DINASTI LEE II (Part 12)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 12

Song of the part :

 

Green, Green Grass Of Home

 

The old home town looks the same
As I step down from the train
And there to meet me is my Mama and Papa
Down the road I look and there runs Mary
Hair of gold and lips like cherries
It’s good to touch the green, green grass of home

Yes, they’ll all come to meet me
Arms reaching, smiling sweetly
It’s good to touch the green, green grass of home

The old house is still standing,
Though the paint is cracked and dry
And there’s that old oak tree that I used to play on
Down the lane I’ll walk with my sweet Mary
Hair of gold and lips like cherries
It’s good to touch the green, green grass of home

Then I awake and look around me
At four gray walls that surround me
And I realize that, yes I was only dreamin’
For there’s a guard and there’s a sad old padre
Arm and arm we’ll walk at daybreak
Again I’ll touch the green, green grass of home

Yes, they’ll all come to see me
In the shade of that old oak tree
As they lay me ‘neath the green, green grass of home

Sung By Tom Jones

 

 

Keesokan paginya. Min Ho serasa bagai lelaki baru. Dia yang terbangun lebih dulu dari Sun, pergi ke dapur setelah mandi dan berpakaian rapi. Dibawakannya sarapan Sun ke kamar mereka. Sun yang mencium bau masakan mulai membuka mata, dan terkejut mendapati suaminya itu sudah sangat rapi, tersenyum lebar ke arahnya dengan baki di tangan. Dengan memegangi perutnya, Sun berusaha duduk menyender di ranjang.

“Hati-hati, Baby,” Min Ho membantunya setelah meletakkan baki sarapan itu di atas meja kecil di kiri ranjang.

“Kau sudah bangun, kenapa tidak bangunkan aku,” Sun mulai ngambek. Min Ho meletakkan baki sarapan di pangkuannya,”Seharusnya aku yang melakukan ini semua padamu, Min Ho-ssi. Aku yang harusnya bangun lebih dulu.”

Min Ho mengibaskan tangannya,”Untuk sementara lupakan protokol suami-istri yang membosankan itu, kau pasti lelah setelah semalam. Ayo, sekarang makanlah.”

Sun mulai menyendok bubur di pangkuannya, pada saat itulah selimut yang menutupi dadanya agak tersingkap. Min Ho yang melihat hal itu kini menyelipkan satu tangannya ke bawah selimut itu dan merasakan kedua bagian tubuh itu menyambut belaian tangannya dengan hangat. Getaran yang menjalari sekujur tubuhnya mulai tak bisa lagi dia bendung, dan ia mengangkat baki sarapan itu lagi ke meja, lalu mencium lagi bibir kemerahan Sun dan menjalarinya sampai leher.

“Min Ho-ssi, apa kau akan melakukannya lagi?” tanya Sun parau. Susah payah, dia berusaha meredam hasratnya karena sentuhan itu. Terus terang, dia mengkawatirkan kandungannya jika Min Ho tetap tak bisa menahan diri seperti ini.

“Hm…,” Tapi Suaminya itu tidak menjawab, semakin asyik mencumbu dadanya, hingga otak dan hasratnya beradu antara akal sehat dan nafsu. Dan akhirnya, jantungnya berdetak cepat diantara kebimbangan itu.

“Min…  ah… ,” Sun memekik saat gigitan kecil terasa. Min Ho semakin menginginkannya, hingga lelaki itu menarik tubuhnya sampai terbaring kembali. “Aku mohon…, ingat… anak kita,” Sun mengingatkan dengan susah payah, jantungnya berdegup semakin kencang, tapi rupanya peringatan itu tertelan begitu saja karena nafsu suaminya sudah menyerang ubun-ubun. Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk oleh seseorang, dan hal ini sukses membuat Min Ho terpaksa mematahkan nafsunya.

“Mom.. , Dad… , Are you there?”

Wajah Min Ho tampak frustasi. Sun tersipu-sipu melihatnya, dalam hati, Sun merasa terselamatkan oleh putranya. “Anak tengil itu mengganggu saja,” gerutu Min Ho kemudian, lalu membantu Sun duduk kembali dan meletakkan baki sarapan di pangkuan istrinya itu.”Teruskan makanmu. Biar aku yang mengurus kemauan anak itu. Pagi ini kau sarapan di kamar saja, Baby. Tidurlah kembali jika masih lelah. Jam sepuluh nanti kita ke dokter untuk memeriksakan kandunganmu, aku tiba-tiba kawatir setelah kekonyolan kita semalam.”

Dahi Sun berkerut seketika. Baru semenit yang lalu Min Ho bernafsu menyentuhnya lagi, tapi kenapa secepat itu akal sehat suaminya kembali?

“Mom, Dad, are you there?” sekali lagi Min Jae mengentuk pintu. Min Ho semakin jengkel,”Ne! Sebentar, tidak sabaran banget?”

Sun terkekeh mendengar ucapan Min Ho. Suaminya itu akhirnya berjalan ke arah pintu. Min Ho keluar kamar, menutup pintu, lalu berdiri bersandar di kusen pintu,”Waeyo?”

“Waktunya sarapan, Dad. Halmoni sudah menunggu di ruang makan.”

Min Ho mendengus sebal,”Apa perlunya kau sendiri yang memanggil kami. Suruh saja pelayan.” Anak di depannya itu malah nyegir kuda,”Sebenarnya ada juga hal yang ingin ku sampaikan.”

“Oke. Kita sarapan sekarang,” ajak Min Ho. Dia mulai menggiring Min Jae ke ruang makan.

“But, Mom tidak sarapan?”

“Anyi, biarkan dia istirahat, kau tidak berpikir kalau dia capek berdiri terus di pestamu?”

Min Jae hanya bisa mengangguk. Mereka akhirnya tiba di ruang makan dimana Je Ha sudah menunggu. Sesekali timbul gurauan di antara mereka, tapi Min jae belum juga mengungkapkan hal yang mengganjal di hatinya. Dia tidak ingin merusak suasana bahagia itu. Min Ho yang sudah mulai menyelesaikan makannya, mulai mengingat pembicaraan Min Jae di depan pintu kamar. “Kau bilang ada yang ingin kau bicarakan?” tanyanya pada Min Jae.

“Yes, dad.”

“Katakan saja,” Min Ho mulai memandang serius. Je Ha mengamati roman wajah Min Jae yang juga berubah serius, hingga akhirnya Min Jae bersuara,”Min Jae akan ke Beijing besok, untuk mengurus sesuatu.”

“Sesuatu? Apa?” Je Ha jadi penasaran.

“Surat-surat Min Jae perlu legalisir,” Min Jae masih juga berteka-teki.

“Surat apa?” Kali ini Min Ho semakin tidak sabar, dia tidak ada waktu buat menebak-nebak lagi.

“Ijazah, piagam penghargaan, semuanya. Setelah itu Minjae ke Amerika, ada beasiswa dari Harvard untuk program doctor.”

Kedua orang tua di depannya terkejut. Mereka tidak menyangka sampai sejauh itu pemikiran bocah ini. “Ini pasti alasanmu untuk menghindari kami, bukan?” Min Ho masih saja mencurigai putranya.

“No, Dad. Min Jae sudah memikirkan hal ini jauh-jauh hari, bahkan beasiswa ini sudah Min Jae dapatkan sehari sebelum pindah ke Lee Manshion. Min Jae mulai kuliah musim dingin ini.”

Min Ho jadi mengerti alasan Min Jae menunda kepindahannya pada waktu itu. Je Ha masih tidak bisa terima keputusan cucunya,”Kenapa kau harus mengambil program doctor, apa kau ingin menjadi akademisi? Ingat, kau harus meneruskan Lee Corporation.”

Min Jae menghela nafas,”Ada rasa penasaran untuk meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Itu saja, Halmoni. Min Jae tidak pernah merasa puas.”

Min Ho tersenyum bangga, dia mulai menunjuk-nunjuk Min Jae,”Hm, ini baru putraku. Kau benar-benar seorang Lee.”

“Oke,” Akhirnya Je Ha pasrah juga,”Pergilah kau ke sana, tapi ingat, pulang kembali ke mari dan jadilah penerus Lee.”

Min Jae tersenyum, tiba-tiba dia ingin menggoda neneknya dengan suatu pemikiran, hingga terlontarlah wacana itu,”Lalu bagaimana dengan keluarga Goo? Mereka juga perlu penerus. Bisa saja Grandpa di New York mempengaruhiku selama aku di sana.”

Kedua orang itu meletakkan sendok bersamaan. Perkataan bocah ini ada benarnya juga. Akan ada perebutan penerus, dan tidak mungkin bayi perempuan yang masih di kandungan Sun itu penerus Goo, karena pasti akan menjadi hak suaminya jika ia menikah kelak.

“Ini kesalahan. Benar-benar kesalahan, Min Ho-a,” Je Ha mulai gusar. Min Ho menepuk-nepuk punggungnya. Je Ha masih saja mendumel,”Oh, kenapa kalian sama-sama anak tunggal, dan kenapa kalian musti terpisah bertahun-tahun. Jika saja kau tidak bodoh, jika saja Bo Young tidak muncul…

“Oemma… ,” Min Ho memanggil datar agar Je Ha tidak meneruskan perkataannya tentang Bo Young,”Untung saja Sun tidak di sini, Oemma. Karena jika dia mendengar nama itu lagi, dia akan sangat sedih.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan?” Je Ha bertanya, hatinya benar-benar putus asa. Min Ho memandangi putranya,”Kau yang harus memilih,”katanya kemudian. Min Jae menampakkan tampang berpikir,”Ehm…. Kita lihat saja nanti, jika tidak ada titik temu, bukankah lebih baik GMJ dan Lee Corporation bersatu?”

“Kau membuat kami jantungan saja,” Min Ho terlihat kesal. Min Jae tersenyum penuh kemenangan. “Tapi itu pilihan terakhir, Dad. Kita tidak akan melebur jika ada putra Lee yang lain.”

Min Ho mengibaskan tangannya, tidak mungkin ada anak lagi mengingat usia Sun,”Kau sudah bicarakan rencana kuliah dengan Ommamu?’

Min Jae menggeleng,”Mom pasti tidak setuju.”

“Bisa kupastikan itu,” Je Ha mengamini perkataan Bocah cerdas itu.

“Ini tugasmu untuk meyakinkannya, Dad.”

Min Ho menghela nafas,”Baiklah, akan kubuat Omamu mengerti.”

Usaha Min Ho berhasil karena istrinya akhirnya bisa menerima keputusan Min Jae. Dengan berat hati, Sun melepas keberangkatan Min Jae di bandara Incheon, bahkan dia menangis.

“Come on, Mom. I’ll be there just for two years,” Min Jae jadi tak enak hati meninggalkan Ibunya yang sesenggukan itu. Sun masih saja menangis di pelukannya. Maklum, baru kali ini dia akan berpisah lama dengan Min Jae, dia sebenarnya ingin ikut, jika saja Kim Hyun Joong, dokter kandungannya tidak mewanti-wanti agar tidak melakukan perjalanan jauh.

“Cepat pulang, ya?” Sun masih saja meminta kepastian di dada bidang itu. Min Ho meraihnya, lalu akhirnya pelukan ibu dan anak itu terlepas, kini Sun beralih ke pelukan suaminya, masih saja terisak.

“Mom, kau tidak akan sendirian nanti. Dongsaeng akan segera lahir, kan?” Min Jae masih berusaha menghibur Sun. Ibunya itu mengangguk. Lalu Min Jae memandang ayahnya,”Jaga Mom selama aku pergi, Dad.”

Min Ho mengangguk. Min Jae memeluk neneknya sebelum menuju pesawat. Dia melambaikan tangan dengan senyuman yang tersungging di wajahnya.

“Don’t worry, Mom. I’ll be back in two years,” serunya lantang. Hingga akhirnya tubuhnya terbang, bersama pesawat yang ditumpanginya.

Musim panas di Korea Selatan, dua setengah tahun kemudian.

Min Ho dan Je Ha tampak berdiri di Toproof Lee Mansion, di tengah-tengah mereka, berdiri gadis kecil yang sangat cantik dengan kulitnya yang putih bagai satin dan rambutnya yang hitam legam itu, sesekali mata lebarnya mengerjap, sementara bibir mungilnya masih saja mengulang pertanyaan yang sama sejak tiga puluh menit yang lalu,”Kapan Oppa datang?”

“Sebentar lagi, Hye Na,” Jawab Je Ha dengan lembutnya. Min Ho hanya memandang saja. Dalam hati mulai capek menjawab pertanyaan yang sama terus. Gadis cilik itu malah meruncingkan bibir,”Uh…, Oppa lama sekali.” Seiring gerutuan itu, halikopter datang mendarat di depan mereka. Dan Min Jae turun dari halikopter itu dengan lengan terlentang.

“Oppa!” gadis cilik itu berteriak dan menghambur ke pelukan Min Jae. Tawa bahagia terdengar dari mulut keduanya, saat Min Jae memutar-mutar tubuhnya sementara gadis cilik itu berada di pelukannya. Setelah puas membuat adiknya takut sekaligus senang, Min Jae mulai menurunkan Hye Na dan berjalan menuju Je Ha dan Min ho.

“Harmoni…” Min Jae memeluk  Je Ha. Neneknya itu tampak sehat walau kerentaan menerpa, sepertinya Sun merawat neneknya dengan sangat baik. Saat sudah puas melepas kangen dengan Je ha, Min Jae memeluk Min Ho. Dan kekaguman terpancar untuk ayahnya itu, wajah ayahnya semakin bersinar saja, dan makin tampak kewibawaan di rona wajah itu. Kini dia yakin, bahwa seorang pria terhebat di dunia pun, tidak bisa hidup tanpa wanita yang dicintainya. Inilah yang tampak dari Min Ho sekarang, kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga yang membuat Min Ho awet muda.

“Oppa… , oleh-olehku mana?” protes adik ciliknya. Min Jae tertawa. Dia jadi gemas dan mencubit pipi Hye Na. Lima bulan yang lalu, saat orang tuanya dan adik ciliknya ini menghadiri penobatannya sebagai Doktor, dia memamerkan Hye Na pada teman-temannya. Dan mereka terkagum-kagun melihat Hye Na. “Just like Japanesse Doll,”seru Beth, temannya dari Kanada waktu itu. Dan James, temannya yang terkenal playboy juga menggoda,”I won’t marry until you grow up, beautifull girl.” Dan Min Jae jadi marah setengah mati mendengar ucapan itu, dia tidak rela jika saja Hye Na sampai mendapatkan suami seperti James yang suka gonta-ganti perempuan.  Tiba-tiba Min Jae menyadari ketidakhadiran Sun di toproof.”Where is Mom?” Min Ho tersenyum padanya,”Dia menunggumu di taman, kita akan piknik di taman Lee Manshion menyambut kedatanganmu.”

“Sebenarnya dia ingin ikut menyambutmu, Min Jae. Tapi Harmoni melarangnya. Tak baik buat kesehatannya,” terang Jeha.

“Apa mom sakit?” Min Jae jadi kawatir.

“Kau lihat saja nanti,” Min Ho malah membuatnya penasaran,”Oke, ayo kita temui Mom!” Min Jae berteriak girang, dia bahkan menggendong Je ha agar lebih cepat sampai taman mengingat jalan Je Ha dengan tongkat yang lambat seperti siput itu. Hye Na melihat semua itu dan cemburu,”Uh… kenapa Harmoni yang malah digendong?”

Min ho terbahak mendengar ocehan Hye Na, “Kau juga mau digendong? Sini Appa gendong!” Min Ho meraup gadis cilik yang cerewet itu, lalu menciumi perut Hye Na hingga putrinya cekikikan karena geli.”Oppa pasti bawa oleh-oleh banyak buat Hye Na,” anak itu masih saja mengoceh tentang oleh-oleh. Mereka mulai turun dari toproof dengan menggunakan lift,”Kenapa hanya oleh-oleh yang kau pikir, mungil… masih untung Oppamu mau kembali ke Korea.”

“Mwo?” Hyena tidak mengerti maksud ucapan Min Ho. Sebenarnya Min Ho mengkawatirkan sesuatu, yaitu keadaan negeri itu yang semakin kacau. Beberapa rekan bisnisnya bahkan sudah emigrasi ke luar negeri, hanya sedikit keluarga tua di Korea saja yang masih bertahan. Apa yang akan terjadi pada keluarganya nanti, semuanya terserah pada Min Jae. Apa pun keputusan putranya mengenai Lee Corporation, dia ikut saja.

“I miss you, Mom,” Min Jae memeluk Sun saat mereka bertemu di taman Lee Mansion yang luas.”Really really miss you!” Sun tertawa bahagia, dia membelai kepala anaknya itu lembut. Min Jae merasa ada sesuatu yang mengganjal di perutnya saat dia memeluk Sun, lalu dilepasnya pelukan itu dan mulai melihat perut Sun yang membuncit,”Mom, are you pregnant?”

Sun mengangguk senang,”Ne, Min Jae. Oemma hamil.”

“Wow, sudah berapa bulan, Mom?”

“Enam bulan.”

“Enam bulan? Kenapa tidak mengatakan apa-apa padaku saat wisuda lima bulan yang lalu?”

Sun tersenyum,” Seperti biasa, Oemma terlambat mengetahui kehamilan. Tahu-tahu Oemma pingsan setelah tiba di Incheon.”

Je Ha mengangguk. Sesaat dia teringat kejadian lima bulan yang lalu. Dia yang menunggu kedatangan mereka di toproof tiba-tiba dikejutkan oleh telepon dari Min Ho yang mengabarkan bahwa Sun pingsan di bandara dan dibawa ke rumah sakit, semakin terkejut lagi, saat mendengar penyebab pingsannya Sun waktu itu. Dia yang mengkawatirkan keadaan Sun, marah sekali pada Min Ho. “Hm… saat harmoni tahu Ommamu hamil lagi, halmoni memarahi Appamu habis-habisan. Bagaimana bisa dia membuat Oemmamu hamil lagi di usia sekarang. Tentu sangat membahayakan hidupnya.”

“Sudahlah, Oemma. Semua ini sudah kami bicarakan berdua. Aku bahagia di kehamilan ini.”

Min Ho yang baru tiba ikut nimbrung juga dalam obrolan itu, dia menurunkan Hye Na dan anak itu sudah mulai membuka keranjang bekal.

“Its great, Mom. Kali ini laki-laki atau perempuan?” tanya Min Jae.

“Dua-duanya, Min Jae,” jawab Min Ho

“What a surprise! Twin!”  seru Min Jae tak percaya.

Min Ho mengangguk-angguk, “Kau boleh ribut dengan namdoangsaengmu nanti, hahaha.”

 Min Jae jadi meruncingkan bibirnya. Sun mengibaskan tangan,”Sudahlah, Ayo kita makan, Aku sudah sangat lapar.”

Mereka duduk di tikar yang tergelar di atas rumput, di bawah pohon besar yang rindang dan mulai membuka bekal yang sudah disiapkan. Sun segera sibuk menyuapi Hye Na. Anak itu menggeleng,”Hye Na makan sendiri, Oemma.”

“Hahaha, anak pintar,” Min Jae mengucek rambut adik kecilnya, lalu menerima sepiring makanan yang disodorkan oleh Je Ha. Sun tiba-tiba merasa mual melihat daging di piring itu yang terlihat sangat berlemak, tapi berusaha menahannya, hingga matanya berair. Min Jae yang mengetahui hal itu menepuk-nepuk punggungnya, lalu menjauhkan makanan itu dari penglihatan Sun.

“Gumawo, Sayang,” Sun tersenyum dengan mata berbinar ke arahnya. Min jae mengangguk, lalu berbalik membelakangi Sun agar Mom-nya itu tidak melihatnya memakan daging sehingga merasa mual kembali. Sementara Hye Na dan Min Ho makan sambil sesekali berkelakar. Min Jae merasa menjadi anak yang paling beruntung sedunia. Dia tidak rela jika kebahagiaan itu lenyap begitu saja hanya karena orang-orang politik bodoh yang membuat suasana kacau di korea. Dia akan membuat keluarga ini pergi sejauh mungkin menghindari hal itu. New York dengan senang hati menerima mereka. Itu sudah Min Jae pikirkan jauh-jauh hari, dia akan memindahkan pusat Lee Corporation ke New York, berdampingan dengan GMJ’s corp lalu mereka sekeluarga pindah ke sana. Tentu yang ada hanyalah kebahagiaan. Dia, orang tuanya, harmoni, Hye Na serta adik-adik yang akan lahir nanti.

Namun Min Jae ingin melupakan semua itu sekarang. Dia ingin menikmati kebersamaan keluarganya di taman berumput itu, hingga dengan riang dia kini bermain kejar-kejaran dengan adik ciliknya, tak perduli posisinya sebagai remaja sekarang. Dan Je Ha sudah mulai mendekati tanaman-tanaman mawarnya untuk diurus.

Sementara Sun masih duduk di atas tikar dan Min Ho merebahkan diri dengan posisi kepala di pangkuannya. Sesekali tampak Min Ho mengelus dan menciumi perutnya. Sun tertawa-tawa saat tingkah kedua anaknya yang berkejaran itu serasa lucu, lalu teringat akan impiannya selama ini.”Apakah kita berada di surga, Min Ho-ssi?”

“Mwo?” Min Ho tidak mengerti maksud ucapannya. Sun masih saja membelai rambut Min Ho lembut dan memandang anak-anak yang kini bermain petak umpet itu,”Lagu itu, Green grass of home menjadi kenyataan sekarang.”

“Kenyataan untukku, Baby,” Min Ho mencium perutnya lagi,”kira-kira akan mirip siapa bayi laki-laki dalam perut ini? Jika sifatnya mirip denganku, kau pasti repot sekali nantinya.”

Sun tertawa lagi mendengar ocehan Min Ho, “Aku senang jika sifatnya mirip denganmu. Karena aku mencintaimu. Terima kasih telah mempercayai rahim ini untuk melahirkan anak-anakmu, Min Ho-ssi.”

Min Ho bangkit, lalu duduk merangkul Sun,”Kadang ku berpikir kebaikan apa yang kulakukan di masa lalu hingga ku begitu beruntung mendapatkan istri sebaik dirimu.”

“Jangan berlebihan, Min ho-ssi.”

Min Ho menatap Sun begitu dalam,”Tidak,Baby. Kau terlalu baik untukku.”

Tangan Sun mulai terangkat, dan mengelus pipi suaminya,” Bukankah itu yang semestinya wanita lakukan, Min Ho-ssi? Menghormati suaminya, mendidik dan menyayangi anak-anaknya. Tentu hal itu merupakan ibadah terindah bagiku.”

“Demi Tuhan, Baby. Untung saja ku menikahimu sebelum kau memutuskan jadi biarawati.” Mereka berdua tertawa bersama mendengar kekonyolan ucapan Min Ho.

“Kira-kira apa langkah Min Jae untuk Lee Corporation?” tiba-tiba Min Ho mengkawatirkan keadaan keluarganya nantinya. Sun menggeleng,”Entahlah, menurutmu?”

Min Ho memandang Min Jae yang masih bermain petak umpet dengan Hye Na,”Apa pun keputusannya nanti. Aku mendukung saja. Semua orang koar-koar tentang nasionalisme. Sangat munafik, padahal dibalik semua itu, mereka juga siap melarikan diri, bahkan mereka menyimpan rekening di negeri yang aman seperti Swiss, misalnya. Kenapa kita tidak?”

Sun mengunci wajah tampan Min Ho hingga menoleh ke arahnya,” Aku serahkan saja semua pada kalian. Di mana pun kita nantinya, asalkan bersamamu dan anak-anak. Ku pasti bahagia.”

Min Ho tersenyum,”Gomawo, Baby. Semua pasti baik-baik saja percayalah padaku… percayalah… ” Dan Min Ho mengecup bibir merah itu, sebuah ciuman kecil yang seperti membujuk, lalu menuju ciuman yang dalam dan lebih menuntut, disertai getaran cinta dan kebahagian dari hatinya. Sun membalas semua itu, di sinilah rumahnya sekarang, di hati Min Ho, suaminya. Lengan itu akan melindunginya selamanya. Senyuman itu akan selalu menenangkannya, lalu rumput hijau yang terhampar luas, tempat anak-anaknya, penerus generasi Lee bermain dengan riangnya menyambut kebahagiaan yang membentang di masa depan.

THE END

THANK YOU FOR THE ATTENTION FROM START TO THE END

WISH YOU ALL THE BEST

Sisicia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s