DINASTI LEE (Part 5)

DINASTI LEE
(One Season Love)
Part 5

Song Of The Part :

Fly Me to The Moon (By. Frank Sinatra)

Fly me to the moon
Let me play among the stars
Let me see what spring is like
On a-Jupiter and Mars
In other words, hold my hand
In other words, baby , kiss me

Fill my heart with song
And let me sing for ever more
You are all I long for
All I worship and adore
In other words, please be true
In other words, I love you

Fill my heart with song
Let me sing for ever more
You are all I long for
All I worship and adore
In other words, please be true
In other words, in other words
I love … you

 

Min Ho memandang langit berbintang dari balkon kamarnya, angin musim panas sayup-sayup bersemilir ke wajahnya. Min Ho memejamkan mata untuk menikmati semua itu. Kini dia mulai bisa memandang kehidupan ini dari sisi yang lain, musim panas yang selalu dia rutuki ternyata bisa memberikan ketenangan di hatinya. Dia berbalik dan mulai melangkah masuk. Sementara Sun yang baru saja masuk kamar meletakkan sesuatu di atas meja rias lalu memasuki kamar mandi. Benda itu menarik perhatian Min Ho hingga dia mulai mengulurkan tangan untuk memegangnya. Sepasang boneka pengantin, keanehan mulai menjalari hati Min Ho. Jika boneka ini sepasang, kenapa terbuat dari bahan yang berbeda? Dia menimang kedua boneka itu di tangannya. Boneka pengantin laki-laki terbuat dari logam yang padat dan keras, sedangkan boneka wanita terbuat dari porselen tipis, bahkan tengahnya berongga dan Min Ho jadi teringat mimpi anehnya.

Sun keluar dari kamar mandi dan duduk di kursi kecil di depan cermin meja rias. Dengan memoleskan bedak tipis di wajahnya, dia memperhatikan tingkah suaminya dengan boneka itu. Min Ho menoleh ke arah Sun yang menyunggingkan senyum manis di bibirnya. Aroma parfum lembut Sun mulai menyeruak di ruangan, aroma yang menawan hati Min Ho sejak pertemuan di café waktu itu.

“Baby ?” Min Ho menggerak-gerakkan kedua boneka di tangannya karena tidak tahu kalimat apa lagi yang mau dipakai untuk menanyakan perihal boneka itu. Sun tersenyum,”Hadiah dari Joon Oppa untuk pernikahan kita.”

“Joon? Kim Joon?”

“Ne,” kali ini jawaban yang keluar dari bibir pink itu. Min Ho meletakkan boneka itu di tempatnya lalu merangkul leher istrinya dari belakang, dia memandang bayangan Sun di dalam cermin yang begitu manis, wajah itu selalu berubah-ubah, jika malu berubah manis, namun terlihat ayu saat serius. “Rupanya kau sangat popular di kalangan teman-temanku.”

“Joon Oppa adalah partner kerjaku di iklan berikutnya.”

Min Ho mencium pipi Sun dan terkekeh saat wajah itu jadi semakin manis,”Ehm, Baby. Aku ingin kau menghentikan kegiatanmu. Ya, kalau kontrak dengan Joon itu memang sudah tidak bisa batal, jadikan itu kontrak terakhirmu, araso.”

Sun menepuk-nepuk lengan Min Ho yang masih bergelayut di lehernya,”Tidak masalah bagi Sun, advertensi baru kumasuki satu tahun terakhir, dan itu hanya untuk iseng karena kesepian.”

“Kesepian?”

“Ne, selepas SMP, Sun selalu bersama Oemma dan Appa, bepergian karena bisnis Appa, pendidikan Sun dapat melalui homeschooling dan universitas terbuka, akhirnya capek juga, lalu saat pulang ke Korea, tiba-tiba ada yang menawari iklan. Sun langsung terima karena teman-teman Sun di SMP banyak di situ jadi tidak kesepian lagi.”

“Kau tidak perlu bekerja lagi, cantik. Semuanya akan berbeda sekarang. Aku akan membalut tubuhmu dengan busana dan perhiasan permata, dan lebih senang jika kau menggantungkan diri pada suamimu ini untuk setiap gaun mewah dan sepatu yang melindungi kaki mungilmu. Yang harus kau lakukan hanyalah menjadi Nyonya dari seorang Lee Min Ho, dan kau akan menjadi wanita yang paling terhormat dengan nama besar dan keglamoranmu,” Min Ho berusaha meyakinkan ratu danahannya. Dia sangat kaya dan ingin memanjakan hal terindah di hatinya itu, dan Sun berusaha mencerna setiap kata-katanya dengan sesekali mengkerjapkan mata. Tapi keanehan akan hadiah Kim Joon mulai membuatnya penasaran lagi, “Hmm, kenapa bahan boneka itu berbeda?”

Sun menggelengkan kepalanya,”Kalau yang masalah logam, tidak tahu, tapi kalau yang porselen… kau tidak tahu kalau mereka menjulukiku boneka porselen?”

Min Ho semakin mempererat pelukannya di tubuh Sun. Kulitmu memang putih seperti porselen, Baby? begitu pikirnya.

”Menghadaplah kepadaku agar ku bisa lebih leluasa melihatmu, Baby.”

Sun menuruti kemauan suaminya. Min Ho mengecup lembut punggung tangan kanan Sun lalu mengangkat tangan untuk menyentuh pipi mulus pujaannya itu. Dia menatap Sun sendu dan mendapati mata bulat itu berbinar indah di sana. Matanya semakin sayu seiring semakin mendekatkan kepalanya ke wajah Sun.

“Minho-ssi…

“Ne?” Min Ho masih berusaha mejangkau wajah Sun sambil memejam.

”Min Ho-ssi, pakaian-pakaianku kemana?” tanya Sun tiba-tiba.

“Mwo?” Min Ho jadi cengoh karena pertanyaan itu langsung membuyarkan suasana romantis yang sedang dia bangun.

“Pakaianku. Pelayan belum memasukkannya ke lemari kita. Yang ada hanya gaun merah yang kurang bahan.”

Min Ho geli mendengar ucapan istrinya, semuanya memang dia sengaja,”Kenapa kau tidak pakai saja, Baby?”

“Aku sudah pakai, kok. Tidak bagus sama sekali. Aku malu.” Sun menutup mata sambil bergeleng-geleng.

Hm, pantas dari tadi dia tidak melepas kimononya. Min Ho senyum dikulum, apa benar Sun dua tahun diatasku? Kenapa jadi aku yang merasa lebih tua jika di depannya.

“Mana? Coba aku lihat?” Min Ho mulai nakal. Sun menyilangkan kedua tangannya di dada sambil bergeleng cepat. Min Ho membuka kedua lengan itu,”Tidak apa, Baby. Aku kan suamimu.”

Sun jadi pasrah ketika kalimat itu terdengar. Min Ho mulai menarik tali dan melepaskan kimononya. Kini tampaklah linggeri merah itu membalut tubuh mungil Sun dan Min Ho begitu terpana dengan semua keindahan itu. Min Ho menarik ujung bibirnya kembali. Wajah mungil itu jadi semakin manis jika menunduk begitu. Min Ho mengangkat wajah yang menunduk itu lalu mencium bibirnya dengan ciuman yang semakin dalam. Tangan kirinya melingkari pinggang Sun untuk lebih mendekatkan tubuhnya. Tangan kanan yang semula memegang dagu Sun perlahan menurun ke leher dan saat akan menjamah lebih jauh, Sun tiba-tiba menangkap tangan itu. Min Ho menghentikan ciumannya dan memandang tak mengerti. Sun menunduk kembali, “Ini…. Ini pertamaku, Min Ho-ssi. Aku…. takut mengecewakanmu.”

Min Ho mendekatkan wajahnya ke telinga Sun. Istrinya ini masih belum terjamah, sedangkan dia telah berulang kali melakukannya.“Jangan kawatir, Baby. Malam ini aku akan menjadikanmu wanita paling bahagia di dunia,” itulah yang akhirnya dia bisikkan di telinga Sun lalu mengangkat tubuh mungil itu ke atas peraduan cinta mereka.

Di pembaringan itu Min Ho  menatap istrinya lekat-lekat,”Beginilah aku ingin melihatmu, Baby. Sangat cantik.” Dan Sun merasa gugup dengan pujian itu,”Oh, Min Ho-ssi…..aku…..aku  mohon ajari aku bagaimana membuatmu bahagia, tanpa gagal sedikit pun.”

“Anhi, Ratuku….kau tak kan gagal. Goo Hye Sun, sarangheyo,” Min Ho membisikkan kata-kata itu di rambut istrinya, dan Sun melengkungkan tubuh ke arahnya, lalu Min Ho mencium  bibir mungil itu, pipinya, matanya, lalu bibirnya lagi. Dia tak bisa menahan diri lagi, Sun membangkitkan kekaguman dan perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Suara gemericik air dari dalam kamar mandi mengusik tidur Min Ho, dia membuka mata, suasana masih gelap. Saat menoleh ke samping, Sun tidak ada di tempatnya. Min Ho bangkit, dia melihat lebih jauh bekas sprei tempat Sun berbaring tadi. Bercak-bercak merah tampak di situ, bukan hanya di situ, tapi juga di lantai dan berakhir di kamar mandi, sementara suara air bergemericik masih terdengar juga. Min Ho yang kawatir, mulai mengenakan kimononya untuk segera masuk ke kamar mandi dan mendapati Sun sedang mencoba mencuci bagian depan linggeri yang dipakainya.

Sun tersenyum, ”Ini yang pertama bagiku.”

“Mereka bilang ini akan terjadi, tapi mereka tidak mengatakan akan sebanyak ini,” ujar Sun lirih.

“Apa kita perlu ke dokter?” tanya Min Ho. Sun menggeleng cepat,”Tidak usah…., sudah berhenti….. Aku tidak mau orang lain mengetahuinya.”

Sun tiba-tiba memeluk tubuh Min Ho,”Gumawo.”

Min Ho terkejut dengan gerakan tiba-tiba Sun,”Gumawo ?”

“Karena telah menjadikanku wanita paling bahagia di dunia,” Sun tersenyum di antara linangan air matanya. Min Ho mencium lembut kedua mata itu lalu memapah Sun kembali memasuki kamar mereka.

——– > 8 < ——–

Je Ha memandangi kemesraan dua insan kasmaran itu yang menghiasi suasana sarapan pagi di Lee Mansion. Hari ini adalah hari pertama bagi pasangan itu memasuki Lee Mansion kembali setelah perjalanan bulan madu keliling Eropa selama satu setengah bulan dan ini juga hari rutin pertama mereka karena harus segera bergabung kembali dengan kesibukan yang tertunda.

Senyum indah pun tersungging di bibir Je Ha saat dia mendapati ekspresi Min Ho yang tampak lebih bersinar di depan Sun, istrinya itu menyuapkan makanan ke mulutnya, lalu mengelapnya lembut. Mereka sama sekali tak risih dengan kehadiran Je Ha di situ, atau mungkin mereka sudah lupa kalau Je Ha di situ?

“Oemma juga mau kusuapi?” tanya Sun sambil tersenyum manis ke arah Ibu mertuanya. Min Ho tiba-tiba tersedak mendengarnya. Je Ha mengibaskan tangannya,”Ah, kau ini?”

“Kenapa, Oemma? Sun juga sering menyuapi Oemma Sun kalau beliau malas makan, diet beliau ketat sekali, jadi Sun yang selalu membujuk makan.”

Je Ha tertawa,”Baiklah, Oemma mau juga disuapi.”

Sun segera menyuapkan sup asparagus itu kepada Je Ha, “Rasanya lebih enak jika disuapi oleh orang yang kita sayangi, Oemma.”

Je Ha mencoba menikmati rasa Sup yang ada di dalam rongga mulutnya itu,”Hmm, benar juga, rasanya lebih mantap. Kalau begitu tiap pagi suapi Oemma juga, ya?”

“B…Bo?” Min Ho langsung panik mendengar perkataan Ibunya,”Tidak boleh, Sun tidak boleh melakukan itu, Kau bukan anak kecil yang harus selalu disuapi istriku!”

Sun mencubit lembut lengan Min Ho,”Tidak sopan bicara seperti itu pada beliau,” bisiknya.

Je Ha tertawa,”Kau dengar itu, Sun. Suamimu ini tidak rela membagi dirimu denganku.”

“Ah, sudahlah, kita berangkat, Baby. Kau pasti sudah ditunggu Joon.”

Sun berdiri dari kursinya setelah meneguk segelas air, lalu mendekati Je Ha,”Kami berangkat dulu, Oemma.” Je Ha mencium pipi Sun lembut lalu menghantarkan kepergian keduanya.

Min Ho mengantar Sun ke lokasi syuting sebelum ke kantor, kini mereka sudah sampai di depan gedung tempat syuting itu berlangsung. “Sampai jumpa lagi, Sayang,” sapa Sun sambil mencium pipi suaminya.

“Tunggu!” tiba-tiba Min Ho memegang tangan Sun saat Sun hendak membuka pintu mobil. Sun segera memalingkan wajah ke arahnya,”Waeyo?”

Min Ho memegang wajah Sun,”Kenapa kau tiba-tiba terlihat pucat?”

“Ceongmal?” Sun mulai bercermin di kaca spion mobil itu.

“Kita pulang lagi saja, tunda syuting hari ini,” protes Min Ho.

“Jangan, Sayang. Aku sudah menunda syuting ini karena bulan madu kita.”

“Tapi…

Sun meletakkan telunjuknya di bibir Min Ho,”Tidak ada tapi, aku berjanji akan sehat-sehat saja. Mungkin hanya sedikit capek karena perjalanan semalam. Ku mohon, percayalah.”

Min Ho menghela nafas,”Baiklah, tapi jika kau sudah sangat capek, istirahatlah, tidak usah dipaksakan, menjadi bintang iklan sudah bukan prioritas lagi bagimu.”

“Iya, Sayang,” jawab Sun sambil mengelus pipi Min Ho.” Aku pergi dulu, ya. Bye!”

“Bye, Baby,” Min Ho melambaikan tangannya pada Sun yang sudah berada di luar mobil. Sun segera memasuki gedung di depannya dan segera di sambut oleh rekan-rekannya sesama artis. Senyum riang selalu menyapa orang yang ditemuinya walau pun rona pucat itu semakin kentara.

“Uni!” panggil Dara saat melihat dirinya. Gadis itu tampak melambai-lambaikan tangan, lalu berlari menghampirinya dengan diikuti oleh Shin Ye, sepupunya.

“Bogosipho, Uni.” Mereka bertiga berpelukan.

“Aku kira sudah tidak bisa berjumpa Uni lagi, Miane karena tidak bisa datang ke pernikahan Uni,” Shin Ye memeluk tubuh Sun lagi. Sun tertawa dibuatnya.

“Bagaimana bulan madunya, Uni? Uni baik-baik saja, kan?” tanya Dara.

“Tentu saja, dongsaeng. Tentu Aku baik-baik saja.

“Ah, pertanyaanmu  aneh, Dara-ssi. Uni kan pergi dengan suaminya sendiri, tentu saja Uni baik-baik saja,” protes Shin Ye sambil agak menginjak kaki Dara dan itu membuat Dara sadar kalau dirinya sudah salah omong pada Sun.

“Uni, wajah Uni terlihat pucat,” kata Shin Ye tiba-tiba. Dara juga langsung mengamati wajah Sun.”Uni harusnya jangan syuting dulu.”

“Aku sudah janji, tidak baik menunda terus.”

“Ehm, Uni nanti bilang pada penata rias untuk menyamarkan lingkar hitam di bawah mata ini, ya,” pinta Shin Ye sambil menunjuk pelupuk bawah mata Sun lembut.

“Ne, gomawo, dongsaeng. Aku pergi dulu, ya..”

Lalu bagaimana hari pertama kerja seorang Lee Min Ho sebagai seorang suami? Hmmm…,rapat-rapat itu berjalan lancar. Aura positif yang terpancar di hatinya, rupanya membuahkan keberuntungan di setiap aktivitasnya. Dan……… “Siang, Nona Su,” dia menyapa manajer marketingnya, dan membuat orang yang disapa tiba-tiba gugup karena memang Min Ho jarang menyapanya…….. “Siang,” sapanya lagi pada OB yang dilewatinya dan OB hanya melongo saja. Kenapa sekarang dia seringkali menyapa? Itulah kira-kira yang terbersit di benak mereka. Lee Min Ho yang sombong dan arogan itu ternyata sudah banyak berubah, pernikahannya dengan Sun yang terkenal ramah telah merubah dirinya. Sebenarnya bukan hanya dirinya, bahkan Je Ha pun jadi sering tersenyum semenjak mengenal Sun.

Min Ho memasuki ruangannya lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja. Dia mulai mengeluarkan beberapa file dari dalam koper. Dahinya berkerut saat didapati kertas aneh di antara file-file itu. Di bukanya kertas yang terlipat itu dan terbacalah kata-kata di pojok bawah itu,

‘Terima kasih telah membuatku menjadi wanita paling bahagia di dunia’

senyuman mulai tersungging di bibirnya, kau ini ada-ada saja, Baby. Min Ho menyentuh lembut sketsa yang ada di depannya itu, itu adalah sketsa wajahnya, dia jadi teringat saat Sun menggambar sketsa itu. Waktu itu mereka sedang ada di Roma. Karena terlalu capek, mereka memutuskan untuk tidak berkeliling, dan lebih memilih untuk menikmati tidur siang. Sun yang lebih dulu terbangun, membalikkan tubuh ke arah Min Ho yang memeluknya dari belakang.

“Aigo, tampannya suamiku ini,” puji Sun lirih sambil menelusuri kembali wajah Min Ho dengan telunjuknya. Di luar hujan rintik-rintik, tapi suaranya itu sayup-sayup telah terdengar oleh Min Ho, apalagi saat dia tiba-tiba menggerakkan telunjuknya di atas wajah Min Ho. Min Ho tetap pura-pura tidur, walau pun sebenarnya dia sudah tersadar sepenuhnya.

Sun segera mencari pensil dan kertas, lalu duduk bersila di atas ranjang itu untuk membuat sketsa wajah Min Ho. Dia tidak menyadari kalau Min Ho semakin geli di balik aksi pura-pura tidurnya. Tiba-tiba Min Ho bergerak, menempatkan tangan kanannya ke atas dahinya.

“Yah, yah…” Sun menyayangkan posisi itu. Dia agak menunduk untuk terus mengamati wajah Min Ho, dan saat wajahnya semakin mendekat, Min Ho tiba-tiba memeluk tubuhnya.”Yah, Lee Min Ho!” Sun meronta di bawah lengan kokoh itu.

“Mau jadikan aku model, harus bayar dulu,” Min Ho senyum di kulum, tubuh Sun masih berada di atasnya.

“Mwo? Bayar? Oke.”

“Ceongmal?”

Sun mengangguk. Min Ho tersenyum licik,”Ini bayarannya.” Min Ho mencium bibir Sun dan di siang yang hujan rintik-rintik itu tercipta lagi kisah indah di peraduan mereka.

“Hyung,” sapa orang yang tiba-tiba berkunjung membuyarkan lamunannya. Orang itu adalah Hongki, sepupunya,”Ini kartu-kartu atas nama Hye Sun Noona yang Hyung minta.”

“Bagus! Kerjamu cepat, tidak salah aku menunjukmu sebagai asisten menggantikan Pak Han,” Min Ho meraih kartu-kartu itu.

“Hyung membuatku gugup, aku belum pantas menjalani tugas ini.”

“Kau ini, sudah saatnya kau belajar mengelola Lee Corporation, Apa kau mau seperti Dong Hae yang masih saja sibuk dengan ambisi konyolnya?”

“Mian, Hyung.”

Min Ho mengamati kartu-kartu kredit itu di tangannya. “Hongky, kau tahu toko bunga yang paling bagus rancangan bunganya?”

“Ehm, kira-kira begitu.”

“Belilah bunga mawar, lalu antarkan bunga itu ke lokasi syuting Sun. Ingat! Harus kau yang mengantarnya.”

Hongky mengangguk tanda mengerti, lalu undur diri untuk melakukan perintah Min Ho.

——- > 8 < ——-

“Huek!” Sun berusaha memuntahkan sesuatu. Syuting belum juga dimulai. Tempat syuting itu jadi geger. Kim Joon duduk di sampingnya sambil menepuk-nepuk punggungnya dan sutradara berjongkok di depannya,”Mutahkan saja, siapa tahu bisa lega, jangan kawatir lantai kotor.”

“Huek!” Sun berusaha lagi, tapi tidak ada yang keluar padahal rasa mual sudah sampai ke ulu hati. “Minum dulu, Sun-ssi,” penata rias tergopoh-gopoh menjulurkan segelas air padanya, yang disahut oleh Joon untuk diminumkan. Sun agak mendingan setelah meminum air itu,”Miane, Oppa. Sun membuat syuting kita tertunda.”

“Sudahlah, Sun, yang penting kesehatanmu dulu,” ucap Joon bijak. Sutradara itu menepuk pundaknya,”Kita tunda saja syuting ini, deadline tayangnya juga masih lama.”

Sun mengangguk lemas. Tiba-tiba pandangan matanya mengabur, Joon yang menyadari itu segera menepuk-nepuk pipinya,”Sun…., Sun.”

Sun tersadar lagi, Joon jadi tambah panik,”Kau harus pulang sekarang.”

“Apakah di sini tempat syuting Lee Hye Sun?” suara Hongki sayup-sayup terdengar, sutradara itu menoleh,”Ya, siapa kau?”

“Saya Hongki, asisten Minho Hyung.”

“Kebetulan sekali, bawalah Noona-mu ini pulang, dia sedang tidak enak badan,” perintah Joon. Hongki kaget, bunga mawar yang ada di tangannya terlepas,”Ya ampun, Noona, kenapa bisa begini?” Hongki segera mengangkat tubuh Sun untuk dibawa ke mobil.

Segera Hongki menghantarkan Sun ke Lee Manshion. Je Ha menyambut mereka dengan kepanikan, lalu saat dokter mulai mengkabarkan keadaan Sun sebenarnya, Je Ha semakin mengomel, menyalahkan kebodohan putranya. “Phabo! Phabo! Phabo !” Je Ha memukuli bahu Min Ho tepat di depan kamar mereka. Yang di pukul mengangkat tangan untuk menangkis.”Oemma, apa salahku?”

“Masih bertanya? Kenapa kau tidak langsung bawa Sun pulang saat tahu dia sakit, hah?”

“Dia-nya tidak mau!”

Je Ha memukul lagi,”Dasar calon ayah yang bodoh!”

“Mwo? Ayah?” Min Ho melongo mendengar perkataan Je Ha, alhasil pukulan itu mendarat juga di bahunya, “Arkh! Apho, Oemma!”

Min Ho berniat membuka pintu kamarnya. “Mau kemana, Kau?” cegah Je Ha.

“Tentu saja menemuinya.”

“Dia tidur, jangan ganggu dia dulu.”

Min Ho manggut-manggut,”Dokter bilang apa saja, Oemma?”

Wajah Je Ha mendadak menampakkan muka geli,”Ha… kau tahu berapa bulan kandungan istrimu? Lima minggu!…., Ha… ternyata kau tokcer juga, ya?”

Wajah Min ho memerah bak kepiting rebus. Je Ha tertawa ngakak dibuatnya.

“Haahhh! Aku mau masuk melihat Sun!” Min Ho mulai jengkel diledek.

“Eits, tunggu! Berikan ini padanya!” Je Ha menggantung-gantungkan kalung di depan wajahnya. Kalung itu berhias liontin berbentuk lambang dinasti Lee,”Apa ini, Oemma?”

“Ini adalah kalung yang dipakai wanita yang melahirkan generasi keluarga Lee. Dulu almarhum Appamu juga memberikan ini pada Oemma, sekarang giliran Sun yang memakainya. Dan kalung yang kau pakai sekarang ini….,” Je Ha menunjuk pada kalung yang melingkar di leher Min Ho,”Harus kau berikan pada anakmu nanti.”

“Araso, Oemma,” Min Ho segera memasuki kamar. Je Ha tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Di dalam kamar, ternyata Sun sudah bangun, merentangkan tangannya saat Min Ho hadir, mereka berpelukan hangat. Min Ho mencium kening istrinya.”Kau sudah mendengar kabar itu,kan?” tanya Sun. Min Ho mengangguk.

“Ini anak kita, Min Ho-ssi. Buah cinta kita,” Sun mengarahkan telapak tangan Min Ho ke perutnya. Min Ho menangis haru karenanya kemudian menunduk untuk mencium perut Sun.

“Min Ho-ssi,” panggil Sun.

“Mwo?” Min Ho menatap wajah Sun dengan hangat.

“Aku bahagia, tapi…. Tapi juga takut.”

Min Ho mengkerutkan dahi,”Kenapa harus takut?”

Sun mengatur nafasnya, air mata itu masih menghalangi pandangan matanya. Dia mengelus wajah Min Ho lembut,”Entahlah, Sayang. Semua ini serasa membahagiakan, tapi semuanya berlangsung begitu cepat. Pertemuan kita…., pernikahan…., dan kemudian anak ini. Kau tahu aku sangat mencintaimu saat ini?”

“Gumawo, Baby,” Min Ho memegang tangan Sun yang menempel di pipinya lalu mencium lembut. Sun tertawa di antara tangis harunya,”Kau tahu Min Ho-ssi, batas antara cinta dan benci itu sangatlah tipis. Aku takut jika hal ini terjadi, jika suatu saat kau menyakitiku, aku akan berubah membencimu, sangat membencimu.”

Min Ho memeluk kembali istrinya lalu berbisik,”Aku tidak akan melakukan itu, Baby. Tenanglah, jangan berpikiran yang macam-macam. Kau hanya terpengaruh dengan kandunganmu.”

“Ceongmal?”

“Ne, percayalah. Semuanya akan baik-baik saja.” Sun mengangguk.

Min Ho melingkarkan kalung pemberian Ibunya ke leher Sun, “Tanda terima kasih dari keluarga Lee untukmu.” Lalu sekali lagi mereka berpelukan, berbagi kebahagiaan karena akan hadirnya sesuatu sangat mereka idamkan itu.

(Mian, jika scene yang pertama kurang berkenan, ku tetap tampilkan scene itu karena memang scene itu penting untuk cerita ini selanjutnya)

TBC PART VI



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s