Analisa Jamu

Menurut Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009, Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

 Beberapa bahan obat tradisional, ada yang sudah dikembangkan menjadi Fitofarmaka. Dalam ilmu pengobatan, fitofarmaka dapat diartikan sebagai sediaan jamu-jamuan yang telah tersentuh oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Dengan demikian khasiat dan penggunaan fitofarmaka dapat lebih dipercaya dan efektif daripada sediaan jamu-jamuan biasa, karena telah memiliki dasar ilmiah yang jelas. Secara definisi, Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah di standarisasi.

Sedangkan jamu, bisa dikategorikan sebagai obat tradisional khas Indonesia. Mutu jamu ditentukan oleh persyaratan pokok  antara lain :

  1. Komposisi yang benar
  2. Tidak mengalami perubahan fisika-kimia.
  3. Tidak tercemar bahan asing. Dalam hal ini tidak ada cemaran mikroba, kotoran, serangga, jamur, zat kimia untuk obat.

Macam-macam jamu :

  1. Jamu gendong : dibuat dengan cara dan ramuan menurut pengalaman keahlian turun temurun.
  2. Jamu godogan/ direbus. Di sini dibagi lagi menjadi jamu rajangan dan jamu cacah.
  3. Jamu serbuk yang penggunaannya bisa dilakukan dengan cara diseduh, dicelup (jamu celup), atau dioleh lagi menjadi bentuk tablet, pil, kapsul.
  4. Jamu ekstrak.

Analisa terhadap jamu bisa dibagi menjadi dua yaitu analisa kualitatif dan analisa kuantitatif. Analisa kualitatif terhadap jamu dapat dilakukan dengan :

  1. Pengujian organoleptis meliputi pemeriksaan terhadap warna, bentuk, bau, rasa dan tekstur
  2. Pengujian makroskopis meliputi pengamatan terhadap morfologi tumbuhan
  3. Pengujian mikroskopis meliputi pengamatan terhadap bentuk sel, stomata, hablur dan rambut penutup.
  4. Pengujian histokimia meliputi pengamatan histology (pewarnaan jaringan) dari tumbuhan
  5. Identifikasi terhadap senyawa kimia yang terkandung di dalamnya meliputi minyak atsiri, saponin, tannin, glikosida, polifenol, alkaloid dan lain-lain.

Sedangkan analisa kuantitatif terhadap jamu dapat dilakukan untuk menentukan kadar zat aktif dimana bisa untuk menentukan mutu dan kemurnian. Analisa kuantitatif pada jamu terdiri dari :

  1. Penentuan bahan organik asing
  2. Penentuan kadar air
  3. Penentuan kadar abu
  4. Penentuan kadar zat kandungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s