Man is Equal in God’s Eyes

Man is equal in God’s eyes

(Cerita ini hanya fiktif belaka, tapi juga terinspirasi ma kisah perjodohan konyol)

Ruangan keluarga di Goo Manshion mulai riuh dengan tetamu yang sengaja diundang di pesta pernikahan seorang cucu dari keluarga Goo,  Kim Joon. Tentu kalian bertanya bagaimana seorang Kim Joon yang nyata-nyata bermarga Kim bisa menjadi cucu keluarga Goo. Tentu saja karena dia menyandang marga sang Ayah. Tiga puluh  tahun yang lalu putri dari keluarga Goo dijodohkan dengan putra keluarga Kim. Dari perkawinan itu lahirlah dua anak yang tampan dan cantik Kim Joon dan Kim Min Ji. Dan sejarah berulang, seperti tradisi keluarga-keluarga terhormat lainnya cucu-cucu keluarga Goo dan Kim itu harus melakukan pernikahan yang diatur. Hari ini Kim Joon harus menikahi Sandara Park dan mungkin sebulan lagi akan ada pernikahan Kim Min Ji dengan putra dari keluarga Lee, Lee Min Ho. (NGarang. Com)

Wajah sumringah Mr. Goo selalu tampak di pesta itu tapi tak bisa ditutupinya kalau dari gerak tubuhnya yang berkali-kali melirik arloji itu, terlihat kalau dia sedang menunggu seseorang. Seorang yang akan tiba dari negeri yang jauh, yang selama ini selalu dia rindukan. Pria tua ini selalu mengucap syukur beribu-ribu kali pada sang pencipta karena masih diijinkan bertemu dengan orang itu setelah pencarian panjang selama empat belas tahun. Mereka terpisah karena keegoisannya dan sang putra. Keduanya sama-sama tak mau mengalah. Sebuah konflik yang dimulai dari perjodohan. Mr. Goo masih ingat betul putra satu-satunya begitu menentang perjodohan itu karena terlalu mencintai kekasihnya. Sejoli yang tengah dimabuk cinta itu melarikan diri. Penyesalan selalu datang terlambat, terlebih saat sang putra kembali dalam keadaan tak bernyawa bahkan menantu yang kabarnya tengah mengandung hilang entah kemana.

Mr. Goo menghela nafas, semuanya telah berlalu. Cucunya telah dia temukan lima belas tahun yang lalu. Seorang gadis remaja berusia tiga belas tahun yang terpaksa tinggal sementara di panti asuhan, begitu rapuh dan terpuruk dengan wajah pucat meratapi kematian ibunya. Mr. Goo memeluk erat gadis itu lima belas tahun yang lalu. Pencarian itu berakhir sudah. Sang cucu yang kini sedang ditunggunya di pesta pernikahan itu sudah dia temukan, Goo Hye Sun.

“Tahukah kau kalau aku harabojimu?” kata Mr. Goo lima belas tahun yang lalu. Mata rabun dekatnya menatap lembut gadis ringkih. Sang cucu pun menangis di dadanya, tak menyangka dibalik sebatang karanya hidup, dia masih punya seorang kakek.

“Tunjukkan pada haraboji makam Ibumu, Hye Sun-a,” perintahnya.

Kakek dan cucu  itu pun menuju makam yang dimaksud demi menatap gundukan tanah yang masih terlihat merah. Sang menantu meninggal seminggu yang lalu, paru-paru basah dan hanya tatapan nanar yang bisa mereka berikan kini. Sang penyakit terlalu terlambat untuk diatasi.

Dengan kebahagiaan yang meluap, Mr. Goo membawa Hye Sun ke rumah besarnya. Cucu gadisnya itu memandang sekeliling dan dia dengan penuh kebanggaan memberikan tur singkat bagi Hye Sun di rumah itu. Mulutnya terus nyerocos tentang rumah itu, kehidupannya selama tiga belas tahun terakhir yang dihiasi dengan pencarian panjang dan penyesalan akibat keegoissannya. Dia tidak tahu jika sang cucu bertambah perih mendengar semua itu, hingga saat dia memutuskan menggelar pesta penyambutan besar-besaran , gadis itu berkata tegas,”Haraboji, aku ingin keluar dari Korea.”

Demi tuhan, itu adalah pertama kalinya Mr. Goo mendengar suara lantang Hye Sun. Dia ingat betul itu, hari itu seminggu sebelum keberangkatan Hye Sun ke Kanada. Tentu saja  dia menolak keras saat itu,”Tidakkah kau tahu harabojimu ini sangat merindukanmu, Hye Sun-a.”

Hye Sun mulai menangis, suara frustasinya segera memenuhi perpustakaan Goo Manshion, “Anyi, Aku tidak mau di sini. Aku benci Korea!!!” Mr. Goo terkejut dengan histeria itu, bahu gadis itu yang bergerak turun naik seiring sedu sedannya. Otak tua Mr. Goo selalu menerka-nerka hal yang telah menimpa cucunya ini tapi sepertinya Hye Sun ingin berahasia.

Kanada, negeri yang dipilih Mr. Goo untuk Hye Sun. Masa remaja Hye Sun dihabiskan di sana. Lima belas tahun bukanlah waktu yang singkat dan Mr. Goo benar-benar tak habis pikir saat Hye Sun tiba-tiba memutuskan untuk merubah warga kenegaraannya menjadi warga negara Kanada lima tahun yang lalu.

“Melamun, Haraboji?” Tepukan Min Ho di pundaknya membuat Mr. Goo sedikit tersentak. Dia hanya bisa menyunggingkan senyum tipis pada pemuda di depannya itu. Kekaguman terpancar di matanya yang ditujukan pada Min Ho. Anak lelaki keluarga Lee ini sungguh berbakti. Demi membahagiakan Ibunya, Min Ho ikhlas menerima perjodohannya dengan Min Ji .

Sekali lagi Mr. Goo melirik arlojinya. Min Ho mengamati dengan dahi berkernyit,”Anda menunggu seseorang?”

Mr. Goo mengangguk,”Cucu perempuanku. Dia janji akan pulang hari ini.”

Min Ho tersenyum mendengar pengakuan Mr. Goo. Siapa yang tidak kenal Goo Hye Sun. Wanita yang berhasil meraih gelar doktor di usia dua puluh tujuh tahun itu. Wanita yang selalu menjadi bulan-bulanan di Korea karena tulisan-tulisannya yang terlalu berani mengkritik Korea.

“Sebuah pernikahan di Korea belum tentu terjadi karena cinta. Orang tua di Korea masih terlalu ikut campur dengan kehidupan anaknya hingga merasa berhak memutuskan jodoh bagi anaknya,” tulis Hye Sun di salah satu jurnal Ilmiah. Hye Sun memang mengambil jurusan Ilmu Budaya.

“Saat kau melihat film perang buatan Korea Selatan. Hal yang bisa kau tangkap adalah sebuah kisah yang heroik, tapi ironisnya, saat Korea Utara melancarkan serangannya, Korea Selatan berlindung pada Obama Oppa atas nama demokrasi,” tulisan Hye Sun ini sempat gempar beberapa bulan yang lalu. Jika saja kewarganegaraannya masih Korea, sudah pasti pemerintah menciduk dan menuduhnya dedengkot  komunis. Kalimat itu memang penuh kesinisan dan sarkatis, tapi Hye Sun tetap tak tersentuh. Dia adalah warga dari negara yang benar-benar demokrat, yang menghormati hak berpendapat.

Min Ho sangat geli mengingat semua itu. Sebenarnya dia tak ambil pusing bahkan tak mengenal Hye Sun tapi karena teman-temannya yang terus membicarakan tulisan-tulisannya mau tak mau Min Ho ikut mendengar walau kadang sambil tidur-tiduran ayam.

Tadi Mr. Goo yang melamun dan kini Min Ho juga, pesta ini benar-benar muram. Terutama bagi Min Ho, tak bisa dipungkiri bahwa salah satu tulisan Hye Sun di jurnal itu terjadi pada dirinya. Apakah dia mencintai Min Ji? Jawabannya masih samar. Yang bisa dia lakukan hanyalah menjalani, cinta bisa datang kapan saja. Yang penting bisa membahagiakan sang Ibu.

Mrs. Lee memang terlihat bahagia di pesta ini. Dia menghampiri Mr. Goo, memamerkan sederet rencana untuk pernikahan Min Ho dan Min Ji tanpa perduli pria tua itu mendengarkan dengan segan. Semuanya dia jabarkan, gaun pengantin, katering, tata ruang, semuanya. Saat Mr. Goo melongokkan kembali kepalanya ke arloji itulah, Mrs. Lee baru berkata,”Anda menunggu seseorang?”

“Ne, cucuku!” jawab Mr. Goo.

“Cucu anda pulang dari Kanada?”

Sekali lagi Mr. Goo mengangguk,”Khusus untuk pernikahan Joon,” ujarnya sambil mengamati pasangan yang tengah berbahagia saat ini, Kim Joon dan Sandara.

“Saya jadi ingin berkenalan dengannya. Aku rasa Min Ho juga begitu. Iya, kan, Min Ho-a?” tanya Mrs. Lee sambil menyorongkan kepala pada putranya meminta dukungan. Min Ho mengangguk,”Tentu, siapa yang tidak ingin berkenalan dengan Goo Hye Sun.”

Mr. Goo tertawa bijak. Hatinya semakin bangga pada sang cucu yang tak jua muncul-muncul itu. “Tahun ini dia mengejar gelar profesornya,” kabar dari Mr. Goo yang membuat ibu dan anak itu semakin berdecak kagum.

“Ckckckckck, belum puas juga cucumu itu, Tuan Goo,” decak Mrs. Lee sambil menggeleng-gelangkan kepalanya.

“Sepertinya begitu.”

“Apakah anda tidak merasa sudah waktunya dia memikirkan pernikahan. Bayangkan, jika nanti Min Ho dan Min Ji menikah, tinggal Hye Sun cucu anda yang belum menikah,” saran Mrs. Lee.

“Hye Sun terlalu bebas. Kau tentu masih ingat salah satu tulisannya, bukan?”

Mereka bertiga pun tertawa, menyadari bahwa tengah membicarakan seseorang yang tidak pernah mau hidupnya ditentukan orang lain. Hingga terdengar suara Kim Joon yang berteriak senang,”My princess!” dan ketiganya melihat ke arah kim Joon yang kini tengah memeluk seorang gadis.

Gadis itu tersenyum  riang di pelukan Kim Joon. “Chukae, Oppa!” serunya. Mr. Goo hafal betul suara cempreng itu. “Sepertinya yang kita tunggu-tunggu sudah datang, Nyonya,” gumam lelaki tua itu tapi masih tertangkap telinga Mrs. Lee sehingga mereka bertiga berjalan menuju gadis itu.

“Hye Sun-a,” panggilan Mr. Goo tersambut dengan pelukan hangat. Kakek dan cucu itu tertawa sambil melepaskan rindu. Berturut-turut saudara-saudara Hye Sun memberikan pelukan sambutan. Mereka sungguh bahagia. Terlalu bahagia bahkan tak menyadari kalau gadis ini ‘saltum’ alias salah kostum. Pakaian ala bersafari di afrika yang dia kenakan. Mungkin dia terburu-buru, sehingga dari bandara langsung ke pesta tanpa berganti baju. Setidaknya itu yang Min Ho pikirkan. Min Ho agak samar melihat wajah Hye Sun yang tertutup topi pendora dan kaca mata hitam.

“Hye Sun-a, kenalkan, ini  Nyonya  Lee dan putranya.” Mr. Goo memperkenalkan Hye Sun pada Min Ho dan ibunya. Merasa kurang sopan, Hye Sun mencopot topi dan kaca matanya. Ibu dan anak di depannya seketika mati kutu. Kepanikan melanda, terutama Mrs. Lee yang segera menampakkan muka pucat dan keringat dingin di kening. Sementara angan keduanya melayang pada kejadian lima belas tahun silam, yang mungkin masih diingat oleh Hye Sun…..

 0oooOOOooo0

Hal yang akan dilakukan oleh seorang Goo Hye Sun pada hari kedua kepulangannya di Korea adalah memenuhi undangan perguruan tinggi setempat untuk menjadi dosen tamu. Tentu saja Mr. Goo memerintahkan sopir untuk mengantar yang segera ditolak mentah-mentah olehnya. “Hye Sun pilih naik bus saja, Haraboji.”

Mr. Goo menyipitkan mata mendengarnya namun itu tak menyurutkan niatnya. Gadis mungil itu berjalan menuju halte bis setelah melalui areal luas Goo Manshion. Berlari-lari ke arah selter untuk menghindari hujan yang turun tiba-tiba. Menanyakan pada petugas tentang jalur bis yang harus dia tumpangi sambil melakukan transaksi pembelian tiket dan akhirnya duduk manis di ruang tunggu.

Suasana hujan itu mengingatkan pada masa kecilnya. Saat dia dan seorang anak laki-laki bermain hujan-hujanan. Tingkah polosnya waktu itu pun masih dia ingat. Anak lelaki itu menolak bermain sebelumnya. Takut kena marah omanya dan lebih memilih menunggu hujan reda di emperan sekolah tapi kejahilan seorang Goo Hye Sun yang menarik tangannya membuat anak lelaki itu akhirnya terjun di tengah derasnya air yang tertumpah dari langit.

“Ayo, Dongsaeng! Nikmatilah hujan ini! Yuhuu !” teriak Hye Sun histeris. Anak laki yang disebut dongsaeng itu akhirnya tertawa-tawa menikmati sensasi liar itu. Meloncat-loncat bersama, menciptakan cipratan-cipratan abstrak air hujan yang tergenang di kaki mereka.

Saat hujan berhenti. Pelangi melengkung indah di langit. Keduanya kini berdiri dalam keadaan basah kuyub, menatap jalur warna di angkasa itu. Hye Sun merangkul anak itu sementara tangannya yang bebas menunjuk ke atas. “Mejikuhibiniun,” gumamnya.

“Mwo?” anak lelaki itu memandangnya cengo. Hye Sun terkikik pelan, mungkin pelajaran Min Ho belum sampai sini, pikirnya kemudian.

“Urutan warna pelangi itu adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Disingkat mejikuhibiniun,” terang Hye Sun. Min Ho mengangguk-angguk tanda mengerti. Hye Sun mempererat rangkulannya sambil tertawa senang.

Bis dengan jalur yang harus ditumpangi Hye Sun tiba. Lamunan Hye Sun terhenti sementara untuk berkonsentrasi memasuki bis. Selter pemberhentian itu dibuat lebih tinggi beberapa centimeter dari tanah dan jika tidak hati-hati saat melangkah, jangan kaget jika kau terjerembab.

Rupanya hujan agak menyusutkan niat orang-orang untuk keluar rumah. Namun jangan salahkan undangan dari pihak perguruan tinggi itu yang memilih jam lenggang untuk kuliah tamu. Alhasil dengan mudahnya Hye Sun mendapatkan tempat duduk di dalam bis. Dan seperti halnya yang dilakukan orang jika naik bis sendirian adalah mengamati pemndangan yang terpampang dari kaca jendela. Tangan Hye Sun mengusap kaca jendela yang agak buram karena embun itu. Pemandangan luar kini jelaslah sudah. Pemandangan Seoul yang sudah banyak berubah daripada lima belas tahun yang lalu.

Hye Sun menghela nafas. Tangan yang dipakai untuk mengusap kaca jendela itu diusapkannya pada tisu. Tangan yang sudah banyak menghasilkan tulisan ilmiah yang berharga walau kadang menimbulkan kontroversi, setidaknya dengan tulisan-tulisan itu dia bisa mencapai posisinya yang sekarang. Tak ada yang mengira bahwa tangan yang sama itu bekerja begitu keras sewaktu kecil. Almarhumah ibunya adalah pelayan keluarga Lee. Keluarga itu mempunyai anak laki-laki yang berusia lebih muda dua tahun darinya. Tugas Hye Sun waktu itu adalah sebagai kakak pengasuh bagi anak itu.

Tugas yang mudah baginya, tapi tugas yang diberikan pada Ibunya sangatlah berat. Apalah yang bisa didapat oleh seorang imigran gelap yang menjadi pelayan rumah tangga di negeri orang. Mereka berdua sudah cukup bersyukur keluarga Lee masih mau memberi perlindungan, makan dan biaya sekolah bagi Hye Sun. Ya, hanya itu gaji yang didapat Almarhumah Ibunya saat bekerja di Lee Manshion.

Kadang Hye Sun menertawakan nasibnya yang bagai permainan di biduk catur. Bagaimana bisa ayahnya yang merupakan putra dari Keluarga terpandang Goo itu jatuh cinta pada Ibunya yang seorang pelarian dari Korea utara? Bagaimana bisa mereka akhirnya memutuskan kawin lari demi menghindari perjodohan konyol yang diatr Mr. Goo? Dan sang Ayah meninggal karena tidak tahan hidup miskin dan mereka berdua berakhir sebagai ibu dan anak pelayan di Lee Manshion.

Hye Sun mengamati tangan mungilnya.  Masih cukup halus walau kerjanya semakin keras akhir-akhir ini. Dia teringat saat tangan itu membuka sebuah surat yang tersampul amplop merah jambu. Dia berusia tiga belas tahun saat itu dan masih berstatus sebagai anak pelayan di Lee Manshion. Kikikan kecil terdengar dari mulutnya kemudian, tapi saat dibacanya tulisan di kertas berbentuk hati itu, perasaannya begitu melayang. Anak laki-laki yang selama ini dipanggil dongsaeng menaruh hati padanya dan ini adalah surat untuk kesekian kalinya dengan kalimat penutup, “Saranghe.”

Tangan Hye Sun mengepal tiba-tiba. Dia juga ingat apa yang terjadi seminggu kemudian, Mrs. Lee yang murka menyeretnya ke depan ibunya. Memaki-maki dengan kata-kata yang tak pantas diucap oleh wanita terhormat. Hye Sun menangis keras, sang Ibu merintih pilu. NYonya besar itu mengobrak-abrik isi lemari mereka. Dan saat menyembul tumpukkan surat merah jambu itu, Mrs. Lee merobek-robek  kesetanan.

“Dasar komunis sialan! Dikasih hati malah minta jantung! Sudah dikasih perlindungan dan makan, kini kau sodorkan anak harammu itu untuk menggoda anakku. Jangan mimpi!” umpat Mrs. Lee waktu itu.

Komunis? Keluarga Sang Ibu melarikan diri dari utara karena memberontak dan menghindari paham komunis. Anak haram? Orangtuanya menikah di catatan sipil walau tanpa restu. Tangan Hye Sun semakin mengepal. Bis yang dia tumpangi masih membelah hujan yang semakin deras. Keluarga Lee mengusir mereka hari itu. Min Ho meronta-ronta dibawah genggaman pengawalnya. Keangkuhan gerbang besar Lee Manshion tertutup kasar. Membatasi dunia kanak-kanak mereka. Hanya imajinasi anak-anak, tapi Mrs. Lee terlalu menganggap serius. “Hanya gadis terhormat yang bisa menikah dengan anakku. Dan itu adalah cucu dari keluarga Kim di Seoul!” tegas Nyonya sombong itu yang mana Hye Sun  tak cukup bisa menangkap maksud kalimat itu.

Dan tangan itu harus berjabat lagi dengan tangan Mrs. Lee kemarin. Hye Sun berlaku seperti orang yang baru mengalami cuci otak. Dengan menapik kenangan buruk itu, Hye Sun menyodorkan tangannya pada Mrs. Lee sambil memperkenalkan diri, “Goo Hye Sun imnida.”

Tentu saja Mrs. Lee merespon dengan agak gelagapan. Selama ini keluarga Lee mengenalnya sebagai Sunny. Itulah panggilan bagi Hye Sun selama di Lee Manshion. Dan Min Ho…. Hye Sun tahu tentang perjodohannya dengan Min Ji. Adik sepupunya itu selalu mengeluhkan perjodohannya di surat elektroniknya. Ah, Hye Sun tak mau ikut campur. Yang dia nikmati kemarin adalah wajah gugup Mrs. Lee. Komunis sialan? Anak haram? Apa jadinya jika ternyata anak haram itu adalah cucu dari keluarga Goo, salah satu keluarga terhormat di Korea Selatan.

“Senang berkenalan dengan anda Min Ho-ssi,” Hye Sun tahu Min Ho masih mengenalinya. Agak ragu Min Ho membalas jabat tangan Hye Sun. “Begitu juga saya, Hye Sun-ssi.”

0oooOOOooo0

“Huek!” Pagi-pagi sudah terdengar suara orang muntah di kamar Kim Min Ji. Sang empunya kamar memang kurang enak badan akhir-akhir ini. Tubuhnya serasa asing, tak mampu diatasinya.

“Huek!” sekali lagi Min Ji berusaha menuntaskan rasa mual itu. Walau matanya sudah berair tak karuan, yang keluar hanya cairan bening. Min Ji terduduk lemah di samping wastafel. “Ada apa ini?” pikirnya kemudian.

Min Ji berusaha bangkit, meyakinkan diri bahwa keadaannya baik-baik saja lalu menuju tempat tidur. Saat membaringkan tubuh itulah, angannya melayang pada kejadian sebulan yang lalu. Malam yang begitu indah baginya. Sang kekasih begitu memanjakannya waktu itu dan mereka sama-sama terbuai dalam romantisme itu.

“Tidak, tidak mungkin!” ditepisnya pikiran buruk itu.

Telinga Min Ji mulai menangkap suara langkah kaki. Decitan pintu yang terbuka lalu tertutup lagi terdengar dari kamar sebelah. Kamar sepupunya, Goo Hye Sun. Seminggu sudah Hye Sun di Korea tapi mereka tidak pernah bertatap muka dan Min Ji merasa inilah saat itu. Mereka berkomunikasi lewat Surel selama ini. Ingin rasanya bermanja-manja dengan Hye Sun secara langsung.

Dengan langkah riang, Min Ji menuju kamar Hye Sun. Tanpa mengetuk, dibukanya pintu itu. Hye Sun yang kaget menoleh. Min Ji sudah menongolkan kepalanya dengan senyuman lebar,”Miane, kurang sopan.”

“Oh, masuklah, Min Ji-a,” perintah Hye Sun sambil memasukkan baju-bajunya ke dalam travel Bag. Min Ji mengkerutkan kening melihatnya,”Kau mau pergi?”

Hye Sun tersenyum. “Profesor Jansen menelponku agar segera kembali ke Johanessberg.”

“Afrika Selatan?” Min Ji keheranan.

“Ne,” angguk Hye Sun.”Aku mengadakan penelitianku di sana.”

“Apa yang kau teliti?”

“Kehidupan para wanita di sana. Kau tahu, ancaman HIV-Aids mengintai para wanita di sana. Negeri yang pernah jadi tuan rumah piala dunia itu mempunyai sisi gelap prostitusi.”

Min Ji menghela napas panjang.”Dan kau lebih memilih mereka dari pada menghadiri pernikahanku?”

Hye Sun menepuk jidatnya. Dia lupa kalau dua minggu lagi Min Ji menikah. “Miane, tapi tugasku menunggu. Penelitian ini didanai perusahaan asing, jadi aku harus menyelesaikannya tepat waktu.”

Min Ji jadi cemberut. Mau tak mau Hye Sun menghentikan aktifitas berkemasnya untuk memegang kedua pundak Min Ji dan menatapnya lekat-lekat.”Dengar, Min Ji-a, walau pun aku tidak ada di sini saat kau menikah, doaku selalu bersamamu. Selamat menempuh hidup baru. Semoga kau bahagia.”

“Anhi,” elak Min Ji. Kepala mungilnya menggeleng lemah.”Aku tidak yakin bisa bahagia dengan Min Ho. Aku tidak mencintainya.”

Hye Sun hanya bisa menghela nafas. Keluhan Min Ji itu sering Hye Sun baca di surelnya. “Min Ho pria yang baik. Kalian pasti bahagia, percayalah!”

Min Ji tetap menggeleng.”Aku iri padamu. Kau begitu bebasnya. Aku heran kenapa sampai sekarang Haraboji tidak berusaha menjodohkanmu dengan seorang namja.”

“Jangan mengeluhkan nasib, Min Ji-a…,”

“Aku tidak mengeluh. Seharusnya kau-lah yang mengalami perjodohan ini, Hye Sun-a.”

“Mwo?”

“Kau adalah cucu wanita keluarga Goo. Sebenarnya yang dijodohkan dengan Min Ho adalah cucu wanita keluarga Goo.”

“Kau juga cucu keluarga Goo,” Hye Sun memang kurang bisa menangkap maksud perkataan Min Ji.

“Anhi, posisiku di keluarga Goo adalah cucu luar. Kau lah cucu dalam keluarga Goo. Seharusnya Min Ho dijodohkan denganmu, kalau saja kau dan Ibumu tidak menghilang selama empat belas tahun.”

Dahi hye Sun semakin berkerut,”Cucu luar? Cucu dalam? Maksudnya?”

“Ah, bagaimana menjelaskannya padamu. Pokoknya kau cucu dalam karena kau anak dari putra haraboji, sedangkan aku cucu luar karena anak dari putri haraboji. Tapi kalau di keluarga Kim, posisiku adalah cucu dalam.”

Hye Sun memiringkan kepalanya. Lamat-lamat dia menangkap penjelasan Min Ji.”Tapi kita sama-sama cucu haraboji, kan?”

Min Ji mengangguk. “Hye Sun-a,” panggilnya kemudian.

“Ne,” jawab Hye Sun yang kembali memasukkan baju-bajunya ke dalam travelbag.

“Bawa aku bersamamu.”

“Mwo!” Hye Sun jadi mendelik.

“Orang tuamu dulu melarikan diri dari perjodohan Haraboji. Jika aku keluar dari negeri ini, aku pasti juga bisa melarikan diri.”

Hye Sun menghela nafas panjang. “Jangan bodoh, Min Ji-a.”

“Aku tidak bodoh. Rencana pernikahan itu yang bodoh. Aku ingin lari ! Sudah kubilang aku tidak mencintai Min Ho ! ”

“Kalau begitu berusahalah mencintainya!” bentak Hye Sun. “Min Ho pria yang baik. Kau pikir apa pantas kau permalukan dia seperti itu?”

Min Ji mulai terisak. Hye Sun menatapnya penuh rasa empati. Sesaat Hye Sun memeluk sepupunya itu. “Jangan melakukan hal yang kau sendiri tidak kuat menanggungnya,” bisik Hye Sun di telinga Min Ji.

 0oooOOOooo0

Hembusan nafas Min Ho serasa berat. Di meja makan itu dia bisa melihat dengan jelas roman muka Hye Sun. Gadis itu menjadi pusat perhatian di acara dinner kali ini. Di samping kirinya, Mrs. Lee duduk dengan wajah tegang. Min Ho menggenggam tangan sang ibu untuk menenangkan. Kejadian lima belas tahun yang lalu pasti masih diingat oleh ibunya itu, Mrs. Lee takut jika Mr. Goo mengetahuinya. Takut jika keluarga Kim membatalkan perjodohan Min Ho dan Min Ji.

“Dan aku tertawa ngakak saat mahasiswa-mahasiswa itu mengira aku mahasiswa baru,” oceh Hye Sun menceritakan pengalamannya waktu dia menjadi dosen tamu. Kim Joon  ngakak seketika. Di antara yang hadir di meja makan itu, Kim Joon lah yang paling antusias mendengar kicauan Hye Sun.

“Tidak heran, Hye Sun-a. Wajahmu begitu imut. Pantas saja jika mereka mengira kau mahasiswa baru,” suara Dara. Pasangan ini sangat mengagumi Hye Sun. bahkan mereka duduk terpisah, mengapit Hye Sun di kiri dan kanan.

“Kau harus menjadi pengiring pengantin di pernikahan Min Ji, Hye Sun-a,” tiba-tiba Mr. Goo bersuara. Mrs. Lee tiba-tiba menoleh ke arahnya. Min Ho hanya bisa menahan nafas. Ingin rasanya dia melarikan diri. Berdoa jika saja ada keajaiban yang tiba-tiba datang agar rencana pernikahan ini gagal.

“Mianhamnida, Haraboji. Profesor Jansen sudah menelponku terus,” sesal Hye Sun.

“Haraboji, bisa memberikan dana buat penelitianmu, Hye Sun-a. Iya, kan Haraboji?” Min Ji mengalihkan pandangan pada Mr. Goo. Lelaki tua itu mengangguk.” Jadi kau tidak perlu kawatir jika perusahaan asing itu menghentikan dana karena penelitian tidak selesai tepat waktu.”

“Jangan begitu, Haraboji,” Kali ini Kim Joon membela Hye Sun.”My Princess harus tetap professional. Itu juga demi nama Negara kita di mata mereka.”

“Opa…., kenapa tidak mendukungku,” rengak Min Ji. Kim Joon menjulurkan lidahnya pada Min Ji. Merasa diperolok, Min Ji melemparkan napkin ke muka Kim  Joon. Tak mau kalah, Kim Joon melemparkannya lagi ke Min Ji. Tatapan mata Hye Sun jadi beralih-alih dari Min Ji dan Kim Joon. Min Ho mengamati sambil mengulum senyum. Suasana ruang makan jadi ribut karena ulah kakak beradik itu.

“Cukup! Cukup, anak-anak,” teriak Mrs. Kim. Jengkel dengan ulah anak-anaknya yang masih seperti anak kecil. Mr. Goo menatap tajam pada Kim Joon. Kakak beradik itu menyusut di tempat. Mereka tahu harabojinya sangat menjunjung tinggi etiket di meja makan.

Genggaman tangan Mrs. Lee pada Min Ho semakin kuat. Apalagi saat dia melihat ketegasan sikap Mr. Goo sekarang. Apa yang akan terjadi jika Mr. Goo tahu cucu kesangannya pernah terhina di Lee Manshion? Membayangkan saja, Nyonya besar Lee itu tidak berani.

Salah satu pelayan mendekati Hye Sun lalu membisikkan sesuatu di telinganya. “Baik, saya akan ke sana,” kata Hye Sun hingga pelayan itu segera berlalu.

“Kalian lihat, professor Jansen menelpon lagi,” hela Hye Sun sambil  mengelap sudut mulutnya. Dia berdiri. “Saya permisi dulu untuk menerima telepon. Terima kasih atas makan malam yang menyenangkan, Anyong,” kata-katanya berakhir dengan bahasa tubuh menunduk.

Mr. Goo menghela nafas pasrah. Hye Sun berlalu begitu saja tanpa menyelesaikan makannya. “Profesor itu tengil juga,” desis Mr. Goo.

“Apa maksud, Appa?” tanya Mrs. Kim.

“Kenapa mereka tidak memberi liburan yang lebih luas pada Hye Sun.”

Malam pun semakin larut. Para orang tua masih sibuk membicarakan rencana pernikahan. Min Ho berdiri di dekat salah satu jendela di Goo Manshion. Hujan masih deras di luar. Sejak kecil dia sangat menyukai hujan. Pelangi yang muncul setelah hujan reda, sangat menyenangkan hatinya. Min Ho masih ingat benar siapa yang pertama kali menunjukkan padanya fenomena alam ini.

“Mejikuhibiniun,” bisikan anak perempuan itu seakan terdengar kembali di telinganya. Dia manatap cengo waktu itu. Kata, “Mwo?” cukup membuktikan kalau dia kurang mengerti maksud perkataan anak perempuan itu. Seperti kebiasaannya yang sudah-sudah, anak itu terkikik sambil membekap mulutnya. Min Ho selalu terpana dengan gerak-gerik itu. Apalagi melihat warna merah jambu yang menyembul di pipi anak perempuan itu. “Urutan warna pelangi itu adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Disingkat mejikuhibiniun,” terang anak yang berpipi merah jambu.

Min Ho tersenyum mengingatnya. Gerak-gerik itu dilihatnya lagi saat makan malam tadi. Begitu jelas karena Hye Sun duduk tepat di hadapannya. “Sunny” yang manis. Min Ho sangat menyukainya. Bahkan dia harus berkelahi dengan Geun Suk karena anak itu juga menaruh hati pada Sunny.

“Sunny  hanya main sama aku! Sama aku !” teriaknya sambil memukuli Geun Suk yang terbaring di bawahnya. Dia sangat marah waktu tahu Geun Suk mengirim surat cinta pada Sunny.

Hujan di luar reda. Kini Min Ho membuka jendela, keluar menuju balkon. Tak disadari Hye Sun juga melakukan hal yang sama beberapa kaki darinya. Mereka berdua sama-sama menghela nafas. Bau tanah basah menyeruak di udara. Begitu menyegarkan system pernafasan mereka. Hingga akhirnya mereka saling berpandangan, ada kekikukkan di antaranya.

“Malam,” salam Min Ho kelu. Hye Sun menganggukkan kepala sambil memamerkan lengkungan indah di bibir.  Dan Min Ho merasa harus mendekatinya. Dia mengawatirkan sang Omma yang ketakutan sejak mereka berjumpa Hye Sun lagi.

“Sayangnya tidak ada pelangi,” bisik Hye Sun.

“Kelamnya malam menutupi sang ratu warna itu, Hye Sun-ssi,” tanggapan dari Min Ho.

“Ne,” sekali lagi Hye Sun tersenyum.

“Sunny…,” Min Ho ingin menguji Hye Sun dengan panggilan itu. Dia ingin melihat respon Hye Sun. Apa daya Hye Sun tidak menunjukan respon berarti. Gadis itu masih saja memandang langit yang mulai tersibak dari awan. Sudah lama panggilan itu tidak Hye Sun dengar. Kini dia Goo Hye Sun, cucu keluarga Goo. Bukan Sunny, sang anak pelayan. Hye Sun begitu ingin mengubur kenangan itu.

“Manusia itu sama di mata Tuhan,” cerocos Hye Sun kemudian, yang membuat Min Ho mengkerutkan kening. “Bahkan manusia terlihat kerdil dari atas sana,” sambungnya sambil menunjuk langit.

“Bukan begitu, dongsaeng?”

Hye Sun berjalan menuju kamarnya, sementara Min Ho masih terpaku di tempat. Panggilan Hye Sun padanya membuat semuanya jelas bagi Min Ho. Ingin rasanya Min Ho mengulang masa kecil. Ingin rasanya Min Ho merasakan kembali cinta monyetnya pada Hye Sun. tapi kenangan buruk itu selalu menyertai, saat sang omma mengusir Hye Sun dan Ibunya dari Lee Manshion. Saat itu dia meronta-ronta histeris untuk mencegah semua itu. Dan saat akhirnya pintu gerbang Lee Manshion tertutup rapat, memisahkan dunianya dari dunia cinta pertamanya.

Manusia itu sama di mata Tuhan. Jika saja sang Omma menyadari itu lima belas tahun yang lalu. Kini Hye Sun benar-benar tak  tersentuh. Saat kanak-kanak, Min Ho bisa menyentuhnya sebagai Noona. Saat masa remaja, Min Ho bisa menyentuh Hye Sun sebagai cinta pertamanya. Tapi kini….

“Saranghe, Sunny,” kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya. Kalimat yang selalu dibisikannya pada Sunny di masa lalu. Seiring dengan gelora cinta ala ABG di hatinya. Kalimat yang selalu tertulis di setiap surat merah jambu untuk Sunny. Surat-surat  yang akhirnya terkoyak oleh tangan Mrs. Lee, dan Min Ho hanya mampu tertunduk meratapi serpihan-serpihan kertas itu. Sunny-nya sudah pergi kala itu.

0oooOOOooo0

Dan tibalah hari yang sudah direncanakan jauh-jauh hari itu. Hari pernikahan Min Ji dan Min Ho. Keduanya kini telah berdiri di depan Altar. Pendeta memberikan wejangan singkat sebelum melanjutkan srakamen berikutnya. Kedua pengantin terlihat pasrah. Sudah tidak ada harapan untuk menghentikan pernikahan ini.

“Jika ada yang keberatan dengan bersatunya mereka berdua, maka bicaralah sekarang atau diam untuk selamanya,” pidato sang pendeta.

Suasana hening sejenak. Min Ho memejamkan mata. Berdoa akan adanya keajaiban.

“Baiklah, jika tidak ada…

“Pendeta…,” panggil seseorang dari bangku audiens. Semua undangan menoleh ke arahnya. Seorang pemuda berkulit putih yang cukup tampan berjalan maju ke altar.

“Shi Won-a….,” desis Min Ji. Air mata segera menggenangi pelupuk matanya.

“Chagiya,” panggil pemuda itu, Shi Won pada Min Ji. “Aku mohon jangan lakukan. Kita besarkan anak kita sama-sama. Ku mohon.”

Tangis  Min Ji jadi makin keras. Min Ho memicikkan mata untuk memahami pemandangan yang terjadi. Para undangan mulai heboh. Suara dengungan dari mulut-mulut di ruangan itu membahana.

“Aku mohon… . Maafkan karena aku terlalu kasar kemarin,” ujar Shi Won. “Aku… aku hanya terkejut kemarin. Tapi sekarang aku sadar, aku tidak bisa hidup tanpamu.”

“Shi Won-a…

“Miane, jeongmal miane,” Shi Won berlutut di depan Min Ji. Ditariknya pinggang Min Ji lalu mencium perutnya lembut.

“Tunggu…,” kali ini Min Ho yang bersuara. Serta merta pandangan audiens beralih pada Min Ho. “Kau hamil?” tanyanya pada Min Ji. Masih dengan menangis, Min Ji mengangguk, mengelus kepala Shi Won.

“Dan pria ini ayah dari bayimu?” tanya Min Ho lagi. Sekali lagi Min Ji mengangguk. Audiens semakin gempar. Para orang tua merasa dipermalukan. Tapi herannya Min Ho malah tertawa ngakak. Tentu saja, itu adalah tawa kelegaan hati. Lalu dengan roman muka berseri-seri. Dia memerintah,”Berdirilah, Shi Won-ssi!”

Shi Won menuruti perintah Min Ho. Min Ho memegang tangan Shi Won dan menumpukannya di atas tangan Min Ji. “Berbahagialah…”

Senyum  bungah melebar di bibir Min Ho. Segera dia melangkah keluar dari gereja itu dengan sejuta angan di kepalanya. Dibukanya pintu gereja yang megah lebar-lebar. Cahaya luar seketika menyembul ke dalam gereja, hingga tampak tubuh jangkung itu bagai shiluette.

Udara luar segera menyambut Min Ho. Dia memejamkan mata dan menarik nafas  kuat-kuat sebelum dihembuskan kembali. “Aku bebas sekarang,” bisik hatinya.  Sayup-sayup terdengar ikrar pernikahan dari dalam gereja, Min Ho berlari ke mobilnya. Semuanya akan segera dia persiapkan dan kali ini tentu tidak akan ada yang menghalanginya lagi.

Suasana sabana yang luas menyambut Min Ho saat turun dari mobil pick upnya. Pria ini memandang sekeliling. Warna hijau menerjang matanya saat melepas kaca mata hitam. Musim basah di afrika membuat tetumbuhan tampak begitu lebat. Sementara suara serangga yang lebih mirip dengan gangsing membahana. Menghantarkan langkah Min Ho ke sebuah bangunan mungil yang dari desainnya, kita pasti akan menghina perancangnya.

Tapi di bangunan itu Hye Sun memberikan konseling setiap Minggu pada para wanita penduduk lokal setempat. Min Ho ingin mengetuk pintu, tapi saat mendengar suara Hye Sun dari dalam ruangan yang sepertinya menerangkan sesuatu, Min Ho mengurungkan niatnya. Perlahan, dibukanya pintu bangunan itu.

Dan kini dia bisa melihat HYe Sun berdiri di depan kelas, memberikan penjelasan pada para wanita itu dengan bahasa local yang Min Ho sendiri tidak mengerti. Tapi dari gerak tubuh Hye Sun yang mengacungkan ibu jarinya dan membalutnya dengan alat kontrasepsi itu, Min Ho jadi tahu apa yang dibicarakan oleh HYe  Sun di situ.

Sesekali terdengar ‘murid-murid’ Hye Sun  tertawa cekikikan. Lalu salah satu dari mereka mengacungkan tangan. Hye Sun mendengarkan dengan seksama pertanyaan dari orang itu yang diakhiri dengan tawa gemuruh seluruh kelas. Min Ho bisa menangkap perubahan warna di wajah Hye Sun. dan Min Ho sedikit heran saat Hye Sun menjawab pertanyaan itu dengan roman enggan.

Min Ho masih saja memandang Hye Sun. Bahkan guci yang ada di samping kiri, dia tak melihat. Suara “prang” dari guci yang tersenggol membuat semua orang menoleh ke Min Ho termasuk Hye Sun.

“Sory!” sesal Min Ho. Hye Sun memicingkan matanya. Seakan tak percaya dengan yang terlihat, gadis itu mengucek-ucek mata. Senyuman segera tersungging di bibir Min Ho. Masih dengan senyuman itu, Min Ho menghampiri Hye Sun yang kini mengamatinya dengan tatapan bingung sekaligus heran.

“Bukankah kalian harusnya berbulan madu?’ tanya Hye Sun tanpa perduli pada ‘murid-murid’ nya yang masih bertanya-tanya siapa pria yang muncuk tiba-tiba itu.

“Maksudnya Kim Joon dan Dara?” tanya Min Ho balik.

“Anhi. Kau dan Min JI.”

“Min Ji dan Shi Won mungkin maksudmu.”

“Mwo?”

Sekali lagi Min Ho tersenyum. Wajah heran Hye Sun membuat kerinduan Min Ho semakin tak tertahankan. Dengan kegembiraan yang meluap, Min Ho memeluk tubuh mungil di depannya itu. Hye Sun mendelik saking kagetnya. Terlebih murid-muridnya pada bertepuk tangan riuh. Perlahan tangan Hye Sun terangkat, mengelus punggung Min Ho, menikmati kerinduan yang terjalar dari pelukan itu.

“Bogosipho, Sunny. …,” desah Min Ho.

Hye Sun menghela nafas. Saat ini dia dan Min Ho sedang duduk-duduk di pinggir kali. Sudah setengah jam mereka terdiam. Hye Sun rupanya kurang mempercayai cerita Min Ho tentang Min Ji. Tiba-tiba Min Ho berdiri. Sesaat dia membungkuk untuk memungut batu kerikil, lalu dengan konsentrasi terpusat, dilemparkan batu itu ke sungai, membentuk loncatan sebanyak tiga kali sebelum tenggelam.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” setelah kebisuan itu, Hye Sun akhirnya bersuara. Min Ho menoleh. “Sangat lega,” jawabnya.

Tentu saja kalimat itu membuat Hye Sun semakin tak percaya. “Kau tidak mencintai Min Ji?”

“Menurutmu?” pertanyaan Hye Sun di jawab dengan klise oleh Min Ho. Pria itu mendekati Hye Sun dan dengan menekan kedua belah pundak Hye Sun, dia berujar,”Apakah selama ini aku terlihat mencintainya?”

Hye Sun menggeleng lemah. Min Ho menyimpulkan senyum. “Dan kini apakah kau lihat cinta di mataku, Sunny?”

Hye Sun masih memandang wajah tampan itu. Meresapi pandangan mata Min Ho yang begitu teduh. Tapi tidak ada jawaban di mulutnya. Karena semua ini begitu berbeda sekarang. Setidaknya itu menurut Hye Sun. dan Min Ho mengeluarkan sesuatu dari balik kantong celana lalu disodorkan ke Hye Sun.

“Surat-surat kita dulu,” kata Min Ho sumringah. Hye Sun menerimanya dengan dahi berkerut. Sobekan surat-surat merah jambu itu kini sudah menyatu semuanya. “Sejak kapan kau satukan semua ini?”

“Sejak kau keluar dari Lee Manshion.”

Wajah Hye Sun jadi sumringah. Kali ini Hye Sun-lah yang memeluk Min Ho. Mereka berpelukan dengan latar belakang siluet langit senja. Dengan gemericik air di bawah kaki mereka dan ciuman penuh cinta yang mengakhiri romansa.

Hingga suara lonceng gereja berdentang tiga kali. Menghantarkan status baru bagi mereka berdua. Status penuh komitmen dan disyahkan oleh segala doa dan restu dari para tetua. Tangan Tuhan selalu ada untuk melindungi kebahagiaan mereka dan seluruh umat manusia.

Karena manusia terlihat kerdil dari atas sana…. Dan manusia di mata Tuhan itu sama ….

THE END

Iklan

DINASTI LEE (Part 5)

DINASTI LEE
(One Season Love)
Part 5

Song Of The Part :

Fly Me to The Moon (By. Frank Sinatra)

Fly me to the moon
Let me play among the stars
Let me see what spring is like
On a-Jupiter and Mars
In other words, hold my hand
In other words, baby , kiss me

Fill my heart with song
And let me sing for ever more
You are all I long for
All I worship and adore
In other words, please be true
In other words, I love you

Fill my heart with song
Let me sing for ever more
You are all I long for
All I worship and adore
In other words, please be true
In other words, in other words
I love … you

 

Min Ho memandang langit berbintang dari balkon kamarnya, angin musim panas sayup-sayup bersemilir ke wajahnya. Min Ho memejamkan mata untuk menikmati semua itu. Kini dia mulai bisa memandang kehidupan ini dari sisi yang lain, musim panas yang selalu dia rutuki ternyata bisa memberikan ketenangan di hatinya. Dia berbalik dan mulai melangkah masuk. Sementara Sun yang baru saja masuk kamar meletakkan sesuatu di atas meja rias lalu memasuki kamar mandi. Benda itu menarik perhatian Min Ho hingga dia mulai mengulurkan tangan untuk memegangnya. Sepasang boneka pengantin, keanehan mulai menjalari hati Min Ho. Jika boneka ini sepasang, kenapa terbuat dari bahan yang berbeda? Dia menimang kedua boneka itu di tangannya. Boneka pengantin laki-laki terbuat dari logam yang padat dan keras, sedangkan boneka wanita terbuat dari porselen tipis, bahkan tengahnya berongga dan Min Ho jadi teringat mimpi anehnya.

Sun keluar dari kamar mandi dan duduk di kursi kecil di depan cermin meja rias. Dengan memoleskan bedak tipis di wajahnya, dia memperhatikan tingkah suaminya dengan boneka itu. Min Ho menoleh ke arah Sun yang menyunggingkan senyum manis di bibirnya. Aroma parfum lembut Sun mulai menyeruak di ruangan, aroma yang menawan hati Min Ho sejak pertemuan di café waktu itu.

“Baby ?” Min Ho menggerak-gerakkan kedua boneka di tangannya karena tidak tahu kalimat apa lagi yang mau dipakai untuk menanyakan perihal boneka itu. Sun tersenyum,”Hadiah dari Joon Oppa untuk pernikahan kita.”

“Joon? Kim Joon?”

“Ne,” kali ini jawaban yang keluar dari bibir pink itu. Min Ho meletakkan boneka itu di tempatnya lalu merangkul leher istrinya dari belakang, dia memandang bayangan Sun di dalam cermin yang begitu manis, wajah itu selalu berubah-ubah, jika malu berubah manis, namun terlihat ayu saat serius. “Rupanya kau sangat popular di kalangan teman-temanku.”

“Joon Oppa adalah partner kerjaku di iklan berikutnya.”

Min Ho mencium pipi Sun dan terkekeh saat wajah itu jadi semakin manis,”Ehm, Baby. Aku ingin kau menghentikan kegiatanmu. Ya, kalau kontrak dengan Joon itu memang sudah tidak bisa batal, jadikan itu kontrak terakhirmu, araso.”

Sun menepuk-nepuk lengan Min Ho yang masih bergelayut di lehernya,”Tidak masalah bagi Sun, advertensi baru kumasuki satu tahun terakhir, dan itu hanya untuk iseng karena kesepian.”

“Kesepian?”

“Ne, selepas SMP, Sun selalu bersama Oemma dan Appa, bepergian karena bisnis Appa, pendidikan Sun dapat melalui homeschooling dan universitas terbuka, akhirnya capek juga, lalu saat pulang ke Korea, tiba-tiba ada yang menawari iklan. Sun langsung terima karena teman-teman Sun di SMP banyak di situ jadi tidak kesepian lagi.”

“Kau tidak perlu bekerja lagi, cantik. Semuanya akan berbeda sekarang. Aku akan membalut tubuhmu dengan busana dan perhiasan permata, dan lebih senang jika kau menggantungkan diri pada suamimu ini untuk setiap gaun mewah dan sepatu yang melindungi kaki mungilmu. Yang harus kau lakukan hanyalah menjadi Nyonya dari seorang Lee Min Ho, dan kau akan menjadi wanita yang paling terhormat dengan nama besar dan keglamoranmu,” Min Ho berusaha meyakinkan ratu danahannya. Dia sangat kaya dan ingin memanjakan hal terindah di hatinya itu, dan Sun berusaha mencerna setiap kata-katanya dengan sesekali mengkerjapkan mata. Tapi keanehan akan hadiah Kim Joon mulai membuatnya penasaran lagi, “Hmm, kenapa bahan boneka itu berbeda?”

Sun menggelengkan kepalanya,”Kalau yang masalah logam, tidak tahu, tapi kalau yang porselen… kau tidak tahu kalau mereka menjulukiku boneka porselen?”

Min Ho semakin mempererat pelukannya di tubuh Sun. Kulitmu memang putih seperti porselen, Baby? begitu pikirnya.

”Menghadaplah kepadaku agar ku bisa lebih leluasa melihatmu, Baby.”

Sun menuruti kemauan suaminya. Min Ho mengecup lembut punggung tangan kanan Sun lalu mengangkat tangan untuk menyentuh pipi mulus pujaannya itu. Dia menatap Sun sendu dan mendapati mata bulat itu berbinar indah di sana. Matanya semakin sayu seiring semakin mendekatkan kepalanya ke wajah Sun.

“Minho-ssi…

“Ne?” Min Ho masih berusaha mejangkau wajah Sun sambil memejam.

”Min Ho-ssi, pakaian-pakaianku kemana?” tanya Sun tiba-tiba.

“Mwo?” Min Ho jadi cengoh karena pertanyaan itu langsung membuyarkan suasana romantis yang sedang dia bangun.

“Pakaianku. Pelayan belum memasukkannya ke lemari kita. Yang ada hanya gaun merah yang kurang bahan.”

Min Ho geli mendengar ucapan istrinya, semuanya memang dia sengaja,”Kenapa kau tidak pakai saja, Baby?”

“Aku sudah pakai, kok. Tidak bagus sama sekali. Aku malu.” Sun menutup mata sambil bergeleng-geleng.

Hm, pantas dari tadi dia tidak melepas kimononya. Min Ho senyum dikulum, apa benar Sun dua tahun diatasku? Kenapa jadi aku yang merasa lebih tua jika di depannya.

“Mana? Coba aku lihat?” Min Ho mulai nakal. Sun menyilangkan kedua tangannya di dada sambil bergeleng cepat. Min Ho membuka kedua lengan itu,”Tidak apa, Baby. Aku kan suamimu.”

Sun jadi pasrah ketika kalimat itu terdengar. Min Ho mulai menarik tali dan melepaskan kimononya. Kini tampaklah linggeri merah itu membalut tubuh mungil Sun dan Min Ho begitu terpana dengan semua keindahan itu. Min Ho menarik ujung bibirnya kembali. Wajah mungil itu jadi semakin manis jika menunduk begitu. Min Ho mengangkat wajah yang menunduk itu lalu mencium bibirnya dengan ciuman yang semakin dalam. Tangan kirinya melingkari pinggang Sun untuk lebih mendekatkan tubuhnya. Tangan kanan yang semula memegang dagu Sun perlahan menurun ke leher dan saat akan menjamah lebih jauh, Sun tiba-tiba menangkap tangan itu. Min Ho menghentikan ciumannya dan memandang tak mengerti. Sun menunduk kembali, “Ini…. Ini pertamaku, Min Ho-ssi. Aku…. takut mengecewakanmu.”

Min Ho mendekatkan wajahnya ke telinga Sun. Istrinya ini masih belum terjamah, sedangkan dia telah berulang kali melakukannya.“Jangan kawatir, Baby. Malam ini aku akan menjadikanmu wanita paling bahagia di dunia,” itulah yang akhirnya dia bisikkan di telinga Sun lalu mengangkat tubuh mungil itu ke atas peraduan cinta mereka.

Di pembaringan itu Min Ho  menatap istrinya lekat-lekat,”Beginilah aku ingin melihatmu, Baby. Sangat cantik.” Dan Sun merasa gugup dengan pujian itu,”Oh, Min Ho-ssi…..aku…..aku  mohon ajari aku bagaimana membuatmu bahagia, tanpa gagal sedikit pun.”

“Anhi, Ratuku….kau tak kan gagal. Goo Hye Sun, sarangheyo,” Min Ho membisikkan kata-kata itu di rambut istrinya, dan Sun melengkungkan tubuh ke arahnya, lalu Min Ho mencium  bibir mungil itu, pipinya, matanya, lalu bibirnya lagi. Dia tak bisa menahan diri lagi, Sun membangkitkan kekaguman dan perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Suara gemericik air dari dalam kamar mandi mengusik tidur Min Ho, dia membuka mata, suasana masih gelap. Saat menoleh ke samping, Sun tidak ada di tempatnya. Min Ho bangkit, dia melihat lebih jauh bekas sprei tempat Sun berbaring tadi. Bercak-bercak merah tampak di situ, bukan hanya di situ, tapi juga di lantai dan berakhir di kamar mandi, sementara suara air bergemericik masih terdengar juga. Min Ho yang kawatir, mulai mengenakan kimononya untuk segera masuk ke kamar mandi dan mendapati Sun sedang mencoba mencuci bagian depan linggeri yang dipakainya.

Sun tersenyum, ”Ini yang pertama bagiku.”

“Mereka bilang ini akan terjadi, tapi mereka tidak mengatakan akan sebanyak ini,” ujar Sun lirih.

“Apa kita perlu ke dokter?” tanya Min Ho. Sun menggeleng cepat,”Tidak usah…., sudah berhenti….. Aku tidak mau orang lain mengetahuinya.”

Sun tiba-tiba memeluk tubuh Min Ho,”Gumawo.”

Min Ho terkejut dengan gerakan tiba-tiba Sun,”Gumawo ?”

“Karena telah menjadikanku wanita paling bahagia di dunia,” Sun tersenyum di antara linangan air matanya. Min Ho mencium lembut kedua mata itu lalu memapah Sun kembali memasuki kamar mereka.

——– > 8 < ——–

Je Ha memandangi kemesraan dua insan kasmaran itu yang menghiasi suasana sarapan pagi di Lee Mansion. Hari ini adalah hari pertama bagi pasangan itu memasuki Lee Mansion kembali setelah perjalanan bulan madu keliling Eropa selama satu setengah bulan dan ini juga hari rutin pertama mereka karena harus segera bergabung kembali dengan kesibukan yang tertunda.

Senyum indah pun tersungging di bibir Je Ha saat dia mendapati ekspresi Min Ho yang tampak lebih bersinar di depan Sun, istrinya itu menyuapkan makanan ke mulutnya, lalu mengelapnya lembut. Mereka sama sekali tak risih dengan kehadiran Je Ha di situ, atau mungkin mereka sudah lupa kalau Je Ha di situ?

“Oemma juga mau kusuapi?” tanya Sun sambil tersenyum manis ke arah Ibu mertuanya. Min Ho tiba-tiba tersedak mendengarnya. Je Ha mengibaskan tangannya,”Ah, kau ini?”

“Kenapa, Oemma? Sun juga sering menyuapi Oemma Sun kalau beliau malas makan, diet beliau ketat sekali, jadi Sun yang selalu membujuk makan.”

Je Ha tertawa,”Baiklah, Oemma mau juga disuapi.”

Sun segera menyuapkan sup asparagus itu kepada Je Ha, “Rasanya lebih enak jika disuapi oleh orang yang kita sayangi, Oemma.”

Je Ha mencoba menikmati rasa Sup yang ada di dalam rongga mulutnya itu,”Hmm, benar juga, rasanya lebih mantap. Kalau begitu tiap pagi suapi Oemma juga, ya?”

“B…Bo?” Min Ho langsung panik mendengar perkataan Ibunya,”Tidak boleh, Sun tidak boleh melakukan itu, Kau bukan anak kecil yang harus selalu disuapi istriku!”

Sun mencubit lembut lengan Min Ho,”Tidak sopan bicara seperti itu pada beliau,” bisiknya.

Je Ha tertawa,”Kau dengar itu, Sun. Suamimu ini tidak rela membagi dirimu denganku.”

“Ah, sudahlah, kita berangkat, Baby. Kau pasti sudah ditunggu Joon.”

Sun berdiri dari kursinya setelah meneguk segelas air, lalu mendekati Je Ha,”Kami berangkat dulu, Oemma.” Je Ha mencium pipi Sun lembut lalu menghantarkan kepergian keduanya.

Min Ho mengantar Sun ke lokasi syuting sebelum ke kantor, kini mereka sudah sampai di depan gedung tempat syuting itu berlangsung. “Sampai jumpa lagi, Sayang,” sapa Sun sambil mencium pipi suaminya.

“Tunggu!” tiba-tiba Min Ho memegang tangan Sun saat Sun hendak membuka pintu mobil. Sun segera memalingkan wajah ke arahnya,”Waeyo?”

Min Ho memegang wajah Sun,”Kenapa kau tiba-tiba terlihat pucat?”

“Ceongmal?” Sun mulai bercermin di kaca spion mobil itu.

“Kita pulang lagi saja, tunda syuting hari ini,” protes Min Ho.

“Jangan, Sayang. Aku sudah menunda syuting ini karena bulan madu kita.”

“Tapi…

Sun meletakkan telunjuknya di bibir Min Ho,”Tidak ada tapi, aku berjanji akan sehat-sehat saja. Mungkin hanya sedikit capek karena perjalanan semalam. Ku mohon, percayalah.”

Min Ho menghela nafas,”Baiklah, tapi jika kau sudah sangat capek, istirahatlah, tidak usah dipaksakan, menjadi bintang iklan sudah bukan prioritas lagi bagimu.”

“Iya, Sayang,” jawab Sun sambil mengelus pipi Min Ho.” Aku pergi dulu, ya. Bye!”

“Bye, Baby,” Min Ho melambaikan tangannya pada Sun yang sudah berada di luar mobil. Sun segera memasuki gedung di depannya dan segera di sambut oleh rekan-rekannya sesama artis. Senyum riang selalu menyapa orang yang ditemuinya walau pun rona pucat itu semakin kentara.

“Uni!” panggil Dara saat melihat dirinya. Gadis itu tampak melambai-lambaikan tangan, lalu berlari menghampirinya dengan diikuti oleh Shin Ye, sepupunya.

“Bogosipho, Uni.” Mereka bertiga berpelukan.

“Aku kira sudah tidak bisa berjumpa Uni lagi, Miane karena tidak bisa datang ke pernikahan Uni,” Shin Ye memeluk tubuh Sun lagi. Sun tertawa dibuatnya.

“Bagaimana bulan madunya, Uni? Uni baik-baik saja, kan?” tanya Dara.

“Tentu saja, dongsaeng. Tentu Aku baik-baik saja.

“Ah, pertanyaanmu  aneh, Dara-ssi. Uni kan pergi dengan suaminya sendiri, tentu saja Uni baik-baik saja,” protes Shin Ye sambil agak menginjak kaki Dara dan itu membuat Dara sadar kalau dirinya sudah salah omong pada Sun.

“Uni, wajah Uni terlihat pucat,” kata Shin Ye tiba-tiba. Dara juga langsung mengamati wajah Sun.”Uni harusnya jangan syuting dulu.”

“Aku sudah janji, tidak baik menunda terus.”

“Ehm, Uni nanti bilang pada penata rias untuk menyamarkan lingkar hitam di bawah mata ini, ya,” pinta Shin Ye sambil menunjuk pelupuk bawah mata Sun lembut.

“Ne, gomawo, dongsaeng. Aku pergi dulu, ya..”

Lalu bagaimana hari pertama kerja seorang Lee Min Ho sebagai seorang suami? Hmmm…,rapat-rapat itu berjalan lancar. Aura positif yang terpancar di hatinya, rupanya membuahkan keberuntungan di setiap aktivitasnya. Dan……… “Siang, Nona Su,” dia menyapa manajer marketingnya, dan membuat orang yang disapa tiba-tiba gugup karena memang Min Ho jarang menyapanya…….. “Siang,” sapanya lagi pada OB yang dilewatinya dan OB hanya melongo saja. Kenapa sekarang dia seringkali menyapa? Itulah kira-kira yang terbersit di benak mereka. Lee Min Ho yang sombong dan arogan itu ternyata sudah banyak berubah, pernikahannya dengan Sun yang terkenal ramah telah merubah dirinya. Sebenarnya bukan hanya dirinya, bahkan Je Ha pun jadi sering tersenyum semenjak mengenal Sun.

Min Ho memasuki ruangannya lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja. Dia mulai mengeluarkan beberapa file dari dalam koper. Dahinya berkerut saat didapati kertas aneh di antara file-file itu. Di bukanya kertas yang terlipat itu dan terbacalah kata-kata di pojok bawah itu,

‘Terima kasih telah membuatku menjadi wanita paling bahagia di dunia’

senyuman mulai tersungging di bibirnya, kau ini ada-ada saja, Baby. Min Ho menyentuh lembut sketsa yang ada di depannya itu, itu adalah sketsa wajahnya, dia jadi teringat saat Sun menggambar sketsa itu. Waktu itu mereka sedang ada di Roma. Karena terlalu capek, mereka memutuskan untuk tidak berkeliling, dan lebih memilih untuk menikmati tidur siang. Sun yang lebih dulu terbangun, membalikkan tubuh ke arah Min Ho yang memeluknya dari belakang.

“Aigo, tampannya suamiku ini,” puji Sun lirih sambil menelusuri kembali wajah Min Ho dengan telunjuknya. Di luar hujan rintik-rintik, tapi suaranya itu sayup-sayup telah terdengar oleh Min Ho, apalagi saat dia tiba-tiba menggerakkan telunjuknya di atas wajah Min Ho. Min Ho tetap pura-pura tidur, walau pun sebenarnya dia sudah tersadar sepenuhnya.

Sun segera mencari pensil dan kertas, lalu duduk bersila di atas ranjang itu untuk membuat sketsa wajah Min Ho. Dia tidak menyadari kalau Min Ho semakin geli di balik aksi pura-pura tidurnya. Tiba-tiba Min Ho bergerak, menempatkan tangan kanannya ke atas dahinya.

“Yah, yah…” Sun menyayangkan posisi itu. Dia agak menunduk untuk terus mengamati wajah Min Ho, dan saat wajahnya semakin mendekat, Min Ho tiba-tiba memeluk tubuhnya.”Yah, Lee Min Ho!” Sun meronta di bawah lengan kokoh itu.

“Mau jadikan aku model, harus bayar dulu,” Min Ho senyum di kulum, tubuh Sun masih berada di atasnya.

“Mwo? Bayar? Oke.”

“Ceongmal?”

Sun mengangguk. Min Ho tersenyum licik,”Ini bayarannya.” Min Ho mencium bibir Sun dan di siang yang hujan rintik-rintik itu tercipta lagi kisah indah di peraduan mereka.

“Hyung,” sapa orang yang tiba-tiba berkunjung membuyarkan lamunannya. Orang itu adalah Hongki, sepupunya,”Ini kartu-kartu atas nama Hye Sun Noona yang Hyung minta.”

“Bagus! Kerjamu cepat, tidak salah aku menunjukmu sebagai asisten menggantikan Pak Han,” Min Ho meraih kartu-kartu itu.

“Hyung membuatku gugup, aku belum pantas menjalani tugas ini.”

“Kau ini, sudah saatnya kau belajar mengelola Lee Corporation, Apa kau mau seperti Dong Hae yang masih saja sibuk dengan ambisi konyolnya?”

“Mian, Hyung.”

Min Ho mengamati kartu-kartu kredit itu di tangannya. “Hongky, kau tahu toko bunga yang paling bagus rancangan bunganya?”

“Ehm, kira-kira begitu.”

“Belilah bunga mawar, lalu antarkan bunga itu ke lokasi syuting Sun. Ingat! Harus kau yang mengantarnya.”

Hongky mengangguk tanda mengerti, lalu undur diri untuk melakukan perintah Min Ho.

——- > 8 < ——-

“Huek!” Sun berusaha memuntahkan sesuatu. Syuting belum juga dimulai. Tempat syuting itu jadi geger. Kim Joon duduk di sampingnya sambil menepuk-nepuk punggungnya dan sutradara berjongkok di depannya,”Mutahkan saja, siapa tahu bisa lega, jangan kawatir lantai kotor.”

“Huek!” Sun berusaha lagi, tapi tidak ada yang keluar padahal rasa mual sudah sampai ke ulu hati. “Minum dulu, Sun-ssi,” penata rias tergopoh-gopoh menjulurkan segelas air padanya, yang disahut oleh Joon untuk diminumkan. Sun agak mendingan setelah meminum air itu,”Miane, Oppa. Sun membuat syuting kita tertunda.”

“Sudahlah, Sun, yang penting kesehatanmu dulu,” ucap Joon bijak. Sutradara itu menepuk pundaknya,”Kita tunda saja syuting ini, deadline tayangnya juga masih lama.”

Sun mengangguk lemas. Tiba-tiba pandangan matanya mengabur, Joon yang menyadari itu segera menepuk-nepuk pipinya,”Sun…., Sun.”

Sun tersadar lagi, Joon jadi tambah panik,”Kau harus pulang sekarang.”

“Apakah di sini tempat syuting Lee Hye Sun?” suara Hongki sayup-sayup terdengar, sutradara itu menoleh,”Ya, siapa kau?”

“Saya Hongki, asisten Minho Hyung.”

“Kebetulan sekali, bawalah Noona-mu ini pulang, dia sedang tidak enak badan,” perintah Joon. Hongki kaget, bunga mawar yang ada di tangannya terlepas,”Ya ampun, Noona, kenapa bisa begini?” Hongki segera mengangkat tubuh Sun untuk dibawa ke mobil.

Segera Hongki menghantarkan Sun ke Lee Manshion. Je Ha menyambut mereka dengan kepanikan, lalu saat dokter mulai mengkabarkan keadaan Sun sebenarnya, Je Ha semakin mengomel, menyalahkan kebodohan putranya. “Phabo! Phabo! Phabo !” Je Ha memukuli bahu Min Ho tepat di depan kamar mereka. Yang di pukul mengangkat tangan untuk menangkis.”Oemma, apa salahku?”

“Masih bertanya? Kenapa kau tidak langsung bawa Sun pulang saat tahu dia sakit, hah?”

“Dia-nya tidak mau!”

Je Ha memukul lagi,”Dasar calon ayah yang bodoh!”

“Mwo? Ayah?” Min Ho melongo mendengar perkataan Je Ha, alhasil pukulan itu mendarat juga di bahunya, “Arkh! Apho, Oemma!”

Min Ho berniat membuka pintu kamarnya. “Mau kemana, Kau?” cegah Je Ha.

“Tentu saja menemuinya.”

“Dia tidur, jangan ganggu dia dulu.”

Min Ho manggut-manggut,”Dokter bilang apa saja, Oemma?”

Wajah Je Ha mendadak menampakkan muka geli,”Ha… kau tahu berapa bulan kandungan istrimu? Lima minggu!…., Ha… ternyata kau tokcer juga, ya?”

Wajah Min ho memerah bak kepiting rebus. Je Ha tertawa ngakak dibuatnya.

“Haahhh! Aku mau masuk melihat Sun!” Min Ho mulai jengkel diledek.

“Eits, tunggu! Berikan ini padanya!” Je Ha menggantung-gantungkan kalung di depan wajahnya. Kalung itu berhias liontin berbentuk lambang dinasti Lee,”Apa ini, Oemma?”

“Ini adalah kalung yang dipakai wanita yang melahirkan generasi keluarga Lee. Dulu almarhum Appamu juga memberikan ini pada Oemma, sekarang giliran Sun yang memakainya. Dan kalung yang kau pakai sekarang ini….,” Je Ha menunjuk pada kalung yang melingkar di leher Min Ho,”Harus kau berikan pada anakmu nanti.”

“Araso, Oemma,” Min Ho segera memasuki kamar. Je Ha tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Di dalam kamar, ternyata Sun sudah bangun, merentangkan tangannya saat Min Ho hadir, mereka berpelukan hangat. Min Ho mencium kening istrinya.”Kau sudah mendengar kabar itu,kan?” tanya Sun. Min Ho mengangguk.

“Ini anak kita, Min Ho-ssi. Buah cinta kita,” Sun mengarahkan telapak tangan Min Ho ke perutnya. Min Ho menangis haru karenanya kemudian menunduk untuk mencium perut Sun.

“Min Ho-ssi,” panggil Sun.

“Mwo?” Min Ho menatap wajah Sun dengan hangat.

“Aku bahagia, tapi…. Tapi juga takut.”

Min Ho mengkerutkan dahi,”Kenapa harus takut?”

Sun mengatur nafasnya, air mata itu masih menghalangi pandangan matanya. Dia mengelus wajah Min Ho lembut,”Entahlah, Sayang. Semua ini serasa membahagiakan, tapi semuanya berlangsung begitu cepat. Pertemuan kita…., pernikahan…., dan kemudian anak ini. Kau tahu aku sangat mencintaimu saat ini?”

“Gumawo, Baby,” Min Ho memegang tangan Sun yang menempel di pipinya lalu mencium lembut. Sun tertawa di antara tangis harunya,”Kau tahu Min Ho-ssi, batas antara cinta dan benci itu sangatlah tipis. Aku takut jika hal ini terjadi, jika suatu saat kau menyakitiku, aku akan berubah membencimu, sangat membencimu.”

Min Ho memeluk kembali istrinya lalu berbisik,”Aku tidak akan melakukan itu, Baby. Tenanglah, jangan berpikiran yang macam-macam. Kau hanya terpengaruh dengan kandunganmu.”

“Ceongmal?”

“Ne, percayalah. Semuanya akan baik-baik saja.” Sun mengangguk.

Min Ho melingkarkan kalung pemberian Ibunya ke leher Sun, “Tanda terima kasih dari keluarga Lee untukmu.” Lalu sekali lagi mereka berpelukan, berbagi kebahagiaan karena akan hadirnya sesuatu sangat mereka idamkan itu.

(Mian, jika scene yang pertama kurang berkenan, ku tetap tampilkan scene itu karena memang scene itu penting untuk cerita ini selanjutnya)

TBC PART VI



BEHIND THE SHINING STAR III (part 2)

Hari demi hari berlalu bagi mereka berdua, semakin kandungan Sun membesar, semakin banyak denda yang harus dibayar Sun akibat kontrak yang gagal. Seperti janjinya, Mr. Goo pun membantu keuangan putrinya. Rahasia ini diketahui oleh Mino walau pun Sun menutupnya rapat. Tanpa sepengetahuan istrinya, Mino bahkan menemui Mr. Goo untuk mengembalikan uang, alhasil Mr. Goo merasa tersinggung dan dia harus minta maaf pada mertuanya itu. “Cukup buat putriku bahagia, Mino-ssi, itu yang terpenting bagi Appa,”begitulah nasehat orang tua itu.

Sun akhirnya resmi menjadi istri saja bagi Mino, sepertinya memang dia harus melepaskan gelar keartisannya. Dia masih mengisi waktu luang dengan menulis dan melukis dan selebihnya hanya dipergunakan untuk mengurus keperluan rumah tangga saja. Terkadang dia merindukan saat-saat syuting. Mino tahu hal itu sehingga terkadang dia mengajak Sun ke lokasi agar bisa bercanda dengan rekan sesama artis.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Mino saat dia mendapati Sun melamun. Sun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Seperti biasa yang mereka lakukan di Minggu pagi, adalah duduk-duduk di balkon apartemen mereka, menikmati suasana pagi sambil minum teh.

“Dia baik-baik saja, kan?” Mino memegang perut Sun. Sun mengangguk, kandungannya sudah memasuki bulan keempat. ”Miane karena tak berterus terang akan kontrak-kontrak itu.”

Mino menghembuskan nafas kuat-kuat,”Kau tahu ayahmu sangat tersinggung saat aku berusaha mengembalikan uang itu.” Sun menunduk,”Miane.”

“Bisakah lain kali kau lebih jujur? Kita suami istri sekarang!” perintah Mino. Sun mengangguk. Entah kenapa akhir-akhir ini Sun semakin menurut. Angin pagi menerpa tubuh mereka, Sun terlihat meringkuk di tempatnya. Mino langsung berdiri dan menuntun Sun memasuki apartemen. Dia menutup pintu balkon setelah mendudukkan Sun di sofa di depan TV. Perhatiannya terhadap Sun memang agak berlebihan akhir-akhir ini dan terkadang membuat Sun risih, Sun tidak suka dianggap gelas yang mudah pecah olehnya.

Mino duduk di samping  Sun, lalu mulai menyalakan televisi. Suasana ruangan itu sesaat hening, hanya terdengar suara dari televisi. Sun yang merasa bosan menyandarkan punggungnya di sofa. Matanya mencoba terpejam sementara tangannya mengelus-elus perutnya, Mino semakin mencuekkannya dengan acara televisi. “Husky….,” Sun berucap lirih. Sepertinya suaranya masih kalah dengan bunyi-bunyian dari  TV, Mino masih saja asyik menatap layar. Sun menghela nafas, kenapa akhir-akhir ini susah untuk mengajaknya? pikir Sun.

“Husky,” kali ini Sun menyenggol lengan Mino dan sukses membuat Mino menoleh ke arahnya,”Mworago?”

Sun menampakkan senyumnya yang paling manis untuk menjawab pertanyaan itu dan wajahnya yang memerah membuat Mino terkekeh,”Ada apa denganmu, Baby?”

Sun cemberut seketika, “Husky…., aku sangat merindukanmu pagi ini,” rujuk Sun manja. “Aku juga rindu, sini ku peluk!” Mino meraih tubuh Sun ke pelukannya, tapi kemudian perhatiannya terpusat ke TV lagi. Sun semakin frustasi dibuatnya,”Apa kau hanya mau menonton TV saja di waktu liburmu?”

“Hm?” Mino mulai memandang wajah istrinya.”Baiklah, aku akan memasakkan sesuatu untukmu,” ucap Mino kemudian. Sun menggeleng, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Mino lalu berbisik,”Bercinta denganku, ya?”

Mino memandang heran. Sun tidak perduli, perlahan dia mencium bibir padat itu. Tak ada respon sama sekali. Sun tidak puas, merasa hanya mencium tembok, tangannya mulai membuka satu persatu kancing kemeja Mino. Ting tong ! Bel apartemen berbunyi. Mereka menghentikan aksi. Sun menampakkan muka sebal. Mino terkekeh melihat ekspresi istrinya, dalam hati dia bersyukur karena urung melakukan itu, dia merasa tidak tega menyentuh Sun di saat hamil, bahkan sempat kaget melihat keagresifan Sun tadi. Mino membenahi tampilan pakaiannya lalu berdiri untuk membuka pintu depan setelah mengacak-acak rambut Sun yang masih terduduk di sofa dengan mulut manyun.

“Anyeong, Sun-ssi!” sapa si tamu yang tak lain adalah manajernya. “Anyeong!” jawab Sun ketus. Mino tersenyum geli.

“Kenapa kau sadis sekali padaku?” tanya manajer itu.

“Bukan urusanmu!”

“Maafkan dia manajer, kau tahu kan orang hamil itu labil emosinya?” Mino yang sudah duduk kembali di tempatnya membela sambil mengelus sayang perut Sun. Manajer itu mengangguk. Dia segera menyodorkan amplop coklat yang sedari tadi dibawanya, “Tawaran baru untukmu, Sun.”

“Mwo?” mata Sun langsung membulat ketika menyamber file-file itu. Manajer itu manggut-manggut sambil menggaruk-garuk dagu,”Selama tiga bulan ini aku mencari job buatmu, ternyata tawaran ini datang sendiri ke manajemen.”

Sun menelusuri kata perkata dalam kertas itu,”Tidak akan ada pembayaran denda jika aku punya anak, kan?”  Terus terang Sun masih belum pulih dari kebangkrutan. Mino akhirnya mengambilalih kertas-kertas itu dan mulai membaca.

“Tentu tidak, Sun-si. Seperti yang kalian baca, kau akan menjadi MC acara talkshow seputar ibu, bayi dan balita. Sponsor tunggal acara ini adalah toko perlengkapan bayi ‘Mom & Baby Shop’, memang honornya tidak besar dan hanya ditayangkan oleh stasiun TV daerah, sih. Penayangan dua hari dalam seminggu dan kau harus syuting empat hari dalam satu minggu. Mengingat kau tidak sibuk akhir-akhir ini, aku rasa jadwal itu tidak begitu memberatkanmu.”

“Aku terima!”

Mino melirik Sun. Sejak pertama kehamilannya baru sekarang Sun seantusias ini dan Mino bahagia karenanya. “Ada partner kerja dalam proyek ini, Manajer?” sekali lagi Sun mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

“Ne, ada dr. Kang sebagai narasumbaer.”

“Dr. Kang spesialis Obgyn?”

“Ne, dan dokter Su sebagai spesialis anak, seperti yang kubilang tadi, ini sesuai dengan tema talkshow.”

“Itu bagus, Baby. Kau bisa menimba ilmu dari mereka nantinya,” Mino menepuk-nepuk punggung tangan Sun. Sun mengulum senyum. Dia membisikkan sesuatu pada Mino yang membuat wajah suaminya itu langsung memerah seperti tomat. Manajer jadi cengoh melihat perubahan wajah itu.

“Aku terima, Manajer. Kapan tanda tangan kontraknya?”  Sun sudah tidak sabar agar tamunya itu segera pergi. Kenapa, ya? Mino jadi gugup dan menundukkan pandangan ke file-file itu lagi.

“Kira-kira besok pagi, jam sembilan dan kau juga bisa langsung bertemu dengan dr. Kang dan dr. Su.” Manajer itu meminta kembali file-file itu dari tangan Mino.”Baiklah, aku pulang sekarang. Jangan lupa besok, Sun-si.”

“Ne,” jawaban Sun mengantarkan kepergian manajernya. Mino langsung ngeloyor ke dapur setelah mengunci pintu depan. Sun langsung protes,”Husky….”

“Mworago?” Mino sudah sibuk mengeluarkan bahan-bahan untuk kimbab dari dalam kulkas. Sun menghampirinya dan memasukkan semuanya dalam kulkas, lagi? Mino jadi  garuk-garuk kepala.

“Aku belum lapar, Husky. Kita lanjutkan lagi yang tadi, ya?”

Mino mendelik dengan wajah kepiting rebusnya,”Baby…., aku kasihan dengan anak kita, kau tidak memikirkan dia?”

“Aku kan sudah bilang tidak apa-apa. Aku sudah mengkonsultasikan dengan dr. Kang.”

“Tapi aku-nya yang tidak tega,” tegas Mino. Sun mulai ngambek. Dia memasuki kamar dan membanting pintunya keras-keras. Mino menghela nafas. Akhir-akhir ini gairah Sun tidak bisa dibendung, dan mungkin ini yang paling puncak jika sampai ngambek begitu. Memang selama tiga bulan terakhir Mino menahan diri untuk tidak menyentuhnya, takut terjadi apa-apa pada kandungannya. Apa benar semuanya aman jika melakukannya di saat ini? Mino jadi bertanya-tanya. Bunyi HP membuyarkan lamunannya, dengan segera dia mengangkat dan memperhatikan perkataan lawan bicaranya di telephone. Lengkungan senyum mulai terbentuk di wajahnya,”Sudah saya bilang kalau saya tertarik, lakukan saja apa yang diperlukan, saya ingin semuanya siap sebelum istriku melahirkan.”

Mino menutup telephon dengan perasaan lega. Kini tinggal bagaimana caranya menenangkan wanita hamil yang sedang ngambek di dalam kamar. Mino terkekeh lalu menghampiri Sun di kamarnya. Tampak Sun sedang berbaring di ranjang dengan bantal menutupi wajahnya.

“Baby… , kita makan di luar, yuk! Ada restoran baru yang direkomendasikan Bumie.”

Sun tidak bergeming. Mino mendekati Sun, lalu duduk di tepi ranjang,”Atau kita ke rumah Appamu? Ku dengar Noona juga ada di sana siang ini.”

“Baby, kau tidur?” Mino mengangkat bantal dari Sun dan terlihat wajah Sun yang begitu sedih dengan kedua mata yang membengkak. Mino jadi serba salah,”Baby, kau kenapa? Apa yang sakit?”

Tangisan Sun semakin menjadi saja, Mino pun semakin bingung. Sun bangkit dari tidur sambil memegangi perutnya,”Hu hu hu, Aku tahu kalau aku… aku tidak menarik lagi, karena itu kau menolakku!…. Huh u hu…..!”

Aish, kok jadi begini? Bukan begitu maksudnya, Mino jadi pusing dengan jalan pikiran Sun.

“Kau… kau lebih sayang pada anak ini daripadaku!”

Bagus! Sejak kapan ada Ibu yang cemburu pada anaknya yang sedang dikandung? Mino jadi bingung antara geli atau prihatin melihat Sun sekarang. Mino pun memeluk Sun yang masih terisak,” Kau salah, Baby. Sampai kapan pun aku akan menyayangimu. Saranghae, istriku.”

Sun melepaskan diri dari pelukan Mino. Pandangannya mengarah pada mata Mino, berusaha mencari kepastian di sana,”Ceongmal?”

“Ne…” jawab Mino sambil tersenyum maut. Sun memanyunkan bibirnya,”Buktikan kalau begitu!”

“Mwo?”

“Buktikan sekarang, Husky,” sekali lagi Sun menantang dengan pandangan sayu. Mino menjadi serba salah. Ragu-ragu dia mendekatkan wajahnya kepada Sun. Sun menutup matanya dan bisa mendengar dengan jelas detak jantung Mino yang memburu. Detik berikutnya bibir padat itu telah menempel erat di bibir mungilnya.

—— > * < ——

Acara talkshow yang dipandu oleh Sun mendapat sambutan hangat dari public korea. Acara tersebut memang dinilai sarat dengan pendidikan terutama bagi ibu-ibu muda. Rating terus melonjak dan Sun yang juga didaulat menjadi duta dari sponsor tunggal acara ini, Mom & Baby Shop, mulai menampakkan sinar bintangnya kembali, selain itu dia juga bisa menghemat uang untuk membeli perlengkapan bayi karena toko itu mensuplai semua kebutuhan calon bayinya. Hal ini sempat membuahkan protes dari Mino karena apartemen mereka jadi semakin penuh saja, terlebih-lebih Mino memang sudah mempersiapkan semua perlengkapan bayi jauh sebelum toko itu mensuplay.

Sinar Sun semakin terang saat acara itu diambil alih stasiun televisi nasional, sponsor lain terus berdatangan mendukung, honor Sun meroket, dan puncaknya adalah saat kehamilannya masuk sembilan bulan, dia memenangkan penghargaan insan pertelevisian kategori pembawa acara terbaik. Sun menghadiri acara penghargaan itu dengan perut yang sangat buncit walau gaun hitamnya berusaha memberi kesan langsing di tubuhnya. Dia agak kerepotan saat berjalan ke panggung untuk menerima kemenangannya hingga harus dipapah oleh Mino. Berjuta-juta mata menyaksikan kemesraan mereka berdua dengan haru, mereka memuji segala perhatian Mino pada istrinya yang sedang mengandung.

Selepas dari acara, pasangan suami-istri itu pun pulang. Sun masih saja menimang-nimang sayang piala kemenangannya saat mereka di dalam lift, sesekali dia menggerak-gerakkan benda itu di depan Mino. Mino tersenyum melihat tingkah istrinya. Sun memang sedang memamerkan keberhasilan di depannya. Perhatian Mino akhirnya buyar saat HPnya berbunyi,”Yoboseyo?”

Sun agak mencondongkan telinganya, dia juga ingin mendengar  percakapan Mino, tapi tak satu pun yang berhasil dia tangkap. Mino terkekeh dibuatnya walau telinganya masih mendengarkan kata-kata di telephon. “Oke, gomawo jika semua telah siap. Besok kami ke sana,” kalimat itu mengakhiri percakapan telephone.

“Mwo? Kami?” tanya Sun heran. Mino tertawa, dia merangkul Sun sementara lift sudah menginjak ke lantai yang mereka tuju,”Ayo segera masuk, Baby.”

Mino segera membuka pintu. Dan….”SURPRISE!!!!” teriakan dari dalam terdengar sangat meriah. Sun terkejut, rupanya Mr. Goo, B-lady, dan Mrs. Lee sudah menyiapkan pesta kejutan untuknya. “Chukae, Sunny!” Mr. Goo mengacungkan jempol ke arahnya.

“Appa…, gomawo,” Sun menghambur ke pelukan ayahnya. Mino jadi ngeri melihat Sun, “Hati-hati, Baby. Kau membuatku jantungan dengan lari-lari seperti itu!” Mr. Goo hanya tertawa dengan tingkah mereka.

“Hai, kau hanya merindukan Appa?” B-lady protes. Sun melepas pelukan ayahnya lalu beralih memeluk B-lady,”Oemma, Bogosipho…”

“Sudah, sudah, sekarang ayo kita makan, jangan sampai masakan itu terlanjur dingin,” sela Mrs. Lee.

“Kacha!” seru Sun bersemangat, dia memang yang paling lapar sekarang ini, janin di perutnya sudah menendang-nendang dari tadi. Sebentar saja mereka sudah duduk mengelilingi meja makan. Tanpa menunggu lama, Sun mulai lahap. “Ini untukmu, Sunny,” Mr. Goo menyodorkan kimchi ke mulut Sun. dan segera dilahap oleh Sun. B-lady mencubit lengan suaminya keras.

“Arch! Apa salahku?” teriak Mr. Goo kesakitan. Semua menoleh ke arahnya.

“Kau pikir Sun masih kecil hingga kau perlakukan seperti itu? Dia istri orang sekarang!” jawab B-lady.

“Bo? Memang apa salahnya, dia masih tetap gadis kecil bagiku,” Mr. Goo masih tidak terima.

“Oemma… ,  tidak apa-apa, aku senang dimanja Appa.”

Mrs Lee tersenyum,”Mino, kau pasti tidak perhatian pada istrimu hingga dia jadi seperti ini.”

“Mwo?” kali ini Mino jadi gelagapan, emang apa hubungannya coba? Sudah dari sononya Sun selalu manja kalau di depan Ayahnya kok aku yang disalahkan, dalam hati dia protes.

“Appa, Oemma, malam ini menginap di sini, ya? Aku ingin tidur bertiga sama kalian seperti dulu.”

Mino jadi tersedak mendengar permintaan Sun. Susah payah dia melancarkan kerongkongannya dengan air. Tidur bertiga? Yang benar saja? Lalu aku? Aish…!

“Jangan begitu, Sunny. Kau seorang istri sekarang, Sudah pasti kau harus tidur dengan Mino-ssi.”

Tepat sekali jawabanmu, Appa mertua. Aku bisa insomnia jika tidur tanpa istri mungilku. Mino merasa lega.

“Tapi Appa dan Oemma tetap harus menginap, Sun masih rindu.”

“Kabulkan saja permintaannya Tuan Goo. Mungkin Sun memang sangat merindukan kalian,” kali ini Mrs. Lee yang meminta. “Ne,” Mr. Goo mengangguk. Sun meloncat-loncat di kursinya sambil bertepuk tangan. “Baby!” Mino yang kawatir mendelik ke arahnya.

—— > * < ——

Sun terbangun dari tidurnya. Perutnya tiba-tiba melilit. Di sampingnya, Mino terlelap. Sun segera memindahkan tangan Mino dari tubuhnya lalu berjalan menuju kamar mandi. Agak tertatih Sun berjalan, dia agak menegakkan tubuhnya, tangan kirinya menyangga perut sedang tangan kanannya memijat-mijat tulang belakangnya. Entah kenapa serasa ngilu di bagian itu. Sun agak mengaduh saat tendangan kuat dilakukan bayi di dalam kandungannya. Rasa ngilu di bagian punggungnya semakin menjadi saja, seakan mau patah bagian itu. Sun mengatur pernafasannya. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Kedua kakinya semakin gemetaran hingga akhirnya dia bersimpuh di salah satu pojok dinding kamar mandi. Kedua tangannya mengepal kuat-kuat menahan sakit,”Min… Min-a…”pangil Sun lemah. Suara itu terlalu pelan, Mino yang terlalu lelap tidak mendengarnya.

Sun merangkak menggapai botol sabun cair, rasa nyeri semakin melebar di rahim. Dia bisa merasakan kepala bayinya semakin menekan kebawah. Saat botol itu sampai di dekatnya, dia berusaha meraih botol itu tapi malang karena botol beling itu akhirnya jatuh dan menimbulkan bunyi pecahan yang nyaring. Mino terbangun mendengar bunyi benda yang pecah dan setengah sadar dia menuju ke sumber suara.” Baby!!!” pekik Mino.

“Min…, Min… Huft… Huft… dia akan… lahir… huft…”

“Ada apa?” Mr. Goo dan B-lady yang mendengar teriakan Mino menghambur ke kamar mandi. B-lady mendekati putrinya,”Siapkan mobil, Goo!” perintah B-lady. Mr. Goo segera melakukan perintah istrinya.  Mino  mulai mengangkat tubuh Sun untuk dibawa ke dalam mobil.

“Tunggu..!” cegah Sun diantara sesak nafasnya,”Tas itu…. Tas pink…. Di …. Huft huft…,” Sun menunjuk arah lemari. B-lady segera mengambil tas yang dimaksud. Mino menggendong Sun menuju mobil yang dipersiapkan Mr. Goo di depan gedung apartemen.

Mobil keluarga Goo akhirnya melaju. B-lady duduk di samping suaminya yang sedang mengemudi, melihat ke kursi belakang dengan cemas. Di situ tampak putrinya yang berjuang menahan rasa sakit dan menantunya yang berusaha menenangkan walau tampangnya terlihat panik. Sun menggenggam erat tangan kokoh Mino untuk melawan rasa sakit di sekujur rahim dan pinggangnya, sementara nafasnya tersenggal-senggal, dia berusaha agar tidak mengejan, dia yakin ini belum saatnya. Kepala bayi itu serasa makin mendesak ke bawah saja.  Hingga akhirnya darah segar keluar dari rahimnya dan merembes keluar piyama putihnya. Mino semakin  panik,” Percepat mobilnya, Aboji!”

B-lady gelisah. Mino mencium kening Sun dalam, “Tahan, Baby. Tahan….”

Mobil itu berhenti di sebuah rumah sakit terdekat. B-Lady segera memanggil suster untuk menolong Sun. Dalam sekejap Sun sudah terbaring di ruang bersalin dan Mino masih setia di sampingnya. Para tenaga medis dengan sigap membuka semua bajunya, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Salah seorang suster tampak mengamati bagian bawah tubuhnya. Darah segar sudah mengalir dari rahim Sun. Suster itu terkejut, dia mendekati dokter yang masih memeriksa tanda-tanda vital Sun lalu berbisik,”Pembukaan sempurna, dok.”

Dokter mengangguk. Suster itu kembali ke bagian bawah tubuh Sun, dia membuat sedikit sayatan di situ. Sementara Sun masih sibuk mengatur jalan nafasnya, posisi tangan kanannya masih menggenggam tangan Mino, sesekali dia meremas tangan kokoh itu jika rasa sakit tak tertahankan. Dokter itu berbisik kepadanya, “Anda sangat cerdas, Nyonya Lee. Sekarang lah saatnya. Ikuti aba-aba saya.”

Mino melongo mendengar ucapan dokter. Sun mengangguk tanda mengerti.

“Tarik nafas.”

Sun menarik nafasnya pelan-pelan.

“Dorong!”

Seiring aba-aba itu, Sun mulai mengejan. Dia mengerang kesakitan dan tangan kanannya semakin meremas telapak tangan Mino. Mino bisa ikut merasakan kesakitan Sun lewat tangannya yang tergenggan erat oleh Sun.

“Jangan menjerit, Nyonya. Itu akan membuat nafasmu pendek!” cegah dokter itu. Sun mengangguk, masih mengatur nafasnya. Mino memejamkan mata, dia tak tega melihat Sun. Baby, berjuanglah, aku mohon selamatkan anak istriku, Tuhan…..

“Baik, kita coba lagi, Tarik nafas…. Dorong !”

Sun mendorong lagi, kali ini tanpa erangan. Diantara tarikan nafas dan dorongan yang dilakukan, Sun mengatur nafasnya. Hal itu dia lakukan terus hingga akhirnya bayi merah berhasil keluar dan tangisnya yang keras memenuhi ruangan. Suster yang bertugas di bawah Sun segera memotong ari-ari bayi itu dan menyerahkannya pada dokter. Sementara suster lain mengambil alih dengan segera membersihkan bagian bawah Sun. Dokter membersihkan tubuh bayi, mengikat tali pusatnya dan meneteskan larutan  di mata sang bayi lalu menempatkannya di antara perut dan dada Sun dalam posisi menelungkup.

Sun menangis haru.  Kesakitan yang barusan dialami lenyap sudah saat makhluk mungil itu berada di atasnya.  Dia bisa merasakan jantung bayinya berdetak, bersahutan dengan detak jantungnya. Mino yang tidak mempercayai pemandangan indah di depannya tertawa bahagia, sementara air mata keluar dari kedua pelupuk matanya. Bayi itu berhenti menangis saat suhu hangat tubuh sang ibu sudah menjalar ke tubuh kecilnya. Dia berusaha mencari puting Sun dengan mulutnya. Kepalanya bergerak-gerak, sementara mulut mungil itu menjilat-jilat dada Sun. Saat bayi mungil itu menemukan puting susu Sun, dia mulai menghisap ASI Sun. Mino terkesima. “Ajaib, bukan?” tanya dokter itu.

“Ne,” jawab Mino. Matanya belum lepas dari sang bayi.

“ASI yang keluar pertama kali banyak mengandung Colustrum yang baik untuk system imun, dan itu hanya didapat sesaat bayi lahir. Dan anehnya bayi yang baru lahir bisa menemukan puting susu ibunya dengan cepat tanpa diarahkan, suhu tubuh  ibu adalah penghangat tepat yang bisa menghentikan tangisnya,” jelas dokter itu panjang lebar. “Untuk sementara biarkan dia menyusu, Tuan Lee. Sampai dia melepaskan putingnya.”

Mino mengangguk. Dokter itu menutupkan selimut di dada Sun lalu melanjutkan tugasnya lagi. Mino mencium kening Sun lalu membisikkan doa-doa di telinga bayi mungil itu.

——– > * < ———

Pagi ini Sun sudah bisa pulang dari rumah sakit. Sun keluar dari pintu belakang rumah sakit karena press sudah berjejal di depan. Mino bahkan harus memakai mobil baru Kakaknya untuk menjemput Sun. Dia ingin melindungi bayi mungilnya dari paparan press. Putriku bukan  bahan konsumsi media, begitu pikirnya. Dia mengendarai mobil itu dengan hati-hati, bukan takut mobil pinjaman itu tergores, tapi ingin membuat dua penumpangnya yang tersayang merasa nyaman di dalam mobil. Pangkuan Sun kini tidak kosong lagi. Di situ putrinya terbaring, dalam balutan selimut pink yang sudah lama dipersiapkan Mino di tas pink dalam almari yang ditunjuk saat merasa mulas. Bayi didekapannya bergerak-gerak. Waktunya menyusu sekarang, tangisan keras pun terdengar. Cepat-cepat Sun membuka kemejanya dan mulai menyusui. Mino yang sedang mengemudi melirik kepadanya. Sun memandangi bayinya, sambil sesekali membelai sayang pipi montoknya,” Min-a, kau sudah mempersiapkan nama untuk putri kita?”

Mino tersenyum, “Tentu, dari dulu aku ingin anak perempuan, dan sudah pasti ku persiapkan nama itu sudah lama.”

“Kenapa tidak mengatakan padaku dari dulu?”

“Kau-nya yang tidak tanya,” Mino mencolek dagu Sun. “Hye Na, namanya Lee Hye Na.”

“Lee Hye Na?”

“Ne. Kau setuju?”

“Tentu, nama itu terdengar manis.” Sun menutupi dadanya dengan syal tipis, Hye Na menyusu di dalamnya. Dia tidak mau konsentrasi mengemudi Mino kabur karena terus meliriknya. Dia mulai menyusuri pemandangan luar dan baru menyadari kalau Mino melewati jalan yang tidak biasanya,”Kita mau ke mana, Min-a?”

“Ikut saja,” kini pandangan Mino sudah lurus lagi ke depan. Mobil itu mulai memasuki kawasan elit baru di luar Seoul. Sun semakin heran, tampak di matanya beberapa rumah mewah yang asri  dan Mino menghentikan mobilnya di depan salah satu rumah itu. Mino segera turun dan membukakan pintu di samping Sun,”Turunlah, Baby.”

Sun keluar dari mobil dengan pelan, di gendongannya Hye Na masih menyusu. Sun memandang takjub bangunan di depannya. Sebuah rumah bernuansa hangat dengan halaman yang luas. Rumput di halaman itu sepertinya baru ditanam kemarin sehingga belum merata. Tampak dua bibit pohon palm di kiri kanan jalan masuk rumah itu. Sun memandang wajah Mino dengan penuh tanya.

“Kita masuk sekarang, Baby. Udara luar kurang bagus buat Hye Na.”

Sun mengangguk. Mino memapah Sun untuk memasuki rumah itu. Sun semakin takjub. Matanya yang bulat melebar seketika melihat aksen interior rumah itu yang begitu nyaman dan tampak kekeluargaan, selama di apartemen Mino, dia tidak mendapati aksen itu, yang ada hanya aksen bujangan khas Mino. Sun semakin bertanya-tanya siapa yang memilih warna krem manis buat dinding rumah itu. “Min-a, rumah siapa ini?”

Mino makin menuntun Sun ke ruang keluarga.”Rumah orang-orang dalam foto itu,” Mino menunjuk foto besar yang tergantung di salah satu sisi ruangan itu. Sun melangkah semakin mendekati foto yang dimaksud. Foto pernikahan mereka yang selama ini tergantung di ruang tengah apartemen Mino sudah terpampang di depannya. Sun berbalik ke arah Mino,”De?”

“Ya, ini rumah Kita,” Mino memeluk Sun lembut, takut menggangu Hye Na yang masih menyusu. “Ceongmal?” Sun bertanya dengan mata berbinar. Mino mengangguk,”Hye Na membutuhkan lingkungan yang bagus dan aku rasa apartemen sudah tidak cocok lagi untuk keluarga kita. Sebenarnya rumah ini sudah siap di hari kau menerima penghargaan, aku berencana menunjukkan padamu keesokan harinya, tapi ternyata Hye Na keburu lahir.”

Sun tersenyum. Dia mulai mengerti maksud perkataan  suaminya di lift tempo hari. Mino mencolek dagunya,”Kenapa kau tidak meloncat-loncat, bukankah kau selalu meloncat jika senang?”

“Malu, Min-a,” Sun menunduk dengan wajah semerah tomat,”Aku seorang oemma sekarang.”

“Kenapa musti malu, Sunny!” Mr. Goo muncul tiba-tiba, diikuti B-lady dan Ibu Mino.

“Kalian?” Sun berseru nyaring. Mungkin dia tidak meloncat tapi masih berteriak jika merasa senang. Mino tersenyum geli. “Sini biar ku gendong dia,” pinta Mrs. Lee, tangannya terbuka menyambut Hye Na. “Tapi dia sedang menyusu,” Sun membuka syal di dadanya, di dalam rupanya Hye Na sudah tertidur pulas tanpa dia sadari. Akhirnya Sun menyerahkan Hye Na ke tangan ibu mertuanya dan merapikan tampilan kemejanya.

“Ha! Kau gendong dia selagi tidur, nanti waktu bangun giliran aku yang main dengannya,” celoteh Mr. Goo.

“Ah, crewet, kau. Cepat selesaikan masakanmu, jangan sampai gosong,” B-lady menghalau suaminya kembali ke dapur. Mrs. Lee membawa Hye Na ke kamar bayi di samping kamar Mino dan Sun.

“Oemma mau kemana?” tanya Sun pada B-lady.

“Kau tidak lihat pakaian Oemma? Tentu saja berkebun. Oemma akan menanam mawar di halaman belakang, di samping kolam renang. Kalian istirahat saja di kamar!”

Sun cemberut mengantarkan kepergian Oemmanya,”Rumah ini juga punya kolam renang?” tanyanya pada Mino yang masih berdiri di sampingnya.

“Tentu.”

“Tapi kan kau kurang bisa berenang?”

Mino tertawa terbahak,” Sudah pasti aku bisa lebih banyak berlatih jika di rumah ada kolam renang. Ayo kita lihat kamar kita,” ajak Mino. Sun mengangguk. Mino menggandeng tangannya menuju kamar dan Sun semakin terkesima dengan interior di dalam kamar itu. Mino sengaja menampilkan kembali nuansa kamar Sun di Penthouse-nya dulu yang sudah lama ditinggalkan karena pindah ke apartemen Mino. Semua hal di kamar itu mengingatkannya pada penthousenya. Ranjang itu, meja kecil di sisi kanan dan kiri ranjang, lampu knop, sofa di depan ranjang, almari dinding yang besar,  wall paper pink serta fitur  pintu yang menghubungkan ruangan itu dengan kamar mandi mewah di sebelahnya.

“Kau suka, Baby?” tanya Mino sembari melingkarkan lengannya ke pinggang Sun. Sun mengibaskan tangan Mino dari pinggangnya. “Waeyo?” tanya Mino heran.

“Tunggu program dietku berhasil baru kau boleh melingkarkan lenganmu ke pinggangku.”

Mino ngakak mendengar jawaban Sun. Dia akhirnya memeluk istrinya yang sedang manyun itu,”Kau ada-ada saja, Baby. Aku justru akan melarangmu berdiet, kau masih menyusui, kau harus terus makan makanan yang bergizi.”

“Aku tidak mau tampil jelek di depanmu,” Sun masih saja memprotes. Mino jadi gemas dan akhirnya mencium bibir mungil yang masih manyun itu dengan mesra. Dia mempererat pelukannya kini dagunya berada di atas salah satu pundak Sun,”Kau tetap cantik bagiku, Sunny. Kaulah segalanya bagiku. Sudah ku bilang selamanya ku tak akan melepasmu, Sunny.”

Sun melepaskan diri dari pelukan Mino. “Apa kau bilang tadi?”

“Selamanya tak melepasmu?”

“Kata terakhir?”

“Sunny?”

“Kya! Lee Min Ho… jangan kau panggil aku seperti itu!”

“Aku ingin seperti Appamu yang memanggil Oemmamu dengan panggilan sayang. Masa tetap memanggilmu Cho ding atau Baby di depan Hye Na?” protes Mino panjang lebar.

“Kau boleh memanggilku apa saja, asal jangan Sunny, panggilan itu khusus buat Appa saja.”

“Lalu aku harus memanggilmu apa?”

“Apa saja asal jangan Sunny!” teriak Sun. Mino menutup telinga,”Baik, baik, bagaimana kalau Sunshine?”

Sun mengangguk mantap.”Aku adalah Sunshine bagi Lee Min Hoo. Yiheee!” teriak Sun narsis. Mino ngakak, sekali lagi mereka berpelukan erat. Sementara Mrs. Lee memandangi wajah malaikat Hye Na yang terlelap sambil mendendangkan lagu-lagu dan doa lembut. Mr. Goo masih sibuk dengan masakannya, dan B-Lady mulai menyirami tanah gembur yang sudah mengandung benih mawar yang baru saja dia tanam. Aura kebahagiaan memenuhi suasana rumah itu, juga hati orang-orang di dalamnya. Semoga kedamaian selamanya ada di kehidupan mereka, dan tentu saja bagi kita semua yang membaca kisah ini.

 

———-THE END———-

 

 

BEHIND THE SHINING STAR II

Perempuan paruh baya itu tersenyum, sementara matanya masih awas menatap jalan yang membentang di hadapan. Tangan yang masih luwes berkendara di tengah padatnya lalu lintas malam. Wajah itu masih saja cantik di usia senja, pantas saja jika suami tercinta memanggilnya ‘B-lady’, singkatan dari beautifull lady dan suasana hati yang bahagia semakin membuatnya manis menampakkan lesung pipit itu. Bahagia mengingat minggu depan adalah ulang tahun suaminya. Di angannya telah berderet serangkaian rencana, dan yang membuatnya bersemangat malam ini adalah ‘Pesta kejutan’.

Itulah yang menyebabkan B-lady mengendarai mobilnya malam ini. Pesta kejutan ini tidak mungkin berhasil tanpa campur tangan putrinya. B-lady tahu betul itu mengingat sang putri telah diakui sebagai sutradara muda dan aktris berbakat di Korea Selatan. Dia akan mendiskusikan scenario kejutan yang telah direncanakannya itu dan keikutsertaan putrinya itu di apartemennya.

B-lady tahu putrinya pasti akan sangat iri dengan rencananya. Anak itu memang selalu iri padanya. Iri karena nasibnya yang beruntung, iri akan keanggunannya dan yang terakhir iri karena ayahnya sangat mencintainya. Masih jelas dalam ingatannya saat anak itu berkata,”Aku akan mencari pria seperti Appa, yang selalu cinta sama Oemma sampai tua.”

Senyumannya semakin lebar saja, kali ini dibarengi dengan perasaan geli. Ah! anak itu ada-ada saja. Lalu siapa yang dia pilih sekarang? Putra politisi dia tolak. Atlit basket? Dia enggan. Dan yang terakhir…aktor Ninja assassin? Dia menggeleng! Padahal  aku sudah sangat setuju jika pria itu jadi menantu, B-lady masih saja tak habis pikir akan putrinya. Dan wajahnya makin sumringah saat mobil yang dikendarai telah memasuki area apartemen putrinya.

B-lady segera memasuki gedung apartemen. Suara sepatu tumit tinggi terdengar karena B-lady berjalan cepat dan mantap. Dia harus menggunakan lift mengingat apartemen putrinya merupakan penthouse di lantai teratas gedung itu. Penjaga apartemen tersenyum padanya. B-lady memang sudah terkenal di apartemen itu. Saat pintu lift terbuka, dia segera masuk, masih dengan rencana pesta kejutan di kepalanya.

Lift sudah setengah jalan menuju penthouse, namun pintu lift terbuka. Beberapa orang memasuki lift. B-lady harus agak menyusut untuk memberikan ruang pada orang-orang itu. Senyum  manis masih tersungging di bibir, wajahnya yang cerah membuat mereka membalas senyum.

B-lady segera ke luar lift saat lantai yang di tujunya tiba, dia segera melangkah ke pintu apartemen putrinya, lalu memencet bel. Bunyi bel terdengar. “Shit! Siapa itu?” tampang pemuda itu tampak sangat frustasi.

B-lady keheranan, semalam ini putrinya belum pulang juga. Dia mencari sesuatu di dalam tas. Ternyata sebuah kunci. Dia segera membuka pintu apartemen, mencopot sepatu lalu mengganti dengan sandal rumah dan segera masuk ke ruang tamu. Sesaat dia mengamati suasana ruangan yang gelap itu. Dia mencari-cari stopkontak, menyalakan lampu ruangan lalu duduk di sofa, menanti kepulangan putrinya.

B-lady mulai membuka majalah. Sesekali dia memandang arlojinya. Dengan sabar dia menunggu. Bacaan di tangannya semakin menarik perhatian.

B-lady terkejut, teriakan dari arah kamar terdengar lagi. Dia segera berdiri. Kekawatiran segera menjalar di hatinya, rupanya dia salah. Putrinya di dalam kamar. “Sun pasti terjatuh, pasti berjalan sambil tidur lagi lalu terjatuh.” Dia segera berlari dan membuka pintu kamar lebar-lebar.

“Sun !” lady anggun itu memekik.

“Oema…” Sepasang kekasih itu menoleh ke arahnya. Pemuda tampan itu segera menarik selimut yang terkesiap untuk menutupi tubuh mereka lalu melepaskan diri dari posisi yang tidak enak dilihat.

B-lady sungguh tidak mempercayai pemandangan di hadapannya. Tangannya menutup mulutnya sementara langkahnya semakin menyusut ke belakang, dia berbalik dan berlari keluar apartemen Sun. Hatinya serasa perih dan marah, tidak disangka putri kebanggannya itu bertingkah demikian. Dia memasuki mobil dengan kasar, masih tak habis pikir dengan jalan pikiran Sun, Apa yang kau bisa dapat dari pemuda itu, Sun! Hanya artis yang baru naik daun, agamanya saja tidak jelas! Batinnya merutuki Sun. Dia memukul kemudi di depannya lalu menjalankan mesin dan segera pulang dengan hati dongkol.

====àóß====

Lion Bar sangat sibuk. Para pelayan mondar-mandir melayani pengunjung, sementara kelima bartender yang bertugas tampak memperlihatkan aksinya. Turis-turis asing terlihat di seantero ruangan. Musik yang terdengar sangat norak dan memekakkan telinga, membuat muak orang-orang alim, namun tentu tidak bagi mereka yang terbiasa dengan hiburan macam ini. Tampak beberapa pengunjung telah terkapar, entah sudah sampai di mana khayal mereka mungkin sudah sampai langit ke tujuh, padahal jelas-jelas raga mereka masih teronggok tak karuan di beberapa sudut bar itu, termasuk di antaranya pemuda jangkung yang menelungkupkan kepalanya di meja bartender. “Hei, Tuan, kau sudah sangat mabuk,” kata bartender di depannya.

“Ah, jangan mengoceh, tuang lagi di gelasku!”

Bartender itu tampak ragu menuruti perintahnya, wajahnya yang tampan segera mengeras,”Apa yang kau tunggu! Cepat berikan!”

Bartender itu menyerah juga, dia menuangkan cairan kuning keemasan ke gelas yang tersodor  dan segera ditenggak oleh si pemuda mabuk dengan sekali teguk lalu dgebrakkannya gelas itu di atas meja bersamaan dengan mendaratkan kembali kepalanya. Dengan posisi itu, dia masih memukul-mukulkan gelas itu di atas meja, sementara pikirannya mengutuki diri sendiri, dasar brengsek! Diantara banyak profesi kenapa harus itu yang ku pilih? Dan orang-orang itu seenaknya menekan dengan target, kenapa hidup hanya diukur dengan sederat angka? Angka-angka yang brengsek! Target-target yang munafik! Sang bartender cuma geleng-geleng kepala.

Di sebelah kiri pemabuk itu, dua orang gadis memperhatikannya, pakaian minim membalut tubuh keduanya, dan dari penampilan mereka, tentu pria alim akan menjauhkan diri. Mereka sangat terpesona dengan wajah tampan itu. “Hei, bukankah itu Lee Min Ho?” tanya salah satu dari mereka ke yang lain. Gadis yang ditanya semakin menyipitkan mata,”Sepertinya begitu. Kenapa aktor seperti dia bisa kacau begitu?”

“Entahlah, mungkin gagal casting.” Keduanya tertawa bersama. Seorang turis yang tengah mabuk berat menghampiri mereka,”Hay ladys, enjoy this night with me!”

“Thank you, sir. But we are not interesting,” tolak salah satu dari mereka. Sang turis tidak terima dan langsung mencengkram gadis satunya. Salah satu pria asing yang masih sadar dan merupakan teman dari turis mabuk itu berusaha menenangkannya,”James, stop it! We are foreigner here.”

“Fuck you, Nick !” temannya menolak, malah semakin menarik gadis malang itu ke arahnya dan berusaha menciumi. Pemuda jangkung yang disebut Lee Min Ho tadi mulai mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah keributan kecil itu. Dengan gontai dia menuju ke arah mereka lalu berusaha melepaskan gadis itu,”She said not interesting!”

James semakin berang dan melayangkan tinjunya ke pemuda jangkung tersebut. Mendapat perlakuan demikian, dia tidak terima dan membalas pukulan, perkelahian pun terjadi. Kedua gadis itu berteriak. “O My God.” sesal Nick berusaha melerai. Dan akhirnya sebuah botol yang dipegang oleh pemuda itu melayang ke atas kepala James hingga pecah dan korban segera rubuh. Nick  terkejut, tangannya reflek menepuk pemuda kalap itu, malang baginya botol pecah yang dipegang pemuda itu mendarat keras ke perutnya. Darah segar tampak merembes di baju Nick. Tubuhnya roboh di tempat. Jeritan-jeritan makin keras terdengar, menyadarkan  kekalapan pemuda itu. Dia segera melarikan diri. Keluar dari bar gila itu dengan langkah lebar, sementara orang-orang tidak memperhatikannya tapi malah panik dengan keadaan kedua korban.

=====àóß=====

Detektif Han menghela nafas, kasus ini sangat membingungkan, sementara kesibukan di kantor polisi itu makin menggila saja, suara telephone dan mesin ketik bersahutan, belum lagi umpatan para pesakitan itu saat diinterogasi, sungguh pagi yang buruk mengingat semalam tidurnya kurang pulas akibat telephone mendadak akibat kasus ini.

“Dua orang turis asing,” ujar asistennya, Hoo Kie.

”Orang Amerika!” sambung Han.”Ini akan menjadi kasus besar, menyangkut dua negara, apalagi Korea sedang giat-giatnya promosi wisata. Sungguh tidak bisa dipercaya.”

Hoo Kie membolak-balik arsip di depannya.

“Ada petunjuk lain?” tanya Han. Hoo Kie menggeleng.

“Yakin?”

“Ya!”

“Sidik jari atau kesaksian?”

“Nihil! Sepertinya orang itu memakai sarung tangan, kau tahu kan semalam  udara Seoul sangat dingin?”

“Lalu, apakah tidak bisa mengorek keterangan dari saksi?”

“Kita agak kewalahan akan hal itu.”

“Apa maksudmu dengan kewalahan?”

“Lion Bar berusaha melindungi semua yang bertugas  malam itu, jika kita mau saksi, kita harus berhadapan dengan tim pengacara mereka.” terang Hoo Kie.

“Hah! Benar-benar tak dapat dipercaya!” sekali lagi Han mendengus.”Lalu bagaimana dengan pengunjung?”

“Tetap nihil, sepertinya mereka terlalu individualis malam itu. Kita hanya bisa menunggu para korban sadar lalu kita bisa mengenali pelaku dari sketsa wajah.”

“Bisa diperkirakan kapan mereka sadar?”

“James Howl sudah sadar pagi ini, tetapi sepertinya semalam dia terlalu mabuk untuk mengenali pelaku,” jawab Hookie,”Harapan kita tinggal korban satunya, Nick Stollen.”

Han merebut file yang ada di tangan Hookie. Sesaat dia telusuri tulisan yang ada di lembar catatan kesehatan Nick, keadaan turis asing itu lebih parah, darah terus keluar dari lubang tusukan, dan perlu tranfusi, Han mulai menghitung berapa hari kemungkinan Nick tersadar. “Rupanya memang tidak ada cara lain, aku harus minta bantuannya.”

===à< = >ß===

“Kau yakin?” tanya Mino. Sun mengangguk,”Biar aku yang menjelaskan semuanya pada oemma.” Sun menuangkan orange juice ke dalam gelas lalu menyodorkannya di depan Mino “Apa acaramu siang ini?” Pertanyaan itu untuk mengalihkan pembicaraan. Mino meneguk orange juice di tangannya saat sandwich itu mulai menyumbat kerongkongan, “Seperti biasanya, syuting seharian. Kau sendiri?”

“Survey lokasi setelah ke rumah Appa.”

“Sebenarnya mau apa B-lady menemuimu?” Mino masih saja memutar arah pembicaraan. Sun memijit-mijit pelipisnya, “Entahlah,” Mino meraih tangan Sun, dia genggam tangan mungil itu seakan memberikan kekuatan di sana,”Kau yakin tidak mau kutemani?”

Sun tersenyum,”Setelah kejadian semalam, terus terang aku tidak tahu lagi apa yang harus kuperbuat.”

“Karena itu ijinkan aku menemanimu,” Mino memohon.

“Dan kau pasti akan diusirnya,” Sun terkekeh. Kening Mino berkenyit,”Oemmamu tidak menyukaiku?” Sun tidak menjawab, dia memandang ke arah jendela, suasana di luar terlihat teduh.

“Kenapa oemmamu tidak menyukaiku?” pertanyaan itu mengagetkan Sun. Sun memandang arlojinya,”Sudah jam sembilan, semalam kau bilang ada syuting jam sepuluh. Berangkatlah, kau pasti sudah ditunggu.”

Mino menghela nafas, dia mulai berjalan mendekati Sun lalu mencium kening, pipi, dan terakhir bibir kekasihnya itu,”Aku akan menelphonmu nanti malam, dan bila ada waktu, aku akan ke sini.” Sun tersenyum menghantarkan kepergian Mino dari apartemen itu.

Dan sekarang di sinilah Sun, di dapur B-lady bersama oemmanya itu yang telah mencuekkannya sejak tiga puluh menit yang lalu. Oemmanya masih saja sok sibuk dengan masakan, sementara Sun masih melamunkan kebersamaannya dengan Mino tadi pagi. Seperti yang telah dikatakannya pada Mino, dia memang tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan saat ini.

“Huh! Kenapa kaleng ini tidak berubah sejak sepuluh tahun yang lalu?” B-lady jengkel karena kesulitan membuka kaleng sarden, dia memukul-mukul kaleng itu sampai peyok, lalu melemparnya. Sun terkejut, jelas sekali Oemmanya marah bukan pada kaleng sarden, tapi pada dirinya. Sun memungut kaleng sarden itu lalu mulai membukanya dengan alat pembuka kaleng. B-lady menghela nafas,”Kau bilang tidak ada hubungan dengannya.”

Sun tersentak, pembuka kaleng hampir terjatuh dari tangannya. B-lady menatapnya tajam,”Lalu yang semalam itu apa?”

“Mianhamnida, Oemma,” ujar Sun lirih.

“Kau!” B-lady menunjuk ke arah Sun,”Sebenarnya apa yang kau lihat dari lelaki itu, Sun! Sudah berapa kali kalian melakukannya?” Sekali lagi Sun tersentak. B-lady memandangnya dengan penuh tanda tanya dan dia mulai bisa menebak jawaban yang akan diberikan putrinya,”Kau tahu apa sebutan yang bisa Oemma berikan untukmu? Pelacur!”

“Oemma?” Sun sungguh tidak mempercayai kata-kata B-lady.

“Ya, pelacur. Maaf jika Oemma terlalu keras tapi memang hanya itu yang bisa Oemma pikirkan, kau mau Oemma menyebutmu apa? Wanita simpanan? Oh, tidak bisa, Sun, wanita simpanan pasti sangat kaya karena mendapatkan apa saja dari pria yang dikencaninya, sedangkan kau…. Kau masih saja harus bekerja keras dengan film-film dan lukisanmu, sementara lelaki itu seenak jidatnya menemuimu di waktu luangnya dan kau dengan senang hati membuka kakimu untuknya, kau tahu  sebutan yang pantas? Apa lagi kalau bukan pelacur!”

“Oemma!” Sun berteriak sekarang. Air mata mulai mengalir di pipi, sementara tangan kanannya membekap mulut. Dia terisak, tak disangka B-lady mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan. Sejak kecil memang dia sering beradu mulut dengan oemmanya, tapi kali ini pernyataan itu adalah hal yang paling menyakitkan yang keluar dari mulut Oemmanya.

“B-lady, I am home…” teriak suami B-lady saat memasuki dapur. Lelaki paruh baya itu heran saat melihat Sun menangis, sementara B-lady terkejut dengan kepulangan suaminya yang tiba-tiba, dalam otaknya mulai mencari-cari alasan untuk menjawab pertanyaan suaminya itu kelak, suaminya sangat menyayangi Sun, diantara kedua putri mereka, Sun-lah yang paling suaminya sayang, dan dia tidak mungkin membuat suaminya kecewa dengan menceritakan kejelekan Sun, hubungan rahasia itu, yang seantero Korea sudah dianggap rahasia umum bahkan fakta, tapi bodohnya dianggap gossip oleh mereka karena sangat mempercayai Sun.

“Waeyo, Sunny?”

Sun memandang Appanya nanar, dia tidak sanggup menjawab pertanyaan itu, sementara bahunya bergerak-gerak selaras dengan isakkannya, dia sudah tidak sanggup dengan tatapan itu, hatinya sangat pedih, hingga akhirnya diputuskan untuk berlari meninggalkan ruangan itu. Dia berlari keluar dari rumahnya, menjalankan mobil secepat-cepatnya demi menghindari pertanyaan lebih lanjut dari Appanya, orang tua yang selama ini sangat membanggakannya itu.

=====à < = > ß=====

Detektif Han tertawa melihat penampilan temannya, pria di depannya terlihat sangat necis dengan kemeja yang terselip rapi di celana dan jas yang sangat serasi dengan kemeja itu, rambut pria ini sangat stylist, dan Han semakin ngakak melihat celanannya, celana pensil.

“Ha ha ha, terus saja tertawa,” pria di depannya merasa diperolok. Dengan susah payah, Han menghentikan tawa. Gedung kosong itu tampak tak terawat, dan hanya orang gila saja yang mau mengadakan pertemuan di tempat ini, tapi tempat bobrok inilah yang paling aman untuk pertemuan keduanya.”Apa yang kau dapat?” tanya Han. Pria stylist itu menyerangai,”Apa yang kau beri?”

Han menarik sudut bibirnya,”Kau perhitungan sekali!”

“Kau sudah berjanji, lagi pula kasus ini bukan prioritasku, aku sedang menangani pembunuhan gay,”terang pria itu. Itulah sebabnya polisi yang satu ini berpenampilan demikian, rupanya dia sedang menyamar untuk penyelidikan. Detektif Han selalu kesulitan dengan penyamaran karena tampangnya yang terlalu serius dan para penjahat itu langsung bisa mencium aroma polisi dari tubuhnya, maka dia meminta bantuan temannya itu. Han mengeluarkan sesuatu di balik mantelnya lalu menyodorkan ke arah pria itu.

“Apa ini?” tanya sang ahli menyamar.

“Dua tiket ke Haway, anggap saja ini bantuanku agar kau bisa berkencan dengan pasangan gaymu,” sekali lagi Han tertawa.

“Kau!” pria itu memukul bahu Han, Han meringis kesakitan.

“Get it or not?” Han merebut dua tiket itu. Pria itu terkejut dan cepat merebutnya kembali,”Seorang actor.”

“Apa kau bilang?”

“Pelakunya adalah actor.”

“Actor!”

“Ya, itu yang aku dapat.”

“Siapa?”

“Mereka bilang tubuhnya jangkung.”

“Hah, kau kira berapa banyak actor jangkung di Korea ini?” hardik Han,”Yang kau katakan sangat konyol.”

“I don’t care. Hanya itu yang ku dapat. Setidaknya kasus ini besar, korbannya warga negara asing dan pelakunya actor local, kau pasti akan naik pangkat jika berhasil memecahkan kasus ini. Senang berbisnis denganmu, Han,” pria stylist itu  berlalu.

“Hai, hai!” Han memanggil pria itu, tapi yang dipanggil tidak menghiraukannya, hanya melambaikan tangan dan tetap meninggalkan tempat itu. Ponsel Han berdering dan segera diangkat.

”Nick Stollen sudah sadar,” kata Hoongkie di ujung telephon. Han melonjak girang,”Lakukan sketsa wajah secepatnya.”

“Akan kita usahakan, semoga tim medis mengijinkan kita melakukan itu mengingat keadaan Nick.”

“Terserah, yang penting pelaku segera dikenali,” seloroh Han. Dia tiba-tiba merasa penasaran. Seorang actor! Hm, actor jangkung? Siapa? Mungkin benar kalau ini akan jadi kasus besar.

=====à< * >ß=====

Sehari sudah semenjak pertengkaran Sun dengan B-lady. Sun terlihat sangat tidak bersemangat pagi ini, semua pekerjaan dijalaninya dengan setengah hati, bahkan semalam dia sudah melarang Mino menemuinya, dia tidak ingin Mino melihat wajah sedihnya, dia berbohong ketika Mino menelephon, mengatakan bahwa hubungan dengan Oemmanya tetap baik-baik saja.

Hari merangkak siang, percuma Sun tetap memaksakan diri bekerja, sangat susah berkonsentrasi, akhirnya dia mendatangi Manolin Café, menghibur diri dengan menjadi barista di café miliknya itu. Seorang wanita karir terkejut melihatnya, hal langka bagi wanita ini dilayani oleh artis sekaligus pemilik café,”Anda tidak sibuk siang ini?”

“Seperti yang anda lihat,” jawab Sun.

“Bisa berikan saya Coffelatte?”

“Tentu,” Sun menjawab dengan menampakkan lesung pipitnya dan segera membuatkan pesanan.

“Bisa ganti saluran tv-nya dengan siaran infotainment?” pinta wanita itu lagi saat Sun menyajikan pesanannya.”Infotainment? Anda suka acara itu?”

“Iya, siapa tahu ada Anda di sana?”

Sun menurutinya, saluran TV segera menayangkan acara infotainment. Para pengunjung café mulai menoleh ke layar televisi. Sun tersenyum saat satu persatu berita dari teman sesama artis muncul. Semua kaget saat sebuah berita yang akhirnya terpampang,

“Aktor LMH ditangkap di apartemennya atas sangkaan penusukkan terhadap turis asing.”

Wanita karir itu berbalik ke arah Sun,”Menurut Anda, apakah dia benar melakukan itu?”

“Siapa?”

“Lee Min Ho,” jawab wanita itu sembari menunjuk TV. Sun mengikuti arah telunjuk itu dan menyadari semuanya. Serta merta Sun memperhatikan berita itu lebih seksama, dan dia mulai gugup. Sun segera menuju ruang pribadinya di Café itu, perasaannya tidak karuan, berjalan mondar-mandir sambil menggigiti kuku.”Tidak mungkin, itu semua tidak  mungkin, malam itu dia bersamaku….. Bumie! Ya, Bumie, aku harus menelphon Bumie.”

“Bumie!” seru Sun saat ponselnya terhubung.

“Oh, ya, Noona, aku sudah mendengar kabar itu,” rupanya Bumie sudah tahu maksud Sun menelphon.

“Itu tidak mungkin. Malam itu Mino ada bersamaku!”

“Aku kurang tahu dengan kasus ini, Noona. Tapi aku berencana menemuinya di penjara siang ini.”

“Aku ikut! Aku harus mengatakan pada polisi yang sebenarnya.”

Bumie diam sebentar,”E… aku tidak tahu, Noona, tapi… tidakkah hal itu akan membongkar hubungan yang kalian rahasiakan selama ini?”

“Persetan dengan semuanya!”

“Aku kenal Mino, Noona. Dia pasti tidak setuju.”

“Tidak peduli! Aku harus menemuinya!”

Bumie semakin gusar,”Begini saja. Noona ke kantor polisi dengan memakai mobil orang lain, terserah mobil siapa asal jangan mobil Noona, tapi jangan langsung masuk, tunggu di tempat yang agak jauh dari kantor polisi. Biar aku yang menemui Mino dulu, sebenarnya aku tidak yakin Mino mau Noona temui, biar aku pastikan dulu, jadi tunggu aku untuk menjemput. Araso!”

“Apa saja, aku ikut saja, Bum.” Jawab Sun. Bumie menghela nafas,”Tenanglah di sana, Noona. Jangan gegabah.”

=====à < * > ß=====

“Mino, kau harus memikirkan semua ini. Ini adalah alibi yang sangat kuat!” ujar Manajer Mino. Bumie yang ada di ruangan itu tampak gusar, sepuluh menit yang lalu Sun mengirim SMS bahwa dia sudah menunggu di dalam mobil, di pertigaan sekitar tiga ratus meter dari kantor polisi.

“Sido!” tolak Mino. Bumie menghela nafas,”Benar kata Manajer. Dengan mengatakan bahwa kau bermalam bersama Sun waktu itu, kau segera bebas dari tuduhan.”

“Kau bodoh, Bum. Oke, aku mengatakan kalau aku bersama Sun, lalu mereka menanyai Sun, Sun mengiyakan, dan tidak sampai di situ saja, wartawan-wartawan brengsek itu akan bertanya lebih lanjut, lalu mau ku jawab apa? Bercinta semalaman dengannya? Dan bagaimana nasib Sun setelah itu? Kalian pernah memikirkan itu?”

Mino memijit pelipisnya, dia tidak pernah menyangka kejadian ini menimpa dirinya. Menjadi tersangka penusukkan turis asing hanya karena sketsa wajah.”Aku boleh saja hancur, asal jangan Sun. Jalan Sun masih sangat panjang!”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya sang manajer.

“Ah, kau manajer bodoh, bisa-bisanya kau bertanya padahal itu tugasmu,” hardik Bum. Manajer itu mendelik ke arahnya,”Pihak manajemen sudah menunjuk pengacara, tapi jika pengacara itu tahu alibi ini, dia pasti juga akan menggunakannya.”

Mino memejamkan mata, perkataan manajer itu ada benarnya juga, sekarang bagaimana caranya agar pengacara itu tidak tahu,”Aku akan menjadi Goo Jun Pyo. Goo Jun Pyo menyelesaikan semuanya dengan uang.”

Bumie terkekeh, perkataan sahabatnya ini terdengar konyol,”Jangan melucu, Mino-ssi. Ini bukanlah serial drama.”

“Kita sudah hidup di dunia itu. Di situ ada aktor dan sutradara, untuk sementara biarkan aku menjadi sutradara sekaligus aktor untuk keluar dari kasus ini,” pinta Mino. “Pak manajer, tawari turis itu dengan sejumlah uang agar mau berdamai.”

“Kau gila, Mino-ssi. Mereka orang Amerika, sudah pasti mereka langsung berlindung di kedutaan besar Amerika!” tolak sang manajer.

“Itulah sebabnya aku menyuruhmu, kau pintar bernegosiasi.”

Ponsel Bumie berbunyi. Sun mengirim pesan untuk ke sekian kalinya. Dia semakin gusar. “Siapa itu?” tanya Mino.

“Hye Sun  Noona,” jawab Bum,”Dia menunggu di pertigaan seberang.”

“Pabo!” teriak Mino. Bumie menghempaskan punggung di sandaran kursi.”Telephon dia sekarang, bilang agar tidak bertindak yang macam-macam,” perintah Mino.

“Dia hanya ingin menemuimu!”

“Anyi! Katakan saja aku tidak bisa ditemui, sedang ada pertemuan dengan pengacaraku, apa saja agar dia segera pulang!”

Bumie melakukan apa yang diperintahkan Mino. Dia menjauhkan diri dari Mino dan manajernya untuk menelphon Sun. Sementara Mino dan manajer itu meneruskan permbicaraan,”Seperti yang ku bilang tadi tawari mereka uang, aku rela kehilangan apa saja agar mereka mau melepas kasus ini.”

“Jika mereka tidak mau?”

“Tekan mereka agar mau menerimanya.”

“Maksudmu aku harus bekerja sama dengan geng seperti Woo bin dalam BOF?”

“Oh my God, Manajer! Mereka turis asing, cari kelemahan mereka, ijin tinggal, visa yang habis masa, atau apa saja!” Mino semakin tidak sabaran, tidak biasanya manajernya ini begitu lamban berpikir.

“Araso! Araso!” sahut manajer. Mino menarik ujung bibirnya. Bum yang sudah selesai menelphon Sun kembali di antara mereka,”Sangat sulit meyakinkannya, tapi akhirnya dia mau mengerti setelah aku bilang kalau akan menemuinya setelah ini.”

Kini giliran Mino menyandarkan diri di kursi,”Bilang padanya aku tidak mau ditemui selama di penjara.”

Bumie mengangguk. Mino memerintah lagi,”Bilang juga padanya agar tidak bicara apa pun mengenai pertemuan kami yang terakhir!”

===è……ç===

Sun berbaring di sofa, sementara peñata rias bekerja, mempermak wajahnya yang pucat agar terlihat lebih segar. Beberapa hari terakhir memang kesehatannya agak terganggu, dia merasa mual bahkan sesekali pingsan, dan yang terparah, dia pernah pingsan di hadapan B-lady, B-lady memang mendatangi apartemennya kemarin dan menekan Sun agar memutuskan hubungan dengan Mino. Saat itu B-lady mengira Sun hamil, Sun bahkan harus menggunakan test pack di depan oemmanya itu hanya untuk meyakinkan kalau dia tidak hamil.

Di Hall room, para wartawan sudah berkumpul menanti kehadiran Sun, hari ini memang diadakan Confrensi press untuk menjawab simpang-siurnya berita antara Sun dan Mino. Sun sebenarnya  tidak menyetujui acara ini, tapi pihak manajemen meyakinkannya kalau hal ini harus dilakukan, sebab jika dia tetap diam, beberapa pihak sponsor filmnya diindikasikan dapat memutuskan kontrak kerja.

Sementara di ruang pengunjung, di kantor polisi, Bumie dan Mino menatap layar HP Tv. Menanti-nanti dengan cemas acara tersebut. Beberapa kali Mino berjalan mondar-mandir di ruangan itu lalu duduk lagi.

“Hai, diamlah, Kau membuatku tambah panik,” Bumie memandangnya risih. Mino mendengus,”Kenapa harus ada confrensi press? Kau bilang dia sudah janji tidak bicara apa pun!”

“Kau pikir sangat mudah bagi dia, hah! Beberapa sponsor mengancamnya untuk membatalkan kerja sama, manajemen menekannya untuk melakukan ini!”

Mino merebut HP TV dari tangan Bumie,” Belum mulai juga.”

“Jangan kawatir, dia janji tidak akan banyak bicara, di sini nanti manajernya yang akan lebih banyak bicara,” jelas Bumie.

Sun masih berkutat dengan riasan wajahnya. Sesekali peñata riasnya mendengus, agak susah menyembunyikan pucat di wajah Sun kali ini, sementara angan Sun mengingat-ingat kembali pertemuannya dengan Bumie setelah dia gagal menemui Mino beberapa hari yang lalu.

“Apa dia sudah gila?” pekik Sun. Bumie menyandarkan punggung di sofa ruang tamu apartemen Sun. Dia sudah menduga reaksi Sun akan seperti ini. “Hanya ini yang bisa mengeluarkannya dari semua tuduhan,” Sambung Sun lagi.

“Noona pikir sudah berapa kali aku meyakinkannya, bahkan manajernya pun berang. Oh ya, satu lagi, dia melarang Noona menemuinya di penjara.”

“Sidho!” Sun benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Mino. Dia meraih tas selempangnya dengan cepat. Bumie terkejut,”Noona mau kemana?”

“Antarkan aku menemuinya!”

“Anyi! Sudah jelas dia tidak mau Noona temui!”

“Baik, aku akan menemuinya sendiri!” teriak Sun sembari mulai melangkah pergi. Dan saat dirinya hampir mendekati pintu…… .”Huh, kenapa harus aku yang selalu diantara kalian.”

Sun menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan memandang ke arah Bumie,”Apa katamu?”

“Aku bilang kenapa harus aku yang selalu diantara kalian!” Bumie terlihat sangat jengkel. Sun semakin tidak mengerti.

“Kau tahu, kan? Konser Joongie, pemutaran perdana filmmu, dan yang terakhir…. Kasus konyol ini! Kenapa bukan Joongie? Kenapa bukan Joon! Bukan aku saja yang tahu hubungan kalian!”

Sun tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bumie memangilnya dengan ‘kau’ seumur-umur baru kali ini dia mendapati Bumie semarah ini. Aku pasti sudah sangat menyusahkan, pikir Sun.

Bumie berdiri, dia berjalan ke arah Sun, menekan dengan kuat bahu Sun dengan ke dua tangannya,”Jadi, jika kau masih ingin seorang Bumie membantumu…. Lakukan perintahku!”

“Dia memerintahmu untuk tidak menemuinya di penjara. Dan aku juga perintahkan itu. Dia mau kau tutup mulut tentang malam pertemuan kalian yang terakhir, dan aku juga…. Aku juga perintahkan itu. Araso!” Bumie menggoncang-goncang tubuh Sun. Sun tertegun di tempat, dan butir-butir bening mulai menggenang di pelupuk matanya. Sun menyusut ke lantai, bersimpuh di hadapan Bumie dengan kedua tangan membekap mulutnya. Bumie berjongkok dan memeluk tubuh yang gemetaran itu,”Miane, jeongmal miane, Aku mohon berjanjilah, ini demi kebaikan kalian berdua, aku mohon….”

Diantara isakan itu, akhirnya Sun mengangguk lemah.

Sun menghela nafas, wartawan-wartawan itu sudah di depannya sekarang. Sementara manajernyalah yang selalu menjawab pertanyaan. Akan tetapi mereka tetap saja merasa kurang puas. Sang artis hanya berdiam diri, menatap dengan pandangan kosong.

“Hye Sun-ssi, apa komentar anda tentang kasus Mino-ssi?”

“Hye Sun-ssi, benarkah kalian selama ini berhubungan?”

Hye Sun-ssi, Hye Sun-ssi dan Hye Sun-ssi! Mereka tetap saja memojokkannya dengan sederet pertanyaan, “Hye Sun-ssi ada yang melihat Mino berada di apartemen anda waktu itu.”

Kali ini Hye Sun mulai bergerak, tapi ekspresi wajahnya tetap datar. Mino dan Bumie yang mengikuti acara itu di kantor polisi mulai tegang. Sementara B-lady yang juga melihat ekspresi Sun dari monitor TV mengkernyitkan alis.

“Apa-apan ini? Sudah jelas-jelas Sunny tidak ada hubungan dengan lelaki itu, mereka masih saja merepotkan. Bikin Sunny-ku stress saja!” Mr. Goo yang duduk di samping B-lady semakin ngomel. B-lady melirik, suaminya masih belum tahu tentang rahasia itu. Aku harap kau segera memutuskannya, Sun, batinnya penuh harap.

“Bukankah ini alibi kuat buat Mino-ssi jika semua ini benar dan anda mengatakannya?” wartawan itu menanyainya lagi.

Sun memandang ke arah wartawan itu. Jepretan blitz kamera sesekali menerpa wajahnya. Tangannya mulai bergerak ke arah mic. Mino yang melihat itu menahan nafas. Tangan Bumie mengepal, berharap Sun tidak melanggar janjinya. B-lady tampak pucat di tempatnya dan Mr. Goo masih saja mengomel.

Sun menghentikan tangannya, ekspresi wajahnya masih tak tertebak.

“Dalam hubungan ini kaulah yang memimpin,” dia teringat kata-kata yang diucapkannya pada Mino. “Selamanya aku tak akan melepaskanmu,” Mino seakan berbisik di telinganya. Sun menggerakkan tangannya lagi.

“Kenapa harus aku yang selalu diantara kalian?” teriakan Bumie kembali melintas di otaknya. Sun mulai meraih micnya.

“Jika kau masih ingin seorang Bumie membantumu,” sekali lagi pikiran Sun terganggu,”Dia mau kau tutup mulut tentang malam pertemuan kalian yang terakhir!……Araso!”

Sun memejamkan mata. Mino terduduk dengan tangan kanan menekan pelipisnya. Bumie mulai meletakkan HP TV itu di atas meja. B-lady semakin pucat.

“Seperti yang selama ini saya katakan… saya tidak ada hubungan dengannya.”

Mino dan Bumie melonjak girang. B-lady menghela nafas lega. Mr. Goo menari-nari tak jelas,” Jawaban yang cerdas, Sunny!”

Sun tersenyum manis,”Tuduhan terhadap saya salah alamat.”

Sun berdiri saat para kuli tinta itu masih ingin melontarkan pertanyaan, dari bahasa tubuh Sun, terlihat dia segera meninggalkan ruangan. Pihak manajemen Sun berusaha menenangkan press. Sun sukses melarikan diri dari hysteria itu dengan kawalan para bodyguardnya.

———–à< ^^^ >ß———–

Saat ini tepat pukul 11 malam waktu seoul, Mino melangkahkan kakinya menuju ruang pribadi Sun di café Manolin. Kasus itu usai sudah. Manajernya melakukan misi dengan baik. Para turis itu mau berdamai ketika diancam dengan masa visa yang habis sebelum kejadian penusukan. Dan siapakah pelaku sebenarnya yang sangat mirip dengannya? Mino tidak ambil pusing. Baginya semua telah berlalu, dan kini dia ingin menemui kekasihnya, dibukanya pintu ruangan itu dan di sanalah Sun, duduk di depan sketsanya, begitu bersinar diantara temaram malam. Sementara  kesunyian menghantarkan sukma kerinduan yang tersemayam.

Sun menghambur ke pelukan Mino  dan segera terkunci dengan ciuman. Seketika dia membalas ciuman itu, lalu menarik Mino mendekati bibir ranjang di ruangan itu. Mino agak terkesima dengan keagresifannya yang tidak seperti biasanya, tapi sekaligus bahagia. Sesaat mereka menyalurkan hasrat yang tertahan selama Mino terpenjara, menikmati tetes demi tetes gairah yang tertuang di atas peraduan cinta mereka. Kata-kata dan bisikan mesra tertuang diantara hasrat yang memburu, saat hati dan fisik bicara, tiada hal yang mampu menandinginya. Tak perduli nafas yang hampir habis, desahan dan leguhan tetap keluar dari keduanya. Ciuman, sentuhan dan saling memohon untuk terpuaskan. Semua berbaur di antara kerinduan yang terpendam dalam benak mereka. Dan diantara semua itu, Mino mengagumi kekasihnya, diagungkannya pujaan hatinya itu dengan buaian yang tersalur diantara gairahnya yang terdalam, “Untukmu, Baby…. Hanya untukmu.”

Sun menghirup udara dalam-dalam, aroma capucino yang dibuatnya untuk Mino menusuk penciumannya. Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi, Mino memang sedang mandi di dalamnya. Hari masih sangat pagi, para karyawan café belum datang. Sun segera menuju ruang pribadinya. Mino sudah keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk,”Kopi untukku?”

Sun tersenyum, disodorkannya kopi itu kepada Mino. “Gomawo,” Mino menerimanya dengan senang hati lalu meneguknya pelan. Sun duduk di sofa dan Mino mengikuti gerak-geriknya lewat sudut matanya. Entah kenapa hatinya berkata kalau pagi ini Sun kelihatan aneh, bukan hanya pagi ini tapi juga semalam. Keagresifannya, caranya merespon permainannya, segala hal yang membuatnya bahagia tapi juga membuatnya keheranan. Mino meletakkan cangkir kopi itu di meja teh di dekat sofa itu, dia duduk di samping Sun,  meraih tangan kekasihnya dan mengecup punggung tangan itu.

“Min-a, ada yang ingin kubicarakan,” suara Sun yang lirih memecahkan keheningan. Mino menatapnya penuh tanya. Sun menunduk, dia tidak mampu membalas tatapan itu, “Sepertinya semalam adalah percintaan kita yang terakhir.”

“Mwo?” Mino tak mengerti maksud perkataan Sun.

“Aku…. Aku….minta putus!” Sun menguatkan hatinya. Mino terbelalak,”Tidak! Aku tidak mau!”

“Cukup, Min-a, aku tidak bisa jadi pelacurmu lagi!”

“Pelacur? Apa maksudmu pelacur? Kau kekasihku, Sun. Kau istriku!”

“Istri? Bangun dari mimpimu, Lee Min Ho! Jika aku istrimu, aku tidak mungkin meminum pil-pil itu, jika aku istrimu, aku tidak perlu kawatir memastikan kalau kau mengeluarkannya di luar, takut kalau-kalau diriku hamil. Aku bukan istrimu, araso!”

“Kau…..” Mino menunjuk ke arah Sun. Dia menggeleng lemah,”Sudah ku bilang selamanya aku tak akan melepaskanmu.”

“Untuk saat ini, selamanya terlalu lama bagiku, Lee Min Ho! Aku tidak tahan lagi! Aku mau putus!” Sun menjerit.

“Ini bukan dirimu, katakan ini bukan dirimu!”

“Ini diriku yang sesungguhnya!!!” Sun meraung diantara tangisan yang tertumpah. Hati Mino semakin pedih. Inikah alasannya? Inikah alasan dibalik percintaan hebat semalam? Tidak, tidak semudah itu, Baby.

Mino mendekati peralatan lukis Sun, dia mencari sesuatu di sana. Saat dia menemukan benda yang dicarinya, dia mendekatkan benda itu di pergelangan tangannya. Logam keperakan itu tampak berkilat tertimpa cahaya saat dia berbalik menghadap Sun. Gadis  itu terperanjat di tempatnya,”Apa yang akan kau lakukan?” Dia berlari mendekati Mino yang sedang mendekatkan cutter di pergelangan kirinya.

“Berhenti!” Mino mengancam,”Apa gunanya aku tanpamu, Baby. Lebih baik aku mati!”

“Jangan bodoh! Kau akan membongkar semuanya kalau melakukan itu!” teriak Sun.

“Aha! Lihat siapa yang ketakutan sekarang! Selama ini aku merasa pengecut karena rahasia ini tapi ternyata….. sudah kubilang aku lebih baik mati!”

Sun semakin terisak, “Aku mohon mengertilah, aku mohon!”

“Tidak!” Mino mulai menyayat pergelengan tangannya. Darah segar segera keluar dari lubang sayatan itu. Sun menjerit sekuatnya. Perlahan tubuh Mino oleng. Sun berlari ke arahnya dan memeluk tubuh jangkung yang sudah terkapar itu. Para karyawan mulai berjejal masuk saat mendengar teriakan Sun yang menyayat hati,”Bangun, Mino-ssi! Aku bilang Bangun! Bangun!!!”

Para karyawan segera memanggil ambulance. Sekejap suasana manolin café rame oleh press dan akhirnya kabar itu menggema,

‘SELEPAS DARI PENJARA, AKTOR LMH MELAKUKA PERCOBAAN BUNUH DIRI DI MANOLIN CAFÉ”

Bumie tersenyum saat membaca berita ini,”Pabo, Mino-ssi! Kau bersikeras agar Sun tidak mengungkap tabir ini, tapi kau sendirilah yang mengakirinya.” Bumie menghembuskan nafasnya kuat-kuat,Sepertinya kau terlalu naif untuk menjadi seorang Goo Jun pyo…..

———à < … > ß———

Mrs. Lee menghela nafas, dia mencoba menghimpun kekuatan di dirinya. Rumah keluarga Goo berdiri angkuh di hadapannya. Hari ini dia berusaha melakukan yang diminta putranya sesaat setelah tersadar dari perbuatan konyol itu, Mino memintanya melamar Sun untuk dirinya. Ragu-ragu, dia membunyikan bel itu dan dia berusaha mengatur perasaan saat pintu rumah itu terbuka.

“Saya adalah Ibu Lee Min Ho,” di ruang tamu itu Mr. Lee memperkenalkan diri di depan Mr. Goo dan B-lady. B-lady mulai gugup.

“Senang berkenalan dengan anda,” sapa Mr. Goo. B-lady mempererat pegangannya di lengan kanan Mr. Goo. Suaminya menoleh dan menepuk-nepuk tangan yang melingkar di lengannya itu, berusaha menenangkan.

Mrs. Lee menyodorkan bungkusan kotak yang sedari tadi dibawanya,”Maksud kedatangan saya kemari adalah…..untuk melamar putri anda, Goo hye sun…. menjadi istri putra kami…. Lee Min Ho.”

Mrs. Lee menatap nanar, harapannya sudah di tekan dalam-dalam. Pasangan Goo di depannya masih saja terdiam. Dia tahu perbuatannya ini tidak pantas, seharusnya dia menunggu suaminya dulu, tapi Mino terlalu memaksa, Mino ingin dia menemui keluarga Goo hari itu juga, entah apa yang ditakutkan anak itu, dia sendiri kurang tahu. Apakah takut kalau Sun meninggalkannya? Gadis itu selalu setia mendampinginya di rumah sakit walau pun press menghujatnya. Mrs. Lee kebingungan di antara kesunyian itu.

“Saya rasa,” Mr. Goo mulai bersuara,”Keputusan ada di tangan Sun. Kami hanya menurut.”

Wanita paruh baya ini merasa lega, beban berat seakan telah terangkat. Dia mengucapkan terima kasih berulang-ulang pada Pasangan Goo. Senyuman mulai tampak di wajahnya sekarang.

“Tunggu,” giliran B-lady kini yang bicara,”Boleh tahu apa agama putramu?”

“Ceongmal, oemma?” Sun melonjak senang saat mendengar kabar dari Mrs. Lee. Dia segera memeluk calon mertuanya itu.

“Baby… kemarilah,” Mino yang masih terbaring di ranjang rumah sakit memanggil. Sun menoleh lalu duduk di kursi yang terletak di samping ranjang dan meletakkan kepalanya di dada bidang itu. Mino pun mengecup kening Sun. Mr. Lee sangat bahagia melihat keduanya,”Kau senang, Mino?”

“Sangat, Oemma. Sangat bahagia, wanita yang ku cintai akan menjadi pendamping hidupku.” Mino menatap hangat ke arah Sun. Gadis itu terharu, dan terisak di dadanya.

“Oh, iya, Mino,” tiba-tiba Mr. Lee teringat sesuatu.”Mereka menanyakan agamamu. Untuk mempermudah, akan lebih baik jika kau mengikuti agama Sun.”

Mino masih saja membelai sayang rambut Sun,”Anything, Oemma. Anything for my everything.”

à THE END ß

Stop Kekerasan!

(Tulisan ini aku buat pada tanggal 23 Agustus 1994, yup… Aku masih kecil waktu itu, gak tahu waktu itu ada moment perang apa, lo gak salah moment perang teluk kali, ya… tapi coba dibandingin ma kondisi Indonesia saat ini, ironis banget, mpe miris aku liat beritanya, mungkin tulisan inilah yang mampu merefleksikan keadaan mereka)

Jalan-jalan penuh kekerasan, tak peduli dunia tlah hampa. Panas oleh matahari yang mengangah, hidup yang serasa hampa tanpa kasih, hidup akan sepi tanpa sayang, udara semakin berasap.

Tangis mereka makin menjadi. Mata-mata bening tanpa dosa memandangi mayat ayah atau ibunya, namun mereka hanya diam.

Mereka tak tahu Ibunya tak kan bangun, mengira ayahnya terlelap dalam tidur. mereka tak kan dapat mengerti walau pun beribu orang menangisi dan memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka terlalu muda untuk menyadari.

Bibir mereka terkatup, tidak berkata namun juga tidak diam.

Inikah dunia? Siapkah kita hadir di dalamnya?

Mayat-mayat bergelimpangan. Tak ada liang tuk berkubur, tak ada kubur tuk diziarahi. Angin berdesir, bau darah tercium, bau bangkai busuk terbang. Mereka tetap duduk bersimpuh dengan bibir terkatup. Tidak berkata, namun juga tidak diam.