DINASTI LEE Part 7 (End of The Season)

DINASTI LEE

(One Season Love)

Part 7


“Apa kabarmu, Min Ho-ssi?” tanya Bo Young saat dia mendapati Min Ho menjenguknya di Seoul Hospital siang itu. Min Ho langsung menghampiri dan duduk di tepi ranjang, lalu meraih tubuh ringkih itu dalam pelukannya, “Kenapa tidak menceritakan semua ini padaku?” Min Ho berbisik di antara pelukan itu. Air mata telah menetes di pipinya. Bo Young terisak, dan dari pelukan itu, Min Ho merasakan getaran hebat akan kepiluan Bo Young.

“Ini semua demi dirimu, Min Ho-ssi. Jika tidak begini, kau akan terus terperangkap dalam hubungan kita? Hubungan kita yang tanpa masa depan,” Bo Young menjelaskan alasan yang sebenarnya. Min Ho melepaskan pelukan lalu mencium kening Bo Young lembut,” Kau berhasil, usahamu berhasil.”

Mata Bo Young seketika berbinar,”Jadi kau sudah melupakan hubungan yang tak mungkin itu?” Min Ho mengangguk dan membelai kepala Bo Young lembut,” Aku sudah menikah.”

Bo Young menghela nafas lega, dia mulai menangis lagi, kali ini tangisan haru, “Aku sudah tahu, Min Ho-ssi. Aku sudah tahu itu.”

“Aku sangat mencintainya. Sangat…. ! Aku tidak tahu bagaimana bisa aku mencintainya seperti ini. Kami bahkan akan punya anak,” Min Ho tertawa di antara tangisannya. Dia tengah memamerkan kebahagiaannya pada Bo Young, wanita yang tiga tahun yang lalu itu sempat mengisi hidupnya  dan Bo Young ikut tersenyum mendengar semua itu,”Sekarang panggil aku Noona, Min Ho-ssi. Kau sudah bisa melakukannya, kan?” Tak ada jawaban, yang ada hanya anggukan dan itu sudah cukup bagi Bo Young. “Aku selalu yakin kau akan mendapatkan gadis yang baik sebagai pendampingmu, Dongsaeng, dan ternyata semuanya terjadi. Aku ikut berbahagia untukmu.”

“Arrkkkh!!” Min Ho berteriak di dalam kamarnya.  Malam ini hujan semakin deras saja, sementara peristiwa di rumah sakit itu sungguh tidak bisa dia percaya.”Baik? Wanita baik yang berpelukan dengan lelaki lain di tempat umum?”

Dia meraih Handphonenya untuk menelphon Hongki. Jelas-jelas kau minta cerai, agar bebas bertemu Wu Chun brengsek itu? Baik! Aku urus segera, Baby! kutuknya dalam hati. Dia mulai memencet nomer untuk menghubungkan dengan Hongki. Saat telephon terhubung, hal pertama yang didengarnya adalah suara musik yang keras,”Halo, Hyung?” sapa Hongki dengan selingan tawa, dan dari semua itu, dia bisa menyimpulkan kalau Hongki minum-minum di bar.

“Ke mansion sekarang!” perintah Min Ho. Hongki terdengar bicara pada orang di sekitarnya, Min Ho geram merasa tidak dianggap,” Aku bilang ke mansion sekarang!”

“Waeyo, Hyung? Kenapa tidak lewat telephon saja ? Aku sedang senang-senang, lagian di luar hujan lebat.”

“Tidak perduli! Ada sesuatu yang harus kau urus,” Min Ho menutup telephon  lalu  membanting telephon itu keras-keras. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa dan di depannya kini adalah ranjang yang selama ini menjadi saksi cintanya dengan Sun. Dia merasa tersiksa akan semua itu. Di ranjang itulah, dia membelai lembut Sun, meninggikan cintanya dalam hati bagi wanita yang sangat dia kagumi.

Dia mulai meraih botol minuman keras di atas teatable, menuangkan cairan keemasan itu dalam sloki dan menegaknya. Ratu Danahan di kalbunya itu, melihat ratunya itu dipeluk oleh seseorang yang selama ini membangkitkan kecemburuannya siang tadi membuatnya hilang kendali. Dituangkan lagi satu sloki, dan saat minuman laknat itu menjalar di kerongkongannya dia ingat betul ucapan ratunya itu tadi sore, “Selesaikan dulu urusan kita baru kau bersamanya, Min Ho-ssi,” Dia mulai tertawa, tawaan untuk menyembunyikan kekecewaan. Di bantingnya sloki itu, lalu menegak cairan itu langsung dari botolnya. Dia bahkan lupa tubuhnya tidak begitu mentolelir alcohol. Rasa sakit di dadanya itu sudah menutupi akal sehatnya. Tega sekali kau, Baby. Tega sekali di saat aku begitu mencintaimu. Dia menangis. Wajah itu, senyum itu, suara lembut itu, semuanya memenuhi kepalanya, tapi ucapan itu sungguh menusuknya, ucapan yang jelas-jelas menginginkan perpisahan.  “Goo Hye Sun…. Hye Sun,” dia mulai memanggil-manggil nama yang selama ini terukhir indah di hatinya. Satu tegukan lagi menjalar ke tubuhnya.

“Min Ho-ssi! Min Ho-ssi!” Bo Young memanggil sembari mengetuk pintu kamar. Min Ho segera keluar kamar. Keadaannya sudah sangat mabuk. Dia menutup pintu kamar, lalu bersandar di kusen pintu. “Aku sangat kuatir  pada Sun, hujan di luar sangat deras,” Bo Young menjelaskan maksud hatinya. Min Ho sudah tidak konsen, alcohol sudah merajai akal sehatnya hingga tampaklah wanita yang di depannya itu adalah Hye Sun.

“Hye Sun….” Min Ho mengunci tubuh Bo Young dengan kedua tangannya. Tubuhnya yang agak oleng merapatkan Bo Young ke dinding. Bo Young meronta tapi Min Ho makin menjadi, dia mencoba mencium Bo Young sementara mulutnya terus menyebut nama Hye Sun. Bo Young menjerit akan perlakuan itu. Sekuat tenaga dia menampar Min Ho. Satu kali tamparan, Min Ho tidak sadar juga. Dua kali? Tiga kali…..”Aku bukan Hye Sun!!!!” Bo Young berteriak keras, dia mendorong tubuh limbung itu keras-keras dan akhirnya Min Ho tersadar juga, dan samar-samar mulai terlihat Bo Young menangis sesenggukan di depannya,”Miane… jeongmal miane.”

Bo Young tetap saja menangis, tiba-tiba dia merasa berada di mansion ini adalah kesalahan. Aku harus segera pergi, harus. Dia berbalik dan segera keluar mansion dan Min Ho yang merasa kuatir berusaha mengejar,  hujan semakin deras saja.

“Noona! Bo Young Noona!” di sela deras hujan itu, Min Ho memanggil. Bo Young tetap berlari. Suasana jalan itu sangat sepi. Hanya ada pepohonan di kanan kiri jalan. Min Ho tetap mengejar, panggilan selalu terdengar tapi tidak diacuhkan Bo Young.

Min Ho mulai putus asa, siraman hujan semakin memperjernih kepalanya. Bo Young sudah jauh di depan, tak terlihat karna tertutup kelamnya hujan. Tiba-tiba terdengar suara rem berdecit panjang diikuti teriakan yang dia yakini adalah Bo young dan benturan keras yang mengakhiri segalanya. Min Ho segera berlari ke sumber suara dan tampaklah di sana sebuah mobil terbalik reyot, dan Hongki yang mabuk berusaha keluar dari jendelanya. Dan beberapa meter dari situ, tubuh kurus Bo Young terbaring mengenaskan dengan darah segar yang keluar dari memar tubuhnya.

——– > * < ——–

“Di mana aku?” Sun mengerjap-ngerjapkam mata. Ruangan serba putih itu serasa asing baginya. Dia mencoba bangkit dari tidur, kepalanya serasa berat. Digerakkannya tangan kanannya untuk menopang perut. Setelah berhasil duduk bersandar di ranjang itu, dia mengamati lengan kirinya yang sudah terpasang infuse, dan di sisi kiri itu Wu Chun yang duduk mulai sadar dari tidurnya.

Sun mulai mengingat semuanya. Fitnahan itu, tangan yang terangkat dan Bo Young. Entah kenapa dunia mulai kelam kembali. “Syukurlah kau sudah sadar,”  Wu Chun merasa lega. Sun tiba-tiba menyingkap selimutnya lalu mencoba berdiri. Wu Chun kaget,”Mau kemana?”

“Aku harus pergi, Oppa. Aku bisa gila jika terus di sini,” Sun masih saja berusaha berdiri. Wu Chun jadi gelagapan,”Kau masih sakit, Sun.”

“Tidak perduli!  Kota ini gila! Aku harus ke Beijing!” Sun mulai histeris

Wu Chun semakin panic,”Tidak boleh! Sama saja bunuh diri!”

“Tidak perduli! Aku harus menemui Oemma, hanya mereka yang waras, kota ini tidak waras, jika tetap di sini aku gila,” Sun masih berteriak histeris, selang infuse itu menghalangi jalannya, dan dengan kalap, Sun mencabut paksa selang itu sambil menjerit kesakitan. Wu Chun menyaksikan semua itu dengan mulut ternganga.

“Sun!” Wu Chun masih saja mencegah, Sun mulai berjalan limbung,”Cukup, Oppa! Jika kau kasihan padaku, antarkan aku ke Beijing! Antarkan aku ke Beijing……….!!”

Dan sekarang di sinilah Sun. Di balkon apartemennya yang berada di tengah keramaian Beijing yang terguyur oleh hujan. Hujan terakhir di musim itu. Kini tidak ada lagi Seoul, tidak ada kota gila itu, tidak ada lagi musim panas gila itu. Dia mencoba meninggalkan semua itu di belakang, namun fitnahan itu masih membuatnya terluka, tangan yang terangkat itu masih membuatnya takut dan kekecewaan karena keraguan itu masih menyiksanya. Dan pertemuan itu? Kini bagai mimpi buruk untuknya dan dadanya semakin sesak jika mengingatnya, pria itu sangat mencabik-cabik, tak ada lagi yang tersisa, semuanya kini hanya kebencian. Kebencian untukmu, hingga di tengah hujan deras itu, dia berteriak histeris, ”Lee Min Ho…!!! Aku membencimu……!!!!”

——- > * < ——-

Bum tersenyum memandang Il Woo yang keheranan dengan kedatangannya di istall itu. Di hadapan mereka, pekerja sedang mengeluarkan Venus, kuda pacu yang selalu ditunggangi Bumie dari truk pengangkut.

“Apa-apaan ini? Kenapa kau bawa Venus padaku?” tanya Il Woo. Bumie menggelengkan kepalanya,”Kau menang. Bo Young muncul walau akhirnya tewas tertabrak Hongki dan Sun kabur entah kemana dengan pria Taiwan itu.”

“Hah! Kau percaya juga dengan kabar bohong itu.”

“Bohong?”

“Kau pikir Sun melakukan itu? Pria itu bahkan sudah melamarnya jauh sebelum Min Ho brengsek itu menikahinya. Jika memang Sun menyukai pria itu, kenapa dia tidak langsung menerima lamaran? Kenapa malah menikah dengan Min Ho?”

“Tapi itu kabar yang berkembang,” Bumie mengelus punggung Venus yang sudah berhasil keluar dari truk. Il Woo berkacak pinggang,”Keluarga itu memang brengsek, demi menutupi bobrok putranya, mereka rela memfitnah wanita sebaik Sun.”

“Bawa kembali Venus, taruhan itu sudah lama kuanggap tak ada, aku tidak mau bersenang-senang di atas penderitaan wanita yang kucintai,” Il Woo menghalau Venus menuju truk.

“Wanita yang kau cinta? Hah, sejak kapan kau mencintai Hye Sun?” Bumie tersenyum mengejek.

Il Woo menghela nafas, “Sejak pertama ku berjumpa dengannya.”

——— > * < ———

Musim gugur telah bermula di korea, angin dingin mulai bertiup, menghantarkan daun-daun kering yang beterbangan tak tentu arah dan menambah kemuraman di Lee Mansion. Di sana, di ruang tengah itu, jasad Bo Young terbaring. Di sekelilingnya para pelayat datang silih berganti memberikan penghormatan yang terakhir, dan di depan mayat itu, Lee Min Ho, duduk dengan tatapan nanar.

Kabar itu tersebar sudah. Entah siapa yang menyebarkan hal itu. Mungkin saja para pelayan yang suka bergosip, hingga bisikan demi bisikan terjadi di antara pelayat. Goo Hye Sun, menantu dari keluarga itu, kabur dengan pria Taiwan, dan Lee Min Ho, pewaris utama keluarga itu menangisi mayat kekasih gelapnya.

Kita tinggalkan ruang tengah dengan segala kemuramannya, marilah kita ke atas, menengok kamar pasangan semusim itu. Tata ruang kamar itu masih tetap seperti semula, bahkan sepasang boneka pengantin itu masih ada di atas meja rias. Masih ingat dengan boneka berbeda bahan ini, kan? Dan di samping boneka itu ada patung yang mirip dengan kucing. Tunggu! Ekor patung itu bergerak, ternyata itu bukan patung, tapi memang kucing hitam yang hidup. Entah dari mana masuknya kucing itu.

Kucing itu mengitarkan pandangan di sekeliling kamar dan saat tampak ada sesuatu yang menarik perhatian, kucing itu melompat, hingga ekornya menyenggol dua patung itu. Patung-patung itu sama-sama jatuh, tapi yang logam, tentu masih utuh, sedang yang porselen…… Hancur berkeping-keping….

(Sesungguhnya peringatan itu selalu ada bagi orang-orang yang berpikir)

THE END

Terima kasih atas atensinya terhadap ff ini. Ff ini diadaptasi dari kisah nyata orang tua ratu Elizabeth I, dimana sang ayah yang menginginkan anak laki-laki sebagai penerus tahta, mencoba menyingkirkan permaisurinya yang juga ibu kandung ratu Elizabeth I dengan fitnahan perselingkuhan hingga permaisuri itu dihukum gantung kerana fitnahan itu. Dan yang lebih menyakitkan, dia difitnah berselingkuh dengan kakak kandungnya sendiri. Naudzubillah himindalik. Dibalik tembok keanggkuhan itu sudah banyak yang terluka, demikian juga Min Ho dan Hye Sun dalam cerita ini.

Sampai jumpa di

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

 

Sisicia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s