PENDEKATAN SISTEMATIK PROBLEM

IDENTIFIKASI MASALAH :

SUMBER INFORMASI :
1.Kartu Obat
2.Catatan Medik
3.Klien/keluarga Klien
4.Team Kesehatan (dokter, perawat)
5.Kartu observasi
6.Data Laboratorium
INTERVENSI DOKUMENTASI
•Merupakan langkah untuk mengatasi problem dalam pelayanan jamu
•Mengidentifikasi masalah penggunaan jamu
•Merencanakan hasil terapi yang diharapkan
•Merencanakan terapi alternatif jika terapi gagal.
•Mendesain rencana pelayanan jamu untuk klien
•Mengidentifikasi parameter-parameter indikator
•Mengkomunikasikan dan mengimplementasikan rencana pelayanan pada klien, keluarga dan tenaga kesehatan lain
•Dapat dilakukan dengan cara:
1.SOAP : Subjective Objective Assessment Plan
2.PAM  : Problem Assesment/ Action Monitoring
3.FARM : Finding Assessment Resolution Monitoring
SOAP
Subjective (S) : data meliputi sejarah pengobatan
Objective (O) : data didapat dari data laboratorium, konsentrasi obat dalam serum/ darah, hasil-hasil tes diagnostik misalnya sinar X, ECG, CT Scan
The Assessment (A) : Hasil dari pemikiran praktisi untuk mengatasi masalah klien berdasarkan informasi S& O
•The Plan :
1.Termasuk tes diagnosa, inisiasi, revisi atau treatment lanjutan.
2.Keputusan untuk mengatasi masalah kontra indikasi, efek samping, interaksi
3.Merokumendasikan terapi non farmakologik, atau terapi alternatif
4.Kerasionalan  terapi harus diperjelas
5.Perencanaan konseling
6.Memonitor parameter indikator
MISAL
•KH seorang laki-laki berumur 52 thn dengan keluhan nafas sesak, dan produksi sputum meningkat
•Gejala :
1.ruam-ruam kulit sejak kemaren
2.Merasa depresi, kurang fit, terbangun di malam hari dan tidak bisa tidur lagi, kurang nafsu makan, tidak perhatian pada lingkungan termasuk pekerjaan, keluarga selama 6 bulan.
•Riwayat penyakit
1.Bronkritis kronis skunder disebabkan merokok, peningkatan sesak nafas dua tahun terakhir
2.Pernah patah kaki kanan karena jatuh 6 bulan yang lalu dan terjadi Deep Vein trombosis
•Sejarah sosial
1.KH  stabil dan bahagia dalam kehidupan perkawinannya, punya 2 putra yang sudah kuliah, keduanya anak yang membanggakan.
2.KH merokok 1 pak/hari.
3.KH pernah mencoba marijuana dengan putranya tetapi tidak menyukainya.
RIWAYAT PENGOBATAN
•Theodur 600 mg 2x sehari selama 2 th
•Terbutaline inhaler 4 semprotan 4 kali sehari selama 2 tahun
•Vibramycin 100 mg 4 x sehari untuk bronkritis selama 10 hari
•Warfarin 3 mg, 4 x sehari mulai 7 bulan yang lalu
•Acetaminophen bila perlu untuk sakit kepala
•Alergi obat tidak diketahui.
PEMERIKSAAN FISIK
•Kondisi Umum : Laki-laki paruh baya dalam kondisi stres yang parah
•Vital sign : BP 120/80, HR 100, Tiga 37,6*C, RR 32, WT 80 kg, HT 5’7”
•HEENT : Normal
•COR : Normal S1 & S2, no S3, S4 / murmurs
•CHEST : Numerolus rales, ronchi & wheezes
•ABD : No. Organomegaly
•GU : WNL
•RECT : WNL
•EXT : NL DTRs, maculopapular rash pada paha dan sekitar tubuh
•NEURO : Oriented x 3, WNL
HASIL LABORATORIUM

Na. 140

HcT 55

Alb 4

K 40

Hgb 17.5

Bili 8

Cl 101

WBC 8.1

Glu 95

HCO3 28

Plts 305k

Uric Acid 7.4

Ca  8.8

BUN 37

Cr 1.2

PO4 2,6

AST 40

ALT 35

Mg 2.0

PT 25 (INR=3)

•WBC differential : Neutrophils 48, bands 0, lymphs 3.0, monos 5, eos 12
•ABGs : PH 7.37, PO2 55, PCO2 49
•PFTs :
1.pre-bronchodilator FEV1 = 2000 ml (50% of FVC)
2.Post-bronchodilator FEV 1 = 2600 ml (65% of FVC)
•Gram stain of sputum sample was unsuitable due to numerous squamous epithelial cells
•Urinalysis : WNL

Chest x-Ray : Clear, no sign of pneumonia

Daftar Masalah kefarmasian

•Bronkritis kronik dengan eksaserbasi akut
•Alergi obat
•Depresi
•DVT
Problem 1. Chronic Bronchitis Exacerbation

S:

KH mengeluh sesak nafas dan produksi sputum meningkat

O :

KH mengalami penurunan FEV1, rales, ronchi, wheezes. Peningkatan RR, pulse, HcT & Hgb, arterial blood gases yang ditunjukkan dengan peningkatan PCo2 dan menurunnya kadar oksigen disebabkan riwayat merokoknya

A

KH mempunyai gejala simptomatis bronkritis kronis yang memburuk. Merokok memperburuk kondisi bronkitis, sedangkan virus di bagian atas saluran pernafasan menyebabkan infeksi dan tanda-tanda eksaserbasi akut dan tidak ada tanda-tanda infeksi bakteri

KH punya hasil WBC normal, tidak demam, hasil sinar X normal. Tidak bisa digunakan antibiotik. Pre dan post – bronchodilator FEV1 menunjukkan obstruksi saluran nafas reversible. Kadar Theophyllin berada di range terapi dan tidak membutuhkan peningkatan dosis.

P.

Memberi menthylprednisolone 40 -125 mg iv dan diteruskan tiap 6 jam selama 72 jam.

Theophyllin oral diteruskan

Oxigen 2 liter/ menit via nasal

Ampicillin 500 mg peroral 4 x sehari

Memonitor gejala sesak nafas, produksi sputum, FEV1, ABGs, chest ausculation, kadar theophyllin dalam darah, nausea, vomiting, kadar glukose dalam darah, kadar potasium serum, tekanan darah dan kondisi tremor

•Tujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dihubungkan dengan bronkritis kronis. Diperdalam lagi kemampuan KH untuk menggunakan inhaler secara benar. Menjelaskan efek samping Theophyllin, steroid dan Ampicillin
•KH harus menghentikan rokok.
Iklan

THE KEY POINT STATEMENT OF BLUE OCEAN STRATEGY , AUTHOR: W. CHAN KIM, RENÉE MAUBORGNE, CHAPTER 5

C H A P T E R 5

Reach Beyond Existing Demand

To maximize the size of their blue oceans, companies need to take a reverse course. Instead of concentrating on customers, they need to look to noncustomers. And instead of focusing on customer differences, they need to build on powerful commonalities in what buyers value. That allows companies to reach beyond existing demand to unlock a new mass of customers that did not exist before.

Where is your locus of attention—on capturing a greater share of existing customers, or on converting noncustomers of the industry into new demand? Do you seek out key commonalities in what buyers value, or do you strive to embrace customer differences through finer customization and segmentation? To reach beyond existing demand, think noncustomers before customers; commonalities before differences; and desegmentation before pursuing finer segmentation.

The Three Tiers of Noncustomers

There are three tiers of noncustomers that can be transformed into customers. They differ in their relative distance from your market. the first tier of noncustomers is closest to your market. They sit on the edge of the market. They are buyers who minimally purchase an industry’s offering out of necessity but are mentally noncustomers of the industry. They are waiting to jump ship and leave the industry as soon as the opportunity presents itself. However, if offered a leap in value, not only would they stay, but also their frequency of purchases would multiply, unlocking enormous latent demand. The second tier of noncustomers is people who refuse to use your industry’s offerings. These are buyers who have seen your industry’s offerings as an option to fulfill their needs but have voted against them.  The third tier of noncustomers is farthest from your market. They are noncustomers who have never thought of your market’s offerings as an option. By focusing on key commonalities across these noncustomers and existing customers, companies can understand how to pull them into their new market. Let’s look at each of the three tiers of noncustomers to understand how you can attract them and expand your blue ocean.

First-Tier Noncustomers

These soon-to-be noncustomers are those who minimally use the current market offerings to get by as they search for something better. Upon finding any better alternative, they will eagerly jump ship. In this sense, they sit on the edge of the market. A market becomes stagnant and develops a growth problem as the number of soon-to-be noncustomers increases. Yet locked within these firsttier noncustomers is an ocean of untapped demand waiting to be released. What are the key reasons first-tier noncustomers want to jump ship and leave your industry? Look for the commonalities across their responses. Focus on these, and not on the differences between them. You will glean insight into how to desegment buyers and unleash an ocean of latent untapped demand.

Second-Tier Noncustomers

These are refusing noncustomers, people who either do not use or cannot afford to use the current market offerings because they find the offerings unacceptable or beyond their means. Their needs are either dealt with by other means or ignored. Harboring within refusing noncustomers, however, is an ocean of untapped demand waiting to be released. What are the key reasons second-tier noncustomers refuse to use the products or services of your industry? Look for the commonalities across their responses. Focus on these, and not on their differences. You will glean insight into how to unleash an ocean of latent untapped demand.

Third-Tier Noncustomers

The third tier of noncustomers is the farthest away from an industry’s existing customers. Typically, these unexplored noncustomers have not been targeted or thought of as potential customers by any player in the industry. That’s because their needs and the business opportunities associated with them have somehow always been assumed to belong to other markets. It would drive many companies crazy to know how many third tier noncustomers they are forfeiting. Just think of the long-held assumption that tooth whitening was a service provided exclusively by dentists and not by oral care consumer-product companies. Consequently, oral care companies, until recently, never looked at the needs of these noncustomers. When they did, they found an ocean of latent demand waiting to be tapped; they also found that they had the capability to deliver safe, high-quality, low-cost tooth whitening solutions, and the market exploded.

Go for the Biggest Catchment

There is no hard-and-fast rule to suggest which tier of noncustomers you should focus on and when. Because the scale of blue ocean opportunities that a specific tier of noncustomers can unlock varies across time and industries, you should focus on the tier that represents the biggest catchment at the time. But you should also explore whether there are overlapping commonalities across all three tiers of noncustomers. In that way, you can expand the scope of latent demand you can unleash. When that is the case, you should not focus on a specific tier but instead should look across tiers. The rule here is to go for the largest catchment. The point here is not to argue that it’s wrong to focus on existing customers or segmentation but rather to challenge these existing, taken-for-granted strategic orientations. What we suggest is that to maximize the scale of your blue ocean you should first reach beyond existing demand to noncustomers and desegmentation opportunities as you formulate future strategies. If no such opportunities can be found, you can then move on to further exploit differences among existing customers. But in making such a strategic move, you should be aware that you might end up landing in a smaller space. You should also be aware that when your competitors succeed in attracting the mass of noncustomers with a value innovation move, many of your existing customers may be attracted away because they too may be willing to put their differences aside to gain the offered leap in value.

ADR

TERJEMAHAN ADR DARI FILE MATA KULIAH YANG DIAMPU PROF.DR. SUWALDI MARTODIHARJO,MSc,Apt.

(Ada beberapa yang saya hilangkan di sini, jadi baca sendiri di teks aslinya)

• Definisi FDA dari ADR:
Setiap peristiwa buruk yang terkait dengan penggunaan obat pada manusia, apakah itu dianggap terkait atau terkait dengan obat, termasuk didalamnya adalah sbb:
1. Adverse event yang terjadi dalam penggunaan suatu produk obat dalam praktek profesional;
2. peristiwa buruk yang terjadi dari overdosis narkoba, baik sengaja atau sengaja;
3. peristiwa buruk yang terjadi dari penyalahgunaan obat-obatan;
4. peristiwa buruk yang terjadi dari penarikan obat; dan
5. Setiap kegagalan yang signifikan dari tindakan farmakologis yang diharapkan.

FDA melanjutkan dengan menentukan reaksi tak terduga obat, yang  mereka laporkan, sebagai:
Satu, yang tidak tercantum di label saat ini untuk obat, yang telah dilaporkan atau berhubungan dengan penggunaan obat. Ini mencakup ADR yang mungkin gejalanya atau pathophysiologicallynya terkait dengan ADR dan tercantum dalam label, tapi mungkin berbeda dari ADR berlabel karena beratnya yang lebih besar atau spesifisitas (misalnya, fungsi hati abnormal vs nekrosis hati). ADR juga dapat disebabkan oleh interaksi obat, yang didefinisikan sebagai respon farmakologis yang tidak dapat dijelaskan oleh aksi obat sederhana, namun karena dua atau lebih obat bertindak secara bersamaan

• Frekuensi efek samping atau ADR secara umum digambarkan sebagai berikut: Sangat / paling umum – lebih besar dar 1/10, Common – 1 /100 s.d 1/10,  Kurang umum/ uncommon – 1/1000 s.d 1/100, Langka 1/10.000 hingga 1/1000,  Sangat jarang terjadi – kurang dari 1 dalam 10.000

DEFINISI

• WHO mendefinisikan ADR sebagai “tanggapan berbahaya atau yang tidak diinginkan untuk obat yang terjadi pada dosis biasanya digunakan untuk profilaksis, diagnosis, atau terapi penyakit atau untuk modifikasi fungsi psikologis”

• Definisi FDA ADR adalah
Setiap peristiwa buruk yang terkait dengan penggunaan obat pada manusia, apakah tidak dianggap obat yang terkait, termasuk yang berikut: adverse event yang terjadi dalam penggunaan suatu produk obat dalam praktek profesional; suatu peristiwa buruk terjadi karena overdosis narkoba, apakah kebetulan atau sengaja, sebuah peristiwa buruk yang terjadi dari penyalahgunaan narkoba; suatu peristiwa buruk terjadi dari penarikan obat; dan setiap kegagalan yang signifikan tindakan farmakologis yang diharapkan.

• FDA melanjutkan dengan menentukan reaksi obat tak terduga, yang adalah apa yang mereka ingin telah melaporkan, sebagai salah satu yang tidak tercantum di label saat ini untuk obat sebagai telah dilaporkan atau berhubungan dengan penggunaan obat. Ini mencakup ADR yang mungkin gejalanya atau pathophysiologically terkait dengan ADR sebuah tercantum dalam label, tapi mungkin berbeda dari ADR berlabel karena beratnya yang lebih besar atau spesifisitas (misalnya, fungsi hati abnormal vs nekrosis hati). ADR juga dapat disebabkan oleh interaksi obat, yang didefinisikan sebagai respon farmakologis yang tidak dapat dijelaskan oleh aksi obat sederhana, namun karena dua atau lebih obat bertindak secara bersamaan.

• Dua peneliti terkemuka di bidang ADR, Karch dan Lasagna, mendefinisikan obat, sebuah peristiwa yang merugikan, dan eksposur obat pasien sebagai:

Obat: zat kimia atau produk yang tersedia untuk dimaksudkan diagnostik, profilaksis atau tujuan terapeutik.

ADR: setiap respon terhadap obat yang berbahaya dan tidak disengaja dan yang terjadi pada dosis yang digunakan dalam manusia untuk profilaksis, diagnosis atau terapi, termasuk kegagalan terapeutik. (Seperti yang dinyatakan oleh WHO, definisi ini termasuk yang disengaja dan tidak disengaja keracunan serta situasi penyalahgunaan narkoba.)

Patient-drug exposure: pasien tunggal YANG menerima paling tidak satu dosis obat yang diberikan.

KLASIFIKASI

definisi ADR dari WHO tidak menjelaskan tentang beberapa ADR  yang terjadi sebagai akibat dari kesalahan, meskipun banyak ADR yang terlaporkan sebagai akibat kesalahan administrasi atau pilihan obat.
• ADR dapat dikelompokkan menjadi dua jenis:
1. Tipe A (Augmented) reaksi
2. Jenis B (Bizare) reaksi

• Tipe A reaksi
Reaksi-reaksi ini karena tindakan farmakologis yang dikenal dari obat.
Ini mungkin terjadi karena:
1. Efek yang berlebihan dari tindakan farmakologi yang dimaksudkan oleh obat misalnya perdarahan dengan antikoagulan.
2. Tindakan yang tidak diinginkan dari efek farmakologi obat, misalnya efek antimuscarinic dari TCA yang dapat mengakibatkan penglihatan kabur, takikardia, mulut kering dan retensi urin.
3. Penarikan reaksi (Withdrawal reaction), yang mungkin terjadi dengan penarikan tiba-tiba beberapa obat setelah  digunakan dalam jangka panjang, misalnya rebound insomnia dengan hipnotik insufisiensi, adrenal akut dengan Glukokortikoid.
4. efek Tertunda  yang merugikan  (Delayed adverse effect)seperti adenokarsinoma vagina dari bayi  wanita dari ibu yang menerima dietilstilbestrol selama kehamilan untuk pengobatan ancaman aborsi.

Beberapa Tipe A mungkin reaksi akibat dari kegagalan dosis individual
seorang Pasien memiliki dosis dalam jangkauan normal, tetapi gangguan fungsi ginjal atau hati mempengaruhi clearence obat dan dapat berakibat pada ADR.

Prediktabilitas dari ADR merupakan faktor penting dalam pemilihan obat untuk pasien. Oleh karena itu pengetahuan faktor yang mempengaruhi kemungkinan setiap pasien mengalami ADR diprediksi penting.

• Reaksi Tipe B
Reaksi Tipe B adalah efek tak terduga yang tidak ada hubungannya dengan tindakan farmakologis yang dikenal dari obat.

Reaksi ini disebabkan oleh:
1. Dasar imunologi umpamanya anafilaksis dengan penisilin.
2. Kelainan genetik seperti obat-induced hemolisis pada pasien dengan defisiensi dehidrogenase glukosa-6-fosfat, ketika diberi obat oksidatif.
3. Penyebab tak diketahui; reaksi alergi yang istimewa dan biasanya tidak terkait dengan dosis.

Type A Type B

  • Normal, augmented response
  • Predictable from pharmacology
  • Dose related
  • Reasonably common
  • Seldom fatal

  • Abnormal, bizarre response
  • Unpredictable from pharmacology
  • Not dose related
  • Uncommon
  • Often causes serious illness or death

Ada sistem klasifikasi yang dikembangkan oleh Lasagna dan Karch (Menjelang operasional identifikasi reaksi obat merugikan Clin Pharmacol. Ada 1977; 21:247-54) dan mengklasifikasikan keparahan ADR sebagai kecil, sedang, parah, dan mematikan.

• Minor: tanpa penawar , terapi atau perpanjangan perawatan di rumah sakit yang diperlukan.
• Sedang: memerlukan perubahan dalam terapi obat, pengobatan khusus, atau memperlama perawatan  rumah sakit  setidaknya 1 hari.
• berat: berpotensi mengancam hidup, menyebabkan kerusakan permanen atau  membutuhkan perawatan medis intensif.
• Lethal: secara langsung atau tidak langsung berkontribusi pada kematian pasien.

FDA mengklasifikasikan ADR dinyatakan serius ketika:
1. Mengakibatkan kematian,
2. Hal ini mengancam kehidupan,
3. Hal ini menyebabkan atau memperpanjang rawat inap,
4. Ini menyebabkan cacat tetap signifikan,
5. Ini menghasilkan anomali bawaan, atau
6. Hal ini membutuhkan intervensi untuk mencegah kerusakan permanen.

MEKANISME ADR

• Mekanisme ADR juga dijelaskan oleh Karch dan Lasagna. Mekanisme ini terkait dengan aspek farmakodinamik atau farmakologis obat dan dapat digunakan untuk mengklasifikasikan jenis reaksi yang terjadi.

Mekanisme tersebut adalah:
a. Keistimewaan: respon yang  biasa untuk pasien karena  obat, tetapi biasanya tidak terjadi pada administrasi.
b. Hipersensitivitas: reaksiyang tidak dijelaskan oleh efek farmakologis obat, disebabkan oleh reaktivitas pasien yang berubah dan umumnya dianggap sebagai manifestasi alergi.
c. Intoleransi: efek farmakologis karakteristik dari obat yang diproduksi oleh dosis yang luar biasa kecil, sehingga dosis biasa cenderung mengakibatkan OD.
d. Interaksi obat: respon farmakologis tidak biasa yang tidak bisa dijelaskan oleh aksi obat tunggal, tetapi disebabkan oleh dua atau lebih obat-obatan.
e. Farmakologis:  dikenal, melekat pada efek farmakologis obat, langsung berhubungan dengan dosis.

Ketika melaksanakan program ADR, klasifikasi ini dapat membantu praktisi kesehatan untuk mengorganisir dan melaporkan data. Potensi obat kausatif yang terlibat dalam ADR dapat terdaftar memungkinkan tren yang harus diikuti dari waktu ke waktu. Kecenderungan ini dapat digunakan untuk mengubah kebiasaan peresepan atau memberitahukan ke  lembaga potensial.

Data tersebut juga dapat memperkirakan beratnya reaksi yang terjadi dan obat mana yang menyebabkan reaksi yang paling parah

FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN ADR

• Setiap pasien yang menggunakan obat tertentu BELUM TENTU mengalami semua ADR yang disebabkan oleh obat, dan tidak juga ADR individual mempengaruhi semua pasien.

• Apoteker harus menyadari faktor utama yang mempengaruhi terjadinya ADR sehingga mereka dapat mengidentifikasi pasien yang paling berisiko.

1. MULTIPLE DRUG THERAPY

Dengan semakin meningkatnya jumlah obat yang diresepkan, memungkin lebih banyak efek aditif yang terjadi. Interaksi antar obat yang diresepkan mungkin penyebab dari situasi ini. Contoh ADR yang mungkin terjadi karena interaksi obat:

Type of interaction Drugs involved Effect

Pharmacodynamic

Digoxin, beta-blockers

Alcohol, CNS depressants

Diuretics, alpha-blockers

↑ risk of bradycardia

↑ sedative & other CNS depressant effects

↑ Hypotensive effects

Pharmacokinetic

Cimetidine, warfarin

Thiazides, lithium

SSRIs, theophylline

↑ risk of over-anticoagulation

↑ risk of lithium toxicity

↑ theophylline toxicity

2.UMUR

Beberapa Insiden ADR yang dikenal dengan meningkatnya usia.
Lansia:
a. perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik.
b. peningkatan sensitivitas terhadap beberapa obat.
c. obat lainnya diresepkan.
d. multiple patologi

Neonatus:
a. pengurangan clearance obatà “grey baby” sindrom karena kloramfenikol
b. obat berbeda dari orang dewasa.
c. Peningkatan kerentanan terhadap ADR dari beberapa obat

3. Multiple disease state

tingkatan  penyakit dapat mengubah respon terapi pasien untuk obat dan dapat mempengaruhi kerentanan terhadap ADR. pasien dengan penyakit ulkus peptikum, peningkatan risiko pendarahan karena NSAID, Pasien dengan asma dapat mengalami bronkospasme dengan beta-adrenoceptor memblokir obat.

4. Tipe dari obat yang diresepkan

Beberapa obat cenderung menyebabkan ADR daripada yang lain. ADR juga lebih mungkin terjadi ketika regimen obat termasuk obat-obatan dengan TI sempit, seperti digoksin, antikoagulan dan insulin. Yang paling sering dari obat yang  terlibat dalam ADR cukup serius untuk menjamin orang masuk rumah sakit adalah obat jantung, diuretik, NSAID, kortikosteroid, antikoagulan, antimikroba, dan psikotropika.

5.DOSIS

Banyak tipe A dari ADR tampaknya terkait dosis dan dapat dikelola dengan penurunan dosis obat. Individualisasi terapi obat yang digunakan untuk menghindari ADR. ADR dari kantuk dan ataksia dari obat antiepileptic (fenitoin, fenobarbital dan Carbamazepine) adalah terkait dosis.

6. ROUTE PEMAKAIAN

Jika obat diberikan terlalu cepat dengan rute IV, ADR dapat timbul terutama dengan obat yang bekerja pada jantung. CONTOH: digoxin IV, menyebabkan mual dan aritmia.

7. FORMULASI
ADR dapat disebabkan eksipien dalam formulasi, misalnya agen pewarna, pemanis dan pengawet, atau kontaminan seperti eosinofilia – nyeri berhubungan dengan L-tryptophan.  Mempengaruhi ketersediaan hayati menyebabkan toksisitas, Digoxin, perubahan formulasi  menyebabkan keracunan, Fenitoin, mengubah pengencer dari kalsium sulfat ke laktosa

8. GENDER : Beberapa ADR muncul lebih sering terjadi pada wanita, yang melibatkan Git. Alasannya tidak diketahui.

9. RAS DAN FAKTOR GENETIK

Perbedaan  kerentanan terhadap ADR telah ditunjukkan antara ras,  kemungkinan disebabkan perbedaan dalam genetika yang dapat mempengaruhi metabolisme obat dan disposisi.  Pasien yang kekurangan enzim G6PD lebih rentan terhadap toksisitas dari obat tertentu seperti kuinolon. Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara mengalami insiden lebih tinggi dari ras lain.  Perkembangan tipe genetik di masa depan akan memungkinkan ADR untuk diidentifikasi sebelum memulai terapi.

10.KEPATUHAN PASIEN :
ketidakpatuhan  terapi obat juga mungkin memainkan peranan dalam ADR. Mengambil terlalu banyak obat dapat ADR mengakibatkan keracunan obat  tak terduga

PENGENALAN DAN PENILAIAN ADR

Apoteker harus selalu waspada untuk setiap gejala baru yang mungkin terkait obat. Jika ADR yang diduga telah terdeteksi, hubungan sebab akibat antara obat dan gejala harus ditetapkan. Kausalitas penilaian digunakan untuk menentukan apakah ADR  jelas disebabkan karena obat tersebut.

Faktor penting dalam menilai kausalitas:
1. hubungan Temporal dengan penggunaan narkoba
2. Jenis reaksi (A atau B)
3. Sifat reaksi
4. Pengecualian dari kemungkinan penyebab lain
5. De-chalenge (menghapus obat)
6. Re-chalenge (kembali mulai obat)
7. Tes diagnostik, misalnya konsentrasi plasma obat.

SISTEM DETEKSI DAN MONITORING

Pada saat obat menerima otorisasi pemasaran biasanya akan diberikan kepada rata-rata 1500 orang, dan kemungkinan bahwa uji klinis hanya mendeteksi  ADR yang paling umum.

Reaksi tipe B, khususnya dengan kejadian 1 dalam 500 atau kurang, tidak mungkin diidentifikasi sebelum obat tersebut muncul di pasar. Oleh karena itu, penting untuk memantau keamanan setelah obat sudah dipasarkan.

Beberapa metode yang umumnya digunakan dalam pengawasan pasca-pemasaran adalah:
1. Case report( anecdotal report )
2. Cohort study (studi prospektif)
3. Case-control study(studi retrospektif)
4. pelaporan Spontan
5. Record linkage studi
6. Hospital based population study
7. Internasional ADR report
8. studi Berpusat pada pasien
9. obat Nonresep

• Case report
case report dari dokter individu sering dipublikasikan dalam literatur medis dan mungkin penting dalam mendeteksi ADR baru, khususnya jenis reaksi B. laporan tunggal memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi ADR. Dalam beberapa tahun terakhir, menerbitkan laporan-laporan kasus tunggal  menjadi kurang penting dengan munculnya sistem pelaporan formal spontan. Contohnya adalah:
1. sindrom oculomucocutaneous karena practolol
2. agranulocytosis karena kloramfenikol
3. hepatitis karena halothane

• Cohort-Studi (studi prospektif)
Studi tentang  nasib sekelompok besar pasien yang terpapar obat tertentu. Mereka dimonitor untuk ADR. Sebuah kelompok kontrol diidentifikasi (diambil dari populasi yang sama tetapi tidak mengambil obat). Adalah penting bahwa kedua kelompok yang dibandingkan beresiko sama mengembangkan ADR, sehingga mereka harus mempunyai kesamaan usia, jenis kelamin, morbiditas secara keseluruhan dan sebagainya. Data akurat tentang pemaparan obat sangat penting, yaitu dosis yang digunakan, dan lama.

• Case control study (Studi retrospektif)
Case control study membandingkan penggunaan obat dalam kelompok pasien dengan penyakit tertentu dengan menggunakan di antara kelompok kontrol yang cocok yang berpotensi serupa dalam faktor pengganggu, tapi yang tidak memiliki penyakit. Karena sifat dari studi retrospektif, ada ketergantungan pada catatan medik memadai untuk menyediakan data ini.

Penelitian ini berguna untuk menentukan apakah ada hubungan antara obat dan ADR, tapi hanya sekali hubungan telah dicurigai dan tidak dapat mendeteksi ADR baru. Studi-studi ini penting dalam mengkonfirmasikan hipotesis yang dihasilkan oleh pelaporan spontan, tetapi tidak mampu mendeteksi ADR sebelumnya tidak dicurigai.

Case control study penting dalam membangun beberapa ADR:
1. Hubungan antara tromboemboli vena dan oral kontrasepsi
2. Hubungan antara phocomelia dan thalidomide
3. Hubungan antara efek GI aspirin dan NSAID
4. Hubungan antara sindrom Reye’s dan aspirin
5. Hubungan antara adenokarsinoma vagina pada keturunan perempuan dan menelan dietilstilbestrol ibu.

• Pelaporan spontan
disebut Koleksi sukarela laporan ADR; dokter dan apoteker diminta untuk melaporkan semua ADR serius diduga, dan semua reaksi diduga produk baru. Skema pelaporan spontan ini tidak dapat memberikan perkiraan risiko karena jumlah kasus yang sebenarnya adalah selalu diremehkan dan jumlah pasien yang dirawat dengan obat tidak diketahui.  Skema memberikan peringatan dini berharga atau sinyal dari ADR. Beberapa keuntungan dari skema:
1. Hal ini mudah tersedia untuk semua dokter dan apoteker untuk melaporkan
2. Ini mencakup semua agen terapeutik, termasuk vaksin dan obat-obatan herbal
3. Hal ini mampu mendeteksi baik reaksi langka dan umum
4. Hal ini relatif murah untuk beroperasi.

• Record Linkage Studi
catatan medis pasien  digunakan untuk mencocokkan resep obat dengan efek samping dipraktekan record linkage. Studi-studi ini mungkin berguna untuk mengidentifikasi dampak buruk jangka panjang dari obat-obatan.  Dalam studi ini, para praktisi dan  pasien terdaftar diminta untuk menyerahkan rincian dari semua peristiwa yang terjadi sejak tereksposur obat sampai menghentikan obat. Dengan cara ini peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan frekuensi yang lebih besar dari biasanya dapat diidentifikasi sebagai ADR potensial dan diselidiki lebih lanjut dengan menggunakan kasus kontrol atau penelitian kohort.  Penelitian digunakan di Inggris dan negara-negara lain untuk mendapatkan informasi tentang ADR.

• Hospital based population study
Ini berguna untuk menentukan kejadian ADR pada pasien yang dirawat, atau masuk ke rumah sakit.  Karena masuknya semua pasien, insiden harga untuk ADR dapat dihitung dan penilaian kausalitas meningkat, namun penelitian ini mahal.

• Pelaporan ADR Internasional
WHO Collaborating Centre untuk Pemantauan Obat Internasional didirikan pada tahun 1968. Pusat tersebut mengumpulkan laporan ADR spontan dari pusat partisipan nasional dan bertujuan untuk meningkatkan pengakuan awal ADR baru dan tak terduga.

• Pasien-Centered Studi
Postmarketing surveilance obat dapat dilakukan dengan menggunakan informasi yang diberikan oleh pasien. Ini layak untuk obat resep dan obat tanpa resep. Pertanyaan dipasok untuk pasien dan terfokus pada terjadinya gejala yang munkin saja  ADR. Sistem ini telah dicoba di Kanada, Amerika Serikat dan Skotlandia dan dapat memberikan sebuah metode berharga untuk mendeteksi ADR yang melengkapi sistem lain.

• Obat Non-Resep
apoteker memiliki peran penting dalam pelaporan ADR untuk obat non-resep, yang saat ini tidak tercatat. Di Inggris, obat resep  sedang diatur ulang untuk meningkatkan berbagai obat yang tersedia tanpa resep. Ini akan menjadi layak untuk melibatkan apoteker dalam Postmarketing surveillance study  seperti pemantauan peristiwa, case control, dan studi kohort

PERAN FARMASIS

Apoteker memiliki peran penting atau kontribusi dalam pencegahan, identifikasi, dokumentasi dan pelaporan ADR.

i. Identifikasi dan Dokumentasi , apoteker Rumah Sakit harus selalu waspada untuk faktor kemungkinan yang bisa menunjukkan ADR selama melakukan tinjauan rutin TERHADAP resep. Beberapa contoh faktor adalah:
1. Berlebihan dalam efek terapi obat
2. Nilai laboratorium abnormal yang dapat memungkinkan ADR
3. Resep untuk produk yang dapat digunakan untuk mengobati ADR
4. Obat yang dihentikan, terutama jika obat alternatif yang diresepkan untuk indikasi yang sama.

Obat yang dapat digunakan untuk mengobati ADR:

Drug products Possible reason for use

Antacids

Laxatives

Antimuscarinics

Antihistamines

Hydrocortisone cream

Topical skin preparations

Hydrocortisone injection

GI side-effects of NSAIDs or other drugs

Constipation from opioids or TCA

Parkinsonian side-effects from antipsychotic or antidepressants

Allergic reactions such as rashes

Skin reactions

Skin reactions

Bronchospasm or cardiac shock

apoteker Rumah Sakit harus memiliki kontak langsung dengan pasien sehingga mampu mendapatkan detail yang relevan dari pasien untuk memungkinkan penilaian terhadap ADR potensial.  Dokumentasi dari gejala yang dikonfirmasi dan dicurigai sebagai ADR masih jarang di rumah sakit. Di rumah sakit, ADR harus dicatat dalam catatan medis, keperawatan dan catatan resep.  Dengan menjadi waspada dalam merekam informasi dan memastikan bahwa orang lain melakukannya, apoteker dapat memainkan peran penting dalam mencegah pasien dari yang tidak perlu yang terkena obat yang sama atau serupa lagi. Keakuratan informasi dicatat sama pentingnya dalam mencegah pasien dari obat berpotensi memiliki manfaat yang dipotong karena ada kecurigaan reaksi sebelumnya.

ii. Monitoring dan Pelaporan , Apoteker aktif dapat meningkatkan tingkat pelaporan, mereka harus bertindak sebagai fasilitator dengan mendorong dokter untuk melaporkan ADR.

Di Inggris, apoteker rumah sakit terlibat langsung dalam perawatan pasien dan diijinkan untuk melaporkan. Diskusi dengan dokter yang relevan dianjurkan, tetapi apoteker mungkin ingin melakukan penilaian profesional jika dokter menyarankan agar penyampaian laporan.
Apoteker juga dapat menyusun dan mendistribusikan informasi kepada dokter dan apoteker lain pada masalah ADR yang paling umum  dan lokal.

iii. PENCEGAHAN , Karena banyaknya ADR yang hrs dicegah, bagian utama dari peran apoteker dalam ADR harus mengurangi terjadinya masalah.  Apoteker di semua cabang profesi saat ini terlibat dalam meningkatkan penggunaan obat-obatan pada pasien melalui:
1. Mengidentifikasi potensi efek samping terapi obat
2. Menghindari polifarmasi yang tidak perlu dengan mendorong dan melakukan review terapi sudah ditentukan.
Review memungkinkan:
a. identifikasi obat-obatan tidak lagi diperlukan
b. orang-orang yang tidak memiliki indikasi yang jelas
c. mengungkapkan  efek yang merugikan yang dapat dicegah dengan perubahan terapi
d. Duplikasi atau obat-obatan serupa.
Dengan meninjau, obat-obatan yang awalnya mungkin telah ditunjukkan menjadi mungkin perlu disorot kembali dengan cara ini.

3. Memilih obat yang lemah tingkat beracunnya.
4. Hati-hati mempertimbangkan kebutuhan dosis untuk setiap pasien
5. Memastikan bahwa pemantauan obat terapeutik atau tes laboratorium lainnya yang sesuai dilakukan.
6. Memeriksa riwayat alergi atau reaksi obat sebelumnya.

7. Memeriksa untuk interaksi obat dan memberikan saran tentang tindakan apa yang harus mengambil; meningkatkan atau menurunkan dosis satu obat, pemantauan pasien, mengganti satu obat dengan yang lain.
8. Pendidikan pasien terhadap rejimen obat mereka, terutama bila pengobatan baru dimulai.
9. Mendorong pasien untuk menyelesaikan program obat dan obat-obatan yang tidak terpakai dibuang untuk mencegah penimbunan dan berbagi obat.
10. Mendorong pasien untuk melaporkan setiap gejala baru.
11. Mempertanyakan pasien pada setiap terapi obat baru, termasuk obat non-resep.
12. Memberikan nasihat kepada pasien diharapkan efek samping terapi dan kursus yang aman dari tindakan yang harus mereka terjadi.
13. Mengambil sejarah obat, yang dapat mengidentifikasi dampak buruk sebelumnya atau alergi terhadap obat tertentu.
14. Menyusun formularium dan menentukan protokol untuk memastikan pilihan yang tepat obat, dan penggunaan yang tepat dalam situasi tertentu.
15. Memberikan saran tentang menyederhanakan dosis dan regimen obat untuk mendorong kepatuhan yang baik.

Perkembangan lebih lanjut yang membantu saya dalam pencegahan ADR dapat mencakup:
a. rutin berbagi informasi antara perawatan primer dan sekunder
b. keduanya masuk ke rumah sakit untuk mencegah ADR yang terjadi selama dirawat di rumah sakit
c. pada pulang dari rumah sakit, bagaimana dapat meminimalkan ADR di masyarakat

Meskipun ADR adalah efek yang tidak diinginkan dari terapi obat, untuk beberapa obat, risiko ADR lebih kecil dibandingkan dengan manfaat pengobatan. Apoteker adalah profesi ideal untuk memainkan peran aktif dalam pencegahan ADR.

iv. Drug-induced PENYAKIT

àReaksi hipersensitivitas , reaksi hipersensitif yang kekebalannya ditengahi melalui serangkaian langkah-langkah reproducible. Keempat reaksi hipersensitivitas klasik:

apoteker Rumah Sakit harus memiliki kontak langsung dengan pasien sehingga mampu mendapatkan detail yang relevan dari pasien untuk memungkinkan penilaian terhadap ADR potensial.  Dokumentasi dari gejala yang dikonfirmasi dan dicurigai sebagai ADR masih jarang di rumah sakit. Di rumah sakit, ADR harus dicatat dalam catatan medis, keperawatan dan catatan resep.  Dengan menjadi waspada dalam merekam informasi dan memastikan bahwa orang lain melakukannya, apoteker dapat memainkan peran penting dalam mencegah pasien dari yang tidak perlu yang terkena obat yang sama atau serupa lagi. Keakuratan informasi dicatat sama pentingnya dalam mencegah pasien dari obat berpotensi memiliki manfaat yang dipotong karena ada kecurigaan reaksi sebelumnya.

ii. Monitoring dan Pelaporan , Apoteker aktif dapat meningkatkan tingkat pelaporan, mereka harus bertindak sebagai fasilitator dengan mendorong dokter untuk melaporkan ADR.

Di Inggris, apoteker rumah sakit terlibat langsung dalam perawatan pasien dan diijinkan untuk melaporkan. Diskusi dengan dokter yang relevan dianjurkan, tetapi apoteker mungkin ingin melakukan penilaian profesional jika dokter menyarankan agar penyampaian laporan.
Apoteker juga dapat menyusun dan mendistribusikan informasi kepada dokter dan apoteker lain pada masalah ADR yang paling umum  dan lokal.

iii. PENCEGAHAN , Karena banyaknya ADR yang hrs dicegah, bagian utama dari peran apoteker dalam ADR harus mengurangi terjadinya masalah.  Apoteker di semua cabang profesi saat ini terlibat dalam meningkatkan penggunaan obat-obatan pada pasien melalui:
1. Mengidentifikasi potensi efek samping terapi obat
2. Menghindari polifarmasi yang tidak perlu dengan mendorong dan melakukan review terapi sudah ditentukan.
Review memungkinkan:
a. identifikasi obat-obatan tidak lagi diperlukan
b. orang-orang yang tidak memiliki indikasi yang jelas
c. mengungkapkan  efek yang merugikan yang dapat dicegah dengan perubahan terapi
d. Duplikasi atau obat-obatan serupa.
Dengan meninjau, obat-obatan yang awalnya mungkin telah ditunjukkan menjadi mungkin perlu disorot kembali dengan cara ini.

3. Memilih obat yang lemah tingkat beracunnya.
4. Hati-hati mempertimbangkan kebutuhan dosis untuk setiap pasien
5. Memastikan bahwa pemantauan obat terapeutik atau tes laboratorium lainnya yang sesuai dilakukan.
6. Memeriksa riwayat alergi atau reaksi obat sebelumnya.

7. Memeriksa untuk interaksi obat dan memberikan saran tentang tindakan apa yang harus mengambil; meningkatkan atau menurunkan dosis satu obat, pemantauan pasien, mengganti satu obat dengan yang lain.
8. Pendidikan pasien terhadap rejimen obat mereka, terutama bila pengobatan baru dimulai.
9. Mendorong pasien untuk menyelesaikan program obat dan obat-obatan yang tidak terpakai dibuang untuk mencegah penimbunan dan berbagi obat.
10. Mendorong pasien untuk melaporkan setiap gejala baru.
11. Mempertanyakan pasien pada setiap terapi obat baru, termasuk obat non-resep.
12. Memberikan nasihat kepada pasien diharapkan efek samping terapi dan kursus yang aman dari tindakan yang harus mereka terjadi.
13. Mengambil sejarah obat, yang dapat mengidentifikasi dampak buruk sebelumnya atau alergi terhadap obat tertentu.
14. Menyusun formularium dan menentukan protokol untuk memastikan pilihan yang tepat obat, dan penggunaan yang tepat dalam situasi tertentu.
15. Memberikan saran tentang menyederhanakan dosis dan regimen obat untuk mendorong kepatuhan yang baik.

Perkembangan lebih lanjut yang membantu saya dalam pencegahan ADR dapat mencakup:
a. rutin berbagi informasi antara perawatan primer dan sekunder
b. keduanya masuk ke rumah sakit untuk mencegah ADR yang terjadi selama dirawat di rumah sakit
c. pada pulang dari rumah sakit, bagaimana dapat meminimalkan ADR di masyarakat

Meskipun ADR adalah efek yang tidak diinginkan dari terapi obat, untuk beberapa obat, risiko ADR lebih kecil dibandingkan dengan manfaat pengobatan. Apoteker adalah profesi ideal untuk memainkan peran aktif dalam pencegahan ADR.

iv. Drug-induced PENYAKIT

  • Reaksi hipersensitivitas , reaksi hipersensitif yang kekebalannya ditengahi melalui serangkaian langkah-langkah reproducible. Keempat reaksi hipersensitivitas klasik:
Type Antibody Mechanism Examples and Causative Agents

I

IgE

Anaphylactic

Antigen-antibody reaction on mast cells leading to histamine, leukotrienes, platelet-activating factor release

True systemic anaphylactic reaction. Penicillin and cephalosporins. Classic example of the hapten hypothesis

II IgG, IgM Cytotoxic

Antigen-specific antibodies directed against antigens on cell surface

Hemolytic anemia

Penicillin and quinine are examples of causative agents

III IgG, IgM Complex mediated immune complexes interact with antibodies

Serum sickness

Penicillin, cephalosporins, isoniazid, phenytoin, etc.

IV T cells Delayed hypersensitivity

Generally takes more than 12 hr to develop

Antigen interacts directly with sensitized T cells

Typically seen with topical therapies rather than systemic

Characterized clinically by rash that worsens on subsequent or repetitive administration

  • Hepatotoksisitas

Drug-induced hepatotoksisitas telah dikaitkan dengan lebih dari 800 obat-obatan. Tingkat keparahan obat-induced hepatotoksisitas dapat berkisar dari perubahan ringan dalam tes fungsi hati kegagalan hati. cedera hati akut dapat sitotoksik atau kolestasis. cedera sitotoksik melibatkan cedera langsung ke hepatosit dengan nekrosis yang dapat lokal atau menyebar di seluruh hati. konsentrasi aminotransferase dapat diangkat hingga 500 kali konsentrasi normal.

Tanda-tanda dan gejala yang menonjol meliputi kelelahan, anoreksia, mual, dan sakit kuning. Obat yang telah dihubungkan dengan reaksi sitotoksik langsung yang telah membawa tingkat kematian sebesar 10% atau lebih tinggi acetaminophen, isoniazid, methyldopa, dan fenitoin.

Cedera kolestasis hasil penurunan karakteristik dalam aliran empedu. Luka hati ini mengarah ke penyakit kuning dan pruritus, dan konsentrasi aminotransferase hanya cukup tinggi. Tingkat kematian cedera kurang dari 1%. Faktor Risiko Sehubungan dengan Reaksi hepatotoksik:

Factor Example
Age

Adults > children

Older adults > others

Children > adults

Isoniazid, halothane

Nonsteroidal anti-inflammatory drugs

Valproic acid, aspirin

Sex

Female > male

Methyldopa, drug-induced chronic active hepatitis

Drugs

Alcohol, phenobarbital

Can induce cytochrome P-450 system and enhance the toxity of agents converted to active metabolites

Disease

AIDS

Diabetes

Hyperthyroidism

Arthritis

Increased susceptibility to Hepatotoxic effects of sulfamethoxazole – trimethoprim

Enhances toxicity of carbon tetrachloride

Enhances toxicity of carbon tetrachloride

Active rheumathoid arthritis, rheumatic fever, and systemic lupus erythematosus enhance the hepatic effects of aspirin

Obat Implikasinya dalam Menyebabkan Hepatitis Kronis Aktif
• dantrolene
• diklofenak
• isoniazid
• nitrofurantoin
• methyldopa
• papaverin

STUDY KASUS

Seorang pria kulit hitam 45 tahun  kecelakaan dan DI gawat darurat dengan pembengkakan ekstrem dari bibir dan wajah sekitarnya. pengobatan saat ini terdiri DARI ramipril 5 mg Seharian, bendroflumethiazide (bendrofluazide) 2,5 mg seharian dan reboxetine 4 mg dua kali sehari. Dia telah mengambil ramipril dan bendroflumethiazide selama sekitar 6 bulan dan reboxetine selama 2 bulan terakhir.

Pertanyaan:
a. Apa obat-induced komplikasi yang menyebabkan hal-gejala sarankan?
b. Bagaimana seharusnya itu dikelola?

2. Seorang wanita 58 tahun dirawat di rumah sakit untuk penyelidikan setelah beberapa episode sinkop. Pada waktu masuk dia menggunakan Tibolone 2,5 mg sehari, indapamide 2,5 mg sehari, sumatryptan dan co-codamol, jika diperlukan, untuk migrain dan mizolastine 10 mg sehari selama demam. EKG menunjukkan memperpanjang interval QT (QT interval dikoreksi, QTc, diukur 550 ms). Semua konsentrasi elektrolit normal.
Pertanyaan:
a. Mungkin kah semua obat yang digunakan selama  ini telah memberikan kontribusi terhadap masalah pasien?
b. Bagaimana seharusnya perpanjangan interval QT dikelola?

3. Seorang wanita 25 tahun hadir dengan resep untuk fexofenadine 120 mg sehari untuk gatal-gatal. catatan pengobatan pasien menunjukkan bahwa dia telah mengambil Carbamazepine 200 mg tiga kali sehari selama 3 bulan terakhir.
Pertanyaan:
Tindakan apa yang harus diambil?

4. Seorang psikiater konsultan Anda meminta nasihat tentang seorang wanita 49 tahun yang sedang menggunakan olanzapine 10 mg per hari untuk skizofrenia. Pasien memiliki tipe 2 (dua) diabetes yang dikelola oleh diet saja. Dalam 6 minggu olanzapine awal, pasien mencatat penurunan kontrol glukosa darah nya. Dia puasa kadar glukosa darah sebelum pengobatan dimulai pada umumnya dalam kisaran 6-9 mmol / l tapi kini meningkat menjadi sekitar 12 mmol / l. Pasien telah memperoleh 2,5 kg berat sejak olanzapine dimulai.
Pertanyaan:
a. Apakah olanzapine cenderung memiliki kontrol diabetes memburuk pada pasien ini?
b. Jika demikian, antipsikotik alternatif yang dapat digunakan?

Akhir  Kursus :
Jawaban atas masalah

1. Seorang pria kulit hitam 45 tahun disajikan pada kecelakaan dan gawat darurat dengan pembengkakan ekstrem dari bibir dan wajah sekitarnya. pengobatan saat ini terdiri Nya ramipril 5 mg harian, bendroflumethiazide (bendrofluazide) 2,5 mg harian dan reboxetine 4 mg dua kali sehari. Dia telah mengambil ramipril dan bendroflumethiazide selama sekitar 6 bulan dan reboxetine selama 2 bulan terakhir.

Pertanyaan:
a. Apa obat-induced komplikasi melakukan hal-gejala yang disarankan?
b. Bagaimana seharusnya itu dikelola?

Jawaban:

a. Angioedema adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan jaringan lunak pembengkakan mata, bibir, dan tangan, yang merupakan bentuk urtikaria parah. Dalam kasus yang berat mulut dan laring dapat terlibat. Angioedema adalah masalah yang dikenal dengan semua penghambat ACE. Insiden diperkirakan adalah 0,1 – 0,5% di Kaukasia tetapi mungkin lebih tinggi dalam kelompok-kelompok ras lain.
Dalam kebanyakan kasus reaksi terjadi pada minggu pertama pengobatan, seringkali hanya beberapa jam setelah dosis awal. Namun, dalam beberapa kasus telah berkembang setelah terapi lama hingga beberapa tahun. Mekanisme ACE inhibitor-induced angioedema diduga melibatkan bradikinin, tapi antagonis reseptor angiotensin-II, yang tidak mempengaruhi zat ini, juga dapat menyebabkan angioedema.
b. Pengobatan inhibitor ACE – diinduksi angioedema diatur oleh beratnya reaksi. penghambat ACE harus segera ditarik dalam setiap pasien datang dengan angioedema. Dalam kasus ringan, tanpa obstruksi jalan napas, penarikan dari ACE inhibitor mungkin cukup. kasus-kasus serius lainnya mungkin memerlukan stabilisasi jalan napas dan administrasi IV kortikosteroid, adrenalin subkutan (epinefrin) dan antihistamin. pasien yang terkena dampak seharusnya tidak menerima perawatan lebih lanjut dengan penghambat ACE. Obat alternatif dari kelas yang berbeda (bukan angiotensin II antagonis) harus diganti. Angioedema telah dijelaskan dalam hubungan dengan antagonis angiotensin II pada pasien yang pernah mengalami masalah ini dengan penghambat ACE. Angiotensin II antagonis karenanya harus digunakan dengan sangat hati-hati pada pasien tersebut.

2. Seorang wanita 58 tahun dirawat di rumah sakit untuk penyelidikan setelah beberapa episode sinkop. Pada masuk dia mengambil Tibolone 2,5 mg sehari, indapamide 2,5 mg sehari, sumatryptan dan co-codamol, jika diperlukan, untuk migrain dan mizolastine 10 mg sehari selama jerami-demam. EKG menunjukkan memperpanjang interval QT (QT interval dikoreksi, QTc, diukur 550 ms). Semua konsentrasi elektrolit normal.

Pertanyaan:
a. Mungkin semua obat saat ini telah memberikan kontribusi terhadap masalah pasien?
b. Bagaimana seharusnya perpanjangan interval QT dikelola?

Jawaban:

a. Sejumlah obat memiliki potensi untuk memperpanjang interval QT pada EKG. Interval QT merupakan ukuran langsung dari durasi dari tindakan ventrikel potensial dan ventrikel repolarisasi. Perpanjangan repolarisasi ventrikel dapat menyebabkan aritmia, yang paling karakteristik yang torsades de pointes (berliku-liku dari titik tersebut), suatu bentuk spesifik dari takikardia ventrikel. Nama menggambarkan karakteristik ‘memutar’ dari kompleks QRS di sekitar sumbu listrik di EKG, yang dapat muncul sebagai seri sesekali duri cepat berlangsung beberapa detik di mana jantung gagal untuk memompa secara efektif. Aritmia ini biasanya membatasi diri yang dapat menyebabkan pusing atau sinkop, tetapi dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Penyebab kerusakan mungkin genetik (bawaan sindrom QT panjang (LQTS) atau yang berhubungan dengan gangguan metabolik atau terapi obat (diakuisisi LQTS).
Obat diperkirakan memperpanjang repolarisasi baik dengan menghalangi saluran kalium dan potasium sehingga menunda keluar, atau dengan meningkatkan natrium dating atau arus kalsium. Perpanjangan QT biasanya dianggap hadir ketika interval QT dikoreksi untuk perubahan denyut jantung (QTc) lebih besar dari 450 ms (pria) atau 470 ms (perempuan), meskipun aritmia yang paling sering dikaitkan dengan nilai-nilai dari 550 ms atau lebih .
The mizolastine antihistamin memiliki potensi lemah untuk memperpanjang interval QT dalam beberapa individu. Tingkat perpanjangan digambarkan sebagai aritmia jantung sederhana dan belum dilaporkan. Pasien ini juga mengambil indapamide diuretik, penggunaan diuretik, independen dari konsentrasi elektrolit, merupakan faktor risiko yang dikenal untuk torsades pointes de.

b. Jika seorang pasien diduga memiliki obat-diinduksi perpanjangan interval QT, obat (s) terlibat harus dihentikan segera. Dalam hal ini, episode syncopal pasien mungkin telah berhubungan dengan aritmia yang. Beberapa pasien dengan torsades pointes de mungkin tanpa gejala, sementara yang lain pusing pengalaman, cahaya-headedness, sinkop, runtuh, jantung berdetak tidak teratur dan berdebar-debar. arrhythmia harus dikontrol oleh mempercepat denyut jantung, baik dengan mondar-mandir atrium atau oleh isoprenaline infus.
kelainan Elektrolit harus diperbaiki dan infus magnesium sulfat secara efektif dapat mengakhiri aritmia, bahkan di tingkat kehadiran magnesium normal. obat Antiaritmik dapat memperburuk masalah dan harus dihindari. Torsades de pointes yang merosot untuk fibrilasi ventrikel memerlukan shock DC untuk penghentian.

3. Seorang wanita 25 tahun hadir dengan resep untuk fexofenadine 120 mg sehari untuk gatal-gatal. catatan pengobatan pasien menunjukkan bahwa dia telah mengambil Carbamazepine 200 mg tiga kali sehari selama 3 bulan terakhir.

Pertanyaan:
Tindakan apa yang harus diambil?

Jawaban:
Carbamazepine letusan menyebabkan kulit di sekitar 3% dari pasien. Letusan termasuk erythematous, morbilliform, urtikarial atau purpuric ruam. necrolysis Toxic epidermal dan dermatitis exfoliative diakui dengan baik. Waktu untuk mulai untuk reaksi ini setelah mulai Carbamazepine adalah variabel, tetapi secara umum 6 bulan atau kurang.

Dalam hal ini, sangat mungkin bahwa resep telah diabaikan Carbamazepine sebagai penyebab ruam. Wanita itu harus ditanya tentang sifat ruam, apakah dia memiliki sejarah penyakit kulit atau reaksi alergi, dan tentang faktor-faktor pemicu yang potensial lainnya. resep harus dihubungi untuk mendiskusikan apakah ruam mungkin obat terkait. Jika demikian, Carbamazepine harus dihentikan.

4. Seorang psikiater konsultan Anda meminta nasihat tentang seorang wanita 49 tahun yang sedang olanzapine 10 mg per hari untuk skizofrenia. Pasien memiliki tipe 2 (dua) diabetes yang dikelola oleh diet saja. Dalam 6 minggu olanzapine awal, pasien mencatat penurunan kontrol glukosa darah nya. Dia puasa kadar glukosa darah sebelum pengobatan dimulai pada umumnya dalam kisaran 6-9 mmol / l tapi kini meningkat menjadi sekitar 12 mmol / l. Pasien telah memperoleh 2,5 kg berat sejak olanzapine dimulai.

Pertanyaan:
a. Apakah olanzapine cenderung memiliki kontrol diabetes memburuk pada pasien ini?
b. Jika demikian, antipsikotik alternatif yang dapat digunakan?

Jawaban:
a. Semua antipsikotik atipikal yang berhubungan dengan penambahan berat badan. Olanzapine telah dilaporkan menyebabkan atau memperburuk diabetes dalam beberapa laporan kasus diterbitkan. Penyebab pasti dari dysregulation glukosa dengan olanzapine tidak jelas, tetapi berat badan tampaknya tidak menjadi satu-satunya penyebab.
Sudah menduga bahwa serotonin (5-HTIA) antagonisme dapat menurunkan respon sel beta pankreas. Hal ini akan mengakibatkan sekresi insulin rendah dan hiperglikemia tidak tepat. pemeriksaan lebih lanjut terhadap insiden dan etiologi masalah ini diperlukan.

b. Olanzapine tidak kontraindikasi pada pasien dengan diabetes, tetapi harus digunakan dengan hati-hati pemantauan pengendalian glukosa darah. Dalam hal ini, di mana kontrol diabetes pasien telah memburuk selama terapi, akan wajar untuk menghentikan olanzapine dan beralih ke yang lain antipsikotik. Risperidone atau antipsikotik atipikal quetiapine adalah alternatif tidak terkait dengan masalah pada pasien diabetes

——–SELESAI———

HUFT! TEMAN-TEMAN, TUGAS PAK WALDY KITA DISURUH APA, SIH? MBACA DOANK, KAN? DAH PADA MBACA 2 E-BOOK ITU, BELUM, BAHASA INGGRIS SEMUA, TUH, BIKIN MUMET

Praktik e-hospital untuk Meningkatkan Kepatuhan Dokter Terhadap Formularium Rumah Sakit dan Membantu Praktek Farmasi Klinik

Patient safety didefinisikan sebagai bebas dari cedera aksidental atau menghindari cedera pasien akibat tindakan pelayanan. (Zorab, 2002) Farmasi  klinik didefinisikan sebagai segala aktifitas yang dilakukan seorang farmasis  untuk mencapai terapi obat yang rasional (rational drug therapy) yang aman, tepat dan cost effective. Kunci utamanya adalah pemantauan terapi obat yang bertujuan mengoptimalkan terapi dan meminimalkan efek obat yang tidak diinginkan (adverse effect). Dengan paradigma Pharmaceutical care, farmasis juga mendapat tugas tambahan untuk memastiakn bahwa terapi yang diberikan sesuai yang diinginkan penderita. Pharmaceutical care menurut Hepler dan Strand (1990) adalah tanggung jawab pemberian terapi obat yang bertujuan untuk mencapai outcome yang dapat meningkatkan kualitas hidup penderita (Seto,dkk,2004)

Patient safety melibatkan system operational dan proses pelayanan yang meminimalkan kemungkinan adverse event / error dan memaksimalkan langkah-langkah penanganan bila eror terjadi. Upaya untuk meningkatkan patient safety adalah dengan pengembangan system untuk identifikasi dan pelaporan resiko dan penggunaan teknologi informasi serta upaya perbahan kultur organisasi.

Lebih dari 50% dokter di Kanada telah menggunakan aplikasi medis PDA. Aplikasi tersebut sangat mendukung system informasi klinik yang dapat berisi informasi referensi obat, referensi klinis, interaksi obat dan protap rumah sakit. Aplikasi tersebut sangat memudahkan mobilitas tenaga kesehatan karena ada yang berbentuk e-book / e-text (pdf, pdb, doc, html) Aplikasi perangkat lunak PDA: khusus ( kalkulator medis, basis data, info jurnal), dan umum (pembaca e-book, penampil gambar, perambah/ browser). PDA di bidang medis berguna dalam hal pemetaan, GPS (Global Positioning System), e- Prescribing dan mengurangi medication eror.(Iswara, 2007)

Beberapa rumah sakit di Indonesia telah mempergunakan aplikasi e-hospitaly secara menyeluruh, sebagai contoh adalah Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI). RSPI telah mengimplementasikan Vesalius-software yang diproduksi pengembang asal Malaysia, Nova MSC. Adapun untuk aplikasi keuangan menggunakan Oracle finance. Aplikasi vesalius, mempunyai dua modul utama yaitu Hospital Information System (HIS) dan Clinical Information System (CIS) HIS mencakup modul-modul administrasi pasien dan dokter, farmasi, system biling dan kasir purchasing, inventory, medical record tacking, system informasi laboratorium dan radiology serta meal order. Sementara CIS merupakan modul yang mengcover seluruh proses klinis baik inpatient maupun outpatient. Lebih lengkapnya, CIS mencakup modul-modul: Outpatient clinical Management (terdiri dari order management, electronic medical record/EMR, prescription dan Medical alerts) serta Inpatient clinical management. Semua modul tersebut akan bertumpu dan harus terintegrasi dengan EMR. Di luar aplikasi itu RSPI juga mengimplementasikan TB Views yang digunakan untuk melihat dan menganalisa performa rumah sakit dari sisi manajerial dan financial.(BS, Mohammad,2007)

Sedangkan RSIB (RS Internasional Bintaro) menerapkan tiga aplikasi utama yang saling terkait. Pertama, Medtrak, merupakan aplikasi yang diproduksi TrackHealth Pty. Ltd., Australia, dengan modul-modul:outpatient management, inpatiet management, Clinical management, pharmacy management, Stock management, Diet Management, Operating Theatre, Resource Management, Administration Discharge & Transfer, order management dan billing system. Aplikasi kedua adalah Labtrak, aplikasi ini menyediakan fungsi (modul) Laboratory Information System. Aplikasi ketiga Prodogious buatan MTech Private Ltd, India, yang menyediakan funsi (modul) : financial & Acounting System, Purchase order, Good Receiving, Fixed Asset Management dan Doctors Fee. Di luar ketiga aplikasi utama, RSIB juga memiliki aplikasi yang digunakan untuk keperluan internal management antara  lain : Attedance system, Payroll System (ABS), Telephone Management System (terintegrasi dengan Medtrak) Work Order System (Maintenance & TI dan system Dokumentasi ISO) (BS, Mohammad,2007)

RSIB belum mengimplementasikan rekam medis elektronik dan resep elektronik karena masalah hukum dan Change Management. Seperti diketahui Dokument MR dan resep yang diakui secara legal di Indonesia adalah dokumen hardcopy yang berisis tulisan tangan dokter. Selain itu, Medtrak sebenarnya juga memiliki fasilitas Computerized Physician Order entry sebagai pengganti resep dokter. .(BS, Mohammad,2007)

Penerapan e-hospitaly memang bias memberikan manfaat dalam hal peningkatan kinerja karyawan, efisiensi, efektifitas, keselamatan pasien dan peningkatan layanan masyarakat. Lebih lanjut e-hospitaly bisa dikembangkan untuk menambah kepatuhan dokter terhadap formularium rumah sakit, dengan Medtrack, computer akan memberikan warning jika dokter mengetikan obat yang tidak terdapat dalam formularium. Tentu saja hal ini harus diikuti dengan formularium elektronik (BS, Mohammad,2007)

Yang sangat penting adalah tantangan dalam Aplikasi medis PDA dalam hal memilih perangkat PDA yang tepat, dibutuhkan spesialisasi fungsi dan terintegrasi dengan system informasi rumah sakit (Iswara, 2007).Bates dan Gawande mengidentifikasi 3 faktor penghambat utama dalam penerapan teknologi informasi pada praktek farmasi klinik, yaitu hambatan financial, belum adanya standard an hambatan cultural dimana TI belum dipandang penting para tenaga kesehatan. Resep sukses suatu teknologi informasi untuk dapat meningkatkan mutu layanan kesehatan adalah dukungan cultural dan kesiapan semua pihak dalam organisasi pelayanan kesehatan(Bates & Gawande, 2003)

Pelayanan klinik akan selalu menempatkan pasien-pasien dalam resiko akibat tindakan medis. E-hospitaly berperan untuk meningkatkan kewaspadaan, pengelolaan kompleksitas masalah farmasi klinis dan meningkatkan kepatuhan dalam program pengobatan termasuk formularium rumah sakit.