DINASTI LEE II (Part 6)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 6

Song of the part:

It must have been love

By. Roxette

Lay a whisper on my pillow
Leave the winter on the ground
I wake up lonely, is there a silence
In the bedroom and all around

Touch me now, I close my eyes
And dream away…

It must have been love, but it’s over now
It must have been good, but I lost it somehow
It must have been love, but it’s over now
From the moment we touched till the time had run out

Make believing we’re together
That I’m sheltered by your heart
But in and outside I turn to water
Like a teardrop in your palm

And it’s a hard winter’s day
I dream away…

It must have been love, but it’s over now
It was all that I wanted, now I’m living without
It must have been love, but it’s over now
It’s where the water flows, it’s where the wind blows

It must have been love, but it’s over now
It must have been good, but I lost it somehow
It must have been love, but it’s over now
From the moment we touched till the time had run out

Suasana arena pacuan kuda begitu ramai, sangat kontras dari hari-hari biasanya. Para penonton mulai memadati tribun-tribun, dan seperti biasa, penonton dari kalangan terhormat di kota itu selalu mendapatkan tempat di balkon kehormatan. Para peserta juga sudah mempersiapkan diri di garis star, Min Jae yang telah diolok-olok ternyata masih nekat juga bertanding di kelas senior. Peserta yang lain cuma tersenyum saja ke arahnya, termasuk Min Ho yang memandangnya sambil geleng-geleng kepala.

Min Jae tetap cuek akan semua itu. Pandangan matanya lurus ke depan, tetapi sepertinya dia memperhatikan sesuatu pada jalur yang akan dilewatinya, dan tiba-tiba dia teringat akan perkataan Mom-nya,” Abojimu adalah penunggang kuda yang hebat, Oemma melihat aksinya dua jam setelah kami menikah, di tikungan dia menyenggol kuda Hongki ajushi pada waktu itu, tapi aboji bisa mengatasinya dan berhasil sebagai pemenang.”

“Tikungan….,” Min Jae mulai melengkungkan sudut  bibirnya. Sesaat dia melirik Min Ho yang mulai focus dengan jalur di depannya.

Bunyi pistol terdengar, dan diikuti suara derap dari kuda-kuda yang berlari kemudian. Mereka mempercepat laju kuda masing-masing, saling susul menyusul. Suara aba-aba dan cambukan stik terkadang menyelingi. Min Ho masih berada di urutan dua, sementara Bumie berada di depannya. Di belakangnya adalah Min Jae dan Min Ho semakin mempercepat laju kuda yang ditumpanginya. Dalam waktu satu menit posisi berbalik. Min Ho di posisi pertama, disusul oleh Min Jae lalu Bumie.

Min Jae sepertinya sengaja terus mengekor Min Ho. Dan saat kuda keduanya sudah sampai di tikungan, seperti biasa Min Ho agak oleng disitu. Min Jae tiba-tiba menyenggol kuda Min Ho dengan kakinya. Senggolan yang cukup keras hingga kuda Min Ho terjerembab keluar  arena dan melemparkan pengemudinya dalam jarak yang cukup jauh, sedangkan Min Jae terus saja melaju dan dengan mulusnya mencapai garis finish untuk memenangkan kompetisi.

Malang bagi Min Ho, tubuhnya membentur dinding di samping kanan arena, lalu jatuh bergulingan di tanah dengan posisi tangan kanan di bawah, “Arkh!” Min Ho agak kesakitan saat berusaha berdiri, punggungnya serasa sakit semua dan lengan kanannya terasa amat nyeri. Tim medis segera menanganinya, dia masih beruntung karena tidak mengalami cedera tulang belakang mau pun leher. Keadaan yang paling parah hanyalah lengan kanannya yang agak retak karena benturan keras itu. Sesaat ambulan mengangkutnya ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

“Yuhuu!” Min Jae yang memenangkan perlombaan itu bersorak kegirangan. Tahun ini dialah pemenangnya dan Min Ho, juara bertahan dua puluh tahun berturut-turut itu sudah dia kalahkan. Dengan congkak dia menerima medali itu. Medali tahunan jatuh ke tangannya dan medali bergilir itu tahun ini berpindah dari Min Ho ke Min Jae. Bumie dan Donghae yang menempati urutan kedua dan ketiga tidak berlama-lama di tribun kemenangan, mereka segera menyusul Hongki untuk mencari tahu keadaan Min Ho.

——– > * < ———

“Ini file-file yang anda minta, Nyonya,” sekretaris itu tampak menyerahkan setumpuk kertas kepada Sun. Sun menerima semua itu dengan menyunggingkan senyum,”Apa ada yang penting, Nona Lau?”

“Young’s Group tertarik berpartner dengan kita, Nyonya,” ujar sekretaris itu. Sun mulai berpikir keras,”Young’s Group? Bukankah selama ini mereka berpartner dengan Lee Corporation?”

Sekretaris itu mengangguk,”Benar, Nyonya. Tapi sepetinya mereka sudah memutuskan kerjasama dengan Lee Corporation, sebab-musababnya apa, saya kurang tahu.”

“Hm…, sangat menarik, tapi kita harus hati-hati, memang GMJ’s corp sudah punya landasan kuat di New York, tapi di sini kita masih pemain baru, selidiki dulu tentang Young’s group, terutama tentang penyebab putusnya kontrak dengan Lee Corporation. Mereka mengajukan kerja sama di proyek yang mana?”

“Proyek jalan layang yang baru saja kita menangkan, Nyonya,” jawab Nona Lau. Sun tersenyum. Hal itu sudah diprediksinya. Dia mulai ingat dengan Young’s group. Mereka cukup lama bekerja sama dengan Min Ho di beberapa proyek pengembangan daerah, tapi selalu kacau karena selalu saja ada yang dikorupsi oleh pihak Young’s group, tapi kabar tentang memutuskan partner itu juga masih simpang siur. Yang benar diputuskan atau memutuskan?

“Lakukan saja penyelidikan itu, Nona Lau,” perintah Sun. Nona Lau segera meninggalkan ruangan dan Sun mulai serius dengan file-file di atas mejanya. Pintu ruangan diketuk tiba-tiba.

“Masuk!” perintah Sun. Seorang Pelayan yang memasuki ruangan itu segera membungkukkan badannya,”Nyonya Lee Je Ha menunggu anda di taman belakang, Nyonya.”

“Oh, gomawo. Saya akan menemuinya. Tolong sajikan teh hijau untuk kami karena beliau sangat menyukai teh hijau.”

Pelayan itu membungkuk tanda mengerti dan Sun segera menemui Je Ha di taman belakang. Di situ tampak Je Ha sedang mengamati para pekerja yang memindahkan empat tanaman mawar kiriman Min Ho dari pot ke tanah lepas. Sun memeluk Je Ha dari belakang, hingga Je Ha yang tidak menyadari kehadirannya agak kaget.

“Bogosipho,Oema…”

“Bogosiphoyo,” Je Ha menepuk-nepuk lengan Sun yang melingkar di lehernya.

“Maaf, Nyonya. Mawar ini datang lagi tadi,” kata salah satu tukang kebun di situ, jadi sekarang Min Ho sudah total mengirim lima tanaman mawar dalam pot dari kemaren. Sun agak terkejut mendapati hal itu, kalau nanti sore datang mawar yang keenam bisa-bisa dia membuka usaha florist khusus mawar.”Apakah mawar yang ini juga perlu dipindahkan, Nyonya,” tanya tukang kebun itu lagi.

“Ne…, pindahkan saja semuanya!” perintah Sun. Je Ha berdecak kagum, “Kiriman siapa itu, Sun? dari penggemarmu, kah?”

“B…Bo?” Sun tergagap mendengar pertanyaan Je Ha. Tidak mungkin dia menjawab kalau mawar itu dari Min Ho. Je Ha pasti akan memaksanya untuk menemui Min Ho. Dia sedang tidak ingin membicarakan Min Ho sekarang,”Ehmmm, bukan, Oemma. Mawar ini dari penggemarnya Min Jae,” wajah Sun memerah dengan kebohongan konyolnya, “Iya benar, penggemar Min Jae.”

Je Ha tertawa memandang wajah gugup Sun,”Anak itu sudah punya penggemar rupanya, tapi jika dilihat dari tampang gantengnya, cukup wajar jika dia punya penggemar.”

Sun terkekeh.”Kita duduk, Oemma,” Sun mempersilakan Je Ha untuk duduk di bangku taman itu. Sejenak pelayan menyuguhkan teh hijau di meja mereka dan Je Ha masih mengamati kesibukan para tukang kebun,”Kenapa hanya Min Jae yang datang ke Lee Mansion?”

“Mwo?” Sun terkejut mendengar ucapan Je Ha. “Min Jae mendatangi Lee Manshion?”

“Ne,” Je Ha meraih secangkir teh hijau yang sudah dituangkan oleh pelayan itu lalu mereguknya perlahan, ”Dia juga bertemu Min Ho disana.”

“Apa… Apa Min Ho tahu siapa Min Jae, Oemma?” dengan gugup Sun bertanya. Je Ha menggeleng,”Oemma berbohong padanya dengan mengatakan kalau Min Jae adalah cucu sahabat Oemma. Sebenarnya Oemma tidak bohong sekali, sih…. Bukankah Min Jae adalah cucu Yue Yi? Dan Yue yi adalah sahabatku.”

Sun mulai mengingat lagi kejadian di galeri. Mungkin inilah jawabannya kenapa Min Jae bisa ngobrol dengan Min Ho waktu itu. Ponsel Je Ha tiba-tiba berbunyi, sesaat dia menerima panggilan itu dan wajahnya mulai tampak panik,”Baik, aku akan ke sana sekarang!” kalimat itu Je Ha ucapkan untuk mengakiri percakapan di telephon.

“Ada apa, Oemma?”

“Min Ho mengalami kecelakaan di pacuan kuda. Mereka bilang lengan kanannya agak retak. Huh! Anak itu, sudah kubilang untuk berhenti berkuda, masih nekat saja.”

Mata Sun terbelalak mendengar penjelasan Je Ha, tangan itu? Tangan yang terangkat itu retak?

“Kau ikut Oemma, kan, Sun?” tanya Je Ha.

“Mwo?” mata Sun semakin melebar saja.

“Ikut Oemma melihat keadaan Min Ho?” tanya Je Ha sekali lagi.

Sun menggeleng. Je Ha menghela nafas,”Perlu waktu berapa lama lagi, Sun?”

Sun menunduk,”Mianhamnida, Oemma.”

“Baiklah, kapan pun kau siap, datanglah, Sun ! Biar bagaimana pun kalian masih suami istri, jangan kau pungkiri itu.”

Sun mengangguk.

“Oke, Oemma pergi sekarang,” Je Ha meninggalkan taman itu dihantarkan oleh Sun.

Sun melambaikan tangannya saat mobil keluarga Lee bergerak meninggalkan manshionnya. Dan kini gantian mobil yang ditumpangi Min Jae terparkir di depannya. Min jae yang keluar dari mobil itu segera memeluknya.

”See, Mom. I got the medallion!” Min Jae memamerkan kemenangannya pada Sun. Sun memperhatikan medali-medali itu, terutama yang medali bergilir, dia yakin medali itu yang diterimanya dari Min Ho tiga belas tahun yang lalu. Sementara Sun masih terpaku, Min Jae sudah mulai memasuki manshion. Sun segera mengejar putranya yang akan menaiki tangga menuju lantai atas,”Apa kau memenangkan pacuan kuda kelas senior?” tanya Sun.

“Yes, Mom. Why?” Min Jae menjawab sambil menghentikan langkahnya. Sun menggeleng. Dia sebenarnya ingin bertanya apakah Min Jae bertemu Min Ho di sana, tapi dia bingung mau memulai dari mana.

“Was everything oke when I went, Mom?” tanya Min jae. Sun tersenyum lalu mengangguk,”Kau tidak makan siang?”

Min Jae menggeleng,”No, I’m so tired now. I will go to bed.”

Min jae segera menaiki tangga yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai dua. Sun kembali lagi ke ruang kerjanya. File-file itu sudah tidak menarik perhatiannya lagi karena pikirannya kini tertuju pada Min Ho. Dalam hati dia mengkawatirkan keadaan suaminya itu. Bunga-bunga mawar itu ternyata mulai melelehkan hatinya. Lengan kanan Min Ho retak? Dia mulai mengingat tangan kanan itu yang selama ini menjadi momok baginya. Seharusnya dia merasa lega mendengarnya, tapi ternyata yang dirasakan adalah sebaliknya.

Saat Sun dan Min Jae makan malam pun, Sun seperti tidak fokus dengan hidangan di depannya. Alhasil  sup asparagus kesukaannya hampir tak tersentuh. Dia lebih banyak bengong, bahkan Min jae yang sedari tadi ngoceh tentang pacuan kuda hanya ditanggapi dengan jawaban yang pendek-pendek.

“Mom, are you listenting to me?” Min Jae yang merasa terabaikan mulai protes, dan hal ini membuat Sun kaget, “Ne, Min Jae.”

Min Jae mendengus kesal,”I’ll go to my room now.”

Sun tersenyum menghantar kepergian Min Jae.

Malam semakin larut saja dan mata Sun tidak juga terpejam. Tubuhnya hanya bergerak gelisah di atas tempat tidur. Tiga jam yang lalu Je Ha mengabarkan bahwa Min Ho harus rawat inap di Seoul Hospital, sementara tanaman mawar keenam yang tiba sore tadi terpampang indah di sudut kamarnya hingga dia mampu melihatnya dari tempat berbaring. Apakah aku memang merindukanmu, Min Ho-ssi? Baru sekarang aku sadar ternyata tiga belas tahun sangatlah lama.

Sun bangkit. Sesaat dia berganti pakaian, merapikan dandanannya lalu meraih tas dan kunci mobilnya. Sesaat mobil itu merayapi jalan raya Seoul. Semua sudah diputuskannya, dia hanya ingin melihat keadaan Min Ho, dan dia yakin Min Ho pasti sudah tidur sekarang karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.

Benar juga, saat Sun sampai di kamar Min Ho di Seoul Hospital, Min Ho tampak sudah terlelap. Lengan kanan  Min Ho terperban menyampir aman dengan gendongan di dadanya. Sun mendekat ke Min Ho yang terbaring. Diamatinya wajah terlelap itu hingga dia mulai menyadari betapa sangat dirindukannya wajah itu. Dulu dia sering menyentuh wajah itu, dan keinginan itu mulai ada lagi sekarang, perlahan tangan kanannya terulur dan dengan jari telunjuknya dia mulai menelusuri wajah Min Ho, mulai dari dahi, mata, hidung hingga perlahan turun ke dagu.

Sun terkejut saat tiba-tiba tangan kiri Min Ho menangkap gerakan tangannya di atas wajah itu. Min Ho membuka matanya lebar-lebar,”Aku tahu ini kau, Baby. Aroma mawar ini sangat kurindukan.”

Sun terkejut saat tangan kiri Min Ho mengunci lehernya hingga kepala mereka lebih mendekat, lalu Min Ho mencium bibirnya. Mula-mula hanya ciuman lembut, tapi lama-lama ciuman itu semakin menuntut. Mata Sun membelalak mendapati hal itu. Terlambat, lidah panas itu sudah terjulur. Min Ho sangat ingin melepaskan semua kerinduannya malam ini. Min Ho bahkan tidak perduli ponsel Sun tiba-tiba berteriak-teriak minta diangkat, dan dari nada dering yang terdengar, Sun tahu kalau Min Jae yang menelpon.

Sun semakin meronta karenanya, tapi Min Ho tak menggubris. Min Ho bahkan mengacuhkan nafas Sun yang semakin tersenggal. Baginya itu adalah music yang sangat indah malam ini, sementara ponsel itu masih saja berbunyi. Sun yang mulai kesal mencengkram lengan kanan Min Ho yang terperban. Min Ho kesakitan dan akhirnya melepaskan ciuman itu.

Sun mengatur nafas sembari mengelap bibir. Air mata mulai menjalar di pipi saat dia mengangkat ponsel.

“Mom! Where are you? There is email from New York!” Min Jae terdengar kesal di telepon, dan Sun pun hendak meninggalkan kamar Min Ho. Langkahnya terhenti saat tangan kiri Min Ho menahannya. Dia menoleh,”Miane, Min Ho-ssi. Aku harus pergi.”

“Baby….,” Min Ho masih saja memanggil saat tubuh mungil itu sudah berada di ambang pintu,”Aku mohon jangan pergi.”

Sun tidak perduli. Dia semakin keluar dari ruangan itu. Dia tidak lagi mengenali perasaan sendiri. Kenapa aku masih mencintainya? Kenapa? Dia masih saja menangisi kenyataan itu saat mobilnya sudah melaju kembali ke Goo Mansion. Sementara Min Ho di dalam kamar masih sangat pilu, dipandanginya pintu yang masih terbuka lebar itu. Miane, Baby. Miane…. Jeongmal Miane….. Jeongmal…..

TBC PART 7

2 thoughts on “DINASTI LEE II (Part 6)

  1. eonn ni ff baru eonni ya,,d post d blog,,aq langsung baca ke part 6,jd kurang nyambung baca ff’a,,papi mami dah nikah trus punya ank??hmmm bingung sendiri dah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s