DINASTI LEE (Part 1)

DINASTI LEE

(One Season Love)

Part 1

Seoul, kenapa namamu  serasa sendu, langit-langit itu, jalanan yang selalu sibuk, suasana yang indah di musim panas, tapi kenapa hati ini selalu teringat padanya? Kenapa tak bisa lupa? Senyuman itu, senyum bijak itu, wajahnya yang ayu walau penderitaan tak pernah lelah menerpa. Apa kabarnya dia disana? Sementara ku di sini. Bersamamu, Seoul. Bersama semua kegilaanmu, Seoul. Adakah kesalahanku di masa lalu yang tak bisa ku tebus, hingga ku harus dilahirkan delapan tahun lebih muda darinya? Apa salahnya pula hingga dia harus menderita penyakit separah itu hingga rahimnya diangkat?

Pria itu tampak menghela nafas, merasa dunia tak berpihak padanya. Asistennya masih sibuk dengan file-file, sementara dirinya lebih memilih melamunkan masa lalu. Mobil mewah yang ditumpanginya melaju membelah jalan Seoul, kota yang selalu dirutukinya, setidaknya tiga tahun terakhir ini. Kota yang sempat menjadi kota terindah bagi hidupnya, kini telah berubah menjadi momok yang menakutkan sejak kejadian itu, ya…. Sejak saat itu, tiga tahun yang lalu…….

Bandara Incheon terlihat ramai, musim panas  di korea memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong. Sementara para  turis berdatangan, gadis bertubuh ringkih itu malah sebaliknya, dan pria tampan yang selalu di sampingnya itu menggenggam tangannya erat, seakan takut terpisahkan. Mereka duduk, menunggu kedatangan pesawat ke negeri yang sebenarnya tak jauh, tapi tangan kuasa rupanya sangat ingin memisahkan mereka.

“Aku mohon jangan pergi,” bisik pemuda itu. Matanya memandang sendu. Dan gadis ringkih menunduk, tak mampu memberi kepastian pada pemuda itu. Semua telah diputuskannya, tidak ada kepastian dalam cinta ini, tidak adil, terutama bagimu, kekasihku.

“Bo Young, aku mohon batalkan rencanamu. Persetan dengan semua ancaman nenek sihir itu. Persetan dengan semuanya!”

Gadis itu menggapai tangan kekasihnya,”Minho-ssi, miane, tapi aku memang harus pergi walau tanpa desakan Oemmamu. Tidak ada harapan dalam cinta ini. Kau masih sangat muda, margamu perlu penerus, dan itu tidak bisa ku berikan padamu.”

Wajah pria bernama Minho itu mengeras, kalimat kekasihnya terdengar konyol baginya,”Kau hidup di jaman apa? Bahkan sekali tepukan tangan kita bisa mendapatkannya dengan bayi tabung!”

Bo Young menggeleng,”Tetap tidak sama, Minho. Setidaknya bagi orang tuamu.”

Minho menghela nafas. Dadanya serasa sesak. Peristiwa tiga tahun yang lalu itu masih begitu jelas di benaknya. Dan kata-kata terakhir Bo Young, saat melambaikan tangan, menghantarkan kepergiannya menuju pesawat,”Carilah gadis yang baik, Minho. Kau pasti akan menemukannya. Masih banyak kesempatan bagimu. Hwaiting!”

Mobil itu masih melaju. Minho mencoba untuk tidur, tapi semua sia-sia. Di sampingnya, Pak Han, si asisten mulai menyalakan laptop. Menekuri laporan-laporan yang diberikan orang-orang kepercayaannya via online. “Kapan kita sampai di tempat itu?” Minho mulai bersuara.

“Setengah jam lagi. Mungkin Tudenim perlu minum?”

Minho mengangkat tangan untuk menolak  tawaran itu. Dia mulai bosan dengan perjalanan ini dan memerlukan teman ngobrol, perjalanan yang hening hanya akan membuatnya kembali ingat pada Bo Young. Bo Young, dosen  sekaligus kekasihnya itu telah pergi, meninggalkan sejuta kenangan perih yang membuatnya merasa sial berada di kota sendu ini.

“Apa tudenim merasa gugup?” tanya Pak Han. Minho melirik melalui ujung matanya,”Kenapa aku harus gugup?”

Pak Han mengulum  senyum. “Aish!” Minho jengkel dengan sikap Han. Memang rencana ini sangat konyol. Benar-benar konyol. Nenek sihir itu tiba-tiba datang ke kantornya kemaren. Tanpa ba bi bu memasuki ruang pribadinya dan menyodorkan sesuatu tepat di wajahnya padahal waktu itu dia masih terlibat pembicaraan penting dengan seorang partner kerja.

“Mworago?” seru Minho tak mengerti. Dengan menggerakkan kepalanya, wibawa wanita itu, yang selalu dipanggilnya dengan sebutan nenek sihir yang tak lain adalah Nyonya Besar Lee atau Oemmanya sendiri, langsung bergetar di ruangan  hingga semua orang yang merasa tidak terlibat dalam pembicaraan itu mengundurkan diri.

“Kau harus datang di pesta itu!” perintahnya. Min ho mulai menelusuri sesuatu yang ternyata adalah undangan. Undangan pesta lebih tepatnya pesta kebun. “Ada bisnis penting di sana?”

Yap! Khas keluarga Lee sudah mulai mendarah daging di dirinya, tidak akan datang ke suatu pertemuan yang hanya menghabiskan waktu dengan percuma tanpa bisnis.”Aku lihat pesta ini hanya gaya foya-foya anak bau kencur yang berulangtahun?”

Lee Je Ha duduk anggun di kursi. Dia menerima teh hijau yang disuguhkan OB kantor itu. “Kau akan bertemu calon istrimu di situ.”

Undangan itu terlepas, jatuh  tepat di sepatu licinnya. Hal itu lagi, Arkh…, kenapa nenek sihir ini tak bosan-bosan juga. Sudah berpuluh gadis yang dia sodorkan tiga tahun terakhir.

“Dan kau harus menerimanya saat ini, memang usianya lebih tua dua tahun darimu. Tapi tidak masalah, bukankah kau memang menyukai gadis yang lebih dewasa?”

Bagus! Kau mulai mendiktekan kelemahanku! Minho memijit-mijit keningnya.

“Tapi dia tidak setua dan penyakitan seperti Bo Young!”

“Oemma!” Minho tak terima cercaan Je Ha. Wanita itu tersenyum sinis, “Bukankah itu yang sebenarnya? Oemma tak mau tahu, pokoknya kau harus menemuinya, dia pasti ada di pesta itu, namanya…….

Dan kini Minho sama sekali tidak mengingat nama gadis itu karena dia terus menyebut nama Bo Young, Lee Bo Young di dalam hati saat Je Ha mengatakan nama itu.

———– > 8 < ————-

“Pesta yang indah!” puji Il Woo pada tuan rumah pesta, gadis manis berambut panjang di depannya tersenyum,”Gomawo.”

“Tentu saja indah, tapi aneh, bukankah hari lahirmu 9 April, kenapa baru dirayakan 1 Mei ? Dan tema pesta ini… ah! Sama sekali bukan dirimu.” Bumie menggoda gadis yang tengah berulang tahun. Senyuman maut tersungging di bibirnya. Kebun itu memang tampak asri, beberapa tumbuhan perdu tertata apik di suatu tempat dan bunga-bunga yang hanya tumbuh di musim panas, meja dan kursi yang terbalut kain putih tampak selaras dengan rumput hijau yang terhampar di bawah kaki mereka. Tamu-tamu tampak akrab satu sama lain, menikmati pesta tersebut.

“Kalian tidak malu menggoda Yu Jin terus-terusan?” Ketiga pemuda itu menoleh heran akan kemunculan orang yang baru saja menghardik mereka. Lee Min Ho, seorang Lee Min Ho yang anti acara semacam ini, datang dengan tiba-tiba. Ada angin apa gerangan? Apa dia salah minum obat? Atau otaknya sudah konslet?

“Memang ada bisnis apa di pestamu?” bisik Bumie pada Yu jin. Yu Jin menyenggol lengan Bumie. “Minho-ssi, kehormatan sekali bagiku, kau bisa meluangkan waktu buat hadir di pestaku,” seru Yu Jin dengan tangan terbuka.

“Chukae!” Minho menyodorkan kado yang dibawanya. Yu jin menerima kado itu dengan senang hati,”Gamsahamnida, Minho-ssi. Silahkan menikmati pesta ini, aku masih harus menyapa yang lainnya.”

Yu jin meninggalkan Minho bersama Bumie. Bumie memang orang yang masih bertahan akrab dengan Minho, sedangkan Il Woo, sudah ngibrit entah kemana, memang semenjak Minho akrab dengan Bo Young, tingkahnya agak aneh di mata teman-temannya. Jadilah seperti sekarang ini, dia tanpa teman.

“Apa kabar, Minho-ssi?” sapa Bumie basa-basi.

“Seperti yang kau lihat,” Min ho menaikkan pundaknya. Bumie mengangguk. Min Ho mulai menikmati pesta.

“Jadi ini sketsa-sketsamu?” tanya Il Woo di salah satu sisi pesta, dia tidak sendiri, beberapa namja juga bergerombol di situ. Mereka mengkerubuti seseorang. Tepatnya seorang gadis yang kemudian berteriak nyaring menjawab pertanyaan Il Woo,”Ne!”

Bumie dan Minho menoleh ke gerombolan itu, dan kini tampaklah oleh mereka seorang gadis berusaha keluar dari namja-namja yang mengelilingi dan memuji hasil karya sketsanya. Dia di sana, begitu bersinar. Min ho memandang takjub. Gadis bertubuh mungil itu mengenakan gaun terusan selutut berwarna hijau berpadu kuning yang lembut, kulitnya yang putih menambah kesan alami keayuan wajahnya. Rambut sebahu yang dibuat agak bergelombang itu, memahkotai kepalanya dengan sempurna, dan senyum itu…. Menyapa setiap orang yang ditemui di setiap langkah di acara itu. Sungguh indah anugrah ciptaan Tuhan yang satu ini.

“Hm…, Sunny…”

“Mwo?” Min ho menoleh ke Bumie yang baru saja bersuara, masih memandang ke arah gadis itu. “Setidaknya itu nama panggilan yang diberikan oleh Ayahnya,” lanjut Bumie.

“Kau mengenalnya?”

“Tentu saja, hanya namja bodoh yang tidak.”

Dan aku termasuk namja bodoh itu, begitu pikir Min ho. Bumie melangkah mendekati gadis itu, meninggalkan Min Ho yang masih mematung. Tanpa sadar, kaki Minho melangkah mengikuti si gadis mungil. Kemana pun gadis mungil bergerak, Minho di belakangnya dalam jarak beberapa kaki. Minho seperti terhipnotis, langkah kaki mulus itu seakan berdansa, mengikuti irama yang entah sejak kapan mulai terdengar di hati Minho. Gaun selutut itu melambai bebas, dia berlari kecil, meloncat, berputar, memeluk jika bertemu teman lama, bercanda, tertawa bersama mereka, seakan pesta ini adalah pestanya, dan Yu jin hanyalah tamu saja. Di antara semua itu Min Ho terkesima. Seakan larut dalam keriangan itu, sangat lepas, tanpa beban.

Mentari yang mulai terik menyinari kulitnya, dan gadis mungil itu malah merentangkan tangan, menghirup udara sampai paru-parunya penuh, dan menghembuskannya perlahan. Berjalan menjauhi keramaian pesta dan kini sampai di sisi lain dari kebun yang luas itu. Di hadapannya terhampar danau buatan yang indah dan beberapa angsa berenang di atasnya. Minho berdiri menyandar di salah satu pohon  tak jauh dari situ, ke dua tangannya masuk ke saku celana, kakinya mengais-ais rumput hijau di bawahnya, masih memperhatikan gadis itu.

Si gadis mungil terduduk di rumput, dia mulai mengeluarkan sesuatu dari balik tas selempangnya, yang ternyata pensil dan kertas. Diarahkannya pensil itu tepat di depan wajah dengan posisi tegak lurus, sementara pandangannya tertuju ke arah danau. Akhirnya goresan demi goresan tercipta.

“…. It time to touch the green… green grass of home…..”

Sayup-sayup Minho mendengarnya bersenandung. Tangan lentik itu masih saja lincah menggerak-gerakkan pensil  di atas kertas,” Yes they all… come to see me, arm reaching, smiling sweetly. Its time to touch…….

Hujan deras tiba-tiba. Gadis itu segera berdiri, menutupi kepala dengan tas slempangnya. Min Ho agak meringkuk ke balik pohon hingga gadis itu tak melihatnya waktu berlari melewatinya. Kini terlihat punggung gadis itu mencari tempat berteduh, dan cara larinya pun tak kalah indah. Genangan air meloncat-loncat setiap telapak kaki mungil itu mendarat, seakan berebut kesempatan untuk menjilat. Punggung itu pun menghilang, di balik gedung vila itu, tempat dia kembali bersatu dengan tamu pesta yang lain.

“The green…. Green grass… of  home….,” Minho membisikkan bait syair yang terpotong tadi. Senyum indah terukir di wajahnya.

TBC PART 2

2 thoughts on “DINASTI LEE (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s