DINASTI LEE II (PArt 5)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 5

Song of the Part:

Are You Lonesome Tonight?

By. Elvis Presley

(words & music by roy turk and lou handman)


Are you lonesome tonight,
Do you miss me tonight?
Are you sorry we drifted apart?
Does your memory stray to a brighter sunny day
When I kissed you and called you sweetheart?
Do the chairs in your parlor seem empty and bare?
Do you gaze at your doorstep and picture me there?
Is your heart filled with pain, shall I come back again?
Tell me dear, are you lonesome tonight?

I wonder if you’re lonesome tonight
You know someone said that the worlds a stage
And each must play a part.
Fate had me playing in love you as my sweet heart.
Act one was when we met, I loved you at first glance
You read your line so cleverly and never missed a cue
Then came act two, you seemed to change and you acted strange
And why I’ll never know.
Honey, you lied when you said you loved me
And I had no cause to doubt you.
But I’d rather go on hearing your lies
Than go on living without you.
Now the stage is bare and Im standing there
With emptiness all around
And if you wont come back to me
Then make them bring the curtain down.

Is your heart filled with pain, shall I come back again?
Tell me dear, are you lonesome tonight?



Malam sebelum pacuan kuda, para peserta rupanya tidak mau direpotkan dengan macetnya Seoul di musim panas hingga mereka memutuskan untuk menginap di villa dengan aksen kastil di area Istal. Min Ho dan Bumie yang baru saja kembali dari berlatih dengan kuda-kuda baru mereka, segera bergabung dengan para pria lain yang tengah berkumpul di ruang tengah villa itu. Mereka sedang santai sekarang, beberapa orang tampak berbincang, ada juga yang sibuk dengan catur, bahkan ada yang iseng bermain kartu, termasuk Minho dan Bumie yang segera bergabung dengan Il Woo, Hongki dan  Kim Joon.

“Aku dengar kalian akan berlomba dengan kuda baru?” tanya Il Woo, matanya masih serius dengan kartu di tangannya.

“Ne…” jawab Min Ho dan Bumie serempak. Joon membuang kartu as hati, dan dengan nyegir, dia menarik kartu-kartu yang dimenangkannya, yang lain jadi cemberut karenanya. “Apa kalian tidak kawatir, biasanya kuda muda masih labil,” Joon mengingatkan.

“Apa boleh buat? Jupiter sudah tua, kasihan jika dipaksakan berlomba,” Min ho berargumen. Bumie manggut-manggut mengamini perkataannya.

Donghae yang belakangan hadir di ruangan itu, juga segera menggabungkan diri dengan mereka. Maklum, kesibukannya sebagai EO di Kim’s art galleri tadi baru rampung. Dia segera mengamati permainan itu,”Siapa yang menang?”

“Kau bisa lihat sendiri,” Joon memamerkan kartu-kartu yang berhasil di menangkannya. Min Ho meliriknya sekilas, memang dia kurang mahir dalam permainan ini, jadinya Cuma bisa pasrah. Saat Dong Hae mengambil tempat duduk di sampingnya, Min Ho jadi teringat akan Sun,”Kau pernah bertemu dengan Sun akhir-akhir ini?”

Bumie memandang dua saudara sepupu itu, heran saat mendapati Dong Hae seperti enggan menjawab pertanyaan Min Ho.

“Hah! Kau ini masih ABG, bagaimana bisa kau masuk kelas senior?” suara ribut-ribut di ruang sebelah membuat mereka yang di ruang tengah tidak tenang. Beberapa remaja tengah berkumpul di situ, sepertinya mereka sedang menertawakan kekonyolan seseorang.

“Why? I have good skill with horse,” suara seseorang sayup-sayup terdengar dari ruang sebelah. Para pria yang di ruang tengah semakin menajamkan telinga untuk mendengar keributan itu lebih lanjut, seperti halnya Min Ho yang sudah lupa akan pertanyaannya yang belum terjawab oleh Donghae.

Jawaban dengan bahasa Inggris itu sontak membuat semua remaja di ruang sebelah terpingkal-pingkal. “Kau orang asing yang tak tahu diri,” suara seorang remaja yang diyakini Bumie adalah putranya, terdengar mencerca remaja dengan aksen asing itu,”di sana nanti kau hanya akan jadi bulan-bulanan para senior.”

“Yup, seharusnya kau masuk kelas Yunior.”

“No! That’s not my class.”

“Huh, sombong sekali dia,” suara seseorang yang Il Woo kenal sebagai suara putranya,” Kau pasti kalah telak di sana. Pasti Lee Min Ho akan mengalahkanmu. Dia juara bertahan dua puluh tahun berturut-turut.”

Il Woo memberi sedikit pukulan pada bahu Min Ho saat mendengar pujian itu. Min Ho merasa tersanjung pula dengan pujian itu.

“That oldman? Hah..! It’s time for him to pension !”

Perkataan itu membuat para pria yang ada di ruang tengah semakin heboh dan ingin tahu siapa sebenarnya remaja asing itu, termasuk pula Min Ho yang langsung emosi setelah mendengar ejekan itu.

Suasana di ruang sebelah pun juga tak kalah heboh, mereka yang ada di situ tidak mengira kalau pemuda asing itu berani sekali berkata seperti itu. Apalagi mereka tahu bahwa Lee Min Ho baru saja memasuki ruang tengah beberapa waktu yang lalu.

“That oldman will loose. He better at home this year, I will win the competition!” remaja asing itu masih saja mencerca. Min Ho semakin geram dan itu tampak saat dia mulai mengepalkan telapak tangan kanannya. Dong hae nampak mengingat-ingat sesuatu, dia merasa pernah mendengar suara asing itu, dan mulai tampak aneh pula baginya karena remaja asing itu menjawab dengan bahasa Inggris, padahal semua yang ada di ruang sebelah jelas-jelas berbahasa Hanggul, Min Jae? Otaknya menyerukan nama itu.

“I got a lot of medallion from last competition at Beijing, so…. Lee Min Ho is not my level,” sekali lagi remaja yang diyakini Dong Hae adalah Min Jae, mencerca. Dong Hae jadi memejamkan mata karenanya, apalagi saat dia melihat Min Ho dengan emosi meluap mulai berdiri untuk memberi pelajaran pada anak ingusan yang besar mulut itu. Dong Hae segera menarik lengan Min Ho, MinHo menoleh ke arahnya tapi dia hanya bisa menggelengkan kepalanya untuk mencegah Min Ho tanpa tahu harus berkata apa.

Bu mie mengkeryitkan kening melihat tingkah keduanya. Saat Min Ho mulai melangkahkan kakinya, memasuki ruang sebelah, semua pria yang di ruang tengah pun mengikutinya. Dan kini suasana ruangan itu semakin tegang saja. Min Ho sudah berdiri di tengah ruangan dengan wajah mengeras dan tangan mengepal, sementara remaja asing itu beberapa kaki di depannya, berdiri berkacak pinggang membelakanginya. Para pria di belakangnya semakin penasaran dengan ABG bermulut besar itu.

“Buktikan !” Suara Min Ho menggelegar dan membuat pemuda asing itu menoleh ke arahnya. Mata Donghae terbelalak saat mendapati bahwa tebakannya benar, orang itu adalah Min Jae.

“Kau sungguh bermulut besar, kita lihat apakah nyalimu sebesar omongmu,” tantang Min Ho. Lengkungan tipis segera terbentuk di bibir Min Jae. Dengan masih berkacak pinggang, Minjae berjalan mendekati Min Ho,”Kita lihat saja nanti, Tuan Lee,” Min Jae mulai bicara dengan bahasa Hanggul,”Apakah Cuma mulutku yang beromong besar? Atau memang aku bernyali besar.”

“Setidaknya selama ini aku masih bisa menjaga mulutku,” lanjut Min Jae. Dan saat dia semakin mendekat di samping Min ho, dia berkata sambil menekankan kalimatnya,” Dan aku tidak pernah memfitnah!”

Min Jae berjalan melewati Min Ho dengan agak menyenggolkan bahunya pada badan Min Ho. Saat dia berpapasan dengan Dong Hae yang berdiri di belakang Min Ho, dia memandang sinis ke arahnya, lalu melangkah pergi. Bumie meninggikan alis melihat Min Jae dan Donghae. Naluri pengacaranya segera jalan, dan mulai mengira-ira ada hubungan apa remaja itu dengan Donghae.

Saat bahu Min Ho menyentuh Min Jae, entah kenapa ada perasaan aneh menjalar di hati Min Ho, seperti ada ketenangan yang selama tiga belas tahun ini dia nantikan. Min Ho tak habis pikir hal ini bisa terjadi. Ini adalah kedua kalinya fisik mereka saling menyentuh, yang pertama adalah saat di taman galeri itu, di mana Min Jae tiba-tiba menyentuh pundaknya.

Semua yang hadir di situ akhirnya menyusut kembali ke tempat masing-masing kecuali Hongki,”Hyung, kenapa harus emosi menghadapi anak bau kencur itu?”

Min Ho menoleh,”Kau pikir aku emosi?” dia tersenyum, emosinya memang sudah cair,”Kau sudah melakukan perintahku?”

“Tentu, Hyung. Malam ini dipastikan sudah tiba di Goo Manshion,”Hongki mengangguk mantap,”tapi kenapa harus tiga kali sehari? Seperti minum obat saja, cih!”

Min Ho tertawa mendengar tanggapan  Hongki,”Lakukan terus sampai kami bertemu,” sementara angannya mulai membayangkan kira-kira apa yang terjadi di Goo Manshion.

Di Goo Manshion, Sun yang baru tiba segera menuju kamarnya, tapi langkahnya terhenti saat melihat tiga tanaman mawar di ruang tengah, didekatinya tumbuhan rambat itu, lalu saat seorang pelayan mendekat, dia bertanya,” Siapa yang mengirim semua ini?”

“Entahlah, Nyonya. Mawar-mawar itu tiba tiga kali berturut-turut hari ini, tanpa pesan apa pun. Orang yang mengantar juga kurang tahu karena dia hanya petugas florist,” jawab pelayan itu sambil mengundurkan diri.

Sun lebih mengamati tanaman-tanaman itu. Tanaman mawar lengkap dengan tanah dan potnya. Kemudia dia teringat sesuatu. Kejadian itu terjadi seminggu setelah kehamilannya diketahui. Morningsickness sungguh merepotkan waktu itu, untuk menghilangkan rasa frustasi, dia duduk di taman Lee Manshion sembari membaca buku.

“Baby!” Min Ho yang ternyata sudah dibelakangnya memanggil. Dia menoleh, mendapati Min Ho berdiri dengan tangan di belakang seperti menyembunyikan sesuatu. Wajahnya bersemu merah saat Min Ho mencium pipinya lembut,”Masih mualkah, Ratuku?”

“Anyi,” dia menggeleng,”seperti biasa mualnya hilang setelah jam sepuluh.”

Min Ho mengulum senyum,”Apakah kau mual jika mencium sesuatu yang indah?

“Indah? Maksudnya?”

“Sesuatu yang indah seperti mawar ini misalnya,” Min Ho menunjukkan sekuntum mawar yang sedari tadi disembunyikan di pungung. Sun berbinar menerimanya,”Oh, Min Ho-ssi… .”

Namun senyum Sun hilang saat dia mengamati bunga itu,”Kenapa kau memotong bunga ini dari pohonnya? Kau membuat bunga ini mati, Min Ho-ssi!”

Mata Min Ho terbelalak mendapati reaksi Sun,”Baby, bagaimana mungkin aku membawa bunga itu lengkap dengan pohonnya? Tentu  saja kurang romantis, lagi pula sudah nasib mawar ini layu setelah dipetik. Siapa suruh dia jadi bunga ?”

Sun di dalam kamar tersenyum geli mengingat kejadian itu. Pabo, Min Ho-ssi. Ternyata kau masih mengingatnya. Miane, mungkin selama ini tidak adil bagimu. Aku hanya takut kau menyakiti Min Jae. Tapi jika dipikir-pikir, kau memang bodoh. Bagaimana bisa kau tetap menyendiri selama tiga belas tahun ini? Bukankah di luar sana banyak Yoja cantik, Min Ho-ssi?

Sun meraih ponsel yang ada dalam tasnya. Agak ragu dia menekan tombol karena sudah lebih dari tiga belas tahun dia tidak menghubungi nomor itu. Beberapa saat mereka terhubung.

“Yoboseyo?” sapa seseorang di ujung telephon. Sun semakin ragu, dia bahkan tidak tahu apa yang akan dikatakan.

Sementara Min Ho yang menerima panggilan itu hanya heran karena kesunyian yang didapat. Dia juga sudah menyendiri di kamarnya di kastil itu. Dia mulai merasakan sesuatu. Getaran kerinduan selama tiga belas tahun menjalar kembali, dan saat itu dia mulai menyimpulkan bahwa Sun-lah di seberang sana,”Baby…, kaukah itu?” dengan hati-hati dia bertanya, tapi sekali lagi hanya hening yang menjawab.

“Baby, miane. Semua ini mungkin salahku karena tak jujur akan masa laluku, tapi percayalah hanya kau yang ada di hatiku sejak kita bertemu. Aku bahkan sudah menganggap Lee Bo Young sebagai Noona, tapi mendapatimu berpelukan dengan lelaki itu membuatku marah, Baby. Apalagi saat kau berkata tentang perpisahan, aku sakit hati sekali.”

Sun mulai terisak, sekuat mungkin dia menahan dengan membekap mulutnya, namun isakan lirih terdengar juga oleh Min Ho, “Baby, jadi benar ini kau? Baby, anak kita? Bagaimana kabar anak kita?”

Sun tidak tahan lagi, dia segera memutuskan hubungan telephon dan membenamkan diri dengan kesedihan hatinya di pembaringan.

“Baby? Yoboseyo, Baby!” Min Ho merasa putus asa. Sun memutuskan telephon begitu saja, sementara dia tidak bisa menghubungi balik karena Sun memprivat nomor.

Sepertinya titik terang mulai datang, Baby. Aku yakin maaf itu pasti ada. Dan saat semua itu terjadi, aku tidak akan melepasmu lagi, Ratuku.

TBC part 6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s