DINASTI LEE II (Part 12)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 12

Song of the part :

 

Green, Green Grass Of Home

 

The old home town looks the same
As I step down from the train
And there to meet me is my Mama and Papa
Down the road I look and there runs Mary
Hair of gold and lips like cherries
It’s good to touch the green, green grass of home

Yes, they’ll all come to meet me
Arms reaching, smiling sweetly
It’s good to touch the green, green grass of home

The old house is still standing,
Though the paint is cracked and dry
And there’s that old oak tree that I used to play on
Down the lane I’ll walk with my sweet Mary
Hair of gold and lips like cherries
It’s good to touch the green, green grass of home

Then I awake and look around me
At four gray walls that surround me
And I realize that, yes I was only dreamin’
For there’s a guard and there’s a sad old padre
Arm and arm we’ll walk at daybreak
Again I’ll touch the green, green grass of home

Yes, they’ll all come to see me
In the shade of that old oak tree
As they lay me ‘neath the green, green grass of home

Sung By Tom Jones

 

 

Keesokan paginya. Min Ho serasa bagai lelaki baru. Dia yang terbangun lebih dulu dari Sun, pergi ke dapur setelah mandi dan berpakaian rapi. Dibawakannya sarapan Sun ke kamar mereka. Sun yang mencium bau masakan mulai membuka mata, dan terkejut mendapati suaminya itu sudah sangat rapi, tersenyum lebar ke arahnya dengan baki di tangan. Dengan memegangi perutnya, Sun berusaha duduk menyender di ranjang.

“Hati-hati, Baby,” Min Ho membantunya setelah meletakkan baki sarapan itu di atas meja kecil di kiri ranjang.

“Kau sudah bangun, kenapa tidak bangunkan aku,” Sun mulai ngambek. Min Ho meletakkan baki sarapan di pangkuannya,”Seharusnya aku yang melakukan ini semua padamu, Min Ho-ssi. Aku yang harusnya bangun lebih dulu.”

Min Ho mengibaskan tangannya,”Untuk sementara lupakan protokol suami-istri yang membosankan itu, kau pasti lelah setelah semalam. Ayo, sekarang makanlah.”

Sun mulai menyendok bubur di pangkuannya, pada saat itulah selimut yang menutupi dadanya agak tersingkap. Min Ho yang melihat hal itu kini menyelipkan satu tangannya ke bawah selimut itu dan merasakan kedua bagian tubuh itu menyambut belaian tangannya dengan hangat. Getaran yang menjalari sekujur tubuhnya mulai tak bisa lagi dia bendung, dan ia mengangkat baki sarapan itu lagi ke meja, lalu mencium lagi bibir kemerahan Sun dan menjalarinya sampai leher.

“Min Ho-ssi, apa kau akan melakukannya lagi?” tanya Sun parau. Susah payah, dia berusaha meredam hasratnya karena sentuhan itu. Terus terang, dia mengkawatirkan kandungannya jika Min Ho tetap tak bisa menahan diri seperti ini.

“Hm…,” Tapi Suaminya itu tidak menjawab, semakin asyik mencumbu dadanya, hingga otak dan hasratnya beradu antara akal sehat dan nafsu. Dan akhirnya, jantungnya berdetak cepat diantara kebimbangan itu.

“Min…  ah… ,” Sun memekik saat gigitan kecil terasa. Min Ho semakin menginginkannya, hingga lelaki itu menarik tubuhnya sampai terbaring kembali. “Aku mohon…, ingat… anak kita,” Sun mengingatkan dengan susah payah, jantungnya berdegup semakin kencang, tapi rupanya peringatan itu tertelan begitu saja karena nafsu suaminya sudah menyerang ubun-ubun. Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk oleh seseorang, dan hal ini sukses membuat Min Ho terpaksa mematahkan nafsunya.

“Mom.. , Dad… , Are you there?”

Wajah Min Ho tampak frustasi. Sun tersipu-sipu melihatnya, dalam hati, Sun merasa terselamatkan oleh putranya. “Anak tengil itu mengganggu saja,” gerutu Min Ho kemudian, lalu membantu Sun duduk kembali dan meletakkan baki sarapan di pangkuan istrinya itu.”Teruskan makanmu. Biar aku yang mengurus kemauan anak itu. Pagi ini kau sarapan di kamar saja, Baby. Tidurlah kembali jika masih lelah. Jam sepuluh nanti kita ke dokter untuk memeriksakan kandunganmu, aku tiba-tiba kawatir setelah kekonyolan kita semalam.”

Dahi Sun berkerut seketika. Baru semenit yang lalu Min Ho bernafsu menyentuhnya lagi, tapi kenapa secepat itu akal sehat suaminya kembali?

“Mom, Dad, are you there?” sekali lagi Min Jae mengentuk pintu. Min Ho semakin jengkel,”Ne! Sebentar, tidak sabaran banget?”

Sun terkekeh mendengar ucapan Min Ho. Suaminya itu akhirnya berjalan ke arah pintu. Min Ho keluar kamar, menutup pintu, lalu berdiri bersandar di kusen pintu,”Waeyo?”

“Waktunya sarapan, Dad. Halmoni sudah menunggu di ruang makan.”

Min Ho mendengus sebal,”Apa perlunya kau sendiri yang memanggil kami. Suruh saja pelayan.” Anak di depannya itu malah nyegir kuda,”Sebenarnya ada juga hal yang ingin ku sampaikan.”

“Oke. Kita sarapan sekarang,” ajak Min Ho. Dia mulai menggiring Min Jae ke ruang makan.

“But, Mom tidak sarapan?”

“Anyi, biarkan dia istirahat, kau tidak berpikir kalau dia capek berdiri terus di pestamu?”

Min Jae hanya bisa mengangguk. Mereka akhirnya tiba di ruang makan dimana Je Ha sudah menunggu. Sesekali timbul gurauan di antara mereka, tapi Min jae belum juga mengungkapkan hal yang mengganjal di hatinya. Dia tidak ingin merusak suasana bahagia itu. Min Ho yang sudah mulai menyelesaikan makannya, mulai mengingat pembicaraan Min Jae di depan pintu kamar. “Kau bilang ada yang ingin kau bicarakan?” tanyanya pada Min Jae.

“Yes, dad.”

“Katakan saja,” Min Ho mulai memandang serius. Je Ha mengamati roman wajah Min Jae yang juga berubah serius, hingga akhirnya Min Jae bersuara,”Min Jae akan ke Beijing besok, untuk mengurus sesuatu.”

“Sesuatu? Apa?” Je Ha jadi penasaran.

“Surat-surat Min Jae perlu legalisir,” Min Jae masih juga berteka-teki.

“Surat apa?” Kali ini Min Ho semakin tidak sabar, dia tidak ada waktu buat menebak-nebak lagi.

“Ijazah, piagam penghargaan, semuanya. Setelah itu Minjae ke Amerika, ada beasiswa dari Harvard untuk program doctor.”

Kedua orang tua di depannya terkejut. Mereka tidak menyangka sampai sejauh itu pemikiran bocah ini. “Ini pasti alasanmu untuk menghindari kami, bukan?” Min Ho masih saja mencurigai putranya.

“No, Dad. Min Jae sudah memikirkan hal ini jauh-jauh hari, bahkan beasiswa ini sudah Min Jae dapatkan sehari sebelum pindah ke Lee Manshion. Min Jae mulai kuliah musim dingin ini.”

Min Ho jadi mengerti alasan Min Jae menunda kepindahannya pada waktu itu. Je Ha masih tidak bisa terima keputusan cucunya,”Kenapa kau harus mengambil program doctor, apa kau ingin menjadi akademisi? Ingat, kau harus meneruskan Lee Corporation.”

Min Jae menghela nafas,”Ada rasa penasaran untuk meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Itu saja, Halmoni. Min Jae tidak pernah merasa puas.”

Min Ho tersenyum bangga, dia mulai menunjuk-nunjuk Min Jae,”Hm, ini baru putraku. Kau benar-benar seorang Lee.”

“Oke,” Akhirnya Je Ha pasrah juga,”Pergilah kau ke sana, tapi ingat, pulang kembali ke mari dan jadilah penerus Lee.”

Min Jae tersenyum, tiba-tiba dia ingin menggoda neneknya dengan suatu pemikiran, hingga terlontarlah wacana itu,”Lalu bagaimana dengan keluarga Goo? Mereka juga perlu penerus. Bisa saja Grandpa di New York mempengaruhiku selama aku di sana.”

Kedua orang itu meletakkan sendok bersamaan. Perkataan bocah ini ada benarnya juga. Akan ada perebutan penerus, dan tidak mungkin bayi perempuan yang masih di kandungan Sun itu penerus Goo, karena pasti akan menjadi hak suaminya jika ia menikah kelak.

“Ini kesalahan. Benar-benar kesalahan, Min Ho-a,” Je Ha mulai gusar. Min Ho menepuk-nepuk punggungnya. Je Ha masih saja mendumel,”Oh, kenapa kalian sama-sama anak tunggal, dan kenapa kalian musti terpisah bertahun-tahun. Jika saja kau tidak bodoh, jika saja Bo Young tidak muncul…

“Oemma… ,” Min Ho memanggil datar agar Je Ha tidak meneruskan perkataannya tentang Bo Young,”Untung saja Sun tidak di sini, Oemma. Karena jika dia mendengar nama itu lagi, dia akan sangat sedih.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan?” Je Ha bertanya, hatinya benar-benar putus asa. Min Ho memandangi putranya,”Kau yang harus memilih,”katanya kemudian. Min Jae menampakkan tampang berpikir,”Ehm…. Kita lihat saja nanti, jika tidak ada titik temu, bukankah lebih baik GMJ dan Lee Corporation bersatu?”

“Kau membuat kami jantungan saja,” Min Ho terlihat kesal. Min Jae tersenyum penuh kemenangan. “Tapi itu pilihan terakhir, Dad. Kita tidak akan melebur jika ada putra Lee yang lain.”

Min Ho mengibaskan tangannya, tidak mungkin ada anak lagi mengingat usia Sun,”Kau sudah bicarakan rencana kuliah dengan Ommamu?’

Min Jae menggeleng,”Mom pasti tidak setuju.”

“Bisa kupastikan itu,” Je Ha mengamini perkataan Bocah cerdas itu.

“Ini tugasmu untuk meyakinkannya, Dad.”

Min Ho menghela nafas,”Baiklah, akan kubuat Omamu mengerti.”

Usaha Min Ho berhasil karena istrinya akhirnya bisa menerima keputusan Min Jae. Dengan berat hati, Sun melepas keberangkatan Min Jae di bandara Incheon, bahkan dia menangis.

“Come on, Mom. I’ll be there just for two years,” Min Jae jadi tak enak hati meninggalkan Ibunya yang sesenggukan itu. Sun masih saja menangis di pelukannya. Maklum, baru kali ini dia akan berpisah lama dengan Min Jae, dia sebenarnya ingin ikut, jika saja Kim Hyun Joong, dokter kandungannya tidak mewanti-wanti agar tidak melakukan perjalanan jauh.

“Cepat pulang, ya?” Sun masih saja meminta kepastian di dada bidang itu. Min Ho meraihnya, lalu akhirnya pelukan ibu dan anak itu terlepas, kini Sun beralih ke pelukan suaminya, masih saja terisak.

“Mom, kau tidak akan sendirian nanti. Dongsaeng akan segera lahir, kan?” Min Jae masih berusaha menghibur Sun. Ibunya itu mengangguk. Lalu Min Jae memandang ayahnya,”Jaga Mom selama aku pergi, Dad.”

Min Ho mengangguk. Min Jae memeluk neneknya sebelum menuju pesawat. Dia melambaikan tangan dengan senyuman yang tersungging di wajahnya.

“Don’t worry, Mom. I’ll be back in two years,” serunya lantang. Hingga akhirnya tubuhnya terbang, bersama pesawat yang ditumpanginya.

Musim panas di Korea Selatan, dua setengah tahun kemudian.

Min Ho dan Je Ha tampak berdiri di Toproof Lee Mansion, di tengah-tengah mereka, berdiri gadis kecil yang sangat cantik dengan kulitnya yang putih bagai satin dan rambutnya yang hitam legam itu, sesekali mata lebarnya mengerjap, sementara bibir mungilnya masih saja mengulang pertanyaan yang sama sejak tiga puluh menit yang lalu,”Kapan Oppa datang?”

“Sebentar lagi, Hye Na,” Jawab Je Ha dengan lembutnya. Min Ho hanya memandang saja. Dalam hati mulai capek menjawab pertanyaan yang sama terus. Gadis cilik itu malah meruncingkan bibir,”Uh…, Oppa lama sekali.” Seiring gerutuan itu, halikopter datang mendarat di depan mereka. Dan Min Jae turun dari halikopter itu dengan lengan terlentang.

“Oppa!” gadis cilik itu berteriak dan menghambur ke pelukan Min Jae. Tawa bahagia terdengar dari mulut keduanya, saat Min Jae memutar-mutar tubuhnya sementara gadis cilik itu berada di pelukannya. Setelah puas membuat adiknya takut sekaligus senang, Min Jae mulai menurunkan Hye Na dan berjalan menuju Je Ha dan Min ho.

“Harmoni…” Min Jae memeluk  Je Ha. Neneknya itu tampak sehat walau kerentaan menerpa, sepertinya Sun merawat neneknya dengan sangat baik. Saat sudah puas melepas kangen dengan Je ha, Min Jae memeluk Min Ho. Dan kekaguman terpancar untuk ayahnya itu, wajah ayahnya semakin bersinar saja, dan makin tampak kewibawaan di rona wajah itu. Kini dia yakin, bahwa seorang pria terhebat di dunia pun, tidak bisa hidup tanpa wanita yang dicintainya. Inilah yang tampak dari Min Ho sekarang, kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga yang membuat Min Ho awet muda.

“Oppa… , oleh-olehku mana?” protes adik ciliknya. Min Jae tertawa. Dia jadi gemas dan mencubit pipi Hye Na. Lima bulan yang lalu, saat orang tuanya dan adik ciliknya ini menghadiri penobatannya sebagai Doktor, dia memamerkan Hye Na pada teman-temannya. Dan mereka terkagum-kagun melihat Hye Na. “Just like Japanesse Doll,”seru Beth, temannya dari Kanada waktu itu. Dan James, temannya yang terkenal playboy juga menggoda,”I won’t marry until you grow up, beautifull girl.” Dan Min Jae jadi marah setengah mati mendengar ucapan itu, dia tidak rela jika saja Hye Na sampai mendapatkan suami seperti James yang suka gonta-ganti perempuan.  Tiba-tiba Min Jae menyadari ketidakhadiran Sun di toproof.”Where is Mom?” Min Ho tersenyum padanya,”Dia menunggumu di taman, kita akan piknik di taman Lee Manshion menyambut kedatanganmu.”

“Sebenarnya dia ingin ikut menyambutmu, Min Jae. Tapi Harmoni melarangnya. Tak baik buat kesehatannya,” terang Jeha.

“Apa mom sakit?” Min Jae jadi kawatir.

“Kau lihat saja nanti,” Min Ho malah membuatnya penasaran,”Oke, ayo kita temui Mom!” Min Jae berteriak girang, dia bahkan menggendong Je ha agar lebih cepat sampai taman mengingat jalan Je Ha dengan tongkat yang lambat seperti siput itu. Hye Na melihat semua itu dan cemburu,”Uh… kenapa Harmoni yang malah digendong?”

Min ho terbahak mendengar ocehan Hye Na, “Kau juga mau digendong? Sini Appa gendong!” Min Ho meraup gadis cilik yang cerewet itu, lalu menciumi perut Hye Na hingga putrinya cekikikan karena geli.”Oppa pasti bawa oleh-oleh banyak buat Hye Na,” anak itu masih saja mengoceh tentang oleh-oleh. Mereka mulai turun dari toproof dengan menggunakan lift,”Kenapa hanya oleh-oleh yang kau pikir, mungil… masih untung Oppamu mau kembali ke Korea.”

“Mwo?” Hyena tidak mengerti maksud ucapan Min Ho. Sebenarnya Min Ho mengkawatirkan sesuatu, yaitu keadaan negeri itu yang semakin kacau. Beberapa rekan bisnisnya bahkan sudah emigrasi ke luar negeri, hanya sedikit keluarga tua di Korea saja yang masih bertahan. Apa yang akan terjadi pada keluarganya nanti, semuanya terserah pada Min Jae. Apa pun keputusan putranya mengenai Lee Corporation, dia ikut saja.

“I miss you, Mom,” Min Jae memeluk Sun saat mereka bertemu di taman Lee Mansion yang luas.”Really really miss you!” Sun tertawa bahagia, dia membelai kepala anaknya itu lembut. Min Jae merasa ada sesuatu yang mengganjal di perutnya saat dia memeluk Sun, lalu dilepasnya pelukan itu dan mulai melihat perut Sun yang membuncit,”Mom, are you pregnant?”

Sun mengangguk senang,”Ne, Min Jae. Oemma hamil.”

“Wow, sudah berapa bulan, Mom?”

“Enam bulan.”

“Enam bulan? Kenapa tidak mengatakan apa-apa padaku saat wisuda lima bulan yang lalu?”

Sun tersenyum,” Seperti biasa, Oemma terlambat mengetahui kehamilan. Tahu-tahu Oemma pingsan setelah tiba di Incheon.”

Je Ha mengangguk. Sesaat dia teringat kejadian lima bulan yang lalu. Dia yang menunggu kedatangan mereka di toproof tiba-tiba dikejutkan oleh telepon dari Min Ho yang mengabarkan bahwa Sun pingsan di bandara dan dibawa ke rumah sakit, semakin terkejut lagi, saat mendengar penyebab pingsannya Sun waktu itu. Dia yang mengkawatirkan keadaan Sun, marah sekali pada Min Ho. “Hm… saat harmoni tahu Ommamu hamil lagi, halmoni memarahi Appamu habis-habisan. Bagaimana bisa dia membuat Oemmamu hamil lagi di usia sekarang. Tentu sangat membahayakan hidupnya.”

“Sudahlah, Oemma. Semua ini sudah kami bicarakan berdua. Aku bahagia di kehamilan ini.”

Min Ho yang baru tiba ikut nimbrung juga dalam obrolan itu, dia menurunkan Hye Na dan anak itu sudah mulai membuka keranjang bekal.

“Its great, Mom. Kali ini laki-laki atau perempuan?” tanya Min Jae.

“Dua-duanya, Min Jae,” jawab Min Ho

“What a surprise! Twin!”  seru Min Jae tak percaya.

Min Ho mengangguk-angguk, “Kau boleh ribut dengan namdoangsaengmu nanti, hahaha.”

 Min Jae jadi meruncingkan bibirnya. Sun mengibaskan tangan,”Sudahlah, Ayo kita makan, Aku sudah sangat lapar.”

Mereka duduk di tikar yang tergelar di atas rumput, di bawah pohon besar yang rindang dan mulai membuka bekal yang sudah disiapkan. Sun segera sibuk menyuapi Hye Na. Anak itu menggeleng,”Hye Na makan sendiri, Oemma.”

“Hahaha, anak pintar,” Min Jae mengucek rambut adik kecilnya, lalu menerima sepiring makanan yang disodorkan oleh Je Ha. Sun tiba-tiba merasa mual melihat daging di piring itu yang terlihat sangat berlemak, tapi berusaha menahannya, hingga matanya berair. Min Jae yang mengetahui hal itu menepuk-nepuk punggungnya, lalu menjauhkan makanan itu dari penglihatan Sun.

“Gumawo, Sayang,” Sun tersenyum dengan mata berbinar ke arahnya. Min jae mengangguk, lalu berbalik membelakangi Sun agar Mom-nya itu tidak melihatnya memakan daging sehingga merasa mual kembali. Sementara Hye Na dan Min Ho makan sambil sesekali berkelakar. Min Jae merasa menjadi anak yang paling beruntung sedunia. Dia tidak rela jika kebahagiaan itu lenyap begitu saja hanya karena orang-orang politik bodoh yang membuat suasana kacau di korea. Dia akan membuat keluarga ini pergi sejauh mungkin menghindari hal itu. New York dengan senang hati menerima mereka. Itu sudah Min Jae pikirkan jauh-jauh hari, dia akan memindahkan pusat Lee Corporation ke New York, berdampingan dengan GMJ’s corp lalu mereka sekeluarga pindah ke sana. Tentu yang ada hanyalah kebahagiaan. Dia, orang tuanya, harmoni, Hye Na serta adik-adik yang akan lahir nanti.

Namun Min Jae ingin melupakan semua itu sekarang. Dia ingin menikmati kebersamaan keluarganya di taman berumput itu, hingga dengan riang dia kini bermain kejar-kejaran dengan adik ciliknya, tak perduli posisinya sebagai remaja sekarang. Dan Je Ha sudah mulai mendekati tanaman-tanaman mawarnya untuk diurus.

Sementara Sun masih duduk di atas tikar dan Min Ho merebahkan diri dengan posisi kepala di pangkuannya. Sesekali tampak Min Ho mengelus dan menciumi perutnya. Sun tertawa-tawa saat tingkah kedua anaknya yang berkejaran itu serasa lucu, lalu teringat akan impiannya selama ini.”Apakah kita berada di surga, Min Ho-ssi?”

“Mwo?” Min Ho tidak mengerti maksud ucapannya. Sun masih saja membelai rambut Min Ho lembut dan memandang anak-anak yang kini bermain petak umpet itu,”Lagu itu, Green grass of home menjadi kenyataan sekarang.”

“Kenyataan untukku, Baby,” Min Ho mencium perutnya lagi,”kira-kira akan mirip siapa bayi laki-laki dalam perut ini? Jika sifatnya mirip denganku, kau pasti repot sekali nantinya.”

Sun tertawa lagi mendengar ocehan Min Ho, “Aku senang jika sifatnya mirip denganmu. Karena aku mencintaimu. Terima kasih telah mempercayai rahim ini untuk melahirkan anak-anakmu, Min Ho-ssi.”

Min Ho bangkit, lalu duduk merangkul Sun,”Kadang ku berpikir kebaikan apa yang kulakukan di masa lalu hingga ku begitu beruntung mendapatkan istri sebaik dirimu.”

“Jangan berlebihan, Min ho-ssi.”

Min Ho menatap Sun begitu dalam,”Tidak,Baby. Kau terlalu baik untukku.”

Tangan Sun mulai terangkat, dan mengelus pipi suaminya,” Bukankah itu yang semestinya wanita lakukan, Min Ho-ssi? Menghormati suaminya, mendidik dan menyayangi anak-anaknya. Tentu hal itu merupakan ibadah terindah bagiku.”

“Demi Tuhan, Baby. Untung saja ku menikahimu sebelum kau memutuskan jadi biarawati.” Mereka berdua tertawa bersama mendengar kekonyolan ucapan Min Ho.

“Kira-kira apa langkah Min Jae untuk Lee Corporation?” tiba-tiba Min Ho mengkawatirkan keadaan keluarganya nantinya. Sun menggeleng,”Entahlah, menurutmu?”

Min Ho memandang Min Jae yang masih bermain petak umpet dengan Hye Na,”Apa pun keputusannya nanti. Aku mendukung saja. Semua orang koar-koar tentang nasionalisme. Sangat munafik, padahal dibalik semua itu, mereka juga siap melarikan diri, bahkan mereka menyimpan rekening di negeri yang aman seperti Swiss, misalnya. Kenapa kita tidak?”

Sun mengunci wajah tampan Min Ho hingga menoleh ke arahnya,” Aku serahkan saja semua pada kalian. Di mana pun kita nantinya, asalkan bersamamu dan anak-anak. Ku pasti bahagia.”

Min Ho tersenyum,”Gomawo, Baby. Semua pasti baik-baik saja percayalah padaku… percayalah… ” Dan Min Ho mengecup bibir merah itu, sebuah ciuman kecil yang seperti membujuk, lalu menuju ciuman yang dalam dan lebih menuntut, disertai getaran cinta dan kebahagian dari hatinya. Sun membalas semua itu, di sinilah rumahnya sekarang, di hati Min Ho, suaminya. Lengan itu akan melindunginya selamanya. Senyuman itu akan selalu menenangkannya, lalu rumput hijau yang terhampar luas, tempat anak-anaknya, penerus generasi Lee bermain dengan riangnya menyambut kebahagiaan yang membentang di masa depan.

THE END

THANK YOU FOR THE ATTENTION FROM START TO THE END

WISH YOU ALL THE BEST

Sisicia

Iklan

DINASTI LEE II (Part 2)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 2

 

TOLAK

TERIMA

LEPAS

TAHAN

ABANDON

Apa, sih?

Tombol-tombol itulah yang selalu diklik oleh  pria, bukan, bukan pria, tapi anak, anak laki-laki yang sedang duduk menekuri laptopnya, di hadapannya terhampar rerumputan luas, dan keindahan danau itu, nampaknya hanya menarik perhatian sang Ibu yang duduk bersila sambil membuat sketsa, sesekali sang ibu tersenyum menoleh padanya, tentu saja tanpa dia hiraukan karena dia masih saja serius dengan layar beberapa inchi yang ada di depannya.

TOLAK, sekali dia memilih, setelah laporan online masuk ke program di komputernya, saat file lain masuk lagi, program navigasi langsung menghitung hal-hal yang diperlukan, nilai NPV tidak seperti yang diharapkan, bahkan RRR tidak menjanjikan, sekali lagi dia mengklik, TOLAK.

Itulah sebabnya dia lebih menyukai laporan softcopy, hardcopy itu urusan Ibunya, usia tigabelas tahun memang tidak memungkinkan untuk menandatangani dokumen-dokumen itu, di sini dia hanyalah otak, dan lewat tangan lembut Ibunya, semua rencana dalam otaknya diresmikan.

The Brain, itulah julukan yang diberikan oleh orang-orang yang mengenalnya, dia memasuki bangku sekolah dasar pada umur empat tahun, dan hanya menghabiskan masa dua tahun di pendidikan itu, SMP dan SMA pun dia selesaikan dalam total waktu tiga tahun, alhasil dia memasuki bangku kuliah mulai umur sembilan tahun, dan meraih gelar masternya dua bulan yang lalu.

Melalui laptopnya itu, dia mengetahui keadaan perusahaan Ibunya, berapa pemasukan dan pengeluaran, berapa proyek yang mesti memenuhi deadline, sampai pekerja yang membolos, dan dia tak segan-segan memecat orang, jika program itu menampakkan kata TOLAK, tidak manusiawi memang, tapi apa daya, bukankah dia hanya “otak”?

Sang Ibu rupanya sudah menyelesaikan sketsanya hingga memutuskan untuk berbaring di atas rumput, setelah tersenyum ke arah anak yang masih cuek itu. Semuanya begitu baik sekarang dan aku sungguh tak bisa mempercayainya, dia menghela nafas sambil melipat kedua tangannya sebagai bantal.

Masih lekat dalam ingatannya betapa dia hampir kehilangan anaknya itu, waktu itu orang tuanya memutuskan untuk memboyong dia beserta anaknya yang lahir premature itu ke Paris demi mendapatkan penanganan lebih lanjut. Bayi yang kekurangan berat, atau istilah medisnya disebut BBLR itu, tiba-tiba tidak bergerak dalam inkubatornya selepas pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Paris. Semuanya pasrah dan mulai berpikir bahwa perjalanan panjang Beijing-Paris sangat sia-sia. Bahkan alat pendeteksi tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan lagi, hingga para suster mulai mencopot semua selang yang selama beberapa bulan itu menyiksa bayi mungilnya.

Oemmanya hanya mampu mengelus kepalanya lembut,”Kita relakan saja, ya….”

Butiran bening mulai menggenangi pelupuk matanya, tidak ada lagi yang tersisa kini. Bayi mungil, pelipur laranya itu, benar-benar telah meninggalkannya, untuk apa lagi dia hidup? Suster-suster mulai mengeluarkan bayinya dari incubator.”Suster, boleh aku menggendongnya?” dia meminta lirih.

“Aku ingin menggendongnya untuk terakhir kalinya, aku mohon.”

Suster akhirnya menyerahkan bayi itu ke gendongannya, dan dengan lembut dia membelai bayi kecil itu. Dia merasakan bayi itu sangat rapuh, hatinya serasa pilu karenanya dan dengan penuh perasaan, diciumnya kepala bayinya itu lembut. Ajaib, bayi itu bergerak lagi. Matanya langsung berbinar mendapati keajaiban itu, “Suster, lihat! Dia bergerak! Dia bergerak!” teriaknya di antara tangis.

Para suster segera mendekati bayi itu lagi, bahkan Oemmanya mengucap syukur berulang kali.

“Ini keajaiban, Nyonya,” puji salah satu suster,”Terus belai dia, Nyonya. Mungkin belaian Nyonya yang menyebabkan keajaiban ini.”

Dia mengangguk, dan mulai tersenyum di antara tangisan harunya,”Kau kembali untuk Oemma, Nak? Kau murah hati sekali pada Oemmamu ini.”

Oemmanya pun mendekati dan ikut membelai bayinya,”Ini keajaiban, Sun. Anak ini membawa keajaiban untukmu karena itu Tuhan belum ingin mengambilnya darimu.”

Sun semakin terisak, kata-kata Oemmanya itu benar juga, setelah kelahiran bayi ini, dia mulai sembuh dari depresinya, tak ada lagi psikiater, tak perlu lagi antidepresan yang membuat bayinya ini lahir premature dengan berat lahir rendah, yang ada hanya dia dan bayinya, bayi pelipur laranya itu.

Setelah dua jam, suster-suster itu meminta bayinya kembali untuk diletakkan dalam incubator lagi, dan mereka menjalankan terapi atas bayinya itu selama beberapa bulan saja di Paris, karena hal yang tidak mengenakkan terjadi lagi pada kesehatan bayi mungil itu.

Terapi di Paris memang berhasil meningkatkan berat badan dan syaraf motoriknya, tetapi hal lain belum mampu mereka atasi, yaitu gejala Withdrawal atau putus obat atau istilah lazimnya adalah sakau pada bayi itu. Hal ini disebabkan obat antidepresan yang dikonsumsinya selama masa mengandung, yang ternyata juga menurun ke bayinya, bayi itu sangat hiperaktif, bahkan menangis sangat kuat melebihi bayi normal jika sedang sakau, hingga kadang dia kalang kabut untuk mengatasinya, dan dari Oemmanya dia tahu, bahwa tim dokter di Paris menyarankan agar membawa bayi itu ke Amerika, karena di sana ada metode pengobatan baru untuk bayi dengan NAS seperti bayinya yang dikembangkan oleh Waissman, yang disebut Neuroregulasi.

Dia memang lebih suka mendengar penjelasan para dokter itu dari mulut Oemmanya karena Oemmanya sangat tahu bagaimana menyampaikan agar mudah dia pahami dan tidak membuat terlalu shok. Dia hanya tersenyum menerima kenyataan itu,”Kita lakukan saja, Oemma. Selama ini Min Jae tidak mengecewakan kita, Sun yakin metode pengobatan itu akan menyembuhkan Min Jae.”

Dia membelai bayi yang mulai gemuk itu lembut. Bayinya itu sedang tenang sekarang,”Min Jae ada untuk Sun, Oemma. Oemma lihat sendiri, kan? Min Jae hidup lagi setelah Sun gendong. Min Jae pasti kuat.”

Dan hari-harinya di Amerika pun berlalu dengan lancar, tidak ada IQ atau perilaku tercela yang biasa bayi premature punya pada anaknya. Kebalikannya, anaknya itu semakin menampakkan keajaiban. Min Jae memang tidak pernah focus pada satu kegiatan, tapi hal inilah yang menjadi kelebihannya karena dia bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan dalam satu waktu.

Bahkan saat mereka kembali ke Beijing, keajaiban Min Jae semakin kentara dari prestasi akademiknya karena umur delapan tahun Min Jae sudah mempersiapkan diri masuk bangku kuliah, bahkan nilai NCEE-nya 505, atau 47 point di atas rata-rata dan dengan nilai itu dia bisa kuliah setahun berikutnya. Puncaknya adalah dua bulan yang lalu, saat Min Jae meraih gelar masternya di bidang bisnis. Anak itu melonjak-lonjak kegirangan di depan halmoni dan harabojinya, bahkan dengan nakal mencolek dagu Sun sambil tertawa-tawa tidak jelas, memamerkan piagam penghargaan yang dia dapat sebagai peraih gelar master termuda.

”See, Mom.. .this recognition is for you!” serunya sambil menjulurkan piagam itu pada Sun. Mirip siapakah tingkah ini? Sun mulai berpikir.

Seiring keajaiban Min Jae, seiring pula Sun memperbaiki diri. Dia mulai ikut andil dalam bisnis Appanya sejak umur Min Jae lima tahun, bahkan saat Appanya pensiun, atas inisiatif Min Jae, nama Goo Group yang dinilai sudah tidak relevan, diubah menjadi GMJ’s corp, dia bahkan tidak keberatan jika harus bolak-balik Beijing-New York demi bisnis, karena pusat GMJ’s corp ada di New York. Dia juga mulai membuka diri pada Korea lagi, hal pertama yang dia lakukan saat mengujungi Korea adalah mengajak Min Jae memancing di Jeju. Min Jae sepertinya menikmati suasana desa nelayan itu.

“Yuhuuu! Big Fish!” seru Min Jae saat umpannya sukses mengkail ikan besar. Sun yang sedang menyiapkan bumbu tersenyum menerima ikan itu untuk dimasak. Min Jae mulai nakal, menggelitiki pinggangnya dari belakang.

”Min Jae…, don’t do that,” elak Sun dari kelitikan itu. Min Jae tidak perduli, bahkan saat Sun berhasil menghindar, Min Jae menggerak-gerakkan ke sepuluh jarinya itu di depan Sun sambil cekikikan. Sun mengatung-atungkan sendok di tangannya,”I am serious, Min Jae!”

Min Jae akhirnya duduk setelah lelah menggoda Ibunya, dia mengitari lagi laut lepas di hadapannya,”Mom, Which one ? Primary Corp or Bussiness Unite here?”

Sun mengangkat bahu,”That’s up to you, Son!”

Min Jae tertawa mendengar jawaban itu,”Mom, you’re lucky to have me. You just sign the papper after I think about.”

Sun tersenyum, memang dia sangat beruntung memiliki Min Jae. Dia memang tidak terlalu pintar berbisnis. Bisa dikatakan, bisnis ini sebenarnya bisnis Min Jae karena anak itu yang memikirkan semuanya dan Sun hanya tinggal tanda tangan saja.

“Mom… A call for you!” teriakkan Min Jae menyadarkan lamunan Sun. Sun bangkit, lalu menggeliat, dan mendekati Min Jae yang mengatung-atungkan Handphonenya,”Pakai bahasa korea, Nak…. Kau sudah di Korea sekarang….” Katanya sambil mengucek rambut Min Jae. Min Jae memonyongkan bibir mendapat perlakuan itu. Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling dikuasainya dibanding bahasa Hanggul dan Mandarin karena pergaulannya waktu kuliah di Universitas Beijing dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai Negara, mengharuskannya memakai bahasa Inggris.

“Yoboseyo…,” Sun mulai terlibat dengan pembicaraan di telephone,”Cheongmal?” Sun mulai memandang Min Jae yang asyik lagi dengan laptopnya, lalu segera menutup pembicaraan via telephon itu.

“Min Jae, bagaimana lima puluh persen saham Lee Corporation ada di tangan kita?”

Min Jae tersenyum nakal pada Sun,”Mom sendiri yang menyetujui rencana ini.”

“Mwo? Kapan?”

“Mom lupa? Dua hari yang lalu, waktu Min Jae menyodorkan dokumen itu.”

Sun jadi terkejut mendengar penjelasan itu, dia memang tidak pernah memeriksa kembali dokumen yang diserahkan Min Jae padanya dan itu ternyata kesalahan fatal,”Lepas saham itu, Min Jae.”

“Why, Mom? The Portfolio risk is good!”

“Oemma tidak perduli, sekarang juga lepas saham itu.”

Min Jae menggerutu, melepas saham yang susah payah dia dapat tentu bukan hal mudah baginya dan dia sudah mendapatkan lima puluh persen, itu artinya kedudukannya sudah menyamai pemilik perusahaan itu.

“Noona!” seorang pria memanggil Sun. “Donghae-ssi?” Sun menyongsong kedatangan pria itu dengan tangan terbuka, sesaat mereka berdua berpelukan, mengacuhkan Min Jae yang masih duduk di kursinya.

“Apa kabarmu, Donghae-ssi?”

“Baik, Noona.”

“Masih berkarier sebagai penyanyi?”

“Ah, dunia itu tidak  abadi, Noona. Jika saja aku bukan keluarga Lee, mungkin aku sudah bunuh diri seperti artis-artis lain yang mulai tidak laku.”

Min Jae menaikkan alis saat nama Lee disebut. Sun tertawa mendengar candaan Donghae lalu mengapit lengan pria itu untuk menemui Min Jae,”Donghae-ssi, ini putraku, Min Jae.”

Min Jae berdiri dan membungkukkan badannya,”Goo Min Jae imnida.”

Alis Donghae berkerut mendengarnya. Sun tersenyum menyaksikan pertemuan mereka berdua,”Min Jae, Oemma ingin ngobrol dengan ajhussi sekarang. Bisa tinggalkan kami sebentar, Nak…”

“Sure, Mom. Anything for you,” Min Jae mulai memunguti laptopnya dan memohon diri pada Donghae. Donghae masih saja memandangnya heran saat dia menjauhkan diri dari mereka.

“Goo Min Jae?” tanya Donghae pada Sun sambil menunjuk anak itu. Sun mengibaskan tangannya sambil tersenyum,”Di akta lahir dan surat-surat resminya tertulis Lee Min Jae, tapi entah kenapa dia selalu memperkenalkan diri sebagai Goo Min Jae.”

“Apa mungkin dia membenci nama itu?”

“Membenci? Kenapa harus benci?”

Donghae menyandarkan diri ke kursi taman itu,”Ah, jangan pura-pura lupa, Noona. Fitnahan pada waktu itu memang kejam, mungkin anak itu tahu lalu sangat benci nama Lee.”

Sun menggeleng,”Tidak, dia tidak tahu.”

“Noona yakin?”

“Aku sangat membenci MinHo, karena itu aku tidak pernah bercerita hal buruk tentang Min Ho maupun keluarga Lee padanya, aku takut menabur kebencian di hatinya.”

Donghae semakin tidak mengerti,”Apa dia tidak pernah bertanya tentang Abojinya?”

“Dia memang bertanya, tapi berhenti saat berusia delapan tahun.”

“Kenapa?”

“Entahlah, aku tidak tahu. Ah, kenapa harus bicara masa lalu, sekarang ceritakan tentang dirimu, sibuk apa kau sekarang?”

Donghae terbahak,”Karena aku salah seorang keluarga Lee, maka aku juga berhak atas saham Lee Corporation, dan aku gunakan uang itu untuk mendirikan usaha Even organizer. Oh ya, Noona, dua hari lagi ada pameran benda seni di Kim’s art gallery, saya  harap Noona hadir karena kami adalah Even Organizernya.”

Donghae mulai bicara panjang lebar tentang dirinya, sementara Min Jae yang duduk tak jauh dari mereka menguping pembicaraan walau matanya masih asyik menekuri laptop. Jadi dia termasuk keluarga Lee? Hm, semakin menarik. Donghae sepertinya tidak perduli pada Lee Corporation, itu berarti pria tua itu sendirian. Hah! Semakin mudah saja sepertinya. Dia mulai tersenyum licik.

TBC PART 3

DINASTI LEE (Part 3)

DINASTI LEE

(One Season Love)

Part 3

 

Galeri café itu masih lengang di pagi hari. Hal yang membuat rame dari café ini biasanya saat jam makan siang, dan para pengunjung yang datang pagi biasanya ingin menikmati sketsa-sketsa yang terpampang di ruang pameran. Biasanya mereka murid SMA yang sedang ada tugas lapangan, atau para kolektor seni. Di satu sisi Bar table, gadis manis pemilik café ini tersenyum riang menyambut tamunya, gadis ini adalah Goo Hye Sun, putri tunggal keluarga Goo. Kecantikannya yang alami membuatnya laris membintangi beberapa jenis iklan, dan yang paling tenar adalah “Danahan”. Kecantikannya terlihat begitu nyata di iklan tersebut, dia harus berperan sebagai ratu korea dalam iklan itu dan berpuluh-puluh pelayan membungkuk hormat padanya. Di kehidupan nyata, bukan pelayan saja yang menunduk, namja-namja dari keluarga tenar korea takluk padanya laksana kumbang yang berusaha menarik perhatian bunga yang sedang mekar itu. Dan namja di depannya ini termasuk di antara kumbang itu,”Terimalah ini, Sun-ssi.”

Hye Sun terlihat mengeluarkan benda dari dalam tas kecil itu,”Apa ini, Oppa? Bagus sekali. ” Dia menimang-nimang benda itu yang ternyata abaya panjang.

“Itu hadiah dari Mama, dia di Brunei sangat merindukanmu.”

Sun berbinar memandang namja itu,”Salam buatnya. Oppa. Sampaikan juga terimakasihku. Sun juga sangat rindu.” Tangan halusnya menelusuri lekuk-lekuk jahitan dari busana yang sebenarnya nampak asing baginya,”Ini sangat indah.” Sekali lagi dia tersenyum.

“Oppa di korea sampai kapan?”

Sang namja menjawab lembut,”Aku pasti akan lama di sini jika kau menerima pinangan itu.”

Sun memandang datar. Namja di depannya mulai terkekeh,” Sudah, sudah, aku tahu pinangan keluarga kami sangat tiba-tiba, padahal kita masih berteman, setidaknya itu bagimu. Aku tahu kau butuh waktu memikirkannya.”

Sun menghela nafas lega, “Gomawo, Oppa mau mengerti.”

Namja itu beserta keluarganya memang sudah melamarnya, dia memang tidak punya perasaan khusus padanya, dan belum mengambil keputusan, orang tuanya sepertinya juga mengulur waktu, tapi mereka berjanji mempertimbangkannya.

Pintu Café terbuka, di sana masuk seorang wanita paruh baya yang anggun dengan blasernya yang tampak begitu berwibawa.

“Selamat datang, Nyonya Lee,” beberapa pelayan membungkuk ke arahnya, ya.. dia adalah Lee Je Ha, dibalasnya sapaan itu dengan senyuman. Dia memang jarang tersenyum, tapi entah kenapa jika di Café ini dia selalu tersenyum. Langkahnya menuju ke arah Bar table di mana Sun dan Namja itu berbincang.

“Oemma?” Sun menyongsong kedatangan wanita itu. Abaya panjang itu tergeletak begitu saja di atas bar table. Je Ha memeluk Sun lembut, “Bogosipho.”

“Bogosiphoyo, Omma,” Sun sangat senang dengan kedatangan Je Ha, Je Ha adalah sahabat Oemmanya, dan dia sudah menganggap Je Ha sebagai Oemmanya sendiri, bahkan tidak memanggil ajhuma.

“Sepertinya kau ada tamu, Sun,” namja itu menyela pembicaraan,”Akan lebih baik jika aku mengundurkan diri.”

Je Ha memandangi pemuda itu penuh selidik, lalu tersenyum agak dipaksakan,”Jangan sungkan, anak muda. Mungkin orang tua ini yang tak tahu diri mengganggu kalian.”

Sun dan pemuda itu jadi salah tingkah hingga tidak menyadari pandangan menusuk Je Ha. “Tidak apa-apa, Nyonya. Saya memang sudah lama di sini.”

Pemuda ini sopan sekali, begitu pikir Je Ha. Sangat berbeda dengan Min Ho. Pemuda itu meminta diri padanya lalu mencium buku-buku tangan kanan Sun untuk berpamitan. Je Ha semakin mendelik. Pemuda itu, siapa dia?

“Kita bicara di ruang pribadi saja, Oemma,” ajak Sun. Dia segera melipat rapi abaya yang tergeletak di bar table lalu memasukkan kembali ke dalam tas. Je Ha memperhatikan abaya itu dan berpikir mungkin itu adalah hadiah dari namja tadi. Sekali lagi dia kalah telak. Min Ho bahkan belum bertemu gadis ini, tetapi namja itu sudah memberikan hadiah yang begitu mahal. “Kacha!”

Je Ha mengagumi ruang pribadi itu setelah sampai di dalamnya, di beberapa sudut tampak sketsa-sketsa tergantung, di dinding samping meja kecil, tersandar lukisan-lukisan yang belum mendapat tempat di ruang galeri.”Bakatmu semakin terasah, Sayang.”

“Gamasahamnida,” Sun mengucapkan itu sambil mempersilahkan Je Ha duduk. Je Ha pun duduk tapi pandangannya masih mengitari ruangan itu.”Sepertinya galeri café mu ini sudah perlu pengembangan, Sun-a.”

“Ne, Oemma. Saya juga berpikir begitu.”

“Oemma bisa memberimu modal untuk itu.”

Sun menggeleng,”Gamsahamnida, tapi saya belum memerlukannya.”

Je Ha mengibaskan tangannya,”Ah, kau jangan sungkan padaku. Kau sudah ku angap seperti anak sendiri, jangan terlalu sopan. Oh, ya…kau datang di pesta Yu Jin, kan?”

Sun mengangguk. Je Ha memandang dengan penuh selidik, ternyata benar,” Apa kau bertemu dengan putra Oemma di sana?”

Sun mencoba mengingat semua orang yang ada di situ, sepertinya semua orang sudah sangat dia kenal,”Putra Oemma? Putra Oemma itu bagaimana? Oemma kan belum pernah mengenalkan pada Sun?”

Benar juga, jika tidak ada Sun saat ini, sudah pasti Je Ha menepuk jidatnya keras-keras. Ternyata selama ini dia bodoh, tidak memperkenalkan mereka dari dulu, pantas saja mereka tidak bertemu di pesta kemaren, bukankah Yue Yi tidak memberitahukan rencana itu pada Sun? Dan Minho? Ah, pasti anak bodoh itu tidak berinisiatif mencarinya!

“Memangnya ada apa. Oemma. Apa Oemma ada menitip sesuatu buat Sun?”

Je Ha tersenyum. Dia terlihat melambai-lambaikan tangannya, sebagai kode agar Sun tidak terlalu memikirkan pertanyaannya. Sun berjalan menuju lemari es di ruangan itu.”Hari ini sangat panas, Oemma mau minum apa?”

“Air mineral cukup, sayang.” Sun segera menyuguhkan sebotol air mineral dingin ke arahnya. Je Ha menerimanya dengan senang hati lalu mulai menuangkan air itu ke dalam gelas dan meminumnya, matanya tiba-tiba tertarik pada tas berisi abaya yang diletakkan Sun di atas meja kecil itu,”Namja itu, siapa dia? Kekasihmukah?”

Sun terkekeh, wajahnya tampak memerah mendengar pertanyaan Je Ha,”Bukan, Dia adalah teman Sun dari Taiwan.”

“Oh, orang asing, pantas Oemma belum begitu kenal, namanya?”

“Wu chun.”

“Wu chun?”

“Nama aslinya Goh Kiat Chun, tapi orang-orang sering memanggilnya Wu Chun.”

Mata Je Ha terbelalak, tiba-tiba dia teringat perkataan Yue Yie di telephon,”… atau kami akan menerima lamaran keluarga Goh.” Benarkah namja itu yang dimaksud? Jika benar, itu berarti Sun akan menjadi orang Taiwan nantinya. Lalu Min ho? Tidak, itu tidak boleh terjadi.

“Sayang, Oemma ingin mengundangmu makan malam. Kau sama sekali belum ke rumah kami, kan? Bagaimana jika malam ini?” Yup, dia harus gerak cepat. Waktu yang diberikan padanya hanya seminggu. Dan anak bodoh itu harus menuruti perintahnya malam ini untuk mengosongkan jadwalnya. Sun menggeleng, “Sun tidak tahu bisa atau tidak, perlu Sun konfirmasikan jadwal Sun pada manajer.”

“Oh, jadi Oemma-mu juga klien yang harus menyesuaikan jadwalmu, rupanya?” Je  Ha pura-pura ngembek, padahal selama ini dia sama sekali tak tega memarahi gadis manis itu. Sun merasa bersalah,” Mianhamnida, Oemma, tapi semuanya begitu tiba-tiba.”

Je Ha masih saja pura-pura ngambek. Dia harus melakukan itu, jika tidak keluarga Goh yang akan mendapatkan gadis ini, walau pun dia juga tidak tahu apakah makan malam ini nanti akan menghasilkan titik terang dari rencananya. Dia terus saja berlagak begitu, bahkan tangannya terlipat rapi di dada dan pandangan matanya sangat tajam. Sun jadi semakin bersalah, baru kali ini dia melihat Je Ha berekspresi seperti itu dan berpikir kalau Je Ha pasti sangat marah,”Baiklah, Oemma. Sun akan usahakan tapi sepertinya tidak akan lama nantinya.”

“Jeongmal?” Je Ha sangat lega mendengar jawaban itu. Sun mengangguk. Je Ha segera memeluk Sun,”Ah…, Gomawo, sayang.”

Sun kaget dengan tanggapan Je Ha dan helaan nafas yang tiba-tiba dari Je Ha membuatnya berpikir seperti ada sesuatu hal yang menekan Je Ha dan semua terangkat setelah dia menyetujui undangan itu untuk makan malam. Sun tersenyum, merasa kalau dirinya begitu berarti bagi Je Ha dan menikmati pelukan hangat dari Nyonya besar itu.

——- > 8 < ——-

Seorang pria terlihat tergesa-gesa memasuki sebuah restoran. Dia mulai memandang sekeliling mencari orang yang sudah lama menunggunya. Orang yang di cari berdiri di antara para pengunjung restoran yang duduk dan kini keduanya sudah duduk berhadapan satu sama lain.

“Ada apa, Min Ho-ssi. Kau tidak seperti biasanya, kenapa tidak lewat telephone?” Rupanya Min Ho ingin langsung pada pokok persoalan, dia tahu jadwal sepupunya itu sangat padat. Dia menunjukkan ponselnya, iklan “Danahan” hasil download tadi pagi tertayang di layar. “Kau kenal dengannya, Donghae-ssi?”

Donghae tampak mengamati gadis di dalam iklan itu,” Oh dia? Memangnya kenapa? Apa Lee Corporation akan meluncurkan produk baru dan kau menawarkan iklan padanya?”

“Jawab saja pertanyaanku.”

Dong Hae terseyum. Min Ho tampak aneh di depannya, tapi bukankah dari dulu memang dia tampak aneh?

“Hye Sun Noona!” jawab Donghae.

“Hye Sun?”

“Ne ! Goo Hye Sun, kakak kelasku waktu SMP.”

Min Ho terkejut, dia menemui Dong Hae karena sepupunya itu terjun di dunia hiburan sehingga yakin kalau pasti kenal dengan gadis itu, tapi dia tidak menyangka kalau ternyata gadis itu begitu dekat dengan Donghae. “Kau tahu alamatnya?”

“Emm.. kalau alamat rumahnya yang sekarang aku kurang tahu, tapi kalau cafenya, aku punya kartu pos dari sana. Di kartu itu pasti ada alamat cafenya.”

“Berikan padaku!”

Dan kini Min Ho sudah terlihat memasuki café yang dimaksud. Pandangan matanya mulai disambut oleh sketsa-sketsa yang tergantung di dinding ruang galeri café itu. “Selamat datang, Tuan.” Sapa salah satu pelayan Café. Min Ho mengangkat tangannya sebagai isyarat bagi pelayan itu agar tidak mengganggunya. Dia masih ingin berlama-lama menikmati satu persatu sketsa. Akhirnya pandangannya tertuju pada salah satu sketsa di pojok sebelah kanan. Sketsa tentang sebuah danau kecil dengan beberapa angsa di atasnya dan rumput hijau yang gembur. Dan dia tahu betul di mana tempat itu.

“Apakah Anda tertarik pada Seni?” suara lembut itu memanggil. Min Ho menoleh ke arah suara. Dibelakangnya gadis itu telah berdiri, dan mulai mendekat ke arahnya. Min Ho memandang takjub ke arah gadis itu, setiap kali bertemu gadis itu, dia merasa waktu seakan berhenti berputar. Penampilan gadis itu sangat berbeda dengan sebelumnya, kini tampak lebih santai dan kasual, tapi tetap menampakkan sisi keindahan di dirinya. Gadis itu, si ratu “Danahan” yang semalam menghiasi tidurnya dengan mimpi aneh, ya.. gadis itu yang membuatnya mengorbankan pertemuan penting dengan salah satu klien, berdiri di sampingnya, Goo Hye Sun berdiri di sampingnya.

Hye Sun sepertinya juga terpana. Dia menatap wajah pemuda itu lekat-lekat. Matanya begitu berbinar menatap dan tanpa dia sadari tangannya terangkat, dan mulai menyentuh wajah tampan itu. Waktu seakan berjalan begitu lambat. Hye Sun begitu menikmati wajah indah di depannya itu, menelusuri garis-garis yang tegas dari wajah itu. Minho memejamkan matanya, diantara kegelapan dia merasakan semua itu. Sentuhan itu begitu lembut dan aroma yang tercium dari tangan halus itu, aroma bunga mawar nan lembut yang membuatnya terbuai. Gadis itu tersentak, dia mulai menyadari kesalahannya dan melepaskan sentuhan itu, “Mianhamnida.”

“Gwencana,” Min Ho yang sudah membuka mata menjawab penyesalan gadis itu. Hye Sun tertunduk malu, “Apakah anda tertarik pada sketsa itu?” Dia mengalihkan perhatian pada sketsa danau yang sedari tadi di pandangi Min Ho. Min Ho tersenyum.

“Sketsa itu baru tergantung tadi pagi,” Sun menjelaskan sembari tersenyum.

“Anda suka rumput?” tiba-tiba Minho teringat lagu yang dinyanyikan gadis itu di pesta kebun. “Ne!” Jawab Sun mantap.

“Green grass of home,” Min Ho bergumam lirih. “Mwo?” gadis itu keheranan, samar-samar dia menangkap bisikan yang terlontar dari Min Ho. Green grass of home adalah lagu kesukaannya. Ayahnya selalu mendendangkan lagu itu saat meninabobokannya dan kisah indah dalam lagu itu selalu diidamkannya. Tapi penasarannya harus berakhir saat salah satu pelayan memberi tahu kalau ada telephon penting untuknya.

“Miane, saya harus pergi. Selamat menikmati kunjungan anda,” Sun membungkukkan badan untuk undur diri pada Min Ho. Min Ho masih memandangi sketsa danau. Dia sangat gugup karena keceplosan menyebut judul lagu itu. Takut jika ketahuan  dia mengikuti gadis itu di pesta kebun secara diam-diam. Dan Sun melangkah menuju ruang pribadinya, dia masih tidak habis pikir dengan kelakuannya barusan terhadap pemuda asing itu. Bagaimana mungkin dia menyentuh wajahnya yang tampan hanya karena terpesona. Sun menggelengkan kepalanya keras-keras, dan jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, ada apa ini? Dia hanya salah satu pengunjung café, tapi kenapa perasaanku jadi seperti ini. Tidak boleh, aku harus melupakannya, harus.

——- > 8 < ——–

Meja besar di ruang makan Lee Mansion sudah terpenuhi dengan beraneka ragam masakan. Ibu dan anak itu sudah menunggu dari tadi, malam semakin larut. Sang anak mulai bosan, dia harus membatalkan dua rapat penting malam ini, hanya untuk menuruti perintah ibunya. Dia mendengus sebal, dengusan khas Lee Min Ho yang sedang kesal,”Sampai kapan kita menunggu?”

“Sabarlah, dia bilang sedang dalam perjalanan,kau tahu kan mansion ini jauh dari kota?” jawab Je Ha. Min Ho melirik jam di tangannya, sudah jam sembilan malam, dan tiba-tiba dia teringat pada Hye Sun.”Oemma, jika ku bilang aku ada calon lain, apa Oemma mau mepertimbangkan?”

Je Ha menggerak-gerakkan telunjuknya,”Antwe! Jika kau mengatakan itu beberapa hari yang lalu, jawabannya pasti iya, tapi sekarang, tidak!”

Min Ho menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Dia sudah sangat tertarik pada Hye Sun, tapi sepertinya semuanya sudah terlambat. Seorang pelayan mendekati mereka lalu membisikkan sesuatu pada Je Ha.”Persilahkan dia masuk,” Je Ha memerintah. Min Ho memejamkan matanya. Semuanya akan dimulai. Perjodohan ini membuatnya sesak, sementara wajah ayu si ratu Danahan mulai muncul di angannya.

“Hye Sun-a, akhirnya kau datang!” teriakan Ibunya membuat Min Ho terkejut, reflek dia membuka mata lebar-lebar dan segera berdiri. Waktu seakan melambat kembali. Di ujung lain dari meja besar itu, Ibunya tengah memeluk tubuh mungil si ratu “Danahan”. Wajah ayu itu tersenyum bahagia menyambut Je Ha dan suara lembut itu terdengar jelas di ruangan itu.

“Apa, apa aku tidak salah lihat?” Min Ho terpana dengan pemandangan itu, si Ratu Danahan sekali lagi mengalihkan semuanya. Kini dengan balutan gaun biru toscha berkerah tinggi yang anggun dan Je Ha mengiringinya untuk duduk di kursi yang telah disediakan untuknya. Dia tidak segera duduk saat melihat Min Ho terpaku di sana. Dia, si ratu danahan itu juga mematung, pria itu ada di sini, pria yang membuat perasaanku tak menentu siang ini, yang ku yakini hanya orang asing itu? Mereka saling memandang.

Je Ha mengalihkan pandangan dari Hye Sun ke Min Ho bergantian, rona bahagia terpancar, awal yang bagus, kalian mengawali pertemuan ini dengan sangat bagus.

“E hm,” Je Ha berdehem untuk mengakhiri kebisuan mereka. “Kenalkan ini Lee Min Ho, Putra Oemma. Min Ho, ini Goo Hye Sun.”

Ke dua anak muda itu masih saling memandang.”E hm!” sekali lagi Je Ha berdehem. Keduanya segera tersadar dan saling menundukkan tubuh lalu duduk di tempatnya masing-masing.

“Bagaimana, Hye Sun, putra Oemma sangat tampan, kan?” tanya Je Ha. Hye Sun menunduk, semburat malu nampak di pipinya.

“Sekarang saatnya makan,” Je Ha membunyikan lonceng kecil di atas meja, sejenak pelayan-pelayan mulai sibuk melayani mereka. Hye Sun tetap menunduk saat memulai makan malam itu dan Min Ho tak henti-hentinya melirik ke arahnya. Suasana makan malam itu sangatlah sunyi. Je Ha menyenggol lengan putranya lalu berbisik,”Dia cantik, kan?”

Wajah Min Ho mulai memerah. Je Ha tersenyum, dia menepuk-nepuk punggung tangan Min Ho. ”Banyak namja yang berusaha menjadikannya sebagai istri, kau akan kehilanganya jika tidak gerak cepat,” Je Ha masih saja berbisik di telinga Min Ho. Sementara di sana Hye Sun masih menunduk menikmati makan malamnya.

“Baiklah, apa lagi yang ditunggu?” Je Ha menyodorkan sekotak beludru ke tangan Min Ho yang terbuka dan memperlihatkan cincin berlian indah. Min Ho kaget melihat benda itu di tangannya. Lalu dia menatap wajah Ibunya lekat-lekat. Je Ha mengangguk meyakinkannya.

“Hye Sun sayang,” tiba-tiba Je Ha memanggil gadis itu. Min Ho buru-buru menyembunyikan kotak beludru itu di balik meja. Hye Sun menengadah untuk menjawab panggilan itu. Je Ha tidak tahu bagaimana harus memulai saat mata bulat itu memandang dengan penuh tanda tanya. Je Ha tersenyum, lalu muncullah kalimat itu, “Rupanya Oemma sangat menyayangimu hingga tak merelakanmu jatuh ke tangan keluarga lain.”

Hye Sun mengerutkan dahi. Kini giliran Min Ho yang menunduk, malu dan tak habis pikir dengan ulah Ibunya. Je Ha menggapai tangan gadis itu,”Maukah kau menjadi bagian keluarga ini? Menjadi menantu Oemma?”

Min Ho semakin menunduk. Kotak beludru di tangannya dia tutup. Tidak ada jawaban dari mulut gadis itu dan mereka telah menunggu kira-kira sepuluh menit, sepuluh menit yang katanya cepat tapi buktinya lama bagi mereka. Min Ho mulai berdiri. Dia menghampiri gadis yang mematung itu. Lalu menarik lembut tangannya,”Kita bicarakan ini berdua.”

Hye Sun memandang ke arah Je Ha. Je Ha mengangguk, dan dia mulai mengikuti Min Ho yang masih menarik lengannya. Langkah mereka berhenti di taman belakang mansion itu. Min Ho berbalik dan memandang wajah Hye Sun sendu. Hye Sun masih saja menunduk, jantungnya berdetak sangat cepat. Pria di depannya itu begitu menawan hatinya, dan Je Ha, Ibu dari pria itu menawarkan dirinya untuk menjadi istrinya.

Ke dua tangan Min Ho menyampir ke bahu Hye Sun. Dia sangat gugup. Ratu Danahan ini adalah orang yang seharusnya dia temui di pesta itu, “Yes, they all come to see me….,” Min Ho mulai bersenandung sebait lagu green grass of home. Hye Sun menengadah memandang wajahnya.

“Ya, itu kamu,” sambung Min Ho.”Apalah arti diriku ini di bandingmu, tak apa jika kau menolak.”

Hye Sun tertegun, pria sesempurna itu? Merendah di hadapannya? Tangan kokoh itu mulai lunglai, Min Ho berbalik, memandang kolam pancur yang berada tak jauh dari mereka. Mata Sun memejam, dalam hatinya mulai terdengar lirik lanjutan dari lagu itu,” Arm reaching? Smilling sweetly?” Sun membuka kembali matanya, Min Ho masih memandangi ikan-ikan dalam kolam itu dan di bawahnya terhampar rumput hijau yang luas walau kelamnya malam mengaburkan warnanya,”Green grass of Home…?”

Sun segera berlari mendekati tubuh jangkung itu, Min Ho terkejut dan memandang ke arahnya,”Apakah kau juga merasakan semua itu?”

Sun mengangguk. Air mata mulai mengkaburkan pandangan masing-masing. “JAdi?” Sekali lagi Min Ho meminta kepastian. Sun mengangguk cepat. Min Ho tertawa bahagia, entah keberanian dari mana yang dia dapat hingga akhirnya memeluk tubuh gadis itu, kegembiraannya meluap. Dia segera membuka kotak beludru itu dan menyematkan cincin berlian itu di jari manis tangan kiri Sun. Sun tidak menyadari itu karena dia melakukannya dengan sangat cepat. Yang Sun tahu adalah  buku-buku jari tangan kirinya tiba-tiba dicium oleh Minho dengan mesra, dan sekali lagi mereka berpelukan, menikmati keharuan dan perasaan cinta itu satu terhadap yang lain.

TBC PART IV

DINASTI LEE (part 2)

DINASTI LEE

(One Season Love)

Part 2

 

Lee Je ha tampak berjalan mondar-mandir di dalam kamar, di tangannya tergenggam telephone. Berkali-kali dia memencet tombol radial, dan tetap sama, tiada yang mengangkat,”Lenyap kemana keluarga itu?” Dia mulai kesal, masih diingat perkataan Minho 30 menit yang lalu. Saat dia yang begitu antusias menyambut kedatangan putranya itu,”Kau bertemu dengannya?”

Dahi Minho berkerut,”Siapa?”

“Siapa? Siapa lagi? Tentu saja calon istrimu!”

Minho menggeleng, “Tidak. Sepertinya dia tidak datang.”

“Kau yakin?”

“Kalau dia datang, pasti kami sudah bertemu, Oemma,” seloroh Minho sambil ngeloyor pergi ke kamarnya.

“Huft! Sial!” umpat Je Ha. Sekali lagi dia menekan tombol radial dan akhirnya hembusan nafasnya lega saat orang yang dihubungi menerima telephonenya. “Yoboseyo,” kata orang di ujung telephone.

“Yue Yi, kenapa kalian tidak datang di pesta ?” tanya Je Ha tidak sabar. Orang yang di telephone yang disebut Yue Yi itu menghela nafas,”Miane, aku dan suami ada urusan mendadak di New York tapi anakku datang, kok!”

“Kau yakin?”

“Yakin! Aku sudah menanyakan pada sopir yang mengantarnya ke pesta tadi,” Yue Yi menjawab dengan sedikit heran. Je Ha semakin bingung,”Jika dia datang, kenapa mereka tidak bertemu?”

Yue Yi semakin serba salah, dengan malas dia mengungkapkan sesuatu,”Miane, aku memang tidak menceritakan rencana kita padanya.”

“What ?” Je Ha mendadak berteriak. Matanya mendelik lebar-lebar,”Aigo, kalian ini benar-benar..”

“Anak gadisku paling anti perjodohan, jika aku mengatakan tentang rencana ini, sudah pasti dia menolak datang di pesta itu. Dan seharusnya itu pintar-pintarnya putramu saja, jika memang Minho tertarik padanya harusnya langsung menghampirinya, di mana-mana itu kumbang yang mendekati bunga, bukan sebaliknya.” Penjelasan Yue Yi membuat Je Ha semakin meradang tapi benar juga perkataan sahabatnya ini, semua pasti akal-akalan Minho.

“See… semua jelas, kan? Tak ada ruginya bagi kami. Kalau anakmu tidak tertarik pada gadis kecil kami, masih banyak keluarga yang mengharapkannya menjadi menantu.”

“Tunggu!” kali ini Je Ha mulai gelagapan.”Kau sudah menjanjikannya menjadi menantuku dan aku sudah sangat menyayanginya.”

“Lalu apa yang kau pikir? Segeralah bertindak! Makin banyak saja namja mendekatinya.”

Je Ha terduduk di sofa. Dia tidak mungkin melepas gadis ini begitu saja. Rasa sayangnya pada gadis ini terlampau besar, sebenarnya agak ragu, dia menjodohkan gadis ini pada Minho, takut kalau anak itu menyakitinya tapi perasaan untuk melihat keduanya bersatu mengalahkan ketakutan. “Oke, aku akan bertindak. Beri aku sedikit waktu, aku mohon.”

“Seminggu cukup!”

“Mwo?!”

“Dalam waktu seminggu sudah harus ada pernikahan, atau kami akan menerima lamaran keluarga Goh.”

Je Ha lemaslah sudah, waktu itu begitu tak masuk akal,”Ne… aku akan bertindak seminggu ini.”

“HuuuH! Anak bodoh itu…. Apa yang harus kulakukan sekarang?”  Dia jadi uring-uringan sendiri setelah menutup telephon.

——— > 8 < ———

 

Suasana ruangan itu terkesan syahdu, beberapa potong baju tergeletak tak beraturan di beberapa sisi lantai, cahaya hanya berasal dari salah satu lampu knop di atas meja kecil di samping kanan ranjang. Dan di atas ranjang itu Minho terbaring, di sampingnya Bo Young sudah terlelap. Minho mempererat pelukannya atas tubuh ringkih Bo Young. Tangan kanannya mulai menggapai dahi kekasihnya dan menyibakkan rambut yang menutupi wajah itu. Dia memandang lekat-lekat. Tangan itu mulai menunjuk, menyusuri wajah lancip itu dari dahi, mata, hidung, bibir dan….

“Apa kau tidak lelah?” tanya Bo Young setelah mengulum jari telunjuk Minho yang sudah sampai ke bibirnya. Minho tersenyum,”Bersamamu aku tak pernah lelah, Sayang.” Dan Minho berniat melakukannya lagi, matanya semakin terpejam saat kepalanya semakin menunduk.

Dia semakin menunduk,  sementara matanya tetap terpejam namun keanehan terasa. Tidak ada Bo Young di sana. Tubuh ringkih di pelukannya lenyap sudah. Dia membuka matanya. Dia menemukan tubuh polosnya sudah berpakaian lengkap. Dia ingat betul pakaian itu, setelan jas yang dipakainya pagi tadi Cahaya redup itu telah tiada, berganti suasana pagi yang indah dan di bawahnya rumput hijau terbentang.. Tunggu! Pagi hari? Setelan jas? Rumput Hijau? Pesta kebun itu! Bagaimana mungkin kembali lagi di sini?

“Ne!” suara nyaring itu mengalihkan perhatiannya dan tampaklah di sana gadis mungil bergaun hijau, bergerak seiring keriangan hatinya. Ajaib! Hanya gadis itu yang bergerak, sementara semua orang di pesta itu berubah menjadi patung porselen.  Minho menoleh ke samping, di sana Bumie juga berubah menjadi patung porselen. Dia kembali memandang gadis itu, melangkahkan kaki demi mengikuti gerak-gerik yang menawan sementara music lembut mulai terdengar di hatinya. Di tempat itu hanya dia dan sang gadis yang bergerak, gerakan yang sama, music hati yang sama, tawa yang sama, candaan yang sama yang terlontar dari bibir gadis itu, sementara sekitarnya mematung.

Minho masih tetap melangkah beberapa kaki di belakang gadis itu. Sinar mentari mulai terik. Gadis ayu berjalan ke pinggir danau setelah merentangkan tangan seiring helaan nafasnya lalu duduk di atas rumput, dan Mino berdiri mengamatinya di bawah pohon yang rindang. Dia mengeluarkan kertas dan pensil dari tasnya, menggambar dan bersenandung.

“…. It time to touch the green… green grass of home…..”

Minho memejamkan mata,  bibirnya menyunggingkan senyuman indah, suara merdu itu terdengar lagi. Aku kembali lagi. Entah apa yang membuatku kembali lagi ke sini? Tapi aku menyukainya.

” Yes they all… come to see me, arm reaching, smiling sweetly. Its time to touch…….

Yah, lirik lagu itu lagi, terpotong di bagian itu. …. Karena hujan.  Hujan! Bukankah seharusnya setelah ini hujan? Tapi kenapa tidak? Minho membuka matanya dan gadis itu sudah berdiri tepat di depannya. Agak terkejut dia. Nafasnya seakan berhenti, jantungnya berdegup kencang.

Gadis itu mulai mengangkat tangan, menyusuri wajah tampan di hadapannya itu.  Lembut, Minho merasakan sentuhan itu begitu lembut di wajahnya. Entah kenapa dia juga ingin menyentuh wajah ayu itu, tangannya pun mulai bergerak ke atas. Tapi… tapi kenapa berat begini? Ada sesuatu yang menghalangiku melakukannya. Minho meronta, tangan yang sudah terangkat itu serasa kaku. Gadis di depannya meringkuk, wajah ayu itu ketakutan. Jangan! Jangan ketakutan seperti itu! Aku bukan ingin memukulmu! Minho berteriak, namun suara itu tidak muncul. Sesuatu juga menyumbat organ bicaranya.

Gadis itu semakin ketakutan. Dia menyusutkan tubuh ke belakang. Seseorang bertubuh tegap muncul di antara mereka dan menarik gadis itu menjauh.

“Jangan pergi!” akhirnya suara itu terdengar juga. Tangan itu bergerak lagi, cepat-cepat Minho menggapai tangan gadis mungil itu. Dia berlari, dan saat jemari keduanya saling menyentuh. Gadis itu mematung, mulai berubah menjadi patung porselen. Minho menarik tangan gadis itu.

Prrangggggg……………..!

Minho terbangun dengan nafas tersenggal-senggal. Mulutnya megap-megap. Sinar mentari mulai merambat memasuki kamarnya. Tubuhnya masih berpakaian lengkap, rupanya dia tertidur tanpa berganti baju semalam. Dia berusaha menenangkan nafasnya. Mimpi yang aneh, kenapa ada Bo Young dan gadis itu pecah setelah berubah menjadi patung porselen ?

“Di mana namja bodoh itu?” suara cempreng terdengar dari luar kamar.

“Masih tidur, agashi!” sahut salah seorang pelayan takut-takut.  Minho menghembuskan nafas kuat-kuat. Dasar! Tidurku sudah sangat kacau dan kau mengacaukan pagiku, Min jung…. Minho tersenyum saat langkah kaki mulai mendekati pintu kamarnya, lalu terbukalah lebar-lebar dan Min jung berdiri di sana, berkacak pinggang. Min Ho tertawa ngakak.

“Kau!” Min jung berjalan ke arahnya dengan menunjuk dan mata mendelik. Min Ho berhenti tertawa. Dia mengibas-ngibaskan tangannya sebagai tanda agar pelayan keluar kamar.

“Katakan padaku jujur, apa kau bertemu gadis itu di pesta Yu Jin?” tanya Min Jung setelah pintu kamar tertutup. Min Ho menarik bibir, “Itu bukan urusanmu.”

“Hah! Enak ya kau bilang begitu! Kau benar, itu memang bukan urusanku jika saja bibi Je Ha tidak menelponku malam-malam agar aku menasihatimu yang bebal!”

“Nenek sihir itu menelphonmu?”

“Ne ! Oemmamu itu sudah menggangguku, jam dua dini hari menelphon !” Min Jung masih saja ngoceh tanpa ujung pangkal. Tidurnya sangat tidak enak semalam karena telephon konyol itu. Jadi beginilah dia, stress dan uring-uringan. ”Jawab pertanyaanku!”

“Tidak, aku tidak bertemu. Gadis itu tidak di sana,” Min Ho berbohong, yang benar bukanlah tidak bertemu melainkan lupa untuk bertemu. Dia memang melupakan rencana itu, terlalu terkesima oleh sesuatu yang indah di sana.

“Jangan bohong, kau sepupu bodoh. Aku sudah mengecek buku tamu pesta itu pagi ini dan gadis itu di sana,” Min Jung mendamprat, telunjuknya mengacung-acung dan Min Ho yang masih duduk di ranjang tampak seperti anak kecil yang di marahi Ibunya. Pantas saja Min Jung semakin uring-uringan, sudah diganggu malam-malam dan harus bagun pagi untuk melihat buku tamu pesta orang.

“Aku tidak bohong!” Min Ho menyanggah.

“Jangan bilang kau melarikan diri lagi?”

“Aku tidak melarikan diri! Aku datang di pesta itu, kalau kau tidak percaya tanyakan pada Bumie dan  Yu Jin!”

“Aish…., kau ini! Kenapa sih kau tidak bisa melupakan perawan tua yang mandul itu?”

“Lee Min Jung!” Min Ho mendelik saat Bo Young dijelek-jelekkan. Min Jung mendelik balik,” Memang itu kenyataannya. Come on, get a life! Masih banyak yoja cantik di luar sana.”

“Sudah ku bilang itu bukan urusanmu!”

Min Jung menghela nafas, memang sulit bicara dengan Lee Min Ho yang bebal. Dia selalu bisa mengatasi kebebalan sepupunya itu, karena itu bibinya menelphon tapi kecuali yang satu itu, kebebalan akan Bo Young.

“Sssssssshhh, terserah kau sajalah! Aku sudah pusing! Bilang pada Oemmamu kalau aku sudah datang! Bilang juga kau terlalu bodoh untuk ku nasihati, kau ingin jadi generasi terakhir dari dinasti Lee, jadinya enggan menikah dan hanya mau menikah dengan Bo Young. Terserah!”

Min Jung keluar kamar lalu menutup pintu keras-keras. Min Ho menghembuskan nafas kuat-kuat dan memijit-mijit bagian atas cuping hidungnya. Dia berdiri dari ranjang lalu duduk di sofa dan  menyalakan televise. Dia tampak memencet-mencet remote control saat beberapa iklan tayang, dia benci iklan, rupanya dia melewatkan berita pagi. Tapi tangannya tiba-tiba berhenti menekan tombol saat sebuah wajah terpampang di sana. Gadis itu? Dia bintang iklan? Min Ho tampak sumringah, menekuri iklan itu sampai habis, begitu puas dipandanginya wajah dalam layar itu. Wow! Sempurna! Sungguh ratu yang anggun.

“Danahan!” suara dari arah televisi.

“Danahan?” Minho meraih ponselnya dan mulai mengetik, ‘Danahan’. Senyum sumringah sekali lagi tampak di wajahnya, Danahan…. .

TBC PART 3

DINASTI LEE (Part 1)

DINASTI LEE

(One Season Love)

Part 1

Seoul, kenapa namamu  serasa sendu, langit-langit itu, jalanan yang selalu sibuk, suasana yang indah di musim panas, tapi kenapa hati ini selalu teringat padanya? Kenapa tak bisa lupa? Senyuman itu, senyum bijak itu, wajahnya yang ayu walau penderitaan tak pernah lelah menerpa. Apa kabarnya dia disana? Sementara ku di sini. Bersamamu, Seoul. Bersama semua kegilaanmu, Seoul. Adakah kesalahanku di masa lalu yang tak bisa ku tebus, hingga ku harus dilahirkan delapan tahun lebih muda darinya? Apa salahnya pula hingga dia harus menderita penyakit separah itu hingga rahimnya diangkat?

Pria itu tampak menghela nafas, merasa dunia tak berpihak padanya. Asistennya masih sibuk dengan file-file, sementara dirinya lebih memilih melamunkan masa lalu. Mobil mewah yang ditumpanginya melaju membelah jalan Seoul, kota yang selalu dirutukinya, setidaknya tiga tahun terakhir ini. Kota yang sempat menjadi kota terindah bagi hidupnya, kini telah berubah menjadi momok yang menakutkan sejak kejadian itu, ya…. Sejak saat itu, tiga tahun yang lalu…….

Bandara Incheon terlihat ramai, musim panas  di korea memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong. Sementara para  turis berdatangan, gadis bertubuh ringkih itu malah sebaliknya, dan pria tampan yang selalu di sampingnya itu menggenggam tangannya erat, seakan takut terpisahkan. Mereka duduk, menunggu kedatangan pesawat ke negeri yang sebenarnya tak jauh, tapi tangan kuasa rupanya sangat ingin memisahkan mereka.

“Aku mohon jangan pergi,” bisik pemuda itu. Matanya memandang sendu. Dan gadis ringkih menunduk, tak mampu memberi kepastian pada pemuda itu. Semua telah diputuskannya, tidak ada kepastian dalam cinta ini, tidak adil, terutama bagimu, kekasihku.

“Bo Young, aku mohon batalkan rencanamu. Persetan dengan semua ancaman nenek sihir itu. Persetan dengan semuanya!”

Gadis itu menggapai tangan kekasihnya,”Minho-ssi, miane, tapi aku memang harus pergi walau tanpa desakan Oemmamu. Tidak ada harapan dalam cinta ini. Kau masih sangat muda, margamu perlu penerus, dan itu tidak bisa ku berikan padamu.”

Wajah pria bernama Minho itu mengeras, kalimat kekasihnya terdengar konyol baginya,”Kau hidup di jaman apa? Bahkan sekali tepukan tangan kita bisa mendapatkannya dengan bayi tabung!”

Bo Young menggeleng,”Tetap tidak sama, Minho. Setidaknya bagi orang tuamu.”

Minho menghela nafas. Dadanya serasa sesak. Peristiwa tiga tahun yang lalu itu masih begitu jelas di benaknya. Dan kata-kata terakhir Bo Young, saat melambaikan tangan, menghantarkan kepergiannya menuju pesawat,”Carilah gadis yang baik, Minho. Kau pasti akan menemukannya. Masih banyak kesempatan bagimu. Hwaiting!”

Mobil itu masih melaju. Minho mencoba untuk tidur, tapi semua sia-sia. Di sampingnya, Pak Han, si asisten mulai menyalakan laptop. Menekuri laporan-laporan yang diberikan orang-orang kepercayaannya via online. “Kapan kita sampai di tempat itu?” Minho mulai bersuara.

“Setengah jam lagi. Mungkin Tudenim perlu minum?”

Minho mengangkat tangan untuk menolak  tawaran itu. Dia mulai bosan dengan perjalanan ini dan memerlukan teman ngobrol, perjalanan yang hening hanya akan membuatnya kembali ingat pada Bo Young. Bo Young, dosen  sekaligus kekasihnya itu telah pergi, meninggalkan sejuta kenangan perih yang membuatnya merasa sial berada di kota sendu ini.

“Apa tudenim merasa gugup?” tanya Pak Han. Minho melirik melalui ujung matanya,”Kenapa aku harus gugup?”

Pak Han mengulum  senyum. “Aish!” Minho jengkel dengan sikap Han. Memang rencana ini sangat konyol. Benar-benar konyol. Nenek sihir itu tiba-tiba datang ke kantornya kemaren. Tanpa ba bi bu memasuki ruang pribadinya dan menyodorkan sesuatu tepat di wajahnya padahal waktu itu dia masih terlibat pembicaraan penting dengan seorang partner kerja.

“Mworago?” seru Minho tak mengerti. Dengan menggerakkan kepalanya, wibawa wanita itu, yang selalu dipanggilnya dengan sebutan nenek sihir yang tak lain adalah Nyonya Besar Lee atau Oemmanya sendiri, langsung bergetar di ruangan  hingga semua orang yang merasa tidak terlibat dalam pembicaraan itu mengundurkan diri.

“Kau harus datang di pesta itu!” perintahnya. Min ho mulai menelusuri sesuatu yang ternyata adalah undangan. Undangan pesta lebih tepatnya pesta kebun. “Ada bisnis penting di sana?”

Yap! Khas keluarga Lee sudah mulai mendarah daging di dirinya, tidak akan datang ke suatu pertemuan yang hanya menghabiskan waktu dengan percuma tanpa bisnis.”Aku lihat pesta ini hanya gaya foya-foya anak bau kencur yang berulangtahun?”

Lee Je Ha duduk anggun di kursi. Dia menerima teh hijau yang disuguhkan OB kantor itu. “Kau akan bertemu calon istrimu di situ.”

Undangan itu terlepas, jatuh  tepat di sepatu licinnya. Hal itu lagi, Arkh…, kenapa nenek sihir ini tak bosan-bosan juga. Sudah berpuluh gadis yang dia sodorkan tiga tahun terakhir.

“Dan kau harus menerimanya saat ini, memang usianya lebih tua dua tahun darimu. Tapi tidak masalah, bukankah kau memang menyukai gadis yang lebih dewasa?”

Bagus! Kau mulai mendiktekan kelemahanku! Minho memijit-mijit keningnya.

“Tapi dia tidak setua dan penyakitan seperti Bo Young!”

“Oemma!” Minho tak terima cercaan Je Ha. Wanita itu tersenyum sinis, “Bukankah itu yang sebenarnya? Oemma tak mau tahu, pokoknya kau harus menemuinya, dia pasti ada di pesta itu, namanya…….

Dan kini Minho sama sekali tidak mengingat nama gadis itu karena dia terus menyebut nama Bo Young, Lee Bo Young di dalam hati saat Je Ha mengatakan nama itu.

———– > 8 < ————-

“Pesta yang indah!” puji Il Woo pada tuan rumah pesta, gadis manis berambut panjang di depannya tersenyum,”Gomawo.”

“Tentu saja indah, tapi aneh, bukankah hari lahirmu 9 April, kenapa baru dirayakan 1 Mei ? Dan tema pesta ini… ah! Sama sekali bukan dirimu.” Bumie menggoda gadis yang tengah berulang tahun. Senyuman maut tersungging di bibirnya. Kebun itu memang tampak asri, beberapa tumbuhan perdu tertata apik di suatu tempat dan bunga-bunga yang hanya tumbuh di musim panas, meja dan kursi yang terbalut kain putih tampak selaras dengan rumput hijau yang terhampar di bawah kaki mereka. Tamu-tamu tampak akrab satu sama lain, menikmati pesta tersebut.

“Kalian tidak malu menggoda Yu Jin terus-terusan?” Ketiga pemuda itu menoleh heran akan kemunculan orang yang baru saja menghardik mereka. Lee Min Ho, seorang Lee Min Ho yang anti acara semacam ini, datang dengan tiba-tiba. Ada angin apa gerangan? Apa dia salah minum obat? Atau otaknya sudah konslet?

“Memang ada bisnis apa di pestamu?” bisik Bumie pada Yu jin. Yu Jin menyenggol lengan Bumie. “Minho-ssi, kehormatan sekali bagiku, kau bisa meluangkan waktu buat hadir di pestaku,” seru Yu Jin dengan tangan terbuka.

“Chukae!” Minho menyodorkan kado yang dibawanya. Yu jin menerima kado itu dengan senang hati,”Gamsahamnida, Minho-ssi. Silahkan menikmati pesta ini, aku masih harus menyapa yang lainnya.”

Yu jin meninggalkan Minho bersama Bumie. Bumie memang orang yang masih bertahan akrab dengan Minho, sedangkan Il Woo, sudah ngibrit entah kemana, memang semenjak Minho akrab dengan Bo Young, tingkahnya agak aneh di mata teman-temannya. Jadilah seperti sekarang ini, dia tanpa teman.

“Apa kabar, Minho-ssi?” sapa Bumie basa-basi.

“Seperti yang kau lihat,” Min ho menaikkan pundaknya. Bumie mengangguk. Min Ho mulai menikmati pesta.

“Jadi ini sketsa-sketsamu?” tanya Il Woo di salah satu sisi pesta, dia tidak sendiri, beberapa namja juga bergerombol di situ. Mereka mengkerubuti seseorang. Tepatnya seorang gadis yang kemudian berteriak nyaring menjawab pertanyaan Il Woo,”Ne!”

Bumie dan Minho menoleh ke gerombolan itu, dan kini tampaklah oleh mereka seorang gadis berusaha keluar dari namja-namja yang mengelilingi dan memuji hasil karya sketsanya. Dia di sana, begitu bersinar. Min ho memandang takjub. Gadis bertubuh mungil itu mengenakan gaun terusan selutut berwarna hijau berpadu kuning yang lembut, kulitnya yang putih menambah kesan alami keayuan wajahnya. Rambut sebahu yang dibuat agak bergelombang itu, memahkotai kepalanya dengan sempurna, dan senyum itu…. Menyapa setiap orang yang ditemui di setiap langkah di acara itu. Sungguh indah anugrah ciptaan Tuhan yang satu ini.

“Hm…, Sunny…”

“Mwo?” Min ho menoleh ke Bumie yang baru saja bersuara, masih memandang ke arah gadis itu. “Setidaknya itu nama panggilan yang diberikan oleh Ayahnya,” lanjut Bumie.

“Kau mengenalnya?”

“Tentu saja, hanya namja bodoh yang tidak.”

Dan aku termasuk namja bodoh itu, begitu pikir Min ho. Bumie melangkah mendekati gadis itu, meninggalkan Min Ho yang masih mematung. Tanpa sadar, kaki Minho melangkah mengikuti si gadis mungil. Kemana pun gadis mungil bergerak, Minho di belakangnya dalam jarak beberapa kaki. Minho seperti terhipnotis, langkah kaki mulus itu seakan berdansa, mengikuti irama yang entah sejak kapan mulai terdengar di hati Minho. Gaun selutut itu melambai bebas, dia berlari kecil, meloncat, berputar, memeluk jika bertemu teman lama, bercanda, tertawa bersama mereka, seakan pesta ini adalah pestanya, dan Yu jin hanyalah tamu saja. Di antara semua itu Min Ho terkesima. Seakan larut dalam keriangan itu, sangat lepas, tanpa beban.

Mentari yang mulai terik menyinari kulitnya, dan gadis mungil itu malah merentangkan tangan, menghirup udara sampai paru-parunya penuh, dan menghembuskannya perlahan. Berjalan menjauhi keramaian pesta dan kini sampai di sisi lain dari kebun yang luas itu. Di hadapannya terhampar danau buatan yang indah dan beberapa angsa berenang di atasnya. Minho berdiri menyandar di salah satu pohon  tak jauh dari situ, ke dua tangannya masuk ke saku celana, kakinya mengais-ais rumput hijau di bawahnya, masih memperhatikan gadis itu.

Si gadis mungil terduduk di rumput, dia mulai mengeluarkan sesuatu dari balik tas selempangnya, yang ternyata pensil dan kertas. Diarahkannya pensil itu tepat di depan wajah dengan posisi tegak lurus, sementara pandangannya tertuju ke arah danau. Akhirnya goresan demi goresan tercipta.

“…. It time to touch the green… green grass of home…..”

Sayup-sayup Minho mendengarnya bersenandung. Tangan lentik itu masih saja lincah menggerak-gerakkan pensil  di atas kertas,” Yes they all… come to see me, arm reaching, smiling sweetly. Its time to touch…….

Hujan deras tiba-tiba. Gadis itu segera berdiri, menutupi kepala dengan tas slempangnya. Min Ho agak meringkuk ke balik pohon hingga gadis itu tak melihatnya waktu berlari melewatinya. Kini terlihat punggung gadis itu mencari tempat berteduh, dan cara larinya pun tak kalah indah. Genangan air meloncat-loncat setiap telapak kaki mungil itu mendarat, seakan berebut kesempatan untuk menjilat. Punggung itu pun menghilang, di balik gedung vila itu, tempat dia kembali bersatu dengan tamu pesta yang lain.

“The green…. Green grass… of  home….,” Minho membisikkan bait syair yang terpotong tadi. Senyum indah terukir di wajahnya.

TBC PART 2

BEHIND THE SHINING STAR II

Perempuan paruh baya itu tersenyum, sementara matanya masih awas menatap jalan yang membentang di hadapan. Tangan yang masih luwes berkendara di tengah padatnya lalu lintas malam. Wajah itu masih saja cantik di usia senja, pantas saja jika suami tercinta memanggilnya ‘B-lady’, singkatan dari beautifull lady dan suasana hati yang bahagia semakin membuatnya manis menampakkan lesung pipit itu. Bahagia mengingat minggu depan adalah ulang tahun suaminya. Di angannya telah berderet serangkaian rencana, dan yang membuatnya bersemangat malam ini adalah ‘Pesta kejutan’.

Itulah yang menyebabkan B-lady mengendarai mobilnya malam ini. Pesta kejutan ini tidak mungkin berhasil tanpa campur tangan putrinya. B-lady tahu betul itu mengingat sang putri telah diakui sebagai sutradara muda dan aktris berbakat di Korea Selatan. Dia akan mendiskusikan scenario kejutan yang telah direncanakannya itu dan keikutsertaan putrinya itu di apartemennya.

B-lady tahu putrinya pasti akan sangat iri dengan rencananya. Anak itu memang selalu iri padanya. Iri karena nasibnya yang beruntung, iri akan keanggunannya dan yang terakhir iri karena ayahnya sangat mencintainya. Masih jelas dalam ingatannya saat anak itu berkata,”Aku akan mencari pria seperti Appa, yang selalu cinta sama Oemma sampai tua.”

Senyumannya semakin lebar saja, kali ini dibarengi dengan perasaan geli. Ah! anak itu ada-ada saja. Lalu siapa yang dia pilih sekarang? Putra politisi dia tolak. Atlit basket? Dia enggan. Dan yang terakhir…aktor Ninja assassin? Dia menggeleng! Padahal  aku sudah sangat setuju jika pria itu jadi menantu, B-lady masih saja tak habis pikir akan putrinya. Dan wajahnya makin sumringah saat mobil yang dikendarai telah memasuki area apartemen putrinya.

B-lady segera memasuki gedung apartemen. Suara sepatu tumit tinggi terdengar karena B-lady berjalan cepat dan mantap. Dia harus menggunakan lift mengingat apartemen putrinya merupakan penthouse di lantai teratas gedung itu. Penjaga apartemen tersenyum padanya. B-lady memang sudah terkenal di apartemen itu. Saat pintu lift terbuka, dia segera masuk, masih dengan rencana pesta kejutan di kepalanya.

Lift sudah setengah jalan menuju penthouse, namun pintu lift terbuka. Beberapa orang memasuki lift. B-lady harus agak menyusut untuk memberikan ruang pada orang-orang itu. Senyum  manis masih tersungging di bibir, wajahnya yang cerah membuat mereka membalas senyum.

B-lady segera ke luar lift saat lantai yang di tujunya tiba, dia segera melangkah ke pintu apartemen putrinya, lalu memencet bel. Bunyi bel terdengar. “Shit! Siapa itu?” tampang pemuda itu tampak sangat frustasi.

B-lady keheranan, semalam ini putrinya belum pulang juga. Dia mencari sesuatu di dalam tas. Ternyata sebuah kunci. Dia segera membuka pintu apartemen, mencopot sepatu lalu mengganti dengan sandal rumah dan segera masuk ke ruang tamu. Sesaat dia mengamati suasana ruangan yang gelap itu. Dia mencari-cari stopkontak, menyalakan lampu ruangan lalu duduk di sofa, menanti kepulangan putrinya.

B-lady mulai membuka majalah. Sesekali dia memandang arlojinya. Dengan sabar dia menunggu. Bacaan di tangannya semakin menarik perhatian.

B-lady terkejut, teriakan dari arah kamar terdengar lagi. Dia segera berdiri. Kekawatiran segera menjalar di hatinya, rupanya dia salah. Putrinya di dalam kamar. “Sun pasti terjatuh, pasti berjalan sambil tidur lagi lalu terjatuh.” Dia segera berlari dan membuka pintu kamar lebar-lebar.

“Sun !” lady anggun itu memekik.

“Oema…” Sepasang kekasih itu menoleh ke arahnya. Pemuda tampan itu segera menarik selimut yang terkesiap untuk menutupi tubuh mereka lalu melepaskan diri dari posisi yang tidak enak dilihat.

B-lady sungguh tidak mempercayai pemandangan di hadapannya. Tangannya menutup mulutnya sementara langkahnya semakin menyusut ke belakang, dia berbalik dan berlari keluar apartemen Sun. Hatinya serasa perih dan marah, tidak disangka putri kebanggannya itu bertingkah demikian. Dia memasuki mobil dengan kasar, masih tak habis pikir dengan jalan pikiran Sun, Apa yang kau bisa dapat dari pemuda itu, Sun! Hanya artis yang baru naik daun, agamanya saja tidak jelas! Batinnya merutuki Sun. Dia memukul kemudi di depannya lalu menjalankan mesin dan segera pulang dengan hati dongkol.

====àóß====

Lion Bar sangat sibuk. Para pelayan mondar-mandir melayani pengunjung, sementara kelima bartender yang bertugas tampak memperlihatkan aksinya. Turis-turis asing terlihat di seantero ruangan. Musik yang terdengar sangat norak dan memekakkan telinga, membuat muak orang-orang alim, namun tentu tidak bagi mereka yang terbiasa dengan hiburan macam ini. Tampak beberapa pengunjung telah terkapar, entah sudah sampai di mana khayal mereka mungkin sudah sampai langit ke tujuh, padahal jelas-jelas raga mereka masih teronggok tak karuan di beberapa sudut bar itu, termasuk di antaranya pemuda jangkung yang menelungkupkan kepalanya di meja bartender. “Hei, Tuan, kau sudah sangat mabuk,” kata bartender di depannya.

“Ah, jangan mengoceh, tuang lagi di gelasku!”

Bartender itu tampak ragu menuruti perintahnya, wajahnya yang tampan segera mengeras,”Apa yang kau tunggu! Cepat berikan!”

Bartender itu menyerah juga, dia menuangkan cairan kuning keemasan ke gelas yang tersodor  dan segera ditenggak oleh si pemuda mabuk dengan sekali teguk lalu dgebrakkannya gelas itu di atas meja bersamaan dengan mendaratkan kembali kepalanya. Dengan posisi itu, dia masih memukul-mukulkan gelas itu di atas meja, sementara pikirannya mengutuki diri sendiri, dasar brengsek! Diantara banyak profesi kenapa harus itu yang ku pilih? Dan orang-orang itu seenaknya menekan dengan target, kenapa hidup hanya diukur dengan sederat angka? Angka-angka yang brengsek! Target-target yang munafik! Sang bartender cuma geleng-geleng kepala.

Di sebelah kiri pemabuk itu, dua orang gadis memperhatikannya, pakaian minim membalut tubuh keduanya, dan dari penampilan mereka, tentu pria alim akan menjauhkan diri. Mereka sangat terpesona dengan wajah tampan itu. “Hei, bukankah itu Lee Min Ho?” tanya salah satu dari mereka ke yang lain. Gadis yang ditanya semakin menyipitkan mata,”Sepertinya begitu. Kenapa aktor seperti dia bisa kacau begitu?”

“Entahlah, mungkin gagal casting.” Keduanya tertawa bersama. Seorang turis yang tengah mabuk berat menghampiri mereka,”Hay ladys, enjoy this night with me!”

“Thank you, sir. But we are not interesting,” tolak salah satu dari mereka. Sang turis tidak terima dan langsung mencengkram gadis satunya. Salah satu pria asing yang masih sadar dan merupakan teman dari turis mabuk itu berusaha menenangkannya,”James, stop it! We are foreigner here.”

“Fuck you, Nick !” temannya menolak, malah semakin menarik gadis malang itu ke arahnya dan berusaha menciumi. Pemuda jangkung yang disebut Lee Min Ho tadi mulai mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah keributan kecil itu. Dengan gontai dia menuju ke arah mereka lalu berusaha melepaskan gadis itu,”She said not interesting!”

James semakin berang dan melayangkan tinjunya ke pemuda jangkung tersebut. Mendapat perlakuan demikian, dia tidak terima dan membalas pukulan, perkelahian pun terjadi. Kedua gadis itu berteriak. “O My God.” sesal Nick berusaha melerai. Dan akhirnya sebuah botol yang dipegang oleh pemuda itu melayang ke atas kepala James hingga pecah dan korban segera rubuh. Nick  terkejut, tangannya reflek menepuk pemuda kalap itu, malang baginya botol pecah yang dipegang pemuda itu mendarat keras ke perutnya. Darah segar tampak merembes di baju Nick. Tubuhnya roboh di tempat. Jeritan-jeritan makin keras terdengar, menyadarkan  kekalapan pemuda itu. Dia segera melarikan diri. Keluar dari bar gila itu dengan langkah lebar, sementara orang-orang tidak memperhatikannya tapi malah panik dengan keadaan kedua korban.

=====àóß=====

Detektif Han menghela nafas, kasus ini sangat membingungkan, sementara kesibukan di kantor polisi itu makin menggila saja, suara telephone dan mesin ketik bersahutan, belum lagi umpatan para pesakitan itu saat diinterogasi, sungguh pagi yang buruk mengingat semalam tidurnya kurang pulas akibat telephone mendadak akibat kasus ini.

“Dua orang turis asing,” ujar asistennya, Hoo Kie.

”Orang Amerika!” sambung Han.”Ini akan menjadi kasus besar, menyangkut dua negara, apalagi Korea sedang giat-giatnya promosi wisata. Sungguh tidak bisa dipercaya.”

Hoo Kie membolak-balik arsip di depannya.

“Ada petunjuk lain?” tanya Han. Hoo Kie menggeleng.

“Yakin?”

“Ya!”

“Sidik jari atau kesaksian?”

“Nihil! Sepertinya orang itu memakai sarung tangan, kau tahu kan semalam  udara Seoul sangat dingin?”

“Lalu, apakah tidak bisa mengorek keterangan dari saksi?”

“Kita agak kewalahan akan hal itu.”

“Apa maksudmu dengan kewalahan?”

“Lion Bar berusaha melindungi semua yang bertugas  malam itu, jika kita mau saksi, kita harus berhadapan dengan tim pengacara mereka.” terang Hoo Kie.

“Hah! Benar-benar tak dapat dipercaya!” sekali lagi Han mendengus.”Lalu bagaimana dengan pengunjung?”

“Tetap nihil, sepertinya mereka terlalu individualis malam itu. Kita hanya bisa menunggu para korban sadar lalu kita bisa mengenali pelaku dari sketsa wajah.”

“Bisa diperkirakan kapan mereka sadar?”

“James Howl sudah sadar pagi ini, tetapi sepertinya semalam dia terlalu mabuk untuk mengenali pelaku,” jawab Hookie,”Harapan kita tinggal korban satunya, Nick Stollen.”

Han merebut file yang ada di tangan Hookie. Sesaat dia telusuri tulisan yang ada di lembar catatan kesehatan Nick, keadaan turis asing itu lebih parah, darah terus keluar dari lubang tusukan, dan perlu tranfusi, Han mulai menghitung berapa hari kemungkinan Nick tersadar. “Rupanya memang tidak ada cara lain, aku harus minta bantuannya.”

===à< = >ß===

“Kau yakin?” tanya Mino. Sun mengangguk,”Biar aku yang menjelaskan semuanya pada oemma.” Sun menuangkan orange juice ke dalam gelas lalu menyodorkannya di depan Mino “Apa acaramu siang ini?” Pertanyaan itu untuk mengalihkan pembicaraan. Mino meneguk orange juice di tangannya saat sandwich itu mulai menyumbat kerongkongan, “Seperti biasanya, syuting seharian. Kau sendiri?”

“Survey lokasi setelah ke rumah Appa.”

“Sebenarnya mau apa B-lady menemuimu?” Mino masih saja memutar arah pembicaraan. Sun memijit-mijit pelipisnya, “Entahlah,” Mino meraih tangan Sun, dia genggam tangan mungil itu seakan memberikan kekuatan di sana,”Kau yakin tidak mau kutemani?”

Sun tersenyum,”Setelah kejadian semalam, terus terang aku tidak tahu lagi apa yang harus kuperbuat.”

“Karena itu ijinkan aku menemanimu,” Mino memohon.

“Dan kau pasti akan diusirnya,” Sun terkekeh. Kening Mino berkenyit,”Oemmamu tidak menyukaiku?” Sun tidak menjawab, dia memandang ke arah jendela, suasana di luar terlihat teduh.

“Kenapa oemmamu tidak menyukaiku?” pertanyaan itu mengagetkan Sun. Sun memandang arlojinya,”Sudah jam sembilan, semalam kau bilang ada syuting jam sepuluh. Berangkatlah, kau pasti sudah ditunggu.”

Mino menghela nafas, dia mulai berjalan mendekati Sun lalu mencium kening, pipi, dan terakhir bibir kekasihnya itu,”Aku akan menelphonmu nanti malam, dan bila ada waktu, aku akan ke sini.” Sun tersenyum menghantarkan kepergian Mino dari apartemen itu.

Dan sekarang di sinilah Sun, di dapur B-lady bersama oemmanya itu yang telah mencuekkannya sejak tiga puluh menit yang lalu. Oemmanya masih saja sok sibuk dengan masakan, sementara Sun masih melamunkan kebersamaannya dengan Mino tadi pagi. Seperti yang telah dikatakannya pada Mino, dia memang tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan saat ini.

“Huh! Kenapa kaleng ini tidak berubah sejak sepuluh tahun yang lalu?” B-lady jengkel karena kesulitan membuka kaleng sarden, dia memukul-mukul kaleng itu sampai peyok, lalu melemparnya. Sun terkejut, jelas sekali Oemmanya marah bukan pada kaleng sarden, tapi pada dirinya. Sun memungut kaleng sarden itu lalu mulai membukanya dengan alat pembuka kaleng. B-lady menghela nafas,”Kau bilang tidak ada hubungan dengannya.”

Sun tersentak, pembuka kaleng hampir terjatuh dari tangannya. B-lady menatapnya tajam,”Lalu yang semalam itu apa?”

“Mianhamnida, Oemma,” ujar Sun lirih.

“Kau!” B-lady menunjuk ke arah Sun,”Sebenarnya apa yang kau lihat dari lelaki itu, Sun! Sudah berapa kali kalian melakukannya?” Sekali lagi Sun tersentak. B-lady memandangnya dengan penuh tanda tanya dan dia mulai bisa menebak jawaban yang akan diberikan putrinya,”Kau tahu apa sebutan yang bisa Oemma berikan untukmu? Pelacur!”

“Oemma?” Sun sungguh tidak mempercayai kata-kata B-lady.

“Ya, pelacur. Maaf jika Oemma terlalu keras tapi memang hanya itu yang bisa Oemma pikirkan, kau mau Oemma menyebutmu apa? Wanita simpanan? Oh, tidak bisa, Sun, wanita simpanan pasti sangat kaya karena mendapatkan apa saja dari pria yang dikencaninya, sedangkan kau…. Kau masih saja harus bekerja keras dengan film-film dan lukisanmu, sementara lelaki itu seenak jidatnya menemuimu di waktu luangnya dan kau dengan senang hati membuka kakimu untuknya, kau tahu  sebutan yang pantas? Apa lagi kalau bukan pelacur!”

“Oemma!” Sun berteriak sekarang. Air mata mulai mengalir di pipi, sementara tangan kanannya membekap mulut. Dia terisak, tak disangka B-lady mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan. Sejak kecil memang dia sering beradu mulut dengan oemmanya, tapi kali ini pernyataan itu adalah hal yang paling menyakitkan yang keluar dari mulut Oemmanya.

“B-lady, I am home…” teriak suami B-lady saat memasuki dapur. Lelaki paruh baya itu heran saat melihat Sun menangis, sementara B-lady terkejut dengan kepulangan suaminya yang tiba-tiba, dalam otaknya mulai mencari-cari alasan untuk menjawab pertanyaan suaminya itu kelak, suaminya sangat menyayangi Sun, diantara kedua putri mereka, Sun-lah yang paling suaminya sayang, dan dia tidak mungkin membuat suaminya kecewa dengan menceritakan kejelekan Sun, hubungan rahasia itu, yang seantero Korea sudah dianggap rahasia umum bahkan fakta, tapi bodohnya dianggap gossip oleh mereka karena sangat mempercayai Sun.

“Waeyo, Sunny?”

Sun memandang Appanya nanar, dia tidak sanggup menjawab pertanyaan itu, sementara bahunya bergerak-gerak selaras dengan isakkannya, dia sudah tidak sanggup dengan tatapan itu, hatinya sangat pedih, hingga akhirnya diputuskan untuk berlari meninggalkan ruangan itu. Dia berlari keluar dari rumahnya, menjalankan mobil secepat-cepatnya demi menghindari pertanyaan lebih lanjut dari Appanya, orang tua yang selama ini sangat membanggakannya itu.

=====à < = > ß=====

Detektif Han tertawa melihat penampilan temannya, pria di depannya terlihat sangat necis dengan kemeja yang terselip rapi di celana dan jas yang sangat serasi dengan kemeja itu, rambut pria ini sangat stylist, dan Han semakin ngakak melihat celanannya, celana pensil.

“Ha ha ha, terus saja tertawa,” pria di depannya merasa diperolok. Dengan susah payah, Han menghentikan tawa. Gedung kosong itu tampak tak terawat, dan hanya orang gila saja yang mau mengadakan pertemuan di tempat ini, tapi tempat bobrok inilah yang paling aman untuk pertemuan keduanya.”Apa yang kau dapat?” tanya Han. Pria stylist itu menyerangai,”Apa yang kau beri?”

Han menarik sudut bibirnya,”Kau perhitungan sekali!”

“Kau sudah berjanji, lagi pula kasus ini bukan prioritasku, aku sedang menangani pembunuhan gay,”terang pria itu. Itulah sebabnya polisi yang satu ini berpenampilan demikian, rupanya dia sedang menyamar untuk penyelidikan. Detektif Han selalu kesulitan dengan penyamaran karena tampangnya yang terlalu serius dan para penjahat itu langsung bisa mencium aroma polisi dari tubuhnya, maka dia meminta bantuan temannya itu. Han mengeluarkan sesuatu di balik mantelnya lalu menyodorkan ke arah pria itu.

“Apa ini?” tanya sang ahli menyamar.

“Dua tiket ke Haway, anggap saja ini bantuanku agar kau bisa berkencan dengan pasangan gaymu,” sekali lagi Han tertawa.

“Kau!” pria itu memukul bahu Han, Han meringis kesakitan.

“Get it or not?” Han merebut dua tiket itu. Pria itu terkejut dan cepat merebutnya kembali,”Seorang actor.”

“Apa kau bilang?”

“Pelakunya adalah actor.”

“Actor!”

“Ya, itu yang aku dapat.”

“Siapa?”

“Mereka bilang tubuhnya jangkung.”

“Hah, kau kira berapa banyak actor jangkung di Korea ini?” hardik Han,”Yang kau katakan sangat konyol.”

“I don’t care. Hanya itu yang ku dapat. Setidaknya kasus ini besar, korbannya warga negara asing dan pelakunya actor local, kau pasti akan naik pangkat jika berhasil memecahkan kasus ini. Senang berbisnis denganmu, Han,” pria stylist itu  berlalu.

“Hai, hai!” Han memanggil pria itu, tapi yang dipanggil tidak menghiraukannya, hanya melambaikan tangan dan tetap meninggalkan tempat itu. Ponsel Han berdering dan segera diangkat.

”Nick Stollen sudah sadar,” kata Hoongkie di ujung telephon. Han melonjak girang,”Lakukan sketsa wajah secepatnya.”

“Akan kita usahakan, semoga tim medis mengijinkan kita melakukan itu mengingat keadaan Nick.”

“Terserah, yang penting pelaku segera dikenali,” seloroh Han. Dia tiba-tiba merasa penasaran. Seorang actor! Hm, actor jangkung? Siapa? Mungkin benar kalau ini akan jadi kasus besar.

=====à< * >ß=====

Sehari sudah semenjak pertengkaran Sun dengan B-lady. Sun terlihat sangat tidak bersemangat pagi ini, semua pekerjaan dijalaninya dengan setengah hati, bahkan semalam dia sudah melarang Mino menemuinya, dia tidak ingin Mino melihat wajah sedihnya, dia berbohong ketika Mino menelephon, mengatakan bahwa hubungan dengan Oemmanya tetap baik-baik saja.

Hari merangkak siang, percuma Sun tetap memaksakan diri bekerja, sangat susah berkonsentrasi, akhirnya dia mendatangi Manolin Café, menghibur diri dengan menjadi barista di café miliknya itu. Seorang wanita karir terkejut melihatnya, hal langka bagi wanita ini dilayani oleh artis sekaligus pemilik café,”Anda tidak sibuk siang ini?”

“Seperti yang anda lihat,” jawab Sun.

“Bisa berikan saya Coffelatte?”

“Tentu,” Sun menjawab dengan menampakkan lesung pipitnya dan segera membuatkan pesanan.

“Bisa ganti saluran tv-nya dengan siaran infotainment?” pinta wanita itu lagi saat Sun menyajikan pesanannya.”Infotainment? Anda suka acara itu?”

“Iya, siapa tahu ada Anda di sana?”

Sun menurutinya, saluran TV segera menayangkan acara infotainment. Para pengunjung café mulai menoleh ke layar televisi. Sun tersenyum saat satu persatu berita dari teman sesama artis muncul. Semua kaget saat sebuah berita yang akhirnya terpampang,

“Aktor LMH ditangkap di apartemennya atas sangkaan penusukkan terhadap turis asing.”

Wanita karir itu berbalik ke arah Sun,”Menurut Anda, apakah dia benar melakukan itu?”

“Siapa?”

“Lee Min Ho,” jawab wanita itu sembari menunjuk TV. Sun mengikuti arah telunjuk itu dan menyadari semuanya. Serta merta Sun memperhatikan berita itu lebih seksama, dan dia mulai gugup. Sun segera menuju ruang pribadinya di Café itu, perasaannya tidak karuan, berjalan mondar-mandir sambil menggigiti kuku.”Tidak mungkin, itu semua tidak  mungkin, malam itu dia bersamaku….. Bumie! Ya, Bumie, aku harus menelphon Bumie.”

“Bumie!” seru Sun saat ponselnya terhubung.

“Oh, ya, Noona, aku sudah mendengar kabar itu,” rupanya Bumie sudah tahu maksud Sun menelphon.

“Itu tidak mungkin. Malam itu Mino ada bersamaku!”

“Aku kurang tahu dengan kasus ini, Noona. Tapi aku berencana menemuinya di penjara siang ini.”

“Aku ikut! Aku harus mengatakan pada polisi yang sebenarnya.”

Bumie diam sebentar,”E… aku tidak tahu, Noona, tapi… tidakkah hal itu akan membongkar hubungan yang kalian rahasiakan selama ini?”

“Persetan dengan semuanya!”

“Aku kenal Mino, Noona. Dia pasti tidak setuju.”

“Tidak peduli! Aku harus menemuinya!”

Bumie semakin gusar,”Begini saja. Noona ke kantor polisi dengan memakai mobil orang lain, terserah mobil siapa asal jangan mobil Noona, tapi jangan langsung masuk, tunggu di tempat yang agak jauh dari kantor polisi. Biar aku yang menemui Mino dulu, sebenarnya aku tidak yakin Mino mau Noona temui, biar aku pastikan dulu, jadi tunggu aku untuk menjemput. Araso!”

“Apa saja, aku ikut saja, Bum.” Jawab Sun. Bumie menghela nafas,”Tenanglah di sana, Noona. Jangan gegabah.”

=====à < * > ß=====

“Mino, kau harus memikirkan semua ini. Ini adalah alibi yang sangat kuat!” ujar Manajer Mino. Bumie yang ada di ruangan itu tampak gusar, sepuluh menit yang lalu Sun mengirim SMS bahwa dia sudah menunggu di dalam mobil, di pertigaan sekitar tiga ratus meter dari kantor polisi.

“Sido!” tolak Mino. Bumie menghela nafas,”Benar kata Manajer. Dengan mengatakan bahwa kau bermalam bersama Sun waktu itu, kau segera bebas dari tuduhan.”

“Kau bodoh, Bum. Oke, aku mengatakan kalau aku bersama Sun, lalu mereka menanyai Sun, Sun mengiyakan, dan tidak sampai di situ saja, wartawan-wartawan brengsek itu akan bertanya lebih lanjut, lalu mau ku jawab apa? Bercinta semalaman dengannya? Dan bagaimana nasib Sun setelah itu? Kalian pernah memikirkan itu?”

Mino memijit pelipisnya, dia tidak pernah menyangka kejadian ini menimpa dirinya. Menjadi tersangka penusukkan turis asing hanya karena sketsa wajah.”Aku boleh saja hancur, asal jangan Sun. Jalan Sun masih sangat panjang!”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya sang manajer.

“Ah, kau manajer bodoh, bisa-bisanya kau bertanya padahal itu tugasmu,” hardik Bum. Manajer itu mendelik ke arahnya,”Pihak manajemen sudah menunjuk pengacara, tapi jika pengacara itu tahu alibi ini, dia pasti juga akan menggunakannya.”

Mino memejamkan mata, perkataan manajer itu ada benarnya juga, sekarang bagaimana caranya agar pengacara itu tidak tahu,”Aku akan menjadi Goo Jun Pyo. Goo Jun Pyo menyelesaikan semuanya dengan uang.”

Bumie terkekeh, perkataan sahabatnya ini terdengar konyol,”Jangan melucu, Mino-ssi. Ini bukanlah serial drama.”

“Kita sudah hidup di dunia itu. Di situ ada aktor dan sutradara, untuk sementara biarkan aku menjadi sutradara sekaligus aktor untuk keluar dari kasus ini,” pinta Mino. “Pak manajer, tawari turis itu dengan sejumlah uang agar mau berdamai.”

“Kau gila, Mino-ssi. Mereka orang Amerika, sudah pasti mereka langsung berlindung di kedutaan besar Amerika!” tolak sang manajer.

“Itulah sebabnya aku menyuruhmu, kau pintar bernegosiasi.”

Ponsel Bumie berbunyi. Sun mengirim pesan untuk ke sekian kalinya. Dia semakin gusar. “Siapa itu?” tanya Mino.

“Hye Sun  Noona,” jawab Bum,”Dia menunggu di pertigaan seberang.”

“Pabo!” teriak Mino. Bumie menghempaskan punggung di sandaran kursi.”Telephon dia sekarang, bilang agar tidak bertindak yang macam-macam,” perintah Mino.

“Dia hanya ingin menemuimu!”

“Anyi! Katakan saja aku tidak bisa ditemui, sedang ada pertemuan dengan pengacaraku, apa saja agar dia segera pulang!”

Bumie melakukan apa yang diperintahkan Mino. Dia menjauhkan diri dari Mino dan manajernya untuk menelphon Sun. Sementara Mino dan manajer itu meneruskan permbicaraan,”Seperti yang ku bilang tadi tawari mereka uang, aku rela kehilangan apa saja agar mereka mau melepas kasus ini.”

“Jika mereka tidak mau?”

“Tekan mereka agar mau menerimanya.”

“Maksudmu aku harus bekerja sama dengan geng seperti Woo bin dalam BOF?”

“Oh my God, Manajer! Mereka turis asing, cari kelemahan mereka, ijin tinggal, visa yang habis masa, atau apa saja!” Mino semakin tidak sabaran, tidak biasanya manajernya ini begitu lamban berpikir.

“Araso! Araso!” sahut manajer. Mino menarik ujung bibirnya. Bum yang sudah selesai menelphon Sun kembali di antara mereka,”Sangat sulit meyakinkannya, tapi akhirnya dia mau mengerti setelah aku bilang kalau akan menemuinya setelah ini.”

Kini giliran Mino menyandarkan diri di kursi,”Bilang padanya aku tidak mau ditemui selama di penjara.”

Bumie mengangguk. Mino memerintah lagi,”Bilang juga padanya agar tidak bicara apa pun mengenai pertemuan kami yang terakhir!”

===è……ç===

Sun berbaring di sofa, sementara peñata rias bekerja, mempermak wajahnya yang pucat agar terlihat lebih segar. Beberapa hari terakhir memang kesehatannya agak terganggu, dia merasa mual bahkan sesekali pingsan, dan yang terparah, dia pernah pingsan di hadapan B-lady, B-lady memang mendatangi apartemennya kemarin dan menekan Sun agar memutuskan hubungan dengan Mino. Saat itu B-lady mengira Sun hamil, Sun bahkan harus menggunakan test pack di depan oemmanya itu hanya untuk meyakinkan kalau dia tidak hamil.

Di Hall room, para wartawan sudah berkumpul menanti kehadiran Sun, hari ini memang diadakan Confrensi press untuk menjawab simpang-siurnya berita antara Sun dan Mino. Sun sebenarnya  tidak menyetujui acara ini, tapi pihak manajemen meyakinkannya kalau hal ini harus dilakukan, sebab jika dia tetap diam, beberapa pihak sponsor filmnya diindikasikan dapat memutuskan kontrak kerja.

Sementara di ruang pengunjung, di kantor polisi, Bumie dan Mino menatap layar HP Tv. Menanti-nanti dengan cemas acara tersebut. Beberapa kali Mino berjalan mondar-mandir di ruangan itu lalu duduk lagi.

“Hai, diamlah, Kau membuatku tambah panik,” Bumie memandangnya risih. Mino mendengus,”Kenapa harus ada confrensi press? Kau bilang dia sudah janji tidak bicara apa pun!”

“Kau pikir sangat mudah bagi dia, hah! Beberapa sponsor mengancamnya untuk membatalkan kerja sama, manajemen menekannya untuk melakukan ini!”

Mino merebut HP TV dari tangan Bumie,” Belum mulai juga.”

“Jangan kawatir, dia janji tidak akan banyak bicara, di sini nanti manajernya yang akan lebih banyak bicara,” jelas Bumie.

Sun masih berkutat dengan riasan wajahnya. Sesekali peñata riasnya mendengus, agak susah menyembunyikan pucat di wajah Sun kali ini, sementara angan Sun mengingat-ingat kembali pertemuannya dengan Bumie setelah dia gagal menemui Mino beberapa hari yang lalu.

“Apa dia sudah gila?” pekik Sun. Bumie menyandarkan punggung di sofa ruang tamu apartemen Sun. Dia sudah menduga reaksi Sun akan seperti ini. “Hanya ini yang bisa mengeluarkannya dari semua tuduhan,” Sambung Sun lagi.

“Noona pikir sudah berapa kali aku meyakinkannya, bahkan manajernya pun berang. Oh ya, satu lagi, dia melarang Noona menemuinya di penjara.”

“Sidho!” Sun benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Mino. Dia meraih tas selempangnya dengan cepat. Bumie terkejut,”Noona mau kemana?”

“Antarkan aku menemuinya!”

“Anyi! Sudah jelas dia tidak mau Noona temui!”

“Baik, aku akan menemuinya sendiri!” teriak Sun sembari mulai melangkah pergi. Dan saat dirinya hampir mendekati pintu…… .”Huh, kenapa harus aku yang selalu diantara kalian.”

Sun menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan memandang ke arah Bumie,”Apa katamu?”

“Aku bilang kenapa harus aku yang selalu diantara kalian!” Bumie terlihat sangat jengkel. Sun semakin tidak mengerti.

“Kau tahu, kan? Konser Joongie, pemutaran perdana filmmu, dan yang terakhir…. Kasus konyol ini! Kenapa bukan Joongie? Kenapa bukan Joon! Bukan aku saja yang tahu hubungan kalian!”

Sun tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bumie memangilnya dengan ‘kau’ seumur-umur baru kali ini dia mendapati Bumie semarah ini. Aku pasti sudah sangat menyusahkan, pikir Sun.

Bumie berdiri, dia berjalan ke arah Sun, menekan dengan kuat bahu Sun dengan ke dua tangannya,”Jadi, jika kau masih ingin seorang Bumie membantumu…. Lakukan perintahku!”

“Dia memerintahmu untuk tidak menemuinya di penjara. Dan aku juga perintahkan itu. Dia mau kau tutup mulut tentang malam pertemuan kalian yang terakhir, dan aku juga…. Aku juga perintahkan itu. Araso!” Bumie menggoncang-goncang tubuh Sun. Sun tertegun di tempat, dan butir-butir bening mulai menggenang di pelupuk matanya. Sun menyusut ke lantai, bersimpuh di hadapan Bumie dengan kedua tangan membekap mulutnya. Bumie berjongkok dan memeluk tubuh yang gemetaran itu,”Miane, jeongmal miane, Aku mohon berjanjilah, ini demi kebaikan kalian berdua, aku mohon….”

Diantara isakan itu, akhirnya Sun mengangguk lemah.

Sun menghela nafas, wartawan-wartawan itu sudah di depannya sekarang. Sementara manajernyalah yang selalu menjawab pertanyaan. Akan tetapi mereka tetap saja merasa kurang puas. Sang artis hanya berdiam diri, menatap dengan pandangan kosong.

“Hye Sun-ssi, apa komentar anda tentang kasus Mino-ssi?”

“Hye Sun-ssi, benarkah kalian selama ini berhubungan?”

Hye Sun-ssi, Hye Sun-ssi dan Hye Sun-ssi! Mereka tetap saja memojokkannya dengan sederet pertanyaan, “Hye Sun-ssi ada yang melihat Mino berada di apartemen anda waktu itu.”

Kali ini Hye Sun mulai bergerak, tapi ekspresi wajahnya tetap datar. Mino dan Bumie yang mengikuti acara itu di kantor polisi mulai tegang. Sementara B-lady yang juga melihat ekspresi Sun dari monitor TV mengkernyitkan alis.

“Apa-apan ini? Sudah jelas-jelas Sunny tidak ada hubungan dengan lelaki itu, mereka masih saja merepotkan. Bikin Sunny-ku stress saja!” Mr. Goo yang duduk di samping B-lady semakin ngomel. B-lady melirik, suaminya masih belum tahu tentang rahasia itu. Aku harap kau segera memutuskannya, Sun, batinnya penuh harap.

“Bukankah ini alibi kuat buat Mino-ssi jika semua ini benar dan anda mengatakannya?” wartawan itu menanyainya lagi.

Sun memandang ke arah wartawan itu. Jepretan blitz kamera sesekali menerpa wajahnya. Tangannya mulai bergerak ke arah mic. Mino yang melihat itu menahan nafas. Tangan Bumie mengepal, berharap Sun tidak melanggar janjinya. B-lady tampak pucat di tempatnya dan Mr. Goo masih saja mengomel.

Sun menghentikan tangannya, ekspresi wajahnya masih tak tertebak.

“Dalam hubungan ini kaulah yang memimpin,” dia teringat kata-kata yang diucapkannya pada Mino. “Selamanya aku tak akan melepaskanmu,” Mino seakan berbisik di telinganya. Sun menggerakkan tangannya lagi.

“Kenapa harus aku yang selalu diantara kalian?” teriakan Bumie kembali melintas di otaknya. Sun mulai meraih micnya.

“Jika kau masih ingin seorang Bumie membantumu,” sekali lagi pikiran Sun terganggu,”Dia mau kau tutup mulut tentang malam pertemuan kalian yang terakhir!……Araso!”

Sun memejamkan mata. Mino terduduk dengan tangan kanan menekan pelipisnya. Bumie mulai meletakkan HP TV itu di atas meja. B-lady semakin pucat.

“Seperti yang selama ini saya katakan… saya tidak ada hubungan dengannya.”

Mino dan Bumie melonjak girang. B-lady menghela nafas lega. Mr. Goo menari-nari tak jelas,” Jawaban yang cerdas, Sunny!”

Sun tersenyum manis,”Tuduhan terhadap saya salah alamat.”

Sun berdiri saat para kuli tinta itu masih ingin melontarkan pertanyaan, dari bahasa tubuh Sun, terlihat dia segera meninggalkan ruangan. Pihak manajemen Sun berusaha menenangkan press. Sun sukses melarikan diri dari hysteria itu dengan kawalan para bodyguardnya.

———–à< ^^^ >ß———–

Saat ini tepat pukul 11 malam waktu seoul, Mino melangkahkan kakinya menuju ruang pribadi Sun di café Manolin. Kasus itu usai sudah. Manajernya melakukan misi dengan baik. Para turis itu mau berdamai ketika diancam dengan masa visa yang habis sebelum kejadian penusukan. Dan siapakah pelaku sebenarnya yang sangat mirip dengannya? Mino tidak ambil pusing. Baginya semua telah berlalu, dan kini dia ingin menemui kekasihnya, dibukanya pintu ruangan itu dan di sanalah Sun, duduk di depan sketsanya, begitu bersinar diantara temaram malam. Sementara  kesunyian menghantarkan sukma kerinduan yang tersemayam.

Sun menghambur ke pelukan Mino  dan segera terkunci dengan ciuman. Seketika dia membalas ciuman itu, lalu menarik Mino mendekati bibir ranjang di ruangan itu. Mino agak terkesima dengan keagresifannya yang tidak seperti biasanya, tapi sekaligus bahagia. Sesaat mereka menyalurkan hasrat yang tertahan selama Mino terpenjara, menikmati tetes demi tetes gairah yang tertuang di atas peraduan cinta mereka. Kata-kata dan bisikan mesra tertuang diantara hasrat yang memburu, saat hati dan fisik bicara, tiada hal yang mampu menandinginya. Tak perduli nafas yang hampir habis, desahan dan leguhan tetap keluar dari keduanya. Ciuman, sentuhan dan saling memohon untuk terpuaskan. Semua berbaur di antara kerinduan yang terpendam dalam benak mereka. Dan diantara semua itu, Mino mengagumi kekasihnya, diagungkannya pujaan hatinya itu dengan buaian yang tersalur diantara gairahnya yang terdalam, “Untukmu, Baby…. Hanya untukmu.”

Sun menghirup udara dalam-dalam, aroma capucino yang dibuatnya untuk Mino menusuk penciumannya. Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi, Mino memang sedang mandi di dalamnya. Hari masih sangat pagi, para karyawan café belum datang. Sun segera menuju ruang pribadinya. Mino sudah keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk,”Kopi untukku?”

Sun tersenyum, disodorkannya kopi itu kepada Mino. “Gomawo,” Mino menerimanya dengan senang hati lalu meneguknya pelan. Sun duduk di sofa dan Mino mengikuti gerak-geriknya lewat sudut matanya. Entah kenapa hatinya berkata kalau pagi ini Sun kelihatan aneh, bukan hanya pagi ini tapi juga semalam. Keagresifannya, caranya merespon permainannya, segala hal yang membuatnya bahagia tapi juga membuatnya keheranan. Mino meletakkan cangkir kopi itu di meja teh di dekat sofa itu, dia duduk di samping Sun,  meraih tangan kekasihnya dan mengecup punggung tangan itu.

“Min-a, ada yang ingin kubicarakan,” suara Sun yang lirih memecahkan keheningan. Mino menatapnya penuh tanya. Sun menunduk, dia tidak mampu membalas tatapan itu, “Sepertinya semalam adalah percintaan kita yang terakhir.”

“Mwo?” Mino tak mengerti maksud perkataan Sun.

“Aku…. Aku….minta putus!” Sun menguatkan hatinya. Mino terbelalak,”Tidak! Aku tidak mau!”

“Cukup, Min-a, aku tidak bisa jadi pelacurmu lagi!”

“Pelacur? Apa maksudmu pelacur? Kau kekasihku, Sun. Kau istriku!”

“Istri? Bangun dari mimpimu, Lee Min Ho! Jika aku istrimu, aku tidak mungkin meminum pil-pil itu, jika aku istrimu, aku tidak perlu kawatir memastikan kalau kau mengeluarkannya di luar, takut kalau-kalau diriku hamil. Aku bukan istrimu, araso!”

“Kau…..” Mino menunjuk ke arah Sun. Dia menggeleng lemah,”Sudah ku bilang selamanya aku tak akan melepaskanmu.”

“Untuk saat ini, selamanya terlalu lama bagiku, Lee Min Ho! Aku tidak tahan lagi! Aku mau putus!” Sun menjerit.

“Ini bukan dirimu, katakan ini bukan dirimu!”

“Ini diriku yang sesungguhnya!!!” Sun meraung diantara tangisan yang tertumpah. Hati Mino semakin pedih. Inikah alasannya? Inikah alasan dibalik percintaan hebat semalam? Tidak, tidak semudah itu, Baby.

Mino mendekati peralatan lukis Sun, dia mencari sesuatu di sana. Saat dia menemukan benda yang dicarinya, dia mendekatkan benda itu di pergelangan tangannya. Logam keperakan itu tampak berkilat tertimpa cahaya saat dia berbalik menghadap Sun. Gadis  itu terperanjat di tempatnya,”Apa yang akan kau lakukan?” Dia berlari mendekati Mino yang sedang mendekatkan cutter di pergelangan kirinya.

“Berhenti!” Mino mengancam,”Apa gunanya aku tanpamu, Baby. Lebih baik aku mati!”

“Jangan bodoh! Kau akan membongkar semuanya kalau melakukan itu!” teriak Sun.

“Aha! Lihat siapa yang ketakutan sekarang! Selama ini aku merasa pengecut karena rahasia ini tapi ternyata….. sudah kubilang aku lebih baik mati!”

Sun semakin terisak, “Aku mohon mengertilah, aku mohon!”

“Tidak!” Mino mulai menyayat pergelengan tangannya. Darah segar segera keluar dari lubang sayatan itu. Sun menjerit sekuatnya. Perlahan tubuh Mino oleng. Sun berlari ke arahnya dan memeluk tubuh jangkung yang sudah terkapar itu. Para karyawan mulai berjejal masuk saat mendengar teriakan Sun yang menyayat hati,”Bangun, Mino-ssi! Aku bilang Bangun! Bangun!!!”

Para karyawan segera memanggil ambulance. Sekejap suasana manolin café rame oleh press dan akhirnya kabar itu menggema,

‘SELEPAS DARI PENJARA, AKTOR LMH MELAKUKA PERCOBAAN BUNUH DIRI DI MANOLIN CAFÉ”

Bumie tersenyum saat membaca berita ini,”Pabo, Mino-ssi! Kau bersikeras agar Sun tidak mengungkap tabir ini, tapi kau sendirilah yang mengakirinya.” Bumie menghembuskan nafasnya kuat-kuat,Sepertinya kau terlalu naif untuk menjadi seorang Goo Jun pyo…..

———à < … > ß———

Mrs. Lee menghela nafas, dia mencoba menghimpun kekuatan di dirinya. Rumah keluarga Goo berdiri angkuh di hadapannya. Hari ini dia berusaha melakukan yang diminta putranya sesaat setelah tersadar dari perbuatan konyol itu, Mino memintanya melamar Sun untuk dirinya. Ragu-ragu, dia membunyikan bel itu dan dia berusaha mengatur perasaan saat pintu rumah itu terbuka.

“Saya adalah Ibu Lee Min Ho,” di ruang tamu itu Mr. Lee memperkenalkan diri di depan Mr. Goo dan B-lady. B-lady mulai gugup.

“Senang berkenalan dengan anda,” sapa Mr. Goo. B-lady mempererat pegangannya di lengan kanan Mr. Goo. Suaminya menoleh dan menepuk-nepuk tangan yang melingkar di lengannya itu, berusaha menenangkan.

Mrs. Lee menyodorkan bungkusan kotak yang sedari tadi dibawanya,”Maksud kedatangan saya kemari adalah…..untuk melamar putri anda, Goo hye sun…. menjadi istri putra kami…. Lee Min Ho.”

Mrs. Lee menatap nanar, harapannya sudah di tekan dalam-dalam. Pasangan Goo di depannya masih saja terdiam. Dia tahu perbuatannya ini tidak pantas, seharusnya dia menunggu suaminya dulu, tapi Mino terlalu memaksa, Mino ingin dia menemui keluarga Goo hari itu juga, entah apa yang ditakutkan anak itu, dia sendiri kurang tahu. Apakah takut kalau Sun meninggalkannya? Gadis itu selalu setia mendampinginya di rumah sakit walau pun press menghujatnya. Mrs. Lee kebingungan di antara kesunyian itu.

“Saya rasa,” Mr. Goo mulai bersuara,”Keputusan ada di tangan Sun. Kami hanya menurut.”

Wanita paruh baya ini merasa lega, beban berat seakan telah terangkat. Dia mengucapkan terima kasih berulang-ulang pada Pasangan Goo. Senyuman mulai tampak di wajahnya sekarang.

“Tunggu,” giliran B-lady kini yang bicara,”Boleh tahu apa agama putramu?”

“Ceongmal, oemma?” Sun melonjak senang saat mendengar kabar dari Mrs. Lee. Dia segera memeluk calon mertuanya itu.

“Baby… kemarilah,” Mino yang masih terbaring di ranjang rumah sakit memanggil. Sun menoleh lalu duduk di kursi yang terletak di samping ranjang dan meletakkan kepalanya di dada bidang itu. Mino pun mengecup kening Sun. Mr. Lee sangat bahagia melihat keduanya,”Kau senang, Mino?”

“Sangat, Oemma. Sangat bahagia, wanita yang ku cintai akan menjadi pendamping hidupku.” Mino menatap hangat ke arah Sun. Gadis itu terharu, dan terisak di dadanya.

“Oh, iya, Mino,” tiba-tiba Mr. Lee teringat sesuatu.”Mereka menanyakan agamamu. Untuk mempermudah, akan lebih baik jika kau mengikuti agama Sun.”

Mino masih saja membelai sayang rambut Sun,”Anything, Oemma. Anything for my everything.”

à THE END ß