DINASTI LEE (Part 4)

DINASTI LEE

(One Season Love)

Part 4

 

“Seminggu cukup!”

“Mwo?!”

“Dalam waktu seminggu sudah harus ada pernikahan, atau kami akan menerima lamaran keluarga Goh.”

Je Ha tersenyum riang, waktu yang diberikan Yu Yie untuk menyatukan dua orang yang sangat disayanginya itu ternyata cukup bahkan dia bisa melakukan semua itu dalam jangka waktu kurang dari satu minggu, satu hari untuk mempertemukan mereka, satu hari untuk mempersiapkan surat-surat dan dua hari untuk persiapan pesta dan kini dialah orang yang paling bahagia di pesta pernikahan itu. Sementara di sana, di depan altar, Min Ho dan Hye Sun saling berucap setia. Di hadapan beribu mata undangan di situ. Pernikahan yang menghebohkan, seperti itulah para tamu menilai pernikahan itu, Min Ho yang bebal dan terkenal akan skandal cintanya dengan dosennya yang masih satu marga, tiba-tiba menerima gadis yang disodorkan Ibunya. Dan melihat sang pengantin wanita di hadapan mereka saat ini, para tamu itu semakin tak mempercayainya. Di sana berdiri Goo Hye Sun, yang begitu terpana pada pria bebal itu, Goo Hye Sun yang mereka kenal akan keelokan rupa dan budi pekertinya itu, bagaimana mungkin menerima pinangan itu begitu saja. Tidak tahukah gadis ini akan skandal itu?

“Dan kini anda bisa mencium pengantin anda,” perkataan pendeta itu mengakhiri ikrar. Pasangan itu berdiri berhadapan. Sun yang merasa malu menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ini adalah moment pertama seorang pria akan menciumnya, dan pria itu adalah suaminya. Min Ho bisa merasakan getaran gugup istrinya. Dalam hati dia merasa bahagia, bahagia karena mendapati dirinyalah yang pertama untuk ratu Danahan yang dikaguminya itu, ratu dalam hatinya. Min Ho mendekatkan bibirnya di telinga Sun, lalu berbisik lembut,”Jangan gugup, Ratuku.”

Mata Sun mengerjap mendengar bisikan itu, saat bibir suaminya mulai menjauh dari telinganya, tiba-tiba dia berbisik,”Saranghae…”

Dengan senyuman Min Ho menjawab,”Saranghaeyo.”

Min Ho menekan dagu Sun hingga wajah ayu itu mendongak ke atas. Semburat malu di wajah itu tampak kentara di hadapannya. Min Ho mendekat, kini dia bisa mencium aroma nafas Sun yang begitu memabukkan dan dengan setulus cinta, dia mencium bibir mungil itu lembut. Sun merasakan sentuhan itu menjalar ke seluruh tubuhnya, ciuman itu begitu dalam, dan entah kenapa dia merasakan tubuhnya serasa ringan dan melayang.

Para tamu hanya terdiam, tak ada tepukan tangan seperti biasa jika pasangan pengantin melakukan itu, dan sekali lagi hal itu disebabkan oleh reputasi Min Ho. Di deret bangku depan, diantara para tamu itu, duduk berdampingan namja dan yoja. Yoja itu kenal betul siapa Sun. Sehari sebelum pernikahan, Sun menemuinya dengan riang, melambai-lambaikan undangan pernikahannya,”Dara dongsaeng, Aku akan menikah besok, kau datang, ya?”

“Mwo?” Dara merebut undangan itu dari tangan Sun, “Uni, kenapa begitu tiba-tiba?”

“Aku telah menemukan pria yang kucintai, dongsaeng, dan aku yakin dia juga mencintaiku. Aku begitu ingin menjadi satu-satunya wanita di hatinya. Kau pasti datang, kan?”

Dara mengangguk.

“Jangan lupa besok, di Gereja Katedral, jam sembilan pagi!” Sun berkata riang sambil melambaikan tangannya dari dalam mobil mewah yang menjemputnya.

Dan kini di sanalah uninya itu, menjadi istri dari pria yang sama sekalii tak terpikirkan olehnya. Sementara namja di sampingnya itu yang lebih baik seribu kali dari Min Ho, tak berani mengutarakan perasaan terhadap Sun sedari dulu. Dara memandang namja itu, dalam hatinya dia berpikir, Kim Joon Oppa, andai saja yang di sana itu kamu…

Acara di dalam gereja usailah sudah. Kini mereka tampak berpose, berfoto bersama di depan gereja. Je Ha rupanya tidak begitu saja melepakan Sun. Dia tetap ingin Sun difoto walau Min Ho sudah berkumpul dengan teman-temannya.

“Cukhae, Min Ho-ssi, miane kita tak bisa berlama-lama. Ayo, Woo,” ujar Bumie sambil mengajak Il Woo berlalu dari situ.

“Hei, hei, ada apa ini? Apa kalian begitu membenciku, hingga cepat meninggalkan pernikahan ku begitu saja?”

Bumie dan Il Woo saling pandang. Mereka mendekat lagi ke arah Min Ho. Il Woo menepuk bahu Min Ho,”Kau lupa, ya? Hari ini waktunya pacuan kuda.”

Min Ho memang benar-benar melupakan hal itu. Acara yang paling dinantinya setiap tahun itu terlupa begitu saja karena kebahagiaan ini. Bumie tersenyum,”Ah, mungkin dia tidak akan ikut berlomba tahun ini, Woo.”

“Ha… kebetulan kalau begitu, kau harus merelakan gelar juara tujuh tahun berturut-turut kepadaku.” Il Woo terkekeh.

Min Ho menepuk dada Il Woo, “Siapa bilang aku tidak berlomba.”Dia segera mengirim suatu pesan pada  asistennya dan menghampiri Sun yang masih sibuk berpose di depan kamera, lalu menarik tangan istrinya itu,”Kita pergi sekarang.”

“Mwo? Kemana?”

“Pacuan kuda, sekarang, tidak ada waktu lagi. Kacha!”

Mereka berlari beriringan menuju mobil pengantin mereka, Sun yang agak kewalahan dengan gaun pengantinnya mengangkat gaun itu tinggi-tinggi.  Sopir mengendarai mobil pengantin itu ke tempat yang di tuju. Sun menyenggol lengan suaminya,”Minho-ssi, pakaian kita?”

“Jangan kawatir, aku sudah mengirim pesan agar mereka mengurus penampilan kita di sana.”

———— > * < ————-

 

“Baby, kau sudah siap?” Min Ho yang sudah siap dengan kostum berkuda mengetuk kamar ganti istrinya.

“Sebentar lagi,” teriakan dalam kamar. Min Ho menjadi kesal,”Hei, asisten di dalam sana? Apa saja kerjamu? Kenapa lama sekali?”

Hye Sun yang di dalam kamar agak heran dengan teriakan itu. Dia memandang penata rias itu,”Apa dia sering begitu?”

Orang yang ditanya hanya diam dan meneruskan pekerjaannya. Saat di rasa segala sudah siap bagi Sun, dia berkata,”Anda sudah siap, Nyonya.”

Sun tersenyum mendengar panggilan itu. Aku sekarang seorang nyonya, begitu pikirnya. Penata rias itu membuka pintu kamar. Di situlah Min Ho yang memang sudah tak sabar segera memasuki kamar dan memeluk istrinya,”Kau lama sekali.”

“Sabar, Sayang. Memang seperti itu jika wanita berdandan, ini juga demi kau.”

“Ceongmal?” tanya Min Ho. Sun mengangguk, lalu matanya mulai menelusuri penampilan suaminya dari atas ke bawah. Tubuh jangkung itu terbalut kostum berkuda hitam yang pas badan lengkap dengan topi bertengger di kepalanya sehingga tampak semakin tegap saja. Tangan kanannya memegang steak pemukul kuda. Sun terpana melihat Min Ho,”Kau terlihat…

“Ne?”

“Terlihat hebat,” Sun mengatakan itu sambil menunduk, sementara keduanya tangannya mengelus-elus dada bidang itu. Min Ho tertawa,”Ini juga demi kau.”

“Ceongmal?”

Min Ho mengangguk,”Ayo kita keluar, perlombaan menunggu.”

Terlebih dahulu Min Ho mengantar Sun ke tempat duduknya di balkon teratas di tempat itu, bersanding dengan gadis-gadis yang lain. Dia sengaja mendudukkan Sun di bagian yang khusus wanita, agar pria lain tidak menikmati kecantikan istrinya yang kini tampak menawan dengan gaun coklat tanpa lengan dan topi pandan itu. Min Ho akan sangat cemburu jika hal itu terjadi tanpa sepengetahuannya. Min Ho berjongkok di depan Sun dan mencium punggung tangannya yang bersarung tangan putih itu,”Baik-baiklah di sini, aku akan membawa kemenangan padamu.”

Min Ho segera menuju arena pacu, dan berpapasan dengan  Dara tanpa memperdulikannya. Dara segera mengambil tempat duduk di samping Sun. Sun terlihat tersenyum ke arahnya namun tidak lama karena kemudian pandangan matanya terarah pada Min Ho yang mulai memasuki arena dan menaiki kudanya. Dara ikut menelusuri pandangan Sun dan mulai menyadari bahwa Uninya itu sangat  mencintai Min Ho, dalam hati dia mulai merasa ngeri, Uni…, ku mohon  jangan terlalu mencintainya, suatu saat pria itu akan menyakitimu, bisik Dara dalam hati.

Pacuan kuda itu adalah acara social tahunan yang diadakan oleh keluarga ternama korea dan club berkuda terbesar di kota itu, para pesertanya biasanya para namja dan yoja dari keluarga itu. Pertandingan dibagi dua kelompok, yaitu pertandingan kelas putri dan putra. Di kelas putra, para namja dari keluarga Lee lebih mendominasi di situ ada Donghae, Hongki dan yang menjadi juara umum tujuh tahun berturut-turut adalah Min Ho.  Hadiah dari perlombaan ini adalah medali. Karena sifatnya social, maka di sini tidak ada hadiah uang. Para peserta sudah cukup kaya dengan harta dan nama besar mereka. Yang mereka cari di sini adalah penghargaan. Hasil dari tiket penonton disumbangkan untuk yayasan atau panti social yang ditentukan setiap tahun oleh panitia.

Min Ho mulai menata derap langkah kuda yang dinaikinya, sesekali dia menoleh ke arah Sun. Gadis itu masih duduk di tempatnya. Bumie, Il Woo dan Dong Hae yang juga sudah siap di atas kuda mendekatinya. Mereka menatap Sun yang duduk di atas balkon. Dong Hae menepuk pundak Min Ho,”Aku tidak menyangka maksudmu di restoran tempo hari itu adalah hal ini.”

“Hei, memangnya ada apa?” tanya Bumie. Dong Hae sepertinya ingin merahasiakan pertemuannya dengan Min Ho di restoran waktu itu,”Ah, Aniyo! Chukae, Min Ho-ssi,” kata Dong Hae sebelum melarikan kudanya ke belakang garis start.

“Bagaimana kau mendapatkannya?” tanya Il Woo dengan tatapan masih mengarah pada Sun. Min Ho tersenyum mengejek,”Mungkin di masa lalu aku berbuat baik hingga nasibku beruntung mendapatkannya.”

Min Ho melarikan kudanya setelah memberikan kissbay pada Sun. Semua namja dan yoja di balkon berteriak heboh, “Huuuuu!” sementara Sun malu di tempat dibuatnya. Dara melirik wajah yang memerah itu.

“Apakah kau tidak berpikir ini aneh?” tanya Il Woo pada Bumie yang masih di tempat itu.

“Apa?” tanya Bumie masih dengan mengamati Sun.

“Pernikahan mereka, sejak kapan Min Ho melupakan Bo Young dan menyukai Sun?”

Bumie mengerutkan dahi, masih jelas kejadian di pesta ulang tahun Yu Jin lima hari yang lalu bahwa Min Ho belum mengenal gadis itu.

“Hai, Bagaimana jika kita bertaruh?” usul Il Woo.

“Bertaruh?”

“Ya, aku pertaruhkan kuda ini. Aku pegang Bo Young dan kau pegang Sun. Jika pernikahan mereka hancur waktu Bo Young muncul, maka aku yang menang, tapi kalau mereka tetap akur-akur saja, berarti kau menang, bagaimana?” tawar Il Woo.

“Baik, aku terima, aku yakin Bo Young tidak  akan muncul, wanita itu sudah lama menghilang.”

“Oke, jika mereka bercerai, itu keuntungan bagiku untuk mendekati Sun,” ujar Il Woo .

Bumie ngakak mendengar ucapan Woo,”Kau siap menampung janda Lee Min Ho?”

“Apa salahnya? Janda cantik begitu.” Woo mengangkat bahu. Mereka melakukan tos sambil tertawa.

“Hai, kalian! Cepat kemari!” Kim Joon memanggil mereka. Lomba akan segera dimulai.

Para namja sudah siap dengan kuda mereka di belakang garis start. Mereka mulai focus dengan jalur yang harus mereka menangkan. Suara letusan pistol terdengar. Kuda-kuda itu segera berlari setelah letusan itu. Persaingan semakin sengit, Min Ho sang juara bertahan tampak tertinggal di urutan keempat sementara di depannya berturut-turut Il Woo, kemudian Bumie dan Dong Hae. Min Ho mempercepat laju kudanya untuk menyalip mereka. Kuda itu sempat oleng ketika berada di tikungan hingga menyenggol kuda Hong kie, namun keduanya sama-sama berhasil menenangkan laju kuda.

Min Ho semakin mempercepat laju kudanya karena Kim Joon semakin menyusul. Stiknya dicambukkan keras-keras ke pantat kuda, sementara di balkon Sun menatap aksinya. Kuda itu semakin melaju, Min Ho mulai membayangkan Sun berdiri menantinya di garis finish. Tanpa di sadari, kuda itu telah menyalip beberapa namja di depannya hingga dia berada di urutan pertama perlombaan itu dan akhirnya garis finish itu untuknya.

Min Ho menerima kemenangannya. Medali tahunan terkalung di lehernya, sedang medali bergilir jatuh lagi di tangannya. Sun berlari ke arahnya dan segera disambutnya dengan pelukan lalu diputar-putarkannya tubuhnya itu hingga Sun tertawa-tawa senang sekaligus takut.

“Kau lihat medali-medali ini, Baby?” kata Min Ho saat mereka sudah berhenti berpelukan.”Ini semua untukmu.”

“Ceongmal?”

“Ne!” Min Ho mencium bibir Sun begitu dalam lalu ciuman itu turun ke pipi dan menuju leher. Sun yang merasa kegelian mulai menolehkan kepalanya ke kiri dan di sana dia melihat Wu Chun sedang berbincang dengan Kim Joon. Sun melepaskan diri dari ciuman suaminya lalu menoleh ke arah Wu Chun, “Ternyata dia masih di Korea.”

“Siapa?” tanya Min Ho. Sun tersenyum,”Kacha!” Dia mengapit lengan suaminya untuk mendekati Wu Chun. Kim Joon sudah tampak berbincang dengan Dara di tempat lain yang tak jauh dari situ.

“Oppa!” panggil Sun saat sudah di depan Wu Chun.

“Sun-ssi? Kau juga di sini?” Wu Chun segera menggapai tangan kanan Sun dan menciumnya lembut. Mata Min Ho terbelalak saat melihat tingkah pria itu terhadap istrinya.

“Oppa, ini kenalkan, Lee Min Ho, suamiku.”

Min Ho menjulurkan tangannya.

“Kau sudah menikah?” tanya Wu Chun. Dia tidak membalas uluruan jabat tangan Min Ho. Min Ho heran dan mulai menarik tangannya kembali.

“Kenapa kau tidak mengundangku?”

“Mwo? Benarkah? Sun mempercayakan undangan Sun pada Oemma, mungkin Oemma lupa.”

“Tidak, tidak ada undangan yang datang padaku,” Wu Chun mulai berpikir bahwa Yue Yi memang sengaja melakukan itu, mungkin dia dianggap akan mengacau di pernikahan Sun, atau bisa dibilang ini adalah tolakan halus dari lamarannya kepada Sun.

“Miane, Oppa. Sun benar-benar tidak tahu.”

Wu Chun mengibaskan tangannya,”No problem, anyway, congratulate!”

“Thank you,” Sun tersenyum manis pada Wu Chun. Min Ho semakin cemburu. Dia mulai berbisik pada Sun,”Kita harus segera pulang, Baby.”

“Sun pulang dulu, Oppa! Kapan-kapan berkunjunglah, Sun pindah ke rumah suami!” Sun melambaikan tangan saat Min Ho mulai membawanya menjauhi Wu Cun. Wu Chun mengangkat tangannya untuk Sun. Dia akan angkat kaki dari situ tapi sesuatu menghentikannya.

“Aku tak mempercayai semua ini, Oppa. Bagaimana Uni Hye Sun bisa menikah dengannya? Ini ibarat gadis mendapat duda.” ucap Dara pada Kim Joon. Wu Chun jadi tertarik dengan percakapan itu lalu agak mendekat agar bisa menguping.

Kim Joon menghela nafas,”Itu bukan urusanmu, Dara.”

“Oppa…., oppa tahu kan, pria itu pernah menjalin hubungan layaknya suami istri saja dengan Bo Young? Dan itu juga terjadi dalam waktu yang lama. Kenapa tidak menghentikan Uni?”

“Apa hak Oppa, Dara?”

“Oppa kan sangat mencintai Uni, harusnya Oppa meyakinkan perasaan Oppa pada Uni sehingga pernikahan itu tidak terjadi,” rengek Dara. Wu Chun semakin penasaran. Kim Joon menjitak jidat Dara,”Pabo, sudah ku bilang itu bukan urusanmu.”

“Miane, Oppa. Dara hanya kawatir dengan Uni. Suatu saat nanti pria itu pasti akan menyakiti Uni. Dan aku yakin Uni pasti hancur,” Dara mulai menangisi Hye Sun. Kim Joon memeluk Dara hatinya juga ikut sedih,”Kita bisa apa lagi. Dara. Bisa apa Lagi?”

Wu Chun melangkah meninggalkan mereka berdua, “Jadi suami Hye Sun pernah berhubungan layaknya suami…. Ah, hubungan  macam itulah., lalu apa dia tahu? Kalau dia tahu, apa mungkin dia menerima pinangan itu? Ah, aku harus memberitahunya.”

Tiba-tiba HP Wu Chun berbunyi dan segera dia angkat,”Apa? Tidak bisakah ditunda?….Baik!  Aku akan pulang sekarang.” Wu Chun menutup telephon dan mulai tampak kesal,”Sial! Kenapa aku harus kembali ke Taiwan di saat semua ini?”

Wu Chun berkacak pinggang dan menggeleng-gelangkan kepalanya,”Sun-ssi, sory aku harus pulang, setelah ku di Korea lagi, aku harus membuat semua ini jelas di depanmu.”

TBC PART V

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s