DINASTI LEE II (Part 12)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 12

Song of the part :

 

Green, Green Grass Of Home

 

The old home town looks the same
As I step down from the train
And there to meet me is my Mama and Papa
Down the road I look and there runs Mary
Hair of gold and lips like cherries
It’s good to touch the green, green grass of home

Yes, they’ll all come to meet me
Arms reaching, smiling sweetly
It’s good to touch the green, green grass of home

The old house is still standing,
Though the paint is cracked and dry
And there’s that old oak tree that I used to play on
Down the lane I’ll walk with my sweet Mary
Hair of gold and lips like cherries
It’s good to touch the green, green grass of home

Then I awake and look around me
At four gray walls that surround me
And I realize that, yes I was only dreamin’
For there’s a guard and there’s a sad old padre
Arm and arm we’ll walk at daybreak
Again I’ll touch the green, green grass of home

Yes, they’ll all come to see me
In the shade of that old oak tree
As they lay me ‘neath the green, green grass of home

Sung By Tom Jones

 

 

Keesokan paginya. Min Ho serasa bagai lelaki baru. Dia yang terbangun lebih dulu dari Sun, pergi ke dapur setelah mandi dan berpakaian rapi. Dibawakannya sarapan Sun ke kamar mereka. Sun yang mencium bau masakan mulai membuka mata, dan terkejut mendapati suaminya itu sudah sangat rapi, tersenyum lebar ke arahnya dengan baki di tangan. Dengan memegangi perutnya, Sun berusaha duduk menyender di ranjang.

“Hati-hati, Baby,” Min Ho membantunya setelah meletakkan baki sarapan itu di atas meja kecil di kiri ranjang.

“Kau sudah bangun, kenapa tidak bangunkan aku,” Sun mulai ngambek. Min Ho meletakkan baki sarapan di pangkuannya,”Seharusnya aku yang melakukan ini semua padamu, Min Ho-ssi. Aku yang harusnya bangun lebih dulu.”

Min Ho mengibaskan tangannya,”Untuk sementara lupakan protokol suami-istri yang membosankan itu, kau pasti lelah setelah semalam. Ayo, sekarang makanlah.”

Sun mulai menyendok bubur di pangkuannya, pada saat itulah selimut yang menutupi dadanya agak tersingkap. Min Ho yang melihat hal itu kini menyelipkan satu tangannya ke bawah selimut itu dan merasakan kedua bagian tubuh itu menyambut belaian tangannya dengan hangat. Getaran yang menjalari sekujur tubuhnya mulai tak bisa lagi dia bendung, dan ia mengangkat baki sarapan itu lagi ke meja, lalu mencium lagi bibir kemerahan Sun dan menjalarinya sampai leher.

“Min Ho-ssi, apa kau akan melakukannya lagi?” tanya Sun parau. Susah payah, dia berusaha meredam hasratnya karena sentuhan itu. Terus terang, dia mengkawatirkan kandungannya jika Min Ho tetap tak bisa menahan diri seperti ini.

“Hm…,” Tapi Suaminya itu tidak menjawab, semakin asyik mencumbu dadanya, hingga otak dan hasratnya beradu antara akal sehat dan nafsu. Dan akhirnya, jantungnya berdetak cepat diantara kebimbangan itu.

“Min…  ah… ,” Sun memekik saat gigitan kecil terasa. Min Ho semakin menginginkannya, hingga lelaki itu menarik tubuhnya sampai terbaring kembali. “Aku mohon…, ingat… anak kita,” Sun mengingatkan dengan susah payah, jantungnya berdegup semakin kencang, tapi rupanya peringatan itu tertelan begitu saja karena nafsu suaminya sudah menyerang ubun-ubun. Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk oleh seseorang, dan hal ini sukses membuat Min Ho terpaksa mematahkan nafsunya.

“Mom.. , Dad… , Are you there?”

Wajah Min Ho tampak frustasi. Sun tersipu-sipu melihatnya, dalam hati, Sun merasa terselamatkan oleh putranya. “Anak tengil itu mengganggu saja,” gerutu Min Ho kemudian, lalu membantu Sun duduk kembali dan meletakkan baki sarapan di pangkuan istrinya itu.”Teruskan makanmu. Biar aku yang mengurus kemauan anak itu. Pagi ini kau sarapan di kamar saja, Baby. Tidurlah kembali jika masih lelah. Jam sepuluh nanti kita ke dokter untuk memeriksakan kandunganmu, aku tiba-tiba kawatir setelah kekonyolan kita semalam.”

Dahi Sun berkerut seketika. Baru semenit yang lalu Min Ho bernafsu menyentuhnya lagi, tapi kenapa secepat itu akal sehat suaminya kembali?

“Mom, Dad, are you there?” sekali lagi Min Jae mengentuk pintu. Min Ho semakin jengkel,”Ne! Sebentar, tidak sabaran banget?”

Sun terkekeh mendengar ucapan Min Ho. Suaminya itu akhirnya berjalan ke arah pintu. Min Ho keluar kamar, menutup pintu, lalu berdiri bersandar di kusen pintu,”Waeyo?”

“Waktunya sarapan, Dad. Halmoni sudah menunggu di ruang makan.”

Min Ho mendengus sebal,”Apa perlunya kau sendiri yang memanggil kami. Suruh saja pelayan.” Anak di depannya itu malah nyegir kuda,”Sebenarnya ada juga hal yang ingin ku sampaikan.”

“Oke. Kita sarapan sekarang,” ajak Min Ho. Dia mulai menggiring Min Jae ke ruang makan.

“But, Mom tidak sarapan?”

“Anyi, biarkan dia istirahat, kau tidak berpikir kalau dia capek berdiri terus di pestamu?”

Min Jae hanya bisa mengangguk. Mereka akhirnya tiba di ruang makan dimana Je Ha sudah menunggu. Sesekali timbul gurauan di antara mereka, tapi Min jae belum juga mengungkapkan hal yang mengganjal di hatinya. Dia tidak ingin merusak suasana bahagia itu. Min Ho yang sudah mulai menyelesaikan makannya, mulai mengingat pembicaraan Min Jae di depan pintu kamar. “Kau bilang ada yang ingin kau bicarakan?” tanyanya pada Min Jae.

“Yes, dad.”

“Katakan saja,” Min Ho mulai memandang serius. Je Ha mengamati roman wajah Min Jae yang juga berubah serius, hingga akhirnya Min Jae bersuara,”Min Jae akan ke Beijing besok, untuk mengurus sesuatu.”

“Sesuatu? Apa?” Je Ha jadi penasaran.

“Surat-surat Min Jae perlu legalisir,” Min Jae masih juga berteka-teki.

“Surat apa?” Kali ini Min Ho semakin tidak sabar, dia tidak ada waktu buat menebak-nebak lagi.

“Ijazah, piagam penghargaan, semuanya. Setelah itu Minjae ke Amerika, ada beasiswa dari Harvard untuk program doctor.”

Kedua orang tua di depannya terkejut. Mereka tidak menyangka sampai sejauh itu pemikiran bocah ini. “Ini pasti alasanmu untuk menghindari kami, bukan?” Min Ho masih saja mencurigai putranya.

“No, Dad. Min Jae sudah memikirkan hal ini jauh-jauh hari, bahkan beasiswa ini sudah Min Jae dapatkan sehari sebelum pindah ke Lee Manshion. Min Jae mulai kuliah musim dingin ini.”

Min Ho jadi mengerti alasan Min Jae menunda kepindahannya pada waktu itu. Je Ha masih tidak bisa terima keputusan cucunya,”Kenapa kau harus mengambil program doctor, apa kau ingin menjadi akademisi? Ingat, kau harus meneruskan Lee Corporation.”

Min Jae menghela nafas,”Ada rasa penasaran untuk meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Itu saja, Halmoni. Min Jae tidak pernah merasa puas.”

Min Ho tersenyum bangga, dia mulai menunjuk-nunjuk Min Jae,”Hm, ini baru putraku. Kau benar-benar seorang Lee.”

“Oke,” Akhirnya Je Ha pasrah juga,”Pergilah kau ke sana, tapi ingat, pulang kembali ke mari dan jadilah penerus Lee.”

Min Jae tersenyum, tiba-tiba dia ingin menggoda neneknya dengan suatu pemikiran, hingga terlontarlah wacana itu,”Lalu bagaimana dengan keluarga Goo? Mereka juga perlu penerus. Bisa saja Grandpa di New York mempengaruhiku selama aku di sana.”

Kedua orang itu meletakkan sendok bersamaan. Perkataan bocah ini ada benarnya juga. Akan ada perebutan penerus, dan tidak mungkin bayi perempuan yang masih di kandungan Sun itu penerus Goo, karena pasti akan menjadi hak suaminya jika ia menikah kelak.

“Ini kesalahan. Benar-benar kesalahan, Min Ho-a,” Je Ha mulai gusar. Min Ho menepuk-nepuk punggungnya. Je Ha masih saja mendumel,”Oh, kenapa kalian sama-sama anak tunggal, dan kenapa kalian musti terpisah bertahun-tahun. Jika saja kau tidak bodoh, jika saja Bo Young tidak muncul…

“Oemma… ,” Min Ho memanggil datar agar Je Ha tidak meneruskan perkataannya tentang Bo Young,”Untung saja Sun tidak di sini, Oemma. Karena jika dia mendengar nama itu lagi, dia akan sangat sedih.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan?” Je Ha bertanya, hatinya benar-benar putus asa. Min Ho memandangi putranya,”Kau yang harus memilih,”katanya kemudian. Min Jae menampakkan tampang berpikir,”Ehm…. Kita lihat saja nanti, jika tidak ada titik temu, bukankah lebih baik GMJ dan Lee Corporation bersatu?”

“Kau membuat kami jantungan saja,” Min Ho terlihat kesal. Min Jae tersenyum penuh kemenangan. “Tapi itu pilihan terakhir, Dad. Kita tidak akan melebur jika ada putra Lee yang lain.”

Min Ho mengibaskan tangannya, tidak mungkin ada anak lagi mengingat usia Sun,”Kau sudah bicarakan rencana kuliah dengan Ommamu?’

Min Jae menggeleng,”Mom pasti tidak setuju.”

“Bisa kupastikan itu,” Je Ha mengamini perkataan Bocah cerdas itu.

“Ini tugasmu untuk meyakinkannya, Dad.”

Min Ho menghela nafas,”Baiklah, akan kubuat Omamu mengerti.”

Usaha Min Ho berhasil karena istrinya akhirnya bisa menerima keputusan Min Jae. Dengan berat hati, Sun melepas keberangkatan Min Jae di bandara Incheon, bahkan dia menangis.

“Come on, Mom. I’ll be there just for two years,” Min Jae jadi tak enak hati meninggalkan Ibunya yang sesenggukan itu. Sun masih saja menangis di pelukannya. Maklum, baru kali ini dia akan berpisah lama dengan Min Jae, dia sebenarnya ingin ikut, jika saja Kim Hyun Joong, dokter kandungannya tidak mewanti-wanti agar tidak melakukan perjalanan jauh.

“Cepat pulang, ya?” Sun masih saja meminta kepastian di dada bidang itu. Min Ho meraihnya, lalu akhirnya pelukan ibu dan anak itu terlepas, kini Sun beralih ke pelukan suaminya, masih saja terisak.

“Mom, kau tidak akan sendirian nanti. Dongsaeng akan segera lahir, kan?” Min Jae masih berusaha menghibur Sun. Ibunya itu mengangguk. Lalu Min Jae memandang ayahnya,”Jaga Mom selama aku pergi, Dad.”

Min Ho mengangguk. Min Jae memeluk neneknya sebelum menuju pesawat. Dia melambaikan tangan dengan senyuman yang tersungging di wajahnya.

“Don’t worry, Mom. I’ll be back in two years,” serunya lantang. Hingga akhirnya tubuhnya terbang, bersama pesawat yang ditumpanginya.

Musim panas di Korea Selatan, dua setengah tahun kemudian.

Min Ho dan Je Ha tampak berdiri di Toproof Lee Mansion, di tengah-tengah mereka, berdiri gadis kecil yang sangat cantik dengan kulitnya yang putih bagai satin dan rambutnya yang hitam legam itu, sesekali mata lebarnya mengerjap, sementara bibir mungilnya masih saja mengulang pertanyaan yang sama sejak tiga puluh menit yang lalu,”Kapan Oppa datang?”

“Sebentar lagi, Hye Na,” Jawab Je Ha dengan lembutnya. Min Ho hanya memandang saja. Dalam hati mulai capek menjawab pertanyaan yang sama terus. Gadis cilik itu malah meruncingkan bibir,”Uh…, Oppa lama sekali.” Seiring gerutuan itu, halikopter datang mendarat di depan mereka. Dan Min Jae turun dari halikopter itu dengan lengan terlentang.

“Oppa!” gadis cilik itu berteriak dan menghambur ke pelukan Min Jae. Tawa bahagia terdengar dari mulut keduanya, saat Min Jae memutar-mutar tubuhnya sementara gadis cilik itu berada di pelukannya. Setelah puas membuat adiknya takut sekaligus senang, Min Jae mulai menurunkan Hye Na dan berjalan menuju Je Ha dan Min ho.

“Harmoni…” Min Jae memeluk  Je Ha. Neneknya itu tampak sehat walau kerentaan menerpa, sepertinya Sun merawat neneknya dengan sangat baik. Saat sudah puas melepas kangen dengan Je ha, Min Jae memeluk Min Ho. Dan kekaguman terpancar untuk ayahnya itu, wajah ayahnya semakin bersinar saja, dan makin tampak kewibawaan di rona wajah itu. Kini dia yakin, bahwa seorang pria terhebat di dunia pun, tidak bisa hidup tanpa wanita yang dicintainya. Inilah yang tampak dari Min Ho sekarang, kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga yang membuat Min Ho awet muda.

“Oppa… , oleh-olehku mana?” protes adik ciliknya. Min Jae tertawa. Dia jadi gemas dan mencubit pipi Hye Na. Lima bulan yang lalu, saat orang tuanya dan adik ciliknya ini menghadiri penobatannya sebagai Doktor, dia memamerkan Hye Na pada teman-temannya. Dan mereka terkagum-kagun melihat Hye Na. “Just like Japanesse Doll,”seru Beth, temannya dari Kanada waktu itu. Dan James, temannya yang terkenal playboy juga menggoda,”I won’t marry until you grow up, beautifull girl.” Dan Min Jae jadi marah setengah mati mendengar ucapan itu, dia tidak rela jika saja Hye Na sampai mendapatkan suami seperti James yang suka gonta-ganti perempuan.  Tiba-tiba Min Jae menyadari ketidakhadiran Sun di toproof.”Where is Mom?” Min Ho tersenyum padanya,”Dia menunggumu di taman, kita akan piknik di taman Lee Manshion menyambut kedatanganmu.”

“Sebenarnya dia ingin ikut menyambutmu, Min Jae. Tapi Harmoni melarangnya. Tak baik buat kesehatannya,” terang Jeha.

“Apa mom sakit?” Min Jae jadi kawatir.

“Kau lihat saja nanti,” Min Ho malah membuatnya penasaran,”Oke, ayo kita temui Mom!” Min Jae berteriak girang, dia bahkan menggendong Je ha agar lebih cepat sampai taman mengingat jalan Je Ha dengan tongkat yang lambat seperti siput itu. Hye Na melihat semua itu dan cemburu,”Uh… kenapa Harmoni yang malah digendong?”

Min ho terbahak mendengar ocehan Hye Na, “Kau juga mau digendong? Sini Appa gendong!” Min Ho meraup gadis cilik yang cerewet itu, lalu menciumi perut Hye Na hingga putrinya cekikikan karena geli.”Oppa pasti bawa oleh-oleh banyak buat Hye Na,” anak itu masih saja mengoceh tentang oleh-oleh. Mereka mulai turun dari toproof dengan menggunakan lift,”Kenapa hanya oleh-oleh yang kau pikir, mungil… masih untung Oppamu mau kembali ke Korea.”

“Mwo?” Hyena tidak mengerti maksud ucapan Min Ho. Sebenarnya Min Ho mengkawatirkan sesuatu, yaitu keadaan negeri itu yang semakin kacau. Beberapa rekan bisnisnya bahkan sudah emigrasi ke luar negeri, hanya sedikit keluarga tua di Korea saja yang masih bertahan. Apa yang akan terjadi pada keluarganya nanti, semuanya terserah pada Min Jae. Apa pun keputusan putranya mengenai Lee Corporation, dia ikut saja.

“I miss you, Mom,” Min Jae memeluk Sun saat mereka bertemu di taman Lee Mansion yang luas.”Really really miss you!” Sun tertawa bahagia, dia membelai kepala anaknya itu lembut. Min Jae merasa ada sesuatu yang mengganjal di perutnya saat dia memeluk Sun, lalu dilepasnya pelukan itu dan mulai melihat perut Sun yang membuncit,”Mom, are you pregnant?”

Sun mengangguk senang,”Ne, Min Jae. Oemma hamil.”

“Wow, sudah berapa bulan, Mom?”

“Enam bulan.”

“Enam bulan? Kenapa tidak mengatakan apa-apa padaku saat wisuda lima bulan yang lalu?”

Sun tersenyum,” Seperti biasa, Oemma terlambat mengetahui kehamilan. Tahu-tahu Oemma pingsan setelah tiba di Incheon.”

Je Ha mengangguk. Sesaat dia teringat kejadian lima bulan yang lalu. Dia yang menunggu kedatangan mereka di toproof tiba-tiba dikejutkan oleh telepon dari Min Ho yang mengabarkan bahwa Sun pingsan di bandara dan dibawa ke rumah sakit, semakin terkejut lagi, saat mendengar penyebab pingsannya Sun waktu itu. Dia yang mengkawatirkan keadaan Sun, marah sekali pada Min Ho. “Hm… saat harmoni tahu Ommamu hamil lagi, halmoni memarahi Appamu habis-habisan. Bagaimana bisa dia membuat Oemmamu hamil lagi di usia sekarang. Tentu sangat membahayakan hidupnya.”

“Sudahlah, Oemma. Semua ini sudah kami bicarakan berdua. Aku bahagia di kehamilan ini.”

Min Ho yang baru tiba ikut nimbrung juga dalam obrolan itu, dia menurunkan Hye Na dan anak itu sudah mulai membuka keranjang bekal.

“Its great, Mom. Kali ini laki-laki atau perempuan?” tanya Min Jae.

“Dua-duanya, Min Jae,” jawab Min Ho

“What a surprise! Twin!”  seru Min Jae tak percaya.

Min Ho mengangguk-angguk, “Kau boleh ribut dengan namdoangsaengmu nanti, hahaha.”

 Min Jae jadi meruncingkan bibirnya. Sun mengibaskan tangan,”Sudahlah, Ayo kita makan, Aku sudah sangat lapar.”

Mereka duduk di tikar yang tergelar di atas rumput, di bawah pohon besar yang rindang dan mulai membuka bekal yang sudah disiapkan. Sun segera sibuk menyuapi Hye Na. Anak itu menggeleng,”Hye Na makan sendiri, Oemma.”

“Hahaha, anak pintar,” Min Jae mengucek rambut adik kecilnya, lalu menerima sepiring makanan yang disodorkan oleh Je Ha. Sun tiba-tiba merasa mual melihat daging di piring itu yang terlihat sangat berlemak, tapi berusaha menahannya, hingga matanya berair. Min Jae yang mengetahui hal itu menepuk-nepuk punggungnya, lalu menjauhkan makanan itu dari penglihatan Sun.

“Gumawo, Sayang,” Sun tersenyum dengan mata berbinar ke arahnya. Min jae mengangguk, lalu berbalik membelakangi Sun agar Mom-nya itu tidak melihatnya memakan daging sehingga merasa mual kembali. Sementara Hye Na dan Min Ho makan sambil sesekali berkelakar. Min Jae merasa menjadi anak yang paling beruntung sedunia. Dia tidak rela jika kebahagiaan itu lenyap begitu saja hanya karena orang-orang politik bodoh yang membuat suasana kacau di korea. Dia akan membuat keluarga ini pergi sejauh mungkin menghindari hal itu. New York dengan senang hati menerima mereka. Itu sudah Min Jae pikirkan jauh-jauh hari, dia akan memindahkan pusat Lee Corporation ke New York, berdampingan dengan GMJ’s corp lalu mereka sekeluarga pindah ke sana. Tentu yang ada hanyalah kebahagiaan. Dia, orang tuanya, harmoni, Hye Na serta adik-adik yang akan lahir nanti.

Namun Min Jae ingin melupakan semua itu sekarang. Dia ingin menikmati kebersamaan keluarganya di taman berumput itu, hingga dengan riang dia kini bermain kejar-kejaran dengan adik ciliknya, tak perduli posisinya sebagai remaja sekarang. Dan Je Ha sudah mulai mendekati tanaman-tanaman mawarnya untuk diurus.

Sementara Sun masih duduk di atas tikar dan Min Ho merebahkan diri dengan posisi kepala di pangkuannya. Sesekali tampak Min Ho mengelus dan menciumi perutnya. Sun tertawa-tawa saat tingkah kedua anaknya yang berkejaran itu serasa lucu, lalu teringat akan impiannya selama ini.”Apakah kita berada di surga, Min Ho-ssi?”

“Mwo?” Min Ho tidak mengerti maksud ucapannya. Sun masih saja membelai rambut Min Ho lembut dan memandang anak-anak yang kini bermain petak umpet itu,”Lagu itu, Green grass of home menjadi kenyataan sekarang.”

“Kenyataan untukku, Baby,” Min Ho mencium perutnya lagi,”kira-kira akan mirip siapa bayi laki-laki dalam perut ini? Jika sifatnya mirip denganku, kau pasti repot sekali nantinya.”

Sun tertawa lagi mendengar ocehan Min Ho, “Aku senang jika sifatnya mirip denganmu. Karena aku mencintaimu. Terima kasih telah mempercayai rahim ini untuk melahirkan anak-anakmu, Min Ho-ssi.”

Min Ho bangkit, lalu duduk merangkul Sun,”Kadang ku berpikir kebaikan apa yang kulakukan di masa lalu hingga ku begitu beruntung mendapatkan istri sebaik dirimu.”

“Jangan berlebihan, Min ho-ssi.”

Min Ho menatap Sun begitu dalam,”Tidak,Baby. Kau terlalu baik untukku.”

Tangan Sun mulai terangkat, dan mengelus pipi suaminya,” Bukankah itu yang semestinya wanita lakukan, Min Ho-ssi? Menghormati suaminya, mendidik dan menyayangi anak-anaknya. Tentu hal itu merupakan ibadah terindah bagiku.”

“Demi Tuhan, Baby. Untung saja ku menikahimu sebelum kau memutuskan jadi biarawati.” Mereka berdua tertawa bersama mendengar kekonyolan ucapan Min Ho.

“Kira-kira apa langkah Min Jae untuk Lee Corporation?” tiba-tiba Min Ho mengkawatirkan keadaan keluarganya nantinya. Sun menggeleng,”Entahlah, menurutmu?”

Min Ho memandang Min Jae yang masih bermain petak umpet dengan Hye Na,”Apa pun keputusannya nanti. Aku mendukung saja. Semua orang koar-koar tentang nasionalisme. Sangat munafik, padahal dibalik semua itu, mereka juga siap melarikan diri, bahkan mereka menyimpan rekening di negeri yang aman seperti Swiss, misalnya. Kenapa kita tidak?”

Sun mengunci wajah tampan Min Ho hingga menoleh ke arahnya,” Aku serahkan saja semua pada kalian. Di mana pun kita nantinya, asalkan bersamamu dan anak-anak. Ku pasti bahagia.”

Min Ho tersenyum,”Gomawo, Baby. Semua pasti baik-baik saja percayalah padaku… percayalah… ” Dan Min Ho mengecup bibir merah itu, sebuah ciuman kecil yang seperti membujuk, lalu menuju ciuman yang dalam dan lebih menuntut, disertai getaran cinta dan kebahagian dari hatinya. Sun membalas semua itu, di sinilah rumahnya sekarang, di hati Min Ho, suaminya. Lengan itu akan melindunginya selamanya. Senyuman itu akan selalu menenangkannya, lalu rumput hijau yang terhampar luas, tempat anak-anaknya, penerus generasi Lee bermain dengan riangnya menyambut kebahagiaan yang membentang di masa depan.

THE END

THANK YOU FOR THE ATTENTION FROM START TO THE END

WISH YOU ALL THE BEST

Sisicia

Iklan

DINASTI LEE II (Part 11)

DINASTI LEE

(The Thin Limit)

Part 11

Song of the part :

WHEN YOU TELL ME THAT YOU LOVE ME

By. Diana Rose

I wanna call the stars
Down from the sky
I wanna live a day
That never dies
I wanna change the world
Only for you
All the impossible
I wanna do

I wanna hold you close
Under the rain
I wanna kiss your smile
And feel the pain
I know what’s beautiful
Looking at you
In a world of lies
You are the truth

And baby
Everytime you touch me
I become a hero
I’ll make you safe
No matter where you are
And bring you
Everything you ask for
Nothing is above me
I’m shining like a candle in the dark
When you tell me that you love me

I wanna make you see
Just what I was
Show you the loneliness
And what it does
You walked into my life
To stop my tears
Everything’s easy now
I have you here

And baby
Everytime you touch me
I become a hero
I’ll make you safe
No matter where you are
And bring you
Everything you ask for
Nothing is above me
I’m shining like a candle in the dark
When you tell me that you love me

In a world without you
I would always hunger
All I need is your love to make me stronger

And baby
Everytime you touch me
I become a hero
I’ll make you safe
No matter where you are
And bring you
Everything you ask for
Nothing is above me
I’m shining like a candle in the dark
When you tell me that you love me

You love me
When you tell me that you love me

 

Gereja katedral tampak lenggang pagi ini, namun sayup-sayup terdengar kedua insan yang sama-sama berucap ikrar, sebuah jaminan, tak akan terpisah lagi kemudian. Tak banyak yang hadir di situ, hanya sang putra, Omma, Donghae dan Hongki. Keempat orang yang sangat berjasa menyatukan kembali mereka. Sun tampak berseri hari ini. Tubuh mungil itu berbalut blaser putih yang anggun, dan Min Ho dengan setelan berwarna senada. Dan kini cincin itu tersemat lagi di jari masing-masing.

Je Ha menyaksikan semua itu dengan penuh haru.  Dia menghela nafas lega, sementara Min Jae yang berdiri di sampingnya juga mengikuti secara khusuk. “Dan kini anda bisa mencium pengantin anda, Tuan Lee,” tibalah saat itu, sesuai aba-aba sang pendeta.

Wajah keduanya berpaling, saling menghadap. Dan entah kenapa Sun jadi merasa malu kembali, suaminya itu menatap dengan kerlingan menggoda, hingga wajah ayu itu menunduk. Di saat itulah Sun mengingat ciuman pertamanya dengan Min Ho. Di sini, tempat yang sama, posisi berdiri yang sama. Dan Min Ho yang berdiri di depannya, seakan tahu kegugupannya hingga berbisik lembut,”Jangan gugup, Ratuku.”

Sun mengerjap waktu itu, lalu seakan meyakinkan diri sendiri, dia berbisik,”Saranghae…” Dan demi Tuhan, Sun juga masih ingat jawaban Min Ho,”Saranghaeyo.”

Memori itu terekam kembali di otaknya. Bagai VCD yang sedang direply. Kini semuanya akan terjadi lagi. Min Ho menyentuh dagunya, lalu mendongakkan wajah ayu itu ke atas, hingga matanya yang lebar berbinar di pandangan suaminya. Min Ho merasa mata itu sangat cantik, hingga dia mengamini perkataan Min Jae kemarin, dan akhirnya bukan bibir yang dia cium, tetapi kening, lalu saat kedua mata itu terpejan, dikecupnya kedua pelupuk mata itu, baru kemudian menuju bibir mungil yang tengah tersenyum itu. Sebuah kecupan lembut, seakan membujuk yang akhirnya menuju ciuman penuh tuntutan. Sunguh Min Ho tak kuasa menahan diri jika menyentuh bibir mungil ini, hingga Pendeta berdehem, dan dengan wajah memerah, dipatahkannya ciuman itu.

Donghae dan Hongki pun mengulum senyum. Je Ha dengan perasaan meluap, memeluk Sun, sedangkan Min Jae terpaku di tempat, syok melihat perbuatan orang tuanya barusan. “Apa…. Apa itu tadi?”

Hongki yang samar-samar mendengar Min Jae bergumam, menyentuh pundaknya,”What do you think, kid?”

“Uncle, bukankah sangat menjijikkan menyatukan mulut seperti tadi?” tanya Min Jae polos. Dan sontak Hongki tertawa ngakak dibuatnya. Di depannya, Min Ho mulai merangkul Sun, dan Donghae memberi selamat pada mereka. Hongki semakin ngakak saja, ketika Min Jae mulai jengkel dengan ulahnya, lalu dengan susah payah menghentikan tawa, untuk berkata,”Ha ha ha ha……Kau masih terlalu kecil untuk mengerti. Ya…., mungkin empat tahun lagi kau akan tahu masalah itu. Ha ha ha ha.”

Bibir Min Jae meruncing. Hongki meninggalkannya begitu saja untuk menyalami orang tuanya. Mendapati hal itu, Je ha mendekatinya lalu menepuk pundaknya lembut,”Nak, kau lihat mereka?” Pandangan Je Ha mengarah pada pasangan itu yang berbincang hangat dengan Hongki dan Donghae. Min Jae juga mengamati kebahagiaan itu,”Yes, Halmoni.”

Je Ha tiba-tiba teringat sesuatu lalu berteriak pada putranya,”Min Ho-a, jangan lupa liontinnya!” Min Ho mengangguk, lalu mengeluarkan kotak perhiasan berbalut beludru dari balik jasnya. Dia tersenyum saat Sun di depannya memandang dengan penuh tanda tanya. Dibukanya kotak itu, dan akhirnya kalung berhias liontin lambing dinasti Lee terayun-ayun di tangannya.

“Liontin itu…. ,”bisik Dong Hae. Sun terkejut, pada malam naas itu, liontin berlambang dinasti Lee dia tinggalkan di atap mobil. Seakan tahu hal yang dipikirkan istrinya, Min Ho berujar,”Kau meninggalkannya saat itu.”

Hongki dan Donghae terdiam. Mereka berpendapat tidak bijak sebenarnya, jika Min Ho masih mengungkit masalah itu, mereka mulai mengkawatirkan perasaan Sun. tapi sepertinya pikiran mereka salah, karena Sun dengan mata berbinar mulai menyentuh liontin yang digantung-gantungkan Min Ho. “Miane, Min Ho-ssi. Aku tidak bermaksud….”

“Ssst,” Min Ho menempelkan telunjuknya di bibir Sun,”Hanya kau yang berhak memakainya karena kau istriku.” Dilingkarkannya kalung itu di leher Sun, dan sekali lagi mereka berpelukan hangat, disertai tatapan haru orang-orang yang ada di situ.

Je Ha tersenyum,”Sungguh keajaiban ini terjadi. Ini adalah hal membahagiakan yang terjadi di hidup Halmoni yang tua ini.”

Min Jae mengangguk, masih tetap memandang orang tuanya. Dia juga tak menyangka jika akhirnya  mendapatkan keluarga yang utuh. Dia, Aboji, Omoni dan dongsaengnya nanti. Sungguh hal itu adalah kisah yang indah, yang terjadi di akhir musim panas tahun ini.

Dan awal yang bagus untuk memulai musim gugur. Walau musim ini begitu menyusahkan bagi Sun karena kembali mengalami masa kehamilan yang menyulitkan. Namun semua itu dia jalani dengan kebahagiaan yang teramat penuh, bersama orang-orang yang disayanginya.

Lee Mansion berbenah. Tak henti-hentinya Min Ho mempersiapkan semuanya untuk bayi yang akan hadir. Hingga dia mempercayakan Lee Corporation begitu saja pada Min Jae dan Hongki, karena dia lebih banyak bekerja di rumah. Semua hal tentang perusahaan itu, diputuskannya di rumah, lalu Min Jae dan Hongki sebagai pelaksananya. Sungguh tak adil bagi Min Jae yang harus berpikir lagi tentang GMJ’s Corp tapi mengingat GMJ semakin mempunyai landasan yang kuat, dia mulai mempercayakannya pada professional. Dan anehnya Hongki jadi lebih berinisiatif jika bekerja dengan Min Jae, entah sihir apa yang dipakai anak itu, hingga mampu mengeluarkan raksasa yang tengah tidur dalam diri Hongki.

Semuanya Min Ho atur, tak boleh ada yang terlewat. Kamar Bayi, perlengkapan, pernak-pernik, hingga jadwal control Sun ke dokter kandungan tak pernah luput dari agendanya. Dia juga kadang melarang Min Jae terlalu manja pada Sun. Jika sudah begitu, biasanya Min Jae protes, dan timbullah pertengkaran-pertengkaran kecil di antara mereka, tapi selalu akur lagi karena keberadaan Sun. Pertengkaran itu memang bukan permusuhan, hanya berbagai variasi dari sebuah hubungan ayah dan anak. Kemudian Sun mulai tersenyum kembali jika mereka mulai semalam suntuk bermain catur tanpa ada yang menang atau pun kalah karena kedudukan selalu seri, atau meninggalkannya begitu saja untuk berkuda bersama dengan alasan acara khusus para namja.

Saat bulan November tiba, angin musim dingin mulai bertiup, kandungan Sun sudah akan menginjak bulan kelima sekarang, dan bulan ini adalah ulang tahun Min Jae yang keempat belas. Min Ho menyambut hari itu dengan penuh  antusias. Digelarnya pesta ulang tahun Min Jae secara besar-besaran di Lee Mansion. Donghae-lah yang ditunjuk sebagai EO. Dia ingin memamerkan semuanya. Kesombongannya sebagai seorang Lee telah kembali, istri cantik yang sangat dia puja, serta anak tampan yang cemerlang.

Para undangan memandang takjub pada acara itu. Dong hae mengaturnya dengan sempurna, tanpa celah sedikit pun. Suasana yang meriah khas anak muda, makanan-makanan yang berjibun, music yang menghentak, serta warna-warni yang ceria. Sungguh tak dapat dipercaya bahwa yang berulang tahun adalah salah seorang master termuda lulusan Universitas Beijing, yang selalu berseru dalam otaknya,”What next?”

Rupanya sang master muda tengah dikelilingi teman-temannya, dua orang diantaranya adalah bocah yang mengejeknya di malam sebelum pacuan kuda. Mereka adalah putra Bumie dan Il Woo. Kedua bocah ini tampak berbincang hangat pada Min Jae.

“Tak kusangka kau putra Lee Min Ho, pantas saja kau mengalahkannya di kompetisi kuda,” puji Bumie yunior, tangannya menepuk-nepuk pundak Min Jae. Lalu Il Woo yunior yang berkacak pinggang mulai memprotes,”Kau curang waktu itu, kau membuat abojimu celaka dengan menendang kudanya keras-keras.”

Min Jee menggerak-gerakkan telunjuk di depan mereka sambil berdecak,”Itu bukan curang, tapi strategi. Cari tahu kelemahan lawanmu, dan jadikan itu sebagai kekuatanmu.” Ketiganya lalu tertawa bersama. Hal terkonyol yang pernah Min Jae katakan pada teman sebayanya, dia lupa kalau mereka masih di sekolah menengah pertama, dan menganggap berdaya nalar setara dengannya.

Orang tua mereka menyaksikan itu sambil tersenyum. Music semakin keras, dan Donghae sebagai pembawa acara mulai memandu berdansa. Tapi Min Ho, Sun, Bumie dan Il Woo masih asyik berbincang bersama Kim Joon dan Dara. Min Ho masih saja merangkul mesra Sun, tak risih sedikit pun pada pandangan teman-temannya. Sun tampak cantik malam itu, gaun terusannya yang berwarna merah marun, membuat aura keanggunan semakin terpancar. Matanya berbinar indah, lesung pipit selalu tampak menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari kawan-kawan lamanya.

Il Woo jadi geleng-geleng kepala mendapati semua itu,”Sungguh tak bisa dipercaya, kalian bersama lagi setelah tiga belas tahun.” Keenamnya tertawa bersama, lalu Bumie mulai menggoda pasangan itu,”Hm, dan sepertinya kalian tidak buang-buang waktu,” Dia berkata demikian sambil memandang perut Sun. Min Ho jadi semakin membanggakan diri,”Entah kenapa kami jadi menginginkan seorang putri.”

“Hmm…. Benar hanya seorang, Min Ho-a?” Joon menggerak-gerakkan telunjuk di depan Min Ho. Wajah Min Ho jadi memerah, “Apa maksudmu bicara begitu?”

Ketiga namja di depannya hanya ngakak menjawab pertanyaan itu. Dara tampak cemberut di situ, lalu dengan menggerak-gerakkan lengan Sun, dia mulai merengek,”Uni… sebenarnya banyak yang ingin Dara bicarakan, tapi sepertinya suami Uni ini sudah memonopoli Uni.” Dara melirik Min Ho yang bergelayut mesra pada Sun.

“Apa maksudmu memonopoli? Kalian bisa bicara di sini. Apa yang mau kalian bicarakan? Jangan pengaruhi istriku macam-macam,” Min Ho mengomel habis-habisan. Bibir Dara semakin mengkerucut. Ketiga namja itu semakin keras tertawa, dan Sun yang mulai tak enak hati melepaskan diri dari rangkulan Min Ho,”Ayo, Dara dongsaeng, kita berbincang di ruang sebelah saja, ya?”

Dara mengangguk mantap, wajahnya serta merta sumringah. Lalu menarik tangan Sun untuk menuju ruang yang dimaksud dan Min Ho jadi kelabakan,”Hai, jangan lama-lama bawa istriku, dan jangan pengaruhi dia macam-macam.”

Min Ho masih saja mengancam, walau keduanya sudah manjauh, tawa ketiga temannya yang sudah reda akhirnya meledak lagi. Min Ho pun jadi jengkel,”Kalian pikir aku melawak?”

“Aigo, sifat posesifmu itu semakin parah saja,” Bumie hanya geleng-geleng kepala. Joon setuju dengan pendapat Bumie, dia mengangguk pelan lalu menepuk bahu Min Ho,”Hati-hati, Bro. jangan sampai kejadian empat belas tahun yang lalu terjadi lagi. Ingat, kau logam dan dia porselen, sebenarnya dua hal yang bisa saling melengkapi satu sama lain, tapi juga bisa menghancurkan masing-masing.”

Mereka bertiga manggut-manggut mendengar nasihat bijak dari Joon. Terutama Min Ho yang mulai bisa mencerna maksud Joon memberikan hadiah pernikahan berupa sepasang boneka aneh empat belas tahun yang lalu.

“Aku bukanlah keledai bodoh yang masuk ke lubang yang sama untuk kedua kali,” kalimat Min Ho kemudian yang lebih ditujukan untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Donghae yang didapuk sebagai MC acara itu, mulai menaiki panggung. Dengan isyarat tangan, dia memerintah DJ untuk melirihkan suara music, hingga akhirnya suaranya mulai menggema di ruang itu,”Ladys and gentlemen, pertama-tama saya ucapkan terima kasih atas kehadirannya di acara ini. Sepertinya malam ini, aboji dari bocah yang sedang berulang tahun, akan mengucapkan sesuatu pada putranya. Jadi, harap kepada dua orang yang berkepentingan tersebut segera menaiki panggung.”

Hadirin bertepuk tangan saat ayah dan anak itu mulai berjalan mendekati panggung. Sun yang baru saja memasuki ruang itu kembali bersama Dara mulai melihat dari kejauhan.  Kini Min Ho tampak gugup di atas panggung, semantara Min Jae di depannya memandang penuh tanya. Dia meraih mic yang disodorkan Donghae, sedikit berdehem untuk melancarkan pita suaranya yang tiba-tiba tercekat lalu mulai bersuara,“Pertama-tama saya ingin menyampaikan bahwa malam ini adalah malam yang penuh kebahagiaan bagi keluarga Lee, setelah terpisah selama bertahun-tahun, akhirnya kami bisa berkumpul kembali, dan saya merasa bahwa hari ini saat yang tepat untuk melakukan hal ini.”

Min Ho mengalihkan pandangannya pada putranya lalu memberikan mic yang dipegangnya pada Donghae. Donghae yang tanggap memegang mic itu dan mengarahkannya pada Min Ho. Semua hadirin tertawa melihat hal itu, namun tidak lama karena pada akhirnya mereka melihat Min Ho melepaskan kalung yang selama ini melingkar di lehernya, lalu menggantung-gantungkannya tepat di depan wajah Min Jae. “Ini adalah kalung regenerasi keluarga Lee. Kalung ini sebenarnya akan diberikan padamu nanti pada umur tujuh belas, tapi mengingat kedewasaanmu yang tidak biasa untuk seorang anak yang berumur empat belas tahun, Appa memutuskan memberikannya padamu sekarang.”

Mata Min Jae membulat seketika. Min Ho melingkarkan kalung berbandul lambang keluarga Lee itu di lehernya. Je Ha dan Sun sungguh terharu melihat semua itu.

“Kau adalah putraku. Suatu saat nanti, aku akan menyerahkan semuanya dan bergantung hidup padamu.” Hati Min Jae begitu membumbung mendengar pernyataan Min Ho, dengan kegembiraan yang meluap memeluk abojinya. Min Ho pada mulanya kaget, namun akhirnya dia menepuk-nepuk punggung Min Jae. Tubuh mereka begitu dekat, hingga Min Ho mampu menghitung tiap detak jantung Min Jae. Tiba-tiba Min Ho teringat kenangannya empat belas tahun yang lalu, pada malam setelah Min Jae dilahirkan. Sosok bayi mungil Min Jae berkelebat kembali di matanya, dan hal itu membuat wajah Min Ho berubah pucat dan entah kenapa kakinya terasa lunglai. Min Jae yang sudah melepaskan pelukan mendadak kawatir,”Dad, Are you oke?”

Sun yang melihat hal itu segera menghampiri putra dan suaminya. Min Jae memapah Min Ho menuruni panggung. Para hadirin merasa kawatir, namun Je Ha berusaha menenangkan mereka dan Min Jae memberi kode pada Donghae agar acara tetap dilanjutkan atas saran Min Ho. Sebagai MC yang professional sepertinya Donghae cukup mampu membalikkan situasi menjadi meriah kembali.

Min Jae dan Sun memapah Min Ho memasuki kamarnya. Lalu bersama mereka mendudukkan Min Ho ke sofa. Dengan cekatan, Sun melonggarkan dasi Min Ho yang mencekik dan melepaskan jasnya, Min Jae mengulurkan segelas air putih pada Min Ho. Sayup-sayup suara music mulai terdengar lagi di ruang tengah.

“Gomawo, Min Jae,” ucap Min Ho pada anaknya. Sun menatap penuh kecemasan dan hal itu malah membuat Min Ho semakin serba salah, karena dia teringat wajah Sun yang tertidur dengan beberapa selang meliputi tubuhnya, dan lagi-lagi pada malam empat belas tahun yang lalu.

“Min Ho-ssi, gwencana?” tanya Sun kawatir. Min Ho meneguk lagi air putih yang ada di tangannya.

“What happen, Dad?”

“Gwencana, Baby,” Min Ho menjawab dengan susah payah, lalu mengalihkan pandangan pada Min Jae,”Kembalilah ke pestamu, Min Jae.”

“But….”

“Itu adalah pestamu, dan sebagai tuan rumah yang baik kau harus bersama mereka.”

Min Jae menghela nafas lalu ngeloyor pergi dari kamar orang tuanya untuk kembali ke pesta. Sementara Sun masih duduk di samping suaminya meminta penjelasan,”Perlu kupanggil dokter?”

Min Ho menggeleng. Sun semakin bingung,”Ada apa sebenarnya?”

“Gwencana, Baby.”

Sun menghampiri almari lalu mengeluarkan piyama Min Ho dari sana. Dia berjalan ke arah suaminya, lalu mulai melepas sepatu suaminya,”Kau harus istirahat sekarang.”

“Kau akan menemaniku, kan?”

Sun tersenyum, kini dia mulai melepas kancing kemeja Min Ho satu persatu. Min Ho  tiba-tiba menghentikan gerakan tangan mungil itu,”Temani aku, Baby. Ku mohon.”

Suara Min Ho begitu dalam. Sun jadi tambah kawatir, dengan penuh kebingungan, dia mengangguk lalu dia menarik tangan Min Ho agar berbaring di tempat tidur. Dia tahu maksud di balik perkataan suaminya. Kini dialah yang membuka satu persatu pakaian suaminya, lalu melepaskan gaunnya sendiri, dan mulai memeluk Min Ho,”Lakukanlah dengan lembut,Sayang. Agar tidak menyakiti anak kita.”

Min Ho mengangguk. Pada akhirnya dia mulai mencumbu, sementara pikirannya masih terbayang peristiwa empat belas tahun yang lalu, tapi entah kenapa malam ini Min Ho lebih menginginkannya, melebihi dari yang selama ini selalu dirasakannya. Ia seperti tak kunjung puas, tak cukup menghirup aroma rambut Sun yang lembut, kulitnya dan parfumnya. Min Ho ingin menyingkirkan kenangan pada malam penuh kesedihan itu, dan dia memerlukan Sun untuk membantu mengenyahkan semua itu, untuk meyakinkan bahwa ratu Danahannya baik-baik saja sekarang dan putranya telah tumbuh menjadi remaja cemerlang. Sun mengerti suaminya memikirkan hal yang membuatnya kawatir, meskipun dia tak begitu tahu apakah itu, ia berusaha memberikan segenap dirinya untuk meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Sun sudah memiliki pengertian yang mendalam tentang Min Ho.

Sun terbaring lemas dan puas dalam pelukan Min Ho, dan menatapnya sambil membelai janggut lelaki itu lembut,”Kau baik-baik saja, Min Ho-ssi?”

Min Ho tersenyum menghadapi kenyataan betapa dalam perempuan ini mengenal dirinya,”Aku baik sekarang ini… berkat dirimu… kau baik sekali padaku, Baby?”

Sun gembira mendengar kalimat itu, seakan Min Ho memahami apa yang ia coba berikan kepadanya,”Ada apa sebenarnya, Min Ho-ssi?”

Min Ho menggeleng, lalu memeluk Sun erat-erat,”Hanya kenangan masa lalu yang buruk.”

“Kenangan buruk?” Sun menatap dengan pandangan mengintrogasi. Min Ho mencium keningnya lembut, lalu memandang dalam kearahnya,”Malam itu, empat belas tahun yang lalu, Min Jae hanyalah bayi dengan berat empat ratus lima puluh gram, dan kau terbaring tak sadarkan diri, dengan beberapa selang melilit tubuhmu.”

Sun menjadi prihatin. Hongki sudah menceritakan padanya apa yang dilakukan Min Ho pada malam setelah Min Jae lahir, dan mendapati hal itulah yang menjadikan Min Ho hampir roboh, dia semakin merasa bersalah. Tangannya mulai mengelus wajah suaminya,”Katakan padaku, Min Ho-ssi, apa yang harus aku lakukan agar kau bisa melupakan kejadian malam itu.”

Min Ho menggelengkan kepalanya,”Kau sudah melakukannya tadi. Gomawo, Baby.” Sekali lagi dia mengecup bibir Sun. Mata Sun berbinar seketika,”Miane, telah membuatmu mengalami semua itu, dan membuatmu terpisah dari bayi mungil itu selama bertahun-tahun. Apa yang harus kulakukan sekarang? Agar aku bisa menebus dosaku?”

“Tidak ada, Baby. Cukup kau di sisiku. Tetaplah di sisiku walau aku sangat menjengkelkan. Tetaplah di sisiku walau kadang pertengkaranku dan Min Jae membuatmu sedih. Mungkin hal ini tak adil bagimu. Aku, pria bebal ini selalu saja menyusahkanmu.”

Sun mempererat pelukan lalu mencium dada bidang Min Ho, “Kau adalah pria bebal yang ku cintai.”  Min Ho tertawa ngakak mendengar ucapannya lalu mencium tengkuknya,”Kau gila, Baby?”

“Menurutmu bagaimana?” Suara Sun teredam oleh hasrat yang muncul kembali.

“Menurutku, nasib yang gila karena pria bebal ini beruntung mendapatkanmu….” Dan Min Ho membuktikan lagi kepadanya sementara Sun terbaring dalam pelukannya, dan jeritan-jeritan yang keluar didirinya pasti akan terdengar semua tetangga jika saja ruang gerak mereka di rumah tidak seluas itu, dan music di lantai dasar masih berdentam. Pada akhirnya, ketika Min Ho tertidur, dengan kepala di sisi Sun, perempuan itu tersenyum halus, dan mencium pipinya seraya mematikan lampu.

TBC PART 12

DINASTI LEE II (Part 10)

KARENA YANG PART 9 GAK LULUS SENSOR… MAKA LANGSUNG CAPCUS KE PART 10

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 10

 

Song of the part:

IF WE HOLD ON TOGETHER

By: Diana Rose

Don’t lose your way
With each passing day
You’ve come so far
Don’t throw it away
Live believing
Dreams are for weaving
Wonders are waiting to start
Live your story
Faith, hope & glory
Hold to the truth in your heart

If we hold on together
I know our dreams will never die
Dreams see us through to forever
Where clouds roll by
For you and I

Souls in the wind
Must learn how to bend
Seek out a star
Hold on to the end
Valley, mountain
There is a fountain
Washes our tears all away
Words are swaying
Someone is praying
Please let us come home to stay

If we hold on together
I know our dreams will never die
Dreams see us through to forever
Where clouds roll by
For you and I

When we are out there in the dark
We’ll dream about the sun
In the dark we’ll feel the light
Warm our hearts, everyone

If we hold on together
I know our dreams will never die
Dreams see us through to forever
As high as souls can fly
The clouds roll by
For you and I

Sebulan berlalu, belum ada itikad baik dari Min Jae untuk berbaikan dengan abojinya. Sun yang tidak tega meninggalkan Min Jae di Goo manshion pun mengurungkan niatnya untuk pindah ke Lee Mansion. Min ho tak bisa berbuat apa-apa, yang dia lakukan hanya berkunjung tiap makan siang, itu pun selalu disuguhi sikap cuek Min Jae.

Min Jae selalu turut serta dalam setiap makan siang, tapi lebih banyak diam. Kalau pun ingin bicara, yang diajak bicara adalah Mom-nya dan bila abojinya menanyakan sesuatu padanya, dia langsung angkat kaki dari ruang makan. Sun yang tidak enak hati, hanya bisa minta maaf pada Minho atas kelakuannya.

Keadaan Lee Corporation semakin stabil. Manajemen hanya mengalami perombakan sedikit. Min Jae rupanya lebih memilih GMJ’s Corp, tapi bukan berarti Lee corporation tidak menarik baginya. Hal ini lagi-lagi lebih disebabkan oleh keberadaan Min Ho di sana. Kalau pun ada info yang ingin diketahuinya, dia lebih memilih berkomunikasi dengan Han atau Hongki.

Je Ha pun pasrah dengan keadaan ini. Berkali-kali wanita bijak itu menasihatinya, tapi dia tetap pada amarahnya. Hingga di suatu hari Sun jatuh sakit dan Min Jae mulai berpikir konfrontasi antara dia dan Abojinya-lah yang membuat Sun sakit. Dalam hati Min Jae merasa bersalah, tapi di sisi lain, dia masih tidak bisa memaafkan. Kenyataan bahwa dirinya pernah diragukan statusnya itulah penyebabnya dan dia tidak habis pikir bagaimana bisa Sun begitu cepat memafkan.

Seminggu kemudian, Sun belum sembuh juga. Setiap pagi Min Jae bisa mendengar suara Sun muntah di kamar mandi, atau tingkah Sun yang menahan mual tiap mencium kopi atau sesuatu yang berlemak. Namun Sun selalu menutupi muka pucatnya di tiap makan siang bersama Min Ho.

Min Jae semakin bingung, dia merasa bersalah. Dia memang marah pada Min Ho, tapi melihat Sun sakit karena memikirkannya membuatnya merasa berdosa. Apalagi itu adalah Mom-nya, orang yang paling menyayangi dan disayanginya.

Seperti biasa, Sun tidak menemani Min Jae sarapan pagi itu dan Min Jae tahu itu karena sakitnya. Pada akhirnya, Min Jae meninggalkan sarapan begitu saja dan beralih ke kamar Sun.

“Mom, are you there?” Sapa Min Jae sambil mengetuk pintu.

“Ne, Sayang. Masuklah !” Suara Sun dari arah kamar. Min Jae membuka pintu yang tidak terkunci itu lalu duduk di tepi ranjang Sun. Ibunya kini tengah duduk bersandar di ranjang itu, diamatinya wajah Sun yang pucat tapi mata lebar itu masih saja berbinar.  Min Jae merebahkan kepalanya ke pangkuan Sun. Sun tersenyum dan membelai sayang rambutnya.

“Mom, I’m sory. I make you sick. I promise to do everything to make you healthy.”

“Jinja!” mata Sun semakin berbinar saja, tangannya masih membelai kepala Min Jae lembut. Sesaat Min Jae mengangguk dalam benaman perut Sun.

“Kalau kau sudah berjanji, tidak boleh kau ingkari, Min Jae.”

Sekali lagi Min Jae mengangguk. Sun menghela nafas, beban itu seakan telah terangkat, dipandanginya putra kebanggaannya itu,”Berbaikanlah dengan Appamu.” Seketika Min Jae menahan nafas, tapi pada akhirnya dia mengangguk karena sudah berjanji dan Sun sangat lega karenanya.

“Minjae, kalau dibilang sakit, sebenarnya juga tidak, karena Omma sedang hamil sekarang.”

Min Jae mengangkat kepalanya, menatap Sun dengan pandangan tak percaya. Sun tertawa bahagia lalu menangkupkan kedua tapak tangannya ke pipi Min Jae, “Kau akan punya dongsaeng, Sayang.”

Mata minjae mengerjap-ngerjap. Dia tidak percaya akan punya adik di usia ini. Selama ini dia pasrah jika akan menjadi anak tunggal. Dia tersenyum. Kebahagiaan aneh menelusupi  hatinya, lalu membayangkan adik kecil perempuan yang cantik, berkulit putih dengan mata lebar dan bibir tipis seperti Mom-nya.

“Kau bahagia, Nak?”

Min Jae mengangguk.

“Ini keajaiban, bukan? Omma juga tidak menyangka akan mengandung lagi di usia ini.”

Min Jae memeluk Sun, dan kini dia bisa merasakan suhu tubuh Sun yang agak demam itu.

“Karena itu Omma ingin kau berbaikan dengan Appamu siang ini juga,” Sun terlihat menggerak-gerakkan telunjuknya di depan Min Jae.

“Secepat itu? I’m not ready now,” tolak Min Jae.

“Omma tidak mau masalah ini berlarut-larut sampai dongsaengmu lahir. Aku tahu sifatmu, Min Jae. Kau selalu lama memaafkan orang. Apa kau ingin dongsaengmu juga mengalami yang kau alami, terpisah dari Appamu?”

Min Jae menggeleng.

“So, Apa yang musti dibicarakan lagi. Siang ini Appamu akan datang untuk mengantar Omma ke dokter kandungan, jadi sebelum kami pergi, kau bicaralah dengan Appamu lalu kita segera pindah ke Lee Mansion.”

“But, mom…

“Waeyo? Jangan bilang kau tidak mau pindah.”

Min Jae mengkerucutkan bibirnya, tapi terpaksa mengangguk juga,”Oke, I will do it and we move to Lee Mansion.”

“Jeongmalyo?” sekali lagi Sun meminta kepastian. Min Jae mengangguk. Sun memeluk putranya itu dengan kebahagiaan yang meluap.

—- > * < —-

Min Ho menuruni mobilnya. Di hadapannya kini Goo Manshion berdiri angkuh. Dan Min Ho mulai mengibaratkan keangkuhan bangunan itu dengan Min Jae, lalu berpikir lagi bahwa sifat itu adalah turunan darinya. Semakin hari, Min Ho semakin berpikir bagaimana bisa orang-orang terdekatnya begitu tahan dengannya, padahal dia sendiri kewalahan menghadapi Min Jae.

Min Ho sudah akan mengetuk pintu Mansion ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Dia langsung mengangkat telepfon,”Yoboseyo,”

“Hyung, yoja itu sudah mengaku, ternyata dia suruhan Young’s Group. Polisi ingin kau datang ke kantor polisi besok,” kata hongki di telephon.

“Aku tidak bisa. Besok aku dan istriku harus ke gereja katedral. Telephon saja Bumie, selaku pengacaraku dia pasti mengurusnya,” perintah Min Ho.

“Oke, Hyung. I will do it.”

Min Ho tertawa mendengar jawaban Hongki. Rupanya Hongki sudah tertular Min Jae yang bicara dengan aksen Korea campur Inggris. Tawanya seketika terhenti saat pintu di depannya terbuka dan lebih terkejut melihat orang yang membuka pintu.

“Good day, Dad,” sapa Min Jae padanya. Min Ho berusaha tersenyum walau keterkejutan masih tampak di wajahnya.

“Can we talk for a minute, please.”

Min Ho mengangguk.

“At library,” lanjut Min Jae, sekali lagi Min Ho mengangguk, lalu mengikuti langkah Min Jae menuju perpustakaan.

Di perpustakaan, Min Jae tiba-tiba memeluk abojinya. Hal itu sukses membuat Min Ho kaget, tapi akhirnya dia menepuk-nepuk punggung putranya itu. Sesaat mereka sudah duduk di sofa dan bicara dari hati ke hati. “Min Jae minta maaf, Dad.”

“Aniyo. Kau memang tidak salah di sini. Semua karna kesalahan Appa. Kau hanya ingin menyadarkan appa, bukan?”

Min Jae tersenyum, tapi tidak mengerti maksud ucapan Min Ho. Dia memang tidak menyadari bahwa perbuatannya itu adalah cerminan dari kesalahan Min ho  tigabelas tahun yang lalu, sombong, tangan yang terangkat dan fitnahan yang pada akhirnya berhembus, sekarang beralih pada Min Ho.

“Dad, setelah dari dokter kandungan, bawa Mom ke Lee Mansion.”

“Mwo? Dokter kandungan?” Min Ho tampak terkejut mendengar ucapan Min Jae.

“Ne, bukankah kalian akan memeriksakan kehamilan Mom?”

“Anhi, Ommamu bilang, siang ini kami harus menyiapkan acara esok di gereja katedral.”

“What? Katedral?”

“ Benarkah Sun hamil?”

“Untuk apa ke gereja katedral?”

Mereka berdua sama-sama bingung. Sun akhirnya memasuki ruangan itu dengan senyuman lebar. Di depannya kedua namja itu memandangnya penuh tanya,”Apa kalian sudah baikan?”

“Kau hamil, Baby?”

“Mom, ada acara apa besok di gereja?”

Sun jadi terkekeh. Kedua namja itu bertanya bebarengan padahal dirinya juga bertanya.

“Jangan bercanda, Baby. Kau tahu kalau kita sangat mengharapkannya.”

Sun menghentikan tawanya, lalu berdehem sesaat,”Ne, aku hamil.”

“Jeongmal?” Min Ho segera memeluk tubuh Sun, “Sudah berapa lama, Baby?”

Wajah Sun tampak memerah, sambil menunduk dia bertanya balik, ”Menurutmu berapa lama, Sayang?”  Min Ho jadi teringat kejadian di café galeri, lalu bertanya untuk memastikan,”Jeongmal?” Sun mengangguk. Min Jae jengkel karena pertanyaannya belum terjawab,”Mom…”

“Ne, Min Jae. Karena Omma hamil, Omma merasa sangat perlu untuk memperbaiki ikrar pernikahan kami,” Sun menjelaskan itu, masih di pelukan Min Ho.

“Tapi kalian belum bercerai.”

Min Ho menatap putranya,” Secara hukum memang kami masih suami istri, tapi kami sudah terpisah lama, kami ingin pernikahan kami lebih diberkati lagi.” Sun melepaskan diri dari pelukan Min Ho, lalu mendekati Min Jae dan menepuk bahunya lembut,”Omma bahagia sekarang.”

Min Jae tersenyum. Kini tampak olehnya mata Sun berair, tapi itu adalah tangis kebahagiaan. Min Ho mendekatinya juga lalu mengelus kepalanya. Tiba-tiba sesuatu muncul di kepalanya,”Dad, seperti yang tadi ku bilang, antar langsung omma ke Lee Mansion. Aku masih ada urusan di sini malam ini.”

“Urusan apa, Min Jae, kau bisa mengurus itu di Lee Mansion,” Sun memprotes. Min Jae menggeleng,” No, Mom. You forget my conection here.”

Benar juga. Mungkin jaringan Sistem Informasi di mansion ini penyebabnya,”Araso, min Jae.”

“Tapi sore ini Dad ada waktu, kan?” tanya Min Jae pada abojinya.

“Ne. Waeyo?”

“Kita bisa berkuda bersama. Selama ini aku iri pada teman-temanku yang bisa berkuda bersama Ayahnya,” pinta Min Jae. Hal ini membuat kedua orang tuanya menyesal, putra mereka tidak merasakan kehangatan keluarga selama bertahun-tahun disebabkan keegoisan masing-masing.

“Ne, Min Jae. Kita berkuda bersama.”

“Boleh Omma ikut?” Sun meminta untuk ikut. Min Ho menggerak-gerakkan telunjuknya,”Acara khusus namja.”

Min Jae tertawa ngakak. Kini giliran Sun yang cemberut,”Iya, deh…. Begini nih nasib jadi yoja sendirian. Seperti anak tiri.”

“Sebentar lagi Mom pasti dapat teman. Aku yakin dongsaengku nanti pasti perempuan.”

“Ne, Appa juga mengharapkan bayi perempuan,” sahut Min Ho. Min jae memeluk Sun, “Mom tambah cantik di kehamilan ini. Mata Mom selalu berbinar walau pucat, di situ aku yakin dongsaengku perempuan.”

“Jeongmal?” Min Ho mulai mengamati mata Sun,” Benar juga, sangat cantik.”

Wajah Sun memerah seketika. Kedua namja itu tertawa senang melihat perubahan warna wajahnya. Sun jadi jengkel,”Yah…. Ayah-anak sama saja. Suka ngegombal.”

Siang itu kebahagiaan menyelimuti hati mereka. Dan kini kebahagiaan masih berlanjut di sore harinya. Saat Ayah dan anak itu sama-sama menunggangi kuda, mengelilingi areal berumput yang luas. Di sekitar mereka kehijauan menyapa, udara hangat musim panas menghiasi sore itu. Mereka bercanda, tertawa, menceritakan rahasia-rahasia kecil antara ayah dan anak laki-lakinya. Hingga akhirnya sang surya mulai kembali ke peraduannya, nuansa jingga menyelubungi langit, dan keduanya mengamati semua itu masih di atas punggung kuda.

“Aku selalu suka pada matahari,” Ucap Min Jae pada Ayahnya,”Matahari selalu menampakkan keindahan baik saat terbit mau pun tenggelam.”

Min Ho menyungging senyum ke arahnya. Baru kali ini dia melihat matahari terbenam, selama ini memang dia mengacuhkan segala fenomena alam. Dan di sanalah Min Jae, di sampingnya, masih mengamati mentari yang tenggelam, pada akhirnya dia mengalihkan pandangan lagi ke obyek pengamatan Min Jae.

“Dad, matahari itu adalah Mom,” kalimat Putranya itu membuat Min Ho menoleh kembali. “Mom seperti matahari itu, dia memberi kehidupan walau pun harus membakar diri,” lanjut Min Jae. “Min Jae senang Mom bahagia sekarang.”

Min Ho tersenyum penuh tanya. Min Jae pun menoleh ke arahnya,”Dad, bahagiakan selalu hatinya. Mungkin di luar Mom terlihat tegar, tapi didalam, dia sangat rapuh.”

Min Ho mengangguk,”Appa tahu itu. Seandainya Appa menyadari itu tigabelas tahun yang lalu, mungkin kita tak akan terpisah.”

Min Jae mengibaskan tangannya,”Sudahlah, yang penting sekarang Mom bahagia. Oh ya, bagaimana kalian membuat dongsaeng? Kapan? Dimana? Kok bisa secepat ini ?”

“B… Bo?” Min Ho gelagapan sendiri. Min Jae masih saja memberi pertanyaan beruntun. Dan kini tampaklah wajah bingung Min Ho mengira-ira kalimat yang pantas untuk diucapkan pada Min Jae. Mentari semakin tenggelam. Semburat senja mulai berganti kelamnya malam , Ayah dan anak itu masih saja masyuk berbincang.

TBC Part 11

DINASTI LEE II (Part 8)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 8

Seoul semakin heboh. GMJ’s corp, perusahaan asing di kota itu dikabarkan mengambil alih Lee Corporation. Semua pemegang obligasi, rekan bisnis, dewan direksi bahkan karyawan terendah mempertanyakan nasib mereka selanjutnya. Media masa semakin gencar memberitakan hal itu.

Goo Hye Sun memasuki gedung perkantoran Lee Corporation di dampingi Min Jae, Hongki dan Donghae. Para pekerja berdemo di halaman gedung, sementara rekan bisnis, dewan direksi, manajemen bahkan perwakilan dari para pemegang obligasi menunggunya di ruang rapat. Banyak hal yang harus diluruskan hari ini. Sun sebenarnya sangat bingung. Dia masih teringat perkataan Min Ho saat dia berniat mengembalikan saham-saham itu,”Tidak perlu, Baby. Sebentar lagi semuanya juga akan menjadi milik Min Jae, tinggal pintar-pintarnya kalian saja mengaturnya.”

Pintu ruang rapat itu terbuka lebar. Mereka berempat segera memasuki ruangan, hadirin berdiri dan membungkukkan badan ke arah mereka. Semua yang ada di situ mempertanyakan kehadiran Hye Sun.

“Bukankah itu Goo Hye Sun,” bisik seseorang pada teman di sampingnya.

“Siapa anak itu?” tanya yang lain pada yang lainnya.

“Kenapa dia kemari?”

“Kenapa dia baru muncul setelah Lee bangkrut?”

Mereka masih saja sibuk dengan pertanyaan masing-masing. Walau pun keempat orang yang baru hadir itu sudah duduk di kursi masing-masing. Min jae duduk di sebelah kanan Sun, dan mereka diapit oleh Donghae dan Hongki.

Sun berdehem sebentar untuk melegakan tenggorokannya yang terasa kering. Min Jae meliriknya sekilas. Dalam hati Min Jae mengira-ira apa yang akan Mom-nya katakan. Sun merasakan hal itu hingga tersenyum ke arahnya. Sun mulai mengalihkan pandangannya pada hadirin lagi. Suara lembut Sun  akhirnya merambati ruangan megah itu,”Saya adalah persero GMJ’s Corp.”

Semua hadirin terkejut mendengar kenyataan itu. Sesaat suara dengungan menjalari ruangan karena mereka mulai ribut. Sun mulai bersuara lagi,”Untuk sementara saya yang akan memutuskan segalanya tentang Lee Corporation, tapi setelah putra saya cukup umur, dia yang akan mengambil alih semuanya.”

Semua hadirin semakin terperangah.

“Dia adalah GMJ dan putranya yang mengambil alih?”

“Anak siapa itu? Bukankah mereka berpisah tiga belas tahun yang lalu?”

“Oh…, fitnahan itu membuatnya membalas dendam rupanya.”

Suara-suara itu terdengung lagi seperti bunyi sekumpulan tawon.

Sun berdiri,”Putra kami akan mengambil alih setelah berumur dua puluh tahun.”

Donghae pun berdiri,”Ladys and gentlemen, please welcome to the new generation of Lee Dinasty, Lee Min Jae!”

Donghae mengangkat lengan Min Jae hingga akhirnya anak itu berdiri. Semuanya semakin heboh. Sun tersenyum,”Ne…., Lee Corporation akan diambil alih oleh Lee Min Jae, putra dari Lee Min Ho-ssi.”

Para hadirin yang merasa lega memberikan applause. Suara tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Mereka merasa lega karena pada akhirnya penguasa Lee corporation adalah keluarga Lee sendiri. Tapi tidak bagi Min Jae. Dia merasa kesal karena Donghae dan Sun memperkenalkan dirinya sebagai Lee Min Jae bukannya Goo Min Jae seperti yang selama ini dia lakukan. Dia bahkan keluar dari ruangan itu setelah membanting pintunya keras-keras, sekali lagi Sun mengelus dada melihat tingkahnya, tapi masih tersenyum membalas jabat tangan dan ucapan selamat dari para hadirin di situ.

Keesokan harinya, Min Jae mendatangi Lee Corporation pagi-pagi sekali. Semalam dia sudah menyuruh orang untuk mempersiapkan kantor Sun di Lee Corporation Building. Dan kini dia sudah berada di ruangan itu, merasa puas dengan hasil kerja dari orang yang disuruhnya. Tidak banyak perubahan yang dilakukan pada ruangan itu, dia hanya menyuruh orang itu untuk mengganti tagname yang terletak di atas meja, menurunkan foto-foto Min Ho dari dindingnya serta mengirimkan semua piala dan penghargaan yang selama ini terpampang di buffet ke Lee Manshion. Ya, ruangan itu memang sebelumnya kantor Min Ho.

Min  Jae berdiri sembari berkacak pinggang mengamati setiap sudut dari ruangan itu. Tagname itu sudah bertuliskan nama Goo Hye Sun. foto-foto itu telah berganti dengan foto Sun dan dirinya serta lukisan-lukisan Sun, buffet itu kini telah berisikan piala-piala GMJ’s corp dan piala-piala yang selama ini diraihnya di bidang akademik. Dia mulai meraih tas ranselnya yang sedari tadi diletakkannya di sofa. Dia menduduki sofa itu, tangannya mencari-cari sesuatu dari tas ransel itu. Sofa itu ternyata juga sudah digantinya dengan model minimalis yang lebih feminin.

“Aha, This is it!” dia berseru saat tangannya menangkap benda yang dimaksud, satu folder dokumen-dokumen yang harus ditandatangani Sun. Dia lalu berjalan ke arah meja kerja Sun, lalu meletakkan map itu di sana.

Pintu terbuka tiba-tiba, dan Sun segera memasuki ruangan itu. Dia berhenti sejenak mengamati perubahan ruangan itu, sedangkan Min Jae yang duduk menyampir di meja kerja tersenyum lebar ke arahnya,”See, Mom. I made this room comfort for you!”

Sun masih saja terperangah. Apalagi saat mendapati beberapa lukisannya terpampang di sana.

“I found the pictures before. And this tagname is so good for you!” Minjae bicara sambil mengangkat tagname yang ada di atas meja. Sun tersenyum kepadanya lalu berkata,”Gumawo, but…..”

Min Jae menahan nafas saat Sun mengucapkan kata yang terakhir.” But I don’t need this room, Son.” Lanjut Sun. Sun lalu duduk di Sofa dan bermain-main dengan hiasan lonceng kecil yang ada di meja. “Oemma akan tetap di GMJ’corp sedangkan urusan di Lee Corporation akan ku serahkan pada professional, Min Jae.”

“What?”

“Ne, dan Omma bahkan sudah menunjuk orangnya.” Lonceng itu berbunyi lirih saat Sun menggerak-gerakkannya. Sesaat dia teringat suara lonceng di gereja katedral saat dia dan Min Ho menikah.

“Mom menunjuk orang tanpa memberitahuku sebelumnya?”

“Miane, Min Jae. Tapi Oemma yakin pilihan Oemma sangat tepat. Kau tidak ingin tahu siapa orangnya?” Kali ini Sun meletakkan lonceng itu ke tempat semula dan mulai memandang putranya. Min Jae menangguk. Sun tersenyum bahagia karenanya lalu dia memerintah,”Masuklah, Min Ho-ssi!”

Mata Min Jae terbelalak mendapati semua itu.  Min Ho memasuki ruangan dengan pasti. Tangannya yang terluka masih terperban dalam gendongan.

“The oldman out from jail?” bagitu pikir Min Jae.

Min Ho berjalan ke arah Min Jae dan berusaha memeluknya, tapi Min Jae mengelak niatan abojinya itu. Min Jae bahkan mendekati Sun dengan pandangan menyala untuk meminta penjelasan,”It’s not funny, Mom.”

“Apanya yang lucu, Min Jae? Appamu cukup memenuhi syarat untuk mengurus Lee Corporation,” terang Sun. Amarah Min Jae seketika memuncak dan itu tampak dari wajahnya yang mulai mengeras, dia berusaha menahan semua itu dengan mengambil nafas lalu menghembuskannya lagi, begitu seterusnya sampai tiga kali.

”Oke! It’s enough! Just do what your want, Mom!”

Min Jae buru-buru meninggalkan ruangan itu. Sekali lagi pintu jadi sasaran emosinya dengan membantingnya keras-keras. Sun seketika memejamkan mata saat suara benturan terjadi.

“Apa dia sering seperti itu?” tanya Min Ho tiba-tiba. Sun membuka matanya kembali lalu tersenyum,”Sudahlah, dia pasti akan baik lagi nanti.”

Sun mengapit lengan Min Ho. Lalu mengarahkan Min Ho menuju meja kerja,”Mari kita lihat dokumen apa yang dibawa Min Jae.”

Sun membumbing Min Ho menduduki kursi dibalik meja kerja. Sun lalu berdiri agak membungkuk di samping kiri Min Ho dan  mulai membuka dokumen yang ada di atas meja. Min Ho bahkan tidak menggubris dokumen itu, dia mengamati perubahan ruang kerjanya,”Aku senang dengan perubahan interior ruangan ini.”

Pandangan Sun seketika teralihkan dari file-file itu. Kini dia menatap Min Ho dengan rasa bersalah. “Mianhamnida, Min Ho-ssi. Aku akan berusaha membuat semua barangmu kembali.”

Min Ho menggeleng,”Anhiyo, aku menyukainya, tidak perlu dirubah lagi. Aku jadi selalu teringat kalian saat di ruangan ini dan lebih giat bekerja.”

“Baiklah! Oke, File ini ternyata urusan GMJ’s Corp dan tidak ada hubungannya dengan Lee Corporation, dan yang ini untuk Lee Corporation tapi di sini masih tertera namaku, aku harus memerintahkan sekretarismu untuk mengubahnya,” Sun mulai memilah-milah dokumen itu.

Min Ho terenyum melihat tingkah Sun. Dia mendapati Sun sudah sangat berubah. Wanita di depannya itu sudah tidak lugu lagi seperti dulu. Sun yang sekarang begitu cemerlang, dengan pemikiran yang matang dan tegas.

“Waeyo?” tanya Sun saat melihat senyum Min Ho yang penuh tanda tanya.

“Nothing!” Min Ho mengangkat bahu. “Minjae benar-benar berusia tiga belas tahun?”

“Ne.” Sun mengangguk.

“Dia seperti anak karbitan yang matang sebelum waktunya,” Goda Min Ho. Sun tersenyum dengan pujian itu.  Tiba-tiba Min Ho memegang tangan Sun yang masih memilah-milah lembaran file itu, seketika gerakan tangan mungil itu terhenti,”Apakah aku masih punya kesempatan menjadi ayah yang baik, Baby?”

Sun tidak menjawab. Dan Min Ho bertanya lagi,”Apakah aku masih bisa menjadi kepala keluarga lagi bagi kalian?”

Sun melepaskan tangannya dari genggaman Min Ho. Dia menegakkan tubuhnya lalu mundur tiga langkah dari Min Ho,”Sepertinya hal itu perlu kau tanyakan pada Min Jae.”

Sun berjalan menuju tasnya yang tergeletak di sofa. Di sana juga terdapat tas ransel Min Jae. Anak itu rupanya terlalu marah tadi, hingga meninggalkan benda itu begitu saja. Sun mengambil tas ransel itu, lalu mengenakannya di punggungnya serta menjinjing tasnya sendiri.

“Aku pulang, Min Ho-ssi.” Sun membungkukkan badannya.

“Tunggu, Baby!” Cegah Minho.”Oemma mengundang kalian makan malam. Aku harap kalian datang.”

“Aku tidak bisa janji, Min Ho-ssi. Kau lihat tadi Min Jae sangat marah.”

“Jika Min Jae tidak mau setidaknya kau yang datang, Please…”

Sun tersenyum pada Min Ho,”Baiklah.”

“Aku pulang sekarang. Bye…”

Min Ho mengangguk. Sun melambaikan tangannya lalu keluar dari ruangan itu untuk menuju ke Goo Mansion.

Di Goo Mansion, Min Jae masih saja cemberut saat makan siang. Dia bahkan mendiamkan Sun. Dia yang biasanya mengoceh saat makan hanya duduk tenang. Alhasil kesunyian yang terdapat pada suasana makan siang itu, hanya suara alat makan beradu yang terdengar.

“Lee Halmoni mengundang makan malam,” Sun memulai pembicaraan,”Beliau sangat mengharapkan kedatangan kita.”

“Beliau atau pria tua itu?” kata Min Jae sengak.

“Pria itu adalah abojimu, Min Jae.”

“I don’t care! He denied me thirdteen years ago. And now, what a mistake if I deny him?”

Sun benar-benar marah sekarang,”Cukup, Nak! Kalau kau mengingkari Appamu, berarti kau juga meragukan Oemma. Kau pikir Oemma hamil dengan siapa kalau bukan dengan Appamu?”

Sun mengatur nafasnya yang turun naik. Dalam hatinya dia menyesal kenapa harus membentak Min Jae barusan. Tapi anak ini memang sudah keterlaluan, hal yang selama ini dilakukan oleh Min Ho, yang membuat dia begitu trauma, dilakukan pula oleh anak ini, yaitu meragukannya.

“That’s not my mean, Mom,” sesal anak itu.

Sun menghembuskan nafas perlahan, lalu dengan agak merendahkan suara di berkata,”Lalu?”

“Aku sudah membuat agar tidak ada harapan bagi mereka, tapi Mom mengacaukan semuanya.”

Sekali lagi Sun menghela nafas. Makan siang kali ini adalah makan siang yang paling tidak mengenakkan baginya,”Sudah kuputuskan. Kita akan makan malam di Lee Mansion bersama Appa dan Halmoni. Aku tidak perduli kau setuju atau tidak, kau harus ikut keputusan Oemma.”

Dan suasana tidak mengenakkan itu terjadi lagi pada malam harinya, saat makan malam di Lee Mansion. Tempat duduk mereka sudah diatur sebelumnya oleh Je Ha. Min Jae berada kanan Jeha, sedangkan Sun dan Min Ho berdampingan di sebelah kiri Je Ha. Tentu saja hal ini membuat Min Jae terpisah dari Sun karena meja yang berbentuk persegi panjang, apalagi saat dia mendapati Min Ho duduk  tepat di depannya, Min Jae memanyunkan bibirnya. Je Ha  melakukan itu karena dia sangat merindukan Min Jae sehingga tidak mau anak itu duduk jauh darinya.

Tangan Kanan Min Ho yang masih terperban membuatnya agak sedikit kerepotan memotong steak. Hal ini diketahui oleh Sun lalu dia menawarkan bantuan,”Sini aku bantu, Min Ho-ssi.”

Sun meraih piring Min Ho, lalu memotong-motong beefsteak itu menjadi bagian-bagian yang kecil dan mengembalikan piring itu lagi di hadapan Min Ho.

“Gomawo, Baby.”

Sun tersenyum pada Min Ho. Min Jae yang melihat senyuman Mom-nya semakin manyun, apalagi saat mendengar Min Ho memanggil Sun ‘Baby’. Baru kali ini dia makan dengan duduk berjauhan dari Mom-nya, dan melihat Mom-nya sangat mesra dengan Abojinya membuatnya cemburu.

Je Ha berdehem untuk memulai pembicaraan. Semua yang ada di ruang makan menoleh ke arahnya. Je Ha menatap Min Jae lembut,”Halmoni ingin kau dan Ommamu tinggal di sini, Min Jae.”

Min Jae diam. Dia masih saja asyik memotong steak dan memasukkan dalam mulutnya serta mengunyahnya perlahan.

“Bagaimana, Min Jae?” Je Ha mengulangi pertanyannya. Min Jae meraih gelas minumnya lalu meneguk air mineral itu.

“Min Jae?” Je Ha memanggil lagi. Sun sangat tegang hingga menghentikan aktivitas makannya. Min Ho menoleh ke arahnya, lalu tangan kirinya menggenggam tangan Sun.

“Min Jae tidak mau,” Min Jae mulai menjawab.”Min Jae bukan bagian dari keluarga ini.”

“Apa maksudmu, Min Jae? Tentu saja kau bagian dari keluarga Lee. Kau putraku,” kata Min Ho.

“Terlambat, seharusnya kau mengatakan itu tiga belas tahun yang lalu.”

“Min Jae,” panggil Sun datar, dia tidak ingin emosi lagi seperti tadi siang. Min Jae menoleh ke arahnya,”Bukan begitu, Mom? Itu yang Mom takutkan selama ini, bukan? Bahwa pria ini meragukanku?”

“Min Jae!” Sun membentak lagi. Hari ini sudah dua kali dia membentak, dan hari ini pula pertama kalinya dia membentak anak pelipur laranya itu, tapi kenapa anak itu tidak bosan juga menyulut kemarahannya.

“You denied me thirdteen years ago, Sir! It’s not my foult if I deny you now. So, tell me the reason to make me stay here. This not my place. Goo manshion is my place.”

“Enough, Min Jae! Enough!” teriak Sun histeris. Min Ho mempererat genggaman tangannya atas Sun. Matanya terbuka lebar tapi sungguh aneh dia tidak emosi melihat kelakuan anak itu yang begitu kurang ajar padanya.

“Its not enough, Mom! I hate this family ! I don’t want to be Lee!” Min Jae menggebrak meja lalu pergi keluar entah kemana. Sun berdiri untuk mengejarnya tapi dicegah oleh Min Ho.

Je Ha menghela nafas,”Tidak baik meninggalkan meja makan begitu saja, Sun-a.”

Sun masih saja terisak,”Mianhamnida, Oemma. Sun gagal mendidiknya. Sun gagal.”

Min Ho menepuk-nepuk punggung tangan Sun,”Ada kemungkinan dia menuju tempat lain selain Goo Manshion?”

“Entahlah, Min Ho-ssi. Itulah yang aku kawatirkan.”

Min Ho memanggil Yoon, kepala pelayan di Lee Manshion,”Kirim beberapa security untuk mengawal perginya Min Jae.” Pelayan itu membungkuk hormat dan segera melaksanakan perintah.

“Miane, Min Ho-ssi. Aku tidak tahu hal ini bisa terjadi,” Sun memandang Min Ho dengan penuh penyesalan. Min Ho tersenyum, dan entah kenapa dia mulai tertawa bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya, “Min Jae, Dia begitu mirip denganku. Hah!”

Min Ho menoleh ke arah Sun,”Kau tahu, Baby. Aku arogan. Dia juga. Aku bicara ngawur dan kasar kalau marah, dia juga. Aku jago menunggang kuda, dia juga. Bahkan dia juga cerdas berbisnis sepertiku.”

“Karena… karena itukah kau tidak marah tadi, Min Ho-ssi?”

Je Ha tersenyum, “Aku juga heran karena tadi Min Ho tidak marah. Biasanya dia marah jika diperlakukan seperti tadi.”

Min Ho malah tertawa ngakak,”Bagaimana aku bisa marah jika aku seperti melihat bayanganku di cermin ?”

“Min Jae biasanya tidak seperti ini, Min Ho-ssi.”

Je Ha mengangguk,”Ne, Min Jae tahu benar menyenangkan hati wanita, itu tidak ada dalam dirimu, Min Ho-a.”

Min Ho tertawa lagi, “Oemma lupa kalau aku punya kisah cinta yang penuh gelora pada Bo Young, itu adalah bukti.”

“Sepertinya aku memang harus menyusul Min Jae!” Sun tiba-tiba berdiri. Dia marah saat nama Bo Young disebut.

“Jangan, Baby. Aku masih rindu.” Min Ho menahan pergelangan tangan Sun.

Je Ha menggeleng-gelengkan kepalanya,”Kalian selesaikan sendiri. Oemma sudah cukup lelah dengan kejadian hari ini.”

Je Ha meneguk air mineral lalu mengelap mulutnya dengan napkin dan meninggalkan pasangan itu di ruang makan. Sun masih saja berdiri. Min Ho juga masih duduk dan menggandeng tangan Sun,”Miane, Baby.”

Sun memandang ke arahnya,”Jika kau ingin aku di sini, syaratnya jangan pernah sebut nama Bo Young lagi.”

Min Ho mengangguk,”Araso, araso, Baby.”

“Baby, ada suatu tempat yang ingin kutunjukkan padamu. Kau pasti suka. Kacha!”

Sun menurut saja saat Min Ho menarik lengannya. Mereka harus menggunakan mobil untuk mencapai tempat itu karena jaraknya yang jauh dari Lee Mansion. Di dalam mobil, mereka terdiam. Sun mengira-ira kemana Min Ho akan membawanya. Sedangkan Min Ho mengulum senyum dengan berbagai angan di kepalanya.

Satu jam kemudian sampailah sudah. Mata Sun melebar melihat tempat di hadapannya itu. Min Ho membawanya kembali ke bangunan Café gallery-nya yang terbengkalai sejak tiga belas tahun yang lalu.

“Aku sudah menyuruh orang untuk membereskan semuanya dua hari yang lalu, Baby. Tiga hari lagi café ini akan dibuka kembali, tentu saja atas seijinmu.”

Sun menoleh ke arah Min Ho. Dia tersenyum dengan perasaan yang tidak enak setelah perlakuan Min Jae pada suaminya itu.

“Ayo kita masuk, Baby.”

Min Ho menghidupkan semua lampu di seluruh ruangan bangunan itu. Kini suasana nyaman ruangan itu menyapa. Lukisan dan sketsa menyapu pandangan mereka. Meja dan kursi, rak-rak penyimpanan, mesin kopi, cangkir bahkan persediaan bahan sudah diganti dengan yang baru. Café ini rupanya siap dibuka lagi. Sun tersenyum lebar mendapati hal itu.

Min Ho berjalan ke arah sketsa danau. Sketsa itu masih di tempatnya, sama persis dengan waktu mereka bertemu kedua kalinya. Sun mengikuti langkah suaminya, dan akhirnya mereka berdiri berdampingan di muka sketsa itu.

“Di situlah aku jatuh cinta padamu, Baby. Di pinggir danau itu.” Min Ho menunjuk sketsa itu.

“Di sinilah aku jatuh cinta padamu,” Sun berucap lirih. Suasana yang senyap membuat Min Ho bisa mendengar jelas suaranya. Min Ho berbalik menghadap Sun, diangkatnya wajah Sun lembut, lalu menciumnya dengan perasaan yang mendalam.

“Saranghae, Ratuku.”

Sun membenamkan diri ke dada bidang Min Ho. Suaminya membimbingnya ke tempat lain di café itu,”Kita lihat tempat yang lainnya, Baby.”

Langkah mereka terhenti saat memasuki ruangan pribadi Sun. Tidak banyak yang berubah di situ. Min Ho memang tidak menghendaki perubahan, dia hanya memerintahkan untuk membersihkannya saja. Alat-alat lukis itu tertata rapi. Gulungan-gulungan sketsa dan tumpukan lukisan masih di tempatnya walau tidak ada lagi debu yang menempel. Sofa, tempat tidur, bahkan meja kecil di sudut ruangan itu belum berganti. Sun terpana melihatnya.

“Di ruang ini kau pasti banyak menghasilkan karyamu.”

Sun mengangguk,”Gomawo, Min Ho-ssi.”

“Kau boleh melukis lagi, Baby,” ucap Min Ho. Sun tersenyum,”Tanpa sepengetahuanmu pun aku melukis tiga belas tahun ini. Lukisan-lukisan di ruang kerjamu buktinya.”

Min Ho meraih Sun dalam pelukannya dan sangat bahagia saat tangan istrinya itu bergelayut manja di lehernya. Hal ini serasa mimpi baginya. Kebahagiaan yang lenyap bertahun-tahun itu telah kembali. Dia mengecup bibir Sun lembut, lalu menciumnya dengan penuh perasaan dan dilanjutkan dengan ciuman yang lebih menuntut, hatinya semakin bersorak saat mendapati Sun membalas semua itu. Kau  sudah menerimaku lagi, Ratuku? Benarkah ini?

Min Ho melepaskan ciumannya. Dilihatnya Sun yang bernafas tersenggal-senggal dengan wajah yang memerah. Saat nafas keduanya mulai beraturan, mereka tertawa. Sekali lagi Min Ho memeluk Sun dan berbisik,”Apakah aku boleh menyentuhmu lebih jauh, Baby?”

Sun melepaskan diri dari pelukan Min Ho. Lalu menarik tubuh jangkung itu ke tepi ranjang. Dan saat Min Ho sudah duduk berdampingan dengannya di ranjang itu. Sun mengarahkan tangan kiri Min Ho ke dadanya lalu berkata,”Ingatkan aku lagi pada cintamu, Min Ho-ssi.”

Mereka berciuman kembali. Tanpa sadar Sun sudah terbaring dan Min Ho di atasnya. Min Ho membelai wajah Sun lembut.

”Aku akan selalu memujamu, My Danahan queen. Akan kutaburi dirimu dengan permata dan cinta karena hanya kaulah yang ada di hatiku.”

Mata Sun berbinar mendengar ucapan suaminya. Min Ho begitu mengagungkannya dalam kisah itu, dan di setiap sentuhan itu, dia merasakan tubuhnya bagai melayang. Diserahkannya kembali hati dan hidupnya pada Min Ho malam ini. Kerinduan itu ternyata sangatlah mendalam bagi mereka. Kerinduan yang terpendam bertahun-tahun itu, kini terlepas sudah bersamaan dengan cumbuan dan sentuhan di pembaringan itu.

Saranghae, Minho-ssi. Lakukanlah hasratmu. Karena demi Tuhan, aku juga tak mampu menahannya. sentuhan ini ternyata sangat kurindukan. Aku ingin waktu berhenti di sini. Hanya kau dan Aku, dan bisikan lembutmu. Aku mendambamu, Minho-ssi. Puaskan dirimu atas diriku. benamkanlah benihmu padaku. Aku ingin menebus kesalahanku. Mungkinkah aku masih punya kesempatan mengandung lagi. Berikan kesempatan ini, Min ho-ssi. Aku mohon…

Dan diantara semua itu, Minho begitu memujanya. Saat tubuh itu semakin menegang di bawahnya dan melengguh penuh hasrat, dia membisikkan sebuah pernyataan, “Bogosipho.”

Bogosipho, Baby….baru kusadari betapa kumerindukan saat ini. inilah aku, hamba pemujamu. Menyatulah bersamaku malam ini, seakan dunia hanya untuk kita. bersama kita melayangkan hasrat kita. ku mohon, Baby. Puaskanlah dirimu atas diriku, seakan aku pandir asmaramu, karena tiga belas tahun terlalu lama, dan aku ingin melepaskannya malam ini. Entah kenapa aku menginginkan anak lagi. Miane jika ku terlalu memaksa, karena hanya kaulah yang berhak atas semua itu. Ratuku, Ibu dari anak-anakku…..Permaisuriku…

(Lo udah mupeng gini ku gak bisa mikir lagi, Bengek dulu, ah…..)

TBC Part 9

DINASTI LEE II (Part 7)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 7

“Apa!” Min Ho berteriak kesal di kantornya. Lengan kanannya yang sakit masih terperban di gendongan.”Bagaimana mungkin enam puluh lima persen saham ada di GMJ? Aku sudah bilang tarik saham yang di pasaran!”

Hongki yang merasa disindir membela diri,”Aku sudah melakukannya, Hyung…. Aku juga tidak tahu bagaimana ini terjadi.”

Min Ho murka. Dia bangkit dari duduknya lalu mencengkram kerah baju hongki,”Kau selalu tidak tahu apa-apa!” Hongki semakin ketakutan. Han yang sedari tadi juga ada di ruang itu menghentikan tindakan Min Ho,”Tidak ada gunanya emosi, Tuan Lee. Semua telah terjadi.”

Min Ho masih belum melepaskan cengkeraman tangan kirinya atas kerah Hongki,”Bagaimana mungkin mereka mendapatkan lima belas persen lagi padahal hanya sepuluh persen yang berada di pasaran?”

Hongki mulai menyadarinya juga. Dia jadi tahu maksud Min Ho mencengkeram lehernya,”Bukan aku penghianat di sini, Hyung!” Hongki berusaha melepaskan diri dari Min Ho. Dia berhasil. Min Ho kembali lagi ke kursinya.

Han berpikir sejenak. Semenjak Lee Corporation di ambang krisis, Je Ha yang sudah pensiun memerintahnya untuk kembali ke perusahaan karena Hongki diangggap kurang cakap,”Anda benar, Tuan Lee. Sepuluh persen saham di pasaran sudah ditarik, dan ini bukan waktunya bagi Lee Corporation mengeluarkan saham baru lagi, padahal empat puluh persen saham di tangan keluarga.”

Mata Min Ho bergerak liar, “Ada kemungkinan penghianatan di sini.” Dia sangat marah mendapati kenyataan itu. Siapa pihak keluarga yang menjual saham pada GMJ?

“Aku akan segera menyelidikinya, Hyung!” Akhirnya Hongki tanggap juga. Min Ho memijit-mijit pelipis kirinya. Dia mulai memikirkan apa yang terjadi jika perusahaan asing itu mulai mengambil alih. Bagaimana dengan nasib ribuan pekerja dan rekan bisnisnya, dan terpenting lagi, bagaimana nasib keluarga Lee ? Dia berdiri dan memandang ke dinding kaca di belakang meja kerjanya. Di bawahnya pemandangan Seoul menyapa.

”Kira-kira apa yang GMJ lakukan pada perusahaan-perusahaan yang berhasil diakuisisi?” Min Ho jadi ingin tahu langkah GMJ selanjutnya. Hongki menjawab dengan berat hati,”Perusahaan terakhir yang GMJ akuisisi adalah  Thurston’ Inc di Kanada, GMJ melakukan broken padanya.”

Min Ho tiba-tiba merasa sesak nafas. Seketika tubuhnya oleng. Hongki dan Han bersamaan menahan tubuh Min Ho agar tidak ambruk. Min Ho memegang dadanya yang serasa sakit.

“Tuan Lee, Anda tidak apa-apa?”

“Gwencana, Hyung?”

Min Ho mendorong tubuh Hongki yang masih menahannya,”Lakukan penyelidikan segera!”

Hongki segera keluar dari ruangan itu untuk melakukan penyelidikan sementara Han masih mencoba menenangkannya,”Saya akan mencoba melakukan pendekatan dengan GMJ jika utusan mereka ke sini. Saya yakin masih ada pilihan lain selain akuisisi.” Han pun segera undur diri.

Dan kini tinggallah Min Ho dengan pikiran ruwet dan hati yang sumpek. Dunia seakan berputar seratus delapan puluh derajat baginya, jika dulu dia terkenal sebagai pebisnis yang ulung, kini dia kalah oleh sebuah perusahaan asing yang baru saja membuka cabang di negerinya itu.

Hal gila yang Min Ho lakukan untuk menghilangkan kepenatan otaknya adalah mengunjungi sebuah bar. Dia minum-minum, merasa menjadi orang termalang di dunia kini. Selama ini yang menjadi hiburan baginya semenjak Sun pergi adalah bisnis dan pacuan kuda, tapi sekarang semuanya seakan terampas. Bisnisnya bangkrut, di pacuan kuda dia kalah oleh anak ingusan.  Dan Sun? Goo Mansion sangatlah dekat, tapi Min Ho tidak punya keberanian untuk menemui ratu hatinya itu.

“Tuang lagi!” perintah Min Ho pada bartender. Dia sudah sangat mabuk, pandangan matanya ngelantur dengan wajah yang memerah. Bartender itu tampak ragu melayaninya,”Anda sudah sangat mabuk, Tuan Lee.”

Min Ho menggebrakkan sloki beling itu ke bartable,”Aku bilang tuang lagi!” Bartender pun mengalah, dengan menggelengkan kepala dia menuangkan minuman beralkohol itu ke dalam sloki dan segera diteguk oleh Min Ho,”Lagi!”

Bartender menggeleng. Min Ho kesal, dia melemparkan sloki itu ke dinding sudut bar lalu mulai berjalan oleng ke arah toilet. Dia menyapa beberapa pengunjung yang memandanginya di bar itu dengan pandangan ‘ngapain kau lihat-lihat’. Karena jalannya yang ngawur, dia menabrak seorang pelayan bar sehingga baki yang dibawa pelayan itu tumpah,”Ups, Sory…”

Dia tertawa cekikikan padahal bajunya basah karena minuman yang dibawa oleh pelayan itu tumpah di dadanya. Di toilet, dia mulai memuntahkan semua isi perutnya. Minuman laknat itu sudah menghabisi pencernaannya. Dia terus saja memuntahkan semuanya, dan saat dirasa telah berakhir, dia membasuh wajahnya. Sesaat kesadarannya muncul lagi.

Dia mulai menyadari kalau ada wanita di toilet itu. Dia agak heran. Toilet pria dan toilet wanita terdapat di arah yang berlawanan dari sisi bar, dan dia yakin tidak salah masuk.

“Kau salah masuk toilet, Nona,” Min Ho menegur gadis itu.

Tiba-tiba gadis itu merobek pakaiannya sendiri. Gadis itu juga menarik tangan kiri Min Ho lalu sengaja mencakarkan kuku-kuku jari Min Ho ke lengannya. Min Ho terkejut dengan tindakan gadis itu, dan dia semakin panik saat gadis itu mulai berteriak.

“Tolong ! Tolong ! Dia mau memperkosaku! Tolong!”

Semua pengunjung bar menghambur masuk ke toilet. Suasana seketika heboh. Bodyguard bar segera mengamankan Min Ho dan membawanya ke kantor polisi, dan akhirnya malam itu Min Ho harus menginap di penjara atas tuduhan pelecehan seksual.

(Author said,”Mampus, loe…. But… ini hukuman karma yang terakhir bagi Min Ho.”)

—— > * < ——

Emosi Donghae memuncak. Keluarga Lee dipermalukan karena Min Ho dipenjara atas kasus pelecehan seksual, dan sekarang Hongki mendatangi rumahnya dengan tuduhan sebagai penghianat yang menjual saham Lee Corporation pada pihak lawan.

Donghae berusaha membela diri,”Bukan aku pelakunya!”

Hongki muntab, bukti sudah jelas-jelas ada tapi Donghae masih mengelak,”Kau pikir aku menuduh tanpa bukti, Hyung. Semuanya sudah jelas! Kau yang berkhianat!”

“Aku bahkan tidak kenal dengan lawan Lee Corporation. Sudah kubilang aku bukan bagian dari bisnis ini !”

Hongki membuka file yang ada di tangannya lalu menunjukkan pada Donghae,”Lalu siapa yang tanda tangan di sini. Pengalihan seluruh sahammu di Danareksa seminggu yang lalu.”

Hongki menghembuskan nafas saat Donghae mengamati yang tertulis di file itu,”Seluruhnya, Hyung! Lima belas persen ke perusahaan lawan! GMJ’s Corp!”

Donghae terkejut saat Hongki menyebut nama GMJ’s Corp,”Apa kau bilang?”

“GMJ’s corp, Hyung!” Hongki mengulang pernyataannya. Mata Donghae semakin melotot, sementara angannya mulai kembali pada kejadian kira-kira dua minggu yang lalu.

Siang, satu hari sesudah pertemuan pertama dengan Sun, Donghae diundang Minjae untuk makan siang di suatu restoran. Dengan senang hati Donghae menerima undangan itu, dia berpikir inilah saatnya mengenal lebih jauh keponakkannya itu. Dari Sun, dia tahu keponakannya sangat jenius, master termuda lulusan Universitas Beijing. Dan karena study Min Jae di negeri tirai bambu itu, Sun bahkan sempat mengubah kewarganegaraannya menjadi warga Negara Cina hingga dia berpindah kewarganegaraan lagi menjadi Amerika karena bisnisnya di New York. Dan ternyata Sun tidak salah, Donghae melihat keponakannya itu sangat cerdas. Gaya bahasa Min Jae sangat lugas untuk anak seumurannya. Minjae bahkan dengan fasih menjelaskan padanya mengenai saham, obligasi, bagaimana menilai kebaikan dan keburukan suatu proyek. Tentu saja dengan bahasa Inggris yang kadang membuatnya mengkerutkan kening karena kurang canggih berbahasa Inggris.

“I hear that Uncle has stock at Lee Corporation, is it right?”

Dong Hae semakin pusing,”Aku kira kau bisa bahasa Korea, please speak Korean!”

Min Jae tertawa ngakak, segera dia menyuapkan sup Kimchi ke mulutnya, lalu mengunyahnya pelan sebelum bicara lagi,”Aku dengar Uncle punya saham di Lee Corporation, benarkah?”

Donghae mengangguk, diraihnya soju di depannya dan saat soju sudah melegakan kerongkongannya yang tersumbat, dia mulai menjelaskan, ”Semua keluarga Lee punya, dan karena di generasi ini ada aku, Hongki dan Abojimu, maka saham pihak keluarga ada di tangan kami. Apalagi halmonimu sudah pensiun beberapa tahun yang lalu, sudah pasti halmonimu menunjuk abojimu sebagai pewaris.”

“Semua keluarga Lee?” tanya Min Jae. Donghae mengangguk mantap. Min Jae tersenyum ke arahnya,”Uncle yakin?”

“Tentu, Min Jae.”

“Kalau begitu Mom bukan termasuk keluarga Lee,” ujar Min Jae lugas dan hal itu membuat Donghae menahan nafas,”Apa maksudmu? Tentu saja Oemmamu masih keluarga Lee. Mereka belum bercerai, Min Jae.”

Min Jae menaikan bahunya,”Mom tidak pernah menerima apa-apa dari keluarga Lee. Poor my Mom. Uncle pikir mudah bagi Mom membesarkanku di antara komunis Beijing itu?”

Donghae baru menyadari hal itu, pasangan suami istri itu sudah terpisah cukup lama. Dan dia juga tahu kalau selama ini Sun tidak pernah mau berhubungan sedikit pun dengan suaminya apalagi menerima materi yang sebenarnya masih menjadi haknya. Tentu sangat berat bagi Sun. Walau pun Goo Group sangat kaya, tetap saja hal ini tidak adil mengingat Sun adalah menantu keluarga Lee. Hidangan di depannya tiba-tiba tidak membuatnya berselera, akibatnya dia lebih memilih meneguk soju kembali.

“Uncle, aku ada penawaran. Bagaimana jika saham uncle aku beli separuhnya. Aku tahu Mom pasti tidak mau menerimanya, tapi aku juga keluarga Lee di sini, jadi aku berhak. Bagaimana?”

Donghae berpikir lagi. Memang benar, Min Jae adalah cucu keluarga Lee, suatu saat Lee Corporation jatuh ke tangannya. Jadi kenapa harus memperdagangkan sesuatu yang seharusnya memang menjadi hak Min Jae? Lagi pula sejak pertama aku masa bodoh dengan Lee Corporation. Uang devident yang kuterima tiap tahun sudah cukup memberikan modal untuk mendirikan usaha EO, dan sekarang usaha telah berkembang. Aku sudah tidak memerlukan saham-saham itu lagi.

“Kenapa harus membeli? Tentu saja aku akan memberikan semua sahamku padamu, Min Jae. Semuanya! Lima belas persen dari total saham Lee Corporation,” Donghae akhirnya memutuskan sambil menepuk-nepuk bahu Min Jae. Ponakannya itu tersenyum puas. Donghae mulai menyentuh lagi hidangan di depannya,”Datanglah ke Denareksa besok. Aku akan ‘atas tunjuk’ sahamku padamu.”

Min Jae menggeleng,”Aku masih kecil untuk tanda tangan, dan karena Mom pasti menolak, aku akan menunjuk Grandpa sebagai wali besok.”

“Harabojimu datang besok?”

“No, Grandpa memang sedang ada di Seoul sejak dua hari yang lalu dan dua hari lagi beliau kembali ke New York.”

Donghae manggut-manggut.

“Uncle, aku akan memberitahu Grandpa agar tidak memberitahu Mom, jadi aku harap Uncle juga tidak memberitahu Mom.”

Sekali lagi Donghae mengangguk. Perkataan Min Jae ada benarnya juga, jika Sun tahu, sudah pasti dia bersikeras menolak saham itu. Minjae mengangkat gelas,”Mari kita tos untuk regenerasi keluarga Lee, Uncle.”

Donghae tertawa. Kedua gelas itu akhirnya beradu.

Dan kini Donghae semakin ngakak menyadari kebodohannya terperangkap jebakan Min Jae. Yang selama ini belum diketahuinya adalah Goo Group sudah berubah nama menjadi GMJ’s Corp. Dia semakin memperkeras tertawanya dan itu membuat Hongki jengkel setengah mati,”Dasar bocah licik!”

“Licik! Kau yang licik! Sudah berkhianat masih tertawa ngakak seperti itu,”cerocos Hongki yang merasa ditertawakan.

“Bukan kau yang kumaksud! GR sekali, kau!”

Hongki memicingkan matanya,”Lalu siapa? Di ruangan ini hanya ada kau dan aku.”

Donghae berdiri dari duduknya lalu berkacak pinggang di depan Hongki,”Kau ingin tahu siapa GMJ’s Corp? Ikuti aku!”

Hongki menurut saja saat Donghae membawanya ke suatu tempat. Dia hampir saja tak percaya tempat yang mereka datangi itu adalah Goo Manshion. Dia memang jarang ke mansion ini, tapi masih ingat betul bangunan itu adalah Goo Manshion. Mereka kini sudah ada di ruang tengah manshion itu, menanti pelayan yang masuk ke dalam menyampaikan kedatangan mereka pada tuan rumah.

“Hyung, kenapa kita ke sini? Kau bilang mau menunjukkan GMJ,” Hongki menyenggol lengan Donghae.

“Sssst, lihat saja nanti.”

Pelayan yang ditunggu akhirnya datang juga,”Nyonya akan menerima Tuan-tuan di perpustakaan, mari ikuti saya.”

Kedua pria itu segera membuntuti pelayan menuju perpustakaan. Dan saat pintu perpustakaan terbuka lebar, Hongki benar-benar tidak mempercayai pemandangan di depannya. Di situ Sun berdiri anggun dibalik meja kerjanya dengan kemeja putih berkerah tinggi dan rok pensil hitam yang elegan, terus terang baru kali ini dia mendapati sepupu iparnya itu tampil bak wanita karir yang cemerlang. Saat Sun menyongsong kedatangan mereka dengan ramah dan tangan terbuka, mulut Hongki semakin terbuka lebar.

“Silahkan duduk,” Sun menunjuk ke sofa di ruangan itu. Donghae segera duduk, tapi Hongki masih saja berdiri takjub. Sun tersipu karenanya,”Hongki-ssi, senang bertemu denganmu. Kau pasti capek berdiri terus, bisakah kau duduk agar kita ngobrol dengan santai?”

Hongki tersadar dari kekonyolannya lalu duduk bersebelahan dengan Donghae.

“Noona, maaf jika kehadiran kami mengganggu, tapi apa Noona tahu Min Jae telah menguasai enam puluh lima persen saham Lee Corporation?” Donghae memulai pembicaraan. Sun jadi kaget dengan fakta yang dibeberkannya,”Aku tidak mengerti, mereka sudah kusuruh melepaskan semua saham itu.”

“Hyung, ada apa ini? Siapa Min Jae?” Hongki masih saja lamban berpikir. Donghae mulai kesal,”Kau masih saja tidak mengerti? GMJ! Goo Min Jae! Min Jae alias Lee Min Jae, putra dari Minho-ssi dan Hyesun Noona!”

“Tapi, tapi bagaimana bisa, Hyung? Anak itu lahir tiga belas tahun yang lalu, tidak mungkin dia berpikir masalah bisnis!”

Donghae menenangkan Hongki,”Kapan-kapan aku akan menceritakan padamu tentang Min Jae.” Pandangan Donghae mulai tertuju lagi pada Sun,”Miane, Noona. Aku kagum dengan kecerdasan Min Jae, tapi keluarga Goo rupanya telah membentuk mesin pembalas dendam.”

“Dendam? Anakku bukan pendendam, Donghae-ssi. Kau tidak berhak menuduhnya tanpa bukti.”

“Minjae melakukan semuanya, Noona. Dia menghancurkan kesombongan Min Ho dengan mengobrak-abrik Lee Corporation, lalu dengan curang membuat lengan Min Ho patah untuk memenangkan kompetisi berkuda, dan yang terakhir, mungkin dia juga yang memfitnah abojinya itu hingga terpenjara atas tuduhan pelecehan seksual.”

“Aku tidak sebejat itu!” Min Jae tiba-tiba berteriak sembari memasuki perpustakaan yang luas itu. Suaranya yang keras nyaris menggema di dinding-dinding ruang. Hyesun segera berlari ke arahnya,”Minjae, katakan semua ini tidak benar, Nak! Kau tidak mencelakakan Abojimu, kan?”

Donghae dan Hongki bangkit dari duduknya. Hongki sangat terkejut melihat sosok Min Jae, dia berbisik pada Donghae,”Jadi remaja asing itu?” Donghae mengamini pikiran Hongki. Dia mendekati Ibu dan anak itu. Lalu menepuk pundak Min Jae lembut,”Anak yang cerdik, aku bahkan tertipu olehmu atas nama regenerasi keluarga Lee.”

Min Jae memandang sinis ke arahnya walaupun dia masih memeluk  Sun,”Aku tidak menipumu, tapi aku merayumu.”

Sun melepaskan diri dari pelukan Min Jae,”Jadi semua itu benar? Kau…. Kau memfitnah abojimu? Jawab, Min Jae!” Sun mengguncang-guncang tubuh putranya. Min Jae jadi emosi,”Aku tidak memfitnah! Mungkin tentang saham dan pacuan kuda itu iya, tapi aku tidak memfitnah pria itu melakukan….. melakukan… apa tadi maksudnya?”

Mereka bertiga heran dengan pernyataan Min Jae. Sun mulai menyadari semuanya,”Dia terlalu kecil untuk mengerti istilah itu.”

Donghae mengangguk,”Sepertinya kau harus melakukan penyelidikan lagi pada kasus pelecehan seksual itu, Hongki-ssi. Min Jae mungkin cerdas berbisnis, tapi bagaimana pun dia masih anak kecil hingga tak tahu persoalan itu.”

“Bisa kupastikan Min Jae bukan yang memfitnah,” Sun membelai wajah putranya.

“Araso,” Hongki juga tidak yakin Minjae pelakunya. Sun duduk di sofa lagi, ketiga pria itu melakukan hal yang sama.

“Sekarang Oemma ingin kau membereskan semuanya, Nak. Minta maaf pada Appa-mu dan kembalikan saham Lee Corporation.”

Min Jae bangkit dari duduknya,”Aku tidak akan mengembalikannya. The corporate is mine, Mom! Mine!” Min Jae segera keluar perpustakaan setelah menendang kaki meja. Sun mengelus dada mendapati kelakuan anaknya. Kenapa kau jadi mirip abojimu, Nak?

Sun menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Hari ini dia merasa menjadi ibu yang gagal. Gagal mendidik Min Jae,”Miane, Donghae-ssi, Hongki-ssi, Putraku sangat menyusahkan kalian.”

“Anak itu…. Dia sangat mirip dengan Hyung. Hebat, Noona, satu lagi namja cemerlang lahir di keluarga Lee, sepertinya hanya aku yang bodoh di keluarga Lee,” Hongki masih saja cengengesan menjelek-jelekkan diri.

“Aku akan membereskan tentang Lee Corporation, Donghae-ssi, Hongki-ssi. Kalian bisa percayakan semuanya padaku, semua keputusan GMJ’s corp ada padaku. Min Jae hanyalah otak,” Sun meyakinkan kedua pria itu.

Donghae mengibaskan tangannya,”Itu masalah gampang, Noona. Lagipula Min Jae yang nantinya mewarisi semua itu.” Hongki pun manggut-manggut, dia membenarkan pula pernyataan Donghae.

“Yang sekarang ini musti Noona lakukan adalah menjenguk Minho-ssi di penjara.”

Sun terkesiap mendengar lanjutan omongan Donghae. Wajah Hongki juga tiba-tiba sumringah,”Ne, Noona. Hyung pasti akan senang sekali jika Noona melakukannya. Sebenarnya semenjak Hyung tahu Noona sudah ada di Korea, dia semakin crewet. Aku jadi pusing karena dia menyuruhku mengirimkan tanaman mawar tiga kali sehari ke sini sampai Noona mau menemuinya.”

Sun tertawa mendengar penuturan Hongki. Salah satu tanaman itu dia letakkan di sudut perpustakaan,”Jadi kau yang mengirimkannya, Hongki-ssi?” Sun menunjuk mawar itu. Hongki mengangguk,”Tentu saja atas perintah Hyung.”

Donghae meraih tangan Sun lalu menepuk punggung tangan halus itu,”Apa yang Noona takutkan lagi. Kesombongan Min Ho sudah lenyap. Tangan yang terangkat itu tidak dapat bergerak untuk sementara waktu dan fitnahan juga terbalaskan oleh orang yang belum kita ketahui. Tidak ada yang mengkawatirkan dari Min Ho sekarang.”

“Dia pasti meragukan Min Jae.”

Hongki menggeleng,”Anhi, Noona. Hyung bahkan hadir pada malam setelah anak itu lahir. Dia sudah menyadari kesalahannya. Dia memang selalu bicara ngawur kalau marah, mungkin pada waktu itu Noona tidak tahu karna baru saja mengenalnya.”

“Jinja?” Sun mulai terharu. Aliran bening mulai mengaburkan penglihatannya. Kedua pria di depannya itu mengangguk. Donghae masih saja menepuk-nepuk punggung tangannya,”Kita temui dia sekarang, Noona. Akan lebih baik jika semua beres sekarang juga.”

Hongki mengangguk-angguk sambil tersenyum. Akhirnya mereka bertiga menuju kantor polisi. Min Ho sebenarnya malas menerima tamu tapi saat sipir penjara mengatakan Hongki ada urusan penting yang harus di sampaikan, akhirnya dia mau juga menemui Hongki dan terkejut saat mendapati Donghae juga menjenguknya,”Mau apa kau ke sini?” Donghae hanya tersenyum menjawab pertanyaan sinisnya. Dia menjadi emosi,”Kau berkhianat dengan menjual sahammu pada GMJ.”

Donghae masih saja tersenyum,”Aku tidak menjualnya, tapi aku menyerahkannya demi regenerasi keluarga Lee.” Donghae masih saja meminjam istilah yang diberikan oleh Min Jae. Min Ho mengkerutkan kening karenanya.

“Hyung! Kau ingin tahu GMJ’s Corp, kan? Kau pasti terkejut jika mengetahui pemiliknya. Kalian akan bertemu sekarang,” Hongki berbicara dengan riang, Min Ho semakin tidak mengerti, bagaimana mungkin dia sesenang itu berkenalan dengan musuh?

“Masuklah, Noona,”Donghae memanggil Sun. Yang dipanggil memasuki ruang besuk tahanan itu dengan takut-takut. Min Ho terkejut melihat Sun. Dia tidak menyangka kalau selama ini musuhnya adalah istrinya sendiri.

“Duduklah, Noona,” Hongki si pria ramah itu mempersilahkan Sun bergabung. Sun menduduki kursi yang ditunjuk Hongki, kini Min Ho sudah berada tepat di depannya, memandanginya tanpa berkedip. Donghae senyum dikulum melihat tingkah keduanya,”Bukan dia pelakunya, Minho-ssi!”

“Kau bilang Sun pemilik GMJ’s corp?” Min Ho semakin bingung.

“Miane, Min Ho-ssi. Aku akan membereskan semuanya. Min Jae terlalu nakal, tapi dia pasti akan menyadari kesalahannya,” Sun menjelaskan panjang lebar, tapi Min Ho semakin mengkerutkan dahi,”Siapa Min Jae?”

“Minjae, remaja asing yang mengalahkanmu di kompetisi berkuda, putramu sendiri,” Donghae menerangkan.

“Mwo?”

“Ne, Hyung. Selama ini ternyata bocah cerdas itu yang mengambil alih enam puluh lima persen saham kita dan memasukkannya ke GMJ’s corp. Donghae bahkan tertipu olehnya.”

“Aku tidak tertipu, memang saham itu akhirnya jadi miliknya,” Donghae masih saja membela diri,”Sudah kubilang aku melakukannya atas nama regenerasi keluarga Lee.”

“Dan aku juga bodoh karena tidak memeriksa dulu waktu Min Jae menyodorkan dokumen itu padaku untuk ditandatangani,”Sun menyesali diri.

“Aku tidak mengerti. Dia masih tiga belas tahun kan, Baby?”

“Tiga belas tahun tapi sudah meraih gelar master di bidang bisnis dari Universitas Beijing,” terang Donghae,”Kau dikalahkan oleh putramu sendiri, Min ho-ssi.”

Hongki tertawa mendengar kalimat terakhir Donghae. Min Ho mendelik ke arahnya. Semua wajah di ruangan itu masih tegang, hingga akhirnya Hongki berhenti tertawa menyadari waktu yang tidak tepat.

“Bisa kalian tinggalkan kami sebentar? Mungkin istriku bisa lebih menjelaskan hal ini.”

Hongki dan Donghae mengangguk, lalu bersamaan mereka meninggalkan ruangan itu. Kini tinggallah pasangan suami istri itu. Sun  semakin gugup. Minho memandanginya dengan penuh kerinduan dan hal itu semakin membuat Sun tertunduk. Tangan kiri Min Ho yang tidak terperban meraih pergelangan tangan Sun yang berada di atas meja,”Ternyata banyak hal yang aku lewatkan selama tiga belas tahun ini, Baby.”

Min Ho mencium buku-buku tangan Sun lembut. Sun mulai memandang ke arahnya. Min Ho berdiri, lalu menduduki kursi tepat di samping Sun dan memeluknya,”Aku senang kau kembali, Baby.”

“Aku…. Aku….hanya ingin memperbaiki kesalahan Min Jae.”

Min Ho semakin mempererat pelukannya,”Aku tidak perduli kau masih mengelak. Yang terpenting kau ada di sini sekarang. Anak itu secara tidak langsung menyatukan kita, Baby.”

Sun melepaskan diri dari pelukan Min Ho, “Kau meragukan anak itu, Min Ho-ssi. Kau bilang akan melakukan tes DNA, kau akan menyakitinya jika melakukan itu.”

“Baby….., aku sangat marah waktu itu. Orang bilang aku selalu bicara ngawur saat marah.”

“Aku tidak tahu itu ! Aku bahkan kurang mengenalmu pada waktu itu!” Sun menangis sudah, semua ini begitu menyakitkan baginya. Mendapati dirinya hanya salah paham dan memisahkan diri dari Min Ho membuatnya pilu. Suaminya itu menghela nafas.

Dengan lembut  Min Ho menepuk pundaknya agar lebih tenang lalu meraih tubuhnya lagi dalam pelukan,”Kau tahu, Baby? Di belahan lain dunia ini ada juga orang yang menikah karena dijodohkan. Mereka bahkan belum pernah bertemu sebelum ikrar pernikahan karena sangat percaya pada orang yang menjodohkan, tapi mereka hidup bahagia selamanya. Tapi aku jatuh cinta padamu sebelum perjodohan itu. Kau ingat pesta kebun Yu Jin?”

Masih dalam pelukannya, Sun mengangguk.

“Di situlah aku jatuh cinta padamu. Aku bahkan mengamatimu menggambar di pinggir danau dan kau menyanyikan The green grass of home.”

Sun semakin terisak di pelukan Min Ho.

“Dan saat mendapati bahwa kau lah yang dijodohkan denganku, aku bersumpah tidak akan melepaskanmu. Jadi maafkan jika aku terlalu posesif.”

Sun semakin terharu, tenggorokannya serasa pahit karena tangisan itu semakin menggebu.

“Tapi ada yang kulupakan, Baby. Aku lupa pada hal yang mungkin akan menyakitkanmu. Masa laluku dan sifat aroganku. Miane, Baby. Jeongmal Miane,” kini giliran Minho yang menangis.

“Aku mencari kalian tiga belas tahun ini. Selama tiga belas tahun mengukungkan diri dalam pekerjaan, aku marah pada diriku sendiri, kenapa aku yang bodoh ini bisa mencelakakan kalian, membuatmu depresi dan hampir kehilangan anak kita.”

“Cukup, Min Ho-ssi! Aku mohon cukup!”

“Aku harus mengatakan semuanya, Baby. Aku sangat nerindukan kalian,” Min Ho melepaskan pelukannya lalu mengangkat wajah Sun hingga pandangan matanya sejajar bola mata Sun,”Berjanjilah kau tidak akan pergi lagi dariku. Lakukan apa saja untuk menghukumku asal kau tidak pergi dariku.”

Sun mengangguk. Min Ho tersenyum lega karenanya, sesaat mereka berpelukan lagi. Kesyahduan di antara keduanya menghiasi suasana ruangan itu.

(Whoa…. Aku benar-benar nangis Bombay di part ini. Miane aku gak bisa mikir lagi. bengek dulu, ya….)

TBC part 8

DINASTI LEE II (Part 6)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 6

Song of the part:

It must have been love

By. Roxette

Lay a whisper on my pillow
Leave the winter on the ground
I wake up lonely, is there a silence
In the bedroom and all around

Touch me now, I close my eyes
And dream away…

It must have been love, but it’s over now
It must have been good, but I lost it somehow
It must have been love, but it’s over now
From the moment we touched till the time had run out

Make believing we’re together
That I’m sheltered by your heart
But in and outside I turn to water
Like a teardrop in your palm

And it’s a hard winter’s day
I dream away…

It must have been love, but it’s over now
It was all that I wanted, now I’m living without
It must have been love, but it’s over now
It’s where the water flows, it’s where the wind blows

It must have been love, but it’s over now
It must have been good, but I lost it somehow
It must have been love, but it’s over now
From the moment we touched till the time had run out

Suasana arena pacuan kuda begitu ramai, sangat kontras dari hari-hari biasanya. Para penonton mulai memadati tribun-tribun, dan seperti biasa, penonton dari kalangan terhormat di kota itu selalu mendapatkan tempat di balkon kehormatan. Para peserta juga sudah mempersiapkan diri di garis star, Min Jae yang telah diolok-olok ternyata masih nekat juga bertanding di kelas senior. Peserta yang lain cuma tersenyum saja ke arahnya, termasuk Min Ho yang memandangnya sambil geleng-geleng kepala.

Min Jae tetap cuek akan semua itu. Pandangan matanya lurus ke depan, tetapi sepertinya dia memperhatikan sesuatu pada jalur yang akan dilewatinya, dan tiba-tiba dia teringat akan perkataan Mom-nya,” Abojimu adalah penunggang kuda yang hebat, Oemma melihat aksinya dua jam setelah kami menikah, di tikungan dia menyenggol kuda Hongki ajushi pada waktu itu, tapi aboji bisa mengatasinya dan berhasil sebagai pemenang.”

“Tikungan….,” Min Jae mulai melengkungkan sudut  bibirnya. Sesaat dia melirik Min Ho yang mulai focus dengan jalur di depannya.

Bunyi pistol terdengar, dan diikuti suara derap dari kuda-kuda yang berlari kemudian. Mereka mempercepat laju kuda masing-masing, saling susul menyusul. Suara aba-aba dan cambukan stik terkadang menyelingi. Min Ho masih berada di urutan dua, sementara Bumie berada di depannya. Di belakangnya adalah Min Jae dan Min Ho semakin mempercepat laju kuda yang ditumpanginya. Dalam waktu satu menit posisi berbalik. Min Ho di posisi pertama, disusul oleh Min Jae lalu Bumie.

Min Jae sepertinya sengaja terus mengekor Min Ho. Dan saat kuda keduanya sudah sampai di tikungan, seperti biasa Min Ho agak oleng disitu. Min Jae tiba-tiba menyenggol kuda Min Ho dengan kakinya. Senggolan yang cukup keras hingga kuda Min Ho terjerembab keluar  arena dan melemparkan pengemudinya dalam jarak yang cukup jauh, sedangkan Min Jae terus saja melaju dan dengan mulusnya mencapai garis finish untuk memenangkan kompetisi.

Malang bagi Min Ho, tubuhnya membentur dinding di samping kanan arena, lalu jatuh bergulingan di tanah dengan posisi tangan kanan di bawah, “Arkh!” Min Ho agak kesakitan saat berusaha berdiri, punggungnya serasa sakit semua dan lengan kanannya terasa amat nyeri. Tim medis segera menanganinya, dia masih beruntung karena tidak mengalami cedera tulang belakang mau pun leher. Keadaan yang paling parah hanyalah lengan kanannya yang agak retak karena benturan keras itu. Sesaat ambulan mengangkutnya ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

“Yuhuu!” Min Jae yang memenangkan perlombaan itu bersorak kegirangan. Tahun ini dialah pemenangnya dan Min Ho, juara bertahan dua puluh tahun berturut-turut itu sudah dia kalahkan. Dengan congkak dia menerima medali itu. Medali tahunan jatuh ke tangannya dan medali bergilir itu tahun ini berpindah dari Min Ho ke Min Jae. Bumie dan Donghae yang menempati urutan kedua dan ketiga tidak berlama-lama di tribun kemenangan, mereka segera menyusul Hongki untuk mencari tahu keadaan Min Ho.

——– > * < ———

“Ini file-file yang anda minta, Nyonya,” sekretaris itu tampak menyerahkan setumpuk kertas kepada Sun. Sun menerima semua itu dengan menyunggingkan senyum,”Apa ada yang penting, Nona Lau?”

“Young’s Group tertarik berpartner dengan kita, Nyonya,” ujar sekretaris itu. Sun mulai berpikir keras,”Young’s Group? Bukankah selama ini mereka berpartner dengan Lee Corporation?”

Sekretaris itu mengangguk,”Benar, Nyonya. Tapi sepetinya mereka sudah memutuskan kerjasama dengan Lee Corporation, sebab-musababnya apa, saya kurang tahu.”

“Hm…, sangat menarik, tapi kita harus hati-hati, memang GMJ’s corp sudah punya landasan kuat di New York, tapi di sini kita masih pemain baru, selidiki dulu tentang Young’s group, terutama tentang penyebab putusnya kontrak dengan Lee Corporation. Mereka mengajukan kerja sama di proyek yang mana?”

“Proyek jalan layang yang baru saja kita menangkan, Nyonya,” jawab Nona Lau. Sun tersenyum. Hal itu sudah diprediksinya. Dia mulai ingat dengan Young’s group. Mereka cukup lama bekerja sama dengan Min Ho di beberapa proyek pengembangan daerah, tapi selalu kacau karena selalu saja ada yang dikorupsi oleh pihak Young’s group, tapi kabar tentang memutuskan partner itu juga masih simpang siur. Yang benar diputuskan atau memutuskan?

“Lakukan saja penyelidikan itu, Nona Lau,” perintah Sun. Nona Lau segera meninggalkan ruangan dan Sun mulai serius dengan file-file di atas mejanya. Pintu ruangan diketuk tiba-tiba.

“Masuk!” perintah Sun. Seorang Pelayan yang memasuki ruangan itu segera membungkukkan badannya,”Nyonya Lee Je Ha menunggu anda di taman belakang, Nyonya.”

“Oh, gomawo. Saya akan menemuinya. Tolong sajikan teh hijau untuk kami karena beliau sangat menyukai teh hijau.”

Pelayan itu membungkuk tanda mengerti dan Sun segera menemui Je Ha di taman belakang. Di situ tampak Je Ha sedang mengamati para pekerja yang memindahkan empat tanaman mawar kiriman Min Ho dari pot ke tanah lepas. Sun memeluk Je Ha dari belakang, hingga Je Ha yang tidak menyadari kehadirannya agak kaget.

“Bogosipho,Oema…”

“Bogosiphoyo,” Je Ha menepuk-nepuk lengan Sun yang melingkar di lehernya.

“Maaf, Nyonya. Mawar ini datang lagi tadi,” kata salah satu tukang kebun di situ, jadi sekarang Min Ho sudah total mengirim lima tanaman mawar dalam pot dari kemaren. Sun agak terkejut mendapati hal itu, kalau nanti sore datang mawar yang keenam bisa-bisa dia membuka usaha florist khusus mawar.”Apakah mawar yang ini juga perlu dipindahkan, Nyonya,” tanya tukang kebun itu lagi.

“Ne…, pindahkan saja semuanya!” perintah Sun. Je Ha berdecak kagum, “Kiriman siapa itu, Sun? dari penggemarmu, kah?”

“B…Bo?” Sun tergagap mendengar pertanyaan Je Ha. Tidak mungkin dia menjawab kalau mawar itu dari Min Ho. Je Ha pasti akan memaksanya untuk menemui Min Ho. Dia sedang tidak ingin membicarakan Min Ho sekarang,”Ehmmm, bukan, Oemma. Mawar ini dari penggemarnya Min Jae,” wajah Sun memerah dengan kebohongan konyolnya, “Iya benar, penggemar Min Jae.”

Je Ha tertawa memandang wajah gugup Sun,”Anak itu sudah punya penggemar rupanya, tapi jika dilihat dari tampang gantengnya, cukup wajar jika dia punya penggemar.”

Sun terkekeh.”Kita duduk, Oemma,” Sun mempersilakan Je Ha untuk duduk di bangku taman itu. Sejenak pelayan menyuguhkan teh hijau di meja mereka dan Je Ha masih mengamati kesibukan para tukang kebun,”Kenapa hanya Min Jae yang datang ke Lee Mansion?”

“Mwo?” Sun terkejut mendengar ucapan Je Ha. “Min Jae mendatangi Lee Manshion?”

“Ne,” Je Ha meraih secangkir teh hijau yang sudah dituangkan oleh pelayan itu lalu mereguknya perlahan, ”Dia juga bertemu Min Ho disana.”

“Apa… Apa Min Ho tahu siapa Min Jae, Oemma?” dengan gugup Sun bertanya. Je Ha menggeleng,”Oemma berbohong padanya dengan mengatakan kalau Min Jae adalah cucu sahabat Oemma. Sebenarnya Oemma tidak bohong sekali, sih…. Bukankah Min Jae adalah cucu Yue Yi? Dan Yue yi adalah sahabatku.”

Sun mulai mengingat lagi kejadian di galeri. Mungkin inilah jawabannya kenapa Min Jae bisa ngobrol dengan Min Ho waktu itu. Ponsel Je Ha tiba-tiba berbunyi, sesaat dia menerima panggilan itu dan wajahnya mulai tampak panik,”Baik, aku akan ke sana sekarang!” kalimat itu Je Ha ucapkan untuk mengakiri percakapan di telephon.

“Ada apa, Oemma?”

“Min Ho mengalami kecelakaan di pacuan kuda. Mereka bilang lengan kanannya agak retak. Huh! Anak itu, sudah kubilang untuk berhenti berkuda, masih nekat saja.”

Mata Sun terbelalak mendengar penjelasan Je Ha, tangan itu? Tangan yang terangkat itu retak?

“Kau ikut Oemma, kan, Sun?” tanya Je Ha.

“Mwo?” mata Sun semakin melebar saja.

“Ikut Oemma melihat keadaan Min Ho?” tanya Je Ha sekali lagi.

Sun menggeleng. Je Ha menghela nafas,”Perlu waktu berapa lama lagi, Sun?”

Sun menunduk,”Mianhamnida, Oemma.”

“Baiklah, kapan pun kau siap, datanglah, Sun ! Biar bagaimana pun kalian masih suami istri, jangan kau pungkiri itu.”

Sun mengangguk.

“Oke, Oemma pergi sekarang,” Je Ha meninggalkan taman itu dihantarkan oleh Sun.

Sun melambaikan tangannya saat mobil keluarga Lee bergerak meninggalkan manshionnya. Dan kini gantian mobil yang ditumpangi Min Jae terparkir di depannya. Min jae yang keluar dari mobil itu segera memeluknya.

”See, Mom. I got the medallion!” Min Jae memamerkan kemenangannya pada Sun. Sun memperhatikan medali-medali itu, terutama yang medali bergilir, dia yakin medali itu yang diterimanya dari Min Ho tiga belas tahun yang lalu. Sementara Sun masih terpaku, Min Jae sudah mulai memasuki manshion. Sun segera mengejar putranya yang akan menaiki tangga menuju lantai atas,”Apa kau memenangkan pacuan kuda kelas senior?” tanya Sun.

“Yes, Mom. Why?” Min Jae menjawab sambil menghentikan langkahnya. Sun menggeleng. Dia sebenarnya ingin bertanya apakah Min Jae bertemu Min Ho di sana, tapi dia bingung mau memulai dari mana.

“Was everything oke when I went, Mom?” tanya Min jae. Sun tersenyum lalu mengangguk,”Kau tidak makan siang?”

Min Jae menggeleng,”No, I’m so tired now. I will go to bed.”

Min jae segera menaiki tangga yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai dua. Sun kembali lagi ke ruang kerjanya. File-file itu sudah tidak menarik perhatiannya lagi karena pikirannya kini tertuju pada Min Ho. Dalam hati dia mengkawatirkan keadaan suaminya itu. Bunga-bunga mawar itu ternyata mulai melelehkan hatinya. Lengan kanan Min Ho retak? Dia mulai mengingat tangan kanan itu yang selama ini menjadi momok baginya. Seharusnya dia merasa lega mendengarnya, tapi ternyata yang dirasakan adalah sebaliknya.

Saat Sun dan Min Jae makan malam pun, Sun seperti tidak fokus dengan hidangan di depannya. Alhasil  sup asparagus kesukaannya hampir tak tersentuh. Dia lebih banyak bengong, bahkan Min jae yang sedari tadi ngoceh tentang pacuan kuda hanya ditanggapi dengan jawaban yang pendek-pendek.

“Mom, are you listenting to me?” Min Jae yang merasa terabaikan mulai protes, dan hal ini membuat Sun kaget, “Ne, Min Jae.”

Min Jae mendengus kesal,”I’ll go to my room now.”

Sun tersenyum menghantar kepergian Min Jae.

Malam semakin larut saja dan mata Sun tidak juga terpejam. Tubuhnya hanya bergerak gelisah di atas tempat tidur. Tiga jam yang lalu Je Ha mengabarkan bahwa Min Ho harus rawat inap di Seoul Hospital, sementara tanaman mawar keenam yang tiba sore tadi terpampang indah di sudut kamarnya hingga dia mampu melihatnya dari tempat berbaring. Apakah aku memang merindukanmu, Min Ho-ssi? Baru sekarang aku sadar ternyata tiga belas tahun sangatlah lama.

Sun bangkit. Sesaat dia berganti pakaian, merapikan dandanannya lalu meraih tas dan kunci mobilnya. Sesaat mobil itu merayapi jalan raya Seoul. Semua sudah diputuskannya, dia hanya ingin melihat keadaan Min Ho, dan dia yakin Min Ho pasti sudah tidur sekarang karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.

Benar juga, saat Sun sampai di kamar Min Ho di Seoul Hospital, Min Ho tampak sudah terlelap. Lengan kanan  Min Ho terperban menyampir aman dengan gendongan di dadanya. Sun mendekat ke Min Ho yang terbaring. Diamatinya wajah terlelap itu hingga dia mulai menyadari betapa sangat dirindukannya wajah itu. Dulu dia sering menyentuh wajah itu, dan keinginan itu mulai ada lagi sekarang, perlahan tangan kanannya terulur dan dengan jari telunjuknya dia mulai menelusuri wajah Min Ho, mulai dari dahi, mata, hidung hingga perlahan turun ke dagu.

Sun terkejut saat tiba-tiba tangan kiri Min Ho menangkap gerakan tangannya di atas wajah itu. Min Ho membuka matanya lebar-lebar,”Aku tahu ini kau, Baby. Aroma mawar ini sangat kurindukan.”

Sun terkejut saat tangan kiri Min Ho mengunci lehernya hingga kepala mereka lebih mendekat, lalu Min Ho mencium bibirnya. Mula-mula hanya ciuman lembut, tapi lama-lama ciuman itu semakin menuntut. Mata Sun membelalak mendapati hal itu. Terlambat, lidah panas itu sudah terjulur. Min Ho sangat ingin melepaskan semua kerinduannya malam ini. Min Ho bahkan tidak perduli ponsel Sun tiba-tiba berteriak-teriak minta diangkat, dan dari nada dering yang terdengar, Sun tahu kalau Min Jae yang menelpon.

Sun semakin meronta karenanya, tapi Min Ho tak menggubris. Min Ho bahkan mengacuhkan nafas Sun yang semakin tersenggal. Baginya itu adalah music yang sangat indah malam ini, sementara ponsel itu masih saja berbunyi. Sun yang mulai kesal mencengkram lengan kanan Min Ho yang terperban. Min Ho kesakitan dan akhirnya melepaskan ciuman itu.

Sun mengatur nafas sembari mengelap bibir. Air mata mulai menjalar di pipi saat dia mengangkat ponsel.

“Mom! Where are you? There is email from New York!” Min Jae terdengar kesal di telepon, dan Sun pun hendak meninggalkan kamar Min Ho. Langkahnya terhenti saat tangan kiri Min Ho menahannya. Dia menoleh,”Miane, Min Ho-ssi. Aku harus pergi.”

“Baby….,” Min Ho masih saja memanggil saat tubuh mungil itu sudah berada di ambang pintu,”Aku mohon jangan pergi.”

Sun tidak perduli. Dia semakin keluar dari ruangan itu. Dia tidak lagi mengenali perasaan sendiri. Kenapa aku masih mencintainya? Kenapa? Dia masih saja menangisi kenyataan itu saat mobilnya sudah melaju kembali ke Goo Mansion. Sementara Min Ho di dalam kamar masih sangat pilu, dipandanginya pintu yang masih terbuka lebar itu. Miane, Baby. Miane…. Jeongmal Miane….. Jeongmal…..

TBC PART 7

Man is Equal in God’s Eyes

Man is equal in God’s eyes

(Cerita ini hanya fiktif belaka, tapi juga terinspirasi ma kisah perjodohan konyol)

Ruangan keluarga di Goo Manshion mulai riuh dengan tetamu yang sengaja diundang di pesta pernikahan seorang cucu dari keluarga Goo,  Kim Joon. Tentu kalian bertanya bagaimana seorang Kim Joon yang nyata-nyata bermarga Kim bisa menjadi cucu keluarga Goo. Tentu saja karena dia menyandang marga sang Ayah. Tiga puluh  tahun yang lalu putri dari keluarga Goo dijodohkan dengan putra keluarga Kim. Dari perkawinan itu lahirlah dua anak yang tampan dan cantik Kim Joon dan Kim Min Ji. Dan sejarah berulang, seperti tradisi keluarga-keluarga terhormat lainnya cucu-cucu keluarga Goo dan Kim itu harus melakukan pernikahan yang diatur. Hari ini Kim Joon harus menikahi Sandara Park dan mungkin sebulan lagi akan ada pernikahan Kim Min Ji dengan putra dari keluarga Lee, Lee Min Ho. (NGarang. Com)

Wajah sumringah Mr. Goo selalu tampak di pesta itu tapi tak bisa ditutupinya kalau dari gerak tubuhnya yang berkali-kali melirik arloji itu, terlihat kalau dia sedang menunggu seseorang. Seorang yang akan tiba dari negeri yang jauh, yang selama ini selalu dia rindukan. Pria tua ini selalu mengucap syukur beribu-ribu kali pada sang pencipta karena masih diijinkan bertemu dengan orang itu setelah pencarian panjang selama empat belas tahun. Mereka terpisah karena keegoisannya dan sang putra. Keduanya sama-sama tak mau mengalah. Sebuah konflik yang dimulai dari perjodohan. Mr. Goo masih ingat betul putra satu-satunya begitu menentang perjodohan itu karena terlalu mencintai kekasihnya. Sejoli yang tengah dimabuk cinta itu melarikan diri. Penyesalan selalu datang terlambat, terlebih saat sang putra kembali dalam keadaan tak bernyawa bahkan menantu yang kabarnya tengah mengandung hilang entah kemana.

Mr. Goo menghela nafas, semuanya telah berlalu. Cucunya telah dia temukan lima belas tahun yang lalu. Seorang gadis remaja berusia tiga belas tahun yang terpaksa tinggal sementara di panti asuhan, begitu rapuh dan terpuruk dengan wajah pucat meratapi kematian ibunya. Mr. Goo memeluk erat gadis itu lima belas tahun yang lalu. Pencarian itu berakhir sudah. Sang cucu yang kini sedang ditunggunya di pesta pernikahan itu sudah dia temukan, Goo Hye Sun.

“Tahukah kau kalau aku harabojimu?” kata Mr. Goo lima belas tahun yang lalu. Mata rabun dekatnya menatap lembut gadis ringkih. Sang cucu pun menangis di dadanya, tak menyangka dibalik sebatang karanya hidup, dia masih punya seorang kakek.

“Tunjukkan pada haraboji makam Ibumu, Hye Sun-a,” perintahnya.

Kakek dan cucu  itu pun menuju makam yang dimaksud demi menatap gundukan tanah yang masih terlihat merah. Sang menantu meninggal seminggu yang lalu, paru-paru basah dan hanya tatapan nanar yang bisa mereka berikan kini. Sang penyakit terlalu terlambat untuk diatasi.

Dengan kebahagiaan yang meluap, Mr. Goo membawa Hye Sun ke rumah besarnya. Cucu gadisnya itu memandang sekeliling dan dia dengan penuh kebanggaan memberikan tur singkat bagi Hye Sun di rumah itu. Mulutnya terus nyerocos tentang rumah itu, kehidupannya selama tiga belas tahun terakhir yang dihiasi dengan pencarian panjang dan penyesalan akibat keegoissannya. Dia tidak tahu jika sang cucu bertambah perih mendengar semua itu, hingga saat dia memutuskan menggelar pesta penyambutan besar-besaran , gadis itu berkata tegas,”Haraboji, aku ingin keluar dari Korea.”

Demi tuhan, itu adalah pertama kalinya Mr. Goo mendengar suara lantang Hye Sun. Dia ingat betul itu, hari itu seminggu sebelum keberangkatan Hye Sun ke Kanada. Tentu saja  dia menolak keras saat itu,”Tidakkah kau tahu harabojimu ini sangat merindukanmu, Hye Sun-a.”

Hye Sun mulai menangis, suara frustasinya segera memenuhi perpustakaan Goo Manshion, “Anyi, Aku tidak mau di sini. Aku benci Korea!!!” Mr. Goo terkejut dengan histeria itu, bahu gadis itu yang bergerak turun naik seiring sedu sedannya. Otak tua Mr. Goo selalu menerka-nerka hal yang telah menimpa cucunya ini tapi sepertinya Hye Sun ingin berahasia.

Kanada, negeri yang dipilih Mr. Goo untuk Hye Sun. Masa remaja Hye Sun dihabiskan di sana. Lima belas tahun bukanlah waktu yang singkat dan Mr. Goo benar-benar tak habis pikir saat Hye Sun tiba-tiba memutuskan untuk merubah warga kenegaraannya menjadi warga negara Kanada lima tahun yang lalu.

“Melamun, Haraboji?” Tepukan Min Ho di pundaknya membuat Mr. Goo sedikit tersentak. Dia hanya bisa menyunggingkan senyum tipis pada pemuda di depannya itu. Kekaguman terpancar di matanya yang ditujukan pada Min Ho. Anak lelaki keluarga Lee ini sungguh berbakti. Demi membahagiakan Ibunya, Min Ho ikhlas menerima perjodohannya dengan Min Ji .

Sekali lagi Mr. Goo melirik arlojinya. Min Ho mengamati dengan dahi berkernyit,”Anda menunggu seseorang?”

Mr. Goo mengangguk,”Cucu perempuanku. Dia janji akan pulang hari ini.”

Min Ho tersenyum mendengar pengakuan Mr. Goo. Siapa yang tidak kenal Goo Hye Sun. Wanita yang berhasil meraih gelar doktor di usia dua puluh tujuh tahun itu. Wanita yang selalu menjadi bulan-bulanan di Korea karena tulisan-tulisannya yang terlalu berani mengkritik Korea.

“Sebuah pernikahan di Korea belum tentu terjadi karena cinta. Orang tua di Korea masih terlalu ikut campur dengan kehidupan anaknya hingga merasa berhak memutuskan jodoh bagi anaknya,” tulis Hye Sun di salah satu jurnal Ilmiah. Hye Sun memang mengambil jurusan Ilmu Budaya.

“Saat kau melihat film perang buatan Korea Selatan. Hal yang bisa kau tangkap adalah sebuah kisah yang heroik, tapi ironisnya, saat Korea Utara melancarkan serangannya, Korea Selatan berlindung pada Obama Oppa atas nama demokrasi,” tulisan Hye Sun ini sempat gempar beberapa bulan yang lalu. Jika saja kewarganegaraannya masih Korea, sudah pasti pemerintah menciduk dan menuduhnya dedengkot  komunis. Kalimat itu memang penuh kesinisan dan sarkatis, tapi Hye Sun tetap tak tersentuh. Dia adalah warga dari negara yang benar-benar demokrat, yang menghormati hak berpendapat.

Min Ho sangat geli mengingat semua itu. Sebenarnya dia tak ambil pusing bahkan tak mengenal Hye Sun tapi karena teman-temannya yang terus membicarakan tulisan-tulisannya mau tak mau Min Ho ikut mendengar walau kadang sambil tidur-tiduran ayam.

Tadi Mr. Goo yang melamun dan kini Min Ho juga, pesta ini benar-benar muram. Terutama bagi Min Ho, tak bisa dipungkiri bahwa salah satu tulisan Hye Sun di jurnal itu terjadi pada dirinya. Apakah dia mencintai Min Ji? Jawabannya masih samar. Yang bisa dia lakukan hanyalah menjalani, cinta bisa datang kapan saja. Yang penting bisa membahagiakan sang Ibu.

Mrs. Lee memang terlihat bahagia di pesta ini. Dia menghampiri Mr. Goo, memamerkan sederet rencana untuk pernikahan Min Ho dan Min Ji tanpa perduli pria tua itu mendengarkan dengan segan. Semuanya dia jabarkan, gaun pengantin, katering, tata ruang, semuanya. Saat Mr. Goo melongokkan kembali kepalanya ke arloji itulah, Mrs. Lee baru berkata,”Anda menunggu seseorang?”

“Ne, cucuku!” jawab Mr. Goo.

“Cucu anda pulang dari Kanada?”

Sekali lagi Mr. Goo mengangguk,”Khusus untuk pernikahan Joon,” ujarnya sambil mengamati pasangan yang tengah berbahagia saat ini, Kim Joon dan Sandara.

“Saya jadi ingin berkenalan dengannya. Aku rasa Min Ho juga begitu. Iya, kan, Min Ho-a?” tanya Mrs. Lee sambil menyorongkan kepala pada putranya meminta dukungan. Min Ho mengangguk,”Tentu, siapa yang tidak ingin berkenalan dengan Goo Hye Sun.”

Mr. Goo tertawa bijak. Hatinya semakin bangga pada sang cucu yang tak jua muncul-muncul itu. “Tahun ini dia mengejar gelar profesornya,” kabar dari Mr. Goo yang membuat ibu dan anak itu semakin berdecak kagum.

“Ckckckckck, belum puas juga cucumu itu, Tuan Goo,” decak Mrs. Lee sambil menggeleng-gelangkan kepalanya.

“Sepertinya begitu.”

“Apakah anda tidak merasa sudah waktunya dia memikirkan pernikahan. Bayangkan, jika nanti Min Ho dan Min Ji menikah, tinggal Hye Sun cucu anda yang belum menikah,” saran Mrs. Lee.

“Hye Sun terlalu bebas. Kau tentu masih ingat salah satu tulisannya, bukan?”

Mereka bertiga pun tertawa, menyadari bahwa tengah membicarakan seseorang yang tidak pernah mau hidupnya ditentukan orang lain. Hingga terdengar suara Kim Joon yang berteriak senang,”My princess!” dan ketiganya melihat ke arah kim Joon yang kini tengah memeluk seorang gadis.

Gadis itu tersenyum  riang di pelukan Kim Joon. “Chukae, Oppa!” serunya. Mr. Goo hafal betul suara cempreng itu. “Sepertinya yang kita tunggu-tunggu sudah datang, Nyonya,” gumam lelaki tua itu tapi masih tertangkap telinga Mrs. Lee sehingga mereka bertiga berjalan menuju gadis itu.

“Hye Sun-a,” panggilan Mr. Goo tersambut dengan pelukan hangat. Kakek dan cucu itu tertawa sambil melepaskan rindu. Berturut-turut saudara-saudara Hye Sun memberikan pelukan sambutan. Mereka sungguh bahagia. Terlalu bahagia bahkan tak menyadari kalau gadis ini ‘saltum’ alias salah kostum. Pakaian ala bersafari di afrika yang dia kenakan. Mungkin dia terburu-buru, sehingga dari bandara langsung ke pesta tanpa berganti baju. Setidaknya itu yang Min Ho pikirkan. Min Ho agak samar melihat wajah Hye Sun yang tertutup topi pendora dan kaca mata hitam.

“Hye Sun-a, kenalkan, ini  Nyonya  Lee dan putranya.” Mr. Goo memperkenalkan Hye Sun pada Min Ho dan ibunya. Merasa kurang sopan, Hye Sun mencopot topi dan kaca matanya. Ibu dan anak di depannya seketika mati kutu. Kepanikan melanda, terutama Mrs. Lee yang segera menampakkan muka pucat dan keringat dingin di kening. Sementara angan keduanya melayang pada kejadian lima belas tahun silam, yang mungkin masih diingat oleh Hye Sun…..

 0oooOOOooo0

Hal yang akan dilakukan oleh seorang Goo Hye Sun pada hari kedua kepulangannya di Korea adalah memenuhi undangan perguruan tinggi setempat untuk menjadi dosen tamu. Tentu saja Mr. Goo memerintahkan sopir untuk mengantar yang segera ditolak mentah-mentah olehnya. “Hye Sun pilih naik bus saja, Haraboji.”

Mr. Goo menyipitkan mata mendengarnya namun itu tak menyurutkan niatnya. Gadis mungil itu berjalan menuju halte bis setelah melalui areal luas Goo Manshion. Berlari-lari ke arah selter untuk menghindari hujan yang turun tiba-tiba. Menanyakan pada petugas tentang jalur bis yang harus dia tumpangi sambil melakukan transaksi pembelian tiket dan akhirnya duduk manis di ruang tunggu.

Suasana hujan itu mengingatkan pada masa kecilnya. Saat dia dan seorang anak laki-laki bermain hujan-hujanan. Tingkah polosnya waktu itu pun masih dia ingat. Anak lelaki itu menolak bermain sebelumnya. Takut kena marah omanya dan lebih memilih menunggu hujan reda di emperan sekolah tapi kejahilan seorang Goo Hye Sun yang menarik tangannya membuat anak lelaki itu akhirnya terjun di tengah derasnya air yang tertumpah dari langit.

“Ayo, Dongsaeng! Nikmatilah hujan ini! Yuhuu !” teriak Hye Sun histeris. Anak laki yang disebut dongsaeng itu akhirnya tertawa-tawa menikmati sensasi liar itu. Meloncat-loncat bersama, menciptakan cipratan-cipratan abstrak air hujan yang tergenang di kaki mereka.

Saat hujan berhenti. Pelangi melengkung indah di langit. Keduanya kini berdiri dalam keadaan basah kuyub, menatap jalur warna di angkasa itu. Hye Sun merangkul anak itu sementara tangannya yang bebas menunjuk ke atas. “Mejikuhibiniun,” gumamnya.

“Mwo?” anak lelaki itu memandangnya cengo. Hye Sun terkikik pelan, mungkin pelajaran Min Ho belum sampai sini, pikirnya kemudian.

“Urutan warna pelangi itu adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Disingkat mejikuhibiniun,” terang Hye Sun. Min Ho mengangguk-angguk tanda mengerti. Hye Sun mempererat rangkulannya sambil tertawa senang.

Bis dengan jalur yang harus ditumpangi Hye Sun tiba. Lamunan Hye Sun terhenti sementara untuk berkonsentrasi memasuki bis. Selter pemberhentian itu dibuat lebih tinggi beberapa centimeter dari tanah dan jika tidak hati-hati saat melangkah, jangan kaget jika kau terjerembab.

Rupanya hujan agak menyusutkan niat orang-orang untuk keluar rumah. Namun jangan salahkan undangan dari pihak perguruan tinggi itu yang memilih jam lenggang untuk kuliah tamu. Alhasil dengan mudahnya Hye Sun mendapatkan tempat duduk di dalam bis. Dan seperti halnya yang dilakukan orang jika naik bis sendirian adalah mengamati pemndangan yang terpampang dari kaca jendela. Tangan Hye Sun mengusap kaca jendela yang agak buram karena embun itu. Pemandangan luar kini jelaslah sudah. Pemandangan Seoul yang sudah banyak berubah daripada lima belas tahun yang lalu.

Hye Sun menghela nafas. Tangan yang dipakai untuk mengusap kaca jendela itu diusapkannya pada tisu. Tangan yang sudah banyak menghasilkan tulisan ilmiah yang berharga walau kadang menimbulkan kontroversi, setidaknya dengan tulisan-tulisan itu dia bisa mencapai posisinya yang sekarang. Tak ada yang mengira bahwa tangan yang sama itu bekerja begitu keras sewaktu kecil. Almarhumah ibunya adalah pelayan keluarga Lee. Keluarga itu mempunyai anak laki-laki yang berusia lebih muda dua tahun darinya. Tugas Hye Sun waktu itu adalah sebagai kakak pengasuh bagi anak itu.

Tugas yang mudah baginya, tapi tugas yang diberikan pada Ibunya sangatlah berat. Apalah yang bisa didapat oleh seorang imigran gelap yang menjadi pelayan rumah tangga di negeri orang. Mereka berdua sudah cukup bersyukur keluarga Lee masih mau memberi perlindungan, makan dan biaya sekolah bagi Hye Sun. Ya, hanya itu gaji yang didapat Almarhumah Ibunya saat bekerja di Lee Manshion.

Kadang Hye Sun menertawakan nasibnya yang bagai permainan di biduk catur. Bagaimana bisa ayahnya yang merupakan putra dari Keluarga terpandang Goo itu jatuh cinta pada Ibunya yang seorang pelarian dari Korea utara? Bagaimana bisa mereka akhirnya memutuskan kawin lari demi menghindari perjodohan konyol yang diatr Mr. Goo? Dan sang Ayah meninggal karena tidak tahan hidup miskin dan mereka berdua berakhir sebagai ibu dan anak pelayan di Lee Manshion.

Hye Sun mengamati tangan mungilnya.  Masih cukup halus walau kerjanya semakin keras akhir-akhir ini. Dia teringat saat tangan itu membuka sebuah surat yang tersampul amplop merah jambu. Dia berusia tiga belas tahun saat itu dan masih berstatus sebagai anak pelayan di Lee Manshion. Kikikan kecil terdengar dari mulutnya kemudian, tapi saat dibacanya tulisan di kertas berbentuk hati itu, perasaannya begitu melayang. Anak laki-laki yang selama ini dipanggil dongsaeng menaruh hati padanya dan ini adalah surat untuk kesekian kalinya dengan kalimat penutup, “Saranghe.”

Tangan Hye Sun mengepal tiba-tiba. Dia juga ingat apa yang terjadi seminggu kemudian, Mrs. Lee yang murka menyeretnya ke depan ibunya. Memaki-maki dengan kata-kata yang tak pantas diucap oleh wanita terhormat. Hye Sun menangis keras, sang Ibu merintih pilu. NYonya besar itu mengobrak-abrik isi lemari mereka. Dan saat menyembul tumpukkan surat merah jambu itu, Mrs. Lee merobek-robek  kesetanan.

“Dasar komunis sialan! Dikasih hati malah minta jantung! Sudah dikasih perlindungan dan makan, kini kau sodorkan anak harammu itu untuk menggoda anakku. Jangan mimpi!” umpat Mrs. Lee waktu itu.

Komunis? Keluarga Sang Ibu melarikan diri dari utara karena memberontak dan menghindari paham komunis. Anak haram? Orangtuanya menikah di catatan sipil walau tanpa restu. Tangan Hye Sun semakin mengepal. Bis yang dia tumpangi masih membelah hujan yang semakin deras. Keluarga Lee mengusir mereka hari itu. Min Ho meronta-ronta dibawah genggaman pengawalnya. Keangkuhan gerbang besar Lee Manshion tertutup kasar. Membatasi dunia kanak-kanak mereka. Hanya imajinasi anak-anak, tapi Mrs. Lee terlalu menganggap serius. “Hanya gadis terhormat yang bisa menikah dengan anakku. Dan itu adalah cucu dari keluarga Kim di Seoul!” tegas Nyonya sombong itu yang mana Hye Sun  tak cukup bisa menangkap maksud kalimat itu.

Dan tangan itu harus berjabat lagi dengan tangan Mrs. Lee kemarin. Hye Sun berlaku seperti orang yang baru mengalami cuci otak. Dengan menapik kenangan buruk itu, Hye Sun menyodorkan tangannya pada Mrs. Lee sambil memperkenalkan diri, “Goo Hye Sun imnida.”

Tentu saja Mrs. Lee merespon dengan agak gelagapan. Selama ini keluarga Lee mengenalnya sebagai Sunny. Itulah panggilan bagi Hye Sun selama di Lee Manshion. Dan Min Ho…. Hye Sun tahu tentang perjodohannya dengan Min Ji. Adik sepupunya itu selalu mengeluhkan perjodohannya di surat elektroniknya. Ah, Hye Sun tak mau ikut campur. Yang dia nikmati kemarin adalah wajah gugup Mrs. Lee. Komunis sialan? Anak haram? Apa jadinya jika ternyata anak haram itu adalah cucu dari keluarga Goo, salah satu keluarga terhormat di Korea Selatan.

“Senang berkenalan dengan anda Min Ho-ssi,” Hye Sun tahu Min Ho masih mengenalinya. Agak ragu Min Ho membalas jabat tangan Hye Sun. “Begitu juga saya, Hye Sun-ssi.”

0oooOOOooo0

“Huek!” Pagi-pagi sudah terdengar suara orang muntah di kamar Kim Min Ji. Sang empunya kamar memang kurang enak badan akhir-akhir ini. Tubuhnya serasa asing, tak mampu diatasinya.

“Huek!” sekali lagi Min Ji berusaha menuntaskan rasa mual itu. Walau matanya sudah berair tak karuan, yang keluar hanya cairan bening. Min Ji terduduk lemah di samping wastafel. “Ada apa ini?” pikirnya kemudian.

Min Ji berusaha bangkit, meyakinkan diri bahwa keadaannya baik-baik saja lalu menuju tempat tidur. Saat membaringkan tubuh itulah, angannya melayang pada kejadian sebulan yang lalu. Malam yang begitu indah baginya. Sang kekasih begitu memanjakannya waktu itu dan mereka sama-sama terbuai dalam romantisme itu.

“Tidak, tidak mungkin!” ditepisnya pikiran buruk itu.

Telinga Min Ji mulai menangkap suara langkah kaki. Decitan pintu yang terbuka lalu tertutup lagi terdengar dari kamar sebelah. Kamar sepupunya, Goo Hye Sun. Seminggu sudah Hye Sun di Korea tapi mereka tidak pernah bertatap muka dan Min Ji merasa inilah saat itu. Mereka berkomunikasi lewat Surel selama ini. Ingin rasanya bermanja-manja dengan Hye Sun secara langsung.

Dengan langkah riang, Min Ji menuju kamar Hye Sun. Tanpa mengetuk, dibukanya pintu itu. Hye Sun yang kaget menoleh. Min Ji sudah menongolkan kepalanya dengan senyuman lebar,”Miane, kurang sopan.”

“Oh, masuklah, Min Ji-a,” perintah Hye Sun sambil memasukkan baju-bajunya ke dalam travel Bag. Min Ji mengkerutkan kening melihatnya,”Kau mau pergi?”

Hye Sun tersenyum. “Profesor Jansen menelponku agar segera kembali ke Johanessberg.”

“Afrika Selatan?” Min Ji keheranan.

“Ne,” angguk Hye Sun.”Aku mengadakan penelitianku di sana.”

“Apa yang kau teliti?”

“Kehidupan para wanita di sana. Kau tahu, ancaman HIV-Aids mengintai para wanita di sana. Negeri yang pernah jadi tuan rumah piala dunia itu mempunyai sisi gelap prostitusi.”

Min Ji menghela napas panjang.”Dan kau lebih memilih mereka dari pada menghadiri pernikahanku?”

Hye Sun menepuk jidatnya. Dia lupa kalau dua minggu lagi Min Ji menikah. “Miane, tapi tugasku menunggu. Penelitian ini didanai perusahaan asing, jadi aku harus menyelesaikannya tepat waktu.”

Min Ji jadi cemberut. Mau tak mau Hye Sun menghentikan aktifitas berkemasnya untuk memegang kedua pundak Min Ji dan menatapnya lekat-lekat.”Dengar, Min Ji-a, walau pun aku tidak ada di sini saat kau menikah, doaku selalu bersamamu. Selamat menempuh hidup baru. Semoga kau bahagia.”

“Anhi,” elak Min Ji. Kepala mungilnya menggeleng lemah.”Aku tidak yakin bisa bahagia dengan Min Ho. Aku tidak mencintainya.”

Hye Sun hanya bisa menghela nafas. Keluhan Min Ji itu sering Hye Sun baca di surelnya. “Min Ho pria yang baik. Kalian pasti bahagia, percayalah!”

Min Ji tetap menggeleng.”Aku iri padamu. Kau begitu bebasnya. Aku heran kenapa sampai sekarang Haraboji tidak berusaha menjodohkanmu dengan seorang namja.”

“Jangan mengeluhkan nasib, Min Ji-a…,”

“Aku tidak mengeluh. Seharusnya kau-lah yang mengalami perjodohan ini, Hye Sun-a.”

“Mwo?”

“Kau adalah cucu wanita keluarga Goo. Sebenarnya yang dijodohkan dengan Min Ho adalah cucu wanita keluarga Goo.”

“Kau juga cucu keluarga Goo,” Hye Sun memang kurang bisa menangkap maksud perkataan Min Ji.

“Anhi, posisiku di keluarga Goo adalah cucu luar. Kau lah cucu dalam keluarga Goo. Seharusnya Min Ho dijodohkan denganmu, kalau saja kau dan Ibumu tidak menghilang selama empat belas tahun.”

Dahi hye Sun semakin berkerut,”Cucu luar? Cucu dalam? Maksudnya?”

“Ah, bagaimana menjelaskannya padamu. Pokoknya kau cucu dalam karena kau anak dari putra haraboji, sedangkan aku cucu luar karena anak dari putri haraboji. Tapi kalau di keluarga Kim, posisiku adalah cucu dalam.”

Hye Sun memiringkan kepalanya. Lamat-lamat dia menangkap penjelasan Min Ji.”Tapi kita sama-sama cucu haraboji, kan?”

Min Ji mengangguk. “Hye Sun-a,” panggilnya kemudian.

“Ne,” jawab Hye Sun yang kembali memasukkan baju-bajunya ke dalam travelbag.

“Bawa aku bersamamu.”

“Mwo!” Hye Sun jadi mendelik.

“Orang tuamu dulu melarikan diri dari perjodohan Haraboji. Jika aku keluar dari negeri ini, aku pasti juga bisa melarikan diri.”

Hye Sun menghela nafas panjang. “Jangan bodoh, Min Ji-a.”

“Aku tidak bodoh. Rencana pernikahan itu yang bodoh. Aku ingin lari ! Sudah kubilang aku tidak mencintai Min Ho ! ”

“Kalau begitu berusahalah mencintainya!” bentak Hye Sun. “Min Ho pria yang baik. Kau pikir apa pantas kau permalukan dia seperti itu?”

Min Ji mulai terisak. Hye Sun menatapnya penuh rasa empati. Sesaat Hye Sun memeluk sepupunya itu. “Jangan melakukan hal yang kau sendiri tidak kuat menanggungnya,” bisik Hye Sun di telinga Min Ji.

 0oooOOOooo0

Hembusan nafas Min Ho serasa berat. Di meja makan itu dia bisa melihat dengan jelas roman muka Hye Sun. Gadis itu menjadi pusat perhatian di acara dinner kali ini. Di samping kirinya, Mrs. Lee duduk dengan wajah tegang. Min Ho menggenggam tangan sang ibu untuk menenangkan. Kejadian lima belas tahun yang lalu pasti masih diingat oleh ibunya itu, Mrs. Lee takut jika Mr. Goo mengetahuinya. Takut jika keluarga Kim membatalkan perjodohan Min Ho dan Min Ji.

“Dan aku tertawa ngakak saat mahasiswa-mahasiswa itu mengira aku mahasiswa baru,” oceh Hye Sun menceritakan pengalamannya waktu dia menjadi dosen tamu. Kim Joon  ngakak seketika. Di antara yang hadir di meja makan itu, Kim Joon lah yang paling antusias mendengar kicauan Hye Sun.

“Tidak heran, Hye Sun-a. Wajahmu begitu imut. Pantas saja jika mereka mengira kau mahasiswa baru,” suara Dara. Pasangan ini sangat mengagumi Hye Sun. bahkan mereka duduk terpisah, mengapit Hye Sun di kiri dan kanan.

“Kau harus menjadi pengiring pengantin di pernikahan Min Ji, Hye Sun-a,” tiba-tiba Mr. Goo bersuara. Mrs. Lee tiba-tiba menoleh ke arahnya. Min Ho hanya bisa menahan nafas. Ingin rasanya dia melarikan diri. Berdoa jika saja ada keajaiban yang tiba-tiba datang agar rencana pernikahan ini gagal.

“Mianhamnida, Haraboji. Profesor Jansen sudah menelponku terus,” sesal Hye Sun.

“Haraboji, bisa memberikan dana buat penelitianmu, Hye Sun-a. Iya, kan Haraboji?” Min Ji mengalihkan pandangan pada Mr. Goo. Lelaki tua itu mengangguk.” Jadi kau tidak perlu kawatir jika perusahaan asing itu menghentikan dana karena penelitian tidak selesai tepat waktu.”

“Jangan begitu, Haraboji,” Kali ini Kim Joon membela Hye Sun.”My Princess harus tetap professional. Itu juga demi nama Negara kita di mata mereka.”

“Opa…., kenapa tidak mendukungku,” rengak Min Ji. Kim Joon menjulurkan lidahnya pada Min Ji. Merasa diperolok, Min Ji melemparkan napkin ke muka Kim  Joon. Tak mau kalah, Kim Joon melemparkannya lagi ke Min Ji. Tatapan mata Hye Sun jadi beralih-alih dari Min Ji dan Kim Joon. Min Ho mengamati sambil mengulum senyum. Suasana ruang makan jadi ribut karena ulah kakak beradik itu.

“Cukup! Cukup, anak-anak,” teriak Mrs. Kim. Jengkel dengan ulah anak-anaknya yang masih seperti anak kecil. Mr. Goo menatap tajam pada Kim Joon. Kakak beradik itu menyusut di tempat. Mereka tahu harabojinya sangat menjunjung tinggi etiket di meja makan.

Genggaman tangan Mrs. Lee pada Min Ho semakin kuat. Apalagi saat dia melihat ketegasan sikap Mr. Goo sekarang. Apa yang akan terjadi jika Mr. Goo tahu cucu kesangannya pernah terhina di Lee Manshion? Membayangkan saja, Nyonya besar Lee itu tidak berani.

Salah satu pelayan mendekati Hye Sun lalu membisikkan sesuatu di telinganya. “Baik, saya akan ke sana,” kata Hye Sun hingga pelayan itu segera berlalu.

“Kalian lihat, professor Jansen menelpon lagi,” hela Hye Sun sambil  mengelap sudut mulutnya. Dia berdiri. “Saya permisi dulu untuk menerima telepon. Terima kasih atas makan malam yang menyenangkan, Anyong,” kata-katanya berakhir dengan bahasa tubuh menunduk.

Mr. Goo menghela nafas pasrah. Hye Sun berlalu begitu saja tanpa menyelesaikan makannya. “Profesor itu tengil juga,” desis Mr. Goo.

“Apa maksud, Appa?” tanya Mrs. Kim.

“Kenapa mereka tidak memberi liburan yang lebih luas pada Hye Sun.”

Malam pun semakin larut. Para orang tua masih sibuk membicarakan rencana pernikahan. Min Ho berdiri di dekat salah satu jendela di Goo Manshion. Hujan masih deras di luar. Sejak kecil dia sangat menyukai hujan. Pelangi yang muncul setelah hujan reda, sangat menyenangkan hatinya. Min Ho masih ingat benar siapa yang pertama kali menunjukkan padanya fenomena alam ini.

“Mejikuhibiniun,” bisikan anak perempuan itu seakan terdengar kembali di telinganya. Dia manatap cengo waktu itu. Kata, “Mwo?” cukup membuktikan kalau dia kurang mengerti maksud perkataan anak perempuan itu. Seperti kebiasaannya yang sudah-sudah, anak itu terkikik sambil membekap mulutnya. Min Ho selalu terpana dengan gerak-gerik itu. Apalagi melihat warna merah jambu yang menyembul di pipi anak perempuan itu. “Urutan warna pelangi itu adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Disingkat mejikuhibiniun,” terang anak yang berpipi merah jambu.

Min Ho tersenyum mengingatnya. Gerak-gerik itu dilihatnya lagi saat makan malam tadi. Begitu jelas karena Hye Sun duduk tepat di hadapannya. “Sunny” yang manis. Min Ho sangat menyukainya. Bahkan dia harus berkelahi dengan Geun Suk karena anak itu juga menaruh hati pada Sunny.

“Sunny  hanya main sama aku! Sama aku !” teriaknya sambil memukuli Geun Suk yang terbaring di bawahnya. Dia sangat marah waktu tahu Geun Suk mengirim surat cinta pada Sunny.

Hujan di luar reda. Kini Min Ho membuka jendela, keluar menuju balkon. Tak disadari Hye Sun juga melakukan hal yang sama beberapa kaki darinya. Mereka berdua sama-sama menghela nafas. Bau tanah basah menyeruak di udara. Begitu menyegarkan system pernafasan mereka. Hingga akhirnya mereka saling berpandangan, ada kekikukkan di antaranya.

“Malam,” salam Min Ho kelu. Hye Sun menganggukkan kepala sambil memamerkan lengkungan indah di bibir.  Dan Min Ho merasa harus mendekatinya. Dia mengawatirkan sang Omma yang ketakutan sejak mereka berjumpa Hye Sun lagi.

“Sayangnya tidak ada pelangi,” bisik Hye Sun.

“Kelamnya malam menutupi sang ratu warna itu, Hye Sun-ssi,” tanggapan dari Min Ho.

“Ne,” sekali lagi Hye Sun tersenyum.

“Sunny…,” Min Ho ingin menguji Hye Sun dengan panggilan itu. Dia ingin melihat respon Hye Sun. Apa daya Hye Sun tidak menunjukan respon berarti. Gadis itu masih saja memandang langit yang mulai tersibak dari awan. Sudah lama panggilan itu tidak Hye Sun dengar. Kini dia Goo Hye Sun, cucu keluarga Goo. Bukan Sunny, sang anak pelayan. Hye Sun begitu ingin mengubur kenangan itu.

“Manusia itu sama di mata Tuhan,” cerocos Hye Sun kemudian, yang membuat Min Ho mengkerutkan kening. “Bahkan manusia terlihat kerdil dari atas sana,” sambungnya sambil menunjuk langit.

“Bukan begitu, dongsaeng?”

Hye Sun berjalan menuju kamarnya, sementara Min Ho masih terpaku di tempat. Panggilan Hye Sun padanya membuat semuanya jelas bagi Min Ho. Ingin rasanya Min Ho mengulang masa kecil. Ingin rasanya Min Ho merasakan kembali cinta monyetnya pada Hye Sun. tapi kenangan buruk itu selalu menyertai, saat sang omma mengusir Hye Sun dan Ibunya dari Lee Manshion. Saat itu dia meronta-ronta histeris untuk mencegah semua itu. Dan saat akhirnya pintu gerbang Lee Manshion tertutup rapat, memisahkan dunianya dari dunia cinta pertamanya.

Manusia itu sama di mata Tuhan. Jika saja sang Omma menyadari itu lima belas tahun yang lalu. Kini Hye Sun benar-benar tak  tersentuh. Saat kanak-kanak, Min Ho bisa menyentuhnya sebagai Noona. Saat masa remaja, Min Ho bisa menyentuh Hye Sun sebagai cinta pertamanya. Tapi kini….

“Saranghe, Sunny,” kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya. Kalimat yang selalu dibisikannya pada Sunny di masa lalu. Seiring dengan gelora cinta ala ABG di hatinya. Kalimat yang selalu tertulis di setiap surat merah jambu untuk Sunny. Surat-surat  yang akhirnya terkoyak oleh tangan Mrs. Lee, dan Min Ho hanya mampu tertunduk meratapi serpihan-serpihan kertas itu. Sunny-nya sudah pergi kala itu.

0oooOOOooo0

Dan tibalah hari yang sudah direncanakan jauh-jauh hari itu. Hari pernikahan Min Ji dan Min Ho. Keduanya kini telah berdiri di depan Altar. Pendeta memberikan wejangan singkat sebelum melanjutkan srakamen berikutnya. Kedua pengantin terlihat pasrah. Sudah tidak ada harapan untuk menghentikan pernikahan ini.

“Jika ada yang keberatan dengan bersatunya mereka berdua, maka bicaralah sekarang atau diam untuk selamanya,” pidato sang pendeta.

Suasana hening sejenak. Min Ho memejamkan mata. Berdoa akan adanya keajaiban.

“Baiklah, jika tidak ada…

“Pendeta…,” panggil seseorang dari bangku audiens. Semua undangan menoleh ke arahnya. Seorang pemuda berkulit putih yang cukup tampan berjalan maju ke altar.

“Shi Won-a….,” desis Min Ji. Air mata segera menggenangi pelupuk matanya.

“Chagiya,” panggil pemuda itu, Shi Won pada Min Ji. “Aku mohon jangan lakukan. Kita besarkan anak kita sama-sama. Ku mohon.”

Tangis  Min Ji jadi makin keras. Min Ho memicikkan mata untuk memahami pemandangan yang terjadi. Para undangan mulai heboh. Suara dengungan dari mulut-mulut di ruangan itu membahana.

“Aku mohon… . Maafkan karena aku terlalu kasar kemarin,” ujar Shi Won. “Aku… aku hanya terkejut kemarin. Tapi sekarang aku sadar, aku tidak bisa hidup tanpamu.”

“Shi Won-a…

“Miane, jeongmal miane,” Shi Won berlutut di depan Min Ji. Ditariknya pinggang Min Ji lalu mencium perutnya lembut.

“Tunggu…,” kali ini Min Ho yang bersuara. Serta merta pandangan audiens beralih pada Min Ho. “Kau hamil?” tanyanya pada Min Ji. Masih dengan menangis, Min Ji mengangguk, mengelus kepala Shi Won.

“Dan pria ini ayah dari bayimu?” tanya Min Ho lagi. Sekali lagi Min Ji mengangguk. Audiens semakin gempar. Para orang tua merasa dipermalukan. Tapi herannya Min Ho malah tertawa ngakak. Tentu saja, itu adalah tawa kelegaan hati. Lalu dengan roman muka berseri-seri. Dia memerintah,”Berdirilah, Shi Won-ssi!”

Shi Won menuruti perintah Min Ho. Min Ho memegang tangan Shi Won dan menumpukannya di atas tangan Min Ji. “Berbahagialah…”

Senyum  bungah melebar di bibir Min Ho. Segera dia melangkah keluar dari gereja itu dengan sejuta angan di kepalanya. Dibukanya pintu gereja yang megah lebar-lebar. Cahaya luar seketika menyembul ke dalam gereja, hingga tampak tubuh jangkung itu bagai shiluette.

Udara luar segera menyambut Min Ho. Dia memejamkan mata dan menarik nafas  kuat-kuat sebelum dihembuskan kembali. “Aku bebas sekarang,” bisik hatinya.  Sayup-sayup terdengar ikrar pernikahan dari dalam gereja, Min Ho berlari ke mobilnya. Semuanya akan segera dia persiapkan dan kali ini tentu tidak akan ada yang menghalanginya lagi.

Suasana sabana yang luas menyambut Min Ho saat turun dari mobil pick upnya. Pria ini memandang sekeliling. Warna hijau menerjang matanya saat melepas kaca mata hitam. Musim basah di afrika membuat tetumbuhan tampak begitu lebat. Sementara suara serangga yang lebih mirip dengan gangsing membahana. Menghantarkan langkah Min Ho ke sebuah bangunan mungil yang dari desainnya, kita pasti akan menghina perancangnya.

Tapi di bangunan itu Hye Sun memberikan konseling setiap Minggu pada para wanita penduduk lokal setempat. Min Ho ingin mengetuk pintu, tapi saat mendengar suara Hye Sun dari dalam ruangan yang sepertinya menerangkan sesuatu, Min Ho mengurungkan niatnya. Perlahan, dibukanya pintu bangunan itu.

Dan kini dia bisa melihat HYe Sun berdiri di depan kelas, memberikan penjelasan pada para wanita itu dengan bahasa local yang Min Ho sendiri tidak mengerti. Tapi dari gerak tubuh Hye Sun yang mengacungkan ibu jarinya dan membalutnya dengan alat kontrasepsi itu, Min Ho jadi tahu apa yang dibicarakan oleh HYe  Sun di situ.

Sesekali terdengar ‘murid-murid’ Hye Sun  tertawa cekikikan. Lalu salah satu dari mereka mengacungkan tangan. Hye Sun mendengarkan dengan seksama pertanyaan dari orang itu yang diakhiri dengan tawa gemuruh seluruh kelas. Min Ho bisa menangkap perubahan warna di wajah Hye Sun. dan Min Ho sedikit heran saat Hye Sun menjawab pertanyaan itu dengan roman enggan.

Min Ho masih saja memandang Hye Sun. Bahkan guci yang ada di samping kiri, dia tak melihat. Suara “prang” dari guci yang tersenggol membuat semua orang menoleh ke Min Ho termasuk Hye Sun.

“Sory!” sesal Min Ho. Hye Sun memicingkan matanya. Seakan tak percaya dengan yang terlihat, gadis itu mengucek-ucek mata. Senyuman segera tersungging di bibir Min Ho. Masih dengan senyuman itu, Min Ho menghampiri Hye Sun yang kini mengamatinya dengan tatapan bingung sekaligus heran.

“Bukankah kalian harusnya berbulan madu?’ tanya Hye Sun tanpa perduli pada ‘murid-murid’ nya yang masih bertanya-tanya siapa pria yang muncuk tiba-tiba itu.

“Maksudnya Kim Joon dan Dara?” tanya Min Ho balik.

“Anhi. Kau dan Min JI.”

“Min Ji dan Shi Won mungkin maksudmu.”

“Mwo?”

Sekali lagi Min Ho tersenyum. Wajah heran Hye Sun membuat kerinduan Min Ho semakin tak tertahankan. Dengan kegembiraan yang meluap, Min Ho memeluk tubuh mungil di depannya itu. Hye Sun mendelik saking kagetnya. Terlebih murid-muridnya pada bertepuk tangan riuh. Perlahan tangan Hye Sun terangkat, mengelus punggung Min Ho, menikmati kerinduan yang terjalar dari pelukan itu.

“Bogosipho, Sunny. …,” desah Min Ho.

Hye Sun menghela nafas. Saat ini dia dan Min Ho sedang duduk-duduk di pinggir kali. Sudah setengah jam mereka terdiam. Hye Sun rupanya kurang mempercayai cerita Min Ho tentang Min Ji. Tiba-tiba Min Ho berdiri. Sesaat dia membungkuk untuk memungut batu kerikil, lalu dengan konsentrasi terpusat, dilemparkan batu itu ke sungai, membentuk loncatan sebanyak tiga kali sebelum tenggelam.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” setelah kebisuan itu, Hye Sun akhirnya bersuara. Min Ho menoleh. “Sangat lega,” jawabnya.

Tentu saja kalimat itu membuat Hye Sun semakin tak percaya. “Kau tidak mencintai Min Ji?”

“Menurutmu?” pertanyaan Hye Sun di jawab dengan klise oleh Min Ho. Pria itu mendekati Hye Sun dan dengan menekan kedua belah pundak Hye Sun, dia berujar,”Apakah selama ini aku terlihat mencintainya?”

Hye Sun menggeleng lemah. Min Ho menyimpulkan senyum. “Dan kini apakah kau lihat cinta di mataku, Sunny?”

Hye Sun masih memandang wajah tampan itu. Meresapi pandangan mata Min Ho yang begitu teduh. Tapi tidak ada jawaban di mulutnya. Karena semua ini begitu berbeda sekarang. Setidaknya itu menurut Hye Sun. dan Min Ho mengeluarkan sesuatu dari balik kantong celana lalu disodorkan ke Hye Sun.

“Surat-surat kita dulu,” kata Min Ho sumringah. Hye Sun menerimanya dengan dahi berkerut. Sobekan surat-surat merah jambu itu kini sudah menyatu semuanya. “Sejak kapan kau satukan semua ini?”

“Sejak kau keluar dari Lee Manshion.”

Wajah Hye Sun jadi sumringah. Kali ini Hye Sun-lah yang memeluk Min Ho. Mereka berpelukan dengan latar belakang siluet langit senja. Dengan gemericik air di bawah kaki mereka dan ciuman penuh cinta yang mengakhiri romansa.

Hingga suara lonceng gereja berdentang tiga kali. Menghantarkan status baru bagi mereka berdua. Status penuh komitmen dan disyahkan oleh segala doa dan restu dari para tetua. Tangan Tuhan selalu ada untuk melindungi kebahagiaan mereka dan seluruh umat manusia.

Karena manusia terlihat kerdil dari atas sana…. Dan manusia di mata Tuhan itu sama ….

THE END