Hypertension, Jamu and Jamu Scientification.

The prevalence of hypertension in Indonesia is quite high. In addition, its becomes a public health problem. the first step of hypertension treatment is a life style changes. If the life style changes failed, pharmacological treatment is given. Treatment or management of hypertension takes a long time, lifetime, and should continue.

 So, We need medication with good efficacy and safety. A number of Indonesian people consume some traditional herbs medicine or jamu  for  treating  hypertension such  Apium graviolens and Orthosiphon stamineus.  at this time, a combination of those herbal medicine available as phytopharmaca in the market. There  are a lot of research  to evaLuate the effectivity  and side effects of those phytopharmaca.  The result was the phytopharmaca lowered systolic and diastolic blood pressure equivalent with Amlodipine among mild and moderate hypertensive subjects.

Jamu has been a long history as an ancient heritage  and indigenous wisdom for maintaining health of Indonesian people.  But , Jamu still lacks of scientific evidence in term of efficacy and safety. On the other hand, there is a great demand to use jamu in medical services, including the direction of Indonesian President to rise jamu as a therapeutic modality of healthcare. To solve the problem, The Indonesian Ministry of Health has established the Programe of Jamu Scientification, trying to provide scientific evidence through research and development, regarding the efficacy and safety of Jamu.

The evaluation of clinical outcome for Jamu scientification is using holistic approach. The clinical outcome is not only measured by objective parameters (laboratory  results and measurement) but also by subjective parameters (self-responded out come, quality of life and wellness index). By doing Jamu Scientification, it’s hoped that we can accelerate the integration of Jamu into formal health sevices.

Iklan

PENDEKATAN SISTEMATIK PROBLEM

IDENTIFIKASI MASALAH :

SUMBER INFORMASI :
1.Kartu Obat
2.Catatan Medik
3.Klien/keluarga Klien
4.Team Kesehatan (dokter, perawat)
5.Kartu observasi
6.Data Laboratorium
INTERVENSI DOKUMENTASI
•Merupakan langkah untuk mengatasi problem dalam pelayanan jamu
•Mengidentifikasi masalah penggunaan jamu
•Merencanakan hasil terapi yang diharapkan
•Merencanakan terapi alternatif jika terapi gagal.
•Mendesain rencana pelayanan jamu untuk klien
•Mengidentifikasi parameter-parameter indikator
•Mengkomunikasikan dan mengimplementasikan rencana pelayanan pada klien, keluarga dan tenaga kesehatan lain
•Dapat dilakukan dengan cara:
1.SOAP : Subjective Objective Assessment Plan
2.PAM  : Problem Assesment/ Action Monitoring
3.FARM : Finding Assessment Resolution Monitoring
SOAP
Subjective (S) : data meliputi sejarah pengobatan
Objective (O) : data didapat dari data laboratorium, konsentrasi obat dalam serum/ darah, hasil-hasil tes diagnostik misalnya sinar X, ECG, CT Scan
The Assessment (A) : Hasil dari pemikiran praktisi untuk mengatasi masalah klien berdasarkan informasi S& O
•The Plan :
1.Termasuk tes diagnosa, inisiasi, revisi atau treatment lanjutan.
2.Keputusan untuk mengatasi masalah kontra indikasi, efek samping, interaksi
3.Merokumendasikan terapi non farmakologik, atau terapi alternatif
4.Kerasionalan  terapi harus diperjelas
5.Perencanaan konseling
6.Memonitor parameter indikator
MISAL
•KH seorang laki-laki berumur 52 thn dengan keluhan nafas sesak, dan produksi sputum meningkat
•Gejala :
1.ruam-ruam kulit sejak kemaren
2.Merasa depresi, kurang fit, terbangun di malam hari dan tidak bisa tidur lagi, kurang nafsu makan, tidak perhatian pada lingkungan termasuk pekerjaan, keluarga selama 6 bulan.
•Riwayat penyakit
1.Bronkritis kronis skunder disebabkan merokok, peningkatan sesak nafas dua tahun terakhir
2.Pernah patah kaki kanan karena jatuh 6 bulan yang lalu dan terjadi Deep Vein trombosis
•Sejarah sosial
1.KH  stabil dan bahagia dalam kehidupan perkawinannya, punya 2 putra yang sudah kuliah, keduanya anak yang membanggakan.
2.KH merokok 1 pak/hari.
3.KH pernah mencoba marijuana dengan putranya tetapi tidak menyukainya.
RIWAYAT PENGOBATAN
•Theodur 600 mg 2x sehari selama 2 th
•Terbutaline inhaler 4 semprotan 4 kali sehari selama 2 tahun
•Vibramycin 100 mg 4 x sehari untuk bronkritis selama 10 hari
•Warfarin 3 mg, 4 x sehari mulai 7 bulan yang lalu
•Acetaminophen bila perlu untuk sakit kepala
•Alergi obat tidak diketahui.
PEMERIKSAAN FISIK
•Kondisi Umum : Laki-laki paruh baya dalam kondisi stres yang parah
•Vital sign : BP 120/80, HR 100, Tiga 37,6*C, RR 32, WT 80 kg, HT 5’7”
•HEENT : Normal
•COR : Normal S1 & S2, no S3, S4 / murmurs
•CHEST : Numerolus rales, ronchi & wheezes
•ABD : No. Organomegaly
•GU : WNL
•RECT : WNL
•EXT : NL DTRs, maculopapular rash pada paha dan sekitar tubuh
•NEURO : Oriented x 3, WNL
HASIL LABORATORIUM

Na. 140

HcT 55

Alb 4

K 40

Hgb 17.5

Bili 8

Cl 101

WBC 8.1

Glu 95

HCO3 28

Plts 305k

Uric Acid 7.4

Ca  8.8

BUN 37

Cr 1.2

PO4 2,6

AST 40

ALT 35

Mg 2.0

PT 25 (INR=3)

•WBC differential : Neutrophils 48, bands 0, lymphs 3.0, monos 5, eos 12
•ABGs : PH 7.37, PO2 55, PCO2 49
•PFTs :
1.pre-bronchodilator FEV1 = 2000 ml (50% of FVC)
2.Post-bronchodilator FEV 1 = 2600 ml (65% of FVC)
•Gram stain of sputum sample was unsuitable due to numerous squamous epithelial cells
•Urinalysis : WNL

Chest x-Ray : Clear, no sign of pneumonia

Daftar Masalah kefarmasian

•Bronkritis kronik dengan eksaserbasi akut
•Alergi obat
•Depresi
•DVT
Problem 1. Chronic Bronchitis Exacerbation

S:

KH mengeluh sesak nafas dan produksi sputum meningkat

O :

KH mengalami penurunan FEV1, rales, ronchi, wheezes. Peningkatan RR, pulse, HcT & Hgb, arterial blood gases yang ditunjukkan dengan peningkatan PCo2 dan menurunnya kadar oksigen disebabkan riwayat merokoknya

A

KH mempunyai gejala simptomatis bronkritis kronis yang memburuk. Merokok memperburuk kondisi bronkitis, sedangkan virus di bagian atas saluran pernafasan menyebabkan infeksi dan tanda-tanda eksaserbasi akut dan tidak ada tanda-tanda infeksi bakteri

KH punya hasil WBC normal, tidak demam, hasil sinar X normal. Tidak bisa digunakan antibiotik. Pre dan post – bronchodilator FEV1 menunjukkan obstruksi saluran nafas reversible. Kadar Theophyllin berada di range terapi dan tidak membutuhkan peningkatan dosis.

P.

Memberi menthylprednisolone 40 -125 mg iv dan diteruskan tiap 6 jam selama 72 jam.

Theophyllin oral diteruskan

Oxigen 2 liter/ menit via nasal

Ampicillin 500 mg peroral 4 x sehari

Memonitor gejala sesak nafas, produksi sputum, FEV1, ABGs, chest ausculation, kadar theophyllin dalam darah, nausea, vomiting, kadar glukose dalam darah, kadar potasium serum, tekanan darah dan kondisi tremor

•Tujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dihubungkan dengan bronkritis kronis. Diperdalam lagi kemampuan KH untuk menggunakan inhaler secara benar. Menjelaskan efek samping Theophyllin, steroid dan Ampicillin
•KH harus menghentikan rokok.

CERDASNYA STRATEGI PEMASARAN XENICAL MELALUI WEIGHT MANAGEMENT PROGRAM (WMP) ROCHE

Gaya hidup saat ini membuat kita mudah sekali mengalami kelebihan berat badan (overweight) namun untuk menurunkannya pun kini bukan mimpi. Ada beberapa obat yang dapat digunakan salah satunya adalah orlistat. Orlistat yang terkandung dalam Xenical biasanya dapat digunakan dalam jangka waktu lama untuk mengatasi masalah obesitas (kegemukan) yaitu dengan menghambat absorbs lemak dari makanan yang dikonsumsi. Xenical (Orlistat) tidak dapat diperoleh secara bebas, harus dengan resep dokter. Seperti halnya obat ethical lainnya, untuk memasarkan obat Xenical, PT Roche Indonesia mesti berusaha keras guna menjaring masyarakat  luas dan konsumen. Antara lain melalui dokter sebagai ujung tombak. Sejak diluncurkan sekitar tahun 2000, kini Xenical menjadi raja baru di lini obat antiobesitas dang menguasai pangsa pasar 63,6% jika dibandingkan dengan perusahaan multinasional yang berkecimpung di kolam yang sama (Rafick, Nurini, 2005)

Xenical merupakan satu-satunya antiobesitas resep dokter karena memungkinkan interaksi dengan obat lain, seperti obat diabetes. Di beberapa negara lain, obat ini dijual bebas. Lantas apa perlunya Roche mendesainnya menjadi obat ethical? Keberadaan dokter sangat penting karena dokter bisa mempertimbangkan perlu tidaknya pasien mengkonsumsi obat dan menganjurkan pola makan yang baik. Meski demikian Roche juga meluncurkan program penurunan berat badan Xenicare. Peminum Xenical bisa mendaftarkan diri dengan mengisi formulir yang langsung diserahkan ke dokter atau apotek tempat memperoleh Xenical. Formilr ini lalu dikumpulkan oleh medical representative Xenical lalu dimasukkan di database di call center. Selanjutnya pasien akan ditelepon untuk verifikasi data dan memperoleh informasi yang diperlukan termasuk pola makan dan gaya hidup sehat, melalui ahli gizi Xenicare.

Program ini didukung oleh 4 ahli gizi dan 5 lini telephone, juga website dan layanan hotline bebas pulsa. Roche melakukan kampanye kesehatan dengan slogan “Block the fat, Safe your life”. Kampanye edukasi ini telah dilansir secara intensif sejak tahun 2002. Dulu slogannya adalah “Loose Weight, Gain Life” tapi dinilai kurang menggigit sehingga diganti dengan slogan yang sekarang yaitu “Block the fat, Safe your life”. Kegiatan ini dilakukan di 20 cabang dan 32 medical representative Roche di seluruh Indonesia, minimal sekali dalam sebulan. Dengan kampanye tersebut, dilakukan berbagai program mulai dari pengukuran lemak sampai seminar tentang obesitas.

Di sisi lain Roche juga berupaya meyakinkan para dokter di Indonesia tentang kehebatan Xenical dengan memberikan uji klinisnya,menurut dr. Fredy Setiawan, dokter Indonesia mempermasalahkan pola makan orang Indonesia yang berbeda dari orang barat. Orang barat makanannya banyak lemak sedangkan orang Indonesia banyak karbohidrat. Mereka mempertanyakan keefektifan Xenical di Indonesia. Namun melalui Weigt Management Program (WMP) Xenical dan penelitian yang melibatkan para dokter ahli gizi, membuktikan bahwa Xenical juga bermanfaat bagi orang Indonesia.

Keberhasilan uji klinis Xenical tak bisa dikampanyekan lewat media, maklum, obat ethical tidak boleh beriklan maka komunikasi iklannya dirubah yaitu iklan tanpa mencantumkan merk Xenical atau Xenicare. Yang dicantumkan testimoni tokoh dan slogan “Block the fat, Safe your life”, seta nomor telephone bebas pulsa. Nomor telepon tersebut penting bagi mereka yang ingin tahu lebih lanjut tentang obesitas. Roche dalam program ini memiliki list dokter sehingga masyarakat bisa memilih dokter terdekat. (Rafick, Nurini 2005)

Sejak 2007, program serupa dilakukan pada level korporasi dimulai dengan RISTY (Roche Against Obesity Amongst Employees) untuk karyawan Roche dan diikuti serial kampanye pada promosi kesehatan di tempat kerja melalui Corporate Managemen Program (Anonim, 2009)

Roche sebagai salah satu industri farmasi berbasis riset telah mampu memposisikan diri dengan baik sebagai perusahaan bioteknologi terbesar di dunia. Hal ini disebabkan oleh tacyt knowledge dan asset nirwujud yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun sehingga tidak dapat ditiru oleh perusahaan lain, yang merupakan asset stratejik perusahaan sebagai sumber keunggulan kompetitif yang sustainable. Roche telah memantaince asset nirwujud dengan baik yang meliputi pekerjanya yang 75.000 orang di seluruh dunia, memiliki perjanjian riset dan pengembangan serta aliansi strategic dengan sejumlah mitra. Roche juga sangat konsen dan berpegang teguh dengan visi-misinya dalam upaya mengembangkan produk-produk baru secara inovatif dan dengan memperhatikan suplychain yang ada. Selain itu Roche juga mempunyai kemampuan untuk melakukan kegiatan yang mampu menghasilkan added value yaitu marketing dan inovasi.

Faktor-faktor pada konsep pemasaran adalah strategi, loyalitas karyawan, SIM yang baik dan implementasi yang kuat. Intinya adalah bisa  memuaskan kebutuhan konsumen dan menetapkan target pasar secara tepat dan cermat (Sampurno,2009) Hal inilah yang dilakukan pertama kali oleh PT. Roche dalam konteks pemasaran Xenical, setelah dilakukan studi konsumen, dilakukan analisa dan dipilih yang mempunyai potensi tertinggi. Langkah berikutnya adalah positioning dari perusahaan , yang ditetapkan dengan visi-misinya yang mencerminkan tujuan perusahaan. Kemudian dilakukan positioning terhadap produk, dilihat dari faktor keamanan produk Xenical sebagai produk farmasi. Dalam konteks Xenical, Roche cukup berhasil memposisikan Xenical sebagai produk ethical. Walau pun positioning produk ethical tersebut mempunyai kelemahan karena tidak boleh beriklan melalui media masa, namun melalui WMP yang telah dikembangkan oleh Roche, ternyata Xenical cukup mampu menguasai 63,6% pangsa pasar. Strategi pemasaran Roche untuk Xenical memang sangat komprehensif. Dengan strategi ini pula, omzet Xenical tumbuh rata-rata 20% pertahun (Rafick, Nurini, 2005). Strategi yang dimulai dengan pembuatan slogan dari “Loose Weight, Gain Life” berubah menjadi “Block the fat, Safe your life” sangat disesuaikan dengan tujuan dari terapi Xenical. Perubahan slogan ini sangat biasa dalam konteks pemasaran seperti dalam kasus pemasaran lampu Phillip, dimana slogan pemasaran khusus untuk Indonesia berbeda dengan slogan Phillip Internasional yaitu “Terus Terang Phillip Terang Terus”. Dengan kampanye  “Block the fat, Safe your life” jelas makna yang ditonjolkan adalah mendapat kualitas hidup yang lebih baik, bukan mendapat kehidupan yang baik.

Roche dalam usahanya memasarkan Xenical telah mampu mengaplikasikan marketing communication mix atau yang disebut juga promotion mix dengan baik. Roche melakukan advertensi secara baik untuk Xenical dengan tanpa melanggar regulasi obat ethical, yaitu iklan tanpa mencantumkan merk produk tetapi mencantumkan slogan “Block the fat, Safe your life”. dan nomor telephon bebas pulsa dari call center Roche yang akan mendorong konsumen mencari info lebih lanjut tentang obesitas, Xenical mau pun program WMP. Public Relation melalui program-program adaptasi WMP cukup mampu memelihara citra produk dan perusahaan. Program seperti Xenicare, RISTY dan yang terakhir bye-bye big cukup mampu mengedukasi masyarakat terhadap obesitas dan cukup mampu meyakinkan para dokter di Indonesia terhadap keefektifan penggunaan Xenical.

Program WMP yang dilakukan oleh PT. Roche ternyata sangat tepat jika ditinjau dari societal marketing farmasi karena tidak melanggar regulasi iklan obat ethical dan mampu mengedukasi public tentang obesitas.

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2009, Bye-bye big, Membuka Audisi Tawarkan Cara Sehat Turunkan Berat Badan, WWW. Roche.co.id

Antonakis and Achilldelis, 2001, The Dynamic of Technological Innovation : The Case of the Pharmaceutical Industry, Research Policy, 30 : 535-558

Daum,J.H, 2003, Intangible Assets and Value Creation, West Sussex, England, John Wiley & Son.

Edvison & Malone, 1997. Intellectual Capital, Realising Your Campany’s true value by Finding its Hidden Brain Power, New York, NY, Herper Business

Gofton, 2007, Data Baru, Xenical Sangat Turunkan Resiko Penyakit Jantung, Antara News

Lacetyera, 2001, Corporate Governanace and Innovation in the Pharmaceutical Industry : Some Further Evidence, Cespri, Universita Boconi.

Malerbo & Orsinego, 2001, Inovatioan and Market Structure in the Dynamics of the Pharmaceutical Industry and Biotechnology : Toward a History Friendly Model. The DRUID Nelson and Winter Conference, Aalborg.

Matraves, C, 1998, Market Structure, R&D and Advertising in the Pharmaceutical Industry Berlin, WZBI, Social Science Research Center.

Rafick, Nurini, 2005, Gerilya Roche Memasrakan Xenical, Swamagazine

Sampurno, 2009, Manajemen Pemasaran Farmasi, Gadjah Mada University Press, Jogjakarta.

Smith, C Mickey dan EM “Mic”: Kolasa, 2002, Pharmaceutical Marketing. Principle, Environtment and Practice, Pharmaceutical Product Press, New York.

Stewart, 2005, Identifying the Sub Components of Intellectual Capital : a Literature Review and Development of Measure. Woeking Papper Series 2005.05, University of Both. Claverton.

Sutton, 1991, Sunk Cost and Market Structure : Price Competition, Advertising and the Evolution of Concentration, MIT Press, Cambgridge, MA

NB : Postingan ini berasal dari hasil merangkum pemilik blog ini yang bersumber dari tugas akhir semester manajemen pemasaran yang diberikan oleh Dr. Sampurno, di Magister Manajemen Farmasi Rumah Sakit Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta, jadi jika ada yang ngompas buat tugas manajemen pemasaran yang sama, TIDAK BOLEH, coz pasti terjadi duplikasi dan nilai kalian sudah bisa dipastikan JELEK.

Medication Reconciliation

Bukti dari tingginya jumlah kesalahan obat yang diproduksi dalam transfer antara situs perawatan telah diterbitkan dalam karya-karya yang berbeda. Kesalahan obat adalah salah satu penyebab kerusakan yang lebih penting dari pada pasien yang dirawat, sekitar 2% dari rumah sakit mengalami kesalahan pengobatan.

Beberapa faktor yang berkontribusi pada situasi ini:

1. Keterputusan informasi antara masyarakat dan perawatan khusus.

2. Perubahan penanggung jawab pasien.

3. Penyimpangan dalam komunikasi pasien-operator.

4. Concomitants poli-penyakit dan obat-obatan. Harapan hidup yang lebih besar dari orang-orang yang menyebabkan pasien dirawat di rumah sakit minum obat kronis.

5. Registries kesehatan. Salah satu pasien yang sama dapat memiliki beragam spesialis terlibat dalam pengobatannya. Kurangnya pendaftar yang unik di mana daftar lengkap dari pengobatan pasien dicatat, membuat memiliki kepastian tentang perlakuan kebiasaan sulit; ini khususnya penting dalam transisi dalam perawatan kesehatan.

6. Karakteristik tinggal di rumah sakit. Kecenderungan sekarang tetap pendek, menyebabkan bahwa perlakuan kebiasaan pasien mungkin tidak diperhitungkan.

7. Adaptasi ke rumah sakit petunjuk penyebab itu, kadang-kadang, pasien diberi obat yang berbeda dari obat sebelum ia mengambil admisi.

Keselamatan Pasien adalah masalah kesehatan utama bagi organisasi perawatan kesehatan dan masyarakat umum. Pelaksanaan program-program untuk meningkatkan keamanan dalam penggunaan obat-obatan lebih dan lebih umum di rumah sakit. Baru-baru ini, pada bulan Desember 2007, NICE telah menerbitkan panduan solusi bagi rekonsiliasi penerimaan obat di rumah sakit.

Rekonsiliasi Obat memang dirancang untuk mencegah kesalahan pengobatan pada antarmuka perawatan dan terdiri dari mendapatkan daftar kemungkinan paling lengkap pra-penerimaan obat untuk setiap pasien, termasuk wawancara pasien, dan membandingkannya dengan obat resep setelah transfer, perubahan medis penanggung jawab atau diatas perintah debit, mengidentifikasi kesenjangan yang tidak diinginkan dan memastikan kesadaran resep penggunaan obat saat ini dan sebelum memberi keputusan resep.

Layanan Farmasi rumah sakit Arnau de Vilanova (Valencia) berpartisipasi dari April 2006 dalam program CONSULTENOS. Program ini merupakan hasil inisiatif dari Masyarakat Farmasi Rumah Sakit Valencian dan dibiayai oleh Conselleria de Sanitat dari Komunitas Valencian. Tujuan adalah: untuk membuat rekonsiliasi obat saat masuk dan debit, dan untuk menginformasikan pasien aspek yang paling penting dari perawatan baru ditentukan di debit rumah sakit dan dari satu kebiasaan. Pada perubahan debit rumah sakit dalam pengobatan pasien kronis dapat terjadi, karena sering tidak merujuk dalam surat debit regimen obat yang lengkap, termasuk perawatan pra dan pasca-transfer. Misalnya dalam  pelayanan bedah umum ketidakcocokan yang mendominasi adalah  kelalaian obat, resep yang tidak benar, interaksi dan kepalsuan terapeutik. Mengenai evaluasi dari beragam aspek program, para dokter menemukan pengiriman informasi tertulis tentang obat-obatan dan revisi dari pengobatan yang diresepkan di debit ramah sangat penting.

Standarisasi merupakan proses yang sulit dan membutuhkan kerja tim dan komunikasi yang efektif, tetapi hasilnya dalam keselamatan untuk pasien adalah penting. Kegiatan klinis harus dimasukkan dalam portofolio layanan dari farmasi rumah sakit; serta integrasi phamacists dalam tim klinis yang membutuhkan perawatan pasien sehari-hari.

Singkatnya, program rekonsiliasi pengobatan mencegah kesalahan dengan obat-obatan, terutama dalam transisi kesejahteraan pasien. Selain itu, pasien memiliki informasi tambahan yang penting pada penggunaan narkoba dan masalah dengan menggunakan ini. Praktek ini harus dilaksanakan di rumah sakit sebagai layanan, sebagai alat penting untuk meningkatkan keamanan pasien, dalam kerangka sistem pengurangan risiko bagi kesehatan dan peningkatan kualitas kesejahteraan.

DAPUST : Franco, et al, 2010, Medication reconciliation: Improving patient’s safety and quality of care.

PERAN APOTEKER DALAM PENANGANAN PANDEMI FLU BURUNG / FLU BABI

Penyakit flu burung dan flu babi termasuk penyakit yang sangat potensial membawa dampak penyebaran yang cepat dan mengancam jiwa masyarakat Indonesia, kemampuan penyebarannya bisa sangat cepat, kemungkinan penularan antar manusia sangat dikhawatirkan dan oleh karena itu membutuhkan penanganan yang tepat dan segera. Peran serta Apoteker ini didasari dengan pengetahuan yang dimiliki Apoteker tentang patofisiologi penyakit; obat-obatan yang diperlukan atau harus dihindari oleh pasien penyakit flu burung dan flu babi. Hal-hal yang harus dipersiapkan dan dihindari oleh tenaga kesehatan termasuk apoteker dalam melaksanakan tugasnya.

Peran aktif Apoteker di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Memastikan bahwa prosedur pengendalian infeksi berada di tempat di dalam sistem pelayanan kesehatan dan digunakan oleh semua yang terlibat dalam mengelola penyakit hewan maupun manusia serta kasus dugaan.

2.  Melakukan upaya pencegahan penyakit flu burung dan flu babi

Upaya ini diwujudkan melalui:

  • Pemberian penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit flu burung dan flu babi meliputi gejala awal, sumber penyakit, cara pencegahan, penanggulangan penyebaran, dan pertolongan pertama yang harus dilakukan.
  • Pembuatan buletin, leaflet, poster, dan iklan layanan masyarakat seputar penyakit flu burung dan flu babi dalam rangka edukasi masyarakat.
  • Berpartisipasi dalam upaya pengendalian penyebaran infeksi virus di rumah sakit melalui Komite Pengendali Infeksi dengan memberikan saran tentang pemilihan antiseptik dan desinfektan; menyusun prosedur, kebijakan untuk mencegah terkontaminasinya produk obat yang diracik di instalasi farmasi atau apotek; menyusun rekomendasi tentang penggantian, pemilihan alat-alat kesehatan, pemilihan alat pelindung diri, injeksi, infus, alat kesehatan yang digunakan untuk tujuan baik invasive maupun non-invasif, serta alat kesehatan balut yang digunakan di ruang perawatan, ruang tindakan, maupun di unit perawatan intensif (ICU).

3. Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien untuk mempercepat proses penyembuhan, mencegah bertambah parah, atau mencegah kambuhnya penyakit serta mencegah penularan. Hal ini dilakukan dengan cara:

  • Memberikan informasi kepada pasien tentang penyakitnya dan pengendalian diri dan lingkungan dalam upaya mencegah penularan.
  • Menjelaskan obat-obat yang harus digunakan, indikasi, cara penggunaan, dosis, dan waktu penggunaannya.
  • Melakukan konseling kepada pasien untuk melihat perkembangan terapinya dan memonitor kemungkinan terjadinya efek samping obat.

Kompetensi yang diperlukan seorang Apoteker untuk dapat memberikan pelayanan kefarmasian terhadap pasien penyakit flu burung dan flu babi di antaranya adalah:

  • Pemahaman prosedur pengendalian infeksi flu burung dan flu
  • Pemahaman stratifikasi risiko keterpaparan kelompok individu terhadap infeksi flu burung dan flu babi
  • Pemahaman patofisiologi penyakit flu burung dan flu babi
  • Penguasaan farmakoterapi penyakit flu burung dan flu
  • Penguasaan farmakologi obat-obat yang digunakan pada pengobatan penyakit flu burung dan flu babi
  • Memiliki kemampuan komunikasi yang baik dalam pemberian konseling kepada pasien ataupun ketika berdiskusi dengan tenaga kesehatan lain.
  • Memiliki keterampilan dalam mencari sumber literatur untuk Pelayanan Informasi Obat penyakit flu burung dan flu babi
  • Monitoring terapi pengobatan yang telah dilakukan dan kemungkinan terjadinya efek samping obat maupun resistensi.
  • Memiliki kemampuan menginterprestasikan hasil laboratorium.

Tujuan pemberian konseling kepada pasien adalah untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan kemampuan pasien dalam menjalani pengobatannya serta untuk memantau perkembangan terapi yang dijalani pasien. Ada tiga pertanyaan utama umum (Three Prime Questions) yang dapat digunakan oleh Apoteker dalam membuka sesi konseling untuk pertama kalinya. Pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Apa yang telah dokter katakan tentang obat anda?
  2. Apa yang dokter jelaskan tentang harapan setelah minum obat ini?
  3. Bagaimana penjelasan dokter tentang cara minum obat ini?

Pengajuan ketiga pertanyaan di atas dilakukan dengan tujuan agar tidak terjadi pemberian informasi yang tumpang tindih (menghemat waktu); mencegah pemberian informasi yang bertentangan dengan informasi yang telah disampaikan oleh dokter (misalnya menyebutkan indikasi lain dari obat yang diberikan) sehingga pasien tidak akan meragukan kompetensi dokter atau apoteker; dan juga untuk menggali informasi seluas-luasnya (dengan tipe open ended question).

Tiga pertanyaan utama tersebut dapat dikembangkan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut sesuai dengan situasi dan kondisi pasien:

1. Apa yang dikatakan dokter tentang peruntukan/kegunaan pengobatan anda?

Persoalan apa yang harus dibantu?

Apa yang harus dilakukan?

Persoalan apa yang menyebabkan anda ke dokter?

2. Bagaimana yang dikatakan dokter tentang cara pakai obat anda?

Berapa kali menurut dokter anda harus menggunakan obat tersebut?

Berapa banyak anda harus menggunakannya?

Berapa lama anda terus menggunakannya?

Apa yang dikatakan dokter bila anda lupa minum obat?

Bagaimana anda harus menyimpan obatnya?

Apa artinya ‘tiga kali sehari’ bagi anda?

3. Apa yang dikatakan dokter tentang harapan terhadap pengobatan anda?

Pengaruh apa yang anda harapkan tampak?

Bagaimana anda tahu bahwa obatnya bekerja?

Pengaruh buruk apa yang dikatakan dokter kepada anda untuk diwaspadai?

Perhatian apa yang harus anda berikan selama dalam pengobatan ini?

Apa yang dikatakan dokter apabila anda merasa makin parah/buruk?

Bagaimana anda bisa tahu bila obatnya tidak bekerja?

Pada akhir konseling perlu dilakukan verifikasi akhir (tunjukkan dan katakan) untuk lebih memastikan bahwa hal-hal yang dikonselingkan dipahami oleh pasien terutama dalam hal penggunaan obatnya dapat dilakukan dengan menyampaikan pernyataan sebagai berikut:

“ Sekedar untuk meyakinkan saya supaya tidak ada yang kelupaan, silakan diulangi bagaimana Anda menggunakan obat Anda”.

Salah satu ciri khas konseling adalah lebih dari satu kali pertemuan. Pertemuan-pertemuan selanjutnya dalam konseling dapat dimanfaatkan Apoteker dalam memonitoring kondisi pasien. Pemantauan terhadap kondisi pasien dapat dilakukan Apoteker pada saat pertemuan konsultasi rutin atau pada saat pasien menebus obat, atau dengan melakukan komunikasi melalui telepon atau internet. Pemantauan kondisi pasien sangat diperlukan untuk menyesuaikan jenis dan dosis terapi obat yang digunakan. Apoteker harus mendorong pasien untuk melaporkan keluhan ataupun gangguan kesehatan yang dirasakannya sesegera mungkin.

Penyuluhan tentang pencegahan dan penanggulangan penyakit flu burung dan flu babi perlu dilaksanakan secara berkelanjutan mengingat sebagian besar penyebab penyakit flu burung dan flu babi adalah karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam melindungi diri mereka terhadap penyakit-penyakit virus tersebut. Penyuluhan dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. Penyuluhan langsung dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok; sedangkan penyuluhan tidak langsung dapat dilakukan melalui penyampaian pesan-pesan penting dalam bentuk brosur, leaflet atau tulisan dan gambar di dalam media cetak atau elektronik.

Apoteker diharapkan dapat memberikan penyuluhan secara personal dengan pasien penyakit flu burung dan flu babi. Penyuluhan secara personal dapat meningkatkan upaya pencegahan penularan maupun ketertularan serta kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatannya manakala terserang. Hendaknya Apoteker memastikan bahwa pasien tahu tentang penyakit yang dideritanya, pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan yang disarankan serta akibat dari ketidakpatuhan atau kelalaian dalam menjalankan terapi pengobatannya. Keluarga pasien harus diberi pengertian bahwa penyakit flu burung dan flu babi dapat menimbulkan komplikasi lebih lanjut seperti kematian apabila tidak ditangani dengan baik. Keluarga harus segera melapor bila ada dugaan ketertularan atau gejala influenza karena flu burung dan flu babi.

Terima kasih buat Isnenia, Dyah Fani dan M. Sridhotulloh yang telah membantu dalam penyusunan materi ini pada tugas Perilaku penggunaan sediaan Farmasi yang diampu oleh Bp. Riswoko

Very Small

Sesuatu yang kecil tengah menusuk, menyerang sendi diri, melambai, menarik tuk bercanda sampai ku terlena. Menari di atas panggung angan. Tenggelam dalam samudra lamunan.

Sampai kapan dia berlaku demikian? Membuat sakit tanpa tersadar. Meracuni keinsyafan.

Sampai kapan ku melayang? Sampai kapan ku tenggelam? Sampai kapan?

Dia yang sangat kecil memasuki kalbu. Begitu halus menyusup. Namun saat sampai tujuan, terciptalah keajaiban. Merubah benci, menampik segala ambisi. Kesedihan yang berganti rasa senang merayap perlahan, hingga timbul kehausan, gelisah yang mendalam dan tertutupnya akal sehatku.

Bukan! Dia bukanlah candu. Lebih dari itu, Dia juga bukan khamr.

Ya Allah, turunkanlah antibiotikmu. Tidak hanya menghilangkan simptom, seranglah pula penyebabnya, karena dia adalah virus yang melemahkan.

Kuatkan pula pertahananku, hinga saat dia masuk, diri ini mampu menangkal. tiada ku dilenakan, tiada ku dilemahkan atau pun dimatikan olenya.