DINASTI LEE II (PART 3)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 3

Di kebun itu Dong Hae masih saja bicara banyak tentang kehidupannya selama tiga belas tahun terakhir pada Sun, sedangkan Min Jae menguping. Dia mengamini apa yang dikatakan Sun. Sebelum berumur delapan tahun, dia memang sering bertanya tentang abojinya, dan Sun dengan lembut selalu menceritakan kenangan indah bersama abojinya itu,”Abojimu adalah penunggang kuda yang hebat, Oemma melihat aksinya dua jam setelah kami menikah, di tikungan dia menyenggol kuda Hongki ajushi pada waktu itu, tapi aboji bisa mengatasinya dan berhasil sebagai pemenang.”

Hal demi hal baik selalu dikisahkan oleh Sun padanya, tapi dia tetap penasaran akan sosok abojinya itu, ingin rasanya dia tahu di manakah abojinya sekarang. Jika memang abojinya sebaik itu, kenapa mereka harus hidup terpisah? Namun Sun selalu bisa mengalihkan pembicaraan.

Saat umurnya delapan tahun, semuanya terbongkar. Waktu itu adalah malam selepas pesta ulang tahunnya, dia yang tertidur di atas meja belajar setelah mengerjakan tugas nilai anuitas yang diberikan oleh dosennya, terbangun karena merasa kedinginan. Dikerjap-kerjapkan matanya untuk melihat keadaan sekeliling yang sudah sepi dan tiba-tiba dia merasa kerongkongannya sangat kering. Dia turun ke dapur, namun baru saja langkah kakinya sampai di ambang dapur, dia mendengar isakan lirih Sun yang berasal dari kamar tamu. Di kamar itu, Lee Halmoni menginap, beliau datang khusus untuk menghadiri ulang tahunnya. Dia memang tidak begitu dekat dengan Lee Halmoni, selama ini yang dia tahu adalah halmoni dan haraboji dari keluarga Goo, bahkan mereka tidak pernah bertemu sebelum siang tadi, di pesta ulang tahunnya itu.

Dia jadi tertarik pada sebab Ibunya menangis, Ibunya sangat jarang menangis, langkahnya pun  berbalik menuju kamar tamu itu, dan berdiri di dekat pintu yang sedikit terbuka untuk menguping, lamat-lamat dia melihat Halmoni  berusaha menenangkan Sun dengan menepuk-nepuk punggungnya.

“Oemma harap kau kembali, Sun…. Jangan kawatir, Min Ho sudah menyadari kesalahannya,” Je Ha berusaha menenangkan menantunya. Sun menggeleng keras,”Tidak, Oemma…. Sun takut, Min Ho pasti menyakiti Min Jae, dia meragukan Min Jae.”

Je Ha menghela nafas, “Sun…., Min Ho kalap waktu mengatakan itu, mengertilah…., dia hanya cemburu.”

Sun  semakin sesenggukan, bahunya bergerak naik turun seiring isakannya,”Sido, Sun takut… Semua itu sangat menyakiti Sun, Sun tidak mau bertemu, Sun mohon Oemma mengerti.”

Min Jae mendengar semua itu dengan jelas di balik pintu. Dia semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Internet yang selama ini menjadi hobinya memberitahukan hal itu saat media gossip online asal korea menampilkan kabar menggeparkan di Seoul delapan tahun yang lalu. Sebuah fitnah tak benar yang ditujukan pada Ibunya, dan Abojinya yang berdiri di samping makam kekasih gelapnya. Dia mulai bisa menyimpulkan semuanya, abojinya yang berkhianat dan berusaha membalikkan fakta dengan menjelekkan Sun, serta kehadirannya yang diragukan. Dia semakin sesak mendapati hal itu, di tengah-tengah problema itu dia berdiri sebagai sosok yang dikontroversikan asal-usulnya, dan melihat kepiluan Sun di kamar tamu tadi, dia bisa merasakan Ibunya itu sangat kecewa pada abojinya atau bahkan ketakutan, dia mulai berpikir pria itu pasti melakukan kekerasan pada ibunya.

Dia memutuskan berhenti bertanya lebih lanjut tentang abojinya itu pada Sun.  Tapi dia juga sangat ingin tahu bagaimana sosok pria angkuh dan bebal itu. Pria itu, abojinya, Lee Min Ho.

Handphone yang berada di saku celananya berbunyi dan segera dia angkat, sesaat alisnya berkerut, di kursi taman itu, Sun masih berbincang dengan Dong Hae.

“Just do the plan,” perintahnya pada orang yang menelphon.”No…. .Don’t care what her talk!”

Dia menutup telephone itu,”Sorry, Mom. This is your foult, the paper have been signed. You can’t stop it anymore.”

Min Jae menarik sudut bibirnya. Semua rencana sudah berjalan dengan sempurna, tinggal beberapa langkah lagi lawannya bertekuk lutut. Lawannya, pria yang membuat sang Ibu ketakutan, pria angkuh dan sombong yang sangat dibencinya, Lee Min Ho.

Lee manshion kini tengah berdiri angkuh di depannya. Hari ini diputuskannya untuk melihat langsung tampang pria pemfitnah itu. Sangat mudah bagi seorang Min Jae mengetahui keberadaan manshion karena Lee Halmonie pernah memberikan alamat manshion itu padanya. Dengan mantap dia memencet bel manshion itu dan pelayan membukakan pintu untuknya,”Sosongheyo, siapa anda?”

Min Jae menarik sudut bibir mendapati pertanyaan dari pelayan pria itu. Dia mengalihkan pandangan pada arlojinya, waktu menunjukkan pukul dua belas siang, pria tua itu pasti pulang untuk makan siang, seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang dia suruh untuk mengintai.

“Apakah nama Goo masih berarti di manshion ini?” tanya balik Min Jae. Pelayan itu tampak menaikkan alisnya.

“Siapa yang datang, Yoon?” tanya seseorang dari dalam manshion. Min Jae agak menjulurkan kepalanya ke dalam manshion, dan terlihat olehnya Lee halmonie berjalan mendekati pintu masuk.

“Halmoni!” seru Min Jae sembari memasuki manshion. Pelayan itu sempat  terkejut akan ketidaksopanannya. Namun saat melihat namja di depannya itu tidak berbahaya, dia mendiamkan saja. Je Ha memicingkan mata, angannya berusaha mengingat siapa sosok yang memanggil halmoni itu.

“Ini Min Jae, Halmoni masih ingat Min Jae, kan?”

Je Ha terkejut. Dia membekap mulut dengan kedua tangannya. Hal itu memang sungguh tak dapat dia percaya. Namja di depannya ini adalah Min Jae, sudah lebih tinggi dari saat terakhir mereka bertemu, lima tahun yang lalu.

“Min Jae? Benarkah kau Min Jae?” Dia mulai mengulurkan tangan pada Min Jae.

“Ne, Halmoni. Min Jae imnida,”  Min Jae mengangguk mengiyakan, sesaat mereka berpelukan melepas kerinduan di hati masing-masing.

—— > 8 < ——-

 

“Perusahaan itu sangat misterius, Hyung,” ungkap Hongki saat memaparkan hasil temuannya pada Min Ho di perpustakaan Lee Mansion. “Mereka baru berdiri satu setengah bulan yang lalu.”

Min Ho membolak-balik laporan-laporan yang ada di tangannya tentang GMJ’s Corp,”Adakah kemungkinan dia unit bisnis suatu perusahaan?”

Dahi Hongki mengkerut, “Kalau yang di korea mungkin iya, tapi mereka berpusat di New York.”

“Kau bilang mereka baru berdiri satu setengah bulan?” tanya Min Ho kurang mengerti.

“Maksudnya yang ada di Korea,” jelas Hongki. Mata Min Ho semakin menyipit memahami laporan itu, bagaimana mungkin perusahaan asing begitu tertarik dengan sahamnya? Dia semakin mencurigai sesuatu, tapi masih bingung atas semua itu.”Adakah kemungkinan pemiliknya orang korea?”

“Bukan Korea, Hyung, tapi China,” jelas Hongki.

“China?”

Hongki mengangguk. Min Ho kurang tahu siapa saja pemain bisnis dari negeri tirai bambu itu, sekali lagi dia buntu setelah sebelumnya mulai berpikir nama GMJ merupakan inisial. Min Ho meletakkan laporan itu di atas meja lalu bersandar di kursinya. Semua ini sangat membingungkan baginya. Nasib keluarga Lee yang selama ini ada di pundaknya mulai terancam. Lima puluh persen saham ada di perusahaan asing itu, berarti tinggal sepuluh  persen yang ada di pasaran, sementara pihak keluarga hanya memegang empat puluh persen, itu pun masih terbagi. Dan jika perusahaan asing itu mulai mengambil alih, bagaimana nasib para karyawan dan rekan bisnisnya? Mendapati semua hal itu tengkuk lehernya semakin tegang saja, dia mencoba memijit-mijit tengkuk lehernya, lalu berhembus kuat.

”Tarik kembali sepuluh persen saham yang ada di pasaran, hal yang aku coba lakukan adalah menyeimbangkan posisi kita di Lee Corporation agar tidak terjadi akuisisi”perintahnya pada Hongki.

“Lalu bagaimana dengan biaya operational, Hyung? Tahun depan jatuh tempo pembayaran obligasi.”

“Menurutmu?” tanya Min Ho balik. Seperti biasa Hongki kelabakan dengan pertanyaan itu. Min Ho tampak tersenyum mengejek Hongki,”Bicarakan dulu dengan staf ahlimu, jadi kau tidak tampak bodoh di depanku.”

“Ah, kau bisa saja membuat senang nenek tua ini,” samar-samar Min Ho mendengar suara riang Je Ha. Rupanya Je Ha sedang ada di taman, Min Ho mulai mengamati aktivitas Je Ha melalui jendela yang menghubungkan perpustakaan dengan taman. Dari situ tampak jelas wajah Je ha yang begitu cerah dan tertawa riang.

“Halmoni memang cantik, bahkan tidak kentara kalau halmoni seorang halmoni,” canda seseorang yang juga ada di taman itu. Min Ho yang penasaran akhirnya mendekati jendela agar lebih bisa melihat jelas siapa anak laki-laki yang bersama Je Ha.

“Waeyo, Hyung?” tanya Hongki yang bingung dengan tingkahnya. Min Ho mengangkat tangannya agar Hongki diam,”Cepat ke kantor dan lakukan yang ku perintahkan.”

Hongki mengangguk dan segera meninggalkan perpustakaan. Min Ho pun melangkahkan kaki ke taman belakang. Saat berada dekat dengan kedua orang yang sedang berkebun itu, dia menghentikan langkah dan masih heran akan tingkah sang  bocah yang memanggil Je Ha dengan sebutan Halmoni.

Min Ho semakin mengamati bocah di depannya itu. Mungkinkah dia berusia tiga belas tahun? Anak laki-lakinya memang berusia tiga belas tahun sekarang. Mungkinkah dia? Tapi dari tubuhnya yang tinggi itu, sepertinya usianya lebih tiga belas.

Je Ha yang menyadari kehadirannya menoleh, begitu juga dengan sang bocah. Min Ho semakin penasaran saat mendapati keduanya berdiri mematung, seakan kehadirannya tidak diharapkan di taman itu, bahkan saat bocah laki-laki itu mulai menatapnya sinis.

Bocah itu melepas topi rajutnya dan menyerahkan pada Je Ha, lalu dengan lembut dia mencium pipi Je Ha,”Aku pulang dulu, Halmoni.” Dia melakukan itu tanpa mematahkan pandangan sinisnya pada Min Ho. Min Ho mencoba mengingat,”Mirip siapa tingkah ini?”

“Oh ya, Halmoni, jika keadaan sudah tak terkendali lagi, datanglah pada kami,” pesan bocah itu pada Je Ha sebelum undur diri, dan Min Ho semakin bingung dengan kalimat itu. Jika keadaan tak terkendali lagi? Maksudnya?

“Siapa dia, Oemma?” tanya Min Ho saat bocah itu pergi. Je Ha seketika gugup, dia membuang muka saat menjawab,”Ah, hanya cucu dari sahabat Oemma.”

“Kenapa dia memanggil Oemma dengan sebutan Halmoni?”

“Oh, itu mungkin karena dia sudah oemma anggap sebagai cucu sendiri.”

Je Ha tersenyum, topi rajutan yang tadi dipakai bocah itu masih ada di tangannya,”Ngomong-omong, ada apa kau kemari?”

Min Ho mengangkat bahunya,”Hanya ingin tahu apa yang menyebabkan Oemma tertawa lepas seperti tadi.” Sekali lagi Je Ha tersenyum, wajahnya tampak berseri siang ini,”Apa tawa lepas Oemma sangat berarti bagimu, Minho-a?”

“Setahuku hanya satu orang yang bisa membuat Oemma tertawa lepas seperti itu, dan orang itu adalah Sun.”

Je Ha terperangah mendengar kalimat terakhir Min Ho. Anak itu segera masuk perpustakaan kembali, dan Je Ha memandangi punggung yang semakin menjauh itu dengan tatapan pedih.

Miane, Min Ho-a, aku harus menyembunyikan semua ini. Je ha mulai menyesali diri. Dia memang membohongi Min Ho dengan mengatakan bahwa Min Jae adalah cucu sahabatnya. Dia tidak ingin Min Ho tahu tentang Min Jae saat ini, karena pasti Min Ho berkesimpulan jika Sun juga ada di Korea dan menemuinya.

Masih diingatnya dengan jelas, pada pertemuannya dengan Sun lima tahun yang lalu, menantunya itu takut bertemu Min Ho.

”Tidak, Oemma…. Sun takut, Min Ho pasti menyakiti Min Jae, dia meragukan Min Jae,” itulah jawaban Sun saat dia mengharapkan menantunya itu kembali ke Korea.

Je Ha menepuk punggung Sun lembut, ““Sun…., Min Ho kalap waktu mengatakan itu, mengertilah…., dia hanya cemburu.”

Sun  semakin sesenggukan, bahunya bergerak naik turun seiring isakannya,”Sido, Sun takut… Semua itu sangat menyakiti Sun, Sun tidak mau bertemu, Sun mohon Oemma mengerti.”

Je Ha menghela nafas,”Baiklah, Sun. Oemma mengerti, kau membutuhkan waktu untuk berpikir dan kau masih takut akan kejadian itu. Oemma akan menunggu. Kau akan kembali, kan?”

Sun mengangguk. Je Ha meraih tubuh yang gemetaran itu di pelukannya,”Kau masih mencintai Min Ho, kan?”

Sun semakin terisak, dan saat itulah Je Ha gagal menyelami apa sebenarnya yang dirasakan Sun pada Min Ho.Dia memang ingat betul Min Ho mengatakan itu dan tidak menyangka kalimat itulah yang begitu menyakitkan bagi Sun,”Setelah anak ini lahir, lakukan tes DNA, aku ragu dia anakku!”

Dia memang tidak tahu apakah Sun masih merasakan ketakutan itu, tapi dia tidak mau ambil resiko. Sun tidak boleh depresi lagi.

Dia sangat sedih waktu mendapati Sun depresi setelah peristiwa kematian Bo Young. Dia tidak begitu tahu penyebabnya, kabar yang berhembus semakin simpang siur saja, sementara keadaan Hongki juga mengkawatirkan pada waktu itu, tapi dari Yue Yi, dia tahu bahwa ada trauma di hati Sun akan Min Ho. Itu yang ditunjukkan Sun saat Min Ho mencoba menemuinya di Beijing dua minggu setelah kematian Bo Young. Sun histeris, meronta-ronta dan akhirnya keluarga Goo berusaha menjauhkan Min Ho dari Sun.

Je ha masih berusaha mencari jejak Sun, tentu saja tanpa sepengatahuan Min Ho. Keluarga Goo tidak mau kecolongan lagi, entah dari mana mereka tahu bahwa Min Ho melihat bayinya malam-malam di rumah sakit sesaat bayi itu lahir. Keluarga itu menyembunyikan dengan rapat keberadaan Sun. Karena persahabatannya dengan Yu Yie-lah, dia tahu serpak terjang Sun dan tanpa diketahui oleh Minho.

“Bagaimana keadaan Min Jae, Yu Yie?” Je Ha menelphon saat keluarga itu sampai di Paris. Yu Yie di telephon tiba-tiba tersedu mendengar pertanyaannya,”Dia sudah divonis meninggal, tapi hidup lagi sesaat setelah digendong Sun.”

Dan dia ikut menangis haru pada waktu itu,”Syukurlah…, lalu Sun, dia semakin baik, kan?”

“Ne, inilah keajaiban yang lain, depresi Sun sembuh setelah kelahiran anak itu.”

“Ceongmal?” air mata semakin berjejal keluar.

“Ne…, tapi kau harus tetap merahasiakan keberadaan kami dari Min Ho. Aku tidak mau Sun depresi lagi kalau anak bodohmu itu menemuinya.”

Je Ha membekap telephon itu di dadanya. Mimpi buruk itu sepertinya akan berlalu, tapi saat dia mendapat info kelainan lain pada Min Jae, dia terpuruk lagi dan semakin mengutuki perbuatan Min Ho yang menyebabkan Sun depresi.

“Kami akan membawa Min Jae ke Amerika!” kabar dari Yu Yie lagi tiga bulan kemudian.

“Amerika? Untuk apa?” tanyanya masih lewat telephon.

“Mereka bilang di sana ada terapi untuk mengobati sakauwnya,” dan dia semakin lemas sudah, Bayi sebelia itu sakauw? Sungguh tak dapat dia membayangkannya.

“Ingat! Jangan sampai Min Ho tahu hal ini. Sun sedang tenang sekarang, dia konsentrasi pada Min Jae. Aku tidak mau keadaan kacau lagi,” sekali lagi Yu Yie mengancam.

Je Ha hanya bisa menunggu dan menunggu, hingga titik terang pun datang. Kabar tentang kecermelangan Min Jae, kesuksesan Sun menjalankan bisnis, hingga hari ini, saat dia mendapati menantu dan cucunya itu ternyata sudah dua bulan berada di Korea.

“Bagaimana keadaan Oemmamu, Nak?” tanyanya pada Min Jae saat pertemuan tadi. Min Jae tersenyum lebar,”Mom baik, Halmoni!”

Je Ha tertawa mendengar kata ‘Mom’ dari mulut Min Jae. Menurutnya sangat aneh mencampur kata itu dengan bahasa korea,”Kenapa kau tidak memanggilnya Oemma, Nak?”

Min Jae jadi ikut tertawa,”Sudah kebiasaan, Halmoni,” sahutnya cuek sambil mengangkat bahu.

Mereka sangat menikmati suasana berkebun tadi. Dia heran dengan kemampuan anak itu menyenangkan hatinya, apalagi saat Min Jae bicara, “Halmoni sangat cantik jika sedang serius.”

Dia jadi tersipu malu mendengarnya, dia memang sedang serius meletakkan bibit-bibit mawar di tanah gembur yang sudah dia lubangi, “Ah, kau bisa saja membuat senang nenek tua ini.”

Min Jae tersenyum tulus, dengan lembut anak itu menggapai tangan kanannya dan mencium punggung tangan yang belepotan lumpur itu,“Halmoni memang cantik, bahkan tidak kentara kalau halmoni seorang halmoni.”

Dan dia semakin tersipu dengan perlakuan itu. Anak itu…. Syukurlah sifatnya sangat mirip dengan Sun. Sun pasti sudah mendidiknya dengan baik. Min Ho sangat beruntung memiliki anak sebaik itu. Ah, Min Ho…. Dia bahkan tidak tahu anak itu adalah anaknya. Apa Min Ho tidak bisa merasakannya? Miane, Min Ho-a…. Oemma terpaksa menyembunyikan ini. Oemma tidak mau kau mendatangi Sun dan mengacau kehidupan Sun lagi.

 

TBC PART IV

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s