DINASTI LEE II (Part 10)

KARENA YANG PART 9 GAK LULUS SENSOR… MAKA LANGSUNG CAPCUS KE PART 10

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 10

 

Song of the part:

IF WE HOLD ON TOGETHER

By: Diana Rose

Don’t lose your way
With each passing day
You’ve come so far
Don’t throw it away
Live believing
Dreams are for weaving
Wonders are waiting to start
Live your story
Faith, hope & glory
Hold to the truth in your heart

If we hold on together
I know our dreams will never die
Dreams see us through to forever
Where clouds roll by
For you and I

Souls in the wind
Must learn how to bend
Seek out a star
Hold on to the end
Valley, mountain
There is a fountain
Washes our tears all away
Words are swaying
Someone is praying
Please let us come home to stay

If we hold on together
I know our dreams will never die
Dreams see us through to forever
Where clouds roll by
For you and I

When we are out there in the dark
We’ll dream about the sun
In the dark we’ll feel the light
Warm our hearts, everyone

If we hold on together
I know our dreams will never die
Dreams see us through to forever
As high as souls can fly
The clouds roll by
For you and I

Sebulan berlalu, belum ada itikad baik dari Min Jae untuk berbaikan dengan abojinya. Sun yang tidak tega meninggalkan Min Jae di Goo manshion pun mengurungkan niatnya untuk pindah ke Lee Mansion. Min ho tak bisa berbuat apa-apa, yang dia lakukan hanya berkunjung tiap makan siang, itu pun selalu disuguhi sikap cuek Min Jae.

Min Jae selalu turut serta dalam setiap makan siang, tapi lebih banyak diam. Kalau pun ingin bicara, yang diajak bicara adalah Mom-nya dan bila abojinya menanyakan sesuatu padanya, dia langsung angkat kaki dari ruang makan. Sun yang tidak enak hati, hanya bisa minta maaf pada Minho atas kelakuannya.

Keadaan Lee Corporation semakin stabil. Manajemen hanya mengalami perombakan sedikit. Min Jae rupanya lebih memilih GMJ’s Corp, tapi bukan berarti Lee corporation tidak menarik baginya. Hal ini lagi-lagi lebih disebabkan oleh keberadaan Min Ho di sana. Kalau pun ada info yang ingin diketahuinya, dia lebih memilih berkomunikasi dengan Han atau Hongki.

Je Ha pun pasrah dengan keadaan ini. Berkali-kali wanita bijak itu menasihatinya, tapi dia tetap pada amarahnya. Hingga di suatu hari Sun jatuh sakit dan Min Jae mulai berpikir konfrontasi antara dia dan Abojinya-lah yang membuat Sun sakit. Dalam hati Min Jae merasa bersalah, tapi di sisi lain, dia masih tidak bisa memaafkan. Kenyataan bahwa dirinya pernah diragukan statusnya itulah penyebabnya dan dia tidak habis pikir bagaimana bisa Sun begitu cepat memafkan.

Seminggu kemudian, Sun belum sembuh juga. Setiap pagi Min Jae bisa mendengar suara Sun muntah di kamar mandi, atau tingkah Sun yang menahan mual tiap mencium kopi atau sesuatu yang berlemak. Namun Sun selalu menutupi muka pucatnya di tiap makan siang bersama Min Ho.

Min Jae semakin bingung, dia merasa bersalah. Dia memang marah pada Min Ho, tapi melihat Sun sakit karena memikirkannya membuatnya merasa berdosa. Apalagi itu adalah Mom-nya, orang yang paling menyayangi dan disayanginya.

Seperti biasa, Sun tidak menemani Min Jae sarapan pagi itu dan Min Jae tahu itu karena sakitnya. Pada akhirnya, Min Jae meninggalkan sarapan begitu saja dan beralih ke kamar Sun.

“Mom, are you there?” Sapa Min Jae sambil mengetuk pintu.

“Ne, Sayang. Masuklah !” Suara Sun dari arah kamar. Min Jae membuka pintu yang tidak terkunci itu lalu duduk di tepi ranjang Sun. Ibunya kini tengah duduk bersandar di ranjang itu, diamatinya wajah Sun yang pucat tapi mata lebar itu masih saja berbinar.  Min Jae merebahkan kepalanya ke pangkuan Sun. Sun tersenyum dan membelai sayang rambutnya.

“Mom, I’m sory. I make you sick. I promise to do everything to make you healthy.”

“Jinja!” mata Sun semakin berbinar saja, tangannya masih membelai kepala Min Jae lembut. Sesaat Min Jae mengangguk dalam benaman perut Sun.

“Kalau kau sudah berjanji, tidak boleh kau ingkari, Min Jae.”

Sekali lagi Min Jae mengangguk. Sun menghela nafas, beban itu seakan telah terangkat, dipandanginya putra kebanggaannya itu,”Berbaikanlah dengan Appamu.” Seketika Min Jae menahan nafas, tapi pada akhirnya dia mengangguk karena sudah berjanji dan Sun sangat lega karenanya.

“Minjae, kalau dibilang sakit, sebenarnya juga tidak, karena Omma sedang hamil sekarang.”

Min Jae mengangkat kepalanya, menatap Sun dengan pandangan tak percaya. Sun tertawa bahagia lalu menangkupkan kedua tapak tangannya ke pipi Min Jae, “Kau akan punya dongsaeng, Sayang.”

Mata minjae mengerjap-ngerjap. Dia tidak percaya akan punya adik di usia ini. Selama ini dia pasrah jika akan menjadi anak tunggal. Dia tersenyum. Kebahagiaan aneh menelusupi  hatinya, lalu membayangkan adik kecil perempuan yang cantik, berkulit putih dengan mata lebar dan bibir tipis seperti Mom-nya.

“Kau bahagia, Nak?”

Min Jae mengangguk.

“Ini keajaiban, bukan? Omma juga tidak menyangka akan mengandung lagi di usia ini.”

Min Jae memeluk Sun, dan kini dia bisa merasakan suhu tubuh Sun yang agak demam itu.

“Karena itu Omma ingin kau berbaikan dengan Appamu siang ini juga,” Sun terlihat menggerak-gerakkan telunjuknya di depan Min Jae.

“Secepat itu? I’m not ready now,” tolak Min Jae.

“Omma tidak mau masalah ini berlarut-larut sampai dongsaengmu lahir. Aku tahu sifatmu, Min Jae. Kau selalu lama memaafkan orang. Apa kau ingin dongsaengmu juga mengalami yang kau alami, terpisah dari Appamu?”

Min Jae menggeleng.

“So, Apa yang musti dibicarakan lagi. Siang ini Appamu akan datang untuk mengantar Omma ke dokter kandungan, jadi sebelum kami pergi, kau bicaralah dengan Appamu lalu kita segera pindah ke Lee Mansion.”

“But, mom…

“Waeyo? Jangan bilang kau tidak mau pindah.”

Min Jae mengkerucutkan bibirnya, tapi terpaksa mengangguk juga,”Oke, I will do it and we move to Lee Mansion.”

“Jeongmalyo?” sekali lagi Sun meminta kepastian. Min Jae mengangguk. Sun memeluk putranya itu dengan kebahagiaan yang meluap.

—- > * < —-

Min Ho menuruni mobilnya. Di hadapannya kini Goo Manshion berdiri angkuh. Dan Min Ho mulai mengibaratkan keangkuhan bangunan itu dengan Min Jae, lalu berpikir lagi bahwa sifat itu adalah turunan darinya. Semakin hari, Min Ho semakin berpikir bagaimana bisa orang-orang terdekatnya begitu tahan dengannya, padahal dia sendiri kewalahan menghadapi Min Jae.

Min Ho sudah akan mengetuk pintu Mansion ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Dia langsung mengangkat telepfon,”Yoboseyo,”

“Hyung, yoja itu sudah mengaku, ternyata dia suruhan Young’s Group. Polisi ingin kau datang ke kantor polisi besok,” kata hongki di telephon.

“Aku tidak bisa. Besok aku dan istriku harus ke gereja katedral. Telephon saja Bumie, selaku pengacaraku dia pasti mengurusnya,” perintah Min Ho.

“Oke, Hyung. I will do it.”

Min Ho tertawa mendengar jawaban Hongki. Rupanya Hongki sudah tertular Min Jae yang bicara dengan aksen Korea campur Inggris. Tawanya seketika terhenti saat pintu di depannya terbuka dan lebih terkejut melihat orang yang membuka pintu.

“Good day, Dad,” sapa Min Jae padanya. Min Ho berusaha tersenyum walau keterkejutan masih tampak di wajahnya.

“Can we talk for a minute, please.”

Min Ho mengangguk.

“At library,” lanjut Min Jae, sekali lagi Min Ho mengangguk, lalu mengikuti langkah Min Jae menuju perpustakaan.

Di perpustakaan, Min Jae tiba-tiba memeluk abojinya. Hal itu sukses membuat Min Ho kaget, tapi akhirnya dia menepuk-nepuk punggung putranya itu. Sesaat mereka sudah duduk di sofa dan bicara dari hati ke hati. “Min Jae minta maaf, Dad.”

“Aniyo. Kau memang tidak salah di sini. Semua karna kesalahan Appa. Kau hanya ingin menyadarkan appa, bukan?”

Min Jae tersenyum, tapi tidak mengerti maksud ucapan Min Ho. Dia memang tidak menyadari bahwa perbuatannya itu adalah cerminan dari kesalahan Min ho  tigabelas tahun yang lalu, sombong, tangan yang terangkat dan fitnahan yang pada akhirnya berhembus, sekarang beralih pada Min Ho.

“Dad, setelah dari dokter kandungan, bawa Mom ke Lee Mansion.”

“Mwo? Dokter kandungan?” Min Ho tampak terkejut mendengar ucapan Min Jae.

“Ne, bukankah kalian akan memeriksakan kehamilan Mom?”

“Anhi, Ommamu bilang, siang ini kami harus menyiapkan acara esok di gereja katedral.”

“What? Katedral?”

“ Benarkah Sun hamil?”

“Untuk apa ke gereja katedral?”

Mereka berdua sama-sama bingung. Sun akhirnya memasuki ruangan itu dengan senyuman lebar. Di depannya kedua namja itu memandangnya penuh tanya,”Apa kalian sudah baikan?”

“Kau hamil, Baby?”

“Mom, ada acara apa besok di gereja?”

Sun jadi terkekeh. Kedua namja itu bertanya bebarengan padahal dirinya juga bertanya.

“Jangan bercanda, Baby. Kau tahu kalau kita sangat mengharapkannya.”

Sun menghentikan tawanya, lalu berdehem sesaat,”Ne, aku hamil.”

“Jeongmal?” Min Ho segera memeluk tubuh Sun, “Sudah berapa lama, Baby?”

Wajah Sun tampak memerah, sambil menunduk dia bertanya balik, ”Menurutmu berapa lama, Sayang?”  Min Ho jadi teringat kejadian di café galeri, lalu bertanya untuk memastikan,”Jeongmal?” Sun mengangguk. Min Jae jengkel karena pertanyaannya belum terjawab,”Mom…”

“Ne, Min Jae. Karena Omma hamil, Omma merasa sangat perlu untuk memperbaiki ikrar pernikahan kami,” Sun menjelaskan itu, masih di pelukan Min Ho.

“Tapi kalian belum bercerai.”

Min Ho menatap putranya,” Secara hukum memang kami masih suami istri, tapi kami sudah terpisah lama, kami ingin pernikahan kami lebih diberkati lagi.” Sun melepaskan diri dari pelukan Min Ho, lalu mendekati Min Jae dan menepuk bahunya lembut,”Omma bahagia sekarang.”

Min Jae tersenyum. Kini tampak olehnya mata Sun berair, tapi itu adalah tangis kebahagiaan. Min Ho mendekatinya juga lalu mengelus kepalanya. Tiba-tiba sesuatu muncul di kepalanya,”Dad, seperti yang tadi ku bilang, antar langsung omma ke Lee Mansion. Aku masih ada urusan di sini malam ini.”

“Urusan apa, Min Jae, kau bisa mengurus itu di Lee Mansion,” Sun memprotes. Min Jae menggeleng,” No, Mom. You forget my conection here.”

Benar juga. Mungkin jaringan Sistem Informasi di mansion ini penyebabnya,”Araso, min Jae.”

“Tapi sore ini Dad ada waktu, kan?” tanya Min Jae pada abojinya.

“Ne. Waeyo?”

“Kita bisa berkuda bersama. Selama ini aku iri pada teman-temanku yang bisa berkuda bersama Ayahnya,” pinta Min Jae. Hal ini membuat kedua orang tuanya menyesal, putra mereka tidak merasakan kehangatan keluarga selama bertahun-tahun disebabkan keegoisan masing-masing.

“Ne, Min Jae. Kita berkuda bersama.”

“Boleh Omma ikut?” Sun meminta untuk ikut. Min Ho menggerak-gerakkan telunjuknya,”Acara khusus namja.”

Min Jae tertawa ngakak. Kini giliran Sun yang cemberut,”Iya, deh…. Begini nih nasib jadi yoja sendirian. Seperti anak tiri.”

“Sebentar lagi Mom pasti dapat teman. Aku yakin dongsaengku nanti pasti perempuan.”

“Ne, Appa juga mengharapkan bayi perempuan,” sahut Min Ho. Min jae memeluk Sun, “Mom tambah cantik di kehamilan ini. Mata Mom selalu berbinar walau pucat, di situ aku yakin dongsaengku perempuan.”

“Jeongmal?” Min Ho mulai mengamati mata Sun,” Benar juga, sangat cantik.”

Wajah Sun memerah seketika. Kedua namja itu tertawa senang melihat perubahan warna wajahnya. Sun jadi jengkel,”Yah…. Ayah-anak sama saja. Suka ngegombal.”

Siang itu kebahagiaan menyelimuti hati mereka. Dan kini kebahagiaan masih berlanjut di sore harinya. Saat Ayah dan anak itu sama-sama menunggangi kuda, mengelilingi areal berumput yang luas. Di sekitar mereka kehijauan menyapa, udara hangat musim panas menghiasi sore itu. Mereka bercanda, tertawa, menceritakan rahasia-rahasia kecil antara ayah dan anak laki-lakinya. Hingga akhirnya sang surya mulai kembali ke peraduannya, nuansa jingga menyelubungi langit, dan keduanya mengamati semua itu masih di atas punggung kuda.

“Aku selalu suka pada matahari,” Ucap Min Jae pada Ayahnya,”Matahari selalu menampakkan keindahan baik saat terbit mau pun tenggelam.”

Min Ho menyungging senyum ke arahnya. Baru kali ini dia melihat matahari terbenam, selama ini memang dia mengacuhkan segala fenomena alam. Dan di sanalah Min Jae, di sampingnya, masih mengamati mentari yang tenggelam, pada akhirnya dia mengalihkan pandangan lagi ke obyek pengamatan Min Jae.

“Dad, matahari itu adalah Mom,” kalimat Putranya itu membuat Min Ho menoleh kembali. “Mom seperti matahari itu, dia memberi kehidupan walau pun harus membakar diri,” lanjut Min Jae. “Min Jae senang Mom bahagia sekarang.”

Min Ho tersenyum penuh tanya. Min Jae pun menoleh ke arahnya,”Dad, bahagiakan selalu hatinya. Mungkin di luar Mom terlihat tegar, tapi didalam, dia sangat rapuh.”

Min Ho mengangguk,”Appa tahu itu. Seandainya Appa menyadari itu tigabelas tahun yang lalu, mungkin kita tak akan terpisah.”

Min Jae mengibaskan tangannya,”Sudahlah, yang penting sekarang Mom bahagia. Oh ya, bagaimana kalian membuat dongsaeng? Kapan? Dimana? Kok bisa secepat ini ?”

“B… Bo?” Min Ho gelagapan sendiri. Min Jae masih saja memberi pertanyaan beruntun. Dan kini tampaklah wajah bingung Min Ho mengira-ira kalimat yang pantas untuk diucapkan pada Min Jae. Mentari semakin tenggelam. Semburat senja mulai berganti kelamnya malam , Ayah dan anak itu masih saja masyuk berbincang.

TBC Part 11

2 thoughts on “DINASTI LEE II (Part 10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s