DINASTI LEE (part 2)

DINASTI LEE

(One Season Love)

Part 2

 

Lee Je ha tampak berjalan mondar-mandir di dalam kamar, di tangannya tergenggam telephone. Berkali-kali dia memencet tombol radial, dan tetap sama, tiada yang mengangkat,”Lenyap kemana keluarga itu?” Dia mulai kesal, masih diingat perkataan Minho 30 menit yang lalu. Saat dia yang begitu antusias menyambut kedatangan putranya itu,”Kau bertemu dengannya?”

Dahi Minho berkerut,”Siapa?”

“Siapa? Siapa lagi? Tentu saja calon istrimu!”

Minho menggeleng, “Tidak. Sepertinya dia tidak datang.”

“Kau yakin?”

“Kalau dia datang, pasti kami sudah bertemu, Oemma,” seloroh Minho sambil ngeloyor pergi ke kamarnya.

“Huft! Sial!” umpat Je Ha. Sekali lagi dia menekan tombol radial dan akhirnya hembusan nafasnya lega saat orang yang dihubungi menerima telephonenya. “Yoboseyo,” kata orang di ujung telephone.

“Yue Yi, kenapa kalian tidak datang di pesta ?” tanya Je Ha tidak sabar. Orang yang di telephone yang disebut Yue Yi itu menghela nafas,”Miane, aku dan suami ada urusan mendadak di New York tapi anakku datang, kok!”

“Kau yakin?”

“Yakin! Aku sudah menanyakan pada sopir yang mengantarnya ke pesta tadi,” Yue Yi menjawab dengan sedikit heran. Je Ha semakin bingung,”Jika dia datang, kenapa mereka tidak bertemu?”

Yue Yi semakin serba salah, dengan malas dia mengungkapkan sesuatu,”Miane, aku memang tidak menceritakan rencana kita padanya.”

“What ?” Je Ha mendadak berteriak. Matanya mendelik lebar-lebar,”Aigo, kalian ini benar-benar..”

“Anak gadisku paling anti perjodohan, jika aku mengatakan tentang rencana ini, sudah pasti dia menolak datang di pesta itu. Dan seharusnya itu pintar-pintarnya putramu saja, jika memang Minho tertarik padanya harusnya langsung menghampirinya, di mana-mana itu kumbang yang mendekati bunga, bukan sebaliknya.” Penjelasan Yue Yi membuat Je Ha semakin meradang tapi benar juga perkataan sahabatnya ini, semua pasti akal-akalan Minho.

“See… semua jelas, kan? Tak ada ruginya bagi kami. Kalau anakmu tidak tertarik pada gadis kecil kami, masih banyak keluarga yang mengharapkannya menjadi menantu.”

“Tunggu!” kali ini Je Ha mulai gelagapan.”Kau sudah menjanjikannya menjadi menantuku dan aku sudah sangat menyayanginya.”

“Lalu apa yang kau pikir? Segeralah bertindak! Makin banyak saja namja mendekatinya.”

Je Ha terduduk di sofa. Dia tidak mungkin melepas gadis ini begitu saja. Rasa sayangnya pada gadis ini terlampau besar, sebenarnya agak ragu, dia menjodohkan gadis ini pada Minho, takut kalau anak itu menyakitinya tapi perasaan untuk melihat keduanya bersatu mengalahkan ketakutan. “Oke, aku akan bertindak. Beri aku sedikit waktu, aku mohon.”

“Seminggu cukup!”

“Mwo?!”

“Dalam waktu seminggu sudah harus ada pernikahan, atau kami akan menerima lamaran keluarga Goh.”

Je Ha lemaslah sudah, waktu itu begitu tak masuk akal,”Ne… aku akan bertindak seminggu ini.”

“HuuuH! Anak bodoh itu…. Apa yang harus kulakukan sekarang?”  Dia jadi uring-uringan sendiri setelah menutup telephon.

——— > 8 < ———

 

Suasana ruangan itu terkesan syahdu, beberapa potong baju tergeletak tak beraturan di beberapa sisi lantai, cahaya hanya berasal dari salah satu lampu knop di atas meja kecil di samping kanan ranjang. Dan di atas ranjang itu Minho terbaring, di sampingnya Bo Young sudah terlelap. Minho mempererat pelukannya atas tubuh ringkih Bo Young. Tangan kanannya mulai menggapai dahi kekasihnya dan menyibakkan rambut yang menutupi wajah itu. Dia memandang lekat-lekat. Tangan itu mulai menunjuk, menyusuri wajah lancip itu dari dahi, mata, hidung, bibir dan….

“Apa kau tidak lelah?” tanya Bo Young setelah mengulum jari telunjuk Minho yang sudah sampai ke bibirnya. Minho tersenyum,”Bersamamu aku tak pernah lelah, Sayang.” Dan Minho berniat melakukannya lagi, matanya semakin terpejam saat kepalanya semakin menunduk.

Dia semakin menunduk,  sementara matanya tetap terpejam namun keanehan terasa. Tidak ada Bo Young di sana. Tubuh ringkih di pelukannya lenyap sudah. Dia membuka matanya. Dia menemukan tubuh polosnya sudah berpakaian lengkap. Dia ingat betul pakaian itu, setelan jas yang dipakainya pagi tadi Cahaya redup itu telah tiada, berganti suasana pagi yang indah dan di bawahnya rumput hijau terbentang.. Tunggu! Pagi hari? Setelan jas? Rumput Hijau? Pesta kebun itu! Bagaimana mungkin kembali lagi di sini?

“Ne!” suara nyaring itu mengalihkan perhatiannya dan tampaklah di sana gadis mungil bergaun hijau, bergerak seiring keriangan hatinya. Ajaib! Hanya gadis itu yang bergerak, sementara semua orang di pesta itu berubah menjadi patung porselen.  Minho menoleh ke samping, di sana Bumie juga berubah menjadi patung porselen. Dia kembali memandang gadis itu, melangkahkan kaki demi mengikuti gerak-gerik yang menawan sementara music lembut mulai terdengar di hatinya. Di tempat itu hanya dia dan sang gadis yang bergerak, gerakan yang sama, music hati yang sama, tawa yang sama, candaan yang sama yang terlontar dari bibir gadis itu, sementara sekitarnya mematung.

Minho masih tetap melangkah beberapa kaki di belakang gadis itu. Sinar mentari mulai terik. Gadis ayu berjalan ke pinggir danau setelah merentangkan tangan seiring helaan nafasnya lalu duduk di atas rumput, dan Mino berdiri mengamatinya di bawah pohon yang rindang. Dia mengeluarkan kertas dan pensil dari tasnya, menggambar dan bersenandung.

“…. It time to touch the green… green grass of home…..”

Minho memejamkan mata,  bibirnya menyunggingkan senyuman indah, suara merdu itu terdengar lagi. Aku kembali lagi. Entah apa yang membuatku kembali lagi ke sini? Tapi aku menyukainya.

” Yes they all… come to see me, arm reaching, smiling sweetly. Its time to touch…….

Yah, lirik lagu itu lagi, terpotong di bagian itu. …. Karena hujan.  Hujan! Bukankah seharusnya setelah ini hujan? Tapi kenapa tidak? Minho membuka matanya dan gadis itu sudah berdiri tepat di depannya. Agak terkejut dia. Nafasnya seakan berhenti, jantungnya berdegup kencang.

Gadis itu mulai mengangkat tangan, menyusuri wajah tampan di hadapannya itu.  Lembut, Minho merasakan sentuhan itu begitu lembut di wajahnya. Entah kenapa dia juga ingin menyentuh wajah ayu itu, tangannya pun mulai bergerak ke atas. Tapi… tapi kenapa berat begini? Ada sesuatu yang menghalangiku melakukannya. Minho meronta, tangan yang sudah terangkat itu serasa kaku. Gadis di depannya meringkuk, wajah ayu itu ketakutan. Jangan! Jangan ketakutan seperti itu! Aku bukan ingin memukulmu! Minho berteriak, namun suara itu tidak muncul. Sesuatu juga menyumbat organ bicaranya.

Gadis itu semakin ketakutan. Dia menyusutkan tubuh ke belakang. Seseorang bertubuh tegap muncul di antara mereka dan menarik gadis itu menjauh.

“Jangan pergi!” akhirnya suara itu terdengar juga. Tangan itu bergerak lagi, cepat-cepat Minho menggapai tangan gadis mungil itu. Dia berlari, dan saat jemari keduanya saling menyentuh. Gadis itu mematung, mulai berubah menjadi patung porselen. Minho menarik tangan gadis itu.

Prrangggggg……………..!

Minho terbangun dengan nafas tersenggal-senggal. Mulutnya megap-megap. Sinar mentari mulai merambat memasuki kamarnya. Tubuhnya masih berpakaian lengkap, rupanya dia tertidur tanpa berganti baju semalam. Dia berusaha menenangkan nafasnya. Mimpi yang aneh, kenapa ada Bo Young dan gadis itu pecah setelah berubah menjadi patung porselen ?

“Di mana namja bodoh itu?” suara cempreng terdengar dari luar kamar.

“Masih tidur, agashi!” sahut salah seorang pelayan takut-takut.  Minho menghembuskan nafas kuat-kuat. Dasar! Tidurku sudah sangat kacau dan kau mengacaukan pagiku, Min jung…. Minho tersenyum saat langkah kaki mulai mendekati pintu kamarnya, lalu terbukalah lebar-lebar dan Min jung berdiri di sana, berkacak pinggang. Min Ho tertawa ngakak.

“Kau!” Min jung berjalan ke arahnya dengan menunjuk dan mata mendelik. Min Ho berhenti tertawa. Dia mengibas-ngibaskan tangannya sebagai tanda agar pelayan keluar kamar.

“Katakan padaku jujur, apa kau bertemu gadis itu di pesta Yu Jin?” tanya Min Jung setelah pintu kamar tertutup. Min Ho menarik bibir, “Itu bukan urusanmu.”

“Hah! Enak ya kau bilang begitu! Kau benar, itu memang bukan urusanku jika saja bibi Je Ha tidak menelponku malam-malam agar aku menasihatimu yang bebal!”

“Nenek sihir itu menelphonmu?”

“Ne ! Oemmamu itu sudah menggangguku, jam dua dini hari menelphon !” Min Jung masih saja ngoceh tanpa ujung pangkal. Tidurnya sangat tidak enak semalam karena telephon konyol itu. Jadi beginilah dia, stress dan uring-uringan. ”Jawab pertanyaanku!”

“Tidak, aku tidak bertemu. Gadis itu tidak di sana,” Min Ho berbohong, yang benar bukanlah tidak bertemu melainkan lupa untuk bertemu. Dia memang melupakan rencana itu, terlalu terkesima oleh sesuatu yang indah di sana.

“Jangan bohong, kau sepupu bodoh. Aku sudah mengecek buku tamu pesta itu pagi ini dan gadis itu di sana,” Min Jung mendamprat, telunjuknya mengacung-acung dan Min Ho yang masih duduk di ranjang tampak seperti anak kecil yang di marahi Ibunya. Pantas saja Min Jung semakin uring-uringan, sudah diganggu malam-malam dan harus bagun pagi untuk melihat buku tamu pesta orang.

“Aku tidak bohong!” Min Ho menyanggah.

“Jangan bilang kau melarikan diri lagi?”

“Aku tidak melarikan diri! Aku datang di pesta itu, kalau kau tidak percaya tanyakan pada Bumie dan  Yu Jin!”

“Aish…., kau ini! Kenapa sih kau tidak bisa melupakan perawan tua yang mandul itu?”

“Lee Min Jung!” Min Ho mendelik saat Bo Young dijelek-jelekkan. Min Jung mendelik balik,” Memang itu kenyataannya. Come on, get a life! Masih banyak yoja cantik di luar sana.”

“Sudah ku bilang itu bukan urusanmu!”

Min Jung menghela nafas, memang sulit bicara dengan Lee Min Ho yang bebal. Dia selalu bisa mengatasi kebebalan sepupunya itu, karena itu bibinya menelphon tapi kecuali yang satu itu, kebebalan akan Bo Young.

“Sssssssshhh, terserah kau sajalah! Aku sudah pusing! Bilang pada Oemmamu kalau aku sudah datang! Bilang juga kau terlalu bodoh untuk ku nasihati, kau ingin jadi generasi terakhir dari dinasti Lee, jadinya enggan menikah dan hanya mau menikah dengan Bo Young. Terserah!”

Min Jung keluar kamar lalu menutup pintu keras-keras. Min Ho menghembuskan nafas kuat-kuat dan memijit-mijit bagian atas cuping hidungnya. Dia berdiri dari ranjang lalu duduk di sofa dan  menyalakan televise. Dia tampak memencet-mencet remote control saat beberapa iklan tayang, dia benci iklan, rupanya dia melewatkan berita pagi. Tapi tangannya tiba-tiba berhenti menekan tombol saat sebuah wajah terpampang di sana. Gadis itu? Dia bintang iklan? Min Ho tampak sumringah, menekuri iklan itu sampai habis, begitu puas dipandanginya wajah dalam layar itu. Wow! Sempurna! Sungguh ratu yang anggun.

“Danahan!” suara dari arah televisi.

“Danahan?” Minho meraih ponselnya dan mulai mengetik, ‘Danahan’. Senyum sumringah sekali lagi tampak di wajahnya, Danahan…. .

TBC PART 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s