DINASTI LEE II (Part 1)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 1

Song of the Part:

I’m Gonna Loose You

By: Classics

The sweet is dream. I dream with you

You’re my sunshine when troubles make me blue

I am so alone know that you go

I didn’t mean to hurt you, come back where you belong

Yes, I know, I know I’m gonna loose you

But my shoes keep running back to you

‘Cause they know there never be another

There will never be another you

Still I go, that same on play

and where we walk together, kiss the night away

only a fool good let you go

My world is so empty, come back I miss you so

Yes, I know, I know I’m gonna loose you

But my shoes keep running back to you

‘Cause they know there never be another

There will never be another you


Suasana  sangat tegang, dua orang suster berusaha menenangkan pasien wanita yang histeris, kiri dan kanan mereka memegangi pasien itu karena meronta semakin kuat. “Aku benci Seoul! Aku benci Seoul!” Pasien itu masih saja berteriak.  Tubuhnya menggeliat-geliat hebat, tenaganya masih kuat saja. Dua suter itu semakin kawatir. Tak ada daya bagi keduanya, hingga bantuan pun datang, perawat lelaki dengan tali tambang di tangannya berusaha mengekang kaki sang pasien agar tidak semakin menyakiti diri, dan mulai beralih ke tangan kirinya.

“Kenapa dia histeris?” wanita paruh baya yang baru saja memasuki ruangan juga panic. “Entahlah, Nyonya. Tadi ada kabar tentang Seoul di TV,” perawat lelaki berusaha menerangkan sambil terus berusaha mengekang tangan wanita yang meronta itu. Geliatan pasien semakin kuat, dia bahkan menjerit-jerit tak karuan,”Aku benci kota itu. Aku benci!”

“Dokter Liu, dimana Dr. Liu?” Sang Nyonya tambah panic. Yang dipanggil segera memasuki tempat itu. Dia mengeluarkan ampul, mengisi spuit dengan cairan dalam ampul lalu menyuntikkan pada pasien yang histeris.

“Apa itu, Dokter? Dia sedang mengandung!” cegah sang Nyonya. “Serahkan semuanya padaku, Nyonya,”  terang dokter itu. Akhirnya teriakan serta rontaan pasien semakin lemah seiring makin bereaksinya cairan injeksi itu dalam tubuhnya.  Melihat semua itu, sang Nyonya semakin nelangsa, dengan lemah dia bersimpuh di depan tubuh yang lunglai itu,”Apa yang sebenarnya terjadi, Sun?”

Ketiga perawat itu menghela nafas lega, tugas sudah dilaksanakan dengan baik, pasien telah berada di bawah pengaruh obat bius di tubuhnya dan kini mulai  prihatin dengan keadaan sang nyonya yang terisak, bersimpuh di depan pasien itu dan mengusap lembut kepalanya. Dr. Liu mulai memeriksa keadaan vital pasien, “Untuk sementara, jangan biarkan dia menonton televisi, membaca Koran mau pun buku.” perintah Dr. Liu pada perawat. Ketiganya mengangguk lalu meninggalkan ruangan itu.

“Nyonya Goo,” panggil dokter Liu pada wanita yang masih bersimpuh,”Ada kemungkinan antidepresan ini mengakibatkan kelahiran premature pada cucu anda, saya harap anda siap dari sekarang.”

Nyonya Goo mengangguk walau pandangan matanya masih meratapi keadaan Sun. Dr. Liu menghela nafas, dia mendekati Nyonya Goo dan menepuk pundaknya lembut,”Saya akan merujuk putri anda pada Dokter Kim.”

Nyonya Goo masih saja bersimpuh, dipandanginya wajah putrinya yang terlelap itu. Wajah itu tampak tenang siang itu, sisa air mata masih belum kering di pelupuk matanya. Di telusurinya tubuh putrinya, dan saat pandangannya tertumpu pada perut Sun yang membuncit, dia semakin nelangsa, namun setidaknya Sun tenang sekarang. Tidak ada jeritan dan rontaan, hingga wajah itu tampak bagai malaikat saja.

Wajah lelap itu masih menampakkan roman malaikat di malam ini. Min ho menatap wajah itu lekat-lekat. Tatapan sedih membayang di pelupuk matanya. Sang Durjana yang menyakiti istrinya, itulah cemoohan yang diberikan keluarga Goo pada dirinya. Anaknya sudah lahir siang tadi, seorang anak laki-laki, dan lima menit yang lalu, dia sudah mengunjunginya.

Min Ho yang memakai pakaian khusus berdiri di depan kotak incubator dimana bayinya berada, dia harus memakai masker dan penutup kepala untuk bisa masuk ke ruangan karena memang membutuhkan kesterilan tinggi. Bayi itu masih sangat lemah, tubuhnya sangat kecil, bahkan terlihat urat-urat disebabkan lapisan kulitnya masih tipis, mata bayi itu ditutup lapisan hitam, dan di sekitarnya aneka selang yang terhubung dengan mesin deteksi alat vital dan bantu pernafasan.

Seorang pria yang memakai kostum serupa dengannya memasuki ruangan itu, keadaan Min Ho yang membelakangi dan kostum tertutup, membuat pria itu susah mengenalinya,”Min Ho-ssi?” tanya pria itu untuk meyakinkan bahwa yang didepannya adalah Min Ho.

“Hyun Joong-ssi?” Min Ho menoleh sembari balik bertanya, dia memang harus berhati-hati karena kehadirannya di sini sangat rahasia dan tidak diinginkan terutama oleh keluarga Goo.

“Ne,” jawab pria yang disapa Hyun Joong, lalu mendekati incubator, untuk mencatat perkembangan vital dari bayi itu.

“Terima kasih telah mengijinkanku masuk,” Min Ho mengamati tingkah laku Hyun Joong dengan catatan Medical Record ditangannya. Hyun Joong mengangkat tangannya,”Aku hanya membantu sebagai sahabat.”

“Bagaimana keadaannya?” Min Ho jadi ingin tahu keadaan bayinya, Hyun Joong masih menekuri alat bantu pernafasan yang terhubung dengan hidung bayi,”Sementara ini, dia bertahan. Kau tahu, kan? Umur 27 minggu, seharusnya dia masih asyik dalam kandungan, tapi obat sedative dan antidepresan membuatnya lahir sebelum waktunya. Dokter Liu, Psikiater Sun sudah memprediksi hal ini sehingga merujuk Sun padaku.”

“Aku bukan suami dan ayah yang bertanggung jawab,” Min Ho mulai mencerca diri.

“Aku tidak berhak menghakimimu, tugasku di sini adalah sebagai dokter kandungan yang menangani Sun, dan akan terhenti jika keluarga Goo tahu aku memasukkanmu ke sini.”

“Miane, aku membuatmu serba salah,” sesal Min Ho. Hyun Joong mengibaskan tangannya,”Kau berhak tahu karena dia putramu.”

Min Ho tersenyum dibalik maskernya,”Dia sangat kecil.”

“Ne, hanya lima ratus gram, setelah keadaan memungkinkan, kita bisa mencoba metode kangguru untuk meningkatkan berat badannya, tapi mengingat kondisi kejiwaan Sun…… Aku pesimis, sangat pesimis.”

Hati Min Ho mulai pilu mendengar hal itu. Istrinya mengalami depresi dan semua itu karena dirinya hingga keluarga Goo melarangnya menemui Sun lagi,”Apakah dia bisa bertahan?”

“Sejauh ini tekad hidupnya kuat, organ pernafasannya masih perlu dibantu, dia harus tetap di incubator selama tiga bulan ke depan, dan makanan akan diberikan lewat parenteral nutrition, lihat! Dia sedikit bergerak,” Hyun Joong menunjuk gerakan kecil di jari bayi mungil itu. Min Ho juga ikut mengamati dan bersyukur akan keajaiban itu.

“Setelah Sun sadar, keluarga Goo akan membawa mereka ke Paris.”

“Paris?”

“Ne, di sana ada penanganan lebih lanjut terhadap bayi premature, mereka mengembangkan metode untuk mengatasi masalah intelegensi dan perilaku akibat kelahiran premature, seperti terapi Mozart, Hypnoteraphy dan lainnya. Aku rasa mereka akan baik-baik saja. Hai, kenapa kau tidak melihat Sun?”

Min Ho menggeleng pelan karena tidak mungkin dia melakukan itu. Sun pasti akan berteriak histeris, kesalahannya pada Sun memang tak termaafkan. Hyun Joong menyadari kegalauan hati sahabatnya,”Jangan kawatir, obat bius masih membuatnya tertidur untuk dua jam ke depan. Dia tidak akan memakimu.”

Min Ho tersenyum mengingat candaan Hyun Joong, dihadapannya kini tubuh Sun terbaring lelap. Sama seperti keadaan putra mereka, beberapa selang juga menempel di tubuh mungil itu. Pandangan Min Ho mulai kabur karena genangan bening di matanya. Dibelainya wajah Sun lembut, sementara penyesalan makin menusuk di kalbunya, andaikan aku bisa membalikkan waktu, Baby. Aku ingin kembali di masa bahagia kita. Aku memang bodoh karena tidak menyadari kerentanan hatimu, aku bahkan meragukan anak kita. Aku tahu itu yang membuatmu depresi. Miane, Jeongmal miane.

“Kau pasti sangat membenciku,” Min Ho mulai bicara sendiri, tangannya menggapai tangan kanan Sun lalu menciumnya lembut ” Itu yang kau katakan waktu pertama kali mengetahui kehamilanmu, aku terima kau membenciku, karena aku memang brengsek.”

Sun masih saja terlelap, Min Ho bicara seolah Sun yang di depannya itu sadar dan bisa mengerti omongannya,”Aku akan menunggumu, Baby. Sampai kapan pun aku akan menunggu, sampai kau mau menerimaku kembali.”

Pintu kamar terbuka tiba-tiba. “Hyung! kita harus segera pergi. Goo Yu Yie sudah sampai di lantai ini. Ayo pergi sebelum dia melihat kita!” teriak Hongki yang masuk tergesa-gesa. Min Ho yang tidak juga beranjak, malah mencium kening Sun. Hongki semakin tidak sabaran menariknya agar segera meninggalkan rumah sakit,”Kacha, Hyung!” Suara sepatu hak tinggi Yue Yi semakin mendekat. Hongki terus menarik Min Ho agar keluar dari kamar itu dan akhirnya Min Ho sadar lalu bersama Hongki lari menghindari Yue Yi. Mereka menuju Toproof dimana helicopter pribadi berada, untuk membawa keduanya ke Bandara Internasional Beijing dan akhirnya pesawat jet pribadi meluncur ke Seoul.

Aku akan menunggumu, Baby. Selamanya aku akan menunggu maaf darimu……..

13 tahun kemudian,

Istall sangat sepi jika di hari kerja, hanya beberapa pekerja yang tampak dengan kesibukannya.Arena pacu kuda yang selalu rame di hari libur juga tak luput dari kesunyian. Hangat hawa musim panas sudah mulai terasa. Min Ho yang duduk di atas kudanya mengamati salah satu sisi balkon penonton, di tempat itulah Sun duduk tiga belas tahun yang lalu, mengamatinya berlomba dan setidaknya itulah yang tampak oleh Min Ho, walau pun sebenarnya bangku itu kosong, dan penampakan Sun hanya di angannya saja.

Bumie yang sudah di atas Venus, mendekatinya lalu menelusurkan pandangan pula ke balkon itu,”Masih mengingatnya?” Bumie seperti tahu yang diangankan Min Ho. Min Ho menghela nafas, sejenak dia menunduk, menyadari kekonyolannya.

“Dia masih di Beijing, kan?”

Min Ho menggeleng,”Aku kehilangan jejak mereka.”

Bumie memandang penuh tanya,”Hyun Joong bilang mereka ke Paris untuk terapi anakmu, kan?” Min Ho mengangguk,”Hanya itu kabar terakhir yang kudengar, aku tidak tahu lagi kemana mereka setelah meninggalkan Paris.”

“Mungkinkah mereka tetap di Beijing tapi bersembunyi?”

“Bersembunyi? Untuk apa? Mereka bukan penjahat.”

Bumie tersenyum,”Maksudnya bersembunyi darimu, atau mungkin keluarga Goo menyembunyikan mereka darimu dan aku juga yakin Oemmamu di balik semua ini.”

Pandangan Min Ho mulai beralih ke Bumie,”Sebahaya itukah aku bagi mereka?”

”Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada kalian,” Bumie mengangkat bahu.”Hei, ayolah… Kita ke sini untuk berlatih, ini terakhir kalinya aku memakai Venus, senangkan diriku untuk hari ini.”

Min Ho mengangguk. Mereka memacukan kuda masing-masing ke garis start, lalu seperti biasa, kuda-kuda itu berlari kencang setelah pistol ditembakkan ke udara oleh salah satu pekerja. Mereka saling menyalip di arena, kuda-kuda tua itu semakin menampakkan keunggulan mereka. Seperti halnya Bumie, hari ini juga terakhir kali Min Ho menunggangi Jupiter, kuda yang selama 20 tahun ini setia bekerja sama dengannya di setiap perlombaan. Anakkan Jupiter sudah siap dilombakan, dan mungkin Min Ho akan memakainya di lomba tahun ini. Kuda-kuda itu masih saja berderap. Mereka sama-sama unggul. Min Ho agak oleng saat di tikungan, namun hal ini bisa diatasinya, dia terus mempercepat laju Jupiter, tali kekang dia gerak-gerakkan seiring aba-aba yang dia teriakkan. Di pukulkannya stik pemukul untuk lebih mempercepat. Bumie tersenyum menoleh ke arahnya. Dia tahu hanya inilah penghiburan bagi sahabatnya, menjadi juara pacu kuda dua puluh tahun berturut-turut, hingga dia mau saja saat Min Ho mengajaknya berlatih hari ini. Jalur itu masih sama seperti dahulu, laju Jupiter dan Venus susul menyusul dan saat hampir menyentuh finish, Jupiter unggul beberapa langkah dan akhirnya kemenangan ada di pihak Min Ho.

“Yuhuu!” Min Ho bersorak sembari menenangkan laju kudanya. Dia menertawakan kekalahan Venus. Bumie nyengir.

“Hah, selamanya kau tidak bisa mengalahkanku!” ejek Min Ho.

“Oke, aku akui itu, sudah seharusnya kita pensiun, seperti kuda-kuda ini.”

Jupiter yang bersejajar dengan Venus, membuat Min Ho bisa menepuk dada Bumie yang bicara ngawur,”Apa kau bilang? Aku tidak setua itu! Aku tidak akan berhenti sampai ada yang mengalahkanku.”

“Oke, oke, kupegang janjimu. Kau tidak akan berhenti hingga ada yang mengalahkanmu,” Bu Mie menggerak-gerakkan telunjuk di depan wajah Min Ho. Min Ho yang kesal memukul dada pria berwajah imut itu, Bumie hanya tertawa saja mendapat perlakuan begitu,”Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Lee Corporation? Aku dengar kalian mulai merambah ke areal lain.”

Min Ho tersenyum mendengar perkataan Bumie. Bisnis keluarganya memang semakin berkembang. Saham Lee Corporation selalu berada di tingkat atas selama dua puluh tahun terakhir, walau kondisi perekonomian negeri hampir terpuruk.”Aku berusaha sebisanya,” hanya itu yang Min Ho ucap demi menjawab pertanyaan Bumie.

Namun dua hari kemudian keadaan berbalik, nasib seakan mempermainkan mereka. Di ruang kerjanya Min Ho mengomel di depan pialang-pialang sahamnya,”Bagaimana mungkin lima puluh persen saham ada di tangan mereka!”

Min Ho emosi, laporan itu terhempas begitu saja di atas meja, dan dia berteriak tak karuan sambil jarinya menunjuk-nunjuk laporan itu,”Kalian ceroboh sekali! Kalian tahu apa artinya ini? Akuisisi!”

“Sosongheyo, Tuan Lee. Mereka memakai domplengan perusahaan lain untuk mengelabuhi kita.” Salah satu pialang itu membela diri. Min Ho semakin muntab,”Itulah bodohnya kalian! Tidak mencari tahu dulu!” Dan itulah bodohnya Min Ho, bagaimana mungkin pialang-pialang itu sempat menyelidiki stakeholder-stakeholder yang membeli sahamnya di tengah arus transaksi bursa.

Hongki yang selama ini ada di sampingnya angkat bicara,”Lalu apa yang akan kita lakukan, Hyung?”

Min Ho berhembus kuat-kuat, sepupunya yang satu ini masih bodoh juga,”Menurutmu apa yang akan kita lakukan?”

Hongki terdiam, terus terang saat ini memang pikirannya buntu, sebenarnya bukan hanya saat ini, sudah sejak awal dia tidak cocok dengan bisnis ini, hingga perannya di Lee Corporation hanya sebagai kambing congek yang menuruti perintah Min Ho ke sana kemari, dan mendapati kebodohannya itu, Min Ho semakin murka,”Kau tidak juga berinisiatif! Sudah dua puluh tahun kau di bisnis ini!”

Min Ho menyandarkan tubuh ke kursi. Lee Corporation berada di ambang kehancuran, dan semua ini karena perusahaan baru di negeri itu. Dia memijit-mijit tengkuknya, hari ini emosinya terkuras. Dia meraih lagi laporan di atas meja kerjanya lalu menelusuri catatan yang ada di situ,”GMJ! cari tahu perusahaan ini!” perintahnya pada Hongki dan segera mengusir pialang-pialang itu dari ruangannya. GMJ! Kita lihat seberapa keberanianmu? Min Ho tersenyum licik.

Sementara di tempat lain, di sebuah ruangan yang sangat rapi, seseorang tampak menekuri bidak catur yang ada di depannya. Ruangan bernuansa biru itu sangat indah, beberapa mainan khas anak laki-laki tampak di situ. Dan orang yang asyik sendiri dengan caturnya itu menyeringai, dia mulai menggerakkan salah satu anak catur di situ, lalu menyenggolkannya ke pihak lawan, “Skakmat!” serunya. Pria berjas hitam menghadap dengan setumpuk laporan di tangan,”Doronim, ini laporan yang anda minta.”

“Bodoh, aku bilang  softcopy!” hardiknya.”Ulang lagi! Aku tidak mau seperti orang kuno yang menekuri kertas!”

“Sosongheyo, Doronim.”

“Tunggu! Mereka sudah di tangan kita,kan?”

Pria berjas mengangguk,”Lima puluh persen sudah di tangan kita, Doronim.”

Orang di depan bidak catur itu tersenyum, matanya menyipit seiring kelicikkan pikirannya, dengan kode tangan dia meminta pria berjas itu pergi, mengamati lagi bidak catur, terutama poin raja yang baru saja digulingkannya.

”Sepertinya Star akan menjadi Cow?” Dia mulai omong dengan poin raja yang sudah dipegangnya,”Oh….., bukan…….,” dia menggeleng-gelengkan kepala sembari berdecak,  ”Langsung saja menjadi dog!”

Lalu tertawa dengan angan di kepalanya,”Kau semakin hancur, Lee Min Ho!”

 

TBC Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s