FORMULARIUM RUMAH SAKIT

Formularium rumah sakit merupakan penerapan konsep obat esensial di rumah sakit yang berisi daftar obat dan informasi penggunaannya. Obat yang termasuk dalam daftar formularium merupakan obat pilihan utama (drug of choice) dan obat-obat alternatifnya. Dasar-dasar pemilihan obat-obat alternative tetap harus mengindahkan prinsip manajemen dan criteria mayor yaitu berdasarkan pada : pola penyakit yang berkembang didaerah tersebut, efficacy, efektivitas, keamanan, kualitas, biaya, dan dapat dikelola oleh sumber daya dan keuangan rumah sakit (Anonim 2002a)

Seleksi obat yang tepat melalui system formularium rumah sakit, banyak keuntungan yang didapat antara lain meningkatkan mutu terapi obat, dan menurunkan kejadian efek samping obat. Formularium juga meningkatkan efisiensi pengadaan, pengelolaan obat serta meningkatkan efisiensi pengadaan, pengelolaan obat serta meningkatkan efisiensi dalam manajemen persediaan, sehingga pada akhirnya akan menurunkan biaya pelayanan kesehatan secara keseluruhan (Anonim, 2002a)

Formularium harus direvisi secara periodic sehingga dapat merefleksikan penilaian terkini para staf medic. Penerapan formularim harus mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut (Anonim, 2002a):

1.      Obat harus diseleksi atas dasar kebutuhan komunitas dan obat-obatan tersebut harus dapat mengatasi pola penyakit dan kondisi daerah tersebut.

2.      Obat yang dipilih adalah drug of choice

3.      Daftar formularium harus memiliki jumlah oabat yang terbatas. Hanya obat-obatan yang diperlukan yang dapat disediakan di rumah sakit. Duplikasi obat dengan khasiat terapetik sama tidak boleh terjadi.

4.      Penggunaan produk obat kombinasi hanya untuk kasus tertentu, misalnya TB.

5.      Obat-obat yang tidak cukup bukti tentang khasiat, keamanan dan kualitas, serta tidak cost effective perlu dievaluasi dan dihapus bila telah ada alternative obat yang lebih dapat diterima.

Formularium merupakan sarana yang digunakan oleh dokter dalam pola pengobatan, oleh karena itu formularium harus lengkap, ringkas dan mudah digunakan. Formularium sangat diperlukan di rumah sakit karena dapat digunakan sebagai dasar pedoman perencanaan obat bagi manajemen dan sebagai sebagai pedoman perencanaan obat bagi dokter dalam melakukan peresepan di rumah sakit (Anonim, 2002b)

Anonim, 2002a, Drug and Therapeutics Committee Training Course, 60-69, Management Sciences for Health, Arlington.

Anonim, 2002b, Principles of a Sound Drug Formulary System, http//www.ASHP.com, 29 Agustus 2008)

Iklan

THE HOSPITAL

4. The Strategy (Part 2)

Di kediaman Kusumadiharja sedang berlangsung arisan keluarga, di setiap acara pasti ada bintang pesta, dan sekarang ini yang menjadi bintang pesta adalah Lisa karena Ratih sibuk memperkenalkan calon menantunya itu pada sanak keluarganya. Lisa jadi sangat tidak enak hati pada Ratih, tahu begini dia tadi pulang dulu untuk berganti baju, bukannya datang dengan masih memakai baju kerja berwarna ungu muda yang sempat jadi bahan olokan Bondan tadi siang, tapi hal itu dilakukannya karena kesibukan instalasi farmasi, dia bahkan hampir lupa dengan acara itu.

Arisan, perlu digarisbawahi, arisan atau ditulis dengan huruf capital, ARISAN adalah kegiatan yang sangat dibenci oleh Lisa. Kalau Lisa disuruh memilih antara kerja lembur atau arisan, dia pasti memilih kerja lembur. Dia tidak pernah betah di acara yang satu itu, jadilah dia sekarang cuma bengong-bengong melihat keadaan sekelilingnya dimana ibu-ibu kurang kerjaan saling pamer kekayaan suaminya atau bergosip. Ratih masih saja mengajaknya berkeliling untuk berkenalan dengan para tamunya,”Nah, ini adalah Rani Santoso, dia Ibu dari Armand,” kata Ratih saat memperkenalkan Rani. Lisa pun terkaget.

“Ibu di sini juga?” tanya Lisa pada Rani.

“Jadi kalian sudah saling kenal?” Ratih terkejut dengan tingkah Rani dan Lisa.

Rani mengangguk,”Kami berkenalan tadi pagi, aku menyeberang dengan asal hingga hampir tertabrak mobil Lisa.”

“Ah, Pak Seno keterlaluan sekali, seharusnya dia lebih hati-hati, kau harus menegurnya, Lisa.”

“Ah, sudahlah, Ratih, aku juga yang salah karena tidak hati-hati.”

“Jadi Armand dan Andre bersaudara?” tanya Lisa.

“Ya, kakek Andre adalah kakak  dari nenek Armand,” Ratih menjelaskan.

”Oo..” Lisa manggut-manggut. Seorang ibu-ibu rumpi menghampiri mereka, Lisa mencoba mengingat-ingat nama Ibu gembul itu, bukankah tadi Ratih sudah memperkenalkan mereka, tapi otak Lisa serasa buntu, banyak sekali nama yang harus dia ingat sore ini.

“Kau manis sekali, nak,”puji Ibu gembul itu sambil mengayunkan kipasnya,”Wajahmu pasti lebih cantik jika kau memakai jilbab seperti Nyonya Ratih.”

Sesaat Lisa memperhatikan Ratih, Wajah calon mertuanya itu memang sangat bijaksana dengan balutan jilbabnya, entah mengapa Lisa merasa sangat sedih sekali,”Saya akan mengambil makanan dulu,” Lisa undur diri dan segera menuju meja makan.

Memakai jilbab? Bukankah hal itu sudah pernah dilakukannya waktu SMA? Ya, dia ingat sekali waktu itu, dia sangat berniat sekali waktu itu, sampai akhirnya sesuatu memporak-porandakan niatan itu, membuatnya mempertanyakan kembali niat itu. Sungguh mungkin hal ini dikarenakan imannya kurang kuat atau apa pun itu dia tidak tahu. Saat sebuah keluarga menolaknya sebagai calon menantu hanya karena jilbab yang dia kenakan, belum lagi omongan calon kakak iparnya yang dengan pedas mengatakan pada calon suaminya,”Apakah kau sudah yakin kepalanya itu normal? Bisa saja telinganya cuma ada satu, atau rambutnya gundul!” dan anehnya calon suaminya itu sangat bodoh dengan mengatakan semua keberatan keluarganya itu padanya. Tapi Lisa masih bertahan dan berusaha menenangkan dirinya kalau mungkin ini cobaan atau mungkin ini ladang dakwah baginya, tapi saat peristiwa demi peristiwa terorisme muncul, kepercayaan calon suaminya mulai luntur, hingga dia memutuskan hubungan, dan ironisnya dia memutuskan itu hanya lewat SMS!

Masih lewat SMS, saat Lisa menanyakan apa alasan hingga harus memutuskan hubungan, apakah ada wanita lain? Atau karena jilbab? Lelaki itu masih diam, dan saat Lisa terus mendesak adanya alasan yang terungkap. Pria brengsek itu mengetik,”Dari awal itu sebenarnya aku sudah ilfill sama kamu, kamu bukan tipeku, kamu memakai jilbab, kamu terlalu kurus untukku.”

Cukup! Dasar lelaki brengsek! Seminggu lebih Lisa meratapi dirinya, meratapi fisiknya hingga dia membuka buku anatomi dan fisiologi manusia, dia menghitung berapa berat badan normal untuk wanita dengan tinggi 160 centimeter, ya.. itu adalah tinggi badannya dan mendapati bahwa berat badannya yang waktu itu tergolong ideal untuk wanita setinggi itu. Yang lebih parah adalah saat dia memvonis dirinya sendiri kalau dia menderita Achilles syndrome, sungguh dia harus menjalani terapi untuk keluar dari keterpurukan itu hingga dia mengambil keputusan yang paling bodoh yaitu menanggalkan jilbab. Dia seperti ingin membuktikan bahwa yang dipikirkan oleh lelaki brengsek dan keluarganya itu salah. Kepalanya tidak cacat, rambutnya bagus, otaknya juga masih waras hingga dia tidak mungkin terlibat aksi terorisme. Dan sekarang di sinilah dia, menjadi calon menantu dinasti Kusumadiharja, setelah kegagalan cintanya dengan lelaki brengsek itu dan Armand, dia menemukan Andre, Andre yang memujanya, Andre yang mencintainya dengan tulus tak perduli latar belakang keluarganya yang broken home dan tingkah lakunya yang kadang seenaknya. Andre yang memperlakukannya seperti barang antik yang mudah pecah hingga tak berani bertindak macam-macam yang merusak kesuciannya. Apalagi yang dia harapkan sekarang? Tidak! Dia tidak ingin wanita gembul itu merusak suasana hatinya sekarang. Dia sudah sangat tidak betah dengan suasana arisan, acara yang memang sangat tidak dia sukai sejak kecil.

“Bodoh! Bodoh! Bodoh! Ini bukan saatnya mengenang masa-masa itu,” Lisa berbicara sendiri sambil memukul-mukul kepalanya.

“Onti memang bodoh memukul-mukul kepala seperti itu,” suara itu sangat cempreng dan tidak enak didengar. Lisa membuka mata dan mendapati Sasa sudah berdiri di depannya. Anak berumur enam tahun itu sudah nyegir, sejak kapan dia memperhatikanku? Pikir Lisa.

“Hai, kau di sini juga?” tanya Lisa sadis.

“Ini rumah omaku, apa aku tidak boleh di sini?” ocehan Sasa sambil berusaha meraih potongan brownies di meja makan. Kakinya menjinjit karena meja makan itu terlalu tinggi untuknya lalu dia meloncat-loncat dan Lisa masih cuek saja dengan tingkah anak kecil yang bawel itu.

“Tolong ambilkan dong, Onti,” pinta Sasa

“Ha! Kau ternyata minta tolong juga.”

“Terpaksa.”

“Apa?”

“Ambilkan!” bentak Sasa.

“Ambil sendiri!”

“Hai ternyata kalian di sini?” tanya Yana saat mendapati Lisa dan Sasa di dekat meja makan,”Apa yang kalian lakukan?”

Lisa tersenyum dan mengelus-elus kepala Sasa, dia kelihatan sangat munafik dengan tingkahnya itu, lalu dia mengambil sepotong brownies untuk diberikan pada Sasa,”Oh, enggak, Kak, Sasa Cuma minta tolong diambilkan ini.”

Sasa segera berlari setelah merebut brownies itu dari tangan Lisa.

“Wah, kalian memang benar-benar akrab, ya. Aku jadi semakin tenang menitipkan Sasa padamu.”

Lisa cengar-cengir, sekali lagi dia tidak habis pikir jika saat itu tiba, saat Sasa harus tinggal selama seminggu di rumahnya. Seorang teman lama menyapa Yana, dia akhirnya meninggalkan Lisa yang masih sibuk memilih-milih snack yang ingin dia makan. Sasa memperhatikannya dari seberang kolam renang. Lisa sadar kalau anak bawel itu memperhatikannya, Sasa bahkan mengikutinya dari belakang. Dengan risih Lisa mendelik dan mengacungkan tinjunya ke arah anak itu.

Lisa memang sangat canggung dan terkesan cuek jika di depan anak kecil. Dia masih ingat, teman-teman kuliahnya selalu merasa gemas jika melihat anak kecil yang lucu. Mereka langsung mendekat, menciumi atau menggendong jika ada anak kecil yang lucu di dekat mereka. Bahkan kadang mereka cuma sekedar berujar,”Ih.. lucunya….” Tapi lain dengan Lisa, saat teman-temannya mengerubuti anak kecil yang lucu, dia cuek-cuek saja, pandangan matanya seperti bicara,”Tau, ah.. gelap!” Ternyata ada juga salah satu temannya yang menyadari keanehannya itu, dia bahkan mengkritik Lisa habis-habisan, menjudge kalau rasa keibuannya belum muncul dan harus segera dimunculkan. Lisa tak ambil pusing dengan kritikan temannya itu, “Bodo amat, emang gue pikirin.”

Tiba-tiba Sasa mendekatinya lagi, mau apa lagi, nih anak, pikirnya.

“Kenapa onti mau menjagaku selama Papa Mama pergi?”

“Apa?”

“Bukankah Onti tidak suka padaku?”

Lisa tersenyum, Sasa melengos, “Senyuman yang tidak enak dilihat.”

“Aku memang tidak suka denganmu, tapi aku juga tidak tega kalau kau sendirian di rumah.”

“Aku bisa tinggal bersama Ongkel,” Sasa ngeyel.

“Hah? Bersama Ongkel? Yang benar saja, yang ada kamu hanya dicuekin kalau Ongkelmu itu sibuk.”

“Aku tidak apa-apa tinggal sendiri, aku kan sudah besar!”

Yiah… anak ini benar-benar ngeyel.

“Oh ya? Ambil brownis di meja makan saja musti dibantu, masih bilang sudah besar!”

Kali ini Sasa tidak bisa menjawab, mulutnya megap-megap. Lisa tersenyum puas, merasa menang di depan anak bawel itu lalu meninggalkan Sasa yang perhatiannya mulai tertuju pada mobil-mobilan yang dimainkan oleh anak Dito. “Emang gue pikirin!”

—%END OF PART%—

 

THE HOSPITAL

3. Pharmacist on The Duty (Part 4)

Saat waktu menunjukkan pukul enam pagi, Lisa terbangun dari tidurnya.  Dia begitu shock saat melihat jam dinding di kamarnya, segera dia sholat subuh dan memulai aktifitas paginya bersiap-siap ke rumah sakit. Saat dia sudah siap dengan baju kerjanya dan mulai membuka lemari es untuk mencari makanan sebagai sarapan, tiba-tiba terdengar bel rumahnya berbunyi. Lisa yang memang tinggal sendiri segera membuka pintu.

“Selamat pagi, Bu Lisa,” sapa tamu Lisa. Rupanya Pak Seno, sopir keluarga Andre. “Saya disuruh Pak Andre mengantarkan itu?” sambung Pak Seno sambil menunjuk sebuah mobil yang terparkir di pekarangan rumah Lisa. Lisa berjalan menuju ke arah mobil itu.

“Pak Andre memilihkan mobil ini untuk anda?” kata Pak Seno saat Lisa menoleh ke arahnya dengan pandangan butuh penjelasan.

Lisa masuk ke dalam rumah untuk mencari HP-nya, dan segera menelephon Andre.

“Kau dimana?” tanya Lisa saat Andre mengangkat telephone.

“Aku sudah di airport, menunggu kedatangan pesawat.”

“Kau membelikan mobil untukku?”

“Oh, mobil itu? Ya, aku memang membelinya untukmu.”

“Kau seharusnya tidak melakukan itu tanpa persetujuanku,” omel Lisa

Andre terdengar menghela nafas, “Kalau aku memberitahumu sebelumnya, kau pasti menolak. Anggap saja itu hadiah dari calon suami.”

“Kau tahu kalau aku tidak suka menerima hadiah dari laki-laki, kan?”

“Hai, hai, laki-laki apa maksudmu, aku ini calon suamimu!”

Mereka masih saja berdebat dengan ego masing-masing, hingga panggilan kedatangan pesawat yang akan ditumpangi Andre terdengar. “Sudahlah, aku harus masuk pesawat, kau juga harus kerja,kan? Sementara Pak Seno akan menjadi supirmu. Aku kan tahu kau belum bisa nyetir. Sesampainya aku dari Batam, aku akan mengajarimu menyetir.”

Andre segera menutup telephone. Lisa mendengus kesal, “Kebiasaan yang tidak baik.”

Lisa segera berangkat ke rumah sakit. Mau tidak mau dia menerima mobil itu. Kini dia tengah duduk manis di dalam mobil mewah itu. Dia tidak begitu memperdulikan merk, atau keistimewaan mobil itu karena memang dia tidak tahu menahu masalah mobil. Kini dia tidak perlu menuju halte untuk menanti bus. Tidak ada lagi bus penuh sesak yang harus dia tumpangi. Tidak harus berjejal berebut kursi dengan penumpang lain lagi karena sekarang kursi belakang ini adalah miliknya dan tentu saja kursi di belakang kemudi itu, segera akan didudukinya jika Andre telah berhasil melatihnya mengendarai mobil. Sembari menikmati pemandangan di luar, angannya melayang ke masa-masa silam, di mana dia sebagai seorang mahasiswi sederhana yang selalu harus bangun pagi demi mengejar kereta api “Prambanan Ekspress” yang jam pertama, atau harus berhujan-hujan menanti bus yang tak kunjung datang dan tentu pula gaya hidupnya waktu S1 yang harus jalan kaki ketika berangkat atau pulang dari kampus karena kondisi keuangannya yang minim.

Dia tersenyum, segera di pasangnya headphone di telinganya, memutar MP5 yang memperdengarkan lagu-lagu pop korea. Lagu-lagu itulah yang selama ini  menemaninya dalam setiap perjalanan. Bahkan teman-teman kuliahnya dulu hafal betul dengan kegemarannya yang satu ini, biasanya mereka protes padanya. Mereka bilang apa asyiknya mendengarkan lagu yang kita tidak tahu artinya tapi dia tidak ambil pusing. Baginya bahasa korea itu sangat menggelitik di telinga, sebenarnya bukan hanya bahasa korea tapi juga bahasa jepang dan spanyol. Dia bahkan bisa menirukan lagu itu walau pun tidak begitu tahu artinya.

Lisa begitu terlena dengan suasana yang kini dia alami, diperintahkannya Pak Seno untuk mematikan AC mobil lalu dia membuka kaca jendela mobil. Angin pagi segera menyambutnya, mengkibarkan rambut panjangnya. Dia menarik nafas panjang. Berusaha memenuhi paru-parunya dengan oksigen yang mungkin masih tersisa di Jakarta yang kian polusi.

“Kalau ibu mau, saya bisa sekalian membuka knop atap mobilnya?” tanya Pak Seno.

“Apa? Memangnya bisa?”

“Tentu saja, bisa, Bu. Dengan sekali pencet tombol ini, knop atap terbuka. Bagaimana?”

“Boleh, boleh,” jawab Lisa sambil terkekeh.

Mobil itu terus saja melaju mulus dan saat mereka tiba di tikungan dekat rumah sakit….

Ciiit………….

Pak Seno tiba-tiba merem mendadak. Lisa yang memang tidak siap, sontak tubuhnya terdorong ke depan. Untung saja mobil berhenti tepat waktu, dalam jarak kira-kira tiga puluh centimeter di hadapan seorang wanita paruh baya.

“Ada apa, Pak,” tanya Lisa pada Pak Seno setelah pulih dari keterkejutannya.

“Wanita itu menyeberang mendadak, Bu.”

Lisa turun dari mobil untuk menghampiri wanita itu.”Ibu tidak apa-apa?”

Wanita itu terlihat sangat pucat. Rona ketakutan masih tampak jelas di wajahnya. Nafasnya yang tampak tidak teratur membuat Lisa semakin panik.

“Akan lebih baik jika Ibu ikut saya ke rumah sakit,” ajak Lisa sambil tersenyum. Dia lalu membimbing wanita itu memasuki mobilnya.

“Saya memang akan menuju rumah sakit, nak,” kata Wanita itu setelah mobil melaju kembali.

“Oh, kebetulan kalau begitu.”

“Iya, cuma check kesehatan rutin.”

Karena merasa bersalah, Lisa menemani Ibu itu ke UGD, dan sesampainya di UGD…

“Ibu! Ada apa Ibu kemari?” Armand tiba-tiba panik melihat wanita itu di UGD, dan Lisa juga tak kalah terkejut karena ternyata wanita itu adalah Rani, Ibunda Armand. Dia memang belum pernah bertemu Ibu Armand karena dia dan Armand dulu sama-sama anak rantau waktu kuliah di jogja. Lisa dari Solo, dan Armand dari Jakarta.

“Jadi wanita ini……,” bisik Lisa dalam hati.

“Ah, tidak apa-apa, Armand,” jawab Rani menenangkan putranya.

“Maaf,” Lisa mulai angkat bicara, “Sebenarnya tadi Ibu anda hampir tertabrak mobil saya, Ibu kelihatan sangat ketakutan sekali jadi saya bawa kemari.”

“Kok bisa, Lis!” protes Armand.

“Ah, sudahlah.” Rani mengibaskan tangannya.”Ibu yang salah karena menyeberang tanpa menoleh kiri kanan, Armand.”

“Bukankah sudah saya katakan agar Ibu menunggu saya pulang dari rumah sakit, saya sudah berjanji mengantar Ibu ke sini, kan?” omel Armand sembari memeriksa keadaan Ibunya dengan stetoskop.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Lisa setelah terlihat Armand selesai memeriksa.

“Ibuku sudah tidak apa-apa. Maaf kalau merepotkan, Lisa.”

Rani terkejut.

“Lisa?” tanya Rani dalam hati, sesaat dia teringat dengan nama gadis yang tertulis di surat Armand.

“Baiklah kalau begitu, karena Ibu sudah tidak apa-apa dan ini adalah waktunya saya bekerja, serta di sini sudah ada seseorang yang bisa saya percaya untuk menjaga Ibu,” Lisa tersenyum.

“Maka saya akan segera undur diri,” sambung Lisa. “Maafkanlah atas keteledoran sopir saya.”

Rani mengibaskan tangan. “Ah sudahlah, seperti yang saya bilang tadi. Saya yang salah.”

Lisa segera berlalu dari Ibu dan anak itu. Gedung instalasi farmasi masih sepi karena rupanya dia datang terlalu pagi. Saat dia hampir sampai di ruang kerjanya, samar-samar terlihat seseorang memasuki ruang kerjanya. Lisa berhenti lalu berjalan mengendap-endap untuk mengintai siapa orang itu dan apa yang hendak dilakukannya, sesaat dia berdiri di dekat jendela kaca dengan gorden yang agak terbuka. Dari posisi itu dia mampu melihat apa yang dilakukan orang itu walau tidak leluasa. Penyusup  itu terlihat melakukan sesuatu dengan bagian bawah meja kerjanya.  Saat orang tidak bertanggungjawab itu hendak pergi, Lisa segera sembunyi di bufet  yang ada di dekat meja kerja sekretarisnya. Buffet tersebut cukup besar untuk menutupi tubuhnya yang kecil dan Lisa cukup cepat menyimpulkan bahwa penyusup itu akan kembali ke arah  yang berlawanan dengannya mengingat dari mana arah penyusup itu berasal.

Lisa segera memasuki ruang kerjanya. Dia lega saat segala sesuatu di ruangan itu masih dalam posisi semula.

Meja kerja, apa yang dia lakukan di bawah meja kerja?

Lisa membungkukkan badannya di depan meja yang dimaksud. Saat dia mencari, tampaklah sebuah tape perekam tertempel di sana dengan posisi on. Dia menyipitkan mata lalu duduk di kursi kerjanya.

Aku tak habis pikir, aku hanyalah apoteker yang bekerja di rumah sakit tetapi perlakuan mereka terhadapku bagaikan aku ini pejabat korup atau sesuatu yang bisa mengancam posisi mereka.

Dia menyandarkan punggungnya di kursi itu sambil tersenyum-senyum.

—–BERSAMBUNG—–