THE HOSPITAL

4. The Strategy (Part 1)

Batam yang sibuk, membuat beberapa pengusaha menaruh minat pada kota ini, kota kecil yang menjanjikan. Begitu juga bagi Andre dan keputusannya untuk ikut meramaikan bisnis di kota ini. Kini dia sedang berdiri di dalam ruang rapat,  menghadap ke arah dinding kaca hingga nampak di depannya suasana luas kesibukan kota yang terlihat jelas dari ruangan yang terletak di lantai lima itu. Penandatanganan atau lebih tepat disebut pengambilalihan telah dilakukan tiga puluh menit yang lalu, masih tampak di angan Andre mimik para petinggi perusahaan yang dia ambil alih, tatapan mata para karyawan terhadap dirinya seakan bertanya,”Hai, apa yang akan dilakukan oleh bos baru ini?” atau sekedar rasa memelas,”Tolong, jangan pecat kami.”

Andre menghela nafas. Kini dia mengerti kenapa Lisa sangat tidak menyukai akuisisi, bisa dibilang seperti penjajahan. Dia mulai berpikir apa yang akan dia lakukan terhadap perusahaan barunya ini. Akankah dia bertindak sebagai broker atau tetap menjalankan saja dengan usaha perampingan dan pendanaan yang minim, lalu bagaimana dengan tatapan memelas itu, tatapan yang seakan berkata, “Tolong, jangan pecat kami.”

Di saat pikirannya yang kalut itu, dia mengingat Lisa, kata-kata Lisa yang tidak menyukai akuisisi dan lebih memilih aliansi strategic dan merger lalu dia mengira-ira apa yang tengah dilakukan gadisnya itu sekarang. Ya, itulah satu-satunya hiburan yang selalu menyertainya di jam-jam sibuk, diantara kerja kerasnya mempertahankan dinasti Kusumadiharja, dengan mengingat-ingat segala hal yang akan direncanakannya dengan gadisnya itu, gadis yang sangat dicintainya, sebuah pernikahan! Dan kini Andre tersenyum simpul dalam lamunannya. Andai saja semuanya berbeda, andai saja dia bukan pewaris dari Kusumadiharja, dia lebih ingin menghabiskan banyak waktu dengan Lisa.

Angannya kembali menuju ke masa awal perkenalannya dengan Lisa. Masa ketika dirinya masih berstatus sebagai mahasiswa Magister Manajemen UGM. Gadis itu begitu cuek dan Andre tak habis pikir kalau ternyata ada orang yang lebih cuek dari dirinya. Gadis itu selalu menggunakan pakaian seenaknya, berbicara dengan suara keras dan tertawa lepas. Tapi dia suka dengan tingkahnya itu. Dia suka saat suara Lisa lebih mendominasi dari pada suara teman-temannya, seperti gelas kaca, ya… gelas kaca bening yang begitu jujur menampilkan apa saja yang ada di hatinya tanpa sedikit pun yang ditutupi.

Andre begitu penasaran pada waktu itu hingga menyuruh orang untuk menyelidiki siapa Lisa, dan jawabannya seperti yang telah dia duga. Lisa tidak sedang bersama seseorang dan tidak ada pria yang sedang menunggunya. Andre melonjak kegirangan saat menerima kabar itu dan berjanji dalam hati akan lebih memperhatikan Lisa lagi. Mungkin perhatian Andre begitu berlebihan hari itu, saat dia dan Lisa menghadiri workshop di Fakultas kedokteran. Andre begitu perhatian hingga mengambilkan kotak snack untuk Lisa.

“Tak seperti biasanya?” pikir Lisa dalam hati.

“Kau mau tambah minumnya?” tanya Andre dengan manis. Lisa mengangguk. Andre segera menuju stand minuman dan Lisa melongo begitu mendapati Andre kembali dengan segelas minuman di tangannya.

“Apa kau mau buah?” tanya Andre lagi.

“Kalau tidak merepotkan,” jawab Lisa sambil memakan snack, lagi-lagi Andre segera berlalu dan kembali dengan sepiring buah ditangannya. Lisa pun sukses dibuat keheranan oleh Andre. Dia mulai batuk-batuk, Andre menepuk-nepuk punggungnya sambil menyodorkan minuman.

“Hari ini kau aneh sekali,” protes Lisa setelah berhasil mengatasi tersedaknya.

“Aneh bagaimana?”

“Ya aneh, tidak seperti biasanya,” jawab Lisa seenaknya,”Biasanya kalau orang bertingkah tidak seperti biasanya, biasanya orang itu akan mati.”

Lisa terbahak sambil menutupi mulutnya dan Andre memandangnya dengan muka merah padam, sungguh tidak bisa dimaafkan karena Lisa mendoakan kematiannya. Dengan geram Andre nyelonong pergi dari Lisa yang masih saja tertawa memegangi perutnya. Langkah pertamanya memberikan perhatian pada Lisa gagal total, ternyata gadis itu memang tidak mempunyai sisi romantis sama sekali, benar-benar menjengkelkan.

Begitulah Lisa, sangat tidak berperasaan, terlalu banyak bercanda, tapi akhirnya saat itu datang juga, dan anehnya datang di tempat yang sama sekali tidak terbayangkan oleh mereka yaitu di masjid agung kampus. Andre sangat mengingatnya, pada hari itu dia menghadiri pengajian di masjid itu, tema dari pengajian itu adalah “Pacaran sesudah menikah”. Semua pasti tahu tema itu bercerita tentang taaruf dan pernikahan dan tiba-tiba forum dikejutkan oleh pertanyaan konyol seorang peserta wanita,”Bagaimana dengan fantasi seks sebelum menikah? Apakah itu berdosa?”

Sontak semua orang heboh, arena akhwat dan ikhwan yang terpisah oleh hijab tinggi dan membentang membuat para ikhwan penasaran karena tidak bisa melihat siapa wanita yang dengan polosnya menanyakan hal itu, tapi Andre tahu siapa wanita itu. Siapa lagi kalau bukan cewek bertubuh kecil tapi bersuara keras. Dia heran juga karena Lisa ternyata tertarik dengan acara semacam ini.

Para akhwat memandang Lisa tajam, sangat tidak sopan, kira-kira begitulah arti tatapan mereka. “Kenapa? Alah, gak usah muna,deh…,” protes Lisa. Andre geleng-geleng kepala sambil mengira-ira ekspresi wajah gadis itu di ujung sana.

Ternyata tebakan Andre itu tidak meleset, gadis itu memang benar Lisa. Kini Lisa tengah bermain ayunan di taman bermain yang ada di dekat masjid itu. Acara pengajian sudah selesai sejak tadi. Dengan agak ragu, Andre mendekati gadis itu. Bagaimana tidak? Gadis itu sekarang menggunakan gamis dan jilbab sangat bertolak belakang dengan penampilan yang selalu ditunjukkannya selama ini.

“Oh, berarti benar kalau cewek tadi kamu,” sapa Andre setelah sampai di depan Lisa. Lisa menoleh sebentar, lalu melanjutkan bermain ayunan.

“Pertanyaan macam apa itu tadi? Masa hal itu ditanyakan cewek?” cerca Andre lagi. Lisa hanya senyum-senyum. Lisa masih mengingat kejadian di workshop tempo dulu dimana Andre yang marah karena omongannya ngeloyor pergi begitu saja. Memang Lisa sangat risih dengan perhatian Andre waktu itu, dia tidak biasa diperhatikan semacam itu, Ayahnya selalu melatihnya untuk mandiri setelah Ibunya meninggal, sehingga dia tidak bergantung pada perhatian orang lain. Tapi perhatian yang diberikan oleh Andre memang berbeda, dia mengakui itu, Lisa juga tahu maksud dari perhatian yang Andre berikan, dia bukannya orang yang tidak berperasaan.

Lisa tiba-tiba menghentikan aktifitasnya dengan ayunan. Dia memiringkan wajahnya demi melihat ekspresi wajah Andre yang membelakangi sinar matahari, memang membuat pandangan mata Lisa serasa silau. Saat tubuh Andre menutupi cahaya menyilaukan itu, Lisa bersuara,”Kau mau jadi calon suamiku?”

Serta-merta wajah Andre memerah dibuatnya. Mimpi apa dia semalam? Seharusnya dialah yang menyatakan cinta, melamar atau apalah istilahnya tapi kenyataannya cewek bertubuh mungil ini yang duluan, di tempat yang sungguh jauh dari romantis dan di jam setengah dua siang, saat matahari terik-teriknya tapi bukankah hal ini yang dia inginkan tak peduli siapa yang memulai, dimana dan jam berapa.

“Mau tidak?” ulang Lisa. Kali ini Lisa sudah berdiri di depan Andre. Andre jadi linglung,”E….e…., Aku…aku belum siap untuk menikah.”

“Hei, aku memintamu menjadi calon suamiku, bukan menikahiku besok!” seloroh Lisa sambil berlalu.

“Tunggu!” cegah Andre. Lisa membalikkan badannya dan Andre sekali lagi berjalan mendekat,”Kau tidak mengharapkan ku menjawabnya sekarang, kan? Di film-film biasanya mereka meminta waktu satu atau dua hari untuk menjawab pertanyaan itu.”

Lisa mengibaskan tangannya,”Ah, terserah kaulah, tapi jangan salahkan aku jika besok ku berubah pikiran!”

Berubah pikiran? Bagaimana jika Lisa berubah pikiran? Andre jadi ngeri, dia tergagap waktu gadis itu hendak meninggalkannya lagi, dia berlari dan menghadang langkah Lisa. Kedua tangannya segera memegang pundak Lisa saat gadis itu berada di depannya dan dia mulai mengatur nafas,”Iya, iya, Aku mau jadi calon suamimu.”

Lisa tersenyum menang,”Nah, gitu dong.”

Lisa meneruskan langkahnya lagi.

”Cuma begitu?” tanya Andre.

“Cuma begitu apanya?”

“Kau hanya menanyakan itu?”

“Lalu kau maunya apa?”

Aish, cewek ini bodoh atau apa,sih? pikir Andre. Sepertinya Andre memang harus sabar pada Lisa. Gadis itu memang agak tidak jelas, semenit yang lalu dia memaksa Andre menjadi calon suaminya dan sekarang mau pergi dari Andre begitu saja, sangat tidak romantis, pikir Andre lagi. “Kau mau pergi kemana? Aku bisa mengantarmu?” tanya Andre mengalihkan perhatian.

“Pulang ke kos,” jawab Lisa.

“Oh, aku antar, ya?”

Lisa mengangguk dan itulah awal dari masa-masa Andre bersama Lisa. Andre jadi geli mengingat peristiwa itu, sementara kesibukan Batam masih terpampang di depannya. Seorang laki-laki paruh baya mendekati Andre, rupanya itu adalah Andika, penasehat keuangannya,”Saya tidak tahu kalau anda masih di sini, Pak Andre.”

Andre masih tetap memperhatikan view yang membentang di bawahnya,”Ya, kau sudah meneliti keuangan di perusahaan ini?”

“Iya, banyak kebocoran.”

“Pastikan kau tempatkan orang kepercayaan kita di sini, angkat orang yang benar-benar handal, jika perlu seorang workhaholik yang masih idealis.”

“Baik, Pak Andre.”

Andre menuju notebooknya yang sedari tadi tergeletak di atas meja rapat. Saat dia akan membereskan notebook itu…

“Maaf, Pak Andre, mungkin yang saya tanyakan ini agak lancang.”

Andre menoleh ke arah akuntan itu,”Ada apa?”

“Bagaimana dengan Optima Medika? Bukankah lebih baik jika kita segera melepaskannya selagi bisa?”

Andre terkejut, memang sudah lama Andika mengingatkannya tentang Optima Medika yang hampir bangkrut, dan saran dari akuntan itu agar segera menjual saja rumah sakit itu sebelum terlalu banyak menyusahkan keuangan PT. Kusumadiharja Tbk.”Pak Andika, anda tahu sejarah berdirinya rumah sakit itu, bukan?”

“Tentu, Pak Andre, rumah sakit itu didirikan sebagai pelayanan kesehatan karyawan PT.Kusumadiharja, Tbk tapi kita tidak bisa terus-terusan mempertahankan ‘dog’ itu hanya akan memperlama penderitaannya.”

Andre tersenyum, “Dog? Cow? Star? Lalu Question Mark? Lalu siapa yang Cow? Siapa ?” Dia menggelengkan kepala, “Anda anggap Kusumadiharja, Tbk itu sapi perah, Pak akuntan?”

“Bukan begitu maksud saya, Pak Andre.”

“Kau ingin aku menggunakan strategi apa? Niche?” tantang Andre.”Salah satu tanggungjawab industri adalah moral responsibilities. Anggap saja keputusanku untuk mempertahankan rumah sakit itu adalah bentuk tanggungjawab moral Kusumadiharja, Tbk.”

Andika memahami pendirian bosnya dan Andre pun segera berlalu dari ruangan itu.

—-><#BERSAMBUNG#><—-

Iklan

THE HOSPITAL

3. Pharmacist on the Duty (part 6)

Lisa menghirup nafas panjang, direntangkannya kedua tangannya untuk membantu memenuhi paru-parunya dengan udara, lalu ditelungkupkannya lagi seiring dengan keluarnya udara itu dari hidung mungilnya. Kini dia tengah berada di lantai teratas  dari gedung rumah sakit, atau bisa di bilang atap beton rumah sakit. Andre  yang menunjukkan tempat ini  di hari pertamanya bekerja di rumah sakit. Ya, setelah rapat perkenalannya dengan para petinggi rumah sakit itu.

“Kau tahu, ini adalah tempat favoritku sejak kecil,” kata Andre pada waktu itu.

“Oh ya? Sudah berapa cewek yang kau ajak kemari?”  Lisa yang kini berdiri di sampingnya menanggapi.  Andre menoleh ke arahnya, “Kau sama sekali tidak romantis dengan menanyakan masalah itu sekarang,” omelnya.

Lisa cekikikan,” Oh, jadi kau bermaksud romantis.”

Andre merekuh tubuh Lisa, kini dia memeluk Lisa dari belakang dengan dagu menempel di pundak tunangannya itu. Ya, sama seperti sebelum-sebelumnya, hanya pelukan, ciuman di kening dan di pipi, tak kurang dan tak lebih dari itu.

“Setiap kali aku bercerita tentang masa kecilku, kau harus menganggapnya romantis,”perintah Andre. Kini dia kembali pada kebiasaannya, memutuskan apa yang dianggapnya benar bagi mereka bedua.

“Memangnya kenapa dengan tempat ini? Tempat ini biasa saja.”

“Aku selalu ke tempat ini setiap kali ada masalah, tidak ada yang bisa menemukanku di tempat ini, bahkan orang tuaku sendiri.”

“Hai, Tuan Andre yang terhormat, kau sudah mengajakku ke tempat ini, jadi aku pasti akan bisa menemukanmu jika kau menghilang.”

“Oh ya?” Andre tersenyum, dia mempererat pelukannya. Dia tidak perduli bahwa angin tengah mempermainkan rambut Lisa sehingga menerpa wajahnya yang masih saja menempel di dagu gadis itu. “Mungkin karena kau adalah gadisku, jadi aku menceritakan semua ini padamu.”

“Kau yakin tidak pernah mengajak cewek lain ke tempat ini?” goda Lisa.

“Huh, kenapa kau selalu menanyakan cewek lain?” Andre melepaskan pelukannya. Lisa tersenyum simpul,”Jangan marah, ayo peluk aku lagi.”

Andre berjalan ke depan, saat langkahnya sampai di bagian akhir dari dinding setinggi pusarnya itu, dia merentangkan tangannya sembari menghirup udara dalam-dalam. “Tidak ada gadis lain,” sambungnya saat Lisa telah berdiri di sampingnya.

“Andre, bolehkah jika aku juga menjadikan tempat ini sebagai tempat favorit?”  Andre mengangguk.

Ya, itulah yang terjadi sore itu yang diakhiri karena mereka harus mengunjungi Ratih, dan sekarang, tempat ini sudah dijadikan Lisa sebagai tempat favoritnya, kini dia bisa mengerti kenapa Andre sangat menyukai tempat ini, dari sini dia bisa melihat seluruh pemandangan rumah sakit, bagaikan seorang arsitek yang tengah melihat maket gedungnya, kesibukan rumah sakit terlihat begitu jelas di sini, sirine yang mengaung dari ambulance yang baru tiba di UGD, pasien yang berjalan-jalan sembari memegangi botol infusnya di taman, atau pun anak-anak para pengunjung yang bergurau di dekat taman bermain. Lisa menikmati pemandangan itu sambil memikirkan langkah apa yang selanjutnya dia lakukan untuk instalasi, perombakan besar-besaran, ya, perombakan besar-besaran, pikirnya dalam hati.

Seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Lisa terkejut. Apakah Andre? Tidak tidak, Bukankah Andre sedang di Batam?

“Rupanya ini benar kau?” suara orang itu. Seorang wanita. Lisa mebalikkan tubuhnya. “Kak Yana?”

Wanita itu adalah Yana, kakak Andre.”Kau jahat sekali tidak langsung mengunjungiku sesampainya di Jakarta.”

Lisa menyadari kesalahannya, dia segera minta maaf.

”Ku lihat kau juga menyukai tempat ini?” tanya Yana setelah menerima permintaan Maaf Lisa.

Lisa tersenyum mengiyakan,”Tunggu, bagaimana kakak tahu tentang tempat ini?”

Yana tertawa, dia menggerak-gerakkan telunjuk tangan kanannya di depan Lisa sementara tangan kirinya menutupi mulutnya. “Adikku pasti mengatakan kalau tempat ini adalah favoritnya, kan?”

“Dasar lelaki gombal, sok romantis,” Lisa ngomel-ngomel. Yana menghentikan tertawanya,”Tunggu dulu, dia tak sepenuhnya bohong. Tempat ini memang favoritnya.”

“Tapi dia mengatakan tidak akan ada yang menemukannya bahkan orang tuanya,” protes Lisa.

“Orang lain  memang tidak bisa menemukannya, tapi aku bisa,” seru Yana yakin sambil mengepalkan tinjunya. Lisa memandangnya penuh tanya.

“Sebenarnya aku yang lebih dulu menemukan tempat ini,” Kisah Yana.

Yana mulai bercerita tentang masa kecilnya, dimana keluarga Kusumadiharja yang hanya mempunyai dua orang anak, Yana dan Andre, umur mereka yang terpaut lima tahun membuat mereka dekat dan saling melindungi, tetapi saat Yana memasuki SMP, dia merasa adiknya begitu merepotkan, bagaimana tidak, Yana adalah ABG yang mulai mempunyai rasa suka terhadap lawan jenis, dia ingin bebas  kemana saja dengan siapa saja, sedangkan Andre, adiknya itu selalu membuntutinya ke mana pun dia pergi. Dia tidak terima itu, serasa tidak ada privasi.

Saat pembangunan rumah sakit selesai, dia menemukan tempat itu, ya, tempat yang dianggapnya tepat untuk menyendiri. Di sini dia bisa melakukan apa saja tanpa diganggu oleh rengekan Andre. Dia bisa menulis surat cinta untuk pujaan hatinya, dia bisa membaca surat cinta dari pemuja rahasianya sambil tersenyum-senyum tanpa Andre yang menuduhnya gila karena senyum-senyum sendiri. Hal itu berlangsung cukup lama tapi tidak setelah itu, ya setelah kejadian itu. Kejadian sebelum dia lulus SMA.

Plak! Suara tamparan terdengar, Yana menghambur ke arah laki-laki itu, teman-temannya menahannya untuk tidak berbuat yang lebih jauh, dia meronta, emosi menguasai dirinya. “Sudahlah, Yana. Tidak ada gunanya kau menamparnya,” seru salah satu sahabatnya.

“Iya, nasi sudah menjadi bubur, Dina sudah hamil sekarang, kau tampar Dito seperti apa pun, dia harus bertanggungjawab terhadap Dina,” sahut sahabatnya yang lain.

“Lepaskan aku ! Lepaskan!” Yana masih saja meronta-ronta. Lelaki itu, Dito, Lelaki yang dipacarinya semenjak SMP, dan ternyata dia mendapati lelaki itu menghamili Dina, sahabatnya juga, rupanya mereka diam-diam berhubungan di belakangnya. “Aku bilang lepaskan!”

“Kami akan melepasmu kalau kau tidak emosi lagi!”

Yana meronta lebih keras, kali ini dia berhasil lepas, dia segera menerjang Dito yang sedang mengelus-elus pipinya yang memerah. Yana segera memukuli bahu laki-laki itu dengan tas yang dibawanya, Dito mengangkat kedua tangannya untuk menangkis serangan Yana, Yana benar-benar muntap. Teman-temannya segera melerai, tapi kali ini mereka tidak bisa menangkapnya lagi karena Yana segera lari meninggalkan mereka sambil menangis.

Yana segera mengendarai mobilnya, kemana lagi kalau bukan ke tempat privasinya itu. Saat mobilnya tengah memasuki pelataran rumah sakit, Andre yang habis menjenguk salah satu temannya sekaligus anak karyawan papanya itu, melihatnya berlari dari mobil dalam keadaan yang yang kacau. Diam-diam dia mengikuti kakaknya dan di sanalah Yana berakhir, di atap beton teratas dari rumah sakit itu, dalam keadaan jongkok, menangisi kepedihan hatinya.

Andre mendekati Yana, dia menepuk bahu kakaknya itu. Yana mendongak, air mata masih menggenang kemudian dia memeluk tubuh adiknya itu, tangisnya makin keras, sementara sang adik membiarkan saja dia berlaku demikian, tanpa mengucap sepatah kata pun. Setelah Yana puas menangis, mereka duduk bersila dan mengobrol satu sama lain.

“Pasti karena DIto,” tebak Andre. Yana tersenyum,”Kau benar dan kali ini lebih parah.”

“Memangnya apa yang dilakukan Dito pada kakak?”

“Tepatnya bukan padaku, tapi pada temanku.”

“Lalu kenapa kakak menangis, bukankah dia tidak menyakiti kakak?” tanya Andre. Kali ini Yana tidak mampu menjawab, dia tidak mungkin menjelaskan pada Andre kalau Dito menghamili Dina. Menghamili! Bukanlah kata yang pantas untuk dia ucapkan pada adiknya walau pun adiknya itu sudah berusia tigabelas tahun.

“Ah, kau masih kecil, kau tidak akan mengerti.”

“uh… kenapa semua orang menganggapku masih kecil,” Andre memajukan bibirnya.

“Karena kau memang masih kecil, adik kecil…,” goda Yana sambil mengobrak-abrik rambut Andre yang kala itu masih berponi. Andre semakin memajukan bibir. Yana tertawa melihat ekspresi wajah Andre.

“Kau mau berjanji pada kakak?”

“Janji? Janji apa?”

“Kau sudah tahu tempat ini sekarang, kau harus janji tidak akan memberitahukan tempat ini pada siapa pun bahkan pada Papa dan Mama. Janji?”

Andre mengangguk. “Janji!” serunya sambil mengacungkan kedua jarinya.

Yana tersenyum mengingat peristiwa itu.“Setelah itu dia juga menganggap tempat ini sebagai tempat favoritnya, tapi dia memang anak yang menepati janjinya dengan tidak mengatakan tentang tempat ini pada siapa pun, kecuali denganmu tentu saja.”

“Kakak yakin dia tidak memberitahu orang lain lagi?” Lisa memastikan.

“Tentu saja aku yakin, aku kenal adikku, dia tidak bisa bohong dariku,” pasti Yana. Mereka tertawa bersama, kini mereka melangkah pergi dari tempat itu, dan melanjutkan obrolan mereka di cafeteria rumah sakit, istrirahat makan siang rupanya masih lama, sehingga mereka bebas mengobrol.

“Aku tidak percaya kakak berani menceritakan masalah itu? Apa kakak tidak malu?” tanya Lisa, yang dia maksud adalah peristiwa patah hatinya itu pada Dito. Yana mengibaskan tangannya,”Ah, buat apa malu, toh aku menceritakan semua itu padamu, calon adik iparku.”

Dito terlihat memasuki cafeteria dan duduk di meja paling pojok dari cafeteria sembari membaca buku menu, Yana dan Lisa mengawasi gerak-geriknya, lalu tersenyum berdua. “Dia agak tambun sekarang,”ujar Yana.

Lisa memainkan matanya, dia menggoda Yana, “Tapi cowok tambun itu yang dulu membuat kakak patah hati,kan?”

Yana memonyongkan bibirnya. Ekspresi wajahnya itu sangat mirip dengan Andre. Lisa tambah tertawa. Dia memang sangat menyukai kakak Andre, sejak pertama mereka bertemu, entah kenapa Lisa bisa langsung akrab dengan Yana, mungkin karena nama Yana yang sama dengan nama almarhumah Ibunya dan yang membuat Lisa tambah heran lagi, nama suami Yana adalah Bondan, sama dengan nama pamannya yang mati muda karena kecelakaan lalu-lintas. Lisa berpikir mungkin ini memang sudah takdir. Dia telah mendapatkan kembali orang-orang yang dicintainya.

“Ada kabar kalau dia sekarang terlibat affair dengan Viona,”

“Apa?”

“Ya, Aku dan Andre dari dulu menyebutnya playboy kadaluarsa.”

Mereka berdua terkekeh. “Lalu bagaimana Dito bisa meraih gelar dokter?”

“Karena kejadian itu terjadi  sehari sebelum kami lulus SMA, maka dia bisa melanjutkan kuliah setelah menikah dengan Dina, sedangkan Dina, dia harus rela hanya sebagai ibu rumah tangga, toh dia sudah menjadi seorang nyonya dokter sekarang,” urai Yana.

“Nyonya dokter?” tanya Lisa, sepintas dia teringat Armand dan Ibunya yang sangat ingin mempunyai menantu seorang dokter.

“Iya, Nyonya dokter, kenapa?” tanya Yana.

Lisa menggeleng,”Tidak apa-apa.”

“Lagi pula kalau dilihat-lihat, Dito tidak lebih tampan dari Mas Bondan, apalagi dari Andre,” lanjut Yana sembari melihat lagi ke arah Dito,”Kau tahu, adikku itu mewarisi wajah Ibuku yang elok, banyak gadis yang tergila-gila padanya sejak remaja,” Yana berbisik di telinga Lisa.

“Benarkah?” Lisa tertawa.

“Iya, dan anehnya dia sama sekali tidak merespon mereka, sebenarnya jika Andre mau, dia bisa memanfaatkan mereka, ya.. seperti Dito memanfaatkan wajahnya untuk mendekati aku dan Dina.”

“Kenapa Andre bisa seperti itu?” tiba-tiba saja Lisa jadi ingin tahu tentang masa lalu Andre padahal selama ini dia terkesan cuek bebek dengan masa lalu Andre karena merasa Andre selalu jujur padanya.

“Karena dia menghormati perempuan, karena dia dekat dengan kakaknya,” yakin Yana,”Tapi sebenarnya itu juga kesalahanku.”

“Kesalahan kakak?”

“Iya, kau tahu, Papa meninggal karena kesalahanku, karena aku hamil sebelum Mas Bondan menikahiku, sebenarnya Papa tidak suka kalau Mas Bondan jadi suamiku.”

“Ah, kakak terlalu keras menyimpulkan, bukankah umur seseorang itu Allah yang mengatur?”

“Iya, tapi aku sangat menyesali kejadian itu, kau tahu, aku merasa bersalah karena mengecewakan Papa, dan aku menceritakan semua itu pada Andre,” Yana menceritakan semua itu sambil terbata-bata. “Dan rupanya kesimpulan lain juga berhasil ditarik oleh Andre, Dia menentang keras hubungan seks pra nikah dan menjunjung tinggi virginitas sebelum menikah.”

Lisa melongo, jadi inikah sebabnya? Pelukan, cium pipi dan kening hanya itu, tidak kurang dan tidak lebih!

“Kau sudah melakukan apa saja dengan Andre?” tanya Yana tiba-tiba.

“Maksudnya?”

“Maksudnya, kalian sudah melakukan itu?”

“Itu?”

“Iya! Itu!” Yana membelalakan matanya sambil menekankan kata “itu”. Lisa menggeleng.

“Lalu apa saja yang sudah dilakukan Andre padamu?”

“Terkadang dia memelukku,”

“Hanya itu?”

“Mencium pipi dan kening.”

“Itu saja?”

Lisa mengangguk. Yana mulai mengerti, “Sudah aku duga, adikku itu memang pria paling perjaka di dunia, dan kau.. apakah kau sudah pernah melakukannya dengan pria  lain?”

Lisa menggeleng cepat,”Tentu saja belum, gila apa kalau aku melakukan itu?”

“Hmm, aku tahu sekarang kenapa dia memilihmu,” Yana manggut-manggut,”Tapi kalau cuma pelukan dan ciuman pipi, rasanya kurang seru, Andre juga melakukan itu pada Sasa.”

Sasa, tiba-tiba Yana teringat pada anaknya itu, sementara Bodan yang melakukan checkup kesehatan rutin, belum nampak batang hidungnya.

“Oh iya, Lis, minggu depan aku dan Mas Bondan ada acara di Samarinda, tapi kami tidak bisa mengajak Sasa karena dia harus sekolah. Kamu mau, gak kalau kami minta tolong kamu untuk menjaga Sasa? Dia bisa kok menginap di rumahmu?” pinta Yana.

“Sebenarnya, sih aku inginnya Mama yang mejaga Sasa, tapi Mama kurang telaten dengan Sasa dan lebih memilih mengikuti kontes anggrek di Denpasar. Bagaimana, Lis? Aku lihat kalian akrab waktu bertemu?”

Akrab? Yana bilang akrab? Yang benar saja? Lisa masih ingat waktu pertama kali ketemu Sasa, waktu itu dia masih kuliah di bangku S2. Saat itu sedang masa liburan sekolah sehingga Yana dan Bondan berlibur ke Yogya. Demi memperkenalkan Lisa pada kakaknya, Andre mengajaknya menemui keluarga kecil itu di Taman Pintar. Setelah memperkenalkan Lisa pada Yana dan Bondan, Andre langsung menarik tangan Lisa untuk mencari Sasa, rupanya anak itu sedang asyik bermain-main di tepi kolam renang, sibuk menyiprat-nyipratkan air kolam renang pada teman-temannya yang baru dia kenal.

Andre yang mendapati tingkah laku Sasa segera memeluknya erat, lalu mencium pipi keponakannya itu tanpa perduli kemejanya jadi ikut-ikutan basah karena menempel pada pakaian renang Sasa. “Dengar, Sasa. Ongkel akan mengenalkan seseorang padamu,” ujar Andre. Dia segera mengangkat Sasa dari kolam dan menggandengnya untuk menuju Lisa.

“Nah, wanita ini adalah calon istri Ongkel, namanya Lisa. Kau harus memanggilnya onti,” kata Andre.  Ongkel? Onti? Oh ternyata maksudnya uncle dan aunty, paman dan bibi, pikir Lisa dalam hati. Dan apa yang di lakukan anak kecil itu? Dia memandangi Lisa dari ujung rambut sampai ujung kaki sampai Lisa merasa risih, lalu berkata nyaring,”Onti, kenapa onti bertubuh kecil? Onti cacingan, ya?”

Lisa nyengir kuda tanpa tahu harus berbuat apa, sementara Andre menahan tawa dengan perut yang kaku melihat ekspresi wajahnya.

“Kalau onti cacingan, onti harus minum obat cacing enam bulan sekali. Ingat itu,onti!” tambah Sasa lagi. Kali ini Lisa menelan ludah kering, seorang apoteker diajari aturan pakai obat cacing oleh anak kecil yang cerewet. Andre tidak bisa menahan tawanya lagi.  Dia tertawa tanpa henti dan Lisa mencubit perutnya dengan keras.

“Hai ! Hai! Bagaimana, Lis, kau mau menjaga Sasa selama kami pergi?” tanya Yana membuyarkan lamunan Lisa.  Lisa terkesiap, lalu dia mengangguk.

“Ah, syukurlah,” Yana merasa lega. Tiba-tiba Bondan yang baru selesai check-up sudah ada di antara mereka. “Apa kabar,Lis?”

“Baik!”

“Sayang, Lisa setuju untuk menjaga Sasa selama kita pergi,” Yana mulai bercerita pada suaminya.

“Wah, terima kasih, Lis.” Bondan melirik arlojinya, “Sudah jam satu, kita harus kembali ke kantor sekarang, ayo!” ajak Bondan pada istrinya.

“Baiklah, Oh ya, Lis, aku hampir lupa, nanti sore ada arisan keluarga di rumah Mama, aku harap kau datang agar kami bisa mengenalkanmu pada keluarga yang lain.”

Lisa mengangguk. Yana segera undur diri, tapi Bondan tiba-tiba menyelutuk,”Lain kali kau jangan pakai warna ungu muda, tidak cocok untuk kulitmu yang pucat.”

Lisa terpaku mendengar Bondan mengkritik penampilannya.”Kau harus lebih memperhatikan penampilanmu agar Andre tidak melirik cewek lain.”

Lisa benar-benar menelan ludah kering. Yana tersenyum,”Sudahlah, Mas. Jangan menggoda Lisa terus, kau juga tahu kalau Andre tidak mungkin melakukan itu.”

Suami istri itu  berlalu. Kini Lisa tahu dari mana Sifat Sasa yang ceplas-ceplos itu didapatkan, Sifat itu menurun dari Bondan dan memikirkan bahwa anak kecil itu harus tinggal bersamanya selama orang tuanya pergi. Ah, Lisa tidak habis pikir.

THE HOSPITAL

3. Pharmacist on The Duty (Part 4)

Saat waktu menunjukkan pukul enam pagi, Lisa terbangun dari tidurnya.  Dia begitu shock saat melihat jam dinding di kamarnya, segera dia sholat subuh dan memulai aktifitas paginya bersiap-siap ke rumah sakit. Saat dia sudah siap dengan baju kerjanya dan mulai membuka lemari es untuk mencari makanan sebagai sarapan, tiba-tiba terdengar bel rumahnya berbunyi. Lisa yang memang tinggal sendiri segera membuka pintu.

“Selamat pagi, Bu Lisa,” sapa tamu Lisa. Rupanya Pak Seno, sopir keluarga Andre. “Saya disuruh Pak Andre mengantarkan itu?” sambung Pak Seno sambil menunjuk sebuah mobil yang terparkir di pekarangan rumah Lisa. Lisa berjalan menuju ke arah mobil itu.

“Pak Andre memilihkan mobil ini untuk anda?” kata Pak Seno saat Lisa menoleh ke arahnya dengan pandangan butuh penjelasan.

Lisa masuk ke dalam rumah untuk mencari HP-nya, dan segera menelephon Andre.

“Kau dimana?” tanya Lisa saat Andre mengangkat telephone.

“Aku sudah di airport, menunggu kedatangan pesawat.”

“Kau membelikan mobil untukku?”

“Oh, mobil itu? Ya, aku memang membelinya untukmu.”

“Kau seharusnya tidak melakukan itu tanpa persetujuanku,” omel Lisa

Andre terdengar menghela nafas, “Kalau aku memberitahumu sebelumnya, kau pasti menolak. Anggap saja itu hadiah dari calon suami.”

“Kau tahu kalau aku tidak suka menerima hadiah dari laki-laki, kan?”

“Hai, hai, laki-laki apa maksudmu, aku ini calon suamimu!”

Mereka masih saja berdebat dengan ego masing-masing, hingga panggilan kedatangan pesawat yang akan ditumpangi Andre terdengar. “Sudahlah, aku harus masuk pesawat, kau juga harus kerja,kan? Sementara Pak Seno akan menjadi supirmu. Aku kan tahu kau belum bisa nyetir. Sesampainya aku dari Batam, aku akan mengajarimu menyetir.”

Andre segera menutup telephone. Lisa mendengus kesal, “Kebiasaan yang tidak baik.”

Lisa segera berangkat ke rumah sakit. Mau tidak mau dia menerima mobil itu. Kini dia tengah duduk manis di dalam mobil mewah itu. Dia tidak begitu memperdulikan merk, atau keistimewaan mobil itu karena memang dia tidak tahu menahu masalah mobil. Kini dia tidak perlu menuju halte untuk menanti bus. Tidak ada lagi bus penuh sesak yang harus dia tumpangi. Tidak harus berjejal berebut kursi dengan penumpang lain lagi karena sekarang kursi belakang ini adalah miliknya dan tentu saja kursi di belakang kemudi itu, segera akan didudukinya jika Andre telah berhasil melatihnya mengendarai mobil. Sembari menikmati pemandangan di luar, angannya melayang ke masa-masa silam, di mana dia sebagai seorang mahasiswi sederhana yang selalu harus bangun pagi demi mengejar kereta api “Prambanan Ekspress” yang jam pertama, atau harus berhujan-hujan menanti bus yang tak kunjung datang dan tentu pula gaya hidupnya waktu S1 yang harus jalan kaki ketika berangkat atau pulang dari kampus karena kondisi keuangannya yang minim.

Dia tersenyum, segera di pasangnya headphone di telinganya, memutar MP5 yang memperdengarkan lagu-lagu pop korea. Lagu-lagu itulah yang selama ini  menemaninya dalam setiap perjalanan. Bahkan teman-teman kuliahnya dulu hafal betul dengan kegemarannya yang satu ini, biasanya mereka protes padanya. Mereka bilang apa asyiknya mendengarkan lagu yang kita tidak tahu artinya tapi dia tidak ambil pusing. Baginya bahasa korea itu sangat menggelitik di telinga, sebenarnya bukan hanya bahasa korea tapi juga bahasa jepang dan spanyol. Dia bahkan bisa menirukan lagu itu walau pun tidak begitu tahu artinya.

Lisa begitu terlena dengan suasana yang kini dia alami, diperintahkannya Pak Seno untuk mematikan AC mobil lalu dia membuka kaca jendela mobil. Angin pagi segera menyambutnya, mengkibarkan rambut panjangnya. Dia menarik nafas panjang. Berusaha memenuhi paru-parunya dengan oksigen yang mungkin masih tersisa di Jakarta yang kian polusi.

“Kalau ibu mau, saya bisa sekalian membuka knop atap mobilnya?” tanya Pak Seno.

“Apa? Memangnya bisa?”

“Tentu saja, bisa, Bu. Dengan sekali pencet tombol ini, knop atap terbuka. Bagaimana?”

“Boleh, boleh,” jawab Lisa sambil terkekeh.

Mobil itu terus saja melaju mulus dan saat mereka tiba di tikungan dekat rumah sakit….

Ciiit………….

Pak Seno tiba-tiba merem mendadak. Lisa yang memang tidak siap, sontak tubuhnya terdorong ke depan. Untung saja mobil berhenti tepat waktu, dalam jarak kira-kira tiga puluh centimeter di hadapan seorang wanita paruh baya.

“Ada apa, Pak,” tanya Lisa pada Pak Seno setelah pulih dari keterkejutannya.

“Wanita itu menyeberang mendadak, Bu.”

Lisa turun dari mobil untuk menghampiri wanita itu.”Ibu tidak apa-apa?”

Wanita itu terlihat sangat pucat. Rona ketakutan masih tampak jelas di wajahnya. Nafasnya yang tampak tidak teratur membuat Lisa semakin panik.

“Akan lebih baik jika Ibu ikut saya ke rumah sakit,” ajak Lisa sambil tersenyum. Dia lalu membimbing wanita itu memasuki mobilnya.

“Saya memang akan menuju rumah sakit, nak,” kata Wanita itu setelah mobil melaju kembali.

“Oh, kebetulan kalau begitu.”

“Iya, cuma check kesehatan rutin.”

Karena merasa bersalah, Lisa menemani Ibu itu ke UGD, dan sesampainya di UGD…

“Ibu! Ada apa Ibu kemari?” Armand tiba-tiba panik melihat wanita itu di UGD, dan Lisa juga tak kalah terkejut karena ternyata wanita itu adalah Rani, Ibunda Armand. Dia memang belum pernah bertemu Ibu Armand karena dia dan Armand dulu sama-sama anak rantau waktu kuliah di jogja. Lisa dari Solo, dan Armand dari Jakarta.

“Jadi wanita ini……,” bisik Lisa dalam hati.

“Ah, tidak apa-apa, Armand,” jawab Rani menenangkan putranya.

“Maaf,” Lisa mulai angkat bicara, “Sebenarnya tadi Ibu anda hampir tertabrak mobil saya, Ibu kelihatan sangat ketakutan sekali jadi saya bawa kemari.”

“Kok bisa, Lis!” protes Armand.

“Ah, sudahlah.” Rani mengibaskan tangannya.”Ibu yang salah karena menyeberang tanpa menoleh kiri kanan, Armand.”

“Bukankah sudah saya katakan agar Ibu menunggu saya pulang dari rumah sakit, saya sudah berjanji mengantar Ibu ke sini, kan?” omel Armand sembari memeriksa keadaan Ibunya dengan stetoskop.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Lisa setelah terlihat Armand selesai memeriksa.

“Ibuku sudah tidak apa-apa. Maaf kalau merepotkan, Lisa.”

Rani terkejut.

“Lisa?” tanya Rani dalam hati, sesaat dia teringat dengan nama gadis yang tertulis di surat Armand.

“Baiklah kalau begitu, karena Ibu sudah tidak apa-apa dan ini adalah waktunya saya bekerja, serta di sini sudah ada seseorang yang bisa saya percaya untuk menjaga Ibu,” Lisa tersenyum.

“Maka saya akan segera undur diri,” sambung Lisa. “Maafkanlah atas keteledoran sopir saya.”

Rani mengibaskan tangan. “Ah sudahlah, seperti yang saya bilang tadi. Saya yang salah.”

Lisa segera berlalu dari Ibu dan anak itu. Gedung instalasi farmasi masih sepi karena rupanya dia datang terlalu pagi. Saat dia hampir sampai di ruang kerjanya, samar-samar terlihat seseorang memasuki ruang kerjanya. Lisa berhenti lalu berjalan mengendap-endap untuk mengintai siapa orang itu dan apa yang hendak dilakukannya, sesaat dia berdiri di dekat jendela kaca dengan gorden yang agak terbuka. Dari posisi itu dia mampu melihat apa yang dilakukan orang itu walau tidak leluasa. Penyusup  itu terlihat melakukan sesuatu dengan bagian bawah meja kerjanya.  Saat orang tidak bertanggungjawab itu hendak pergi, Lisa segera sembunyi di bufet  yang ada di dekat meja kerja sekretarisnya. Buffet tersebut cukup besar untuk menutupi tubuhnya yang kecil dan Lisa cukup cepat menyimpulkan bahwa penyusup itu akan kembali ke arah  yang berlawanan dengannya mengingat dari mana arah penyusup itu berasal.

Lisa segera memasuki ruang kerjanya. Dia lega saat segala sesuatu di ruangan itu masih dalam posisi semula.

Meja kerja, apa yang dia lakukan di bawah meja kerja?

Lisa membungkukkan badannya di depan meja yang dimaksud. Saat dia mencari, tampaklah sebuah tape perekam tertempel di sana dengan posisi on. Dia menyipitkan mata lalu duduk di kursi kerjanya.

Aku tak habis pikir, aku hanyalah apoteker yang bekerja di rumah sakit tetapi perlakuan mereka terhadapku bagaikan aku ini pejabat korup atau sesuatu yang bisa mengancam posisi mereka.

Dia menyandarkan punggungnya di kursi itu sambil tersenyum-senyum.

—–BERSAMBUNG—–

THE HOSPITAL

3. Pharmacist on the Duty (Part 3)

Lisa memandang ke arah Viona. Viona yang merasa diperhatikan jadi salah tingkah, lebih-lebih ketika Lisa mendekatinya. Sambil tersenyaum, Lisa mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, mau tak mau viona harus membalas jabat tangan itu.

“Bisa kita bicara di ruanganku sebentar?” pinta Lisa.

Viona terdiam. Dia hanya menurut saat Lisa merangkulnya untuk memasuki ruang kerja Lisa.

“Silahkan duduk,” pinta Lisa pada Viona ketika mereka telah memasuki ruangan kerja Lisa.

Viona menurut, sementara Lisa mulai menduduki kursi kerjanya. Kursi itu, kursi yang selama bertahun-tahun di duduki oleh Pak Restu sebagai kepala instalasi farmasi, dan kini seorang apoteker baru memimpin, berusaha menilai segala hal dalam instalasi ini, apakah ini masuk akal? Seseorang yang benar-benar asing merasa tahu betul akan instalasi ini. Viona sibuk dengan pikiran itu.

Lisa mulai bicara, “Viona, hanya kau dan aku apoteker di instalasi ini, karena itu aku sangat mengharapkan kerja sama darimu.”

Lisa tersenyum,”Aku tidak tahu apa yang dikatakan kakakmu, Wahyu padamu.”

Viona terkejut. Dari mana Lisa tahu tentang kakaknya itu yang menjanjikan kedudukan pak Restu padanya.

“Dan aku juga tidak tahu yang dijanjikan Dito padamu, tapi aku mohon kerja samamu untuk memajukan instalasi ini, bukankah teman sejawat adalah saudara kandung?”

Lisa tersenyum. Viona membalas senyum itu walau sedikit terdapat gurat paksaan di senyumannya.

“Nah, sekarang kau boleh pulang, aku tahu kau lelah,”kata Lisa.

Viona pun meminta diri. Kini tinggal Lisa di ruangan itu menatap bertumpuk kertas hasil kerja seharian tadi. Lisa mulai membuka satu persatu.

Sample counting, ketidaksesuaian jumlah sediaan antara kartu stok dan computer 45%, ketidakcocokan antara kartu stok dan jumlah sediaan fisik 25%. Di sini, Lisa mulai menghela nafas. Dia memijit-mijit tengkuknya yang sedari tadi tegang. Dia melanjutkan lagi. Menelusuri lembar demi lembar kertas di atas mejanya itu. Yang terlihat adalah angka-angka yang menampilkan kekecewaan yang mendalam, angka yang menunjukan tidak bekerjanya system atau memang bekerjanya system yang salah.

Ketersediaan obat 70%, disini Lisa mulai mengkerutkan dahi. Dia terlalu serius menekuri kertas-kertas itu. Dia terkejut saat HPnya tiba-tiba berbunyi dan membuat ruangan yang hening itu berisik sejenak. “My luoy” tertulis di layar HP-nya, ternyata Andre yang menelpon.

“Kau dimana?” tanya Andre di ujung telephone.

“Masih di kantor,” jawab Lisa dengan suara serak.

“Apa? Kok masih di kantor? Kalau begitu aku akan menjemputmu.”

Belum sempat Lisa membalas. Andre sudah menutup telephone. Lisa mendengus, “Kebiasaan yang tidak baik,” umpatnya. Dia meneruskan pekerjaannya.

Seperempat jam kemudian Andre memasuki ruangan itu dan protes karena kesibukan Lisa.

“Kau adalah pegawai di sini, bukannya pekerja rodi,” protes Andre.

“Aku tidak merasa kalau aku kerja rodi,” jawab Lisa.

“Bekerja dari jam delapan pagi sampai jam dua dini hari, kau anggap ini bukan kerja rodi?”

“Bukankah ini rumah sakit keluargamu?”

“Ya.”

“Seharusnya kau senang aku melakukan semua ini.”

Andre mengibaskan tangannya.

“Sudah, tidak usah banyak protes, ayo pulang!” perintah Andre.

Lisa memunguti kertas-kertas di atas mejanya untuk dibawa pulang. Dia menurut saat Andre menggandeng tangannya atau lebih tepat dianggap menarik tangannya untuk segera keluar dari ruang kerja itu.

Sesampainya di pelataran parkir, mereka berpapasan dengan Armand yang kebetulan akan tugas shift malam di UGD. Armand menghentikan langkahnya demi memperhatikan pasangan itu.

“Pagi, Armand,” sapa Andre masih dalam posisi menarik  tangan Lisa.

“Pagi,” jawab Armand.

Rupanya Andre sedang tidak ingin memperlama basa-basi itu. Dia segera menuju mobilnya yang terparkir berdekatan dengan mobil Armand dan Armand masih saja memperhatikan tingkah keduanya.  Andre masuk ke dalam mobil saat Lisa sudah memasuki mobil. Beberapa menit kemudian, mobil itu sudah berlalu dari area parkir. Armand masih saja berdiri mematung. Dia berpikir apa yang terjadi sehingga Andre sepertinya menyeret Lisa seperti itu. Dan akhirnya ditanggalkannya pikiran itu demi memasuki tugas yang sebenarnya telah memanggil 2 jam yang lalu.

————————————————————————–

Waktu sudah menunjukan pukul 02.30 wib, saat Andre menghentikan mobilnya yang telah memasuki pekarangan rumah Lisa. Lisa yang kelelahan tertidur di sampingnya. Sesaat Andre memperhatikan Lisa, ditepuknya pipi Lisa dengan lembut. Lisa  terbangun.

“Sudah sampai,” ujar Andre.

“Sudah sampai, ya?” tanya Lisa. Saat Lisa hendak turun dari mobil, Andre berkata,” Besok pagi aku ke Batam.”  Kalimat Andre membuat Lisa mengurungkan niat membuka pintu mobil. Dia menoleh ke arah Andre

“Ada bisnis di sana,” lanjut Andre. Lisa hanya mempertajam pandangan.

“Kami akan mengakuisisi salah satu perusahaan di sana,” kata Andre kemudian, “Cuma perusahaan kecil yang akan bangkrut.”

Lisa menghela nafas, “Kata akuisisi adalah kata yang paling tidak kusukai.”

Andre terkekeh, “Lalu kata apa yang kau sukai?”

Lisa menjawab cepat, “ Aliansi strategik dan merger.”

Andre terkekeh. Lisa memajukan bibirnya.

“Berapa lama kau di Batam?”

“Cuma dua hari.”

Lisa mengangguk-angguk.

“Ah, sudah sana masuk, wajahmu kelihatan mupeng jika kau kelelahan,” perintah Andre. Lisa tertegun. Mupeng? Masa? Lisa mengelus-elus pipinya sendiri sembari keluar dari mobil. Dia melambaikan tangan saat mobil Andre mulai meninggalkan pekarangan rumahnya.

Di dalam rumah. Lisa tidak langsung tidur, dia masih saja menjereng tumpukan kertas yang dibawanya dari kantor tadi. Dia mencoba menganalisa berdasar Managing Drug Supply. Dia telusuri kegagalan demi kegagalan dari tahap seleksi sampai use dan terkejut betapa banyak kegagalan yang terjadi selama bertahun-tahun. Mulai PFT yang kurang aktif sampai distribusi yang awut-awutan, belum lagi ketika Lisa mulai memasuki managing support. Mata Lisa yang tadinya mengantuk mulai terbelalak, rumah sakit tipe C dengan 250 tempat tidur hanya di cover oleh 2 orang apoteker yaitu dia dan Viona, dia membayangkan bagaimana sibuknya Pak Restu dulu, apalagi waktu itu Viona masih sebagai asisten apoteker, belum lulus pendidikan profesi.

Kepala Lisa jadi semakin berat. Apalagi saat dia membaca laporan keuangan instalasi farmasi, Quick Ratio cuma 0,5. Lisa menghitung lagi, nilai perputaran persediaan cuma empat kali per tahun? Mata Lisa semakin terbelalak, dia menghitung rata-rata distributor mengharapkan pelunasan sebulan sekali, mungkin ini sebabnya instalasi terlalu banyak hutang. Lama-lama kepalanya semakin berat dan akhirnya tertidur dengan menelungkupkan kepalanya di atas kertas-kertas itu.

—–BERSAMBUNG——

THE HOSPITAL

Pharmacist on The Duty (Part 2)

Kesibukan para staf di instalasi farmasi tersebut berakhir jam 12 malam, alhasil semua orang bekerja masing-masing 2 sift pada hari itu. Lisa melihat para stafnya yang kelelahan mulai membuka box makanan yang sengaja dia pesan untuk mereka pada malam itu. Di gudang terlihat mereka bercengkrama, sambil mengangkat gelasnya, Lisa mengumumkan sesuatu,”Saya berterimakasih atas kerjasamanya. Percayalah, semua ini kita lakukan untuk kemajuan instalasi kita. Data inilah yang nantinya dijadikan evaluasi kinerja kita selama ini.”

“Kinerja kita? Bukankah kau seharusnya menyebut itu kinerja kami? Mengingat anda baru satu hari kerja di sini,” salah seorang asisten apoteker protes. Viona yang mendengar hal tersebut mengulum senyum. Dalam hati dia menunggu apa yang akan dikatakan oleh Lisa menanggapi protes Ridwan, asisten apoteker itu.

Lisa menghela nafas,”Ya, kau betul, seharusnya aku menyebut ini sebagai kinerja kalian. Ya, kau betul, aku memang baru sehari kerja di sini, lalu kenapa? Apakah waktu sehari itu tidak begitu berharga untuk dianggap kinerja?”

Ridwan kebingungan dengan ungkapan Lisa. Tapi yang lainnya tidak perduli, mau dianggap kinerja kek, enggak kek, yang penting kesibukan hari ini telah rampung. Mereka pun sangat senang Lisa mau berbaik hati memesankan menu makanan yang enak-enak. Itu menandakan kemurahhatian kepala instalasi farmasi yang baru itu.

Lisa memandang ke arah Viona. Viona yang merasa diperhatikan jadi salah tingkah, lebih-lebih ketika Lisa mendekatinya. Sambil tersenyaum, Lisa mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, mau tak mau viona harus membalas jabat tangan itu.

“Bisa kita bicara di ruanganku sebentar?” pinta Lisa.

Viona terdiam. Dia hanya menurut saat Lisa merangkulnya untuk memasuki ruang kerja Lisa.

“Silahkan duduk,” pinta Lisa pada Viona ketika mereka telah memasuki ruangan kerja Lisa.

Viona menurut, sementara Lisa mulai menduduki kursi kerjanya. Kursi itu, kursi yang selama bertahun-tahun di duduki oleh Pak Restu sebagai kepala instalasi farmasi, dan kini seorang apoteker baru memimpin, berusaha menilai segala hal dalam instalasi ini, apakah ini masuk akal? Seseorang yang benar-benar asing merasa tahu betul akan instalasi ini. Viona sibuk dengan pikiran itu.

Lisa mulai bicara, “Viona, hanya kau dan aku apoteker di instalasi ini, karena itu aku sangat mengharapkan kerja sama darimu.”

Lisa tersenyum,”Aku tidak tahu apa yang dikatakan kakakmu, Wahyu padamu.”

Viona terkejut. Dari mana Lisa tahu tentang kakaknya itu yang menjanjikan kedudukan pak Restu padanya.

“Dan aku juga tidak tahu yang dijanjikan Dito padamu, tapi aku mohon kerja samamu untuk memajukan instalasi ini, bukankah teman sejawat adalah saudara kandung?”

Lisa tersenyum. Viona membalas senyum itu walau sedikit terdapat gurat paksaan di senyumannya.

“Nah, sekarang kau boleh pulang, aku tahu kau lelah,”kata Lisa.

—BERSAMBUNG—

THE HOSPITAL

PHARMACIST ON THE DUTY (PART 1)

Matahari sudah meninggi saat Armand melangkahkan kakinya di ruang UGD, rapat pengurus rumah sakit ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan, semua orang bertanya-tanya sebab-musabab hal itu terjadi, dan semuanya menunjuk Lisa, apoteker baru itu sebagai biang keladi.

Lisa mengerahkan seluruh petugas  di instalasi farmasi untuk mengecek segala sediaan farmasi di rumah sakit itu. Dia sudah menyusun semua indikator-indikator yang ingin dia ketahui sebagai bahan evaluasi kinerja instalasinya, dan sebelum hal ini selesai, rapat belum bisa berjalan. Semua warga rumah sakit hanya bisa mendengus saat dia memberikan permohonan penundaan rapat pada direktur dan meminta maaf atas kelambanan kerjanya. Kelambanan kerja?  Bukankah dia baru satu hari kerja di rumah sakit?

Seperti yang kini terlihat di depan mata Armand, para perawat berkasak-kusuk saat Lisa mengecek emergency kit di ruang UGD, perawat Rina berbisik pada rekan kerjanya, “Oh, jadi ini yang namanya Lisa?”

Harmi, perawat yang diajak bicara oleh Rina mengangguk, “Cantik juga.”

“Bukan hanya cantik, nasibnya juga baik, mengingat dia bisa menggaet bos.”

Keduanya tertawa.

“Andai saja aku seumuran dia, apa Pak Andre melirikku?”

“Melirik sih iya, tapi kalau tertarik belum tentu, hehehe!’

Harmi mencubit lengan Rina yang mengejeknya hingga rekan kerjanya itu meringis kesakitan. Kuku Harmi yang panjang membuat lengan Rina berwarna merah.

Armand berdehem saat berada di dekat mereka. Mereka jadi salah tingkah lalu berlalu untuk meneruskan tugas masing-masing. Sekarang tinggal Armand di sisi ruang itu hingga dia bisa dengan jelas melihat apa saja yang diperbuat Lisa. Gadis itu membuka satu persatu emergency kit, entah apa yang dilihatnya dari benda itu karena terlihat sesekali dia menulis di buku catatannya.

Armand berjalan menuju Lisa, setelah tubuhnya berjarak lima puluh centimeter dari gadis itu, Armand menyapa.

“Selamat siang, dokter Armand, “ sapa Lisa balik. Armand agak terkejut mendengar sapaan Lisa barusan. Dokter Armand? Sudah dua kali Lisa memanggilnya lengkap dengan title, beda jauh dengan masa kuliah dulu.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Armand.

“Hanya mengecek seluruh persediaan farmasi di ruangan ini?”

Armand mengangguk-angguk, “Kenapa harus kau lakukan sendiri?”

“Apakah ada petugas lain yang bisa membantu?” tanya Lisa.

“Kau bisa menyuruh stafmu.”

“Sebagian staf mengerjakan tugas ini di unit lain, sebagian lagi mengerjakan tugas pelayanan, aku harus pandai-pandai menyiasati tugas, SDM di instalasi farmasi terbatas, aku bahkan menyuruh staf yang sift sore untuk masuk dan menghitungnya sebagai kerja lembur, lalu kepada siapa aku harus menyuruh lagi?”

Lisa menjelaskan panjang lebar. Armand mulai mengerti. Memang seperti itulah keadaan instalasi farmasi. Dulu, beberapa kali pak Restu memohon untuk penambahan personel, tetapi beberapa kali pula usulan ditolak dan akibatnya instalasi farmasi adalah instalasi yang paling lamban perkembangannya. Armand berpikir akankah ada perubahan pada instalasi itu setelah ada Lisa. Apalagi keberadaan Lisa yang menjadi kontroversi di rumah sakit ini.

“Oke, apakah kau akan terus berdiri di situ?” tanya Lisa membuyarkan lamunan Armand.”Aku harus melanjutkan pekerjaanku.”

Armand tersenyum, dia segera berjalan menjauhi Lisa. Dalam hati dia merasa Lisa sudah sangat berubah. Lisa terlihat lebih tegar, lebih kuat, dia bukanlah gadis rapuh itu, gadis yang selalu mendatanginya dengan mata merah untuk berkeluh-kesah akan keadaan orang tuanya. Dia berpikir sejak kapan Lisa berubah, sejak kejadian di restoran itukah? Atau sejak Lisa bertemu Andre? Ah, dia tidak tahu.

Siang itu agenda Armand terbengkalai, dan akhirnya dia memutuskan untuk membantu UGD yang hari itu memang terlihat sangat sibuk.

Lisa masih berkutat dengan aktivitasnya, sesekali dia melirik Armand yang mulai sibuk dengan pasien UGD. Dalam hati dia mengagumi profesionalitas kerja Armand. Dia ingat, Armand dari dulu terlalu perfeksionis, mungkinkah hal itu yang mempengaruhi profesionalitas kerjanya. Lisa tiba-tiba menggelengkan kepalanya.

“Cukup, Lis. Teruskan pekerjaanmu!” perintah hati kecil Lisa. Dan akhirnya tubuh Lisa menurut, ditelitinya kembali deretan obat-obatan emergency kit didepannya, dihitungnya satu per satu jumlah dari tiap item obat, diperiksa tanggal kadaluarsa yang tercantum dalam tiap kemasan obat itu. Obat yang sudah kadaluarsa dia sendirikan, dimasukkan ke dalam plastic dan diberi etiket dari ruangan mana obat itu berasal. Hal itu nantinya digunakan untuk segera mengganti sediaan yang kadaluarsa atau habis. Obat emergency kit tidak boleh kosong, pikirnya dalam hati.

Dia mengkontak bagian gudang untuk membacakan obat-obatan dari UGD yang rusak, ED mau pun habis, bagian gudang menerangkan sediaan obat-obatan yang disebutkan masih ada, tetapi tidak ada orang yang bisa disuruh untuk mengantarkan obat-obatan tersebut karena semua orang sibuk dengan tugas yang Lisa berikan.  Lisa mulai geram,”Suruh tukang sapu untuk segera mengantarkannya kemari!”

Lisa berteriak, semua orang di ruang UGD menoleh ke arahnya, tak terkecuali Armand dan Lisa mulai berbuat seolah tidak terjadi apa-apa. Dia melanjutkan pekerjaannya. Kali ini mengecek tiap-tiap tabung gas di ruangan itu. Semua orang yang pada mulanya menoleh kepadanya sekarang mulai kembali ke aktivitas semula.

Kenapa aku berbuat begitu? Apa tepat keputusanku menyuruh tukang sapu untuk mengantarkan persediaan ke UGD? Bagaimana jika ada obat yang memang memerlukan perlakuan khusus saat penghantaran?Apakah tukang sapu tahu akan hal itu?

Lisa mulai was-was. Akhirnya dia mengalah, dilangkahkan kakinya meninggalkan UGD dan menuju ke gudang.

—BERSAMBUNG—

THE HOSPITAL

ARMAND SANTOSO (PART 1)

Armand menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Seperti biasa, badannya serasa penat sehabis praktek, seperti biasa pula sang istri, Anita belum pulang, dipandanginya bantal istrinya itu, dia menghitung sudah setahun perkawinannya bermasalah. Dia bahkan tidak tahu dimana Anita sekarang, mungkin bersama selingkuhannya. Ya, Anita berselingkuh, dia sudah mengetahui hal itu selama setahun, dan mendiamkannya. Hal itu dia lakukan karena ibunya, Rani Santoso. Anita adalah istri yang dipilihkan Ibunya untuknya. Jika dia tidak menjaga perasaan Ibunya, mungkin saja dia sekarang sudah menduda.

Dia mengingat pertemuannya dengan Lisa tadi pagi. Tak disangka Lisa adalah calon istri Andre. Wanita yang pernah dicintai dulu, kini akan berbahagia dengan pria lain, ya… wanita yang dulu dianggap tidak pantas untuk mendampinginya, hingga dia mengarang cerita  konyol tentang Ibunya yang menginginkan menantu dokter. Dia berpikir, mungkin kondisi perkawinan yang tengah dialaminya ini adalah suatu karma. Karma karena membohongi Lisa.

Dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang kerja, ketika melewati kamar Ibunya dia berhenti, dilihatnya lampu kamar sang Ibu sudah padam, sama halnya dengan lampu-lampu lain di seluruh ruangan. Sesampai di ruang kerja, dia duduk dan terlihat mencari sesuatu di laci meja, terselip diantara lembar buku hariannya. Sebuah surat usang yang sudah berkali-kali dibacanya itu kini diselaminya lagi.

Dear Armand,

Aku menulis surat ini untuk berjaga-jaga, kalau-kalau ku tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanku. Kau lihat dua foto ini? Yang berjilbab adalah fotoku lima tahun yang lalu, sedangkan yang lain adalah fotoku dua bulan yang lalu. Kau bisa bayangkan, jika kedua orang dalam foto ini bertemu, mungkin keduanya akan saling bunuh, yang satu akan bilang kepada yang lain bahwa dia terlalu kolot dan sok alim, sedangkan yang lain akan menceramahinya dengan kata-kata agama. Tapi, Armand, dibalik perubahanku itu, ada satu prinsip yang selama ini aku pegang teguh, bahwa aku akan mencintai pria karena cintaku kepada Allah, dan saat pertama kita bertemu, entahlah… aku tak tahu, tapi yang ku tahu, aku mulai jatuh cinta padamu, aku mencintaimu karena aku melihatmu sebagai sosok yang alim yang bisa membimbingku di jalan Allah, ya,,, aku mencintaimu karena Allah.

Armand, kau pasti akan bilang lebih baik kita berteman, tapi untuk saat ini, sulit bagiku untuk mengubah anggapanku yang menginginkanmu lebih dari sebagai teman, menjadi hanya sebagai teman, karena itu, aku mohon beri aku waktu, jika aku sudah bisa menganggapmu sebagai teman, aku akan menghubungimu.

Salamku

Lisa

“Lisa Febriana Waluyo, kau bahkan tidak menghubungi sejak saat itu, mungkinkah kau belum bisa menganggapku sebagai teman?” Armand bertanya-tanya dalam hati.

“Bagaimana kabar keluargamu?” Armand masih bicara sendiri seolah Lisa ada di depannya.”Sebenarnya itulah yang ingin aku tanyakan padamu pagi tadi. Apakah Ayahmu sudah bercerai dengan Ibu tirimu?”

“Aku pengecut, Lisa. Aku egois, harusnya dulu ku mempertahankanmu.”

Armand tersenyum,”Bayangkan jika saja kita berdua menikah, sudah berapakah anak kita sekarang?”

Akhirnya dia tertidur menekuri kertas usang itu. Sang Ibu yang terbangun segera menuju ruang kerjanya saat melihat lampu di ruangan itu masih menyala. Ibu Armand terkejut melihat anaknya tertidur dengan keadaan seperti itu. Didekatinya Armand hingga dia mampu melihat kertas usang yang berada tepat dibawah kepala Armand. Dengan hati-hati dia menarik kertas itu kemudian membaca isinya.

“Lisa?” pikirnya, “Siapa Lisa?”

Dipandanginya wajah Armand. Dia prihatin dengan keadaan putranya saat ini, dia kecewa dengan perkawinan yang dijalani putranya. Kini semuanya telah jelas, perkawinan itu tidak bahagia karena ada dosa masa lalu yang dilakukan putranya. Dosa Armand pad wanita ini. Pada orang yang dalam surat ini tertulis bernama Lisa.

Dia keluar dari ruangan itu karena tak ingin Armand mendengar isakan lirihnya. “Armand, maafkan Ibu, Nak. Jika saja Ibu tidak terlalu menuntut. Ya…, jika saja Ibu tidak terlalu menuntut.”

Rani segera memasuki kamarnya. Pikirannya masih tertuju pada sosok Lisa. Seperti apakah gadis itu? Kenapa Armand tidak pernah bercerita mengenai gadis itu? Dan pikiran itu dibawanya sampai akhirnya dia terbuai mimpi.

—–BERSAMBUNG—–