DINASTI LEE II (Part 2)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 2

 

TOLAK

TERIMA

LEPAS

TAHAN

ABANDON

Apa, sih?

Tombol-tombol itulah yang selalu diklik oleh  pria, bukan, bukan pria, tapi anak, anak laki-laki yang sedang duduk menekuri laptopnya, di hadapannya terhampar rerumputan luas, dan keindahan danau itu, nampaknya hanya menarik perhatian sang Ibu yang duduk bersila sambil membuat sketsa, sesekali sang ibu tersenyum menoleh padanya, tentu saja tanpa dia hiraukan karena dia masih saja serius dengan layar beberapa inchi yang ada di depannya.

TOLAK, sekali dia memilih, setelah laporan online masuk ke program di komputernya, saat file lain masuk lagi, program navigasi langsung menghitung hal-hal yang diperlukan, nilai NPV tidak seperti yang diharapkan, bahkan RRR tidak menjanjikan, sekali lagi dia mengklik, TOLAK.

Itulah sebabnya dia lebih menyukai laporan softcopy, hardcopy itu urusan Ibunya, usia tigabelas tahun memang tidak memungkinkan untuk menandatangani dokumen-dokumen itu, di sini dia hanyalah otak, dan lewat tangan lembut Ibunya, semua rencana dalam otaknya diresmikan.

The Brain, itulah julukan yang diberikan oleh orang-orang yang mengenalnya, dia memasuki bangku sekolah dasar pada umur empat tahun, dan hanya menghabiskan masa dua tahun di pendidikan itu, SMP dan SMA pun dia selesaikan dalam total waktu tiga tahun, alhasil dia memasuki bangku kuliah mulai umur sembilan tahun, dan meraih gelar masternya dua bulan yang lalu.

Melalui laptopnya itu, dia mengetahui keadaan perusahaan Ibunya, berapa pemasukan dan pengeluaran, berapa proyek yang mesti memenuhi deadline, sampai pekerja yang membolos, dan dia tak segan-segan memecat orang, jika program itu menampakkan kata TOLAK, tidak manusiawi memang, tapi apa daya, bukankah dia hanya “otak”?

Sang Ibu rupanya sudah menyelesaikan sketsanya hingga memutuskan untuk berbaring di atas rumput, setelah tersenyum ke arah anak yang masih cuek itu. Semuanya begitu baik sekarang dan aku sungguh tak bisa mempercayainya, dia menghela nafas sambil melipat kedua tangannya sebagai bantal.

Masih lekat dalam ingatannya betapa dia hampir kehilangan anaknya itu, waktu itu orang tuanya memutuskan untuk memboyong dia beserta anaknya yang lahir premature itu ke Paris demi mendapatkan penanganan lebih lanjut. Bayi yang kekurangan berat, atau istilah medisnya disebut BBLR itu, tiba-tiba tidak bergerak dalam inkubatornya selepas pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Paris. Semuanya pasrah dan mulai berpikir bahwa perjalanan panjang Beijing-Paris sangat sia-sia. Bahkan alat pendeteksi tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan lagi, hingga para suster mulai mencopot semua selang yang selama beberapa bulan itu menyiksa bayi mungilnya.

Oemmanya hanya mampu mengelus kepalanya lembut,”Kita relakan saja, ya….”

Butiran bening mulai menggenangi pelupuk matanya, tidak ada lagi yang tersisa kini. Bayi mungil, pelipur laranya itu, benar-benar telah meninggalkannya, untuk apa lagi dia hidup? Suster-suster mulai mengeluarkan bayinya dari incubator.”Suster, boleh aku menggendongnya?” dia meminta lirih.

“Aku ingin menggendongnya untuk terakhir kalinya, aku mohon.”

Suster akhirnya menyerahkan bayi itu ke gendongannya, dan dengan lembut dia membelai bayi kecil itu. Dia merasakan bayi itu sangat rapuh, hatinya serasa pilu karenanya dan dengan penuh perasaan, diciumnya kepala bayinya itu lembut. Ajaib, bayi itu bergerak lagi. Matanya langsung berbinar mendapati keajaiban itu, “Suster, lihat! Dia bergerak! Dia bergerak!” teriaknya di antara tangis.

Para suster segera mendekati bayi itu lagi, bahkan Oemmanya mengucap syukur berulang kali.

“Ini keajaiban, Nyonya,” puji salah satu suster,”Terus belai dia, Nyonya. Mungkin belaian Nyonya yang menyebabkan keajaiban ini.”

Dia mengangguk, dan mulai tersenyum di antara tangisan harunya,”Kau kembali untuk Oemma, Nak? Kau murah hati sekali pada Oemmamu ini.”

Oemmanya pun mendekati dan ikut membelai bayinya,”Ini keajaiban, Sun. Anak ini membawa keajaiban untukmu karena itu Tuhan belum ingin mengambilnya darimu.”

Sun semakin terisak, kata-kata Oemmanya itu benar juga, setelah kelahiran bayi ini, dia mulai sembuh dari depresinya, tak ada lagi psikiater, tak perlu lagi antidepresan yang membuat bayinya ini lahir premature dengan berat lahir rendah, yang ada hanya dia dan bayinya, bayi pelipur laranya itu.

Setelah dua jam, suster-suster itu meminta bayinya kembali untuk diletakkan dalam incubator lagi, dan mereka menjalankan terapi atas bayinya itu selama beberapa bulan saja di Paris, karena hal yang tidak mengenakkan terjadi lagi pada kesehatan bayi mungil itu.

Terapi di Paris memang berhasil meningkatkan berat badan dan syaraf motoriknya, tetapi hal lain belum mampu mereka atasi, yaitu gejala Withdrawal atau putus obat atau istilah lazimnya adalah sakau pada bayi itu. Hal ini disebabkan obat antidepresan yang dikonsumsinya selama masa mengandung, yang ternyata juga menurun ke bayinya, bayi itu sangat hiperaktif, bahkan menangis sangat kuat melebihi bayi normal jika sedang sakau, hingga kadang dia kalang kabut untuk mengatasinya, dan dari Oemmanya dia tahu, bahwa tim dokter di Paris menyarankan agar membawa bayi itu ke Amerika, karena di sana ada metode pengobatan baru untuk bayi dengan NAS seperti bayinya yang dikembangkan oleh Waissman, yang disebut Neuroregulasi.

Dia memang lebih suka mendengar penjelasan para dokter itu dari mulut Oemmanya karena Oemmanya sangat tahu bagaimana menyampaikan agar mudah dia pahami dan tidak membuat terlalu shok. Dia hanya tersenyum menerima kenyataan itu,”Kita lakukan saja, Oemma. Selama ini Min Jae tidak mengecewakan kita, Sun yakin metode pengobatan itu akan menyembuhkan Min Jae.”

Dia membelai bayi yang mulai gemuk itu lembut. Bayinya itu sedang tenang sekarang,”Min Jae ada untuk Sun, Oemma. Oemma lihat sendiri, kan? Min Jae hidup lagi setelah Sun gendong. Min Jae pasti kuat.”

Dan hari-harinya di Amerika pun berlalu dengan lancar, tidak ada IQ atau perilaku tercela yang biasa bayi premature punya pada anaknya. Kebalikannya, anaknya itu semakin menampakkan keajaiban. Min Jae memang tidak pernah focus pada satu kegiatan, tapi hal inilah yang menjadi kelebihannya karena dia bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan dalam satu waktu.

Bahkan saat mereka kembali ke Beijing, keajaiban Min Jae semakin kentara dari prestasi akademiknya karena umur delapan tahun Min Jae sudah mempersiapkan diri masuk bangku kuliah, bahkan nilai NCEE-nya 505, atau 47 point di atas rata-rata dan dengan nilai itu dia bisa kuliah setahun berikutnya. Puncaknya adalah dua bulan yang lalu, saat Min Jae meraih gelar masternya di bidang bisnis. Anak itu melonjak-lonjak kegirangan di depan halmoni dan harabojinya, bahkan dengan nakal mencolek dagu Sun sambil tertawa-tawa tidak jelas, memamerkan piagam penghargaan yang dia dapat sebagai peraih gelar master termuda.

”See, Mom.. .this recognition is for you!” serunya sambil menjulurkan piagam itu pada Sun. Mirip siapakah tingkah ini? Sun mulai berpikir.

Seiring keajaiban Min Jae, seiring pula Sun memperbaiki diri. Dia mulai ikut andil dalam bisnis Appanya sejak umur Min Jae lima tahun, bahkan saat Appanya pensiun, atas inisiatif Min Jae, nama Goo Group yang dinilai sudah tidak relevan, diubah menjadi GMJ’s corp, dia bahkan tidak keberatan jika harus bolak-balik Beijing-New York demi bisnis, karena pusat GMJ’s corp ada di New York. Dia juga mulai membuka diri pada Korea lagi, hal pertama yang dia lakukan saat mengujungi Korea adalah mengajak Min Jae memancing di Jeju. Min Jae sepertinya menikmati suasana desa nelayan itu.

“Yuhuuu! Big Fish!” seru Min Jae saat umpannya sukses mengkail ikan besar. Sun yang sedang menyiapkan bumbu tersenyum menerima ikan itu untuk dimasak. Min Jae mulai nakal, menggelitiki pinggangnya dari belakang.

”Min Jae…, don’t do that,” elak Sun dari kelitikan itu. Min Jae tidak perduli, bahkan saat Sun berhasil menghindar, Min Jae menggerak-gerakkan ke sepuluh jarinya itu di depan Sun sambil cekikikan. Sun mengatung-atungkan sendok di tangannya,”I am serious, Min Jae!”

Min Jae akhirnya duduk setelah lelah menggoda Ibunya, dia mengitari lagi laut lepas di hadapannya,”Mom, Which one ? Primary Corp or Bussiness Unite here?”

Sun mengangkat bahu,”That’s up to you, Son!”

Min Jae tertawa mendengar jawaban itu,”Mom, you’re lucky to have me. You just sign the papper after I think about.”

Sun tersenyum, memang dia sangat beruntung memiliki Min Jae. Dia memang tidak terlalu pintar berbisnis. Bisa dikatakan, bisnis ini sebenarnya bisnis Min Jae karena anak itu yang memikirkan semuanya dan Sun hanya tinggal tanda tangan saja.

“Mom… A call for you!” teriakkan Min Jae menyadarkan lamunan Sun. Sun bangkit, lalu menggeliat, dan mendekati Min Jae yang mengatung-atungkan Handphonenya,”Pakai bahasa korea, Nak…. Kau sudah di Korea sekarang….” Katanya sambil mengucek rambut Min Jae. Min Jae memonyongkan bibir mendapat perlakuan itu. Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling dikuasainya dibanding bahasa Hanggul dan Mandarin karena pergaulannya waktu kuliah di Universitas Beijing dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai Negara, mengharuskannya memakai bahasa Inggris.

“Yoboseyo…,” Sun mulai terlibat dengan pembicaraan di telephone,”Cheongmal?” Sun mulai memandang Min Jae yang asyik lagi dengan laptopnya, lalu segera menutup pembicaraan via telephon itu.

“Min Jae, bagaimana lima puluh persen saham Lee Corporation ada di tangan kita?”

Min Jae tersenyum nakal pada Sun,”Mom sendiri yang menyetujui rencana ini.”

“Mwo? Kapan?”

“Mom lupa? Dua hari yang lalu, waktu Min Jae menyodorkan dokumen itu.”

Sun jadi terkejut mendengar penjelasan itu, dia memang tidak pernah memeriksa kembali dokumen yang diserahkan Min Jae padanya dan itu ternyata kesalahan fatal,”Lepas saham itu, Min Jae.”

“Why, Mom? The Portfolio risk is good!”

“Oemma tidak perduli, sekarang juga lepas saham itu.”

Min Jae menggerutu, melepas saham yang susah payah dia dapat tentu bukan hal mudah baginya dan dia sudah mendapatkan lima puluh persen, itu artinya kedudukannya sudah menyamai pemilik perusahaan itu.

“Noona!” seorang pria memanggil Sun. “Donghae-ssi?” Sun menyongsong kedatangan pria itu dengan tangan terbuka, sesaat mereka berdua berpelukan, mengacuhkan Min Jae yang masih duduk di kursinya.

“Apa kabarmu, Donghae-ssi?”

“Baik, Noona.”

“Masih berkarier sebagai penyanyi?”

“Ah, dunia itu tidak  abadi, Noona. Jika saja aku bukan keluarga Lee, mungkin aku sudah bunuh diri seperti artis-artis lain yang mulai tidak laku.”

Min Jae menaikkan alis saat nama Lee disebut. Sun tertawa mendengar candaan Donghae lalu mengapit lengan pria itu untuk menemui Min Jae,”Donghae-ssi, ini putraku, Min Jae.”

Min Jae berdiri dan membungkukkan badannya,”Goo Min Jae imnida.”

Alis Donghae berkerut mendengarnya. Sun tersenyum menyaksikan pertemuan mereka berdua,”Min Jae, Oemma ingin ngobrol dengan ajhussi sekarang. Bisa tinggalkan kami sebentar, Nak…”

“Sure, Mom. Anything for you,” Min Jae mulai memunguti laptopnya dan memohon diri pada Donghae. Donghae masih saja memandangnya heran saat dia menjauhkan diri dari mereka.

“Goo Min Jae?” tanya Donghae pada Sun sambil menunjuk anak itu. Sun mengibaskan tangannya sambil tersenyum,”Di akta lahir dan surat-surat resminya tertulis Lee Min Jae, tapi entah kenapa dia selalu memperkenalkan diri sebagai Goo Min Jae.”

“Apa mungkin dia membenci nama itu?”

“Membenci? Kenapa harus benci?”

Donghae menyandarkan diri ke kursi taman itu,”Ah, jangan pura-pura lupa, Noona. Fitnahan pada waktu itu memang kejam, mungkin anak itu tahu lalu sangat benci nama Lee.”

Sun menggeleng,”Tidak, dia tidak tahu.”

“Noona yakin?”

“Aku sangat membenci MinHo, karena itu aku tidak pernah bercerita hal buruk tentang Min Ho maupun keluarga Lee padanya, aku takut menabur kebencian di hatinya.”

Donghae semakin tidak mengerti,”Apa dia tidak pernah bertanya tentang Abojinya?”

“Dia memang bertanya, tapi berhenti saat berusia delapan tahun.”

“Kenapa?”

“Entahlah, aku tidak tahu. Ah, kenapa harus bicara masa lalu, sekarang ceritakan tentang dirimu, sibuk apa kau sekarang?”

Donghae terbahak,”Karena aku salah seorang keluarga Lee, maka aku juga berhak atas saham Lee Corporation, dan aku gunakan uang itu untuk mendirikan usaha Even organizer. Oh ya, Noona, dua hari lagi ada pameran benda seni di Kim’s art gallery, saya  harap Noona hadir karena kami adalah Even Organizernya.”

Donghae mulai bicara panjang lebar tentang dirinya, sementara Min Jae yang duduk tak jauh dari mereka menguping pembicaraan walau matanya masih asyik menekuri laptop. Jadi dia termasuk keluarga Lee? Hm, semakin menarik. Donghae sepertinya tidak perduli pada Lee Corporation, itu berarti pria tua itu sendirian. Hah! Semakin mudah saja sepertinya. Dia mulai tersenyum licik.

TBC PART 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s