Man is Equal in God’s Eyes

Man is equal in God’s eyes

(Cerita ini hanya fiktif belaka, tapi juga terinspirasi ma kisah perjodohan konyol)

Ruangan keluarga di Goo Manshion mulai riuh dengan tetamu yang sengaja diundang di pesta pernikahan seorang cucu dari keluarga Goo,  Kim Joon. Tentu kalian bertanya bagaimana seorang Kim Joon yang nyata-nyata bermarga Kim bisa menjadi cucu keluarga Goo. Tentu saja karena dia menyandang marga sang Ayah. Tiga puluh  tahun yang lalu putri dari keluarga Goo dijodohkan dengan putra keluarga Kim. Dari perkawinan itu lahirlah dua anak yang tampan dan cantik Kim Joon dan Kim Min Ji. Dan sejarah berulang, seperti tradisi keluarga-keluarga terhormat lainnya cucu-cucu keluarga Goo dan Kim itu harus melakukan pernikahan yang diatur. Hari ini Kim Joon harus menikahi Sandara Park dan mungkin sebulan lagi akan ada pernikahan Kim Min Ji dengan putra dari keluarga Lee, Lee Min Ho. (NGarang. Com)

Wajah sumringah Mr. Goo selalu tampak di pesta itu tapi tak bisa ditutupinya kalau dari gerak tubuhnya yang berkali-kali melirik arloji itu, terlihat kalau dia sedang menunggu seseorang. Seorang yang akan tiba dari negeri yang jauh, yang selama ini selalu dia rindukan. Pria tua ini selalu mengucap syukur beribu-ribu kali pada sang pencipta karena masih diijinkan bertemu dengan orang itu setelah pencarian panjang selama empat belas tahun. Mereka terpisah karena keegoisannya dan sang putra. Keduanya sama-sama tak mau mengalah. Sebuah konflik yang dimulai dari perjodohan. Mr. Goo masih ingat betul putra satu-satunya begitu menentang perjodohan itu karena terlalu mencintai kekasihnya. Sejoli yang tengah dimabuk cinta itu melarikan diri. Penyesalan selalu datang terlambat, terlebih saat sang putra kembali dalam keadaan tak bernyawa bahkan menantu yang kabarnya tengah mengandung hilang entah kemana.

Mr. Goo menghela nafas, semuanya telah berlalu. Cucunya telah dia temukan lima belas tahun yang lalu. Seorang gadis remaja berusia tiga belas tahun yang terpaksa tinggal sementara di panti asuhan, begitu rapuh dan terpuruk dengan wajah pucat meratapi kematian ibunya. Mr. Goo memeluk erat gadis itu lima belas tahun yang lalu. Pencarian itu berakhir sudah. Sang cucu yang kini sedang ditunggunya di pesta pernikahan itu sudah dia temukan, Goo Hye Sun.

“Tahukah kau kalau aku harabojimu?” kata Mr. Goo lima belas tahun yang lalu. Mata rabun dekatnya menatap lembut gadis ringkih. Sang cucu pun menangis di dadanya, tak menyangka dibalik sebatang karanya hidup, dia masih punya seorang kakek.

“Tunjukkan pada haraboji makam Ibumu, Hye Sun-a,” perintahnya.

Kakek dan cucu  itu pun menuju makam yang dimaksud demi menatap gundukan tanah yang masih terlihat merah. Sang menantu meninggal seminggu yang lalu, paru-paru basah dan hanya tatapan nanar yang bisa mereka berikan kini. Sang penyakit terlalu terlambat untuk diatasi.

Dengan kebahagiaan yang meluap, Mr. Goo membawa Hye Sun ke rumah besarnya. Cucu gadisnya itu memandang sekeliling dan dia dengan penuh kebanggaan memberikan tur singkat bagi Hye Sun di rumah itu. Mulutnya terus nyerocos tentang rumah itu, kehidupannya selama tiga belas tahun terakhir yang dihiasi dengan pencarian panjang dan penyesalan akibat keegoissannya. Dia tidak tahu jika sang cucu bertambah perih mendengar semua itu, hingga saat dia memutuskan menggelar pesta penyambutan besar-besaran , gadis itu berkata tegas,”Haraboji, aku ingin keluar dari Korea.”

Demi tuhan, itu adalah pertama kalinya Mr. Goo mendengar suara lantang Hye Sun. Dia ingat betul itu, hari itu seminggu sebelum keberangkatan Hye Sun ke Kanada. Tentu saja  dia menolak keras saat itu,”Tidakkah kau tahu harabojimu ini sangat merindukanmu, Hye Sun-a.”

Hye Sun mulai menangis, suara frustasinya segera memenuhi perpustakaan Goo Manshion, “Anyi, Aku tidak mau di sini. Aku benci Korea!!!” Mr. Goo terkejut dengan histeria itu, bahu gadis itu yang bergerak turun naik seiring sedu sedannya. Otak tua Mr. Goo selalu menerka-nerka hal yang telah menimpa cucunya ini tapi sepertinya Hye Sun ingin berahasia.

Kanada, negeri yang dipilih Mr. Goo untuk Hye Sun. Masa remaja Hye Sun dihabiskan di sana. Lima belas tahun bukanlah waktu yang singkat dan Mr. Goo benar-benar tak habis pikir saat Hye Sun tiba-tiba memutuskan untuk merubah warga kenegaraannya menjadi warga negara Kanada lima tahun yang lalu.

“Melamun, Haraboji?” Tepukan Min Ho di pundaknya membuat Mr. Goo sedikit tersentak. Dia hanya bisa menyunggingkan senyum tipis pada pemuda di depannya itu. Kekaguman terpancar di matanya yang ditujukan pada Min Ho. Anak lelaki keluarga Lee ini sungguh berbakti. Demi membahagiakan Ibunya, Min Ho ikhlas menerima perjodohannya dengan Min Ji .

Sekali lagi Mr. Goo melirik arlojinya. Min Ho mengamati dengan dahi berkernyit,”Anda menunggu seseorang?”

Mr. Goo mengangguk,”Cucu perempuanku. Dia janji akan pulang hari ini.”

Min Ho tersenyum mendengar pengakuan Mr. Goo. Siapa yang tidak kenal Goo Hye Sun. Wanita yang berhasil meraih gelar doktor di usia dua puluh tujuh tahun itu. Wanita yang selalu menjadi bulan-bulanan di Korea karena tulisan-tulisannya yang terlalu berani mengkritik Korea.

“Sebuah pernikahan di Korea belum tentu terjadi karena cinta. Orang tua di Korea masih terlalu ikut campur dengan kehidupan anaknya hingga merasa berhak memutuskan jodoh bagi anaknya,” tulis Hye Sun di salah satu jurnal Ilmiah. Hye Sun memang mengambil jurusan Ilmu Budaya.

“Saat kau melihat film perang buatan Korea Selatan. Hal yang bisa kau tangkap adalah sebuah kisah yang heroik, tapi ironisnya, saat Korea Utara melancarkan serangannya, Korea Selatan berlindung pada Obama Oppa atas nama demokrasi,” tulisan Hye Sun ini sempat gempar beberapa bulan yang lalu. Jika saja kewarganegaraannya masih Korea, sudah pasti pemerintah menciduk dan menuduhnya dedengkot  komunis. Kalimat itu memang penuh kesinisan dan sarkatis, tapi Hye Sun tetap tak tersentuh. Dia adalah warga dari negara yang benar-benar demokrat, yang menghormati hak berpendapat.

Min Ho sangat geli mengingat semua itu. Sebenarnya dia tak ambil pusing bahkan tak mengenal Hye Sun tapi karena teman-temannya yang terus membicarakan tulisan-tulisannya mau tak mau Min Ho ikut mendengar walau kadang sambil tidur-tiduran ayam.

Tadi Mr. Goo yang melamun dan kini Min Ho juga, pesta ini benar-benar muram. Terutama bagi Min Ho, tak bisa dipungkiri bahwa salah satu tulisan Hye Sun di jurnal itu terjadi pada dirinya. Apakah dia mencintai Min Ji? Jawabannya masih samar. Yang bisa dia lakukan hanyalah menjalani, cinta bisa datang kapan saja. Yang penting bisa membahagiakan sang Ibu.

Mrs. Lee memang terlihat bahagia di pesta ini. Dia menghampiri Mr. Goo, memamerkan sederet rencana untuk pernikahan Min Ho dan Min Ji tanpa perduli pria tua itu mendengarkan dengan segan. Semuanya dia jabarkan, gaun pengantin, katering, tata ruang, semuanya. Saat Mr. Goo melongokkan kembali kepalanya ke arloji itulah, Mrs. Lee baru berkata,”Anda menunggu seseorang?”

“Ne, cucuku!” jawab Mr. Goo.

“Cucu anda pulang dari Kanada?”

Sekali lagi Mr. Goo mengangguk,”Khusus untuk pernikahan Joon,” ujarnya sambil mengamati pasangan yang tengah berbahagia saat ini, Kim Joon dan Sandara.

“Saya jadi ingin berkenalan dengannya. Aku rasa Min Ho juga begitu. Iya, kan, Min Ho-a?” tanya Mrs. Lee sambil menyorongkan kepala pada putranya meminta dukungan. Min Ho mengangguk,”Tentu, siapa yang tidak ingin berkenalan dengan Goo Hye Sun.”

Mr. Goo tertawa bijak. Hatinya semakin bangga pada sang cucu yang tak jua muncul-muncul itu. “Tahun ini dia mengejar gelar profesornya,” kabar dari Mr. Goo yang membuat ibu dan anak itu semakin berdecak kagum.

“Ckckckckck, belum puas juga cucumu itu, Tuan Goo,” decak Mrs. Lee sambil menggeleng-gelangkan kepalanya.

“Sepertinya begitu.”

“Apakah anda tidak merasa sudah waktunya dia memikirkan pernikahan. Bayangkan, jika nanti Min Ho dan Min Ji menikah, tinggal Hye Sun cucu anda yang belum menikah,” saran Mrs. Lee.

“Hye Sun terlalu bebas. Kau tentu masih ingat salah satu tulisannya, bukan?”

Mereka bertiga pun tertawa, menyadari bahwa tengah membicarakan seseorang yang tidak pernah mau hidupnya ditentukan orang lain. Hingga terdengar suara Kim Joon yang berteriak senang,”My princess!” dan ketiganya melihat ke arah kim Joon yang kini tengah memeluk seorang gadis.

Gadis itu tersenyum  riang di pelukan Kim Joon. “Chukae, Oppa!” serunya. Mr. Goo hafal betul suara cempreng itu. “Sepertinya yang kita tunggu-tunggu sudah datang, Nyonya,” gumam lelaki tua itu tapi masih tertangkap telinga Mrs. Lee sehingga mereka bertiga berjalan menuju gadis itu.

“Hye Sun-a,” panggilan Mr. Goo tersambut dengan pelukan hangat. Kakek dan cucu itu tertawa sambil melepaskan rindu. Berturut-turut saudara-saudara Hye Sun memberikan pelukan sambutan. Mereka sungguh bahagia. Terlalu bahagia bahkan tak menyadari kalau gadis ini ‘saltum’ alias salah kostum. Pakaian ala bersafari di afrika yang dia kenakan. Mungkin dia terburu-buru, sehingga dari bandara langsung ke pesta tanpa berganti baju. Setidaknya itu yang Min Ho pikirkan. Min Ho agak samar melihat wajah Hye Sun yang tertutup topi pendora dan kaca mata hitam.

“Hye Sun-a, kenalkan, ini  Nyonya  Lee dan putranya.” Mr. Goo memperkenalkan Hye Sun pada Min Ho dan ibunya. Merasa kurang sopan, Hye Sun mencopot topi dan kaca matanya. Ibu dan anak di depannya seketika mati kutu. Kepanikan melanda, terutama Mrs. Lee yang segera menampakkan muka pucat dan keringat dingin di kening. Sementara angan keduanya melayang pada kejadian lima belas tahun silam, yang mungkin masih diingat oleh Hye Sun…..

 0oooOOOooo0

Hal yang akan dilakukan oleh seorang Goo Hye Sun pada hari kedua kepulangannya di Korea adalah memenuhi undangan perguruan tinggi setempat untuk menjadi dosen tamu. Tentu saja Mr. Goo memerintahkan sopir untuk mengantar yang segera ditolak mentah-mentah olehnya. “Hye Sun pilih naik bus saja, Haraboji.”

Mr. Goo menyipitkan mata mendengarnya namun itu tak menyurutkan niatnya. Gadis mungil itu berjalan menuju halte bis setelah melalui areal luas Goo Manshion. Berlari-lari ke arah selter untuk menghindari hujan yang turun tiba-tiba. Menanyakan pada petugas tentang jalur bis yang harus dia tumpangi sambil melakukan transaksi pembelian tiket dan akhirnya duduk manis di ruang tunggu.

Suasana hujan itu mengingatkan pada masa kecilnya. Saat dia dan seorang anak laki-laki bermain hujan-hujanan. Tingkah polosnya waktu itu pun masih dia ingat. Anak lelaki itu menolak bermain sebelumnya. Takut kena marah omanya dan lebih memilih menunggu hujan reda di emperan sekolah tapi kejahilan seorang Goo Hye Sun yang menarik tangannya membuat anak lelaki itu akhirnya terjun di tengah derasnya air yang tertumpah dari langit.

“Ayo, Dongsaeng! Nikmatilah hujan ini! Yuhuu !” teriak Hye Sun histeris. Anak laki yang disebut dongsaeng itu akhirnya tertawa-tawa menikmati sensasi liar itu. Meloncat-loncat bersama, menciptakan cipratan-cipratan abstrak air hujan yang tergenang di kaki mereka.

Saat hujan berhenti. Pelangi melengkung indah di langit. Keduanya kini berdiri dalam keadaan basah kuyub, menatap jalur warna di angkasa itu. Hye Sun merangkul anak itu sementara tangannya yang bebas menunjuk ke atas. “Mejikuhibiniun,” gumamnya.

“Mwo?” anak lelaki itu memandangnya cengo. Hye Sun terkikik pelan, mungkin pelajaran Min Ho belum sampai sini, pikirnya kemudian.

“Urutan warna pelangi itu adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Disingkat mejikuhibiniun,” terang Hye Sun. Min Ho mengangguk-angguk tanda mengerti. Hye Sun mempererat rangkulannya sambil tertawa senang.

Bis dengan jalur yang harus ditumpangi Hye Sun tiba. Lamunan Hye Sun terhenti sementara untuk berkonsentrasi memasuki bis. Selter pemberhentian itu dibuat lebih tinggi beberapa centimeter dari tanah dan jika tidak hati-hati saat melangkah, jangan kaget jika kau terjerembab.

Rupanya hujan agak menyusutkan niat orang-orang untuk keluar rumah. Namun jangan salahkan undangan dari pihak perguruan tinggi itu yang memilih jam lenggang untuk kuliah tamu. Alhasil dengan mudahnya Hye Sun mendapatkan tempat duduk di dalam bis. Dan seperti halnya yang dilakukan orang jika naik bis sendirian adalah mengamati pemndangan yang terpampang dari kaca jendela. Tangan Hye Sun mengusap kaca jendela yang agak buram karena embun itu. Pemandangan luar kini jelaslah sudah. Pemandangan Seoul yang sudah banyak berubah daripada lima belas tahun yang lalu.

Hye Sun menghela nafas. Tangan yang dipakai untuk mengusap kaca jendela itu diusapkannya pada tisu. Tangan yang sudah banyak menghasilkan tulisan ilmiah yang berharga walau kadang menimbulkan kontroversi, setidaknya dengan tulisan-tulisan itu dia bisa mencapai posisinya yang sekarang. Tak ada yang mengira bahwa tangan yang sama itu bekerja begitu keras sewaktu kecil. Almarhumah ibunya adalah pelayan keluarga Lee. Keluarga itu mempunyai anak laki-laki yang berusia lebih muda dua tahun darinya. Tugas Hye Sun waktu itu adalah sebagai kakak pengasuh bagi anak itu.

Tugas yang mudah baginya, tapi tugas yang diberikan pada Ibunya sangatlah berat. Apalah yang bisa didapat oleh seorang imigran gelap yang menjadi pelayan rumah tangga di negeri orang. Mereka berdua sudah cukup bersyukur keluarga Lee masih mau memberi perlindungan, makan dan biaya sekolah bagi Hye Sun. Ya, hanya itu gaji yang didapat Almarhumah Ibunya saat bekerja di Lee Manshion.

Kadang Hye Sun menertawakan nasibnya yang bagai permainan di biduk catur. Bagaimana bisa ayahnya yang merupakan putra dari Keluarga terpandang Goo itu jatuh cinta pada Ibunya yang seorang pelarian dari Korea utara? Bagaimana bisa mereka akhirnya memutuskan kawin lari demi menghindari perjodohan konyol yang diatr Mr. Goo? Dan sang Ayah meninggal karena tidak tahan hidup miskin dan mereka berdua berakhir sebagai ibu dan anak pelayan di Lee Manshion.

Hye Sun mengamati tangan mungilnya.  Masih cukup halus walau kerjanya semakin keras akhir-akhir ini. Dia teringat saat tangan itu membuka sebuah surat yang tersampul amplop merah jambu. Dia berusia tiga belas tahun saat itu dan masih berstatus sebagai anak pelayan di Lee Manshion. Kikikan kecil terdengar dari mulutnya kemudian, tapi saat dibacanya tulisan di kertas berbentuk hati itu, perasaannya begitu melayang. Anak laki-laki yang selama ini dipanggil dongsaeng menaruh hati padanya dan ini adalah surat untuk kesekian kalinya dengan kalimat penutup, “Saranghe.”

Tangan Hye Sun mengepal tiba-tiba. Dia juga ingat apa yang terjadi seminggu kemudian, Mrs. Lee yang murka menyeretnya ke depan ibunya. Memaki-maki dengan kata-kata yang tak pantas diucap oleh wanita terhormat. Hye Sun menangis keras, sang Ibu merintih pilu. NYonya besar itu mengobrak-abrik isi lemari mereka. Dan saat menyembul tumpukkan surat merah jambu itu, Mrs. Lee merobek-robek  kesetanan.

“Dasar komunis sialan! Dikasih hati malah minta jantung! Sudah dikasih perlindungan dan makan, kini kau sodorkan anak harammu itu untuk menggoda anakku. Jangan mimpi!” umpat Mrs. Lee waktu itu.

Komunis? Keluarga Sang Ibu melarikan diri dari utara karena memberontak dan menghindari paham komunis. Anak haram? Orangtuanya menikah di catatan sipil walau tanpa restu. Tangan Hye Sun semakin mengepal. Bis yang dia tumpangi masih membelah hujan yang semakin deras. Keluarga Lee mengusir mereka hari itu. Min Ho meronta-ronta dibawah genggaman pengawalnya. Keangkuhan gerbang besar Lee Manshion tertutup kasar. Membatasi dunia kanak-kanak mereka. Hanya imajinasi anak-anak, tapi Mrs. Lee terlalu menganggap serius. “Hanya gadis terhormat yang bisa menikah dengan anakku. Dan itu adalah cucu dari keluarga Kim di Seoul!” tegas Nyonya sombong itu yang mana Hye Sun  tak cukup bisa menangkap maksud kalimat itu.

Dan tangan itu harus berjabat lagi dengan tangan Mrs. Lee kemarin. Hye Sun berlaku seperti orang yang baru mengalami cuci otak. Dengan menapik kenangan buruk itu, Hye Sun menyodorkan tangannya pada Mrs. Lee sambil memperkenalkan diri, “Goo Hye Sun imnida.”

Tentu saja Mrs. Lee merespon dengan agak gelagapan. Selama ini keluarga Lee mengenalnya sebagai Sunny. Itulah panggilan bagi Hye Sun selama di Lee Manshion. Dan Min Ho…. Hye Sun tahu tentang perjodohannya dengan Min Ji. Adik sepupunya itu selalu mengeluhkan perjodohannya di surat elektroniknya. Ah, Hye Sun tak mau ikut campur. Yang dia nikmati kemarin adalah wajah gugup Mrs. Lee. Komunis sialan? Anak haram? Apa jadinya jika ternyata anak haram itu adalah cucu dari keluarga Goo, salah satu keluarga terhormat di Korea Selatan.

“Senang berkenalan dengan anda Min Ho-ssi,” Hye Sun tahu Min Ho masih mengenalinya. Agak ragu Min Ho membalas jabat tangan Hye Sun. “Begitu juga saya, Hye Sun-ssi.”

0oooOOOooo0

“Huek!” Pagi-pagi sudah terdengar suara orang muntah di kamar Kim Min Ji. Sang empunya kamar memang kurang enak badan akhir-akhir ini. Tubuhnya serasa asing, tak mampu diatasinya.

“Huek!” sekali lagi Min Ji berusaha menuntaskan rasa mual itu. Walau matanya sudah berair tak karuan, yang keluar hanya cairan bening. Min Ji terduduk lemah di samping wastafel. “Ada apa ini?” pikirnya kemudian.

Min Ji berusaha bangkit, meyakinkan diri bahwa keadaannya baik-baik saja lalu menuju tempat tidur. Saat membaringkan tubuh itulah, angannya melayang pada kejadian sebulan yang lalu. Malam yang begitu indah baginya. Sang kekasih begitu memanjakannya waktu itu dan mereka sama-sama terbuai dalam romantisme itu.

“Tidak, tidak mungkin!” ditepisnya pikiran buruk itu.

Telinga Min Ji mulai menangkap suara langkah kaki. Decitan pintu yang terbuka lalu tertutup lagi terdengar dari kamar sebelah. Kamar sepupunya, Goo Hye Sun. Seminggu sudah Hye Sun di Korea tapi mereka tidak pernah bertatap muka dan Min Ji merasa inilah saat itu. Mereka berkomunikasi lewat Surel selama ini. Ingin rasanya bermanja-manja dengan Hye Sun secara langsung.

Dengan langkah riang, Min Ji menuju kamar Hye Sun. Tanpa mengetuk, dibukanya pintu itu. Hye Sun yang kaget menoleh. Min Ji sudah menongolkan kepalanya dengan senyuman lebar,”Miane, kurang sopan.”

“Oh, masuklah, Min Ji-a,” perintah Hye Sun sambil memasukkan baju-bajunya ke dalam travel Bag. Min Ji mengkerutkan kening melihatnya,”Kau mau pergi?”

Hye Sun tersenyum. “Profesor Jansen menelponku agar segera kembali ke Johanessberg.”

“Afrika Selatan?” Min Ji keheranan.

“Ne,” angguk Hye Sun.”Aku mengadakan penelitianku di sana.”

“Apa yang kau teliti?”

“Kehidupan para wanita di sana. Kau tahu, ancaman HIV-Aids mengintai para wanita di sana. Negeri yang pernah jadi tuan rumah piala dunia itu mempunyai sisi gelap prostitusi.”

Min Ji menghela napas panjang.”Dan kau lebih memilih mereka dari pada menghadiri pernikahanku?”

Hye Sun menepuk jidatnya. Dia lupa kalau dua minggu lagi Min Ji menikah. “Miane, tapi tugasku menunggu. Penelitian ini didanai perusahaan asing, jadi aku harus menyelesaikannya tepat waktu.”

Min Ji jadi cemberut. Mau tak mau Hye Sun menghentikan aktifitas berkemasnya untuk memegang kedua pundak Min Ji dan menatapnya lekat-lekat.”Dengar, Min Ji-a, walau pun aku tidak ada di sini saat kau menikah, doaku selalu bersamamu. Selamat menempuh hidup baru. Semoga kau bahagia.”

“Anhi,” elak Min Ji. Kepala mungilnya menggeleng lemah.”Aku tidak yakin bisa bahagia dengan Min Ho. Aku tidak mencintainya.”

Hye Sun hanya bisa menghela nafas. Keluhan Min Ji itu sering Hye Sun baca di surelnya. “Min Ho pria yang baik. Kalian pasti bahagia, percayalah!”

Min Ji tetap menggeleng.”Aku iri padamu. Kau begitu bebasnya. Aku heran kenapa sampai sekarang Haraboji tidak berusaha menjodohkanmu dengan seorang namja.”

“Jangan mengeluhkan nasib, Min Ji-a…,”

“Aku tidak mengeluh. Seharusnya kau-lah yang mengalami perjodohan ini, Hye Sun-a.”

“Mwo?”

“Kau adalah cucu wanita keluarga Goo. Sebenarnya yang dijodohkan dengan Min Ho adalah cucu wanita keluarga Goo.”

“Kau juga cucu keluarga Goo,” Hye Sun memang kurang bisa menangkap maksud perkataan Min Ji.

“Anhi, posisiku di keluarga Goo adalah cucu luar. Kau lah cucu dalam keluarga Goo. Seharusnya Min Ho dijodohkan denganmu, kalau saja kau dan Ibumu tidak menghilang selama empat belas tahun.”

Dahi hye Sun semakin berkerut,”Cucu luar? Cucu dalam? Maksudnya?”

“Ah, bagaimana menjelaskannya padamu. Pokoknya kau cucu dalam karena kau anak dari putra haraboji, sedangkan aku cucu luar karena anak dari putri haraboji. Tapi kalau di keluarga Kim, posisiku adalah cucu dalam.”

Hye Sun memiringkan kepalanya. Lamat-lamat dia menangkap penjelasan Min Ji.”Tapi kita sama-sama cucu haraboji, kan?”

Min Ji mengangguk. “Hye Sun-a,” panggilnya kemudian.

“Ne,” jawab Hye Sun yang kembali memasukkan baju-bajunya ke dalam travelbag.

“Bawa aku bersamamu.”

“Mwo!” Hye Sun jadi mendelik.

“Orang tuamu dulu melarikan diri dari perjodohan Haraboji. Jika aku keluar dari negeri ini, aku pasti juga bisa melarikan diri.”

Hye Sun menghela nafas panjang. “Jangan bodoh, Min Ji-a.”

“Aku tidak bodoh. Rencana pernikahan itu yang bodoh. Aku ingin lari ! Sudah kubilang aku tidak mencintai Min Ho ! ”

“Kalau begitu berusahalah mencintainya!” bentak Hye Sun. “Min Ho pria yang baik. Kau pikir apa pantas kau permalukan dia seperti itu?”

Min Ji mulai terisak. Hye Sun menatapnya penuh rasa empati. Sesaat Hye Sun memeluk sepupunya itu. “Jangan melakukan hal yang kau sendiri tidak kuat menanggungnya,” bisik Hye Sun di telinga Min Ji.

 0oooOOOooo0

Hembusan nafas Min Ho serasa berat. Di meja makan itu dia bisa melihat dengan jelas roman muka Hye Sun. Gadis itu menjadi pusat perhatian di acara dinner kali ini. Di samping kirinya, Mrs. Lee duduk dengan wajah tegang. Min Ho menggenggam tangan sang ibu untuk menenangkan. Kejadian lima belas tahun yang lalu pasti masih diingat oleh ibunya itu, Mrs. Lee takut jika Mr. Goo mengetahuinya. Takut jika keluarga Kim membatalkan perjodohan Min Ho dan Min Ji.

“Dan aku tertawa ngakak saat mahasiswa-mahasiswa itu mengira aku mahasiswa baru,” oceh Hye Sun menceritakan pengalamannya waktu dia menjadi dosen tamu. Kim Joon  ngakak seketika. Di antara yang hadir di meja makan itu, Kim Joon lah yang paling antusias mendengar kicauan Hye Sun.

“Tidak heran, Hye Sun-a. Wajahmu begitu imut. Pantas saja jika mereka mengira kau mahasiswa baru,” suara Dara. Pasangan ini sangat mengagumi Hye Sun. bahkan mereka duduk terpisah, mengapit Hye Sun di kiri dan kanan.

“Kau harus menjadi pengiring pengantin di pernikahan Min Ji, Hye Sun-a,” tiba-tiba Mr. Goo bersuara. Mrs. Lee tiba-tiba menoleh ke arahnya. Min Ho hanya bisa menahan nafas. Ingin rasanya dia melarikan diri. Berdoa jika saja ada keajaiban yang tiba-tiba datang agar rencana pernikahan ini gagal.

“Mianhamnida, Haraboji. Profesor Jansen sudah menelponku terus,” sesal Hye Sun.

“Haraboji, bisa memberikan dana buat penelitianmu, Hye Sun-a. Iya, kan Haraboji?” Min Ji mengalihkan pandangan pada Mr. Goo. Lelaki tua itu mengangguk.” Jadi kau tidak perlu kawatir jika perusahaan asing itu menghentikan dana karena penelitian tidak selesai tepat waktu.”

“Jangan begitu, Haraboji,” Kali ini Kim Joon membela Hye Sun.”My Princess harus tetap professional. Itu juga demi nama Negara kita di mata mereka.”

“Opa…., kenapa tidak mendukungku,” rengak Min Ji. Kim Joon menjulurkan lidahnya pada Min Ji. Merasa diperolok, Min Ji melemparkan napkin ke muka Kim  Joon. Tak mau kalah, Kim Joon melemparkannya lagi ke Min Ji. Tatapan mata Hye Sun jadi beralih-alih dari Min Ji dan Kim Joon. Min Ho mengamati sambil mengulum senyum. Suasana ruang makan jadi ribut karena ulah kakak beradik itu.

“Cukup! Cukup, anak-anak,” teriak Mrs. Kim. Jengkel dengan ulah anak-anaknya yang masih seperti anak kecil. Mr. Goo menatap tajam pada Kim Joon. Kakak beradik itu menyusut di tempat. Mereka tahu harabojinya sangat menjunjung tinggi etiket di meja makan.

Genggaman tangan Mrs. Lee pada Min Ho semakin kuat. Apalagi saat dia melihat ketegasan sikap Mr. Goo sekarang. Apa yang akan terjadi jika Mr. Goo tahu cucu kesangannya pernah terhina di Lee Manshion? Membayangkan saja, Nyonya besar Lee itu tidak berani.

Salah satu pelayan mendekati Hye Sun lalu membisikkan sesuatu di telinganya. “Baik, saya akan ke sana,” kata Hye Sun hingga pelayan itu segera berlalu.

“Kalian lihat, professor Jansen menelpon lagi,” hela Hye Sun sambil  mengelap sudut mulutnya. Dia berdiri. “Saya permisi dulu untuk menerima telepon. Terima kasih atas makan malam yang menyenangkan, Anyong,” kata-katanya berakhir dengan bahasa tubuh menunduk.

Mr. Goo menghela nafas pasrah. Hye Sun berlalu begitu saja tanpa menyelesaikan makannya. “Profesor itu tengil juga,” desis Mr. Goo.

“Apa maksud, Appa?” tanya Mrs. Kim.

“Kenapa mereka tidak memberi liburan yang lebih luas pada Hye Sun.”

Malam pun semakin larut. Para orang tua masih sibuk membicarakan rencana pernikahan. Min Ho berdiri di dekat salah satu jendela di Goo Manshion. Hujan masih deras di luar. Sejak kecil dia sangat menyukai hujan. Pelangi yang muncul setelah hujan reda, sangat menyenangkan hatinya. Min Ho masih ingat benar siapa yang pertama kali menunjukkan padanya fenomena alam ini.

“Mejikuhibiniun,” bisikan anak perempuan itu seakan terdengar kembali di telinganya. Dia manatap cengo waktu itu. Kata, “Mwo?” cukup membuktikan kalau dia kurang mengerti maksud perkataan anak perempuan itu. Seperti kebiasaannya yang sudah-sudah, anak itu terkikik sambil membekap mulutnya. Min Ho selalu terpana dengan gerak-gerik itu. Apalagi melihat warna merah jambu yang menyembul di pipi anak perempuan itu. “Urutan warna pelangi itu adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Disingkat mejikuhibiniun,” terang anak yang berpipi merah jambu.

Min Ho tersenyum mengingatnya. Gerak-gerik itu dilihatnya lagi saat makan malam tadi. Begitu jelas karena Hye Sun duduk tepat di hadapannya. “Sunny” yang manis. Min Ho sangat menyukainya. Bahkan dia harus berkelahi dengan Geun Suk karena anak itu juga menaruh hati pada Sunny.

“Sunny  hanya main sama aku! Sama aku !” teriaknya sambil memukuli Geun Suk yang terbaring di bawahnya. Dia sangat marah waktu tahu Geun Suk mengirim surat cinta pada Sunny.

Hujan di luar reda. Kini Min Ho membuka jendela, keluar menuju balkon. Tak disadari Hye Sun juga melakukan hal yang sama beberapa kaki darinya. Mereka berdua sama-sama menghela nafas. Bau tanah basah menyeruak di udara. Begitu menyegarkan system pernafasan mereka. Hingga akhirnya mereka saling berpandangan, ada kekikukkan di antaranya.

“Malam,” salam Min Ho kelu. Hye Sun menganggukkan kepala sambil memamerkan lengkungan indah di bibir.  Dan Min Ho merasa harus mendekatinya. Dia mengawatirkan sang Omma yang ketakutan sejak mereka berjumpa Hye Sun lagi.

“Sayangnya tidak ada pelangi,” bisik Hye Sun.

“Kelamnya malam menutupi sang ratu warna itu, Hye Sun-ssi,” tanggapan dari Min Ho.

“Ne,” sekali lagi Hye Sun tersenyum.

“Sunny…,” Min Ho ingin menguji Hye Sun dengan panggilan itu. Dia ingin melihat respon Hye Sun. Apa daya Hye Sun tidak menunjukan respon berarti. Gadis itu masih saja memandang langit yang mulai tersibak dari awan. Sudah lama panggilan itu tidak Hye Sun dengar. Kini dia Goo Hye Sun, cucu keluarga Goo. Bukan Sunny, sang anak pelayan. Hye Sun begitu ingin mengubur kenangan itu.

“Manusia itu sama di mata Tuhan,” cerocos Hye Sun kemudian, yang membuat Min Ho mengkerutkan kening. “Bahkan manusia terlihat kerdil dari atas sana,” sambungnya sambil menunjuk langit.

“Bukan begitu, dongsaeng?”

Hye Sun berjalan menuju kamarnya, sementara Min Ho masih terpaku di tempat. Panggilan Hye Sun padanya membuat semuanya jelas bagi Min Ho. Ingin rasanya Min Ho mengulang masa kecil. Ingin rasanya Min Ho merasakan kembali cinta monyetnya pada Hye Sun. tapi kenangan buruk itu selalu menyertai, saat sang omma mengusir Hye Sun dan Ibunya dari Lee Manshion. Saat itu dia meronta-ronta histeris untuk mencegah semua itu. Dan saat akhirnya pintu gerbang Lee Manshion tertutup rapat, memisahkan dunianya dari dunia cinta pertamanya.

Manusia itu sama di mata Tuhan. Jika saja sang Omma menyadari itu lima belas tahun yang lalu. Kini Hye Sun benar-benar tak  tersentuh. Saat kanak-kanak, Min Ho bisa menyentuhnya sebagai Noona. Saat masa remaja, Min Ho bisa menyentuh Hye Sun sebagai cinta pertamanya. Tapi kini….

“Saranghe, Sunny,” kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya. Kalimat yang selalu dibisikannya pada Sunny di masa lalu. Seiring dengan gelora cinta ala ABG di hatinya. Kalimat yang selalu tertulis di setiap surat merah jambu untuk Sunny. Surat-surat  yang akhirnya terkoyak oleh tangan Mrs. Lee, dan Min Ho hanya mampu tertunduk meratapi serpihan-serpihan kertas itu. Sunny-nya sudah pergi kala itu.

0oooOOOooo0

Dan tibalah hari yang sudah direncanakan jauh-jauh hari itu. Hari pernikahan Min Ji dan Min Ho. Keduanya kini telah berdiri di depan Altar. Pendeta memberikan wejangan singkat sebelum melanjutkan srakamen berikutnya. Kedua pengantin terlihat pasrah. Sudah tidak ada harapan untuk menghentikan pernikahan ini.

“Jika ada yang keberatan dengan bersatunya mereka berdua, maka bicaralah sekarang atau diam untuk selamanya,” pidato sang pendeta.

Suasana hening sejenak. Min Ho memejamkan mata. Berdoa akan adanya keajaiban.

“Baiklah, jika tidak ada…

“Pendeta…,” panggil seseorang dari bangku audiens. Semua undangan menoleh ke arahnya. Seorang pemuda berkulit putih yang cukup tampan berjalan maju ke altar.

“Shi Won-a….,” desis Min Ji. Air mata segera menggenangi pelupuk matanya.

“Chagiya,” panggil pemuda itu, Shi Won pada Min Ji. “Aku mohon jangan lakukan. Kita besarkan anak kita sama-sama. Ku mohon.”

Tangis  Min Ji jadi makin keras. Min Ho memicikkan mata untuk memahami pemandangan yang terjadi. Para undangan mulai heboh. Suara dengungan dari mulut-mulut di ruangan itu membahana.

“Aku mohon… . Maafkan karena aku terlalu kasar kemarin,” ujar Shi Won. “Aku… aku hanya terkejut kemarin. Tapi sekarang aku sadar, aku tidak bisa hidup tanpamu.”

“Shi Won-a…

“Miane, jeongmal miane,” Shi Won berlutut di depan Min Ji. Ditariknya pinggang Min Ji lalu mencium perutnya lembut.

“Tunggu…,” kali ini Min Ho yang bersuara. Serta merta pandangan audiens beralih pada Min Ho. “Kau hamil?” tanyanya pada Min Ji. Masih dengan menangis, Min Ji mengangguk, mengelus kepala Shi Won.

“Dan pria ini ayah dari bayimu?” tanya Min Ho lagi. Sekali lagi Min Ji mengangguk. Audiens semakin gempar. Para orang tua merasa dipermalukan. Tapi herannya Min Ho malah tertawa ngakak. Tentu saja, itu adalah tawa kelegaan hati. Lalu dengan roman muka berseri-seri. Dia memerintah,”Berdirilah, Shi Won-ssi!”

Shi Won menuruti perintah Min Ho. Min Ho memegang tangan Shi Won dan menumpukannya di atas tangan Min Ji. “Berbahagialah…”

Senyum  bungah melebar di bibir Min Ho. Segera dia melangkah keluar dari gereja itu dengan sejuta angan di kepalanya. Dibukanya pintu gereja yang megah lebar-lebar. Cahaya luar seketika menyembul ke dalam gereja, hingga tampak tubuh jangkung itu bagai shiluette.

Udara luar segera menyambut Min Ho. Dia memejamkan mata dan menarik nafas  kuat-kuat sebelum dihembuskan kembali. “Aku bebas sekarang,” bisik hatinya.  Sayup-sayup terdengar ikrar pernikahan dari dalam gereja, Min Ho berlari ke mobilnya. Semuanya akan segera dia persiapkan dan kali ini tentu tidak akan ada yang menghalanginya lagi.

Suasana sabana yang luas menyambut Min Ho saat turun dari mobil pick upnya. Pria ini memandang sekeliling. Warna hijau menerjang matanya saat melepas kaca mata hitam. Musim basah di afrika membuat tetumbuhan tampak begitu lebat. Sementara suara serangga yang lebih mirip dengan gangsing membahana. Menghantarkan langkah Min Ho ke sebuah bangunan mungil yang dari desainnya, kita pasti akan menghina perancangnya.

Tapi di bangunan itu Hye Sun memberikan konseling setiap Minggu pada para wanita penduduk lokal setempat. Min Ho ingin mengetuk pintu, tapi saat mendengar suara Hye Sun dari dalam ruangan yang sepertinya menerangkan sesuatu, Min Ho mengurungkan niatnya. Perlahan, dibukanya pintu bangunan itu.

Dan kini dia bisa melihat HYe Sun berdiri di depan kelas, memberikan penjelasan pada para wanita itu dengan bahasa local yang Min Ho sendiri tidak mengerti. Tapi dari gerak tubuh Hye Sun yang mengacungkan ibu jarinya dan membalutnya dengan alat kontrasepsi itu, Min Ho jadi tahu apa yang dibicarakan oleh HYe  Sun di situ.

Sesekali terdengar ‘murid-murid’ Hye Sun  tertawa cekikikan. Lalu salah satu dari mereka mengacungkan tangan. Hye Sun mendengarkan dengan seksama pertanyaan dari orang itu yang diakhiri dengan tawa gemuruh seluruh kelas. Min Ho bisa menangkap perubahan warna di wajah Hye Sun. dan Min Ho sedikit heran saat Hye Sun menjawab pertanyaan itu dengan roman enggan.

Min Ho masih saja memandang Hye Sun. Bahkan guci yang ada di samping kiri, dia tak melihat. Suara “prang” dari guci yang tersenggol membuat semua orang menoleh ke Min Ho termasuk Hye Sun.

“Sory!” sesal Min Ho. Hye Sun memicingkan matanya. Seakan tak percaya dengan yang terlihat, gadis itu mengucek-ucek mata. Senyuman segera tersungging di bibir Min Ho. Masih dengan senyuman itu, Min Ho menghampiri Hye Sun yang kini mengamatinya dengan tatapan bingung sekaligus heran.

“Bukankah kalian harusnya berbulan madu?’ tanya Hye Sun tanpa perduli pada ‘murid-murid’ nya yang masih bertanya-tanya siapa pria yang muncuk tiba-tiba itu.

“Maksudnya Kim Joon dan Dara?” tanya Min Ho balik.

“Anhi. Kau dan Min JI.”

“Min Ji dan Shi Won mungkin maksudmu.”

“Mwo?”

Sekali lagi Min Ho tersenyum. Wajah heran Hye Sun membuat kerinduan Min Ho semakin tak tertahankan. Dengan kegembiraan yang meluap, Min Ho memeluk tubuh mungil di depannya itu. Hye Sun mendelik saking kagetnya. Terlebih murid-muridnya pada bertepuk tangan riuh. Perlahan tangan Hye Sun terangkat, mengelus punggung Min Ho, menikmati kerinduan yang terjalar dari pelukan itu.

“Bogosipho, Sunny. …,” desah Min Ho.

Hye Sun menghela nafas. Saat ini dia dan Min Ho sedang duduk-duduk di pinggir kali. Sudah setengah jam mereka terdiam. Hye Sun rupanya kurang mempercayai cerita Min Ho tentang Min Ji. Tiba-tiba Min Ho berdiri. Sesaat dia membungkuk untuk memungut batu kerikil, lalu dengan konsentrasi terpusat, dilemparkan batu itu ke sungai, membentuk loncatan sebanyak tiga kali sebelum tenggelam.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” setelah kebisuan itu, Hye Sun akhirnya bersuara. Min Ho menoleh. “Sangat lega,” jawabnya.

Tentu saja kalimat itu membuat Hye Sun semakin tak percaya. “Kau tidak mencintai Min Ji?”

“Menurutmu?” pertanyaan Hye Sun di jawab dengan klise oleh Min Ho. Pria itu mendekati Hye Sun dan dengan menekan kedua belah pundak Hye Sun, dia berujar,”Apakah selama ini aku terlihat mencintainya?”

Hye Sun menggeleng lemah. Min Ho menyimpulkan senyum. “Dan kini apakah kau lihat cinta di mataku, Sunny?”

Hye Sun masih memandang wajah tampan itu. Meresapi pandangan mata Min Ho yang begitu teduh. Tapi tidak ada jawaban di mulutnya. Karena semua ini begitu berbeda sekarang. Setidaknya itu menurut Hye Sun. dan Min Ho mengeluarkan sesuatu dari balik kantong celana lalu disodorkan ke Hye Sun.

“Surat-surat kita dulu,” kata Min Ho sumringah. Hye Sun menerimanya dengan dahi berkerut. Sobekan surat-surat merah jambu itu kini sudah menyatu semuanya. “Sejak kapan kau satukan semua ini?”

“Sejak kau keluar dari Lee Manshion.”

Wajah Hye Sun jadi sumringah. Kali ini Hye Sun-lah yang memeluk Min Ho. Mereka berpelukan dengan latar belakang siluet langit senja. Dengan gemericik air di bawah kaki mereka dan ciuman penuh cinta yang mengakhiri romansa.

Hingga suara lonceng gereja berdentang tiga kali. Menghantarkan status baru bagi mereka berdua. Status penuh komitmen dan disyahkan oleh segala doa dan restu dari para tetua. Tangan Tuhan selalu ada untuk melindungi kebahagiaan mereka dan seluruh umat manusia.

Karena manusia terlihat kerdil dari atas sana…. Dan manusia di mata Tuhan itu sama ….

THE END

Iklan

BEHIND THE SHINING STAR III (part 1)

(Cerita ini hanya fiksi belaka, kejadian ya syukur, gak kejadian juga gak papa, tapi mudah-mudahan terkabul. Maksa. com)

——-Enjoy This Story!——-

 

“Huek!” Suara dari dalam kamar mandi mulai mengusik tidur Mino. Setengah sadar dia menoleh ke sampingnya. Kosong! Emang harusnya ada siapa? “Huek!” kali ini suara itu sukses membuat Mino sadar sepenuhnya. Dia mulai bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi, “Baby, kau di dalam?”

“Ne…,” jawaban dari dalam kamar mandi. Mino mencoba membuka pintu di depannya, ternyata dikunci dari dalam. ”Kau kenapa?” tanyanya sambil masih memutar-mutar ganggang pintu.

“Mual, Min-a.”

Mino mendengus sebal,”Kenapa pintunya musti dikunci?” pikirnya.

“Huek!” suara itu terdengar lagi, bahkan  membuat Mino merasa ngilu juga di perutnya, dengan kesal dia menggedor-gedor  pintu, ”Buka pintunya, Baby. Jangan membuatku panik!”

Pintu itu terbuka setelah terdengar suara aliran air menyiram kloset dan keluarlah wanita mungil yang selama sembilan bulan ini sudah resmi menjadi istrinya. Ya, Hye Sun, wanita yang berarti segalanya baginya itu telah menjadi istrinya. Hal yang sangat membahagiakan untuk seorang Mino. Tapi sepertinya keadaan istrinya itu kurang baik sekarang, wajahnya tampak pucat. “Gwencana?” Mino bertanya sambil memandangi wajah Sun, kedua tangannya sampai memegang pundak Sun kiri dan kanan untuk mendapat kepastian.

“Ne, gwencana,”jawab Sun sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Mino dari pundaknya. Dia malah berjalan melewati Mino.  “Mau kemana, Baby?”

“Menyiapkan sarapan, hari ini kan giliranku masak!”

“Antwe! Biar aku saja, kau tidur saja lagi.”

“Tapi…

“Tidak ada tapi, lain kali saja kau memasaknya,” cegah Mino sambil membimbing Sun kembali berbaring ke ranjang. Dia menyelimuti dan segera keluar dari kamar setelah mengecup kening istrinya itu.

Mino segera ke dapur, dia berhenti sebentar saat melewati foto pernikahan yang terpampang di ruang keluarga, tampak olehnya gambar saat mereka menikah. Dia dengan setelan jas warna putih yang serasi dengan gaun berpotongan sederhana yang dikenakan Sun. Pernikahan  mereka memang sederhana dan terkesan buru-buru, hanya dilakukan di kantor catatan sipil, tapi itu saja sudah membuatnya sangat bahagia. Kalau saja dulu dia tidak konyol, melakukan percobaan bunuh diri, mungkin saat ini Sun belum menjadi istrinya. Dia meraba-raba pergelangan tangan kirinya, bekas jahitan itu masih ada. Dia tersenyum, inilah tanda pengikatnya dengan Sun selain cincin pernikahan.

Di dapur, Mino segera menyiapkan segala sesuatunya. Dia memang tidak begitu pintar  memasak, jika gilirannya memasak, dia akan memasak seadanya yang dia bisa, jangan ditanya jika giliran Sun, semua makanan yang terhidang pasti istimewa, agak tidak adil memang, tapi itu sudah kesepakatan mereka yang sama-sama sibuk. Jika salah satunya memasak, yang lain giliran mencuci peralatan dapurnya. Dan seperti hari ini, Mino memutuskan membuat omlet telur dan roti panggang. Mino mengolesi beberapa helai roti tawar dengan mentega, lalu memasukkannya ke mesin pemanggang roti, sambil menanti roti itu matang dia mengkocok telur, suara kocokan itu membuatnya tidak konsen, angannya malah melayang ke kejadian satu bulan yang lalu. Saat itu dia sedang menikmati waktu break di lokasi syuting, ketika tiba-tiba seorang gadis cilik menarik-narik jasnya.

“Mworago?” tanya Mino pada anak kecil itu. Anak itu tidak menjawab, malah cekikikan di depan Mino, matanya yang bulat dan lebar mengerjap-ngerjap seiring anggukkan kepalanya, dan kedua tangan mungil itu berusaha menutupi mulut saat tertawa. Mino terkesima hingga akhirnya dia berjongkok agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah anak itu. Dia berusaha mengingat,  mirip siapakah anak ini?

Gadis kecil itu mendekatkan bibirnya ke telinga Mino lalu berbisik,”Kenapa Ajhusi selalu menuruti perintah appa?”

Mino tersenyum,”Karena ayahmu sutradara dan aku aktornya,” jawab Mino asal.

“Hai! Yuri! Jangan ganggu Mino-ssi!” sang sutradara sekaligus ayah anak itu memperingatkan. Setengah berlari dia menghampiri mereka berdua,”Miane, Mino-ssi, dia tidak mengganggumu, kan?”

“Tidak,” jawab Mino masih berjongkok sambil memandangi Yuri.

“Lalu kenapa kau memandanginya seperti itu?” tanya sutradara itu lagi. Yuri masih saja cekikikan, mungkin dia merasa malu diperhatikan Mino seperti itu, tampak dari mukanya yang memerah tapi berusaha menutupinya dengan tawanya. Mino semakin terkesima dibuatnya.

“Oh, Aku tahu sekarang!” tebak sang sutradara,”Kau pasti melihat tingkah Yuri mirip dengan Sun-ssi, kan?”

“B….Bo?” Mino gelagapan,”Kau… kau benar, tadi aku berusaha mengingat mirip siapa dia, ha ha ha ha, ternyata mirip istri sendiri.” Mino berdiri dan mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.”Tapi… tapi bagaimana bisa?”

“Ha… itu karena wabah BOF beberapa tahun yang lalu, istriku yang lagi mengandung Yuri tergila-gila pada Geum Jandi, setelah lahir tak tahunya wajah dan tingkah laku Yuri sangat mirip dengan Sun. Aku saja juga heran.”

Mino manggut-manggut, tiba-tiba terlintas sesuatu di benaknya,”Sutradara, boleh ya, aku bawa Yuri pulang? Aku mau tunjukkan dia ke Sun.”

“Enak saja! Emangnya anakku itu mainan? Kenapa kalian tidak buat sendiri?”

“Mwo? Buat sendiri?”

“Ne! Kalian kan sudah delapan bulan menikah, buat anak yang mirip dengan Sun, jangan bawa-bawa Yuri segala!”

Mino terkekeh kecil mengingat perkataan sutradara itu, ada-ada saja.

“Eh hem, rotinya sudah matang, tuh!” Sun yang sudah berdiri di depannya membuyarkan lamunannya.

“Baby? Kau sudah cantik? Tapi bukankah kau seharusnya tidur saja?” Mino sumringah melihat keadaan Sun sekarang, sangat berubah seratus delapan puluh derajat dari waktu bangun tidur tadi.

“Ne. Aku merasa kalau akan lebih segar setelah mandi. Sini biar aku yang buat omlet!” Sun mengambil alih adonan omlet dari tangan Mino. “Kau duduk-duduk saja di ruang makan!”

“Ne…”Mino menuruti perintah Sun. Dia segera ngeloyor, duduk di depan meja makan lalu mulai membuka Koran pagi, hal pertama yang dia baca adalah bursa saham, Mino memang menginvestasikan sebagian uangnya untuk  saham dan obligasi, walau pun dia tidak bisa mengurusnya sendiri, ada pialang kepercayaan yang membantunya. Dunia entertainment tidak selamanya bersinar di pihaknya, dia harus mempersiapkan segala sesuatunya sebelum sinar itu meredup, bisa dibilang saham-saham, deposito dan obligasi itu adalah payung, ya… sedia payung sebelum hujan, karena masih banyak rencana yang ingin dia lakukan bersama Sun. Dia tidak mau kalah dengan Sun, istrinya itu sudah mengawali bisnisnya terlebih dahulu, bahkan mulai dari sebelum mereka menikah, dan galeri café  yang didirikan Sun telah berkembang.

Sun meletakkan sepiring roti omlet di depan suaminya yang terbengong itu,”Melamun lagi… kenapa sih akhir-akhir ini kau sering melamun?”

Mino kaget, meja di depannya sudah siap dengan hidangan, ternyata sudah lama dia melamun. Sun menuangkan susu ke gelasnya, dan hal itu praktis membuat Mino ngakak, ”Kau menyuruhku minum susu, Baby?”

“Ne, memangnya kenapa?” tanya Sun menantang.

“Kau anggap aku anak kecil, ha ha ha!”

Sun menghela nafas. Dia mengibaskan napkin di depan Mino lalu meletakkannya di pangkuan suaminya itu,”Nikmati saja yang tersedia, ini cukup membuatmu kenyang sampai makan siang.”

“Kau mau membuatku gemuk, ya?”

Sun mendelik,”Tidak! Aku hanya tak mau kau makan snack sembarangan di lokasi syuting!” Sun menuangkan orange juice di gelasnya sendiri. “Bo! Kenapa kau  malah minum jus? Tidak adil!” protes Mino.

“Aku mual, Min-a! Kalau minum susu nanti tambah mual!”

“Ah…! Sini kau!” Mino menarik tubuh Sun hingga tubuh mungil itu mendarat di pangkuannya. Sun sudah pasti meronta tapi Mino malah mempererat pelukannya. Diciuminya tengkuk Sun sambil menggelitikki pinggangnya hingga membuat Sun geli dan cekikikan.

“Hm…Baby.” panggil Mino setelah puas menggelitiki Sun.”Kalau nanti kita punya anak, kira-kira seperti apa ya?”

“Mwo? Anak?” Sun yang masih duduk di pangkuan Mino memandang wajahnya.

“Ne! Aku ingin anak perempuan yang putih dan bermata lebar mirip sepertimu,” jawab Mino. Sekali lagi dia mempererat pelukannya,”Kau sendiri? Kau ingin anak seperti apa, Baby?”

“Aku? Aku ingin punya anak laki-laki yang mirip Brad Pit, dengan rambut pirang, mata biru dan lesung pipit, dia pasti akan tampan nantinya, he he he.” Jawaban itu sukses membuat Mino kesal,”Mana mungkin! Kau orang korea, aku juga korea, memangnya kau mau selingkuh sama Brad Pit? Awas kalau kau berani!”

Sun tertawa melihat ekspresi Mino, tentu saja dengan tangan yang menutupi bibir,”Iya, iya… aku ingin punya anak laki-laki yang jangkung, tampan, berhidung mancung dan senyuman yang menawan sepertimu.” Sun segera mengunci wajah Mino dan mencium bibirnya, Mino yang kaget akhirnya agak mengendorkan pelukannya dan hal ini tidak disia-siakan Sun untuk bangkit dari pangkuan Mino dan duduk di kursinya sendiri.

“Yah… yah… kau curang!”

Sun tertawa geli,”Segera makan! Kita tidak punya waktu lagi. Kau sendiri belum mandi, kan?” Mino mendengus, bibirnya tampak maju beberapa senti. Dengan malas dia mulai melahap hidangan di depannya. Sun tambah geli melihat tingkahnya. Tapi tiba-tiba sesuatu melintas di pikiran Sun, dan kata-kata Mino barusan mengenai anak, makin membuat Sun merasa tidak nafsu makan, alhasil roti omlet di piringnya itu hanya di acak-acak saja, “Hm.., Min-a.”

“Ne?” Mino sudah menghabiskan sarapannya.

“Apa kau benar-benar menginginkan anak di saat-saat ini?”

“Tentu saja, Baby. Kita kan sudah sembilan bulan menikah, anak adalah hadiah terindah bagiku, Baby,” jawab Mino antusias. Sun hanya tersenyum kecut. Sebulan terakhir ini Mino memang sering mengoceh tentang anak, dan Sun sudah sebulan pula berhenti mengkonsumsi pil kontrasepsi karena perintahnya, tapi entah kenapa masih ada ganjalan di benak Sun dan dia tidak berani mengatakannya pada Mino.

Ganjalan-ganjalan itu masih di pikirkan Sun di lokasi pemotretan, alhasil gayanya menjadi sangat kaku, pandangan matanya sering kali kosong, fotrografer mulai frustasi karena harus mencari anggel yang pas. Dia harus memotret berkali-kali, bahkan mengarahkan gaya Sun, tentu saja hal itu membuatnya heran mengingat Sun tidak pernah membutuhkan pengarah gaya di pemotretan-pemotretan sebelumnya. Dan akhirnya manajer Sun turun tangan membela artisnya itu,”Fotografer, jangan terlalu keras pada Sun.”

Fotografer itu mendengus. Manajer menoleh ke arah Sun yang kali ini sedang mengkipas-kipaskan tangan karena kepanasan.”Kau sudah memotretnya lebih dari tiga puluh kali, dan ku lihat kau hanya butuh lima foto saja di kostum itu, kenapa tidak kau pilih saja mana yang paling cocok dan agak memperindahnya dengan photoshop?”

“Oke, akan ku lakukan, kita istirahat dulu, lalu kita lanjutkan ke kostum berikutnya.”

“Sip! Istirahat dulu, Sun-ssi!” teriak manajer ke arah Sun. Sun mengacungkan jempolnya lalu pergi ke kamar riasnya. Manajer itu mengekor di belakang.

“Kenapa kau tidak konsentrasi pagi ini?” tanya manajer saat mereka sudah berada di kamar rias dan Sun sudah merebahkan diri di sofa, meluruskan punggung.

“Sudahlah, Ajhuma, bacakan saja agendaku hari ini!” perintah Sun.

“Araso! Pemotretan akan berakhir jam dua belas, setelah itu kau ke rumah appamu untuk memasak sampai jam dua, jam dua sampai jam tiga, kau mengisi acara di sebuah radio swasta, jam tiga sampai jam lima, ada FM terkait dirimu sebagai endorstment merk notebook…

“Ajhuma…,” potong Sun.”Apa yang terjadi jika aku membuat kontrak-kontrak itu batal?”

Manajer terkejut,”Tentu saja kau harus membayar ganti rugi seperti yang tertera di kontrak. Tunggu!” Manajer itu menghentikan omongannya. Dia mengira-ira kerugian yang harus dibayar artisnya tapi juga bertanya-tanya apa maksud pertanyaan Sun,”O…o…No! Jangan berbuat yang aneh-aneh, Sun-ssi. Kau sudah hampir bangkrut karena ganti rugi kontrak yang batal ketika menikah dulu. Apa pun itu, tunda dulu, atau kau benar-benar bangkrut.”

Penjelasan manajernya itu membuat Sun semakin serba salah. Ketika Sun menikahi Mino dulu, beberapa kontrak yang ada di tangannya otomatis batal dan harus membayar ganti rugi karena persyaratan di dalamnya adalah tidak menikah selama menjalani kontrak. Dan memang dia hampir bangkrut pada waktu itu jika tidak ada pendapatan dari Manolin. Mino juga mengalami hal itu walau tidak separah dirinya. Dan jika dia berbuat sesuatu lagi sekarang, tentu saja dia akan kehilangan lebih banyak lagi, padahal tabungannya sudah habis, yang ada hanya keuntungan dari Manolin, dan dia sudah berjanji untuk memakainya demi perkembangan Manolin, bukan untuk yang lain. Mino memang memberinya uang, bahkan menyerahkan seluruh pendapatan padanya untuk diaturnya, tapi dia enggan juga menggunakan uang itu. Itu uang untuk kepentingan bersama, bukan uang pribadi.

Sun masih saja memikirkan penjelasan manajernya saat memasak untuk appanya. Seperti yang sudah dibacakan oleh manajernya tadi, hari ini dia harus memasak karena oemmanya ada acara di desa Jeju. Jadilah sekarang Sun di sini, memasak sambil sesekali melamun.

“Hm… Hm..”Mr. Goo yang baru tiba berusaha menyadarkan lamunan Sun. Sun terkaget,”Appa? Sudah pulang?”

“Ne!” jawab Mr. Goo riang,”Jangan melamun saja, untung masakanmu tidak gosong.”

Sun terkekeh,”Appa makan saja sekarang, makanan sudah ku siapkan di ruang makan, Sun mau menyelesaikan Sup ini dulu.”

“Hm, Appa makan di sini saja, biar bisa sekalian ngobrol denganmu.”

“Ceongmal? Kalau begitu biar Sun bawa kemari lagi makanannya.”

“Anyi! Biar Appa saja, kau awasi saja masakanmu,” Mr. Goo menjitak kening Sun lembut.

“Maaf, kau jadi repot, Sunny,” kata Mr. Goo setelah duduk manis di bartable dapur dan mulai menyantap makan siangnya.

“Ah, tidak apa-apa,” Sun mengibaskan tangannya. Mr. Goo menyendok sup panas yang baru dihidangkan Sun, lalu menyeruputnya perlahan,”Hm, sedap sekali! Kau buat banyak, kan? Bawalah buat Mino.”

Sun menampakkan lesung pipitnya,”Tentu, Appa.”

“Suamimu itu, bagaimana kabarnya? Sibuk apa dia sekarang?”

“Masih seperti biasanya, Appa,” jawab Sun riang. Mr. Goo berdecak kagum, ”Bilang padanya untuk berkunjung jika tidak sibuk!” Sun mengangguk.

“Kau sendiri? Apa sudah isi, Sunny?”

Sun menggeleng,”Ah, kenapa pagi ini semua menanyakan itu?”

“Ceongmal? Jadi Mino juga menyinggung itu?” Mr. Goo bertanya dengan mata membelalak. Sun mengangguk. Mr. Goo terbahak dibuatnya,”Rupanya Mino sudah sangat menginginkan anak darimu, Sunny!”

Sun tersenyum agak dipaksakan. Dia semakin teringat dengan ganjalan hatinya itu, “Appa…”

“Ne?” Mr. Goo berhenti tertawa saat mendengar panggilan Sun. Sun mulai meremas-remas tangannya, dia ragu antara mengutarakan niatnya atau tidak.” Apa…. Apa… Apa Appa punya uang?”

“Mwo? Uang? Sudah pasti ada, memangnya kau butuh uang?”

“Bukan begitu, Appa, maksud, Sun… Jika suatu saat Sun butuh uang, bisakah Sun meminjamnya dari Appa?”

“Minjam? Jangan kau bilang minjam, tentu saja Appa akan memberikan uang itu secara cuma-cuma, Sunny!”

Sun semakin gusar dan hal itu mampu ditangkap oleh Appanya. “Memangnya kau butuh berapa?” tanya Mr. Goo lembut.

“Banyak…. Sepertinya sangat banyak, Appa.”

“Kontrak-kontrak itu lagi?” tebak Mr. Goo. Sun mengangguk.

“Itukah sebabnya kau menunda kehamilan?” tanya Mr. Goo bijak. Sekali lagi Sun mengangguk, kedua tangannya masih saja saling meremas. Mr. Goo menghela nafas, diraihnya tangan Sun agar tidak saling meremas lagi, lalu ditepuk pelan-pelan,”Kau tenang saja, Appa akan bantu sebisa Appa.”

“Jinja?” Sun menanggapinya dengan riang, ganjalan itu seakan lenyap sudah. Mr. Goo tersenyum mengiyakan,”Sunny… bukankah ini saatnya kau keluar dari dunia entertainment? Kau sudah menikah sekarang, cobalah untuk percayakan hidupmu pada Mino.”

Sun melongo mendengar kalimat Appanya, bisakah? Bisakah dia melakukannya? Sun yang sudah mandiri sejak remaja, menghasilkan uang dari hasil kerjanya sendiri, tiba-tiba harus menyerahkan dirinya, mempercayakan hidup sepenuhnya pada Mino, suaminya? Dan apakah egonya mau menerima hal itu? Sun hanya mengangguk, sementara hatinya masih ragu,”Appa..?”

“Waeyo, Sunny?”

“Jangan ceritakan ini pada Mino, ya…. Please!”

Mr. Goo mencubit hidung Sun,”Apa pun maumu, Sunny. Apa pun.”

——— > *< ———

Siang ini terasa terik, udara musim panas di Seoul memang tak kalah ekstrim. Ibu kota sekaligus pusat bisnis di korea selatan ini memang selalu sibuk dengan suasana yang kurang bersahabat, apalagi untuk Sun yang kembali merasa mual setelah mencium bau kopi yang dia buat untuk Mr. Goo.

Dokter Lu masih sibuk dengan catatan kesehatan Sun, sementara pasien di depannya yang tak lain adalah Sun menunggu dengan penuh tanya. Dokter keturunan Cina itu tersenyum, sesaat tampak manggut-manggut. Sun jadi tambah heran dibuatnya. Beberapa menit yang lalu dia musti menjalani test laboratorium singkat, dan petugas-petugas itu hanya membutuhkan urinnya. Sun curiga, benarkah? Mengingat waktu datang bulannya yang tidak mudah dipegang, dia menepis anggapan itu, bahkan berharap hal itu tidak terjadi.

“Sepertinya saya perlu merujuk anda ke doker kandungan, Nyonya Lee.”

“Maksud anda?”

“Selamat, anda mengandung.” Dr. Lu mengulurkan tangannya. Sun bengong sejenak. Dokter muda itu agak menggerakkan tangan yang terulur untuk menarik respon Sun. “Gamsahamnida,” Sun akhirnya membalas jabat tangan itu.

“Apakah semuanya baik-baik saja, Dokter? Saya agak kawatir karena telah mengkonsumsi Morning after pill selama ini.”

“Oh, obat itu tidak menjadi masalah, Nyonya. Yang saya kawatirkan adalah kebiasaan anda meminum minuman beralkohol, dan sepertinya anda bangga dengan hal itu. Sedapat mungkin hindari minuman itu selama mengandung,” dokter itu menghela nafas,”Untung saja istri saya orang Indonesia, jadi dia tidak bermasalah dengan alkohol.”

Sun jadi geli mendengar curhatan dokter Lu. Istri dr. Lu memang orang Indonesia, mereka bertemu saat dr. Lu jadi relawan pasca gempa Jogja tahun 2006. Bisa dibilang hikmah cinta dibalik bencana. Sun pernah ingin mengangkat kisah ini di filmnya, tapi dr. Lu jelas-jelas tak mau jadi narasumber, alhasil urung juga niat itu.

“Ah, jangan berpikir tentang film itu lagi, Nyonya Lee,” tepat sekali tebakanmu dr. Lu. Memang Sun ingin merayumu lagi akan rencana film itu,”He he he, Mianhamnida, Dokter. Berapa usia kandungan saya ?”

“Kira-kira satu bulan, itulah kenapa saya akan merujuk anda ke bagian obsgyn agar lebih bisa memastikan. Sudah berapa lama anda merasa mual-mual?”

“Baru tadi pagi.”

“Berapa lama anda berhenti mengkonsumsi tablet kontrasepsi?”

“Kira-kira satu bulan lebih.”

“Hm, berarti benar perkiraan saya,” Dokter Lu berpikir sejenak. Dia menuliskan sesuatu di selembar kertas lalu menyerahkan kertas itu pada Sun.”Ini surat rujukan untuk anda, Nyonya Lee. Anda bisa langsung ke Dr. Kang sekarang.”

Hasil pemeriksaan Dr. Kang ternyata sama, Sun positif hamil dan umur kandungannya tiga minggu. Sun terlihat bingung saat harus menunggu obat di apotek. Sesekali tampak dia mengelus-elus perutnya. Di satu sisi dia bahagia akan kehamilannya, tapi di sisi lain angka-angka itu semakin mencekik leher saja jika mengingatnya. Sun menghembuskan nafas kuat-kuat,”Sepertinya aku harus siap bangkrut sekarang.” Dia mulai merogoh tasnya. Hal yang akan dia lakukan adalah menghubungi suaminya, tapi dia agak ragu akan hal itu, hingga dia memutuskan untuk mengirim pesan singkat, “HUSKY, AKU HAMIL”

“Yuhuuu…!” Mino menari-nari tak jelas saat menerima kabar itu. Dia yang memang lagi kosong menunggu giliran syuting langsung tak bisa menahan diri, akibatnya sutradara marah-marah setelah meneriakkan kata,”Cut!”

“Miane. Miane,” Mino membungkukkan badan demi meminta maaf. Dia segera menuju ruang pribadinya lalu menelphon Sun,”Baby, kau di mana?”

“Aku menunggu di klinik rumah sakit.”

“Perlu ku jemput?”

“Anyi, aku sedang menunggu jemputan manajemen.”

Mino tersenyum di balik telephon, ingin rasanya dia memeluk Sun saat ini,”Nanti malam kau langsung tidur saja, Baby. Jangan tunggu aku, kau harus banyak istirahat sekarang.”

“Ne, aku pergi dulu, sudah dijemput.”

“Baik-baik dengan anakku ya, Baby..”

“Ne..,” Sun mengakhiri pembicaraan lalu memasuki mobil van di depannya. Manajernya memandang heran. Sun membuang muka, dia memilih menikmati view luar saat mobil itu melaju. Sementara Mino masih di ruang pribadinya. Kali ini manajernya datang untuk mengantar makan siang,”Kenapa kau senyum-senyum sendiri?”

Senyum Mino jadi tambah lebar, dia segera membuka bungkusan nasi di depannya,”Sun sudah makan belum, ya?” tiba-tiba Mino memikirkan hal itu. Dia lupa menyuruh istrinya itu makan siang di telephone tadi,”Manajer, jam berapa aku bisa pulang ke apartemen?”

“Kira-kira jam sebelas malam, kenapa?”

Mino memajukan bibirnya, dia sudah tak sabar bertemu Sun dan mengelus perutnya.

“IPO melonjak,”kata manajer itu setelah menekuri koran di depannya. Mino menoleh ke arahnya,”Kapan mereka membagikan devident?”

“Kira-kira awal tahun depan, kenapa?”

“Aku ada rencana dengan uang itu, tapi tidak begitu yakin, harus kudiskusikan dengan Sun dulu.” Mino mulai melahap makan siangnya setelah mengingatkan Sun untuk makan siang lewat SMS.

——- < * > ——

Waktu telah menunjuk pukul dua belas malam, saat Mino sampai di apartemennya. Didapatinya Sun sudah tidur di ranjang mereka. Mino memandang wajah pulas itu lekat-lekat, lalu duduk di samping Sun. Digapainya tangan Sun, mencium buku-buku jari lentik itu lalu pandangan matanya terarah pada perut Sun. Mino tersenyum.  Tangan kanannya beralih ke perut Sun sementara tangan kirinya masih menggenggam tangan Sun, lalu dia menundukkan wajahnya dan mencium perut itu lembut. Perlakuan tersebut membuat Sun terbangun,”Sudah pulang?”

“Miane mengganggu tidurmu, Baby,” sesal Mino.

“Gwencana, mau kubuatkan teh hangat?”

“Tidak perlu, aku sudah banyak minum tadi,” Dia mencium kening Sun.”Gomawo, Baby. Ini adalah hadiah terindah bagiku.”

Sun tersenyum. Mino mengecup bibir yang tersenyum itu dengan lembut, “Sekarang kau kembali tidur, ya… Jangan perdulikan lagi suamimu ini. Aku bisa mengurus diri sendiri,” bisiknya di telinga Sun. Sun menutup kembali matanya untuk menuruti perintah Mino padahal pikirannya masih tertuju pada angka-angka itu. “Appa…., aku benar-benar membutuhkan uang itu sekarang….,” bisik hati Sun.

 

Bersambung part 2

BEHIND THE SHINING STAR II

Perempuan paruh baya itu tersenyum, sementara matanya masih awas menatap jalan yang membentang di hadapan. Tangan yang masih luwes berkendara di tengah padatnya lalu lintas malam. Wajah itu masih saja cantik di usia senja, pantas saja jika suami tercinta memanggilnya ‘B-lady’, singkatan dari beautifull lady dan suasana hati yang bahagia semakin membuatnya manis menampakkan lesung pipit itu. Bahagia mengingat minggu depan adalah ulang tahun suaminya. Di angannya telah berderet serangkaian rencana, dan yang membuatnya bersemangat malam ini adalah ‘Pesta kejutan’.

Itulah yang menyebabkan B-lady mengendarai mobilnya malam ini. Pesta kejutan ini tidak mungkin berhasil tanpa campur tangan putrinya. B-lady tahu betul itu mengingat sang putri telah diakui sebagai sutradara muda dan aktris berbakat di Korea Selatan. Dia akan mendiskusikan scenario kejutan yang telah direncanakannya itu dan keikutsertaan putrinya itu di apartemennya.

B-lady tahu putrinya pasti akan sangat iri dengan rencananya. Anak itu memang selalu iri padanya. Iri karena nasibnya yang beruntung, iri akan keanggunannya dan yang terakhir iri karena ayahnya sangat mencintainya. Masih jelas dalam ingatannya saat anak itu berkata,”Aku akan mencari pria seperti Appa, yang selalu cinta sama Oemma sampai tua.”

Senyumannya semakin lebar saja, kali ini dibarengi dengan perasaan geli. Ah! anak itu ada-ada saja. Lalu siapa yang dia pilih sekarang? Putra politisi dia tolak. Atlit basket? Dia enggan. Dan yang terakhir…aktor Ninja assassin? Dia menggeleng! Padahal  aku sudah sangat setuju jika pria itu jadi menantu, B-lady masih saja tak habis pikir akan putrinya. Dan wajahnya makin sumringah saat mobil yang dikendarai telah memasuki area apartemen putrinya.

B-lady segera memasuki gedung apartemen. Suara sepatu tumit tinggi terdengar karena B-lady berjalan cepat dan mantap. Dia harus menggunakan lift mengingat apartemen putrinya merupakan penthouse di lantai teratas gedung itu. Penjaga apartemen tersenyum padanya. B-lady memang sudah terkenal di apartemen itu. Saat pintu lift terbuka, dia segera masuk, masih dengan rencana pesta kejutan di kepalanya.

Lift sudah setengah jalan menuju penthouse, namun pintu lift terbuka. Beberapa orang memasuki lift. B-lady harus agak menyusut untuk memberikan ruang pada orang-orang itu. Senyum  manis masih tersungging di bibir, wajahnya yang cerah membuat mereka membalas senyum.

B-lady segera ke luar lift saat lantai yang di tujunya tiba, dia segera melangkah ke pintu apartemen putrinya, lalu memencet bel. Bunyi bel terdengar. “Shit! Siapa itu?” tampang pemuda itu tampak sangat frustasi.

B-lady keheranan, semalam ini putrinya belum pulang juga. Dia mencari sesuatu di dalam tas. Ternyata sebuah kunci. Dia segera membuka pintu apartemen, mencopot sepatu lalu mengganti dengan sandal rumah dan segera masuk ke ruang tamu. Sesaat dia mengamati suasana ruangan yang gelap itu. Dia mencari-cari stopkontak, menyalakan lampu ruangan lalu duduk di sofa, menanti kepulangan putrinya.

B-lady mulai membuka majalah. Sesekali dia memandang arlojinya. Dengan sabar dia menunggu. Bacaan di tangannya semakin menarik perhatian.

B-lady terkejut, teriakan dari arah kamar terdengar lagi. Dia segera berdiri. Kekawatiran segera menjalar di hatinya, rupanya dia salah. Putrinya di dalam kamar. “Sun pasti terjatuh, pasti berjalan sambil tidur lagi lalu terjatuh.” Dia segera berlari dan membuka pintu kamar lebar-lebar.

“Sun !” lady anggun itu memekik.

“Oema…” Sepasang kekasih itu menoleh ke arahnya. Pemuda tampan itu segera menarik selimut yang terkesiap untuk menutupi tubuh mereka lalu melepaskan diri dari posisi yang tidak enak dilihat.

B-lady sungguh tidak mempercayai pemandangan di hadapannya. Tangannya menutup mulutnya sementara langkahnya semakin menyusut ke belakang, dia berbalik dan berlari keluar apartemen Sun. Hatinya serasa perih dan marah, tidak disangka putri kebanggannya itu bertingkah demikian. Dia memasuki mobil dengan kasar, masih tak habis pikir dengan jalan pikiran Sun, Apa yang kau bisa dapat dari pemuda itu, Sun! Hanya artis yang baru naik daun, agamanya saja tidak jelas! Batinnya merutuki Sun. Dia memukul kemudi di depannya lalu menjalankan mesin dan segera pulang dengan hati dongkol.

====àóß====

Lion Bar sangat sibuk. Para pelayan mondar-mandir melayani pengunjung, sementara kelima bartender yang bertugas tampak memperlihatkan aksinya. Turis-turis asing terlihat di seantero ruangan. Musik yang terdengar sangat norak dan memekakkan telinga, membuat muak orang-orang alim, namun tentu tidak bagi mereka yang terbiasa dengan hiburan macam ini. Tampak beberapa pengunjung telah terkapar, entah sudah sampai di mana khayal mereka mungkin sudah sampai langit ke tujuh, padahal jelas-jelas raga mereka masih teronggok tak karuan di beberapa sudut bar itu, termasuk di antaranya pemuda jangkung yang menelungkupkan kepalanya di meja bartender. “Hei, Tuan, kau sudah sangat mabuk,” kata bartender di depannya.

“Ah, jangan mengoceh, tuang lagi di gelasku!”

Bartender itu tampak ragu menuruti perintahnya, wajahnya yang tampan segera mengeras,”Apa yang kau tunggu! Cepat berikan!”

Bartender itu menyerah juga, dia menuangkan cairan kuning keemasan ke gelas yang tersodor  dan segera ditenggak oleh si pemuda mabuk dengan sekali teguk lalu dgebrakkannya gelas itu di atas meja bersamaan dengan mendaratkan kembali kepalanya. Dengan posisi itu, dia masih memukul-mukulkan gelas itu di atas meja, sementara pikirannya mengutuki diri sendiri, dasar brengsek! Diantara banyak profesi kenapa harus itu yang ku pilih? Dan orang-orang itu seenaknya menekan dengan target, kenapa hidup hanya diukur dengan sederat angka? Angka-angka yang brengsek! Target-target yang munafik! Sang bartender cuma geleng-geleng kepala.

Di sebelah kiri pemabuk itu, dua orang gadis memperhatikannya, pakaian minim membalut tubuh keduanya, dan dari penampilan mereka, tentu pria alim akan menjauhkan diri. Mereka sangat terpesona dengan wajah tampan itu. “Hei, bukankah itu Lee Min Ho?” tanya salah satu dari mereka ke yang lain. Gadis yang ditanya semakin menyipitkan mata,”Sepertinya begitu. Kenapa aktor seperti dia bisa kacau begitu?”

“Entahlah, mungkin gagal casting.” Keduanya tertawa bersama. Seorang turis yang tengah mabuk berat menghampiri mereka,”Hay ladys, enjoy this night with me!”

“Thank you, sir. But we are not interesting,” tolak salah satu dari mereka. Sang turis tidak terima dan langsung mencengkram gadis satunya. Salah satu pria asing yang masih sadar dan merupakan teman dari turis mabuk itu berusaha menenangkannya,”James, stop it! We are foreigner here.”

“Fuck you, Nick !” temannya menolak, malah semakin menarik gadis malang itu ke arahnya dan berusaha menciumi. Pemuda jangkung yang disebut Lee Min Ho tadi mulai mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah keributan kecil itu. Dengan gontai dia menuju ke arah mereka lalu berusaha melepaskan gadis itu,”She said not interesting!”

James semakin berang dan melayangkan tinjunya ke pemuda jangkung tersebut. Mendapat perlakuan demikian, dia tidak terima dan membalas pukulan, perkelahian pun terjadi. Kedua gadis itu berteriak. “O My God.” sesal Nick berusaha melerai. Dan akhirnya sebuah botol yang dipegang oleh pemuda itu melayang ke atas kepala James hingga pecah dan korban segera rubuh. Nick  terkejut, tangannya reflek menepuk pemuda kalap itu, malang baginya botol pecah yang dipegang pemuda itu mendarat keras ke perutnya. Darah segar tampak merembes di baju Nick. Tubuhnya roboh di tempat. Jeritan-jeritan makin keras terdengar, menyadarkan  kekalapan pemuda itu. Dia segera melarikan diri. Keluar dari bar gila itu dengan langkah lebar, sementara orang-orang tidak memperhatikannya tapi malah panik dengan keadaan kedua korban.

=====àóß=====

Detektif Han menghela nafas, kasus ini sangat membingungkan, sementara kesibukan di kantor polisi itu makin menggila saja, suara telephone dan mesin ketik bersahutan, belum lagi umpatan para pesakitan itu saat diinterogasi, sungguh pagi yang buruk mengingat semalam tidurnya kurang pulas akibat telephone mendadak akibat kasus ini.

“Dua orang turis asing,” ujar asistennya, Hoo Kie.

”Orang Amerika!” sambung Han.”Ini akan menjadi kasus besar, menyangkut dua negara, apalagi Korea sedang giat-giatnya promosi wisata. Sungguh tidak bisa dipercaya.”

Hoo Kie membolak-balik arsip di depannya.

“Ada petunjuk lain?” tanya Han. Hoo Kie menggeleng.

“Yakin?”

“Ya!”

“Sidik jari atau kesaksian?”

“Nihil! Sepertinya orang itu memakai sarung tangan, kau tahu kan semalam  udara Seoul sangat dingin?”

“Lalu, apakah tidak bisa mengorek keterangan dari saksi?”

“Kita agak kewalahan akan hal itu.”

“Apa maksudmu dengan kewalahan?”

“Lion Bar berusaha melindungi semua yang bertugas  malam itu, jika kita mau saksi, kita harus berhadapan dengan tim pengacara mereka.” terang Hoo Kie.

“Hah! Benar-benar tak dapat dipercaya!” sekali lagi Han mendengus.”Lalu bagaimana dengan pengunjung?”

“Tetap nihil, sepertinya mereka terlalu individualis malam itu. Kita hanya bisa menunggu para korban sadar lalu kita bisa mengenali pelaku dari sketsa wajah.”

“Bisa diperkirakan kapan mereka sadar?”

“James Howl sudah sadar pagi ini, tetapi sepertinya semalam dia terlalu mabuk untuk mengenali pelaku,” jawab Hookie,”Harapan kita tinggal korban satunya, Nick Stollen.”

Han merebut file yang ada di tangan Hookie. Sesaat dia telusuri tulisan yang ada di lembar catatan kesehatan Nick, keadaan turis asing itu lebih parah, darah terus keluar dari lubang tusukan, dan perlu tranfusi, Han mulai menghitung berapa hari kemungkinan Nick tersadar. “Rupanya memang tidak ada cara lain, aku harus minta bantuannya.”

===à< = >ß===

“Kau yakin?” tanya Mino. Sun mengangguk,”Biar aku yang menjelaskan semuanya pada oemma.” Sun menuangkan orange juice ke dalam gelas lalu menyodorkannya di depan Mino “Apa acaramu siang ini?” Pertanyaan itu untuk mengalihkan pembicaraan. Mino meneguk orange juice di tangannya saat sandwich itu mulai menyumbat kerongkongan, “Seperti biasanya, syuting seharian. Kau sendiri?”

“Survey lokasi setelah ke rumah Appa.”

“Sebenarnya mau apa B-lady menemuimu?” Mino masih saja memutar arah pembicaraan. Sun memijit-mijit pelipisnya, “Entahlah,” Mino meraih tangan Sun, dia genggam tangan mungil itu seakan memberikan kekuatan di sana,”Kau yakin tidak mau kutemani?”

Sun tersenyum,”Setelah kejadian semalam, terus terang aku tidak tahu lagi apa yang harus kuperbuat.”

“Karena itu ijinkan aku menemanimu,” Mino memohon.

“Dan kau pasti akan diusirnya,” Sun terkekeh. Kening Mino berkenyit,”Oemmamu tidak menyukaiku?” Sun tidak menjawab, dia memandang ke arah jendela, suasana di luar terlihat teduh.

“Kenapa oemmamu tidak menyukaiku?” pertanyaan itu mengagetkan Sun. Sun memandang arlojinya,”Sudah jam sembilan, semalam kau bilang ada syuting jam sepuluh. Berangkatlah, kau pasti sudah ditunggu.”

Mino menghela nafas, dia mulai berjalan mendekati Sun lalu mencium kening, pipi, dan terakhir bibir kekasihnya itu,”Aku akan menelphonmu nanti malam, dan bila ada waktu, aku akan ke sini.” Sun tersenyum menghantarkan kepergian Mino dari apartemen itu.

Dan sekarang di sinilah Sun, di dapur B-lady bersama oemmanya itu yang telah mencuekkannya sejak tiga puluh menit yang lalu. Oemmanya masih saja sok sibuk dengan masakan, sementara Sun masih melamunkan kebersamaannya dengan Mino tadi pagi. Seperti yang telah dikatakannya pada Mino, dia memang tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan saat ini.

“Huh! Kenapa kaleng ini tidak berubah sejak sepuluh tahun yang lalu?” B-lady jengkel karena kesulitan membuka kaleng sarden, dia memukul-mukul kaleng itu sampai peyok, lalu melemparnya. Sun terkejut, jelas sekali Oemmanya marah bukan pada kaleng sarden, tapi pada dirinya. Sun memungut kaleng sarden itu lalu mulai membukanya dengan alat pembuka kaleng. B-lady menghela nafas,”Kau bilang tidak ada hubungan dengannya.”

Sun tersentak, pembuka kaleng hampir terjatuh dari tangannya. B-lady menatapnya tajam,”Lalu yang semalam itu apa?”

“Mianhamnida, Oemma,” ujar Sun lirih.

“Kau!” B-lady menunjuk ke arah Sun,”Sebenarnya apa yang kau lihat dari lelaki itu, Sun! Sudah berapa kali kalian melakukannya?” Sekali lagi Sun tersentak. B-lady memandangnya dengan penuh tanda tanya dan dia mulai bisa menebak jawaban yang akan diberikan putrinya,”Kau tahu apa sebutan yang bisa Oemma berikan untukmu? Pelacur!”

“Oemma?” Sun sungguh tidak mempercayai kata-kata B-lady.

“Ya, pelacur. Maaf jika Oemma terlalu keras tapi memang hanya itu yang bisa Oemma pikirkan, kau mau Oemma menyebutmu apa? Wanita simpanan? Oh, tidak bisa, Sun, wanita simpanan pasti sangat kaya karena mendapatkan apa saja dari pria yang dikencaninya, sedangkan kau…. Kau masih saja harus bekerja keras dengan film-film dan lukisanmu, sementara lelaki itu seenak jidatnya menemuimu di waktu luangnya dan kau dengan senang hati membuka kakimu untuknya, kau tahu  sebutan yang pantas? Apa lagi kalau bukan pelacur!”

“Oemma!” Sun berteriak sekarang. Air mata mulai mengalir di pipi, sementara tangan kanannya membekap mulut. Dia terisak, tak disangka B-lady mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan. Sejak kecil memang dia sering beradu mulut dengan oemmanya, tapi kali ini pernyataan itu adalah hal yang paling menyakitkan yang keluar dari mulut Oemmanya.

“B-lady, I am home…” teriak suami B-lady saat memasuki dapur. Lelaki paruh baya itu heran saat melihat Sun menangis, sementara B-lady terkejut dengan kepulangan suaminya yang tiba-tiba, dalam otaknya mulai mencari-cari alasan untuk menjawab pertanyaan suaminya itu kelak, suaminya sangat menyayangi Sun, diantara kedua putri mereka, Sun-lah yang paling suaminya sayang, dan dia tidak mungkin membuat suaminya kecewa dengan menceritakan kejelekan Sun, hubungan rahasia itu, yang seantero Korea sudah dianggap rahasia umum bahkan fakta, tapi bodohnya dianggap gossip oleh mereka karena sangat mempercayai Sun.

“Waeyo, Sunny?”

Sun memandang Appanya nanar, dia tidak sanggup menjawab pertanyaan itu, sementara bahunya bergerak-gerak selaras dengan isakkannya, dia sudah tidak sanggup dengan tatapan itu, hatinya sangat pedih, hingga akhirnya diputuskan untuk berlari meninggalkan ruangan itu. Dia berlari keluar dari rumahnya, menjalankan mobil secepat-cepatnya demi menghindari pertanyaan lebih lanjut dari Appanya, orang tua yang selama ini sangat membanggakannya itu.

=====à < = > ß=====

Detektif Han tertawa melihat penampilan temannya, pria di depannya terlihat sangat necis dengan kemeja yang terselip rapi di celana dan jas yang sangat serasi dengan kemeja itu, rambut pria ini sangat stylist, dan Han semakin ngakak melihat celanannya, celana pensil.

“Ha ha ha, terus saja tertawa,” pria di depannya merasa diperolok. Dengan susah payah, Han menghentikan tawa. Gedung kosong itu tampak tak terawat, dan hanya orang gila saja yang mau mengadakan pertemuan di tempat ini, tapi tempat bobrok inilah yang paling aman untuk pertemuan keduanya.”Apa yang kau dapat?” tanya Han. Pria stylist itu menyerangai,”Apa yang kau beri?”

Han menarik sudut bibirnya,”Kau perhitungan sekali!”

“Kau sudah berjanji, lagi pula kasus ini bukan prioritasku, aku sedang menangani pembunuhan gay,”terang pria itu. Itulah sebabnya polisi yang satu ini berpenampilan demikian, rupanya dia sedang menyamar untuk penyelidikan. Detektif Han selalu kesulitan dengan penyamaran karena tampangnya yang terlalu serius dan para penjahat itu langsung bisa mencium aroma polisi dari tubuhnya, maka dia meminta bantuan temannya itu. Han mengeluarkan sesuatu di balik mantelnya lalu menyodorkan ke arah pria itu.

“Apa ini?” tanya sang ahli menyamar.

“Dua tiket ke Haway, anggap saja ini bantuanku agar kau bisa berkencan dengan pasangan gaymu,” sekali lagi Han tertawa.

“Kau!” pria itu memukul bahu Han, Han meringis kesakitan.

“Get it or not?” Han merebut dua tiket itu. Pria itu terkejut dan cepat merebutnya kembali,”Seorang actor.”

“Apa kau bilang?”

“Pelakunya adalah actor.”

“Actor!”

“Ya, itu yang aku dapat.”

“Siapa?”

“Mereka bilang tubuhnya jangkung.”

“Hah, kau kira berapa banyak actor jangkung di Korea ini?” hardik Han,”Yang kau katakan sangat konyol.”

“I don’t care. Hanya itu yang ku dapat. Setidaknya kasus ini besar, korbannya warga negara asing dan pelakunya actor local, kau pasti akan naik pangkat jika berhasil memecahkan kasus ini. Senang berbisnis denganmu, Han,” pria stylist itu  berlalu.

“Hai, hai!” Han memanggil pria itu, tapi yang dipanggil tidak menghiraukannya, hanya melambaikan tangan dan tetap meninggalkan tempat itu. Ponsel Han berdering dan segera diangkat.

”Nick Stollen sudah sadar,” kata Hoongkie di ujung telephon. Han melonjak girang,”Lakukan sketsa wajah secepatnya.”

“Akan kita usahakan, semoga tim medis mengijinkan kita melakukan itu mengingat keadaan Nick.”

“Terserah, yang penting pelaku segera dikenali,” seloroh Han. Dia tiba-tiba merasa penasaran. Seorang actor! Hm, actor jangkung? Siapa? Mungkin benar kalau ini akan jadi kasus besar.

=====à< * >ß=====

Sehari sudah semenjak pertengkaran Sun dengan B-lady. Sun terlihat sangat tidak bersemangat pagi ini, semua pekerjaan dijalaninya dengan setengah hati, bahkan semalam dia sudah melarang Mino menemuinya, dia tidak ingin Mino melihat wajah sedihnya, dia berbohong ketika Mino menelephon, mengatakan bahwa hubungan dengan Oemmanya tetap baik-baik saja.

Hari merangkak siang, percuma Sun tetap memaksakan diri bekerja, sangat susah berkonsentrasi, akhirnya dia mendatangi Manolin Café, menghibur diri dengan menjadi barista di café miliknya itu. Seorang wanita karir terkejut melihatnya, hal langka bagi wanita ini dilayani oleh artis sekaligus pemilik café,”Anda tidak sibuk siang ini?”

“Seperti yang anda lihat,” jawab Sun.

“Bisa berikan saya Coffelatte?”

“Tentu,” Sun menjawab dengan menampakkan lesung pipitnya dan segera membuatkan pesanan.

“Bisa ganti saluran tv-nya dengan siaran infotainment?” pinta wanita itu lagi saat Sun menyajikan pesanannya.”Infotainment? Anda suka acara itu?”

“Iya, siapa tahu ada Anda di sana?”

Sun menurutinya, saluran TV segera menayangkan acara infotainment. Para pengunjung café mulai menoleh ke layar televisi. Sun tersenyum saat satu persatu berita dari teman sesama artis muncul. Semua kaget saat sebuah berita yang akhirnya terpampang,

“Aktor LMH ditangkap di apartemennya atas sangkaan penusukkan terhadap turis asing.”

Wanita karir itu berbalik ke arah Sun,”Menurut Anda, apakah dia benar melakukan itu?”

“Siapa?”

“Lee Min Ho,” jawab wanita itu sembari menunjuk TV. Sun mengikuti arah telunjuk itu dan menyadari semuanya. Serta merta Sun memperhatikan berita itu lebih seksama, dan dia mulai gugup. Sun segera menuju ruang pribadinya di Café itu, perasaannya tidak karuan, berjalan mondar-mandir sambil menggigiti kuku.”Tidak mungkin, itu semua tidak  mungkin, malam itu dia bersamaku….. Bumie! Ya, Bumie, aku harus menelphon Bumie.”

“Bumie!” seru Sun saat ponselnya terhubung.

“Oh, ya, Noona, aku sudah mendengar kabar itu,” rupanya Bumie sudah tahu maksud Sun menelphon.

“Itu tidak mungkin. Malam itu Mino ada bersamaku!”

“Aku kurang tahu dengan kasus ini, Noona. Tapi aku berencana menemuinya di penjara siang ini.”

“Aku ikut! Aku harus mengatakan pada polisi yang sebenarnya.”

Bumie diam sebentar,”E… aku tidak tahu, Noona, tapi… tidakkah hal itu akan membongkar hubungan yang kalian rahasiakan selama ini?”

“Persetan dengan semuanya!”

“Aku kenal Mino, Noona. Dia pasti tidak setuju.”

“Tidak peduli! Aku harus menemuinya!”

Bumie semakin gusar,”Begini saja. Noona ke kantor polisi dengan memakai mobil orang lain, terserah mobil siapa asal jangan mobil Noona, tapi jangan langsung masuk, tunggu di tempat yang agak jauh dari kantor polisi. Biar aku yang menemui Mino dulu, sebenarnya aku tidak yakin Mino mau Noona temui, biar aku pastikan dulu, jadi tunggu aku untuk menjemput. Araso!”

“Apa saja, aku ikut saja, Bum.” Jawab Sun. Bumie menghela nafas,”Tenanglah di sana, Noona. Jangan gegabah.”

=====à < * > ß=====

“Mino, kau harus memikirkan semua ini. Ini adalah alibi yang sangat kuat!” ujar Manajer Mino. Bumie yang ada di ruangan itu tampak gusar, sepuluh menit yang lalu Sun mengirim SMS bahwa dia sudah menunggu di dalam mobil, di pertigaan sekitar tiga ratus meter dari kantor polisi.

“Sido!” tolak Mino. Bumie menghela nafas,”Benar kata Manajer. Dengan mengatakan bahwa kau bermalam bersama Sun waktu itu, kau segera bebas dari tuduhan.”

“Kau bodoh, Bum. Oke, aku mengatakan kalau aku bersama Sun, lalu mereka menanyai Sun, Sun mengiyakan, dan tidak sampai di situ saja, wartawan-wartawan brengsek itu akan bertanya lebih lanjut, lalu mau ku jawab apa? Bercinta semalaman dengannya? Dan bagaimana nasib Sun setelah itu? Kalian pernah memikirkan itu?”

Mino memijit pelipisnya, dia tidak pernah menyangka kejadian ini menimpa dirinya. Menjadi tersangka penusukkan turis asing hanya karena sketsa wajah.”Aku boleh saja hancur, asal jangan Sun. Jalan Sun masih sangat panjang!”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya sang manajer.

“Ah, kau manajer bodoh, bisa-bisanya kau bertanya padahal itu tugasmu,” hardik Bum. Manajer itu mendelik ke arahnya,”Pihak manajemen sudah menunjuk pengacara, tapi jika pengacara itu tahu alibi ini, dia pasti juga akan menggunakannya.”

Mino memejamkan mata, perkataan manajer itu ada benarnya juga, sekarang bagaimana caranya agar pengacara itu tidak tahu,”Aku akan menjadi Goo Jun Pyo. Goo Jun Pyo menyelesaikan semuanya dengan uang.”

Bumie terkekeh, perkataan sahabatnya ini terdengar konyol,”Jangan melucu, Mino-ssi. Ini bukanlah serial drama.”

“Kita sudah hidup di dunia itu. Di situ ada aktor dan sutradara, untuk sementara biarkan aku menjadi sutradara sekaligus aktor untuk keluar dari kasus ini,” pinta Mino. “Pak manajer, tawari turis itu dengan sejumlah uang agar mau berdamai.”

“Kau gila, Mino-ssi. Mereka orang Amerika, sudah pasti mereka langsung berlindung di kedutaan besar Amerika!” tolak sang manajer.

“Itulah sebabnya aku menyuruhmu, kau pintar bernegosiasi.”

Ponsel Bumie berbunyi. Sun mengirim pesan untuk ke sekian kalinya. Dia semakin gusar. “Siapa itu?” tanya Mino.

“Hye Sun  Noona,” jawab Bum,”Dia menunggu di pertigaan seberang.”

“Pabo!” teriak Mino. Bumie menghempaskan punggung di sandaran kursi.”Telephon dia sekarang, bilang agar tidak bertindak yang macam-macam,” perintah Mino.

“Dia hanya ingin menemuimu!”

“Anyi! Katakan saja aku tidak bisa ditemui, sedang ada pertemuan dengan pengacaraku, apa saja agar dia segera pulang!”

Bumie melakukan apa yang diperintahkan Mino. Dia menjauhkan diri dari Mino dan manajernya untuk menelphon Sun. Sementara Mino dan manajer itu meneruskan permbicaraan,”Seperti yang ku bilang tadi tawari mereka uang, aku rela kehilangan apa saja agar mereka mau melepas kasus ini.”

“Jika mereka tidak mau?”

“Tekan mereka agar mau menerimanya.”

“Maksudmu aku harus bekerja sama dengan geng seperti Woo bin dalam BOF?”

“Oh my God, Manajer! Mereka turis asing, cari kelemahan mereka, ijin tinggal, visa yang habis masa, atau apa saja!” Mino semakin tidak sabaran, tidak biasanya manajernya ini begitu lamban berpikir.

“Araso! Araso!” sahut manajer. Mino menarik ujung bibirnya. Bum yang sudah selesai menelphon Sun kembali di antara mereka,”Sangat sulit meyakinkannya, tapi akhirnya dia mau mengerti setelah aku bilang kalau akan menemuinya setelah ini.”

Kini giliran Mino menyandarkan diri di kursi,”Bilang padanya aku tidak mau ditemui selama di penjara.”

Bumie mengangguk. Mino memerintah lagi,”Bilang juga padanya agar tidak bicara apa pun mengenai pertemuan kami yang terakhir!”

===è……ç===

Sun berbaring di sofa, sementara peñata rias bekerja, mempermak wajahnya yang pucat agar terlihat lebih segar. Beberapa hari terakhir memang kesehatannya agak terganggu, dia merasa mual bahkan sesekali pingsan, dan yang terparah, dia pernah pingsan di hadapan B-lady, B-lady memang mendatangi apartemennya kemarin dan menekan Sun agar memutuskan hubungan dengan Mino. Saat itu B-lady mengira Sun hamil, Sun bahkan harus menggunakan test pack di depan oemmanya itu hanya untuk meyakinkan kalau dia tidak hamil.

Di Hall room, para wartawan sudah berkumpul menanti kehadiran Sun, hari ini memang diadakan Confrensi press untuk menjawab simpang-siurnya berita antara Sun dan Mino. Sun sebenarnya  tidak menyetujui acara ini, tapi pihak manajemen meyakinkannya kalau hal ini harus dilakukan, sebab jika dia tetap diam, beberapa pihak sponsor filmnya diindikasikan dapat memutuskan kontrak kerja.

Sementara di ruang pengunjung, di kantor polisi, Bumie dan Mino menatap layar HP Tv. Menanti-nanti dengan cemas acara tersebut. Beberapa kali Mino berjalan mondar-mandir di ruangan itu lalu duduk lagi.

“Hai, diamlah, Kau membuatku tambah panik,” Bumie memandangnya risih. Mino mendengus,”Kenapa harus ada confrensi press? Kau bilang dia sudah janji tidak bicara apa pun!”

“Kau pikir sangat mudah bagi dia, hah! Beberapa sponsor mengancamnya untuk membatalkan kerja sama, manajemen menekannya untuk melakukan ini!”

Mino merebut HP TV dari tangan Bumie,” Belum mulai juga.”

“Jangan kawatir, dia janji tidak akan banyak bicara, di sini nanti manajernya yang akan lebih banyak bicara,” jelas Bumie.

Sun masih berkutat dengan riasan wajahnya. Sesekali peñata riasnya mendengus, agak susah menyembunyikan pucat di wajah Sun kali ini, sementara angan Sun mengingat-ingat kembali pertemuannya dengan Bumie setelah dia gagal menemui Mino beberapa hari yang lalu.

“Apa dia sudah gila?” pekik Sun. Bumie menyandarkan punggung di sofa ruang tamu apartemen Sun. Dia sudah menduga reaksi Sun akan seperti ini. “Hanya ini yang bisa mengeluarkannya dari semua tuduhan,” Sambung Sun lagi.

“Noona pikir sudah berapa kali aku meyakinkannya, bahkan manajernya pun berang. Oh ya, satu lagi, dia melarang Noona menemuinya di penjara.”

“Sidho!” Sun benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Mino. Dia meraih tas selempangnya dengan cepat. Bumie terkejut,”Noona mau kemana?”

“Antarkan aku menemuinya!”

“Anyi! Sudah jelas dia tidak mau Noona temui!”

“Baik, aku akan menemuinya sendiri!” teriak Sun sembari mulai melangkah pergi. Dan saat dirinya hampir mendekati pintu…… .”Huh, kenapa harus aku yang selalu diantara kalian.”

Sun menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan memandang ke arah Bumie,”Apa katamu?”

“Aku bilang kenapa harus aku yang selalu diantara kalian!” Bumie terlihat sangat jengkel. Sun semakin tidak mengerti.

“Kau tahu, kan? Konser Joongie, pemutaran perdana filmmu, dan yang terakhir…. Kasus konyol ini! Kenapa bukan Joongie? Kenapa bukan Joon! Bukan aku saja yang tahu hubungan kalian!”

Sun tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bumie memangilnya dengan ‘kau’ seumur-umur baru kali ini dia mendapati Bumie semarah ini. Aku pasti sudah sangat menyusahkan, pikir Sun.

Bumie berdiri, dia berjalan ke arah Sun, menekan dengan kuat bahu Sun dengan ke dua tangannya,”Jadi, jika kau masih ingin seorang Bumie membantumu…. Lakukan perintahku!”

“Dia memerintahmu untuk tidak menemuinya di penjara. Dan aku juga perintahkan itu. Dia mau kau tutup mulut tentang malam pertemuan kalian yang terakhir, dan aku juga…. Aku juga perintahkan itu. Araso!” Bumie menggoncang-goncang tubuh Sun. Sun tertegun di tempat, dan butir-butir bening mulai menggenang di pelupuk matanya. Sun menyusut ke lantai, bersimpuh di hadapan Bumie dengan kedua tangan membekap mulutnya. Bumie berjongkok dan memeluk tubuh yang gemetaran itu,”Miane, jeongmal miane, Aku mohon berjanjilah, ini demi kebaikan kalian berdua, aku mohon….”

Diantara isakan itu, akhirnya Sun mengangguk lemah.

Sun menghela nafas, wartawan-wartawan itu sudah di depannya sekarang. Sementara manajernyalah yang selalu menjawab pertanyaan. Akan tetapi mereka tetap saja merasa kurang puas. Sang artis hanya berdiam diri, menatap dengan pandangan kosong.

“Hye Sun-ssi, apa komentar anda tentang kasus Mino-ssi?”

“Hye Sun-ssi, benarkah kalian selama ini berhubungan?”

Hye Sun-ssi, Hye Sun-ssi dan Hye Sun-ssi! Mereka tetap saja memojokkannya dengan sederet pertanyaan, “Hye Sun-ssi ada yang melihat Mino berada di apartemen anda waktu itu.”

Kali ini Hye Sun mulai bergerak, tapi ekspresi wajahnya tetap datar. Mino dan Bumie yang mengikuti acara itu di kantor polisi mulai tegang. Sementara B-lady yang juga melihat ekspresi Sun dari monitor TV mengkernyitkan alis.

“Apa-apan ini? Sudah jelas-jelas Sunny tidak ada hubungan dengan lelaki itu, mereka masih saja merepotkan. Bikin Sunny-ku stress saja!” Mr. Goo yang duduk di samping B-lady semakin ngomel. B-lady melirik, suaminya masih belum tahu tentang rahasia itu. Aku harap kau segera memutuskannya, Sun, batinnya penuh harap.

“Bukankah ini alibi kuat buat Mino-ssi jika semua ini benar dan anda mengatakannya?” wartawan itu menanyainya lagi.

Sun memandang ke arah wartawan itu. Jepretan blitz kamera sesekali menerpa wajahnya. Tangannya mulai bergerak ke arah mic. Mino yang melihat itu menahan nafas. Tangan Bumie mengepal, berharap Sun tidak melanggar janjinya. B-lady tampak pucat di tempatnya dan Mr. Goo masih saja mengomel.

Sun menghentikan tangannya, ekspresi wajahnya masih tak tertebak.

“Dalam hubungan ini kaulah yang memimpin,” dia teringat kata-kata yang diucapkannya pada Mino. “Selamanya aku tak akan melepaskanmu,” Mino seakan berbisik di telinganya. Sun menggerakkan tangannya lagi.

“Kenapa harus aku yang selalu diantara kalian?” teriakan Bumie kembali melintas di otaknya. Sun mulai meraih micnya.

“Jika kau masih ingin seorang Bumie membantumu,” sekali lagi pikiran Sun terganggu,”Dia mau kau tutup mulut tentang malam pertemuan kalian yang terakhir!……Araso!”

Sun memejamkan mata. Mino terduduk dengan tangan kanan menekan pelipisnya. Bumie mulai meletakkan HP TV itu di atas meja. B-lady semakin pucat.

“Seperti yang selama ini saya katakan… saya tidak ada hubungan dengannya.”

Mino dan Bumie melonjak girang. B-lady menghela nafas lega. Mr. Goo menari-nari tak jelas,” Jawaban yang cerdas, Sunny!”

Sun tersenyum manis,”Tuduhan terhadap saya salah alamat.”

Sun berdiri saat para kuli tinta itu masih ingin melontarkan pertanyaan, dari bahasa tubuh Sun, terlihat dia segera meninggalkan ruangan. Pihak manajemen Sun berusaha menenangkan press. Sun sukses melarikan diri dari hysteria itu dengan kawalan para bodyguardnya.

———–à< ^^^ >ß———–

Saat ini tepat pukul 11 malam waktu seoul, Mino melangkahkan kakinya menuju ruang pribadi Sun di café Manolin. Kasus itu usai sudah. Manajernya melakukan misi dengan baik. Para turis itu mau berdamai ketika diancam dengan masa visa yang habis sebelum kejadian penusukan. Dan siapakah pelaku sebenarnya yang sangat mirip dengannya? Mino tidak ambil pusing. Baginya semua telah berlalu, dan kini dia ingin menemui kekasihnya, dibukanya pintu ruangan itu dan di sanalah Sun, duduk di depan sketsanya, begitu bersinar diantara temaram malam. Sementara  kesunyian menghantarkan sukma kerinduan yang tersemayam.

Sun menghambur ke pelukan Mino  dan segera terkunci dengan ciuman. Seketika dia membalas ciuman itu, lalu menarik Mino mendekati bibir ranjang di ruangan itu. Mino agak terkesima dengan keagresifannya yang tidak seperti biasanya, tapi sekaligus bahagia. Sesaat mereka menyalurkan hasrat yang tertahan selama Mino terpenjara, menikmati tetes demi tetes gairah yang tertuang di atas peraduan cinta mereka. Kata-kata dan bisikan mesra tertuang diantara hasrat yang memburu, saat hati dan fisik bicara, tiada hal yang mampu menandinginya. Tak perduli nafas yang hampir habis, desahan dan leguhan tetap keluar dari keduanya. Ciuman, sentuhan dan saling memohon untuk terpuaskan. Semua berbaur di antara kerinduan yang terpendam dalam benak mereka. Dan diantara semua itu, Mino mengagumi kekasihnya, diagungkannya pujaan hatinya itu dengan buaian yang tersalur diantara gairahnya yang terdalam, “Untukmu, Baby…. Hanya untukmu.”

Sun menghirup udara dalam-dalam, aroma capucino yang dibuatnya untuk Mino menusuk penciumannya. Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi, Mino memang sedang mandi di dalamnya. Hari masih sangat pagi, para karyawan café belum datang. Sun segera menuju ruang pribadinya. Mino sudah keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk,”Kopi untukku?”

Sun tersenyum, disodorkannya kopi itu kepada Mino. “Gomawo,” Mino menerimanya dengan senang hati lalu meneguknya pelan. Sun duduk di sofa dan Mino mengikuti gerak-geriknya lewat sudut matanya. Entah kenapa hatinya berkata kalau pagi ini Sun kelihatan aneh, bukan hanya pagi ini tapi juga semalam. Keagresifannya, caranya merespon permainannya, segala hal yang membuatnya bahagia tapi juga membuatnya keheranan. Mino meletakkan cangkir kopi itu di meja teh di dekat sofa itu, dia duduk di samping Sun,  meraih tangan kekasihnya dan mengecup punggung tangan itu.

“Min-a, ada yang ingin kubicarakan,” suara Sun yang lirih memecahkan keheningan. Mino menatapnya penuh tanya. Sun menunduk, dia tidak mampu membalas tatapan itu, “Sepertinya semalam adalah percintaan kita yang terakhir.”

“Mwo?” Mino tak mengerti maksud perkataan Sun.

“Aku…. Aku….minta putus!” Sun menguatkan hatinya. Mino terbelalak,”Tidak! Aku tidak mau!”

“Cukup, Min-a, aku tidak bisa jadi pelacurmu lagi!”

“Pelacur? Apa maksudmu pelacur? Kau kekasihku, Sun. Kau istriku!”

“Istri? Bangun dari mimpimu, Lee Min Ho! Jika aku istrimu, aku tidak mungkin meminum pil-pil itu, jika aku istrimu, aku tidak perlu kawatir memastikan kalau kau mengeluarkannya di luar, takut kalau-kalau diriku hamil. Aku bukan istrimu, araso!”

“Kau…..” Mino menunjuk ke arah Sun. Dia menggeleng lemah,”Sudah ku bilang selamanya aku tak akan melepaskanmu.”

“Untuk saat ini, selamanya terlalu lama bagiku, Lee Min Ho! Aku tidak tahan lagi! Aku mau putus!” Sun menjerit.

“Ini bukan dirimu, katakan ini bukan dirimu!”

“Ini diriku yang sesungguhnya!!!” Sun meraung diantara tangisan yang tertumpah. Hati Mino semakin pedih. Inikah alasannya? Inikah alasan dibalik percintaan hebat semalam? Tidak, tidak semudah itu, Baby.

Mino mendekati peralatan lukis Sun, dia mencari sesuatu di sana. Saat dia menemukan benda yang dicarinya, dia mendekatkan benda itu di pergelangan tangannya. Logam keperakan itu tampak berkilat tertimpa cahaya saat dia berbalik menghadap Sun. Gadis  itu terperanjat di tempatnya,”Apa yang akan kau lakukan?” Dia berlari mendekati Mino yang sedang mendekatkan cutter di pergelangan kirinya.

“Berhenti!” Mino mengancam,”Apa gunanya aku tanpamu, Baby. Lebih baik aku mati!”

“Jangan bodoh! Kau akan membongkar semuanya kalau melakukan itu!” teriak Sun.

“Aha! Lihat siapa yang ketakutan sekarang! Selama ini aku merasa pengecut karena rahasia ini tapi ternyata….. sudah kubilang aku lebih baik mati!”

Sun semakin terisak, “Aku mohon mengertilah, aku mohon!”

“Tidak!” Mino mulai menyayat pergelengan tangannya. Darah segar segera keluar dari lubang sayatan itu. Sun menjerit sekuatnya. Perlahan tubuh Mino oleng. Sun berlari ke arahnya dan memeluk tubuh jangkung yang sudah terkapar itu. Para karyawan mulai berjejal masuk saat mendengar teriakan Sun yang menyayat hati,”Bangun, Mino-ssi! Aku bilang Bangun! Bangun!!!”

Para karyawan segera memanggil ambulance. Sekejap suasana manolin café rame oleh press dan akhirnya kabar itu menggema,

‘SELEPAS DARI PENJARA, AKTOR LMH MELAKUKA PERCOBAAN BUNUH DIRI DI MANOLIN CAFÉ”

Bumie tersenyum saat membaca berita ini,”Pabo, Mino-ssi! Kau bersikeras agar Sun tidak mengungkap tabir ini, tapi kau sendirilah yang mengakirinya.” Bumie menghembuskan nafasnya kuat-kuat,Sepertinya kau terlalu naif untuk menjadi seorang Goo Jun pyo…..

———à < … > ß———

Mrs. Lee menghela nafas, dia mencoba menghimpun kekuatan di dirinya. Rumah keluarga Goo berdiri angkuh di hadapannya. Hari ini dia berusaha melakukan yang diminta putranya sesaat setelah tersadar dari perbuatan konyol itu, Mino memintanya melamar Sun untuk dirinya. Ragu-ragu, dia membunyikan bel itu dan dia berusaha mengatur perasaan saat pintu rumah itu terbuka.

“Saya adalah Ibu Lee Min Ho,” di ruang tamu itu Mr. Lee memperkenalkan diri di depan Mr. Goo dan B-lady. B-lady mulai gugup.

“Senang berkenalan dengan anda,” sapa Mr. Goo. B-lady mempererat pegangannya di lengan kanan Mr. Goo. Suaminya menoleh dan menepuk-nepuk tangan yang melingkar di lengannya itu, berusaha menenangkan.

Mrs. Lee menyodorkan bungkusan kotak yang sedari tadi dibawanya,”Maksud kedatangan saya kemari adalah…..untuk melamar putri anda, Goo hye sun…. menjadi istri putra kami…. Lee Min Ho.”

Mrs. Lee menatap nanar, harapannya sudah di tekan dalam-dalam. Pasangan Goo di depannya masih saja terdiam. Dia tahu perbuatannya ini tidak pantas, seharusnya dia menunggu suaminya dulu, tapi Mino terlalu memaksa, Mino ingin dia menemui keluarga Goo hari itu juga, entah apa yang ditakutkan anak itu, dia sendiri kurang tahu. Apakah takut kalau Sun meninggalkannya? Gadis itu selalu setia mendampinginya di rumah sakit walau pun press menghujatnya. Mrs. Lee kebingungan di antara kesunyian itu.

“Saya rasa,” Mr. Goo mulai bersuara,”Keputusan ada di tangan Sun. Kami hanya menurut.”

Wanita paruh baya ini merasa lega, beban berat seakan telah terangkat. Dia mengucapkan terima kasih berulang-ulang pada Pasangan Goo. Senyuman mulai tampak di wajahnya sekarang.

“Tunggu,” giliran B-lady kini yang bicara,”Boleh tahu apa agama putramu?”

“Ceongmal, oemma?” Sun melonjak senang saat mendengar kabar dari Mrs. Lee. Dia segera memeluk calon mertuanya itu.

“Baby… kemarilah,” Mino yang masih terbaring di ranjang rumah sakit memanggil. Sun menoleh lalu duduk di kursi yang terletak di samping ranjang dan meletakkan kepalanya di dada bidang itu. Mino pun mengecup kening Sun. Mr. Lee sangat bahagia melihat keduanya,”Kau senang, Mino?”

“Sangat, Oemma. Sangat bahagia, wanita yang ku cintai akan menjadi pendamping hidupku.” Mino menatap hangat ke arah Sun. Gadis itu terharu, dan terisak di dadanya.

“Oh, iya, Mino,” tiba-tiba Mr. Lee teringat sesuatu.”Mereka menanyakan agamamu. Untuk mempermudah, akan lebih baik jika kau mengikuti agama Sun.”

Mino masih saja membelai sayang rambut Sun,”Anything, Oemma. Anything for my everything.”

à THE END ß

PRAHARA CLEOPATRA

CERPEN HADIAH IDUL FITRI UNTUK  ORANG-ORANG YANG KUCINTAI

Pagi yang indah, udara yang segar, suasana menyenangkan yang membuat kedua anak itu riang, bercanda, berkejaran, dan di sana, tak seberapa jauh dari mereka, seorang pria berdiri. Wajah yang bijaksana, sosok tubuh yang tegap, merentangkan ke dua tangannya di muka dan dengan senyum simpatik menyambut diriku yang segera berlari ke arahnya.

Stop!!!…. Stop dreaming, Cleo. Time to get up, now! Ya, ya, aku tahu semua itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini. Rudi, pria yang selama ini ku harapkan jadi sosok dalam mimpi itu, ternyata lebih memilih sepupuku. Sekarang, bagaimana bisa aku tetap memimpikan semua itu?

“Wah sudah bangun, rupanya.”

Nena, teman kuliah yang kuajak ke Jakarta untuk pernikahan Rudi, terkejut melihatku yang tak seperti biasanya karena bangun sebelum alarm berbunyi.

“Jam berapa sekarang?” tanyaku.

“Jam setengah tiga. Wudhu sana!”

Aku segera berwudhu dan mempersiapkan diri untuk sholat tahajud. Keheningan sepertiga malam terakhir menambah khusuk sholat ini. Sesaat kupasrahkan diri di hadapan Ilahi. Dzikir yang mampu menenangkan hati yang bergejolak dan doa yang selalu menjadi hiburanku serta lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang serasa bagai simphoni di telingaku.

Adzan subuh tak jua terdengar. Kuamati suasana sekeliling. Sepi… Beberap orang tidur berdesakan di ruang tengah. Barang-barang perlengkapan pernikahan terlihat terbengkalai di beberapa tempat. Mereka sangat capek dengan kesibukan ini. Kualihkan pandangan  ke pintu kamar Shinta. Pintu kamar itu masih tertutup. Sudah empat hari dia menjalani masa pingitan. Tradisi yang aneh… .

Shinta, saudara sepupuku yang lebih dipilih Rudi sebagai calon istrinya. Semua itu membuatku kecewa. Aku yang lebih dulu tertarik pada Rudi. Seharusnya dulu aku tidak memperkenalkan mereka. Dasar bodoh !

Adzan subuh menyadarkan lamunan. Segera kupenuhi panggilan itu dan melupakan masalah sejenak.

Kesibukan pun berlanjut. Terus terang, aku tidak betah di sini. Rasa iri dan patah hati pada calon pengantin… .

“Hai, kok bengong?” suara dari belakang mengagetkanku. Shinta!

“Kamu kok berani keluar kamar?” tanyaku.

“Suntuk di kamar terus. Eh, kamu lihat Rudi, gak?”

“Rudi? Bukannya kalian tidak boleh ketemu sampai acara pernikahan besok?”

“Aku tahu, tapi…

“Udah deh. Jangan bikin perkara.”

“Tapi, Cleo.”

“Udah sana masuk kamar!”

Shinta menuruti perintahku dengan bibir manyun. Aku muak dengan keadaan ini dimana harus pura-pura baik pada Shinta hanya karena dia sepupuku. Aku tahu, apalah aku dibandingkan Shinta. Kami memang sama-sama cucu nenek dan kakek tapi tetap saja berbeda nasib. Paman Hanafi, Ayah Shinta yang cukup berada, mampu memberikan apa saja untuknya. Sedangkan aku? Mungkin itu yang membuat Rudi berpaling dariku.

“Kau tahu? Semua itu tidak benar,” seorang pria yang tidak kukenal menyelutuk tiba-tiba. Aneh, seolah dia tahu jalan pikiranku. Ku lihat wajah pria itu. Cukup tampan, tapi di mana aku mengenalnya?

“Kau tahu? Jika seseorang telah memutuskan siapakah yang akan mendampinginya, segala sesuatu seperti kecantikan, kekayaan, kedudukan dan status tidak akan masuk hitungan,” lelaki itu menguliahiku dengan kata-kata yang menurutku penuh teori. Mana ada di jaman sekarang yang sarat materialisme masih berlaku hal semacam itu?

“Aku rasa kau sudah terlalu jauh mencampuri urusanku !” Aku bersikap ketus. Dia memang tidak sopan mengingat kami tidak saling kenal.

“Maaf, namaku Levy,” dia menjulurkan tangan. Sekali lagi dia mampu menebak yang ada di benakku. Tak ada yang bisa kulakukan selain membalas niatnya berkenalan.

“Dari mana kamu tahu tentangku?” tanyaku setelah kami cukup akrab.

“Hanya menebak.”

“Menebak?”
“Dari sikapmu.”

“Sikapku? Memangnya sikapku tidak wajar? Atau… terlihat munafik?”

“Tidak,” dia mengibaskan tangannya.”Entahlah, aku cuma tahu. Itu saja.”

Levy segera meninggalkanku setelah menjawab. Aku semakin tidak mengerti. Seseorang bisa tahu isi hati orang lain hanya dengan melihat sikapnya? Ah, mana mungkin?

Akhirnya tiba juga saat itu, saat Shinta dan Rudi menjalani ijab Kabul dan aku yang tidak mampu melihat kebahagiaan mereka. Aku memutuskan untuk keluar dari ruangan yang penuh sesak dengan tamu undangan. Aku menuju ke samping rumah karena di sana terlihat Levy berdiri termenung.

“Assalamu’alaikum,” salamku padanya.

“Walaikumsalam.”

“Aku keluar rumah karena jenuh dengan banyaknya orang di sana,”kataku memulai pembicaraan.”Aku rasa aku butuh udara segar.”

“Jangan munafik. Aku tahu kau keluar karena tidak tahan dengan pernikahan mereka,” Levy menyindir. “Kau lihat rumput ini?”

Levy menunjuk pada rumput yang terbentang di bawah kami.”Kau tahu apa warnanya?”

“Hijau!” jawabku.

“Apa warna rumput di halaman rumahmu di Jogja?”

“Hijau juga?”

“Aku rasa kau sudah tahu maksud pertanyaanku.”

Aku mengangguk. Aku melepaskan sepatu dan menginjakkan kaki telanjang di atas rumput. Rasa dingin menjalar di telapak kaki. Kulihat beberapa tamu memasuki rumah… . Au! Sebuah duri menusuk telapak kakiku. Aku meringis kesakitan. Levi terkejut.

“Tidak, Aku tidak apa-apa, kok. Cuma duri,”kataku sambil memijit-mijit bagian kaki yang terkena duri lalu kukeluarkan duri itu dan mencoba berdiri kembali.

“Sebenarnya kau sudah tahu, kan resikonya sebelum memutuskan untuk mencopot sepatu dan berjalan dengan kaki telanjang di atas rumput?”

Aku mengangguk,”Aku hanya ingin merasakan dinginnya rumput ini di kakiku.”

“Pernahkah kau berpikir bahwa Shinta menikahi Rudi juga dengan resiko?”

“Resiko? Memangnya resiko apa yang harus ditempuh oleh gadis yang menikahi Rudi?”

“Semua pilihan dalam hidup ini penuh resiko, Cleo. Hanya saja kita memutuskan untuk memilih karena manfaatnya yang lebih besar dari rsikonya tapi semua itu tidak membuat resiko itu hilang, bukan?”

“Ah, aku pusing kalau ngobrol sama kamu. Kamu sok filsafat banget, sih? Apa kamu kuliah jurusan filsafat”

“Tidak, Aku sedang menempuh S2 farmasi.”

Aku heran. Cowok semuda itu sudah S2? Wah, salut deh! Tapi cara bicaranya kok seperti ini? Apa dia salah jurusan?

“Kenapa kau tidak ambil saja sisi positif dari kejadian ini.”

“Sisi positif yang bagaimana?”

“Setidaknya bukan kamu yang ada di tempat Shinta dengan kepala pusing menahan berat dari sanggul, make up maupun kebaya yang melilit erat di tubuh.”

Aku tertawa mendengar kalimat Levy. Aku mulai berpikir bahwa dia adalah penghibur yang baik.

Pertemuanku dan Levy memang terbilang aneh. Dia tiba-tiba mendekatiku saat broken heart karena Rudi, menebak semua jalan pikiranku, membuatku berpikir tentang rumput dan resiko setiap pilihan, serta mengambil sisi positif dari suatu masalah.

“Ah, kau terlalu beranggapan baik padanya,” kata Nena setiap kali ku curhat tentang Levy. “Bisa saja dia sok bijak untuk mendekatimu yang lagi broken.”

“Jangan berpikiran jelek!” aku berusaha menampik pendapat Nena meski dalam hati setuju. “Tapi… sepertinya wajah Levy tidak begitu asing? Entahlah… sepertinya kami pernah bertemu sebelumnya.”

“Di mana? Di kehidupan yang lalu?”

“Uh, ngaco!” Kami tertawa berdua.

Seiring waktu berlalu, aku semakin mengenal Levy. Ternyata dia mengambil S2 di kampusku. Kampus yang paling ngetop di kota gudeg. Terkadang kulihat dia di perpustakaan. Dia selalu menyapa setiap kami bertemu tapi kami sepertinya sama-sama tahu dan tidak saling mengganggu jika terlihat sibuk satu sama lain. Sering juga kutemukan dia sholat di masjid kampus. Dia selalu berlama-lama dengan rutinitas yang satu itu. Aku merinding setiap melihatnya begitu khusuk dengan dzikir dan doanya, seolah pasrah dengan maut yang siap menjemput.

Hari ini aku ke perpustakaan untuk mengusir rasa jenuh. Sekedar menuliskan angan dan mimpiku ke buku harian. Tentu saja tentang dua orang anak yang berlari riang di lapangan berumput hijau dan seorang pria yang berdiri tak jauh dari mereka. Dengan senyum yang hangat, mengulurkan tangan tuk menyambutku yang segera berlari ke arahnya.

“Sedang menulis apa?”

Levy mengagetkanku. Aku tidak menyadari kehadirannya karena terlalu asyik. Dia segera duduk di depanku. Kusodorkan buku harian padanya. Sesaat dia membaca.

“Bagus,” dia mulai berkomentar.”Kamu bakat jadi penulis.”

“Itu bukan bahan tulisan.”

“Lalu?”

Aku tersenyum, tidak mungkin kuakui bahwa itulah impianku selama ini.

“Kehidupan yang sederhana. Kehidupan macam inikah yang kau harapkan, Cleo?”

“Aku mulai tidak percaya semua itu.”

“Kenapa?”

“Kehidupan semacam itu hanya terjadi jika kita punya uang.”

“Begitukah anggapanmu tentang hidup?”

“Ya!” aku menjawab penuh semangat.

“Lalu bagaimana dengan cinta? Semua itu pasti terwujud bila ada cinta.”

“Hah?” aku tertawa lirih, “Levy… aku rasa kau terlalu banyak nonton film roman picisan. Di jaman sekarang, masih adakah cinta sesederhana itu?”

“Aku yakin masih ada.”

Kali ini tertawaku agak keras hingga sekelilingku memperingatkan keadaanku yang sedang berada di area tenang. Cowok di depanku ini terlalu optimis dengan keyakinannya.

“Di jaman ini tidak ada cinta buta, Levy. Seorang gadis dari keluarga kaya tidak mungkin melirik pemuda miskin, pemuda cerdas tak mungkin jatuh hati pada gadis idiot.”

Levy terdiam, aku semakin yakin dengan argumenku,”Kau tahu kisah cinta Cleopatra dan Mark Anthony?” tanyaku.

Levy mengangguk.

“Jika saja Cleopatra tidak cantik dan bukan ratu Mesir, apa mungkin Mark Anthony tergila-gila padanya dan memberontak terhadap Romawi?”

Levy tersenyum. Dengan pelan dia bicara,”Kalau pun waktu itu Cleopatra tidak cantik dan kaya, Mark Anthony akan tetap memberontak pada Romawi karean memang begitulah takdirnya. Kenapa sih kau tidak mencari contoh lain?”

Kalimat Levy terdengar menngelikan dan akhirnya ku terbengong melihat tingkahnya yang meninggalkanku begitu saja. Mungkin dia bosan dengan obrolan ini. Ku teruskan saja curhatku di buku harian.

“Bacalah buku ini!”

Levy datang lagi dan menyodorkan sebuah buku padaku. Taman orang-orang yang jatuh cinta dan memendam rindu, judul buku itu. Kemudian dia berlalu lagi. Dasar aneh!

Buku yang tebal. Kewalahan juga aku membacanya. Bukannya semakin jelas, aku semakin tidak mengerti. Menurutku buku itu menjelaskan makna cinta dengan begitu rumit. Serumit itukah cinta? Obrolan tentang cinta pun terus berlanjut. Aku bersikeras dengan pendapatku demikian juga Levy. Orang lain pasti akan mual dan muntah jika mendengar perdebatan kami. Seperti biasa tidak ada yang mau mengalah hingga kesibukanku PKL dan kesibukannya dengan tesis membuat perdebatan ini terputus.”

Setahun berlalu, Paman Hanafi mengabarkan bahwa Shinta sudah melahirkan bayi laki-laki. Wajah Shinta begitu sumringah saat aku datang menjenguk bayinya yang montok dan lucu. Rudi tidak terlihat di sana.

“Di mana Rudi?” tanyaku pada Shinta yang tengah menyusui. Aneh, wajah Shinta mendadak sayu. Tante Rubi segera menarikku keluar kamar.

“Kamu jangan tanya-tanya tentang Rudi lagi,” kata Tante Rubi.

“Lho, memangnya kenapa?”

“Pernikahan mereka kurang harmonis. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi dan selalu diakhiri dengan Rudi yang memukul Shinta.”

Deg! Tiba-tiba anganku melayang pada Levy, kata-katanya tentang rumput dan resiko setiap pilihan terngiang lagi di telingaku.

“Ngomong-omong, bagaimana persahabatanmu dengan Toni?” tante Rubi membuyarkan lamunanku.

“Toni?”

“Iya! Toni Syahlevy.”

“Toni… Syah… Levy?…. Levy?!”

“Iya, dia itu anak Pak Johan, tetangga kita waktu di Malang dulu. Waktu kalian masih kecil, Toni itu suka mengganggumu sampai kau menangis, kan?”

Kata-kata tante Rubi mampu menjawab pertanyaan yang selama ini mengganjal di hati. Pantas saja aku merasa wajah levy tidak asing. Sosok bocah laki-laki yang selalu menarik rambutku hingga ku menjerit kesakitan, berkelabat di anganku. Semuanya semakin jelas. Sungguh aku menikmati persahabatanku dengannya tapi bukan karena aku naksir atau karena dia tertarik padaku. Aku tahu tidak ada persahabatan antara pria dan wanita. Tapi entahlah?

“Aku akan pergi jauh,”kata Levy di sekian kalinya kami bertemu.

“Kemana?” tanyaku.

“Ke tempat di mana rasa ikhlas menjadi raja, ketulusan sebagai permaisuri dan kemanusiaan adalah hukum yang berlaku. Tempat di mana pamrih terpinggirkan, ambisi terpelanting, kejujuran diunggulkan.”

“Memangnya ada tempat seperti itu?”

“Bukankah semua kitab suci di muka bumi ini menjanjikan tempat itu? Banyak nama yang diberikan, seperti nirwana, sorga… atau… heaven.”

“Jangan bilang kalau kau akan…

“Kenapa? Bukankah semua orang akan kesana? Hanya waktu dan caranya yang berbeda.”

Aku tidak suka dengan tingkah Levy. “Kau membuatku takut. Kenapa kau mengungkap kematian dengan kata-kata indah?”

“Good bye, Cleo… .”

“Levy?” aku memanggilnya pelan tapi dia tidak peduli. Dia berpaling, meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan yang tak terjawab. Kenapa harus kematian?

Gundukan tanah bernisan di depanku masih berwarna merah. Jasad Levy terbaring tenang di dalamnya. HIV-Aids menggerogoti tubuh itu sebelumnya. Perkataan orang-orang tentang Levy yang mengidap penyakit itu karena tranfusi darah mampu menangkis pikiran buruk di otakku tentang sebab-musabab Levy terkena penyakit mematikan itu. Aku merasa kerdil di depan batu nisan itu. Levy yang begitu optimis dengan hidup dan cinta walau pun umurnya tidak panjang. Sungguh beda denganku yang selalu menyalahkan nasib, menyia-nyiakan cinta yang selama ini berada di sekelilingku hanya untuk sebuah cinta yang tak mungkin ku miliki.

Tanpa ku sadari, dia telah menjadikanku obyek dakwah, tentu saja dengan kata-katanya yang sukar dicerna. “Good bye, Cleo,” kalimat terakhir yang dia ucapkan saat perpisahan itu. Begitu singkat, tak serumit kalimat-kalimat yang selalu dia katakan tentang cinta dan hidup. Begitu singkat, sesingkat kehidupan yang di jalaninya.

Namun kehidupan tetap berlanjut bagiku. Mimpi itu pun masih menghiasi setiap tidur, tentang dua orang anak yang berlarian riang di lapangan rumput dan seorang pria yang berdiri tak jauh dari mereka. Dengan tersenyum, direntangkanlah tangannya ke muka untuk menyambutku yang segera berlari ke arahnya.

Aku Yang Sekarat

Ku lihat beberapa kerut di wajah. Entah sudah berapa produk kosmetik yang kugunakan untuk menghilangkan atau sekedar menyamarkannya. Namun usia tak dapat ku manipulasi. Dan rambut ini terlihat memutih, tulang belulang pun tak mau kompromi untuk diajak berjalan jauh hingga ku berakhir di atas ranjang ini.

Beberapa waktu lalu, seseorang menjenguk. Gadis yang cantik, mengingatkan masa mudaku dulu. Mereka bilang dia cucuku. Apa benar dia cucuku? Ku pandang wajah cantik itu lama, namun tak satu pun ingatan terbersit.

Di antara rasa sakitku, diantara kelemahanku, diantara kepikunanku, dimana masa mudaku? masa kayaku, masa sehatku, masa lapangku. Datang, kumohon datanglah kalian. Hiburlah aku dengan kenangan indah. Bicaralah hingga hilang rasa takutku, walau ku tahu semua hanyalah untaian kata yang tak dapat merubah keadaan.

Mereka datang, namun tak seperti yang kuharap. Mereka mengingatkan pada dosa-dosa yang telah ku perbuat. Deretan panjang coreng-moreng hidupku. Hingga ku berpikir, “Ya Tuhan, termasuk golongan yang manakah aku ini? Apakah termasuk umatmu yang dapat menikmati tidur panjangnya di alam kubur dengan tenang hingga hari kebangkitan tiba? Ataukah nantinya tubuh  ini terbakar di sana? Terhimpit di antara batu-batu bumi, terkoyak, mengarungi kegelapan abadi yang lebih gelap dari malam gulita?”

Mereka tidak menghiburku, Tuhan, mereka membuatku takut. Mengingat segala yang telah ku perbuat. Aku sudah memohon pada mereka, Tuhan. Begitu jahatkah, mereka? Melihatku dengan pandangan sinis dan berkata, “Kami sudah memberimu kesempatan, Fulan. Banyak sekali kesempatan. Apalah daya kami. Kami hanyalah masa yang datang jika waktunya tiba, dan pergi jika memang telah berlalu, bukan salah kami jika kau salah mengartikan kesempatan yang telah diberikan . Masa kami sangat pendek dan masa yang kini kau alami sudah memaksa untuk masuk. Sejujurnya kami kecewa. Maafkan kami yang tak bisa membantu.”

Mereka pergi,Tuhan. Mereka pergi setelah meninggalkan rasa bersalah yang teramat sangat di diriku. Mereka pergi begitu saja hingga tinggal kesunyian yang menyengat dan ketakutan yang membunuhku perlahan. Kalian kejam! Kalian jahat! Kalian…..

Tolong, tolong jangan pergi. Temani aku di kesempatan ini. Tolonglah, kumohon. Siapa pun kalian, hampirilah aku yang sekarat ini.

Tolong, kumohon…., kumohon… .