Langit, kenapa ku selalu tertarik padamu?

Saat dunia memandang sinis, aku menengadah. Saat dunia berpaling, aku pun menengadah. Bahkan saat dia mencaci maki, aku tetap menengadah. Berharap dukungan langit memihak.

Langit, kau lah penentu. Dengan sifat agungmu dan welas asih, terimalah keegoisanku. Langit, kau lah penentu, saat dunia mencaciku, hiburlah tangis yang penuh ratap. Saat dunia berpaling, pandanglah aku dengan belai lembutmu. saat dia memandang sinis, tetaplah di sisiku.

Bertahanlah dengan keegoisanku. terpakulah dengan ambisiku, karena kau lah penentu dan aku percaya padamu.

Langit, terimalah ratapan ini.

dariku, yang sendiri di dunia.

Iklan

APA KABAR MIMPIKU?

Terduduklah aku di sini. Di sisi kegalauan menghempas sunyi. Menyelami hakekat diri, akankah tiada akhir? Akankah langit menyiratkan yang harus tersurat? Ataukah semakin bertambah surut. Carut-marut di sekitarku, menambah bopengnya merah padam muka.

Raga ini tetap di sini sementara jiwa telah berloncatan dari satu asa ke asa lain. Meniti sejuta mimpi tergantung tinggi, bahkan raga pun tiada daya menggapai, hingga ku menengadah dengan pandangan menerawang.

Aku berharap mimpi menghampiri sehingga jiwa tetap beraga dan harapan terbentang. Aku berharap mimpi turun ke bumi, agar aku tidak terlalu lama menengadah. Berbinar melihatnya menari di sekelilingku. Begitu dekat!

Terbersit tanya dariku, Akankah mimpi menghampiri? Raga pun tetap menengadah, mencari jawab di antara mega-mega, berharap langit menyiratkan apa yang harus tersurat.

Cinta Biasa

Cinta ini adalah cinta yang biasa, tak bisa ku berkata, mencinta tuk selamanya karena tak yakin. Tak pula ku berujar, sampai ajal memisah kita karena tak yakin. Apakah ini hanya hasrat sementara atau buruan nafsu belaka.

Aku hanya berkata, saat ini ku mencinta. Aku hanya berujar, saat ini ku berharap. Karena ku tak yakin kan kekuatan cinta, karena ku tak rela menyerah oleh cinta atau pun mati karena cinta yang biasa ini.

Cinta ini adalah cinta biasa. Mudah terpisah oleh dunia. Ruang dan waktu pun mengakhirinya. Begitu lemah cinta biasa ini, lalu dimana cinta yang luar biasa?

Ku menantinya di antara cinta yang luar biasa.

Stop Kekerasan!

(Tulisan ini aku buat pada tanggal 23 Agustus 1994, yup… Aku masih kecil waktu itu, gak tahu waktu itu ada moment perang apa, lo gak salah moment perang teluk kali, ya… tapi coba dibandingin ma kondisi Indonesia saat ini, ironis banget, mpe miris aku liat beritanya, mungkin tulisan inilah yang mampu merefleksikan keadaan mereka)

Jalan-jalan penuh kekerasan, tak peduli dunia tlah hampa. Panas oleh matahari yang mengangah, hidup yang serasa hampa tanpa kasih, hidup akan sepi tanpa sayang, udara semakin berasap.

Tangis mereka makin menjadi. Mata-mata bening tanpa dosa memandangi mayat ayah atau ibunya, namun mereka hanya diam.

Mereka tak tahu Ibunya tak kan bangun, mengira ayahnya terlelap dalam tidur. mereka tak kan dapat mengerti walau pun beribu orang menangisi dan memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka terlalu muda untuk menyadari.

Bibir mereka terkatup, tidak berkata namun juga tidak diam.

Inikah dunia? Siapkah kita hadir di dalamnya?

Mayat-mayat bergelimpangan. Tak ada liang tuk berkubur, tak ada kubur tuk diziarahi. Angin berdesir, bau darah tercium, bau bangkai busuk terbang. Mereka tetap duduk bersimpuh dengan bibir terkatup. Tidak berkata, namun juga tidak diam.

MANUSIA BIASA

Ku lihat dia tetap di sana, berdiri tegak menatap langit seakan menantang mentari hingga terbersit pertanyaan di hatiku, “Adakah cinta menyapa hidup?”

Adakah kasih mengisi hati, menjalar di relung-relung kalbu, memenuhi kisi-kisi tubuhnya. Ataukah hati itu telah membatu hingga tiada satu pun cinta mampu menyentuh. Atau telah hancur. Remuk!

Dingin segala pandangan dan sikapnya, seakan ada suatu dendam, seakan ingin meremukkan keadaan. Kosong, hampa.

Dia tetap di sana, berdiri dengan tangan mengepal hingga kegundahan menyapa. Tak elak kesombongan lari darinya dan tinggallah puing-puing kekalahan.

Saat tersadar, ku lihat mata itu berair. jatuh! tersungkur ke bumi.

Ku helakan nafas, berusaha memahami namun tak jua ku mengerti,”Apakah itu karma baginya atau buah dari tirani?”

Tidak! Ku coba menghempas tuduhan itu. Aku tak berhak menghakimi atau pun memaki.

Belum puas otak berpikir, ku lihat dia berdiri kembali. Tegak menatap langit seakan menantang mentari, berusaha tegar hadapi hari walau keadan tak seperti dulu lagi.

lupa judulnya

nasyid favoritku

Saat-saat kulalui, meninggal kenangan yang penuh berarti. Mega-mega dan rembang sayup-sayup membawaku pergi. Sanggupkah aku jalani hari-hari yang menanti, bisakah aku mencipta kekuatan dalam perjuangan ini. namun tak bisa kurenung hakekat yang menanti, Aku pasrah kepadaMu ya, Robbi. Berdayakah aku melayarkan diri, di lautan yang tiada bertepi, di lautan tiada bertepi….

Very Small

Sesuatu yang kecil tengah menusuk, menyerang sendi diri, melambai, menarik tuk bercanda sampai ku terlena. Menari di atas panggung angan. Tenggelam dalam samudra lamunan.

Sampai kapan dia berlaku demikian? Membuat sakit tanpa tersadar. Meracuni keinsyafan.

Sampai kapan ku melayang? Sampai kapan ku tenggelam? Sampai kapan?

Dia yang sangat kecil memasuki kalbu. Begitu halus menyusup. Namun saat sampai tujuan, terciptalah keajaiban. Merubah benci, menampik segala ambisi. Kesedihan yang berganti rasa senang merayap perlahan, hingga timbul kehausan, gelisah yang mendalam dan tertutupnya akal sehatku.

Bukan! Dia bukanlah candu. Lebih dari itu, Dia juga bukan khamr.

Ya Allah, turunkanlah antibiotikmu. Tidak hanya menghilangkan simptom, seranglah pula penyebabnya, karena dia adalah virus yang melemahkan.

Kuatkan pula pertahananku, hinga saat dia masuk, diri ini mampu menangkal. tiada ku dilenakan, tiada ku dilemahkan atau pun dimatikan olenya.