DINASTI LEE II (Part 7)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 7

“Apa!” Min Ho berteriak kesal di kantornya. Lengan kanannya yang sakit masih terperban di gendongan.”Bagaimana mungkin enam puluh lima persen saham ada di GMJ? Aku sudah bilang tarik saham yang di pasaran!”

Hongki yang merasa disindir membela diri,”Aku sudah melakukannya, Hyung…. Aku juga tidak tahu bagaimana ini terjadi.”

Min Ho murka. Dia bangkit dari duduknya lalu mencengkram kerah baju hongki,”Kau selalu tidak tahu apa-apa!” Hongki semakin ketakutan. Han yang sedari tadi juga ada di ruang itu menghentikan tindakan Min Ho,”Tidak ada gunanya emosi, Tuan Lee. Semua telah terjadi.”

Min Ho masih belum melepaskan cengkeraman tangan kirinya atas kerah Hongki,”Bagaimana mungkin mereka mendapatkan lima belas persen lagi padahal hanya sepuluh persen yang berada di pasaran?”

Hongki mulai menyadarinya juga. Dia jadi tahu maksud Min Ho mencengkeram lehernya,”Bukan aku penghianat di sini, Hyung!” Hongki berusaha melepaskan diri dari Min Ho. Dia berhasil. Min Ho kembali lagi ke kursinya.

Han berpikir sejenak. Semenjak Lee Corporation di ambang krisis, Je Ha yang sudah pensiun memerintahnya untuk kembali ke perusahaan karena Hongki diangggap kurang cakap,”Anda benar, Tuan Lee. Sepuluh persen saham di pasaran sudah ditarik, dan ini bukan waktunya bagi Lee Corporation mengeluarkan saham baru lagi, padahal empat puluh persen saham di tangan keluarga.”

Mata Min Ho bergerak liar, “Ada kemungkinan penghianatan di sini.” Dia sangat marah mendapati kenyataan itu. Siapa pihak keluarga yang menjual saham pada GMJ?

“Aku akan segera menyelidikinya, Hyung!” Akhirnya Hongki tanggap juga. Min Ho memijit-mijit pelipis kirinya. Dia mulai memikirkan apa yang terjadi jika perusahaan asing itu mulai mengambil alih. Bagaimana dengan nasib ribuan pekerja dan rekan bisnisnya, dan terpenting lagi, bagaimana nasib keluarga Lee ? Dia berdiri dan memandang ke dinding kaca di belakang meja kerjanya. Di bawahnya pemandangan Seoul menyapa.

”Kira-kira apa yang GMJ lakukan pada perusahaan-perusahaan yang berhasil diakuisisi?” Min Ho jadi ingin tahu langkah GMJ selanjutnya. Hongki menjawab dengan berat hati,”Perusahaan terakhir yang GMJ akuisisi adalah  Thurston’ Inc di Kanada, GMJ melakukan broken padanya.”

Min Ho tiba-tiba merasa sesak nafas. Seketika tubuhnya oleng. Hongki dan Han bersamaan menahan tubuh Min Ho agar tidak ambruk. Min Ho memegang dadanya yang serasa sakit.

“Tuan Lee, Anda tidak apa-apa?”

“Gwencana, Hyung?”

Min Ho mendorong tubuh Hongki yang masih menahannya,”Lakukan penyelidikan segera!”

Hongki segera keluar dari ruangan itu untuk melakukan penyelidikan sementara Han masih mencoba menenangkannya,”Saya akan mencoba melakukan pendekatan dengan GMJ jika utusan mereka ke sini. Saya yakin masih ada pilihan lain selain akuisisi.” Han pun segera undur diri.

Dan kini tinggallah Min Ho dengan pikiran ruwet dan hati yang sumpek. Dunia seakan berputar seratus delapan puluh derajat baginya, jika dulu dia terkenal sebagai pebisnis yang ulung, kini dia kalah oleh sebuah perusahaan asing yang baru saja membuka cabang di negerinya itu.

Hal gila yang Min Ho lakukan untuk menghilangkan kepenatan otaknya adalah mengunjungi sebuah bar. Dia minum-minum, merasa menjadi orang termalang di dunia kini. Selama ini yang menjadi hiburan baginya semenjak Sun pergi adalah bisnis dan pacuan kuda, tapi sekarang semuanya seakan terampas. Bisnisnya bangkrut, di pacuan kuda dia kalah oleh anak ingusan.  Dan Sun? Goo Mansion sangatlah dekat, tapi Min Ho tidak punya keberanian untuk menemui ratu hatinya itu.

“Tuang lagi!” perintah Min Ho pada bartender. Dia sudah sangat mabuk, pandangan matanya ngelantur dengan wajah yang memerah. Bartender itu tampak ragu melayaninya,”Anda sudah sangat mabuk, Tuan Lee.”

Min Ho menggebrakkan sloki beling itu ke bartable,”Aku bilang tuang lagi!” Bartender pun mengalah, dengan menggelengkan kepala dia menuangkan minuman beralkohol itu ke dalam sloki dan segera diteguk oleh Min Ho,”Lagi!”

Bartender menggeleng. Min Ho kesal, dia melemparkan sloki itu ke dinding sudut bar lalu mulai berjalan oleng ke arah toilet. Dia menyapa beberapa pengunjung yang memandanginya di bar itu dengan pandangan ‘ngapain kau lihat-lihat’. Karena jalannya yang ngawur, dia menabrak seorang pelayan bar sehingga baki yang dibawa pelayan itu tumpah,”Ups, Sory…”

Dia tertawa cekikikan padahal bajunya basah karena minuman yang dibawa oleh pelayan itu tumpah di dadanya. Di toilet, dia mulai memuntahkan semua isi perutnya. Minuman laknat itu sudah menghabisi pencernaannya. Dia terus saja memuntahkan semuanya, dan saat dirasa telah berakhir, dia membasuh wajahnya. Sesaat kesadarannya muncul lagi.

Dia mulai menyadari kalau ada wanita di toilet itu. Dia agak heran. Toilet pria dan toilet wanita terdapat di arah yang berlawanan dari sisi bar, dan dia yakin tidak salah masuk.

“Kau salah masuk toilet, Nona,” Min Ho menegur gadis itu.

Tiba-tiba gadis itu merobek pakaiannya sendiri. Gadis itu juga menarik tangan kiri Min Ho lalu sengaja mencakarkan kuku-kuku jari Min Ho ke lengannya. Min Ho terkejut dengan tindakan gadis itu, dan dia semakin panik saat gadis itu mulai berteriak.

“Tolong ! Tolong ! Dia mau memperkosaku! Tolong!”

Semua pengunjung bar menghambur masuk ke toilet. Suasana seketika heboh. Bodyguard bar segera mengamankan Min Ho dan membawanya ke kantor polisi, dan akhirnya malam itu Min Ho harus menginap di penjara atas tuduhan pelecehan seksual.

(Author said,”Mampus, loe…. But… ini hukuman karma yang terakhir bagi Min Ho.”)

—— > * < ——

Emosi Donghae memuncak. Keluarga Lee dipermalukan karena Min Ho dipenjara atas kasus pelecehan seksual, dan sekarang Hongki mendatangi rumahnya dengan tuduhan sebagai penghianat yang menjual saham Lee Corporation pada pihak lawan.

Donghae berusaha membela diri,”Bukan aku pelakunya!”

Hongki muntab, bukti sudah jelas-jelas ada tapi Donghae masih mengelak,”Kau pikir aku menuduh tanpa bukti, Hyung. Semuanya sudah jelas! Kau yang berkhianat!”

“Aku bahkan tidak kenal dengan lawan Lee Corporation. Sudah kubilang aku bukan bagian dari bisnis ini !”

Hongki membuka file yang ada di tangannya lalu menunjukkan pada Donghae,”Lalu siapa yang tanda tangan di sini. Pengalihan seluruh sahammu di Danareksa seminggu yang lalu.”

Hongki menghembuskan nafas saat Donghae mengamati yang tertulis di file itu,”Seluruhnya, Hyung! Lima belas persen ke perusahaan lawan! GMJ’s Corp!”

Donghae terkejut saat Hongki menyebut nama GMJ’s Corp,”Apa kau bilang?”

“GMJ’s corp, Hyung!” Hongki mengulang pernyataannya. Mata Donghae semakin melotot, sementara angannya mulai kembali pada kejadian kira-kira dua minggu yang lalu.

Siang, satu hari sesudah pertemuan pertama dengan Sun, Donghae diundang Minjae untuk makan siang di suatu restoran. Dengan senang hati Donghae menerima undangan itu, dia berpikir inilah saatnya mengenal lebih jauh keponakkannya itu. Dari Sun, dia tahu keponakannya sangat jenius, master termuda lulusan Universitas Beijing. Dan karena study Min Jae di negeri tirai bambu itu, Sun bahkan sempat mengubah kewarganegaraannya menjadi warga Negara Cina hingga dia berpindah kewarganegaraan lagi menjadi Amerika karena bisnisnya di New York. Dan ternyata Sun tidak salah, Donghae melihat keponakannya itu sangat cerdas. Gaya bahasa Min Jae sangat lugas untuk anak seumurannya. Minjae bahkan dengan fasih menjelaskan padanya mengenai saham, obligasi, bagaimana menilai kebaikan dan keburukan suatu proyek. Tentu saja dengan bahasa Inggris yang kadang membuatnya mengkerutkan kening karena kurang canggih berbahasa Inggris.

“I hear that Uncle has stock at Lee Corporation, is it right?”

Dong Hae semakin pusing,”Aku kira kau bisa bahasa Korea, please speak Korean!”

Min Jae tertawa ngakak, segera dia menyuapkan sup Kimchi ke mulutnya, lalu mengunyahnya pelan sebelum bicara lagi,”Aku dengar Uncle punya saham di Lee Corporation, benarkah?”

Donghae mengangguk, diraihnya soju di depannya dan saat soju sudah melegakan kerongkongannya yang tersumbat, dia mulai menjelaskan, ”Semua keluarga Lee punya, dan karena di generasi ini ada aku, Hongki dan Abojimu, maka saham pihak keluarga ada di tangan kami. Apalagi halmonimu sudah pensiun beberapa tahun yang lalu, sudah pasti halmonimu menunjuk abojimu sebagai pewaris.”

“Semua keluarga Lee?” tanya Min Jae. Donghae mengangguk mantap. Min Jae tersenyum ke arahnya,”Uncle yakin?”

“Tentu, Min Jae.”

“Kalau begitu Mom bukan termasuk keluarga Lee,” ujar Min Jae lugas dan hal itu membuat Donghae menahan nafas,”Apa maksudmu? Tentu saja Oemmamu masih keluarga Lee. Mereka belum bercerai, Min Jae.”

Min Jae menaikan bahunya,”Mom tidak pernah menerima apa-apa dari keluarga Lee. Poor my Mom. Uncle pikir mudah bagi Mom membesarkanku di antara komunis Beijing itu?”

Donghae baru menyadari hal itu, pasangan suami istri itu sudah terpisah cukup lama. Dan dia juga tahu kalau selama ini Sun tidak pernah mau berhubungan sedikit pun dengan suaminya apalagi menerima materi yang sebenarnya masih menjadi haknya. Tentu sangat berat bagi Sun. Walau pun Goo Group sangat kaya, tetap saja hal ini tidak adil mengingat Sun adalah menantu keluarga Lee. Hidangan di depannya tiba-tiba tidak membuatnya berselera, akibatnya dia lebih memilih meneguk soju kembali.

“Uncle, aku ada penawaran. Bagaimana jika saham uncle aku beli separuhnya. Aku tahu Mom pasti tidak mau menerimanya, tapi aku juga keluarga Lee di sini, jadi aku berhak. Bagaimana?”

Donghae berpikir lagi. Memang benar, Min Jae adalah cucu keluarga Lee, suatu saat Lee Corporation jatuh ke tangannya. Jadi kenapa harus memperdagangkan sesuatu yang seharusnya memang menjadi hak Min Jae? Lagi pula sejak pertama aku masa bodoh dengan Lee Corporation. Uang devident yang kuterima tiap tahun sudah cukup memberikan modal untuk mendirikan usaha EO, dan sekarang usaha telah berkembang. Aku sudah tidak memerlukan saham-saham itu lagi.

“Kenapa harus membeli? Tentu saja aku akan memberikan semua sahamku padamu, Min Jae. Semuanya! Lima belas persen dari total saham Lee Corporation,” Donghae akhirnya memutuskan sambil menepuk-nepuk bahu Min Jae. Ponakannya itu tersenyum puas. Donghae mulai menyentuh lagi hidangan di depannya,”Datanglah ke Denareksa besok. Aku akan ‘atas tunjuk’ sahamku padamu.”

Min Jae menggeleng,”Aku masih kecil untuk tanda tangan, dan karena Mom pasti menolak, aku akan menunjuk Grandpa sebagai wali besok.”

“Harabojimu datang besok?”

“No, Grandpa memang sedang ada di Seoul sejak dua hari yang lalu dan dua hari lagi beliau kembali ke New York.”

Donghae manggut-manggut.

“Uncle, aku akan memberitahu Grandpa agar tidak memberitahu Mom, jadi aku harap Uncle juga tidak memberitahu Mom.”

Sekali lagi Donghae mengangguk. Perkataan Min Jae ada benarnya juga, jika Sun tahu, sudah pasti dia bersikeras menolak saham itu. Minjae mengangkat gelas,”Mari kita tos untuk regenerasi keluarga Lee, Uncle.”

Donghae tertawa. Kedua gelas itu akhirnya beradu.

Dan kini Donghae semakin ngakak menyadari kebodohannya terperangkap jebakan Min Jae. Yang selama ini belum diketahuinya adalah Goo Group sudah berubah nama menjadi GMJ’s Corp. Dia semakin memperkeras tertawanya dan itu membuat Hongki jengkel setengah mati,”Dasar bocah licik!”

“Licik! Kau yang licik! Sudah berkhianat masih tertawa ngakak seperti itu,”cerocos Hongki yang merasa ditertawakan.

“Bukan kau yang kumaksud! GR sekali, kau!”

Hongki memicingkan matanya,”Lalu siapa? Di ruangan ini hanya ada kau dan aku.”

Donghae berdiri dari duduknya lalu berkacak pinggang di depan Hongki,”Kau ingin tahu siapa GMJ’s Corp? Ikuti aku!”

Hongki menurut saja saat Donghae membawanya ke suatu tempat. Dia hampir saja tak percaya tempat yang mereka datangi itu adalah Goo Manshion. Dia memang jarang ke mansion ini, tapi masih ingat betul bangunan itu adalah Goo Manshion. Mereka kini sudah ada di ruang tengah manshion itu, menanti pelayan yang masuk ke dalam menyampaikan kedatangan mereka pada tuan rumah.

“Hyung, kenapa kita ke sini? Kau bilang mau menunjukkan GMJ,” Hongki menyenggol lengan Donghae.

“Sssst, lihat saja nanti.”

Pelayan yang ditunggu akhirnya datang juga,”Nyonya akan menerima Tuan-tuan di perpustakaan, mari ikuti saya.”

Kedua pria itu segera membuntuti pelayan menuju perpustakaan. Dan saat pintu perpustakaan terbuka lebar, Hongki benar-benar tidak mempercayai pemandangan di depannya. Di situ Sun berdiri anggun dibalik meja kerjanya dengan kemeja putih berkerah tinggi dan rok pensil hitam yang elegan, terus terang baru kali ini dia mendapati sepupu iparnya itu tampil bak wanita karir yang cemerlang. Saat Sun menyongsong kedatangan mereka dengan ramah dan tangan terbuka, mulut Hongki semakin terbuka lebar.

“Silahkan duduk,” Sun menunjuk ke sofa di ruangan itu. Donghae segera duduk, tapi Hongki masih saja berdiri takjub. Sun tersipu karenanya,”Hongki-ssi, senang bertemu denganmu. Kau pasti capek berdiri terus, bisakah kau duduk agar kita ngobrol dengan santai?”

Hongki tersadar dari kekonyolannya lalu duduk bersebelahan dengan Donghae.

“Noona, maaf jika kehadiran kami mengganggu, tapi apa Noona tahu Min Jae telah menguasai enam puluh lima persen saham Lee Corporation?” Donghae memulai pembicaraan. Sun jadi kaget dengan fakta yang dibeberkannya,”Aku tidak mengerti, mereka sudah kusuruh melepaskan semua saham itu.”

“Hyung, ada apa ini? Siapa Min Jae?” Hongki masih saja lamban berpikir. Donghae mulai kesal,”Kau masih saja tidak mengerti? GMJ! Goo Min Jae! Min Jae alias Lee Min Jae, putra dari Minho-ssi dan Hyesun Noona!”

“Tapi, tapi bagaimana bisa, Hyung? Anak itu lahir tiga belas tahun yang lalu, tidak mungkin dia berpikir masalah bisnis!”

Donghae menenangkan Hongki,”Kapan-kapan aku akan menceritakan padamu tentang Min Jae.” Pandangan Donghae mulai tertuju lagi pada Sun,”Miane, Noona. Aku kagum dengan kecerdasan Min Jae, tapi keluarga Goo rupanya telah membentuk mesin pembalas dendam.”

“Dendam? Anakku bukan pendendam, Donghae-ssi. Kau tidak berhak menuduhnya tanpa bukti.”

“Minjae melakukan semuanya, Noona. Dia menghancurkan kesombongan Min Ho dengan mengobrak-abrik Lee Corporation, lalu dengan curang membuat lengan Min Ho patah untuk memenangkan kompetisi berkuda, dan yang terakhir, mungkin dia juga yang memfitnah abojinya itu hingga terpenjara atas tuduhan pelecehan seksual.”

“Aku tidak sebejat itu!” Min Jae tiba-tiba berteriak sembari memasuki perpustakaan yang luas itu. Suaranya yang keras nyaris menggema di dinding-dinding ruang. Hyesun segera berlari ke arahnya,”Minjae, katakan semua ini tidak benar, Nak! Kau tidak mencelakakan Abojimu, kan?”

Donghae dan Hongki bangkit dari duduknya. Hongki sangat terkejut melihat sosok Min Jae, dia berbisik pada Donghae,”Jadi remaja asing itu?” Donghae mengamini pikiran Hongki. Dia mendekati Ibu dan anak itu. Lalu menepuk pundak Min Jae lembut,”Anak yang cerdik, aku bahkan tertipu olehmu atas nama regenerasi keluarga Lee.”

Min Jae memandang sinis ke arahnya walaupun dia masih memeluk  Sun,”Aku tidak menipumu, tapi aku merayumu.”

Sun melepaskan diri dari pelukan Min Jae,”Jadi semua itu benar? Kau…. Kau memfitnah abojimu? Jawab, Min Jae!” Sun mengguncang-guncang tubuh putranya. Min Jae jadi emosi,”Aku tidak memfitnah! Mungkin tentang saham dan pacuan kuda itu iya, tapi aku tidak memfitnah pria itu melakukan….. melakukan… apa tadi maksudnya?”

Mereka bertiga heran dengan pernyataan Min Jae. Sun mulai menyadari semuanya,”Dia terlalu kecil untuk mengerti istilah itu.”

Donghae mengangguk,”Sepertinya kau harus melakukan penyelidikan lagi pada kasus pelecehan seksual itu, Hongki-ssi. Min Jae mungkin cerdas berbisnis, tapi bagaimana pun dia masih anak kecil hingga tak tahu persoalan itu.”

“Bisa kupastikan Min Jae bukan yang memfitnah,” Sun membelai wajah putranya.

“Araso,” Hongki juga tidak yakin Minjae pelakunya. Sun duduk di sofa lagi, ketiga pria itu melakukan hal yang sama.

“Sekarang Oemma ingin kau membereskan semuanya, Nak. Minta maaf pada Appa-mu dan kembalikan saham Lee Corporation.”

Min Jae bangkit dari duduknya,”Aku tidak akan mengembalikannya. The corporate is mine, Mom! Mine!” Min Jae segera keluar perpustakaan setelah menendang kaki meja. Sun mengelus dada mendapati kelakuan anaknya. Kenapa kau jadi mirip abojimu, Nak?

Sun menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Hari ini dia merasa menjadi ibu yang gagal. Gagal mendidik Min Jae,”Miane, Donghae-ssi, Hongki-ssi, Putraku sangat menyusahkan kalian.”

“Anak itu…. Dia sangat mirip dengan Hyung. Hebat, Noona, satu lagi namja cemerlang lahir di keluarga Lee, sepertinya hanya aku yang bodoh di keluarga Lee,” Hongki masih saja cengengesan menjelek-jelekkan diri.

“Aku akan membereskan tentang Lee Corporation, Donghae-ssi, Hongki-ssi. Kalian bisa percayakan semuanya padaku, semua keputusan GMJ’s corp ada padaku. Min Jae hanyalah otak,” Sun meyakinkan kedua pria itu.

Donghae mengibaskan tangannya,”Itu masalah gampang, Noona. Lagipula Min Jae yang nantinya mewarisi semua itu.” Hongki pun manggut-manggut, dia membenarkan pula pernyataan Donghae.

“Yang sekarang ini musti Noona lakukan adalah menjenguk Minho-ssi di penjara.”

Sun terkesiap mendengar lanjutan omongan Donghae. Wajah Hongki juga tiba-tiba sumringah,”Ne, Noona. Hyung pasti akan senang sekali jika Noona melakukannya. Sebenarnya semenjak Hyung tahu Noona sudah ada di Korea, dia semakin crewet. Aku jadi pusing karena dia menyuruhku mengirimkan tanaman mawar tiga kali sehari ke sini sampai Noona mau menemuinya.”

Sun tertawa mendengar penuturan Hongki. Salah satu tanaman itu dia letakkan di sudut perpustakaan,”Jadi kau yang mengirimkannya, Hongki-ssi?” Sun menunjuk mawar itu. Hongki mengangguk,”Tentu saja atas perintah Hyung.”

Donghae meraih tangan Sun lalu menepuk punggung tangan halus itu,”Apa yang Noona takutkan lagi. Kesombongan Min Ho sudah lenyap. Tangan yang terangkat itu tidak dapat bergerak untuk sementara waktu dan fitnahan juga terbalaskan oleh orang yang belum kita ketahui. Tidak ada yang mengkawatirkan dari Min Ho sekarang.”

“Dia pasti meragukan Min Jae.”

Hongki menggeleng,”Anhi, Noona. Hyung bahkan hadir pada malam setelah anak itu lahir. Dia sudah menyadari kesalahannya. Dia memang selalu bicara ngawur kalau marah, mungkin pada waktu itu Noona tidak tahu karna baru saja mengenalnya.”

“Jinja?” Sun mulai terharu. Aliran bening mulai mengaburkan penglihatannya. Kedua pria di depannya itu mengangguk. Donghae masih saja menepuk-nepuk punggung tangannya,”Kita temui dia sekarang, Noona. Akan lebih baik jika semua beres sekarang juga.”

Hongki mengangguk-angguk sambil tersenyum. Akhirnya mereka bertiga menuju kantor polisi. Min Ho sebenarnya malas menerima tamu tapi saat sipir penjara mengatakan Hongki ada urusan penting yang harus di sampaikan, akhirnya dia mau juga menemui Hongki dan terkejut saat mendapati Donghae juga menjenguknya,”Mau apa kau ke sini?” Donghae hanya tersenyum menjawab pertanyaan sinisnya. Dia menjadi emosi,”Kau berkhianat dengan menjual sahammu pada GMJ.”

Donghae masih saja tersenyum,”Aku tidak menjualnya, tapi aku menyerahkannya demi regenerasi keluarga Lee.” Donghae masih saja meminjam istilah yang diberikan oleh Min Jae. Min Ho mengkerutkan kening karenanya.

“Hyung! Kau ingin tahu GMJ’s Corp, kan? Kau pasti terkejut jika mengetahui pemiliknya. Kalian akan bertemu sekarang,” Hongki berbicara dengan riang, Min Ho semakin tidak mengerti, bagaimana mungkin dia sesenang itu berkenalan dengan musuh?

“Masuklah, Noona,”Donghae memanggil Sun. Yang dipanggil memasuki ruang besuk tahanan itu dengan takut-takut. Min Ho terkejut melihat Sun. Dia tidak menyangka kalau selama ini musuhnya adalah istrinya sendiri.

“Duduklah, Noona,” Hongki si pria ramah itu mempersilahkan Sun bergabung. Sun menduduki kursi yang ditunjuk Hongki, kini Min Ho sudah berada tepat di depannya, memandanginya tanpa berkedip. Donghae senyum dikulum melihat tingkah keduanya,”Bukan dia pelakunya, Minho-ssi!”

“Kau bilang Sun pemilik GMJ’s corp?” Min Ho semakin bingung.

“Miane, Min Ho-ssi. Aku akan membereskan semuanya. Min Jae terlalu nakal, tapi dia pasti akan menyadari kesalahannya,” Sun menjelaskan panjang lebar, tapi Min Ho semakin mengkerutkan dahi,”Siapa Min Jae?”

“Minjae, remaja asing yang mengalahkanmu di kompetisi berkuda, putramu sendiri,” Donghae menerangkan.

“Mwo?”

“Ne, Hyung. Selama ini ternyata bocah cerdas itu yang mengambil alih enam puluh lima persen saham kita dan memasukkannya ke GMJ’s corp. Donghae bahkan tertipu olehnya.”

“Aku tidak tertipu, memang saham itu akhirnya jadi miliknya,” Donghae masih saja membela diri,”Sudah kubilang aku melakukannya atas nama regenerasi keluarga Lee.”

“Dan aku juga bodoh karena tidak memeriksa dulu waktu Min Jae menyodorkan dokumen itu padaku untuk ditandatangani,”Sun menyesali diri.

“Aku tidak mengerti. Dia masih tiga belas tahun kan, Baby?”

“Tiga belas tahun tapi sudah meraih gelar master di bidang bisnis dari Universitas Beijing,” terang Donghae,”Kau dikalahkan oleh putramu sendiri, Min ho-ssi.”

Hongki tertawa mendengar kalimat terakhir Donghae. Min Ho mendelik ke arahnya. Semua wajah di ruangan itu masih tegang, hingga akhirnya Hongki berhenti tertawa menyadari waktu yang tidak tepat.

“Bisa kalian tinggalkan kami sebentar? Mungkin istriku bisa lebih menjelaskan hal ini.”

Hongki dan Donghae mengangguk, lalu bersamaan mereka meninggalkan ruangan itu. Kini tinggallah pasangan suami istri itu. Sun  semakin gugup. Minho memandanginya dengan penuh kerinduan dan hal itu semakin membuat Sun tertunduk. Tangan kiri Min Ho yang tidak terperban meraih pergelangan tangan Sun yang berada di atas meja,”Ternyata banyak hal yang aku lewatkan selama tiga belas tahun ini, Baby.”

Min Ho mencium buku-buku tangan Sun lembut. Sun mulai memandang ke arahnya. Min Ho berdiri, lalu menduduki kursi tepat di samping Sun dan memeluknya,”Aku senang kau kembali, Baby.”

“Aku…. Aku….hanya ingin memperbaiki kesalahan Min Jae.”

Min Ho semakin mempererat pelukannya,”Aku tidak perduli kau masih mengelak. Yang terpenting kau ada di sini sekarang. Anak itu secara tidak langsung menyatukan kita, Baby.”

Sun melepaskan diri dari pelukan Min Ho, “Kau meragukan anak itu, Min Ho-ssi. Kau bilang akan melakukan tes DNA, kau akan menyakitinya jika melakukan itu.”

“Baby….., aku sangat marah waktu itu. Orang bilang aku selalu bicara ngawur saat marah.”

“Aku tidak tahu itu ! Aku bahkan kurang mengenalmu pada waktu itu!” Sun menangis sudah, semua ini begitu menyakitkan baginya. Mendapati dirinya hanya salah paham dan memisahkan diri dari Min Ho membuatnya pilu. Suaminya itu menghela nafas.

Dengan lembut  Min Ho menepuk pundaknya agar lebih tenang lalu meraih tubuhnya lagi dalam pelukan,”Kau tahu, Baby? Di belahan lain dunia ini ada juga orang yang menikah karena dijodohkan. Mereka bahkan belum pernah bertemu sebelum ikrar pernikahan karena sangat percaya pada orang yang menjodohkan, tapi mereka hidup bahagia selamanya. Tapi aku jatuh cinta padamu sebelum perjodohan itu. Kau ingat pesta kebun Yu Jin?”

Masih dalam pelukannya, Sun mengangguk.

“Di situlah aku jatuh cinta padamu. Aku bahkan mengamatimu menggambar di pinggir danau dan kau menyanyikan The green grass of home.”

Sun semakin terisak di pelukan Min Ho.

“Dan saat mendapati bahwa kau lah yang dijodohkan denganku, aku bersumpah tidak akan melepaskanmu. Jadi maafkan jika aku terlalu posesif.”

Sun semakin terharu, tenggorokannya serasa pahit karena tangisan itu semakin menggebu.

“Tapi ada yang kulupakan, Baby. Aku lupa pada hal yang mungkin akan menyakitkanmu. Masa laluku dan sifat aroganku. Miane, Baby. Jeongmal Miane,” kini giliran Minho yang menangis.

“Aku mencari kalian tiga belas tahun ini. Selama tiga belas tahun mengukungkan diri dalam pekerjaan, aku marah pada diriku sendiri, kenapa aku yang bodoh ini bisa mencelakakan kalian, membuatmu depresi dan hampir kehilangan anak kita.”

“Cukup, Min Ho-ssi! Aku mohon cukup!”

“Aku harus mengatakan semuanya, Baby. Aku sangat nerindukan kalian,” Min Ho melepaskan pelukannya lalu mengangkat wajah Sun hingga pandangan matanya sejajar bola mata Sun,”Berjanjilah kau tidak akan pergi lagi dariku. Lakukan apa saja untuk menghukumku asal kau tidak pergi dariku.”

Sun mengangguk. Min Ho tersenyum lega karenanya, sesaat mereka berpelukan lagi. Kesyahduan di antara keduanya menghiasi suasana ruangan itu.

(Whoa…. Aku benar-benar nangis Bombay di part ini. Miane aku gak bisa mikir lagi. bengek dulu, ya….)

TBC part 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s