THE HOSPITAL

4. The Strategy (part 3)

“Apa? Menginap?” Viona terkejut. Dia tengah berada di rumah Lisa memenuhi undangan bosnya itu tadi siang.

“Iya, kenapa? Kau ada acara lain?”

“E…. tidak..”

Lisa mengeluarkan setumpukan kertas dari dalam tasnya,”Banyak yang musti kita benahi di Instalasi, kita tidak mungkin menyelesaikannya tanpa kau menginap di sini.”

“Tapi apa tidak merepotkan,” Viona mulai membantu Lisa menata kertas-kertas itu di atas meja. Lisa mengibaskan tangan,”Ah, santai saja, lagi pula aku di sini cuma sendiri.”

“Kalau Pak Andre datang bagaimana?”

“Andre sedang ke Batam.”

Viona manggut-manggut.

“Kau mulai saja dulu memeriksa kertas-kertas ini, aku mau mandi dulu, gerah rasanya, kalau kau mau makan, ada banyak makanan di kulkas, tapi kalau nasi, mungkin kau harus memasaknya dulu, beras sih ada, tapi aku kan jarang makan di rumah, jadi aku jarang menanak nasi.” perintah Lisa. Dia memang baru saja sampai dari pesta di rumah Andre. Viona mengangguk mantap lalu memperhatikan Lisa yang ngeloyor begitu saja ke kamarnya. Kini tinggal Viona sendirian di ruang tengah itu. Pandangannya mulai menyapu sekeliling ruang, dia merasa tidak sopan dengan tingkahnya itu, tapi rasa penasaran akan diri Lisa begitu menyeruak.

Ruangan itu cukup tertata dengan desain interior yang bagus, tetapi beberapa barang tampak berada tidak pada tempatnya. Pandangannya kini tertuju pada sebuah buffet besar di ruangan itu, sebuah buffet yang penuh dengan buku-buku tebal, dari posisinya yang kacau, Viona cukup mampu menyimpulkan bahwa Lisa lebih banyak menghabiskan waktu berkutat dengan membaca jika berada di rumah ini. Pandangan Viona kini tertuju di sebuah foto berbingkai yang terletak di atas meja kecil di samping buffet, dia mendekati foto itu, rupanya itu foto Lisa dan Andre, tapi Viona heran karena sikap kedua orang dalam foto itu tampak kurang akrab bahkan canggung satu sama lain. Bukankah pasangan yang akan menikah biasanya menampakkan kemesraan jika dipotret?

“Kau pasti heran karena rumahku berantakan,” Lisa memulai pembicaraan. Tanpa di sadari oleh Viona, ternyata bosnya itu sudah selesai mandi. Lisa lalu menghempaskan tubuhnya di sofa yang sedari tadi sudah direncanakan sebagai tempat untuk lembur. Viona sangat kaget dengan penampilan Lisa saat ini, penampilan Lisa sungguh jauh berbeda, lebih santai dengan kaos oblong dan celana pendek, tanpa riasan make-up di wajahnya, namun karena kulit Lisa yang putih, tanpa bersolek pun, calon menantu dinasti Kusumadiharja ini masih kelihatan cantik.

“Ah, rumah ini cukup nyaman,” Viona berusaha mengelak pendapat Lisa.

“Ada orang yang membersihkan dan menata rumah ini dua kali seminggu, sebenarnya baru kemarin orang itu kemari, tapi karena aku sangat ceroboh dengan barang-barang jadinya sekarang berantakan lagi.”

Viona tersenyum, dia duduk di depan Lisa dan mulai menekuri kertas-kertas di depan mereka. “Aku memang tidak pandai berbenah,” imbuh Lisa.”Nanti kau bisa tidur di kamar tamu, jangan kuatir, karena aku tidak pernah masuk ke kamar itu, aku jamin kamar itu masih bersih sejak kemarin, aku tahu kau pasti tidak akan nyaman tidur di kamarku, seperti yang kukatakan tadi…. Aku tidak pandai berbenah.”

“Terserah Ibu saja.”

Lisa tersenyum, “Baiklah kita mulai.”

Sesaat mereka sibuk membuka kertas-kertas diatas meja, Lisa mulai menyalakan laptopnya. “Aku sudah mulai menganalisanya melalui Managing drug cycle.” Saat Laptop telah menyala, dia segera membuka file yang dimaksud. “Kau lihat ini, kita mulai dari management support, hal yang paling krusial disini adalah financing dan human resources, tapi aku akan lebih menekankan pada human resources.

Viona manggut-mangut,”Saya sangat setuju dengan anda, memang saya akui kita masih minim SDM, dan hal itu disebabkan financing yang kurang.”

“Tapi apakah ini bisa dijadikan alasan? Bukankah idealnya tiga puluh bed dicover oleh satu orang apoteker?”

“Iya, anda benar.”

“Oke, kita lanjutkan lagi, sekarang kita memasuki manajemen obat, kau bisa baca disini, kan.”

Viona mulai menelusuri tulisan di layar mulai dari seleksi sampai use yang menunjukkan kegagalan proses. Sekali lagi dia menyetujui analisa Lisa,”Mungkin kita harus menyampaikan hal ini pada waktu rapat pengurus?”

Lisa menggeleng,”Tidak, Viona, tidak cukup begitu saja, kita hanya akan dianggap bodoh di sana karena hanya memaparkan masalah tanpa menawarkan solusi.”

“Lalu?”

“Kita harus menyusun strategi,” jawab Lisa yakin, tangannya sampai terkepal ke atas saat berkata-kata.

“Bagaimana caranya?”

“Aish, kau ini, memangnya kau tidak pernah diajari manajemen strategic?”

Viona menggeleng.

“Kalau analisa SWOT, kamu pernah diajari?”

Kali ini Viona mengangguk.

“Nah, coba sekarang kau susun analisis SWOTnya.”

Viona mulai mengerjakan perintah Lisa, dia mulai menganalisis lingkungan eksternal dan internal dari Rumah Sakit Optima Medika, sesekali dia tersenyum dengan analisanya, bagaimana tidak? Di bagian strength, dia menulis dukungan penuh dari direktur akan pelayanan farmasi klinik dan penerapan kompetensi apoteker, hal ini sangat menggelikan mengingat dr. sapta, direktur rumah sakit itu belum tahu menahu tentang strategi tersebut, tapi karena yang punya rumah sakit ini adalah calon suami bosnya, apa salahnya kalau dia menuliskan itu, toh kendali utama tetap pada Kusumadiharja, Tbk.

“Kenapa kau senyum-senyum?” Lisa keheranan.

“Ah, tidak apa-apa.”

Lisa bangkit dari duduknya lalu berjalan kea rah dapur, “Kau mau kopi atau teh?”

“Saya tidak minum kopi, Bu!”

“Sama kalau begitu.”

Sebentar kemudian Lisa sudah kembali dengan membawa dua cangkir teh dan meletakkan salah satunya  di atas meja. “Sudah selesai?”

“Sebentar lagi.”

Lisa menyruput teh hangat yang sedari tadi di pegangnya. Viona meneruskan pekerjaannya, STRENGTHS : Dukungan penuh dari direktur untuk pelayanan farmasi klinik serta penerapan kompetensi apoteker, Jumlah bed 250, Upaya efisiensi pengelolaan obat. WEAKNESS : Kemitraan profesional, SDM farmasi, Sarana prasarana, SIM dan Fasilitas IFRS, Alur organisasi dan manajemen organisasi masih tanda tanya, OPPORTUNITY: Dukungan direktur pd efisiensi item obat, Farmasi 1 pintu, Pelayanan farmasi klinik, Standar pelayanan ISO 9001, TREATH: Semakin banyak apotek baru di sekitar rumah sakit, Minimnya lulusan tenaga teknis kefarmasian Yang menguasai  IT, Peraturan akreditasi makin ketat.

Setelah selesai, dia menunjukkan hasil kerjanya pada Lisa.

”Oke,” Lisa mulai berkomentar, dia meletakkan tehnya dan mulai serius dengan tulisan tangan Viona,”Kalau kau mengusulkan tiga point itu untuk strength dan opportunity….,”Lisa mencoba memahami kembali maksud tulisan Viona,” Hm…, untuk SO STRATEGIC, kita tempatkan Pembuatan anggaran dana untuk pencukupan SDM, fasilitas dan sarana-prasarana serta Penentuan program-program yang mendukung farmasi klinik dan pelayanan farmasi 1 pintu. Bagaimana?”

“Usul yang bagus.”

“Lalu WO Strategic-nya….” Lisa mulai mencorat-coret kertas kosong di depannya, membuat tabel untuk analisa SWOT dari analisa lingkungan eksternal-internal tersebut, WO STRATEGIC : Seleksi obat (dengan penegakan PFT dan formularium), Pembentukan struktur organisasi yang mengacu pada pelayanan farmasi 1 pintu, Mengembangkan system informasi yang bisa digunakan untuk informasi obat, konseling obat, pengkajian obat dan logistic, Penambahan dan pengembangan SDM farmasis (Farmasi klinik) dan beberapa tenaga teknis kefarmasian yang berwawasan IT, ST STRATEGIC : Penegakan  procurement yang efektif dan efisien, Pembuatan SOP dan alur distribusi dari gudang farmasi ke unit-unit yang lain, Penetapan system distribusi yang mendukung pelayanan farmasi klinik, sedangkan WT STRATEGIC: Training karyawan baru & retraining karyawan lama tentang IT, Pembagian tugas, wewenag dan beban kerja karyawan, Penjadwalan karyawan dengan lebih baik, Menciptakan media pertemuan antar professional secara bertahap dan continue.

“Lalu apa yang kita lakukan selanjutnya, Bu Lisa?”

“Oke, itu tadi adalah beberapa strategi alternative yang didapat dari SWOT Analisis, bisa kau bantu aku dengan program excel sekarang?”

“Tentu, Bu.”

Lisa mulai memilih prioritas strategi alternative melalui penilaian bobot kesesuaian strategi alternative itu dengan visi, misi, nilai dan falsafah Instalasi Farmasi rumah sakit hingga terpilihlah Critical Success Factor berdasarkan tingkat prioritas lalu masuklah pada implementasi strategi, periodisasi pencapaian sasaran, programming And budgeting, serta key performance indicator sebagai evaluasi tak lupa action plan dan Feedback, Monitoring, dan evaluasi.

Ternyata benar perkiraan Lisa, pekerjaan itu tidak akan selesai jika Viona tidak menginap, pukul dua dini hari, mereka baru beranjak tidur dan bangun dengan agak malas pagi itu. Mandi cukup membuat badan keduanya segar walau pun wajah mereka terlihat tanda-tanda kurang tidur.

“Minumlah ini, akan membuat matamu melek,” Lisa menyodorkan segelas minuman ke  Viona. Tanpa bertanya Viona langsung menyeruput minuman itu, sesaat dia batuk-batuk, lalu mulutnya menyembur-nyembur. Lisa melihat adegan itu dengan tertawa konyol.

“Teh ini pahit sekali,” kali ini dia sudah berhasil mengatasi rasa tidak nyaman di lidahnya dan matanya benar-benar melek.

“Ya, itu yang selalu aku lakukan jika mengantuk,” Lisa masih saja terkekeh.

Deburan ombak dari luar sayup-sayup terdengar. Lisa berjalan ke arah jendela, lalu berdiri mematung di sana, dari posisi itu, dia mampu melihat pemandangan laut yang terbentang.”Indah sekali,”gumamnya sembari meyeruput teh pahit di tangannya.

Viona mendekati bosnya,”Terima kasih telah mengundang saya ke sini.”

Lisa menoleh ke arahnya dan tersenyum.

“Tapi kenapa kita harus membawa pekerjaan itu kemari? Bukankah kita bisa berdiskusi di ruang anda?”

Lisa tersenyum lagi,”Aku tidak mau ada yang mensabotase rencana kita.”

“Sa…. Sa… sabotase? Maksudnya?”

“Kemarin ada seseorang yang meletakkan tape perekam di kolong meja kerjaku.”

“A….apa?”

Lisa mengangguk.

“La…lalu?”

“Lalu? Apa maksudmu dengan lalu?”

“Lalu apa yang akan anda lakukan, Bu?” tanya Viona.

“Tidak ada.”

“Tidak ada?” Viona terkejut, bagaimana mungkin Lisa setenang itu?

“Tape itu masih di tempatnya.” Lisa menhembuskan nafas, lalu memandang ke laut lepas itu, sekali lagi dia menyeruput tehnya.

“Bagaimana mungkin? Anda seharusnya membuang tape perekam itu.”

“Kalau aku melakukan hal itu, orang itu, entah siapa mereka akan berkesimpulan kalau aku mengetahui keberadaan tape itu dan mungkin akan meletakkan tape yang lain lagi di tempat yang aku tidak tahu.”

Lisa berjalan ke arah meja makan sementara Viona masih saja mematung di tempat semula, “Oh, iya Viona, aku mendengar kabar angin tak baik antara kau dan Dito….”Lisa tiba-tiba ragu dengan kalimatnya, meletakkan cangkir yang telah kosong di atas meja dan  berpikir mungkin yang akan dia tanyakan ini akan membuat Viona tersinggung, “Ah, kau tak perlu menanggapi ini jika tak mau.” Lisa mengibaskan tangannya.

“Jika maksud Anda adalah kabar perselingkuhan itu, itu semua tidak benar, Dito teman kakak saya, jadi saya tahu betul watak buruknya, saya bukan perempuan bodoh.”

“Syukurlah.”

“Lalu, anda tahu siapa yang berusaha melakukan sabotase itu?” Viona masih tertarik dengan tape perekam itu.

“Tidak, kau tahu siapa kira-kira orangnya, Viona?”

Viona menggeleng, dia tengah berbohong, dia tahu benar siapa orangnya, siapa lagi jika bukan Dito dan komplotannya dan yang paling pedih lagi, Wahyu, kakaknya adalah salah satu dari komplotan itu. Sebenarnya masih banyak lagi, bahkan bagian keuangan, bagian yang sangat vital, juga terdapat komplotan itu, tapi jika dia melaporkan semua ini pada Andre atau  dr. Sapta, kakaknya pasti juga akan kena, dia tidak mau itu. “Ah, Saya akan berangkat sekarang.”

“Apa? Kenapa tergesa-gesa, ini masih sangat pagi, kita bisa naik mobilku,”Lisa berusaha menahan Viona.

“Maaf, anda lupa kalau saya bawa motor.”

“Oh  itu, tenang saja, kau bisa mengambilnya kapan-kapan, di sini aman, kok.”

“Tidak… saya benar-benar harus berangkat sekarang, ada yang harus segera saya kerjakan.”

Dengan tergesa Viona mangambil tasnya dan segera keluar dari rumah itu. Pandangan heran masih dialamatkan Lisa padanya saat bosnya itu mengantar sampai ke depan rumah. Aneh, semula dia beralasan motor, dan sekarang ada yang harus dikerjakan.

Viona tak perduli, dia segera mengendarai motornya  ke rumah sakit, ya, ke rumah sakit, dia tahu betul yang akan dilakukannya. Dia tahu betul kalau hari ini si Brengsek itu pasti masih di ruangannya, bukankah kemarin malam si Brengsek jadwal jaga UGD? Dan ternyata benar juga, Dito masih di ruangannya. Tanpa mengetuk pintu, Viona menyerobot masuk, lalu menggebrak meja kerja Dito,”Kenapa kau lakukan itu! Kenapa memasang perekam di ruang kerja Lisa!”

Dito terkejut, dengan cepat dia berjalan ke arah pintu yang masih terbuka lebar lalu mengamati luar ruangan, setelah yakin tak ada seorang pun, dia menutup pintu. Viona menarik ujung bibir melihat hal itu,”Jadi benar kau yang melakukan?”

“Kalau iya kenapa? Kau lupa kalau kita harus membalas dendam kita?”

“Kita? Dendam kita? Kalau dendammu mungkin! Aku tidak pernah punya dendam pada keluarga Kusumadiharja, aku bisa melanjutkan kuliahku karena beasiswa dari mereka dan bekerja di rumah sakit. Aku tidak mungkin mengkhianati rumah sakit ini!”

“Kau !” Telunjuk Dito mengarah ke Viona dan menatap tajam.”Suka atau tidak, kau telah terlibat jauh dengan kami, Viona, apa kau mau aku membeberkan rahasiamu dulu?”

Viona gentar, bayang-bayang kesalahan masa lalu berkelebat. Matanya terpejam dan menggigit bibir bawahnya, takut jika Dito benar-benar melakukan ancamannya.

“Ah! Kau benar-benar busuk!” Viona lari dari ruangan itu sambil berteriak. Sementara Dito dengan senyum liciknya, memandang ke arah pintu yang terbuka lebar itu dengan tatapan puas. “Kau lupa kalau aku punya kartu As, Viona? Jangan macam-macam denganku!”

BERSAMBUNG

Iklan

THE HOSPITAL

3. Pharmacist on The Duty (Part 4)

Saat waktu menunjukkan pukul enam pagi, Lisa terbangun dari tidurnya.  Dia begitu shock saat melihat jam dinding di kamarnya, segera dia sholat subuh dan memulai aktifitas paginya bersiap-siap ke rumah sakit. Saat dia sudah siap dengan baju kerjanya dan mulai membuka lemari es untuk mencari makanan sebagai sarapan, tiba-tiba terdengar bel rumahnya berbunyi. Lisa yang memang tinggal sendiri segera membuka pintu.

“Selamat pagi, Bu Lisa,” sapa tamu Lisa. Rupanya Pak Seno, sopir keluarga Andre. “Saya disuruh Pak Andre mengantarkan itu?” sambung Pak Seno sambil menunjuk sebuah mobil yang terparkir di pekarangan rumah Lisa. Lisa berjalan menuju ke arah mobil itu.

“Pak Andre memilihkan mobil ini untuk anda?” kata Pak Seno saat Lisa menoleh ke arahnya dengan pandangan butuh penjelasan.

Lisa masuk ke dalam rumah untuk mencari HP-nya, dan segera menelephon Andre.

“Kau dimana?” tanya Lisa saat Andre mengangkat telephone.

“Aku sudah di airport, menunggu kedatangan pesawat.”

“Kau membelikan mobil untukku?”

“Oh, mobil itu? Ya, aku memang membelinya untukmu.”

“Kau seharusnya tidak melakukan itu tanpa persetujuanku,” omel Lisa

Andre terdengar menghela nafas, “Kalau aku memberitahumu sebelumnya, kau pasti menolak. Anggap saja itu hadiah dari calon suami.”

“Kau tahu kalau aku tidak suka menerima hadiah dari laki-laki, kan?”

“Hai, hai, laki-laki apa maksudmu, aku ini calon suamimu!”

Mereka masih saja berdebat dengan ego masing-masing, hingga panggilan kedatangan pesawat yang akan ditumpangi Andre terdengar. “Sudahlah, aku harus masuk pesawat, kau juga harus kerja,kan? Sementara Pak Seno akan menjadi supirmu. Aku kan tahu kau belum bisa nyetir. Sesampainya aku dari Batam, aku akan mengajarimu menyetir.”

Andre segera menutup telephone. Lisa mendengus kesal, “Kebiasaan yang tidak baik.”

Lisa segera berangkat ke rumah sakit. Mau tidak mau dia menerima mobil itu. Kini dia tengah duduk manis di dalam mobil mewah itu. Dia tidak begitu memperdulikan merk, atau keistimewaan mobil itu karena memang dia tidak tahu menahu masalah mobil. Kini dia tidak perlu menuju halte untuk menanti bus. Tidak ada lagi bus penuh sesak yang harus dia tumpangi. Tidak harus berjejal berebut kursi dengan penumpang lain lagi karena sekarang kursi belakang ini adalah miliknya dan tentu saja kursi di belakang kemudi itu, segera akan didudukinya jika Andre telah berhasil melatihnya mengendarai mobil. Sembari menikmati pemandangan di luar, angannya melayang ke masa-masa silam, di mana dia sebagai seorang mahasiswi sederhana yang selalu harus bangun pagi demi mengejar kereta api “Prambanan Ekspress” yang jam pertama, atau harus berhujan-hujan menanti bus yang tak kunjung datang dan tentu pula gaya hidupnya waktu S1 yang harus jalan kaki ketika berangkat atau pulang dari kampus karena kondisi keuangannya yang minim.

Dia tersenyum, segera di pasangnya headphone di telinganya, memutar MP5 yang memperdengarkan lagu-lagu pop korea. Lagu-lagu itulah yang selama ini  menemaninya dalam setiap perjalanan. Bahkan teman-teman kuliahnya dulu hafal betul dengan kegemarannya yang satu ini, biasanya mereka protes padanya. Mereka bilang apa asyiknya mendengarkan lagu yang kita tidak tahu artinya tapi dia tidak ambil pusing. Baginya bahasa korea itu sangat menggelitik di telinga, sebenarnya bukan hanya bahasa korea tapi juga bahasa jepang dan spanyol. Dia bahkan bisa menirukan lagu itu walau pun tidak begitu tahu artinya.

Lisa begitu terlena dengan suasana yang kini dia alami, diperintahkannya Pak Seno untuk mematikan AC mobil lalu dia membuka kaca jendela mobil. Angin pagi segera menyambutnya, mengkibarkan rambut panjangnya. Dia menarik nafas panjang. Berusaha memenuhi paru-parunya dengan oksigen yang mungkin masih tersisa di Jakarta yang kian polusi.

“Kalau ibu mau, saya bisa sekalian membuka knop atap mobilnya?” tanya Pak Seno.

“Apa? Memangnya bisa?”

“Tentu saja, bisa, Bu. Dengan sekali pencet tombol ini, knop atap terbuka. Bagaimana?”

“Boleh, boleh,” jawab Lisa sambil terkekeh.

Mobil itu terus saja melaju mulus dan saat mereka tiba di tikungan dekat rumah sakit….

Ciiit………….

Pak Seno tiba-tiba merem mendadak. Lisa yang memang tidak siap, sontak tubuhnya terdorong ke depan. Untung saja mobil berhenti tepat waktu, dalam jarak kira-kira tiga puluh centimeter di hadapan seorang wanita paruh baya.

“Ada apa, Pak,” tanya Lisa pada Pak Seno setelah pulih dari keterkejutannya.

“Wanita itu menyeberang mendadak, Bu.”

Lisa turun dari mobil untuk menghampiri wanita itu.”Ibu tidak apa-apa?”

Wanita itu terlihat sangat pucat. Rona ketakutan masih tampak jelas di wajahnya. Nafasnya yang tampak tidak teratur membuat Lisa semakin panik.

“Akan lebih baik jika Ibu ikut saya ke rumah sakit,” ajak Lisa sambil tersenyum. Dia lalu membimbing wanita itu memasuki mobilnya.

“Saya memang akan menuju rumah sakit, nak,” kata Wanita itu setelah mobil melaju kembali.

“Oh, kebetulan kalau begitu.”

“Iya, cuma check kesehatan rutin.”

Karena merasa bersalah, Lisa menemani Ibu itu ke UGD, dan sesampainya di UGD…

“Ibu! Ada apa Ibu kemari?” Armand tiba-tiba panik melihat wanita itu di UGD, dan Lisa juga tak kalah terkejut karena ternyata wanita itu adalah Rani, Ibunda Armand. Dia memang belum pernah bertemu Ibu Armand karena dia dan Armand dulu sama-sama anak rantau waktu kuliah di jogja. Lisa dari Solo, dan Armand dari Jakarta.

“Jadi wanita ini……,” bisik Lisa dalam hati.

“Ah, tidak apa-apa, Armand,” jawab Rani menenangkan putranya.

“Maaf,” Lisa mulai angkat bicara, “Sebenarnya tadi Ibu anda hampir tertabrak mobil saya, Ibu kelihatan sangat ketakutan sekali jadi saya bawa kemari.”

“Kok bisa, Lis!” protes Armand.

“Ah, sudahlah.” Rani mengibaskan tangannya.”Ibu yang salah karena menyeberang tanpa menoleh kiri kanan, Armand.”

“Bukankah sudah saya katakan agar Ibu menunggu saya pulang dari rumah sakit, saya sudah berjanji mengantar Ibu ke sini, kan?” omel Armand sembari memeriksa keadaan Ibunya dengan stetoskop.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Lisa setelah terlihat Armand selesai memeriksa.

“Ibuku sudah tidak apa-apa. Maaf kalau merepotkan, Lisa.”

Rani terkejut.

“Lisa?” tanya Rani dalam hati, sesaat dia teringat dengan nama gadis yang tertulis di surat Armand.

“Baiklah kalau begitu, karena Ibu sudah tidak apa-apa dan ini adalah waktunya saya bekerja, serta di sini sudah ada seseorang yang bisa saya percaya untuk menjaga Ibu,” Lisa tersenyum.

“Maka saya akan segera undur diri,” sambung Lisa. “Maafkanlah atas keteledoran sopir saya.”

Rani mengibaskan tangan. “Ah sudahlah, seperti yang saya bilang tadi. Saya yang salah.”

Lisa segera berlalu dari Ibu dan anak itu. Gedung instalasi farmasi masih sepi karena rupanya dia datang terlalu pagi. Saat dia hampir sampai di ruang kerjanya, samar-samar terlihat seseorang memasuki ruang kerjanya. Lisa berhenti lalu berjalan mengendap-endap untuk mengintai siapa orang itu dan apa yang hendak dilakukannya, sesaat dia berdiri di dekat jendela kaca dengan gorden yang agak terbuka. Dari posisi itu dia mampu melihat apa yang dilakukan orang itu walau tidak leluasa. Penyusup  itu terlihat melakukan sesuatu dengan bagian bawah meja kerjanya.  Saat orang tidak bertanggungjawab itu hendak pergi, Lisa segera sembunyi di bufet  yang ada di dekat meja kerja sekretarisnya. Buffet tersebut cukup besar untuk menutupi tubuhnya yang kecil dan Lisa cukup cepat menyimpulkan bahwa penyusup itu akan kembali ke arah  yang berlawanan dengannya mengingat dari mana arah penyusup itu berasal.

Lisa segera memasuki ruang kerjanya. Dia lega saat segala sesuatu di ruangan itu masih dalam posisi semula.

Meja kerja, apa yang dia lakukan di bawah meja kerja?

Lisa membungkukkan badannya di depan meja yang dimaksud. Saat dia mencari, tampaklah sebuah tape perekam tertempel di sana dengan posisi on. Dia menyipitkan mata lalu duduk di kursi kerjanya.

Aku tak habis pikir, aku hanyalah apoteker yang bekerja di rumah sakit tetapi perlakuan mereka terhadapku bagaikan aku ini pejabat korup atau sesuatu yang bisa mengancam posisi mereka.

Dia menyandarkan punggungnya di kursi itu sambil tersenyum-senyum.

—–BERSAMBUNG—–

PROFIL KOMPETENSI FARMASI

Peran profesional yang mencakup laporan kompetensi, unit, dan elemen yang menggambarkan pengetahuan profesional, atribut, dan diharapkan kinerja farmasi diperluas dan diatur peran profesional. Framing kompetensi ini : profil keselamatan pasien, penyediaan perawatan yang optimal, undang-undang, profesional dan kolaboratif hubungan, berpikir kritis, pengambilan keputusan dan keterampilan pemecahan masalah, dan professional penilaian. Profil ini menggambarkan pengetahuan khusus, keterampilan, kemampuan, dan sikap yang diperlukan untuk performa yang kompeten dan mencerminkan peran farmasi dalam situasi yang beragam dan Pengaturan praktik farmasi.
1.  Kompetensi Pernyataan: Sebuah komponen pekerjaan besar yang membutuhkan aplikasi dan integrasi pengetahuan yang relevan, keterampilan, kemampuan, sikap, dan / atau penilaian.
2.  Kompetensi Unit: Sebuah segmen utama dari suatu kompetensi secara keseluruhan yang menggambarkan kunci kegiatan yang diperlukan untuk melaksanakan kompetensi itu.
3.  Elemen Kompetensi: Sebuah sub-bagian dari unit kompetensi yang menggambarkan atau memerinci indikator kinerja kunci aktivitas yang diharapkan.

Etika, Hukum dan Tanggung Jawab Profesional

Apoteker praktek dalam persyaratan hukum, menunjukkan integritas profesional dan bertindak untuk menegakkan standar profesional praktek dan kode etik.

Elemen Kompetensi: persyaratan Terapkan hukum dan etika, Menegakkan dan bertindak atas prinsip etika yang akuntabilitas utama seorang apoteker adalah pasien, Menunjukkan integritas pribadi dan professional, Menunjukkan pemahaman tentang sistem perawatan kesehatan dan peran apoteker dan profesional kesehatan lain di dalamnya, Menunjukkan pemahaman tentang pentingnya dan proses pengembangan profesional yang berkelanjutan.

Unusuall Learning Profession

Dimensi baru pekerjaan kefarmasian sekarang antara lain : Asuhan Kefarmasian (Pharmaceutical Care), Farmasi Berdasarkan Bukti, Kebutuhan Menemui Pasien, Kepedulian Pada Pasien Kronis, Pengobatan Sendiri, Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan, Farmasi Klinis,  Kewaspadaan Farmasi.

Farmasi ditinjau dari objek materinya, memiliki kerangka dasar dari ilmu-ilmu alam; Kimia, Biologi, Fisika dan Matematika. Sedangkan ilmu farmasi ditinjau dari objek formalnya merupakan ruang lingkup dari ilmu-ilmu kesehatan. Secara historis ilmu farmasi dikembangkan dari medical sciences, yang berdasarkan kebutuhan yang mendesak perlunya pemisahan ilmu farmasi sebagai ilmu pengobatan dari ilmu kedokteran sebagai ilmu tentang diagnosis.

Secara umum farmasi terdiri dari farmasi teoritis dan farmasi praktis. Farmasi secara teoritis dibangun oleh beberapa cabang ilmu pengetahuan, yang secara garis besarnya terdiri dari farmasi fisika, kimia farmasi, farmasetika, dan farmasi sosial. Selanjutnya farmasi praktis terdiri dari dua bagian besar yakni farmasi industri, dan farmasi pelayanan.

Pertama, Farmasi Industri adalah ruang lingkup penerapan ilmu-ilmu farmasi teoritis, dan tempat pengabdian bagi ahli-ahli farmasi (farmasis) yang berorientasi pada produksi bahan baku obat, dan obat jadi, dan perkembangan selanjutnya juga meliputi kosmetika dan makanan-minuman.

Kedua, Farmasi Pelayanan yakni pengabdian disiplin ilmu farmasi (farmasis/apoteker) pada unit-unit pelayanan kesehatan (apotek, rumah sakit, badan pengawasan, dan unit-unit kesehatan lainnya). Peranan farmasis/apoteker di unit-unit pelayanan kesehatan menjadi sangat penting, dan berorientasi pada pemberian obat rasional empirik, yakni pemberian obat yang tepat dosis, tepat pasien, tepat indikasi, dan harga terjangkau

Untuk hal tersebut di atas, sangat dibutuhkan kerjasama antara farmasis/apoteker dengan pihak-pihak terkait (interdisipliner), dan didukung oleh wawasan luas yang berorientasi pada kesehatan yang paripurna dan hedonistik, produktif manusiawi, serta berwawasan lingkungan yang ekologis, bernuansa pada kesejakteraan yang universal.

Farmasis/apoteker yang berdaya intelektual dan berdaya moral haruslah menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan nilai kejujuran dalam menjalankan profesinya. Setiap keputusan yang diambil, pilihan yang ditentukan, penilaian yang dibuat hendaknya selalu mengandung dimensi etika.

Medication Reconciliation

Bukti dari tingginya jumlah kesalahan obat yang diproduksi dalam transfer antara situs perawatan telah diterbitkan dalam karya-karya yang berbeda. Kesalahan obat adalah salah satu penyebab kerusakan yang lebih penting dari pada pasien yang dirawat, sekitar 2% dari rumah sakit mengalami kesalahan pengobatan.

Beberapa faktor yang berkontribusi pada situasi ini:

1. Keterputusan informasi antara masyarakat dan perawatan khusus.

2. Perubahan penanggung jawab pasien.

3. Penyimpangan dalam komunikasi pasien-operator.

4. Concomitants poli-penyakit dan obat-obatan. Harapan hidup yang lebih besar dari orang-orang yang menyebabkan pasien dirawat di rumah sakit minum obat kronis.

5. Registries kesehatan. Salah satu pasien yang sama dapat memiliki beragam spesialis terlibat dalam pengobatannya. Kurangnya pendaftar yang unik di mana daftar lengkap dari pengobatan pasien dicatat, membuat memiliki kepastian tentang perlakuan kebiasaan sulit; ini khususnya penting dalam transisi dalam perawatan kesehatan.

6. Karakteristik tinggal di rumah sakit. Kecenderungan sekarang tetap pendek, menyebabkan bahwa perlakuan kebiasaan pasien mungkin tidak diperhitungkan.

7. Adaptasi ke rumah sakit petunjuk penyebab itu, kadang-kadang, pasien diberi obat yang berbeda dari obat sebelum ia mengambil admisi.

Keselamatan Pasien adalah masalah kesehatan utama bagi organisasi perawatan kesehatan dan masyarakat umum. Pelaksanaan program-program untuk meningkatkan keamanan dalam penggunaan obat-obatan lebih dan lebih umum di rumah sakit. Baru-baru ini, pada bulan Desember 2007, NICE telah menerbitkan panduan solusi bagi rekonsiliasi penerimaan obat di rumah sakit.

Rekonsiliasi Obat memang dirancang untuk mencegah kesalahan pengobatan pada antarmuka perawatan dan terdiri dari mendapatkan daftar kemungkinan paling lengkap pra-penerimaan obat untuk setiap pasien, termasuk wawancara pasien, dan membandingkannya dengan obat resep setelah transfer, perubahan medis penanggung jawab atau diatas perintah debit, mengidentifikasi kesenjangan yang tidak diinginkan dan memastikan kesadaran resep penggunaan obat saat ini dan sebelum memberi keputusan resep.

Layanan Farmasi rumah sakit Arnau de Vilanova (Valencia) berpartisipasi dari April 2006 dalam program CONSULTENOS. Program ini merupakan hasil inisiatif dari Masyarakat Farmasi Rumah Sakit Valencian dan dibiayai oleh Conselleria de Sanitat dari Komunitas Valencian. Tujuan adalah: untuk membuat rekonsiliasi obat saat masuk dan debit, dan untuk menginformasikan pasien aspek yang paling penting dari perawatan baru ditentukan di debit rumah sakit dan dari satu kebiasaan. Pada perubahan debit rumah sakit dalam pengobatan pasien kronis dapat terjadi, karena sering tidak merujuk dalam surat debit regimen obat yang lengkap, termasuk perawatan pra dan pasca-transfer. Misalnya dalam  pelayanan bedah umum ketidakcocokan yang mendominasi adalah  kelalaian obat, resep yang tidak benar, interaksi dan kepalsuan terapeutik. Mengenai evaluasi dari beragam aspek program, para dokter menemukan pengiriman informasi tertulis tentang obat-obatan dan revisi dari pengobatan yang diresepkan di debit ramah sangat penting.

Standarisasi merupakan proses yang sulit dan membutuhkan kerja tim dan komunikasi yang efektif, tetapi hasilnya dalam keselamatan untuk pasien adalah penting. Kegiatan klinis harus dimasukkan dalam portofolio layanan dari farmasi rumah sakit; serta integrasi phamacists dalam tim klinis yang membutuhkan perawatan pasien sehari-hari.

Singkatnya, program rekonsiliasi pengobatan mencegah kesalahan dengan obat-obatan, terutama dalam transisi kesejahteraan pasien. Selain itu, pasien memiliki informasi tambahan yang penting pada penggunaan narkoba dan masalah dengan menggunakan ini. Praktek ini harus dilaksanakan di rumah sakit sebagai layanan, sebagai alat penting untuk meningkatkan keamanan pasien, dalam kerangka sistem pengurangan risiko bagi kesehatan dan peningkatan kualitas kesejahteraan.

DAPUST : Franco, et al, 2010, Medication reconciliation: Improving patient’s safety and quality of care.

THE HOSPITAL

3. Pharmacist on the Duty (Part 3)

Lisa memandang ke arah Viona. Viona yang merasa diperhatikan jadi salah tingkah, lebih-lebih ketika Lisa mendekatinya. Sambil tersenyaum, Lisa mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, mau tak mau viona harus membalas jabat tangan itu.

“Bisa kita bicara di ruanganku sebentar?” pinta Lisa.

Viona terdiam. Dia hanya menurut saat Lisa merangkulnya untuk memasuki ruang kerja Lisa.

“Silahkan duduk,” pinta Lisa pada Viona ketika mereka telah memasuki ruangan kerja Lisa.

Viona menurut, sementara Lisa mulai menduduki kursi kerjanya. Kursi itu, kursi yang selama bertahun-tahun di duduki oleh Pak Restu sebagai kepala instalasi farmasi, dan kini seorang apoteker baru memimpin, berusaha menilai segala hal dalam instalasi ini, apakah ini masuk akal? Seseorang yang benar-benar asing merasa tahu betul akan instalasi ini. Viona sibuk dengan pikiran itu.

Lisa mulai bicara, “Viona, hanya kau dan aku apoteker di instalasi ini, karena itu aku sangat mengharapkan kerja sama darimu.”

Lisa tersenyum,”Aku tidak tahu apa yang dikatakan kakakmu, Wahyu padamu.”

Viona terkejut. Dari mana Lisa tahu tentang kakaknya itu yang menjanjikan kedudukan pak Restu padanya.

“Dan aku juga tidak tahu yang dijanjikan Dito padamu, tapi aku mohon kerja samamu untuk memajukan instalasi ini, bukankah teman sejawat adalah saudara kandung?”

Lisa tersenyum. Viona membalas senyum itu walau sedikit terdapat gurat paksaan di senyumannya.

“Nah, sekarang kau boleh pulang, aku tahu kau lelah,”kata Lisa.

Viona pun meminta diri. Kini tinggal Lisa di ruangan itu menatap bertumpuk kertas hasil kerja seharian tadi. Lisa mulai membuka satu persatu.

Sample counting, ketidaksesuaian jumlah sediaan antara kartu stok dan computer 45%, ketidakcocokan antara kartu stok dan jumlah sediaan fisik 25%. Di sini, Lisa mulai menghela nafas. Dia memijit-mijit tengkuknya yang sedari tadi tegang. Dia melanjutkan lagi. Menelusuri lembar demi lembar kertas di atas mejanya itu. Yang terlihat adalah angka-angka yang menampilkan kekecewaan yang mendalam, angka yang menunjukan tidak bekerjanya system atau memang bekerjanya system yang salah.

Ketersediaan obat 70%, disini Lisa mulai mengkerutkan dahi. Dia terlalu serius menekuri kertas-kertas itu. Dia terkejut saat HPnya tiba-tiba berbunyi dan membuat ruangan yang hening itu berisik sejenak. “My luoy” tertulis di layar HP-nya, ternyata Andre yang menelpon.

“Kau dimana?” tanya Andre di ujung telephone.

“Masih di kantor,” jawab Lisa dengan suara serak.

“Apa? Kok masih di kantor? Kalau begitu aku akan menjemputmu.”

Belum sempat Lisa membalas. Andre sudah menutup telephone. Lisa mendengus, “Kebiasaan yang tidak baik,” umpatnya. Dia meneruskan pekerjaannya.

Seperempat jam kemudian Andre memasuki ruangan itu dan protes karena kesibukan Lisa.

“Kau adalah pegawai di sini, bukannya pekerja rodi,” protes Andre.

“Aku tidak merasa kalau aku kerja rodi,” jawab Lisa.

“Bekerja dari jam delapan pagi sampai jam dua dini hari, kau anggap ini bukan kerja rodi?”

“Bukankah ini rumah sakit keluargamu?”

“Ya.”

“Seharusnya kau senang aku melakukan semua ini.”

Andre mengibaskan tangannya.

“Sudah, tidak usah banyak protes, ayo pulang!” perintah Andre.

Lisa memunguti kertas-kertas di atas mejanya untuk dibawa pulang. Dia menurut saat Andre menggandeng tangannya atau lebih tepat dianggap menarik tangannya untuk segera keluar dari ruang kerja itu.

Sesampainya di pelataran parkir, mereka berpapasan dengan Armand yang kebetulan akan tugas shift malam di UGD. Armand menghentikan langkahnya demi memperhatikan pasangan itu.

“Pagi, Armand,” sapa Andre masih dalam posisi menarik  tangan Lisa.

“Pagi,” jawab Armand.

Rupanya Andre sedang tidak ingin memperlama basa-basi itu. Dia segera menuju mobilnya yang terparkir berdekatan dengan mobil Armand dan Armand masih saja memperhatikan tingkah keduanya.  Andre masuk ke dalam mobil saat Lisa sudah memasuki mobil. Beberapa menit kemudian, mobil itu sudah berlalu dari area parkir. Armand masih saja berdiri mematung. Dia berpikir apa yang terjadi sehingga Andre sepertinya menyeret Lisa seperti itu. Dan akhirnya ditanggalkannya pikiran itu demi memasuki tugas yang sebenarnya telah memanggil 2 jam yang lalu.

————————————————————————–

Waktu sudah menunjukan pukul 02.30 wib, saat Andre menghentikan mobilnya yang telah memasuki pekarangan rumah Lisa. Lisa yang kelelahan tertidur di sampingnya. Sesaat Andre memperhatikan Lisa, ditepuknya pipi Lisa dengan lembut. Lisa  terbangun.

“Sudah sampai,” ujar Andre.

“Sudah sampai, ya?” tanya Lisa. Saat Lisa hendak turun dari mobil, Andre berkata,” Besok pagi aku ke Batam.”  Kalimat Andre membuat Lisa mengurungkan niat membuka pintu mobil. Dia menoleh ke arah Andre

“Ada bisnis di sana,” lanjut Andre. Lisa hanya mempertajam pandangan.

“Kami akan mengakuisisi salah satu perusahaan di sana,” kata Andre kemudian, “Cuma perusahaan kecil yang akan bangkrut.”

Lisa menghela nafas, “Kata akuisisi adalah kata yang paling tidak kusukai.”

Andre terkekeh, “Lalu kata apa yang kau sukai?”

Lisa menjawab cepat, “ Aliansi strategik dan merger.”

Andre terkekeh. Lisa memajukan bibirnya.

“Berapa lama kau di Batam?”

“Cuma dua hari.”

Lisa mengangguk-angguk.

“Ah, sudah sana masuk, wajahmu kelihatan mupeng jika kau kelelahan,” perintah Andre. Lisa tertegun. Mupeng? Masa? Lisa mengelus-elus pipinya sendiri sembari keluar dari mobil. Dia melambaikan tangan saat mobil Andre mulai meninggalkan pekarangan rumahnya.

Di dalam rumah. Lisa tidak langsung tidur, dia masih saja menjereng tumpukan kertas yang dibawanya dari kantor tadi. Dia mencoba menganalisa berdasar Managing Drug Supply. Dia telusuri kegagalan demi kegagalan dari tahap seleksi sampai use dan terkejut betapa banyak kegagalan yang terjadi selama bertahun-tahun. Mulai PFT yang kurang aktif sampai distribusi yang awut-awutan, belum lagi ketika Lisa mulai memasuki managing support. Mata Lisa yang tadinya mengantuk mulai terbelalak, rumah sakit tipe C dengan 250 tempat tidur hanya di cover oleh 2 orang apoteker yaitu dia dan Viona, dia membayangkan bagaimana sibuknya Pak Restu dulu, apalagi waktu itu Viona masih sebagai asisten apoteker, belum lulus pendidikan profesi.

Kepala Lisa jadi semakin berat. Apalagi saat dia membaca laporan keuangan instalasi farmasi, Quick Ratio cuma 0,5. Lisa menghitung lagi, nilai perputaran persediaan cuma empat kali per tahun? Mata Lisa semakin terbelalak, dia menghitung rata-rata distributor mengharapkan pelunasan sebulan sekali, mungkin ini sebabnya instalasi terlalu banyak hutang. Lama-lama kepalanya semakin berat dan akhirnya tertidur dengan menelungkupkan kepalanya di atas kertas-kertas itu.

—–BERSAMBUNG——

PERAN APOTEKER DALAM PENANGANAN PANDEMI FLU BURUNG / FLU BABI

Penyakit flu burung dan flu babi termasuk penyakit yang sangat potensial membawa dampak penyebaran yang cepat dan mengancam jiwa masyarakat Indonesia, kemampuan penyebarannya bisa sangat cepat, kemungkinan penularan antar manusia sangat dikhawatirkan dan oleh karena itu membutuhkan penanganan yang tepat dan segera. Peran serta Apoteker ini didasari dengan pengetahuan yang dimiliki Apoteker tentang patofisiologi penyakit; obat-obatan yang diperlukan atau harus dihindari oleh pasien penyakit flu burung dan flu babi. Hal-hal yang harus dipersiapkan dan dihindari oleh tenaga kesehatan termasuk apoteker dalam melaksanakan tugasnya.

Peran aktif Apoteker di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Memastikan bahwa prosedur pengendalian infeksi berada di tempat di dalam sistem pelayanan kesehatan dan digunakan oleh semua yang terlibat dalam mengelola penyakit hewan maupun manusia serta kasus dugaan.

2.  Melakukan upaya pencegahan penyakit flu burung dan flu babi

Upaya ini diwujudkan melalui:

  • Pemberian penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit flu burung dan flu babi meliputi gejala awal, sumber penyakit, cara pencegahan, penanggulangan penyebaran, dan pertolongan pertama yang harus dilakukan.
  • Pembuatan buletin, leaflet, poster, dan iklan layanan masyarakat seputar penyakit flu burung dan flu babi dalam rangka edukasi masyarakat.
  • Berpartisipasi dalam upaya pengendalian penyebaran infeksi virus di rumah sakit melalui Komite Pengendali Infeksi dengan memberikan saran tentang pemilihan antiseptik dan desinfektan; menyusun prosedur, kebijakan untuk mencegah terkontaminasinya produk obat yang diracik di instalasi farmasi atau apotek; menyusun rekomendasi tentang penggantian, pemilihan alat-alat kesehatan, pemilihan alat pelindung diri, injeksi, infus, alat kesehatan yang digunakan untuk tujuan baik invasive maupun non-invasif, serta alat kesehatan balut yang digunakan di ruang perawatan, ruang tindakan, maupun di unit perawatan intensif (ICU).

3. Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien untuk mempercepat proses penyembuhan, mencegah bertambah parah, atau mencegah kambuhnya penyakit serta mencegah penularan. Hal ini dilakukan dengan cara:

  • Memberikan informasi kepada pasien tentang penyakitnya dan pengendalian diri dan lingkungan dalam upaya mencegah penularan.
  • Menjelaskan obat-obat yang harus digunakan, indikasi, cara penggunaan, dosis, dan waktu penggunaannya.
  • Melakukan konseling kepada pasien untuk melihat perkembangan terapinya dan memonitor kemungkinan terjadinya efek samping obat.

Kompetensi yang diperlukan seorang Apoteker untuk dapat memberikan pelayanan kefarmasian terhadap pasien penyakit flu burung dan flu babi di antaranya adalah:

  • Pemahaman prosedur pengendalian infeksi flu burung dan flu
  • Pemahaman stratifikasi risiko keterpaparan kelompok individu terhadap infeksi flu burung dan flu babi
  • Pemahaman patofisiologi penyakit flu burung dan flu babi
  • Penguasaan farmakoterapi penyakit flu burung dan flu
  • Penguasaan farmakologi obat-obat yang digunakan pada pengobatan penyakit flu burung dan flu babi
  • Memiliki kemampuan komunikasi yang baik dalam pemberian konseling kepada pasien ataupun ketika berdiskusi dengan tenaga kesehatan lain.
  • Memiliki keterampilan dalam mencari sumber literatur untuk Pelayanan Informasi Obat penyakit flu burung dan flu babi
  • Monitoring terapi pengobatan yang telah dilakukan dan kemungkinan terjadinya efek samping obat maupun resistensi.
  • Memiliki kemampuan menginterprestasikan hasil laboratorium.

Tujuan pemberian konseling kepada pasien adalah untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan kemampuan pasien dalam menjalani pengobatannya serta untuk memantau perkembangan terapi yang dijalani pasien. Ada tiga pertanyaan utama umum (Three Prime Questions) yang dapat digunakan oleh Apoteker dalam membuka sesi konseling untuk pertama kalinya. Pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Apa yang telah dokter katakan tentang obat anda?
  2. Apa yang dokter jelaskan tentang harapan setelah minum obat ini?
  3. Bagaimana penjelasan dokter tentang cara minum obat ini?

Pengajuan ketiga pertanyaan di atas dilakukan dengan tujuan agar tidak terjadi pemberian informasi yang tumpang tindih (menghemat waktu); mencegah pemberian informasi yang bertentangan dengan informasi yang telah disampaikan oleh dokter (misalnya menyebutkan indikasi lain dari obat yang diberikan) sehingga pasien tidak akan meragukan kompetensi dokter atau apoteker; dan juga untuk menggali informasi seluas-luasnya (dengan tipe open ended question).

Tiga pertanyaan utama tersebut dapat dikembangkan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut sesuai dengan situasi dan kondisi pasien:

1. Apa yang dikatakan dokter tentang peruntukan/kegunaan pengobatan anda?

Persoalan apa yang harus dibantu?

Apa yang harus dilakukan?

Persoalan apa yang menyebabkan anda ke dokter?

2. Bagaimana yang dikatakan dokter tentang cara pakai obat anda?

Berapa kali menurut dokter anda harus menggunakan obat tersebut?

Berapa banyak anda harus menggunakannya?

Berapa lama anda terus menggunakannya?

Apa yang dikatakan dokter bila anda lupa minum obat?

Bagaimana anda harus menyimpan obatnya?

Apa artinya ‘tiga kali sehari’ bagi anda?

3. Apa yang dikatakan dokter tentang harapan terhadap pengobatan anda?

Pengaruh apa yang anda harapkan tampak?

Bagaimana anda tahu bahwa obatnya bekerja?

Pengaruh buruk apa yang dikatakan dokter kepada anda untuk diwaspadai?

Perhatian apa yang harus anda berikan selama dalam pengobatan ini?

Apa yang dikatakan dokter apabila anda merasa makin parah/buruk?

Bagaimana anda bisa tahu bila obatnya tidak bekerja?

Pada akhir konseling perlu dilakukan verifikasi akhir (tunjukkan dan katakan) untuk lebih memastikan bahwa hal-hal yang dikonselingkan dipahami oleh pasien terutama dalam hal penggunaan obatnya dapat dilakukan dengan menyampaikan pernyataan sebagai berikut:

“ Sekedar untuk meyakinkan saya supaya tidak ada yang kelupaan, silakan diulangi bagaimana Anda menggunakan obat Anda”.

Salah satu ciri khas konseling adalah lebih dari satu kali pertemuan. Pertemuan-pertemuan selanjutnya dalam konseling dapat dimanfaatkan Apoteker dalam memonitoring kondisi pasien. Pemantauan terhadap kondisi pasien dapat dilakukan Apoteker pada saat pertemuan konsultasi rutin atau pada saat pasien menebus obat, atau dengan melakukan komunikasi melalui telepon atau internet. Pemantauan kondisi pasien sangat diperlukan untuk menyesuaikan jenis dan dosis terapi obat yang digunakan. Apoteker harus mendorong pasien untuk melaporkan keluhan ataupun gangguan kesehatan yang dirasakannya sesegera mungkin.

Penyuluhan tentang pencegahan dan penanggulangan penyakit flu burung dan flu babi perlu dilaksanakan secara berkelanjutan mengingat sebagian besar penyebab penyakit flu burung dan flu babi adalah karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam melindungi diri mereka terhadap penyakit-penyakit virus tersebut. Penyuluhan dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. Penyuluhan langsung dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok; sedangkan penyuluhan tidak langsung dapat dilakukan melalui penyampaian pesan-pesan penting dalam bentuk brosur, leaflet atau tulisan dan gambar di dalam media cetak atau elektronik.

Apoteker diharapkan dapat memberikan penyuluhan secara personal dengan pasien penyakit flu burung dan flu babi. Penyuluhan secara personal dapat meningkatkan upaya pencegahan penularan maupun ketertularan serta kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatannya manakala terserang. Hendaknya Apoteker memastikan bahwa pasien tahu tentang penyakit yang dideritanya, pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan yang disarankan serta akibat dari ketidakpatuhan atau kelalaian dalam menjalankan terapi pengobatannya. Keluarga pasien harus diberi pengertian bahwa penyakit flu burung dan flu babi dapat menimbulkan komplikasi lebih lanjut seperti kematian apabila tidak ditangani dengan baik. Keluarga harus segera melapor bila ada dugaan ketertularan atau gejala influenza karena flu burung dan flu babi.

Terima kasih buat Isnenia, Dyah Fani dan M. Sridhotulloh yang telah membantu dalam penyusunan materi ini pada tugas Perilaku penggunaan sediaan Farmasi yang diampu oleh Bp. Riswoko

PRAHARA CLEOPATRA

CERPEN HADIAH IDUL FITRI UNTUK  ORANG-ORANG YANG KUCINTAI

Pagi yang indah, udara yang segar, suasana menyenangkan yang membuat kedua anak itu riang, bercanda, berkejaran, dan di sana, tak seberapa jauh dari mereka, seorang pria berdiri. Wajah yang bijaksana, sosok tubuh yang tegap, merentangkan ke dua tangannya di muka dan dengan senyum simpatik menyambut diriku yang segera berlari ke arahnya.

Stop!!!…. Stop dreaming, Cleo. Time to get up, now! Ya, ya, aku tahu semua itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini. Rudi, pria yang selama ini ku harapkan jadi sosok dalam mimpi itu, ternyata lebih memilih sepupuku. Sekarang, bagaimana bisa aku tetap memimpikan semua itu?

“Wah sudah bangun, rupanya.”

Nena, teman kuliah yang kuajak ke Jakarta untuk pernikahan Rudi, terkejut melihatku yang tak seperti biasanya karena bangun sebelum alarm berbunyi.

“Jam berapa sekarang?” tanyaku.

“Jam setengah tiga. Wudhu sana!”

Aku segera berwudhu dan mempersiapkan diri untuk sholat tahajud. Keheningan sepertiga malam terakhir menambah khusuk sholat ini. Sesaat kupasrahkan diri di hadapan Ilahi. Dzikir yang mampu menenangkan hati yang bergejolak dan doa yang selalu menjadi hiburanku serta lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang serasa bagai simphoni di telingaku.

Adzan subuh tak jua terdengar. Kuamati suasana sekeliling. Sepi… Beberap orang tidur berdesakan di ruang tengah. Barang-barang perlengkapan pernikahan terlihat terbengkalai di beberapa tempat. Mereka sangat capek dengan kesibukan ini. Kualihkan pandangan  ke pintu kamar Shinta. Pintu kamar itu masih tertutup. Sudah empat hari dia menjalani masa pingitan. Tradisi yang aneh… .

Shinta, saudara sepupuku yang lebih dipilih Rudi sebagai calon istrinya. Semua itu membuatku kecewa. Aku yang lebih dulu tertarik pada Rudi. Seharusnya dulu aku tidak memperkenalkan mereka. Dasar bodoh !

Adzan subuh menyadarkan lamunan. Segera kupenuhi panggilan itu dan melupakan masalah sejenak.

Kesibukan pun berlanjut. Terus terang, aku tidak betah di sini. Rasa iri dan patah hati pada calon pengantin… .

“Hai, kok bengong?” suara dari belakang mengagetkanku. Shinta!

“Kamu kok berani keluar kamar?” tanyaku.

“Suntuk di kamar terus. Eh, kamu lihat Rudi, gak?”

“Rudi? Bukannya kalian tidak boleh ketemu sampai acara pernikahan besok?”

“Aku tahu, tapi…

“Udah deh. Jangan bikin perkara.”

“Tapi, Cleo.”

“Udah sana masuk kamar!”

Shinta menuruti perintahku dengan bibir manyun. Aku muak dengan keadaan ini dimana harus pura-pura baik pada Shinta hanya karena dia sepupuku. Aku tahu, apalah aku dibandingkan Shinta. Kami memang sama-sama cucu nenek dan kakek tapi tetap saja berbeda nasib. Paman Hanafi, Ayah Shinta yang cukup berada, mampu memberikan apa saja untuknya. Sedangkan aku? Mungkin itu yang membuat Rudi berpaling dariku.

“Kau tahu? Semua itu tidak benar,” seorang pria yang tidak kukenal menyelutuk tiba-tiba. Aneh, seolah dia tahu jalan pikiranku. Ku lihat wajah pria itu. Cukup tampan, tapi di mana aku mengenalnya?

“Kau tahu? Jika seseorang telah memutuskan siapakah yang akan mendampinginya, segala sesuatu seperti kecantikan, kekayaan, kedudukan dan status tidak akan masuk hitungan,” lelaki itu menguliahiku dengan kata-kata yang menurutku penuh teori. Mana ada di jaman sekarang yang sarat materialisme masih berlaku hal semacam itu?

“Aku rasa kau sudah terlalu jauh mencampuri urusanku !” Aku bersikap ketus. Dia memang tidak sopan mengingat kami tidak saling kenal.

“Maaf, namaku Levy,” dia menjulurkan tangan. Sekali lagi dia mampu menebak yang ada di benakku. Tak ada yang bisa kulakukan selain membalas niatnya berkenalan.

“Dari mana kamu tahu tentangku?” tanyaku setelah kami cukup akrab.

“Hanya menebak.”

“Menebak?”
“Dari sikapmu.”

“Sikapku? Memangnya sikapku tidak wajar? Atau… terlihat munafik?”

“Tidak,” dia mengibaskan tangannya.”Entahlah, aku cuma tahu. Itu saja.”

Levy segera meninggalkanku setelah menjawab. Aku semakin tidak mengerti. Seseorang bisa tahu isi hati orang lain hanya dengan melihat sikapnya? Ah, mana mungkin?

Akhirnya tiba juga saat itu, saat Shinta dan Rudi menjalani ijab Kabul dan aku yang tidak mampu melihat kebahagiaan mereka. Aku memutuskan untuk keluar dari ruangan yang penuh sesak dengan tamu undangan. Aku menuju ke samping rumah karena di sana terlihat Levy berdiri termenung.

“Assalamu’alaikum,” salamku padanya.

“Walaikumsalam.”

“Aku keluar rumah karena jenuh dengan banyaknya orang di sana,”kataku memulai pembicaraan.”Aku rasa aku butuh udara segar.”

“Jangan munafik. Aku tahu kau keluar karena tidak tahan dengan pernikahan mereka,” Levy menyindir. “Kau lihat rumput ini?”

Levy menunjuk pada rumput yang terbentang di bawah kami.”Kau tahu apa warnanya?”

“Hijau!” jawabku.

“Apa warna rumput di halaman rumahmu di Jogja?”

“Hijau juga?”

“Aku rasa kau sudah tahu maksud pertanyaanku.”

Aku mengangguk. Aku melepaskan sepatu dan menginjakkan kaki telanjang di atas rumput. Rasa dingin menjalar di telapak kaki. Kulihat beberapa tamu memasuki rumah… . Au! Sebuah duri menusuk telapak kakiku. Aku meringis kesakitan. Levi terkejut.

“Tidak, Aku tidak apa-apa, kok. Cuma duri,”kataku sambil memijit-mijit bagian kaki yang terkena duri lalu kukeluarkan duri itu dan mencoba berdiri kembali.

“Sebenarnya kau sudah tahu, kan resikonya sebelum memutuskan untuk mencopot sepatu dan berjalan dengan kaki telanjang di atas rumput?”

Aku mengangguk,”Aku hanya ingin merasakan dinginnya rumput ini di kakiku.”

“Pernahkah kau berpikir bahwa Shinta menikahi Rudi juga dengan resiko?”

“Resiko? Memangnya resiko apa yang harus ditempuh oleh gadis yang menikahi Rudi?”

“Semua pilihan dalam hidup ini penuh resiko, Cleo. Hanya saja kita memutuskan untuk memilih karena manfaatnya yang lebih besar dari rsikonya tapi semua itu tidak membuat resiko itu hilang, bukan?”

“Ah, aku pusing kalau ngobrol sama kamu. Kamu sok filsafat banget, sih? Apa kamu kuliah jurusan filsafat”

“Tidak, Aku sedang menempuh S2 farmasi.”

Aku heran. Cowok semuda itu sudah S2? Wah, salut deh! Tapi cara bicaranya kok seperti ini? Apa dia salah jurusan?

“Kenapa kau tidak ambil saja sisi positif dari kejadian ini.”

“Sisi positif yang bagaimana?”

“Setidaknya bukan kamu yang ada di tempat Shinta dengan kepala pusing menahan berat dari sanggul, make up maupun kebaya yang melilit erat di tubuh.”

Aku tertawa mendengar kalimat Levy. Aku mulai berpikir bahwa dia adalah penghibur yang baik.

Pertemuanku dan Levy memang terbilang aneh. Dia tiba-tiba mendekatiku saat broken heart karena Rudi, menebak semua jalan pikiranku, membuatku berpikir tentang rumput dan resiko setiap pilihan, serta mengambil sisi positif dari suatu masalah.

“Ah, kau terlalu beranggapan baik padanya,” kata Nena setiap kali ku curhat tentang Levy. “Bisa saja dia sok bijak untuk mendekatimu yang lagi broken.”

“Jangan berpikiran jelek!” aku berusaha menampik pendapat Nena meski dalam hati setuju. “Tapi… sepertinya wajah Levy tidak begitu asing? Entahlah… sepertinya kami pernah bertemu sebelumnya.”

“Di mana? Di kehidupan yang lalu?”

“Uh, ngaco!” Kami tertawa berdua.

Seiring waktu berlalu, aku semakin mengenal Levy. Ternyata dia mengambil S2 di kampusku. Kampus yang paling ngetop di kota gudeg. Terkadang kulihat dia di perpustakaan. Dia selalu menyapa setiap kami bertemu tapi kami sepertinya sama-sama tahu dan tidak saling mengganggu jika terlihat sibuk satu sama lain. Sering juga kutemukan dia sholat di masjid kampus. Dia selalu berlama-lama dengan rutinitas yang satu itu. Aku merinding setiap melihatnya begitu khusuk dengan dzikir dan doanya, seolah pasrah dengan maut yang siap menjemput.

Hari ini aku ke perpustakaan untuk mengusir rasa jenuh. Sekedar menuliskan angan dan mimpiku ke buku harian. Tentu saja tentang dua orang anak yang berlari riang di lapangan berumput hijau dan seorang pria yang berdiri tak jauh dari mereka. Dengan senyum yang hangat, mengulurkan tangan tuk menyambutku yang segera berlari ke arahnya.

“Sedang menulis apa?”

Levy mengagetkanku. Aku tidak menyadari kehadirannya karena terlalu asyik. Dia segera duduk di depanku. Kusodorkan buku harian padanya. Sesaat dia membaca.

“Bagus,” dia mulai berkomentar.”Kamu bakat jadi penulis.”

“Itu bukan bahan tulisan.”

“Lalu?”

Aku tersenyum, tidak mungkin kuakui bahwa itulah impianku selama ini.

“Kehidupan yang sederhana. Kehidupan macam inikah yang kau harapkan, Cleo?”

“Aku mulai tidak percaya semua itu.”

“Kenapa?”

“Kehidupan semacam itu hanya terjadi jika kita punya uang.”

“Begitukah anggapanmu tentang hidup?”

“Ya!” aku menjawab penuh semangat.

“Lalu bagaimana dengan cinta? Semua itu pasti terwujud bila ada cinta.”

“Hah?” aku tertawa lirih, “Levy… aku rasa kau terlalu banyak nonton film roman picisan. Di jaman sekarang, masih adakah cinta sesederhana itu?”

“Aku yakin masih ada.”

Kali ini tertawaku agak keras hingga sekelilingku memperingatkan keadaanku yang sedang berada di area tenang. Cowok di depanku ini terlalu optimis dengan keyakinannya.

“Di jaman ini tidak ada cinta buta, Levy. Seorang gadis dari keluarga kaya tidak mungkin melirik pemuda miskin, pemuda cerdas tak mungkin jatuh hati pada gadis idiot.”

Levy terdiam, aku semakin yakin dengan argumenku,”Kau tahu kisah cinta Cleopatra dan Mark Anthony?” tanyaku.

Levy mengangguk.

“Jika saja Cleopatra tidak cantik dan bukan ratu Mesir, apa mungkin Mark Anthony tergila-gila padanya dan memberontak terhadap Romawi?”

Levy tersenyum. Dengan pelan dia bicara,”Kalau pun waktu itu Cleopatra tidak cantik dan kaya, Mark Anthony akan tetap memberontak pada Romawi karean memang begitulah takdirnya. Kenapa sih kau tidak mencari contoh lain?”

Kalimat Levy terdengar menngelikan dan akhirnya ku terbengong melihat tingkahnya yang meninggalkanku begitu saja. Mungkin dia bosan dengan obrolan ini. Ku teruskan saja curhatku di buku harian.

“Bacalah buku ini!”

Levy datang lagi dan menyodorkan sebuah buku padaku. Taman orang-orang yang jatuh cinta dan memendam rindu, judul buku itu. Kemudian dia berlalu lagi. Dasar aneh!

Buku yang tebal. Kewalahan juga aku membacanya. Bukannya semakin jelas, aku semakin tidak mengerti. Menurutku buku itu menjelaskan makna cinta dengan begitu rumit. Serumit itukah cinta? Obrolan tentang cinta pun terus berlanjut. Aku bersikeras dengan pendapatku demikian juga Levy. Orang lain pasti akan mual dan muntah jika mendengar perdebatan kami. Seperti biasa tidak ada yang mau mengalah hingga kesibukanku PKL dan kesibukannya dengan tesis membuat perdebatan ini terputus.”

Setahun berlalu, Paman Hanafi mengabarkan bahwa Shinta sudah melahirkan bayi laki-laki. Wajah Shinta begitu sumringah saat aku datang menjenguk bayinya yang montok dan lucu. Rudi tidak terlihat di sana.

“Di mana Rudi?” tanyaku pada Shinta yang tengah menyusui. Aneh, wajah Shinta mendadak sayu. Tante Rubi segera menarikku keluar kamar.

“Kamu jangan tanya-tanya tentang Rudi lagi,” kata Tante Rubi.

“Lho, memangnya kenapa?”

“Pernikahan mereka kurang harmonis. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi dan selalu diakhiri dengan Rudi yang memukul Shinta.”

Deg! Tiba-tiba anganku melayang pada Levy, kata-katanya tentang rumput dan resiko setiap pilihan terngiang lagi di telingaku.

“Ngomong-omong, bagaimana persahabatanmu dengan Toni?” tante Rubi membuyarkan lamunanku.

“Toni?”

“Iya! Toni Syahlevy.”

“Toni… Syah… Levy?…. Levy?!”

“Iya, dia itu anak Pak Johan, tetangga kita waktu di Malang dulu. Waktu kalian masih kecil, Toni itu suka mengganggumu sampai kau menangis, kan?”

Kata-kata tante Rubi mampu menjawab pertanyaan yang selama ini mengganjal di hati. Pantas saja aku merasa wajah levy tidak asing. Sosok bocah laki-laki yang selalu menarik rambutku hingga ku menjerit kesakitan, berkelabat di anganku. Semuanya semakin jelas. Sungguh aku menikmati persahabatanku dengannya tapi bukan karena aku naksir atau karena dia tertarik padaku. Aku tahu tidak ada persahabatan antara pria dan wanita. Tapi entahlah?

“Aku akan pergi jauh,”kata Levy di sekian kalinya kami bertemu.

“Kemana?” tanyaku.

“Ke tempat di mana rasa ikhlas menjadi raja, ketulusan sebagai permaisuri dan kemanusiaan adalah hukum yang berlaku. Tempat di mana pamrih terpinggirkan, ambisi terpelanting, kejujuran diunggulkan.”

“Memangnya ada tempat seperti itu?”

“Bukankah semua kitab suci di muka bumi ini menjanjikan tempat itu? Banyak nama yang diberikan, seperti nirwana, sorga… atau… heaven.”

“Jangan bilang kalau kau akan…

“Kenapa? Bukankah semua orang akan kesana? Hanya waktu dan caranya yang berbeda.”

Aku tidak suka dengan tingkah Levy. “Kau membuatku takut. Kenapa kau mengungkap kematian dengan kata-kata indah?”

“Good bye, Cleo… .”

“Levy?” aku memanggilnya pelan tapi dia tidak peduli. Dia berpaling, meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan yang tak terjawab. Kenapa harus kematian?

Gundukan tanah bernisan di depanku masih berwarna merah. Jasad Levy terbaring tenang di dalamnya. HIV-Aids menggerogoti tubuh itu sebelumnya. Perkataan orang-orang tentang Levy yang mengidap penyakit itu karena tranfusi darah mampu menangkis pikiran buruk di otakku tentang sebab-musabab Levy terkena penyakit mematikan itu. Aku merasa kerdil di depan batu nisan itu. Levy yang begitu optimis dengan hidup dan cinta walau pun umurnya tidak panjang. Sungguh beda denganku yang selalu menyalahkan nasib, menyia-nyiakan cinta yang selama ini berada di sekelilingku hanya untuk sebuah cinta yang tak mungkin ku miliki.

Tanpa ku sadari, dia telah menjadikanku obyek dakwah, tentu saja dengan kata-katanya yang sukar dicerna. “Good bye, Cleo,” kalimat terakhir yang dia ucapkan saat perpisahan itu. Begitu singkat, tak serumit kalimat-kalimat yang selalu dia katakan tentang cinta dan hidup. Begitu singkat, sesingkat kehidupan yang di jalaninya.

Namun kehidupan tetap berlanjut bagiku. Mimpi itu pun masih menghiasi setiap tidur, tentang dua orang anak yang berlarian riang di lapangan rumput dan seorang pria yang berdiri tak jauh dari mereka. Dengan tersenyum, direntangkanlah tangannya ke muka untuk menyambutku yang segera berlari ke arahnya.