, kini pintu telah terbuka dan Sun berdiri di sana, menyuruhnya segera masuk.

Sun duduk di sofa ruang tamunya sembari memandang serius ke arah laptopnya. Dia tidak memperdulikan Mino yang memperhatikannya sedari sepuluh menit tadi setelah dia menyuguhkan coklat panas pada kekasihnya itu. Mino tetap saja memperhatikan, dia tidak tahu apa yang membuat Sun sibuk, mengedit skenario lagi kah? Mino tahu proyek Sun selain drama Taiwan menyebalkan itu, apakah itu yang Sun lakukan saat ini? Mengedit naskah filmnya?

Sun masih saja berkutat dengan aktifitasnya, sesekali dia melirik ke kertas berserakan di samping laptopnya. Rambutnya yang basah disibakkan agar tidak menghalangi pandangan. Itulah kenapa dia tadi lama membuka pintu, rupanya sedang mandi.

“Baby..” Mino memberanikan diri memulai pembicaraan.

“Mwo?”

“Soal sms itu….”

Sun tersenyum, tangannya meraih tumpukan file yang tergeletak di samping kanan laptopnya lalu menyodorkannya pada Mino.

“Apa ini, Babe”

“Kontrak-kontrak kerja yang harus aku jalani tahun depan.”

Dahi Mino berkenyit, tidak seharusnya Sun membicarakan pekerjaan sekarang, demi tuhan Mino ingin berteriak,”Sun-a! Aku ingin membicarakan hubungan kita yang sudah di ujung tanduk!!!!”

Tapi tidak ada yang keluar dari mulut Mino, dia malah membaca satu persatu kontrak kerja itu. Taiwan, Taiwan lagi? Kertas ke tiga… Jepang? Kertas keempat…. Bali? Kertas kelima…. Holywood?

“Baby, kenapa… kenapa luar negeri semua?” protes Mino.

“Miane,” Hye sun  menampakkan senyum malaikatnya lagi. Demi Tuhan, Mino tidak mengerti apa yang dipikirkan gadisnya itu sekarang? Sun mendekat ke arah Mino, dia menggapai tangan Mino, seakan memohon pengertian di sana, saat tangan mungil itu bertumpu diatas tangan Mino yang kokoh.”Filmku yang akan datang membutuhkan banyak dana, sponsor akhir-akhir ini sangat sulit didapat.”

Mata Mino berkedip-kedip mencerna penjelasan Sun. “Jadi, Min-a, aku harus bekerja keras untuk mendapatkan dana, itulah sebabnya aku menerima semua tawaran itu.”

“Lalu… lalu bagaimana dengan hubungan kita?”

“Soal itu…

Mino menahan nafas. Apa? Apa yang akan Sun katakan? Apa yang akan menjadi keputusan Sun? Mino memejamkan matanya.

“Itu terserah kamu.”

“Mwo?” Mino terkejut waktu mendengar kalimat Sun terakhir, matanya yang terpejam langsung melebar.

“Selama ini aku yakin, kalau dalam suatu hubungan itu, pria-lah yang memimpin, jadi….bagaimanakah jalan dari hubungan ini, kaulah yang menentukan, Min-a.” Sun menghembuskan nafas,”Yah… walau pun aku tahu, hatiku pasti akan sangat sakit dan tidak rela jika suatu saat kau memutuskan hubungan ini, min-a.”

Mino menarik tubuh Sun, dia memeluk Sun dengan erat seketika, “Tidak akan aku lepaskan! Selamanya aku tidak akan melepaskanmu, Sun-a. Miane karena mencurigaimu yang tidak-tidak, miane… aku hanya….

Ah, kenapa begitu sulit mengatakan kalimat itu, Mino….

“Cemburu pada Wu Chun?” tanya Hye Sun setelah melepaskan diri dari pelukan Mino. Wajah Mino jadi merah padam, Sun tertawa sekarang. “Aku tahu, Sayang.”

Mino memeluk Sun lagi, sekarang dengan perasaan lega. Semuanya telah jelas sekarang, mungkin inilah saatnya, inilah saatnya dia merasakan apa yang Sun rasakan setahun yang lalu saat dia membintangi personality taste, kecemburuan, ya…kecemburuan, dia harus mulai siap dengan perasaan itu sekarang. Tapi tunggu, dia jadi tidak lega saat suatu pikiran terlintas di otaknya, “Kenapa tidak langsung menghubungiku setelah pulang dari Taiwan?”

Sun terperanjat, Mino melepaskan pelukan begitu saja, “Kau mau menghindar dariku, Sun-a?”

“Ah.. kau ini! Baru saja kita baikan, kau sudah curigaan lagi.”

“Jawab pertanyaanku, Sun-a!”

“No.” Sun menutup telinganya erat-erat. Mino masih saja menanyakan hal yang sama. Sun masih tidak mau menjawab, dia malah berlari ke kamarnya untuk menghindari Mino. Dengan sigap Mino mengejar dan mencegah saat dia berniat menutup pintu kamarnya itu.

“Pulang sana, aku mau istirahat!” teriak Sun.

“Sido!” Jadilah mereka berdua rebutan pintu kamar, yang satu ingin menutup pintu, yang satunya lagi ingin membuka, siapa yang menang? Well, tentu saja yang bertubuh besar.

“Huuh!!” Sun mendengus sebal sambil menghentak-hentakkan kakinya.

“Jawab pertanyaanku, Sun-a!”

“Karena…. Karena… aku …. Aku kesal dengan ucapanmu di salah satu wawancara, kau memuji-muji hye jin. Oh, Hye Jin Noona selalu mengajariku, apalagi waktu bed scence, cih….” Sun menirukan gaya Mino di wawancara itu.

“Kau juga memuji Wu Chun, kau bilang, Oh…. Aku suka pria berotot, aku tahu Mino akan ngambek mendengar ini, tapi aku tidak takut dia cemburu, Puas!” Mino mengeluarkan kekesalannya. Sun memajukan bibirnya, kesal juga.

Mino tiba-tiba bergerak ke ranjang dan menghempaskan diri di sana.

“Hai, siapa yang menyuruhmu, aku bilang pulang!” Sun menarik tangan Mino supaya beranjak dari ranjang, tapi malang baginya yang bertubuh kecil, alih-alih menarik, tubuhnya lah yang tertarik dan jatuh tepat di atas Mino saat Mino menariknya dengan satu gerakan.

Sun terdiam, begitu juga Mino, posisi mereka masih sama seperti tadi, Mino di bawah dan Sun diatas. Mata mereka bertaut satu sama lain. Keduanya  tahu bagaimana akhir dari posisi ini nantinya, tapi aneh tidak ada yang segera memulai. Mino yang biasanya memulai ternyata masih mementingkan egonya, dia masih marah akan Wu Chun, dan Sun…. dia hanya menunggu.

“Aku tahu dia masih marah,” batin Sun.”Apa….apa..aku yang harus memulainya?” Sun menelan ludah kering.”Salahkah?… salahkah jika aku yang meminta?” Sun masih saja berkecamuk dengan pikiriannya.

“Apa yang akan dilakukan, gadis nakalku?” otak Mino menerka-nerka,”Jangan harap aku akan memulainya, Sun-a!”

“Oh, kenapa aku jadi seperti ini,” pikiran liar Sun menari-nari, “Kalau saja di restoran tadi, tidak ada Il Woo, Bum dan hye jin, aku pasti sudah menghambur ke pelukannya. Tapi tidak mungkin mengingat hubungan kami…. Dan kemarahan itu….tapi aku merindukannya, aku merindukan sentuhannya.”

“Kenapa kau masih mematung?” Mino bertanya dalam hati,”Aku ingin lihat bagaimana caranya kau memulai?”

“Sepertinya memang aku yang harus memulai.” Sun memantapkan hatinya. Jantungnya berdetak cepat saat itu dan Mino dapat merasakannya karena dada mereka saling menempel. Pandangan Sun beralih ke dada Mino. Dia agak bangkit dari tubuh Mino dengan tangan kiri menyangga tubuhnya, sementara tangan kanannya membuka kancing kemeja Mino satu persatu, saat semua kancing itu terbuka, dia bisa melihat dada bidang Mino, dia meletakkan telapak tangan kanannya ke dada Mino, sementara tangan kirinya masih dipakai menyangga tubuh. Mata Mino memejam, sungguh dia tak tahan lagi, hanya satu sentuhan dan itu hanya sentuhan telapak tangan, Mino sudah runtuh pertahanan, kemarahannya mencair, dengan sigap dia menggeliat sehingga posisi mereka berubah, kini Sun lah yang berada di bawah. Sun agak terkejut, tapi dia tersenyum, “Minoku telah kembali,”pikirnya.

Mino menurunkan wajahnya, dia berbisik pada Sun,”Merindukanku, Sayang?”

—————————————————————————-

———————————————————

Kini mereka saling tertawa, masih berbaring dengan posisi, kepala Sun yang bersandar di dada Mino. “Kau bahagia, Baby?”

“Ne.”

“Kau lelah?”

Sun menghela nafas, “Sedikit.”

“Sekarang tidurlah, besok adalah hari sibuk kita.”

“Hm, ya..”

Mino tertawa mendengar jawaban Sun yang seperti tidak rela memejamkan mata. Mereka berdua memang ingin waktu berhenti, ya berhenti di titik membahagiakan ini. “Baby…”

“Waeyo?”

Mino menyadari sesuatu yang harus dia katakan,”Aku…aku harus ke Thailand lusa.”

Sun menatap Mino lekat-lekat.

“Ada FM di sana,” jawab Mino seakan tahu arti tatapan itu. Sun menyandarkan kepalanya ke dada Mino lagi,”Pergilah, puaskan Minozmu, asalkan kau kembali lagi padaku seperti malam ini.”

Mino terkekeh, dia mencium ubun-ubun Sun,”Gomawo, Baby, sekarang kita tidur, ya?”

Dan akhirnya mereka berdua tidur dengan tersenyum.

—–à*ß—–

Sinar mentari pagi menerobos jendela kamar, saat Mino mulai membuka matanya, dia masih sangat mengantuk mengingat pertempuran hebatnya dengan Sun semalaman dan mereka yang baru tidur pada pukul tiga dini hari, tapi rasa kantuk itu hilang saat didapatinya Sun sudah tidak ada di sisinya. Mino segera duduk menyandar di ranjang itu.

Pintu kamar terbuka perlahan, Sun masuk ke dalam, sudah sangat rapi dengan blazer biru muda, yang serasi dengan salah satu jas yang dimiliki Mino. Ditangannya memegang secangkir kopi, disodorkannya kopi itu ke Mino.

“Kau sudah sangat rapi?” Mino menerima uluran cangkir kopi Sun, lalu meneguk sedikit kopi panas itu. Sun tersenyum,”Ada meeting dengan pihak sponsor lagi.”

Sun berjalan ke sisi ranjang berlawanan, dia duduk dan mencari sesuatu di laci meja kecil di samping ranjang. Mino memperhatikan dengan seksama, Sun mengeluarkan sesuatu dari laci itu. Seblister pil, dia mengeluarkan salah satu pil itu, lalu dengan segelas air putih, menelan pil itu.

“Apa kau sakit?” Mino bertanya.

“Tidak.”

“Lalu kenapa kulihat kau selalu meminum pil itu tiap pagi?”

“Tiap pagi?” Sun tersenyum,”Bukan tiap pagi, sayang… tapi tiap habis bercinta hebat denganmu semalaman.”

Mino semakin tidak mengerti,”Apa… apa permainanku menyakitkan hingga kau harus minum obat.”

Sun terkekeh pelan, “Ini bukan obat penghilang rasa sakit, Mino.” Sun menyodorkan obat itu ke tangan Mino. Saat obat itu beralih ke tangan Mino, “Morning after pill?”

“Iya, semacam pil kontrasepsi,” terang Sun,”Kamu sih bandel, tidak mau pakai pengaman dan tidak mengeluarkannya di luar.”

Mino tertegun. Jakunnya naik turun, dia memandangi Sun yang masih saja menampakan senyum malaikat. Tangan Sun menggapai pipinya,”Kita tidak ingin keadaan lebih buruk dengan kehadiran bayi, kan?”

Perasaan Mino semakin tidak menentu, dia merasa bersalah pada Sun setelah mendengar kalimat Sun yang terakhir. Dia merasa bagai pecundang karena telah membawa Sun lebih jauh pada hubungan rahasia ini entah sampai kapan, baru disadarinya pengorbanan kekasihnya ini terlalu besar, dan apakah pil-pil ini aman? Apakah tidak merusak peranakan Sun? Dia tiba-tiba mengkhawatirkan keadaan Sun, dan mengingat dirinya sempat berkhayal akan kehadiran anak dari Sun. Dia makin merasa bersalah lagi.

“Mino, gwencana?” Sun mengguncang bahu Mino. Dia sangat kawatir saat melihat wajah Mino yang memucat.

“Ne, gwencana.”

“Aku pergi dulu,” Sun meraih tas semplangnya,”Sarapan sudah ku siapkan di meja makan.”

Sun memberikan quick kiss di bibir Mino dan berlalu dari ruangan itu. Sepeninggal Sun, Mino masih mematung, satu persatu percakapan dengan Sun barusan masih diingat-ingat. Dia merutuki dirinya sendiri karena selalu tidak bisa menahan nafsunya terhadap Sun, tapi mau bagaimana lagi? Instensitas pertemuan yang  sangat jarang selalu menimbulkan kerinduan yang teramat dalam, dan nafsu selalu menyerang saat mereka sendirian, dan Sun yang tidak pernah menolak ajakannya. Sun terlalu mencintainya, bahkan untuk menolak pun tidak bisa.

Dia sangat sedih, dia sedih dengan hubungan ini, semalam sempat terbersit khayalan tentang anak dari Sun, seorang anak, apakah akan mengakhiri masalah ini? Atau menambah masalah terutama di pundak Sun? tapi mengingat kalimat Sun yang terakhir, sepertinya begitu. Sun terlalu baik, di satu sisi dia membiarkan Mino menjadi pemimpin dari hubungan rahasia ini, tapi di sisi lain, dia masih berusaha mengendalikan keadaan dengan pil-pil itu, morning after pill! Sun bisa saja membiarkan dirinya hamil, menuntut Mino untuk bertanggungjawab dan masalah hubungan rahasia ini selesai sudah, tapi tidak. Kekasihnya itu tidak melakukannya.

Mino memasuki kamar mandi, dihidupkannya shower, air dingin mengucur deras di kepalanya yang masih berkecamuk, dia masih mengkawatirkan Sun, dia benci dengan semua ini, dia benci harus menyembunyikan hubungan ini, nafsu-nafsunya, dan selalu berakhir dengan morning after pill! Dia benci dengan gebyar-gebyar entertainment yang selama ini mengelilingi mereka, dia benci dan lebih parahnya, dia benci dengan dirinya sendiri, kenapa? Kenapa kau sangat bodoh dengan kecemburuanmu? Kau masih saja cemburu padahal dia sudah berkorban bagitu banyak untukmu! Kau sungguh egois! Sangat egois!

“Sun-a!!!!!” Mino berteriak memilukan, tubuhnya merosot ke bawah, terduduk di lantai kamar mandi sementara air masih mengalir deras ke kepalanya.

—–à**ß—–

Pagi ini ada sesi pemotretan yang harus dijalani Mino, dia sudah sampai di lokasi. Para kru tampak sibuk mempersiapkan peralatan. Mino memang datang terlalu pagi, jadilah dia hanya duduk-duduk di sofa menunggu para kru itu bertugas. Dia meraih poselnya, entah kenapa dia masih penasaran dengan morning after pill, hingga diputuskannya untuk browsing mengenai itu via ponselnya.

“Hai, Mino-ssi!” Il Woo tiba-tiba sudah berdiri di depannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Mino.

“Aku harus menandatangani sesuatu di ruangan sebelah.”

“O,” Mino bergumam sembari matanya masih menatap layar ponsel.

“Apa sih yang kau baca?” Il Woo merebut ponsel itu dari tangan Mino, dia yakin benar mino sedang browsing. Saat membaca “morning after pill” di layar ponsel itu, dahi Il Woo berkenyit. Mino heran dengan tingkah Il Woo, tanda tanya besar terpampang jelas di wajahnya, apakah Woo tahu tentang morning after pill?

Il Woo segera mengembalikan ponsel itu ke Mino,”Ah, kau semakin aneh saja Mino-ssi.” Dia segera pergi dari Mino. Mino tersentak dan berusaha menghalangi Il Woo pergi darinya, tapi terlambat, Il Woo sudah jauh, Sial!

Hati Mino bartanya-tanya,”Apakah… apakah hanya aku yang bodoh hingga tidak tahu tentang morning after pill? Dari tampangnya, jelas-jelas Il Woo tahu tentang pil ini. Huft! Kau benar-benar bodoh, Lee Min Ho… .”

Mino menghempaskan punggungnya ke sofa, perasaannya semakin tak menentu. Dia menghentikan kegiatan browsingnya dan memutuskan menelpon Sun.

“Yoboseyo…,” sapa Sun di ujung telephone.

“Baby..” balas Mino, tapi kemudian dia terdiam, lama.

“Min-a, kau masih di sana?” Sun heran kenapa tiba-tiba Mino hanya diam. Mino tersadar dan menjawab,”Ne!”

“Ada apa menelphon?”

“Tidak ada, aku hanya… hanya merindukanmu,” jawab Mino asal, terus terang dia masih mengkawatirkan Sun akan pil itu.

“Aish, kau ini, kita baru berpisah tadi pagi.” Sun terkekeh.

“Baby..”

“Ne?”

“Aku mohon…. Aku mohon kau jangan meminum pil itu lagi,” Mino menguatkan diri untuk mengatakan kekawatirannya.

“Aku tidak akan melakukan itu jika…

“Jika aku memakai pengaman dan mengeluarkannya di luar, kan?” Mino memotong cepat.

“Kya! Kau benar!” Sun berteriak di telephone. Mino agak menjauhkan ponselnya dari telinga, “Kau ada di mana, sih? kok bisa berteriak seperti itu?”

“Aku sedang di toilet, berdandan untuk meeting dengan pihak sponsor, kau tahu kan penampilan sangat penting di saat seperti ini?”

“Kau ini. Jangan terlalu cantik! Aku tidak suka kau terlalu cantik selain di depanku.”

“Aish!”

“Baby, aku serius, aku ingin kau tidak meminum pil-pil itu lagi, aku janji akan pakai pengaman.”

“Ceongmal? Tapi tunggu, masih ada cara lain, aku tidak akan hamil jika kita melakukannya di luar masa subur, ada alat yang bisa mendeteksi itu, aku bisa mengeceknya sebelum berhubungan, tapi aku tidak yakin mengingat…

“Mengingat nafsuku terlampau besar dan kau yang tak kuasa menolak!” Mino memotong lagi.

Sun terkekeh, “Kau terlalu sensi pagi ini, Min-a.”

“Miane, Baby, aku sangat kawatir padamu. Aku merasa bersalah.”

“Jangan merasa begitu, Sayang, bukankah semua ini sudah kesepakatan kita bersama?”

“Miane, Baby karena tak pernah menahan diri jika bersamamu, perasaan itu selalu kuat, kau tahu kan kalau kita jarang sekali bertemu?”

“Iya, aku mengerti.”

“Aku ingin bertemu denganmu tiap hari, Baby. Aku ingin kau selalu ada untukku. Kita menikah saja, Baby.”

“Hah, sekalian saja ceburkan diri kita ke laut!”

“Apa?” Mino terkejut dengan kata-kata Sun barusan,”Kau tidak mencintaiku, Baby? Kenapa seperti itu tanggapanmu tentang pernikahan kita?”

Sun menghela nafas, “Bukan begitu…Ah, sudahlah! Aku sudah ditunggu, kita bicarakan ini setelah kau pulang dari Thailand.” Sun memutuskan telephon.

“Baby, Yoboseyo! Baby!”

Sial! Setelah pulang dari Thailand? Antwe! Sun pasti sudah sangat sibuk pada waktu itu.

Arch !!!! Aku semakin benci dengan dunia entertainment !!!!!!

 

—–>THE END<——

3 thoughts on “BEHIND THE SHINING STAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s