DINASTI LEE II (Part 12)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 12

Song of the part :

 

Green, Green Grass Of Home

 

The old home town looks the same
As I step down from the train
And there to meet me is my Mama and Papa
Down the road I look and there runs Mary
Hair of gold and lips like cherries
It’s good to touch the green, green grass of home

Yes, they’ll all come to meet me
Arms reaching, smiling sweetly
It’s good to touch the green, green grass of home

The old house is still standing,
Though the paint is cracked and dry
And there’s that old oak tree that I used to play on
Down the lane I’ll walk with my sweet Mary
Hair of gold and lips like cherries
It’s good to touch the green, green grass of home

Then I awake and look around me
At four gray walls that surround me
And I realize that, yes I was only dreamin’
For there’s a guard and there’s a sad old padre
Arm and arm we’ll walk at daybreak
Again I’ll touch the green, green grass of home

Yes, they’ll all come to see me
In the shade of that old oak tree
As they lay me ‘neath the green, green grass of home

Sung By Tom Jones

 

 

Keesokan paginya. Min Ho serasa bagai lelaki baru. Dia yang terbangun lebih dulu dari Sun, pergi ke dapur setelah mandi dan berpakaian rapi. Dibawakannya sarapan Sun ke kamar mereka. Sun yang mencium bau masakan mulai membuka mata, dan terkejut mendapati suaminya itu sudah sangat rapi, tersenyum lebar ke arahnya dengan baki di tangan. Dengan memegangi perutnya, Sun berusaha duduk menyender di ranjang.

“Hati-hati, Baby,” Min Ho membantunya setelah meletakkan baki sarapan itu di atas meja kecil di kiri ranjang.

“Kau sudah bangun, kenapa tidak bangunkan aku,” Sun mulai ngambek. Min Ho meletakkan baki sarapan di pangkuannya,”Seharusnya aku yang melakukan ini semua padamu, Min Ho-ssi. Aku yang harusnya bangun lebih dulu.”

Min Ho mengibaskan tangannya,”Untuk sementara lupakan protokol suami-istri yang membosankan itu, kau pasti lelah setelah semalam. Ayo, sekarang makanlah.”

Sun mulai menyendok bubur di pangkuannya, pada saat itulah selimut yang menutupi dadanya agak tersingkap. Min Ho yang melihat hal itu kini menyelipkan satu tangannya ke bawah selimut itu dan merasakan kedua bagian tubuh itu menyambut belaian tangannya dengan hangat. Getaran yang menjalari sekujur tubuhnya mulai tak bisa lagi dia bendung, dan ia mengangkat baki sarapan itu lagi ke meja, lalu mencium lagi bibir kemerahan Sun dan menjalarinya sampai leher.

“Min Ho-ssi, apa kau akan melakukannya lagi?” tanya Sun parau. Susah payah, dia berusaha meredam hasratnya karena sentuhan itu. Terus terang, dia mengkawatirkan kandungannya jika Min Ho tetap tak bisa menahan diri seperti ini.

“Hm…,” Tapi Suaminya itu tidak menjawab, semakin asyik mencumbu dadanya, hingga otak dan hasratnya beradu antara akal sehat dan nafsu. Dan akhirnya, jantungnya berdetak cepat diantara kebimbangan itu.

“Min…  ah… ,” Sun memekik saat gigitan kecil terasa. Min Ho semakin menginginkannya, hingga lelaki itu menarik tubuhnya sampai terbaring kembali. “Aku mohon…, ingat… anak kita,” Sun mengingatkan dengan susah payah, jantungnya berdegup semakin kencang, tapi rupanya peringatan itu tertelan begitu saja karena nafsu suaminya sudah menyerang ubun-ubun. Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk oleh seseorang, dan hal ini sukses membuat Min Ho terpaksa mematahkan nafsunya.

“Mom.. , Dad… , Are you there?”

Wajah Min Ho tampak frustasi. Sun tersipu-sipu melihatnya, dalam hati, Sun merasa terselamatkan oleh putranya. “Anak tengil itu mengganggu saja,” gerutu Min Ho kemudian, lalu membantu Sun duduk kembali dan meletakkan baki sarapan di pangkuan istrinya itu.”Teruskan makanmu. Biar aku yang mengurus kemauan anak itu. Pagi ini kau sarapan di kamar saja, Baby. Tidurlah kembali jika masih lelah. Jam sepuluh nanti kita ke dokter untuk memeriksakan kandunganmu, aku tiba-tiba kawatir setelah kekonyolan kita semalam.”

Dahi Sun berkerut seketika. Baru semenit yang lalu Min Ho bernafsu menyentuhnya lagi, tapi kenapa secepat itu akal sehat suaminya kembali?

“Mom, Dad, are you there?” sekali lagi Min Jae mengentuk pintu. Min Ho semakin jengkel,”Ne! Sebentar, tidak sabaran banget?”

Sun terkekeh mendengar ucapan Min Ho. Suaminya itu akhirnya berjalan ke arah pintu. Min Ho keluar kamar, menutup pintu, lalu berdiri bersandar di kusen pintu,”Waeyo?”

“Waktunya sarapan, Dad. Halmoni sudah menunggu di ruang makan.”

Min Ho mendengus sebal,”Apa perlunya kau sendiri yang memanggil kami. Suruh saja pelayan.” Anak di depannya itu malah nyegir kuda,”Sebenarnya ada juga hal yang ingin ku sampaikan.”

“Oke. Kita sarapan sekarang,” ajak Min Ho. Dia mulai menggiring Min Jae ke ruang makan.

“But, Mom tidak sarapan?”

“Anyi, biarkan dia istirahat, kau tidak berpikir kalau dia capek berdiri terus di pestamu?”

Min Jae hanya bisa mengangguk. Mereka akhirnya tiba di ruang makan dimana Je Ha sudah menunggu. Sesekali timbul gurauan di antara mereka, tapi Min jae belum juga mengungkapkan hal yang mengganjal di hatinya. Dia tidak ingin merusak suasana bahagia itu. Min Ho yang sudah mulai menyelesaikan makannya, mulai mengingat pembicaraan Min Jae di depan pintu kamar. “Kau bilang ada yang ingin kau bicarakan?” tanyanya pada Min Jae.

“Yes, dad.”

“Katakan saja,” Min Ho mulai memandang serius. Je Ha mengamati roman wajah Min Jae yang juga berubah serius, hingga akhirnya Min Jae bersuara,”Min Jae akan ke Beijing besok, untuk mengurus sesuatu.”

“Sesuatu? Apa?” Je Ha jadi penasaran.

“Surat-surat Min Jae perlu legalisir,” Min Jae masih juga berteka-teki.

“Surat apa?” Kali ini Min Ho semakin tidak sabar, dia tidak ada waktu buat menebak-nebak lagi.

“Ijazah, piagam penghargaan, semuanya. Setelah itu Minjae ke Amerika, ada beasiswa dari Harvard untuk program doctor.”

Kedua orang tua di depannya terkejut. Mereka tidak menyangka sampai sejauh itu pemikiran bocah ini. “Ini pasti alasanmu untuk menghindari kami, bukan?” Min Ho masih saja mencurigai putranya.

“No, Dad. Min Jae sudah memikirkan hal ini jauh-jauh hari, bahkan beasiswa ini sudah Min Jae dapatkan sehari sebelum pindah ke Lee Manshion. Min Jae mulai kuliah musim dingin ini.”

Min Ho jadi mengerti alasan Min Jae menunda kepindahannya pada waktu itu. Je Ha masih tidak bisa terima keputusan cucunya,”Kenapa kau harus mengambil program doctor, apa kau ingin menjadi akademisi? Ingat, kau harus meneruskan Lee Corporation.”

Min Jae menghela nafas,”Ada rasa penasaran untuk meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Itu saja, Halmoni. Min Jae tidak pernah merasa puas.”

Min Ho tersenyum bangga, dia mulai menunjuk-nunjuk Min Jae,”Hm, ini baru putraku. Kau benar-benar seorang Lee.”

“Oke,” Akhirnya Je Ha pasrah juga,”Pergilah kau ke sana, tapi ingat, pulang kembali ke mari dan jadilah penerus Lee.”

Min Jae tersenyum, tiba-tiba dia ingin menggoda neneknya dengan suatu pemikiran, hingga terlontarlah wacana itu,”Lalu bagaimana dengan keluarga Goo? Mereka juga perlu penerus. Bisa saja Grandpa di New York mempengaruhiku selama aku di sana.”

Kedua orang itu meletakkan sendok bersamaan. Perkataan bocah ini ada benarnya juga. Akan ada perebutan penerus, dan tidak mungkin bayi perempuan yang masih di kandungan Sun itu penerus Goo, karena pasti akan menjadi hak suaminya jika ia menikah kelak.

“Ini kesalahan. Benar-benar kesalahan, Min Ho-a,” Je Ha mulai gusar. Min Ho menepuk-nepuk punggungnya. Je Ha masih saja mendumel,”Oh, kenapa kalian sama-sama anak tunggal, dan kenapa kalian musti terpisah bertahun-tahun. Jika saja kau tidak bodoh, jika saja Bo Young tidak muncul…

“Oemma… ,” Min Ho memanggil datar agar Je Ha tidak meneruskan perkataannya tentang Bo Young,”Untung saja Sun tidak di sini, Oemma. Karena jika dia mendengar nama itu lagi, dia akan sangat sedih.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan?” Je Ha bertanya, hatinya benar-benar putus asa. Min Ho memandangi putranya,”Kau yang harus memilih,”katanya kemudian. Min Jae menampakkan tampang berpikir,”Ehm…. Kita lihat saja nanti, jika tidak ada titik temu, bukankah lebih baik GMJ dan Lee Corporation bersatu?”

“Kau membuat kami jantungan saja,” Min Ho terlihat kesal. Min Jae tersenyum penuh kemenangan. “Tapi itu pilihan terakhir, Dad. Kita tidak akan melebur jika ada putra Lee yang lain.”

Min Ho mengibaskan tangannya, tidak mungkin ada anak lagi mengingat usia Sun,”Kau sudah bicarakan rencana kuliah dengan Ommamu?’

Min Jae menggeleng,”Mom pasti tidak setuju.”

“Bisa kupastikan itu,” Je Ha mengamini perkataan Bocah cerdas itu.

“Ini tugasmu untuk meyakinkannya, Dad.”

Min Ho menghela nafas,”Baiklah, akan kubuat Omamu mengerti.”

Usaha Min Ho berhasil karena istrinya akhirnya bisa menerima keputusan Min Jae. Dengan berat hati, Sun melepas keberangkatan Min Jae di bandara Incheon, bahkan dia menangis.

“Come on, Mom. I’ll be there just for two years,” Min Jae jadi tak enak hati meninggalkan Ibunya yang sesenggukan itu. Sun masih saja menangis di pelukannya. Maklum, baru kali ini dia akan berpisah lama dengan Min Jae, dia sebenarnya ingin ikut, jika saja Kim Hyun Joong, dokter kandungannya tidak mewanti-wanti agar tidak melakukan perjalanan jauh.

“Cepat pulang, ya?” Sun masih saja meminta kepastian di dada bidang itu. Min Ho meraihnya, lalu akhirnya pelukan ibu dan anak itu terlepas, kini Sun beralih ke pelukan suaminya, masih saja terisak.

“Mom, kau tidak akan sendirian nanti. Dongsaeng akan segera lahir, kan?” Min Jae masih berusaha menghibur Sun. Ibunya itu mengangguk. Lalu Min Jae memandang ayahnya,”Jaga Mom selama aku pergi, Dad.”

Min Ho mengangguk. Min Jae memeluk neneknya sebelum menuju pesawat. Dia melambaikan tangan dengan senyuman yang tersungging di wajahnya.

“Don’t worry, Mom. I’ll be back in two years,” serunya lantang. Hingga akhirnya tubuhnya terbang, bersama pesawat yang ditumpanginya.

Musim panas di Korea Selatan, dua setengah tahun kemudian.

Min Ho dan Je Ha tampak berdiri di Toproof Lee Mansion, di tengah-tengah mereka, berdiri gadis kecil yang sangat cantik dengan kulitnya yang putih bagai satin dan rambutnya yang hitam legam itu, sesekali mata lebarnya mengerjap, sementara bibir mungilnya masih saja mengulang pertanyaan yang sama sejak tiga puluh menit yang lalu,”Kapan Oppa datang?”

“Sebentar lagi, Hye Na,” Jawab Je Ha dengan lembutnya. Min Ho hanya memandang saja. Dalam hati mulai capek menjawab pertanyaan yang sama terus. Gadis cilik itu malah meruncingkan bibir,”Uh…, Oppa lama sekali.” Seiring gerutuan itu, halikopter datang mendarat di depan mereka. Dan Min Jae turun dari halikopter itu dengan lengan terlentang.

“Oppa!” gadis cilik itu berteriak dan menghambur ke pelukan Min Jae. Tawa bahagia terdengar dari mulut keduanya, saat Min Jae memutar-mutar tubuhnya sementara gadis cilik itu berada di pelukannya. Setelah puas membuat adiknya takut sekaligus senang, Min Jae mulai menurunkan Hye Na dan berjalan menuju Je Ha dan Min ho.

“Harmoni…” Min Jae memeluk  Je Ha. Neneknya itu tampak sehat walau kerentaan menerpa, sepertinya Sun merawat neneknya dengan sangat baik. Saat sudah puas melepas kangen dengan Je ha, Min Jae memeluk Min Ho. Dan kekaguman terpancar untuk ayahnya itu, wajah ayahnya semakin bersinar saja, dan makin tampak kewibawaan di rona wajah itu. Kini dia yakin, bahwa seorang pria terhebat di dunia pun, tidak bisa hidup tanpa wanita yang dicintainya. Inilah yang tampak dari Min Ho sekarang, kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga yang membuat Min Ho awet muda.

“Oppa… , oleh-olehku mana?” protes adik ciliknya. Min Jae tertawa. Dia jadi gemas dan mencubit pipi Hye Na. Lima bulan yang lalu, saat orang tuanya dan adik ciliknya ini menghadiri penobatannya sebagai Doktor, dia memamerkan Hye Na pada teman-temannya. Dan mereka terkagum-kagun melihat Hye Na. “Just like Japanesse Doll,”seru Beth, temannya dari Kanada waktu itu. Dan James, temannya yang terkenal playboy juga menggoda,”I won’t marry until you grow up, beautifull girl.” Dan Min Jae jadi marah setengah mati mendengar ucapan itu, dia tidak rela jika saja Hye Na sampai mendapatkan suami seperti James yang suka gonta-ganti perempuan.  Tiba-tiba Min Jae menyadari ketidakhadiran Sun di toproof.”Where is Mom?” Min Ho tersenyum padanya,”Dia menunggumu di taman, kita akan piknik di taman Lee Manshion menyambut kedatanganmu.”

“Sebenarnya dia ingin ikut menyambutmu, Min Jae. Tapi Harmoni melarangnya. Tak baik buat kesehatannya,” terang Jeha.

“Apa mom sakit?” Min Jae jadi kawatir.

“Kau lihat saja nanti,” Min Ho malah membuatnya penasaran,”Oke, ayo kita temui Mom!” Min Jae berteriak girang, dia bahkan menggendong Je ha agar lebih cepat sampai taman mengingat jalan Je Ha dengan tongkat yang lambat seperti siput itu. Hye Na melihat semua itu dan cemburu,”Uh… kenapa Harmoni yang malah digendong?”

Min ho terbahak mendengar ocehan Hye Na, “Kau juga mau digendong? Sini Appa gendong!” Min Ho meraup gadis cilik yang cerewet itu, lalu menciumi perut Hye Na hingga putrinya cekikikan karena geli.”Oppa pasti bawa oleh-oleh banyak buat Hye Na,” anak itu masih saja mengoceh tentang oleh-oleh. Mereka mulai turun dari toproof dengan menggunakan lift,”Kenapa hanya oleh-oleh yang kau pikir, mungil… masih untung Oppamu mau kembali ke Korea.”

“Mwo?” Hyena tidak mengerti maksud ucapan Min Ho. Sebenarnya Min Ho mengkawatirkan sesuatu, yaitu keadaan negeri itu yang semakin kacau. Beberapa rekan bisnisnya bahkan sudah emigrasi ke luar negeri, hanya sedikit keluarga tua di Korea saja yang masih bertahan. Apa yang akan terjadi pada keluarganya nanti, semuanya terserah pada Min Jae. Apa pun keputusan putranya mengenai Lee Corporation, dia ikut saja.

“I miss you, Mom,” Min Jae memeluk Sun saat mereka bertemu di taman Lee Mansion yang luas.”Really really miss you!” Sun tertawa bahagia, dia membelai kepala anaknya itu lembut. Min Jae merasa ada sesuatu yang mengganjal di perutnya saat dia memeluk Sun, lalu dilepasnya pelukan itu dan mulai melihat perut Sun yang membuncit,”Mom, are you pregnant?”

Sun mengangguk senang,”Ne, Min Jae. Oemma hamil.”

“Wow, sudah berapa bulan, Mom?”

“Enam bulan.”

“Enam bulan? Kenapa tidak mengatakan apa-apa padaku saat wisuda lima bulan yang lalu?”

Sun tersenyum,” Seperti biasa, Oemma terlambat mengetahui kehamilan. Tahu-tahu Oemma pingsan setelah tiba di Incheon.”

Je Ha mengangguk. Sesaat dia teringat kejadian lima bulan yang lalu. Dia yang menunggu kedatangan mereka di toproof tiba-tiba dikejutkan oleh telepon dari Min Ho yang mengabarkan bahwa Sun pingsan di bandara dan dibawa ke rumah sakit, semakin terkejut lagi, saat mendengar penyebab pingsannya Sun waktu itu. Dia yang mengkawatirkan keadaan Sun, marah sekali pada Min Ho. “Hm… saat harmoni tahu Ommamu hamil lagi, halmoni memarahi Appamu habis-habisan. Bagaimana bisa dia membuat Oemmamu hamil lagi di usia sekarang. Tentu sangat membahayakan hidupnya.”

“Sudahlah, Oemma. Semua ini sudah kami bicarakan berdua. Aku bahagia di kehamilan ini.”

Min Ho yang baru tiba ikut nimbrung juga dalam obrolan itu, dia menurunkan Hye Na dan anak itu sudah mulai membuka keranjang bekal.

“Its great, Mom. Kali ini laki-laki atau perempuan?” tanya Min Jae.

“Dua-duanya, Min Jae,” jawab Min Ho

“What a surprise! Twin!”  seru Min Jae tak percaya.

Min Ho mengangguk-angguk, “Kau boleh ribut dengan namdoangsaengmu nanti, hahaha.”

 Min Jae jadi meruncingkan bibirnya. Sun mengibaskan tangan,”Sudahlah, Ayo kita makan, Aku sudah sangat lapar.”

Mereka duduk di tikar yang tergelar di atas rumput, di bawah pohon besar yang rindang dan mulai membuka bekal yang sudah disiapkan. Sun segera sibuk menyuapi Hye Na. Anak itu menggeleng,”Hye Na makan sendiri, Oemma.”

“Hahaha, anak pintar,” Min Jae mengucek rambut adik kecilnya, lalu menerima sepiring makanan yang disodorkan oleh Je Ha. Sun tiba-tiba merasa mual melihat daging di piring itu yang terlihat sangat berlemak, tapi berusaha menahannya, hingga matanya berair. Min Jae yang mengetahui hal itu menepuk-nepuk punggungnya, lalu menjauhkan makanan itu dari penglihatan Sun.

“Gumawo, Sayang,” Sun tersenyum dengan mata berbinar ke arahnya. Min jae mengangguk, lalu berbalik membelakangi Sun agar Mom-nya itu tidak melihatnya memakan daging sehingga merasa mual kembali. Sementara Hye Na dan Min Ho makan sambil sesekali berkelakar. Min Jae merasa menjadi anak yang paling beruntung sedunia. Dia tidak rela jika kebahagiaan itu lenyap begitu saja hanya karena orang-orang politik bodoh yang membuat suasana kacau di korea. Dia akan membuat keluarga ini pergi sejauh mungkin menghindari hal itu. New York dengan senang hati menerima mereka. Itu sudah Min Jae pikirkan jauh-jauh hari, dia akan memindahkan pusat Lee Corporation ke New York, berdampingan dengan GMJ’s corp lalu mereka sekeluarga pindah ke sana. Tentu yang ada hanyalah kebahagiaan. Dia, orang tuanya, harmoni, Hye Na serta adik-adik yang akan lahir nanti.

Namun Min Jae ingin melupakan semua itu sekarang. Dia ingin menikmati kebersamaan keluarganya di taman berumput itu, hingga dengan riang dia kini bermain kejar-kejaran dengan adik ciliknya, tak perduli posisinya sebagai remaja sekarang. Dan Je Ha sudah mulai mendekati tanaman-tanaman mawarnya untuk diurus.

Sementara Sun masih duduk di atas tikar dan Min Ho merebahkan diri dengan posisi kepala di pangkuannya. Sesekali tampak Min Ho mengelus dan menciumi perutnya. Sun tertawa-tawa saat tingkah kedua anaknya yang berkejaran itu serasa lucu, lalu teringat akan impiannya selama ini.”Apakah kita berada di surga, Min Ho-ssi?”

“Mwo?” Min Ho tidak mengerti maksud ucapannya. Sun masih saja membelai rambut Min Ho lembut dan memandang anak-anak yang kini bermain petak umpet itu,”Lagu itu, Green grass of home menjadi kenyataan sekarang.”

“Kenyataan untukku, Baby,” Min Ho mencium perutnya lagi,”kira-kira akan mirip siapa bayi laki-laki dalam perut ini? Jika sifatnya mirip denganku, kau pasti repot sekali nantinya.”

Sun tertawa lagi mendengar ocehan Min Ho, “Aku senang jika sifatnya mirip denganmu. Karena aku mencintaimu. Terima kasih telah mempercayai rahim ini untuk melahirkan anak-anakmu, Min Ho-ssi.”

Min Ho bangkit, lalu duduk merangkul Sun,”Kadang ku berpikir kebaikan apa yang kulakukan di masa lalu hingga ku begitu beruntung mendapatkan istri sebaik dirimu.”

“Jangan berlebihan, Min ho-ssi.”

Min Ho menatap Sun begitu dalam,”Tidak,Baby. Kau terlalu baik untukku.”

Tangan Sun mulai terangkat, dan mengelus pipi suaminya,” Bukankah itu yang semestinya wanita lakukan, Min Ho-ssi? Menghormati suaminya, mendidik dan menyayangi anak-anaknya. Tentu hal itu merupakan ibadah terindah bagiku.”

“Demi Tuhan, Baby. Untung saja ku menikahimu sebelum kau memutuskan jadi biarawati.” Mereka berdua tertawa bersama mendengar kekonyolan ucapan Min Ho.

“Kira-kira apa langkah Min Jae untuk Lee Corporation?” tiba-tiba Min Ho mengkawatirkan keadaan keluarganya nantinya. Sun menggeleng,”Entahlah, menurutmu?”

Min Ho memandang Min Jae yang masih bermain petak umpet dengan Hye Na,”Apa pun keputusannya nanti. Aku mendukung saja. Semua orang koar-koar tentang nasionalisme. Sangat munafik, padahal dibalik semua itu, mereka juga siap melarikan diri, bahkan mereka menyimpan rekening di negeri yang aman seperti Swiss, misalnya. Kenapa kita tidak?”

Sun mengunci wajah tampan Min Ho hingga menoleh ke arahnya,” Aku serahkan saja semua pada kalian. Di mana pun kita nantinya, asalkan bersamamu dan anak-anak. Ku pasti bahagia.”

Min Ho tersenyum,”Gomawo, Baby. Semua pasti baik-baik saja percayalah padaku… percayalah… ” Dan Min Ho mengecup bibir merah itu, sebuah ciuman kecil yang seperti membujuk, lalu menuju ciuman yang dalam dan lebih menuntut, disertai getaran cinta dan kebahagian dari hatinya. Sun membalas semua itu, di sinilah rumahnya sekarang, di hati Min Ho, suaminya. Lengan itu akan melindunginya selamanya. Senyuman itu akan selalu menenangkannya, lalu rumput hijau yang terhampar luas, tempat anak-anaknya, penerus generasi Lee bermain dengan riangnya menyambut kebahagiaan yang membentang di masa depan.

THE END

THANK YOU FOR THE ATTENTION FROM START TO THE END

WISH YOU ALL THE BEST

Sisicia

Iklan

DINASTI LEE II (Part 2)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 2

 

TOLAK

TERIMA

LEPAS

TAHAN

ABANDON

Apa, sih?

Tombol-tombol itulah yang selalu diklik oleh  pria, bukan, bukan pria, tapi anak, anak laki-laki yang sedang duduk menekuri laptopnya, di hadapannya terhampar rerumputan luas, dan keindahan danau itu, nampaknya hanya menarik perhatian sang Ibu yang duduk bersila sambil membuat sketsa, sesekali sang ibu tersenyum menoleh padanya, tentu saja tanpa dia hiraukan karena dia masih saja serius dengan layar beberapa inchi yang ada di depannya.

TOLAK, sekali dia memilih, setelah laporan online masuk ke program di komputernya, saat file lain masuk lagi, program navigasi langsung menghitung hal-hal yang diperlukan, nilai NPV tidak seperti yang diharapkan, bahkan RRR tidak menjanjikan, sekali lagi dia mengklik, TOLAK.

Itulah sebabnya dia lebih menyukai laporan softcopy, hardcopy itu urusan Ibunya, usia tigabelas tahun memang tidak memungkinkan untuk menandatangani dokumen-dokumen itu, di sini dia hanyalah otak, dan lewat tangan lembut Ibunya, semua rencana dalam otaknya diresmikan.

The Brain, itulah julukan yang diberikan oleh orang-orang yang mengenalnya, dia memasuki bangku sekolah dasar pada umur empat tahun, dan hanya menghabiskan masa dua tahun di pendidikan itu, SMP dan SMA pun dia selesaikan dalam total waktu tiga tahun, alhasil dia memasuki bangku kuliah mulai umur sembilan tahun, dan meraih gelar masternya dua bulan yang lalu.

Melalui laptopnya itu, dia mengetahui keadaan perusahaan Ibunya, berapa pemasukan dan pengeluaran, berapa proyek yang mesti memenuhi deadline, sampai pekerja yang membolos, dan dia tak segan-segan memecat orang, jika program itu menampakkan kata TOLAK, tidak manusiawi memang, tapi apa daya, bukankah dia hanya “otak”?

Sang Ibu rupanya sudah menyelesaikan sketsanya hingga memutuskan untuk berbaring di atas rumput, setelah tersenyum ke arah anak yang masih cuek itu. Semuanya begitu baik sekarang dan aku sungguh tak bisa mempercayainya, dia menghela nafas sambil melipat kedua tangannya sebagai bantal.

Masih lekat dalam ingatannya betapa dia hampir kehilangan anaknya itu, waktu itu orang tuanya memutuskan untuk memboyong dia beserta anaknya yang lahir premature itu ke Paris demi mendapatkan penanganan lebih lanjut. Bayi yang kekurangan berat, atau istilah medisnya disebut BBLR itu, tiba-tiba tidak bergerak dalam inkubatornya selepas pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Paris. Semuanya pasrah dan mulai berpikir bahwa perjalanan panjang Beijing-Paris sangat sia-sia. Bahkan alat pendeteksi tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan lagi, hingga para suster mulai mencopot semua selang yang selama beberapa bulan itu menyiksa bayi mungilnya.

Oemmanya hanya mampu mengelus kepalanya lembut,”Kita relakan saja, ya….”

Butiran bening mulai menggenangi pelupuk matanya, tidak ada lagi yang tersisa kini. Bayi mungil, pelipur laranya itu, benar-benar telah meninggalkannya, untuk apa lagi dia hidup? Suster-suster mulai mengeluarkan bayinya dari incubator.”Suster, boleh aku menggendongnya?” dia meminta lirih.

“Aku ingin menggendongnya untuk terakhir kalinya, aku mohon.”

Suster akhirnya menyerahkan bayi itu ke gendongannya, dan dengan lembut dia membelai bayi kecil itu. Dia merasakan bayi itu sangat rapuh, hatinya serasa pilu karenanya dan dengan penuh perasaan, diciumnya kepala bayinya itu lembut. Ajaib, bayi itu bergerak lagi. Matanya langsung berbinar mendapati keajaiban itu, “Suster, lihat! Dia bergerak! Dia bergerak!” teriaknya di antara tangis.

Para suster segera mendekati bayi itu lagi, bahkan Oemmanya mengucap syukur berulang kali.

“Ini keajaiban, Nyonya,” puji salah satu suster,”Terus belai dia, Nyonya. Mungkin belaian Nyonya yang menyebabkan keajaiban ini.”

Dia mengangguk, dan mulai tersenyum di antara tangisan harunya,”Kau kembali untuk Oemma, Nak? Kau murah hati sekali pada Oemmamu ini.”

Oemmanya pun mendekati dan ikut membelai bayinya,”Ini keajaiban, Sun. Anak ini membawa keajaiban untukmu karena itu Tuhan belum ingin mengambilnya darimu.”

Sun semakin terisak, kata-kata Oemmanya itu benar juga, setelah kelahiran bayi ini, dia mulai sembuh dari depresinya, tak ada lagi psikiater, tak perlu lagi antidepresan yang membuat bayinya ini lahir premature dengan berat lahir rendah, yang ada hanya dia dan bayinya, bayi pelipur laranya itu.

Setelah dua jam, suster-suster itu meminta bayinya kembali untuk diletakkan dalam incubator lagi, dan mereka menjalankan terapi atas bayinya itu selama beberapa bulan saja di Paris, karena hal yang tidak mengenakkan terjadi lagi pada kesehatan bayi mungil itu.

Terapi di Paris memang berhasil meningkatkan berat badan dan syaraf motoriknya, tetapi hal lain belum mampu mereka atasi, yaitu gejala Withdrawal atau putus obat atau istilah lazimnya adalah sakau pada bayi itu. Hal ini disebabkan obat antidepresan yang dikonsumsinya selama masa mengandung, yang ternyata juga menurun ke bayinya, bayi itu sangat hiperaktif, bahkan menangis sangat kuat melebihi bayi normal jika sedang sakau, hingga kadang dia kalang kabut untuk mengatasinya, dan dari Oemmanya dia tahu, bahwa tim dokter di Paris menyarankan agar membawa bayi itu ke Amerika, karena di sana ada metode pengobatan baru untuk bayi dengan NAS seperti bayinya yang dikembangkan oleh Waissman, yang disebut Neuroregulasi.

Dia memang lebih suka mendengar penjelasan para dokter itu dari mulut Oemmanya karena Oemmanya sangat tahu bagaimana menyampaikan agar mudah dia pahami dan tidak membuat terlalu shok. Dia hanya tersenyum menerima kenyataan itu,”Kita lakukan saja, Oemma. Selama ini Min Jae tidak mengecewakan kita, Sun yakin metode pengobatan itu akan menyembuhkan Min Jae.”

Dia membelai bayi yang mulai gemuk itu lembut. Bayinya itu sedang tenang sekarang,”Min Jae ada untuk Sun, Oemma. Oemma lihat sendiri, kan? Min Jae hidup lagi setelah Sun gendong. Min Jae pasti kuat.”

Dan hari-harinya di Amerika pun berlalu dengan lancar, tidak ada IQ atau perilaku tercela yang biasa bayi premature punya pada anaknya. Kebalikannya, anaknya itu semakin menampakkan keajaiban. Min Jae memang tidak pernah focus pada satu kegiatan, tapi hal inilah yang menjadi kelebihannya karena dia bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan dalam satu waktu.

Bahkan saat mereka kembali ke Beijing, keajaiban Min Jae semakin kentara dari prestasi akademiknya karena umur delapan tahun Min Jae sudah mempersiapkan diri masuk bangku kuliah, bahkan nilai NCEE-nya 505, atau 47 point di atas rata-rata dan dengan nilai itu dia bisa kuliah setahun berikutnya. Puncaknya adalah dua bulan yang lalu, saat Min Jae meraih gelar masternya di bidang bisnis. Anak itu melonjak-lonjak kegirangan di depan halmoni dan harabojinya, bahkan dengan nakal mencolek dagu Sun sambil tertawa-tawa tidak jelas, memamerkan piagam penghargaan yang dia dapat sebagai peraih gelar master termuda.

”See, Mom.. .this recognition is for you!” serunya sambil menjulurkan piagam itu pada Sun. Mirip siapakah tingkah ini? Sun mulai berpikir.

Seiring keajaiban Min Jae, seiring pula Sun memperbaiki diri. Dia mulai ikut andil dalam bisnis Appanya sejak umur Min Jae lima tahun, bahkan saat Appanya pensiun, atas inisiatif Min Jae, nama Goo Group yang dinilai sudah tidak relevan, diubah menjadi GMJ’s corp, dia bahkan tidak keberatan jika harus bolak-balik Beijing-New York demi bisnis, karena pusat GMJ’s corp ada di New York. Dia juga mulai membuka diri pada Korea lagi, hal pertama yang dia lakukan saat mengujungi Korea adalah mengajak Min Jae memancing di Jeju. Min Jae sepertinya menikmati suasana desa nelayan itu.

“Yuhuuu! Big Fish!” seru Min Jae saat umpannya sukses mengkail ikan besar. Sun yang sedang menyiapkan bumbu tersenyum menerima ikan itu untuk dimasak. Min Jae mulai nakal, menggelitiki pinggangnya dari belakang.

”Min Jae…, don’t do that,” elak Sun dari kelitikan itu. Min Jae tidak perduli, bahkan saat Sun berhasil menghindar, Min Jae menggerak-gerakkan ke sepuluh jarinya itu di depan Sun sambil cekikikan. Sun mengatung-atungkan sendok di tangannya,”I am serious, Min Jae!”

Min Jae akhirnya duduk setelah lelah menggoda Ibunya, dia mengitari lagi laut lepas di hadapannya,”Mom, Which one ? Primary Corp or Bussiness Unite here?”

Sun mengangkat bahu,”That’s up to you, Son!”

Min Jae tertawa mendengar jawaban itu,”Mom, you’re lucky to have me. You just sign the papper after I think about.”

Sun tersenyum, memang dia sangat beruntung memiliki Min Jae. Dia memang tidak terlalu pintar berbisnis. Bisa dikatakan, bisnis ini sebenarnya bisnis Min Jae karena anak itu yang memikirkan semuanya dan Sun hanya tinggal tanda tangan saja.

“Mom… A call for you!” teriakkan Min Jae menyadarkan lamunan Sun. Sun bangkit, lalu menggeliat, dan mendekati Min Jae yang mengatung-atungkan Handphonenya,”Pakai bahasa korea, Nak…. Kau sudah di Korea sekarang….” Katanya sambil mengucek rambut Min Jae. Min Jae memonyongkan bibir mendapat perlakuan itu. Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling dikuasainya dibanding bahasa Hanggul dan Mandarin karena pergaulannya waktu kuliah di Universitas Beijing dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai Negara, mengharuskannya memakai bahasa Inggris.

“Yoboseyo…,” Sun mulai terlibat dengan pembicaraan di telephone,”Cheongmal?” Sun mulai memandang Min Jae yang asyik lagi dengan laptopnya, lalu segera menutup pembicaraan via telephon itu.

“Min Jae, bagaimana lima puluh persen saham Lee Corporation ada di tangan kita?”

Min Jae tersenyum nakal pada Sun,”Mom sendiri yang menyetujui rencana ini.”

“Mwo? Kapan?”

“Mom lupa? Dua hari yang lalu, waktu Min Jae menyodorkan dokumen itu.”

Sun jadi terkejut mendengar penjelasan itu, dia memang tidak pernah memeriksa kembali dokumen yang diserahkan Min Jae padanya dan itu ternyata kesalahan fatal,”Lepas saham itu, Min Jae.”

“Why, Mom? The Portfolio risk is good!”

“Oemma tidak perduli, sekarang juga lepas saham itu.”

Min Jae menggerutu, melepas saham yang susah payah dia dapat tentu bukan hal mudah baginya dan dia sudah mendapatkan lima puluh persen, itu artinya kedudukannya sudah menyamai pemilik perusahaan itu.

“Noona!” seorang pria memanggil Sun. “Donghae-ssi?” Sun menyongsong kedatangan pria itu dengan tangan terbuka, sesaat mereka berdua berpelukan, mengacuhkan Min Jae yang masih duduk di kursinya.

“Apa kabarmu, Donghae-ssi?”

“Baik, Noona.”

“Masih berkarier sebagai penyanyi?”

“Ah, dunia itu tidak  abadi, Noona. Jika saja aku bukan keluarga Lee, mungkin aku sudah bunuh diri seperti artis-artis lain yang mulai tidak laku.”

Min Jae menaikkan alis saat nama Lee disebut. Sun tertawa mendengar candaan Donghae lalu mengapit lengan pria itu untuk menemui Min Jae,”Donghae-ssi, ini putraku, Min Jae.”

Min Jae berdiri dan membungkukkan badannya,”Goo Min Jae imnida.”

Alis Donghae berkerut mendengarnya. Sun tersenyum menyaksikan pertemuan mereka berdua,”Min Jae, Oemma ingin ngobrol dengan ajhussi sekarang. Bisa tinggalkan kami sebentar, Nak…”

“Sure, Mom. Anything for you,” Min Jae mulai memunguti laptopnya dan memohon diri pada Donghae. Donghae masih saja memandangnya heran saat dia menjauhkan diri dari mereka.

“Goo Min Jae?” tanya Donghae pada Sun sambil menunjuk anak itu. Sun mengibaskan tangannya sambil tersenyum,”Di akta lahir dan surat-surat resminya tertulis Lee Min Jae, tapi entah kenapa dia selalu memperkenalkan diri sebagai Goo Min Jae.”

“Apa mungkin dia membenci nama itu?”

“Membenci? Kenapa harus benci?”

Donghae menyandarkan diri ke kursi taman itu,”Ah, jangan pura-pura lupa, Noona. Fitnahan pada waktu itu memang kejam, mungkin anak itu tahu lalu sangat benci nama Lee.”

Sun menggeleng,”Tidak, dia tidak tahu.”

“Noona yakin?”

“Aku sangat membenci MinHo, karena itu aku tidak pernah bercerita hal buruk tentang Min Ho maupun keluarga Lee padanya, aku takut menabur kebencian di hatinya.”

Donghae semakin tidak mengerti,”Apa dia tidak pernah bertanya tentang Abojinya?”

“Dia memang bertanya, tapi berhenti saat berusia delapan tahun.”

“Kenapa?”

“Entahlah, aku tidak tahu. Ah, kenapa harus bicara masa lalu, sekarang ceritakan tentang dirimu, sibuk apa kau sekarang?”

Donghae terbahak,”Karena aku salah seorang keluarga Lee, maka aku juga berhak atas saham Lee Corporation, dan aku gunakan uang itu untuk mendirikan usaha Even organizer. Oh ya, Noona, dua hari lagi ada pameran benda seni di Kim’s art gallery, saya  harap Noona hadir karena kami adalah Even Organizernya.”

Donghae mulai bicara panjang lebar tentang dirinya, sementara Min Jae yang duduk tak jauh dari mereka menguping pembicaraan walau matanya masih asyik menekuri laptop. Jadi dia termasuk keluarga Lee? Hm, semakin menarik. Donghae sepertinya tidak perduli pada Lee Corporation, itu berarti pria tua itu sendirian. Hah! Semakin mudah saja sepertinya. Dia mulai tersenyum licik.

TBC PART 3

DINASTI LEE II (Part 1)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 1

Song of the Part:

I’m Gonna Loose You

By: Classics

The sweet is dream. I dream with you

You’re my sunshine when troubles make me blue

I am so alone know that you go

I didn’t mean to hurt you, come back where you belong

Yes, I know, I know I’m gonna loose you

But my shoes keep running back to you

‘Cause they know there never be another

There will never be another you

Still I go, that same on play

and where we walk together, kiss the night away

only a fool good let you go

My world is so empty, come back I miss you so

Yes, I know, I know I’m gonna loose you

But my shoes keep running back to you

‘Cause they know there never be another

There will never be another you


Suasana  sangat tegang, dua orang suster berusaha menenangkan pasien wanita yang histeris, kiri dan kanan mereka memegangi pasien itu karena meronta semakin kuat. “Aku benci Seoul! Aku benci Seoul!” Pasien itu masih saja berteriak.  Tubuhnya menggeliat-geliat hebat, tenaganya masih kuat saja. Dua suter itu semakin kawatir. Tak ada daya bagi keduanya, hingga bantuan pun datang, perawat lelaki dengan tali tambang di tangannya berusaha mengekang kaki sang pasien agar tidak semakin menyakiti diri, dan mulai beralih ke tangan kirinya.

“Kenapa dia histeris?” wanita paruh baya yang baru saja memasuki ruangan juga panic. “Entahlah, Nyonya. Tadi ada kabar tentang Seoul di TV,” perawat lelaki berusaha menerangkan sambil terus berusaha mengekang tangan wanita yang meronta itu. Geliatan pasien semakin kuat, dia bahkan menjerit-jerit tak karuan,”Aku benci kota itu. Aku benci!”

“Dokter Liu, dimana Dr. Liu?” Sang Nyonya tambah panic. Yang dipanggil segera memasuki tempat itu. Dia mengeluarkan ampul, mengisi spuit dengan cairan dalam ampul lalu menyuntikkan pada pasien yang histeris.

“Apa itu, Dokter? Dia sedang mengandung!” cegah sang Nyonya. “Serahkan semuanya padaku, Nyonya,”  terang dokter itu. Akhirnya teriakan serta rontaan pasien semakin lemah seiring makin bereaksinya cairan injeksi itu dalam tubuhnya.  Melihat semua itu, sang Nyonya semakin nelangsa, dengan lemah dia bersimpuh di depan tubuh yang lunglai itu,”Apa yang sebenarnya terjadi, Sun?”

Ketiga perawat itu menghela nafas lega, tugas sudah dilaksanakan dengan baik, pasien telah berada di bawah pengaruh obat bius di tubuhnya dan kini mulai  prihatin dengan keadaan sang nyonya yang terisak, bersimpuh di depan pasien itu dan mengusap lembut kepalanya. Dr. Liu mulai memeriksa keadaan vital pasien, “Untuk sementara, jangan biarkan dia menonton televisi, membaca Koran mau pun buku.” perintah Dr. Liu pada perawat. Ketiganya mengangguk lalu meninggalkan ruangan itu.

“Nyonya Goo,” panggil dokter Liu pada wanita yang masih bersimpuh,”Ada kemungkinan antidepresan ini mengakibatkan kelahiran premature pada cucu anda, saya harap anda siap dari sekarang.”

Nyonya Goo mengangguk walau pandangan matanya masih meratapi keadaan Sun. Dr. Liu menghela nafas, dia mendekati Nyonya Goo dan menepuk pundaknya lembut,”Saya akan merujuk putri anda pada Dokter Kim.”

Nyonya Goo masih saja bersimpuh, dipandanginya wajah putrinya yang terlelap itu. Wajah itu tampak tenang siang itu, sisa air mata masih belum kering di pelupuk matanya. Di telusurinya tubuh putrinya, dan saat pandangannya tertumpu pada perut Sun yang membuncit, dia semakin nelangsa, namun setidaknya Sun tenang sekarang. Tidak ada jeritan dan rontaan, hingga wajah itu tampak bagai malaikat saja.

Wajah lelap itu masih menampakkan roman malaikat di malam ini. Min ho menatap wajah itu lekat-lekat. Tatapan sedih membayang di pelupuk matanya. Sang Durjana yang menyakiti istrinya, itulah cemoohan yang diberikan keluarga Goo pada dirinya. Anaknya sudah lahir siang tadi, seorang anak laki-laki, dan lima menit yang lalu, dia sudah mengunjunginya.

Min Ho yang memakai pakaian khusus berdiri di depan kotak incubator dimana bayinya berada, dia harus memakai masker dan penutup kepala untuk bisa masuk ke ruangan karena memang membutuhkan kesterilan tinggi. Bayi itu masih sangat lemah, tubuhnya sangat kecil, bahkan terlihat urat-urat disebabkan lapisan kulitnya masih tipis, mata bayi itu ditutup lapisan hitam, dan di sekitarnya aneka selang yang terhubung dengan mesin deteksi alat vital dan bantu pernafasan.

Seorang pria yang memakai kostum serupa dengannya memasuki ruangan itu, keadaan Min Ho yang membelakangi dan kostum tertutup, membuat pria itu susah mengenalinya,”Min Ho-ssi?” tanya pria itu untuk meyakinkan bahwa yang didepannya adalah Min Ho.

“Hyun Joong-ssi?” Min Ho menoleh sembari balik bertanya, dia memang harus berhati-hati karena kehadirannya di sini sangat rahasia dan tidak diinginkan terutama oleh keluarga Goo.

“Ne,” jawab pria yang disapa Hyun Joong, lalu mendekati incubator, untuk mencatat perkembangan vital dari bayi itu.

“Terima kasih telah mengijinkanku masuk,” Min Ho mengamati tingkah laku Hyun Joong dengan catatan Medical Record ditangannya. Hyun Joong mengangkat tangannya,”Aku hanya membantu sebagai sahabat.”

“Bagaimana keadaannya?” Min Ho jadi ingin tahu keadaan bayinya, Hyun Joong masih menekuri alat bantu pernafasan yang terhubung dengan hidung bayi,”Sementara ini, dia bertahan. Kau tahu, kan? Umur 27 minggu, seharusnya dia masih asyik dalam kandungan, tapi obat sedative dan antidepresan membuatnya lahir sebelum waktunya. Dokter Liu, Psikiater Sun sudah memprediksi hal ini sehingga merujuk Sun padaku.”

“Aku bukan suami dan ayah yang bertanggung jawab,” Min Ho mulai mencerca diri.

“Aku tidak berhak menghakimimu, tugasku di sini adalah sebagai dokter kandungan yang menangani Sun, dan akan terhenti jika keluarga Goo tahu aku memasukkanmu ke sini.”

“Miane, aku membuatmu serba salah,” sesal Min Ho. Hyun Joong mengibaskan tangannya,”Kau berhak tahu karena dia putramu.”

Min Ho tersenyum dibalik maskernya,”Dia sangat kecil.”

“Ne, hanya lima ratus gram, setelah keadaan memungkinkan, kita bisa mencoba metode kangguru untuk meningkatkan berat badannya, tapi mengingat kondisi kejiwaan Sun…… Aku pesimis, sangat pesimis.”

Hati Min Ho mulai pilu mendengar hal itu. Istrinya mengalami depresi dan semua itu karena dirinya hingga keluarga Goo melarangnya menemui Sun lagi,”Apakah dia bisa bertahan?”

“Sejauh ini tekad hidupnya kuat, organ pernafasannya masih perlu dibantu, dia harus tetap di incubator selama tiga bulan ke depan, dan makanan akan diberikan lewat parenteral nutrition, lihat! Dia sedikit bergerak,” Hyun Joong menunjuk gerakan kecil di jari bayi mungil itu. Min Ho juga ikut mengamati dan bersyukur akan keajaiban itu.

“Setelah Sun sadar, keluarga Goo akan membawa mereka ke Paris.”

“Paris?”

“Ne, di sana ada penanganan lebih lanjut terhadap bayi premature, mereka mengembangkan metode untuk mengatasi masalah intelegensi dan perilaku akibat kelahiran premature, seperti terapi Mozart, Hypnoteraphy dan lainnya. Aku rasa mereka akan baik-baik saja. Hai, kenapa kau tidak melihat Sun?”

Min Ho menggeleng pelan karena tidak mungkin dia melakukan itu. Sun pasti akan berteriak histeris, kesalahannya pada Sun memang tak termaafkan. Hyun Joong menyadari kegalauan hati sahabatnya,”Jangan kawatir, obat bius masih membuatnya tertidur untuk dua jam ke depan. Dia tidak akan memakimu.”

Min Ho tersenyum mengingat candaan Hyun Joong, dihadapannya kini tubuh Sun terbaring lelap. Sama seperti keadaan putra mereka, beberapa selang juga menempel di tubuh mungil itu. Pandangan Min Ho mulai kabur karena genangan bening di matanya. Dibelainya wajah Sun lembut, sementara penyesalan makin menusuk di kalbunya, andaikan aku bisa membalikkan waktu, Baby. Aku ingin kembali di masa bahagia kita. Aku memang bodoh karena tidak menyadari kerentanan hatimu, aku bahkan meragukan anak kita. Aku tahu itu yang membuatmu depresi. Miane, Jeongmal miane.

“Kau pasti sangat membenciku,” Min Ho mulai bicara sendiri, tangannya menggapai tangan kanan Sun lalu menciumnya lembut ” Itu yang kau katakan waktu pertama kali mengetahui kehamilanmu, aku terima kau membenciku, karena aku memang brengsek.”

Sun masih saja terlelap, Min Ho bicara seolah Sun yang di depannya itu sadar dan bisa mengerti omongannya,”Aku akan menunggumu, Baby. Sampai kapan pun aku akan menunggu, sampai kau mau menerimaku kembali.”

Pintu kamar terbuka tiba-tiba. “Hyung! kita harus segera pergi. Goo Yu Yie sudah sampai di lantai ini. Ayo pergi sebelum dia melihat kita!” teriak Hongki yang masuk tergesa-gesa. Min Ho yang tidak juga beranjak, malah mencium kening Sun. Hongki semakin tidak sabaran menariknya agar segera meninggalkan rumah sakit,”Kacha, Hyung!” Suara sepatu hak tinggi Yue Yi semakin mendekat. Hongki terus menarik Min Ho agar keluar dari kamar itu dan akhirnya Min Ho sadar lalu bersama Hongki lari menghindari Yue Yi. Mereka menuju Toproof dimana helicopter pribadi berada, untuk membawa keduanya ke Bandara Internasional Beijing dan akhirnya pesawat jet pribadi meluncur ke Seoul.

Aku akan menunggumu, Baby. Selamanya aku akan menunggu maaf darimu……..

13 tahun kemudian,

Istall sangat sepi jika di hari kerja, hanya beberapa pekerja yang tampak dengan kesibukannya.Arena pacu kuda yang selalu rame di hari libur juga tak luput dari kesunyian. Hangat hawa musim panas sudah mulai terasa. Min Ho yang duduk di atas kudanya mengamati salah satu sisi balkon penonton, di tempat itulah Sun duduk tiga belas tahun yang lalu, mengamatinya berlomba dan setidaknya itulah yang tampak oleh Min Ho, walau pun sebenarnya bangku itu kosong, dan penampakan Sun hanya di angannya saja.

Bumie yang sudah di atas Venus, mendekatinya lalu menelusurkan pandangan pula ke balkon itu,”Masih mengingatnya?” Bumie seperti tahu yang diangankan Min Ho. Min Ho menghela nafas, sejenak dia menunduk, menyadari kekonyolannya.

“Dia masih di Beijing, kan?”

Min Ho menggeleng,”Aku kehilangan jejak mereka.”

Bumie memandang penuh tanya,”Hyun Joong bilang mereka ke Paris untuk terapi anakmu, kan?” Min Ho mengangguk,”Hanya itu kabar terakhir yang kudengar, aku tidak tahu lagi kemana mereka setelah meninggalkan Paris.”

“Mungkinkah mereka tetap di Beijing tapi bersembunyi?”

“Bersembunyi? Untuk apa? Mereka bukan penjahat.”

Bumie tersenyum,”Maksudnya bersembunyi darimu, atau mungkin keluarga Goo menyembunyikan mereka darimu dan aku juga yakin Oemmamu di balik semua ini.”

Pandangan Min Ho mulai beralih ke Bumie,”Sebahaya itukah aku bagi mereka?”

”Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada kalian,” Bumie mengangkat bahu.”Hei, ayolah… Kita ke sini untuk berlatih, ini terakhir kalinya aku memakai Venus, senangkan diriku untuk hari ini.”

Min Ho mengangguk. Mereka memacukan kuda masing-masing ke garis start, lalu seperti biasa, kuda-kuda itu berlari kencang setelah pistol ditembakkan ke udara oleh salah satu pekerja. Mereka saling menyalip di arena, kuda-kuda tua itu semakin menampakkan keunggulan mereka. Seperti halnya Bumie, hari ini juga terakhir kali Min Ho menunggangi Jupiter, kuda yang selama 20 tahun ini setia bekerja sama dengannya di setiap perlombaan. Anakkan Jupiter sudah siap dilombakan, dan mungkin Min Ho akan memakainya di lomba tahun ini. Kuda-kuda itu masih saja berderap. Mereka sama-sama unggul. Min Ho agak oleng saat di tikungan, namun hal ini bisa diatasinya, dia terus mempercepat laju Jupiter, tali kekang dia gerak-gerakkan seiring aba-aba yang dia teriakkan. Di pukulkannya stik pemukul untuk lebih mempercepat. Bumie tersenyum menoleh ke arahnya. Dia tahu hanya inilah penghiburan bagi sahabatnya, menjadi juara pacu kuda dua puluh tahun berturut-turut, hingga dia mau saja saat Min Ho mengajaknya berlatih hari ini. Jalur itu masih sama seperti dahulu, laju Jupiter dan Venus susul menyusul dan saat hampir menyentuh finish, Jupiter unggul beberapa langkah dan akhirnya kemenangan ada di pihak Min Ho.

“Yuhuu!” Min Ho bersorak sembari menenangkan laju kudanya. Dia menertawakan kekalahan Venus. Bumie nyengir.

“Hah, selamanya kau tidak bisa mengalahkanku!” ejek Min Ho.

“Oke, aku akui itu, sudah seharusnya kita pensiun, seperti kuda-kuda ini.”

Jupiter yang bersejajar dengan Venus, membuat Min Ho bisa menepuk dada Bumie yang bicara ngawur,”Apa kau bilang? Aku tidak setua itu! Aku tidak akan berhenti sampai ada yang mengalahkanku.”

“Oke, oke, kupegang janjimu. Kau tidak akan berhenti hingga ada yang mengalahkanmu,” Bu Mie menggerak-gerakkan telunjuk di depan wajah Min Ho. Min Ho yang kesal memukul dada pria berwajah imut itu, Bumie hanya tertawa saja mendapat perlakuan begitu,”Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Lee Corporation? Aku dengar kalian mulai merambah ke areal lain.”

Min Ho tersenyum mendengar perkataan Bumie. Bisnis keluarganya memang semakin berkembang. Saham Lee Corporation selalu berada di tingkat atas selama dua puluh tahun terakhir, walau kondisi perekonomian negeri hampir terpuruk.”Aku berusaha sebisanya,” hanya itu yang Min Ho ucap demi menjawab pertanyaan Bumie.

Namun dua hari kemudian keadaan berbalik, nasib seakan mempermainkan mereka. Di ruang kerjanya Min Ho mengomel di depan pialang-pialang sahamnya,”Bagaimana mungkin lima puluh persen saham ada di tangan mereka!”

Min Ho emosi, laporan itu terhempas begitu saja di atas meja, dan dia berteriak tak karuan sambil jarinya menunjuk-nunjuk laporan itu,”Kalian ceroboh sekali! Kalian tahu apa artinya ini? Akuisisi!”

“Sosongheyo, Tuan Lee. Mereka memakai domplengan perusahaan lain untuk mengelabuhi kita.” Salah satu pialang itu membela diri. Min Ho semakin muntab,”Itulah bodohnya kalian! Tidak mencari tahu dulu!” Dan itulah bodohnya Min Ho, bagaimana mungkin pialang-pialang itu sempat menyelidiki stakeholder-stakeholder yang membeli sahamnya di tengah arus transaksi bursa.

Hongki yang selama ini ada di sampingnya angkat bicara,”Lalu apa yang akan kita lakukan, Hyung?”

Min Ho berhembus kuat-kuat, sepupunya yang satu ini masih bodoh juga,”Menurutmu apa yang akan kita lakukan?”

Hongki terdiam, terus terang saat ini memang pikirannya buntu, sebenarnya bukan hanya saat ini, sudah sejak awal dia tidak cocok dengan bisnis ini, hingga perannya di Lee Corporation hanya sebagai kambing congek yang menuruti perintah Min Ho ke sana kemari, dan mendapati kebodohannya itu, Min Ho semakin murka,”Kau tidak juga berinisiatif! Sudah dua puluh tahun kau di bisnis ini!”

Min Ho menyandarkan tubuh ke kursi. Lee Corporation berada di ambang kehancuran, dan semua ini karena perusahaan baru di negeri itu. Dia memijit-mijit tengkuknya, hari ini emosinya terkuras. Dia meraih lagi laporan di atas meja kerjanya lalu menelusuri catatan yang ada di situ,”GMJ! cari tahu perusahaan ini!” perintahnya pada Hongki dan segera mengusir pialang-pialang itu dari ruangannya. GMJ! Kita lihat seberapa keberanianmu? Min Ho tersenyum licik.

Sementara di tempat lain, di sebuah ruangan yang sangat rapi, seseorang tampak menekuri bidak catur yang ada di depannya. Ruangan bernuansa biru itu sangat indah, beberapa mainan khas anak laki-laki tampak di situ. Dan orang yang asyik sendiri dengan caturnya itu menyeringai, dia mulai menggerakkan salah satu anak catur di situ, lalu menyenggolkannya ke pihak lawan, “Skakmat!” serunya. Pria berjas hitam menghadap dengan setumpuk laporan di tangan,”Doronim, ini laporan yang anda minta.”

“Bodoh, aku bilang  softcopy!” hardiknya.”Ulang lagi! Aku tidak mau seperti orang kuno yang menekuri kertas!”

“Sosongheyo, Doronim.”

“Tunggu! Mereka sudah di tangan kita,kan?”

Pria berjas mengangguk,”Lima puluh persen sudah di tangan kita, Doronim.”

Orang di depan bidak catur itu tersenyum, matanya menyipit seiring kelicikkan pikirannya, dengan kode tangan dia meminta pria berjas itu pergi, mengamati lagi bidak catur, terutama poin raja yang baru saja digulingkannya.

”Sepertinya Star akan menjadi Cow?” Dia mulai omong dengan poin raja yang sudah dipegangnya,”Oh….., bukan…….,” dia menggeleng-gelengkan kepala sembari berdecak,  ”Langsung saja menjadi dog!”

Lalu tertawa dengan angan di kepalanya,”Kau semakin hancur, Lee Min Ho!”

 

TBC Part 2

DINASTI LEE (Part 3)

DINASTI LEE

(One Season Love)

Part 3

 

Galeri café itu masih lengang di pagi hari. Hal yang membuat rame dari café ini biasanya saat jam makan siang, dan para pengunjung yang datang pagi biasanya ingin menikmati sketsa-sketsa yang terpampang di ruang pameran. Biasanya mereka murid SMA yang sedang ada tugas lapangan, atau para kolektor seni. Di satu sisi Bar table, gadis manis pemilik café ini tersenyum riang menyambut tamunya, gadis ini adalah Goo Hye Sun, putri tunggal keluarga Goo. Kecantikannya yang alami membuatnya laris membintangi beberapa jenis iklan, dan yang paling tenar adalah “Danahan”. Kecantikannya terlihat begitu nyata di iklan tersebut, dia harus berperan sebagai ratu korea dalam iklan itu dan berpuluh-puluh pelayan membungkuk hormat padanya. Di kehidupan nyata, bukan pelayan saja yang menunduk, namja-namja dari keluarga tenar korea takluk padanya laksana kumbang yang berusaha menarik perhatian bunga yang sedang mekar itu. Dan namja di depannya ini termasuk di antara kumbang itu,”Terimalah ini, Sun-ssi.”

Hye Sun terlihat mengeluarkan benda dari dalam tas kecil itu,”Apa ini, Oppa? Bagus sekali. ” Dia menimang-nimang benda itu yang ternyata abaya panjang.

“Itu hadiah dari Mama, dia di Brunei sangat merindukanmu.”

Sun berbinar memandang namja itu,”Salam buatnya. Oppa. Sampaikan juga terimakasihku. Sun juga sangat rindu.” Tangan halusnya menelusuri lekuk-lekuk jahitan dari busana yang sebenarnya nampak asing baginya,”Ini sangat indah.” Sekali lagi dia tersenyum.

“Oppa di korea sampai kapan?”

Sang namja menjawab lembut,”Aku pasti akan lama di sini jika kau menerima pinangan itu.”

Sun memandang datar. Namja di depannya mulai terkekeh,” Sudah, sudah, aku tahu pinangan keluarga kami sangat tiba-tiba, padahal kita masih berteman, setidaknya itu bagimu. Aku tahu kau butuh waktu memikirkannya.”

Sun menghela nafas lega, “Gomawo, Oppa mau mengerti.”

Namja itu beserta keluarganya memang sudah melamarnya, dia memang tidak punya perasaan khusus padanya, dan belum mengambil keputusan, orang tuanya sepertinya juga mengulur waktu, tapi mereka berjanji mempertimbangkannya.

Pintu Café terbuka, di sana masuk seorang wanita paruh baya yang anggun dengan blasernya yang tampak begitu berwibawa.

“Selamat datang, Nyonya Lee,” beberapa pelayan membungkuk ke arahnya, ya.. dia adalah Lee Je Ha, dibalasnya sapaan itu dengan senyuman. Dia memang jarang tersenyum, tapi entah kenapa jika di Café ini dia selalu tersenyum. Langkahnya menuju ke arah Bar table di mana Sun dan Namja itu berbincang.

“Oemma?” Sun menyongsong kedatangan wanita itu. Abaya panjang itu tergeletak begitu saja di atas bar table. Je Ha memeluk Sun lembut, “Bogosipho.”

“Bogosiphoyo, Omma,” Sun sangat senang dengan kedatangan Je Ha, Je Ha adalah sahabat Oemmanya, dan dia sudah menganggap Je Ha sebagai Oemmanya sendiri, bahkan tidak memanggil ajhuma.

“Sepertinya kau ada tamu, Sun,” namja itu menyela pembicaraan,”Akan lebih baik jika aku mengundurkan diri.”

Je Ha memandangi pemuda itu penuh selidik, lalu tersenyum agak dipaksakan,”Jangan sungkan, anak muda. Mungkin orang tua ini yang tak tahu diri mengganggu kalian.”

Sun dan pemuda itu jadi salah tingkah hingga tidak menyadari pandangan menusuk Je Ha. “Tidak apa-apa, Nyonya. Saya memang sudah lama di sini.”

Pemuda ini sopan sekali, begitu pikir Je Ha. Sangat berbeda dengan Min Ho. Pemuda itu meminta diri padanya lalu mencium buku-buku tangan kanan Sun untuk berpamitan. Je Ha semakin mendelik. Pemuda itu, siapa dia?

“Kita bicara di ruang pribadi saja, Oemma,” ajak Sun. Dia segera melipat rapi abaya yang tergeletak di bar table lalu memasukkan kembali ke dalam tas. Je Ha memperhatikan abaya itu dan berpikir mungkin itu adalah hadiah dari namja tadi. Sekali lagi dia kalah telak. Min Ho bahkan belum bertemu gadis ini, tetapi namja itu sudah memberikan hadiah yang begitu mahal. “Kacha!”

Je Ha mengagumi ruang pribadi itu setelah sampai di dalamnya, di beberapa sudut tampak sketsa-sketsa tergantung, di dinding samping meja kecil, tersandar lukisan-lukisan yang belum mendapat tempat di ruang galeri.”Bakatmu semakin terasah, Sayang.”

“Gamasahamnida,” Sun mengucapkan itu sambil mempersilahkan Je Ha duduk. Je Ha pun duduk tapi pandangannya masih mengitari ruangan itu.”Sepertinya galeri café mu ini sudah perlu pengembangan, Sun-a.”

“Ne, Oemma. Saya juga berpikir begitu.”

“Oemma bisa memberimu modal untuk itu.”

Sun menggeleng,”Gamsahamnida, tapi saya belum memerlukannya.”

Je Ha mengibaskan tangannya,”Ah, kau jangan sungkan padaku. Kau sudah ku angap seperti anak sendiri, jangan terlalu sopan. Oh, ya…kau datang di pesta Yu Jin, kan?”

Sun mengangguk. Je Ha memandang dengan penuh selidik, ternyata benar,” Apa kau bertemu dengan putra Oemma di sana?”

Sun mencoba mengingat semua orang yang ada di situ, sepertinya semua orang sudah sangat dia kenal,”Putra Oemma? Putra Oemma itu bagaimana? Oemma kan belum pernah mengenalkan pada Sun?”

Benar juga, jika tidak ada Sun saat ini, sudah pasti Je Ha menepuk jidatnya keras-keras. Ternyata selama ini dia bodoh, tidak memperkenalkan mereka dari dulu, pantas saja mereka tidak bertemu di pesta kemaren, bukankah Yue Yi tidak memberitahukan rencana itu pada Sun? Dan Minho? Ah, pasti anak bodoh itu tidak berinisiatif mencarinya!

“Memangnya ada apa. Oemma. Apa Oemma ada menitip sesuatu buat Sun?”

Je Ha tersenyum. Dia terlihat melambai-lambaikan tangannya, sebagai kode agar Sun tidak terlalu memikirkan pertanyaannya. Sun berjalan menuju lemari es di ruangan itu.”Hari ini sangat panas, Oemma mau minum apa?”

“Air mineral cukup, sayang.” Sun segera menyuguhkan sebotol air mineral dingin ke arahnya. Je Ha menerimanya dengan senang hati lalu mulai menuangkan air itu ke dalam gelas dan meminumnya, matanya tiba-tiba tertarik pada tas berisi abaya yang diletakkan Sun di atas meja kecil itu,”Namja itu, siapa dia? Kekasihmukah?”

Sun terkekeh, wajahnya tampak memerah mendengar pertanyaan Je Ha,”Bukan, Dia adalah teman Sun dari Taiwan.”

“Oh, orang asing, pantas Oemma belum begitu kenal, namanya?”

“Wu chun.”

“Wu chun?”

“Nama aslinya Goh Kiat Chun, tapi orang-orang sering memanggilnya Wu Chun.”

Mata Je Ha terbelalak, tiba-tiba dia teringat perkataan Yue Yie di telephon,”… atau kami akan menerima lamaran keluarga Goh.” Benarkah namja itu yang dimaksud? Jika benar, itu berarti Sun akan menjadi orang Taiwan nantinya. Lalu Min ho? Tidak, itu tidak boleh terjadi.

“Sayang, Oemma ingin mengundangmu makan malam. Kau sama sekali belum ke rumah kami, kan? Bagaimana jika malam ini?” Yup, dia harus gerak cepat. Waktu yang diberikan padanya hanya seminggu. Dan anak bodoh itu harus menuruti perintahnya malam ini untuk mengosongkan jadwalnya. Sun menggeleng, “Sun tidak tahu bisa atau tidak, perlu Sun konfirmasikan jadwal Sun pada manajer.”

“Oh, jadi Oemma-mu juga klien yang harus menyesuaikan jadwalmu, rupanya?” Je  Ha pura-pura ngembek, padahal selama ini dia sama sekali tak tega memarahi gadis manis itu. Sun merasa bersalah,” Mianhamnida, Oemma, tapi semuanya begitu tiba-tiba.”

Je Ha masih saja pura-pura ngambek. Dia harus melakukan itu, jika tidak keluarga Goh yang akan mendapatkan gadis ini, walau pun dia juga tidak tahu apakah makan malam ini nanti akan menghasilkan titik terang dari rencananya. Dia terus saja berlagak begitu, bahkan tangannya terlipat rapi di dada dan pandangan matanya sangat tajam. Sun jadi semakin bersalah, baru kali ini dia melihat Je Ha berekspresi seperti itu dan berpikir kalau Je Ha pasti sangat marah,”Baiklah, Oemma. Sun akan usahakan tapi sepertinya tidak akan lama nantinya.”

“Jeongmal?” Je Ha sangat lega mendengar jawaban itu. Sun mengangguk. Je Ha segera memeluk Sun,”Ah…, Gomawo, sayang.”

Sun kaget dengan tanggapan Je Ha dan helaan nafas yang tiba-tiba dari Je Ha membuatnya berpikir seperti ada sesuatu hal yang menekan Je Ha dan semua terangkat setelah dia menyetujui undangan itu untuk makan malam. Sun tersenyum, merasa kalau dirinya begitu berarti bagi Je Ha dan menikmati pelukan hangat dari Nyonya besar itu.

——- > 8 < ——-

Seorang pria terlihat tergesa-gesa memasuki sebuah restoran. Dia mulai memandang sekeliling mencari orang yang sudah lama menunggunya. Orang yang di cari berdiri di antara para pengunjung restoran yang duduk dan kini keduanya sudah duduk berhadapan satu sama lain.

“Ada apa, Min Ho-ssi. Kau tidak seperti biasanya, kenapa tidak lewat telephone?” Rupanya Min Ho ingin langsung pada pokok persoalan, dia tahu jadwal sepupunya itu sangat padat. Dia menunjukkan ponselnya, iklan “Danahan” hasil download tadi pagi tertayang di layar. “Kau kenal dengannya, Donghae-ssi?”

Donghae tampak mengamati gadis di dalam iklan itu,” Oh dia? Memangnya kenapa? Apa Lee Corporation akan meluncurkan produk baru dan kau menawarkan iklan padanya?”

“Jawab saja pertanyaanku.”

Dong Hae terseyum. Min Ho tampak aneh di depannya, tapi bukankah dari dulu memang dia tampak aneh?

“Hye Sun Noona!” jawab Donghae.

“Hye Sun?”

“Ne ! Goo Hye Sun, kakak kelasku waktu SMP.”

Min Ho terkejut, dia menemui Dong Hae karena sepupunya itu terjun di dunia hiburan sehingga yakin kalau pasti kenal dengan gadis itu, tapi dia tidak menyangka kalau ternyata gadis itu begitu dekat dengan Donghae. “Kau tahu alamatnya?”

“Emm.. kalau alamat rumahnya yang sekarang aku kurang tahu, tapi kalau cafenya, aku punya kartu pos dari sana. Di kartu itu pasti ada alamat cafenya.”

“Berikan padaku!”

Dan kini Min Ho sudah terlihat memasuki café yang dimaksud. Pandangan matanya mulai disambut oleh sketsa-sketsa yang tergantung di dinding ruang galeri café itu. “Selamat datang, Tuan.” Sapa salah satu pelayan Café. Min Ho mengangkat tangannya sebagai isyarat bagi pelayan itu agar tidak mengganggunya. Dia masih ingin berlama-lama menikmati satu persatu sketsa. Akhirnya pandangannya tertuju pada salah satu sketsa di pojok sebelah kanan. Sketsa tentang sebuah danau kecil dengan beberapa angsa di atasnya dan rumput hijau yang gembur. Dan dia tahu betul di mana tempat itu.

“Apakah Anda tertarik pada Seni?” suara lembut itu memanggil. Min Ho menoleh ke arah suara. Dibelakangnya gadis itu telah berdiri, dan mulai mendekat ke arahnya. Min Ho memandang takjub ke arah gadis itu, setiap kali bertemu gadis itu, dia merasa waktu seakan berhenti berputar. Penampilan gadis itu sangat berbeda dengan sebelumnya, kini tampak lebih santai dan kasual, tapi tetap menampakkan sisi keindahan di dirinya. Gadis itu, si ratu “Danahan” yang semalam menghiasi tidurnya dengan mimpi aneh, ya.. gadis itu yang membuatnya mengorbankan pertemuan penting dengan salah satu klien, berdiri di sampingnya, Goo Hye Sun berdiri di sampingnya.

Hye Sun sepertinya juga terpana. Dia menatap wajah pemuda itu lekat-lekat. Matanya begitu berbinar menatap dan tanpa dia sadari tangannya terangkat, dan mulai menyentuh wajah tampan itu. Waktu seakan berjalan begitu lambat. Hye Sun begitu menikmati wajah indah di depannya itu, menelusuri garis-garis yang tegas dari wajah itu. Minho memejamkan matanya, diantara kegelapan dia merasakan semua itu. Sentuhan itu begitu lembut dan aroma yang tercium dari tangan halus itu, aroma bunga mawar nan lembut yang membuatnya terbuai. Gadis itu tersentak, dia mulai menyadari kesalahannya dan melepaskan sentuhan itu, “Mianhamnida.”

“Gwencana,” Min Ho yang sudah membuka mata menjawab penyesalan gadis itu. Hye Sun tertunduk malu, “Apakah anda tertarik pada sketsa itu?” Dia mengalihkan perhatian pada sketsa danau yang sedari tadi di pandangi Min Ho. Min Ho tersenyum.

“Sketsa itu baru tergantung tadi pagi,” Sun menjelaskan sembari tersenyum.

“Anda suka rumput?” tiba-tiba Minho teringat lagu yang dinyanyikan gadis itu di pesta kebun. “Ne!” Jawab Sun mantap.

“Green grass of home,” Min Ho bergumam lirih. “Mwo?” gadis itu keheranan, samar-samar dia menangkap bisikan yang terlontar dari Min Ho. Green grass of home adalah lagu kesukaannya. Ayahnya selalu mendendangkan lagu itu saat meninabobokannya dan kisah indah dalam lagu itu selalu diidamkannya. Tapi penasarannya harus berakhir saat salah satu pelayan memberi tahu kalau ada telephon penting untuknya.

“Miane, saya harus pergi. Selamat menikmati kunjungan anda,” Sun membungkukkan badan untuk undur diri pada Min Ho. Min Ho masih memandangi sketsa danau. Dia sangat gugup karena keceplosan menyebut judul lagu itu. Takut jika ketahuan  dia mengikuti gadis itu di pesta kebun secara diam-diam. Dan Sun melangkah menuju ruang pribadinya, dia masih tidak habis pikir dengan kelakuannya barusan terhadap pemuda asing itu. Bagaimana mungkin dia menyentuh wajahnya yang tampan hanya karena terpesona. Sun menggelengkan kepalanya keras-keras, dan jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, ada apa ini? Dia hanya salah satu pengunjung café, tapi kenapa perasaanku jadi seperti ini. Tidak boleh, aku harus melupakannya, harus.

——- > 8 < ——–

Meja besar di ruang makan Lee Mansion sudah terpenuhi dengan beraneka ragam masakan. Ibu dan anak itu sudah menunggu dari tadi, malam semakin larut. Sang anak mulai bosan, dia harus membatalkan dua rapat penting malam ini, hanya untuk menuruti perintah ibunya. Dia mendengus sebal, dengusan khas Lee Min Ho yang sedang kesal,”Sampai kapan kita menunggu?”

“Sabarlah, dia bilang sedang dalam perjalanan,kau tahu kan mansion ini jauh dari kota?” jawab Je Ha. Min Ho melirik jam di tangannya, sudah jam sembilan malam, dan tiba-tiba dia teringat pada Hye Sun.”Oemma, jika ku bilang aku ada calon lain, apa Oemma mau mepertimbangkan?”

Je Ha menggerak-gerakkan telunjuknya,”Antwe! Jika kau mengatakan itu beberapa hari yang lalu, jawabannya pasti iya, tapi sekarang, tidak!”

Min Ho menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Dia sudah sangat tertarik pada Hye Sun, tapi sepertinya semuanya sudah terlambat. Seorang pelayan mendekati mereka lalu membisikkan sesuatu pada Je Ha.”Persilahkan dia masuk,” Je Ha memerintah. Min Ho memejamkan matanya. Semuanya akan dimulai. Perjodohan ini membuatnya sesak, sementara wajah ayu si ratu Danahan mulai muncul di angannya.

“Hye Sun-a, akhirnya kau datang!” teriakan Ibunya membuat Min Ho terkejut, reflek dia membuka mata lebar-lebar dan segera berdiri. Waktu seakan melambat kembali. Di ujung lain dari meja besar itu, Ibunya tengah memeluk tubuh mungil si ratu “Danahan”. Wajah ayu itu tersenyum bahagia menyambut Je Ha dan suara lembut itu terdengar jelas di ruangan itu.

“Apa, apa aku tidak salah lihat?” Min Ho terpana dengan pemandangan itu, si Ratu Danahan sekali lagi mengalihkan semuanya. Kini dengan balutan gaun biru toscha berkerah tinggi yang anggun dan Je Ha mengiringinya untuk duduk di kursi yang telah disediakan untuknya. Dia tidak segera duduk saat melihat Min Ho terpaku di sana. Dia, si ratu danahan itu juga mematung, pria itu ada di sini, pria yang membuat perasaanku tak menentu siang ini, yang ku yakini hanya orang asing itu? Mereka saling memandang.

Je Ha mengalihkan pandangan dari Hye Sun ke Min Ho bergantian, rona bahagia terpancar, awal yang bagus, kalian mengawali pertemuan ini dengan sangat bagus.

“E hm,” Je Ha berdehem untuk mengakhiri kebisuan mereka. “Kenalkan ini Lee Min Ho, Putra Oemma. Min Ho, ini Goo Hye Sun.”

Ke dua anak muda itu masih saling memandang.”E hm!” sekali lagi Je Ha berdehem. Keduanya segera tersadar dan saling menundukkan tubuh lalu duduk di tempatnya masing-masing.

“Bagaimana, Hye Sun, putra Oemma sangat tampan, kan?” tanya Je Ha. Hye Sun menunduk, semburat malu nampak di pipinya.

“Sekarang saatnya makan,” Je Ha membunyikan lonceng kecil di atas meja, sejenak pelayan-pelayan mulai sibuk melayani mereka. Hye Sun tetap menunduk saat memulai makan malam itu dan Min Ho tak henti-hentinya melirik ke arahnya. Suasana makan malam itu sangatlah sunyi. Je Ha menyenggol lengan putranya lalu berbisik,”Dia cantik, kan?”

Wajah Min Ho mulai memerah. Je Ha tersenyum, dia menepuk-nepuk punggung tangan Min Ho. ”Banyak namja yang berusaha menjadikannya sebagai istri, kau akan kehilanganya jika tidak gerak cepat,” Je Ha masih saja berbisik di telinga Min Ho. Sementara di sana Hye Sun masih menunduk menikmati makan malamnya.

“Baiklah, apa lagi yang ditunggu?” Je Ha menyodorkan sekotak beludru ke tangan Min Ho yang terbuka dan memperlihatkan cincin berlian indah. Min Ho kaget melihat benda itu di tangannya. Lalu dia menatap wajah Ibunya lekat-lekat. Je Ha mengangguk meyakinkannya.

“Hye Sun sayang,” tiba-tiba Je Ha memanggil gadis itu. Min Ho buru-buru menyembunyikan kotak beludru itu di balik meja. Hye Sun menengadah untuk menjawab panggilan itu. Je Ha tidak tahu bagaimana harus memulai saat mata bulat itu memandang dengan penuh tanda tanya. Je Ha tersenyum, lalu muncullah kalimat itu, “Rupanya Oemma sangat menyayangimu hingga tak merelakanmu jatuh ke tangan keluarga lain.”

Hye Sun mengerutkan dahi. Kini giliran Min Ho yang menunduk, malu dan tak habis pikir dengan ulah Ibunya. Je Ha menggapai tangan gadis itu,”Maukah kau menjadi bagian keluarga ini? Menjadi menantu Oemma?”

Min Ho semakin menunduk. Kotak beludru di tangannya dia tutup. Tidak ada jawaban dari mulut gadis itu dan mereka telah menunggu kira-kira sepuluh menit, sepuluh menit yang katanya cepat tapi buktinya lama bagi mereka. Min Ho mulai berdiri. Dia menghampiri gadis yang mematung itu. Lalu menarik lembut tangannya,”Kita bicarakan ini berdua.”

Hye Sun memandang ke arah Je Ha. Je Ha mengangguk, dan dia mulai mengikuti Min Ho yang masih menarik lengannya. Langkah mereka berhenti di taman belakang mansion itu. Min Ho berbalik dan memandang wajah Hye Sun sendu. Hye Sun masih saja menunduk, jantungnya berdetak sangat cepat. Pria di depannya itu begitu menawan hatinya, dan Je Ha, Ibu dari pria itu menawarkan dirinya untuk menjadi istrinya.

Ke dua tangan Min Ho menyampir ke bahu Hye Sun. Dia sangat gugup. Ratu Danahan ini adalah orang yang seharusnya dia temui di pesta itu, “Yes, they all come to see me….,” Min Ho mulai bersenandung sebait lagu green grass of home. Hye Sun menengadah memandang wajahnya.

“Ya, itu kamu,” sambung Min Ho.”Apalah arti diriku ini di bandingmu, tak apa jika kau menolak.”

Hye Sun tertegun, pria sesempurna itu? Merendah di hadapannya? Tangan kokoh itu mulai lunglai, Min Ho berbalik, memandang kolam pancur yang berada tak jauh dari mereka. Mata Sun memejam, dalam hatinya mulai terdengar lirik lanjutan dari lagu itu,” Arm reaching? Smilling sweetly?” Sun membuka kembali matanya, Min Ho masih memandangi ikan-ikan dalam kolam itu dan di bawahnya terhampar rumput hijau yang luas walau kelamnya malam mengaburkan warnanya,”Green grass of Home…?”

Sun segera berlari mendekati tubuh jangkung itu, Min Ho terkejut dan memandang ke arahnya,”Apakah kau juga merasakan semua itu?”

Sun mengangguk. Air mata mulai mengkaburkan pandangan masing-masing. “JAdi?” Sekali lagi Min Ho meminta kepastian. Sun mengangguk cepat. Min Ho tertawa bahagia, entah keberanian dari mana yang dia dapat hingga akhirnya memeluk tubuh gadis itu, kegembiraannya meluap. Dia segera membuka kotak beludru itu dan menyematkan cincin berlian itu di jari manis tangan kiri Sun. Sun tidak menyadari itu karena dia melakukannya dengan sangat cepat. Yang Sun tahu adalah  buku-buku jari tangan kirinya tiba-tiba dicium oleh Minho dengan mesra, dan sekali lagi mereka berpelukan, menikmati keharuan dan perasaan cinta itu satu terhadap yang lain.

TBC PART IV

DINASTI LEE (part 2)

DINASTI LEE

(One Season Love)

Part 2

 

Lee Je ha tampak berjalan mondar-mandir di dalam kamar, di tangannya tergenggam telephone. Berkali-kali dia memencet tombol radial, dan tetap sama, tiada yang mengangkat,”Lenyap kemana keluarga itu?” Dia mulai kesal, masih diingat perkataan Minho 30 menit yang lalu. Saat dia yang begitu antusias menyambut kedatangan putranya itu,”Kau bertemu dengannya?”

Dahi Minho berkerut,”Siapa?”

“Siapa? Siapa lagi? Tentu saja calon istrimu!”

Minho menggeleng, “Tidak. Sepertinya dia tidak datang.”

“Kau yakin?”

“Kalau dia datang, pasti kami sudah bertemu, Oemma,” seloroh Minho sambil ngeloyor pergi ke kamarnya.

“Huft! Sial!” umpat Je Ha. Sekali lagi dia menekan tombol radial dan akhirnya hembusan nafasnya lega saat orang yang dihubungi menerima telephonenya. “Yoboseyo,” kata orang di ujung telephone.

“Yue Yi, kenapa kalian tidak datang di pesta ?” tanya Je Ha tidak sabar. Orang yang di telephone yang disebut Yue Yi itu menghela nafas,”Miane, aku dan suami ada urusan mendadak di New York tapi anakku datang, kok!”

“Kau yakin?”

“Yakin! Aku sudah menanyakan pada sopir yang mengantarnya ke pesta tadi,” Yue Yi menjawab dengan sedikit heran. Je Ha semakin bingung,”Jika dia datang, kenapa mereka tidak bertemu?”

Yue Yi semakin serba salah, dengan malas dia mengungkapkan sesuatu,”Miane, aku memang tidak menceritakan rencana kita padanya.”

“What ?” Je Ha mendadak berteriak. Matanya mendelik lebar-lebar,”Aigo, kalian ini benar-benar..”

“Anak gadisku paling anti perjodohan, jika aku mengatakan tentang rencana ini, sudah pasti dia menolak datang di pesta itu. Dan seharusnya itu pintar-pintarnya putramu saja, jika memang Minho tertarik padanya harusnya langsung menghampirinya, di mana-mana itu kumbang yang mendekati bunga, bukan sebaliknya.” Penjelasan Yue Yi membuat Je Ha semakin meradang tapi benar juga perkataan sahabatnya ini, semua pasti akal-akalan Minho.

“See… semua jelas, kan? Tak ada ruginya bagi kami. Kalau anakmu tidak tertarik pada gadis kecil kami, masih banyak keluarga yang mengharapkannya menjadi menantu.”

“Tunggu!” kali ini Je Ha mulai gelagapan.”Kau sudah menjanjikannya menjadi menantuku dan aku sudah sangat menyayanginya.”

“Lalu apa yang kau pikir? Segeralah bertindak! Makin banyak saja namja mendekatinya.”

Je Ha terduduk di sofa. Dia tidak mungkin melepas gadis ini begitu saja. Rasa sayangnya pada gadis ini terlampau besar, sebenarnya agak ragu, dia menjodohkan gadis ini pada Minho, takut kalau anak itu menyakitinya tapi perasaan untuk melihat keduanya bersatu mengalahkan ketakutan. “Oke, aku akan bertindak. Beri aku sedikit waktu, aku mohon.”

“Seminggu cukup!”

“Mwo?!”

“Dalam waktu seminggu sudah harus ada pernikahan, atau kami akan menerima lamaran keluarga Goh.”

Je Ha lemaslah sudah, waktu itu begitu tak masuk akal,”Ne… aku akan bertindak seminggu ini.”

“HuuuH! Anak bodoh itu…. Apa yang harus kulakukan sekarang?”  Dia jadi uring-uringan sendiri setelah menutup telephon.

——— > 8 < ———

 

Suasana ruangan itu terkesan syahdu, beberapa potong baju tergeletak tak beraturan di beberapa sisi lantai, cahaya hanya berasal dari salah satu lampu knop di atas meja kecil di samping kanan ranjang. Dan di atas ranjang itu Minho terbaring, di sampingnya Bo Young sudah terlelap. Minho mempererat pelukannya atas tubuh ringkih Bo Young. Tangan kanannya mulai menggapai dahi kekasihnya dan menyibakkan rambut yang menutupi wajah itu. Dia memandang lekat-lekat. Tangan itu mulai menunjuk, menyusuri wajah lancip itu dari dahi, mata, hidung, bibir dan….

“Apa kau tidak lelah?” tanya Bo Young setelah mengulum jari telunjuk Minho yang sudah sampai ke bibirnya. Minho tersenyum,”Bersamamu aku tak pernah lelah, Sayang.” Dan Minho berniat melakukannya lagi, matanya semakin terpejam saat kepalanya semakin menunduk.

Dia semakin menunduk,  sementara matanya tetap terpejam namun keanehan terasa. Tidak ada Bo Young di sana. Tubuh ringkih di pelukannya lenyap sudah. Dia membuka matanya. Dia menemukan tubuh polosnya sudah berpakaian lengkap. Dia ingat betul pakaian itu, setelan jas yang dipakainya pagi tadi Cahaya redup itu telah tiada, berganti suasana pagi yang indah dan di bawahnya rumput hijau terbentang.. Tunggu! Pagi hari? Setelan jas? Rumput Hijau? Pesta kebun itu! Bagaimana mungkin kembali lagi di sini?

“Ne!” suara nyaring itu mengalihkan perhatiannya dan tampaklah di sana gadis mungil bergaun hijau, bergerak seiring keriangan hatinya. Ajaib! Hanya gadis itu yang bergerak, sementara semua orang di pesta itu berubah menjadi patung porselen.  Minho menoleh ke samping, di sana Bumie juga berubah menjadi patung porselen. Dia kembali memandang gadis itu, melangkahkan kaki demi mengikuti gerak-gerik yang menawan sementara music lembut mulai terdengar di hatinya. Di tempat itu hanya dia dan sang gadis yang bergerak, gerakan yang sama, music hati yang sama, tawa yang sama, candaan yang sama yang terlontar dari bibir gadis itu, sementara sekitarnya mematung.

Minho masih tetap melangkah beberapa kaki di belakang gadis itu. Sinar mentari mulai terik. Gadis ayu berjalan ke pinggir danau setelah merentangkan tangan seiring helaan nafasnya lalu duduk di atas rumput, dan Mino berdiri mengamatinya di bawah pohon yang rindang. Dia mengeluarkan kertas dan pensil dari tasnya, menggambar dan bersenandung.

“…. It time to touch the green… green grass of home…..”

Minho memejamkan mata,  bibirnya menyunggingkan senyuman indah, suara merdu itu terdengar lagi. Aku kembali lagi. Entah apa yang membuatku kembali lagi ke sini? Tapi aku menyukainya.

” Yes they all… come to see me, arm reaching, smiling sweetly. Its time to touch…….

Yah, lirik lagu itu lagi, terpotong di bagian itu. …. Karena hujan.  Hujan! Bukankah seharusnya setelah ini hujan? Tapi kenapa tidak? Minho membuka matanya dan gadis itu sudah berdiri tepat di depannya. Agak terkejut dia. Nafasnya seakan berhenti, jantungnya berdegup kencang.

Gadis itu mulai mengangkat tangan, menyusuri wajah tampan di hadapannya itu.  Lembut, Minho merasakan sentuhan itu begitu lembut di wajahnya. Entah kenapa dia juga ingin menyentuh wajah ayu itu, tangannya pun mulai bergerak ke atas. Tapi… tapi kenapa berat begini? Ada sesuatu yang menghalangiku melakukannya. Minho meronta, tangan yang sudah terangkat itu serasa kaku. Gadis di depannya meringkuk, wajah ayu itu ketakutan. Jangan! Jangan ketakutan seperti itu! Aku bukan ingin memukulmu! Minho berteriak, namun suara itu tidak muncul. Sesuatu juga menyumbat organ bicaranya.

Gadis itu semakin ketakutan. Dia menyusutkan tubuh ke belakang. Seseorang bertubuh tegap muncul di antara mereka dan menarik gadis itu menjauh.

“Jangan pergi!” akhirnya suara itu terdengar juga. Tangan itu bergerak lagi, cepat-cepat Minho menggapai tangan gadis mungil itu. Dia berlari, dan saat jemari keduanya saling menyentuh. Gadis itu mematung, mulai berubah menjadi patung porselen. Minho menarik tangan gadis itu.

Prrangggggg……………..!

Minho terbangun dengan nafas tersenggal-senggal. Mulutnya megap-megap. Sinar mentari mulai merambat memasuki kamarnya. Tubuhnya masih berpakaian lengkap, rupanya dia tertidur tanpa berganti baju semalam. Dia berusaha menenangkan nafasnya. Mimpi yang aneh, kenapa ada Bo Young dan gadis itu pecah setelah berubah menjadi patung porselen ?

“Di mana namja bodoh itu?” suara cempreng terdengar dari luar kamar.

“Masih tidur, agashi!” sahut salah seorang pelayan takut-takut.  Minho menghembuskan nafas kuat-kuat. Dasar! Tidurku sudah sangat kacau dan kau mengacaukan pagiku, Min jung…. Minho tersenyum saat langkah kaki mulai mendekati pintu kamarnya, lalu terbukalah lebar-lebar dan Min jung berdiri di sana, berkacak pinggang. Min Ho tertawa ngakak.

“Kau!” Min jung berjalan ke arahnya dengan menunjuk dan mata mendelik. Min Ho berhenti tertawa. Dia mengibas-ngibaskan tangannya sebagai tanda agar pelayan keluar kamar.

“Katakan padaku jujur, apa kau bertemu gadis itu di pesta Yu Jin?” tanya Min Jung setelah pintu kamar tertutup. Min Ho menarik bibir, “Itu bukan urusanmu.”

“Hah! Enak ya kau bilang begitu! Kau benar, itu memang bukan urusanku jika saja bibi Je Ha tidak menelponku malam-malam agar aku menasihatimu yang bebal!”

“Nenek sihir itu menelphonmu?”

“Ne ! Oemmamu itu sudah menggangguku, jam dua dini hari menelphon !” Min Jung masih saja ngoceh tanpa ujung pangkal. Tidurnya sangat tidak enak semalam karena telephon konyol itu. Jadi beginilah dia, stress dan uring-uringan. ”Jawab pertanyaanku!”

“Tidak, aku tidak bertemu. Gadis itu tidak di sana,” Min Ho berbohong, yang benar bukanlah tidak bertemu melainkan lupa untuk bertemu. Dia memang melupakan rencana itu, terlalu terkesima oleh sesuatu yang indah di sana.

“Jangan bohong, kau sepupu bodoh. Aku sudah mengecek buku tamu pesta itu pagi ini dan gadis itu di sana,” Min Jung mendamprat, telunjuknya mengacung-acung dan Min Ho yang masih duduk di ranjang tampak seperti anak kecil yang di marahi Ibunya. Pantas saja Min Jung semakin uring-uringan, sudah diganggu malam-malam dan harus bagun pagi untuk melihat buku tamu pesta orang.

“Aku tidak bohong!” Min Ho menyanggah.

“Jangan bilang kau melarikan diri lagi?”

“Aku tidak melarikan diri! Aku datang di pesta itu, kalau kau tidak percaya tanyakan pada Bumie dan  Yu Jin!”

“Aish…., kau ini! Kenapa sih kau tidak bisa melupakan perawan tua yang mandul itu?”

“Lee Min Jung!” Min Ho mendelik saat Bo Young dijelek-jelekkan. Min Jung mendelik balik,” Memang itu kenyataannya. Come on, get a life! Masih banyak yoja cantik di luar sana.”

“Sudah ku bilang itu bukan urusanmu!”

Min Jung menghela nafas, memang sulit bicara dengan Lee Min Ho yang bebal. Dia selalu bisa mengatasi kebebalan sepupunya itu, karena itu bibinya menelphon tapi kecuali yang satu itu, kebebalan akan Bo Young.

“Sssssssshhh, terserah kau sajalah! Aku sudah pusing! Bilang pada Oemmamu kalau aku sudah datang! Bilang juga kau terlalu bodoh untuk ku nasihati, kau ingin jadi generasi terakhir dari dinasti Lee, jadinya enggan menikah dan hanya mau menikah dengan Bo Young. Terserah!”

Min Jung keluar kamar lalu menutup pintu keras-keras. Min Ho menghembuskan nafas kuat-kuat dan memijit-mijit bagian atas cuping hidungnya. Dia berdiri dari ranjang lalu duduk di sofa dan  menyalakan televise. Dia tampak memencet-mencet remote control saat beberapa iklan tayang, dia benci iklan, rupanya dia melewatkan berita pagi. Tapi tangannya tiba-tiba berhenti menekan tombol saat sebuah wajah terpampang di sana. Gadis itu? Dia bintang iklan? Min Ho tampak sumringah, menekuri iklan itu sampai habis, begitu puas dipandanginya wajah dalam layar itu. Wow! Sempurna! Sungguh ratu yang anggun.

“Danahan!” suara dari arah televisi.

“Danahan?” Minho meraih ponselnya dan mulai mengetik, ‘Danahan’. Senyum sumringah sekali lagi tampak di wajahnya, Danahan…. .

TBC PART 3

DINASTI LEE (Part 1)

DINASTI LEE

(One Season Love)

Part 1

Seoul, kenapa namamu  serasa sendu, langit-langit itu, jalanan yang selalu sibuk, suasana yang indah di musim panas, tapi kenapa hati ini selalu teringat padanya? Kenapa tak bisa lupa? Senyuman itu, senyum bijak itu, wajahnya yang ayu walau penderitaan tak pernah lelah menerpa. Apa kabarnya dia disana? Sementara ku di sini. Bersamamu, Seoul. Bersama semua kegilaanmu, Seoul. Adakah kesalahanku di masa lalu yang tak bisa ku tebus, hingga ku harus dilahirkan delapan tahun lebih muda darinya? Apa salahnya pula hingga dia harus menderita penyakit separah itu hingga rahimnya diangkat?

Pria itu tampak menghela nafas, merasa dunia tak berpihak padanya. Asistennya masih sibuk dengan file-file, sementara dirinya lebih memilih melamunkan masa lalu. Mobil mewah yang ditumpanginya melaju membelah jalan Seoul, kota yang selalu dirutukinya, setidaknya tiga tahun terakhir ini. Kota yang sempat menjadi kota terindah bagi hidupnya, kini telah berubah menjadi momok yang menakutkan sejak kejadian itu, ya…. Sejak saat itu, tiga tahun yang lalu…….

Bandara Incheon terlihat ramai, musim panas  di korea memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong. Sementara para  turis berdatangan, gadis bertubuh ringkih itu malah sebaliknya, dan pria tampan yang selalu di sampingnya itu menggenggam tangannya erat, seakan takut terpisahkan. Mereka duduk, menunggu kedatangan pesawat ke negeri yang sebenarnya tak jauh, tapi tangan kuasa rupanya sangat ingin memisahkan mereka.

“Aku mohon jangan pergi,” bisik pemuda itu. Matanya memandang sendu. Dan gadis ringkih menunduk, tak mampu memberi kepastian pada pemuda itu. Semua telah diputuskannya, tidak ada kepastian dalam cinta ini, tidak adil, terutama bagimu, kekasihku.

“Bo Young, aku mohon batalkan rencanamu. Persetan dengan semua ancaman nenek sihir itu. Persetan dengan semuanya!”

Gadis itu menggapai tangan kekasihnya,”Minho-ssi, miane, tapi aku memang harus pergi walau tanpa desakan Oemmamu. Tidak ada harapan dalam cinta ini. Kau masih sangat muda, margamu perlu penerus, dan itu tidak bisa ku berikan padamu.”

Wajah pria bernama Minho itu mengeras, kalimat kekasihnya terdengar konyol baginya,”Kau hidup di jaman apa? Bahkan sekali tepukan tangan kita bisa mendapatkannya dengan bayi tabung!”

Bo Young menggeleng,”Tetap tidak sama, Minho. Setidaknya bagi orang tuamu.”

Minho menghela nafas. Dadanya serasa sesak. Peristiwa tiga tahun yang lalu itu masih begitu jelas di benaknya. Dan kata-kata terakhir Bo Young, saat melambaikan tangan, menghantarkan kepergiannya menuju pesawat,”Carilah gadis yang baik, Minho. Kau pasti akan menemukannya. Masih banyak kesempatan bagimu. Hwaiting!”

Mobil itu masih melaju. Minho mencoba untuk tidur, tapi semua sia-sia. Di sampingnya, Pak Han, si asisten mulai menyalakan laptop. Menekuri laporan-laporan yang diberikan orang-orang kepercayaannya via online. “Kapan kita sampai di tempat itu?” Minho mulai bersuara.

“Setengah jam lagi. Mungkin Tudenim perlu minum?”

Minho mengangkat tangan untuk menolak  tawaran itu. Dia mulai bosan dengan perjalanan ini dan memerlukan teman ngobrol, perjalanan yang hening hanya akan membuatnya kembali ingat pada Bo Young. Bo Young, dosen  sekaligus kekasihnya itu telah pergi, meninggalkan sejuta kenangan perih yang membuatnya merasa sial berada di kota sendu ini.

“Apa tudenim merasa gugup?” tanya Pak Han. Minho melirik melalui ujung matanya,”Kenapa aku harus gugup?”

Pak Han mengulum  senyum. “Aish!” Minho jengkel dengan sikap Han. Memang rencana ini sangat konyol. Benar-benar konyol. Nenek sihir itu tiba-tiba datang ke kantornya kemaren. Tanpa ba bi bu memasuki ruang pribadinya dan menyodorkan sesuatu tepat di wajahnya padahal waktu itu dia masih terlibat pembicaraan penting dengan seorang partner kerja.

“Mworago?” seru Minho tak mengerti. Dengan menggerakkan kepalanya, wibawa wanita itu, yang selalu dipanggilnya dengan sebutan nenek sihir yang tak lain adalah Nyonya Besar Lee atau Oemmanya sendiri, langsung bergetar di ruangan  hingga semua orang yang merasa tidak terlibat dalam pembicaraan itu mengundurkan diri.

“Kau harus datang di pesta itu!” perintahnya. Min ho mulai menelusuri sesuatu yang ternyata adalah undangan. Undangan pesta lebih tepatnya pesta kebun. “Ada bisnis penting di sana?”

Yap! Khas keluarga Lee sudah mulai mendarah daging di dirinya, tidak akan datang ke suatu pertemuan yang hanya menghabiskan waktu dengan percuma tanpa bisnis.”Aku lihat pesta ini hanya gaya foya-foya anak bau kencur yang berulangtahun?”

Lee Je Ha duduk anggun di kursi. Dia menerima teh hijau yang disuguhkan OB kantor itu. “Kau akan bertemu calon istrimu di situ.”

Undangan itu terlepas, jatuh  tepat di sepatu licinnya. Hal itu lagi, Arkh…, kenapa nenek sihir ini tak bosan-bosan juga. Sudah berpuluh gadis yang dia sodorkan tiga tahun terakhir.

“Dan kau harus menerimanya saat ini, memang usianya lebih tua dua tahun darimu. Tapi tidak masalah, bukankah kau memang menyukai gadis yang lebih dewasa?”

Bagus! Kau mulai mendiktekan kelemahanku! Minho memijit-mijit keningnya.

“Tapi dia tidak setua dan penyakitan seperti Bo Young!”

“Oemma!” Minho tak terima cercaan Je Ha. Wanita itu tersenyum sinis, “Bukankah itu yang sebenarnya? Oemma tak mau tahu, pokoknya kau harus menemuinya, dia pasti ada di pesta itu, namanya…….

Dan kini Minho sama sekali tidak mengingat nama gadis itu karena dia terus menyebut nama Bo Young, Lee Bo Young di dalam hati saat Je Ha mengatakan nama itu.

———– > 8 < ————-

“Pesta yang indah!” puji Il Woo pada tuan rumah pesta, gadis manis berambut panjang di depannya tersenyum,”Gomawo.”

“Tentu saja indah, tapi aneh, bukankah hari lahirmu 9 April, kenapa baru dirayakan 1 Mei ? Dan tema pesta ini… ah! Sama sekali bukan dirimu.” Bumie menggoda gadis yang tengah berulang tahun. Senyuman maut tersungging di bibirnya. Kebun itu memang tampak asri, beberapa tumbuhan perdu tertata apik di suatu tempat dan bunga-bunga yang hanya tumbuh di musim panas, meja dan kursi yang terbalut kain putih tampak selaras dengan rumput hijau yang terhampar di bawah kaki mereka. Tamu-tamu tampak akrab satu sama lain, menikmati pesta tersebut.

“Kalian tidak malu menggoda Yu Jin terus-terusan?” Ketiga pemuda itu menoleh heran akan kemunculan orang yang baru saja menghardik mereka. Lee Min Ho, seorang Lee Min Ho yang anti acara semacam ini, datang dengan tiba-tiba. Ada angin apa gerangan? Apa dia salah minum obat? Atau otaknya sudah konslet?

“Memang ada bisnis apa di pestamu?” bisik Bumie pada Yu jin. Yu Jin menyenggol lengan Bumie. “Minho-ssi, kehormatan sekali bagiku, kau bisa meluangkan waktu buat hadir di pestaku,” seru Yu Jin dengan tangan terbuka.

“Chukae!” Minho menyodorkan kado yang dibawanya. Yu jin menerima kado itu dengan senang hati,”Gamsahamnida, Minho-ssi. Silahkan menikmati pesta ini, aku masih harus menyapa yang lainnya.”

Yu jin meninggalkan Minho bersama Bumie. Bumie memang orang yang masih bertahan akrab dengan Minho, sedangkan Il Woo, sudah ngibrit entah kemana, memang semenjak Minho akrab dengan Bo Young, tingkahnya agak aneh di mata teman-temannya. Jadilah seperti sekarang ini, dia tanpa teman.

“Apa kabar, Minho-ssi?” sapa Bumie basa-basi.

“Seperti yang kau lihat,” Min ho menaikkan pundaknya. Bumie mengangguk. Min Ho mulai menikmati pesta.

“Jadi ini sketsa-sketsamu?” tanya Il Woo di salah satu sisi pesta, dia tidak sendiri, beberapa namja juga bergerombol di situ. Mereka mengkerubuti seseorang. Tepatnya seorang gadis yang kemudian berteriak nyaring menjawab pertanyaan Il Woo,”Ne!”

Bumie dan Minho menoleh ke gerombolan itu, dan kini tampaklah oleh mereka seorang gadis berusaha keluar dari namja-namja yang mengelilingi dan memuji hasil karya sketsanya. Dia di sana, begitu bersinar. Min ho memandang takjub. Gadis bertubuh mungil itu mengenakan gaun terusan selutut berwarna hijau berpadu kuning yang lembut, kulitnya yang putih menambah kesan alami keayuan wajahnya. Rambut sebahu yang dibuat agak bergelombang itu, memahkotai kepalanya dengan sempurna, dan senyum itu…. Menyapa setiap orang yang ditemui di setiap langkah di acara itu. Sungguh indah anugrah ciptaan Tuhan yang satu ini.

“Hm…, Sunny…”

“Mwo?” Min ho menoleh ke Bumie yang baru saja bersuara, masih memandang ke arah gadis itu. “Setidaknya itu nama panggilan yang diberikan oleh Ayahnya,” lanjut Bumie.

“Kau mengenalnya?”

“Tentu saja, hanya namja bodoh yang tidak.”

Dan aku termasuk namja bodoh itu, begitu pikir Min ho. Bumie melangkah mendekati gadis itu, meninggalkan Min Ho yang masih mematung. Tanpa sadar, kaki Minho melangkah mengikuti si gadis mungil. Kemana pun gadis mungil bergerak, Minho di belakangnya dalam jarak beberapa kaki. Minho seperti terhipnotis, langkah kaki mulus itu seakan berdansa, mengikuti irama yang entah sejak kapan mulai terdengar di hati Minho. Gaun selutut itu melambai bebas, dia berlari kecil, meloncat, berputar, memeluk jika bertemu teman lama, bercanda, tertawa bersama mereka, seakan pesta ini adalah pestanya, dan Yu jin hanyalah tamu saja. Di antara semua itu Min Ho terkesima. Seakan larut dalam keriangan itu, sangat lepas, tanpa beban.

Mentari yang mulai terik menyinari kulitnya, dan gadis mungil itu malah merentangkan tangan, menghirup udara sampai paru-parunya penuh, dan menghembuskannya perlahan. Berjalan menjauhi keramaian pesta dan kini sampai di sisi lain dari kebun yang luas itu. Di hadapannya terhampar danau buatan yang indah dan beberapa angsa berenang di atasnya. Minho berdiri menyandar di salah satu pohon  tak jauh dari situ, ke dua tangannya masuk ke saku celana, kakinya mengais-ais rumput hijau di bawahnya, masih memperhatikan gadis itu.

Si gadis mungil terduduk di rumput, dia mulai mengeluarkan sesuatu dari balik tas selempangnya, yang ternyata pensil dan kertas. Diarahkannya pensil itu tepat di depan wajah dengan posisi tegak lurus, sementara pandangannya tertuju ke arah danau. Akhirnya goresan demi goresan tercipta.

“…. It time to touch the green… green grass of home…..”

Sayup-sayup Minho mendengarnya bersenandung. Tangan lentik itu masih saja lincah menggerak-gerakkan pensil  di atas kertas,” Yes they all… come to see me, arm reaching, smiling sweetly. Its time to touch…….

Hujan deras tiba-tiba. Gadis itu segera berdiri, menutupi kepala dengan tas slempangnya. Min Ho agak meringkuk ke balik pohon hingga gadis itu tak melihatnya waktu berlari melewatinya. Kini terlihat punggung gadis itu mencari tempat berteduh, dan cara larinya pun tak kalah indah. Genangan air meloncat-loncat setiap telapak kaki mungil itu mendarat, seakan berebut kesempatan untuk menjilat. Punggung itu pun menghilang, di balik gedung vila itu, tempat dia kembali bersatu dengan tamu pesta yang lain.

“The green…. Green grass… of  home….,” Minho membisikkan bait syair yang terpotong tadi. Senyum indah terukir di wajahnya.

TBC PART 2

BEHIND THE SHINING STAR III (part 2)

Hari demi hari berlalu bagi mereka berdua, semakin kandungan Sun membesar, semakin banyak denda yang harus dibayar Sun akibat kontrak yang gagal. Seperti janjinya, Mr. Goo pun membantu keuangan putrinya. Rahasia ini diketahui oleh Mino walau pun Sun menutupnya rapat. Tanpa sepengetahuan istrinya, Mino bahkan menemui Mr. Goo untuk mengembalikan uang, alhasil Mr. Goo merasa tersinggung dan dia harus minta maaf pada mertuanya itu. “Cukup buat putriku bahagia, Mino-ssi, itu yang terpenting bagi Appa,”begitulah nasehat orang tua itu.

Sun akhirnya resmi menjadi istri saja bagi Mino, sepertinya memang dia harus melepaskan gelar keartisannya. Dia masih mengisi waktu luang dengan menulis dan melukis dan selebihnya hanya dipergunakan untuk mengurus keperluan rumah tangga saja. Terkadang dia merindukan saat-saat syuting. Mino tahu hal itu sehingga terkadang dia mengajak Sun ke lokasi agar bisa bercanda dengan rekan sesama artis.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Mino saat dia mendapati Sun melamun. Sun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Seperti biasa yang mereka lakukan di Minggu pagi, adalah duduk-duduk di balkon apartemen mereka, menikmati suasana pagi sambil minum teh.

“Dia baik-baik saja, kan?” Mino memegang perut Sun. Sun mengangguk, kandungannya sudah memasuki bulan keempat. ”Miane karena tak berterus terang akan kontrak-kontrak itu.”

Mino menghembuskan nafas kuat-kuat,”Kau tahu ayahmu sangat tersinggung saat aku berusaha mengembalikan uang itu.” Sun menunduk,”Miane.”

“Bisakah lain kali kau lebih jujur? Kita suami istri sekarang!” perintah Mino. Sun mengangguk. Entah kenapa akhir-akhir ini Sun semakin menurut. Angin pagi menerpa tubuh mereka, Sun terlihat meringkuk di tempatnya. Mino langsung berdiri dan menuntun Sun memasuki apartemen. Dia menutup pintu balkon setelah mendudukkan Sun di sofa di depan TV. Perhatiannya terhadap Sun memang agak berlebihan akhir-akhir ini dan terkadang membuat Sun risih, Sun tidak suka dianggap gelas yang mudah pecah olehnya.

Mino duduk di samping  Sun, lalu mulai menyalakan televisi. Suasana ruangan itu sesaat hening, hanya terdengar suara dari televisi. Sun yang merasa bosan menyandarkan punggungnya di sofa. Matanya mencoba terpejam sementara tangannya mengelus-elus perutnya, Mino semakin mencuekkannya dengan acara televisi. “Husky….,” Sun berucap lirih. Sepertinya suaranya masih kalah dengan bunyi-bunyian dari  TV, Mino masih saja asyik menatap layar. Sun menghela nafas, kenapa akhir-akhir ini susah untuk mengajaknya? pikir Sun.

“Husky,” kali ini Sun menyenggol lengan Mino dan sukses membuat Mino menoleh ke arahnya,”Mworago?”

Sun menampakkan senyumnya yang paling manis untuk menjawab pertanyaan itu dan wajahnya yang memerah membuat Mino terkekeh,”Ada apa denganmu, Baby?”

Sun cemberut seketika, “Husky…., aku sangat merindukanmu pagi ini,” rujuk Sun manja. “Aku juga rindu, sini ku peluk!” Mino meraih tubuh Sun ke pelukannya, tapi kemudian perhatiannya terpusat ke TV lagi. Sun semakin frustasi dibuatnya,”Apa kau hanya mau menonton TV saja di waktu liburmu?”

“Hm?” Mino mulai memandang wajah istrinya.”Baiklah, aku akan memasakkan sesuatu untukmu,” ucap Mino kemudian. Sun menggeleng, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Mino lalu berbisik,”Bercinta denganku, ya?”

Mino memandang heran. Sun tidak perduli, perlahan dia mencium bibir padat itu. Tak ada respon sama sekali. Sun tidak puas, merasa hanya mencium tembok, tangannya mulai membuka satu persatu kancing kemeja Mino. Ting tong ! Bel apartemen berbunyi. Mereka menghentikan aksi. Sun menampakkan muka sebal. Mino terkekeh melihat ekspresi istrinya, dalam hati dia bersyukur karena urung melakukan itu, dia merasa tidak tega menyentuh Sun di saat hamil, bahkan sempat kaget melihat keagresifan Sun tadi. Mino membenahi tampilan pakaiannya lalu berdiri untuk membuka pintu depan setelah mengacak-acak rambut Sun yang masih terduduk di sofa dengan mulut manyun.

“Anyeong, Sun-ssi!” sapa si tamu yang tak lain adalah manajernya. “Anyeong!” jawab Sun ketus. Mino tersenyum geli.

“Kenapa kau sadis sekali padaku?” tanya manajer itu.

“Bukan urusanmu!”

“Maafkan dia manajer, kau tahu kan orang hamil itu labil emosinya?” Mino yang sudah duduk kembali di tempatnya membela sambil mengelus sayang perut Sun. Manajer itu mengangguk. Dia segera menyodorkan amplop coklat yang sedari tadi dibawanya, “Tawaran baru untukmu, Sun.”

“Mwo?” mata Sun langsung membulat ketika menyamber file-file itu. Manajer itu manggut-manggut sambil menggaruk-garuk dagu,”Selama tiga bulan ini aku mencari job buatmu, ternyata tawaran ini datang sendiri ke manajemen.”

Sun menelusuri kata perkata dalam kertas itu,”Tidak akan ada pembayaran denda jika aku punya anak, kan?”  Terus terang Sun masih belum pulih dari kebangkrutan. Mino akhirnya mengambilalih kertas-kertas itu dan mulai membaca.

“Tentu tidak, Sun-si. Seperti yang kalian baca, kau akan menjadi MC acara talkshow seputar ibu, bayi dan balita. Sponsor tunggal acara ini adalah toko perlengkapan bayi ‘Mom & Baby Shop’, memang honornya tidak besar dan hanya ditayangkan oleh stasiun TV daerah, sih. Penayangan dua hari dalam seminggu dan kau harus syuting empat hari dalam satu minggu. Mengingat kau tidak sibuk akhir-akhir ini, aku rasa jadwal itu tidak begitu memberatkanmu.”

“Aku terima!”

Mino melirik Sun. Sejak pertama kehamilannya baru sekarang Sun seantusias ini dan Mino bahagia karenanya. “Ada partner kerja dalam proyek ini, Manajer?” sekali lagi Sun mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

“Ne, ada dr. Kang sebagai narasumbaer.”

“Dr. Kang spesialis Obgyn?”

“Ne, dan dokter Su sebagai spesialis anak, seperti yang kubilang tadi, ini sesuai dengan tema talkshow.”

“Itu bagus, Baby. Kau bisa menimba ilmu dari mereka nantinya,” Mino menepuk-nepuk punggung tangan Sun. Sun mengulum senyum. Dia membisikkan sesuatu pada Mino yang membuat wajah suaminya itu langsung memerah seperti tomat. Manajer jadi cengoh melihat perubahan wajah itu.

“Aku terima, Manajer. Kapan tanda tangan kontraknya?”  Sun sudah tidak sabar agar tamunya itu segera pergi. Kenapa, ya? Mino jadi gugup dan menundukkan pandangan ke file-file itu lagi.

“Kira-kira besok pagi, jam sembilan dan kau juga bisa langsung bertemu dengan dr. Kang dan dr. Su.” Manajer itu meminta kembali file-file itu dari tangan Mino.”Baiklah, aku pulang sekarang. Jangan lupa besok, Sun-si.”

“Ne,” jawaban Sun mengantarkan kepergian manajernya. Mino langsung ngeloyor ke dapur setelah mengunci pintu depan. Sun langsung protes,”Husky….”

“Mworago?” Mino sudah sibuk mengeluarkan bahan-bahan untuk kimbab dari dalam kulkas. Sun menghampirinya dan memasukkan semuanya dalam kulkas, lagi? Mino jadi  garuk-garuk kepala.

“Aku belum lapar, Husky. Kita lanjutkan lagi yang tadi, ya?”

Mino mendelik dengan wajah kepiting rebusnya,”Baby…., aku kasihan dengan anak kita, kau tidak memikirkan dia?”

“Aku kan sudah bilang tidak apa-apa. Aku sudah mengkonsultasikan dengan dr. Kang.”

“Tapi aku-nya yang tidak tega,” tegas Mino. Sun mulai ngambek. Dia memasuki kamar dan membanting pintunya keras-keras. Mino menghela nafas. Akhir-akhir ini gairah Sun tidak bisa dibendung, dan mungkin ini yang paling puncak jika sampai ngambek begitu. Memang selama tiga bulan terakhir Mino menahan diri untuk tidak menyentuhnya, takut terjadi apa-apa pada kandungannya. Apa benar semuanya aman jika melakukannya di saat ini? Mino jadi bertanya-tanya. Bunyi HP membuyarkan lamunannya, dengan segera dia mengangkat dan memperhatikan perkataan lawan bicaranya di telephone. Lengkungan senyum mulai terbentuk di wajahnya,”Sudah saya bilang kalau saya tertarik, lakukan saja apa yang diperlukan, saya ingin semuanya siap sebelum istriku melahirkan.”

Mino menutup telephon dengan perasaan lega. Kini tinggal bagaimana caranya menenangkan wanita hamil yang sedang ngambek di dalam kamar. Mino terkekeh lalu menghampiri Sun di kamarnya. Tampak Sun sedang berbaring di ranjang dengan bantal menutupi wajahnya.

“Baby… , kita makan di luar, yuk! Ada restoran baru yang direkomendasikan Bumie.”

Sun tidak bergeming. Mino mendekati Sun, lalu duduk di tepi ranjang,”Atau kita ke rumah Appamu? Ku dengar Noona juga ada di sana siang ini.”

“Baby, kau tidur?” Mino mengangkat bantal dari Sun dan terlihat wajah Sun yang begitu sedih dengan kedua mata yang membengkak. Mino jadi serba salah,”Baby, kau kenapa? Apa yang sakit?”

Tangisan Sun semakin menjadi saja, Mino pun semakin bingung. Sun bangkit dari tidur sambil memegangi perutnya,”Hu hu hu, Aku tahu kalau aku… aku tidak menarik lagi, karena itu kau menolakku!…. Huh u hu…..!”

Aish, kok jadi begini? Bukan begitu maksudnya, Mino jadi pusing dengan jalan pikiran Sun.

“Kau… kau lebih sayang pada anak ini daripadaku!”

Bagus! Sejak kapan ada Ibu yang cemburu pada anaknya yang sedang dikandung? Mino jadi bingung antara geli atau prihatin melihat Sun sekarang. Mino pun memeluk Sun yang masih terisak,” Kau salah, Baby. Sampai kapan pun aku akan menyayangimu. Saranghae, istriku.”

Sun melepaskan diri dari pelukan Mino. Pandangannya mengarah pada mata Mino, berusaha mencari kepastian di sana,”Ceongmal?”

“Ne…” jawab Mino sambil tersenyum maut. Sun memanyunkan bibirnya,”Buktikan kalau begitu!”

“Mwo?”

“Buktikan sekarang, Husky,” sekali lagi Sun menantang dengan pandangan sayu. Mino menjadi serba salah. Ragu-ragu dia mendekatkan wajahnya kepada Sun. Sun menutup matanya dan bisa mendengar dengan jelas detak jantung Mino yang memburu. Detik berikutnya bibir padat itu telah menempel erat di bibir mungilnya.

—— > * < ——

Acara talkshow yang dipandu oleh Sun mendapat sambutan hangat dari public korea. Acara tersebut memang dinilai sarat dengan pendidikan terutama bagi ibu-ibu muda. Rating terus melonjak dan Sun yang juga didaulat menjadi duta dari sponsor tunggal acara ini, Mom & Baby Shop, mulai menampakkan sinar bintangnya kembali, selain itu dia juga bisa menghemat uang untuk membeli perlengkapan bayi karena toko itu mensuplai semua kebutuhan calon bayinya. Hal ini sempat membuahkan protes dari Mino karena apartemen mereka jadi semakin penuh saja, terlebih-lebih Mino memang sudah mempersiapkan semua perlengkapan bayi jauh sebelum toko itu mensuplay.

Sinar Sun semakin terang saat acara itu diambil alih stasiun televisi nasional, sponsor lain terus berdatangan mendukung, honor Sun meroket, dan puncaknya adalah saat kehamilannya masuk sembilan bulan, dia memenangkan penghargaan insan pertelevisian kategori pembawa acara terbaik. Sun menghadiri acara penghargaan itu dengan perut yang sangat buncit walau gaun hitamnya berusaha memberi kesan langsing di tubuhnya. Dia agak kerepotan saat berjalan ke panggung untuk menerima kemenangannya hingga harus dipapah oleh Mino. Berjuta-juta mata menyaksikan kemesraan mereka berdua dengan haru, mereka memuji segala perhatian Mino pada istrinya yang sedang mengandung.

Selepas dari acara, pasangan suami-istri itu pun pulang. Sun masih saja menimang-nimang sayang piala kemenangannya saat mereka di dalam lift, sesekali dia menggerak-gerakkan benda itu di depan Mino. Mino tersenyum melihat tingkah istrinya. Sun memang sedang memamerkan keberhasilan di depannya. Perhatian Mino akhirnya buyar saat HPnya berbunyi,”Yoboseyo?”

Sun agak mencondongkan telinganya, dia juga ingin mendengar  percakapan Mino, tapi tak satu pun yang berhasil dia tangkap. Mino terkekeh dibuatnya walau telinganya masih mendengarkan kata-kata di telephon. “Oke, gomawo jika semua telah siap. Besok kami ke sana,” kalimat itu mengakhiri percakapan telephone.

“Mwo? Kami?” tanya Sun heran. Mino tertawa, dia merangkul Sun sementara lift sudah menginjak ke lantai yang mereka tuju,”Ayo segera masuk, Baby.”

Mino segera membuka pintu. Dan….”SURPRISE!!!!” teriakan dari dalam terdengar sangat meriah. Sun terkejut, rupanya Mr. Goo, B-lady, dan Mrs. Lee sudah menyiapkan pesta kejutan untuknya. “Chukae, Sunny!” Mr. Goo mengacungkan jempol ke arahnya.

“Appa…, gomawo,” Sun menghambur ke pelukan ayahnya. Mino jadi ngeri melihat Sun, “Hati-hati, Baby. Kau membuatku jantungan dengan lari-lari seperti itu!” Mr. Goo hanya tertawa dengan tingkah mereka.

“Hai, kau hanya merindukan Appa?” B-lady protes. Sun melepas pelukan ayahnya lalu beralih memeluk B-lady,”Oemma, Bogosipho…”

“Sudah, sudah, sekarang ayo kita makan, jangan sampai masakan itu terlanjur dingin,” sela Mrs. Lee.

“Kacha!” seru Sun bersemangat, dia memang yang paling lapar sekarang ini, janin di perutnya sudah menendang-nendang dari tadi. Sebentar saja mereka sudah duduk mengelilingi meja makan. Tanpa menunggu lama, Sun mulai lahap. “Ini untukmu, Sunny,” Mr. Goo menyodorkan kimchi ke mulut Sun. dan segera dilahap oleh Sun. B-lady mencubit lengan suaminya keras.

“Arch! Apa salahku?” teriak Mr. Goo kesakitan. Semua menoleh ke arahnya.

“Kau pikir Sun masih kecil hingga kau perlakukan seperti itu? Dia istri orang sekarang!” jawab B-lady.

“Bo? Memang apa salahnya, dia masih tetap gadis kecil bagiku,” Mr. Goo masih tidak terima.

“Oemma… ,  tidak apa-apa, aku senang dimanja Appa.”

Mrs Lee tersenyum,”Mino, kau pasti tidak perhatian pada istrimu hingga dia jadi seperti ini.”

“Mwo?” kali ini Mino jadi gelagapan, emang apa hubungannya coba? Sudah dari sononya Sun selalu manja kalau di depan Ayahnya kok aku yang disalahkan, dalam hati dia protes.

“Appa, Oemma, malam ini menginap di sini, ya? Aku ingin tidur bertiga sama kalian seperti dulu.”

Mino jadi tersedak mendengar permintaan Sun. Susah payah dia melancarkan kerongkongannya dengan air. Tidur bertiga? Yang benar saja? Lalu aku? Aish…!

“Jangan begitu, Sunny. Kau seorang istri sekarang, Sudah pasti kau harus tidur dengan Mino-ssi.”

Tepat sekali jawabanmu, Appa mertua. Aku bisa insomnia jika tidur tanpa istri mungilku. Mino merasa lega.

“Tapi Appa dan Oemma tetap harus menginap, Sun masih rindu.”

“Kabulkan saja permintaannya Tuan Goo. Mungkin Sun memang sangat merindukan kalian,” kali ini Mrs. Lee yang meminta. “Ne,” Mr. Goo mengangguk. Sun meloncat-loncat di kursinya sambil bertepuk tangan. “Baby!” Mino yang kawatir mendelik ke arahnya.

—— > * < ——

Sun terbangun dari tidurnya. Perutnya tiba-tiba melilit. Di sampingnya, Mino terlelap. Sun segera memindahkan tangan Mino dari tubuhnya lalu berjalan menuju kamar mandi. Agak tertatih Sun berjalan, dia agak menegakkan tubuhnya, tangan kirinya menyangga perut sedang tangan kanannya memijat-mijat tulang belakangnya. Entah kenapa serasa ngilu di bagian itu. Sun agak mengaduh saat tendangan kuat dilakukan bayi di dalam kandungannya. Rasa ngilu di bagian punggungnya semakin menjadi saja, seakan mau patah bagian itu. Sun mengatur pernafasannya. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Kedua kakinya semakin gemetaran hingga akhirnya dia bersimpuh di salah satu pojok dinding kamar mandi. Kedua tangannya mengepal kuat-kuat menahan sakit,”Min… Min-a…”pangil Sun lemah. Suara itu terlalu pelan, Mino yang terlalu lelap tidak mendengarnya.

Sun merangkak menggapai botol sabun cair, rasa nyeri semakin melebar di rahim. Dia bisa merasakan kepala bayinya semakin menekan kebawah. Saat botol itu sampai di dekatnya, dia berusaha meraih botol itu tapi malang karena botol beling itu akhirnya jatuh dan menimbulkan bunyi pecahan yang nyaring. Mino terbangun mendengar bunyi benda yang pecah dan setengah sadar dia menuju ke sumber suara.” Baby!!!” pekik Mino.

“Min…, Min… Huft… Huft… dia akan… lahir… huft…”

“Ada apa?” Mr. Goo dan B-lady yang mendengar teriakan Mino menghambur ke kamar mandi. B-lady mendekati putrinya,”Siapkan mobil, Goo!” perintah B-lady. Mr. Goo segera melakukan perintah istrinya.  Mino  mulai mengangkat tubuh Sun untuk dibawa ke dalam mobil.

“Tunggu..!” cegah Sun diantara sesak nafasnya,”Tas itu…. Tas pink…. Di …. Huft huft…,” Sun menunjuk arah lemari. B-lady segera mengambil tas yang dimaksud. Mino menggendong Sun menuju mobil yang dipersiapkan Mr. Goo di depan gedung apartemen.

Mobil keluarga Goo akhirnya melaju. B-lady duduk di samping suaminya yang sedang mengemudi, melihat ke kursi belakang dengan cemas. Di situ tampak putrinya yang berjuang menahan rasa sakit dan menantunya yang berusaha menenangkan walau tampangnya terlihat panik. Sun menggenggam erat tangan kokoh Mino untuk melawan rasa sakit di sekujur rahim dan pinggangnya, sementara nafasnya tersenggal-senggal, dia berusaha agar tidak mengejan, dia yakin ini belum saatnya. Kepala bayi itu serasa makin mendesak ke bawah saja.  Hingga akhirnya darah segar keluar dari rahimnya dan merembes keluar piyama putihnya. Mino semakin  panik,” Percepat mobilnya, Aboji!”

B-lady gelisah. Mino mencium kening Sun dalam, “Tahan, Baby. Tahan….”

Mobil itu berhenti di sebuah rumah sakit terdekat. B-Lady segera memanggil suster untuk menolong Sun. Dalam sekejap Sun sudah terbaring di ruang bersalin dan Mino masih setia di sampingnya. Para tenaga medis dengan sigap membuka semua bajunya, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Salah seorang suster tampak mengamati bagian bawah tubuhnya. Darah segar sudah mengalir dari rahim Sun. Suster itu terkejut, dia mendekati dokter yang masih memeriksa tanda-tanda vital Sun lalu berbisik,”Pembukaan sempurna, dok.”

Dokter mengangguk. Suster itu kembali ke bagian bawah tubuh Sun, dia membuat sedikit sayatan di situ. Sementara Sun masih sibuk mengatur jalan nafasnya, posisi tangan kanannya masih menggenggam tangan Mino, sesekali dia meremas tangan kokoh itu jika rasa sakit tak tertahankan. Dokter itu berbisik kepadanya, “Anda sangat cerdas, Nyonya Lee. Sekarang lah saatnya. Ikuti aba-aba saya.”

Mino melongo mendengar ucapan dokter. Sun mengangguk tanda mengerti.

“Tarik nafas.”

Sun menarik nafasnya pelan-pelan.

“Dorong!”

Seiring aba-aba itu, Sun mulai mengejan. Dia mengerang kesakitan dan tangan kanannya semakin meremas telapak tangan Mino. Mino bisa ikut merasakan kesakitan Sun lewat tangannya yang tergenggan erat oleh Sun.

“Jangan menjerit, Nyonya. Itu akan membuat nafasmu pendek!” cegah dokter itu. Sun mengangguk, masih mengatur nafasnya. Mino memejamkan mata, dia tak tega melihat Sun. Baby, berjuanglah, aku mohon selamatkan anak istriku, Tuhan…..

“Baik, kita coba lagi, Tarik nafas…. Dorong !”

Sun mendorong lagi, kali ini tanpa erangan. Diantara tarikan nafas dan dorongan yang dilakukan, Sun mengatur nafasnya. Hal itu dia lakukan terus hingga akhirnya bayi merah berhasil keluar dan tangisnya yang keras memenuhi ruangan. Suster yang bertugas di bawah Sun segera memotong ari-ari bayi itu dan menyerahkannya pada dokter. Sementara suster lain mengambil alih dengan segera membersihkan bagian bawah Sun. Dokter membersihkan tubuh bayi, mengikat tali pusatnya dan meneteskan larutan  di mata sang bayi lalu menempatkannya di antara perut dan dada Sun dalam posisi menelungkup.

Sun menangis haru.  Kesakitan yang barusan dialami lenyap sudah saat makhluk mungil itu berada di atasnya.  Dia bisa merasakan jantung bayinya berdetak, bersahutan dengan detak jantungnya. Mino yang tidak mempercayai pemandangan indah di depannya tertawa bahagia, sementara air mata keluar dari kedua pelupuk matanya. Bayi itu berhenti menangis saat suhu hangat tubuh sang ibu sudah menjalar ke tubuh kecilnya. Dia berusaha mencari puting Sun dengan mulutnya. Kepalanya bergerak-gerak, sementara mulut mungil itu menjilat-jilat dada Sun. Saat bayi mungil itu menemukan puting susu Sun, dia mulai menghisap ASI Sun. Mino terkesima. “Ajaib, bukan?” tanya dokter itu.

“Ne,” jawab Mino. Matanya belum lepas dari sang bayi.

“ASI yang keluar pertama kali banyak mengandung Colustrum yang baik untuk system imun, dan itu hanya didapat sesaat bayi lahir. Dan anehnya bayi yang baru lahir bisa menemukan puting susu ibunya dengan cepat tanpa diarahkan, suhu tubuh  ibu adalah penghangat tepat yang bisa menghentikan tangisnya,” jelas dokter itu panjang lebar. “Untuk sementara biarkan dia menyusu, Tuan Lee. Sampai dia melepaskan putingnya.”

Mino mengangguk. Dokter itu menutupkan selimut di dada Sun lalu melanjutkan tugasnya lagi. Mino mencium kening Sun lalu membisikkan doa-doa di telinga bayi mungil itu.

——– > * < ———

Pagi ini Sun sudah bisa pulang dari rumah sakit. Sun keluar dari pintu belakang rumah sakit karena press sudah berjejal di depan. Mino bahkan harus memakai mobil baru Kakaknya untuk menjemput Sun. Dia ingin melindungi bayi mungilnya dari paparan press. Putriku bukan  bahan konsumsi media, begitu pikirnya. Dia mengendarai mobil itu dengan hati-hati, bukan takut mobil pinjaman itu tergores, tapi ingin membuat dua penumpangnya yang tersayang merasa nyaman di dalam mobil. Pangkuan Sun kini tidak kosong lagi. Di situ putrinya terbaring, dalam balutan selimut pink yang sudah lama dipersiapkan Mino di tas pink dalam almari yang ditunjuk saat merasa mulas. Bayi didekapannya bergerak-gerak. Waktunya menyusu sekarang, tangisan keras pun terdengar. Cepat-cepat Sun membuka kemejanya dan mulai menyusui. Mino yang sedang mengemudi melirik kepadanya. Sun memandangi bayinya, sambil sesekali membelai sayang pipi montoknya,” Min-a, kau sudah mempersiapkan nama untuk putri kita?”

Mino tersenyum, “Tentu, dari dulu aku ingin anak perempuan, dan sudah pasti ku persiapkan nama itu sudah lama.”

“Kenapa tidak mengatakan padaku dari dulu?”

“Kau-nya yang tidak tanya,” Mino mencolek dagu Sun. “Hye Na, namanya Lee Hye Na.”

“Lee Hye Na?”

“Ne. Kau setuju?”

“Tentu, nama itu terdengar manis.” Sun menutupi dadanya dengan syal tipis, Hye Na menyusu di dalamnya. Dia tidak mau konsentrasi mengemudi Mino kabur karena terus meliriknya. Dia mulai menyusuri pemandangan luar dan baru menyadari kalau Mino melewati jalan yang tidak biasanya,”Kita mau ke mana, Min-a?”

“Ikut saja,” kini pandangan Mino sudah lurus lagi ke depan. Mobil itu mulai memasuki kawasan elit baru di luar Seoul. Sun semakin heran, tampak di matanya beberapa rumah mewah yang asri  dan Mino menghentikan mobilnya di depan salah satu rumah itu. Mino segera turun dan membukakan pintu di samping Sun,”Turunlah, Baby.”

Sun keluar dari mobil dengan pelan, di gendongannya Hye Na masih menyusu. Sun memandang takjub bangunan di depannya. Sebuah rumah bernuansa hangat dengan halaman yang luas. Rumput di halaman itu sepertinya baru ditanam kemarin sehingga belum merata. Tampak dua bibit pohon palm di kiri kanan jalan masuk rumah itu. Sun memandang wajah Mino dengan penuh tanya.

“Kita masuk sekarang, Baby. Udara luar kurang bagus buat Hye Na.”

Sun mengangguk. Mino memapah Sun untuk memasuki rumah itu. Sun semakin takjub. Matanya yang bulat melebar seketika melihat aksen interior rumah itu yang begitu nyaman dan tampak kekeluargaan, selama di apartemen Mino, dia tidak mendapati aksen itu, yang ada hanya aksen bujangan khas Mino. Sun semakin bertanya-tanya siapa yang memilih warna krem manis buat dinding rumah itu. “Min-a, rumah siapa ini?”

Mino makin menuntun Sun ke ruang keluarga.”Rumah orang-orang dalam foto itu,” Mino menunjuk foto besar yang tergantung di salah satu sisi ruangan itu. Sun melangkah semakin mendekati foto yang dimaksud. Foto pernikahan mereka yang selama ini tergantung di ruang tengah apartemen Mino sudah terpampang di depannya. Sun berbalik ke arah Mino,”De?”

“Ya, ini rumah Kita,” Mino memeluk Sun lembut, takut menggangu Hye Na yang masih menyusu. “Ceongmal?” Sun bertanya dengan mata berbinar. Mino mengangguk,”Hye Na membutuhkan lingkungan yang bagus dan aku rasa apartemen sudah tidak cocok lagi untuk keluarga kita. Sebenarnya rumah ini sudah siap di hari kau menerima penghargaan, aku berencana menunjukkan padamu keesokan harinya, tapi ternyata Hye Na keburu lahir.”

Sun tersenyum. Dia mulai mengerti maksud perkataan  suaminya di lift tempo hari. Mino mencolek dagunya,”Kenapa kau tidak meloncat-loncat, bukankah kau selalu meloncat jika senang?”

“Malu, Min-a,” Sun menunduk dengan wajah semerah tomat,”Aku seorang oemma sekarang.”

“Kenapa musti malu, Sunny!” Mr. Goo muncul tiba-tiba, diikuti B-lady dan Ibu Mino.

“Kalian?” Sun berseru nyaring. Mungkin dia tidak meloncat tapi masih berteriak jika merasa senang. Mino tersenyum geli. “Sini biar ku gendong dia,” pinta Mrs. Lee, tangannya terbuka menyambut Hye Na. “Tapi dia sedang menyusu,” Sun membuka syal di dadanya, di dalam rupanya Hye Na sudah tertidur pulas tanpa dia sadari. Akhirnya Sun menyerahkan Hye Na ke tangan ibu mertuanya dan merapikan tampilan kemejanya.

“Ha! Kau gendong dia selagi tidur, nanti waktu bangun giliran aku yang main dengannya,” celoteh Mr. Goo.

“Ah, crewet, kau. Cepat selesaikan masakanmu, jangan sampai gosong,” B-lady menghalau suaminya kembali ke dapur. Mrs. Lee membawa Hye Na ke kamar bayi di samping kamar Mino dan Sun.

“Oemma mau kemana?” tanya Sun pada B-lady.

“Kau tidak lihat pakaian Oemma? Tentu saja berkebun. Oemma akan menanam mawar di halaman belakang, di samping kolam renang. Kalian istirahat saja di kamar!”

Sun cemberut mengantarkan kepergian Oemmanya,”Rumah ini juga punya kolam renang?” tanyanya pada Mino yang masih berdiri di sampingnya.

“Tentu.”

“Tapi kan kau kurang bisa berenang?”

Mino tertawa terbahak,” Sudah pasti aku bisa lebih banyak berlatih jika di rumah ada kolam renang. Ayo kita lihat kamar kita,” ajak Mino. Sun mengangguk. Mino menggandeng tangannya menuju kamar dan Sun semakin terkesima dengan interior di dalam kamar itu. Mino sengaja menampilkan kembali nuansa kamar Sun di Penthouse-nya dulu yang sudah lama ditinggalkan karena pindah ke apartemen Mino. Semua hal di kamar itu mengingatkannya pada penthousenya. Ranjang itu, meja kecil di sisi kanan dan kiri ranjang, lampu knop, sofa di depan ranjang, almari dinding yang besar,  wall paper pink serta fitur  pintu yang menghubungkan ruangan itu dengan kamar mandi mewah di sebelahnya.

“Kau suka, Baby?” tanya Mino sembari melingkarkan lengannya ke pinggang Sun. Sun mengibaskan tangan Mino dari pinggangnya. “Waeyo?” tanya Mino heran.

“Tunggu program dietku berhasil baru kau boleh melingkarkan lenganmu ke pinggangku.”

Mino ngakak mendengar jawaban Sun. Dia akhirnya memeluk istrinya yang sedang manyun itu,”Kau ada-ada saja, Baby. Aku justru akan melarangmu berdiet, kau masih menyusui, kau harus terus makan makanan yang bergizi.”

“Aku tidak mau tampil jelek di depanmu,” Sun masih saja memprotes. Mino jadi gemas dan akhirnya mencium bibir mungil yang masih manyun itu dengan mesra. Dia mempererat pelukannya kini dagunya berada di atas salah satu pundak Sun,”Kau tetap cantik bagiku, Sunny. Kaulah segalanya bagiku. Sudah ku bilang selamanya ku tak akan melepasmu, Sunny.”

Sun melepaskan diri dari pelukan Mino. “Apa kau bilang tadi?”

“Selamanya tak melepasmu?”

“Kata terakhir?”

“Sunny?”

“Kya! Lee Min Ho… jangan kau panggil aku seperti itu!”

“Aku ingin seperti Appamu yang memanggil Oemmamu dengan panggilan sayang. Masa tetap memanggilmu Cho ding atau Baby di depan Hye Na?” protes Mino panjang lebar.

“Kau boleh memanggilku apa saja, asal jangan Sunny, panggilan itu khusus buat Appa saja.”

“Lalu aku harus memanggilmu apa?”

“Apa saja asal jangan Sunny!” teriak Sun. Mino menutup telinga,”Baik, baik, bagaimana kalau Sunshine?”

Sun mengangguk mantap.”Aku adalah Sunshine bagi Lee Min Hoo. Yiheee!” teriak Sun narsis. Mino ngakak, sekali lagi mereka berpelukan erat. Sementara Mrs. Lee memandangi wajah malaikat Hye Na yang terlelap sambil mendendangkan lagu-lagu dan doa lembut. Mr. Goo masih sibuk dengan masakannya, dan B-Lady mulai menyirami tanah gembur yang sudah mengandung benih mawar yang baru saja dia tanam. Aura kebahagiaan memenuhi suasana rumah itu, juga hati orang-orang di dalamnya. Semoga kedamaian selamanya ada di kehidupan mereka, dan tentu saja bagi kita semua yang membaca kisah ini.

 

———-THE END———-