DINASTI LEE (Part 3)

DINASTI LEE

(One Season Love)

Part 3

 

Galeri café itu masih lengang di pagi hari. Hal yang membuat rame dari café ini biasanya saat jam makan siang, dan para pengunjung yang datang pagi biasanya ingin menikmati sketsa-sketsa yang terpampang di ruang pameran. Biasanya mereka murid SMA yang sedang ada tugas lapangan, atau para kolektor seni. Di satu sisi Bar table, gadis manis pemilik café ini tersenyum riang menyambut tamunya, gadis ini adalah Goo Hye Sun, putri tunggal keluarga Goo. Kecantikannya yang alami membuatnya laris membintangi beberapa jenis iklan, dan yang paling tenar adalah “Danahan”. Kecantikannya terlihat begitu nyata di iklan tersebut, dia harus berperan sebagai ratu korea dalam iklan itu dan berpuluh-puluh pelayan membungkuk hormat padanya. Di kehidupan nyata, bukan pelayan saja yang menunduk, namja-namja dari keluarga tenar korea takluk padanya laksana kumbang yang berusaha menarik perhatian bunga yang sedang mekar itu. Dan namja di depannya ini termasuk di antara kumbang itu,”Terimalah ini, Sun-ssi.”

Hye Sun terlihat mengeluarkan benda dari dalam tas kecil itu,”Apa ini, Oppa? Bagus sekali. ” Dia menimang-nimang benda itu yang ternyata abaya panjang.

“Itu hadiah dari Mama, dia di Brunei sangat merindukanmu.”

Sun berbinar memandang namja itu,”Salam buatnya. Oppa. Sampaikan juga terimakasihku. Sun juga sangat rindu.” Tangan halusnya menelusuri lekuk-lekuk jahitan dari busana yang sebenarnya nampak asing baginya,”Ini sangat indah.” Sekali lagi dia tersenyum.

“Oppa di korea sampai kapan?”

Sang namja menjawab lembut,”Aku pasti akan lama di sini jika kau menerima pinangan itu.”

Sun memandang datar. Namja di depannya mulai terkekeh,” Sudah, sudah, aku tahu pinangan keluarga kami sangat tiba-tiba, padahal kita masih berteman, setidaknya itu bagimu. Aku tahu kau butuh waktu memikirkannya.”

Sun menghela nafas lega, “Gomawo, Oppa mau mengerti.”

Namja itu beserta keluarganya memang sudah melamarnya, dia memang tidak punya perasaan khusus padanya, dan belum mengambil keputusan, orang tuanya sepertinya juga mengulur waktu, tapi mereka berjanji mempertimbangkannya.

Pintu Café terbuka, di sana masuk seorang wanita paruh baya yang anggun dengan blasernya yang tampak begitu berwibawa.

“Selamat datang, Nyonya Lee,” beberapa pelayan membungkuk ke arahnya, ya.. dia adalah Lee Je Ha, dibalasnya sapaan itu dengan senyuman. Dia memang jarang tersenyum, tapi entah kenapa jika di Café ini dia selalu tersenyum. Langkahnya menuju ke arah Bar table di mana Sun dan Namja itu berbincang.

“Oemma?” Sun menyongsong kedatangan wanita itu. Abaya panjang itu tergeletak begitu saja di atas bar table. Je Ha memeluk Sun lembut, “Bogosipho.”

“Bogosiphoyo, Omma,” Sun sangat senang dengan kedatangan Je Ha, Je Ha adalah sahabat Oemmanya, dan dia sudah menganggap Je Ha sebagai Oemmanya sendiri, bahkan tidak memanggil ajhuma.

“Sepertinya kau ada tamu, Sun,” namja itu menyela pembicaraan,”Akan lebih baik jika aku mengundurkan diri.”

Je Ha memandangi pemuda itu penuh selidik, lalu tersenyum agak dipaksakan,”Jangan sungkan, anak muda. Mungkin orang tua ini yang tak tahu diri mengganggu kalian.”

Sun dan pemuda itu jadi salah tingkah hingga tidak menyadari pandangan menusuk Je Ha. “Tidak apa-apa, Nyonya. Saya memang sudah lama di sini.”

Pemuda ini sopan sekali, begitu pikir Je Ha. Sangat berbeda dengan Min Ho. Pemuda itu meminta diri padanya lalu mencium buku-buku tangan kanan Sun untuk berpamitan. Je Ha semakin mendelik. Pemuda itu, siapa dia?

“Kita bicara di ruang pribadi saja, Oemma,” ajak Sun. Dia segera melipat rapi abaya yang tergeletak di bar table lalu memasukkan kembali ke dalam tas. Je Ha memperhatikan abaya itu dan berpikir mungkin itu adalah hadiah dari namja tadi. Sekali lagi dia kalah telak. Min Ho bahkan belum bertemu gadis ini, tetapi namja itu sudah memberikan hadiah yang begitu mahal. “Kacha!”

Je Ha mengagumi ruang pribadi itu setelah sampai di dalamnya, di beberapa sudut tampak sketsa-sketsa tergantung, di dinding samping meja kecil, tersandar lukisan-lukisan yang belum mendapat tempat di ruang galeri.”Bakatmu semakin terasah, Sayang.”

“Gamasahamnida,” Sun mengucapkan itu sambil mempersilahkan Je Ha duduk. Je Ha pun duduk tapi pandangannya masih mengitari ruangan itu.”Sepertinya galeri café mu ini sudah perlu pengembangan, Sun-a.”

“Ne, Oemma. Saya juga berpikir begitu.”

“Oemma bisa memberimu modal untuk itu.”

Sun menggeleng,”Gamsahamnida, tapi saya belum memerlukannya.”

Je Ha mengibaskan tangannya,”Ah, kau jangan sungkan padaku. Kau sudah ku angap seperti anak sendiri, jangan terlalu sopan. Oh, ya…kau datang di pesta Yu Jin, kan?”

Sun mengangguk. Je Ha memandang dengan penuh selidik, ternyata benar,” Apa kau bertemu dengan putra Oemma di sana?”

Sun mencoba mengingat semua orang yang ada di situ, sepertinya semua orang sudah sangat dia kenal,”Putra Oemma? Putra Oemma itu bagaimana? Oemma kan belum pernah mengenalkan pada Sun?”

Benar juga, jika tidak ada Sun saat ini, sudah pasti Je Ha menepuk jidatnya keras-keras. Ternyata selama ini dia bodoh, tidak memperkenalkan mereka dari dulu, pantas saja mereka tidak bertemu di pesta kemaren, bukankah Yue Yi tidak memberitahukan rencana itu pada Sun? Dan Minho? Ah, pasti anak bodoh itu tidak berinisiatif mencarinya!

“Memangnya ada apa. Oemma. Apa Oemma ada menitip sesuatu buat Sun?”

Je Ha tersenyum. Dia terlihat melambai-lambaikan tangannya, sebagai kode agar Sun tidak terlalu memikirkan pertanyaannya. Sun berjalan menuju lemari es di ruangan itu.”Hari ini sangat panas, Oemma mau minum apa?”

“Air mineral cukup, sayang.” Sun segera menyuguhkan sebotol air mineral dingin ke arahnya. Je Ha menerimanya dengan senang hati lalu mulai menuangkan air itu ke dalam gelas dan meminumnya, matanya tiba-tiba tertarik pada tas berisi abaya yang diletakkan Sun di atas meja kecil itu,”Namja itu, siapa dia? Kekasihmukah?”

Sun terkekeh, wajahnya tampak memerah mendengar pertanyaan Je Ha,”Bukan, Dia adalah teman Sun dari Taiwan.”

“Oh, orang asing, pantas Oemma belum begitu kenal, namanya?”

“Wu chun.”

“Wu chun?”

“Nama aslinya Goh Kiat Chun, tapi orang-orang sering memanggilnya Wu Chun.”

Mata Je Ha terbelalak, tiba-tiba dia teringat perkataan Yue Yie di telephon,”… atau kami akan menerima lamaran keluarga Goh.” Benarkah namja itu yang dimaksud? Jika benar, itu berarti Sun akan menjadi orang Taiwan nantinya. Lalu Min ho? Tidak, itu tidak boleh terjadi.

“Sayang, Oemma ingin mengundangmu makan malam. Kau sama sekali belum ke rumah kami, kan? Bagaimana jika malam ini?” Yup, dia harus gerak cepat. Waktu yang diberikan padanya hanya seminggu. Dan anak bodoh itu harus menuruti perintahnya malam ini untuk mengosongkan jadwalnya. Sun menggeleng, “Sun tidak tahu bisa atau tidak, perlu Sun konfirmasikan jadwal Sun pada manajer.”

“Oh, jadi Oemma-mu juga klien yang harus menyesuaikan jadwalmu, rupanya?” Je  Ha pura-pura ngembek, padahal selama ini dia sama sekali tak tega memarahi gadis manis itu. Sun merasa bersalah,” Mianhamnida, Oemma, tapi semuanya begitu tiba-tiba.”

Je Ha masih saja pura-pura ngambek. Dia harus melakukan itu, jika tidak keluarga Goh yang akan mendapatkan gadis ini, walau pun dia juga tidak tahu apakah makan malam ini nanti akan menghasilkan titik terang dari rencananya. Dia terus saja berlagak begitu, bahkan tangannya terlipat rapi di dada dan pandangan matanya sangat tajam. Sun jadi semakin bersalah, baru kali ini dia melihat Je Ha berekspresi seperti itu dan berpikir kalau Je Ha pasti sangat marah,”Baiklah, Oemma. Sun akan usahakan tapi sepertinya tidak akan lama nantinya.”

“Jeongmal?” Je Ha sangat lega mendengar jawaban itu. Sun mengangguk. Je Ha segera memeluk Sun,”Ah…, Gomawo, sayang.”

Sun kaget dengan tanggapan Je Ha dan helaan nafas yang tiba-tiba dari Je Ha membuatnya berpikir seperti ada sesuatu hal yang menekan Je Ha dan semua terangkat setelah dia menyetujui undangan itu untuk makan malam. Sun tersenyum, merasa kalau dirinya begitu berarti bagi Je Ha dan menikmati pelukan hangat dari Nyonya besar itu.

——- > 8 < ——-

Seorang pria terlihat tergesa-gesa memasuki sebuah restoran. Dia mulai memandang sekeliling mencari orang yang sudah lama menunggunya. Orang yang di cari berdiri di antara para pengunjung restoran yang duduk dan kini keduanya sudah duduk berhadapan satu sama lain.

“Ada apa, Min Ho-ssi. Kau tidak seperti biasanya, kenapa tidak lewat telephone?” Rupanya Min Ho ingin langsung pada pokok persoalan, dia tahu jadwal sepupunya itu sangat padat. Dia menunjukkan ponselnya, iklan “Danahan” hasil download tadi pagi tertayang di layar. “Kau kenal dengannya, Donghae-ssi?”

Donghae tampak mengamati gadis di dalam iklan itu,” Oh dia? Memangnya kenapa? Apa Lee Corporation akan meluncurkan produk baru dan kau menawarkan iklan padanya?”

“Jawab saja pertanyaanku.”

Dong Hae terseyum. Min Ho tampak aneh di depannya, tapi bukankah dari dulu memang dia tampak aneh?

“Hye Sun Noona!” jawab Donghae.

“Hye Sun?”

“Ne ! Goo Hye Sun, kakak kelasku waktu SMP.”

Min Ho terkejut, dia menemui Dong Hae karena sepupunya itu terjun di dunia hiburan sehingga yakin kalau pasti kenal dengan gadis itu, tapi dia tidak menyangka kalau ternyata gadis itu begitu dekat dengan Donghae. “Kau tahu alamatnya?”

“Emm.. kalau alamat rumahnya yang sekarang aku kurang tahu, tapi kalau cafenya, aku punya kartu pos dari sana. Di kartu itu pasti ada alamat cafenya.”

“Berikan padaku!”

Dan kini Min Ho sudah terlihat memasuki café yang dimaksud. Pandangan matanya mulai disambut oleh sketsa-sketsa yang tergantung di dinding ruang galeri café itu. “Selamat datang, Tuan.” Sapa salah satu pelayan Café. Min Ho mengangkat tangannya sebagai isyarat bagi pelayan itu agar tidak mengganggunya. Dia masih ingin berlama-lama menikmati satu persatu sketsa. Akhirnya pandangannya tertuju pada salah satu sketsa di pojok sebelah kanan. Sketsa tentang sebuah danau kecil dengan beberapa angsa di atasnya dan rumput hijau yang gembur. Dan dia tahu betul di mana tempat itu.

“Apakah Anda tertarik pada Seni?” suara lembut itu memanggil. Min Ho menoleh ke arah suara. Dibelakangnya gadis itu telah berdiri, dan mulai mendekat ke arahnya. Min Ho memandang takjub ke arah gadis itu, setiap kali bertemu gadis itu, dia merasa waktu seakan berhenti berputar. Penampilan gadis itu sangat berbeda dengan sebelumnya, kini tampak lebih santai dan kasual, tapi tetap menampakkan sisi keindahan di dirinya. Gadis itu, si ratu “Danahan” yang semalam menghiasi tidurnya dengan mimpi aneh, ya.. gadis itu yang membuatnya mengorbankan pertemuan penting dengan salah satu klien, berdiri di sampingnya, Goo Hye Sun berdiri di sampingnya.

Hye Sun sepertinya juga terpana. Dia menatap wajah pemuda itu lekat-lekat. Matanya begitu berbinar menatap dan tanpa dia sadari tangannya terangkat, dan mulai menyentuh wajah tampan itu. Waktu seakan berjalan begitu lambat. Hye Sun begitu menikmati wajah indah di depannya itu, menelusuri garis-garis yang tegas dari wajah itu. Minho memejamkan matanya, diantara kegelapan dia merasakan semua itu. Sentuhan itu begitu lembut dan aroma yang tercium dari tangan halus itu, aroma bunga mawar nan lembut yang membuatnya terbuai. Gadis itu tersentak, dia mulai menyadari kesalahannya dan melepaskan sentuhan itu, “Mianhamnida.”

“Gwencana,” Min Ho yang sudah membuka mata menjawab penyesalan gadis itu. Hye Sun tertunduk malu, “Apakah anda tertarik pada sketsa itu?” Dia mengalihkan perhatian pada sketsa danau yang sedari tadi di pandangi Min Ho. Min Ho tersenyum.

“Sketsa itu baru tergantung tadi pagi,” Sun menjelaskan sembari tersenyum.

“Anda suka rumput?” tiba-tiba Minho teringat lagu yang dinyanyikan gadis itu di pesta kebun. “Ne!” Jawab Sun mantap.

“Green grass of home,” Min Ho bergumam lirih. “Mwo?” gadis itu keheranan, samar-samar dia menangkap bisikan yang terlontar dari Min Ho. Green grass of home adalah lagu kesukaannya. Ayahnya selalu mendendangkan lagu itu saat meninabobokannya dan kisah indah dalam lagu itu selalu diidamkannya. Tapi penasarannya harus berakhir saat salah satu pelayan memberi tahu kalau ada telephon penting untuknya.

“Miane, saya harus pergi. Selamat menikmati kunjungan anda,” Sun membungkukkan badan untuk undur diri pada Min Ho. Min Ho masih memandangi sketsa danau. Dia sangat gugup karena keceplosan menyebut judul lagu itu. Takut jika ketahuan  dia mengikuti gadis itu di pesta kebun secara diam-diam. Dan Sun melangkah menuju ruang pribadinya, dia masih tidak habis pikir dengan kelakuannya barusan terhadap pemuda asing itu. Bagaimana mungkin dia menyentuh wajahnya yang tampan hanya karena terpesona. Sun menggelengkan kepalanya keras-keras, dan jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, ada apa ini? Dia hanya salah satu pengunjung café, tapi kenapa perasaanku jadi seperti ini. Tidak boleh, aku harus melupakannya, harus.

——- > 8 < ——–

Meja besar di ruang makan Lee Mansion sudah terpenuhi dengan beraneka ragam masakan. Ibu dan anak itu sudah menunggu dari tadi, malam semakin larut. Sang anak mulai bosan, dia harus membatalkan dua rapat penting malam ini, hanya untuk menuruti perintah ibunya. Dia mendengus sebal, dengusan khas Lee Min Ho yang sedang kesal,”Sampai kapan kita menunggu?”

“Sabarlah, dia bilang sedang dalam perjalanan,kau tahu kan mansion ini jauh dari kota?” jawab Je Ha. Min Ho melirik jam di tangannya, sudah jam sembilan malam, dan tiba-tiba dia teringat pada Hye Sun.”Oemma, jika ku bilang aku ada calon lain, apa Oemma mau mepertimbangkan?”

Je Ha menggerak-gerakkan telunjuknya,”Antwe! Jika kau mengatakan itu beberapa hari yang lalu, jawabannya pasti iya, tapi sekarang, tidak!”

Min Ho menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Dia sudah sangat tertarik pada Hye Sun, tapi sepertinya semuanya sudah terlambat. Seorang pelayan mendekati mereka lalu membisikkan sesuatu pada Je Ha.”Persilahkan dia masuk,” Je Ha memerintah. Min Ho memejamkan matanya. Semuanya akan dimulai. Perjodohan ini membuatnya sesak, sementara wajah ayu si ratu Danahan mulai muncul di angannya.

“Hye Sun-a, akhirnya kau datang!” teriakan Ibunya membuat Min Ho terkejut, reflek dia membuka mata lebar-lebar dan segera berdiri. Waktu seakan melambat kembali. Di ujung lain dari meja besar itu, Ibunya tengah memeluk tubuh mungil si ratu “Danahan”. Wajah ayu itu tersenyum bahagia menyambut Je Ha dan suara lembut itu terdengar jelas di ruangan itu.

“Apa, apa aku tidak salah lihat?” Min Ho terpana dengan pemandangan itu, si Ratu Danahan sekali lagi mengalihkan semuanya. Kini dengan balutan gaun biru toscha berkerah tinggi yang anggun dan Je Ha mengiringinya untuk duduk di kursi yang telah disediakan untuknya. Dia tidak segera duduk saat melihat Min Ho terpaku di sana. Dia, si ratu danahan itu juga mematung, pria itu ada di sini, pria yang membuat perasaanku tak menentu siang ini, yang ku yakini hanya orang asing itu? Mereka saling memandang.

Je Ha mengalihkan pandangan dari Hye Sun ke Min Ho bergantian, rona bahagia terpancar, awal yang bagus, kalian mengawali pertemuan ini dengan sangat bagus.

“E hm,” Je Ha berdehem untuk mengakhiri kebisuan mereka. “Kenalkan ini Lee Min Ho, Putra Oemma. Min Ho, ini Goo Hye Sun.”

Ke dua anak muda itu masih saling memandang.”E hm!” sekali lagi Je Ha berdehem. Keduanya segera tersadar dan saling menundukkan tubuh lalu duduk di tempatnya masing-masing.

“Bagaimana, Hye Sun, putra Oemma sangat tampan, kan?” tanya Je Ha. Hye Sun menunduk, semburat malu nampak di pipinya.

“Sekarang saatnya makan,” Je Ha membunyikan lonceng kecil di atas meja, sejenak pelayan-pelayan mulai sibuk melayani mereka. Hye Sun tetap menunduk saat memulai makan malam itu dan Min Ho tak henti-hentinya melirik ke arahnya. Suasana makan malam itu sangatlah sunyi. Je Ha menyenggol lengan putranya lalu berbisik,”Dia cantik, kan?”

Wajah Min Ho mulai memerah. Je Ha tersenyum, dia menepuk-nepuk punggung tangan Min Ho. ”Banyak namja yang berusaha menjadikannya sebagai istri, kau akan kehilanganya jika tidak gerak cepat,” Je Ha masih saja berbisik di telinga Min Ho. Sementara di sana Hye Sun masih menunduk menikmati makan malamnya.

“Baiklah, apa lagi yang ditunggu?” Je Ha menyodorkan sekotak beludru ke tangan Min Ho yang terbuka dan memperlihatkan cincin berlian indah. Min Ho kaget melihat benda itu di tangannya. Lalu dia menatap wajah Ibunya lekat-lekat. Je Ha mengangguk meyakinkannya.

“Hye Sun sayang,” tiba-tiba Je Ha memanggil gadis itu. Min Ho buru-buru menyembunyikan kotak beludru itu di balik meja. Hye Sun menengadah untuk menjawab panggilan itu. Je Ha tidak tahu bagaimana harus memulai saat mata bulat itu memandang dengan penuh tanda tanya. Je Ha tersenyum, lalu muncullah kalimat itu, “Rupanya Oemma sangat menyayangimu hingga tak merelakanmu jatuh ke tangan keluarga lain.”

Hye Sun mengerutkan dahi. Kini giliran Min Ho yang menunduk, malu dan tak habis pikir dengan ulah Ibunya. Je Ha menggapai tangan gadis itu,”Maukah kau menjadi bagian keluarga ini? Menjadi menantu Oemma?”

Min Ho semakin menunduk. Kotak beludru di tangannya dia tutup. Tidak ada jawaban dari mulut gadis itu dan mereka telah menunggu kira-kira sepuluh menit, sepuluh menit yang katanya cepat tapi buktinya lama bagi mereka. Min Ho mulai berdiri. Dia menghampiri gadis yang mematung itu. Lalu menarik lembut tangannya,”Kita bicarakan ini berdua.”

Hye Sun memandang ke arah Je Ha. Je Ha mengangguk, dan dia mulai mengikuti Min Ho yang masih menarik lengannya. Langkah mereka berhenti di taman belakang mansion itu. Min Ho berbalik dan memandang wajah Hye Sun sendu. Hye Sun masih saja menunduk, jantungnya berdetak sangat cepat. Pria di depannya itu begitu menawan hatinya, dan Je Ha, Ibu dari pria itu menawarkan dirinya untuk menjadi istrinya.

Ke dua tangan Min Ho menyampir ke bahu Hye Sun. Dia sangat gugup. Ratu Danahan ini adalah orang yang seharusnya dia temui di pesta itu, “Yes, they all come to see me….,” Min Ho mulai bersenandung sebait lagu green grass of home. Hye Sun menengadah memandang wajahnya.

“Ya, itu kamu,” sambung Min Ho.”Apalah arti diriku ini di bandingmu, tak apa jika kau menolak.”

Hye Sun tertegun, pria sesempurna itu? Merendah di hadapannya? Tangan kokoh itu mulai lunglai, Min Ho berbalik, memandang kolam pancur yang berada tak jauh dari mereka. Mata Sun memejam, dalam hatinya mulai terdengar lirik lanjutan dari lagu itu,” Arm reaching? Smilling sweetly?” Sun membuka kembali matanya, Min Ho masih memandangi ikan-ikan dalam kolam itu dan di bawahnya terhampar rumput hijau yang luas walau kelamnya malam mengaburkan warnanya,”Green grass of Home…?”

Sun segera berlari mendekati tubuh jangkung itu, Min Ho terkejut dan memandang ke arahnya,”Apakah kau juga merasakan semua itu?”

Sun mengangguk. Air mata mulai mengkaburkan pandangan masing-masing. “JAdi?” Sekali lagi Min Ho meminta kepastian. Sun mengangguk cepat. Min Ho tertawa bahagia, entah keberanian dari mana yang dia dapat hingga akhirnya memeluk tubuh gadis itu, kegembiraannya meluap. Dia segera membuka kotak beludru itu dan menyematkan cincin berlian itu di jari manis tangan kiri Sun. Sun tidak menyadari itu karena dia melakukannya dengan sangat cepat. Yang Sun tahu adalah  buku-buku jari tangan kirinya tiba-tiba dicium oleh Minho dengan mesra, dan sekali lagi mereka berpelukan, menikmati keharuan dan perasaan cinta itu satu terhadap yang lain.

TBC PART IV

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s