DINASTI LEE II (Part 12)

DINASTI LEE II

(The Thin Limit)

Part 12

Song of the part :

 

Green, Green Grass Of Home

 

The old home town looks the same
As I step down from the train
And there to meet me is my Mama and Papa
Down the road I look and there runs Mary
Hair of gold and lips like cherries
It’s good to touch the green, green grass of home

Yes, they’ll all come to meet me
Arms reaching, smiling sweetly
It’s good to touch the green, green grass of home

The old house is still standing,
Though the paint is cracked and dry
And there’s that old oak tree that I used to play on
Down the lane I’ll walk with my sweet Mary
Hair of gold and lips like cherries
It’s good to touch the green, green grass of home

Then I awake and look around me
At four gray walls that surround me
And I realize that, yes I was only dreamin’
For there’s a guard and there’s a sad old padre
Arm and arm we’ll walk at daybreak
Again I’ll touch the green, green grass of home

Yes, they’ll all come to see me
In the shade of that old oak tree
As they lay me ‘neath the green, green grass of home

Sung By Tom Jones

 

 

Keesokan paginya. Min Ho serasa bagai lelaki baru. Dia yang terbangun lebih dulu dari Sun, pergi ke dapur setelah mandi dan berpakaian rapi. Dibawakannya sarapan Sun ke kamar mereka. Sun yang mencium bau masakan mulai membuka mata, dan terkejut mendapati suaminya itu sudah sangat rapi, tersenyum lebar ke arahnya dengan baki di tangan. Dengan memegangi perutnya, Sun berusaha duduk menyender di ranjang.

“Hati-hati, Baby,” Min Ho membantunya setelah meletakkan baki sarapan itu di atas meja kecil di kiri ranjang.

“Kau sudah bangun, kenapa tidak bangunkan aku,” Sun mulai ngambek. Min Ho meletakkan baki sarapan di pangkuannya,”Seharusnya aku yang melakukan ini semua padamu, Min Ho-ssi. Aku yang harusnya bangun lebih dulu.”

Min Ho mengibaskan tangannya,”Untuk sementara lupakan protokol suami-istri yang membosankan itu, kau pasti lelah setelah semalam. Ayo, sekarang makanlah.”

Sun mulai menyendok bubur di pangkuannya, pada saat itulah selimut yang menutupi dadanya agak tersingkap. Min Ho yang melihat hal itu kini menyelipkan satu tangannya ke bawah selimut itu dan merasakan kedua bagian tubuh itu menyambut belaian tangannya dengan hangat. Getaran yang menjalari sekujur tubuhnya mulai tak bisa lagi dia bendung, dan ia mengangkat baki sarapan itu lagi ke meja, lalu mencium lagi bibir kemerahan Sun dan menjalarinya sampai leher.

“Min Ho-ssi, apa kau akan melakukannya lagi?” tanya Sun parau. Susah payah, dia berusaha meredam hasratnya karena sentuhan itu. Terus terang, dia mengkawatirkan kandungannya jika Min Ho tetap tak bisa menahan diri seperti ini.

“Hm…,” Tapi Suaminya itu tidak menjawab, semakin asyik mencumbu dadanya, hingga otak dan hasratnya beradu antara akal sehat dan nafsu. Dan akhirnya, jantungnya berdetak cepat diantara kebimbangan itu.

“Min…  ah… ,” Sun memekik saat gigitan kecil terasa. Min Ho semakin menginginkannya, hingga lelaki itu menarik tubuhnya sampai terbaring kembali. “Aku mohon…, ingat… anak kita,” Sun mengingatkan dengan susah payah, jantungnya berdegup semakin kencang, tapi rupanya peringatan itu tertelan begitu saja karena nafsu suaminya sudah menyerang ubun-ubun. Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk oleh seseorang, dan hal ini sukses membuat Min Ho terpaksa mematahkan nafsunya.

“Mom.. , Dad… , Are you there?”

Wajah Min Ho tampak frustasi. Sun tersipu-sipu melihatnya, dalam hati, Sun merasa terselamatkan oleh putranya. “Anak tengil itu mengganggu saja,” gerutu Min Ho kemudian, lalu membantu Sun duduk kembali dan meletakkan baki sarapan di pangkuan istrinya itu.”Teruskan makanmu. Biar aku yang mengurus kemauan anak itu. Pagi ini kau sarapan di kamar saja, Baby. Tidurlah kembali jika masih lelah. Jam sepuluh nanti kita ke dokter untuk memeriksakan kandunganmu, aku tiba-tiba kawatir setelah kekonyolan kita semalam.”

Dahi Sun berkerut seketika. Baru semenit yang lalu Min Ho bernafsu menyentuhnya lagi, tapi kenapa secepat itu akal sehat suaminya kembali?

“Mom, Dad, are you there?” sekali lagi Min Jae mengentuk pintu. Min Ho semakin jengkel,”Ne! Sebentar, tidak sabaran banget?”

Sun terkekeh mendengar ucapan Min Ho. Suaminya itu akhirnya berjalan ke arah pintu. Min Ho keluar kamar, menutup pintu, lalu berdiri bersandar di kusen pintu,”Waeyo?”

“Waktunya sarapan, Dad. Halmoni sudah menunggu di ruang makan.”

Min Ho mendengus sebal,”Apa perlunya kau sendiri yang memanggil kami. Suruh saja pelayan.” Anak di depannya itu malah nyegir kuda,”Sebenarnya ada juga hal yang ingin ku sampaikan.”

“Oke. Kita sarapan sekarang,” ajak Min Ho. Dia mulai menggiring Min Jae ke ruang makan.

“But, Mom tidak sarapan?”

“Anyi, biarkan dia istirahat, kau tidak berpikir kalau dia capek berdiri terus di pestamu?”

Min Jae hanya bisa mengangguk. Mereka akhirnya tiba di ruang makan dimana Je Ha sudah menunggu. Sesekali timbul gurauan di antara mereka, tapi Min jae belum juga mengungkapkan hal yang mengganjal di hatinya. Dia tidak ingin merusak suasana bahagia itu. Min Ho yang sudah mulai menyelesaikan makannya, mulai mengingat pembicaraan Min Jae di depan pintu kamar. “Kau bilang ada yang ingin kau bicarakan?” tanyanya pada Min Jae.

“Yes, dad.”

“Katakan saja,” Min Ho mulai memandang serius. Je Ha mengamati roman wajah Min Jae yang juga berubah serius, hingga akhirnya Min Jae bersuara,”Min Jae akan ke Beijing besok, untuk mengurus sesuatu.”

“Sesuatu? Apa?” Je Ha jadi penasaran.

“Surat-surat Min Jae perlu legalisir,” Min Jae masih juga berteka-teki.

“Surat apa?” Kali ini Min Ho semakin tidak sabar, dia tidak ada waktu buat menebak-nebak lagi.

“Ijazah, piagam penghargaan, semuanya. Setelah itu Minjae ke Amerika, ada beasiswa dari Harvard untuk program doctor.”

Kedua orang tua di depannya terkejut. Mereka tidak menyangka sampai sejauh itu pemikiran bocah ini. “Ini pasti alasanmu untuk menghindari kami, bukan?” Min Ho masih saja mencurigai putranya.

“No, Dad. Min Jae sudah memikirkan hal ini jauh-jauh hari, bahkan beasiswa ini sudah Min Jae dapatkan sehari sebelum pindah ke Lee Manshion. Min Jae mulai kuliah musim dingin ini.”

Min Ho jadi mengerti alasan Min Jae menunda kepindahannya pada waktu itu. Je Ha masih tidak bisa terima keputusan cucunya,”Kenapa kau harus mengambil program doctor, apa kau ingin menjadi akademisi? Ingat, kau harus meneruskan Lee Corporation.”

Min Jae menghela nafas,”Ada rasa penasaran untuk meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Itu saja, Halmoni. Min Jae tidak pernah merasa puas.”

Min Ho tersenyum bangga, dia mulai menunjuk-nunjuk Min Jae,”Hm, ini baru putraku. Kau benar-benar seorang Lee.”

“Oke,” Akhirnya Je Ha pasrah juga,”Pergilah kau ke sana, tapi ingat, pulang kembali ke mari dan jadilah penerus Lee.”

Min Jae tersenyum, tiba-tiba dia ingin menggoda neneknya dengan suatu pemikiran, hingga terlontarlah wacana itu,”Lalu bagaimana dengan keluarga Goo? Mereka juga perlu penerus. Bisa saja Grandpa di New York mempengaruhiku selama aku di sana.”

Kedua orang itu meletakkan sendok bersamaan. Perkataan bocah ini ada benarnya juga. Akan ada perebutan penerus, dan tidak mungkin bayi perempuan yang masih di kandungan Sun itu penerus Goo, karena pasti akan menjadi hak suaminya jika ia menikah kelak.

“Ini kesalahan. Benar-benar kesalahan, Min Ho-a,” Je Ha mulai gusar. Min Ho menepuk-nepuk punggungnya. Je Ha masih saja mendumel,”Oh, kenapa kalian sama-sama anak tunggal, dan kenapa kalian musti terpisah bertahun-tahun. Jika saja kau tidak bodoh, jika saja Bo Young tidak muncul…

“Oemma… ,” Min Ho memanggil datar agar Je Ha tidak meneruskan perkataannya tentang Bo Young,”Untung saja Sun tidak di sini, Oemma. Karena jika dia mendengar nama itu lagi, dia akan sangat sedih.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan?” Je Ha bertanya, hatinya benar-benar putus asa. Min Ho memandangi putranya,”Kau yang harus memilih,”katanya kemudian. Min Jae menampakkan tampang berpikir,”Ehm…. Kita lihat saja nanti, jika tidak ada titik temu, bukankah lebih baik GMJ dan Lee Corporation bersatu?”

“Kau membuat kami jantungan saja,” Min Ho terlihat kesal. Min Jae tersenyum penuh kemenangan. “Tapi itu pilihan terakhir, Dad. Kita tidak akan melebur jika ada putra Lee yang lain.”

Min Ho mengibaskan tangannya, tidak mungkin ada anak lagi mengingat usia Sun,”Kau sudah bicarakan rencana kuliah dengan Ommamu?’

Min Jae menggeleng,”Mom pasti tidak setuju.”

“Bisa kupastikan itu,” Je Ha mengamini perkataan Bocah cerdas itu.

“Ini tugasmu untuk meyakinkannya, Dad.”

Min Ho menghela nafas,”Baiklah, akan kubuat Omamu mengerti.”

Usaha Min Ho berhasil karena istrinya akhirnya bisa menerima keputusan Min Jae. Dengan berat hati, Sun melepas keberangkatan Min Jae di bandara Incheon, bahkan dia menangis.

“Come on, Mom. I’ll be there just for two years,” Min Jae jadi tak enak hati meninggalkan Ibunya yang sesenggukan itu. Sun masih saja menangis di pelukannya. Maklum, baru kali ini dia akan berpisah lama dengan Min Jae, dia sebenarnya ingin ikut, jika saja Kim Hyun Joong, dokter kandungannya tidak mewanti-wanti agar tidak melakukan perjalanan jauh.

“Cepat pulang, ya?” Sun masih saja meminta kepastian di dada bidang itu. Min Ho meraihnya, lalu akhirnya pelukan ibu dan anak itu terlepas, kini Sun beralih ke pelukan suaminya, masih saja terisak.

“Mom, kau tidak akan sendirian nanti. Dongsaeng akan segera lahir, kan?” Min Jae masih berusaha menghibur Sun. Ibunya itu mengangguk. Lalu Min Jae memandang ayahnya,”Jaga Mom selama aku pergi, Dad.”

Min Ho mengangguk. Min Jae memeluk neneknya sebelum menuju pesawat. Dia melambaikan tangan dengan senyuman yang tersungging di wajahnya.

“Don’t worry, Mom. I’ll be back in two years,” serunya lantang. Hingga akhirnya tubuhnya terbang, bersama pesawat yang ditumpanginya.

Musim panas di Korea Selatan, dua setengah tahun kemudian.

Min Ho dan Je Ha tampak berdiri di Toproof Lee Mansion, di tengah-tengah mereka, berdiri gadis kecil yang sangat cantik dengan kulitnya yang putih bagai satin dan rambutnya yang hitam legam itu, sesekali mata lebarnya mengerjap, sementara bibir mungilnya masih saja mengulang pertanyaan yang sama sejak tiga puluh menit yang lalu,”Kapan Oppa datang?”

“Sebentar lagi, Hye Na,” Jawab Je Ha dengan lembutnya. Min Ho hanya memandang saja. Dalam hati mulai capek menjawab pertanyaan yang sama terus. Gadis cilik itu malah meruncingkan bibir,”Uh…, Oppa lama sekali.” Seiring gerutuan itu, halikopter datang mendarat di depan mereka. Dan Min Jae turun dari halikopter itu dengan lengan terlentang.

“Oppa!” gadis cilik itu berteriak dan menghambur ke pelukan Min Jae. Tawa bahagia terdengar dari mulut keduanya, saat Min Jae memutar-mutar tubuhnya sementara gadis cilik itu berada di pelukannya. Setelah puas membuat adiknya takut sekaligus senang, Min Jae mulai menurunkan Hye Na dan berjalan menuju Je Ha dan Min ho.

“Harmoni…” Min Jae memeluk  Je Ha. Neneknya itu tampak sehat walau kerentaan menerpa, sepertinya Sun merawat neneknya dengan sangat baik. Saat sudah puas melepas kangen dengan Je ha, Min Jae memeluk Min Ho. Dan kekaguman terpancar untuk ayahnya itu, wajah ayahnya semakin bersinar saja, dan makin tampak kewibawaan di rona wajah itu. Kini dia yakin, bahwa seorang pria terhebat di dunia pun, tidak bisa hidup tanpa wanita yang dicintainya. Inilah yang tampak dari Min Ho sekarang, kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga yang membuat Min Ho awet muda.

“Oppa… , oleh-olehku mana?” protes adik ciliknya. Min Jae tertawa. Dia jadi gemas dan mencubit pipi Hye Na. Lima bulan yang lalu, saat orang tuanya dan adik ciliknya ini menghadiri penobatannya sebagai Doktor, dia memamerkan Hye Na pada teman-temannya. Dan mereka terkagum-kagun melihat Hye Na. “Just like Japanesse Doll,”seru Beth, temannya dari Kanada waktu itu. Dan James, temannya yang terkenal playboy juga menggoda,”I won’t marry until you grow up, beautifull girl.” Dan Min Jae jadi marah setengah mati mendengar ucapan itu, dia tidak rela jika saja Hye Na sampai mendapatkan suami seperti James yang suka gonta-ganti perempuan.  Tiba-tiba Min Jae menyadari ketidakhadiran Sun di toproof.”Where is Mom?” Min Ho tersenyum padanya,”Dia menunggumu di taman, kita akan piknik di taman Lee Manshion menyambut kedatanganmu.”

“Sebenarnya dia ingin ikut menyambutmu, Min Jae. Tapi Harmoni melarangnya. Tak baik buat kesehatannya,” terang Jeha.

“Apa mom sakit?” Min Jae jadi kawatir.

“Kau lihat saja nanti,” Min Ho malah membuatnya penasaran,”Oke, ayo kita temui Mom!” Min Jae berteriak girang, dia bahkan menggendong Je ha agar lebih cepat sampai taman mengingat jalan Je Ha dengan tongkat yang lambat seperti siput itu. Hye Na melihat semua itu dan cemburu,”Uh… kenapa Harmoni yang malah digendong?”

Min ho terbahak mendengar ocehan Hye Na, “Kau juga mau digendong? Sini Appa gendong!” Min Ho meraup gadis cilik yang cerewet itu, lalu menciumi perut Hye Na hingga putrinya cekikikan karena geli.”Oppa pasti bawa oleh-oleh banyak buat Hye Na,” anak itu masih saja mengoceh tentang oleh-oleh. Mereka mulai turun dari toproof dengan menggunakan lift,”Kenapa hanya oleh-oleh yang kau pikir, mungil… masih untung Oppamu mau kembali ke Korea.”

“Mwo?” Hyena tidak mengerti maksud ucapan Min Ho. Sebenarnya Min Ho mengkawatirkan sesuatu, yaitu keadaan negeri itu yang semakin kacau. Beberapa rekan bisnisnya bahkan sudah emigrasi ke luar negeri, hanya sedikit keluarga tua di Korea saja yang masih bertahan. Apa yang akan terjadi pada keluarganya nanti, semuanya terserah pada Min Jae. Apa pun keputusan putranya mengenai Lee Corporation, dia ikut saja.

“I miss you, Mom,” Min Jae memeluk Sun saat mereka bertemu di taman Lee Mansion yang luas.”Really really miss you!” Sun tertawa bahagia, dia membelai kepala anaknya itu lembut. Min Jae merasa ada sesuatu yang mengganjal di perutnya saat dia memeluk Sun, lalu dilepasnya pelukan itu dan mulai melihat perut Sun yang membuncit,”Mom, are you pregnant?”

Sun mengangguk senang,”Ne, Min Jae. Oemma hamil.”

“Wow, sudah berapa bulan, Mom?”

“Enam bulan.”

“Enam bulan? Kenapa tidak mengatakan apa-apa padaku saat wisuda lima bulan yang lalu?”

Sun tersenyum,” Seperti biasa, Oemma terlambat mengetahui kehamilan. Tahu-tahu Oemma pingsan setelah tiba di Incheon.”

Je Ha mengangguk. Sesaat dia teringat kejadian lima bulan yang lalu. Dia yang menunggu kedatangan mereka di toproof tiba-tiba dikejutkan oleh telepon dari Min Ho yang mengabarkan bahwa Sun pingsan di bandara dan dibawa ke rumah sakit, semakin terkejut lagi, saat mendengar penyebab pingsannya Sun waktu itu. Dia yang mengkawatirkan keadaan Sun, marah sekali pada Min Ho. “Hm… saat harmoni tahu Ommamu hamil lagi, halmoni memarahi Appamu habis-habisan. Bagaimana bisa dia membuat Oemmamu hamil lagi di usia sekarang. Tentu sangat membahayakan hidupnya.”

“Sudahlah, Oemma. Semua ini sudah kami bicarakan berdua. Aku bahagia di kehamilan ini.”

Min Ho yang baru tiba ikut nimbrung juga dalam obrolan itu, dia menurunkan Hye Na dan anak itu sudah mulai membuka keranjang bekal.

“Its great, Mom. Kali ini laki-laki atau perempuan?” tanya Min Jae.

“Dua-duanya, Min Jae,” jawab Min Ho

“What a surprise! Twin!”  seru Min Jae tak percaya.

Min Ho mengangguk-angguk, “Kau boleh ribut dengan namdoangsaengmu nanti, hahaha.”

 Min Jae jadi meruncingkan bibirnya. Sun mengibaskan tangan,”Sudahlah, Ayo kita makan, Aku sudah sangat lapar.”

Mereka duduk di tikar yang tergelar di atas rumput, di bawah pohon besar yang rindang dan mulai membuka bekal yang sudah disiapkan. Sun segera sibuk menyuapi Hye Na. Anak itu menggeleng,”Hye Na makan sendiri, Oemma.”

“Hahaha, anak pintar,” Min Jae mengucek rambut adik kecilnya, lalu menerima sepiring makanan yang disodorkan oleh Je Ha. Sun tiba-tiba merasa mual melihat daging di piring itu yang terlihat sangat berlemak, tapi berusaha menahannya, hingga matanya berair. Min Jae yang mengetahui hal itu menepuk-nepuk punggungnya, lalu menjauhkan makanan itu dari penglihatan Sun.

“Gumawo, Sayang,” Sun tersenyum dengan mata berbinar ke arahnya. Min jae mengangguk, lalu berbalik membelakangi Sun agar Mom-nya itu tidak melihatnya memakan daging sehingga merasa mual kembali. Sementara Hye Na dan Min Ho makan sambil sesekali berkelakar. Min Jae merasa menjadi anak yang paling beruntung sedunia. Dia tidak rela jika kebahagiaan itu lenyap begitu saja hanya karena orang-orang politik bodoh yang membuat suasana kacau di korea. Dia akan membuat keluarga ini pergi sejauh mungkin menghindari hal itu. New York dengan senang hati menerima mereka. Itu sudah Min Jae pikirkan jauh-jauh hari, dia akan memindahkan pusat Lee Corporation ke New York, berdampingan dengan GMJ’s corp lalu mereka sekeluarga pindah ke sana. Tentu yang ada hanyalah kebahagiaan. Dia, orang tuanya, harmoni, Hye Na serta adik-adik yang akan lahir nanti.

Namun Min Jae ingin melupakan semua itu sekarang. Dia ingin menikmati kebersamaan keluarganya di taman berumput itu, hingga dengan riang dia kini bermain kejar-kejaran dengan adik ciliknya, tak perduli posisinya sebagai remaja sekarang. Dan Je Ha sudah mulai mendekati tanaman-tanaman mawarnya untuk diurus.

Sementara Sun masih duduk di atas tikar dan Min Ho merebahkan diri dengan posisi kepala di pangkuannya. Sesekali tampak Min Ho mengelus dan menciumi perutnya. Sun tertawa-tawa saat tingkah kedua anaknya yang berkejaran itu serasa lucu, lalu teringat akan impiannya selama ini.”Apakah kita berada di surga, Min Ho-ssi?”

“Mwo?” Min Ho tidak mengerti maksud ucapannya. Sun masih saja membelai rambut Min Ho lembut dan memandang anak-anak yang kini bermain petak umpet itu,”Lagu itu, Green grass of home menjadi kenyataan sekarang.”

“Kenyataan untukku, Baby,” Min Ho mencium perutnya lagi,”kira-kira akan mirip siapa bayi laki-laki dalam perut ini? Jika sifatnya mirip denganku, kau pasti repot sekali nantinya.”

Sun tertawa lagi mendengar ocehan Min Ho, “Aku senang jika sifatnya mirip denganmu. Karena aku mencintaimu. Terima kasih telah mempercayai rahim ini untuk melahirkan anak-anakmu, Min Ho-ssi.”

Min Ho bangkit, lalu duduk merangkul Sun,”Kadang ku berpikir kebaikan apa yang kulakukan di masa lalu hingga ku begitu beruntung mendapatkan istri sebaik dirimu.”

“Jangan berlebihan, Min ho-ssi.”

Min Ho menatap Sun begitu dalam,”Tidak,Baby. Kau terlalu baik untukku.”

Tangan Sun mulai terangkat, dan mengelus pipi suaminya,” Bukankah itu yang semestinya wanita lakukan, Min Ho-ssi? Menghormati suaminya, mendidik dan menyayangi anak-anaknya. Tentu hal itu merupakan ibadah terindah bagiku.”

“Demi Tuhan, Baby. Untung saja ku menikahimu sebelum kau memutuskan jadi biarawati.” Mereka berdua tertawa bersama mendengar kekonyolan ucapan Min Ho.

“Kira-kira apa langkah Min Jae untuk Lee Corporation?” tiba-tiba Min Ho mengkawatirkan keadaan keluarganya nantinya. Sun menggeleng,”Entahlah, menurutmu?”

Min Ho memandang Min Jae yang masih bermain petak umpet dengan Hye Na,”Apa pun keputusannya nanti. Aku mendukung saja. Semua orang koar-koar tentang nasionalisme. Sangat munafik, padahal dibalik semua itu, mereka juga siap melarikan diri, bahkan mereka menyimpan rekening di negeri yang aman seperti Swiss, misalnya. Kenapa kita tidak?”

Sun mengunci wajah tampan Min Ho hingga menoleh ke arahnya,” Aku serahkan saja semua pada kalian. Di mana pun kita nantinya, asalkan bersamamu dan anak-anak. Ku pasti bahagia.”

Min Ho tersenyum,”Gomawo, Baby. Semua pasti baik-baik saja percayalah padaku… percayalah… ” Dan Min Ho mengecup bibir merah itu, sebuah ciuman kecil yang seperti membujuk, lalu menuju ciuman yang dalam dan lebih menuntut, disertai getaran cinta dan kebahagian dari hatinya. Sun membalas semua itu, di sinilah rumahnya sekarang, di hati Min Ho, suaminya. Lengan itu akan melindunginya selamanya. Senyuman itu akan selalu menenangkannya, lalu rumput hijau yang terhampar luas, tempat anak-anaknya, penerus generasi Lee bermain dengan riangnya menyambut kebahagiaan yang membentang di masa depan.

THE END

THANK YOU FOR THE ATTENTION FROM START TO THE END

WISH YOU ALL THE BEST

Sisicia

Iklan

THE HOSPITAL

4. The Strategy (part 3)

“Apa? Menginap?” Viona terkejut. Dia tengah berada di rumah Lisa memenuhi undangan bosnya itu tadi siang.

“Iya, kenapa? Kau ada acara lain?”

“E…. tidak..”

Lisa mengeluarkan setumpukan kertas dari dalam tasnya,”Banyak yang musti kita benahi di Instalasi, kita tidak mungkin menyelesaikannya tanpa kau menginap di sini.”

“Tapi apa tidak merepotkan,” Viona mulai membantu Lisa menata kertas-kertas itu di atas meja. Lisa mengibaskan tangan,”Ah, santai saja, lagi pula aku di sini cuma sendiri.”

“Kalau Pak Andre datang bagaimana?”

“Andre sedang ke Batam.”

Viona manggut-manggut.

“Kau mulai saja dulu memeriksa kertas-kertas ini, aku mau mandi dulu, gerah rasanya, kalau kau mau makan, ada banyak makanan di kulkas, tapi kalau nasi, mungkin kau harus memasaknya dulu, beras sih ada, tapi aku kan jarang makan di rumah, jadi aku jarang menanak nasi.” perintah Lisa. Dia memang baru saja sampai dari pesta di rumah Andre. Viona mengangguk mantap lalu memperhatikan Lisa yang ngeloyor begitu saja ke kamarnya. Kini tinggal Viona sendirian di ruang tengah itu. Pandangannya mulai menyapu sekeliling ruang, dia merasa tidak sopan dengan tingkahnya itu, tapi rasa penasaran akan diri Lisa begitu menyeruak.

Ruangan itu cukup tertata dengan desain interior yang bagus, tetapi beberapa barang tampak berada tidak pada tempatnya. Pandangannya kini tertuju pada sebuah buffet besar di ruangan itu, sebuah buffet yang penuh dengan buku-buku tebal, dari posisinya yang kacau, Viona cukup mampu menyimpulkan bahwa Lisa lebih banyak menghabiskan waktu berkutat dengan membaca jika berada di rumah ini. Pandangan Viona kini tertuju di sebuah foto berbingkai yang terletak di atas meja kecil di samping buffet, dia mendekati foto itu, rupanya itu foto Lisa dan Andre, tapi Viona heran karena sikap kedua orang dalam foto itu tampak kurang akrab bahkan canggung satu sama lain. Bukankah pasangan yang akan menikah biasanya menampakkan kemesraan jika dipotret?

“Kau pasti heran karena rumahku berantakan,” Lisa memulai pembicaraan. Tanpa di sadari oleh Viona, ternyata bosnya itu sudah selesai mandi. Lisa lalu menghempaskan tubuhnya di sofa yang sedari tadi sudah direncanakan sebagai tempat untuk lembur. Viona sangat kaget dengan penampilan Lisa saat ini, penampilan Lisa sungguh jauh berbeda, lebih santai dengan kaos oblong dan celana pendek, tanpa riasan make-up di wajahnya, namun karena kulit Lisa yang putih, tanpa bersolek pun, calon menantu dinasti Kusumadiharja ini masih kelihatan cantik.

“Ah, rumah ini cukup nyaman,” Viona berusaha mengelak pendapat Lisa.

“Ada orang yang membersihkan dan menata rumah ini dua kali seminggu, sebenarnya baru kemarin orang itu kemari, tapi karena aku sangat ceroboh dengan barang-barang jadinya sekarang berantakan lagi.”

Viona tersenyum, dia duduk di depan Lisa dan mulai menekuri kertas-kertas di depan mereka. “Aku memang tidak pandai berbenah,” imbuh Lisa.”Nanti kau bisa tidur di kamar tamu, jangan kuatir, karena aku tidak pernah masuk ke kamar itu, aku jamin kamar itu masih bersih sejak kemarin, aku tahu kau pasti tidak akan nyaman tidur di kamarku, seperti yang kukatakan tadi…. Aku tidak pandai berbenah.”

“Terserah Ibu saja.”

Lisa tersenyum, “Baiklah kita mulai.”

Sesaat mereka sibuk membuka kertas-kertas diatas meja, Lisa mulai menyalakan laptopnya. “Aku sudah mulai menganalisanya melalui Managing drug cycle.” Saat Laptop telah menyala, dia segera membuka file yang dimaksud. “Kau lihat ini, kita mulai dari management support, hal yang paling krusial disini adalah financing dan human resources, tapi aku akan lebih menekankan pada human resources.

Viona manggut-mangut,”Saya sangat setuju dengan anda, memang saya akui kita masih minim SDM, dan hal itu disebabkan financing yang kurang.”

“Tapi apakah ini bisa dijadikan alasan? Bukankah idealnya tiga puluh bed dicover oleh satu orang apoteker?”

“Iya, anda benar.”

“Oke, kita lanjutkan lagi, sekarang kita memasuki manajemen obat, kau bisa baca disini, kan.”

Viona mulai menelusuri tulisan di layar mulai dari seleksi sampai use yang menunjukkan kegagalan proses. Sekali lagi dia menyetujui analisa Lisa,”Mungkin kita harus menyampaikan hal ini pada waktu rapat pengurus?”

Lisa menggeleng,”Tidak, Viona, tidak cukup begitu saja, kita hanya akan dianggap bodoh di sana karena hanya memaparkan masalah tanpa menawarkan solusi.”

“Lalu?”

“Kita harus menyusun strategi,” jawab Lisa yakin, tangannya sampai terkepal ke atas saat berkata-kata.

“Bagaimana caranya?”

“Aish, kau ini, memangnya kau tidak pernah diajari manajemen strategic?”

Viona menggeleng.

“Kalau analisa SWOT, kamu pernah diajari?”

Kali ini Viona mengangguk.

“Nah, coba sekarang kau susun analisis SWOTnya.”

Viona mulai mengerjakan perintah Lisa, dia mulai menganalisis lingkungan eksternal dan internal dari Rumah Sakit Optima Medika, sesekali dia tersenyum dengan analisanya, bagaimana tidak? Di bagian strength, dia menulis dukungan penuh dari direktur akan pelayanan farmasi klinik dan penerapan kompetensi apoteker, hal ini sangat menggelikan mengingat dr. sapta, direktur rumah sakit itu belum tahu menahu tentang strategi tersebut, tapi karena yang punya rumah sakit ini adalah calon suami bosnya, apa salahnya kalau dia menuliskan itu, toh kendali utama tetap pada Kusumadiharja, Tbk.

“Kenapa kau senyum-senyum?” Lisa keheranan.

“Ah, tidak apa-apa.”

Lisa bangkit dari duduknya lalu berjalan kea rah dapur, “Kau mau kopi atau teh?”

“Saya tidak minum kopi, Bu!”

“Sama kalau begitu.”

Sebentar kemudian Lisa sudah kembali dengan membawa dua cangkir teh dan meletakkan salah satunya  di atas meja. “Sudah selesai?”

“Sebentar lagi.”

Lisa menyruput teh hangat yang sedari tadi di pegangnya. Viona meneruskan pekerjaannya, STRENGTHS : Dukungan penuh dari direktur untuk pelayanan farmasi klinik serta penerapan kompetensi apoteker, Jumlah bed 250, Upaya efisiensi pengelolaan obat. WEAKNESS : Kemitraan profesional, SDM farmasi, Sarana prasarana, SIM dan Fasilitas IFRS, Alur organisasi dan manajemen organisasi masih tanda tanya, OPPORTUNITY: Dukungan direktur pd efisiensi item obat, Farmasi 1 pintu, Pelayanan farmasi klinik, Standar pelayanan ISO 9001, TREATH: Semakin banyak apotek baru di sekitar rumah sakit, Minimnya lulusan tenaga teknis kefarmasian Yang menguasai  IT, Peraturan akreditasi makin ketat.

Setelah selesai, dia menunjukkan hasil kerjanya pada Lisa.

”Oke,” Lisa mulai berkomentar, dia meletakkan tehnya dan mulai serius dengan tulisan tangan Viona,”Kalau kau mengusulkan tiga point itu untuk strength dan opportunity….,”Lisa mencoba memahami kembali maksud tulisan Viona,” Hm…, untuk SO STRATEGIC, kita tempatkan Pembuatan anggaran dana untuk pencukupan SDM, fasilitas dan sarana-prasarana serta Penentuan program-program yang mendukung farmasi klinik dan pelayanan farmasi 1 pintu. Bagaimana?”

“Usul yang bagus.”

“Lalu WO Strategic-nya….” Lisa mulai mencorat-coret kertas kosong di depannya, membuat tabel untuk analisa SWOT dari analisa lingkungan eksternal-internal tersebut, WO STRATEGIC : Seleksi obat (dengan penegakan PFT dan formularium), Pembentukan struktur organisasi yang mengacu pada pelayanan farmasi 1 pintu, Mengembangkan system informasi yang bisa digunakan untuk informasi obat, konseling obat, pengkajian obat dan logistic, Penambahan dan pengembangan SDM farmasis (Farmasi klinik) dan beberapa tenaga teknis kefarmasian yang berwawasan IT, ST STRATEGIC : Penegakan  procurement yang efektif dan efisien, Pembuatan SOP dan alur distribusi dari gudang farmasi ke unit-unit yang lain, Penetapan system distribusi yang mendukung pelayanan farmasi klinik, sedangkan WT STRATEGIC: Training karyawan baru & retraining karyawan lama tentang IT, Pembagian tugas, wewenag dan beban kerja karyawan, Penjadwalan karyawan dengan lebih baik, Menciptakan media pertemuan antar professional secara bertahap dan continue.

“Lalu apa yang kita lakukan selanjutnya, Bu Lisa?”

“Oke, itu tadi adalah beberapa strategi alternative yang didapat dari SWOT Analisis, bisa kau bantu aku dengan program excel sekarang?”

“Tentu, Bu.”

Lisa mulai memilih prioritas strategi alternative melalui penilaian bobot kesesuaian strategi alternative itu dengan visi, misi, nilai dan falsafah Instalasi Farmasi rumah sakit hingga terpilihlah Critical Success Factor berdasarkan tingkat prioritas lalu masuklah pada implementasi strategi, periodisasi pencapaian sasaran, programming And budgeting, serta key performance indicator sebagai evaluasi tak lupa action plan dan Feedback, Monitoring, dan evaluasi.

Ternyata benar perkiraan Lisa, pekerjaan itu tidak akan selesai jika Viona tidak menginap, pukul dua dini hari, mereka baru beranjak tidur dan bangun dengan agak malas pagi itu. Mandi cukup membuat badan keduanya segar walau pun wajah mereka terlihat tanda-tanda kurang tidur.

“Minumlah ini, akan membuat matamu melek,” Lisa menyodorkan segelas minuman ke  Viona. Tanpa bertanya Viona langsung menyeruput minuman itu, sesaat dia batuk-batuk, lalu mulutnya menyembur-nyembur. Lisa melihat adegan itu dengan tertawa konyol.

“Teh ini pahit sekali,” kali ini dia sudah berhasil mengatasi rasa tidak nyaman di lidahnya dan matanya benar-benar melek.

“Ya, itu yang selalu aku lakukan jika mengantuk,” Lisa masih saja terkekeh.

Deburan ombak dari luar sayup-sayup terdengar. Lisa berjalan ke arah jendela, lalu berdiri mematung di sana, dari posisi itu, dia mampu melihat pemandangan laut yang terbentang.”Indah sekali,”gumamnya sembari meyeruput teh pahit di tangannya.

Viona mendekati bosnya,”Terima kasih telah mengundang saya ke sini.”

Lisa menoleh ke arahnya dan tersenyum.

“Tapi kenapa kita harus membawa pekerjaan itu kemari? Bukankah kita bisa berdiskusi di ruang anda?”

Lisa tersenyum lagi,”Aku tidak mau ada yang mensabotase rencana kita.”

“Sa…. Sa… sabotase? Maksudnya?”

“Kemarin ada seseorang yang meletakkan tape perekam di kolong meja kerjaku.”

“A….apa?”

Lisa mengangguk.

“La…lalu?”

“Lalu? Apa maksudmu dengan lalu?”

“Lalu apa yang akan anda lakukan, Bu?” tanya Viona.

“Tidak ada.”

“Tidak ada?” Viona terkejut, bagaimana mungkin Lisa setenang itu?

“Tape itu masih di tempatnya.” Lisa menhembuskan nafas, lalu memandang ke laut lepas itu, sekali lagi dia menyeruput tehnya.

“Bagaimana mungkin? Anda seharusnya membuang tape perekam itu.”

“Kalau aku melakukan hal itu, orang itu, entah siapa mereka akan berkesimpulan kalau aku mengetahui keberadaan tape itu dan mungkin akan meletakkan tape yang lain lagi di tempat yang aku tidak tahu.”

Lisa berjalan ke arah meja makan sementara Viona masih saja mematung di tempat semula, “Oh, iya Viona, aku mendengar kabar angin tak baik antara kau dan Dito….”Lisa tiba-tiba ragu dengan kalimatnya, meletakkan cangkir yang telah kosong di atas meja dan  berpikir mungkin yang akan dia tanyakan ini akan membuat Viona tersinggung, “Ah, kau tak perlu menanggapi ini jika tak mau.” Lisa mengibaskan tangannya.

“Jika maksud Anda adalah kabar perselingkuhan itu, itu semua tidak benar, Dito teman kakak saya, jadi saya tahu betul watak buruknya, saya bukan perempuan bodoh.”

“Syukurlah.”

“Lalu, anda tahu siapa yang berusaha melakukan sabotase itu?” Viona masih tertarik dengan tape perekam itu.

“Tidak, kau tahu siapa kira-kira orangnya, Viona?”

Viona menggeleng, dia tengah berbohong, dia tahu benar siapa orangnya, siapa lagi jika bukan Dito dan komplotannya dan yang paling pedih lagi, Wahyu, kakaknya adalah salah satu dari komplotan itu. Sebenarnya masih banyak lagi, bahkan bagian keuangan, bagian yang sangat vital, juga terdapat komplotan itu, tapi jika dia melaporkan semua ini pada Andre atau  dr. Sapta, kakaknya pasti juga akan kena, dia tidak mau itu. “Ah, Saya akan berangkat sekarang.”

“Apa? Kenapa tergesa-gesa, ini masih sangat pagi, kita bisa naik mobilku,”Lisa berusaha menahan Viona.

“Maaf, anda lupa kalau saya bawa motor.”

“Oh  itu, tenang saja, kau bisa mengambilnya kapan-kapan, di sini aman, kok.”

“Tidak… saya benar-benar harus berangkat sekarang, ada yang harus segera saya kerjakan.”

Dengan tergesa Viona mangambil tasnya dan segera keluar dari rumah itu. Pandangan heran masih dialamatkan Lisa padanya saat bosnya itu mengantar sampai ke depan rumah. Aneh, semula dia beralasan motor, dan sekarang ada yang harus dikerjakan.

Viona tak perduli, dia segera mengendarai motornya  ke rumah sakit, ya, ke rumah sakit, dia tahu betul yang akan dilakukannya. Dia tahu betul kalau hari ini si Brengsek itu pasti masih di ruangannya, bukankah kemarin malam si Brengsek jadwal jaga UGD? Dan ternyata benar juga, Dito masih di ruangannya. Tanpa mengetuk pintu, Viona menyerobot masuk, lalu menggebrak meja kerja Dito,”Kenapa kau lakukan itu! Kenapa memasang perekam di ruang kerja Lisa!”

Dito terkejut, dengan cepat dia berjalan ke arah pintu yang masih terbuka lebar lalu mengamati luar ruangan, setelah yakin tak ada seorang pun, dia menutup pintu. Viona menarik ujung bibir melihat hal itu,”Jadi benar kau yang melakukan?”

“Kalau iya kenapa? Kau lupa kalau kita harus membalas dendam kita?”

“Kita? Dendam kita? Kalau dendammu mungkin! Aku tidak pernah punya dendam pada keluarga Kusumadiharja, aku bisa melanjutkan kuliahku karena beasiswa dari mereka dan bekerja di rumah sakit. Aku tidak mungkin mengkhianati rumah sakit ini!”

“Kau !” Telunjuk Dito mengarah ke Viona dan menatap tajam.”Suka atau tidak, kau telah terlibat jauh dengan kami, Viona, apa kau mau aku membeberkan rahasiamu dulu?”

Viona gentar, bayang-bayang kesalahan masa lalu berkelebat. Matanya terpejam dan menggigit bibir bawahnya, takut jika Dito benar-benar melakukan ancamannya.

“Ah! Kau benar-benar busuk!” Viona lari dari ruangan itu sambil berteriak. Sementara Dito dengan senyum liciknya, memandang ke arah pintu yang terbuka lebar itu dengan tatapan puas. “Kau lupa kalau aku punya kartu As, Viona? Jangan macam-macam denganku!”

BERSAMBUNG

DINASTI LEE (Part 1)

DINASTI LEE

(One Season Love)

Part 1

Seoul, kenapa namamu  serasa sendu, langit-langit itu, jalanan yang selalu sibuk, suasana yang indah di musim panas, tapi kenapa hati ini selalu teringat padanya? Kenapa tak bisa lupa? Senyuman itu, senyum bijak itu, wajahnya yang ayu walau penderitaan tak pernah lelah menerpa. Apa kabarnya dia disana? Sementara ku di sini. Bersamamu, Seoul. Bersama semua kegilaanmu, Seoul. Adakah kesalahanku di masa lalu yang tak bisa ku tebus, hingga ku harus dilahirkan delapan tahun lebih muda darinya? Apa salahnya pula hingga dia harus menderita penyakit separah itu hingga rahimnya diangkat?

Pria itu tampak menghela nafas, merasa dunia tak berpihak padanya. Asistennya masih sibuk dengan file-file, sementara dirinya lebih memilih melamunkan masa lalu. Mobil mewah yang ditumpanginya melaju membelah jalan Seoul, kota yang selalu dirutukinya, setidaknya tiga tahun terakhir ini. Kota yang sempat menjadi kota terindah bagi hidupnya, kini telah berubah menjadi momok yang menakutkan sejak kejadian itu, ya…. Sejak saat itu, tiga tahun yang lalu…….

Bandara Incheon terlihat ramai, musim panas  di korea memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong. Sementara para  turis berdatangan, gadis bertubuh ringkih itu malah sebaliknya, dan pria tampan yang selalu di sampingnya itu menggenggam tangannya erat, seakan takut terpisahkan. Mereka duduk, menunggu kedatangan pesawat ke negeri yang sebenarnya tak jauh, tapi tangan kuasa rupanya sangat ingin memisahkan mereka.

“Aku mohon jangan pergi,” bisik pemuda itu. Matanya memandang sendu. Dan gadis ringkih menunduk, tak mampu memberi kepastian pada pemuda itu. Semua telah diputuskannya, tidak ada kepastian dalam cinta ini, tidak adil, terutama bagimu, kekasihku.

“Bo Young, aku mohon batalkan rencanamu. Persetan dengan semua ancaman nenek sihir itu. Persetan dengan semuanya!”

Gadis itu menggapai tangan kekasihnya,”Minho-ssi, miane, tapi aku memang harus pergi walau tanpa desakan Oemmamu. Tidak ada harapan dalam cinta ini. Kau masih sangat muda, margamu perlu penerus, dan itu tidak bisa ku berikan padamu.”

Wajah pria bernama Minho itu mengeras, kalimat kekasihnya terdengar konyol baginya,”Kau hidup di jaman apa? Bahkan sekali tepukan tangan kita bisa mendapatkannya dengan bayi tabung!”

Bo Young menggeleng,”Tetap tidak sama, Minho. Setidaknya bagi orang tuamu.”

Minho menghela nafas. Dadanya serasa sesak. Peristiwa tiga tahun yang lalu itu masih begitu jelas di benaknya. Dan kata-kata terakhir Bo Young, saat melambaikan tangan, menghantarkan kepergiannya menuju pesawat,”Carilah gadis yang baik, Minho. Kau pasti akan menemukannya. Masih banyak kesempatan bagimu. Hwaiting!”

Mobil itu masih melaju. Minho mencoba untuk tidur, tapi semua sia-sia. Di sampingnya, Pak Han, si asisten mulai menyalakan laptop. Menekuri laporan-laporan yang diberikan orang-orang kepercayaannya via online. “Kapan kita sampai di tempat itu?” Minho mulai bersuara.

“Setengah jam lagi. Mungkin Tudenim perlu minum?”

Minho mengangkat tangan untuk menolak  tawaran itu. Dia mulai bosan dengan perjalanan ini dan memerlukan teman ngobrol, perjalanan yang hening hanya akan membuatnya kembali ingat pada Bo Young. Bo Young, dosen  sekaligus kekasihnya itu telah pergi, meninggalkan sejuta kenangan perih yang membuatnya merasa sial berada di kota sendu ini.

“Apa tudenim merasa gugup?” tanya Pak Han. Minho melirik melalui ujung matanya,”Kenapa aku harus gugup?”

Pak Han mengulum  senyum. “Aish!” Minho jengkel dengan sikap Han. Memang rencana ini sangat konyol. Benar-benar konyol. Nenek sihir itu tiba-tiba datang ke kantornya kemaren. Tanpa ba bi bu memasuki ruang pribadinya dan menyodorkan sesuatu tepat di wajahnya padahal waktu itu dia masih terlibat pembicaraan penting dengan seorang partner kerja.

“Mworago?” seru Minho tak mengerti. Dengan menggerakkan kepalanya, wibawa wanita itu, yang selalu dipanggilnya dengan sebutan nenek sihir yang tak lain adalah Nyonya Besar Lee atau Oemmanya sendiri, langsung bergetar di ruangan  hingga semua orang yang merasa tidak terlibat dalam pembicaraan itu mengundurkan diri.

“Kau harus datang di pesta itu!” perintahnya. Min ho mulai menelusuri sesuatu yang ternyata adalah undangan. Undangan pesta lebih tepatnya pesta kebun. “Ada bisnis penting di sana?”

Yap! Khas keluarga Lee sudah mulai mendarah daging di dirinya, tidak akan datang ke suatu pertemuan yang hanya menghabiskan waktu dengan percuma tanpa bisnis.”Aku lihat pesta ini hanya gaya foya-foya anak bau kencur yang berulangtahun?”

Lee Je Ha duduk anggun di kursi. Dia menerima teh hijau yang disuguhkan OB kantor itu. “Kau akan bertemu calon istrimu di situ.”

Undangan itu terlepas, jatuh  tepat di sepatu licinnya. Hal itu lagi, Arkh…, kenapa nenek sihir ini tak bosan-bosan juga. Sudah berpuluh gadis yang dia sodorkan tiga tahun terakhir.

“Dan kau harus menerimanya saat ini, memang usianya lebih tua dua tahun darimu. Tapi tidak masalah, bukankah kau memang menyukai gadis yang lebih dewasa?”

Bagus! Kau mulai mendiktekan kelemahanku! Minho memijit-mijit keningnya.

“Tapi dia tidak setua dan penyakitan seperti Bo Young!”

“Oemma!” Minho tak terima cercaan Je Ha. Wanita itu tersenyum sinis, “Bukankah itu yang sebenarnya? Oemma tak mau tahu, pokoknya kau harus menemuinya, dia pasti ada di pesta itu, namanya…….

Dan kini Minho sama sekali tidak mengingat nama gadis itu karena dia terus menyebut nama Bo Young, Lee Bo Young di dalam hati saat Je Ha mengatakan nama itu.

———– > 8 < ————-

“Pesta yang indah!” puji Il Woo pada tuan rumah pesta, gadis manis berambut panjang di depannya tersenyum,”Gomawo.”

“Tentu saja indah, tapi aneh, bukankah hari lahirmu 9 April, kenapa baru dirayakan 1 Mei ? Dan tema pesta ini… ah! Sama sekali bukan dirimu.” Bumie menggoda gadis yang tengah berulang tahun. Senyuman maut tersungging di bibirnya. Kebun itu memang tampak asri, beberapa tumbuhan perdu tertata apik di suatu tempat dan bunga-bunga yang hanya tumbuh di musim panas, meja dan kursi yang terbalut kain putih tampak selaras dengan rumput hijau yang terhampar di bawah kaki mereka. Tamu-tamu tampak akrab satu sama lain, menikmati pesta tersebut.

“Kalian tidak malu menggoda Yu Jin terus-terusan?” Ketiga pemuda itu menoleh heran akan kemunculan orang yang baru saja menghardik mereka. Lee Min Ho, seorang Lee Min Ho yang anti acara semacam ini, datang dengan tiba-tiba. Ada angin apa gerangan? Apa dia salah minum obat? Atau otaknya sudah konslet?

“Memang ada bisnis apa di pestamu?” bisik Bumie pada Yu jin. Yu Jin menyenggol lengan Bumie. “Minho-ssi, kehormatan sekali bagiku, kau bisa meluangkan waktu buat hadir di pestaku,” seru Yu Jin dengan tangan terbuka.

“Chukae!” Minho menyodorkan kado yang dibawanya. Yu jin menerima kado itu dengan senang hati,”Gamsahamnida, Minho-ssi. Silahkan menikmati pesta ini, aku masih harus menyapa yang lainnya.”

Yu jin meninggalkan Minho bersama Bumie. Bumie memang orang yang masih bertahan akrab dengan Minho, sedangkan Il Woo, sudah ngibrit entah kemana, memang semenjak Minho akrab dengan Bo Young, tingkahnya agak aneh di mata teman-temannya. Jadilah seperti sekarang ini, dia tanpa teman.

“Apa kabar, Minho-ssi?” sapa Bumie basa-basi.

“Seperti yang kau lihat,” Min ho menaikkan pundaknya. Bumie mengangguk. Min Ho mulai menikmati pesta.

“Jadi ini sketsa-sketsamu?” tanya Il Woo di salah satu sisi pesta, dia tidak sendiri, beberapa namja juga bergerombol di situ. Mereka mengkerubuti seseorang. Tepatnya seorang gadis yang kemudian berteriak nyaring menjawab pertanyaan Il Woo,”Ne!”

Bumie dan Minho menoleh ke gerombolan itu, dan kini tampaklah oleh mereka seorang gadis berusaha keluar dari namja-namja yang mengelilingi dan memuji hasil karya sketsanya. Dia di sana, begitu bersinar. Min ho memandang takjub. Gadis bertubuh mungil itu mengenakan gaun terusan selutut berwarna hijau berpadu kuning yang lembut, kulitnya yang putih menambah kesan alami keayuan wajahnya. Rambut sebahu yang dibuat agak bergelombang itu, memahkotai kepalanya dengan sempurna, dan senyum itu…. Menyapa setiap orang yang ditemui di setiap langkah di acara itu. Sungguh indah anugrah ciptaan Tuhan yang satu ini.

“Hm…, Sunny…”

“Mwo?” Min ho menoleh ke Bumie yang baru saja bersuara, masih memandang ke arah gadis itu. “Setidaknya itu nama panggilan yang diberikan oleh Ayahnya,” lanjut Bumie.

“Kau mengenalnya?”

“Tentu saja, hanya namja bodoh yang tidak.”

Dan aku termasuk namja bodoh itu, begitu pikir Min ho. Bumie melangkah mendekati gadis itu, meninggalkan Min Ho yang masih mematung. Tanpa sadar, kaki Minho melangkah mengikuti si gadis mungil. Kemana pun gadis mungil bergerak, Minho di belakangnya dalam jarak beberapa kaki. Minho seperti terhipnotis, langkah kaki mulus itu seakan berdansa, mengikuti irama yang entah sejak kapan mulai terdengar di hati Minho. Gaun selutut itu melambai bebas, dia berlari kecil, meloncat, berputar, memeluk jika bertemu teman lama, bercanda, tertawa bersama mereka, seakan pesta ini adalah pestanya, dan Yu jin hanyalah tamu saja. Di antara semua itu Min Ho terkesima. Seakan larut dalam keriangan itu, sangat lepas, tanpa beban.

Mentari yang mulai terik menyinari kulitnya, dan gadis mungil itu malah merentangkan tangan, menghirup udara sampai paru-parunya penuh, dan menghembuskannya perlahan. Berjalan menjauhi keramaian pesta dan kini sampai di sisi lain dari kebun yang luas itu. Di hadapannya terhampar danau buatan yang indah dan beberapa angsa berenang di atasnya. Minho berdiri menyandar di salah satu pohon  tak jauh dari situ, ke dua tangannya masuk ke saku celana, kakinya mengais-ais rumput hijau di bawahnya, masih memperhatikan gadis itu.

Si gadis mungil terduduk di rumput, dia mulai mengeluarkan sesuatu dari balik tas selempangnya, yang ternyata pensil dan kertas. Diarahkannya pensil itu tepat di depan wajah dengan posisi tegak lurus, sementara pandangannya tertuju ke arah danau. Akhirnya goresan demi goresan tercipta.

“…. It time to touch the green… green grass of home…..”

Sayup-sayup Minho mendengarnya bersenandung. Tangan lentik itu masih saja lincah menggerak-gerakkan pensil  di atas kertas,” Yes they all… come to see me, arm reaching, smiling sweetly. Its time to touch…….

Hujan deras tiba-tiba. Gadis itu segera berdiri, menutupi kepala dengan tas slempangnya. Min Ho agak meringkuk ke balik pohon hingga gadis itu tak melihatnya waktu berlari melewatinya. Kini terlihat punggung gadis itu mencari tempat berteduh, dan cara larinya pun tak kalah indah. Genangan air meloncat-loncat setiap telapak kaki mungil itu mendarat, seakan berebut kesempatan untuk menjilat. Punggung itu pun menghilang, di balik gedung vila itu, tempat dia kembali bersatu dengan tamu pesta yang lain.

“The green…. Green grass… of  home….,” Minho membisikkan bait syair yang terpotong tadi. Senyum indah terukir di wajahnya.

TBC PART 2

BEHIND THE SHINING STAR III (part 1)

(Cerita ini hanya fiksi belaka, kejadian ya syukur, gak kejadian juga gak papa, tapi mudah-mudahan terkabul. Maksa. com)

——-Enjoy This Story!——-

 

“Huek!” Suara dari dalam kamar mandi mulai mengusik tidur Mino. Setengah sadar dia menoleh ke sampingnya. Kosong! Emang harusnya ada siapa? “Huek!” kali ini suara itu sukses membuat Mino sadar sepenuhnya. Dia mulai bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi, “Baby, kau di dalam?”

“Ne…,” jawaban dari dalam kamar mandi. Mino mencoba membuka pintu di depannya, ternyata dikunci dari dalam. ”Kau kenapa?” tanyanya sambil masih memutar-mutar ganggang pintu.

“Mual, Min-a.”

Mino mendengus sebal,”Kenapa pintunya musti dikunci?” pikirnya.

“Huek!” suara itu terdengar lagi, bahkan  membuat Mino merasa ngilu juga di perutnya, dengan kesal dia menggedor-gedor  pintu, ”Buka pintunya, Baby. Jangan membuatku panik!”

Pintu itu terbuka setelah terdengar suara aliran air menyiram kloset dan keluarlah wanita mungil yang selama sembilan bulan ini sudah resmi menjadi istrinya. Ya, Hye Sun, wanita yang berarti segalanya baginya itu telah menjadi istrinya. Hal yang sangat membahagiakan untuk seorang Mino. Tapi sepertinya keadaan istrinya itu kurang baik sekarang, wajahnya tampak pucat. “Gwencana?” Mino bertanya sambil memandangi wajah Sun, kedua tangannya sampai memegang pundak Sun kiri dan kanan untuk mendapat kepastian.

“Ne, gwencana,”jawab Sun sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Mino dari pundaknya. Dia malah berjalan melewati Mino.  “Mau kemana, Baby?”

“Menyiapkan sarapan, hari ini kan giliranku masak!”

“Antwe! Biar aku saja, kau tidur saja lagi.”

“Tapi…

“Tidak ada tapi, lain kali saja kau memasaknya,” cegah Mino sambil membimbing Sun kembali berbaring ke ranjang. Dia menyelimuti dan segera keluar dari kamar setelah mengecup kening istrinya itu.

Mino segera ke dapur, dia berhenti sebentar saat melewati foto pernikahan yang terpampang di ruang keluarga, tampak olehnya gambar saat mereka menikah. Dia dengan setelan jas warna putih yang serasi dengan gaun berpotongan sederhana yang dikenakan Sun. Pernikahan  mereka memang sederhana dan terkesan buru-buru, hanya dilakukan di kantor catatan sipil, tapi itu saja sudah membuatnya sangat bahagia. Kalau saja dulu dia tidak konyol, melakukan percobaan bunuh diri, mungkin saat ini Sun belum menjadi istrinya. Dia meraba-raba pergelangan tangan kirinya, bekas jahitan itu masih ada. Dia tersenyum, inilah tanda pengikatnya dengan Sun selain cincin pernikahan.

Di dapur, Mino segera menyiapkan segala sesuatunya. Dia memang tidak begitu pintar  memasak, jika gilirannya memasak, dia akan memasak seadanya yang dia bisa, jangan ditanya jika giliran Sun, semua makanan yang terhidang pasti istimewa, agak tidak adil memang, tapi itu sudah kesepakatan mereka yang sama-sama sibuk. Jika salah satunya memasak, yang lain giliran mencuci peralatan dapurnya. Dan seperti hari ini, Mino memutuskan membuat omlet telur dan roti panggang. Mino mengolesi beberapa helai roti tawar dengan mentega, lalu memasukkannya ke mesin pemanggang roti, sambil menanti roti itu matang dia mengkocok telur, suara kocokan itu membuatnya tidak konsen, angannya malah melayang ke kejadian satu bulan yang lalu. Saat itu dia sedang menikmati waktu break di lokasi syuting, ketika tiba-tiba seorang gadis cilik menarik-narik jasnya.

“Mworago?” tanya Mino pada anak kecil itu. Anak itu tidak menjawab, malah cekikikan di depan Mino, matanya yang bulat dan lebar mengerjap-ngerjap seiring anggukkan kepalanya, dan kedua tangan mungil itu berusaha menutupi mulut saat tertawa. Mino terkesima hingga akhirnya dia berjongkok agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah anak itu. Dia berusaha mengingat,  mirip siapakah anak ini?

Gadis kecil itu mendekatkan bibirnya ke telinga Mino lalu berbisik,”Kenapa Ajhusi selalu menuruti perintah appa?”

Mino tersenyum,”Karena ayahmu sutradara dan aku aktornya,” jawab Mino asal.

“Hai! Yuri! Jangan ganggu Mino-ssi!” sang sutradara sekaligus ayah anak itu memperingatkan. Setengah berlari dia menghampiri mereka berdua,”Miane, Mino-ssi, dia tidak mengganggumu, kan?”

“Tidak,” jawab Mino masih berjongkok sambil memandangi Yuri.

“Lalu kenapa kau memandanginya seperti itu?” tanya sutradara itu lagi. Yuri masih saja cekikikan, mungkin dia merasa malu diperhatikan Mino seperti itu, tampak dari mukanya yang memerah tapi berusaha menutupinya dengan tawanya. Mino semakin terkesima dibuatnya.

“Oh, Aku tahu sekarang!” tebak sang sutradara,”Kau pasti melihat tingkah Yuri mirip dengan Sun-ssi, kan?”

“B….Bo?” Mino gelagapan,”Kau… kau benar, tadi aku berusaha mengingat mirip siapa dia, ha ha ha ha, ternyata mirip istri sendiri.” Mino berdiri dan mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.”Tapi… tapi bagaimana bisa?”

“Ha… itu karena wabah BOF beberapa tahun yang lalu, istriku yang lagi mengandung Yuri tergila-gila pada Geum Jandi, setelah lahir tak tahunya wajah dan tingkah laku Yuri sangat mirip dengan Sun. Aku saja juga heran.”

Mino manggut-manggut, tiba-tiba terlintas sesuatu di benaknya,”Sutradara, boleh ya, aku bawa Yuri pulang? Aku mau tunjukkan dia ke Sun.”

“Enak saja! Emangnya anakku itu mainan? Kenapa kalian tidak buat sendiri?”

“Mwo? Buat sendiri?”

“Ne! Kalian kan sudah delapan bulan menikah, buat anak yang mirip dengan Sun, jangan bawa-bawa Yuri segala!”

Mino terkekeh kecil mengingat perkataan sutradara itu, ada-ada saja.

“Eh hem, rotinya sudah matang, tuh!” Sun yang sudah berdiri di depannya membuyarkan lamunannya.

“Baby? Kau sudah cantik? Tapi bukankah kau seharusnya tidur saja?” Mino sumringah melihat keadaan Sun sekarang, sangat berubah seratus delapan puluh derajat dari waktu bangun tidur tadi.

“Ne. Aku merasa kalau akan lebih segar setelah mandi. Sini biar aku yang buat omlet!” Sun mengambil alih adonan omlet dari tangan Mino. “Kau duduk-duduk saja di ruang makan!”

“Ne…”Mino menuruti perintah Sun. Dia segera ngeloyor, duduk di depan meja makan lalu mulai membuka Koran pagi, hal pertama yang dia baca adalah bursa saham, Mino memang menginvestasikan sebagian uangnya untuk  saham dan obligasi, walau pun dia tidak bisa mengurusnya sendiri, ada pialang kepercayaan yang membantunya. Dunia entertainment tidak selamanya bersinar di pihaknya, dia harus mempersiapkan segala sesuatunya sebelum sinar itu meredup, bisa dibilang saham-saham, deposito dan obligasi itu adalah payung, ya… sedia payung sebelum hujan, karena masih banyak rencana yang ingin dia lakukan bersama Sun. Dia tidak mau kalah dengan Sun, istrinya itu sudah mengawali bisnisnya terlebih dahulu, bahkan mulai dari sebelum mereka menikah, dan galeri café  yang didirikan Sun telah berkembang.

Sun meletakkan sepiring roti omlet di depan suaminya yang terbengong itu,”Melamun lagi… kenapa sih akhir-akhir ini kau sering melamun?”

Mino kaget, meja di depannya sudah siap dengan hidangan, ternyata sudah lama dia melamun. Sun menuangkan susu ke gelasnya, dan hal itu praktis membuat Mino ngakak, ”Kau menyuruhku minum susu, Baby?”

“Ne, memangnya kenapa?” tanya Sun menantang.

“Kau anggap aku anak kecil, ha ha ha!”

Sun menghela nafas. Dia mengibaskan napkin di depan Mino lalu meletakkannya di pangkuan suaminya itu,”Nikmati saja yang tersedia, ini cukup membuatmu kenyang sampai makan siang.”

“Kau mau membuatku gemuk, ya?”

Sun mendelik,”Tidak! Aku hanya tak mau kau makan snack sembarangan di lokasi syuting!” Sun menuangkan orange juice di gelasnya sendiri. “Bo! Kenapa kau  malah minum jus? Tidak adil!” protes Mino.

“Aku mual, Min-a! Kalau minum susu nanti tambah mual!”

“Ah…! Sini kau!” Mino menarik tubuh Sun hingga tubuh mungil itu mendarat di pangkuannya. Sun sudah pasti meronta tapi Mino malah mempererat pelukannya. Diciuminya tengkuk Sun sambil menggelitikki pinggangnya hingga membuat Sun geli dan cekikikan.

“Hm…Baby.” panggil Mino setelah puas menggelitiki Sun.”Kalau nanti kita punya anak, kira-kira seperti apa ya?”

“Mwo? Anak?” Sun yang masih duduk di pangkuan Mino memandang wajahnya.

“Ne! Aku ingin anak perempuan yang putih dan bermata lebar mirip sepertimu,” jawab Mino. Sekali lagi dia mempererat pelukannya,”Kau sendiri? Kau ingin anak seperti apa, Baby?”

“Aku? Aku ingin punya anak laki-laki yang mirip Brad Pit, dengan rambut pirang, mata biru dan lesung pipit, dia pasti akan tampan nantinya, he he he.” Jawaban itu sukses membuat Mino kesal,”Mana mungkin! Kau orang korea, aku juga korea, memangnya kau mau selingkuh sama Brad Pit? Awas kalau kau berani!”

Sun tertawa melihat ekspresi Mino, tentu saja dengan tangan yang menutupi bibir,”Iya, iya… aku ingin punya anak laki-laki yang jangkung, tampan, berhidung mancung dan senyuman yang menawan sepertimu.” Sun segera mengunci wajah Mino dan mencium bibirnya, Mino yang kaget akhirnya agak mengendorkan pelukannya dan hal ini tidak disia-siakan Sun untuk bangkit dari pangkuan Mino dan duduk di kursinya sendiri.

“Yah… yah… kau curang!”

Sun tertawa geli,”Segera makan! Kita tidak punya waktu lagi. Kau sendiri belum mandi, kan?” Mino mendengus, bibirnya tampak maju beberapa senti. Dengan malas dia mulai melahap hidangan di depannya. Sun tambah geli melihat tingkahnya. Tapi tiba-tiba sesuatu melintas di pikiran Sun, dan kata-kata Mino barusan mengenai anak, makin membuat Sun merasa tidak nafsu makan, alhasil roti omlet di piringnya itu hanya di acak-acak saja, “Hm.., Min-a.”

“Ne?” Mino sudah menghabiskan sarapannya.

“Apa kau benar-benar menginginkan anak di saat-saat ini?”

“Tentu saja, Baby. Kita kan sudah sembilan bulan menikah, anak adalah hadiah terindah bagiku, Baby,” jawab Mino antusias. Sun hanya tersenyum kecut. Sebulan terakhir ini Mino memang sering mengoceh tentang anak, dan Sun sudah sebulan pula berhenti mengkonsumsi pil kontrasepsi karena perintahnya, tapi entah kenapa masih ada ganjalan di benak Sun dan dia tidak berani mengatakannya pada Mino.

Ganjalan-ganjalan itu masih di pikirkan Sun di lokasi pemotretan, alhasil gayanya menjadi sangat kaku, pandangan matanya sering kali kosong, fotrografer mulai frustasi karena harus mencari anggel yang pas. Dia harus memotret berkali-kali, bahkan mengarahkan gaya Sun, tentu saja hal itu membuatnya heran mengingat Sun tidak pernah membutuhkan pengarah gaya di pemotretan-pemotretan sebelumnya. Dan akhirnya manajer Sun turun tangan membela artisnya itu,”Fotografer, jangan terlalu keras pada Sun.”

Fotografer itu mendengus. Manajer menoleh ke arah Sun yang kali ini sedang mengkipas-kipaskan tangan karena kepanasan.”Kau sudah memotretnya lebih dari tiga puluh kali, dan ku lihat kau hanya butuh lima foto saja di kostum itu, kenapa tidak kau pilih saja mana yang paling cocok dan agak memperindahnya dengan photoshop?”

“Oke, akan ku lakukan, kita istirahat dulu, lalu kita lanjutkan ke kostum berikutnya.”

“Sip! Istirahat dulu, Sun-ssi!” teriak manajer ke arah Sun. Sun mengacungkan jempolnya lalu pergi ke kamar riasnya. Manajer itu mengekor di belakang.

“Kenapa kau tidak konsentrasi pagi ini?” tanya manajer saat mereka sudah berada di kamar rias dan Sun sudah merebahkan diri di sofa, meluruskan punggung.

“Sudahlah, Ajhuma, bacakan saja agendaku hari ini!” perintah Sun.

“Araso! Pemotretan akan berakhir jam dua belas, setelah itu kau ke rumah appamu untuk memasak sampai jam dua, jam dua sampai jam tiga, kau mengisi acara di sebuah radio swasta, jam tiga sampai jam lima, ada FM terkait dirimu sebagai endorstment merk notebook…

“Ajhuma…,” potong Sun.”Apa yang terjadi jika aku membuat kontrak-kontrak itu batal?”

Manajer terkejut,”Tentu saja kau harus membayar ganti rugi seperti yang tertera di kontrak. Tunggu!” Manajer itu menghentikan omongannya. Dia mengira-ira kerugian yang harus dibayar artisnya tapi juga bertanya-tanya apa maksud pertanyaan Sun,”O…o…No! Jangan berbuat yang aneh-aneh, Sun-ssi. Kau sudah hampir bangkrut karena ganti rugi kontrak yang batal ketika menikah dulu. Apa pun itu, tunda dulu, atau kau benar-benar bangkrut.”

Penjelasan manajernya itu membuat Sun semakin serba salah. Ketika Sun menikahi Mino dulu, beberapa kontrak yang ada di tangannya otomatis batal dan harus membayar ganti rugi karena persyaratan di dalamnya adalah tidak menikah selama menjalani kontrak. Dan memang dia hampir bangkrut pada waktu itu jika tidak ada pendapatan dari Manolin. Mino juga mengalami hal itu walau tidak separah dirinya. Dan jika dia berbuat sesuatu lagi sekarang, tentu saja dia akan kehilangan lebih banyak lagi, padahal tabungannya sudah habis, yang ada hanya keuntungan dari Manolin, dan dia sudah berjanji untuk memakainya demi perkembangan Manolin, bukan untuk yang lain. Mino memang memberinya uang, bahkan menyerahkan seluruh pendapatan padanya untuk diaturnya, tapi dia enggan juga menggunakan uang itu. Itu uang untuk kepentingan bersama, bukan uang pribadi.

Sun masih saja memikirkan penjelasan manajernya saat memasak untuk appanya. Seperti yang sudah dibacakan oleh manajernya tadi, hari ini dia harus memasak karena oemmanya ada acara di desa Jeju. Jadilah sekarang Sun di sini, memasak sambil sesekali melamun.

“Hm… Hm..”Mr. Goo yang baru tiba berusaha menyadarkan lamunan Sun. Sun terkaget,”Appa? Sudah pulang?”

“Ne!” jawab Mr. Goo riang,”Jangan melamun saja, untung masakanmu tidak gosong.”

Sun terkekeh,”Appa makan saja sekarang, makanan sudah ku siapkan di ruang makan, Sun mau menyelesaikan Sup ini dulu.”

“Hm, Appa makan di sini saja, biar bisa sekalian ngobrol denganmu.”

“Ceongmal? Kalau begitu biar Sun bawa kemari lagi makanannya.”

“Anyi! Biar Appa saja, kau awasi saja masakanmu,” Mr. Goo menjitak kening Sun lembut.

“Maaf, kau jadi repot, Sunny,” kata Mr. Goo setelah duduk manis di bartable dapur dan mulai menyantap makan siangnya.

“Ah, tidak apa-apa,” Sun mengibaskan tangannya. Mr. Goo menyendok sup panas yang baru dihidangkan Sun, lalu menyeruputnya perlahan,”Hm, sedap sekali! Kau buat banyak, kan? Bawalah buat Mino.”

Sun menampakkan lesung pipitnya,”Tentu, Appa.”

“Suamimu itu, bagaimana kabarnya? Sibuk apa dia sekarang?”

“Masih seperti biasanya, Appa,” jawab Sun riang. Mr. Goo berdecak kagum, ”Bilang padanya untuk berkunjung jika tidak sibuk!” Sun mengangguk.

“Kau sendiri? Apa sudah isi, Sunny?”

Sun menggeleng,”Ah, kenapa pagi ini semua menanyakan itu?”

“Ceongmal? Jadi Mino juga menyinggung itu?” Mr. Goo bertanya dengan mata membelalak. Sun mengangguk. Mr. Goo terbahak dibuatnya,”Rupanya Mino sudah sangat menginginkan anak darimu, Sunny!”

Sun tersenyum agak dipaksakan. Dia semakin teringat dengan ganjalan hatinya itu, “Appa…”

“Ne?” Mr. Goo berhenti tertawa saat mendengar panggilan Sun. Sun mulai meremas-remas tangannya, dia ragu antara mengutarakan niatnya atau tidak.” Apa…. Apa… Apa Appa punya uang?”

“Mwo? Uang? Sudah pasti ada, memangnya kau butuh uang?”

“Bukan begitu, Appa, maksud, Sun… Jika suatu saat Sun butuh uang, bisakah Sun meminjamnya dari Appa?”

“Minjam? Jangan kau bilang minjam, tentu saja Appa akan memberikan uang itu secara cuma-cuma, Sunny!”

Sun semakin gusar dan hal itu mampu ditangkap oleh Appanya. “Memangnya kau butuh berapa?” tanya Mr. Goo lembut.

“Banyak…. Sepertinya sangat banyak, Appa.”

“Kontrak-kontrak itu lagi?” tebak Mr. Goo. Sun mengangguk.

“Itukah sebabnya kau menunda kehamilan?” tanya Mr. Goo bijak. Sekali lagi Sun mengangguk, kedua tangannya masih saja saling meremas. Mr. Goo menghela nafas, diraihnya tangan Sun agar tidak saling meremas lagi, lalu ditepuk pelan-pelan,”Kau tenang saja, Appa akan bantu sebisa Appa.”

“Jinja?” Sun menanggapinya dengan riang, ganjalan itu seakan lenyap sudah. Mr. Goo tersenyum mengiyakan,”Sunny… bukankah ini saatnya kau keluar dari dunia entertainment? Kau sudah menikah sekarang, cobalah untuk percayakan hidupmu pada Mino.”

Sun melongo mendengar kalimat Appanya, bisakah? Bisakah dia melakukannya? Sun yang sudah mandiri sejak remaja, menghasilkan uang dari hasil kerjanya sendiri, tiba-tiba harus menyerahkan dirinya, mempercayakan hidup sepenuhnya pada Mino, suaminya? Dan apakah egonya mau menerima hal itu? Sun hanya mengangguk, sementara hatinya masih ragu,”Appa..?”

“Waeyo, Sunny?”

“Jangan ceritakan ini pada Mino, ya…. Please!”

Mr. Goo mencubit hidung Sun,”Apa pun maumu, Sunny. Apa pun.”

——— > *< ———

Siang ini terasa terik, udara musim panas di Seoul memang tak kalah ekstrim. Ibu kota sekaligus pusat bisnis di korea selatan ini memang selalu sibuk dengan suasana yang kurang bersahabat, apalagi untuk Sun yang kembali merasa mual setelah mencium bau kopi yang dia buat untuk Mr. Goo.

Dokter Lu masih sibuk dengan catatan kesehatan Sun, sementara pasien di depannya yang tak lain adalah Sun menunggu dengan penuh tanya. Dokter keturunan Cina itu tersenyum, sesaat tampak manggut-manggut. Sun jadi tambah heran dibuatnya. Beberapa menit yang lalu dia musti menjalani test laboratorium singkat, dan petugas-petugas itu hanya membutuhkan urinnya. Sun curiga, benarkah? Mengingat waktu datang bulannya yang tidak mudah dipegang, dia menepis anggapan itu, bahkan berharap hal itu tidak terjadi.

“Sepertinya saya perlu merujuk anda ke doker kandungan, Nyonya Lee.”

“Maksud anda?”

“Selamat, anda mengandung.” Dr. Lu mengulurkan tangannya. Sun bengong sejenak. Dokter muda itu agak menggerakkan tangan yang terulur untuk menarik respon Sun. “Gamsahamnida,” Sun akhirnya membalas jabat tangan itu.

“Apakah semuanya baik-baik saja, Dokter? Saya agak kawatir karena telah mengkonsumsi Morning after pill selama ini.”

“Oh, obat itu tidak menjadi masalah, Nyonya. Yang saya kawatirkan adalah kebiasaan anda meminum minuman beralkohol, dan sepertinya anda bangga dengan hal itu. Sedapat mungkin hindari minuman itu selama mengandung,” dokter itu menghela nafas,”Untung saja istri saya orang Indonesia, jadi dia tidak bermasalah dengan alkohol.”

Sun jadi geli mendengar curhatan dokter Lu. Istri dr. Lu memang orang Indonesia, mereka bertemu saat dr. Lu jadi relawan pasca gempa Jogja tahun 2006. Bisa dibilang hikmah cinta dibalik bencana. Sun pernah ingin mengangkat kisah ini di filmnya, tapi dr. Lu jelas-jelas tak mau jadi narasumber, alhasil urung juga niat itu.

“Ah, jangan berpikir tentang film itu lagi, Nyonya Lee,” tepat sekali tebakanmu dr. Lu. Memang Sun ingin merayumu lagi akan rencana film itu,”He he he, Mianhamnida, Dokter. Berapa usia kandungan saya ?”

“Kira-kira satu bulan, itulah kenapa saya akan merujuk anda ke bagian obsgyn agar lebih bisa memastikan. Sudah berapa lama anda merasa mual-mual?”

“Baru tadi pagi.”

“Berapa lama anda berhenti mengkonsumsi tablet kontrasepsi?”

“Kira-kira satu bulan lebih.”

“Hm, berarti benar perkiraan saya,” Dokter Lu berpikir sejenak. Dia menuliskan sesuatu di selembar kertas lalu menyerahkan kertas itu pada Sun.”Ini surat rujukan untuk anda, Nyonya Lee. Anda bisa langsung ke Dr. Kang sekarang.”

Hasil pemeriksaan Dr. Kang ternyata sama, Sun positif hamil dan umur kandungannya tiga minggu. Sun terlihat bingung saat harus menunggu obat di apotek. Sesekali tampak dia mengelus-elus perutnya. Di satu sisi dia bahagia akan kehamilannya, tapi di sisi lain angka-angka itu semakin mencekik leher saja jika mengingatnya. Sun menghembuskan nafas kuat-kuat,”Sepertinya aku harus siap bangkrut sekarang.” Dia mulai merogoh tasnya. Hal yang akan dia lakukan adalah menghubungi suaminya, tapi dia agak ragu akan hal itu, hingga dia memutuskan untuk mengirim pesan singkat, “HUSKY, AKU HAMIL”

“Yuhuuu…!” Mino menari-nari tak jelas saat menerima kabar itu. Dia yang memang lagi kosong menunggu giliran syuting langsung tak bisa menahan diri, akibatnya sutradara marah-marah setelah meneriakkan kata,”Cut!”

“Miane. Miane,” Mino membungkukkan badan demi meminta maaf. Dia segera menuju ruang pribadinya lalu menelphon Sun,”Baby, kau di mana?”

“Aku menunggu di klinik rumah sakit.”

“Perlu ku jemput?”

“Anyi, aku sedang menunggu jemputan manajemen.”

Mino tersenyum di balik telephon, ingin rasanya dia memeluk Sun saat ini,”Nanti malam kau langsung tidur saja, Baby. Jangan tunggu aku, kau harus banyak istirahat sekarang.”

“Ne, aku pergi dulu, sudah dijemput.”

“Baik-baik dengan anakku ya, Baby..”

“Ne..,” Sun mengakhiri pembicaraan lalu memasuki mobil van di depannya. Manajernya memandang heran. Sun membuang muka, dia memilih menikmati view luar saat mobil itu melaju. Sementara Mino masih di ruang pribadinya. Kali ini manajernya datang untuk mengantar makan siang,”Kenapa kau senyum-senyum sendiri?”

Senyum Mino jadi tambah lebar, dia segera membuka bungkusan nasi di depannya,”Sun sudah makan belum, ya?” tiba-tiba Mino memikirkan hal itu. Dia lupa menyuruh istrinya itu makan siang di telephone tadi,”Manajer, jam berapa aku bisa pulang ke apartemen?”

“Kira-kira jam sebelas malam, kenapa?”

Mino memajukan bibirnya, dia sudah tak sabar bertemu Sun dan mengelus perutnya.

“IPO melonjak,”kata manajer itu setelah menekuri koran di depannya. Mino menoleh ke arahnya,”Kapan mereka membagikan devident?”

“Kira-kira awal tahun depan, kenapa?”

“Aku ada rencana dengan uang itu, tapi tidak begitu yakin, harus kudiskusikan dengan Sun dulu.” Mino mulai melahap makan siangnya setelah mengingatkan Sun untuk makan siang lewat SMS.

——- < * > ——

Waktu telah menunjuk pukul dua belas malam, saat Mino sampai di apartemennya. Didapatinya Sun sudah tidur di ranjang mereka. Mino memandang wajah pulas itu lekat-lekat, lalu duduk di samping Sun. Digapainya tangan Sun, mencium buku-buku jari lentik itu lalu pandangan matanya terarah pada perut Sun. Mino tersenyum.  Tangan kanannya beralih ke perut Sun sementara tangan kirinya masih menggenggam tangan Sun, lalu dia menundukkan wajahnya dan mencium perut itu lembut. Perlakuan tersebut membuat Sun terbangun,”Sudah pulang?”

“Miane mengganggu tidurmu, Baby,” sesal Mino.

“Gwencana, mau kubuatkan teh hangat?”

“Tidak perlu, aku sudah banyak minum tadi,” Dia mencium kening Sun.”Gomawo, Baby. Ini adalah hadiah terindah bagiku.”

Sun tersenyum. Mino mengecup bibir yang tersenyum itu dengan lembut, “Sekarang kau kembali tidur, ya… Jangan perdulikan lagi suamimu ini. Aku bisa mengurus diri sendiri,” bisiknya di telinga Sun. Sun menutup kembali matanya untuk menuruti perintah Mino padahal pikirannya masih tertuju pada angka-angka itu. “Appa…., aku benar-benar membutuhkan uang itu sekarang….,” bisik hati Sun.

 

Bersambung part 2

THE HOSPITAL

4. The Strategy (Part 2)

Di kediaman Kusumadiharja sedang berlangsung arisan keluarga, di setiap acara pasti ada bintang pesta, dan sekarang ini yang menjadi bintang pesta adalah Lisa karena Ratih sibuk memperkenalkan calon menantunya itu pada sanak keluarganya. Lisa jadi sangat tidak enak hati pada Ratih, tahu begini dia tadi pulang dulu untuk berganti baju, bukannya datang dengan masih memakai baju kerja berwarna ungu muda yang sempat jadi bahan olokan Bondan tadi siang, tapi hal itu dilakukannya karena kesibukan instalasi farmasi, dia bahkan hampir lupa dengan acara itu.

Arisan, perlu digarisbawahi, arisan atau ditulis dengan huruf capital, ARISAN adalah kegiatan yang sangat dibenci oleh Lisa. Kalau Lisa disuruh memilih antara kerja lembur atau arisan, dia pasti memilih kerja lembur. Dia tidak pernah betah di acara yang satu itu, jadilah dia sekarang cuma bengong-bengong melihat keadaan sekelilingnya dimana ibu-ibu kurang kerjaan saling pamer kekayaan suaminya atau bergosip. Ratih masih saja mengajaknya berkeliling untuk berkenalan dengan para tamunya,”Nah, ini adalah Rani Santoso, dia Ibu dari Armand,” kata Ratih saat memperkenalkan Rani. Lisa pun terkaget.

“Ibu di sini juga?” tanya Lisa pada Rani.

“Jadi kalian sudah saling kenal?” Ratih terkejut dengan tingkah Rani dan Lisa.

Rani mengangguk,”Kami berkenalan tadi pagi, aku menyeberang dengan asal hingga hampir tertabrak mobil Lisa.”

“Ah, Pak Seno keterlaluan sekali, seharusnya dia lebih hati-hati, kau harus menegurnya, Lisa.”

“Ah, sudahlah, Ratih, aku juga yang salah karena tidak hati-hati.”

“Jadi Armand dan Andre bersaudara?” tanya Lisa.

“Ya, kakek Andre adalah kakak  dari nenek Armand,” Ratih menjelaskan.

”Oo..” Lisa manggut-manggut. Seorang ibu-ibu rumpi menghampiri mereka, Lisa mencoba mengingat-ingat nama Ibu gembul itu, bukankah tadi Ratih sudah memperkenalkan mereka, tapi otak Lisa serasa buntu, banyak sekali nama yang harus dia ingat sore ini.

“Kau manis sekali, nak,”puji Ibu gembul itu sambil mengayunkan kipasnya,”Wajahmu pasti lebih cantik jika kau memakai jilbab seperti Nyonya Ratih.”

Sesaat Lisa memperhatikan Ratih, Wajah calon mertuanya itu memang sangat bijaksana dengan balutan jilbabnya, entah mengapa Lisa merasa sangat sedih sekali,”Saya akan mengambil makanan dulu,” Lisa undur diri dan segera menuju meja makan.

Memakai jilbab? Bukankah hal itu sudah pernah dilakukannya waktu SMA? Ya, dia ingat sekali waktu itu, dia sangat berniat sekali waktu itu, sampai akhirnya sesuatu memporak-porandakan niatan itu, membuatnya mempertanyakan kembali niat itu. Sungguh mungkin hal ini dikarenakan imannya kurang kuat atau apa pun itu dia tidak tahu. Saat sebuah keluarga menolaknya sebagai calon menantu hanya karena jilbab yang dia kenakan, belum lagi omongan calon kakak iparnya yang dengan pedas mengatakan pada calon suaminya,”Apakah kau sudah yakin kepalanya itu normal? Bisa saja telinganya cuma ada satu, atau rambutnya gundul!” dan anehnya calon suaminya itu sangat bodoh dengan mengatakan semua keberatan keluarganya itu padanya. Tapi Lisa masih bertahan dan berusaha menenangkan dirinya kalau mungkin ini cobaan atau mungkin ini ladang dakwah baginya, tapi saat peristiwa demi peristiwa terorisme muncul, kepercayaan calon suaminya mulai luntur, hingga dia memutuskan hubungan, dan ironisnya dia memutuskan itu hanya lewat SMS!

Masih lewat SMS, saat Lisa menanyakan apa alasan hingga harus memutuskan hubungan, apakah ada wanita lain? Atau karena jilbab? Lelaki itu masih diam, dan saat Lisa terus mendesak adanya alasan yang terungkap. Pria brengsek itu mengetik,”Dari awal itu sebenarnya aku sudah ilfill sama kamu, kamu bukan tipeku, kamu memakai jilbab, kamu terlalu kurus untukku.”

Cukup! Dasar lelaki brengsek! Seminggu lebih Lisa meratapi dirinya, meratapi fisiknya hingga dia membuka buku anatomi dan fisiologi manusia, dia menghitung berapa berat badan normal untuk wanita dengan tinggi 160 centimeter, ya.. itu adalah tinggi badannya dan mendapati bahwa berat badannya yang waktu itu tergolong ideal untuk wanita setinggi itu. Yang lebih parah adalah saat dia memvonis dirinya sendiri kalau dia menderita Achilles syndrome, sungguh dia harus menjalani terapi untuk keluar dari keterpurukan itu hingga dia mengambil keputusan yang paling bodoh yaitu menanggalkan jilbab. Dia seperti ingin membuktikan bahwa yang dipikirkan oleh lelaki brengsek dan keluarganya itu salah. Kepalanya tidak cacat, rambutnya bagus, otaknya juga masih waras hingga dia tidak mungkin terlibat aksi terorisme. Dan sekarang di sinilah dia, menjadi calon menantu dinasti Kusumadiharja, setelah kegagalan cintanya dengan lelaki brengsek itu dan Armand, dia menemukan Andre, Andre yang memujanya, Andre yang mencintainya dengan tulus tak perduli latar belakang keluarganya yang broken home dan tingkah lakunya yang kadang seenaknya. Andre yang memperlakukannya seperti barang antik yang mudah pecah hingga tak berani bertindak macam-macam yang merusak kesuciannya. Apalagi yang dia harapkan sekarang? Tidak! Dia tidak ingin wanita gembul itu merusak suasana hatinya sekarang. Dia sudah sangat tidak betah dengan suasana arisan, acara yang memang sangat tidak dia sukai sejak kecil.

“Bodoh! Bodoh! Bodoh! Ini bukan saatnya mengenang masa-masa itu,” Lisa berbicara sendiri sambil memukul-mukul kepalanya.

“Onti memang bodoh memukul-mukul kepala seperti itu,” suara itu sangat cempreng dan tidak enak didengar. Lisa membuka mata dan mendapati Sasa sudah berdiri di depannya. Anak berumur enam tahun itu sudah nyegir, sejak kapan dia memperhatikanku? Pikir Lisa.

“Hai, kau di sini juga?” tanya Lisa sadis.

“Ini rumah omaku, apa aku tidak boleh di sini?” ocehan Sasa sambil berusaha meraih potongan brownies di meja makan. Kakinya menjinjit karena meja makan itu terlalu tinggi untuknya lalu dia meloncat-loncat dan Lisa masih cuek saja dengan tingkah anak kecil yang bawel itu.

“Tolong ambilkan dong, Onti,” pinta Sasa

“Ha! Kau ternyata minta tolong juga.”

“Terpaksa.”

“Apa?”

“Ambilkan!” bentak Sasa.

“Ambil sendiri!”

“Hai ternyata kalian di sini?” tanya Yana saat mendapati Lisa dan Sasa di dekat meja makan,”Apa yang kalian lakukan?”

Lisa tersenyum dan mengelus-elus kepala Sasa, dia kelihatan sangat munafik dengan tingkahnya itu, lalu dia mengambil sepotong brownies untuk diberikan pada Sasa,”Oh, enggak, Kak, Sasa Cuma minta tolong diambilkan ini.”

Sasa segera berlari setelah merebut brownies itu dari tangan Lisa.

“Wah, kalian memang benar-benar akrab, ya. Aku jadi semakin tenang menitipkan Sasa padamu.”

Lisa cengar-cengir, sekali lagi dia tidak habis pikir jika saat itu tiba, saat Sasa harus tinggal selama seminggu di rumahnya. Seorang teman lama menyapa Yana, dia akhirnya meninggalkan Lisa yang masih sibuk memilih-milih snack yang ingin dia makan. Sasa memperhatikannya dari seberang kolam renang. Lisa sadar kalau anak bawel itu memperhatikannya, Sasa bahkan mengikutinya dari belakang. Dengan risih Lisa mendelik dan mengacungkan tinjunya ke arah anak itu.

Lisa memang sangat canggung dan terkesan cuek jika di depan anak kecil. Dia masih ingat, teman-teman kuliahnya selalu merasa gemas jika melihat anak kecil yang lucu. Mereka langsung mendekat, menciumi atau menggendong jika ada anak kecil yang lucu di dekat mereka. Bahkan kadang mereka cuma sekedar berujar,”Ih.. lucunya….” Tapi lain dengan Lisa, saat teman-temannya mengerubuti anak kecil yang lucu, dia cuek-cuek saja, pandangan matanya seperti bicara,”Tau, ah.. gelap!” Ternyata ada juga salah satu temannya yang menyadari keanehannya itu, dia bahkan mengkritik Lisa habis-habisan, menjudge kalau rasa keibuannya belum muncul dan harus segera dimunculkan. Lisa tak ambil pusing dengan kritikan temannya itu, “Bodo amat, emang gue pikirin.”

Tiba-tiba Sasa mendekatinya lagi, mau apa lagi, nih anak, pikirnya.

“Kenapa onti mau menjagaku selama Papa Mama pergi?”

“Apa?”

“Bukankah Onti tidak suka padaku?”

Lisa tersenyum, Sasa melengos, “Senyuman yang tidak enak dilihat.”

“Aku memang tidak suka denganmu, tapi aku juga tidak tega kalau kau sendirian di rumah.”

“Aku bisa tinggal bersama Ongkel,” Sasa ngeyel.

“Hah? Bersama Ongkel? Yang benar saja, yang ada kamu hanya dicuekin kalau Ongkelmu itu sibuk.”

“Aku tidak apa-apa tinggal sendiri, aku kan sudah besar!”

Yiah… anak ini benar-benar ngeyel.

“Oh ya? Ambil brownis di meja makan saja musti dibantu, masih bilang sudah besar!”

Kali ini Sasa tidak bisa menjawab, mulutnya megap-megap. Lisa tersenyum puas, merasa menang di depan anak bawel itu lalu meninggalkan Sasa yang perhatiannya mulai tertuju pada mobil-mobilan yang dimainkan oleh anak Dito. “Emang gue pikirin!”

—%END OF PART%—

 

THE HOSPITAL

4. The Strategy (Part 1)

Batam yang sibuk, membuat beberapa pengusaha menaruh minat pada kota ini, kota kecil yang menjanjikan. Begitu juga bagi Andre dan keputusannya untuk ikut meramaikan bisnis di kota ini. Kini dia sedang berdiri di dalam ruang rapat,  menghadap ke arah dinding kaca hingga nampak di depannya suasana luas kesibukan kota yang terlihat jelas dari ruangan yang terletak di lantai lima itu. Penandatanganan atau lebih tepat disebut pengambilalihan telah dilakukan tiga puluh menit yang lalu, masih tampak di angan Andre mimik para petinggi perusahaan yang dia ambil alih, tatapan mata para karyawan terhadap dirinya seakan bertanya,”Hai, apa yang akan dilakukan oleh bos baru ini?” atau sekedar rasa memelas,”Tolong, jangan pecat kami.”

Andre menghela nafas. Kini dia mengerti kenapa Lisa sangat tidak menyukai akuisisi, bisa dibilang seperti penjajahan. Dia mulai berpikir apa yang akan dia lakukan terhadap perusahaan barunya ini. Akankah dia bertindak sebagai broker atau tetap menjalankan saja dengan usaha perampingan dan pendanaan yang minim, lalu bagaimana dengan tatapan memelas itu, tatapan yang seakan berkata, “Tolong, jangan pecat kami.”

Di saat pikirannya yang kalut itu, dia mengingat Lisa, kata-kata Lisa yang tidak menyukai akuisisi dan lebih memilih aliansi strategic dan merger lalu dia mengira-ira apa yang tengah dilakukan gadisnya itu sekarang. Ya, itulah satu-satunya hiburan yang selalu menyertainya di jam-jam sibuk, diantara kerja kerasnya mempertahankan dinasti Kusumadiharja, dengan mengingat-ingat segala hal yang akan direncanakannya dengan gadisnya itu, gadis yang sangat dicintainya, sebuah pernikahan! Dan kini Andre tersenyum simpul dalam lamunannya. Andai saja semuanya berbeda, andai saja dia bukan pewaris dari Kusumadiharja, dia lebih ingin menghabiskan banyak waktu dengan Lisa.

Angannya kembali menuju ke masa awal perkenalannya dengan Lisa. Masa ketika dirinya masih berstatus sebagai mahasiswa Magister Manajemen UGM. Gadis itu begitu cuek dan Andre tak habis pikir kalau ternyata ada orang yang lebih cuek dari dirinya. Gadis itu selalu menggunakan pakaian seenaknya, berbicara dengan suara keras dan tertawa lepas. Tapi dia suka dengan tingkahnya itu. Dia suka saat suara Lisa lebih mendominasi dari pada suara teman-temannya, seperti gelas kaca, ya… gelas kaca bening yang begitu jujur menampilkan apa saja yang ada di hatinya tanpa sedikit pun yang ditutupi.

Andre begitu penasaran pada waktu itu hingga menyuruh orang untuk menyelidiki siapa Lisa, dan jawabannya seperti yang telah dia duga. Lisa tidak sedang bersama seseorang dan tidak ada pria yang sedang menunggunya. Andre melonjak kegirangan saat menerima kabar itu dan berjanji dalam hati akan lebih memperhatikan Lisa lagi. Mungkin perhatian Andre begitu berlebihan hari itu, saat dia dan Lisa menghadiri workshop di Fakultas kedokteran. Andre begitu perhatian hingga mengambilkan kotak snack untuk Lisa.

“Tak seperti biasanya?” pikir Lisa dalam hati.

“Kau mau tambah minumnya?” tanya Andre dengan manis. Lisa mengangguk. Andre segera menuju stand minuman dan Lisa melongo begitu mendapati Andre kembali dengan segelas minuman di tangannya.

“Apa kau mau buah?” tanya Andre lagi.

“Kalau tidak merepotkan,” jawab Lisa sambil memakan snack, lagi-lagi Andre segera berlalu dan kembali dengan sepiring buah ditangannya. Lisa pun sukses dibuat keheranan oleh Andre. Dia mulai batuk-batuk, Andre menepuk-nepuk punggungnya sambil menyodorkan minuman.

“Hari ini kau aneh sekali,” protes Lisa setelah berhasil mengatasi tersedaknya.

“Aneh bagaimana?”

“Ya aneh, tidak seperti biasanya,” jawab Lisa seenaknya,”Biasanya kalau orang bertingkah tidak seperti biasanya, biasanya orang itu akan mati.”

Lisa terbahak sambil menutupi mulutnya dan Andre memandangnya dengan muka merah padam, sungguh tidak bisa dimaafkan karena Lisa mendoakan kematiannya. Dengan geram Andre nyelonong pergi dari Lisa yang masih saja tertawa memegangi perutnya. Langkah pertamanya memberikan perhatian pada Lisa gagal total, ternyata gadis itu memang tidak mempunyai sisi romantis sama sekali, benar-benar menjengkelkan.

Begitulah Lisa, sangat tidak berperasaan, terlalu banyak bercanda, tapi akhirnya saat itu datang juga, dan anehnya datang di tempat yang sama sekali tidak terbayangkan oleh mereka yaitu di masjid agung kampus. Andre sangat mengingatnya, pada hari itu dia menghadiri pengajian di masjid itu, tema dari pengajian itu adalah “Pacaran sesudah menikah”. Semua pasti tahu tema itu bercerita tentang taaruf dan pernikahan dan tiba-tiba forum dikejutkan oleh pertanyaan konyol seorang peserta wanita,”Bagaimana dengan fantasi seks sebelum menikah? Apakah itu berdosa?”

Sontak semua orang heboh, arena akhwat dan ikhwan yang terpisah oleh hijab tinggi dan membentang membuat para ikhwan penasaran karena tidak bisa melihat siapa wanita yang dengan polosnya menanyakan hal itu, tapi Andre tahu siapa wanita itu. Siapa lagi kalau bukan cewek bertubuh kecil tapi bersuara keras. Dia heran juga karena Lisa ternyata tertarik dengan acara semacam ini.

Para akhwat memandang Lisa tajam, sangat tidak sopan, kira-kira begitulah arti tatapan mereka. “Kenapa? Alah, gak usah muna,deh…,” protes Lisa. Andre geleng-geleng kepala sambil mengira-ira ekspresi wajah gadis itu di ujung sana.

Ternyata tebakan Andre itu tidak meleset, gadis itu memang benar Lisa. Kini Lisa tengah bermain ayunan di taman bermain yang ada di dekat masjid itu. Acara pengajian sudah selesai sejak tadi. Dengan agak ragu, Andre mendekati gadis itu. Bagaimana tidak? Gadis itu sekarang menggunakan gamis dan jilbab sangat bertolak belakang dengan penampilan yang selalu ditunjukkannya selama ini.

“Oh, berarti benar kalau cewek tadi kamu,” sapa Andre setelah sampai di depan Lisa. Lisa menoleh sebentar, lalu melanjutkan bermain ayunan.

“Pertanyaan macam apa itu tadi? Masa hal itu ditanyakan cewek?” cerca Andre lagi. Lisa hanya senyum-senyum. Lisa masih mengingat kejadian di workshop tempo dulu dimana Andre yang marah karena omongannya ngeloyor pergi begitu saja. Memang Lisa sangat risih dengan perhatian Andre waktu itu, dia tidak biasa diperhatikan semacam itu, Ayahnya selalu melatihnya untuk mandiri setelah Ibunya meninggal, sehingga dia tidak bergantung pada perhatian orang lain. Tapi perhatian yang diberikan oleh Andre memang berbeda, dia mengakui itu, Lisa juga tahu maksud dari perhatian yang Andre berikan, dia bukannya orang yang tidak berperasaan.

Lisa tiba-tiba menghentikan aktifitasnya dengan ayunan. Dia memiringkan wajahnya demi melihat ekspresi wajah Andre yang membelakangi sinar matahari, memang membuat pandangan mata Lisa serasa silau. Saat tubuh Andre menutupi cahaya menyilaukan itu, Lisa bersuara,”Kau mau jadi calon suamiku?”

Serta-merta wajah Andre memerah dibuatnya. Mimpi apa dia semalam? Seharusnya dialah yang menyatakan cinta, melamar atau apalah istilahnya tapi kenyataannya cewek bertubuh mungil ini yang duluan, di tempat yang sungguh jauh dari romantis dan di jam setengah dua siang, saat matahari terik-teriknya tapi bukankah hal ini yang dia inginkan tak peduli siapa yang memulai, dimana dan jam berapa.

“Mau tidak?” ulang Lisa. Kali ini Lisa sudah berdiri di depan Andre. Andre jadi linglung,”E….e…., Aku…aku belum siap untuk menikah.”

“Hei, aku memintamu menjadi calon suamiku, bukan menikahiku besok!” seloroh Lisa sambil berlalu.

“Tunggu!” cegah Andre. Lisa membalikkan badannya dan Andre sekali lagi berjalan mendekat,”Kau tidak mengharapkan ku menjawabnya sekarang, kan? Di film-film biasanya mereka meminta waktu satu atau dua hari untuk menjawab pertanyaan itu.”

Lisa mengibaskan tangannya,”Ah, terserah kaulah, tapi jangan salahkan aku jika besok ku berubah pikiran!”

Berubah pikiran? Bagaimana jika Lisa berubah pikiran? Andre jadi ngeri, dia tergagap waktu gadis itu hendak meninggalkannya lagi, dia berlari dan menghadang langkah Lisa. Kedua tangannya segera memegang pundak Lisa saat gadis itu berada di depannya dan dia mulai mengatur nafas,”Iya, iya, Aku mau jadi calon suamimu.”

Lisa tersenyum menang,”Nah, gitu dong.”

Lisa meneruskan langkahnya lagi.

”Cuma begitu?” tanya Andre.

“Cuma begitu apanya?”

“Kau hanya menanyakan itu?”

“Lalu kau maunya apa?”

Aish, cewek ini bodoh atau apa,sih? pikir Andre. Sepertinya Andre memang harus sabar pada Lisa. Gadis itu memang agak tidak jelas, semenit yang lalu dia memaksa Andre menjadi calon suaminya dan sekarang mau pergi dari Andre begitu saja, sangat tidak romantis, pikir Andre lagi. “Kau mau pergi kemana? Aku bisa mengantarmu?” tanya Andre mengalihkan perhatian.

“Pulang ke kos,” jawab Lisa.

“Oh, aku antar, ya?”

Lisa mengangguk dan itulah awal dari masa-masa Andre bersama Lisa. Andre jadi geli mengingat peristiwa itu, sementara kesibukan Batam masih terpampang di depannya. Seorang laki-laki paruh baya mendekati Andre, rupanya itu adalah Andika, penasehat keuangannya,”Saya tidak tahu kalau anda masih di sini, Pak Andre.”

Andre masih tetap memperhatikan view yang membentang di bawahnya,”Ya, kau sudah meneliti keuangan di perusahaan ini?”

“Iya, banyak kebocoran.”

“Pastikan kau tempatkan orang kepercayaan kita di sini, angkat orang yang benar-benar handal, jika perlu seorang workhaholik yang masih idealis.”

“Baik, Pak Andre.”

Andre menuju notebooknya yang sedari tadi tergeletak di atas meja rapat. Saat dia akan membereskan notebook itu…

“Maaf, Pak Andre, mungkin yang saya tanyakan ini agak lancang.”

Andre menoleh ke arah akuntan itu,”Ada apa?”

“Bagaimana dengan Optima Medika? Bukankah lebih baik jika kita segera melepaskannya selagi bisa?”

Andre terkejut, memang sudah lama Andika mengingatkannya tentang Optima Medika yang hampir bangkrut, dan saran dari akuntan itu agar segera menjual saja rumah sakit itu sebelum terlalu banyak menyusahkan keuangan PT. Kusumadiharja Tbk.”Pak Andika, anda tahu sejarah berdirinya rumah sakit itu, bukan?”

“Tentu, Pak Andre, rumah sakit itu didirikan sebagai pelayanan kesehatan karyawan PT.Kusumadiharja, Tbk tapi kita tidak bisa terus-terusan mempertahankan ‘dog’ itu hanya akan memperlama penderitaannya.”

Andre tersenyum, “Dog? Cow? Star? Lalu Question Mark? Lalu siapa yang Cow? Siapa ?” Dia menggelengkan kepala, “Anda anggap Kusumadiharja, Tbk itu sapi perah, Pak akuntan?”

“Bukan begitu maksud saya, Pak Andre.”

“Kau ingin aku menggunakan strategi apa? Niche?” tantang Andre.”Salah satu tanggungjawab industri adalah moral responsibilities. Anggap saja keputusanku untuk mempertahankan rumah sakit itu adalah bentuk tanggungjawab moral Kusumadiharja, Tbk.”

Andika memahami pendirian bosnya dan Andre pun segera berlalu dari ruangan itu.

—-><#BERSAMBUNG#><—-

THE HOSPITAL

3. Pharmacist on The Duty (Part 4)

Saat waktu menunjukkan pukul enam pagi, Lisa terbangun dari tidurnya.  Dia begitu shock saat melihat jam dinding di kamarnya, segera dia sholat subuh dan memulai aktifitas paginya bersiap-siap ke rumah sakit. Saat dia sudah siap dengan baju kerjanya dan mulai membuka lemari es untuk mencari makanan sebagai sarapan, tiba-tiba terdengar bel rumahnya berbunyi. Lisa yang memang tinggal sendiri segera membuka pintu.

“Selamat pagi, Bu Lisa,” sapa tamu Lisa. Rupanya Pak Seno, sopir keluarga Andre. “Saya disuruh Pak Andre mengantarkan itu?” sambung Pak Seno sambil menunjuk sebuah mobil yang terparkir di pekarangan rumah Lisa. Lisa berjalan menuju ke arah mobil itu.

“Pak Andre memilihkan mobil ini untuk anda?” kata Pak Seno saat Lisa menoleh ke arahnya dengan pandangan butuh penjelasan.

Lisa masuk ke dalam rumah untuk mencari HP-nya, dan segera menelephon Andre.

“Kau dimana?” tanya Lisa saat Andre mengangkat telephone.

“Aku sudah di airport, menunggu kedatangan pesawat.”

“Kau membelikan mobil untukku?”

“Oh, mobil itu? Ya, aku memang membelinya untukmu.”

“Kau seharusnya tidak melakukan itu tanpa persetujuanku,” omel Lisa

Andre terdengar menghela nafas, “Kalau aku memberitahumu sebelumnya, kau pasti menolak. Anggap saja itu hadiah dari calon suami.”

“Kau tahu kalau aku tidak suka menerima hadiah dari laki-laki, kan?”

“Hai, hai, laki-laki apa maksudmu, aku ini calon suamimu!”

Mereka masih saja berdebat dengan ego masing-masing, hingga panggilan kedatangan pesawat yang akan ditumpangi Andre terdengar. “Sudahlah, aku harus masuk pesawat, kau juga harus kerja,kan? Sementara Pak Seno akan menjadi supirmu. Aku kan tahu kau belum bisa nyetir. Sesampainya aku dari Batam, aku akan mengajarimu menyetir.”

Andre segera menutup telephone. Lisa mendengus kesal, “Kebiasaan yang tidak baik.”

Lisa segera berangkat ke rumah sakit. Mau tidak mau dia menerima mobil itu. Kini dia tengah duduk manis di dalam mobil mewah itu. Dia tidak begitu memperdulikan merk, atau keistimewaan mobil itu karena memang dia tidak tahu menahu masalah mobil. Kini dia tidak perlu menuju halte untuk menanti bus. Tidak ada lagi bus penuh sesak yang harus dia tumpangi. Tidak harus berjejal berebut kursi dengan penumpang lain lagi karena sekarang kursi belakang ini adalah miliknya dan tentu saja kursi di belakang kemudi itu, segera akan didudukinya jika Andre telah berhasil melatihnya mengendarai mobil. Sembari menikmati pemandangan di luar, angannya melayang ke masa-masa silam, di mana dia sebagai seorang mahasiswi sederhana yang selalu harus bangun pagi demi mengejar kereta api “Prambanan Ekspress” yang jam pertama, atau harus berhujan-hujan menanti bus yang tak kunjung datang dan tentu pula gaya hidupnya waktu S1 yang harus jalan kaki ketika berangkat atau pulang dari kampus karena kondisi keuangannya yang minim.

Dia tersenyum, segera di pasangnya headphone di telinganya, memutar MP5 yang memperdengarkan lagu-lagu pop korea. Lagu-lagu itulah yang selama ini  menemaninya dalam setiap perjalanan. Bahkan teman-teman kuliahnya dulu hafal betul dengan kegemarannya yang satu ini, biasanya mereka protes padanya. Mereka bilang apa asyiknya mendengarkan lagu yang kita tidak tahu artinya tapi dia tidak ambil pusing. Baginya bahasa korea itu sangat menggelitik di telinga, sebenarnya bukan hanya bahasa korea tapi juga bahasa jepang dan spanyol. Dia bahkan bisa menirukan lagu itu walau pun tidak begitu tahu artinya.

Lisa begitu terlena dengan suasana yang kini dia alami, diperintahkannya Pak Seno untuk mematikan AC mobil lalu dia membuka kaca jendela mobil. Angin pagi segera menyambutnya, mengkibarkan rambut panjangnya. Dia menarik nafas panjang. Berusaha memenuhi paru-parunya dengan oksigen yang mungkin masih tersisa di Jakarta yang kian polusi.

“Kalau ibu mau, saya bisa sekalian membuka knop atap mobilnya?” tanya Pak Seno.

“Apa? Memangnya bisa?”

“Tentu saja, bisa, Bu. Dengan sekali pencet tombol ini, knop atap terbuka. Bagaimana?”

“Boleh, boleh,” jawab Lisa sambil terkekeh.

Mobil itu terus saja melaju mulus dan saat mereka tiba di tikungan dekat rumah sakit….

Ciiit………….

Pak Seno tiba-tiba merem mendadak. Lisa yang memang tidak siap, sontak tubuhnya terdorong ke depan. Untung saja mobil berhenti tepat waktu, dalam jarak kira-kira tiga puluh centimeter di hadapan seorang wanita paruh baya.

“Ada apa, Pak,” tanya Lisa pada Pak Seno setelah pulih dari keterkejutannya.

“Wanita itu menyeberang mendadak, Bu.”

Lisa turun dari mobil untuk menghampiri wanita itu.”Ibu tidak apa-apa?”

Wanita itu terlihat sangat pucat. Rona ketakutan masih tampak jelas di wajahnya. Nafasnya yang tampak tidak teratur membuat Lisa semakin panik.

“Akan lebih baik jika Ibu ikut saya ke rumah sakit,” ajak Lisa sambil tersenyum. Dia lalu membimbing wanita itu memasuki mobilnya.

“Saya memang akan menuju rumah sakit, nak,” kata Wanita itu setelah mobil melaju kembali.

“Oh, kebetulan kalau begitu.”

“Iya, cuma check kesehatan rutin.”

Karena merasa bersalah, Lisa menemani Ibu itu ke UGD, dan sesampainya di UGD…

“Ibu! Ada apa Ibu kemari?” Armand tiba-tiba panik melihat wanita itu di UGD, dan Lisa juga tak kalah terkejut karena ternyata wanita itu adalah Rani, Ibunda Armand. Dia memang belum pernah bertemu Ibu Armand karena dia dan Armand dulu sama-sama anak rantau waktu kuliah di jogja. Lisa dari Solo, dan Armand dari Jakarta.

“Jadi wanita ini……,” bisik Lisa dalam hati.

“Ah, tidak apa-apa, Armand,” jawab Rani menenangkan putranya.

“Maaf,” Lisa mulai angkat bicara, “Sebenarnya tadi Ibu anda hampir tertabrak mobil saya, Ibu kelihatan sangat ketakutan sekali jadi saya bawa kemari.”

“Kok bisa, Lis!” protes Armand.

“Ah, sudahlah.” Rani mengibaskan tangannya.”Ibu yang salah karena menyeberang tanpa menoleh kiri kanan, Armand.”

“Bukankah sudah saya katakan agar Ibu menunggu saya pulang dari rumah sakit, saya sudah berjanji mengantar Ibu ke sini, kan?” omel Armand sembari memeriksa keadaan Ibunya dengan stetoskop.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Lisa setelah terlihat Armand selesai memeriksa.

“Ibuku sudah tidak apa-apa. Maaf kalau merepotkan, Lisa.”

Rani terkejut.

“Lisa?” tanya Rani dalam hati, sesaat dia teringat dengan nama gadis yang tertulis di surat Armand.

“Baiklah kalau begitu, karena Ibu sudah tidak apa-apa dan ini adalah waktunya saya bekerja, serta di sini sudah ada seseorang yang bisa saya percaya untuk menjaga Ibu,” Lisa tersenyum.

“Maka saya akan segera undur diri,” sambung Lisa. “Maafkanlah atas keteledoran sopir saya.”

Rani mengibaskan tangan. “Ah sudahlah, seperti yang saya bilang tadi. Saya yang salah.”

Lisa segera berlalu dari Ibu dan anak itu. Gedung instalasi farmasi masih sepi karena rupanya dia datang terlalu pagi. Saat dia hampir sampai di ruang kerjanya, samar-samar terlihat seseorang memasuki ruang kerjanya. Lisa berhenti lalu berjalan mengendap-endap untuk mengintai siapa orang itu dan apa yang hendak dilakukannya, sesaat dia berdiri di dekat jendela kaca dengan gorden yang agak terbuka. Dari posisi itu dia mampu melihat apa yang dilakukan orang itu walau tidak leluasa. Penyusup  itu terlihat melakukan sesuatu dengan bagian bawah meja kerjanya.  Saat orang tidak bertanggungjawab itu hendak pergi, Lisa segera sembunyi di bufet  yang ada di dekat meja kerja sekretarisnya. Buffet tersebut cukup besar untuk menutupi tubuhnya yang kecil dan Lisa cukup cepat menyimpulkan bahwa penyusup itu akan kembali ke arah  yang berlawanan dengannya mengingat dari mana arah penyusup itu berasal.

Lisa segera memasuki ruang kerjanya. Dia lega saat segala sesuatu di ruangan itu masih dalam posisi semula.

Meja kerja, apa yang dia lakukan di bawah meja kerja?

Lisa membungkukkan badannya di depan meja yang dimaksud. Saat dia mencari, tampaklah sebuah tape perekam tertempel di sana dengan posisi on. Dia menyipitkan mata lalu duduk di kursi kerjanya.

Aku tak habis pikir, aku hanyalah apoteker yang bekerja di rumah sakit tetapi perlakuan mereka terhadapku bagaikan aku ini pejabat korup atau sesuatu yang bisa mengancam posisi mereka.

Dia menyandarkan punggungnya di kursi itu sambil tersenyum-senyum.

—–BERSAMBUNG—–