DINASTI LEE II (Part 8)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 8

Seoul semakin heboh. GMJ’s corp, perusahaan asing di kota itu dikabarkan mengambil alih Lee Corporation. Semua pemegang obligasi, rekan bisnis, dewan direksi bahkan karyawan terendah mempertanyakan nasib mereka selanjutnya. Media masa semakin gencar memberitakan hal itu.

Goo Hye Sun memasuki gedung perkantoran Lee Corporation di dampingi Min Jae, Hongki dan Donghae. Para pekerja berdemo di halaman gedung, sementara rekan bisnis, dewan direksi, manajemen bahkan perwakilan dari para pemegang obligasi menunggunya di ruang rapat. Banyak hal yang harus diluruskan hari ini. Sun sebenarnya sangat bingung. Dia masih teringat perkataan Min Ho saat dia berniat mengembalikan saham-saham itu,”Tidak perlu, Baby. Sebentar lagi semuanya juga akan menjadi milik Min Jae, tinggal pintar-pintarnya kalian saja mengaturnya.”

Pintu ruang rapat itu terbuka lebar. Mereka berempat segera memasuki ruangan, hadirin berdiri dan membungkukkan badan ke arah mereka. Semua yang ada di situ mempertanyakan kehadiran Hye Sun.

“Bukankah itu Goo Hye Sun,” bisik seseorang pada teman di sampingnya.

“Siapa anak itu?” tanya yang lain pada yang lainnya.

“Kenapa dia kemari?”

“Kenapa dia baru muncul setelah Lee bangkrut?”

Mereka masih saja sibuk dengan pertanyaan masing-masing. Walau pun keempat orang yang baru hadir itu sudah duduk di kursi masing-masing. Min jae duduk di sebelah kanan Sun, dan mereka diapit oleh Donghae dan Hongki.

Sun berdehem sebentar untuk melegakan tenggorokannya yang terasa kering. Min Jae meliriknya sekilas. Dalam hati Min Jae mengira-ira apa yang akan Mom-nya katakan. Sun merasakan hal itu hingga tersenyum ke arahnya. Sun mulai mengalihkan pandangannya pada hadirin lagi. Suara lembut Sun  akhirnya merambati ruangan megah itu,”Saya adalah persero GMJ’s Corp.”

Semua hadirin terkejut mendengar kenyataan itu. Sesaat suara dengungan menjalari ruangan karena mereka mulai ribut. Sun mulai bersuara lagi,”Untuk sementara saya yang akan memutuskan segalanya tentang Lee Corporation, tapi setelah putra saya cukup umur, dia yang akan mengambil alih semuanya.”

Semua hadirin semakin terperangah.

“Dia adalah GMJ dan putranya yang mengambil alih?”

“Anak siapa itu? Bukankah mereka berpisah tiga belas tahun yang lalu?”

“Oh…, fitnahan itu membuatnya membalas dendam rupanya.”

Suara-suara itu terdengung lagi seperti bunyi sekumpulan tawon.

Sun berdiri,”Putra kami akan mengambil alih setelah berumur dua puluh tahun.”

Donghae pun berdiri,”Ladys and gentlemen, please welcome to the new generation of Lee Dinasty, Lee Min Jae!”

Donghae mengangkat lengan Min Jae hingga akhirnya anak itu berdiri. Semuanya semakin heboh. Sun tersenyum,”Ne…., Lee Corporation akan diambil alih oleh Lee Min Jae, putra dari Lee Min Ho-ssi.”

Para hadirin yang merasa lega memberikan applause. Suara tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Mereka merasa lega karena pada akhirnya penguasa Lee corporation adalah keluarga Lee sendiri. Tapi tidak bagi Min Jae. Dia merasa kesal karena Donghae dan Sun memperkenalkan dirinya sebagai Lee Min Jae bukannya Goo Min Jae seperti yang selama ini dia lakukan. Dia bahkan keluar dari ruangan itu setelah membanting pintunya keras-keras, sekali lagi Sun mengelus dada melihat tingkahnya, tapi masih tersenyum membalas jabat tangan dan ucapan selamat dari para hadirin di situ.

Keesokan harinya, Min Jae mendatangi Lee Corporation pagi-pagi sekali. Semalam dia sudah menyuruh orang untuk mempersiapkan kantor Sun di Lee Corporation Building. Dan kini dia sudah berada di ruangan itu, merasa puas dengan hasil kerja dari orang yang disuruhnya. Tidak banyak perubahan yang dilakukan pada ruangan itu, dia hanya menyuruh orang itu untuk mengganti tagname yang terletak di atas meja, menurunkan foto-foto Min Ho dari dindingnya serta mengirimkan semua piala dan penghargaan yang selama ini terpampang di buffet ke Lee Manshion. Ya, ruangan itu memang sebelumnya kantor Min Ho.

Min  Jae berdiri sembari berkacak pinggang mengamati setiap sudut dari ruangan itu. Tagname itu sudah bertuliskan nama Goo Hye Sun. foto-foto itu telah berganti dengan foto Sun dan dirinya serta lukisan-lukisan Sun, buffet itu kini telah berisikan piala-piala GMJ’s corp dan piala-piala yang selama ini diraihnya di bidang akademik. Dia mulai meraih tas ranselnya yang sedari tadi diletakkannya di sofa. Dia menduduki sofa itu, tangannya mencari-cari sesuatu dari tas ransel itu. Sofa itu ternyata juga sudah digantinya dengan model minimalis yang lebih feminin.

“Aha, This is it!” dia berseru saat tangannya menangkap benda yang dimaksud, satu folder dokumen-dokumen yang harus ditandatangani Sun. Dia lalu berjalan ke arah meja kerja Sun, lalu meletakkan map itu di sana.

Pintu terbuka tiba-tiba, dan Sun segera memasuki ruangan itu. Dia berhenti sejenak mengamati perubahan ruangan itu, sedangkan Min Jae yang duduk menyampir di meja kerja tersenyum lebar ke arahnya,”See, Mom. I made this room comfort for you!”

Sun masih saja terperangah. Apalagi saat mendapati beberapa lukisannya terpampang di sana.

“I found the pictures before. And this tagname is so good for you!” Minjae bicara sambil mengangkat tagname yang ada di atas meja. Sun tersenyum kepadanya lalu berkata,”Gumawo, but…..”

Min Jae menahan nafas saat Sun mengucapkan kata yang terakhir.” But I don’t need this room, Son.” Lanjut Sun. Sun lalu duduk di Sofa dan bermain-main dengan hiasan lonceng kecil yang ada di meja. “Oemma akan tetap di GMJ’corp sedangkan urusan di Lee Corporation akan ku serahkan pada professional, Min Jae.”

“What?”

“Ne, dan Omma bahkan sudah menunjuk orangnya.” Lonceng itu berbunyi lirih saat Sun menggerak-gerakkannya. Sesaat dia teringat suara lonceng di gereja katedral saat dia dan Min Ho menikah.

“Mom menunjuk orang tanpa memberitahuku sebelumnya?”

“Miane, Min Jae. Tapi Oemma yakin pilihan Oemma sangat tepat. Kau tidak ingin tahu siapa orangnya?” Kali ini Sun meletakkan lonceng itu ke tempat semula dan mulai memandang putranya. Min Jae menangguk. Sun tersenyum bahagia karenanya lalu dia memerintah,”Masuklah, Min Ho-ssi!”

Mata Min Jae terbelalak mendapati semua itu.  Min Ho memasuki ruangan dengan pasti. Tangannya yang terluka masih terperban dalam gendongan.

“The oldman out from jail?” bagitu pikir Min Jae.

Min Ho berjalan ke arah Min Jae dan berusaha memeluknya, tapi Min Jae mengelak niatan abojinya itu. Min Jae bahkan mendekati Sun dengan pandangan menyala untuk meminta penjelasan,”It’s not funny, Mom.”

“Apanya yang lucu, Min Jae? Appamu cukup memenuhi syarat untuk mengurus Lee Corporation,” terang Sun. Amarah Min Jae seketika memuncak dan itu tampak dari wajahnya yang mulai mengeras, dia berusaha menahan semua itu dengan mengambil nafas lalu menghembuskannya lagi, begitu seterusnya sampai tiga kali.

”Oke! It’s enough! Just do what your want, Mom!”

Min Jae buru-buru meninggalkan ruangan itu. Sekali lagi pintu jadi sasaran emosinya dengan membantingnya keras-keras. Sun seketika memejamkan mata saat suara benturan terjadi.

“Apa dia sering seperti itu?” tanya Min Ho tiba-tiba. Sun membuka matanya kembali lalu tersenyum,”Sudahlah, dia pasti akan baik lagi nanti.”

Sun mengapit lengan Min Ho. Lalu mengarahkan Min Ho menuju meja kerja,”Mari kita lihat dokumen apa yang dibawa Min Jae.”

Sun membumbing Min Ho menduduki kursi dibalik meja kerja. Sun lalu berdiri agak membungkuk di samping kiri Min Ho dan  mulai membuka dokumen yang ada di atas meja. Min Ho bahkan tidak menggubris dokumen itu, dia mengamati perubahan ruang kerjanya,”Aku senang dengan perubahan interior ruangan ini.”

Pandangan Sun seketika teralihkan dari file-file itu. Kini dia menatap Min Ho dengan rasa bersalah. “Mianhamnida, Min Ho-ssi. Aku akan berusaha membuat semua barangmu kembali.”

Min Ho menggeleng,”Anhiyo, aku menyukainya, tidak perlu dirubah lagi. Aku jadi selalu teringat kalian saat di ruangan ini dan lebih giat bekerja.”

“Baiklah! Oke, File ini ternyata urusan GMJ’s Corp dan tidak ada hubungannya dengan Lee Corporation, dan yang ini untuk Lee Corporation tapi di sini masih tertera namaku, aku harus memerintahkan sekretarismu untuk mengubahnya,” Sun mulai memilah-milah dokumen itu.

Min Ho terenyum melihat tingkah Sun. Dia mendapati Sun sudah sangat berubah. Wanita di depannya itu sudah tidak lugu lagi seperti dulu. Sun yang sekarang begitu cemerlang, dengan pemikiran yang matang dan tegas.

“Waeyo?” tanya Sun saat melihat senyum Min Ho yang penuh tanda tanya.

“Nothing!” Min Ho mengangkat bahu. “Minjae benar-benar berusia tiga belas tahun?”

“Ne.” Sun mengangguk.

“Dia seperti anak karbitan yang matang sebelum waktunya,” Goda Min Ho. Sun tersenyum dengan pujian itu.  Tiba-tiba Min Ho memegang tangan Sun yang masih memilah-milah lembaran file itu, seketika gerakan tangan mungil itu terhenti,”Apakah aku masih punya kesempatan menjadi ayah yang baik, Baby?”

Sun tidak menjawab. Dan Min Ho bertanya lagi,”Apakah aku masih bisa menjadi kepala keluarga lagi bagi kalian?”

Sun melepaskan tangannya dari genggaman Min Ho. Dia menegakkan tubuhnya lalu mundur tiga langkah dari Min Ho,”Sepertinya hal itu perlu kau tanyakan pada Min Jae.”

Sun berjalan menuju tasnya yang tergeletak di sofa. Di sana juga terdapat tas ransel Min Jae. Anak itu rupanya terlalu marah tadi, hingga meninggalkan benda itu begitu saja. Sun mengambil tas ransel itu, lalu mengenakannya di punggungnya serta menjinjing tasnya sendiri.

“Aku pulang, Min Ho-ssi.” Sun membungkukkan badannya.

“Tunggu, Baby!” Cegah Minho.”Oemma mengundang kalian makan malam. Aku harap kalian datang.”

“Aku tidak bisa janji, Min Ho-ssi. Kau lihat tadi Min Jae sangat marah.”

“Jika Min Jae tidak mau setidaknya kau yang datang, Please…”

Sun tersenyum pada Min Ho,”Baiklah.”

“Aku pulang sekarang. Bye…”

Min Ho mengangguk. Sun melambaikan tangannya lalu keluar dari ruangan itu untuk menuju ke Goo Mansion.

Di Goo Mansion, Min Jae masih saja cemberut saat makan siang. Dia bahkan mendiamkan Sun. Dia yang biasanya mengoceh saat makan hanya duduk tenang. Alhasil kesunyian yang terdapat pada suasana makan siang itu, hanya suara alat makan beradu yang terdengar.

“Lee Halmoni mengundang makan malam,” Sun memulai pembicaraan,”Beliau sangat mengharapkan kedatangan kita.”

“Beliau atau pria tua itu?” kata Min Jae sengak.

“Pria itu adalah abojimu, Min Jae.”

“I don’t care! He denied me thirdteen years ago. And now, what a mistake if I deny him?”

Sun benar-benar marah sekarang,”Cukup, Nak! Kalau kau mengingkari Appamu, berarti kau juga meragukan Oemma. Kau pikir Oemma hamil dengan siapa kalau bukan dengan Appamu?”

Sun mengatur nafasnya yang turun naik. Dalam hatinya dia menyesal kenapa harus membentak Min Jae barusan. Tapi anak ini memang sudah keterlaluan, hal yang selama ini dilakukan oleh Min Ho, yang membuat dia begitu trauma, dilakukan pula oleh anak ini, yaitu meragukannya.

“That’s not my mean, Mom,” sesal anak itu.

Sun menghembuskan nafas perlahan, lalu dengan agak merendahkan suara di berkata,”Lalu?”

“Aku sudah membuat agar tidak ada harapan bagi mereka, tapi Mom mengacaukan semuanya.”

Sekali lagi Sun menghela nafas. Makan siang kali ini adalah makan siang yang paling tidak mengenakkan baginya,”Sudah kuputuskan. Kita akan makan malam di Lee Mansion bersama Appa dan Halmoni. Aku tidak perduli kau setuju atau tidak, kau harus ikut keputusan Oemma.”

Dan suasana tidak mengenakkan itu terjadi lagi pada malam harinya, saat makan malam di Lee Mansion. Tempat duduk mereka sudah diatur sebelumnya oleh Je Ha. Min Jae berada kanan Jeha, sedangkan Sun dan Min Ho berdampingan di sebelah kiri Je Ha. Tentu saja hal ini membuat Min Jae terpisah dari Sun karena meja yang berbentuk persegi panjang, apalagi saat dia mendapati Min Ho duduk  tepat di depannya, Min Jae memanyunkan bibirnya. Je Ha  melakukan itu karena dia sangat merindukan Min Jae sehingga tidak mau anak itu duduk jauh darinya.

Tangan Kanan Min Ho yang masih terperban membuatnya agak sedikit kerepotan memotong steak. Hal ini diketahui oleh Sun lalu dia menawarkan bantuan,”Sini aku bantu, Min Ho-ssi.”

Sun meraih piring Min Ho, lalu memotong-motong beefsteak itu menjadi bagian-bagian yang kecil dan mengembalikan piring itu lagi di hadapan Min Ho.

“Gomawo, Baby.”

Sun tersenyum pada Min Ho. Min Jae yang melihat senyuman Mom-nya semakin manyun, apalagi saat mendengar Min Ho memanggil Sun ‘Baby’. Baru kali ini dia makan dengan duduk berjauhan dari Mom-nya, dan melihat Mom-nya sangat mesra dengan Abojinya membuatnya cemburu.

Je Ha berdehem untuk memulai pembicaraan. Semua yang ada di ruang makan menoleh ke arahnya. Je Ha menatap Min Jae lembut,”Halmoni ingin kau dan Ommamu tinggal di sini, Min Jae.”

Min Jae diam. Dia masih saja asyik memotong steak dan memasukkan dalam mulutnya serta mengunyahnya perlahan.

“Bagaimana, Min Jae?” Je Ha mengulangi pertanyannya. Min Jae meraih gelas minumnya lalu meneguk air mineral itu.

“Min Jae?” Je Ha memanggil lagi. Sun sangat tegang hingga menghentikan aktivitas makannya. Min Ho menoleh ke arahnya, lalu tangan kirinya menggenggam tangan Sun.

“Min Jae tidak mau,” Min Jae mulai menjawab.”Min Jae bukan bagian dari keluarga ini.”

“Apa maksudmu, Min Jae? Tentu saja kau bagian dari keluarga Lee. Kau putraku,” kata Min Ho.

“Terlambat, seharusnya kau mengatakan itu tiga belas tahun yang lalu.”

“Min Jae,” panggil Sun datar, dia tidak ingin emosi lagi seperti tadi siang. Min Jae menoleh ke arahnya,”Bukan begitu, Mom? Itu yang Mom takutkan selama ini, bukan? Bahwa pria ini meragukanku?”

“Min Jae!” Sun membentak lagi. Hari ini sudah dua kali dia membentak, dan hari ini pula pertama kalinya dia membentak anak pelipur laranya itu, tapi kenapa anak itu tidak bosan juga menyulut kemarahannya.

“You denied me thirdteen years ago, Sir! It’s not my foult if I deny you now. So, tell me the reason to make me stay here. This not my place. Goo manshion is my place.”

“Enough, Min Jae! Enough!” teriak Sun histeris. Min Ho mempererat genggaman tangannya atas Sun. Matanya terbuka lebar tapi sungguh aneh dia tidak emosi melihat kelakuan anak itu yang begitu kurang ajar padanya.

“Its not enough, Mom! I hate this family ! I don’t want to be Lee!” Min Jae menggebrak meja lalu pergi keluar entah kemana. Sun berdiri untuk mengejarnya tapi dicegah oleh Min Ho.

Je Ha menghela nafas,”Tidak baik meninggalkan meja makan begitu saja, Sun-a.”

Sun masih saja terisak,”Mianhamnida, Oemma. Sun gagal mendidiknya. Sun gagal.”

Min Ho menepuk-nepuk punggung tangan Sun,”Ada kemungkinan dia menuju tempat lain selain Goo Manshion?”

“Entahlah, Min Ho-ssi. Itulah yang aku kawatirkan.”

Min Ho memanggil Yoon, kepala pelayan di Lee Manshion,”Kirim beberapa security untuk mengawal perginya Min Jae.” Pelayan itu membungkuk hormat dan segera melaksanakan perintah.

“Miane, Min Ho-ssi. Aku tidak tahu hal ini bisa terjadi,” Sun memandang Min Ho dengan penuh penyesalan. Min Ho tersenyum, dan entah kenapa dia mulai tertawa bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya, “Min Jae, Dia begitu mirip denganku. Hah!”

Min Ho menoleh ke arah Sun,”Kau tahu, Baby. Aku arogan. Dia juga. Aku bicara ngawur dan kasar kalau marah, dia juga. Aku jago menunggang kuda, dia juga. Bahkan dia juga cerdas berbisnis sepertiku.”

“Karena… karena itukah kau tidak marah tadi, Min Ho-ssi?”

Je Ha tersenyum, “Aku juga heran karena tadi Min Ho tidak marah. Biasanya dia marah jika diperlakukan seperti tadi.”

Min Ho malah tertawa ngakak,”Bagaimana aku bisa marah jika aku seperti melihat bayanganku di cermin ?”

“Min Jae biasanya tidak seperti ini, Min Ho-ssi.”

Je Ha mengangguk,”Ne, Min Jae tahu benar menyenangkan hati wanita, itu tidak ada dalam dirimu, Min Ho-a.”

Min Ho tertawa lagi, “Oemma lupa kalau aku punya kisah cinta yang penuh gelora pada Bo Young, itu adalah bukti.”

“Sepertinya aku memang harus menyusul Min Jae!” Sun tiba-tiba berdiri. Dia marah saat nama Bo Young disebut.

“Jangan, Baby. Aku masih rindu.” Min Ho menahan pergelangan tangan Sun.

Je Ha menggeleng-gelengkan kepalanya,”Kalian selesaikan sendiri. Oemma sudah cukup lelah dengan kejadian hari ini.”

Je Ha meneguk air mineral lalu mengelap mulutnya dengan napkin dan meninggalkan pasangan itu di ruang makan. Sun masih saja berdiri. Min Ho juga masih duduk dan menggandeng tangan Sun,”Miane, Baby.”

Sun memandang ke arahnya,”Jika kau ingin aku di sini, syaratnya jangan pernah sebut nama Bo Young lagi.”

Min Ho mengangguk,”Araso, araso, Baby.”

“Baby, ada suatu tempat yang ingin kutunjukkan padamu. Kau pasti suka. Kacha!”

Sun menurut saja saat Min Ho menarik lengannya. Mereka harus menggunakan mobil untuk mencapai tempat itu karena jaraknya yang jauh dari Lee Mansion. Di dalam mobil, mereka terdiam. Sun mengira-ira kemana Min Ho akan membawanya. Sedangkan Min Ho mengulum senyum dengan berbagai angan di kepalanya.

Satu jam kemudian sampailah sudah. Mata Sun melebar melihat tempat di hadapannya itu. Min Ho membawanya kembali ke bangunan Café gallery-nya yang terbengkalai sejak tiga belas tahun yang lalu.

“Aku sudah menyuruh orang untuk membereskan semuanya dua hari yang lalu, Baby. Tiga hari lagi café ini akan dibuka kembali, tentu saja atas seijinmu.”

Sun menoleh ke arah Min Ho. Dia tersenyum dengan perasaan yang tidak enak setelah perlakuan Min Jae pada suaminya itu.

“Ayo kita masuk, Baby.”

Min Ho menghidupkan semua lampu di seluruh ruangan bangunan itu. Kini suasana nyaman ruangan itu menyapa. Lukisan dan sketsa menyapu pandangan mereka. Meja dan kursi, rak-rak penyimpanan, mesin kopi, cangkir bahkan persediaan bahan sudah diganti dengan yang baru. Café ini rupanya siap dibuka lagi. Sun tersenyum lebar mendapati hal itu.

Min Ho berjalan ke arah sketsa danau. Sketsa itu masih di tempatnya, sama persis dengan waktu mereka bertemu kedua kalinya. Sun mengikuti langkah suaminya, dan akhirnya mereka berdiri berdampingan di muka sketsa itu.

“Di situlah aku jatuh cinta padamu, Baby. Di pinggir danau itu.” Min Ho menunjuk sketsa itu.

“Di sinilah aku jatuh cinta padamu,” Sun berucap lirih. Suasana yang senyap membuat Min Ho bisa mendengar jelas suaranya. Min Ho berbalik menghadap Sun, diangkatnya wajah Sun lembut, lalu menciumnya dengan perasaan yang mendalam.

“Saranghae, Ratuku.”

Sun membenamkan diri ke dada bidang Min Ho. Suaminya membimbingnya ke tempat lain di café itu,”Kita lihat tempat yang lainnya, Baby.”

Langkah mereka terhenti saat memasuki ruangan pribadi Sun. Tidak banyak yang berubah di situ. Min Ho memang tidak menghendaki perubahan, dia hanya memerintahkan untuk membersihkannya saja. Alat-alat lukis itu tertata rapi. Gulungan-gulungan sketsa dan tumpukan lukisan masih di tempatnya walau tidak ada lagi debu yang menempel. Sofa, tempat tidur, bahkan meja kecil di sudut ruangan itu belum berganti. Sun terpana melihatnya.

“Di ruang ini kau pasti banyak menghasilkan karyamu.”

Sun mengangguk,”Gomawo, Min Ho-ssi.”

“Kau boleh melukis lagi, Baby,” ucap Min Ho. Sun tersenyum,”Tanpa sepengetahuanmu pun aku melukis tiga belas tahun ini. Lukisan-lukisan di ruang kerjamu buktinya.”

Min Ho meraih Sun dalam pelukannya dan sangat bahagia saat tangan istrinya itu bergelayut manja di lehernya. Hal ini serasa mimpi baginya. Kebahagiaan yang lenyap bertahun-tahun itu telah kembali. Dia mengecup bibir Sun lembut, lalu menciumnya dengan penuh perasaan dan dilanjutkan dengan ciuman yang lebih menuntut, hatinya semakin bersorak saat mendapati Sun membalas semua itu. Kau  sudah menerimaku lagi, Ratuku? Benarkah ini?

Min Ho melepaskan ciumannya. Dilihatnya Sun yang bernafas tersenggal-senggal dengan wajah yang memerah. Saat nafas keduanya mulai beraturan, mereka tertawa. Sekali lagi Min Ho memeluk Sun dan berbisik,”Apakah aku boleh menyentuhmu lebih jauh, Baby?”

Sun melepaskan diri dari pelukan Min Ho. Lalu menarik tubuh jangkung itu ke tepi ranjang. Dan saat Min Ho sudah duduk berdampingan dengannya di ranjang itu. Sun mengarahkan tangan kiri Min Ho ke dadanya lalu berkata,”Ingatkan aku lagi pada cintamu, Min Ho-ssi.”

Mereka berciuman kembali. Tanpa sadar Sun sudah terbaring dan Min Ho di atasnya. Min Ho membelai wajah Sun lembut.

”Aku akan selalu memujamu, My Danahan queen. Akan kutaburi dirimu dengan permata dan cinta karena hanya kaulah yang ada di hatiku.”

Mata Sun berbinar mendengar ucapan suaminya. Min Ho begitu mengagungkannya dalam kisah itu, dan di setiap sentuhan itu, dia merasakan tubuhnya bagai melayang. Diserahkannya kembali hati dan hidupnya pada Min Ho malam ini. Kerinduan itu ternyata sangatlah mendalam bagi mereka. Kerinduan yang terpendam bertahun-tahun itu, kini terlepas sudah bersamaan dengan cumbuan dan sentuhan di pembaringan itu.

Saranghae, Minho-ssi. Lakukanlah hasratmu. Karena demi Tuhan, aku juga tak mampu menahannya. sentuhan ini ternyata sangat kurindukan. Aku ingin waktu berhenti di sini. Hanya kau dan Aku, dan bisikan lembutmu. Aku mendambamu, Minho-ssi. Puaskan dirimu atas diriku. benamkanlah benihmu padaku. Aku ingin menebus kesalahanku. Mungkinkah aku masih punya kesempatan mengandung lagi. Berikan kesempatan ini, Min ho-ssi. Aku mohon…

Dan diantara semua itu, Minho begitu memujanya. Saat tubuh itu semakin menegang di bawahnya dan melengguh penuh hasrat, dia membisikkan sebuah pernyataan, “Bogosipho.”

Bogosipho, Baby….baru kusadari betapa kumerindukan saat ini. inilah aku, hamba pemujamu. Menyatulah bersamaku malam ini, seakan dunia hanya untuk kita. bersama kita melayangkan hasrat kita. ku mohon, Baby. Puaskanlah dirimu atas diriku, seakan aku pandir asmaramu, karena tiga belas tahun terlalu lama, dan aku ingin melepaskannya malam ini. Entah kenapa aku menginginkan anak lagi. Miane jika ku terlalu memaksa, karena hanya kaulah yang berhak atas semua itu. Ratuku, Ibu dari anak-anakku…..Permaisuriku…

(Lo udah mupeng gini ku gak bisa mikir lagi, Bengek dulu, ah…..)

TBC Part 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s