DINASTI LEE (Part 6)

DINASTI LEE

(One Season Love)

Part 6

 

”Ehm, Baby. Aku ingin kau menghentikan kegiatanmu. Ya, kalau kontrak dengan Joon itu memang sudah tidak bisa batal, jadikan itu kontrak terakhirmu, araso.”

Yup, ucapan itu memang benar-benar terjadi. Hye Sun sangat kerepotan dengan kehamilan pertamanya. Morningsickness itu benar-benar menyiksa, alhasil dia selalu baru bisa beraktifitas pukul 10 tiap paginya. Iklan bersama Kim Joon benar-benar menjadi proyek terakhirnya. Hal yang dilakukan oleh Sun setiap harinya adalah mengurus rumah tangganya, ralat! Maksudnya, ehm.. suaminya, Lee Min Ho dengan kelakuannya yang semakin manja dan satu hal yang perlu digarisbawahi adalah pencemburu, oh, ya… satu lagi, dia tidak sopan pada orang tua, dan… makin banyak saja daftarnya? Agak kasar kalau lagi marah ternyata. Tentu saja Hye Sun harus mengatasi itu semua dengan kelembutannya. Kadang Je Ha berpikir bahwa hal yang membuat Min Ho menyukai wanita yang lebih dewasa karena memang sifatnya yang bebal itu dan Je Ha sangat-sangat bersyukur bahwa wanita yang menjadi menantunya adalah Hye Sun yang super sabar itu.

Taman belakang Lee Mansion tampak cerah pagi itu, kupu-kupu menghias dengan aneka warna sayapnya, sementara bunga-bunga itu dengan warna yang seolah berseru,”Inilah aku dengan indahku, sentuhlah… maka akan kubagi keindahan padamu,” dan rumput hijau yang membentang itu bagaikan permadani alam yang mampu memberikan kenyamanan bagai lantai dunia.

Wu Chun duduk di salah satu sisi dari taman itu, di kursi taman yang lengkap dengan meja dan payungnya. Sesekali dia memandang arlojinya, sudah seperempat jam dan orang yang ditunggu, Nyonya muda dari keluarga itu belum juga menemuinya. Tampak seorang pelayan menghantarkan suguhan kepadanya dan itu membuatnya semakin putus asa.

“Nyonya muda agak tidak sehat pagi ini, tapi berjanji akan segera menemui Tuan. Silahkan menikmati,” ujar pelayan itu sembari undur diri.

“Puft!” Wu Chun mulai memijit-mijit tengkuk lehernya. Penantian itu sangat membosankan padahal dari kemarin dia sudah menyusun kalimat yang akan dia katakan pada Hye Sun, tentu saja tentang belang suaminya. Info yang didapatnya selama ini sudah lengkap, dan dia ingin semuanya menjadi jelas pula bagi Sun, tetapi kalimat itu sudah lenyap tergilas rasa bosannya.

“Miane, membuat Oppa menunggu,” suara lembut itu terdengar juga. Suara yang selama tiga bulan ini sangat dia rindukan dan di sanalah dia, si pemilik suara itu, Goo Hye Sun sedang berdiri dihadapannya dengan senyum manis.

“Its Ok!” Wu Chun menyambut dengan mencium  punggung tangan kanan Sun. Saat menunduk, tampaklah perut Sun yang mulai membuncit, Wu Chun memicingkan matanya, ”Kau…. Kau hamil, Sun?”

“Ne, Oppa,” Sun menjawab dengan mata berbinar seolah berbagi kebahagiaan di sana, tapi sungguh itu adalah kabar terkelam yang diterima Wu Chun pagi itu. Kalimat yang tersusun sejak kemaren, benar-benar terlupa seluruhnya. “Sudah berapa bulan?” entah kenapa dia jadi ingin tahu usia kandungan Sun. Sun duduk, rupanya kelelahan berdiri terus,”Hampir tiga bulan, Oppa.”

Dan jawaban itu benar-benar bagai kilat yang menyambar, lelaki brengsek itu tidak buang-buang waktu rupanya. Wu Chun memejamkan mata, entah kenapa dia menjadi tidak tega terhadap Sun.

“Selamat atas kehamilanmu, Sun-ssi,” Wu Chun akhirnya mengulurkan tangan menerima semua itu.

“Gumawo, Oppa,” Sun membalas jabat tangan itu.

”Miane baru bisa menemuimu, Oppa. Anak ini sangat manja sehingga baru memperbolehkan Sun keluar setelah jam sepuluh,” Sun berkata sambil mengelus perutnya. Wu Chun terkekeh, sama seperti ayahnya, manja dan kotor, begitu pikirnya,” Sepertinya kau menikmati kehamilanmu?”

Sun mengangguk.

“Apa kau bahagia, Sun-ssi.”

“Ne, Oppa, tentu Sun bahagia.”

Wu Chun menghela nafas,” Syukurlah kalau begitu.”

Sun mengamati kupu-kupu yang beterbangan di taman itu,”Hari ini sangat indah ya, Oppa? Aku jarang melihat kupu-kupu di sekitar sini.”

“Bagiku kau lebih indah,” samber Wu Chun ngelantur. Dia jadi gelagapan sendiri dengan ucapan barusan.

“Gumawo,” Sun merasa tersanjung. Wu Chun merasa lega karenanya. Seorang pelayan tiba-tiba menghampiri mereka, menghantarkan telephon untuk Nyonya muda mereka. “Sun terima telephon ini dulu, ya, Oppa?”

“Silahkan, Sun.” Wu Chun pura-pura masa bodoh dengan telephon itu dia menggapai cangkir the di depannya lalu di minum.

Sun mulai mendengarkan perkataan orang di telephon yang ternyata adalah Dara, “Uni, Shin Ye mengalami kecelakaan di lokasi, sekarang ada di Seoul Hospital, bisa temani aku ke sana? Itu sih jika Uni tidak repot?”

“Tentu tidak, dongsaeng. Uni akan segera menjemputmu, kau sekarang di mana?”

“Di apartemen. Uni jemput Dara di sini saja.”

“Araso,” Sun menutup telephon itu. Dia memandang ke arah Wu Chun dengan senyum terkembang,”Oppa tidak sibuk siang ini?”

“No, memangnya ada apa?”

“Bisa antar Sun ke Seoul Hospital? Ada teman yang sakit di sana.”

“Tentu.”

“Tapi kita jemput teman Sun dulu, ya, Oppa?” Sun meminta lagi. Wu Chun mengiyakan. Senyum merekah di bibir Wu Chun karena kesempatan yang selama tiga bulan ini dia tunggu akhirnya hadir. Mungkin aku tidak bisa menjadi kekasih untukmu, Sun , tapi aku senang kau menganggapku seperti saudara, dan melihat kau masih membutuhkan bantuanku seperti ini, hatiku semakin membumbung saja.

—— > 8 < ——-

Je Ha tampak gusar, berita yang di dapat dari Pak Han pagi ini sangat tidak mengenakkan hatinya. Lelaki itu memang dia tarik jadi asistennya, sehingga Hongki bisa masuk menjadi asisten Min Ho untuk belajar menangani bisnis keluarga Lee. File-file itu masih Je Ha telusuri. Setumpuk medical record.

“Aigo, benarkah separah ini? Bukankah dia sudah menjalani pengangkatan rahim empat tahun yang lalu?” tanya Je Ha pada Han. Lelaki itu masih berdiri di depannya,”Saat operasi itu, sebenarnya sel kanker telah berada di dalam kelenjar getah beningnya sehingga kemungkinan kanker bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya. Dan dokter di korea tidak mengetahui hal itu.”

“Dan sekarang sampai di paru-paru?”

“Ne, Nyonya.”

“Sekarang di mana dia?”

“Bo Young agashi sekarang tengah di Seoul Hospital.”

Je Ha meledak, file-file itu melayang ke atas meja kerjanya,”Bagaimana dia bisa pulang? Kau bilang kita sudah mengurus semua perawatannya di Singapore!”

“Sosongheyo,” Han membungkuk,”Dokter di sana sudah lepas tangan dan keluarganya menariknya kembali.”

Je Ha menghela nafas, sudah tidak ada gunanya dia marah sekarang, lagipula Bo Young akan segera mati, Min Ho sudah menikah dengan Sun, apa yang musti ditakutkan lagi? Selama ini memang dia yang menanggung biaya pengobatan Bo Young, karena wanita itu masih kerabat jauh keluarga Lee, tantu saja tanpa sepengetahuan Min Ho. Tiga tahun yang lalu dia membuat suatu penawaran pada wanita itu.

“Miane, Ajhuma, saya tidak bisa meninggalkan Min Ho.”

“Jangan bodoh, Bo Young-ssi. Kau mau anakku mengutuki nasibnya seumur hidup karena tidak bisa mendapatkan anak?” cerca Je Ha sengit.

“Kami bisa melakukan program bayi tabung?”

“Itu tetap tidak sama bagi kami!” Je Ha muntap, “Bagi keluarga Lee, kelahiran seorang bayi adalah hal yang sakral, hal yang menentukan keberlangsungan keluarga kami, jadi jangan kau remehkan. Lagipula marga kalian sama, tidak tahukah kau larangan pernikahan semarga?”

Je Ha menghela nafas, hal yang harus dia lakukan adalah menyingkirkan wanita ini, sejauh mungkin dari putranya,”Kau masih ingin sembuh, kan?

“Mwo?”

“Atau kau ingin cepat mati, itu terserah padamu,” Je Ha melipat tangannya di dada, lalu dengan gerakan kepala dia memberikan kode kepada asistennya untuk memberikan berkas yang dibawanya pada Bo Young. Bo Young menerima kertas itu dan mulai membaca. Je Ha tersenyum sadis,” Aku tahu kau mencari info tempat itu, sebuah pusat pengobatan kanker di Singapore.”

“Dan aku juga tahu orang tuamu tidak cukup mempunyai uang untuk menanggung biayanya,” lanjut Je Ha. “Jangan harapkan uang dari Min Ho, karena keuangannya masih di bawah pengawasanku! Karena itu aku punya penawaran untukmu.”

“Penawaran?”

“Ne! Tinggalkan Min Ho! Aku akan menanggung biaya pengobatanmu, pergilah kau di Singapore!”

Seperti yang dia harapkan Bo Young menerima tawarannya, untuk sementara wanita itu akan pergi jauh dari putranya dan dia bisa mencarikan gadis yang pantas untuk menjadi istri Min Ho. Sekarang Min Ho sudah menikah, tidak ada yang perlu dikuatirkan, pikirnya.

“Baiklah,” Je Ha mulai bicara setelah sadar dari lamunannya,” Awasi terus dia, Jangan sampai Min Ho tahu semua ini!”

“Ada apa namaku disebut?” Min Ho muncul tiba-tiba. Je Ha kaget. Han menunduk gugup. “Berkas apa itu?”

Je Ha tersenyum dengan terpaksa saat Min Ho semakin mendekat ke arahnya. “Eh.., bukan apa-apa, Sayang.”

Min Ho merebut file itu dari tangan Je Ha, satu per satu halaman terbuka dan dia mulai bisa menyimpulkan keadaan Bo Young yang memprihatinkan,” Dimana dia?”

Je Ha dan Han tidak menjawab. Min Ho muntab,”KATAKAN DI MANA DIA!!!”

——– > * < ———

Mobil itu terhenti di pelataran Seoul Hospital. Wu Chun segera keluar dan diikuti Dara yang keluar dari jok belakang. Mereka bersama membantu Hye Sun keluar dari mobil dan hal itu membuat Hye Sun risih setengah mati, “Aku baru hamil 2 bulan lebih, bukan mau melahirkan.”

Keduanya tertawa melihat reaksi Hye Sun dan bertiga mereka mulai memasuki gedung Seoul Hospital. “Shinye dirawat di kamar 342, Uni. Kita masuk lift itu, Kacha!”

“Tunggu Dara-ssi,” cegah Wu Chun,”Sepertinya aku harus ke belakang dulu, kalian duluan saja, nanti aku menyusul.”

Kedua Yoja itu mengangguk lalu memasuki lift yang tengah kosong, saat sampai di lantai yang dituju, ternyata Shin Ye tidak ada di kamar yang dimaksud, alhasil mereka berputar-putar tak tentu arah di lantai itu.

“Uh…! Shin Ye mana, sih? Katanya ada di kamar 342, atau dia memang tidak tahu ada dimana,” Dara mulai ngomel, diliriknya Hye Sun yang sudah mulai kelelahan, dia jadi prihatin. “Uni tunggu di sini saja, ya. Biar Dara yang cari kamar Shin Ye, nanti kalau sudah ketemu, Dara jemput Uni.”

Hye Sun mengangguk, Dara beranjak mencari kamar Shin Ye. Hye Sun mulai mengitarkan pandangan di lorong-lorong lantai itu, dalam hatinya mulai mengagumi tata ruang rumah sakit itu, namun tiba-tiba dia menangkap sesosok yang tidak asing baginya. Sosok tegap itu memasuki salah satu kamar pasien di ujung sana, untuk memuaskan rasa penasaran, Hye Sun menguntit.

Pintu kamar itu terbuka dan dari tempat Hye Sun berdiri kini, tampaklah olehnya, sang suami menemui seseorang dalam kamar itu, seorang wanita bertubuh ringkih dan berparas pucat. Pelukan, ciuman, belaian dan bisikan, segala hal yang selama ini Min Ho lakukan terhadapnya, dilakukan pula pada wanita itu.

“Uni, ternyata Shin Ye ada di….

Ucapan Dara terpotong dengan nada memelan, karena saat dirinya mensejajari Hye Sun, segala tindak-tanduk Min Ho tertangkap pula olehnya, diliriknya Sun masih mematung dan dalam hati mulai merutuk kebobrokan Min Ho, Huh! Kenapa mereka tidak menutup pintu? Mau lihat Uni mati berdiri, apa?

Hye Sun berbalik dan melangkah menjauhi kamar itu.

“Uni…” Dara yang mulai panic mengikuti Hye Sun, “Uni, gwencana?” itu terus yang ditanyakan Dara, namun Hye Sun tidak menjawab. Dia terus melangkah semakin meninggalkan kamar itu. “Uni….” Dara merengek meminta penjelasan.

“Ada apa?” Wu Chun yang telah menyusul meminta penjelasan, tapi Hye Sun tetap mempercepat langkah kakinya hingga Dara berusaha mengejar,” Uni tahu semuanya!” teriak Dara pada Wu Chun.

“Semuanya?” Wu Chun terperanjat dengan kata itu dan ikut mengejar Hye Sun.

Adegan kejar-kejaran itu terhenti saat mereka sampai di taman berumput depan Seoul Hospital. Dara yang mulai ngos-ngosan memegangi lengan Hye Sun agar Uninya itu tidak kabur lagi.”Miane, Uni. Miane… Dara tidak langsung bicara. Dara tahu semuanya, sebenarnya bukan hanya Dara, tapi seluruh Seoul mengetahui itu.”

Dara menceritakan skandal tersebut. Skandal cinta antara Min Ho dan Bo Young yang terjadi tiga tahun yang lalu. Wu Chun pasrah, rencananya untuk menjelaskan semuanya itu pada Sun tetapi yang terjadi sekarang, Yoja bernama Dara itu yang melakukannya, dan dia hanya mampu memperhatikan ekspresi wajah Sun datar, mendengarkan satu persatu kalimat Dara. Wu Chun heran dengan ekspresi itu. Sun bahkan hanya menunduk, memandang hamparan rumput di kakinya. Wanita lain mungkin akan sangat histeris, tapi Sun kebalikannya. Apakah Sun memang sudah mengetahuinya?

“Sudah cukup bicaramu, Dongsaeng?” Sun mulai bersuara setelah selama itu terdiam.

“Uni….” Dara menggerak-gerakkan lengan Sun.

“Kalau sudah cukup, pergilah temui Shin Ye.”

“Uni….,”

“Aku bilang temui Shin Ye!” Sun membentak.  Dara terkesiap. Seumur-umur baru kali ini dia mendapati Sun membentak. Wu Chun memberi kode pada Dara untuk meninggalkan tempat itu dan diiyakan oleh Yoja tersebut.

Sepeninggal Dara, bahu Sun mulai bergerak-gerak seiring tangisannya yang meledak. Wu Chun meraih tubuh mungil itu di pelukannya. Dan Sun memukul-mukul dada bidang itu lemah.

“Tenanglah, Sun-ssi,” hanya itu yang bisa Wu Chun bisikkan sementara dia merasakan tubuh kecil itu gemetaran.

“Apa-apaan ini!” Min Ho tiba-tiba muncul di taman itu, dengan garang dia memisahkan pelukan itu dan meninju perut Wu Chun keras. Sun berteriak histeris. Wu Chun meringis dan mencoba membalas, tapi dicegah oleh Sun.

Min Ho muntap, ditariknya tubuh Sun menjauhi tempat itu, lalu membantingnya ke dalam mobil untuk kembali ke Lee Mansion. Sampai di Lee Mansion, tubuh Sun yang ditariknya itu kembali dihempaskannya di depan Je Ha, “Lihat kelakuan menantu kesayanganmu, Oemma! Sungguh tak tahu malu!”

Je Ha berusaha membekap tubuh Sun agar tidak terjatuh akibat perlakuan kasar itu. Sun masih terisak, tubuhnya gemetaran. Min Ho masih saja menunjuk-nunjuk dan memaki,”Setelah anak ini lahir, lakukan tes DNA, aku ragu dia anakku!”

“Lee Min Ho!” Je Ha berteriak. Min Ho menendang kaki sofa yang ada di situ lalu pergi entah kemana dengan mobilnya. Kini hanya tinggal Je Ha dan Sun ada di ruangan itu, beberapa pelayan mengamati kejadian itu sambil tertunduk.

“Apa yang terjadi, Sayang?” Je Ha membelai kepala Sun. Sun semakin terisak, dia tidak bisa menceritakan semuanya, fakta itu sangat mengejutkan baginya. Jadi itu anggapan Min Ho selama ini? Menantu yang diinginkan Ibunya? Hanya itu? Dan apa-apaan ini, demi menutupi kesalahan, dia memfitnah. Fitnahan yang kejam karena dia meragukan bayi ini, lupakah dia akan semuanya? Kejadian di malam itu, setelah pertama kali melakukannya, lupakah dia ? Hati Sun sangat perih mendapati semua itu. Tidak, dia tidak bisa menceritakan semua itu kepada Je Ha. Dia memutuskan untuk mundur, meninggalkan Je Ha menuju kamarnya.

“Sun!” Je Ha memanggil saat menantunya meninggalkannya begitu saja.

——— > * < ———

 

Cahaya senja mulai merambati kamar Sun, saat dia membuka mata. Waktu sudah menunjukkan jam empat sore, itu berarti satu jam lagi, dia harus memeriksakan kandungannya. Dia bangkit sambil memegangi perutnya, menuju kamar mandi untuk sekedar berbenah dan melakukan aktifitas itu dalam waktu setengah jam. Saat semua di rasa siap dia mulai melangkah ke lantai dasar mansion itu.

Langkah itu terhenti di anak tangga ke lima, dari situ dia melihat Min Ho memasuki mansion sambil memapah wanita ringkih itu, wanita yang dari cerita Dara, dia ketahui bernama Lee Bo Young. Dia membawa wanita itu kemari?

“Untuk sementara kau tinggal di sini, Sayang,”

Oh….., sayang? Dia memanggil wanita itu sayang? Sun melangkahkan kakinya ke satu anak tangga berikutnya.

“Min Ho-ssi, apa istrimu tidak keberatan aku di sini?”

Kau tahu diri juga, Nona. Hye Sun masih mengamati dari tempatnya berdiri.

“Jangan kau perdulikan dia!”

Jangan perdulikan? Kau benar-benar tidak perduli lagi, Min Ho? Mata Sun mulai panas kembali. Satu langkah lagi, dia menuruni tangga itu.

“Aku… aku ingin berkenalan dengan istrimu, Min Ho-ssi. Mereka bilang dia sangat cantik dan baik.”

“Kecantikan yang menipu!”

“Menipu?”

“Sudahlah, aku sudah bilang jangan perdulikan dia.”

Sun melihat Min Ho memeluk tubuh ringkih itu dan mencium keningnya. Dia memejamkan mata saat merasakan air mata mulai berjejal keluar. Tidak, aku tidak boleh menangis. Dia membuka matanya kembali, dan pemandangan di depan itu lebih menyedihkan dari yang tadi, saat didapatinya dua orang itu berciuman. Dia tidak tahan lagi, melangkah menyusuri anak tangga itu dan suara kakinya rupanya mengganggu ketenangan pasangan itu.

“Apa yang kau lihat?”

“Selesaikan dulu urusan kita baru kau bersamanya, Min Ho-ssi,” ucap Sun tegas. Min Ho mulai tertawa, semakin lama tawa itu semakin mengejek, bahkan dia bertepuk tangan,”Bravo! Barvo! Istriku yang cantik, rupanya kau sudah tak sabar bersama dengan pria Taiwan itu!”

Bo Young yang ada di situ mengkerutkan kening. Sun mengatur nafas sembari mengendalikan emosinya. Sudah Jam lima sore, aku harus pergi ke dokter kandungan.

“Mau kemana, kau?” Min Ho mendelik,”Apa pertemuan siang tadi masih kurang?”

Ya Tuhan, dia bahkan lupa kalau hari ini jadwalku periksa kandungan.”Kalimatmu tak bisa memancingku, Min Ho-ssi.”

Sun melangkah pergi, Bo Young tiba-tiba memegang lengannya,”Hye Sun-ssi, kau mau kemana? Mungkin Min Ho bisa mengantarmu, iya kan, Min Ho?”

Sun mengibaskan tangannya,”Aku baik-baik saja, Nona, aku tidak perlu bantuan dari wanita sepertimu!”

“Hye Sun!” Min Ho berteriak sembari mengangkat tangannya. Bo Young menahan tangan kokoh yang akan memukul itu kuat-kuat. Sun mengkerut di tempatnya. Rona mukanya menampakkan ketakutan. Tangan itu, tangan yang selama ini penuh kelembutan berusaha mencabik. Min Ho menggerak-gerakkan tangannya, tapi cengkeraman tubuh lemah Bo Young mencegahnya kuat,”Pergi kau dari sini ! Pergi kau !”

Sun undur ke belakang. Dia berlari keluar dari manshion, sementara langit mulai kelam. Mansion gila! Mansion yang penuh kemunafikan! Aku harus keluar dari sini, harus!

Dia menuju mobilnya. Tidak, mobil ini milik manshion. Bukan, bukan hanya mobil, tapi juga kartu-kartu itu, sepatu, tas, bahkan semua perhiasan yang melekat ditubuhnya. Sun mulai menanggalkan semua itu dan meletakkannya di atas atap mobil lalu berjalan telanjang kaki meninggalkan area manshion itu dengan hati terluka. Air mata tertumpah sudah, kerongkongannya serasa pahit kini. Sementara hujan mulai tertumpah deras dari atas dan letak manshion jauh dari kota sehingga tak ada satu pun taksi di situ.

Dia berjalan menyusuri jalan aspal, air hujan terus menghunjam tubuhnya. Segala hal yang terjadi di hari ini bersliweran di kepalanya. Fitnah itu, tangan terangkat yang siap merajam tubuhnya itu, dan Bo Young, wanita itu, dibalik tubuhnya yang ringkih tersimpan daya yang menghancurkan. Apa yang kau pikirkan Goo Hye Sun! Cinta mereka sudah lama, sedangkan cinta kalian? Cinta yang dimulai awal musim panas dan sepertinya akan berakhir sebelum musim gugur. Dan Hye Sun semakin merutuki semua itu, dia merutuki pertemuan itu, arm reaching? Lengan itu siap membuat tubuhnya yang tengah mengandung hancur. Smiling sweetly? Mulut itu memfitnah bahkan dengan jelas meragukan buah cinta mereka. Green grass of home? Di atas rumput pertamanan Seoul Hospital, dia tahu semuanya dan Min Ho menyeretnya dengan kasar.

Dia mulai oleng. Sementara kota masih sangat jauh. Pandangan sekitar mulai gelap, namun lampu mobil tiba-tiba menyilaukan matanya. Dan dia tersungkur setelah suara rem mobil berderit keras.

Pria pengendara mobil itu segera keluar dari mobil untuk melihat orang yang hampir ditabraknya. Dia semakin panik saat melihat bahwa orang itu  dia kenal, dan terbaring lemah dia atas aspal. Dia berlari ke tubuh terbujur itu, berjongkok dan memeluk,” Hye Sun! Apa yang terjadi?” Dia menepuk-nepuk pipi Hye Sun,”Bangun, Goo Hye Sun! Bangun!”

(SELAMAT MELEMPAR SENDAL!)

TBC PART VII

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s