BEHIND THE SHINING STAR II

Perempuan paruh baya itu tersenyum, sementara matanya masih awas menatap jalan yang membentang di hadapan. Tangan yang masih luwes berkendara di tengah padatnya lalu lintas malam. Wajah itu masih saja cantik di usia senja, pantas saja jika suami tercinta memanggilnya ‘B-lady’, singkatan dari beautifull lady dan suasana hati yang bahagia semakin membuatnya manis menampakkan lesung pipit itu. Bahagia mengingat minggu depan adalah ulang tahun suaminya. Di angannya telah berderet serangkaian rencana, dan yang membuatnya bersemangat malam ini adalah ‘Pesta kejutan’.

Itulah yang menyebabkan B-lady mengendarai mobilnya malam ini. Pesta kejutan ini tidak mungkin berhasil tanpa campur tangan putrinya. B-lady tahu betul itu mengingat sang putri telah diakui sebagai sutradara muda dan aktris berbakat di Korea Selatan. Dia akan mendiskusikan scenario kejutan yang telah direncanakannya itu dan keikutsertaan putrinya itu di apartemennya.

B-lady tahu putrinya pasti akan sangat iri dengan rencananya. Anak itu memang selalu iri padanya. Iri karena nasibnya yang beruntung, iri akan keanggunannya dan yang terakhir iri karena ayahnya sangat mencintainya. Masih jelas dalam ingatannya saat anak itu berkata,”Aku akan mencari pria seperti Appa, yang selalu cinta sama Oemma sampai tua.”

Senyumannya semakin lebar saja, kali ini dibarengi dengan perasaan geli. Ah! anak itu ada-ada saja. Lalu siapa yang dia pilih sekarang? Putra politisi dia tolak. Atlit basket? Dia enggan. Dan yang terakhir…aktor Ninja assassin? Dia menggeleng! Padahal  aku sudah sangat setuju jika pria itu jadi menantu, B-lady masih saja tak habis pikir akan putrinya. Dan wajahnya makin sumringah saat mobil yang dikendarai telah memasuki area apartemen putrinya.

B-lady segera memasuki gedung apartemen. Suara sepatu tumit tinggi terdengar karena B-lady berjalan cepat dan mantap. Dia harus menggunakan lift mengingat apartemen putrinya merupakan penthouse di lantai teratas gedung itu. Penjaga apartemen tersenyum padanya. B-lady memang sudah terkenal di apartemen itu. Saat pintu lift terbuka, dia segera masuk, masih dengan rencana pesta kejutan di kepalanya.

Lift sudah setengah jalan menuju penthouse, namun pintu lift terbuka. Beberapa orang memasuki lift. B-lady harus agak menyusut untuk memberikan ruang pada orang-orang itu. Senyum  manis masih tersungging di bibir, wajahnya yang cerah membuat mereka membalas senyum.

B-lady segera ke luar lift saat lantai yang di tujunya tiba, dia segera melangkah ke pintu apartemen putrinya, lalu memencet bel. Bunyi bel terdengar. “Shit! Siapa itu?” tampang pemuda itu tampak sangat frustasi.

B-lady keheranan, semalam ini putrinya belum pulang juga. Dia mencari sesuatu di dalam tas. Ternyata sebuah kunci. Dia segera membuka pintu apartemen, mencopot sepatu lalu mengganti dengan sandal rumah dan segera masuk ke ruang tamu. Sesaat dia mengamati suasana ruangan yang gelap itu. Dia mencari-cari stopkontak, menyalakan lampu ruangan lalu duduk di sofa, menanti kepulangan putrinya.

B-lady mulai membuka majalah. Sesekali dia memandang arlojinya. Dengan sabar dia menunggu. Bacaan di tangannya semakin menarik perhatian.

B-lady terkejut, teriakan dari arah kamar terdengar lagi. Dia segera berdiri. Kekawatiran segera menjalar di hatinya, rupanya dia salah. Putrinya di dalam kamar. “Sun pasti terjatuh, pasti berjalan sambil tidur lagi lalu terjatuh.” Dia segera berlari dan membuka pintu kamar lebar-lebar.

“Sun !” lady anggun itu memekik.

“Oema…” Sepasang kekasih itu menoleh ke arahnya. Pemuda tampan itu segera menarik selimut yang terkesiap untuk menutupi tubuh mereka lalu melepaskan diri dari posisi yang tidak enak dilihat.

B-lady sungguh tidak mempercayai pemandangan di hadapannya. Tangannya menutup mulutnya sementara langkahnya semakin menyusut ke belakang, dia berbalik dan berlari keluar apartemen Sun. Hatinya serasa perih dan marah, tidak disangka putri kebanggannya itu bertingkah demikian. Dia memasuki mobil dengan kasar, masih tak habis pikir dengan jalan pikiran Sun, Apa yang kau bisa dapat dari pemuda itu, Sun! Hanya artis yang baru naik daun, agamanya saja tidak jelas! Batinnya merutuki Sun. Dia memukul kemudi di depannya lalu menjalankan mesin dan segera pulang dengan hati dongkol.

====àóß====

Lion Bar sangat sibuk. Para pelayan mondar-mandir melayani pengunjung, sementara kelima bartender yang bertugas tampak memperlihatkan aksinya. Turis-turis asing terlihat di seantero ruangan. Musik yang terdengar sangat norak dan memekakkan telinga, membuat muak orang-orang alim, namun tentu tidak bagi mereka yang terbiasa dengan hiburan macam ini. Tampak beberapa pengunjung telah terkapar, entah sudah sampai di mana khayal mereka mungkin sudah sampai langit ke tujuh, padahal jelas-jelas raga mereka masih teronggok tak karuan di beberapa sudut bar itu, termasuk di antaranya pemuda jangkung yang menelungkupkan kepalanya di meja bartender. “Hei, Tuan, kau sudah sangat mabuk,” kata bartender di depannya.

“Ah, jangan mengoceh, tuang lagi di gelasku!”

Bartender itu tampak ragu menuruti perintahnya, wajahnya yang tampan segera mengeras,”Apa yang kau tunggu! Cepat berikan!”

Bartender itu menyerah juga, dia menuangkan cairan kuning keemasan ke gelas yang tersodor  dan segera ditenggak oleh si pemuda mabuk dengan sekali teguk lalu dgebrakkannya gelas itu di atas meja bersamaan dengan mendaratkan kembali kepalanya. Dengan posisi itu, dia masih memukul-mukulkan gelas itu di atas meja, sementara pikirannya mengutuki diri sendiri, dasar brengsek! Diantara banyak profesi kenapa harus itu yang ku pilih? Dan orang-orang itu seenaknya menekan dengan target, kenapa hidup hanya diukur dengan sederat angka? Angka-angka yang brengsek! Target-target yang munafik! Sang bartender cuma geleng-geleng kepala.

Di sebelah kiri pemabuk itu, dua orang gadis memperhatikannya, pakaian minim membalut tubuh keduanya, dan dari penampilan mereka, tentu pria alim akan menjauhkan diri. Mereka sangat terpesona dengan wajah tampan itu. “Hei, bukankah itu Lee Min Ho?” tanya salah satu dari mereka ke yang lain. Gadis yang ditanya semakin menyipitkan mata,”Sepertinya begitu. Kenapa aktor seperti dia bisa kacau begitu?”

“Entahlah, mungkin gagal casting.” Keduanya tertawa bersama. Seorang turis yang tengah mabuk berat menghampiri mereka,”Hay ladys, enjoy this night with me!”

“Thank you, sir. But we are not interesting,” tolak salah satu dari mereka. Sang turis tidak terima dan langsung mencengkram gadis satunya. Salah satu pria asing yang masih sadar dan merupakan teman dari turis mabuk itu berusaha menenangkannya,”James, stop it! We are foreigner here.”

“Fuck you, Nick !” temannya menolak, malah semakin menarik gadis malang itu ke arahnya dan berusaha menciumi. Pemuda jangkung yang disebut Lee Min Ho tadi mulai mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah keributan kecil itu. Dengan gontai dia menuju ke arah mereka lalu berusaha melepaskan gadis itu,”She said not interesting!”

James semakin berang dan melayangkan tinjunya ke pemuda jangkung tersebut. Mendapat perlakuan demikian, dia tidak terima dan membalas pukulan, perkelahian pun terjadi. Kedua gadis itu berteriak. “O My God.” sesal Nick berusaha melerai. Dan akhirnya sebuah botol yang dipegang oleh pemuda itu melayang ke atas kepala James hingga pecah dan korban segera rubuh. Nick  terkejut, tangannya reflek menepuk pemuda kalap itu, malang baginya botol pecah yang dipegang pemuda itu mendarat keras ke perutnya. Darah segar tampak merembes di baju Nick. Tubuhnya roboh di tempat. Jeritan-jeritan makin keras terdengar, menyadarkan  kekalapan pemuda itu. Dia segera melarikan diri. Keluar dari bar gila itu dengan langkah lebar, sementara orang-orang tidak memperhatikannya tapi malah panik dengan keadaan kedua korban.

=====àóß=====

Detektif Han menghela nafas, kasus ini sangat membingungkan, sementara kesibukan di kantor polisi itu makin menggila saja, suara telephone dan mesin ketik bersahutan, belum lagi umpatan para pesakitan itu saat diinterogasi, sungguh pagi yang buruk mengingat semalam tidurnya kurang pulas akibat telephone mendadak akibat kasus ini.

“Dua orang turis asing,” ujar asistennya, Hoo Kie.

”Orang Amerika!” sambung Han.”Ini akan menjadi kasus besar, menyangkut dua negara, apalagi Korea sedang giat-giatnya promosi wisata. Sungguh tidak bisa dipercaya.”

Hoo Kie membolak-balik arsip di depannya.

“Ada petunjuk lain?” tanya Han. Hoo Kie menggeleng.

“Yakin?”

“Ya!”

“Sidik jari atau kesaksian?”

“Nihil! Sepertinya orang itu memakai sarung tangan, kau tahu kan semalam  udara Seoul sangat dingin?”

“Lalu, apakah tidak bisa mengorek keterangan dari saksi?”

“Kita agak kewalahan akan hal itu.”

“Apa maksudmu dengan kewalahan?”

“Lion Bar berusaha melindungi semua yang bertugas  malam itu, jika kita mau saksi, kita harus berhadapan dengan tim pengacara mereka.” terang Hoo Kie.

“Hah! Benar-benar tak dapat dipercaya!” sekali lagi Han mendengus.”Lalu bagaimana dengan pengunjung?”

“Tetap nihil, sepertinya mereka terlalu individualis malam itu. Kita hanya bisa menunggu para korban sadar lalu kita bisa mengenali pelaku dari sketsa wajah.”

“Bisa diperkirakan kapan mereka sadar?”

“James Howl sudah sadar pagi ini, tetapi sepertinya semalam dia terlalu mabuk untuk mengenali pelaku,” jawab Hookie,”Harapan kita tinggal korban satunya, Nick Stollen.”

Han merebut file yang ada di tangan Hookie. Sesaat dia telusuri tulisan yang ada di lembar catatan kesehatan Nick, keadaan turis asing itu lebih parah, darah terus keluar dari lubang tusukan, dan perlu tranfusi, Han mulai menghitung berapa hari kemungkinan Nick tersadar. “Rupanya memang tidak ada cara lain, aku harus minta bantuannya.”

===à< = >ß===

“Kau yakin?” tanya Mino. Sun mengangguk,”Biar aku yang menjelaskan semuanya pada oemma.” Sun menuangkan orange juice ke dalam gelas lalu menyodorkannya di depan Mino “Apa acaramu siang ini?” Pertanyaan itu untuk mengalihkan pembicaraan. Mino meneguk orange juice di tangannya saat sandwich itu mulai menyumbat kerongkongan, “Seperti biasanya, syuting seharian. Kau sendiri?”

“Survey lokasi setelah ke rumah Appa.”

“Sebenarnya mau apa B-lady menemuimu?” Mino masih saja memutar arah pembicaraan. Sun memijit-mijit pelipisnya, “Entahlah,” Mino meraih tangan Sun, dia genggam tangan mungil itu seakan memberikan kekuatan di sana,”Kau yakin tidak mau kutemani?”

Sun tersenyum,”Setelah kejadian semalam, terus terang aku tidak tahu lagi apa yang harus kuperbuat.”

“Karena itu ijinkan aku menemanimu,” Mino memohon.

“Dan kau pasti akan diusirnya,” Sun terkekeh. Kening Mino berkenyit,”Oemmamu tidak menyukaiku?” Sun tidak menjawab, dia memandang ke arah jendela, suasana di luar terlihat teduh.

“Kenapa oemmamu tidak menyukaiku?” pertanyaan itu mengagetkan Sun. Sun memandang arlojinya,”Sudah jam sembilan, semalam kau bilang ada syuting jam sepuluh. Berangkatlah, kau pasti sudah ditunggu.”

Mino menghela nafas, dia mulai berjalan mendekati Sun lalu mencium kening, pipi, dan terakhir bibir kekasihnya itu,”Aku akan menelphonmu nanti malam, dan bila ada waktu, aku akan ke sini.” Sun tersenyum menghantarkan kepergian Mino dari apartemen itu.

Dan sekarang di sinilah Sun, di dapur B-lady bersama oemmanya itu yang telah mencuekkannya sejak tiga puluh menit yang lalu. Oemmanya masih saja sok sibuk dengan masakan, sementara Sun masih melamunkan kebersamaannya dengan Mino tadi pagi. Seperti yang telah dikatakannya pada Mino, dia memang tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan saat ini.

“Huh! Kenapa kaleng ini tidak berubah sejak sepuluh tahun yang lalu?” B-lady jengkel karena kesulitan membuka kaleng sarden, dia memukul-mukul kaleng itu sampai peyok, lalu melemparnya. Sun terkejut, jelas sekali Oemmanya marah bukan pada kaleng sarden, tapi pada dirinya. Sun memungut kaleng sarden itu lalu mulai membukanya dengan alat pembuka kaleng. B-lady menghela nafas,”Kau bilang tidak ada hubungan dengannya.”

Sun tersentak, pembuka kaleng hampir terjatuh dari tangannya. B-lady menatapnya tajam,”Lalu yang semalam itu apa?”

“Mianhamnida, Oemma,” ujar Sun lirih.

“Kau!” B-lady menunjuk ke arah Sun,”Sebenarnya apa yang kau lihat dari lelaki itu, Sun! Sudah berapa kali kalian melakukannya?” Sekali lagi Sun tersentak. B-lady memandangnya dengan penuh tanda tanya dan dia mulai bisa menebak jawaban yang akan diberikan putrinya,”Kau tahu apa sebutan yang bisa Oemma berikan untukmu? Pelacur!”

“Oemma?” Sun sungguh tidak mempercayai kata-kata B-lady.

“Ya, pelacur. Maaf jika Oemma terlalu keras tapi memang hanya itu yang bisa Oemma pikirkan, kau mau Oemma menyebutmu apa? Wanita simpanan? Oh, tidak bisa, Sun, wanita simpanan pasti sangat kaya karena mendapatkan apa saja dari pria yang dikencaninya, sedangkan kau…. Kau masih saja harus bekerja keras dengan film-film dan lukisanmu, sementara lelaki itu seenak jidatnya menemuimu di waktu luangnya dan kau dengan senang hati membuka kakimu untuknya, kau tahu  sebutan yang pantas? Apa lagi kalau bukan pelacur!”

“Oemma!” Sun berteriak sekarang. Air mata mulai mengalir di pipi, sementara tangan kanannya membekap mulut. Dia terisak, tak disangka B-lady mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan. Sejak kecil memang dia sering beradu mulut dengan oemmanya, tapi kali ini pernyataan itu adalah hal yang paling menyakitkan yang keluar dari mulut Oemmanya.

“B-lady, I am home…” teriak suami B-lady saat memasuki dapur. Lelaki paruh baya itu heran saat melihat Sun menangis, sementara B-lady terkejut dengan kepulangan suaminya yang tiba-tiba, dalam otaknya mulai mencari-cari alasan untuk menjawab pertanyaan suaminya itu kelak, suaminya sangat menyayangi Sun, diantara kedua putri mereka, Sun-lah yang paling suaminya sayang, dan dia tidak mungkin membuat suaminya kecewa dengan menceritakan kejelekan Sun, hubungan rahasia itu, yang seantero Korea sudah dianggap rahasia umum bahkan fakta, tapi bodohnya dianggap gossip oleh mereka karena sangat mempercayai Sun.

“Waeyo, Sunny?”

Sun memandang Appanya nanar, dia tidak sanggup menjawab pertanyaan itu, sementara bahunya bergerak-gerak selaras dengan isakkannya, dia sudah tidak sanggup dengan tatapan itu, hatinya sangat pedih, hingga akhirnya diputuskan untuk berlari meninggalkan ruangan itu. Dia berlari keluar dari rumahnya, menjalankan mobil secepat-cepatnya demi menghindari pertanyaan lebih lanjut dari Appanya, orang tua yang selama ini sangat membanggakannya itu.

=====à < = > ß=====

Detektif Han tertawa melihat penampilan temannya, pria di depannya terlihat sangat necis dengan kemeja yang terselip rapi di celana dan jas yang sangat serasi dengan kemeja itu, rambut pria ini sangat stylist, dan Han semakin ngakak melihat celanannya, celana pensil.

“Ha ha ha, terus saja tertawa,” pria di depannya merasa diperolok. Dengan susah payah, Han menghentikan tawa. Gedung kosong itu tampak tak terawat, dan hanya orang gila saja yang mau mengadakan pertemuan di tempat ini, tapi tempat bobrok inilah yang paling aman untuk pertemuan keduanya.”Apa yang kau dapat?” tanya Han. Pria stylist itu menyerangai,”Apa yang kau beri?”

Han menarik sudut bibirnya,”Kau perhitungan sekali!”

“Kau sudah berjanji, lagi pula kasus ini bukan prioritasku, aku sedang menangani pembunuhan gay,”terang pria itu. Itulah sebabnya polisi yang satu ini berpenampilan demikian, rupanya dia sedang menyamar untuk penyelidikan. Detektif Han selalu kesulitan dengan penyamaran karena tampangnya yang terlalu serius dan para penjahat itu langsung bisa mencium aroma polisi dari tubuhnya, maka dia meminta bantuan temannya itu. Han mengeluarkan sesuatu di balik mantelnya lalu menyodorkan ke arah pria itu.

“Apa ini?” tanya sang ahli menyamar.

“Dua tiket ke Haway, anggap saja ini bantuanku agar kau bisa berkencan dengan pasangan gaymu,” sekali lagi Han tertawa.

“Kau!” pria itu memukul bahu Han, Han meringis kesakitan.

“Get it or not?” Han merebut dua tiket itu. Pria itu terkejut dan cepat merebutnya kembali,”Seorang actor.”

“Apa kau bilang?”

“Pelakunya adalah actor.”

“Actor!”

“Ya, itu yang aku dapat.”

“Siapa?”

“Mereka bilang tubuhnya jangkung.”

“Hah, kau kira berapa banyak actor jangkung di Korea ini?” hardik Han,”Yang kau katakan sangat konyol.”

“I don’t care. Hanya itu yang ku dapat. Setidaknya kasus ini besar, korbannya warga negara asing dan pelakunya actor local, kau pasti akan naik pangkat jika berhasil memecahkan kasus ini. Senang berbisnis denganmu, Han,” pria stylist itu  berlalu.

“Hai, hai!” Han memanggil pria itu, tapi yang dipanggil tidak menghiraukannya, hanya melambaikan tangan dan tetap meninggalkan tempat itu. Ponsel Han berdering dan segera diangkat.

”Nick Stollen sudah sadar,” kata Hoongkie di ujung telephon. Han melonjak girang,”Lakukan sketsa wajah secepatnya.”

“Akan kita usahakan, semoga tim medis mengijinkan kita melakukan itu mengingat keadaan Nick.”

“Terserah, yang penting pelaku segera dikenali,” seloroh Han. Dia tiba-tiba merasa penasaran. Seorang actor! Hm, actor jangkung? Siapa? Mungkin benar kalau ini akan jadi kasus besar.

=====à< * >ß=====

Sehari sudah semenjak pertengkaran Sun dengan B-lady. Sun terlihat sangat tidak bersemangat pagi ini, semua pekerjaan dijalaninya dengan setengah hati, bahkan semalam dia sudah melarang Mino menemuinya, dia tidak ingin Mino melihat wajah sedihnya, dia berbohong ketika Mino menelephon, mengatakan bahwa hubungan dengan Oemmanya tetap baik-baik saja.

Hari merangkak siang, percuma Sun tetap memaksakan diri bekerja, sangat susah berkonsentrasi, akhirnya dia mendatangi Manolin Café, menghibur diri dengan menjadi barista di café miliknya itu. Seorang wanita karir terkejut melihatnya, hal langka bagi wanita ini dilayani oleh artis sekaligus pemilik café,”Anda tidak sibuk siang ini?”

“Seperti yang anda lihat,” jawab Sun.

“Bisa berikan saya Coffelatte?”

“Tentu,” Sun menjawab dengan menampakkan lesung pipitnya dan segera membuatkan pesanan.

“Bisa ganti saluran tv-nya dengan siaran infotainment?” pinta wanita itu lagi saat Sun menyajikan pesanannya.”Infotainment? Anda suka acara itu?”

“Iya, siapa tahu ada Anda di sana?”

Sun menurutinya, saluran TV segera menayangkan acara infotainment. Para pengunjung café mulai menoleh ke layar televisi. Sun tersenyum saat satu persatu berita dari teman sesama artis muncul. Semua kaget saat sebuah berita yang akhirnya terpampang,

“Aktor LMH ditangkap di apartemennya atas sangkaan penusukkan terhadap turis asing.”

Wanita karir itu berbalik ke arah Sun,”Menurut Anda, apakah dia benar melakukan itu?”

“Siapa?”

“Lee Min Ho,” jawab wanita itu sembari menunjuk TV. Sun mengikuti arah telunjuk itu dan menyadari semuanya. Serta merta Sun memperhatikan berita itu lebih seksama, dan dia mulai gugup. Sun segera menuju ruang pribadinya di Café itu, perasaannya tidak karuan, berjalan mondar-mandir sambil menggigiti kuku.”Tidak mungkin, itu semua tidak  mungkin, malam itu dia bersamaku….. Bumie! Ya, Bumie, aku harus menelphon Bumie.”

“Bumie!” seru Sun saat ponselnya terhubung.

“Oh, ya, Noona, aku sudah mendengar kabar itu,” rupanya Bumie sudah tahu maksud Sun menelphon.

“Itu tidak mungkin. Malam itu Mino ada bersamaku!”

“Aku kurang tahu dengan kasus ini, Noona. Tapi aku berencana menemuinya di penjara siang ini.”

“Aku ikut! Aku harus mengatakan pada polisi yang sebenarnya.”

Bumie diam sebentar,”E… aku tidak tahu, Noona, tapi… tidakkah hal itu akan membongkar hubungan yang kalian rahasiakan selama ini?”

“Persetan dengan semuanya!”

“Aku kenal Mino, Noona. Dia pasti tidak setuju.”

“Tidak peduli! Aku harus menemuinya!”

Bumie semakin gusar,”Begini saja. Noona ke kantor polisi dengan memakai mobil orang lain, terserah mobil siapa asal jangan mobil Noona, tapi jangan langsung masuk, tunggu di tempat yang agak jauh dari kantor polisi. Biar aku yang menemui Mino dulu, sebenarnya aku tidak yakin Mino mau Noona temui, biar aku pastikan dulu, jadi tunggu aku untuk menjemput. Araso!”

“Apa saja, aku ikut saja, Bum.” Jawab Sun. Bumie menghela nafas,”Tenanglah di sana, Noona. Jangan gegabah.”

=====à < * > ß=====

“Mino, kau harus memikirkan semua ini. Ini adalah alibi yang sangat kuat!” ujar Manajer Mino. Bumie yang ada di ruangan itu tampak gusar, sepuluh menit yang lalu Sun mengirim SMS bahwa dia sudah menunggu di dalam mobil, di pertigaan sekitar tiga ratus meter dari kantor polisi.

“Sido!” tolak Mino. Bumie menghela nafas,”Benar kata Manajer. Dengan mengatakan bahwa kau bermalam bersama Sun waktu itu, kau segera bebas dari tuduhan.”

“Kau bodoh, Bum. Oke, aku mengatakan kalau aku bersama Sun, lalu mereka menanyai Sun, Sun mengiyakan, dan tidak sampai di situ saja, wartawan-wartawan brengsek itu akan bertanya lebih lanjut, lalu mau ku jawab apa? Bercinta semalaman dengannya? Dan bagaimana nasib Sun setelah itu? Kalian pernah memikirkan itu?”

Mino memijit pelipisnya, dia tidak pernah menyangka kejadian ini menimpa dirinya. Menjadi tersangka penusukkan turis asing hanya karena sketsa wajah.”Aku boleh saja hancur, asal jangan Sun. Jalan Sun masih sangat panjang!”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya sang manajer.

“Ah, kau manajer bodoh, bisa-bisanya kau bertanya padahal itu tugasmu,” hardik Bum. Manajer itu mendelik ke arahnya,”Pihak manajemen sudah menunjuk pengacara, tapi jika pengacara itu tahu alibi ini, dia pasti juga akan menggunakannya.”

Mino memejamkan mata, perkataan manajer itu ada benarnya juga, sekarang bagaimana caranya agar pengacara itu tidak tahu,”Aku akan menjadi Goo Jun Pyo. Goo Jun Pyo menyelesaikan semuanya dengan uang.”

Bumie terkekeh, perkataan sahabatnya ini terdengar konyol,”Jangan melucu, Mino-ssi. Ini bukanlah serial drama.”

“Kita sudah hidup di dunia itu. Di situ ada aktor dan sutradara, untuk sementara biarkan aku menjadi sutradara sekaligus aktor untuk keluar dari kasus ini,” pinta Mino. “Pak manajer, tawari turis itu dengan sejumlah uang agar mau berdamai.”

“Kau gila, Mino-ssi. Mereka orang Amerika, sudah pasti mereka langsung berlindung di kedutaan besar Amerika!” tolak sang manajer.

“Itulah sebabnya aku menyuruhmu, kau pintar bernegosiasi.”

Ponsel Bumie berbunyi. Sun mengirim pesan untuk ke sekian kalinya. Dia semakin gusar. “Siapa itu?” tanya Mino.

“Hye Sun  Noona,” jawab Bum,”Dia menunggu di pertigaan seberang.”

“Pabo!” teriak Mino. Bumie menghempaskan punggung di sandaran kursi.”Telephon dia sekarang, bilang agar tidak bertindak yang macam-macam,” perintah Mino.

“Dia hanya ingin menemuimu!”

“Anyi! Katakan saja aku tidak bisa ditemui, sedang ada pertemuan dengan pengacaraku, apa saja agar dia segera pulang!”

Bumie melakukan apa yang diperintahkan Mino. Dia menjauhkan diri dari Mino dan manajernya untuk menelphon Sun. Sementara Mino dan manajer itu meneruskan permbicaraan,”Seperti yang ku bilang tadi tawari mereka uang, aku rela kehilangan apa saja agar mereka mau melepas kasus ini.”

“Jika mereka tidak mau?”

“Tekan mereka agar mau menerimanya.”

“Maksudmu aku harus bekerja sama dengan geng seperti Woo bin dalam BOF?”

“Oh my God, Manajer! Mereka turis asing, cari kelemahan mereka, ijin tinggal, visa yang habis masa, atau apa saja!” Mino semakin tidak sabaran, tidak biasanya manajernya ini begitu lamban berpikir.

“Araso! Araso!” sahut manajer. Mino menarik ujung bibirnya. Bum yang sudah selesai menelphon Sun kembali di antara mereka,”Sangat sulit meyakinkannya, tapi akhirnya dia mau mengerti setelah aku bilang kalau akan menemuinya setelah ini.”

Kini giliran Mino menyandarkan diri di kursi,”Bilang padanya aku tidak mau ditemui selama di penjara.”

Bumie mengangguk. Mino memerintah lagi,”Bilang juga padanya agar tidak bicara apa pun mengenai pertemuan kami yang terakhir!”

===è……ç===

Sun berbaring di sofa, sementara peñata rias bekerja, mempermak wajahnya yang pucat agar terlihat lebih segar. Beberapa hari terakhir memang kesehatannya agak terganggu, dia merasa mual bahkan sesekali pingsan, dan yang terparah, dia pernah pingsan di hadapan B-lady, B-lady memang mendatangi apartemennya kemarin dan menekan Sun agar memutuskan hubungan dengan Mino. Saat itu B-lady mengira Sun hamil, Sun bahkan harus menggunakan test pack di depan oemmanya itu hanya untuk meyakinkan kalau dia tidak hamil.

Di Hall room, para wartawan sudah berkumpul menanti kehadiran Sun, hari ini memang diadakan Confrensi press untuk menjawab simpang-siurnya berita antara Sun dan Mino. Sun sebenarnya  tidak menyetujui acara ini, tapi pihak manajemen meyakinkannya kalau hal ini harus dilakukan, sebab jika dia tetap diam, beberapa pihak sponsor filmnya diindikasikan dapat memutuskan kontrak kerja.

Sementara di ruang pengunjung, di kantor polisi, Bumie dan Mino menatap layar HP Tv. Menanti-nanti dengan cemas acara tersebut. Beberapa kali Mino berjalan mondar-mandir di ruangan itu lalu duduk lagi.

“Hai, diamlah, Kau membuatku tambah panik,” Bumie memandangnya risih. Mino mendengus,”Kenapa harus ada confrensi press? Kau bilang dia sudah janji tidak bicara apa pun!”

“Kau pikir sangat mudah bagi dia, hah! Beberapa sponsor mengancamnya untuk membatalkan kerja sama, manajemen menekannya untuk melakukan ini!”

Mino merebut HP TV dari tangan Bumie,” Belum mulai juga.”

“Jangan kawatir, dia janji tidak akan banyak bicara, di sini nanti manajernya yang akan lebih banyak bicara,” jelas Bumie.

Sun masih berkutat dengan riasan wajahnya. Sesekali peñata riasnya mendengus, agak susah menyembunyikan pucat di wajah Sun kali ini, sementara angan Sun mengingat-ingat kembali pertemuannya dengan Bumie setelah dia gagal menemui Mino beberapa hari yang lalu.

“Apa dia sudah gila?” pekik Sun. Bumie menyandarkan punggung di sofa ruang tamu apartemen Sun. Dia sudah menduga reaksi Sun akan seperti ini. “Hanya ini yang bisa mengeluarkannya dari semua tuduhan,” Sambung Sun lagi.

“Noona pikir sudah berapa kali aku meyakinkannya, bahkan manajernya pun berang. Oh ya, satu lagi, dia melarang Noona menemuinya di penjara.”

“Sidho!” Sun benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Mino. Dia meraih tas selempangnya dengan cepat. Bumie terkejut,”Noona mau kemana?”

“Antarkan aku menemuinya!”

“Anyi! Sudah jelas dia tidak mau Noona temui!”

“Baik, aku akan menemuinya sendiri!” teriak Sun sembari mulai melangkah pergi. Dan saat dirinya hampir mendekati pintu…… .”Huh, kenapa harus aku yang selalu diantara kalian.”

Sun menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan memandang ke arah Bumie,”Apa katamu?”

“Aku bilang kenapa harus aku yang selalu diantara kalian!” Bumie terlihat sangat jengkel. Sun semakin tidak mengerti.

“Kau tahu, kan? Konser Joongie, pemutaran perdana filmmu, dan yang terakhir…. Kasus konyol ini! Kenapa bukan Joongie? Kenapa bukan Joon! Bukan aku saja yang tahu hubungan kalian!”

Sun tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bumie memangilnya dengan ‘kau’ seumur-umur baru kali ini dia mendapati Bumie semarah ini. Aku pasti sudah sangat menyusahkan, pikir Sun.

Bumie berdiri, dia berjalan ke arah Sun, menekan dengan kuat bahu Sun dengan ke dua tangannya,”Jadi, jika kau masih ingin seorang Bumie membantumu…. Lakukan perintahku!”

“Dia memerintahmu untuk tidak menemuinya di penjara. Dan aku juga perintahkan itu. Dia mau kau tutup mulut tentang malam pertemuan kalian yang terakhir, dan aku juga…. Aku juga perintahkan itu. Araso!” Bumie menggoncang-goncang tubuh Sun. Sun tertegun di tempat, dan butir-butir bening mulai menggenang di pelupuk matanya. Sun menyusut ke lantai, bersimpuh di hadapan Bumie dengan kedua tangan membekap mulutnya. Bumie berjongkok dan memeluk tubuh yang gemetaran itu,”Miane, jeongmal miane, Aku mohon berjanjilah, ini demi kebaikan kalian berdua, aku mohon….”

Diantara isakan itu, akhirnya Sun mengangguk lemah.

Sun menghela nafas, wartawan-wartawan itu sudah di depannya sekarang. Sementara manajernyalah yang selalu menjawab pertanyaan. Akan tetapi mereka tetap saja merasa kurang puas. Sang artis hanya berdiam diri, menatap dengan pandangan kosong.

“Hye Sun-ssi, apa komentar anda tentang kasus Mino-ssi?”

“Hye Sun-ssi, benarkah kalian selama ini berhubungan?”

Hye Sun-ssi, Hye Sun-ssi dan Hye Sun-ssi! Mereka tetap saja memojokkannya dengan sederet pertanyaan, “Hye Sun-ssi ada yang melihat Mino berada di apartemen anda waktu itu.”

Kali ini Hye Sun mulai bergerak, tapi ekspresi wajahnya tetap datar. Mino dan Bumie yang mengikuti acara itu di kantor polisi mulai tegang. Sementara B-lady yang juga melihat ekspresi Sun dari monitor TV mengkernyitkan alis.

“Apa-apan ini? Sudah jelas-jelas Sunny tidak ada hubungan dengan lelaki itu, mereka masih saja merepotkan. Bikin Sunny-ku stress saja!” Mr. Goo yang duduk di samping B-lady semakin ngomel. B-lady melirik, suaminya masih belum tahu tentang rahasia itu. Aku harap kau segera memutuskannya, Sun, batinnya penuh harap.

“Bukankah ini alibi kuat buat Mino-ssi jika semua ini benar dan anda mengatakannya?” wartawan itu menanyainya lagi.

Sun memandang ke arah wartawan itu. Jepretan blitz kamera sesekali menerpa wajahnya. Tangannya mulai bergerak ke arah mic. Mino yang melihat itu menahan nafas. Tangan Bumie mengepal, berharap Sun tidak melanggar janjinya. B-lady tampak pucat di tempatnya dan Mr. Goo masih saja mengomel.

Sun menghentikan tangannya, ekspresi wajahnya masih tak tertebak.

“Dalam hubungan ini kaulah yang memimpin,” dia teringat kata-kata yang diucapkannya pada Mino. “Selamanya aku tak akan melepaskanmu,” Mino seakan berbisik di telinganya. Sun menggerakkan tangannya lagi.

“Kenapa harus aku yang selalu diantara kalian?” teriakan Bumie kembali melintas di otaknya. Sun mulai meraih micnya.

“Jika kau masih ingin seorang Bumie membantumu,” sekali lagi pikiran Sun terganggu,”Dia mau kau tutup mulut tentang malam pertemuan kalian yang terakhir!……Araso!”

Sun memejamkan mata. Mino terduduk dengan tangan kanan menekan pelipisnya. Bumie mulai meletakkan HP TV itu di atas meja. B-lady semakin pucat.

“Seperti yang selama ini saya katakan… saya tidak ada hubungan dengannya.”

Mino dan Bumie melonjak girang. B-lady menghela nafas lega. Mr. Goo menari-nari tak jelas,” Jawaban yang cerdas, Sunny!”

Sun tersenyum manis,”Tuduhan terhadap saya salah alamat.”

Sun berdiri saat para kuli tinta itu masih ingin melontarkan pertanyaan, dari bahasa tubuh Sun, terlihat dia segera meninggalkan ruangan. Pihak manajemen Sun berusaha menenangkan press. Sun sukses melarikan diri dari hysteria itu dengan kawalan para bodyguardnya.

———–à< ^^^ >ß———–

Saat ini tepat pukul 11 malam waktu seoul, Mino melangkahkan kakinya menuju ruang pribadi Sun di café Manolin. Kasus itu usai sudah. Manajernya melakukan misi dengan baik. Para turis itu mau berdamai ketika diancam dengan masa visa yang habis sebelum kejadian penusukan. Dan siapakah pelaku sebenarnya yang sangat mirip dengannya? Mino tidak ambil pusing. Baginya semua telah berlalu, dan kini dia ingin menemui kekasihnya, dibukanya pintu ruangan itu dan di sanalah Sun, duduk di depan sketsanya, begitu bersinar diantara temaram malam. Sementara  kesunyian menghantarkan sukma kerinduan yang tersemayam.

Sun menghambur ke pelukan Mino  dan segera terkunci dengan ciuman. Seketika dia membalas ciuman itu, lalu menarik Mino mendekati bibir ranjang di ruangan itu. Mino agak terkesima dengan keagresifannya yang tidak seperti biasanya, tapi sekaligus bahagia. Sesaat mereka menyalurkan hasrat yang tertahan selama Mino terpenjara, menikmati tetes demi tetes gairah yang tertuang di atas peraduan cinta mereka. Kata-kata dan bisikan mesra tertuang diantara hasrat yang memburu, saat hati dan fisik bicara, tiada hal yang mampu menandinginya. Tak perduli nafas yang hampir habis, desahan dan leguhan tetap keluar dari keduanya. Ciuman, sentuhan dan saling memohon untuk terpuaskan. Semua berbaur di antara kerinduan yang terpendam dalam benak mereka. Dan diantara semua itu, Mino mengagumi kekasihnya, diagungkannya pujaan hatinya itu dengan buaian yang tersalur diantara gairahnya yang terdalam, “Untukmu, Baby…. Hanya untukmu.”

Sun menghirup udara dalam-dalam, aroma capucino yang dibuatnya untuk Mino menusuk penciumannya. Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi, Mino memang sedang mandi di dalamnya. Hari masih sangat pagi, para karyawan café belum datang. Sun segera menuju ruang pribadinya. Mino sudah keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk,”Kopi untukku?”

Sun tersenyum, disodorkannya kopi itu kepada Mino. “Gomawo,” Mino menerimanya dengan senang hati lalu meneguknya pelan. Sun duduk di sofa dan Mino mengikuti gerak-geriknya lewat sudut matanya. Entah kenapa hatinya berkata kalau pagi ini Sun kelihatan aneh, bukan hanya pagi ini tapi juga semalam. Keagresifannya, caranya merespon permainannya, segala hal yang membuatnya bahagia tapi juga membuatnya keheranan. Mino meletakkan cangkir kopi itu di meja teh di dekat sofa itu, dia duduk di samping Sun,  meraih tangan kekasihnya dan mengecup punggung tangan itu.

“Min-a, ada yang ingin kubicarakan,” suara Sun yang lirih memecahkan keheningan. Mino menatapnya penuh tanya. Sun menunduk, dia tidak mampu membalas tatapan itu, “Sepertinya semalam adalah percintaan kita yang terakhir.”

“Mwo?” Mino tak mengerti maksud perkataan Sun.

“Aku…. Aku….minta putus!” Sun menguatkan hatinya. Mino terbelalak,”Tidak! Aku tidak mau!”

“Cukup, Min-a, aku tidak bisa jadi pelacurmu lagi!”

“Pelacur? Apa maksudmu pelacur? Kau kekasihku, Sun. Kau istriku!”

“Istri? Bangun dari mimpimu, Lee Min Ho! Jika aku istrimu, aku tidak mungkin meminum pil-pil itu, jika aku istrimu, aku tidak perlu kawatir memastikan kalau kau mengeluarkannya di luar, takut kalau-kalau diriku hamil. Aku bukan istrimu, araso!”

“Kau…..” Mino menunjuk ke arah Sun. Dia menggeleng lemah,”Sudah ku bilang selamanya aku tak akan melepaskanmu.”

“Untuk saat ini, selamanya terlalu lama bagiku, Lee Min Ho! Aku tidak tahan lagi! Aku mau putus!” Sun menjerit.

“Ini bukan dirimu, katakan ini bukan dirimu!”

“Ini diriku yang sesungguhnya!!!” Sun meraung diantara tangisan yang tertumpah. Hati Mino semakin pedih. Inikah alasannya? Inikah alasan dibalik percintaan hebat semalam? Tidak, tidak semudah itu, Baby.

Mino mendekati peralatan lukis Sun, dia mencari sesuatu di sana. Saat dia menemukan benda yang dicarinya, dia mendekatkan benda itu di pergelangan tangannya. Logam keperakan itu tampak berkilat tertimpa cahaya saat dia berbalik menghadap Sun. Gadis  itu terperanjat di tempatnya,”Apa yang akan kau lakukan?” Dia berlari mendekati Mino yang sedang mendekatkan cutter di pergelangan kirinya.

“Berhenti!” Mino mengancam,”Apa gunanya aku tanpamu, Baby. Lebih baik aku mati!”

“Jangan bodoh! Kau akan membongkar semuanya kalau melakukan itu!” teriak Sun.

“Aha! Lihat siapa yang ketakutan sekarang! Selama ini aku merasa pengecut karena rahasia ini tapi ternyata….. sudah kubilang aku lebih baik mati!”

Sun semakin terisak, “Aku mohon mengertilah, aku mohon!”

“Tidak!” Mino mulai menyayat pergelengan tangannya. Darah segar segera keluar dari lubang sayatan itu. Sun menjerit sekuatnya. Perlahan tubuh Mino oleng. Sun berlari ke arahnya dan memeluk tubuh jangkung yang sudah terkapar itu. Para karyawan mulai berjejal masuk saat mendengar teriakan Sun yang menyayat hati,”Bangun, Mino-ssi! Aku bilang Bangun! Bangun!!!”

Para karyawan segera memanggil ambulance. Sekejap suasana manolin café rame oleh press dan akhirnya kabar itu menggema,

‘SELEPAS DARI PENJARA, AKTOR LMH MELAKUKA PERCOBAAN BUNUH DIRI DI MANOLIN CAFÉ”

Bumie tersenyum saat membaca berita ini,”Pabo, Mino-ssi! Kau bersikeras agar Sun tidak mengungkap tabir ini, tapi kau sendirilah yang mengakirinya.” Bumie menghembuskan nafasnya kuat-kuat,Sepertinya kau terlalu naif untuk menjadi seorang Goo Jun pyo…..

———à < … > ß———

Mrs. Lee menghela nafas, dia mencoba menghimpun kekuatan di dirinya. Rumah keluarga Goo berdiri angkuh di hadapannya. Hari ini dia berusaha melakukan yang diminta putranya sesaat setelah tersadar dari perbuatan konyol itu, Mino memintanya melamar Sun untuk dirinya. Ragu-ragu, dia membunyikan bel itu dan dia berusaha mengatur perasaan saat pintu rumah itu terbuka.

“Saya adalah Ibu Lee Min Ho,” di ruang tamu itu Mr. Lee memperkenalkan diri di depan Mr. Goo dan B-lady. B-lady mulai gugup.

“Senang berkenalan dengan anda,” sapa Mr. Goo. B-lady mempererat pegangannya di lengan kanan Mr. Goo. Suaminya menoleh dan menepuk-nepuk tangan yang melingkar di lengannya itu, berusaha menenangkan.

Mrs. Lee menyodorkan bungkusan kotak yang sedari tadi dibawanya,”Maksud kedatangan saya kemari adalah…..untuk melamar putri anda, Goo hye sun…. menjadi istri putra kami…. Lee Min Ho.”

Mrs. Lee menatap nanar, harapannya sudah di tekan dalam-dalam. Pasangan Goo di depannya masih saja terdiam. Dia tahu perbuatannya ini tidak pantas, seharusnya dia menunggu suaminya dulu, tapi Mino terlalu memaksa, Mino ingin dia menemui keluarga Goo hari itu juga, entah apa yang ditakutkan anak itu, dia sendiri kurang tahu. Apakah takut kalau Sun meninggalkannya? Gadis itu selalu setia mendampinginya di rumah sakit walau pun press menghujatnya. Mrs. Lee kebingungan di antara kesunyian itu.

“Saya rasa,” Mr. Goo mulai bersuara,”Keputusan ada di tangan Sun. Kami hanya menurut.”

Wanita paruh baya ini merasa lega, beban berat seakan telah terangkat. Dia mengucapkan terima kasih berulang-ulang pada Pasangan Goo. Senyuman mulai tampak di wajahnya sekarang.

“Tunggu,” giliran B-lady kini yang bicara,”Boleh tahu apa agama putramu?”

“Ceongmal, oemma?” Sun melonjak senang saat mendengar kabar dari Mrs. Lee. Dia segera memeluk calon mertuanya itu.

“Baby… kemarilah,” Mino yang masih terbaring di ranjang rumah sakit memanggil. Sun menoleh lalu duduk di kursi yang terletak di samping ranjang dan meletakkan kepalanya di dada bidang itu. Mino pun mengecup kening Sun. Mr. Lee sangat bahagia melihat keduanya,”Kau senang, Mino?”

“Sangat, Oemma. Sangat bahagia, wanita yang ku cintai akan menjadi pendamping hidupku.” Mino menatap hangat ke arah Sun. Gadis itu terharu, dan terisak di dadanya.

“Oh, iya, Mino,” tiba-tiba Mr. Lee teringat sesuatu.”Mereka menanyakan agamamu. Untuk mempermudah, akan lebih baik jika kau mengikuti agama Sun.”

Mino masih saja membelai sayang rambut Sun,”Anything, Oemma. Anything for my everything.”

à THE END ß

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s