Jamu (Jaya Suprana, 1990)

Ramuan Jamu tumbuh bukan atas landasan akademis saintifik gaya ilmu farmasi barat tetapi sepenuhnya sekedar atas dasar empiris. Fakta ini tidak perlu kita tutupi atau sisihkan, karena empiris bukanlah suatu aib atau selalu keliru. seperti halnya metodologi ilmiah, laboratorium farmasi barat belum tentu selalu baik dan benar.

Menilai jamu sebagai buruk dan obat barat sebagai baik sama dangkalnya seperti menilai musik gamelan Ki Nartosabdo adalah sumbang sedangkan karya simphoni Beethoven adalah merdu, karena masing-masing memiliki latar belakang dan kaidah tata nilai estetika yang saling berbeda sehingga tidak bisa begitu saja diperbandingkan nilainya.

Maka kurang tepat bila pengembangan jamu dilaksanakan secara mutlak bertumpu pada kaidah akademis barat. Langkah total ‘baratisasi’ seperti itu sama saja dengan memusnahkan obat tradisional Indonesia.

Agar dapat meletakkan korelasi pada proporsi yang wajar, perlu dilakukan pembinaan, pendekatan antara Industri Obat Tradisional Indonesia dengan jalur formal akademis tersebut. Dengan perpaduan harmonis antara dua elemen vital tersebut, diharapkan  dapat terbentuk suatu jalur upaya pelayanan kesehatan secara lengkap dan menyeluruh seperti halnya  telah terbukti dapat dilaksanakan dengan baik di India, Korea dan Republik Rakyat Cina.

(Disampaikan oleh Jaya Suprana pada Seminar Nasional Tumbuhan Obat tahun 1990)

Semoga menjadi pencerahan bagi kita semua

-Sisicia-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s