DINASTI LEE II (Part 4)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 4

Makan siang yang selama tiga belas tahun terakhir ini selalu Min Ho lakukan di rumah, nyatanya tidak berlaku untuk siang ini. Entah kenapa pikirannya begitu ruwet hingga dia mau saja saat Bumie mengajaknya makan siang di sebuah restoran baru di Seoul. Sahabatnya itu walaupun beristri, masih doyan juga makanan luar, pantaslah jika selama ini, pria imut itu hafal betul daftar restoran di Seoul, mungkin hampir semua restoran di kota itu sudah disambangi. Dan seperti siang ini, mereka tengah asyik dengan makanan dan suasana restoran perancis yang elegan.

Sepertinya agenda Bumie saat ini bukan hanya mengajak Min Ho makan, tapi dia juga ingin memperlihatkan atau lebih tepatnya memamerkan sesuatu. Hal itu jelas terlihat, saat dia tiba-tiba menyodorkan sebuah catalog kepada Min Ho yang tengah menikmati sepiring escargot di mejanya.

“Art gallery?” tanya Min Ho setelah mengamati buku kecil itu, di dalamnya terdapat foto-foto benda-benda seni, dan tata ruang dari sebuah gallery. Bumie sumringah melihat tanggapan Min Ho,”Kim’s art gallery! Aku, Joon dan Joongie mendirikannya bersama, dan besok adalah pameran perdana kami.”

Min Ho meletakkan catalog itu di sebelah kanan piringnya, escargot itu serasa sulit diatasi jika tidak memakai dua tangan,“Aku tidak pernah tahu kalian punya proyek bersama.”

“Itu karena kau terlalu sibuk dengan Lee Corporation,” Bumie menjawab sembari meraih gelas wine didepannya, sesaat wine itu telah membasahi kerongkongannya,”selama ini kami melakukan aktifitas seni karena iseng, akibatnya…. Semua benda-benda itu hanya menumpuk di gudang, sayang juga jika tidak diperlihatkan, kalau pun nanti ada yang berminat, hasilnya bisa kami sumbang ke yayasan.”

Min Ho mengangguk-angguk mendengar jawaban Bumie. Memang selama ini trio Kim menekuni hobi mereka di bidang seni, Bumie sangat tertarik dengan seni gerabah walau pun aktifitasnya adalah pengacara.  Joon yang seorang aktor, entah sejak kapan tertarik dengan seni lukis sedangkan Hyun Joong begitu mahir dengan seni musiknya walaupun kesibukannya sebagai dokter kandungan selalu menyita. Escargot sudah habis tersantap, Min Ho mengelap mulutnya dengan napkin dan mulai meraih wine-nya, diamatinya lagi tata ruang gallery yang terpotret dalam catalog,”Sepertinya aku pernah melihat tata ruang seperti ini sebelumnya.”

Bumie melengkungkan sudut bibirnya. Rupanya kau masih ingat juga, Min Ho-ssi.

“Aku mengadaptasi tata ruang gallery café milik Sun,” jelas Bumie dan hal itu sukses membuat Min Ho tersedak saat mereguk wine yang ada di tangannya. Bu mie  jadi ngakak karenanya,”Kau selalu berlebihan jika menyangkut Sun.”

“Kau masih ingat tata ruang café itu?” Min Ho berusaha mengelap tetesan-tetesan Wine yang membasahi tangannya. Bumie mengangguk,”Ne…, Aku, Il Woo dan Joon sering ke sana. Tentu saja sebelum kau menikahinya, bahkan dulu kami ingin mengajaknya dalam proyek art galeri ini.”

“Sepertinya memang hanya aku yang kurang mengenal Sun.”

“Ah, sudahlah, dia bahkan total absen dari dunia seni setelah menikah denganmu, jadi kau tidak kenal bakat seninya.”

Dalam hal ini Bumie salah, Min Ho tahu betul bakat seni Sun. Mungkin kebun dengan danau buatan itulah saksinya, dimana Min Ho yang begitu tertarik pada Sun memperhatikan gadis itu menggambar sketsa dan sketsa itu akhirnya tergantung indah di gallery café itu. Min Ho mulai mengingat alasan Sun berhenti dari kegiatan seni, selain karena permintaannya juga karena kehamilan hingga dia mulai sadar bahwa pengorbanan ratu danahannya yang sudah tiga belas tahun menghilang itu begitu besar demi dirinya.

“Ckckckck, aigo… kau selalu mellow jika menyangkut Sun,” Bumie tertawa mengejek Min Ho. Pria yang ada di depannya itu kesal lalu melempar napkin ke arahnya.

“Datanglah ke pameran kami besok, aku lihat akhir-akhir ini sepertinya kamu stress, sekali-kali menghibur dirilah, apalagi Donghae yang kami tunjuk sebagai EO dalam pameran nanti.”

“Akan kuusahakan,” janji Min ho pada Bumie. Bumie tahu bahwa Min Ho menjawab hal itu hanya untuk menyenangkannya, dia yakin Min Ho tidak akan menghadiri pameran karena selama ini Min Ho memang tidak tertarik pada seni. Yang membuat pria bebal ini antusias hanya bisnis, saham, obligasi dan Sun, hal terakhir itu yang membuat Bumie tak habis pikir, kenapa keduanya bisa menikah padahal sifatnya sama sekali berbeda walau pun pada akhirnya terpisahkan disebabkan  sesuatu hal yang simpang siur baginya karena Min Ho memang enggan berbagi privacy.

Tapi sekali lagi Bumie salah, entah angin dari mana yang membuat Min Ho mengayunkan langkahnya di pameran itu. Bagi Min Ho, inilah saatnya dia menyelami dunia yang ditinggalkan istrinya, dan di pameran itu, dia merasakan bahwa keputusan itu pasti berat bagi Sun, meninggalkan seni demi dirinya. Tembikar-tembikar karya Bumie terpampang anggun menyapa matanya. Lukisan-lukisan Joon tertempel indah di dinding galeri, beberapa pemuda dengan earphone menikmati satu persatu aransemen music Joongie yang keluar dari alat audio visual di salah satu ruangan gallery itu.

Pandangan Min Ho akhirnya terhenti di sebuah sketsa yang tampak tak asing baginya. Danau buatan itu masih nyata diingatnya, walau pun sketsa ini diambil dari sudut yang berbeda. Dia jadi ingin tahu siapa yang menggambar sketsa itu hingga dia memutuskan untuk lebih mendekat.

“Sun-ssi!” teriakan itu membuat Min Ho terkesiap. Itu suara Joon, tapi tunggu… dia memanggil Sun ? Entah kenapa Min Ho akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di balik buffet besar yang digunakan untuk memamerkan beberapa tembikar Bumie, dan dari tempatnya itu, dia bisa melihat dengan jelas Kim Joon menyongsong kedatangan seseorang dengan tangan terbuka. Dia agak memicingkan matanya, wanita yang disambut oleh Joon dengan tubuh mungil terbalut blaser merah marun, dan suara itu memang yang selama ini dirindukannya. Senyum itu, wajah itu, wajah ayu ratu Danahannya yang selama ini dicari-carinya hingga dia tak mampu lagi membayangkannya walau hanya dalam mimpi karena keputusasaan.

“Aku tidak menyangka kau ada di Korea, kapan kau sampai?” tanya Joon. Min Ho bisa mendengar dengan jelas dari tempatnya berdiri. Sun tersenyum, “Sudah dua bulan Sun di sini, Oppa.”

Min Ho mengkerutkan dahinya. Dua bulan? Dia sudah dua bulan di Korea ?

Joon menggerak-gerakkan telunjuknya di depan Sun, “Anak  nakal, sudah dua bulan di sini tapi tidak memberitahu kami. Tega sekali kau, Dara sangat merindukanmu!”

“Miane, Oppa. Sun masih sibuk jadi tidak sempat, untung Donghae mengundangku ke pameran ini, jadi kita bisa bertemu,” Sun mengangkat bahunya sembari tertawa renyah

Donghae mengundangnya ? Jadi Donghae sudah bertemu dengannya ? Min Ho masih mengamati dari tempat persembunyiannya.

“Oh ya, Oppa. Bagaimana kabar Dara? Kalian rukun-rukun saja, kan? Miane tidak bisa datang saat pernikahan kalian.”

Joon mengibaskan tangannya,”Kami baik-baik saja. Ayo kita lihat lukisanku, ada satu sketsa yang ingin kutunjukkan padamu.”

Joon mengajak Sun untuk mengamati sketsa danau buatan itu. Min Ho jadi kelabakan mencari tempat lain untuk bersembunyi karena buffet itu terlalu dekat dengan mereka hingga akhirnya dia menemukan pilar yang cukup besar untuk berdiri di baliknya.

“Bagaimana menurutmu?” Joon meminta pendapat Sun. Yang dimintai komentar mulai memegang sketsa itu, dengan mata berbinar Sun menelusuri goresan dalam lukisan itu, “Ini….”

“Yup, aku membuat tiruan dari sketsa milikmu. Tidak sulit ternyata menemukan lokasinya, danau di belakang Villa Yu Jin, kan?”

Sun mengangguk seiring senyuman yang melengkung di mulutnya.

“Gumawo,” ujar Joon. Sun menaikkan alisnya, dia tidak mengerti maksud perkataan Joon.

“Karenamu aku juga tertarik melukis,” Joon seperti tahu hal yang akan ditanyakan Sun. Sekali lagi Sun tersenyum, dan senyuman itu terlihat jelas oleh Min Ho, dan sumpah mati saat ini Min Ho ingin memeluk tubuh mungil itu demi mengobati kerinduan yang terpendam. Tapi dia masih berpikir tentang keadaan Sun, dia bertanya-tanya bagaimanakah posisinya di hati Sun sekarang. Masihkah ratunya itu mencintainya atau malah membencinya, dan dia jadi takut jika kehadirannya akan mengacaukan pikiran Sun lagi.

Min Ho masih terus mengamati dengan berbagai angan di kepalanya. Dia tidak menyadari bahwa ada orang lain yang juga mengamati gerak-geriknya, dan orang itu adalah Min jae yang memperhatikan dengan lengkungan sinis di bibirnya.

“Nikmatilah suasana gallery ini, Sun. Aku harus menyapa yang lainnya dulu,”Joon meminta diri. Sun membungkukkan badannya,”Gumawo, Oppa.”

Sun mulai mengelilingi Kim art gallery sambil memperhatikan pajangan-pajangan indah yang mengelilinginya. Dengan hati-hati Min Ho mengutit, dia tidak ingin keberadaannya diketahui oleh Sun, sementara Min Jae yang memperhatikan gerak-geriknya juga selalu melangkah di belakangnya.

Min Ho terus mengikuti kemana pun gerakan Sun di gallery. Kejadian tiga belas tahun yang lalu itu rupanya terulang lagi saat ini. Sun yang ramah menyapa semua orang yang ditemuinya, dan Min Ho yang selalu beberapa kaki di belakangnya. Irama di hati Min Ho tiga belas tahun yang lalu juga terdengar lagi sekarang, seiring langkah-langkah riang Sun, menyalami orang-orang di sekitarnya maupun berdecak kagum pada semua pajangan seni yang ada di situ.

Sun menyapa saat bertemu Donghae, sesaat Min Ho harus menghentikan langkahnya, karena Sun berbincang  hangat dengan Donghae, dan Min Jae pun juga melakukan hal yang sama beberapa kaki di belakangnya.

Merasa puas dengan penjelasan Donghae, Sun menuju taman di belakang gallery itu. Para pengunjung juga ramai mengagumi tembikar buatan Bumie di situ dan Sun memperhatikan benda-benda itu dengan antusias, tentu saja masih Min Ho yang mengikutinya, disusul Min Jae yang mengikuti Min Ho.

“Bum-ssi!” panggil Sun saat dia melihat Bumie. Bumie yang terkaget dengan kehadirannya, berlari menyongsongnya dengan tangan terbuka, sesaat mereka berpelukan, dan hal ini membuat Min Ho cemburu setengah mati. Dia akan mendekati kedua orang yang berpelukan itu, tapi seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya.

“Mengutit istri orang, Tuan Lee,” Min Jae tersenyum sinis pada Min Ho.

“K…K..kau?” Min Ho kaget melihat pria di depannya yang menepuk pundaknya itu, apalagi aksen bahasa Korea Min jae yang agak aneh, membuatnya jadi bertanya-tanya siapa Min Jae.

Min Jae menggeliat. Dia juga mengitari pandangan di sekeliling taman itu,”Hm.. tempat yang indah buat bertemu teman lama, bukan?”

“Siapa kau ?” Min Ho akhirnya bertanya tentang siapa sebenarnya pria di depannya itu

“Apa itu penting, Tuan Lee?” Min Jae masih saja membuat Min Ho bingung.

Sun yang tengah berbincang dengan Bumie melihat keberadaan Min Jae sedang berbincang dengan seseorang di balik pohon, dia jadi ingat kalau sudah menyuruh Min Jae untuk menjemputnya di art gallery. Jika Min Jae sudah datang, pasti ini saatnya untuk pulang. Dia segera undur diri pada Bumie lalu menuju Min Jae.

“Kau rupanya sudah….”

Suara Sun memelan saat dia melihat keberadaan Min Ho di situ. Sun mengkerut takut di balik punggung Min Jae. Min Ho yang juga terkejut dengan kehadiran Sun, mengamati dengan heran tingkah laku mereka berdua, apalagi saat Min Jae tiba-tiba memeluk Sun dan mencium ubun-ubunnya lembut.

“We are home now,” ujar Min Jae pada Sun. Sun mengangguk lalu berjalan menjauhi Min Ho dipapah oleh Min jae. Min Ho semakin penasaran terhadap Min Jae, siapa dia? Pengawal pribadi Sun, kah?

“Ckckckck, aigo…., melamun saja,” Bumie tiba-tiba sudah ada di depannya.

“Dia tadi ada di sini.”

“Yup, aku juga melihatnya, bahkan berbincang dengannya, rupanya pameran ini memberikan keberuntungan padamu.”

Kaki Min Ho mengais-ais rumput yang berada di bawahnya. Kenapa semua selalu terjadi di atas rumput, pikirnya.

“Dia masih takut padaku.”

Bumie tersenyum mengejek, lalu mengibaskan tangannya,”Ayolah… kau mau ke istal sekarang atau besok? Kita semua berencana menginap di Villa, jadi besok kita bisa langsung bertanding tanpa memikirkan jalan yang macet, kau mau ikut, tidak?”

“Oke, aku menginap!” jawab Min Ho. Bumie mengacungkan jempol kepadanya dan bersama mereka berangkulan meninggalkan taman itu.

Sementara dalam perjalanan menuju Goo manshion, Sun masih saja melamun, memandang ke luar jendela mobil. Min Jae menepuk punggung tangannya, Sun menoleh ke arahnya lalu membenamkan kepalanya ke dada putranya itu,” Min Jae….”

Min Jae mencium ubun-ubun Sun lembut. Sun memejamkan mata merasakan kasih sayang putranya itu,”Kita kembali ke Beijing sekarang, ya, nak…”

Min Jae menghela nafas, dia sudah memprediksi hal ini akan terjadi, begitu Abojinya menemui Mom-nya, mom-nya pasti akan ketakutan dan berusaha menghindar sejauh mungkin tapi tidak, Min Jae tidak ingin meninggalkan Korea secepat itu, masih banyak rencana yang harus dia lakukan,”No, Mom… I like this country, I have a lot of plan here.”

Sun mulai menangis di dada bidang itu. Min Jae merasakan kepiluan Ibunya menjalar ke tubuhnya dan dia semakin membenci kehadiran abojinya,”Come on, Mom. Everything’s  gona be okey, just give me opportunity.”

Sun masih saja terisak, dia tidak tahu lagi apa yang akan dia katakan pada Min Jae. Bahwa dia takut akan Abojinya? Bahwa dia sangat membenci suaminya hingga tidak mau bertemu? Bahwa dia merutuki pertemuan pertamanya dengan suaminya itu? Tidak, tentu saja semua itu tidak baik buat perkembangan Min Jae. Dia tidak ingin menabur kebencian di hati putranya itu.

“I think about expantion here, It will be good for corporate. We will fine here. What’s make your scare, Mom?” Min Jae masih saja menyakinkannya. Sun pasrah, akhirnya dia mengangguk, mengiyakan permintaan Min Jae agar tetap bertahan di Korea. Padahal batinnya kini mulai goyah. Dia takut akan Min Ho. Dia bertanya-tanya bagaimana bisa Min Jae berbincang dengan Min Ho tadi. Tahukah anak ini kalau Min Ho ayahnya? Pertanyaan itu yang akhirnya menjalari pikirannya di sepanjang perjalanan menuju Goo manshion.

TBC Part 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s